Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B 1

Analisa Rosot Karbon di Area PPLH Seloliman,


Trawas, Kab. Mojokerto
A.F. Saifulloh, H.B. Kurniawan, I. Prasetyowati, M. Rahmawati, S. Anggraini
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: suci14@mhs.bio.its.ac.id

AbstrakTumbuhan menyerap gas CO2 dari udara melalui komponen pokok, yaitu:
proses fotosintesis, yang selanjutnya diubah menjadi 1. Bagian hidup (biomasa): masa dari bagian vegetasi yang
karbohidrat, kemudian disebarkan keseluruh tubuh tanaman masih hidup yaitu
dan akhirnya ditimbun dalam tubuh tanaman. Proses
batang, ranting dan tajuk pohon (berikut akar atau
penimbunan karbon (C) dalam tubuh tanaman hidup dinamakan
proses sekuetrasi karbon. Metode yang digunakan adalah estimasinya), tumbuhan bawah atau gulma dan tanaman
dilakukan pengukuran diameter batang (DBH) pohon dan tihang semusim.
di kawasan PPLH Seloliman Mojokerto, serta penghitungan 2. Bagian mati (nekromasa): masa dari bagian pohon yang
biomassa tanaman tanpa melakukan perusakan (metode non- telah mati baik yang masih tegak di lahan (batang atau
destructive) dengan persamaan allometrik. Tujuan dari tunggul pohon), kayu tumbang/tergeletak di permukaan
praktikum ini adalah untuk mengetahui, memahami dan mampu
tanah, tonggak atau ranting dan daun-daun gugur (seresah)
menerapkan prinsip pengukuran rosot karbon suatu vegetasi
atau komunitas flora. Hasil analisis rosot karbon pada area yang belum terlapuk.
tersebut adalah Aegle marmelos merupakan spesies dengan 3. Tanah (bahan organik tanah): sisa makhluk hidup (tanaman,
biomassa tertinggi dan Persea americana merupakan spesies hewan dan manusia) yang telah mengalami pelapukan baik
dengan biomassa terendah dalam transek 6. Rosot karbon paling sebagian maupun seluruhnya dan telah menjadi bagian dari
tinggi terdapat pada transek 5 dan rosot karbon terendah tanah. Ukuran partikel biasany lebih kecil dari 2 mm [4]:.
terdapat pada transek 1.
Berdasarkan keberadaannya di alam, ketiga komponen karbon
tersebut dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu:
Kata KunciAllometrik, metode non-destructive, rosot
karbon, sekuetrasi karbon. a. Karbon diatas permukaan tanah, meliputi:
Biomasa pohon
Biomasa tumbuhan bawah
I. PENDAHULUAN Nekromasa

H utan merupakan tempat penyimpanan dan pengemisi
karbon. Di permukaan bumi ini,kurang lebih terdapat 90
% biomassa yang terdapat dalam hutan berbentuk pokok kayu,
Seresah
b. Karbon didalam tanah, meliputi:
Biomasa akar
dahan, daun, akar dan sampah hutan (serasah), hewan, dan Bahan organik tanah [4]
jasad renik [1]. Biomassa ini merupakan tempat penyimpanan Pengukuran biomasa tanaman dapat dilakukan dengan cara:
karbon dan disebut rosot karbon [2]. Biomassa didefinisikan 1. Tanpa melakukan perusakan (metode non-destructive ), jika
sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada jenitanaman yang diukur sudah diketahui rumus
suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering allometriknya.
per satuan luas [3]. 2. Melakukan perusakan (metode destructive ). Metode ini
Tumbuhan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan dilakukan oleh peneliti untuk tujuan pengembangan rumus
menyerap gas asam arang (CO2) dari udara melalui proses allometrik, terutama pada jenis-jenis pohon yang
fotosintesis, yang selanjutnya diubah menjadi karbohidrat, mempunyai pola percabangan spesifik yang belum
diketahui persamaan allometriknya secara umum.
kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan akhirnya
Pengembangan allometrik dilakukan dengan menebang
ditimbun dalam tubuh tanaman. Proses penimbunan karbon
pohon dan mengukur diameter, panjang dan berat
(C) dalam tubuh tanaman hidup dinamakan (C-Squestration).
masanya. Metode juga dilakukan pada tumbuhan bawah,
Dengan demikian mengukur jumlah yang disimpan dalam tanaman semusim dan perdu [4].
tubuh tanaman hidup (biomasa) pada suatu lahan dapat Metode yang dipilih dalam praktikum ini adalah tanpa
menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap melakukan perusakan atau non-destructive. Berdasarkan
oleh tanaman. Sedangkan pengukuran cadangan yang masih paparan materi diatas, dilakukan praktikum perhitungan rosot
tersimpan dalam bagian tumbuhan yang telah mati karbon dengan tujuan mahasiswa mampu mengetahui,
(nekromasa) secara tidak langsung menggambarkan CO yang memahami, dan mampu menerapkan prinsip pengukuran rosot
tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran[4]. karbon suatu vegetasi atau komunitas flora.
Pada ekosistem daratan, cadangan karbon disimpan dalam 3
LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B 2

II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Analisa Vegetasi dilaksanakan pada tanggal 24
April 2016 di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab. Mojokerto.
Pengambilan transek seperti yang ditunjukkan oleh gambar 1
Gambar 2. Pengambilan transek sampel analisa rosot karbon, (Keterangan:
dengan koordinat 7036'35.58"S 11203516.56"E. panjang tansek 100 m dengan 4 plot 20x20 m untuk pengukuran pohon, 4 plot
10x10m untuk pengukuran tihang) [5].

Gambar 3. Teknik Pengukuran DBH pohon dengan bentuk tidak teratur[6]


Gambar 1. Transek Kelompok 6 Analisa Vegetasi (modifikasi Google Earth,
C. Analisis Data
2016)
Data yang diperoleh berupa diameter dan berat jenis
B. Cara Kerja
ditabulasikan, lalu dianalisis dengan menggunakan perangkat
Metode pengukuran rosot karbon yang digunakan adalah
lunak Microsoft Office Excel (2007). Data yang diperoleh
non-destructive, yakni metode yang dilakukan tanpa
dilapangan berupa DBH dan nama spesies pohon dan tihang
perusakan objek yang diukur . Proses pengambilan data
yang digunakan untuk menduga kandungan biomassa. Analisis
dimulai dengan menentukan lokasi sampling dan dengan
data simpanan karbon (rosot karbon) dilakukan dengan
bantuan GPS ditentukan geoposisinya kemudian transek
beberapa tahapan. Tahap pertama adalah perhitungan
dibuat dengan panjang 100 m. Transek dibagi menjadi 4
biomassa pohon dari data diameter yang didapatkan. Untuk
kuadran dengan luas 20x20 m dan jarak antar-kuadran adalah
pohon bercabang, biomassa dihitung dengan persamaan
5 m. Tiap kuadran, dilakukan perhitungan diameter setinggi
sebagai berikut:
dada pada kategori pohon dengan luas plot 20x20 m dan
Y= 0,11 D2,62 (1)
tihang dengan luas plot 10x10 m. Lalu dilakukan pengukuran
Atau untuk pohon yang tidak memiliki data , maka
kandungan karbon pada tumbuhan dengan pengambilan
digunakan rumus:
sampel biomassa yang dilakukan dengan cara inventarisasi
Y= 0,118 D2.53 (2)
seluruh tegakan yang masuk dalam plot contoh. Parameter
dengan Y: Biomassa pohon
yang diamati dan dicatat datanya adalah nama spesies
:massa jenis pohon (g.cm-3)
tumbuhan dan diameter setinggi dada (diameter at
D: Diameter setinggi dada (cm)
breastheight/ DBH) yaitu diameter pohon atau tihang yang
Nilai berbeda-beda pada setiap spesies, data tersebut
terletak 1,3 m di atas permukaan tanah. Pengambilan kuadran
mengacu pada Global wood density database. Setelah
sampel lebih jelasnya digambarkan oleh gambar 2. Sedangkan
dilakukan perhitungan biomassa, tahap terakhir perhitungan
untuk teknik pengukuran DBH di lapangan akan disesuaikan
adalah perhitungan simpanan karbon (C-sink) dengan
dengan keadaan umum lokasi dan keadaan pohon yang akan
persamaan:
diukur seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.
C= Y x 0,46 (3)
Dengan C : simpanan karbon
Y: biomassa total (kg)
0,46: kandungan karbon vegetasi [7].
LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B 3

III. PEMBAHASAN 12 54 17.2


Metode pengukuran rosot karbon yang digunakan adalah
13 125 39.8
non-destructive, yakni metode yang dilakukan tanpa
perusakan objek yang diukur. Praktikum ini hanya mengukur 14 80 25.5
kandungan karbon yang ada dipermukaan tanah pada tegakan
tingkat tihang dan pohon atau disebut above biomass[6] . 15 110 35
Pengukuran biomasa bawah permukaan (BBP) atau akar,
biasanya sangat sulit serta memakan waktu dan biaya yang 16 112 35.7
besar [7]. Pengukuran atas pohon-pohon kecil berdiameter 17
kurang dari 5 cm pada ketinggian di atas dada (DBH) sulit 34 10.8
dilakukan dan karbon yang terkandung dalam pohon-pohon 18 Ficus variegata 186 59.2 2814.4
tersebut dianggap tidak cukup signifikan untuk mengubah
hasil pengelompokan secara drastis atau tidak sebanding 19 150 47.8
dengan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk melakukan
survey atas pohon-pohon tersebut [8].Penggunaan plot bujur 20 118 37.6
sangkar atau persegi panjang merupakan bentuk plot yang 21 Acer laurinum
relative sering digunakan di dalam analisa vegetasi hutan di 135 43 1023
Indonesia. Hal ini karena kemudahannya di dalam memastikan 22 40 12.7
pohon-pohon yang masuk dibandingkan dengan plot
lingkaran. Kelemahan bentuk plot ini adalah, semakin luas 23 55 17.5
plot yang diukur, maka semakin panjang batas plot yang harus
24 Aleurites
dibuat Penggunaan ukuran plot 10x10 m untuk kategori 147 46.8 654.3
moluccana
tihang dan 20x20 m untuk kategori pohonuntuk menjamin
25 Dyera costulata 110 35 428.4
tingkat keakurasian yang lebih baik. Persamaan alometrik
yang digunakan untuk pendugaan kandungan biomasa atau 26 Ceiba pentandra 46 14.6 309.8
karbon merupakan hubungan antara salah satu parameter
pohon, misalnya diameter atau tinggi, dengan jumlah total 27 96 30.6
biomasa atau karbon yang terkandung dalam pohon tersebut.
Untuk menyusun persamaan alometrik lokal merupakan 28 46 14.6
kegiatan yang memakan waktu dan biaya, serta dilakukan 29 Persea americana
dengan metode destruktif atau dengan cara 45 14.3 70.6
ditebang. Namun penggunaan persamaan alometrik lokal
berdasarkan tipe hutan yang sesuai dapat meningkatkan Berdasarkan pengamatan yang diperoleh beberapa spesies
keakurasian pendugaan biomasa[7]. diantaranya yaitu Aegle marmelos, Tectona grandis, Ficus
variegata, Acer laurinum, Aleurites moluccana, Ceiba
Tabel 1. pentandra, Persea americana, Dyera costulata, semua jenis
Biomassa tumbuhan di transek 6 di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab. species tersebut termasuk kedalam jenis pohon dan tihang
Mojokerto
yang memiliki tegakkan atau jenis pohon bercabang [9]
No Nama Spesies Keliling Diameter Y total
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
1 Aegle marmelos melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
67 21.3 37505.6 0,11x0.77xD2,62 [10] (persamaan 1) pada spesies Aegle
2 162 51.6 marmelos yang berjumlah sebanyak 14 tegakan didapatkan
total biomassa sebesar 37505.6 ton/ha. Spesies ini
3 435 138.5 mempunyai biomassa paling besar di transek 6. Data
menunjukkan Aegle marmelos memiliki diameter yang cukup
4 Tectona grandis 145 46.2 6077.8 besar dibandingkan yang lainnya walaupun tegakannya
5 sedikit. Diameter tanaman berbanding lurus dengan umur
87 27.7 pohon, dimana menurut literatur peningkatan biomassa
6 61 19.4 tegakan diakibatkan oleh makin tua umur tegakan tersebut.
Hal ini disebabkan karena diameter pohon mengalami
7 59 18.8 pertumbuhan melalui pembelahan sel yang berlangsung terus
menerus dan akan semakin lambat pada umur tertentu. Selain
8 50.2 16 itu Aegle marmelos memiliki massa jenis yang lebih tinggi
9 dibandingkan spesies lain dalam transek 6 sehingga biomassa
25 8
yang terkandung didalamnya juga tinggi [11]
10 33 10.5 Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
11 27 8.6 0,11x0.67xD2,62[12] (persamaan 1) pada spesies Tectona
grandis yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total biomassa
LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B 4

sebesar 6077.8 ton/ha, Tectona grandis memiliki tegakan tubuh tumbuhan, sehingga hal ini mempengaruhi jumlah
yang paling banyak didalam transek 6 namun diameter batang biomassa yang terkandung didalamnya [11,18].
cenderung berukuran kecil atau banyak ditemui dalam Analisis vegetasi di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab.
kategori tihang. Menurut literatur kandungan biomassa Mojokerto, terdiri dari delapan transek. Setiap transek
tumbuhan juga dipengaruhi oleh jumlah tegakan, namun memiliki lokasi yang berbeda-beda. Jumlah rosot karbon
Tectona grandis merupakan tumbuhan dengan akselerasi masing-masing transek terangkum dalam grafik 1.
pertumbuhan yang lambat, sehingga hal ini juga
Grafik 1.
mempengaruhi kandungan biomassa didalamnya [ibit 11,14]
Rosot karbon di area PPLH Seloliman (ton/ha)
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.31xD2,62[15] (persamaan 1) pada spesies Ficus
variegata yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 2814.4ton/ha. Ficus variegata termasuk
jenis pioner yang membutuhkan cahaya (intoleran) dan
memiliki pertumbuhan cepat (fast growing), sehingga
memiliki diameter batang yang cukup besar, namun tegakan
tumbuhan tersebut cukup sedikit sehingga kandungan
biomassa tumbuhan ini tidak terlalu besar [16]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.43xD2,62[17] (persamaan 1) pada spesies Acer
laurinum yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 1023 ton/ha. Dari sampel yang diperoleh
terdapat 1 pohon dan 2 tihang. Tegakan yang sedikit, diameter
yang kecil dan massa jenis yang kecil menyebabkan biomassa Berdasarkan grafik 1 rosot karbon transek 6 termasuk
yang terkandung didalamnya tidak besar [11,18] urutan kedua tertinggi dibandingkan kedelapan transek
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis lainnya, sedangkan rosot karbon tertinggi terdapat pada
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y= kelompok 5 yaitu sekitar 95835.36 ton/ha. Transek 6 dijumpai
0,11x0.25xD2,62[17](persamaan 1) pada spesies Aleurites 8 spesies tumbuhan dengan tegakan masing-masing spesies
moluccana yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total memiliki diameter yang tidak terlalu menyimpang
biomassa sebesar 654.3 ton/ha. Aleurites moluccana memiliki dibandingkan tegakan lainnya terkecuali pada satu tegakan
diameter yang cukup besar namun memiliki massa jenis atau Aegle marmelos yang miliki diameter yang cukup besar.
kerapatan kayu yang kecil selain itu tegakan Aleurites Sehingga menyebabkan Aegle marmelos menjadi penyumbang
moluccana pada transek 6 sangat sedikit sehingga rosot karbon terbesar dalam transek 6. Seperti penelitian
menyebabkan kandungan biomassanya juga rendah [11,18] sebelumnya, penelitian dilakukan untuk mengatahui serapan
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis karbon pada RTH yang menemukan bahwa terdapatnya satu
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y= batang pohon Paraserianthes falcataria berukuran cukup
0,11x0.35xD2,62[19] (persamaan 1) pada spesies Dyera besar yaitu dengan diameter mencapai 45 cm sehingga
costulata yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total sumbangan biomassanya cukup besar [22]. Dimana jumlah
biomassa sebesar 654.3 ton/ha. Tegakan yang sedikit membuat biomassa berbanding lurus dengan jumlah rosot karbon yang
Dyera costulata mengandung biomassa yang rendah [18]. terkandung dalam suatu tumbuhan [23]. Dibandingkan dengan
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis transek 5 yang menjumpai 11 spesies pohon ataupun tihang,
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y= penyumbang karbon terbesar dalam transek ini adalah jumlah
0,11x0.28xD2,62 [20] (persamaan 1) pada spesies Ceiba tegakan Cassia fistula yang cukup banyak serta Ceiba
pentandra yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total pentandra yang mendominasi dalam hal besar diameter
biomassa sebesar 309.8 ton/ha. Rendahnya biomassa pada batang, diameter batang berbanding lurus dengan umur
Ceiba pentandra dipengaruhi oleh tegakan yang sedikit serta tanaman itu sendiri. Seiring bertambahnya umur, pohon akan
diameter batang tidak besar [18]. mengalami pertumbuhan melalui pembelahan sel yang akan
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis menambah diameter batang sehingga mempengaruhi nilai
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y= volume pohon [23].
0,11x0.6xD2,62 [21] (persamaan 1) pada spesies Persea Transek 2, 3, 7, 8 memiliki rosot karbon rata-rata yang
americana yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total hampir sama dan masih jauh lebih rendah dibandingkan rosot
biomassa sebesar 70.6 ton/ha. Persea americana memiliki karbon transek 6. Transek 2, 3, 7 ditemukan 5-6 spesies
biomassa paling rendah diantara spesies lainnya. Jumlah tanaman dengan diameter yang tidak terlalu besar dan masih
Persea americana sangat sedikit, dan tumbuhan ini termasuk jauh dibandingkan transek 5 dan 6. Sedangkan transek 8
dalam kategori tihang yang memiliki diameter batang yang ditemukan 2 spesies tanaman dan masing-masing spesies
kecil. Selain itu massa jenis atau kerapatan kayu pada Persea memiliki tegakan yang cukup tinggi serta tegakan didominasi
americana sangat rendah yaitu 0.6 gr/cm3 dimana massa jenis oleh kategori tihang yang memiliki diameter kurang dari 20
berbanding lurus dengan biomassa yang terkandung didalam cm. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya diameter
LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B 5

pohon serta jumlah tegakan mempengaruhi kandungan rosot [14] Efendi, Syammiah, dan M. Iqbal. Growth Acceleration of Teak Stump
(Tectona grandis L.f.) by Stem Cutting and Mycorrhiza Inoculation, J.
karbon suatu tumbuhan [11,23]
Floratek. (2012). 7: 141 149.
Transek 1 merupakan transek dengan kandungan rosot [15] O.D. Seng.. in Soewarsono, P.H. Specific gravity of Indonesian Woods
karbon terendah, pada transek ini dijumpai 5 spesies tanaman and Its Significance for Practical Use FRPDC Forestry Department,
dengan tegakan yang hampir merata serta didominasi oleh Bogor, Indonesia, 1990.
[16] L. Haryjanto, Rizki Fambayun, dan Priska Rini. Growth variation of
kategori tihang. Lain halnya pada transek 6 yang terdapat
Fifteen Families Ficus variegata Blume at seedling level, Wana Benih.
salah satu spesies dengan penyumbang rosot kabon terbesar, (September,2012). Vol 13 No. 2 : 89 98.
pada transek ini tidak ada penyumbang rosot karbon yang [17] Desch, H. Timber: structure, properties, conversion and use. 7th
mendominasi. Edition. New York : Palgrave Macmillan, 1996.
[18] M. Budiman, Gusti Hardiansyah dan Herlina Darwati. Estimasi
Biomassa Karbon Serasah Dan Tanahpada Basal Area Tegakan Meranti
IV. KESIMPULAN Merah(Shorea Macrophylla) Di Areal Arboretumuniversitas
Rosot karbon dan biomassa suatu tanaman dipengaruhi Tanjungpura Pontianak, Jurnal Hutan Lestari (2015). Vol. 3 (1) : 98
107.
oleh besar diameter batang, massa jenis atau kerapatan kayu, [19] Martawijaya, A. et al. Indonesian Wood Atlas Vol. I. and II AFPRDC
serta jumlah tegakan. Aegle marmelos merupakan spesies AFRD Department of Forestry Bogor Indonesia, 1992.
dengan biomassa tertinggi sebab tumbuhan ini memiliki [20] Forestry Compendium. CAB International. Available:
diameter yang besar dan Persea americana merupakan spesies http://www.cabi.org/compendia/fc/.
[21] Little, E.L., Jr., and F.H. Wadesworth. Common trees of Puerto Rico
dengan biomassa terendah dalam transek 6 sebab tumbuhan and the Virgin Islands. Washington DC : US Department of
ini memiliki diameter, massa jenis serta tegakan yang rendah. Agriculture, Agricultural Handbook 249, Superintendent of Documents,
Analisa rosot karbon di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab. US Government Printing Office, 1964.
[22] Nursanti dan Elly Indra Swari. Potensi Keanekaragaman Hayati, Iklim
Mojokerto hasil rosost tertinggi pada transek 5 dimana transek
Mikro Dan Serapan Karbon Pada Ruang Terbuka Hijau Kampus
tersebut terdabat banyak berbagai jenis spesies pohon, serta Mendalo Universitas Jambi,(April-Juni 2013) Vol 2 No. 2
terdapat beberapa pohon dengan diameter yang cukup besar. [23] O. Rusdiana, D. Mulyana, dan C. Utami Willujeng. Pendugaan Potensi
Simpanan Karbon Tegakan Campuran Akasia dan Kayu Putih di Area
Reklamasi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk., Jurnal Silvikultur Tropika.
V. DAFTAR PUSTAKA (Desember,2013). Vol. 04 No. 3. Hal. 183 189 ISSN: 2086-8227
[1] A. Arief. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta : Penerbit Kanisus
(2005).
[2] A. Yamani, Studi Kandungan Karbon Pada Hutan Alam Sekunder di
Hutan Pendidikan Mandiangin Fakultas Kehutanan Unlam,Jurnal
Hutan Tropis. Vol. 1 No. 1. (2013)
[3] E. Khudzaefa, Sebaran Stok Karbon Berdasarkan Karaktristik Jenis
Tanah (Studi Kasus : Area Hutan Halmahera Timur, Kab Maluku
Utara), Jurnal Sistem Informasi. (20012). Vol.5(1)
[4] K. Hairirah, A. Ekadinata, R. Ratna Sari, S. Rahayu. Pengukuran
Cadangan Karbon dari Tingkat lahan ke Tingkat Lahan edisi ke-2,
Bogor, World Agroforestry Centre, ICRAF SEA Regional Office,
University of Brawijaya (UB), Malang, Indonesia xx p. (2011).
[5] D. Sutaryo. Penghitungan Biomassa Sebuah pengantar untuk studi
karbon dan perdagangan karbon, Bogor :Wetlands International
Indonesia Programme.2009.
[6] UNFCCC. (2015). Measurements for Estimation of Carbon Stocks in
Afforestation and Reforestation Project Activities under the Clean
Development Mechanism: A Field Manual. [Online]. Available:
http://www.unfccc.int.
[7] S. Manuri, C.A.S. Putra dan A.D. Saputra. Tehnik Pendugaan Cadangan
Karbon Hutan. Palembang: Merang REDD Pilot Project, German
International Cooperation GIZ, 2011.
[8] Golden Agri-Resources and SMART . Juni 2012. Laporan Penelitian
Hutan Ber-Stok Karbon Tinggi Pendefinisian dan identifikasi wilayah
hutan ber-Stok Karbon Tinggi untuk kemungkinan konservasi:The
Forest Trust and Greenpeace.
[9] Katterins, Q.M., Coe, R., van Noordwijk,M.,Ambagau,Y., and Palm,
C.a. Reducing Uncertainty in The Use of Allometric Biomass
Equations For Predicting Above-Ground Tree Biomass in Mixed
Secondary Forest. Forest Ecology and Management, (2001) 146 : 199-
209.
[10] P. Sallenave. Proprits Physiques et Mcaniques des Bois. CTFT.
France Nogent sur Marne. 1955.
[11] M. Chanan. Pendugaan Cadangan Karbon (C) Tersimpan Di Atas
Permukaan Tanah Pada Vegetasi 61 Hutan Tanaman Jati (Tectona
grandis Linn. f )(Di RPH Sengguruh BKPH Sengguruh KPH Malang
Perum Perhutani II Jawa Timur). Jurnal Gamma. (Maret,2012).Volume
7, Nomor 2: 61 73
[12] Anonymous. Standard Nomenclature of Forest Plants, Burma, including
commercial timbers. Forest Research and Training Circle. Burma :
Forest Department. 121 pp, 1974.
[13] Ibit 11