Anda di halaman 1dari 91

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN MANGROVE

(SONNERATIA ALBA) PADA BAKTERI VIBRIO HARVEYI


SECARA IN VITRO

SKRIPSI

OLEH :
ARDANA KURNIAJI
I1A2 10 097

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN MANGROVE
(Sonneratia alba) PADA BAKTERI Vibrio harveyi SECARA IN VITRO

Inhibition Test of Mangrove (Sonneratia alba) Leaf Extract on Bacteria


Vibrio harveyi by In Vitro

SKRIPSI

OLEH :
ARDANA KURNIAJI
I1A2 10 097

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh


Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Budidaya Perairan

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Mangrove


(Sonneratia alba) Pada Bakteri Vibrio harveyi Secara
In Vitro

Nama Mahasiswa : Ardana Kurniaji

Stambuk : I1A2 10 097

Prog. Studi : Budidaya Perairan

Jurusan : Perikanan

Fakultas : Perikanan dan Ilmu Kelautan

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Muhammad Idris, M.Si Ir. Muliani, M.Si


NIP. 19670322 199303 1 003 NIP. 1963010 1199203 1 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Perikanan dan Ketua Jurusan Perikanan


Ilmu Kelautan

Ir. Abdul Rahman, M.Si Dr. Ir. Wellem H. Muskita, M.Si


NIP. 19651101 199403 1 001 NIP. 19620528 198803 1 001

Tanggal Lulus : 10 April 2014


PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI DENGAN JUDUL

INI ADALAH KARYA SAYA DENGAN ARAHAN DARI PEMBIMBING

DAN BELUM DIAJUKAN DALAM BENTUK APAPUN KEPADA

PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANG

BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN

TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN

DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI

BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI.

KENDARI, APRIL 2014

ARDANA KURNIAJI
NIM. I1A2 10 097

iv
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 9 Juni 1992 di Desa

Woimenda Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Penulis adalah anak pertama dari 2 bersaudara, putra

dari pasangan Bapak Abdul Kadir, A.Pi., M.Si. dan

Ibu Nining Syamsinar. Pada tahun 2004 penulis

menamatkan pendidikan dasar di SDN Negeri 5

Mandonga, selanjutnya pada tahun 2007 menamatkan

pendidikan menegah pertama pada SMPN 3 Kendari, dan pada tahun 2010 penulis

menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 4 Kendari. Penulis diterima

pada program studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kendari melalui Jalur SPMB pada tahun

2010. Selama mengenyam studinya, berbagai prestasi akademik dan non

akademik pernah diraih seperti meraih predikat juara satu umum siswa tahun 2003

hingga meraih penghargaan mahasiswa dengan Indeks Prestasi (IP) tertinggi

Semester I hingga Semester VII. Selain itu penulis juga pernah mengikuti

berbagai kompetisi kejuaraan seperti Lomba Debat Bahasa Inggris Se-Sulawesi

(2013), mendapat juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah ajang PORSIAF (2011) dan

menjadi utusan Universitas Halu Oleo dalam ajang Mahasiswa Berprestasi

Tingkat Nasional (2013). Sejak duduk dibangku sekolah dasar, penulis aktif

diberbagai organisasi diantaranya pernah menjadi pengurus OSIS 2005/2006 di

bangku SMP, pengurus Siswa Gemar Matematika (SIGMA) 2007/2008, Ketua

v
Umum Kerohanian Islam (ROHIS) 2008/2009 di bangku SMA, Sekretaris Ikatan

Silaturahim Pelajar Islam (ISPI) 2009/2010, Pengurus Badan Koordinasi

Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) 2010/2011, Ketua Umum Amphiprion

Scientific Club (ASC) 2011/2012, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa

(BEM) FPIK UHO 2013/2014 dan Anggota Fisheries English Club (FEC) dan

Langkoe Diving Club (LDC) FPIK UHO, serta aktif di Lembaga Swadaya

Masyarakat (LSM) yang berorientasi pada pengembangan potensi wilayah pesisir

yakni Yayasan Bina Laut Indonesia (YBLI). Selain mengikuti organisasi, penulis

juga aktif membimbing berbagai kegiatan penulisan karya tulis ilmiah sejak tahun

2011, seperti membimbing mahasiswa dalam pembuatan Proposal Program

Kreativitas Mahasiswa (2011-2012) yang diselenggarakan oleh Direktorat

Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti, membimbing

mahasiswa dalam pembuatan laporan praktikum mata kuliah Avertebrata Air dan

Ekologi Perairan (2011), Biologi Umum, Ikhtiologi dan Fisiologi Hewan Air

(2012) serta Ikhtiologi (2013). Disamping itu, penulis juga pernah aktif mengikuti

International Project yang diselenggarakan Universitas Halu Oleo bekerjasama

dengan Australian AID tahun 2012-2013 serta aktif dalam penulisan buku-buku

ilmiah. Salah satu buku yang pernah ditulis adalah buku Membumikan

Kreativitas Ilmiah bersama Bapak La Ode Abdul Rajab Nadia, S.Pi., M.Sc dan

menulis salah satu artikel ilmiah pada Prosiding Seminar Internasional The 8th

CRISU-CUPT International Confrence tahun 2013.

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas

limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan dan penyusunan skripsi sebagai mana yang diharapkan.

Salawat dan salam juga tercurah kepada junjngan nabiullah Muhammad

SAW, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, tabiin dan tabiut tabiin yang

telah memperjuangankan dinul islam dan membawa kita pada alam yang penuh

dengan ilmu pengetahuan.

Karya ilmiah dalam bentuk skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Budidaya

Perairan Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo.

Penulis dengan kerendahan hati menyadari bahwa masih banyak

kekurangan baik dari segi isi maupun tulisan. Oleh karena itu pada kesempatan ini

penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis sangat mengharapkan

kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis

sangat mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang

membutuhkannya. Amin.

Kendari, April 2014

Penulis

vii
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Rahmat

dan Hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Seiring dengan

selesainya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang

setinggi-tingginya kepada Ayahanda tercinta Abdul Kadir, A.Pi., M.Si dan Ibunda

tercinta Nining Syamsinar yang telah memotivasi, mengarahkan, membimbing

dan mendoakan dengan ikhlas kepada penulis dalam menyelesaikan studinya.

Kemudian penulis juga menyampaikan segala rasa hormat dan terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Muhammad Idris, M.Si sebagai

Pembimbing I dan Ibu Ir. Muliani, M.Si sebagai Pembimbing II, atas bimbingan,

saran, kritik, dan nasehat kepada penulis, mulai dari awal sampai akhir

penyusunan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih dan

penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Halu Oleo.

2. Para Pembantu Rektor Universitas Halu Oleo beserta jajaran staf.

3. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo.

4. Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II, Pembantu Dekan III dan Pembantu

Dekan IV FPIK Universitas Halu Oleo.

5. Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan Universitas Halu Oleo.

6. Ketua Program Studi Budidaya Perairan, Ketua Program Studi Manajamen

Sumberdaya Perairan, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan, Ketua Program

viii
Studi Agribisnis Perikanan dan Ketua Program Studi Teknologi Hasil

Perikanan FPIK Universitas Halu Oleo.

7. Penasehat Akademik Bapak Ruslaini, S.Pi., M.P. yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan studi.

8. Dosen-dosen pengajar yang telah memberikan wawasan dan ilmu

pengetahuan serta staf administrasi FPIK yang selama ini telah banyak

membantu penulis dalam menyelesaikan berbagai administrasi di jurusan

perikanan.

9. Bapak dan Ibu dosen penguji seminar proposal , seminar hasil penelitian dan

ujian skripsi atas masukan, kritikan dan sarannya kepada penulis.

10. Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros

beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis

dalam membantu pelaksanaan penelitian.

11. Pegawai/Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau,

Maros utamanya Bapak Ir. Muharijadi Admomursono, M.Sc. selaku Ka. Kelti

Patologi, Ibu Nurbaya, S.Pi., Ibu Nurjannah, S.Pi., Dr. Ir. Ince Ayu Khairana

Kadriah, M.Si., serta Ka Ahmad, Upi dan Anti yang telah membimbing dan

membantu dalam penelitian.

12. Teman-teman mahasiswa Program Studi BDP angkatan 2010; Siti Hardiyanti

P., Muh. Akbar, Ld. Abdul Rahman, Muh. Saleh, Syarwan Hamdu, Tiberius

Melki S., Ismail Idrus, Muh. Israjab, Moch. Alif Raditya, Fauzan Abdillah,

Muamar, Erick Arjuna, Ismi Musdalifah, Sasriana, Dian Legit, Roni Nerliano,

Taufik, Ida Bagus Komang, Risno, Muh. Suruji, Asjan, Siti Aminah, Tuti

ix
Ardianti, Irnawati, Sitti Asna, Ika Juwita, Irsa Setiadi, Sinta T., Yuniastin, dan

teman-teman Program Studi BDP lainnya, Program Studi MSP serta Ilmu

Kelautan yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

13. Adik-adik Program Studi BDP, MSP dan Agribisnis, Zulfirah Zahrah,

Alkudus Hidayat, Hardillah Paala, Herman, Haris, Herman Kaenda, Nurul

Fadyni, Ismawati, Muamalah, Husein, Ulfa Kurniati, Husen Efendi, Awan

Setiawan, Cheasfika, Risnawati, Muh. Ujud, Joshmihardin, Hasan Muniaha,

Marlia, Sadam, Asnawi, dan Ikhsan atas dukungan dan bantuannya.

14. Kakak-kakak Program Studi BDP dan MSP, Armin, Usman, Ratih

Handayani, Muh. Fajar Purnama, Al Fajar, Ashar Syafaat, Rahmansyah,

Nova Fitria A., Asniatih, Muh. Trial, Harlan dan kakak senior lainnya yang

telah membantu penulis selama mengenyam masa studi.

15. Seluruh Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo

yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi.

16. Saudari Siti Hardiyanti Purnama, yang telah membantu penulis selama

mengenyam pendidikan dan menyelesaikan penelitian di Balai Penelitian dan

Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros.

17. Bapak La Ode Abdul Rajab Nadia, S.Pi., M.Sc yang telah memberikan

motivasi, arahan dan wawasan kepada penulis selama mengenyam studi.

18. Pengurus Lembaga Kemahasiswaan, Amphiprion Scientific Club, Langkoe

Diving Club, Fisheries English Club, MAPIARA, HMPS BDP, HMPS MSP

dan Badan Eksekutif Mahasiswa yang membantu selama mengenyam studi.

x
19. Seluruh Teacher di Briton, Creative English Society dan Progress atas

bimbingan dan pengajaran bahasa inggris selama penulis mengenyam

pendidikan.

20. Ibu Desa Ranooha Raya beserta masyarakat yang membantu penulis dalam

melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP).

21. Semua pihak dan teman-teman mahasiswa lainnya yang telah membantu yang

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis sekali lagi mengucapkan terima kasih atas segala

bantuan dan dukungan yang diberikan, semoga Allah SWT membalas semua

kebaikan dengan pahala yang setimpal. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Amin.

Kendari, April 2014

Penulis

xi
Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Mangrove (Sonneratia alba) pada Bakteri
Vibrio harveyi secara In Vitro

ABSTRAK

Dalam usaha produksi budidaya udang windu (Pennaeus monodon) ditemukan


berbagai permasalahan yang sering menghambat petani dalam melaksanakan
kegiatan budidaya di tambak. Salah satu diantaranya adalah adanya serangan
penyakit vibriosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio harveyi. Penelitian
ini bertujuan untuk menguji penggunaan ekstrak daun mangrove (S. alba) secara
In Vitro untuk mencegah pertumbuhan bakteri V. harveyi. Penelitian ini
dilaksanakan di Laboratorium Patologi Balai Penelitian dan Pengembangan
Budidaya Air Payau, Maros. Pengujian daya hambat ekstrak daun mangrove
terhadap bakteri dilakukan dengan dua tahapan yakni secara kualitatif (zona
hambatan) yang menggunakan konsentrasi 2.000, 4.000, 6.000, 8.000, 10.000
ppm, kontrol (tanpa pemberian ekstrak) dan antibiotik rifampisin 25 ppm serta
pengujian secara kuantitatif (kepadatan bakteri) yang menggunakan konsentrasi
2.000, 4.000, 6.000, 8.000 ppm, kontrol dengan tanpa ekstrak dan DMSO 10%.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun mangrove dapat menghambat
pertumbuhan bakteri V. harveyi. Secara kualitas, ekstrak terkategori sedang pada
konsentrasi 8.000-10.000 ppm dengan zona hambatan 16,18-18,20 mm, dan
terkategori lemah pada konsentrasi 2.000- 6.000 ppm dengan zona hambatan
9,83-12,30 mm. Sedangkan secara kuantitas konsentrasi terbaik ekstrak daun
mangrove berturut-turut dalam menghambat pertumbuhan bakteri adalah 8.000
ppm dengan total bakteri 0 CFU/mL setelah 8 jam, 6.000 ppm dengan total
bakteri 0 CFU/mL setelah 12 jam, 4.000 ppm dengan total bakteri 4,80x104
CFU/mL setelah 24 jam dan 2.000 ppm dengan total bakteri 5,17x107 CFU/mL
setelah 24 jam.

Kata Kunci: Bakteri Vibrio harveyi, Daya Hambat, Ekstrak Daun Mangrove

xii
Inhibition Test of (Sonneratia alba) Mangrove Leaf Extract on Bacteria
Vibrio harveyi by In Vitro

ABSTRACT

In production effort of tiger shrimp (Pennaeus monodon) it had been found


several problems that often faced of shrimp farmers in shrimp culture. One of
them is the presence of vibriosis disease caused by Vibrio harveyi infection. This
study aimed to examine the use of mangrove (S. alba) leaf extract by in vitro to
prevent the population growth of bacteria V. harveyi. This research was conducted
in the Laboratory of Pathology Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air
Payau, Maros. Testing the inhibition of mangrove leaf extract to against bacterial
has done in two phases namely qualitative test (inhibition zone) that used
concentration were 2.000, 4.000, 6.000, 8.000, 10.000 ppm, control (without
extract) and 25 ppm of antibiotic rifampicin as negative control. It the same time
that quantitative test (bacterial population) that used concentration were 2.000,
4.000, 6.000, 8.000 ppm, control without extract and DMSO 10%. The results had
showed mangrove leaf extract could inhibit the population growth of bacteria V.
harveyi. In quality, extract categorized medium at concentration of 8,000-10,000
ppm with inhibition zone from 16.18 to 18.20 mm, and categorized low at 2000-
6000 ppm concentration with inhibition zone 9.83 to 12.30 mm. While the
quantity of best concentration of mangrove leaf extract in inhibiting the growth of
bacteria were 8,000 ppm with total of bacteria was 0 CFU/mL after 8 hours, 6,000
ppm with total of bacteria was 0 CFU/mL after 12 hours, 4.000 ppm with total of
bacteria was 4.80 x104 CFU/mL after 24 hours and 2.000 ppm with total of
bacteria was 5.17 x107 CFU/mL after 24 hours.

Keyword: Bacteria Vibrio harveyi, Inhibition, Mangrove Leaf Extract

xiii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
HALAMAN SAMPUL.................................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii
PERNYATAAN ............................................................................................ iv
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... v
KATA PENGANTAR ................................................................................... vii
UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................................... viii
ABSTRAK...................................................................................................... xii
ABSTRACT ................................................................................................... xiii
DAFTAR ISI .................................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xvi
DAFTAR TABEL.......................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 4
C. Tujuan dan Kegunaan .............................................................................. 4

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Umum Mangrove ..................................................................... 6
1. Klasifikasi dan Morfologi ................................................................. 6
2. Karakteristik Biologi dan Habitat ..................................................... 9
3. Potensi Senyawa Bioaktif Mangrove ................................................ 10
B. Tinjauan Umum Bakteri .......................................................................... 12
C. Teknik Ekstraksi Maserasi ..................................................................... 15
D. Pengujian Antibakteri ............................................................................. 17

III. METODE PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat ................................................................................ 19
B. Alat dan Bahan .................................................................................... 19
C. Prosedur Penelitian ............................................................................... 21
1. Penyiapan Ekstrak Daun Mangrove ................................................. 21
2. Pengujian Antibakteri ....................................................................... 21
D. Rancangan Percobaan. ........................................................................... 33
E. Variabel yang Diamati ........................................................................... 35
F. Analisis Data .......................................................................................... 36

xiv
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 37
1. Uji antibakteri secara kualitatif ........................................................ 37
2. Uji antibakteri secara kuantitatif ...................................................... 38

B. Pembahasan ............................................................................................. 40
3. Uji antibakteri secara kualitatif ........................................................ 40
4. Uji antibakteri secara kuantitatif ...................................................... 43

V. SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan ................................................................................................. 51
B. Saran ........................................................................................................ 51

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Daun S.alba................................................................................................ 7

2 Karakteristik Morfologi Koloni Bakteri V.harveyi


pada Media TCBSA (A) Koloni Bakteri; (B) Media TCBSA ................... 14

3 Skema proses pelaksanaan penelitian. ....................................................... 26

4 Model Pengulangan Uji Daya Hambat Kualitatif..................................... 34

5 Model Pengulangan Uji Daya Hambat Kuantitatif .................................... 35

6 Grafik Hasil Pengukuran Zona Hambatan (mm) ekstrak daun mangrove


S. alba terhadap bakteri V. harveyi pada berbagai konsentrasi ................. 37

7 Populasi bakteri V. harveyi (Log CFU/mL) pada uji tantang


Secara In Vitro dengan ekstrak daun S. alba pada konsentrasi berbeda .... 38

8 Reaksi penguraian fosfolipida pada membran sitoplasma bakteri


oleh flavon ................................................................................................. 49

xvi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Peralatan yang digunakan pada penelitian uji daya hambat ekstraksi


daun mangrove (S.alba) pada pertumbuhan bakteri V.harveyi ................. 19

2 Bahan yang digunakan pada penelitian uji daya hambat ekstraksi


daun mangrove (S.alba) pada pertumbuhan bakteri V.harveyi ................. 20

3 Jumlah masing-masing larutan ekstraksi pada setiap perlakuan 25

4 Jumlah Masing-Masing Media NB pada setiap perlakuan ........................ 28

5 Jumlah masing-masing larutan ekstraksi pada setiap perlakuan ............... 31

6 Pengenceran setiap perlakuan .................................................................... 32

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Hasil Pengamatan Pada Paper Disk .......................................................... 57

2 Hasil Perhitungan Jumlah Koloni Bakteri (CFU/mL) ............................... 58

3 Populasi Bakteri (CFU/mL) ....................................................................... 60

4 Hasil analisis data pengujian antibakteri secara kualitatif ......................... 61

5 Hasil analisis data pengujian antibakteri secara kuantitatif ....................... 62

6 Dokumentasi Kegiatan Penelitian.............................................................. 66

xviii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan usaha budidaya udang di tambak hingga saat ini masih menjadi

salah satu kegiatan utama yang mampu memberikan harapan bagi peningkatan

kesejahteraan masyarakat dan pendapatan devisa negara dari sektor non migas.

Upaya pencanangan revitalisasi pertanian dan perikanan tahun 2005 yang

dilakukan pemerintah dengan fokus perhatian antara lain pada kegiatan budidaya

udang di tambak diproyeksikan akan mengalami peningkatan produksi tiap tahun

sebesar 13% khususnya udang windu (Pennaeus monodon). Proyeksi peningkatan

produksi tersebut diharapkan akan mencapai hasil produksi udang windu sebesar

188.000 ton pada tahun 2014 (Murdjani, 2010).

Upaya pencapaian hasil produksi pada usaha budidaya udang windu (P.

monodon) nampaknya masih menemukan berbagai permasalahan diantaranaya

adalah tingginya tingkat serangan penyakit baik yang bersifat infeksius maupun

non-infeksius. Serangan penyakit ini sudah dimulai sejak tahun 1980 dan hingga

kini masih menjadi masalah utama dalam kegiatan usaha budidaya udang windu

(P. monodon) di tambak. Berbagai jenis penyakit pada budidaya udang windu (P.

monodon) sebagian besar diakibatkan oleh infeksi bakteri patogen (Trianto dkk.,

2004). Sedangkan penyakit infeksi bakteri patogen yang sering ditemukan

pembudidaya adalah vibriosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio

harveyi. Infeksi bakteri ini terjadi baik secara primer yakni dengan kontak

langsung pada tubuh udang maupun secara sekunder yaitu melalui perantara

organisme lain (Akhyar, 2010).


2

Penyakit vibriosis atau yang sering disebut udang menyala merupakan

penyakit yang paling sering menyebabkan kerugian besar bagi para pembudidaya

udang di tambak. Tercatat bahwa hampir setiap tahun pembudidaya mengalami

gagal panen disebabkan penyakit ini. Data menunjukkan bahwa terjadi pasang

surut produksi setiap tahun akibat timbulnya berbagai penyakit, utamanya

penyakit vibriosis. Hal ini karena vibriosis merupakan penyakit yang sering

menyebabkan kematian massal pada budidaya udang utamanya pada stadia larva

(Tepu, 2006).

Berbagai upaya pencegahan serangan penyakit vibriosis telah dilakukan,

salah satunya dengan pemberian antibiotik secara kontinyu untuk menghambat

pertumbuhan bakteri dan meningkatkan imunitas udang. Namun penggunaan

antibiotik secara terus menerus ternyata memberikan peningkatan resistensi

bakteri dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan udang baik secara langsung

maupun tidak melalui penurunan kualitas air (Nanin, 2011). Disamping

penggunaan antibiotik, penggunaan bahan kimia dan pestisida oleh petambak

untuk menanggulangi setiap penyakit udang yang timbul sangat merugikan

(Suryati dkk., 2006). Hal ini karena dapat menimbulkan akumulasi senyawa kimia

berbahaya dan pencemaran lingkungan yang menyebabkan kegiatan budidaya

tidak ramah lingkungan.

Melihat berbagai kelemahan tersebut, maka diperlukan berbagai alternatif

lain dalam penanggulangan penyakit vibriosis diantaranya penggunaan ekstrak

herbal dari alam yang mengandung senyawa antibakteri. Salah satu tumbuhan

yang mengandung senyawa bioaktif antibakteri adalah tumbuhan mangrove


3

(Sucianti dkk., 2012). Selain digunakan sebagai bahan obat-obatan alamiah,

tumbuhan mangrove juga terbukti dapat digunakan untuk mencegah pertumbuhan

bakteri termasuk V. harveyi (Feliatra, 2000).

Secara umum mangrove merupakan tumbuhan yang jumlahnya melimpah

dan mudah ditemukan sehingga potensial digunakan sebagai bahan alternatif

pengganti obat-obatan kimia dan antibiotik pada budidaya udang. Penggunaan

ekstrak tumbuhan mangrove pada dasarnya sangat bermanfaat bagi pencegahan

infeksi bakteri dan peningkatan daya tahan tubuh bagi udang windu (P. monodon)

yang sifatnya ramah lingkungan. Hal ini karena mangrove merupakan bahan alam

yang banyak mengandung antibakteri dan bahan immunostimulan untuk udang

dan bersifat mudah terurai sehingga tidak menimbulkan residu.

Identifikasi antibakteri pada tumbuhan mangrove terus dilakukan hampir

di setiap jenis. Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan

mangrove memang telah terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan

bakteri V. harveyi karena kandungan senyawa antibakteri seperti turunan asam

fenolat (Feliatra, 2000). Hasil penelitian pada kulit batang mangrove (Sonneratia

alba) menunjukkan jenis mangrove ini memiliki potensi sebagai bahan

antioksidan yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri karena mengandung

senyawa antibakteri seperti flavonoid, tannin dan asam fenolat (Herawati dkk.,

2011). Namun penelitian lebih lanjut pada daun mangrove (S. alba) dalam

menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi belum dilakukan. Padahal tumbuhan

mangrove diduga memiliki kandungan senyawa antibakteri terbanyak pada bagian

daunnya, sebab pada daun terjadi proses fotosintesis yang menyebabkan bagian
4

daun lebih banyak mensintesis senyawa kimia (Saptiani dkk., 2012). Oleh karena

itu perlu dilakukan penelitian pengujian ekstrak daun mangrove jenis S. alba

dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi secara in vitro, sebagai

langkah awal dalam upaya pencegahan penyakit vibriosis pada udang windu (P.

monodon).

B. Rumusan Masalah

Salah satu masalah yang sering menghambat produksi budidaya udang

windu (P. monodon) adalah adanya serangan penyakit vibriosis yang salah satu

penyebabnya adalah infeksi bakteri V. Harveyi. Penggunaan antibiotik untuk

penanggulangan penyakit telah dilarang oleh pemerintah (Kepmen No.

KEP.02/MEN/2007) karena dampak negatif yang ditimbulkan yaitu terjadinya

resistensi bakteri patogen dan menurunnya kualitas air pada wadah budidaya.

Dengan demikian diperlukan alternatif lain untuk dapat menanggulangi penyakit

vibriosis pada udang windu diantaranya penggunaan ektrak bahan herbal dari

daun mangrove (S. alba). Untuk hal tersebut maka perlu dilakukan uji kualitas dan

kuantitas pada penggunaan ekstrak daun mangrove ini untuk mengetahui

efektifitas daya hambatnya dan jumlah koloni yang dihambat secara in vitro pada

berbagai konsentrasi yang berbeda.

C. Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun

mangrove (S. alba) terhadap pertumbuhan bakteri V. harveyi secara kualitatif dan

kuantitatif. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai tambahan informasi maupun
5

referensi mengenai konsentrasi terbaik pemberian ekstrak daun mangrove

(S. alba) untuk menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi yang menyebabkan

penyakit vibriosis pada udang windu (P. monodon).


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mangrove

1. Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi tumbuhan mangrove (S. alba) menurut Ruslia (2006) sebagai

berikut:

Kingdom: Plantae
Phyllum: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Myrtales
Family: Sonneratiaceae
Genus: Sonneratia
Species: S. alba

Gambar 1. Daun S. alba (Dok. Pribadi, 2013)

Mangrove menjadi salah satu ekosistem pesisir yang penting selain

terumbu karang dan padang lamun. Hal ini karena mangrove memiliki fungsi

ekologis yakni sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, mempercepat

sedimentasi, mengendalikan intrusi air laut, dan melindungi daerah di belakang

mangrove dari gelombang tinggi dan angin kencang, tempat memijah, mencari
8

makan, dan berlindung bagi ikan, udang, kepiting dan biota laut lainnya. Selain

itu juga, ekosistem mangrove memiliki fungsi ekonomi yakni sebagai bahan

makanan, minuman, obat-obatan, pewarna alami, dan sebagai obyek ekowisata

(Welly dkk., 2010).

Mangrove jenis S. alba memiliki nama lokal seperti pedada, perepat,

pidada, bogem, beropak dan sopo. Pohon ini memiliki morfologi dengan kulit

kayu berwarna putih tua hingga cokelat dengan celah logitudinal dan halus. Pohon

ini tumbuh tersebar dalam zona tutupan mangrove dan memiliki ketinggian

hingga 15 meter. Bagian akar pohon berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul

dipermukaan sebagai akar nafas berbentuk kerucut tumpul mencapai 25 cm.

Sedangkan daunnya berkulit dan memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada

bagian pangkal ganggang daun. Gagang daun memiliki panjang hingga 6-15 mm.

Secara morfologi bentuk daun membundar sepeti telur terbalik dengan ukuran 5-

12,5 x 3-9 cm. Ciri lain dari pohon mangrove (S. alba) bagian buahnya seperti

bola dengan ujung yang bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak

bunga (Ruslia dkk., 2006).

S. alba memiliki sistem perakaran yang unik dengan tipe akar cakar. Akar

ini dilengkapi dengan bagian pneumatophore atau akar napas yang muncul

dipermukaan tanah. Fungsinya untuk mengambil oksigen dari udara dan bertahan

pada substrat berlumpur. Sedangkan daunnya berbentuk bulat dengan fungsi

sebagai bahan organik yang membantu proses penyediaan nutrien diperairan

(Saparinto, 2007).
9

2. Karakteristik Biologi dan Habitat

Ekosistem mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat

dan laut. Terdapat di daerah tropik atau sub tropik disepanjang pantai yang

terlindung dan di muara sungai yang merupakan komunitas tumbuhan pantai yang

didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove. Tumbuhan ini mampu tumbuh

dan berkembang pada daerah pasang surut sesuai dengan toleransinya terhadap

salinitas, lama penggenangan, substrat dan morfologi pantainya. Mangrove dapat

dijumpai pada daerah sepanjang muara sungai atau daerah yang banyak

dipengaruhi oleh faktor aliran sungai (fluvio-marine) dan daerah yang biasanya

lebih didominasi faktor laut (marino-fluvial) (DKP, 2004).

Secara umum mangrove tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang

selalu dipengaruhi oleh aliran air tawar, serta terlindung dari pukulan ombak. Oleh

karena itu, mangrove banyak tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir teluk

yang dialiri sungai dan pulau-pulau kecil. Untuk mempertahankan eksistensinya,

mangrove memiliki daya adaptasi fisiologi yang tinggi terhadap lingkungan

pesisir yang sangat ekstrim. Mangrove sangat cocok tumbuh pada kawasan yang

terlindung dan memiliki lingkungan yang memungkinkan terjadinya endapan

(sedimen), misalnya daerah muara sungai. Secara umum, mangrove dicirikan

tumbuh pada substrat yang memiliki kadar garam (salinitas) dan suhu yang tinggi,

kadar oksigen yang rendah, serta substrat tanah berlumpur yang mengandung sisa-

sisa bahan organik (Paramudji, 2010).

Berdasarkan zonasi mangrove, jenis S. alba mendominasi areal yang

benar-benar dipengaruhi oleh air laut. Dimana jenis ini ko-dominan pada areal
10

pantai yang selalu tergenang atau termasuk dalam mengrove zona terbuka. S. alba

yang memiliki komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka ini sangat

bergantung pada jenis substrat yang ada, dimana substrat yang dibutuhkan oleh

jenis ini adalah cendrung pada daerah berpasir. Tidak hanya itu, jenis ini juga

biasa ditemukan pada daerah mangrove payau kearah pantai dan biasanya

bersama dengan Nypa (Ruslia, 2006).

Mangrove jenis Sonneratia spp. hidup pada tanah yang rendah kandungan

asamnya, hal ini disebabkan bentuk akarnya yang tumpul dan memiliki akar napas

(pneumatophore) sehingga pada vegetasinya mangrove jenis ini termasuk dalam

vegetasi mangrove inti. S. alba sering dijumpai tumbuh bersama dengan

Sonneratia caseolaris, sehingga sulit dibedakan. Salah satu yang membedakan

adalah bunganya. Secara umum tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah

estuari dengan salinitas 10-30 ppt. Namun beberapa dapat tumbuh dengan

salinitas tinggi seperti Sonneratia sp. yang dapat hidup hingga salinitas 44 ppt.

Sedangkan suhu yang dibutuhkan tumbuhan mangrove ini adalah 28-30oC

(Saparinto, 2007).

3. Potensi Senyawa Bioaktif Mangrove

Pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan mangrove (terutama jenis pohon

dari marga Rhizophora, Bruguiera, Avicennia dan Sonneratia) secara tradisional

oleh masyarakat pesisir di Indonesia telah lama berlangsung sejak beberapa abad

yang lalu. Pemanfaatan secara tradisional dari berbagai jenis tumbuhan mangrove

tersebut merupakan pemanfaatan tingkat awal dari sumberdaya mangrove


11

berdasarkan pengetahuan lokal masyarakat yang sampai saat ini tidak

terdokumentasikan secara baik (Oktavianus, 2013).

Mangrove jenis S. alba (Beropa) merupakan salah satu spesies tumbuhan

mangrove yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan.

Kulit batang tumbuhan ini mengandung antioksidan. Tumbuhan ini seringkali

dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat pesisir sebagai pengawet

minuman atau makanan dan obat anti luka (Herawati dkk., 2011).

Jika ditinjau secara umum, tanaman mangrove mengandung senyawa-

senyawa kimia diantaranya tannin, saponin, steroid, alkaloid, flavonoid,

benzoquinone, naphthoquinone, naphthofurans, flavonoid, polyfenol, rotenone,

flavoglican, sesquiterpene, di- dan triterpene, limonoid, minyak esensial, sterols,

karbohidrat, o-metil-inositol, gula, iridoid glikosida, alkaloid dan asam amino

bebas, feromon, gibberellin, forbol ester, keterosiklik oksigen, senyawa sulfur,

lemak dan hidrokarbon, alkohol alipatik rantai panjang dan lemak jenuh, asam

lemak bebas termasuk PUFAs (asam lemak tak jenuh ganda) (Akhyar, 2010).

Telah diketahui bersama bahwa tumbuhan mangrove merupakan salah satu

biota penyusun ekosistem pesisir pantai yang berfungsi sebagai tempat berlindung

larva ikan dan biota lain, mereduksi kekeruhan, menstabilkan kandungan nitrat

dan fosfat di dalam air serta dapat menekan pertumbuhan populasi bakteri

tertentu. Oleh karena itu tumbuhan yang potensial digunakan dalam

menanggulangi infeksi bakteri patogen pada udang windu (P. monodon). Hasil uji

senyawa bioaktif dari 8 spesies mangrove yakni Acanthus ilicifolius, Avicenia

alba, Carbera manghas, Clerodendron inerme, Euphatorium inulifolium,


12

Exoecaria agalocha, Osbornia octodonta, dan Sonneratia caseolaris

menunjukkan bahwa ekstraksi tumbuhan mangrove tersebut efektif sebagai

bakterisida, dimana masing-masing mengandung senyawa 2-methyl piperazin, 2-

heptanimin-6 mehyl-amino-6 methylen, n-decane/isodecane, furanon gamma-

crotonolactone dan L-galactopyranosida (Suryati dkk., 2006).

Kandungan bioaktif yang terkandung pada tanaman mangrove sangat

beragam, belum jelas diketahui seberapa jauh pengaruh masing-masing senyawa

bioaktif tersebut menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi. Menurut Harahap

(1997) kandungan bioaktif yang ada pada tumbuhan mangrove adalah steroid

dalam fraksi non polar yang bersifat bakteriostatik. Sedangkan Soediro dkk.

(1997) menyatakan bahwa senyawa yang terdapat pada tumbuhan mangrove

adalah senyawa verbacosida dan turunan asam fenolat.

Senyawa bioaktif antibakteri seperti tanin yang terdapat dalam ekstrak

mangrove Aegiceras corniculatum merupakan senyawa phenolik komplek yang

dapat menghambat aktivitas bakteri. Menurut Mannito (1981) dalam Trianto dkk.

(2004) bahwa komponen utama tanin adalah katekin yang termasuk kelompok

flavonoid. Senyawa flavonoid ini ditemukan mampu menghambat pertumbuhan

bakteri (Saptiani dkk., 2013).

B. Tinjauan Umum Bakteri Uji

Bakteri memiliki keragaman morfologi dan ekologi. Ditinjau secara

definisi bakteri merupakan mikroorganisme dengan struktur intraseluler yang

sederhana dan mempunyai daerah penyebaran relatif luas. Bakteri mempunyai

ukuran berbeda menurut genusnya dan relatif lebih besar dari virus yaitu antara
13

0,3-0,5 mikron. Bakteri memiliki ciri-ciri diantaranya sifatnya dapat tumbuh dan

bertambah banyak dalam kelompok, berbentuk rantai atau benang dan memiliki

koloni yang berwarna dan berkilau. Selain itu bakteri juga memerlukan media

untuk tumbuh, sehingga untuk menumbuhkan bakteri tertentu kita harus membuat

media spesifik yang menumbuhkan bakteri tersebut. Di alam bakteri dapat bersifat

saprofik, fotosintetik, ototrofik atau parasitik. Berdasarkan hasil pewarnaan gram,

bakteri terbagi atas dua yakni bakteri gram negatif (terlihat berwarna pink atau

merah) dan bakteri gram positif (terlihat berwarna biru). Salah satu bakteri yang

patogen dan tergolong dalam bakteri gram negatif adalah Vibrio sp. (Kordi, 2011).

Bakteri Vibrio sp. Menjadi salah satu bakteri patogen yang membahayakan

dalam budidaya udang, utamanya pembenihan udang. Bakteri ini bersifat patogen

oportunistik pada kondisi normal dimana kesetimbangan antara lingkungan

pemeliharaan dan organisme khususnya udang dalam keadaan normal. Hanya saja

akan berubah menjadi saprofitik yang patogenik hingga menyebabkan penyakit

infeksi pada udang jika kondisi lingkungannya yang memicu peningkatan

pertumbuhannya (Feliatra, 1999).

Bakteri V. harveyi adalah bakteri yang berasal dari air laut dan merupakan

bakteri gram negatif yang berbentuk batang, bersifat anaerob fakultatif dan

kemoorganotrof. Bakteri ini dapat menyerang udang -udangan, utamanya udang

windu (P. monodon) pada tahap larva hingga dewasa. Udang windu (P. monodon)

yang terserang menunjukkan gejala pergerakan yang lambat, terdapat perluasan

bintik merah pada kaki jalan dan kaki renang, serta bintik hitam pada bagian
14

insang. Bakteri Vibrio dapat dikultur pada media TCBSA (Austin dan Austin,

1989).

Bakteri V. harveyi yang berasal dari laut ini memiliki ciri khusus yang

menyala pada kondisi gelap sehingga mudah dikenali diperairan tambak. Berikut

ini klasifikasi bakteri V. harveyi menurut Kirkup et al. (2010) yang menyebutkan:

Kingdom : Bacteria
Phyllum : Proteobacteria
Class : Gammaproteobacteria
Order : Vibrionales
Family : Vibrionaceae
Genus : Vibrio
Species : V. harveyi

Gambar 2. Karakteristik Morfologi Koloni Bakteri V. harveyi pada media TCBSA


(A) Koloni Bakteri (Dok. Pribadi, 2013)

Dalam pertumbuhannya, bakteri ini sering kali mengeluarkan enzim

protase untuk mengurai bahan-bahan protein menjadi asam amino. Tanpa aktifitas

ini, bakteri V. harveyi tidak dapat tumbuh dan melangsungkan proses

metabolitnya. Dalam penelitian Sarida dkk. (2010) ditemukan bahwa senyawa

antibakteri antrakuonin dan skopoletin bersifat seperti fenol mampu menghambat

produksi enzim bakteri V. harveyi, dimana kedua zat tersebut bekerja secara
15

spesifik pada membran sitoplasma bakteri. Secara sistematis bahwa setiap bahan

organik akan didegradasi oleh bakteri di ruang periplasma oleh enzim degradatif

yang akan dipecah menjadi molekul sederhana. Sehingga bahan aktif buah

mengkudu (morindon dan skopoletin) merupakan senyawa organik yang bersifat

non-polar dalam bentuk glikosida dan kumarin yang relatif sulit untuk didegradasi

oleh bakteri V. harveyi. Hal ini diduga terkait dengan cincin benzen pada senyawa

tersebut. Bahan aktif buah mengkudu akan tertimbun pada membran sitoplasma.

Keberadaan bahan aktif buah mengkudu pada membran sitoplasma akan menekan

sintesis enzim lain yang diperlukan untuk penguraian nutrien. Selain itu proses

transpor aktif menjadi terhambat sehingga pertumbuhan bakteri V. harveyi akan

terhambat.

Penyakit vibriosis yang disebabkan oleh bakteri V. harveyi mempunyai

sifat menyerang yang ganas. Hal ini karena bakteri V. harveyi dilengkapi dengan

flagel dan mampu tumbuh pada kondisi yang ekstrim. Sehingga seringkali

menjangkiti berbagai jenis ikan dan udang utamanya udang windu (P. monodon).

Tidak hanya menyebabkan penyakit vibriosis, bakteri ini juga dapat menyebabkan

penyakit udang bengkok dan pengrusakan sirip pada ikan (Kordi, 2011). V.

harveyi telah menyebabkan peningkatan mortalitas udang di tambak. Penggunaan

antibiotik telah memberikan peningkatan resistensi terhadap bakteri itu sendiri,

sehingga penggunaannya akan menjadi sia-sia (Moriarty, 1999).

C. Teknik Ekstraksi Maserasi

Ekstraksi merupakan suatu metode pemisahan antara bahan padat dan

bahan cair dari suatu zat dengan berbagai cara diantaranya metode ekstraksi
16

sentrifugasi, maserasi, soxhletasi, refluks maupun pengepresan (Akhyar, 2010).

Masing-masing metode memiliki kelemahan dan kekurangan, sehingga

penggunaanya dilakukan menurut peruntukan zat yang akan diekstraksi. Salah

satu metode yang sering digunakan dalam ekstraksi senyawa bioaktif untuk

menghambat pertumbuhan bakteri adalah metode maserasi.

Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut

sebagai larutan pemisah antara padatan dan cairan dari bahan tertentu. Pelarut

yang digunakan dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan

material lainnya. Ekstraksi bahan alam umumnya dilakukan untuk menarik

komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada

prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan

mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel,

waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut (Tohir, 2010

dalam Oktavianus, 2013).

Ektraksi akar, batang, daun maupun buah telah banyak dilakukan dalam

penelitian daya hambat terhadap bakteri. Menurut Sucianti dkk. (2012) bahwa

penggunaan pelarut dalam metode ekstraksi maserasi didasarkan pada tingkat

kepolaran masing-masing pelarut, yakni polar, semi polar dan pelarut non polar.

Dimana penggunaan pelarut metanol, etil asetat dan hexan dimaksudkan untuk

mengekstrak seluruh jenis bahan aktif yang mungkin dimiliki oleh daun

mangrove. Berdasarkan hasil uji pelarut ditemukan bahwa rata-rata pelarut yang
17

memiliki nilai rendeman tertinggi secara berurut adalah pelarut etil asetat, metanol

dan n-heksan.

Prinsip penggunaan pelarut ini bertumpu pada prinsip kimia dimana

pelarut seperti senyawa terlarut, artinya pelarut polar akan melarutkan senyawa

polar dan pelarut non-polar akan melarutkan senyawa non-polar. Pelarut Metanol

memiliki titik didih 65oC dan titik beku 98oC serta konstanta dielitirik 32,6

(Achmadi, 1992 dalam Oktavianus, 2013). Metanol merupakan pelarut polar yang

mampu menarik bahan nabati sehingga memisahkan senyawa bioaktifnya.

Menurut Harbonne (1987) dalam Sucianti (2012) bahwa senyawa metanol mampu

mengekstrak senyawa alkaloid kuartener, komponen fenolik, karotenoid dan

tanin.

D. Pengujian Antibakteri

Pengujian antibakteri dari senyawa bioaktif telah sering dilakukan, dalam

prosesnya biasanya mengacu pada jensi bakteri yang akan dibiakkan. Dalam uji

daya hambat pertumbuhan bakteri V. harveyi Sucianti dkk. (2012) menggunakan

metode paper disk atau biasa dikenal dengan metode difusi agar. Dimana paper

disk berukuran 6 mm dicelupkan ke dalam larutan ekstraksi daun mangrove jenis

Rhizophora mucronata dan dimasukkan ke dalam biakan bakteri yang telah

ditebar dalam media MH (Mueller Hinton). Selain larutan ekstraksi juga

digunakan pelarut sebagai kontrol. Penggunaan pelarut pada paper disk untuk

membuktikan bahwa pelarut yang digunakan tidak berpengaruh sebagai anti

bakteri dan sebagai nilai koreksi jika terdapat zona bening di sekitar paper disk

pelarut.
18

Pengujian bakteri V. harveyi juga sering dilakukan dengan metode tanam agar

bor. Dimana agar bor diletakkan dalam goresan koloni yang telah diinokulasi

sebelumnya di media TSA 2,5% NaCl (Sarida dkk., 210). Selama ini pengujian

antibakteri seringkali dilakukan dengan menggunakan uji zona hambatan,

sehingga kita hanya mengetahui sebatas kualitas dari senyawa hasil ekstraksi.

Dengan penggunaan metode kuantitatif kita dapat menghitung jumlah kepadatan

bakteri yang ada sehingga dapat diketahui bahwa perairan tambak tertentu

memiliki konsentrasi bakteri yang mematikan atau tidak.

Ekstrak metanol dari kulit batang S. alba menunjukkan aktivitas antioksidan

yang kuat. Pelarut pengekstraksi yang digunakan dalam isolasi senyawa

antioksidan berpengaruh pada jumlah dan aktivitas antioksidan disebabkan

perbedaan polaritas senyawa tersebut. Fakta ini didukung oleh beberapa peneliti

yang menyatakan bahwa sifat antioksidan dari ekstrak tumbuhan umumnya

ditimbul-kan oleh senyawa fenolat, seperti flavonoid, asam fenolat, dan tannin

(Herawati dkk., 2011).

Hasil pengujian antibiotik terhadap pertumbuhan bakteri V. harveyi

menunjukkan bahwa bakteri mengalami resistensi terhadap beberapa antibiotic

yakni Ampicilin, Amoxicilin, Vancomycin, Nalidixid Acid, Neomycin dan

Chloramphenicol. (Mahbud et al., 2011). Untuk pengujian bakteri V. harveyi

secara in vitro menggunakan media TCBSA (Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose

Agar) atau media spesifik yang dapat menumbuhkan bakteri vibrio (Azizunnisa

dan Sreeramulu, 2013).


III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November

2013, bertempat di Laboratorium Patologi Balai Penelitian dan Pengembangan

Budidaya Air Payau (BPPBAP), Maros.

B. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Peralatan yang digunakan pada penelitian uji daya hambat ekstraksi daun
mangrove (S. alba) pada pertumbuhan bakteri V. harveyi
No Alat Kegunaan
1 Autoclave Untuk mensterilkan alat dan bahan (basah)
2 Oven Untuk mensterilkan alat (kering)
3 Inkubator Untuk menumbuhkan bakteri
4 Evaporator Untuk memisahkan larutan metanol dan hasil
ekstraksi daun mangrove
5 Hotplate Stirer Untuk memanaskan media yang akan dibuat
6 Clean Beanch Sebagai meja kerja saat penanaman bakteri
ataupun pencenceran
7 Erlenmeyer Untuk tempat pengenceran bakteri
8 Mikropipet Untuk mengambil larutan dengan jumlah tertentu
9 Batang Penggerus Untuk meratakan bakteri dalam media yang telah
diinokulasi
10 Cawan Petri Untuk tempat pembuatan media bakteri
11 Lampu Bunsen Untuk mesterilkan alat yang digunakan secara
aseptik
12 Pinset Untuk mengambil Paper Disk
13 Kertas Pembungkus Untuk membungkus tip mikropipet sebelum
disterilkan
14 Plastik Untuk membungkus botol pengenceran sebelum
disterilkan
15 Botol Duran Untuk pengenceran dengan larutan NaCl 0,85%
16 Tabung Reaksi Untuk mengencerkan hasil ekstraksi dan biakan
bakteri
17 Rak Tabung Reaksi Untuk menyimpan tabung reaksi
18 Spidol Untuk melabel dan penanda pada cawan petri
19 Timbangan Analitik Untuk menimbang media yang akan dibuat
20

20 Wadah Pencucian Untuk mencuci seluruh alat yang telah digunakan


21 Lemari Penyimpanan Untuk menyimpan alat dan bahan steril
22 Lemari es Untuk menyimpan media, sampel dan larutan
23 Shaker Untuk menghomogenkan larutan
24 Blender Untuk membuat simplsia
25 Jangka Sorong Untuk menghitung daya hambat
26 Mistar Untuk menggaris dan mengukur
27 Almunium Foil Untuk menutup erlenmeyer yang akan
dipanaskan
28 Karet Untuk mengikat kertas almunium foil
29 Saringan whatman Untuk menyaring hasil ekstraksi yang direndam
metanol
30 Spatula Untuk mengambil bubuk media
31 Gelas Ukur Untuk mengukur akuades yang akan digunakan
32 Kertas Timbang Sebagai wadah bubuk media saat ditimbang

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada penelitian uji daya hambat ekstraksi daun
mangrove (S. alba) pada pertumbuhan bakteri V. harveyi
No Bahan Kegunaan
1 Biakan Bakteri V. Sebagai Obyek Pengamatan
Harveyi (Kode 275)
2 Ekstrak Daun Untuk pengujian daya hambat
Mangrove (S. alba)
3 Media MH Media untuk menumbuhkan bakteri V. harveyi
4 Media TCBS Media selektif untuk menumbuhkan bakteri V.
harveyi
5 Media NB Media cair untuk menumbuhkan bakteri V. harveyi
6 NaCl Untuk membuat larutan fisiologis
7 Akuades Sebagai larutan steril
8 Paper Disk Untuk pengamatan zona hambatan
9 DMSO 10% Untuk pengenceran ekstraksi daun mangrove
10 Alkohol Untuk mensterilkan pinset yang digunakan
11 Tip Pipet Biru Untuk mengambil larutan
12 Tip Pipet Kuning Untuk mengambil larutan
13 Tissu Untuk membersihkan meja
14 Kapas Alkohol Untuk mensterilkan alat yang akan digunakan
15 Metanol 80% Untuk membuat larutan ekstraksi
16 Deterjen Untuk mencuci peralatan yang akan digunakan
17 Antibiotik Untuk pengamatan zona hambatan
(Rifampisin)
21

C. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi dua tahapan pokok yakni

penyiapan ekstrak daun mangrove dan pengujian aktifitas antibakteri V. harveyi.

Adapun tahapan pelaksanaanya sebagai berikut:

1. Penyiapan Ekstrak Daun Mangrove

Penelitian ini menggunakan stok hasil ekstraksi daun mangrove jenis S.

alba dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros.

2. Pengujian Antibakteri V. harveyi

Uji antibakteri V. harveyi dilakukan dengan dua tahapan yaitu a) Uji daya

hambat secara kualitatif dengan metode uji zona hambatan menggunakan paper

disk yang bertujuan untuk mengetahui kualitas dari hasil ekstraksi daun mangrove

dan b) Uji daya hambat secara kuantitatif dengan metode uji tantang secara in

vitro yang bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri yang dihambat.

a) Uji Daya Hambat secara Kualitatif

Uji daya hambat secara kualitatif dilakukan dengan metode uji zona

hambatan menggunakan paper disk . Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh

mana efektifitas ekstrak daun mangrove untuk menghambat pertumbuhan bakteri

V. harveyi. Pengujian ini nantinya menunjukkan ukuran daya hambat (mm) pada

setiap konsentrasi ekstraksi yakni 2.000 ppm, 4.000 ppm, 6.000 ppm, 8.000 ppm,

10.000 ppm dan larutan DMSO 10% (kontrol negatif) serta antibiotik (kontrol
22

positif) dengan jumlah 20 L untuk setiap disk. Adapun tahapan kerja masing-

masing pengujian adalah sebagai berikut:

1. Sterilisasi Alat dan Bahan

Sterilisasi alat dan bahan bertujuan untuk menghindarkan alat dan bahan

dari segala jenis kontaminasi. Sterilisasi dilakukaan dalam Autoclave dengan

suhu 121oC bertekanan 1 atm selama 15 menit.

2. Persiapan Media Nutrient Broth (NB) dan Mueller Hinton (MH)

Media yang digunakan adalah media NB dan MH dengan tahapan

pembuatannya sebagai berikut:

Media NB

Pembuatan media ini diawali dengan sterilisasi Akuades 20 mL dalam

erlenmeyer 50 mL, selanjutnya ditutup dengan almunium foil dan diikat

menggunakan karet, lalu di autoclave selama 15 menit pada suhu 121C. Setelah

itu NaCl ditimbang sebanyak 0,3 gr dan dimasukan dalam akuades yang telah

disterilkan. Kemudian bubuk media NB ditimbang sebanyak 0,16 gr, kemudian

dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah berisi NaCl 0,3 gr. Campuran

dihomogenkan dengan cara dipanaskan di atas hotplate stirer hingga mendidih

pada suhu 100-150oC. Setelah homogen, media NB dimasukkan dalam autoclave

untuk disterilkan terlebih dahulu selama 15 menit dengan suhu 121oC bertekanan

1 atm. Setelah itu, larutan NB didiamkan selama 15 menit dan dimasukkan

sebanyak 10 mL dalam erlenmeyer 50 mL untuk digunakan pada tahapan inkubasi

bakteri.
23

Media MH

Pembuatan media ini diawali dengan sterilisasi Akuades 250 mL dalam

erlenmeyer 500 mL, selanjutnya ditutup dengan almunium foil dan diikat

menggunakan karet, lalu di autoclave selama 15 menit pada suhu 121C tekanan 1

atm. Bubuk media MH ditimbang sebanyak 9,5 gr. Kemudian dimasukkan ke

dalam erlenmeyer yang telah berisi akuades steril 250 mL. Campuran dipanaskan

di atas hotplate menggunakan stirer hingga mendidih pada suhu 100-180oC

sampai homogen. Larutan yang telah dipanaskan kemudian ditutup dalam larutan

aluminium foil dan diikat dengan karet, lalu dimasukan dalam autoclave untuk

disterilkan selama 15 menit. Setelah diautoclave, larutan media didiamkan dalam

ruangan steril selama 15 menit. Pembuatan media dilakukan dengan metode sebar,

sehingga larutan media langsung dituang ke dalam cawan petri secara aseptik

sebanyak 20 mL setiap cawan, sehingga diperoleh 5 media dalam cawan petri

kemudian didiamkan hingga 15 menit sebelum digunakan.

3. Persiapan Inokulasi Bakteri V. harveyi

Persiapan inokulasi dilakukan dengan mempersiapkan seluruh peralatan

dan bahan yang akan digunakan. Inokulasi dimulai dengan pengambilan stok

bakteri dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros. Stok

bakteri ini diperoleh dari air tambak budidaya udang windu (P. monodon)

Pinrang yang kemudian telah diuji secara biokimia dan molekuler, sehingga

diketahui bahwa bakteri ini adalah jenis V. harveyi (Kadriah, 2012).

Biakan bakteri V. harveyi dalam media skim milk dalam tabung eppendof

yang disimpan di suhu -80oC (bio freezer) diambil 100 L untuk dimasukkan
24

dalam tabung berisi media NB sebanyak 10 mL dan dihomogenkan menggunakan

shaker selama 24 jam. Pada pengujian uji daya hambat ini, inokulasi bakteri pada

media MH dilakukan dengan metode sebar. Inokulum bakteri V. harveyi yang

telah diinkubasi selama 24 jam pada media NB dipipet sebanyak 100 L dan

dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL yang berisi 10 mL media NB kemudian

dikultur kembali selama 4 jam menggunakan shaker sehingga nantinya populasi

V. harveyi mencapai 108 CFU/mL. Menurut Kadriah (2012) bahwa bakteri V.

harveyi yang diinkubasi 4 jam akan mencapai populasi 108 CFU/mL. Kemudian

dipipet 10 L untuk diencerkan pada larutan fisiologi 1000 L dengan tujuan

untuk memperoleh populasi 105 CFU/mL, setelah itu bakteri diinokulasi 100 L

pada media MH.

4. Persiapan Ekstrak Daun Mangrove dan Kontrol Perlakuan

Persiapan ekstrak daun mangrove dalam pengujian uji daya hambat

menggunakan paper disk ini dimaksudkan untuk menyiapkan ekstraksi dengan

konsentrasi yang berbeda untuk digunakan yakni 2.000 ppm, 4.000 ppm, 6.000

ppm, 8.000 ppm, 10.000 ppm. Persiapan diawali dengan menyiapkan alat dan

bahan yang telah disterilkan meliputi tabung eppendof, DMSO

(dimethylsulfoxide) 10% sebagai pelarut ekstrak (Kasanah dan Isnansetyo, 2013),

tip pipet, larutan stok. Larutan stok yang digunakan sama seperti sebelumnya

yakni stok dari 100.000 ppm yang telah dibuat. Dalam pengenceran ini digunakan

lautan DMSO 10% yang berbeda untuk membuat konsentrasi ekstrak yang

berbeda pula. Adapun jumlah masing-masing larutan DMSO 10% dan larutan
25

ekstraksi pada setiap perlakuan dalam tabung eppendof dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 3. Jumlah masing-masing larutan ekstraksi pada setiap perlakuan


Larutan Ekstraksi
Tabung Perlakuan Pengulangan
DMSO 10% Mangrove
A 2.000 ppm 98 L 2 L 3 kali
B 4.000 ppm 96 L 4 L 3 kali
C 6.000 ppm 94 L 6 L 3 kali
D 8.000 ppm 92 L 8 L 3 kali
E 10.000 ppm 90 L 10 L 3 kali
F DMSO 10% 100 L Tanpa Ekstrak 3 kali
G Antibiotik 100 L Tanpa Ekstrak 3 kali

5. Pelaksanaan Uji Zona Hambatan

Media MH yang telah dibuat dan diinokulasi bakteri dilabeli dengan spidol

untuk membagi zona penempatan paper disk dan menandai setiap konsentrasi

ekstraksi. Adapun pembagian zona pada media MH dapat dilihat pada Gambar 4.

Setelah seluruh cawan sudah diinokulasi bakteri dan diberi label, kemudian

dimasukkan paper disk berdiameter 6 mm ke dalam setiap cawan menggunakan

pinset steril yang diberikan alkohol 100% dan telah dipanaskan dengan lampu

bunsen sesuai dengan zona masing-masing cawan. Selanjutnya pemberian larutan

ekstraksi dengan volume masing-masing setiap cawan sebanyak 20 L

menggunakan mikropipet. Pemberian larutan ekstraksi tersebut dimulai dari

konsentrasi terendah ke konsentrasi tertinggi (2.000 ppm sampai 10.000 ppm),

dan cawan lain menggunakan larutan DMSO 10% dan antibiotik sebagai kontrol.

Seluruh paper disk dalam cawan yang telah selesai diberikan ekstrak S. alba

sebanyak 20 L, kemudian diinkubasi selama 24 jam untuk menumbuhkan

bakteri.
26

6. Pengamatan Zona Hambatan

Pengamatan zona hambatan dilakukan setelah inkubasi selama 24 jam.

Hasil yang diperoleh dinyatakan positif jika terbentuk zona hambatan (zona

bening disekeliling paper disk) dan hasilnya dinyatakan negatif jika tidak

terbentuk zona hambatan. Bagian paper disk yang bening diukur menggunakan

jangka sorong untuk mengetahui diameter zona hambat yang terbentuk setiap

konsentrasi. Pengukuran setiap zona dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan

untuk memaksimalkan pengambilan data. Hasil pengukuran dimasukan dalam

analisis data untuk mengetahui konsentrasi terbaik dalam menghambat

pertumbuhan bakteri V. harveyi. Adapun skema prosedur penelitian adalah

sebagai berikut:

Uji Daya Hambat Ekstraksi Ekstrak Daun Mangrove dengan


Daun Mangrove (S.alba) Metode Maserasi (Methanol 80%)

Pengujian Anti Bakteri 1. Pengambilan Sampel


Ekstrak Mangrove pada 2. Pengeringan
V.harveyi 3. Pembuatan Simplisia
4. Ekstraksi
5. Pengkisatan

Uji Kualitatif Uji Kuantitatif


(Zona Hambatan) (Perhitungan Populasi Bakteri)
Invitro
1. Sterilisasi Alat & Bahan 1. Sterilisasi Alat & Bahan
2. Persiapan Media 2. Persiapan Media
3. Persiapan Inokulasi 3. Persiapan Inokulasi
4. Persiapan Ektraksi 4. Persiapan & Pemberian Ektrak
5. Pelaksanaan Uji Zona 5. Inokulasi Bakteri ke Media NB
Hambatan ke Media MH 6. Inkubasi 24 jam
6. Pengamatan Zona 7. Penanaman di Media TCBS
Hambatan 8. Perhitungan Populasi Bakteri

Gambar 3. Skema proses pelaksanaan penelitian


27

b) Uji Daya Hambat Secara Kuantitatif

Uji daya hambat secara kuantitatif dilakukan dengan metode uji tantang

secara in vitro. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sel bakteri V. harveyi

yang dihambat oleh hasil ekstraksi daun mangrove. Pengujian ini nantinya

menunjukkan secara kuantitatif bakteri yang dihambat pada setiap konsentrasi

ekstraksi yakni 2.000 ppm, 4.000 ppm, 6.000 ppm, 8.000 ppm dan 0 ppm (sebagai

kontrol) serta larutan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Adapun tahapan kerja

masing-masing pengujian adalah sebagai berikut:

1. Sterilisisasi Alat dan Bahan

Persiapan awal dilakukan dengan mensterilkan seluruh alat dan bahan

yang akan digunakan dalam pengujian. Sterilisasi alat yang terbuat dari plastik

dan bahan basah dalam autoclave bersuhu 121oC dengan tekanan 1 atm selama 15

menit. Sedangkan untuk alat dan bahan kering dan terbuat dari bahan kaca

disterilkan dalam oven selama tiga jam dengan suhu 180oC.

2. Persiapan Media Nutrient Broth (NB) dan Thiosulfate Citrate Bile Salts

Sucrose Agar (TCBS)

Media yang digunakan dalam pengujian antibakteri ini adalah media NB

dan TCBSA. Adapun tahapan pembuatannya sebagai berikut:

Media NB

Pada pengujian ini, media NB yang diperlukan sebanyak 200 mL.

Pembuatan media ini diawali dengan sterilisasi Akuades 350 mL dalam

erlenmeyer 500 mL, selanjutnya ditutup dengan almunium foil dan diikat
28

menggunakan karet, lalu di autoclave selama 15 menit pada suhu 121C. Setelah

itu NaCl ditimbang sebanyak 3 gr dan dimasukan dalam akuades yang telah

disterilkan. Akuades yang digunakan adalah 200 mL. Kemudian bubuk media NB

ditimbang sebanyak 1,6 gr, kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang

telah berisi NaCl 3 gr. Campuran dihomogenkan dengan cara dipanaskan di atas

hotplate stirer hingga mendidih pada suhu 100-200oC. Setelah homogen, media

NB langsung dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah steril dengan jumlah

pemberian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. Jumlah Masing-Masing Media NB pada setiap perlakuan


Tabung Perlakuan Media NB Pengulangan
1 2.000 ppm 9.800 L 3 kali
2 4.000 ppm 9.600 L 3 kali
3 6.000 ppm 9.400 L 3 kali
4 8.000 ppm 9.200 L 3 kali
5 DMSO 10% 9.900 L 3 kali
6 Kontrol 10.000 L 3 kali

Media yang telah ditakar dengan jumlah berbeda dimasukkan dalam

autoclave yang terlebih dahulu dibungkus plastik untuk disterilkan selama 2 jam

dengan suhu 121oC bertekanan 1 atm. Setelah itu, media NB dalam tabung

didinginkan dan disimpan dalam lemari steril. Selain itu dibuat juga media NB

sebanyak 10 mL untuk pengenceran bakteri sebelum inokulasi. Pembuatan

dilakukan dengan mengambil media NB yang telah dipanaskan sebelumnya

sebanyak 10 mL dan dimasukkan dalam erlenmeyer 200 mL. Kemudian ditutup

dengan aluminium foil dan disterilkan dalam autoclave. Setelah itu didinginkan

dan disimpan dalam lemari steril.


29

Media TCBSA

Media TCBS agar yang dibutuhkan dalam pengujian ini sebanyak 630

media dalam cawan petri. Pembuatan media ini diawali dengan sterilisasi Akuades

800 mL dalam setiap erlenmeyer 1000 mL. Jumlah erlenmeyer yang digunakan

adalah 16 erlenmeyer sehingga perlu total akuades yang digunakan adalah 12,8

liter. Setiap erlenmeyer kemudian ditutup dengan almunium foil dan diikat

menggunakan karet, lalu di autoclave selama 15 menit pada suhu 121C tekanan 1

atm. Bubuk media TCBSA ditimbang sebanyak 71,2 gr, Kemudian dimasukkan

ke dalam setiap erlenmeyer yang telah berisi akuades steril 800 mL. Campuran

dipanaskan di atas hotplate stirer hingga mendidih pada suhu 100oC dan

digoyangkan sampai homogen. Selanjutnya didiamkan selama 15 menit dan

dituang ke dalam cawan petri secara aseptik. Setelah beku, cawan petri dibalik

dan dibungkus menggunakan kertas dan disimpan di lemari es untuk digunakan

saat sampling pertumbuhan bakteri V. harveyi.

3. Persiapan Inokulasi Bakteri V. Harveyi Kode Isolat 275

Persiapan inokulasi dilakukan dengan mempersiapkan seluruh peralatan

dan bahan yang akan digunakan. Inokulasi dimulai dengan pengambilan stok

bakteri dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros. Stok

bakteri ini diperoleh dari air tambak budidaya udang windu (P. monodon) Pinrang

yang kemudian telah diuji secara biokimia dan molekuler, sehingga diketahui

bahwa bakteri ini adalah jenis V. harveyi dengan kode isolate 275 (Kadriah,

2012). Biakan bakteri V. harveyi pada media skim milk dalam tabung eppendof

yang disimpan pada suhu -80 oC (bio freezer), diambil 100 L untuk dimasukkan
30

dalam tabung berisi media NB sebanyak 10 mL dan diinkubasi selama 24 jam

menggunakan shaker. Setelah homogen, biakan bakteri tersebut dipipet sebanyak

100 L dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL yang berisi 10 mL media

NB kemudian diinkubasi kembali selama 4 jam menggunakan shaker sehingga

nantinya populasi V. harveyi mencapai 108 CFU/mL (Kadriah, 2012). Setelah 4

jam, biakan bakteri tersebut siap diinokulasi sebanyak 100 L pada media NB

yang sebelumnya telah disiapkan untuk uji hambat ekstrak mangrove dengan V.

harveyi.

4. Persiapan Ekstrak Daun Mangrove

Persiapan ekstrask daun mangrove dalam uji in vitro ini dimaksudkan

untuk menyiapkan ekstraksi dengan konsentrasi yakni 2.000 ppm, 4.000 ppm,

6.000 ppm, 8.000 ppm. Persiapan diawali dengan menyiapkan alat dan bahan

yang telah disterilkan meliputi botol sampel, DMSO 10%, sendok, pengaduk,

timbangan, larutan stok. Langkah pertama pencampuran stok ekstraksi yang

ditimbang sebanyak 1 gr dengan laurtan DMSO 10% sebanyak 10 mL dalam

botol sampel untuk medapatkan konsentrasi larutan ekstraksi 100.000 ppm ke

dalam botol. Larutan stok diaduk hingga homogen kemudian dimasukkan ke

dalam media NB masing-masing berbeda jumlahnya sesuai dengan konsentrasi

yang diperlukan yakni dengan menggunakan rumus pengenceran (N1V1 = N2V2)

akan didapatkan konsentrasi 8.000 ppm, 6.000 ppm, 4.000 ppm dan 2.000 ppm

dalam media NB. Adapun jumlah masing-masing ekstraksi pada setiap perlakuan

dapat dilihat pada tabel berikut:


31

Tabel 5. Jumlah masing-masing larutan ekstraksi pada setiap perlakuan


Ekstraksi Biakan Bakteri
Tabung Perlakuan Media NB
Mangrove V. Harveyi
1 2.000 ppm 9.800 L 200 L 100 L
2 4.000 ppm 9.600 L 400 L 100 L
3 6.000 ppm 9.400 L 600 L 100 L
4 8.000 ppm 9.200 L 800 L 100 L
5 DMSO 10% 9.900 L 100 L 100 L
6 Kontrol 10.000 L Tanpa Ekstrak 100 L

5. Inokulasi Bakteri V. harveyi ke dalam Media NB

Inokulasi bakteri dilakukan setelah pemberian ekstraksi daun mangrove

selesai. Biakan bakteri V. harveyi yang berumur 4 jam (108 CFU/mL) yang telah

dipersiapkan sebelumnya dimasukkan ke dalam media NB dengan konsentrasi 106

CFU/mL. Untuk memperoleh konsentrasi bakteri V. harveyi 106 CFU/mL dari

konsentrasi 108 CFU/mL, digunakan rumus pengenceran yaitu N1V1=N2V2.

Hasilnya diperoleh bahwa setiap konsentrasi ekstrak daun mangrove dalam media

NB (2.000 ppm, 4.000 ppm, 6.000 ppm dan 8.000 ppm) diberikan 100 L untuk

mendapatkan biakan bakteri 106 CFU/mL pada setiap media NB.

6. Inkubasi Selama 24 Jam

Media NB dalam tabung reaksi yang telah diberi ekstrak mangrove sesuai

dengan perlakuan dan diinokulasi bakteri V. harveyi, kemudian dihomogenkan

dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruangan sambil digoyang menggunakan

shaker.

7. Sampling Populasi Bakteri

Sampling populasi bakteri dilakukan setiap 4 jam sebanyak 6 kali selama

masa inkubasi 24 jam. Sebanyak 1 mL inokulan bakteri diambil dan dimasukkan


32

dalam larutan fisiologis (NaCl 0,85 %) sebanyak 9 mL dalam botol pengenceran.

Kemudian dilakukan pengenceran secara berseri pada setiap perlakuan dengan

mengambil 100 L pada setiap pangkat pengenceran sesuai dengan Tabel 6

sebagai berikut:

Tabel 6. Pengenceran setiap perlakuan


Perlakuan Pengenceran
A1 10-3 10-4 10-5
A2 10-3 10-4 10-5
-3 -4
A3 10 10 10-5
Pengulangan 1 2 2
-2 -3
B1 10 10 10-4 10-5
B2 10-2 10-3 10-4 10-5
-2 -3
B3 10 10 10-4 10-5
Pengulangan 1 1 2 2
-2 -3
C1 10 10 10-4 10-5
-2 -3
C2 10 10 10-4 10-5
C3 10-2 10-3 10-4 10-5
Pengulangan 1 1 2 2
-0 -2
D1 10 10 10-3 10-4
-0 -2
D2 10 10 10-3 10-4
D3 10-0 10-2 10-3 10-4
Pengulangan 1 2 2 1
-3 -4
E1 10 10 10-5 10-6
-3 -4
E2 10 10 10-5 10-6
E3 10-3 10-4 10-5 10-6
Pengulangan 1 1 2 2
F1 10-3 10-4 10-5 10-6
F2 10-3 10-4 10-5 10-6
-3 -4
F3 10 10 10-5 10-6
Pengulangan 1 1 2 2

8. Inokulasi pada Media TCBSA

Setelah pengenceran dilakukan, maka selanjutnya dilakukan inokulasi

bakteri dalam media TCBSA yang telah disiapkan sebelumnya. Konsentrasi yang

diambil sesuai pada Tabel 6 di atas berikut duplo setiap pangkat pengenceran.

Sebanyak 100 L hasil pengenceran dimasukkan ke dalam media. Kemudian


33

biakan bakteri dalam media TCBSA diratakan menggunakan batang penggerus.

Selanjutnya biakan bakteri tersebut diinkubasi menggunakan inkubator selama 24

jam.

9. Penghitungan Koloni Bakteri

Penghitungan koloni bakteri dilakukan secara manual yaitu dengan

menghitung seluruh koloni yang tumbuh dalam media TCBSA menggunakan

spidol sebagai penanda koloni bakteri yang telah dihitung.

D. Rancangan Percobaan

Penelitian pemberian ekstraksi daun mangrove untuk menghambat

pertumbuhan bakteri V. harveyi pada uji kualitatif diset dengan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) dengan menggunakan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun

perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut:

Perlakuan A : Konsentrasi 2.000 ppm

Perlakuan B : Konsentrasi 4.000 ppm

Perlakuan C : Konsentrasi 6.000 ppm

Perlakuan D : Konsentrasi 8.000 ppm

Perlakuan E : Konsentrasi 10.000 ppm

Perlakuan F : DMSO 10% (sebagai kontrol negatif)

Perlakuan G : Antibiotik Rifampisin 25 ppm (sebagai kontrol positif)


34

Adapun untuk penempatan setiap unit percobaan yakni sebagai berikut:

Gambar 4. Model Pengulangan Uji Daya Hambat Kualitatif

Sedangkan pada pemberian ekstrak daun mangrove untuk menghambat

pertumbuhan bakteri V. harveyi secara in vitro pada uji kuantitatif diset

menggunakan 6 perlakuan dengan 3 ulangan masing-masing sebagai berikut:

Perlakuan A : Konsentrasi 2.000 ppm

Perlakuan B : Konsentrasi 4.000 ppm

Perlakuan C : Konsentrasi 6.000 ppm

Perlakuan D : Konsentrasi 8.000 ppm

Perlakuan E : DMSO 10% (sebagai kontrol negatif)

Perlakuan F : Kontrol/tanpa pemberian ekstraksi (sebagai kontrol positif)

Adapun untuk penempatan ulangan percobaan dilakukan dengan

menggunakan model pengulangan 3 kali pada setiap tabung reaksi.


35

F3 D2 B1 D1 B3 F1

B2 A2 F2 E3 C3 C2

D3 E1 E2 A3 C1 A1

Gambar 5. Model Pengulangan Uji Daya Hambat Kuantitatif

E. Variabel yang Diamati

Variabel-variabel yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Zona Daya Hambatan

Pengukuran zona daya hambatan dilakukan dengan mengukur kertas

cakram berdiameter 6 mm pada media yang telah ditebari bakteri dan diberikan

ekstraksi (Sucianti dkk., 2012). Selanjutnya dilakukan pengamatan zona hambatan

pada kertas cakram dengan cara melihat ada tidaknya zona hambatan atau daerah

jernih yang tidak ditumbuhi bakteri di sekitar kertas. Jika terbentuk, maka zona

tersebut diukur diameternya.

2. Kepadatan Bakteri

Untuk uji in vitro kuantitatif dilakukan perhitungan kepadatan bakteri

yang terbentuk setelah pemberian ekstraksi. Kepadatan bakteri yang terbentuk

dihitung secara manual. Hasil perhitungan akan menunjukkan seberapa banyak

kepadatan bakteri yang dihambat oleh pemberian ekstraksi daun mangrove.

Adapun rumus menghitung kepadatan bakteri menurut Lay (1994) adalah sebagai

berikut:
36

T 1 1
Ntot CFU/mL = x x ...............................................................(1)
Q S V

Dimana:

Ntot = Jumlah total koloni bakteri dalam mililiter


T = Total bakteri pada cawan petri
Q = Jumlah Cawan Petri yang digunakan
S = Pengenceran yang digunakan
V = Volume yang diinokulasi

F. Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak yang berbeda

terhadap variabel yang diamati, maka dilakukan analisis ragam (ANOVA) dengan

taraf kepercayaan 95%. Jika hasil analisis menunjukkan perbedaan nyata,

dilanjutkan dengan Uji Duncan untuk melihat perbedaan antara perlakuan.

Analisis dilakukan dengan menggunakan komputer program SPPS versi 16.0.


V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Uji Antibakteri Secara Kualitatif

Pengujian antibakteri secara kualitatif bertujuan untuk mengetahui kualitas

ekstrak daun mangrove dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan penilaian

kualitas berdasarkan luas zona hambatan yang terbentuk. Adapun hasil uji

kualitatif dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut:

30 c
24,32
25
Zona Hambatan (mm)

b b
20 16,18 16,32
b b b
15 12,25 12,40 12,60

10

5 a
0
0 DMSO Antibiotik
2000 ppm 4000 ppm 6000 ppm 8000 ppm 10.000 DMSO
10% Antibiotik
Rifampisin
ppm 10%
(kontrol 25 ppm
negatif) (kontrol
Perlakuan positif)
Keterangan: Notasi huruf yang sama antar perlakuan menunjukkan tidak berbeda
nyata
Gambar 6. Grafik Hasil Pengukuran Zona Hambatan (mm) ekstrak daun
mangrove S. alba terhadap bakteri V. harveyi pada berbagai
konsentrasi

Hasil analisis data menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara

DMSO 10% (kontrol negatif), Antibiotik Rifampisin 25 ppm (kontrol positif) dan
38

ekstrak daun mangrove (Sig. < 0,05). Hasil uji lanjut dengan Duncan

menunjukkan bahwa ekstrak daun mangrove tidak berbeda nyata antara semua

konsentrasi namun secara nyata berbeda dengan DMSO 10% dan juga secara

nyata masih lebih rendah daya hambat yang ditimbulkan dibandingkan dengan

antibiotik komersil (Rifampisin 25 ppm) (Lampiran 4).

2. Uji Antibakteri Secara Kuantitatif

Pengujian antibakteri secara kuantitatif bertujuan untuk mengetahui daya

hambat ekstrak S. alba terhadap perkembangan populasi bakteri V. harveyi.

Pengamatan dilakukan setiap 4 jam selama 24 jam untuk mengetahui hubungan

efektifitas daya hambat pada berbagai konsentrasi ekstrak terhadap lama

pemberian dan hubungannya terhadap pola pertumbuhan bakteri V. harveyi.

12

10 d dd dd
Populasi V. harveyi (Log )

dd dd
c cc c c c
8 c c c 2000 ppm
b ppm
4000 pm
6 b b b b
aa b 6000 ppm
b
4 8000 ppm
DMSO 10%
2 Kontrol
a aa aa aa aa
0
4 Jam 8 Jam 12 Jam 16 Jam 20 Jam 24 Jam
Waktu Pengamatan

Keterangan: Notasi huruf yang sama pada waktu pengamatan yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata
Gambar 7. Populasi bakteri V. harveyi (Log CFU/mL) pada uji tantang secara in
vitro dengan ekstrak daun S. alba pada konsentrasi yang berbeda
39

Secara umum pemberian ekstrak daun mangrove mampu menghambat

pertumbuhan bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi

konsentrasi ekstrak daun mangrove dan semakin lama masa pemberian ekstrak

maka populasi V. harveyi semakin rendah. Hal ini dapat dilihat pada konsentrasi

2.000 ppm yang populasi bakterinya semakin menurun dari 1,99x108 CFU/mL

(nilai Log: 8,29) pada 4 jam lama pemberian ekstrak menjadi 5,91x107 CFU/mL

(nilai Log: 7,71) setelah 24 jam. Begitu pula dengan konsentrasi 4.000 ppm, dari

jumlah populasi bakteri 2,79 x106 CFU/mL (nilai Log: 6,20) menurun menjadi

4,89x104 CFU/mL (nilai Log: 4,68) setelah 24 jam.

Sedangkan pada konsentrasi 6.000 ppm mampu membunuh seluruh

populasi bakteri menjadi 0 CFU/mL setelah 16 jam dan pada konsentrasi 8.000

ppm setelah 8 jam. Hal ini berbeda halnya dengan kontrol yang populasi

bakterinya terus mengalami peningkatan dari 1,23x108 CFU/mL (nilai Log: 8,08)

pada 4 jam pertama menjadi 3,44x109 CFU/mL (nilai Log: 9,53) setelah 24 jam

dan DMSO 10% dari 3,62 x108 CFU/mL (nilai Log: 8,42) menjadi 2,79x109

CFU/mL (nilai Log: 9,44) setelah 24 jam (Gambar 7; Lampiran 2 dan 3).

Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara

pemberian ekstrak daun mangrove dengan kontrol (tanpa pemberian ekstrak daun

mangrove) dan DMSO 10% (Sig. < 0,05). Sehingga pada hasil uji lanjut dengan

Duncan menunjukkan perbedaan nyata antara perlakuan pada waktu yang sama

seperti yang disajikan pada Gambar 7 (Lampiran 5).


40

B. Pembahasan

1. Uji antibakteri secara kualitatif

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hasil yang berbeda nyata

terhadap zona hambatan yang terbentuk. Perbedaan ini diketahui melalui hasil uji

Duncan yang menunjukkan bahwa ekstrak daun mangrove berbeda nyata dengan

DMSO 10% dan antibiotik. Selain itu, antibiotik yang digunakan juga berbeda

nyata dengan ekstrak daun mangrove dan DMSO 10%. Secara nyata seluruh

konsentrasi ekstrak daun mangrove memberi zona hambatan yang lebih tinggi

dibandingkan DMSO 10%, namun lebih rendah dibandingkan antibiotik. Hal ini

diduga karena antibiotik (Rifampisin) memiliki kemampuan yang lebih tinggi

dalam menghambat pertumbuhan bakteri dibandingkan dengan ekstrak daun

mangrove. Sedangkan DMSO 10% tidak mengandung senyawa bioaktif yang

menghambat pertumbuhan bakteri (tidak bersifat antibakteri), sehingga tidak

terbentuk zona hambatan (negatif). Menurut Noorlis et al. (2011) bahwa antibiotik

(Rifampisin) pada dosis tinggi efektif menghambat pertumbuhan organisme gram

negatif. Sedangkan menurut Ronald et al. (1993) bahwa salah satu bakteri gram

negatif adalah bakteri V. harveyi.

Mekanisme kerja rifampisin pada sel bakteri dengan menghambat sintesa

RNA, sehingga sel bakteri tidak dapat mensintesis protein. Selain itu hasil analisis

Duncan juga menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun mangrove pada berbagai

konsentrasi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bakteri. Hal ini diduga

karena ekstrak daun mangrove memiliki jenis kandungan senyawa bioaktif

antibakteri yang sama pada setiap konsentrasi dan jumlah yang dikandungnya
41

tidak berbeda signifikan, sehingga daya hambat yang dihasilkan tidak berbeda

nyata antara konsentrasi. Menurut Herawati dkk. (2011) bahwa secara umum

mangrove mengandung senyawa flavonoid, steroid, tannin, saponin yang bersifat

antibakteri.

Berdasarkan hasil pengukuran, seluruh konsentrasi ekstak daun mangrove

memiliki daya hambat pada pertumbuhan bakteri. Meskipun zona hambatan yang

terbentuk tidak berbeda nyata pada tiap konsentrasi ekstrak, namun daya hambat

yang dihasilkan berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi. Dalam hal ini

semakin tinggi konsentrasi, maka semakin tinggi pula zona hambatan bakteri yang

terbentuk. Hal ini diduga karena setiap peningkatan konsentrasi, jumlah senyawa

bioaktifnya bertambah sehingga kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri

semakin meningkat. Menurut Sucianti dkk. (2012) bahwa semakin tinggi

konsentrasi ekstrak daun mangrove maka kandungan bahan antibakteri yang

dikandungnya juga akan semakin banyak.

Secara kualitatif, ekstrak daun mangrove tergolong lemah hingga sedang

dimana zona bening yang terbentuk adalah 12,15 mm hingga 16,23 mm. Menurut

Ahn et al. (1995) dalam Mulyani dkk. (2013) bahwa diameter zona hambat di atas

20 mm merupakan zona hambatan yang menunjukkan bahwa suatu ekstrak

memiliki respon hambatan pertumbuhan bakteri tergolong kuat, 16 hingga 19 mm

tergolong sedang dan 10 mm hingga 15 mm tergolong lemah. Konsentrasi 2.000

ppm hingga 6.000 ppm merupakan konsentrasi yang tergolong memiliki daya

hambat yang lemah terhadap pertumbuhan bakteri, sedangkan konsentrasi 8.000

hingga 10.000 memiliki respon hambatan yang sedang.


42

Dengan karakteristik bakteri V. harveyi yang menghasilkan peptidoglikan

dan lipopolisakarida yang berperan dalam perlindungan sel bakteri, maka

mekanisme penghambatan senyawa-senyawa antibakteri pada ekstraksi daun

mangrove adalah dengan menghambat sintesis protein, sintesis dinding sel dan

sintesis asam nukleat yang membantu replikasi sel pada membran sel (Jawetz et

al. 1989 dalam Saptiani dkk., 2012). Sedangkan menurut Trianto dkk. (2004)

bakteri Vibrio merupakan bakteri gram negatif yang menggunakan

peptidoglikannya sebagai pembentuk sel serta memberikan kekakuan yang

dibutuhkan untuk sistem perlindungan bakteri dari perobekan osmotik, dan

pengrusakan lapisan membran sel, sehingga senyawa antibakteri mampu

menghambat sintesa peptidoglikan tersebut agar bakteri tidak dapat melakukan

replikasi. Disamping itu peptidoglikan bersifat polar dan senyawa aktif flavonoid

juga bersifat polar, sehingga dalam mekanisme penghambatan flavonoid dapat

langsung menembus peptidoglikan dan merusakkannya.

Berdasarkan proses penghambatan tersebut, maka dalam hal ini bahan

ektrak daun mangrove dapat dikategorikan sebagai antibiotik yang bersifat

bakteriostatik, yaitu mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Purnobasuki (2004) bahwa kandungan senyawa antibakteri

pada mangrove seperti flavonoid mampu menghambat pertumbuhan bakteri

(bakteriostatik) pada media kultur. Dengan demikian, ekstrak daun mangrove (S.

alba) yang digunakan dalam pengujian antibakteri secara kualitatif dapat

dikategorikan sebagai bahan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dari

kategori lemah hingga sedang. Sehingga zona hambatan yang terbentuk masih
43

lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan antibiotik (Rifampisin) 25 ppm.

Hal ini diduga karena konsentrasi ekstrak yang diuji masih rendah dan proses

ekstraksi daun yang masih menghasilkan ekstrak kasar, sehingga perlu dilakukan

uji lanjutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan metode ekstrak yang lebih

baik, mengingat potensi yang terdapat pada ekstrak daun mangrove (S. alba)

dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi.

2. Uji antibakteri secara kuantitatif

Hasil pengujian antibakteri secara kuantitatif (Gambar 7) menunjukkan

pengaruh yang berbeda nyata dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Hasil uji

Duncan menunjukkan bahwa selama waktu pengamatan, populasi bakteri berbeda

nyata pada tiap perlakuan dengan waktu pengamatan yang sama (Lampiran 5).

Konsentrasi 6.000 ppm menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata

dengan perlakuan lain pada 12 jam setelah pemberian ekstrak, sedangkan pada

konsentrasi 8.000 ppm menunjukkan pengaruh nyata pada 8 jam setelah

pemberian ekstrak. Hal ini diduga bahwa pada 4 jam pertama seluruh bakteri

belum mengalami pengrusakan sel oleh senyawa bioaktif antibakteri yang

terkandung dalam ekstrak, baik pada konsentrasi 6.000 ppm maupun 8.000 ppm.

Sehingga belum terjadi penurunan jumlah populasi bakteri yang signifikan. Selain

itu diduga bahwa setelah 4 jam hingga 12 jam, pertumbuhan bakteri V. harveyi

mencapai fase eksponensial yakni fase pertumbuhan bakteri yang memerlukan

energi paling besar dan sel sangat sensitif pada keadaan lingkungan, sehingga

dengan keberadaan senyawa bioaktif antibakteri yang tinggi pada konsentrasi

8.000 ppm, sel bakteri mengalami denaturasi yang mengakibatkan seluruh


44

populasi bakteri mati pada 8 jam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Utomo (2010)

bahwa pada jam ke-4 hingga jam ke-12 bakteri berada pada fase eksponensial.

Fase eksponensial adalah fase dimana bakteri melakukan pembelahan secara

biner, sehingga sangat dipengaruhi oleh kadar nutrien, suhu inkubasi dan pH.

Sedangkan menurut Waluyo (2011) bahwa secara umum bakteri pada fase

eksponensial mengalami pertumbuhan yang sangat dipengaruhi oleh medium

tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan nutrient, suhu dan kelembaban

udara. Pada fase ini pula sel bakteri memerlukan lebih banyak energi dan sangat

sensitif terhadap keadaan lingkungan. Sehingga keberadaan senyawa antibakteri

sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri.

Hasil yang diperoleh pada kontrol (tanpa pemberian ekstrak) menunjukkan

pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan lain pada waktu 4 jam hingga 12

jam. Namun setelah 16 jam, populasi bakteri menurun menjadi 6,59x107 CFU/mL

sehingga tidak berbeda nyata dengan populasi yang tumbuh pada konsentrasi

2.000 ppm yakni 4,67x105 CFU/mL, dan populasi bakteri kembali bertambah

setelah 20 jam menjadi 2,31x109 CFU/mL yang menyebabkan populasi bakteri

pada kontrol berbeda nyata dengan perlakuan lain. Kondisi demikian diduga

terjadi karena pada waktu 16 jam masa kultur, bakteri pada perlakuan kontrol

memasuki fase kematian. Sehingga regenerasi dapat berlangsung setelah 20 jam

masa kultur. Hal ini sesuai pernyataan Waluyo (2011) bahwa pada fase menuju

kematian dan fase kematian bakteri mengalami degradasi sel dan akhirnya mati.

Fase ini secara umum terjadi pada waktu 14-18 jam dari fase lag dan populasi

bakteri kembali bertambah setelah regenerasi yang berlangsung 20 menit setelah


45

fase kematian. Sedangkan kondisi berbeda terjadi pada DMSO

(dimethylsulfoxide) 10%. Populasi bakteri terus bertambah setelah 16 jam

menjadi 2,21x109 CFU/mL, sehingga berbeda nyata dengan populasi bakteri yang

tumbuh pada perlakuan lain. Berkurangnya populasi bakteri pada DMSO 10%

terjadi setelah 24 jam masa kultur. Hal ini diduga bahwa pada DMSO 10%

mampu memperlambat pertumbuhan bakteri, sehingga fase menuju kematian

terjadi pada 24 jam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sadeghi et al. (2013) bahwa

DMSO merupakan dimethylulfoxide yang bersifat Cryoprotectant atau mampu

mempertahankan kondisi air dalam sel dan mencegahnya menjadi butiran kristal,

sehingga masa denaturasi sel berjalan lambat.

Pada akhir pengamatan (24 jam) konsentrasi 2.000 ppm menunjukkan

pengaruh yang berbeda nyata pada konsentrasi 4.000 ppm, sedangkan konsentrasi

6.000 ppm dan 8.000 ppm menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata dengan

kontrol dan DMSO 10%. Hal ini diduga karena konsentrasi 2.000 ppm memiliki

kandungan senyawa antibakteri yang lebih rendah dibandingkan 4.000 ppm,

sedangkan kandungan senyawa antibakteri pada konsentrasi 6.000 ppm dan 8.000

ppm lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi 2.000 ppm, 4.000 ppm, kontrol

dan DMSO 10%. Sehingga populasi bakteri dapat mencapai jumlah tertinggi pada

kontrol (tanpa ekstrak) dan DMSO 10% kemudian terendah pada konsentrasi

8.000 ppm dan 6.000 ppm.

Pada konsentrasi 8.000 ppm dan 6.000 ppm, jumlah populasi bakteri

mencapai 0 CFU/mL pada 24 jam pemberian ekstrak. Sedangkan pada kontrol dan

DMSO 10% populasi bakteri bertambah semakin tinggi di setiap pengamatan. Hal
46

ini diduga karena tidak adanya senyawa bioaktif antibakteri yang terkandung

dalam kontrol dan DMSO 10%, sehingga tidak dapat menghambat pertumbuhan

bakteri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Saptiani, dkk. (2012) bahwa

pertumbuhan bakteri akan terhambat (bakteriostatik) bahkan mati (bakterisidal)

jika suatu bahan yang diberikan dalam pengujian mengandung senyawa

antibakteri.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi

ekstrak daun mangrove maka semakin banyak jumlah populasi bakteri yang

dihambat pertumbuhannya, selain itu juga semakin lama pemberian ekstrak daun

mangrove maka semakin tinggi pula jumlah bakteri yang dihambat

pertumbuhannya. Menurut Arifuddin dkk. (2004) dalam pengujian ekstrak buah

mangrove (S. caseolaris), bahwa daya hambat pertumbuhan bakteri V. harveyi

semakin tinggi ditandai dengan semakin tingginya konsentrasi yang diberikan.

Kandungan senyawa antibakteri pada ekstraksi daun mangrove ini diduga

terdiri dari flavonoid yang berperan sebagai senyawa antibakteri. Menurut

Purnobasuki (2004) bahwa secara umum daun mangrove mengandung senyawa

steroid, saponin, flavonoid dan tannin. Senyawa flavonoid merupakan senyawa

yang berpotensi sebagai senyawa antibiotik dan antibakteri karena memiliki

aktifitas antioksidan (Saikhia and Upadhyaya, 2011). Sedangkan menurut

Andrawulan et al. (2010) bahwa flavonoid merupakan senyawa antioksidan yang

terdapat disetiap tanaman. Senyawa ini disintesis oleh tanaman sebagai sistem

pertahanan dalam responnya terhadap infeksi oleh mikroorganisme, sehingga


47

senyawa ini efektif sebagai senyawa antimikroba terhadap sejumlah

mikroorganisma (Parubak, 2013).

Senyawa flavonoid sebagai antibakteri yang terdapat ditumbuhan

mangrove, utamanya dibagian daun dapat diekstraksi dengan menggunakan

pelarut metanol. Metanol (CH3OH) yang digunakan dalam penelitian ini untuk

mengekstraksi daun mangrove tergolong sebagai pelarut bersifat polar yang dapat

melarutkan senyawa polar seperti alkaloid kuartener, komponen fenolik,

karotenoid, flavonoid dan tanin (Harbonne, 1987 dalam Sucianti, 2012). Menurut

Wardhana dkk. (2005) bahwa metanol adalah pelarut yang bersifat polar dan

sering digunakan untuk proses ekstraksi suatu simplisia, pelarut ini dapat

melarutkan senyawa-senyawa yang sifatnya polar. Flavonoid bersifat polar

sehingga dapat larut dengan methanol. Menurut Pavia et al. (1995) bahwa pelarut

metanol yang digunakan dapat melarutkan berbagai senyawa polar. Selain itu,

metanol tidak bersifat sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan

bakteri.

Salah satu bakteri yang mampu dihambat pertumbuhannya oleh senyawa

flavonoid adalah bakteri V. harveyi. Menurut Naibohu dkk. (2002) bahwa senyawa

flavonoid, tanin, steroid dan fenol hidrokuinon aktif sebagai senyawa antibakteri

V. harveyi. Mekanisme penghambatan senyawa flavonoid terhadap pertumbuhan

bakteri V. harveyi diterangkan oleh Vikram et al. (2010) bahwa senyawa

flavonoid mampu mengubah berbagai proses fisiologi dari bakteri untuk

menghambat pertumbuhannya, diantaranya adalah dengan menghambat

pembentukan biofilm pada V. harveyi yang digunakan untuk perlindungan diri


48

dalam suatu koloni dan mengambat pembentukan Type Three Secretion System

(TTSS). Secara umum biofilm ini diproduksi oleh bakteri sebagai upaya untuk

melakukan proses adaptasi dengan cara menempel pada suatu permukaan,

berkoloni dan menyelubungi dirinya sehingga berperan sebagai metode

perlindungan diri (Buana dan Wadani, 2013). TTSS merupakan sistem sekresi tipe

III yang dihasilkan bakteri untuk melindungi diri, sehingga sering digunakan

dalam pembuatan vaksin (Kusharyoto dkk., 2012). Sedangkan menurut Pelczar

dan Reid (1972) dalam Oktavianus (2013) bahwa mekanisme penghambatan

senyawa antibakteri seperti flavonoid terhadap pertumbuhan bakteri adalah

dengan merusakkan dinding sel yang mengakibatkan lisis atau penghambatan

sintesis dinding sel, pengubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga

menyebabkan keluarnya bahan makanan melalui dinding sel, denaturasi protein

sel dan perusakan sistem metabolisme di dalam sel dengan cara penghambatan

kerja enzim intraseluler, sehingga bakteri tidak dapat bereplikasi.

Jika ditinjau dari ikatan kimia, berdasarkan hasil pengujian Parubak (2013)

bahwa senyawa flavonoid golongan flavonon memiliki gugus fungsi OH terikat,

CH alifatik, C=O, C=C Aromatik, C-O dan C-H aromatik yang dapat digunakan

sebagai senyawa penghambatan antifitas bakteri. Sehingga diduga kehadiran

senyawa flavonoid pada daun mangrove (S. alba) yang menyebabkan proses

fisiologi bakteri terhambat dan membran sel V. harveyi rusak sehingga tidak

mampu melakukan perbanyakan.

Pada perusakan membran sitoplasma, ion H+ dari senyawa fenol dan

turunannya (flavonoid) akan menyerang gugus polar (gugus fosfat) sehingga


49

molekul fosfolipida akan terurai menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam

fosfat. Hal ini mengakibatkan fosfolipida tidak mampu mempertahankan bentuk

membran sitoplasma akibatnya membran sitoplasma akan bocor dan bakteri akan

mengalami hambatan pertumbuhan dan bahkan kematian. Adapun reaksi

penguraian fosfolipida pada membran sitoplasma bakteri oleh flavon ditunjukkan

dalam Gambar 9 (Gilman et al., 1991 dalam Prajitno, 2007).

Gambar 8. Reaksi penguraian fosfolipida pada membran sitoplasma bakteri oleh


flavon (Gilman et al., 1991 dalam Prajitno, 2007)

Akibat tidak berfungsinya fosfolipida pada membran sitoplasma, maka

bakteri tidak dapat melakukan pertumbuhan maupun replikasi. Sehingga senyawa

antibakteri pada ekstraksi daun mangrove menyebabkan kerusakan membran

sitoplasma yang semakin meningkat aktifitasnya dengan peningkatan konsentrasi.

Tingginya aktifitas senyawa antibakteri dalam penghambatan pertumbuhan

bakteri terjadi saat konsentrasi dinaikkan menjadi 4.000 ppm hingga 8.000 ppm.

Sedangkan menurut Maryani dkk. (2002) mekanisme pengrusakan membran sel

karena pengaruh senyawa antibakteri adalah dengan berikatan pada lipid dan
50

protein bakteri yang terdapat pada membran sel, sehingga menurunkan tegangan

permukaan membran dan menimbulkan lisis. Membran sel tersusun dari protein

dan lipid yang rentan terhadap zat kimia, rusaknya membran sel menyebabkan

tidak berlangsungnya proses transportasi senyawa dan ion dalam sel bakteri.

Tidak adanya proses pengangkutan tersebut menyebabkan bakteri akan

kekurangan nutrisi dan akhirnya mati.

Dengan demikian hasil pengujian antibakteri secara kuantitatif

menunjukkan bahwa ekstrak mangrove (S. alba) mampu menghambat

pertumbuhan bakteri dengan kepadatan hingga 108 CFU/mL. Kemampuan ekstrak

mengambat pertumbuhan bakteri secara keseluruhan terdapat pada konsentrasi

6.000 ppm yang diberikan kepada bakteri V. harveyi selama 12 jam, dan

konsentrasi 8.000 ppm selama 8 jam. Konsentrasi ini sudah termasuk konsentrasi

yang bersifat bakterisidal atau mampu membunuh bakteri. Sedangkan untuk

konsentrasi 2.000 ppm hingga 4.000 ppm merupakan konsentrasi ekstrak yang

mampu menurunkan jumlah koloni bakteri atau bersifat bakteriostatik selama 24

jam.
V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Pemberian ekstrak daun mangrove (S. alba) dengan berbagai konsentrasi

mampu menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi secara in vitro.

2. Pada pengujian kualitatif menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata

antara berbagai konsentrasi namun berpengaruh nyata dengan kontrol DMSO

10% (sebagai pelarut) dan Antibiotik Rifampisin. Daya hambat terkategori

sedang pada konsentrasi 8.000-10.000 ppm (16,18-16,23 mm) dan terkategori

lemah pada konsentrasi 2.000- 6.000 ppm (12,15-12,60 mm).

3. Pada pengujian kuantitatif menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata antara

berbagai konsentrasi dan kontrol pada setiap waktu yang sama. Secara

berturut-turut konsentrasi terbaik adalah 8.000 ppm dengan total bakteri 0

CFU/mL setelah 8 jam, 6.000 ppm dengan total bakteri 0 CFU/mL setelah 12

jam, 4.000 ppm dengan total bakteri 4,80x104 CFU/mL setelah 24 jam dan

2.000 ppm dengan total bakteri 5,17x107 CFU/mL setelah 24 jam.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, perlu disarankan adanya penelitian lanjutan

untuk menguji ekstrak daun mangrove dengan konsentrasi yang lebih tinggi guna

mengetahui efektifitas daya hambatnya dibandingkan dengan penggunaan

antibiotik komersil. Disamping itu diperlukan juga adanya penelitian lanjutan

mengenai pengujian In Vivo ekstrak daun mangrove pada udang windu.


DAFTAR PUSTAKA

Akhyar, 2010. Uji Daya Hambat dan Analisis KLT Bioautografi Ekstrak Akar dan
Buah Bakau (Rhizophora stylosa griff.) Terhadap Vibrio harveyi.
Skripsi Sarjana. Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Amsterdam, D. 1992. Susceptibility, Encyclopedia of MicrobioLogy. Academic
Press Inc., San Diego.
Andarwulan, N., Batari, R., Sandrasari, D. A., Bolling, B., Wijaya, H. 2010.
Flavonoid Content and Antioxidant Activity of Vegetables From
Indonesia. Food Chemistry Journal, 121: 12311235.
Arifuddin, Sukenda dan Dana, D. 2004. Manfaat Bahan Aktif Hidrokuonin dari
Buah Sonneratia caseolaris Untuk Mengendalikan Infeksi Buatan
Vibrio harveyi Pada Udang Windu, Paneus monodon Fab. Jurnal
Akuakultur Indonesia, 3 (1): 29-35.
Austin, B. dan Austin, D. A. 1989. Methods For The Microbilogical Examination
Of Fish and Shellfish. Department of Biological Sciences. Chishester
Publisher. New York. 317 p.
Azizunnisa dan Sreeramulu. 2013. A Study on Luminiscent Bacteria in Shrimp
Post Larvae in Hatcheries and Rearing Tanks in East Godavari District
of Andhra Pradesh, India. International Journal of Advancements in
Research & TechnoLogy, 2 (4): 109-116.
Buana, E. O. G. H. N. dan Wardani, A. K. 2013. Isolasi Bakteriofag Litik Sebagai
Agen Biosanitas Pada Proses Pelisisan Bakteri Pembentuk Biofilm.
Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2 (2): 36-42.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Pedoman Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Direktorat Bina Pesisir. Jakarta.
Feliatra. 1999. Identifikasi Bakteri Patogen (Vibrio Sp) Di Perairan Nongsa Batam
Propinsi Riau. Jurnal Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau, 2 (1): 28-33.
Harahap, S. 1997. Analisis Berbagai Senyawa Kimia Dalam Fraksi n-Heksan dan
Fraksi Benzen Kulit Batang Bakau Rhizophora mucronata lamk.
Thesis Pascasarjana. Universitas Hasanudin, Ujung Pandang. 48 hal.
Herawati, Netti, Jalaluddin, N., La Daha dan Zenta, F. 2011. Potensi Antioksidan
Ekstrak Metanol Kulit Batang Tumbuhan Mangrove Sonneratia alba.
Jurnal. Universitas Hasanudin. Makassar.
Kadriah, I. A. K. 2012. Pengembangan Metode Deteksi Cepat Vibrio Berpendar
Patogenik Pada Udang Panaeid. Disertasi. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Kasanah, N., Isnansetyo, A. 2013. High ThroughputScreening dan Bioassay
dalam Penemuan senyawa Bioaktif dari Alam. Materi workshop dan
Pelatihan Bioprospekting Bahan Alam Kelautan II. Laboratorium
Hidrobiologi. Jurusan Perikanan. Fakultas Pertanian. Universitas
Gadjah Mada. 22 hal.
54

Kirkup, B. C., Leeann Chang, Sarah Chang, Gevers, D., Polz, M. F. 2010. Vibrio
Chromosomes Share Common History. BMC Microbiology Research
Article. Cambridge MA, USA. 10 hal.
Kordi, K. M. G. 2011. Marikultur, Prinsip dan Praktik Budidaya Laut. Lily
Publiser. Yogyakarta. 618 hal.
Kushayoto, W., Fuad, A. M., Andriani, D. dan Handayani, I. 2012. Ekspresi
Pprotein Fusi Trivalensi yang Terbentuk dari Faktor Virulensi ESPA,
INTIMIN dan TIR dri Bakteri Eschericia coli. Prosiding. Pusat
Penelitian Bioteknologi. LIPI. Bogor.
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta. 168 hal.
Mahbud, K. R., Paul, K. P. dan Ahmed, M. M. 2011. Prevalence of Vibrio Spp
and Antibiogram of Isolates from Shrimp Rearing Ponds in
Bangladesh. Journal of Advanced Scientific Research, 2 (4): 74-80.
Maryani, Dana, D. dan Sukanda. 2002. Peranan Ekstrak Kelopak Dan Buah
Mangrove Sonneratia caseolaris (L) Terhadap Infeksi Bakteri Vibrio
Harveyi Pada Udang windu (Penaeus monodon Fab.). Jurnal
Akuakultur Indonesia,1 (3): 129-138.
Moriarty, D. J. W. 1999. Disease Control in Shrimp Aquaculture with Probiotic
Bacteria. Microbial Interaction in Aquaculture. Atlantic Canada
Sociaty for Microbial EcoLogy. Canada. 7 p.
Mulyani, Y., Bachtiar, E. dan Kurnia, A. M. U. 2013. Peranan Senyawa Metabolit
Sekunder Tumbuhan Mangrove Terhadap Infeksi Bakteri Aeromonas
hydrophila pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal Akuatika.
Universitas Padjajaran. Bandung, 4 (1): 1-9.
Murdjani. 2010. Petunjuk Teknis Pengendalian Penyakit IHHNV (Infectious
Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus). Direktorat
Kesehatan Ikan dan Lingkungan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Jakarta. 22 hal.
Nanin. 2011. Daya Antibakteri Tumbuhan Majapahit (Cresentia cujete L.)
Terhadap Bakteri Vibrio Alginolyticus. ITS. Surabaya.
Naiborhu, P. E., Dana, D. dan Sukenda. 2002. Ekstraksi dan Manfaat Ekstrak
Mangrove (Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris) sebagai Bahan
Alami Anti Bakteria pada Patogen Udang windu, V. Harveyi. Tesis,
Program Studi Ilmu Perairan, Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Noorlis, A., Ghazali, F. M., Chech, Y. K., Zainazor, T., Wong, T. C., Tunung, R.,
Pui, C. F., Nishibuchi, M., Nakagaguchi, Y. dan Son, R. Antibiotic
Resistance and Biosafety of Vibrio cholera and Vibrio
parahaemolyticus from freshwater fish at retail level. Jurnal Of
International Food Research. Malaysia, 18(4): 1523-1530.
Oktavianus, S. 2013. Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Mangrove Jenis Avicennia
Marina Terhadap Bakteri Vibrio Parahaemolyticus. Skripsi Sarjana.
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
55

Paramudji. 2010. Ekosistem Hutan Mangrove. Pusat Penelitian Oseanografi.


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Parubak, A. S. 2013. Senyawa Flavonoid yang Bersifat Antibakteri dari Akway
(Drimys becariana.gibbs). Jurnal. Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Papua, 6
(1): 34-37.
Pavia, D. L., Lampman, G.M., Kriz, G.S. dan Engel, R.G. 1995. Organic
Laboratory Techniques. Saunders College Publishing. Florida. USA.
Prajitno, A. 2007. Uji Sensitifitas Flavonoid Rumput Laut (Eucheuma Cottoni)
Sebagai Bioaktif Alami Terhadap Bakteri Vibrio harveyi. Jurnal
Protein. Universitas Brawijaya. Malang, 15 (2): 66-71.
Purnobasuki, H. 2004. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat. Hasil Penelitian
Biota. FMIPA Universitas Airlangga, 9 (2): 125-126.
Ronald, L., Thune, Lisa, A., Stanley dan Cooper, R., K. 1993. Pathogenesis of
Gram-Negative Bacterial Infections in Warmwater Fish. Annual Rev.
of Fish Disease, (3): 37-68.
Ruslia, Noor Y., Khazali M. dan Suryadipura I N. N. 2006. Panduan Pengenalan
Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP.Bogor.
Sadeghi, A. dan Imanpoor, M. R. 2013. Effects of Use of Combinations of
Permeating Cryoprotectant (MeOH, DMSO) and Non Permeating
Cryoprotectant (BSA) on Viability of Beluga (Huso huso) Post-
Thawed Sperm. World Journal of Fish and Marine Sciences 5 (6):
593-597.
Saikia, L. R. dan Upadhyaya, S. 2011. Antioxidant Actifity, Phenol and Flavonoid
Content of Some Less Known Meicinal Plants of Assam. International
Journal of Pharma and Bio Sciences. Dibrugarh University, India 2
(1): 383-388.
Sarida, M., Tarsim dan Faizal, I. 2010. Pengaruh Ekstrak Buah Mengkudu
(Morinda citrifolia L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Vibrio harveyi Secara In Vitro.Jurnal Penelitian Sains. Universitas
Lampung. Lampung, 23 (3): 59-63.
Saparinto dan Cahyo. 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove. Dahara Prize.
Semarang.
Saptiani, G., Budi Prayitno S. dan Anggoro S. 2013. Potensi Antibakteri Ekstrak
Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius) Terhadap Vibrio harveyi Secara in
Vitro. Jurnal Kedokteran Hewan. Samarinda, 13 (3): 257-262.
Soediro, S., Ruslan, I. dan Soediro. 1997. Telaah Kandungan Senyawa Falvonoid
dan Asam Fenolat dalam Kulit Batang Rhizophora mucronata lmk
(Rhizophoraceae), Suatu Tumbuhan Mangrove. Seminar Intern Jur.
Farmasi ITP. 14p.
Sucianti, Anisa, Wardiyanto dan Sumino. 2012. Efektifitas Ekstrak Daun
Rhizophora mucronata dalam Menghambat Pertumbuhan Aeromonas
salmonicida dan Vibrio harveyi. Jurnal Rekayasa dan Teknologi
Budidaya, 1 (1): 1-8.
56

Suryati, E., Gunarto, Sulaeman. 2006. Analisis Bioaktif Tanaman Mangrove yang
Efektif Mereduksi Penyakit Bakteri Pada Budidaya Udang windu.
Jurnal Riset Akuakultur, 1 (1): 96-104.
Tepu, Indo. 2006. Seleksi Bakteri Probiotik Untuk Biokontrol Vibriosis pada
Larva Udang windu Penaeus monodon Menggunakan Cara Kultur
Bersama. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Bogor.
Trianto, Agus, W. Edi, Suryono, S. dan Rahayu S. 2004. Ekstrak Daun Mangrove
Aegiceras corniculatum Sebagai Antibakteri Vibrio harveyi dan
Vibrio parahaemolyticus. Jurnal Ilmu Kelautan. Universitas
Diponegoro. Semarang, 9 (4): 186-189.
Utomo, R. N. C. 2010. Potensi Bakteri Pembentuk Biofilm dalam Degradasi
Liniar Alkil Benzen Sulfonat pada Berbagai Ukuran Batu. Skripsi
Sarjana. Universitas Brawijaya. Malang.
Vikram, A., Jayaprakasha, G.K., Jesudhasan, P. R., Pillai, S.D. dan Patil, B.S.
2010. Suppression of bacterial cellcell signalling, biofilm formation
and type III secretion system by citrus flavonoids.Jurnal of Applied
MicrobioLogy. Departement of Poultry Science, Texas A & M
University. USA: 515527.
Waluyo, L. 2011. Mikrobiologi Umum. UPT Penerbitan Universitas
Muhammadiyah Malang. Malang. 343 hal.
Wardhana, A. H., Husein, A., dan Manurung, J. 2005. Efektifitas Ekstrak Biji
Srikaya (Annona squamosa L) dengan Pelarut Air, Metanol dan
Heksan terhadap Mortalitas Larva Caplak Boophilus microplus secara
In Vitro, 10 (2).
Welly, M., Sanjaya, W., Sumerta, I., dan Anom, N. 2010. Identifikasi Flora dan
Fauna Mangrove Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Balai
Pengenlolaan Hutan Mangrove Wilayah I. Bali. 14 hal.
57

Lampiran 1. Hasil Pengamatan Pada Uji Kualitatif

No Perlakuan Ulangan Hasil

1 1.415
2000 2 1.000
A
3 1.230
Rata-Rata 1.215
1 1.210
4000 2 1.225
B
3 1.300
Rata-Rata 1.245
1 1.330
6000 2 0.725
C
3 1.725
Rata-Rata 1.260
1 1.500
8000 2 1.845
D
3 1.510
Rata-Rata 1.618
1 1.740
10,000 2 1.500
E
3 1.630
Rata-Rata 1.623
1 0.000
DMSO 10% 2 0.000
F
3 0.000
Rata-Rata 0.000
1 2.660
ANTIBIOTIK 2 2.300
G
3 2.335
Rata-Rata 2.432
58

Lampiran 2. Hasil Perhitungan Koloni Bakteri (CFU/mL)

Pengamatan 1,2,3
Populasi Populasi Populasi
No Perlakuan Ulangan
Pengamatan I Pengamatan II Pengamatan III
1 226.5 x 106 114.5 x 106 148.5 x 106
2000 2 191.5 x 106 65.5 x 106 165.5 x 106
A
3 180 x 106 242.5 x 106 103.5 x 106
Rata-Rata 199.33 x 106 140.83 x 106 139.17 x 106
1 1.22 x 106 0.55 x 106 0.5 x 106
4000 2 2.36 x 106 0.098 x 106 0.144 x 106
B
3 4.795 x 106 1.35 x 106 0.57 x 106
Rata-Rata 2.7917 x 106 0.666 x 106 0.4047 x 106
6
1 0 0 0.034 x 10 0 0
6000 2 0.074 x 10 6
0.24 x 10 6
0 0
C
6
3 0.848 x 10 0 0 0 0
6 6
Rata-Rata 0.461 x 10 0.137 x 10 0 0
6
1 0.096 x 10 0 0 0 0
8000 2 0.0228 x 10 6
0 0 0 0
D
3 0.113 x 106 0 0 0 0
Rata-Rata 0.0773 x 106 0 0 0 0
6 6
1 490 x 10 1605 x 10 1370 x 106
DMSO
10% 2 560.75 x 106 340 x 106 0 0
E
6 6
3 38 x 10 210.25 x 10 1150 x 106
Rata-Rata 362.92 x 106 718.42 x 106 1260 x 106
1 38 x 106 835 x 106 1545 x 106
KONTROL 2 158.5 x 106 955 x 106 107 x 106
F
3 172.5 x 106 435 x 106 950 x 106
Rata-Rata 123 x 106 741.67 x 106 867.33 x 106
59

Pengamatan 4,5,6
Populasi Populasi Populasi
No Perlakuan Ulangan
Pengamatan IV Pengamatan V Pengamatan VI
1 110.5 x 106 115.5 x 106 43.55 x 106
2000 2 154.5 x 106 11.2 x 106 14.9 x 106
A
3 108.5 x 106 61 x 106 119 x 106
Rata-Rata 124.5 x 106 62.5667 x 106 59.15 x 106
1 0.12 x 106 0.141 x 106 0.132 x 106
4000 2 0.37 x 106 0.53 x 106 0.0061 x 106
B
3 0.91 x 106 0.65 x 106 0.0087 x 106
Rata-Rata 0.4667 x 106 0.44033 x 106 0.04893 x 106
1 0 0 0 0 0 0
6000 2 0 0 0 0 0 0
C
3 0 0 0 0 0 0
Rata-Rata 0 0 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0
8000 2 0 0 0 0 0 0
D
3 0 0 0 0 0 0
Rata-Rata 0 0 0 0 0 0
6 6
1 2660 x 10 530 x 10 0 0
DMSO 6 6
10% 2 2385 x 10 0 0 2790 x 10
E
6 6
3 1590 x 10 2445 x 10 0 0
6 6 6
Rata-Rata 2211.7 x 10 2975 x 10 2790 x 10
6 6
1 115.5 x 10 2675 x 10 0 0
KONTROL 2 21.6 x 10 6
1950 x 10 6
0 0
F
6 6
3 60.87 x 10 0 0 3440 x 10
Rata-Rata 65.99 x 106 2312.5 x 106 3440 x 106
60

Lampiran 3. Populasi Bakteri (CFU/mL) dalam bentuk Logaritma

No Perlakuan Ulangan I II III IV V V

1 8.35 8.05 8.17 8.04 8.06 7.32


2000 2 8.28 7.81 8.21 8.18 7.5 7.17
A
3 8.25 8.38 8.01 8.03 8.01 8.07
Rata-Rata 8.29 8.14 8.14 8.09 7.92 7.71
1 6.08 5.74 5.69 5.07 5.14 5.12
4000 2 6.37 4.99 5.15 5.56 5.72 3.77
B
3 6.07 6.13 5.96 5.95 5.81 3.95
Rata-Rata 6.2 5.82 5.71 5.64 5.64 4.68
1 0 4.53 0 0 0 0
6000 2 4.86 5.38 0 0 0 0
C
3 5.29 0 0 0 0 0
Rata-Rata 5.13 5.13 0 0 0 0
1 4.98 0 0 0 0 0
8000 2 4.36 0 0 0 0 0
D
3 5.05 0 0 0 0 0
Rata-Rata 4.88 0 0 0 0 0
1 8.69 9.2 9.13 9.42 8.72 0
DMSO
10% 2 8.43 8.53 0 9.37 0 9.44
E
3 7.57 8.53 9.06 9.2 8.38 0
Rata-Rata 8.42 8.87 9.1 9.34 9.47 9.44
1 7.57 8.92 9.18 8.06 9.42 0
KONTROL 2 8.2 8.98 0 7.5 9.29 0
F
3 8.23 8.63 8.97 8.01 0 9.53
Rata-Rata 8.08 8.87 8.93 7.92 9.36 9.53
61

Lampiran 4. Hasil analisis data pengujian antibakteri secara kualitatif


Descriptives
95% Confidence Interval for
Std. Mean
N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
2000 3 12.1500 2.07906 1.20035 6.9853 17.3147 10.00 14.15
4000 3 12.4500 .48218 .27839 11.2522 13.6478 12.10 13.00
6000 3 12.6000 5.03662 2.90789 .0884 25.1116 7.25 17.25
8000 3 16.1833 1.96363 1.13370 11.3054 21.0613 15.00 18.45
10000 3 16.2333 1.20139 .69362 13.2489 19.2177 15.00 17.40
DMSO 10% 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
Antibiotik 3 24.3167 1.98515 1.14613 19.3853 29.2481 23.00 26.60
Total 21 13.4190 7.18038 1.56689 10.1506 16.6875 .00 26.60

ANOVA
DAYA
HAMBAT
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between
952.832 6 158.805 28.385 .000
Groups
Within Groups 78.325 14 5.595
Total 1031.157 20

Zona Daya Hambat


Subset for alpha = 0.05
PERLAKUAN N a b C
Duncan DMSO 10% 3 .0000
2000 3 12.1500
4000 3 12.4500
6000 3 12.6000
8000 3 16.1833
10000 3 16.2333
Antibiotik 3 24.3167
62

Lampiran 5. Hasil analisis data pengujian antibakteri secara kuantitatif


Descriptives
95% Confidence Between-
Std. Interval for Mean Compone
Deviati Std. Lower Upper Mini Maxi nt
N Mean on Error Bound Bound mum mum Variance
Pengamatan 1 2000 3 8.2933 .05132 .02963 8.1659 8.4208 8.25 8.35
4000 3 6.1733 .17039 .09838 5.7501 6.5966 6.07 6.37
6000 3 5.1300 .00000 .00000 5.1300 5.1300 5.13 5.13
8000 3 4.7967 .37978 .21927 3.8532 5.7401 4.36 5.05
DMSO 10% 3 8.2300 .58617 .33843 6.7739 9.6861 7.57 8.69
Kontrol 3 8.0000 .37269 .21517 7.0742 8.9258 7.57 8.23
Total 1.5345
18 6.7706 .36169 6.0075 7.5337 4.36 8.69
2
Model Fixed Effects .33126 .07808 6.6004 6.9407
Random Effects .65586 5.0846 8.4565 2.54436
Pengamatan 2 2000 3 8.0800 .28618 .16523 7.3691 8.7909 7.81 8.38
4000 3 5.6200 .57940 .33451 4.1807 7.0593 4.99 6.13
6000 3 5.1300 .00000 .00000 5.1300 5.1300 5.13 5.13
8000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
DMSO 10% 3 8.7533 .38682 .22333 7.7924 9.7143 8.53 9.20
Kontrol 3 8.8433 .18717 .10806 8.3784 9.3083 8.63 8.98
Total 3.1789
18 6.0711 .74928 4.4903 7.6519 .00 9.20
1
Model Fixed Effects .31682 .07468 5.9084 6.2338
Random Effects 1.3767
2.5321 9.6101 11.33909
4
Pengamatan 3 2000 3 8.1300 .10583 .06110 7.8671 8.3929 8.01 8.21
4000 3 5.6000 .41243 .23812 4.5755 6.6245 5.15 5.96
6000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
8000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
DMSO 10% 3 9.1000 .00000 .00000 9.1000 9.1000 9.10 9.10
Kontrol 3 8.9300 .00000 .00000 8.9300 8.9300 8.93 8.93
Total 4.0296
18 5.2933 .94980 3.2894 7.2972 .00 9.10
6
Model Fixed Effects .17383 .04097 5.2041 5.3826
Random Effects 1.7502
.7943 9.7924 18.36903
0
pengamatan_4 2000 3 8.0833 .08386 .04842 7.8750 8.2917 8.03 8.18
4000 3 5.5267 .44095 .25458 4.4313 6.6220 5.07 5.95
6000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
8000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
DMSO 10% 3 9.3300 .11533 .06658 9.0435 9.6165 9.20 9.42
Kontrol 3 7.8567 .30989 .17892 7.0869 8.6265 7.50 8.06
Total 3.9136
18 5.1328 .92246 3.1866 7.0790 .00 9.42
7
Model Fixed Effects .22760 .05364 5.0159 5.2497
Random Effects 1.6989
.7656 9.4999 17.30033
0
Pengamatan 5 2000 3 7.8567 .30989 .17892 7.0869 8.6265 7.50 8.06
4000 3 5.5567 .36364 .20995 4.6533 6.4600 5.14 5.81
6000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
63

8000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00


DMSO 10% 3 9.4700 .00000 .00000 9.4700 9.4700 9.47 9.47
Kontrol 3 9.3600 .00000 .00000 9.3600 9.3600 9.36 9.36
Total 4.1325
18 5.3739 .97405 3.3188 7.4289 .00 9.47
3
Model Fixed Effects .19505 .04597 5.2737 5.4741
Random Effects 1.7946
.7606 9.9872 19.31175
4
Pengamatan 6 2000 3 7.5200 .48218 .27839 6.3222 8.7178 7.17 8.07
4000 3 4.2800 .73301 .42320 2.4591 6.1009 3.77 5.12
6000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
8000 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .00
DMSO 10% 3 9.4400 .00000 .00000 9.4400 9.4400 9.44 9.44
Kontrol 3 9.5300 .00000 .00000 9.5300 9.5300 9.53 9.53
Total 4.1483
18 5.1283 .97778 3.0654 7.1913 .00 9.53
7
Model Fixed Effects .35819 .08443 4.9444 5.3123
Random Effects 1.7981
.5059 9.7507 19.35813
9

ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Pengamatan 1 Between Groups 38.714 5 7.743 70.560 .000
Within Groups 1.317 12 .110
Total 40.031 17
Pengamatan 2 Between Groups 170.588 5 34.118 339.892 .000
Within Groups 1.205 12 .100
Total 171.793 17
Pengamatan 3 Between Groups 275.687 5 55.137 1.825E3 .000
Within Groups .363 12 .030
Total 276.049 17
Pengamatan 4 Between Groups 259.764 5 51.953 1.003E3 .000
Within Groups .622 12 .052
Total 260.386 17
Pengamatan 5 Between Groups 289.866 5 57.973 1.524E3 .000
Within Groups .457 12 .038
Total 290.323 17
Pengamatan 6 Between Groups 291.013 5 58.203 453.645 .000
Within Groups 1.540 12 .128
Total 292.553 17
64

Populasi Bakteri Pengamatan 1


Subset for alpha = 0.05
Perlakuan N a B C
Duncana 8000 3 4.7967
6000 3 5.1300
4000 3 6.1733
DMSO 10% 3 8.0000
Kontrol 3 8.2300
2000 3 8.2933
Sig. .241 1.000 .323

Populasi Bakteri Pengamatan 2


Subset for alpha = 0.05
Perlakuan N a b c d
Duncana 8000 3 .0000
6000 3 5.1300
4000 3 5.6200
2000 3 8.0800
DMSO 10% 3 8.7533
Kontrol 3 8.8433
Sig. 1.000 .083 1.000 .734

Populasi Bakteri Pengamatan 3


Subset for alpha = 0.05
Perlakuan N a b c d
a
Duncan 6000 3 .0000
8000 3 .0000
4000 3 5.6000
2000 3 8.1300
Kontrol 3 8.9300
DMSO 10% 3 9.1000
Sig. 1.000 1.000 1.000 .254
65

Populasi Bakteri Pengamatan 4


Subset for alpha = 0.05
perlakuan N a B c d
a
Duncan 6000 3 .0000
8000 3 .0000
4000 3 5.5267
Kontrol 3 7.8567
2000 3 8.0833
DMSO 10% 3 9.3300
Sig. 1.000 1.000 .246 1.000

Populasi Bakteri Pengamatan_5


Subset for alpha = 0.05
Perlakuan N a B c d
a
Duncan 6000 3 .0000
8000 3 .0000
4000 3 5.5567
2000 3 7.8567
Kontrol 3 9.3600
DMSO 10% 3 9.4700
Sig. 1.000 1.000 1.000 .503

Populasi Bakteri Pengamatan 6


Subset for alpha = 0.05
Perlakuan N a b c d
Duncana 6000 3 .0000
8000 3 .0000
4000 3 4.2800
2000 3 7.5200
DMSO 10% 3 9.4400
Kontrol 3 9.5300
Sig. 1.000 1.000 1.000 .764
66

Lampiran 6. Dokumentasi Kegiatan Penelitian

A. Pengujian Kualitatif (Zona Daya Hambatan)

1. Pencucian Alat dan Pensterilan Alat dan Bahan

Gambar 9. Pencucian dan pensterilan: 1a. Pencucian botol duran dan cawan petri;
1b. Pengeringan cawan petri; 1c. Pensterilan dalam autoclave; 1d.
Persiapan akuades yang akan disterilkan

2. Pembuatan Media MH dan NB

Gambar 10. Pembuatan Media: 2a. Penimbangan bubuk media; 2b. Pemanasan
diatas Hotplate; 2c. Persiapan NB; 2d. Penuangan pada cawan petri
67

3. Persiapan Ekstraksi Mangrove

Gambar 11. Persiapan ekstrak: 3a. ekstrak daun (S. alba); 3b. pembuatan
konsentrasi; 3c. Penimbangan ekstrak; 3d. stok ekstrak

4. Pelaksanaan Uji Zona Hambatan

Gambar 12. Inokulasi: 4a. Inokulasi bakteri; 4b. Pemberian paper disk; 4c.
Pemberian ekstrak; 4d. Media MH yang telah diberikan ekstrak
68

5. Pengukuran Zona Hambatan

Gambar 13. Pengukuran: 5a. Media yang telah diinkubasi 24 jam; 5b. pengukuran
zona dengan jangka sorong; 5c.Zona hambatan; 5d. pengukuran pada
media MH

B. Pengujian Kuantitatif (Kepadatan Koloni Bakteri)

1. Sterilisasi Alat dan Bahan

Gambar 14. Sterilisasi: 6a. akuades dan tip pipet yang akan disterilkan; 6b.
Akuades di autoclave; 6c. Sterilisasi di oven; 6d. Sterilisasi di
autocalve
69

2. Pembuatan Media TCBS

Gambar 15. Pembuatan media TCBSA: 7a. Penimbangan bubuk; 7b. Pemanasan
diatas hotplate; 7c. Larutan media yang telah dipanaskan; 7d.
Penuangan di cawan petri

3. Pembuatan Media NB

Gambar 16. Pembuatan media NB: 8a. Penimbangan bubuk; 8b. Pemanasan diatas
hotplate; 8c. Larutan media yang telah dipanaskan; 8d. Pembuatan
media 10 mL di tabung reaksi
70

4. Persiapan Biakan Bakteri (Homogenkan di Shaker)

Gambar 17. Inkubasi bakteri: 9a. Pemasangan di shaker; 9b. Proses inkubasi

5. Inokulasi Bakteri dan Pemberian Ekstraksi

Gambar 18. Inokulasi bakteri: 10a. Pembuatan konsentrasi; 10b. Inokulasi bakteri
pada tabung reaksi

6. Inkubasi Bakteri pada Shaker

Gambar 19. Inkubasi bakteri: 11a. pemasangan media di shaker; 10b. proses
inkubasi
71

7. Pelabelan Media TCBS

Gambar 20. Pelabelan: 12a. Media TCBS yang telah dibuat; 12b. Pelabelan satu
persatu media; 12c. Media yang dilabeli

8. Sampling Per 4 Jam

Gambar 21. Sampling: 13a. Pengenceran biakan bakteri; 13b. Inokulasi bakteri
pada media TCBSA; 13c. Penggerusan media yang telah
diinokulasikan bakteri; 13d. Media yang akan di inkubasi 24 jam
72

9. Inkubasi dan Perhitungan Bakteri

Gambar 22. Pelabelan: 14a. Inkubasi bakteri; 14b. Perhitungan koloni bakteri;
14c. Penampakan morfologi koloni bakteri; 14d. Perhitungan koloni
bakteri menggunakan spidol
73

10. Alat dan Bahan

Gambar 22. Alat dan bahan yang digunakan: 15a. Ekstrak kasar daun mangrove;
15b. Timbangan analitik; 15c. Oven; 15d. Kulkas (lemari
pendingan); 15e. Tabung reaksi; 15f. Batang penggerus; 15g. Botol
duran; 15h. Autoclave