Anda di halaman 1dari 17

1

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kegiatan budidaya, salah satu komponen penting yakni keberadaan

mikroalga. Mikroalga memiliki peran sebagai pakan alami sekaligus produsen

primer di dalam suatu perairan. Hal ini menjadikan mikroalga berfungsi sebagai

rangkaian awal aliran energi pada rantai makanan di perairan. Selain itu,

keberadaan mikroalga sebagai pakan alami sampai saat ini masih tidak dapat

digantikan secara keseluruhan oleh pakan buatan. Terdapat beberapa

kandungan dalam pakan alami, seperti contohnya asam lemak esensial yang

belum dapat dipenuhi oleh pakan buatan (Ekawati, 2005).

Mikroalga pada umumnya terbagi menjadi dua jenis yakni, zooplankton

(hewani) dan fitoplankton (tumbuhan). Namun pakan alami jenis fitoplankton

memiliki beberapa keunggulan dibandingkan zooplankton. Mikroalga jenis

fitoplankton dapat menjadi produsen O2 terlarut akibat aktifitas fotosintesis.

Sehingga mampu mengendalikan kandungan CO 2 terlarut dalam perairan. Selain

itu menurut Panjaitan et. al. (2014), fitoplankton memiliki memiliki peran sebagai

anti bakterial, pemasok enzim pencernaan hingga immunostimulan bagi

pemangsanya.

Salah satu mikroalga jenis fitoplankton yang dapat dimanfaatkan sebagai

pakan alami adalah Thalassiosira sp.. Thalassiosira sp. merupakan mikroalga

laut jenis diatom yang berasal dari kelas Bacilariophyceae. Berbentuk silindris

pendek dan memiliki ukuran diameter 4-32 m. Sel Thalassiosira sp. menempel

dalam sebuah massa mukus, pori-pori sentral mukus ini disebut dengan single

apikulus (Hendley, 1959).

Thalassiosira sp. merupakan diatom yang bersifat eurytermal yaitu mampu

tumbuh pada kisaran suhu 10-30 oC. Sedangkan temperatur optimal pada sekitar
2

suhu 21 oC (Kipp, 2007). Mikroalga laut ini mempunyai persebaran dari perairan

tawar dan payau pada habitat pesisir. Umumnya mikroalga laut hidup normal

pada salinitas optimum 25-35. Sedangkan pH optimum untuk diatom ada pada

kisaran 7-8 (Sylvester et. al., 2002).

Pada kegiatan budidaya, mikroalga Thalassiosira sp. merupakan salah satu

jenis yang dapat digunakan sebagai pakan budidaya Udang Vaname

(Litopenaeus vannamei). Menurut Ekawati (2005), terdapat beberapa jenis

mikroalga yang dapat digunakan sebagai pakan alami Udang Vaname

(Litopenaeus vannamei) pada fase pasca larva, salah satunya yakni

Thalassiosira sp. Selain itu, mikroalga laut Thalassiosira sp. dapat juga diberikan

pada budidaya bivalve, mulai dari fase larva hingga pasca larva. Penggunaan

mikroalga Thalassiosira sp. juga berdampak baik pada hasil sintasan larva

Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yakni 68,22% dengan menghasilkan

panjang rata-rata 4,16 0.03 mm (Panjaitan et. al., 2014).

Setiap mikroalga memiliki kandungan karbohidrat, protein, lipid (lemak) dan

klorofil. Mikroalga laut Thalassiosira sp. memiliki kandungan karbohidrat sebesar

7.7%, kandungan protein sebesar 0.93% dan kandungan lemak sebesar 9.69%

(Purba, 2009). Perbedaan konsentrasi nutrien yang terkandung pada media

dapat mempengaruhi presentase kandungan sel mikroalga tertentu. Salah satu

contoh yakni, kandungan lemak pada mikroalga yang dipengaruhi oleh

konsentrasi nitrogen dan fosfat yang terdapat pada media (Sriharti dan Carolina,

1995).

Kultur mikroalga laut dilakukan sebagai upaya mendapatkan pakan alami

dengan jumlah yang cukup dan berkesinambungan dalam kegiatan budidaya.

Pada proses kultur terdapat beberapa fase yang dilakukan yakni persiapan

media, kultur, pemupukan dan pemeliharaan, pemanenan, perhitungan

kepadatan serta pengukuran kualitas air. Proses ini terjadi pada setiap skala
3

yang pada umumnya terbagi menjadi 3 (tiga) skala, yakni kultur skala

laboratorium, kultur skala intermediate (semi-massal) dan, kultur skala massal.

Berdasarkan kebutuhan mikroalga laut pada kegiatan budidaya yang

penting. Serta proses kultur Thalassiosira sp. yang dibutuhkan pengelolaan

kualitas air yang sesuai kadar optimum agar menghasilkan kandungan nutrisi

yang optimal pula. Selain itu, terkait dengan penggunaan Thalassiosira sp.

sebagai pakan budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Maka penulis

rasa perlu melakukan pengamatan terkait manajemen kultur mikroalga laut

Thalassiosira sp. serta penggunaannya sebagai pakan alami Udang Vaname

(Litopenaeus vannamei) yang terdapat di PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pelaksanaan Praktik Kerja Magang ini adalah untuk mengetahui

secara langsung manajemen kultur mikroalga Thalassiosira sp. serta

penggunaannya sebagai pakan budidaya Udang vaname (Litopenaeus

vannamei) di PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung. Selain itu juga berkmaksud

untuk memadukan teori yang didapat pada perkuliahan dengan fakta yang ada di

lapang.

Tujuan yang ingin dicapai dari Praktik Kerja Magang (PKM) ini adalah untuk

meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kerja magang dalam

bidang perikanan serta mengetahui manajemen kultur Thalassiosira sp. di PT.

Central Pertiwi Bahari, Lampung serta faktor-faktor yang mendukung.

1.3 Manfaat

Manfaat yang diharapkan saat melaksanakan Praktik kerja Magang tentang

Studi Manajemen Kultur Mikroalga Laut Thalassiosira sp. Skala Laboratorium di

PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung, antara lain:


4

1. Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman secara

langsung tentang manajemen kultur Thalassiosira sp.


2. Mengapllikasikan mata kuliah terkait yang diperoleh selama

perkuliahan tentang manajemen kultur Thalassiosira sp.


3. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan yang dapat menunjang

penelitian lebih lanjut tentang kultur Thalassiosira sp.

1.4 Waktu dan Tempat

Kegiatan Praktek Kerja Magang ini dilaksanakan selama 30 hari pada

tanggal 18 Juli 22 Agustus 2016 dengan sistem magang (sesuai hari kerja)

yang bertempat di PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung.

2. MATERI DAN METODE PRAKTIK KERJA MAGANG


5

1.1 Materi Praktik Kerja Magang

Materi pada Praktik Kerja Magang adalah kultur Thalassiosira sp. secara

skala laboratorium di PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung, dimana pengamatan

yang dipelajari meliputi persiapan media, kultur Thalassiosira sp., pemupukan

dan pemeliharaan, pemanenan, perhitungan kelimpahan plankton, pengukuran

kualitas air antara lain suhu, pH, salinitas, Oksigen Terlarut (Dissolved Oksigen),

dan nitrat serta pemberian Thalassiosira sp. sebagai pakan alami.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat

Adapun alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan Praktik Kerja Magang

pada kultur Thalassiosira sp. skala laboratorium dan pengukuran kualitas air

(suhu, salinitas, DO, nitrat dan pH) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat-alat Praktik Kerja Magang


No. Nama Alat Fungsi
sebagai tempat untuk bibit Thalassiosira sp.
1 Cawan Petri
dalam kultur skala laboratorium
untuk menjaga agar media gar pada saat kultur
2 Bunsen
tetap steril atau tidak terkontaminasi
3 Jarum Ose untuk menanam bakteri
sebagai tempat untuk bibit Thalassiosira sp.
4 Test Tube
dalam kultur skala laboratorium
5 AC untuk mengatur suhu ruangan
6 Gelas Ukur untuk mengukur larutan skala tertentu
sebagai tempat untuk bibit Thalassiosira sp.
7 Erlenmeyer
dalam kultur skala laboratorium
Toples 1-2,5 sebagai tempat untuk bibit Thalassiosira sp.
8
liter dalam kultur skala laboratorium
Carboy 10 sebagai tempat untuk bibit Thalassiosira sp.
9
liter dalam kultur skala laboratorium
sebagai sumber aerasi yang digunakan di setiap
10 Hiblow
wadah pemeliharaan larva dan kultur alga
untuk mengatur cahaya pada saat proses kultur
11 Lampu TL
skala laboratorium
Refraktomete untuk mengukur salinitas
12
r
13 Termometer untuk mengukur suhu
6

14 pH papper untuk mengukur pH air


Kotak untuk standart pH
15
Standart
Catridge Filter untuk menyaring partikel
16
5m
Purefilter UV untuk menyaring partikel
17
m
18 Timbangan untum menimbang bahan yang digunakan
19 Pipet Tetes untuk mengambil larutan dalam skala kecil
20 Pipet Volume untuk mengambil larutan dalam volume tertentu
untuk membantu penyediaan udara pada wadah
21 Selang Aerasi
yang digunakan untuk kultur
untuk membantu penyediaan udara pada wadah
22 Batu Aerasi
yang digunakan untuk kultur
alat untuk sterilisasi cawan petri, testube,
23 Autoclave erlenmeyer, gelas ukur, pipet volume. Pipet
tetes
untuk menyimpan vitamun, pupuk lab, dan bibit
24 Lemari Es
plankton
sebagai wadah air laut untuk kultur skala
25 Ember
laboratorium
26 Mikroskop untuk mengamatai Thalassiosira sp.
Haemocytom untuk menghitung jumlah Thalassiosira sp.
27
eter
28 Cover glass untuk menutup haemocytometer
untuk membantu memindahkan air laut pada
29 Gayung
saat persiapan media pada kultur laboratorium

2.2.2 Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan Praktik Kerja

Magang pada kultur Thalassiosira sp. skala laboratorium dan pengukuran

kualitas air (suhu, salinitas, DO, nitrat dan pH) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan Praktik Kerja Magang


No
Nama Bahan Fungsi
.
Bibit
sebagai bibit untuk mengkultur Thalassiosira
1 Thalassiosira
sp.
sp.
2 Air Laut sebagai media Thalassiosira sp.
untuk mencuci alat-alat
3 Air Tawar untuk menurunkan salinitas air laut
untuk membuat pupuk
4 Pupuk PA untuk kebutuhan nutrisi Thalassiosira sp.
Vitamin B1 dan untuk vitamin pada saat kultur murni skala
5
B12 laboratorium
7

6 Alkohol untuk mensterilkan tangan sebelum kultur


untuk membunuh bakteri, virus dan kuman
7 Kaporit
dalam air
8 Chlorin test untuk mengeset kelarutan klorin air laut
untuk membersihkan haemocytometer dan
9 Aquades
cover glass saat pengamatan
10 Na-thiosulfat untuk menetralkan klorin dalam air laut
11 Spiritus sebagai bahan bakar bunsen
12 Detergen untuk membersihkan alat-alat

2.3 Metode Praktik Kerja Magang

Metode yang digunakan dalam Praktik Kerja Magang ini adalah metode

deskriptif. Menurut Sukmadinata (2006), metode penlitian deskriptif adalah

sebuah metode yang berusaha mendeskripsikan serta mengintepretasikan suatu

kondisi atau hubungan yang ada, akibat atau efek dari kecenderungan proses

yang sedang atau telah berlangsung. Maka dapat diartikan metode deskriptif

bertujuan menghasilkan suatu deskripsi atau intepretasi hasil dari proses yang

sedang atau telah terjadi dengan tetap memperhatikan situasi-situasi atau

kejadian yang berlangsung. Dalam metode ini pengumpulan dan penyusunan

data dilakukan untuk dapat dijadikan bahan analisis serta deskripsi pembahasan

dari penelitian.

2.4 Teknik Pengambilan Sampel

Metode pengambilan data yang digunakan dalam Praktik Kerja Magang di PT.

Central Pertiwi Bahari, Lampung ini adalah dengan pengumpulan data secara

primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi, partisipasi aktif

dan wawancara. Sedangkan data sekunder didapat melalui studi pustaka atau

laporan hasil penelitian yang telah ada.

2.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dan dikumpulkan langsung oleh

orang yang melakukan penelitian atau yang memerlukannya di lapangan


8

(Hassan, 2002). Data yang diambil dalam Praktik Kerja Magang kali ini meliputi

proses kultur mikroalga Thalassiosira sp. serta pengamatan parameter kualitas

air antara lain suhu, salinitas, DO, nitrat dan pH. Data didapatkan secara

langsung dengan melakukan pengamatan dan pencatatan dari hasil observasi

partisipasi aktif, wawancara, dan dokumentasi.

2.4.1.1 Observasi Partisipasi Aktif


Menurut Spradley (1980) dalam Djaelani (2013), observasi partisipasi aktif

merupakan suatu metode pengamatan yang dilakukan dengan cara mengamati

perilaku, kejadian atau kegiatan orang atau sekelompok orang dimana peneliti

terlibat aktif dalam kegiatan yang diteliti. Kemudian mencatat hasil pengamatan

tersebut untuk mengetahui proses yang sebenarnya terjadi. Pengamatan dan

pencatatan dilakukan secara langsung terhadap kelengkapan sarana dan

prasarana kultur, rangkaian proses kultur yang meliputi persiapan media, kultur,

pemupukan dan pemeliharaan, pemanenan, dan perhitungan kepadatan, serta

pengukuran parameter kualitas air pada kultur mikroalga Thalassiosira sp. dan

pemberiannya sebagai pakan alam.

2.4.1.2 Wawancara

Menurut Djaelani (2003), wawancara merupakan suatu teknik dalam

pengamatan dengan cara mengajukan pertanyaan antara pewawancara dengan

yang diwawancarai. Pada suatu pengamatan wawancara berfungsi untuk

mendapatkan data yang lebih lengkap dalam menintepretasikan hasil

pengamatan. Dalam Praktik Kerja Magang ini wawancara dilakukan dengan cara

memberikan pertanyaan langsung kepada pihak pengelola maupun karyawan di

tempat penelitian. Wawancara mendalam dilakukan secara tebuka untuk

mengetahui struktur organisasi perusahaan, persiapan dalam kultur, teknik kultur,

dan hal lain yang berhubungan dengan sistem kerja di PT. Central Pertiwi Bahari,

Lampung.
9

2.4.1.3 Dokumentasi

Menurut Widiastuti (2014), dokumentasi merupakan salah satu metode yang

dapat digunakan pada pengamatan dengan cara mengumpulkan data melalui

mempelajari, mencatat, menyalin dokumen atau catatan yang bersumber dari

peninggalan tertulis seperti arsip, termasuk juga buku tentang teori, pendapat,

dalil dan hukum (Widiastuti, 2014). Pada Praktik Kerja Magang ini, dokumentasi

dilakukan dengan cara mengambil gambar atau foto dengan menggunakan

kamera dan mencatat data dari PT. Central Pertiwi Bahari, Lampung.

2.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang telah lebih dulu dikumpulkan dan dilaporkan

oleh orang diluar dari penyidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu

sesungguhnya adalah data yang asli (Sugiarto dan Siagian, 2000). Data

sekunder didapat dari studi pustaka meliputi, jurnal, skripsi, thesis serta

kepustakaan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan penelitian.

2.5 Manajemen Kualitas Air


2.5.1 Sumber Air

Air merupakan kebutuhan dalam usaha budidaya. Dalam hal ini yang perlu

diperhatikan adalah kualitas dan kuantitas air yang akan digunakan selama

proses kultur mikroalga. Sumber air yang digunakan ada 2 macam, yaitu sumber

air laut dan air tawar.

2.5.2 Sistem Pengairan

Sistem pengairan yang tepat menjadikan hal yang penting dalam melakukan

manajemen kualitas air. Dalam hal ini digunakan sistem pengairan yang bersifat

paralel, sistem pengairan dimanasetiap kolam mendapat air baru atau air yang

sudah dialirkan tidak dialirkan ke wadah kultur lain. Sistem pengairan ini yang
10

baik, karena kualitas air kolam dapat terjaga. Selain itu, sistem ini mudah dalam

pengelolaannya. Bila wadah satu dipanen tidak mengganggu wadah kultur lain.

2.5.3 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air dimaksudkan agar tetap menjaga kualitas kultur yang

sedang dilakukan. Namun pada kultur Thalassiosira sp. pengelolaan kualitas air

dilakukan hanya dengan pengontrolan kestabilan parameter kualitas air. Tidak

adanya pergantian air dalam satu kali siklus kultur Thalassiosira sp.

Penambahan air dilakukan hanya dalam perpindahan kultur tiap skala yaitu pada

skala intermediete dan skala massal.

2.6 Prosedur Pengukuran Kualitas Air

Prosedur pengukuran kualitas air untuk masing-masing parameter, antara lain:

2.6.1 Suhu (SNI, 2005)

Pengukuran suhu dengan menggunakan alat yaitu thermometer Hg. Adapun

pengukuran suhu dilakukan dengan cara :

Memasukkan Thermometer Hg ke dalam contoh uji dan biarkan 2-5 menit

sampai termometer stabil dan jangan sampai menyentuh media lain

kecuali tangan
Membaca skala thermometer searah pandangan mata
Mencatat nilai skala thermometer

2.6.2 pH (Subarijanti, 1990)

Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH paper dan kotak standar.

Adapun pengukuran pH dilakukan dengan cara :

Menyiapkan pH paper
Memasukkan pH paper ke dalam sampel air
Mengangkat dan mengibaskan pH paper dari sampel air sampai setengah

kering
Membandingkan hasil pH paper dengan kotak standar pH paper
Mencatat nilai hasil pH
11

2.6.3 Salinitas (Subarijanti, 1990)

Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer. Adapun

pengukuran pH dilakukan dengan cara :

Meneteskan aquades pada prisma refraktometer untuk kalibrasi


Membersihkan prisma refraktometer dengan kertas tissue
Mengambil sampel air dengan menggunakan pipet
Meneteskan sampel air yang dicari nilai salinitasnya pada prisma

refraktometer
Menutup prisma refraktometer
Membeca skala yang ditunjukkan pada refraktometer
Mencatat nilai salinitas

2.6.4 Oksigen Terlarut (DO) (Bloom, 1998)

Pengukuran oksigen terlarut (DO) dilakukan dengan menggunakan metode

Winkler. Adapun pengukuran oksigen terlarut sebagai berikut :

Mengukur dan mencatat volume botol DO yang akan digunakan


Mengambil sampel air dengan menggunakan botol DO dengan cara

perlahan-lahan dimasukkan kedalam perairan dengan posisi miring dan

dipastikan tidak ada gelembung udara


Menambahkan larutan MnSO4 2mL dan NaOH + KI 2 mL lalu

dihomogenkan sampai muncul endapan coklat. Biarakan selama 30 menit


Membuang filtrat (air bening diatas endapan) dan diberi larutan H 2SO4 1-2

mL pekat pada endapan coklat yang tidak terbuang lalu kocok sampai

endapan larut
Menambahkan 3-4 tetes larutan amylum dan dititrasi dengan Na-thosulfat

(N2S2O3) 0.025 N sampai jernih dan tidak berwarna untuk pertama kali
Catat volume Na-thiosulfat yang terpakai (mL titran)
Hitung kadar DO dengan rumus
v ( titran ) x N ( titran ) x 8 x 1000
DO=
V botol DO4

2.6.5 Nitrat (Subarijanti, 2005)

Menurut Subarijanti (2005), pengukuran nitrat dapat dilakukan dengan cara,

sebagai berikut :
12

Menyaring 12,5 ml air sampel


Menuangkan kedalam cawan porselen
Menguapkan di atas pemanas sampai kering hati-hati jangan sampai

pecah dan didinginkan


Menambahkan 0,2 ml (5 tetes) asam fenol disulfonik, aduk dengan

pengaduk gelas dan encerkan dengan 5 ml aquades


Menambahkan tetes demi tetes NH4OH (1:1) sampai terbentuk warna

(maksimal 5 ml) dan encerkan dengan aquades sampai 12,5 ml.


Memasukan dalam cuvet
Menghitung kadar nitrat menggunakan spektrofotometer dengan panjang

gelombang 410 nm.

2.7 Perhitungan Kelimpahan

Menurut Chalid et at. (2006), cara Perhitungan jumlah plankton dengan

haemocytometer ini yaitu dengan cara meneteskan kultur sel mikroalga yang

akan dianalisa kepadatan selnya sebanyak satu tetes ke masing-masing dua

bagian haemocytometer. Tutup dengan menggunakan slide. Haemocytometer ini

dilengkapi dengan mikroskop. Haemocytometer yang telah diberikan kultur sel

mikroalga diletakkan di bawah lensa objektif dan difokuskan hingga terlihat kisi-

kisi tempat perhitungan sel yang terdiri dari lima kisi perhitungan. Selanjutnya

jumlah sel plankton dihitung menggunakan rumus berikut:

Jumlah Total Sel 4


Jumlah sel/ ml= x 16 x 10
Jumlah Kotak yang Dihitung
13

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional 2005. SNI. 06-6989.35-2005: Air dan Limbah-Cara


uji Kadar Aluminium(Al) dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Bloom. 1998. Chemical and Physical Water Quality Analisis. Nuffic.


Unibraw/Luw/Fish: Malang

Chalid, S. Y., S. Amini dan S. D. Lestari. Kultivasi Chlorella sp. pada Media
Tumbuh yang diperkaya dengan Pupuk Anorganik dan Soil Ekstrak.
Laporan Penelitian. Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Syarif
Hidayatullah. Jakarta.
Djaelani, A. R. 2013. Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif.
Majalah Ilmiah Pawiyatan. Vol. XX (1): 82-92.

Ekawati, A, W. 2005. Budidaya Makan Alami. Fakultas Perikanan Universitas


Brawijaya. Malang.

Hasan, M. Iqbal, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya,


Ghalia Indonesia, Bogor, 2002.

Kipp RM. 2007. Thalassiosira pseudonana. USGS Nonindigenous Aquatic


Species Database, Gainesville, FL.

Panjaitan, A. S., W. Hadic, dan S. Harijati. 2014. Pemeliharaan Larva /ydang


Vanamei (Ilitopenaeus vanamei, Boone 1931) Dengan Pemberian Jenis
Fitoplankton Yang Berbeda. Jurnal Manajemen Perikanan dan Kelautan.
Vol. 1 (1): Artikel 2
14

Purba, O.S. 2008. Tesis. Pengembangan Medium Untuk Peningkatan


Produktivitas Kultur Batch Diatom Laut Thalassiosira sp. Institut
Teknologi Bandung. Bandung.

Somers D. 1972. Scanning Elektron Microscope Studies On Some Species Of


The Centric Diatom Genera Thalassiosira and Coscinodiscus. Biol Jb.
Dodonaea. 40: 304-315.

Sriharti & Carolina, 1995, Kualitas Algae Bersel Tunggal Chlorella sp. pada
Berbagai Media, Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna,
Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, Subang, Seminar Ilmiah Hasil Penelitian
dan Pengembangan Bidang Fisika Terapan

Subarijanti, H. U. 1990. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas


Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya. Malang.

Subarijanti, H. U. 2005. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas


Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang

Sugiarto dam Dergibson Siagan. 2003. Teknik Sampling, Jakarta : PT Gramedia


Pustaka Utama

Sukmadinata, Syaodih Nana. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :


Remaja Rosdakarya.

Sylvester, B., D.D. Nelvy, dan Sudjiharno. 2002. Persyaratan Budidaya


Fitoplankton. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. (Prosiding)
Proyek Pengembangan Perekayasaan Teknologi Balai Budidaya Laut
Lampung Tahun 2002. Hal: 24-36.

Widiastuti, A. 2014. Data, Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian.


Bahan Ajar Metode Penelitian. Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
15

LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Acuan pada Observasi Partisipasi Aktif


1. Kondisi lokasi perusahaan tempat Praktik Kerja Magang dilakukan
2. Kondisi geografis perusahaan tempat Praktik Kerja Magang
3. Kelengkapan sarana dan prasarana umum yang ada di perusahaan
dalam menunjang kegiatan kultur mikroalga laut Thalassiosira sp.
4. Kondisi ruangan laboratorium yang digunakan untuk kultur
5. Kelengkapan alat yang digunakan pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp.
6. Kelengkapan bahan yang digunakan pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp.
7. Manajemen kualitas air pada seluruh proses, antara lain;
a. Sumber air yang digunakan pada seluruh prose s kultur mikrolaga
Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit, kultur, dan
pemanenan
b. Kuantitas air yang digunakan dalam pemeliharaan stok bibit
mikroalga Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit,
kultur, pemanenan hingga pemberian pada kolam budidaya Udang
Vaname
c. Metode pengukuran standart kualitas air yang dibutuhkan saat
akan memulai pemeliharaan stok bibit mikroalga Thalassiosira sp.
mulai dari pemeliharan stok bibit, kultur, dan pemanenan
16

d. Sistem pengairan yang diguanakan dalam pemeliharaan stok bibit


mikroalga Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit,
kultur hingga pemanenan
e. Pengelolaan kualitas air pada seluruh proses kultru mikroalga
Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharaan stok bibit, kultur hingga
pemanenan
8. Pemeliharaan stok bibit mikroalga laut Thalassiosira sp. untuk memenuhi
stok kultur perusahaan, meliputi:
a. Asal stok bibit yang dipakai pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp.
b. Kuantitas stok bibit yang dipakai pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp.
c. Kualitas stok bibit yang dipakai pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp.
9. Proses kultur mikroalga laut Thalassiosira sp, antara lain:
a. Metode yang digunakan dalam kultur mikroalga laut Thalassiosira
sp.
10. Proses pemanenan mikroalga laut Thalassiosira sp., antara lain:
a. Metode panen yang digunakan
b. Kuantitas mikroalga Thalassiosira sp. yang dipanen (bertahap
atau sekaligus)
11. Pemberian mikroalga laut Thalassiosira sp. pada kolam budidaya sebagai
pakan alami Udang Vaname, meliputi:
a. Volume mikroalga laut Thalassiosira sp.yang dipakai
b. Perbandingan mikroalga laut Thalassiosira sp.yang dipakai
dengan mikroalga lainnya
c. Metode pemberian mikroalga laut Thalassiosira sp.sebagai pakan
alami budidaya Udang Vaname
d. Waktu pemberian mikroalga laut Thalassiosira sp.sebagai pakan
alami budidaya Udang Vaname

Lampiran 2. Data Acuan pada Kuesioner Wawancara


1. Sejarah berdirinya unit kultur mikroalga laut dan perusahaan tempat
dilakukan Praktik Kerja Magang
2. Struktur organisasi perusahaan tempat dilakukan Praktik Kerja Magang
3. Perencanaan dalam mendirikan unit kultur mikroalga laut di perusahaan
tempat dilakukan Praktik Kerja Magang
4. Alat dan bahan yang digunakan pada kultur mikroalga laut Thalassiosira
sp. meliputi:
a. Standart kelengkapan laboratorium yang digunakan pada kultur
mikroalga laut
b. Fungsi alat-alat yang digunakan dalam kultur mikroalga laut
17

c. Alat subtitusi yang dapat digunakan pada kultur mikroalga laut


Thalassiosira sp. selain yang dipakai di PT. Central Pertiwi Bahari,
Lampung
d. Fungsi bahan yang digunakan dalam kultur mikroalga laut
e. Bahan subtitusi yang dapat digunakan pada kultur mikroalga laut
Thalassiosira sp. selain yang dipakai di PT. Central Pertiwi Bahari,
Lampung.
5. Manajemen kualitas air pada seluruh proses, antara lain;
a. Sumber air yang digunakan pada seluruh prose s kultur mikrolaga
Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit, kultur, dan
pemanenan
b. Kuantitas air yang digunakan dalam pemeliharaan stok bibit
mikroalga Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit,
kultur, dan pemanenan
c. Standart kualitas air yang dibutuhkan saat akan memulai
pemeliharaan stok bibit mikroalga Thalassiosira sp. mulai dari
pemeliharan stok bibit, kultur, dan pemanenan
d. Sistem pengairan yang diguanakan dalam pemeliharaan stok bibit
mikroalga Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharan stok bibit,
kultur
e. Pengelolaan kualitas air pada seluruh proses kultru mikroalga
Thalassiosira sp. mulai dari pemeliharaan stok bibit, kultur hingga
pemanenan
6. Pemeliharaan stok bibit mikroalga laut Thalassiosira sp. meliputi:
a. Metode pemeliharaan stok bibit mikroalga laut Thalassiosira sp.
7. Proses kultur mikroalga laut Thalassiosira sp. meliputi:
a. Fungsi tiap perlakuan pada metode yang digunakan saat kultur
mikroalga laut
b. Standart kualitas air pada kultur mikroalga laut Thalassiosira sp.
8. Pemanenan mikroalga laut Thalassiosira sp., meliputi:
a. Alasan pemberian mikroalga laut Thalassiosira sp. sebagai pakan
alami budidaya Udang Vaname di PT. Central Pertiwi Bahari
b. Alasan pengambilan kuantitas (bertahap atau sekaligus) mikroalga
laut Thalassiosira sp. yang dipanen
c. Fungsi tiap perlakuan dalam tahap pemanenan mikroalga laut
d. Alasan perbandingan mikroalga yang dipakai sebagai pakan alami
budidaya Udang Vaname
e. Alasan waktu pemberian mikroalga sebagai pakan alami budidaya
Udang Vaname
9. Pengaruh lokasi dengan unit kultur mikroalga laut di PT. Central Pertiwi
Bahari