Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2. Tujuan..........................................................................................................................1
1.3. Manfaat........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................3
2.1. Definisi........................................................................................................................3
2.2. Klasifikasi....................................................................................................................3
2.2.1. Action Tremor.......................................................................................................3
2.2.2. Resting Tremor.....................................................................................................6
2.3. Anatomi yang Berperan dalam Patofisiologi Tremor..................................................8
2.4. Diagnosis...................................................................................................................10
2.5. Tatalaksana................................................................................................................13
BAB III PENUTUP..................................................................................................................17
3.1. Kesimpulan................................................................................................................17
3.2. Saran......................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tremor adalah gerakan involunter, ritmik dan berosilasi dari anggota tubuh
tertentu dan merupakan gangguan gerakan yang paling sering ditemui pada praktek
klinis sehari-hari.13 Sampai saat ini tidak ada standar diagnostik untuk membedakan
jenis umum tremor sehingga menimbulkan tantangan dalam melakukan evaluasinya.
Menentukan penyebab tremor merupakan hal penting untuk menentukan prognosis
dan tatalaksana yang spesifik.

Langkah pertama dalam evaluasi pasien dengan tremor yakni dengan melihat
berdasarkan kondisi saat tremor muncul, distribusi topografi, dan frekuensi.
Diagnosis tremor didasarkan pada informasi klinis yang diperoleh dari riwayat
menyeluruh dan pemeriksaan fisik.Tremor dapat bersifat fisiologis dan patologis dan
sebagai klinisi, kita harus dapat membedakannya.Tremor patologis biasa terjadi pada
usia yang lebih lanjut. Jenis tremor patologis yang paling sering terjadi adalah tremor
esensial yang terjadi.Tremor juga sering dijumpai pada 70% pasien dengan penyakit
Parkinson.1,4

Tatalaksana yang perlu dilakukan pada pasien dengan tremor harus


memperhatikan aspek kehidupan sosialnya. Pendekatan individual untuk pengobatan
pasien tremor penting, dengan mempertimbangkan tingkat kecacatan, termasuk rasa
malu sehingga pasien menarik diri dari masyarakat.5

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan umum
Mengetahui tentang tremor.

1.2.2. Tujuan khusus


Mengetahui definisi, klasifikasi, anatomi yang berperan dalam patofisiologi,
diagnosis dan penatalaksanaan dari tremor.

1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi bidang akademik

1
Referat ini berguna untuk menambah informasi mengenai tremor.
1.3.2. Bagi masyarakat
Referat ini berguna untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai
tremor.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Tremor adalah gerakan otot involunter yang bersifat ritmik dan berosilasi. Tremor
dapat dievaluasi dengan cara melihat sifat ritmik, amplitudo, frekuensi dan hubungannya
dengan gerakan, postural dan relaksasi. Tremor harus dapat dibandingkan dengan
fasikulasi, ataksia sensoris,mioklonus, asterixis, epilepsi parsial, klonus dan menggigil.1,2

2.2. Klasifikasi
Tremor dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yakni tremor fisiologis dan
patologis.2 Tremor yang bersifat fisiologis memiliki frekuensi antara 8 sampai dengan 13
Hz, dengan nilai rerata pada usia dewasa yakni 10 Hz dan lebih kecil pada anak-anak
maupun usia lanjut. Selain itu tremor dapat juga dibagi menjadi action tremor dan
resting tremor.1,2 Diagram klasifikasi tremor ditunjukkan pada gambar 2.1. dibawah ini.

Gambar 2.1. Klasifikasi Tremor


(Sumber : Ropper AH. Adams and Victors principles of neurology. 10th ed. New York:
McGraw-Hill Education Medical; 2014. 1654 p.)

2.2.1. Action Tremor


Definisi jenis tremor ini adalah tremor yang muncul saat ekstremitas
baik atas maupun bawah sedang dalam keadaan aktif diposisikan dalam
kondisi tertentu dan dapat bertahan selama pergerakan aktif dilakukan. Jenis
tremor ini akan menghilang saat otot dalam keadaan relaksasi, namun dapat
dilihat secara nyata saat gerakan aktif dilakukan atau dengan kata lain saat otot
dalam keadaan kontraksi.1,2 Beberapa jenis tremor dikelompokkan dalam
action tremor.1

3
1. Postural
Tremor ini muncul saat tubuh berusaha mempertahankan postur tubuh
untuk melawan gaya gravitasi. Jenis tremor ini meliputi essential,
physiologic, cerebellar, dystonic dan drug-induced tremors.

2. Intention
Jenis ini didefinisikan sebagai tremor yang muncul ketika melakukan
target-directed movement.
Gambar 2.2. Tipe Tremor

(Sumber : Ropper AH. Adams and Victors principles of neurology. 10th ed. New York:
McGraw-Hill Education Medical; 2014. 1654 p.)

Penjelasan mengenai masing-masing jenis tremor akan diuraikan berikut ini :


a. Tremor Esensial (Essential Tremor)
Tremor jenis ini merupakan yang paling sering dijumpai dan memiliki
frekuensi yang rendah yakni dari 4 sampai 8 Hz. Kelainan neurologis lain
tidak dapat ditemukan dan tidak berhubungan sehingga tremor ini disebut
esensial. Tremor ini diperberat dengan emosi, olahraga dan kelelahan.

Etiologi dari tremor ini adalah kelainan genetik yang diturunkan secara
autosomal dominan dan dijumpai pada 0,4 6% populasi. Onset tremor
esensial yakni pada dekade kedua akhir, namun dapat ditemukan sejak usia
anak-anak dan bersifat persisten. Tidak ada perbedaan pada rasio jenis
kelamin pasien dengan tremor esensial.

4
Tremor esensial paling sering dijumpai pada tangan saat pasien
berusaha mempertahankan posisinya melawan gravitasi. Akan tetapi,
tempat predileksi lain seperti kepala, ekstremitas bawah, rahang, bibir, lidah
dan laring sehingga tremor suara juga dapat dijumpai. Sifat tremor ini
biasanya bilateral (namun dapat muncul pertama pada tangan yang dominan
terlebih dahulu) dan dialami selama pasien melakukan kegiatan sehari-hari
sehingga dapat mengganggu karena alasan sosial seperti rasa malu. 25%
pasien dengan tremor esensial mengajukan pensiun yang lebih awal
maupun merubah pekerjaannya.Cara mendiagnosa tremor esensial yakni
hanya dengan mengeksklusi kelainan neurologis di luar tremor.

b. Enhanced Physiologic Tremor


Frekuensi tremor jenis ini sama dengan tremor fisiologis, namun
memiliki amplitudo yang lebih besar. Pada orang normal pun tremor ini
dapat dimunculkan dengan provokasi tertentu. Enhanced physiologic
tremor dapat dilihat dengan memegang lengan terentang dengan jari
terbuka lebar, saat dicetuskan dengan rasa takut atau cemas, gangguan
metabolik (hipertiroid, hiperkortisol, hipoglikemia), pheochromocytoma,
olahraga yang berat, withdrawal alkohol, obat-obatan sedatif serta efek
toksik dari obat lain (lithium, kokain, metilfenidat, xanthin, kortikosteroid,
obat stimulan lainnya).

c. Cerebellar Tremor
Disebut juga dengan ataxic/ intention/ goal directed action tremor.
Tremor ini tidak dapat dijumpai saat ekstremitas atas maupun bawah dalam
keadaan inaktif. Akan tetapi, pada saat pasien melakukan gerakan seperti
menyentuh hidung kemudian ke telunjuk pemeriksa, tremor ini akan
muncul. Frekuensi tremor ini berkisar antara 2 sampai dengan 4 Hz.
Gerakan tremor yang dijumpai yakni bersifat ireguler, osilasi ke samping
dan dapat bertahan beberapa saat setelah target telah dicapai. Osilasi pada
cerebellar tremor bersifat horizontal, berbeda dengan tremor esensial
maupun parkinsonism.
Sesuai seperti namanya, tipe tremor ini menunjukkan adanya kelainan
pada serebelum maupun saraf perifer. Contoh penyebab kelainan tersebut
yakni multiple sclerosis dengan plak pada serebelum, stroke atau tumor

5
batang otak. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan dysmetria, dissinergia
dan hipotonia.1,5

2.2.2. Resting Tremor


Didefinisikan sebagai tremor yang muncul saat anggota tubuh dalam keadaan
relaksasi dan sepenuhnya disokong melawan gravitasi. Penyebab tersering
adalah Parkinsonism, namun dapat muncul pada severe essential tremor.

a. Parkinsonism
Parkinsonism adalah kumpulan gejala klinis yang dikarakterisasi
dengan tremor, bradikinesia, rigiditas dan instabilitas postural.Sifat tremor
ini adalah tremor yang kasar dan bersifat ritmik dengan frekuensi sekitar 3
sampai dengan 5 Hz, asimetris dan menghilang dengan gerakan volunter.
Etiologi parkinsonism yakni meliputi infark batang otak, multiple system
atrophy dan obat-obatan yang menghambat atau menurunkan kadar
dopamin seperti metildopa, metoklopramide, haloperidol dan risperidon.
Penyakit yang paling sering menjadi penyebab parkinsonism tentunya
adalah penyakit Parkinson (70%) yang merupakan penyakit
neurodegeneratif.1,2

Tempat predileksi yang paling sering yakni pada satu atau kedua
tangan dan lengan bawah. Lokasi lain seperti kaki, rahang, bibir atau lidah
lebih jarang dijumpai. Tremor ini muncul ketika anggota tubuh dalam
posisi relaksasi dan akan menghilang atau diperingan pada gerakan
volunter. 1,2

Meskipun disebut tremor istirahat, menjaga lengan dengan sikap


istirahat memerlukan sedikit kontraksi otot. Jika tangan yang sedang
mengalami tremor dalam keadaan relaksasi dan kemudian pergelangan
tangan dan siku disokong, biasanya tremor akan menghilang. Akan tetapi
keadaan ini jarang dialami oleh pasien. Pada saat pasien dalam kondisi
istirahat penuh seperti tidur, tremor akan menghilang.
b. Rubral
Tremor jenis ini mirip dengan cerebellar tremor, perbedaannya
terdapat pada amplitudo. Pada jenis ini, tremor tetap dapat dijumpai pada
semua gerakan bahkan pada saat mengangkat tangan sedikit atau

6
mempertahankan postur dengan merentangkan tangan ke samping (wing
beating movement).. Frekuensi tremor ini berkisar antara 2 sampai dengan
5 Hz.

Pada awalnya, nama Rubral Tremor didapat dari hipotesa bahwa lesi
yang terjadi pada lokasi di nukleus rubra. Namun hal ini terbukti salah
pada penelitian dengan monyet yang menunjukkan bahwa lesi terdapat
pada serat dentatothalamic yang melewati nukleus rubra. Tipe tremor ini
sering dijumpai pada pasien dengan multiple sclerosis dan Wilson disease.
Pada penyakit vaskular dan lesi tegmentum pada midbrain dan
subthalamus. Obat-obatan juga dapat menginduksi tremor ini seperti obat
antipsikotik.

Selain jenis tremor yang telah disebutkan di atas, terdapat jenis tremor lain yang dapat
ditemukan yakni salah satunya tremor psikogenik. Sifat tremor psikogenik yakni onset yang
mendadak, remisi spontan, perubahan karakteristik tremor yang muncul, serta hilang jika
pasien didistraksi. Tremor psikogenik biasa berhubungan dengan kejadian yang
mengakibatkan stress. Karakteristik lain pada tremor psikogenik yang dapat ditemukan
adalah sebagai berikut :
Onset mendadak
Tidak adanya tanda-tanda neurologis lainnya
Perubahan karakteristik tremor
Inkonsistensi klinis
Litigasi atau kompensasi yang tertunda
Somatisasi lain
Beberapa kondisi yang tidak terdiagnosis
Tidak ada bukti penyakit dengan pemeriksaan laboratorium atau radiologis
Adanya penyakit kejiwaan
Gangguan fungsional dilaporkan di masa lalu
Responsif dengan plasebo
Remisi spontan
Tremor meningkat dengan perhatian, dan berkurang jika ada distraksi
Tremor yang tidak dapat diklasifikasi (tremor kompleks)
Tidak responsif terhadap obat antitremor

Jenis tremor yang paling jarang ditemukan, yakni hanya pada 0,03% populasi adalah
tremor distonik.Ini biasanya terjadi pada pasien yang lebih muda dari 50 tahun. Tremor
biasanya tidak teratur dan jerky. Jika tangan atau lengan diposisikan dalam posisi

7
tertentu, tremor akan menghilang. Tanda-tanda lain dari distonia (misalnya, fleksi
abnormal dari pergelangan tangan) biasanya didapatkan pada pemeriksaan fisik.1,2

Tremor jenis ortostatik juga jarang ditemukan. Tremor ini terjadi pada orang paruh
baya atau tua yang ditandai dengan ketidakstabilansaat berdiri dan memiliki tempat
predileksi pada ekstremitas bawah. Karakteristik tremor ini yakni muncul saat berjalan
namun menghilang ketika duduk atau dalam posisi berbaring.3

2.3. Anatomi yang Berperan dalam Patofisiologi Tremor

Bagian sistem saraf yang berperan dalam terjadinya tremor salah satunya yakni
ganglia basalis. Ganglia basalis adalah bagian dari sistem motorik. Struktur ini memiliki
fungsi inisiasi dan modulasi pergerakan pada kontrol tonus otot. Nuklei utama ganglia
basalis adalah nukleus kaudatus, putamen dan globus palidus Nuklei tersebut
berhubungan satu sama lain dan dengan korteks serebri bagian motorik. Peran nuklei
tersebut yakni memberikan efek inhibitorik dan eksitatorik pada korteks motorik.6

Lesi pada ganglia basalis dan pada nuklei lain yang memiliki fungsi yang berkaitan,
seperti substansia nigra dan nukleus subthalamikus dapat menimbulkan impuls yang
berkaitan dengan pergerakan yang kurang atau berlebih dan/atau perubahan patologis
pada otot. Gangguan yang biasa terjadi pada ganglia basalis dan menimbulkan tremor
yakni pada penyakit Parkinson.2,6

Penyakit Parkinson disebabkan oleh gangguan neurotransmisi dopaminergik dalam


ganglia basalis. Pada pemeriksaan patologis, neuron dopaminergik di substantia nigra
nyata berkurang, dan Lewy bodies (inklusi sitoplasma) yang ditemukan dalam sisa
neuron dopaminergik. Lebih dari 10 autosomal gen atau lokus gen dominan dan resesif
telah dikaitkan dengan penyakit Parkinson, tetapi mutasi pada gen tunggal jarang
menjadi penyebab.4

8
Gambar 2.3. Anatomi Ganglia Basalis
(Sumber : Bahr M, Frotscher M, Duus P. Duus topical diagnosis in neurology: anatomy,
physiology, signs, symptoms. Stuttgart; New York: Thieme; 2005.)

Struktur lain yang juga berperan dalam terjadinya tremor, khususnya intention tremor
yakni serebelum. Serebelum adalah organ sentral untuk kontrol motorik halus. Struktur ini
memproses informasi dari berbagai jaras sensorik (terutama vestibular dan propioseptif),
bersama dengan impuls motorik dan memodulasi aktivitas area nuklear motorik di otak dan
medula spinalis.
Secara anatomis, serebelum tersusun dari dua hemisfer dan vermis yang terletak di
antaranya. Secara fungsional, serebelum terbagi menjadi tiga komponen yakni
vestibuloserebelum, spinoserebelum dan serebroserebelum.Vestibuloserebelum menerima
impuls dari organ vestibularis dan fungsinya adalah untuk mengatur keseimbangan.
Spinoserebelum terutama mengolah impuls propioseptif dari traktus spinoserebelaris dan
mengontrol postur serta gaya berjalan. Serebroserebelum memiliki hubungan fungsional yang
dekat dengan korteks motorik telensefalon dan berperan untuk kehalusan dan ketepatan
seluruh gerakan terkontrol halus. Lesi serebelum akan memiliki manifestasi klinis berupa
gangguan pergerakan dan keseimbangan.

2.4. Diagnosis

Diagnosis tremor didasarkan pada informasi klinis yang diperoleh dari riwayat
menyeluruh dan pemeriksaan fisik. Langkah pertama dalam evaluasi pasien dengan tremor
yakni dengan melihat berdasarkan kondisi saat tremor muncul, distribusi topografi, dan

9
frekuensi. Kondisi saat tremor muncul yakni sesuai dengan klasifikasinya yakni pada saat
istirahat,beraktivitas, intensional atau postural. Pemeriksa dapat memiliki pasien duduk
dengan tangan di pangkuan mereka untuk memeriksa tremor saat istirahat. Sebuah tes
berurutan untuk tremor postural dan kinetik dapat dilakukan dengan meminta pasien
meregangkan lengan dan tangan, diikuti dengan gerakan telunjuk hidung. Tremor yang
muncul saat istirahat menunjukkan arah diagnosis dengan parkinsonisme. Sedangkan tremor
intensional menunjukkan adanya lesi pada serebelum.1

Distribusi topografi tremor (misalnya, anggota badan, kepala, suara) dapat juga
memberikan informasi yang bermanfaat. Misalnya, tremor frekuensi tinggi yang melibatkan
kepala jauh lebih mungkin untuk menjadi tremor esensial daripada tremor
parkinsonisme.Pasien dengan tiba-tiba mengalami tremor harus dievaluasi untuk menentukan
apakah tremor ini disebabkan oleh obat-obatan, racun, tumor otak, atau penyebab
psikogenik.1

Kebanyakan tremor bersifat simetris, tetapi tumor otak dapat menyebabkan tremor untuk
lateralisasi ke satu sisi. Kafein dan kelelahan sering memperburuk faktor tremor esensial,
sedangkan faktor yang memperingan sulit untuk menemukan. Pencarian harus dilakukan
untuk penyakit yang berhubungan (misalnya, gangguan tidur karena otot-otot lelah dapat
memperkuat tremor fisiologis, polineuropati karena kurangnya inervasi dapat menyebabkan
gerakan involunter kecil yang ditafsirkan sebagai tremor).1

Riwayat keluarga dengan penyakit neurologis atau tremor menunjukkan komponen


genetik, seperti yang sering terlihat di tremor esensial. Riwayat pengobatan menyeluruh harus
diperoleh untuk menyingkirkan tremor akibat obat. Pasien juga harus diskrining untuk
penyalahgunaan obat dan konsumsi alkohol karena terlalu sering menggunakan alkohol dan
withdrawal dapat menyebabkan tremor.1,2

10
Gambar 2.4. Algoritma Diagnosis Tremor
(Sumber : Crawford P, Zimmerman EE. Differentiation and Diagnosis of Tremor. Am Fam
Physician. 2011;83(6):697702.)

Penilaian tremor juga termasuk pemeriksaan untuk tanda-tanda yang berhubungan


dengan sindrom tremor. Bradikinesia dan kelainan postural sangat menyarankan
parkinsonisme. Kesulitan berdiri dari posisi duduk, micrographia, berkurangnya ayunan
lengan saat berjalan, dan masked facies juga menunjukkan adanya bradikinesia. Kelainan
postural dapat ditunjukkan dengan pull test positif, yaitu saat pasien berdiri dalam posisi
netral dan pemeriksa menyebabkan dia jatuh dengan menarik lengan atas dari belakang. Hasil
tes ini mengarahkan diagnosis ke arah multiple sclerosis atau stroke.1

Pemeriksa juga harus mencari dystonia (yaitu, kontraksi otot berkelanjutan), tanda-
tanda serebelar (misalnya, ataksia, koordinasi buruk), tanda-tanda piramidal, tanda-tanda
neuropati, dan tanda-tanda penyakit sistemik (misalnya, tirotoksikosis).1

11
Gambar 2.5. Algoritma Diagnosis Tremor Organik
(Sumber : Crawford P, Zimmerman EE. Differentiation and Diagnosis of Tremor. Am Fam
Physician. 2011;83(6):697702.)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tremor juga dapat disebabkan oleh
penggunaan obat-obatan. Obat-obatan atau substansi kimia yang dapat mencetuskan tremor
yakni sebagai berikut :

Tabel 2.1. Daftar Obat-obatan dan Substansi Kimia yang dapat Menimbulkan
Tremor(1)
Amiodaron Amfetamin Metoklopramid
Atorvastatin (Lipitor) Agonis beta adrenergik Metifenidat
Kafein Karbamazepin Pseudoefedrin
Kortikosteroid Siklosporin Terbutalin
Epinefrin Fluoxetine Teofilin
Haloperidol Obat hipoglikemi Hormon tiroid
Antidepressan trisiklik Asam Valproat Verapamil

Berbagai modalitas pencitraan telah dipelajari untuk membantu membedakan penyebab


tremor. Saat ini, diagnosis tremor masih terutama klinis, tetapi untuk kasus-kasus yang sangat

12
sulit, Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT) dapat digunakan untuk
memvisualisasikan integritas jalur dopaminergik di otak mungkin berguna untuk
mendiagnosa penyakit Parkinson. Computed Tomography dan Magnetic Resonance Imaging
adalah pilihan yang baik untuk menyingkirkan penyebab tremor sekunder (misalnya, multiple
sclerosis, stroke) ketika diagnosis tremor tidak jelas dari anamnesa dan pemeriksaan fisik.1

2.5. Tatalaksana
Tatalaksana tremor tentunya disesuaikan dengan etiologi dan klasifikasi
tremor itu sendiri. Untuk tremor esensial, tatalaksana yang dapat diberikan yakni
tergantung dari derajat keparahannya itu sendiri. Apabila derajat keparahan masih
ringan dan tidak terdapat disabilitas, maka pasien tidak perlu diberikan pengobatan.
Bila derajat keparahan adalah sedang sampai berat maka perlu dipertimbangkan
penggunaan medikamentosa.7

Gambar 2.6. Alur Tatalaksana Tremor Esensial


(Sumber : Rajput AH, Rajput A. Medical Treatment of Essential Tremor. J Cent Nerv Syst
Dis. 2014 Apr 21;6:2939)

Terapi medikamentosa yang dapat diberikan pada pasien dengan tremor


esensial yakni meliputi antikonvulsan, antagonis reseptor -adrenergik, golongan
Benzodiazepin, penghambat kanal ion Kalsium, agen neuroleptik atipikal serta toksin
Botulinum.2,7 Dosis dari masing-masing medikamentosa tersebut ditampilkan pada
gambar 2.6. berikut ini.

13
Gambar 2.7. Dosis Obat-obatan pada Tremor Esensial
(Sumber : Rajput AH, Rajput A. Medical Treatment of Essential Tremor. J Cent Nerv Syst
Dis. 2014 Apr 21;6:2939)

Beberapa literatur menyebutkan bahwa tremor esensial dapat diringankan dengan


pemberian alkohol dalam jumlah sedikit. Akan tetapi, setelah efek dari alkohol menghilang
maka tremor akan muncul kembali. Hal ini yang mengakibatkan perdebatan penggunaan
alkohol pada tremor esensial.2,7,8

14
Tatalaksana tremor yang juga akan dibahas yakni untuk tremor pada penyakit Parkinson.
Diagnosis penyakit Parkinson belum tentu menentukan terapi dengan obat-obatan. Terapi
medikamentosa dilakukan ketika pasien cukup terganggu atau ketika penyakit ini
memproduksi kecacatan. Preferensi pasien sangat penting untuk membuat keputusan ini. 8
Pilihan pengobatan yang tersedia meliputi agen dopaminergik, antikolinergik, bloker,
Amantadine, and selective monoamine oxidase B (MAO-B) inhibitors. 2,5,8
Levodopa dan agonis dopamin mengurangi gejala parkinsonian termasuk tremor pada
beberapa pasien, tetapi sering kontrol tremor tidak memuaskan. Meskipun sering dibahas,
tidak ada data yang meyakinkan yang menunjukkan bahwa agonis dopamin memiliki
efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan levodopa.5,8 Sebuah literatur menunjukkan bahwa
agen dopaminergik lebih kuat dari agen antikolinergik, amantadine, dan inhibitor MAO-B. 8
Dosis medikamentosa yang dapat digunakan pada tremor jenis Parkinson ditampilkan pada
gambar 2.8.

15
Gambar 2.8. Terapi Medikamentosa untuk Tremor Parkinsonism
(Sumber : Nutt JG, Wooten GF. Diagnosis and Initial Management of Parkinsons Disease.
New England Journal of Medicine. 2005 Sep 8;353(10):10217.)

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tremor adalah gerakan involunter, ritmik dan berosilasi dari anggota tubuh
tertentu dan merupakan gangguan gerakan yang paling sering ditemui pada praktek
klinis sehari-hari. Cara mendiagnosis tremor yakni berdasarkan klasifikasinya yaitu
tremor yang muncul saat istirahat atau saat pergerakan aktif. Anamnesa yang
dilakukan dapat mengarahkan diagnosis tremor. Anatomi yang berperan dalam
terjadinya tremor yakni ganglia basalis atau serebelum.
Tatalaksana yang diberikan pada pasien dengan tremor yakni sesuai etiologi
dan derajat keparahan dari tremor itu sendiri. Preferensi dari masing-masing pasien
untuk mendapatkan terapi medikamentosa dapat berbeda-beda. Apabila derajat
keparahan tremor masih ringan, pasien masih mungkin tidak memerlukan
pengobatan. Pada pasien dengan derajat keparahan tingkat berat, maka dapat
menimbulkan disabilitas fungsional dan sosial di masyarakat.

3.2. Saran
Karena tremor merupakan gangguan pergerakan yang sering ditemui dalam
praktek sehari-hari, maka klinisi diharapkan mempelajari jenis-jenis tremor yang ada.
Anamnesa yang tajam dapat membantu banyak dalam mendiagnosis tremor sehingga
pengambilan keputusan tatalaksana pun dapat ditentukan secara tepat. Pasien dengan
tremor memiliki derajat keparahan yang beragam sehingga klinisi juga perlu
memperhatikan disabilitas sosial pasien tersebut di masyarakat, tidak hanya
mengobati gejala yang ada.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Crawford P, Zimmerman EE. Differentiation and Diagnosis of Tremor. Am Fam


Physician. 2011;83(6):697702.

2. Ropper AH. Adams and Victors principles of neurology. 10th ed. New York: McGraw-
Hill Education Medical; 2014. 1654 p.

3. Bhidayasiri R. Differential diagnosis of common tremor syndromes. Postgrad Med J.


2005 Dec;81(962):75662.

4. Baumann CR. Epidemiology, diagnosis and differential diagnosis in Parkinsons disease


tremor. Parkinsonism Relat Disord. 2012;18:S902.

5. Puschmann A, Wszolek ZK. Diagnosis and Treatment of Common Forms of Tremor.


Semin Neurol. 2011 Feb;31(1):6577.

6. Bahr M, Frotscher M, Duus P. Duus topical diagnosis in neurology: anatomy,


physiology, signs, symptoms. Stuttgart; New York: Thieme; 2005.

7. Rajput AH, Rajput A. Medical Treatment of Essential Tremor. J Cent Nerv Syst Dis. 2014
Apr 21;6:2939.

8. Nutt JG, Wooten GF. Diagnosis and Initial Management of Parkinsons Disease. N Engl J
Med. 2005 Sep 8;353(10):10217.

18