Anda di halaman 1dari 35

I.

Latar Belakang
Kebutuhan akan tenaga listrik terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, ketersediaan
bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik terus berkurang. Jika dilihat dari
penggunaan listrik pada sektor bangunan, penggunaan energi listrik yang dominan salah satunya
terdapat pada sistem pencahayaan, sehingga perlu dilakukan penghematan dalam
pemanfaatannya. Berbagai cara dapat dilakukan dalam penghematan energi, pemerintah melalui
PP No. 30 Tahun 2007 merumuskan upaya untuk menghadapi krisis energi di Indonesia melalui
konservasi energi. Secara garis besar konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan
terpadu untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Salah satu langkah dalam konservasi
energi adalah audit energi(pengukuran). Analisis data hasil audit energi akan menghasilkan
seberapa besar peluang penghematan energi dengan langkah-langkah yang sesuai dengan kondisi
eksisting. Dalam pelaksaan konservasi energi, dapat diaplikasikan pada praktikum konservasi
energi salah satunya sistem pencahayaan. Dengan cara pengukuran langsung (audit) tingkat
pencahayaan setiap lampu yaitu CFL, LED, Halogen dan TL dengan ballast kovensional dan
elektrik, menganalisa hasil audit, menentukan langkah konservasi terbaik berdasarkan eksisting.

II. Tujuan
Berikut tujuan dari praktikum konservasi energi sistem penerangan :
Mahasiswa dapat mengidentifikasi konservasi energi yang dilakukan pada sistem
penerangan
Mahasiswa dapat mengetahui penghematan setelah dilakukan konservasi energi pada
sistem penerangan

III. Dasar Teori


Sistem penerangan adalah sistem yang mengatur pencahayaan sesuai dengan kebutuhan
visual yang dibutuhkan. Sistem penerangan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
memanfaatkan cahaya matahari sebagai cahaya sumber alami secara maksimal. Hal ini
dimaksudkan agar pemakaian energi listrik untuk pencahayaan bisa seminimal mungkin.
Persyaratan pencahayaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a Sistem pencahayaan buatan yang dirancang
- Tingkat pencahayaan minimalnya sesuai yang direkomendasikan.
- Daya listrik untuk pencahayaan sesuai maksimum yang diijinkan.
- Memenuhi tingkat kenyamanan visual.
b Sistem pencahayaan alami yang dirancang memanfaatkan semaksimal mungkin
pencahayaan siang hari.

Gambar 1 Unit of Measurements


.

3.1 Penggunaan Energi Untuk Pencahayaan Buatan


Pencahayaan energi untuk pencahayaan buatan dapat diperkecil dengan mengurangi daya
terpasang, melalui pemilihan lampu dengan efikasi tinggi serta ballast dan armatur yang efisien.
Pada bangunan publik atau lainya, cahaya dapat diperoleh dari sumber alami (matahari)
maupun sumber buatan (lampu). Lampu elektrik yang dipergunakan untuk bangunan gedung
antara lain jenis bulb dan fluorescent/TL. Lampu bulb menghasilkan cahaya melalui kawat
filamen yang dilalui arus listrik. Cahaya tersebut melepaskan panas secara radiasi dalam daerah
tampak dari spektrum radiasi yang dihasilkan.

III.2 Tingkat Pencahayaan (Iluminasi)


Tingkat pencahayaan merupakan besarnya cahaya yang dibutuhkan untuk menerangi suatu
ruangan. Parameter ini dinyatakan dengan satuan lux. Satu lux setara dengan satu lumen per
meter persegi. Alat untuk mengukur tingkat pencahayaan adalah luxmeter. Tingkat pencahayaan
memiliki standar minimal yang direkomendasikan, dan ditentukan berdasarkan fungsi dari setiap
ruangan serta disesuaikan dengan tempat. Tingkat pencahayaan tidak boleh kurang dari tingkat
pencahayaan standar yang ditentukan. Acuan tingkat pencahayaan di Indonesia yang
direkomendaikan yaitu SNI 6197:2011. Tingkat pencahayaan digunakan untuk menentukan
kualitas pencahayaan pada setiap ruangan sesuai dengan fungsinya. Lambang iluminasi adalah E
dengan satuan lux (lux) sesuai persamaan berikut.

.(1)

Keterangan :
E : Intensitas penerangan (lux)
F : Fluks cahaya (lumen)
A : Luas bidang kerja (m2)
Tingkat pencahayaan ini juga dapat dilakukan dengan cara pengukuran langsung
menggunakan alat ukur luxmeter, sehingga dapat langsung diketahui nilai tingkat pencahayaan
pada suatu bidang kerja tertentu. Berikut merupakan prosedur pengukuran pada sistem
pencahayaan dengan menggunakan luxmeter.
Dalam mengoperasikan atau menjalankan lux meter perlu diperhatikan alat sensornya,
karena sensornyalah yang kan mengukur kekuatan penerangan suatu cahaya. Oleh karena itu
sensor harus ditempatkan tegak lurus pada daerah yang akan diukur tingkat kekuatan cahayanya
(iluminasi) secara tepat agar hasil yang ditampilkan pun akuarat. Adapun prosedur penggunaan
alat ini adalah sebagai berikut :
1. Nyalakan luxmeter.
2. Pilih kisaran range yang akan diukur ( 2.000 lux, 20.000 lux atau 50.000 lux) pada tombol
Range.
3. Arahkan sensor cahaya tegak lurus terhadap bidang kerja dengan menggunakan tangan pada
permukaan daerah yang akan diukur kuat penerangannya.
4. Lihat hasil pengukuran pada layar panel.

III.3 Daya Pencahayaan


Daya pencahayaan adalah daya listrik yang digunakan untuk pencahayaan dibagi dengan
luas ruangan. Perhitungan daya pencahayaan dipengaruhi oleh beberapa fakor yaitu; fungsi ruang
(untuk menentukan terang lampu), jenis lampu (berpengaruh terhadap kuantitas cahaya yang
dipancarkan), jumlah titik lampu (agar distribusi lampu merata dan sesuai kebutuhan). Daya
pencahayaan memiliki standar daya pencahayaan, acuan standar di Indonesia yaitu SNI
6197:2011. Daya listrik yang terpasang tidak boleh melebihi angka maksimum yang ditentukan
pada setiap ruangan. Metode perhitungan daya pencahayaan terdapat di persamaan 2
Pt
Pc= A ........... (2)

Keterangan :
Pc = Daya pencahayaan (W/m2)
Pt = Daya listrik yang dikonsumsi lampu (W)
A = Luas ruangan (m2)

III.4 Efikasi
Adalah rentang angka perbandingan antara fluks cahaya (lumen) dengan daya listrik suatu
sumber cahaya (watt), dalam satuan lumen/watt. Efikasi juga disebut fluks cahaya spesifik,
biasanya nilai efikasi ini didapat pada katalog dari suatu produk lampu. Nilai efikasi ini
berbanding lurus dengan efisiensi lampu, sesuai persamaan 3.

. (3)

Untuk mengetahui daya pencahayaan (efikasi) didapatkan dari nilai tingkat pencahayaan
dari luxmeter dibagi dengan daya terukur yang ditunjukan oleh voltmeter dan amperemeter.

III.5 Parameter Kualitas Warna Cahaya


Kualitas warna cahaya dibedakan menjadi :
1 Warna cahaya lampu ( Cotrrelated Colour Temperature = CCT )
Warnanya sendiri tidak merupakan indikasi tentang efeknya terhadap warna objek, tetapi lebih
kepada memveri suasana. Dua lampu yang saling mirip warna cahayanya dapat berbeda
komposisi distribusi spektralnya sehingga akan berbeda juga efeknya kepada warna obyek yang
diterangi. Warna cahaya lampu dibedakan menjadi :
Warna putih kekuning-kuningan ( warm-white ), Kelompok 1 ( <3300 K )
Warna putih netral ( cool white ), Kelompok 2 ( 3300 K 5300 K )
Warna putih ( daylight ), Kelompok 3 ( > 5300 K )
Warna cool daylight, Kelompok 4 ( 6200 K )
Pemilihan warna lampu bergantung pada tingkat iluminasi yang diperlukan agar diperoleh
pencahayaan yang nyaman. Makin tinggi tingkat iluminasi yang diperlukan, maka warna lampu
yang digunakan adalah jenis lampu dengan CCT sekitar > 5000 K ( daylight ) sehingga tercipta
pencahayaan yang nyaman.
Sedangkan untuk kebutuhan tingkat iluminasi yang tidak terlalu tinggi, maka warna lampu
yang digunakan < 3300 K ( warm white ).
2 Renderansi Warna
Disamping warna cahaya lampu, perlu diketahui efek suatu lampu kepada warna obyek,
untuk itu dipergunakan suatu indeks yang menyatakan apakah warna objek tampak ilmiah
apabila diberi cahaya lampu tersebut.
Lampu-lampu diklarifikasikan dalam kelompok renderansi warna yang dinyatakan dengan
Ra, sebagai berikut :
Efek warna kelompok 1 : Ra indeks 80-100 %.
Efek warna kelompok 2 : Ra indeks 60-80 %.
Efek warna kelompok 3 : Ra indeks 40-60 %.
Efek warna kelompok 4 : Ra indeks < 40 %.

3.6 Teknologi Sistem Penerangan


Prinsip kerja lampu listrik adalah dengan cara menghubung singkat listrik pada filamen
carbon (C) sehingga terjadi arus hubung singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Panas
yang terjadi dibuat hingga suhu tertentu sampai mengeluarkan cahaya, dan cahaya yang didapat
pada waktu itu baru mencapai 3 Lumen/W (Lumen = satuan arus cahaya).
Sistem penerangan saat ini yang banyak digunakan oleh masyarakat pada umumnya adalah
jenis lampu pijar, lampu flourescent ( lampu TL ), lampu CFL yang dikenal sebagai lampu hemat
energi (LHE), lampu halogen, lampu HID ( High Intensity Discharge ) dan lain-lain serta banyak
menggunakanballast konvensioanl dan ballast elektronik.
1. Lampu Flourescent ( Lampu TL )
Belakangan ini, penggunaan jenis lampu ini lebih populer daripada lampu pijar. Lampu ini
memiliki efisiensi yang tinggi dan ketahanan yang lebih lama, hampir 20.000 jam. Sayangnya,
lampu ini membutuhkan alat ballast yang memakan banyak daya. Efisiensi dapat ditingkatkan
dengan menggunakan ballast elektronik.
2. Lampu CFL (Compaq Flourescent Lamp )
Lampu ini adalah lampu yang paling efisien yang tersedia di pasaran, dengan efikasi tinggi
sekitar 50-60 lumen per watt dengan usia sampai 12000 jam.

3. Ballast Elektronik
Ballast jenis ini mempunyai keunikan khusus, yaitu sistem bekerjanya tidak lagi
menggunakan gulungan (kumparan) pada suatu inti besi, berbeda sekali dengan ballast
konvensional yang masih menggunakan gulungan (kumparan) pada inti besi. Ballast elektronik
menggunakan suatu sistem rangkaian elektronik sehingga besarnya rugi-rugi pada inti besi, pada
kumparan menjadi tidak adalagi, dan hanya sedikit rugi saja karena rangkaian/sirkit. Inilah yang
paling menguntungkan dalam penghematan energi listrik yang diserapnya.
Keuntungan lain yang didapat adalah dapat diatur konsumsi arus listriknya dengan tetap
mempertahankan besar tegangan yang diinginkan, sehingga ballast elektronik dapat digunakan
untuk sistem pengaturan energi listrik sesuai yang dibutuhkan pada suatu ruangan. Dengan
sistem sirkit elektronik maka ballast menjadi lebih ringan dan lebih kecil dibandingkan dengan
ballast konvensional (sistem gulungan kawat).
III.6 Faktor Daya (Cos Phi)
Faktor daya atau sering disebut cos adalah perbandingan daya sesungguhnya dengan daya
semu. Semakin rendah nilai faktor daya akan mengakibatkan daya reaktif nya makin besar,
sebaliknya jika nilai faktor daya semakin besar maka daya reaktif menuju 0 nol.

Persamaan faktor daya dan faktor reaktif :

.(3)
Keterangan : Cos phi = faktor daya
P = Daya aktif (Watt)
S = Daya semu (VA)
Pada umumnya suatu pabrik mempunyai faktor daya listrik yang rendah, hal ini disebabkan
karena banyak menggunakan peralatan-peralatan seperti mesin-mesin, mesin las, lampu TL,
transformewr dan lain -lain.
Untuk memperbaiki besarnya faktor daya listrik ini dapat dilakukan dengan memasang
kapasitor daya secara paralel terhadap beban listrik tersebut. Hal ini dikarenakan pada faktor
daya listrik yang rendah, peralatan listrik banyak menarik daya reaktif induktif sehingga perlu
dikompensir dengan daya reaktif kapasitif agar faktor daya listrik dari peralatan tersebut menjadi
lebih besar.
Besarnya rating kapasitor daya dapat ditentukan setelah didapat data-data dari peralatan
listrik, kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan rating kapasitor daya tersebut.
Rating kapasitor daya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Keterangan : C = kapasitor (F)


Qc = Daya reaktif kapasitor (VAR)
V = Tegangan (V)
w = 2 phi f
IV. Metode Pekerjaan
Berikut merupakan metode yang digunakan, antara lain :
4.1 Prosedur Kerja

1. Periksa rangkaian yang sudah tersedia pada meja kerja


2. Catat spesifikasi dari lampu-lampu pada meja kerja
3. Rangkai secara tertutup sesuai skema rangkaian. Jika ingin menggunakan ballast
konvensional,elektrik,tambah kapasitor,dan menggunkan jenis lampu yang lain.
4. Nyalakan MCB
5. Catat parameter yang dibutuhkan :
- Tegangan (V)
- Arus (A)
- Intensitas cahaya dengan menggunakan luxmeter (Lux)
- Tinggi lampu terhadap bidang kerja (cm)
- Luas bidang kerja (m2)
6. Matikan MCB
4.2 Skema Rangkaian dan Titik Pengukuran
A. Skema Rangkaian
Berikut merupakan skema rangkaian yang digunakan dalam praktikum sistem pencahayaan.

BK

TL
BE
mcb
C
A
CFL
L1

LED
L2
AC
~ V
HLG
L3

Gambar skema rangkaian sistem pencahayaan


(Sumber : Data Primer)
B. Titik Pengukuran
Skema simulasi titk pengukuran tingkat pencahayaan pada bidang kerja (1m2). Skema titik
pengukuran dibawah digunakan untuk jenis lampu yang lain seperti CFL, Halogen, LED.
Namun, sebagai referensi kelompok kami menggunakan tiga titik pengukuran yaitu di ujung
kanan,di ujung kiri, dan di tengah yang tegak lurus dengan lampu.

Lampu Philips TLD 58W/54-765 Cool Daylight

Lampu TLD

62cm

Bidang kerja Luxmeter

Gambar skema titik pengukuran


( Sumber : Data Primer )

V. Alat dan Bahan Yang Digunakan


Berikut merupakan alat dan bahan yang digunakan.
Tabel 1. Alat dan Bahan
No Alat dan Bahan Gambar Alat dan Bahan Gambar
1 Lux meter Lampu CFL
2 Kapasitor 8mF Lampu LED

3 Volt meter Lampu


Halogen

4 Ampere meter Lampu TL

5 Ballast Ballast Elektrik


Konvensional
VI. Data Pengukuran
a) Lampu TL + BK
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus Cos
Ruangan
o (menit ke-) Terukur Alami (Volt) (A) Phi Terpasang Terukur
(m2)
42 0,37
1 0 0,9176 1260 222,51 0,622 36 53,3
4
0,37
2 34 0,9176 1208 221,95 0,624 36 50,8
6
0,37
3 112 0,9176 1239 221,76 0,625 36 50,4
6
0,37
4 117 0,9176 1229 221,62 0,623 36 51,5
5
0,37
5 121 0,9176 1216 221,51 0,625 36 51,8
6
42 0,37 0,62
Rata - Rata 0,9176 1216 221,51 36 51,8
6 5

b) Lampu TL + BK + C
Waktu Luas Lux Daya (Watt)
Tegangan Arus Cos
No (menit Ruangan Teruku Alam Terpasan Teruku
(Volt) (A) Phi
ke-) (m2) r i g r
1 0 0,9176 1260 37 221,55 0,285 0,533 36 34,3
2 27 0,9176 1208 221,27 0,285 0,537 36 33
3 53 0,9176 1239 220,14 0,284 0,536 36 33,5
4 58 0,9176 1229 219,55 0,284 0,538 36 33,6
5 102 0,9176 1216 219,38 0,283 0,539 36 33,4
37 0,539
Rata - Rata 0,9176 1216 219,38 0,283 36 33,4
0
c) Lampu TL + BE
Luas Lux Daya (Watt)
Waktu Tegangan Arus Cos
No Ruangan
(menit ke-) Terukur Alami (Volt) (A) Phi Terpasang Terukur
(m2)
1 0 0,9176 1115 45 221,71 0,224 0,554 36 26,5
2 25 0,9176 1133 220,92 0,222 0,553 36 25,4
3 110 0,9176 1099 220,05 0,221 0,551 36 25,5
4 116 0,9176 1150 221,67 0,222 0,546 36 27,4
5 122 0,9176 1163 221,67 0,222 0,545 36 27,2
Rata - Rata 0,9176 1163 45 221,67 0,222 0,5450 36 27,2

d) Lampu TL + BE + C
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus
Ruanga Alam Cos Phi
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 1108 57 221,71 0,224 0,536911 36 16,5
220,92 0,222 0,54190
2 21 0,9176 1129 36 16,5
4
220,05 0,221 0,54592
3 108 0,9176 1158 36 16,7
4
221,67 0,222 0,54605
4 114 0,9176 1153 36 16,7
7
221,67 0,222 0,54625
5 120 0,9176 1168 36 16,6
9
Rata - Rata 0,9176 1168 221,67 0,222 0,5463 36 16,6
e) Lampu Pijar
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus Cos
Ruanga Alam
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Phi Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 167 45 219,72 0,0887 0,922 25 18,4
2 21 0,9176 170 45 219,22 0,089 0,924 25 18,5
3 23 0,9176 175 45 219,7 0,089 0,923 25 18,4
4 24 0,9176 175 46 219,77 0,089 0,921 25 1,5
5 25 0,9176 174 56 219,72 0,089 0,925 25 18,3
Rata - Rata 0,9176 172,2 47,4 219,24 0,085 0,923 25 18,42

f) Lampu LED
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus
Ruanga Alam Cos Phi
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 171 54 219,26 0,085 0,536911 25 16,5
218,76 0,086 0,54190
2 0,9176 1129 25 16,5
5 4
219,4 0,086 0,54592
3 0,9176 1158 25 16,7
12 4
219,65 0,086 0,54605
4 0,9176 1153 25 16,7
12 7
219,13 0,086 0,54625
5 0,9176 1168 25 16,6
13 9
Rata - Rata 0,9176 1168,0 219,24 0,0858 0,5463 25 16,6
g) CFL Tornado
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus Cos
Ruanga Alam
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Phi Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 476 63 221,08 0,075 0,389 12 6,4
2 13 0,9176 482 221,15 0,068 0,385 12 6,6
3 14 0,9176 483 220,6 0,0687 0,39 12 6,8
4 16 0,9176 480 221,56 0,067 0,379 12 6,7
5 18 0,9176 485 219,1 0,065 0,381 12 6,4
Rata - Rata 0,9176 481,2 219,24 0,69 0,38 12 6,58

h) CFL Essential
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus
Ruanga Alam Cos Phi
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 1108 220,83 0,066 0,536911 11 5,3
221,13 0,066 0,54190 5,4
2 0,9176 1129 11
21 4
221,17 0,065 0,54592 5,4
3 0,9176 1158 11
23 4
221,29 0,065 0,54605 5,6
4 0,9176 1153 7 11
24 7
221,37 0,064 0,54625 5,6
5 0,9176 1168 5 11
25 9
Rata - Rata 0,9176 1168,0 219,25 0,66 0,5463 11 5,46
i) CFL Genie
Luas Lux Daya (Watt)
N Waktu Tegangan Arus Cos
Ruanga Alam
o (menit ke-) Terukur (Volt) (A) Phi Terpasang Terukur
n (m2) i
1 0 0,9176 284 221,37 0,069 0,378 11 5,4
2 21 0,9176 296 221,76 0,0696 0,377 11 5,5
3 23 0,9176 306 221,77 0,0692 0,375 11 5,8
4 24 0,9176 310 221,34 0,0691 0,379 11 5,7
5 25 0,9176 302,6 221,17 0,068 0,377 11 5,8
Rata - Rata 0,9176 1168,0 219,25 0,69 0,5463 11 5,64

VII. Kompilasi Data


Berikut merupakan data yang didapatkan mencakup data primer hasil pengukuran dan data
olahan beserta analisisnya.
A. Data Primer
1. Spesifikasi Lampu
Pada tabel 2 terdapat spesifikasi lampu yang digunakan ketika praktikum sistem
pencahayaan.
Tabel 2. Spesifikasi Lampu

No Jenis Lampu Spesifikasi Lampu


Philips Genie 11W E27 6500K
220-240V 50-60Hz
570 lumen / Efikasi 54lm/W
Philips Essential 11W E27 6500K
1 CFL 220-240 V 50-60Hz
594 lumen / Efikasi 54 lm/W
Philips Tornado 12W E27 6500K
220-240V 50-60Hz
665 lumen/ Efikasi 55lm/W
Philips 25W
2 Lampu Pijar
220-240V
3 LED hilips Softone 25W
220-240V
TL-D 36W/ 54-765 CDL
4 TL
2600 lumen/ Efikasi 72lm/W

2. Data Pengukuran
Data rata rata hasil pengukuran praktikum sistem pencahayaan terdapat pada
tabel 3.

Tabel 1. Data Pengukuran

N Tegangan Arus Daya Lux


Jenis Lampu Keterangan
o (V) (A) (Watt) terukur
Lampu menyala
dengan
1 TL 36W +BK 147,26 1,24 51,8 1216
mengalami delay
3,26 detik
TL Tidak mengalami
2 147,26 0,95 33,4 1240 delay waktu
36W+BK+C penyalaan
Lampu terang,
3 TL 36W+BE 146,6 0,76 27,2 1163
tidak ada flick
Terjadi kenaikan
arus dari
TL biasanya dan
4 146,5 2,07 16,6 1168
36W+BE+C Tidak mengalami
delay waktu
penyalaan
Lampu berwarna
5 Lampu Pijar 146,5 0,31 18,42 172,2 kekuning-
kuningan
Lampu berwarna
6 LED 148,22 0,3 19,04 174,6 kekuning-
kuningan (warm)
Intensitas cahaya
7 CFL Tornado 147,14 0,25 6,58 481,2 terang dan tidak
ada kedipan
8 CFL Essential 146,28 0,22 5,46 302,6 Intensitas cahaya
terang dan tidak
ada kedipan
Intensitas cahaya
9 CFL Genie 146,67 0,23 5,64 280 terang dan tidak
ada kedipan

A. Pengolahan Data
Pada proses pengukuran dilakukan pengukuran pada parameter kelistrikan (tegangan, arus,
faktor daya dan daya) dan intensitas cahaya pada masing-masing lampu. Dari data tersebut maka
dapat dihitung lumen, daya pencahayaan dan efikasi pada masing-masing lampu. Berikut ini
contoh perhitungan pada lampu TL + BK data ke-1 (data pukul 09.35).
o Menghitung lumen
F
E= A

F= E . A
lumen
F= 1260 m2 . 0,9176 m2

F= 1156,176 lumen
o Menghitung Daya Pencahayaan

P . ukur
Pc= A

53,3
Pc= 0,9176 m2

Pc= 58,086 Watt/m2

o Menghitung Efikasi

f
Eff = Pt

1156,176 lumen
Eff = 53,3Watt
Eff = 21,691 Lumen/Watt
Data Kompilasi

Lampu TL+BK
Daya
Pencahay Efikasi
Luas Daya (Watt) Lumen
Tegan Aru aan (lm/W)
N Wakt Ruang Cos
Lux gan s (W/m2)
o u an Phi
(Volt) (A) Ter
(m2) Teruk Terpasa
pas Terukur
ur ng
ang
126 222,5 0,37 1156,17
1 0 0,9176 0,62 36 53,3 2600 58,086 19,904
0 1 4 6
120 221,9 0,37 1108,46
2 34 0,9176 0,625 36 50,8 2600 55,362 20,022
8 5 6 08
123 221,7 0,37 1136,90
3 112 0,9176 0,624 36 50,4 2600 54,926 20,699
9 6 6 64
122 221,6 0,37 1127,73
4 117 0,9176 0,623 36 51,5 2600 56,125 20,093
9 2 5 04
121 221,5 0,37 1115,80
5 121 0,9176 0,625 36 51,8 2600 56,452 19,766
6 1 6 16
Rata - 121 221,5 0,37 1115,80
0,9176 0,625 36 51,8 2600 56,452 19,766
Rata 6 1 6 2

Lampu TL+BK+C

N Wak Luas Lux Tegang Arus Cos Daya (Watt) Lumen Daya Efika
o tu Ruang an (A) Phi Pencahay si
an (Volt) aan (lm/
(m2) (W/m2) W)
Terpas Teruk Terpas Teruku
ang ur ang r
1 0 0,9176 1207 221,55 0,28 0,53 36 34,3 2600 1107,54 37,380 29,62
5 1 32 9
2 27 0,9176 1224 221,27 0,28 0,53 36 33 2600 1123,14 35,963 31,23
5 7 24 0
3 53 0,9176 1248 220,14 0,28 0,53 36 33,5 2600 1145,16 36,508 31,36
4 6 48 7
4 58 0,9176 1243 219,55 0,28 0,53 36 33,6 2600 1140,57 36,617 31,14
4 9 68 9
5 102 0,9176 1240 219,38 0,28 0,53 36 33,4 2600 1137,82 36,399 31,26
3 8 4 0
Rata - 0,9176 1240 219,380 0,28 0,53 36 33,40 2600,00 1137,82 36,399 31,26
Rata ,0 0 30 80 00 0 4 0

Lampu TL+BE

No Waktu Luas Lux Teganga Arus Cos Daya (Watt) Lumen Daya
Ruanga n (Volt) (A) Phi Pencahayaa
n (m2) n (W/m2)
Terpasan Teruku Terpasan Terukur
g r g
1 0 0,9176 1115 221,71 0,224 0,552 36 26,5 2600 1023,124 28,880
2 25 0,9176 1133 220,92 0,222 0,55 36 25,4 2600 1039,6408 27,681
3 1.10 0,9176 1099 220,05 0,221 0,548 36 25,5 2600 1008,4424 27,790
4 1.16 0,9176 1150 221,67 0,222 0,547 36 27,4 2600 1055,24 29,861
5 1.22 0,9176 1163 221,67 0,222 0,547 36 27,2 2600 1067,1688 29,643
Rata - Rata 0,9176 1163,0 221,6700 0,2220 0,5470 36 27,2000 2600,000 1067,169 29,643

Lampu TL+BE+C

No Waktu Luas Lux Teganga Arus Cos Daya (Watt) Lumen Daya
Ruanga n (Volt) (A) Phi Pencahayaa
n (m2) n (W/m2)
Terpasan Teruku Terpasan Terukur
g r g
1 0 0,9176 1108 221,71 0,224 0,552 36 16,5 2600 1016,7008 17,982
2 21 0,9176 1129 220,92 0,222 0,55 36 16,5 2600 1035,9704 17,982
3 1.08 0,9176 1158 220,05 0,221 0,548 36 16,7 2600 1062,5808 18,200
4 1.14 0,9176 1153 221,67 0,222 0,547 36 16,7 2600 1057,9928 18,200
5 1.20 0,9176 1168 221,67 0,222 0,547 36 16,6 2600 1071,7568 18,091
Rata - Rata 0,9176 1168,0 221,6700 0,2220 0,5470 36 16,6000 2600,000 1071,757 18,091

Lampu Pijar

N wak Lux Daya (Watt) V I Cos Luas Lumen Daya Efikasi


O tu (Volt (Ampe phi (m2) Pencahay (lm/W)
Terpas Teruk Terpas Teruk ) re) Teruk aan
ang ur ang ur ur (W/m2)
1 0 45 167 25 18,4 219, 0,0887 0,91 0,917 153,23 20,052 7,642
72 7 6 9
2 21 45 170 25 18,5 219, 0,089 0,92 0,917 155,99 20,161 7,737
22 5 6 2
3 23 45 175 25 18,4 219, 0,089 0,92 0,917 160,58 20,052 8,008
7 5 6 0
4 23 46 175 25 1,5 219, 0,089 0,92 0,917 160,58 1,635 98,232
77 1 6 0
5 24 56 174 25 18,3 219, 0,089 0,92 0,917 159,66 19,943 8,006
72 5 6 2
Rata-rata 47,40 172,2 25,00 15,02 219, 0,0858 0,92 0,92 158,01 16,37 25,93
0 24

Lampu LED

NO wakt Lux Daya (Watt) V I Cos Luas Lumen Daya Efikas


u (Volt) (Amper phi (m2) Pencahaya i
e) an (W/m2) (lm/W
)
Alam Teruku Terpasa Teruku Teruku
i r ng r r
1 0 167 25 18,4 219,2 0,085 0,91 0,917 153,23 20,924 7,324
6 8 6 9
2 5 170 25 18,5 218,7 0,086 0,92 0,917 155,99 20,924 7,455
6 1 6 2
3 12 175 25 18,4 219,4 0,086 0,92 0,917 160,58 20,597 7,796
6 0
4 12 175 25 1,5 219,6 0,086 0,92 0,917 160,58 20,706 7,755
5 6 0
5 13 174 25 18,3 219,1 0,086 0,92 0,917 159,66 20,597 7,752
3 1 6 2
Rata-rata 172,20 25,00 15,02 219,2 0,0858 0,92 0,92 158,01 20,75 7,62
4

Lampu CFL Tornado

N wakt Lux Daya (Watt) V I Cos Luas Lumen Daya Efikas


O u Teruku Terpasa Teruku (Volt (Amper phi (m2) Terpasa Teruku Pencahaya i
r ng r ) e) ng r an (W/m2) (lm/W
)
1 0 476 12 6,4 221,0 0,075 0,38 0,917 665 436,77 6,975 62,62
8 5 6 8 3
2 13 482 12 6,6 221,1 0,068 0,37 0,917 665 442,28 7,193 61,49
5 7 6 3 1
3 14 483 12 6,8 220,6 0,0687 0,39 0,917 665 443,20 7,411 59,80
6 1 6
4 16 480 12 6,7 221,5 0,067 0,37 0,917 665 440,44 7,302 60,32
6 9 6 8 2
5 18 485 12 6,4 219,1 0,065 0,38 0,917 665 445,03 6,975 63,80
6 6 7
Rata-rata 481,20 12,00 6,58 219,2 0,0858 0,92 0,92 665,00 441,55 7,17 61,61
4

Lampu CFL Essential

N wakt Lux Daya (Watt) V I Cos Luas Lumen Daya Efikas


O u Teruku Terpasa Teruku (Volt (Amper phi (m2) Terpasa Teruku Pencahaya i
r ng r ) e) ng r an (W/m2) (lm/W
)
1 0 284 11 5,3 220,8 0,066 0,37 0,917 594 260,59 5,776 45,11
3 9 6 8 8
2 27 296 11 5,4 221,1 0,066 0,37 0,917 594 271,61 5,885 46,15
3 7 6 0 4
3 30 306 11 5,4 221,1 0,065 0,37 0,917 594 280,78 5,885 47,71
7 4 6 6 3
4 30 310 11 5,6 221,2 0,0657 0,37 0,917 594 284,45 6,103 46,61
9 9 6 6 0
5 32 317 11 5,6 221,3 0,0645 0,37 0,917 594 290,87 6,103 47,66
7 9 6 9 3
Rata-rata 302,60 11,00 5,46 219,2 0,0858 0,92 0,92 594,00 277,67 5,95 46,65
4

Lampu CFL Genie

N wak Lux Daya (Watt) V I Cos Luas Lumen Daya Efika


O tu Teruk Terpasa Teruk (Volt (Ampe phi (m2) Terpasa Teruk Pencahay si
ur ng ur ) re) ng ur aan (lm/
(W/m2) W)
1 0 259 11 5,4 221, 0,069 0,4 0,91 570 237,65 5,885 40,38
37 76 8 4
5, 31 281 11 5,5 221, 0,0696 0,39 0,91 570 257,84 5,994 43,01
4 76 4 76 6 8
5, 32 285 11 5,8 221, 0,0692 0,39 0,91 570 261,51 6,321 41,37
5 77 4 76 6 4
5, 34 284 11 5,7 221, 0,0691 0,39 0,91 570 260,59 6,212 41,95
8 34 76 8 2
5, 36 291 11 5,8 221, 0,068 0,39 0,91 570 267,02 6,321 42,24
7 17 4 76 2 5
5,8 280,0 11,00 5,64 219, 0,0858 0,92 0,92 570,00 256,93 6,15 41,79
0 24
VIII. Analisis Data
8.1 Perbandingan daya terukur dan terpasang

Daya (Watt)
60

50

40

Watt 30 Daya Terukur Daya Terpasang

20

10

TL+ TL+ Jenis Lampu


TL+ TL+
BK BK+C BE BE+C

1. Analisis Antara Lampu TL 36 W

Lampu TL dengan daya terpasang yang sama yaitu 36 W .Namun, dengan menggunakan
ballast yang berbeda dan dengan penambahan kapasitor. Didapatkan hasil daya terukur, lux
terukur, efikasi, dan cos phi pada table kompilasi.

TL 36W + Ballast Konvensional (Kumparan)

Daya terukur yang paling tinggi adalah saat menggunakan ballast konvensional yaitu
54,542 dengan tingkat pencahayaan 1216 lux. Sehingga daya pencahayaan yang dihasilkan
yaitu 56,45 w/m2 dan nilai cos phi nya yaitu 0,625, hal ini disebabkan oleh induktor yang
menyebabkan adanya daya listrik yang terbuang. Rangkaian yang ada komponen induktor
akan mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan yang menimbulkan sudut
fasa (cos phi), nilai cos phi ini lah yang akan mengakibatkan seberapa besar energi terbuang.
Daya terukur pada lampu TL lebih besar dibandingkan dengan daya terpasangnya karena
karakteristik lampu TL yang membutuhkan waktu penyalaan. Hal tersebut diakibatkan gas
yang berada didalam tabung lampu tidak terionisasi penuh sehingga tidak terdapat cukup arus
yang melewati filament lampu TL. Hal ini dibuktikan saat lampu TL 36W + ballast
konvensional energi terbuang berupa terjadinyanya lonjakan arus sebelum stabil dengan flick
(kedip),flick ini disebabkan karena turunnya frekuensi tegangan supply.

TL 36W + Ballast Konvensional + Kapasitor

Dengan penambahan kapasitor pada ballast konvensional ini berfungsi untuk


memperbaiki nilai cos phi, dimana akibat rangkaian yang ada komponen induktor yang
mengakibatkan arus tertinggal (lagging) terhadap tegangan sehingga muncul sudut beda
fasa (cos phi). Seharusnya dengan penambahan kapasitor nilai cos phi lebih bagus
(>0,85) dibandingkan sebelum penambahan, namun data yang didapat dari pengukuran
nilai cos phi tidak lebih baik.

Ballast konvensional + kapasitor menjadi lebih efektif hal ini ditunjukan dengan
naiknya nilai efikasi setelah dipasang kapasitor yang semula 19,7 lum/watt menjadi 31,2
lum/watts.

TL 36W + Ballast Elektronik

Saat lampu TL dihubungkan dengan ballast elektronik arus starting menjadi lebih
stabil karena BE ini termasuk ballast hemat energi karena komponennya terdiri dari sistem
rangkaian penyearah - inverter (power electronic) yang mampu menyalakan dan mematikan
pada frekuensi tinggi. Daya yang dihasilkan oleh lampu TL +ballast elektrik ini menjadi
lebih kecil yaitu 27,2W dengan daya pencahayaan yang tinggi yaitu 29,6 watt/m2.
TL 58W + Ballast Elektrik + Kapasitor

Dengan penambahan kapasitor pada ballast elektrik ini tidak bermanfaat seperti
ballast konvensional + kapasitor. Karena semakin banyaknya penggunaan ballast
elektronik untuk meningkatkan efisiensi lampu, maka bentuk gelombang tegangan dan
arus berubah menjadi nonsinusoidal. Seberapa jauh suatu gelombang menyimpang dari
bentuk sinusoidal dinyatakan dengan besarnya kandungan harmonisa. Arus harmonisa
adalah arus listrik yang frekuensinya kelipatan bulat dari frekuensi dasarnya (PT. PLN
menggunakan frekuensi dasar 50 Hz). Artinya, arus harmonisa mempunyai frekuensi
yang lebih tinggi dibanding frekuensi dasar 50 Hz.

Berlawanan dengan trafo atau induktor, kapasitor mempunyai impedansi atau


hambatan yang rendah pada frekuensi yang tinggi. Karena arus listrik cenderung
mengalir melalui melalui lintasan yang hambatannya rendah maka arus harmonisa
cenderung mengalir melalui kapasitor. Akibatnya, kapasitor bisa mengalami arus lebih
karena adanya harmonisa. Hal ini dibuktikan dengan nilai arus yang tinggi yaitu 2,07A
saat ballast elektronik + kapasitor, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah dengan
memasang induktor yang dipasang seri untuk mencegah mengalirnya arus harmonisa
melalui kapasitor. Namun biaya pemasangan kapasitor menjadi lebih mahal.

2. Analisis Antara Lampu CFL dengan LED


Berikut merupakan analisis antara lampu CFL (compact flourscent) dan LED (light
emited diode) berdasarkan aspek hemat energinya.

Lampu CFL, merupakan teknologi lampu pengembangan dari lampu Incandescent


Light Bulbs (ILB), pada masanya lampu ini merupakan lampu hemat energi karena
dengan memiliki daya yang relatif kecil dengan warna cahayanya yang putih dan
tingkat pencahayaan yang baik. Namun lampu CFL memiliki kekurangan
diantaranya.

- Memliki efek buruk pada lingkungan,hal ini disebabkan lampu CFL mengandung
merkuri, logam beracun,dan harus didaur ulang secara benar ketika terbakar
habis.

- Color Temperature / suhu warna = makin tinggi nilainya makin putih warna
cahayanya dan sebaliknya makin kecil nilainya makin kuning warna cahayanya.

Lampu LED memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh lampu CFL, yakni
ketahahannya hingga puluhan tahun serta efisiensi nya yang jauh lebih baikDengan
lifetime yang lama yaitu 5000 jam dan effisiensi yang lebih baik dari lampu CFL,
maka lampu LED menjadi solusi lampu hemat energi pada masa ini.

3. Banchmark Penggunaan Daya, Faktor Daya dan Efikasi


Banchmark penggunaan daya, faktor daya dan efikasi dilakukan pada masing-masing
lampu dengan daya terpasang yang sama besar.
Lampu LED 25W dan Lampu Pijar 25 W
Efikasi Lampu Pijar dan LED
30

20 EFIKASI

10

0
PIJAR LED

Jika dilihat dari penggunaan daya antara lampu LED dan lampu pijar, konsumsi daya
lampu LED lebih kecil daripada lampu pijar yaitu 20,74 W/m2 walaupun daya terpasangnya sama
besar. Hal ini karena komponen LED sudah menggunakan teknologi yang tidak memerlukan lagi
filament tungsten yang akan berpijar karena panas. Namun, pada percobaan ini digunakan LED
dengan warna kekuning-kuningan (warm) sehingga efikasi yang dihasilkan lebih kecil dari pada
lampu pijar. Efikasi LED yaitu 7,616 lm/W.

Lampu CFL dengan daya 11W dan 12W


Efikasi CFL
80
70
60
50 EFIKASI
40
30
20
10
0
CFL TORNADO CFL ESSENTIAL CFL GENIE

Dari ketiga jenis lampu CFL dengan daya terpasang CFL Genie dan CFL Essential 11 W
dan CFL Tornado 12W, penggunaan daya paling besar yaitu pada CFL Assential dengan daya
terukur sebesar 5,95 W/m2. Namun, hal ini tidak terjadi selisih yang signifikan dengan CFL
Genie maupun Tornado. Begitu pula dengan faktor dayanya. Jika dilihat dari efikasinya, lampu
CFL tornado memiliki memiliki efikasi paling tinggi karena dengan mengkonsumsi daya yang
hampir sama dengan CFL lain tapi CFL Tornado menghasilkan fluks cahaya yang lebih besar.
Efikasi CFL Tornado yaitu 61,60 lm/W.
Lampu TL dengan daya terpasang 36 W

Penggunaan Daya Lampu TL 36 Watt


60
50
40
Daya Pencahayaan
30
20
10
0
TL K TL K+C TL E TL E+C
Faktor Daya Lampu TL 36 Watt
0.65

0.6
Faktor Daya
0.55

0.5

0.45
TL K TL K+C TL E TL E+C

Dari grafik diatas dapat dilihat perbandingan antara lampu TL menggunakan ballast
konvensional, TL menggunakan ballast elektronik dan TL dengan ballast konvensional
+kapasitor. Lampu TL dengan ballast konvensional mengkonsumsi daya paling besar yaitu
56.452 W/m2 dan setelah dilakukan penambahan kapasitor penggunaan daya-nya berkurang
menjadi 36.399 W/m2. Artinya ada saving energi sebesar 35%. Hal ini dikarenakan pada lampu
TL ballast konvensional digunakan inductor yang secara karakteristik menyebabkan faktor daya
lagging (arus tertinggal terhadap tegangan). Karena itulah yang menyebabkan besar kecilnya
nilai cos yang akan berdampak pada besar kecilnya energi yang terbuang. Lampu TL dengan
menggunakan ballast elektronik pun mengkonsumsi daya lebih kecil dari pada ballast
konvensional yaitu 29.64 W/m2 dan diperoleh penghematan sebesar 54%. Oleh karena itu, dari
ketiga teknologi tersebut dengan besar lumen pada name plate yaitu 2600 lumen, efikasi tertinggi
terjadi pada lampu TL dengan ballast electronik yaitu 39.234 lm/W.

4. Perbandingan Efikasi
Pada lampu dengan jenis TL yang mempunyai fluks cahaya terpasang paling tinggi dari
jenis lampu lain yaitu 2600 lumen, dihasilkan efikasi paling tinggi pada CFL Tornado
menggunakan ballast elektronik yaitu 64,564 lm/W dengan tingkat pencahayaan 1168.0 lux.
Pada lampu dengan jenis CFL, dihasilkan efikasi tertinggi pada CFL Tornado yaitu 61,60 lm/W
dengan fluks cahaya terpasang yaitu 441,5 lumen. Lampu dengan jenis LED dan pijar memiliki
efikasi paling rendah yaitu 7.616 lm/W dan 8.023 lm/W. Dari semua jenis lampu, diperoleh
efikasi paling tinggi pada lampu CFL Tornado yaitu 61,60 lm/W namun intensitas cahaya lebih
kecil dari pada lampu TL yaitu 481,2 lux.

IX. Kesimpulan

Dari praktikum konservasi energi pada sistem pencahayaan dapat disimpulkan bahwa :

Terdapat beberapa konservasi yang dapat dilakukan pada praktikum sistem pencahayaan
diantaranya.

- Low cost : membersihkan lampu, hal tersebut tidak dilakukan saat praktikum sistem
pencahayaan. Namun bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan efisiensi dari lampu.

- Medium cost : mengganti ballast konvensional dengan ballast elektrik. Hal tersebut
menjadi solusi lampu hemat energi yang diterapkan pada lampu TL36W, dimana dari
aspek pencahayaan,efikasi, dan daya, Lampu TL 36W + ballast elektrik lebih baik dari
lampu TL lainnya. Dan untuk memperbaiki nilai cos phi ballast onvensional ditambah
dengan kapasitor

- High cost : dengan mengganti lampu, seperti lampu CFL diganti dengan lampu LED
yang lebih hemat energi, atau lampu TL yang diganti dengan lampu LED tabung.

Lampu LED dan lampu pijar memiliki nilai efikasi paling rendah diantara lampu lainnya.
Efikasi paling tinggi terdapat pada lampu CFL Tornada namun lampu CFL tornado
memiliki nilai intensitas cahaya yang lebih rendah dari lampu TL.
Dari ketiga percobaan lampu dengan jenis TL (Tube Lamp) dengan berbeda perlakuan,
didapatkan kualitas paling baik dari sisi intensitas pencahayaan maupun sisi kelistrikan
yaitu pada penggunaan ballast elektronik, dengan hasil :
- Efikasi : 39.234 lm/W
- Intensitas cahaya : 1067.16 lux
- Daya pencahayaan : 27.2 W/m 2

X. Daftar Pusataka
______. Modul Praktikum Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan. Bandung:
Politeknik Negeri Bandung.
______. 2012. Analisis Pengaruh Kombinasi Lampu Pijar, TL, dan Lampu Hemat Energi Terhadap
Kualitas Daya Listrik di Rumah Tangga.

https://konversi.wordpress.com/2009/11/18/kapasitor-bermanfaat-sekaligus-berbahaya/ diunduh
pada tanggal 26-04-2017, 18:00

https://gulangguling.com/2015/08/03/lampu-led-lebih-hemat-perbandingan-ukuran-watt-lampu-
led-dan-neon/ diunduh pada tanggal 26-04-2017, 19:00