Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur,
meracik formulasi obat identifikasi, kombinasi analis dan standar
disasipebakuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat dan
distribusinya serta penggunaanya yang aman. Farmasi dalam bahasa
Yunani disebut farmakon yang berarti medika atau obat, sedangkan ilmu
resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan
menjadi bentuk tertentu (meracik) hingga siap digunakan sebagai obat
(Syamsuni, 2006).
Obat adalah bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
menempatkan diagnosa, mencegah, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit atau gejalah penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rokhania
pada manusia atau hewan, memperelok badan atau bagian badan manusia
(Anief,1997).
Berbagai macam bentuk sediaan yang ada dipasaran antara lain
tablet, kapsul, serbuk bagi, serbuk tabur, salep, supositoria, suspensi,
emulsi, sirup dan eliksir. Dari sediaan tersebut ada keuntungan dan
kerugian serta fungsi dan kegunaan masing-masing dari sediaan ini.
Seperti halnya yang kita bahas dalam laporan ini mengenai serbuk bagi
(Syamsuni, 2006).
Adapun pengertiannya serbuk bagi adalah serbuk yang di bagi
dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus kertas perkamen atau
bahan pengemas lain yang cocok (Syamsuni, 2006).
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan percobaan pembuatan
serbuk bagi karena pembuatan sediaan serbuk sangat penting untuk
diketahui untuk dapat diterapkan pada pelayanan kefarmasian khususnya
diapotek, puskemas, dan rumah sakit.

3
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud
Adapun maksud dari kegiatan praktikum ini adalah agar mahasiswa
dapat memahami, mengerti dan mampu membuat sediaan obat serbuk
bagi.
I.2.2 Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui tentang serbuk bagi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara membuat serbuk bagi.
I.3 Prinsip
Pada percobaan ini prinsip yang digunakan adalah menggerus obat
menggunakan metode trituration. Trituration adalah metode
mencampurkan bahan obat dalam mortir dengan stemper.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Pengertian Serbuk
Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang
dihaluskan untuk pemakaian oral dalam atau untuk pemakaian luar. Serbuk
adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan, karena
mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan
lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan (Depkes RI, 1979).
II.1.2 Serbuk Bagi (Pulveres)
Serbuk bagi (Pulveres) adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang
lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan
pengemas lain yang cocok (Syamsuni, 2006).
Serbuk bagi (Pulveres) yaitu serbuk yang dapat dibagi dalam bobot
yang sama, dibungkus menggunakan kemasan untuk sekali minum, serbuk
terbagi boleh dibagi secara penglihatan, maksimal 10 serbuk secara
bersamaan umumnya serbuk berbobot 0,5 gram, pengisinya laktosa
(Ansel, 2005).
II.1.3 Keuntungan dan Kerugian Serbuk
a. Keuntungan bentuk serbuk (Anief, 2000)
1. Dosis lebih tepat, lebih stabil dari sediaan larutan.
2. Tidak memerlukan banyak bahan tambahan yang tidak perlu.
3. Dokter leluasa dalam memilih dosis sesuai keadaan pasien.
b. Kerugian bentuk serbuk (Anief, 2000)
1. Peraciknya membutuhkan waktu yang relatif lama.
2. Sulit untuk ditutupi rasanya.
II.1.4 Cara Pembuatan/ Meracik Serbuk
Serbuk diracik dengan cara mencampur bahan obat satu persatu,
sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit,
kemudian diayak, biasanya menggunakan pengayak No.60, dan dicampur
lagi (Dirjen POM, 1979).
1. Jika serbuk mengandung lemak, harus diayak dengan pengayak No. 44.

3
2. Jika obat bobotnya kurang dari 50 mg atau jumlah tersebut tidak dapat
ditimbang harus dilakukan pengenceran menggunakan zat tambahan
yang cocok.
3. Jika obat berupa serbuk kasar, terutama simplisia nabati, serbuk digerus
lebih dahulu sampai derajat halus sesuai yang tertera pada pengayak
dan derajat halus serbuk, setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih
dari 50o.
4. Jika obat berupa cairan misalnya tingtur dan ekstrak cair, pelarutnya
diuapkan hingga hampir kering, dan serbukkan dengan zat tambahan
yang cocok.
5. Obat bermassa lembek, misalnya ekstrak kental, dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai secukupnya dan diserbukkan dengan zat tambahan
yang cocok
6. Jika serbuk obat mengandung bagian yang mudah menguap,
dikeringkan dengan pertolongan kapur tohor atau bahan pengering lain
yang cocok.
II.1.5 Derajat Kehalusan Serbuk
Macam-macam derajat kehalusan serbuk (Anief, 2006)
1. Serbuk sangat kasar : 5/8
2. Serbuk kasar : 10/40
3. Serbuk agak kasar : 22/60
4. Serbuk agak halus : 44/85
5. Serbuk halus : 85
6. Serbuk sangat halus : 120
7. Serbuk sangat halus : 200/300
II.1.6 Syarat-Syarat Serbuk
Secara umum syarat serbuk adalah sebagai berikut (Syamsuni, 2006)
1. Kering.
2. Halus.
3. Homogen.

3
4. Memenuhi uji keragaman bobot (Seragam dalam bobot) atau keseragaman
kandungan (seragam dalam zat yang terkandung) yang berlaku untuk
pulveres yang mengandung obat keras, narkotik, dan psikotropik.
II.2 Uraian Bahan
1. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi :AETHANOLUM
Nama lain :Alkohol
RM/BM :C2H5OH/46.0
Rumus struktur :

Pemerian :Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan


mudah bergerak, bau khas dan rasa panas
Kelarutan :Hampir larut dalam larutan
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat :Sebagai antiseptic (menghambat pertumbuhan
bakteri)
Kegunaan :Zat pensteril

2. Ampicilin (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi :AMPICILLINUM
Nama lain :Ampisilina
RM/BM :C16H19N3O4S/349,41
Rumus struktur :

Pemerian :Serbuk hablur renik, putih, tidak berbau atau


hampir tidak berbau, rasa pahit
Kelarutan :Larut dalam 170 bagian air, praktis tidak larut
dalam etanol (95%) P, dalam kloroform P, dalam
ester P, dalam aseton P dan dalam minyak lemak
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat :sebagai antibiotic (Membunuh bakteri dan
mikroorganisme).
Kegunaan :Zat aktif

3
3. DMP (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi :DEXTROMETHORPHANUM
Nama lain :Dekstrometorfan
RM/BM :C18H25NO/271,4
Rumus struktur :

Pemerian :Serbuk hablur, hampir putih sampai agak kuning,


tidak berbau
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam
kloroform
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat
Khasiat :Antitusip (Meringankan batuk tidak berdahak)
Kegunaan :Sebagai zat aktif
4. Heptasan (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi :CYPROHEPTADINI HYDROCHLORIDUM
Nama lain :Siproheptadin Hidroklorida
RM/BM :C12H21N.HCl.1H2O / 350,89
Rumus struktur :

Pemerian :Serbuk hablur, putih sampai agak kuning, tidak


berbau atau praktis tidak berbau
Kelarutan :Sukar larut dalam air, mudah larut dalam methanol,
larut dalam kloroform, agak sukar larut dalam
etanol, praktis tidak larut dalam eter
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat :Anti histami (anti alergi)
Kegunaan :Sebagai zat aktif

5. Paracetamol (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi :ACETAMINOPHENUM
Nama lain :Parasetamol
RM/BM :C8H9NO2/151,16
Rumus struktur :

3
Pemerian :Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa
pahit.
Kelarutan :Larut dalam 70 bagian air, dalam 70 bagian wtanol
(95%) P dalam aseton P, dalam 40 bagian gliserol P
dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam
larutan alkali hidroksida
Penyimpanan :Dalam wadah, tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat :Analgetikum (anti nyeri), antipretikum (penurunan
demam)
Kegunaan :Sebagai zat aktif
6. Ranitidin (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi :RANITIDINI HYDROCHLORIDUM
Nama lain :Ranitidin Hidroklorida
RM/BM :C13H22N4O3S.HCl/350,87

Rumus struktur :

Pemerian :Serbuk hablur, putih sampai kuning pucat, praktis


tidak berbau, peka terhadap cahaya dan
kelembaban. Melebur pada suhu lebih kurang 140o,
disertai peruraian
Kelarutan :Sangat mudah larut dalam air, cukup larut dalam
etanol dan sukar larut dalam kloroform
Penyimpanan :Dalam wadah, tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat :Antasida (anti asam lambung)
Kegunaan :Sebagai zat aktif

3
BAB III
METODE PRAKTIKUM
III.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum mengenai sediaan serbuk bagi ini di laksanakan pada
hari selasa, 04 April 2017 pada pukul 07.00 sampai selesai bertepat di
Laboratorium Teknologi Farmasi, Universitas Negeri Gorontalo.
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat
No Alat Gambar Fungsi
1 Mortir dan Sebagai alat pengerus
stemper serbuk

2 Lap halus Sebagai alas meja

3 Sendok Sebagai alat


tanduk mengambil obat yang
sudah digerus

3
4 Pengayakan Sebagai pengayak
No.100 Mesh obat yang bersalut

III.2.2 Bahan
No. Nama Alat Gambar Fungsi
1. Alkohol 70% Untuk membersihkan
alat yang akan
digunakan

2. Ampicilin Diindikasikan untuk


reaksi saluran
pernapasan,
bronkopneu monia,
atitis media, infeksi
saluran napas, saluran
kemih, infeksi dalam
kelamin wanita.
3. Heptasan Diindikasikan untuk
vinitis vasomotor,
prupitis, cold uricaria,
dan dematografisme.

3
4. Paracetamol Diindikasikan untuk
meringankan rasa nyeri
pada sakit kepala, sakit
gigi, dan menurunkan
demam.

5. Ranitidin Diindikasikan untuk


pengobatan jangka
pendek tuka
duodenum aktif tuka
lambung

6. Nufamox Diindikasikan untuk


morte infeksi saluran
pernapasan, saluran
kemih

7 DMP Diindikasikan untuk


meringankan gejala
batuk tidak berdahak
atau batuk karena
alergi.

8. Tisu Untuk membersihkan


alat yang telah di
bersihkan
menggunakan alkohol

3
9 Kertas Untuk menaruh obat
perkamen yang habis di gerus

10 Etiket Untuk informasi


pemakaian obat

11 Resep Untuk menentukan


berapa banyak bahan
yang di perlukan
untuk membuat obat

12 Plastik obat Untuk wadah obat


yang sudah jadi

III.3 Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%, hal ini karena
alkohol 70% dapat membunuh bakteri gram negatif, termasuk
potongan yang resistant virus dan jamur ( jurnal sari pediatri vol. 7).
3. Dihitung semua bahan obat yang akan digunakan yaitu ampicilin 4
tablet, nufamox forte 7,5 tablet, DMP 7,5 tablet, paracetamol 7,5
tablet, dan ranitidin 4 tablet.

3
4. Dimasukan 7,5 tablet paracetamol, 4 tablet ampicilin dan 7,5 tablet
nufamox forte ke dalam lumpang.
5. Digerus sampai homogen semua bahan.
6. Dimasukan heptasan, ranitidin dan DMP kedalam lumpang terpisah.
7. Digerus hingga halus dan homogen.
8. Diayak
9. Dicampur semua bahan obat.
10. Disiapkan kertas perkamen sebanyak 15 bungkus.
11. Dibagi serbuk diatas kertas perkamen dengan bobot yang kurang lebih
sama.
12. Dikemas sesuai dengan tata cara pengemasan serbuk bagi.
13. Dimasukan kedalam plastik obat.
14. Diberi etiket dan copy resep.

3
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil

Gambar IV.1.1 Gambar IV.1.1


Tampak Depan Tampak Belakang

IV.2 Pembahasan
Serbuk adalah campuran bahan obat zat kimia yang dihaluskan dan
di anjurkan untuk pemberian oral (melalui mulut) atau untuk pemakaian
luar seperti serbuk tabur. Pulveres (serbuk bagi) adalah serbuk yang
dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas
perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok untuk sekali
minum(syamsuni, 2006).
Pada percobaan pertama kita akan membuat serbuk tabur. Pertama-tama
siapakan alat dan bahan yang akan digunakan, alat yang digunakan yaitu
stemper dan mortir serta ayakan nomor 44 dan bahan yang digunakan
yaitu ampicilin 8 mg, nufamox forte atau amoxilin 8 mg, heptasan 4 mg,

3
ranitidine 4 mg, paracetamol 8 mg, acid folac 8 mg. Kemudian
membersihkan alat yang digunakan menggunakan alkohol 70%.
Cara pengerjaanya yaitu ada perlakuan khusus pada Ampicilin dan
amoxcilin karena tergolong obat antibiotic yang harus diminum sampai
habis. Langkah awal masukkan ampicilin 8 mg kedalam lumpang gerus
sampai halus, lalu letakkan di atas kertas perkamen yang telah tersedia.
Kemudian, bersihkan kembali lumpang dan alu menggunakan alkohol
70%, kemudian masukkan amoxilin kedalam lumpang dan gerus sampai
halus, lalu telatkkan di kertas perkamen yang telah tersedia.
Perlu kita ketahui bahwa obat yang tergolong antibiotic tidak dapat
digerus bersamaan dengan obat lain karena dapat menyebabkan syok
anafilaktik yang bisa membahayakan pasien maupun petugas yang
meracik obat dan juga bukan merupakan peresepan yang ideal.
Kemudian langkah selanjutnya yaitu bersihkan kembali lumpang dan alu
tersebut, lalu masukkan heptasan 4 mg, lalu gerus sampai halus, setelah
itu letakkan di atas ayakan dengan nomor 44, alasan menggunakan
ayakan nomor 44 agar material yg kita dapatkan akan lebih halus serta
salutan dari heptasan akan tertinggal, setelah diayak letakkan diatas
kertas perkamen yang telah tersedia.
Kemudian, bersihkan kembali alat yang telah digunakan seperti
pada peracikan pertama, lalu masukkan ranitidine 4 mg kedalam
lumpang dan gerus sampai halus. Setelah itu keluarkan dari lumpang dan
letakkan di atas ayakan yang terssedia, lalu ayak sampai mendapatkan
material yang halus dan sudah terpisah dari salutan dari ranitidine
tersebut, lalu letakkan di atas kertas perkamen yang telah tersedia.
kemudian bersihkan kembali alat yang telah digunakan. Lalu masukkan
paracetamol 250 mg kedalam lumpang lalu gerus sampai halus, setelah
itu tambahkan acid folac 500 mg, lalu gerus kembali sampai halus dan
homogen. Kemudian tambahkan ampicilin, amoxilin, heptasan dan
ranitidin kedalam lumpang lalu gerus sampai homogen. Setelah itu
bagilah dalam bagian yang sama banyak, sebanyak 15 bagian lalu

3
bungkus dengan kertas perkamen, setelah itu masukkan kedalam sak obat
lalu beri etiket putih beserta keterangannya.

IV.3 Resep

dr. Baka Karya


SIP : 234/FM/GTO/01
Jl. Langsat No. 1002 iter 1x
Telp. 0435-654321
Gorontalo, 12-01-2012

R/ Ampicilim 125 mg
Nufomax forte mg
DMP tab
Heptasan 2 mg
Paracetamol 250 mg
Ranitidin 1/4 tab
a. Perhitungan
m.f.pulvbahan
d.t.d No. XV
125
s 3 d.d
1. Ampicilin 1 p.c
125 mg = 500 x 15 = 4 tab

1
2. Asam
Pro : Bayifolax
Dian mg = 2 x 15 = 8 tab
Umur : 1 tahun 5 bulan 2
3. Heptasan 2 mg = 4 x 15 = 8 tab

1
4. Nufamox forte mg = 2 x 15 = 8 tab

250
5. Paracetamol 250 mg = 500 x 15 = 8 tab
1
6. Ranitidine tab = 4 x 15 = 4 tab

3
b. Perhitungan Dosis Obat
Jika diketahui umur pasien = 1 Tahun 5 Bulan = 17 bulan
1. Ampiclin 125 mg Asam folax 200 mg/1000 mg
n
- Dosis sekali = 150 x DM

17
= 150 x 200 mg

= 22,67 mg
n
- Dosis sehari = 150 x DM

17
= 150 x 1000 mg

= 113,3 mg

1 bungkus Ampicilin mengandung Ampicilin


125
% sekali = 22,67 x 100%

= 551,38% (OD)
125 x 3
% sehari = 113,3 x 100%

= 330,98% (OD)
2. DMP tablet DM = 15 mg
n
Dosis sehari = 150 x DM

17
= 150 X 15

= 1,7 mg

1 bungkus DMP mengandung


0,5 x 3
% sehari = 1,7 x 100%

= 88,23% (OO)
3. Heptasan 2 mg DM = 0,25 mg

n
Dosis sehari = 150 x DM

3
17
= 150 x 0,25

= 0,028 mg

1 bungkus Heptasan mengandung


2 x3
% sehari = 0,028 x 100%

= 21.428, 57% (OD)


4. Paracetamol 250 mg, DM, 50 mg/200 mg
n
- Dosis sekali = 150 x DM

17
= 150 x 50

=5,67 mg
n
- Dosis sehari = 150 x DM

17
= 150 x 200

= 22,67 mg

1 bungkus Paracetamol mengandung


250
% sekali = 5,67 x 100%

= 4.409, 17% (OD)


250 x 3
% sehari = 22,67 x 100%

= 3.308,33% (OD)

IV.3.1 Narasi Resep


IV.3.1.1 Narasi Resep Perkata
Singkatan
Nama Latin Arti
Latin
Signa Tandai
1
4 Pars Quarta Seperempat

3
1
2 Pars Duo Seperdua

1 Unus Satu
2 Duo Dua
3.d.d Ter de die Tiga kali sehari
125 Centum Viginti Quinque Seratus dua puluh lima
250 Ducenta Quinquaginta Dua ratus lima puluh
d.t.d Da tales dosis Berikan sekian takaran
Iter 1x Iteratur 1x Diulangi satu kali
m.f Misce fac Campur dan buatlah
Mg Miligrama Miligram
No Numero Sebanyak
p.c Post coenam Sesudah makan
Pro Pro Untuk
Pulv Pulvis Serbuk
R/ Recipe Ambilah
Tab Tabulae Tablet
XV Quindecim Lima belas

IV.3.1.2 Bahasa Latin


Recipe, ampicilin centum viginti quinque miligrama, nufamox
forte pars duo tabulae, DMP pars duo tabulae, heptasan duo miligrama,
paracetamol ducenta quinquanginta miligrama, ranitidin pars quarta
tabulae, misce fac pulvis da tales doses numero quindecem. Singa ter de
die unus past coenam (Syamsuni, 2006).
IV.3.1.3 Bahasa Indonesia
Ambilah, ampicilin seratus dua puluh lima milligram, nufamox
forte seperdua tablet, DMP seperdua tablet, heptasan dua milligram,
paracetamol dua ratus lima puluh milligram, ranitidine seperempat
tablet. Campur dan buatlah serbuk diberikan sekian takaran sebanyak
lima belas. Tandai tiga kali sehari sesudah makan (Syamsuni, 2006).
IV.3.2 Kekurangan Resep
Kekurangan pada resep ini adalah tidak terdapat paraf atau tanda
tangan dokter peulis resep dimana paraf tersebut menjamin keaslian
resep atau sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Resep ini juga
tidak dituliskan tanda seru atau paraf dokter pada resep yang kelebihan
dosis maksimalnya dan tidak dituliskannya alamat dari pasien yang
erupakan identitas dari pasien. Penulisan bahan obat yang harus ditulis

3
terlebih dahulu adalah obat yang memiliki fungsi utama yang dengan
pemedium adjuvantia atau ajuve yaitu bahan obat yang menunjang kerja
bahan obar pertama (Syamsuni, 2006).
IV.3.3 Indikasi Resep
1. Ampicilin
Diindikasikan untuk reaksi saluran pernapasan, bronkopneu
monia, atitis media, infeksi saluran napas, saluran kemih, infeksi
dalam kelamin wanita (Sirait, 20015).
2. DMP
Diindikasikan untuk meringankan gejala batuk tidak berdahak
atau batuk karena alergi (Sirait, 20015).
3. Heptasan
Diindikasikan untuk vinitis vasomotor, prupitis, cold uricaria, dan
dematografisme (Sirait, 20015).

4. Nufamox Forte
Diindikasikan untuk infeksi saluran pernapasan, saluran kemih
dan kelamin, infeksi dan lain seperti salmunelia sp, shigella, kulit,
luka, selulitis, vurunkulosis (Sirait, 20015).
5. Paracetamol
Diindikasikan untuk meringankan rasa nyeri pada sakit kepala,
sakit gigi, dan menurunkan demam (Sirait, 20015).
6. Ranitidin
Diindikasikan untuk pengobatan jangka pendek tuka duodenum
aktif tuka lambung. Mengurangi gejala refluks esofagitis, tetapi
memelihara setelah penyembuhan luka duodenum dan lambung
sindroma, dunger, Ellison (Sirait, 20015).
IV.3.5 Penyampaian Informasi
1. Pemakaian
Serbuk ini digunakan secara oral atau pemakaian dalam,
penggunaannya dikonsumsi 3x1 sebanyak 1 bungkus dalam setiap
kali konsumsi dengan dilarutkan terlebih dahulu dalam air
secukupnya (Dirjen POM, 1995).
2. Cara Penyimpanan

3
Disimpan ditempat yang sejuk dalam wadah tertutup rapat
terlindungi dari panas dan cahaya. Pada penyimpanan kadang terjadi
lembab atau basah sehingga membutuhkan tempat yang tertutup dari
udara lembab. Apabila mengandung unsur-unsur hidroskopis atau
mudah mencair maka kertas berlillin atau tahan air yang harus
dipakai serbuk yang mengandung komponen mudah menguap dan
juga tidak mengandung ramuan. Ramuan yang tergantung oleh
udara, biasanya serbuk semacam ini dibungkus dengan kertas surat,
dan serbuk yang mengandung hidroskopis diserahkan dalam pot dan
ditutup sekrup (Ansel, 2011).
3. Jangka Waktu

Obat ini berjumlah 15 bungkus dalam sehari dikonsumsi 3x1, 1


bungkus pada pagi, siang dan malam sesudah makan, dan obat ini
harus dihabiskan dalam waktu 5 hari.
IV.4 Farmakologi
1. Ampicilin
a. Absorbsi
Ampicilin diabsorbsi terutama diduodenum, ampicilin
diduodenum ini cukup cepat, tetapi hany sepertiga bagian dosis
oral diserap. Jumlah ampicilin dan senyawa sejenisnya yang
diabsorbsi pada pemberian oral dipengaruhi oleh besarnya dosis
dan ada tidaknya makanan dalam saluran cerna (Gunawan,
2009).
b. Distribusi
Ampicilin juga didistribusikan luas dalam tubuh dan
pengikatnya oleh protein plasma hanya 2%. Ampicilin yang
masuk kedalam tubuh mengalami sirkulasi enterophepatik, tetapi
yang diekskresikan bersama tinja jumlah cukup tinggi. Penetrasi
ke ccs dapat mencapai kadar yang efektif pada keadaan
peradangan menigen. Pada bronkitus atau pneumonia, ampicilin
diekskresikan kedalam sputum sekitar 10% kadar serum. Pada
permatur dan menatus, pemberian ampicilin menghasilkan kadar

3
dalam darah lebih tinggi dan bertahan lebih lama dalam darah
(Gunawan, 2009).
c. Metabolisme
Ampicilin umumnya dilakukan oleh mikroba berdasarkan
pengaruh enzin penisilin dan amidase. Proses metabolism oleh
phospes tidak bermakna, akibat pengaruh penisilinase terjadi
pemecahan cincin betalaktum dengan akibat penurunan potensi
anti mikroba (Gunawan, 2009).
d. Ekskresi
Ekskresi ampicilin sebagian besar berlangsung lewat ginjal
yaitu 30%-40% dalam keadaan aktif dan sisanya sebagai
metabolit. Sebagian kecil ekskresi ampicilin melalui saluran
empedu (Tjay, 2007)

2. DMP
a. Absorbsi
Absorbsi peroral cepat, kadar puncak plasma dicapai 30-60
menir setelah pemberian (My cek dkk, 1995)
b. Distribusi
DMP didistribusi melalui sitem peredaran darah dan pada
proses pendistribusian ini dipengaruhi sifat kimi obat (Gunawan,
2009).
c. Metabolisme
DMP mengalami prose metabolism pada organ hati yang
hasil metabolismenya akan melanjutkan proses farmakodimika
yaitu dimana zat aktif obat akan berkonsentrasi pada suhu tubuh
(Gunawan, 2009).
d. Eksresi
DMP diekskresi diginjal berlangsung pada proses
metabolism dan diekskresi pada urin secara utuh (Gunawan,
2009).
3. Heptasan
a. Absorbsi

3
Obat ini diabsorbsi secara baik setelah pemberian oral atau
parental efeknya timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan
maksimal setelah 1-2 jam lama kerja obat ini seteah dosis tunggal
umumnya 4-6 jam (Gunawan, 2009).
b. Distribusi
Heptasan didistribusi pada semua jaringan, termasuk SSP
(Sistem Syaraf Pusat) (Gunawan, 2009).
c. Metabolisme
Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru, sedangkan pada
limpa ginjal, otak dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama
biotransformasi obat ini ialah di hati, tetapi dapat juga pada paru-
paru dan ginjal (Gunawan, 2009).
d. Eksresi
Heptasan diekskresi melalui urine, sedikit dalam bentuk
tidak berubah dan sebagian besar dalam bentuk metabolit
(Gunawan, 2009).
4. Nufamox Forte
a. Absorbsi
Amoxilin diabsorbsi di saluran pencernaan jauh lebih baik
dari pada ampicilin dengan dosis oral yang sama, dan mencapai
kadar dalam bentuk yang tingginya dua kali lebih tinggi dari
pada yang dicapai oleh ampicilin (Gunawan, 2009).
b. Distribusi
Amoxilin umumnya didistribusi melalui empedu dan
mencapai CSS (Cairan Sebraspinal) pada meningitis (infeksi
pada selaput pelindung otak dan syaraf tulang belakangnya)
(Gunawan, 2009).

c. Metabolisme

3
Amoxilin dimetabolisme dihati secara terbatas, jika
berlebihan dapat menyebabkan difungsi pada hati, penyakit
kuning kelostatis, kolestatis hati dan hepatitis akut (Gunawan,
2009).
d. Ekskresi
Amoxilin diekskresikan melalui ginjal, kegagalan fungsi
ginjal mempengaruhi ekskresi amoxilin dalam urine (Gunawan,
2009).
5. Paracetamol
a. Absorbsi
Paracetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran
cerna, kosentrasi tinggi dalam plasma dicapai dalam jam dan
masa paruh antara 1-3 jam (Gunawan, 2009).
b. Distribusi
Paracetamol didistribusi kedalam saluran cerna atau
keseluruhan cairan tubuh 25% paracetamol terikat protein plasma
(Gunawan, 2009).
c. Metabolisme
Paracetamol dimetabolisme oleh enzin mikrosom hati,
sebagian asetaminofen dikonjugasi dengan asam sulfat. Selain itu
oabt ini juga dapat mengalami hidroksidasi, metabolit
hidroksidasi ini dapat menimbulkan methaemoglobinemia dan
hemidisis eritosit (Gunawan, 2009).
d. Eksresi
Paracetamol diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil
paracetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi
(Gunawan, 2009).

6. Ranitidin

3
a. Absorbsi
Absorbsi simetidin doperlambat oleh makanan. Sehingga
simetidin diberikan bersama atau segera setelah makan dengan
maksud untuk memperpanjang efek pasca makan. Absorbsi
simetidin terutama terjadi pada menit ke 60-90 (Gunawan, 2009).
b. Distribusi
Ranitidin didistribusikan kedalam sistem peredaran darah
dan brovailabilitas. Ranitidin yang diberikan secara oral sekitar
50% dan mengikat pada pasien panyakit hati (Gunawan, 2009).
c. Metabolisme
Ranitidin mengalami metabolism lintas pertama dihati
dalam jumlah cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidin dan
matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal sisanya melalui
tinja (Gunawan, 2009).
d. Ekskresi
Ranitidin diekskresi melalui ginjal, sisanya melalui tinja
sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30% yang
diberikan secara oral diekskresi dalam urin dalam bentuk asam
(Gunawan, 2009).

BAB V

3
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Serbuk bagi (Pulveres) yaitu serbuk yang dapat dibagi dalam bobot
yang sama, dibungkus menggunakan kemasan untuk sekali minum, serbuk
terbagi boleh dibagi secara penglihatan, maksimal 10 serbuk secara
bersamaan umumnya serbuk berbobot 0,5 gram, pengisinya laktosa.
Dan cara pembuatan serbuk bagi, yang pertama menyiapkan alat
dan bahan, yang kedua membersihkan alat dengan menggunakan alkohol
70%, ketiga menghitung semua bahan obat yang akan digunakan, yang
keempat memasukan paracetamol, ampicilin dan nufamox forte ke dalam
lumpang. Yang kelima menggerus sampai homogen semua bahan. Yang
keenam memasukan heptasan, ranitidin dan DMP kedalam lumpang
terpisah, yang ketujuh menggerus hingga halus dan homogen.
Pada obat antibiotik harus di gerus dan taruh di tempat yang berbeda,
serta pada obat yang bersalut pun harus di gerus dengan lumpang yang
berbeda dan di ayak terlebih dahulu sebelum di campur dengan obat yang
lainya
V.2 Saran
1. Untuk laboratorium diharapkan agar dapat melengkapi fasilitasnya berupa
alat-alat dan bahan-bahan yang menunjag dalam proses praktikum, agar
praktikum yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar.
2. Untuk aisten Pada praktikum ini, asisten sudah banyak membantu dan
turun tangan dengan praktikan. Saran kami sebaiknya selama praktikum
asisten tetap ikut membantu praktikan agar kesalahan pada praktikum
relatif kecil.

DAFTAR PUSTAKA

3
Anief. Mch. 1998. Ilmu Meracik Obat .Yogyakarta: Gadjah Mada
University Pres
Ansel. H. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Kempat. Jakarta:
UI Press
Dirjen, POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Tiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Dirjen, POM. 1995. Farmakope Iindonesia Edisi Keempat. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI
Gunawan, S. 2009. Farmakologi Dan Terapi Edisi Keempat. Jakarta: UI
Pres
Gunawan, S. 2012. Farmakologi Dan Terapi Edisi Lima. Jakarta: UI press
My cek, M. Ddk, 1995. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi Kedua.
Jakarta: Widia Madika
Sari pediatri. 2005. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Indonesian
Pediatrics Society
Sirait, M. 2015. ISO Indonesia Volume 49. Jakarta: PT ISFI
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Tjay, H.T. Raharja , k. 2007. Obat-Obat Penting Edisi Keempat. Jakarta: PT
Elex Media Komputindo

3
LAMPIRAN ETIKET & COPY RESEP
1. ETIKET

2. COPY RESEP

3
2. LAMPIRAN CARA KERJA DIAGRAM ALIR

BAHAN RESEP

- Disiapkan alat dan bahan.


- Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%, hal
ini karena alkohol 70% dapat membunuh bakteri gram
negatif, termasuk potongan yang resistant virus dan
jamur ( jurnal sari pediatri vol. 7).
- Dihitung semua bahan obat yang akan digunakan yaitu
ampicilin 4 tablet, nufamox forte 7,5 tablet, DMP 7,5
tablet, paracetamol 7,5 tablet, dan ranitidin 4 tablet.
- Dimasukan 7,5 tablet paracetamol, 4 tablet ampicilin dan
7,5 tablet nufamox forte ke dalam lumpang.
- Digerus sampai homogen semua bahan.
- Dimasukan heptasan, ranitidin dan DMP kedalam
lumpang terpisah.
- Digerus hingga halus dan homogen.
- Diayak
- Dicampur semua bahan obat.
- Disiapkan kertas perkamen sebanyak 15 bungkus.
- Dibagi serbuk diatas kertas perkamen dengan bobot yang
kurang lebih sama.
- Dikemas sesuai dengan tata cara pengemasan serbuk
bagi.
- Dimasukan kedalam plastik obat.
- Diberi etiket dan copy resep.

SERBUK BAGI

3
3