Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam


hirarki Maslow dijelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia menyangkut
didalamnya pemenuhan kebutuhan fisik. Perlindungan fisik salah satunya
berupa ancaman tubuh atau hidup yang dapat berupa penyakit. Seseorang
yang mengalami sakit akan berupaya untuk mencari pelayanan kesehatan
agar dirinya dapat kembali pada keadaan sehat. Pelayanan kesehatan
diantaranya rumah sakit, puskesmas dan tempat-tempat praktik kesehatan
lainnya. Berbagai macam pelayanan ditawarkan kepada pasien yang ingin
meningkatkan kesehatannya. Salah satunya adalah pelayanan home care
atau perawatan kesehatan di rumah.
Home care atau perawatan kesehatan di rumah merupakan pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka. Tujuan dari pelayanan home care adalah untuk meningkatkan,
mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat
kemandirian dan meminimalkan komplikasi akibat dari penyakit serta
memenuhi kebutuhan dasar pasien dan keluarga. Lingkungan di rumah
dirasa lebih nyaman bagi sebagian pasien dibandingkan dengan perawatan
di rumah sakit. Hal ini berpengaruh pada proses penyembuhan pasien yang
cenderung akan lebih cepat masa penyembuhannya jika mereka merasa
nyaman dan bahagia. Selain alasan diatas, home care juga membantu
masyarakat yang mengalami keterbatasan membiayai pelayanan kesehatan
khususnya pada kasus kasus penyakit degeneratif yang memerlukan
perawatan yang relatif lama.
Pada tahun 1970, layanan home care berbasis rumah sakit
dikembangkan sebagai tanggapan terhadap kebutuhan untuk kesinambungan
perawatan dari pengaturan perawatan akut dan juga dalam menanggapi
tingginya biaya pelembagaan (Stanhope,1996). Home care berbasis rumah
sakit berbeda dari lembaga kesehatan rumah lainnya, ada dewan direksi
rumah sakit yang sudah mapan yang bertanggung jawab untuk mengatur
lembaga tersebut. Apalagi, klien pada home care berbasis rumah sakit
memiliki akses pada pelayanan rawat inap yang ada (Stanhope,1996). Home
care memang bukan menjadi aktivitas utama rumah sakit, ini berbeda
dengan agensi atau instansi yang memang bisnis utamanya mengelola home
care. Prinsip pelayanan home care tidak jauh berbeda dengan pelayanan
yang dberikan di rumah sakit yaitu harus berfokus pada kebutuhan pasien.
Perkembangan home care di Indonesia sudah semakin maju
sehingga banyak masyarakat yang mengetahui home care dan mencoba
menggunakan jasa pelayanan home care yang disediakan oleh rumah sakit
baik pemerintah maupun swasta. Saat ini banyak kasus kasus penyakit
degenerative yang memerlukan perawatan yang relative lama seperti kasus
pasien pascastroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan
memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama
(Swedarma, 2009). Selain itu, terjadinya transisi epidemiologis yang
mengakibatkan semakin meningkatknya kasus penyakit kronis
dibandingkan penyakit akut, sehingga terjadi peningkatan jumlah kasus
penyakit terminal yang tidak efektif dan efisien dirawat di rumah sakit
(Depkes, 2002 dalam Sri Listyanig wulan 2006). Dengan demikian
pelayanan kesehatan saat ini menawarkan pelayanan home care untuk
menangani kasus seperti diatas.
Berkembangnya home care dikalangan masyarakat menjadi lebih
baik jika diimbangi dengan kualitas pelayanannya. Pelayanan asuhan
keperawatan salah satunya adalah pemberian pendidikan pada pasien dan
keluarga. Dari penelitian terdahulu, 37% pasien bermasalah mengenai
pemilihan obat, 20% pasien membutuhkan pengetahuan dan keterampilan.
Suatu penelitian dilakukan oleh Julie B.Mallinger, Jennifer J.Griggs, dan
Cleveland G.Shields (2005) mengenai hubungan antara patient-centeres
care dan kepuasan dengan informasi pada wanita yang sembuh dari kanker
payudara. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa mereka yang
sembuh dari kanker payudara merasa puas dengan informasi yang diberikan
petugas kesehatan mengenai penyakit dan pengobatan penyakitnya tersebut.
Namun mereka merasa kurang puas dengan minimnya informasi mengenai
pemeriksaan jangka panjang, pengaruh penyakit terhadap psikososial
pasien, dan kehidupan sosial pasien.
Hal ini menjelaskan bahwa pasien dan keluarga membutuhkan
pendidikan mengenai pemilihan obat dan pengetahuan mengenai terapi obat
tersebut. Ini merupakan salah satu contoh kasus bahwa perawat dan tenaga
kesehatan lainnya bertanggung jawab memberikan pendidikan terhadap
pasien dan keluarga agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat
guna meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Pendidikan terjadi
ketika pasien berinteraksi dengan dokter dan/ atau perawatnya. Banyak staf
kesehatan yang berbeda dalam mendidik pasien dan/ atau keluarga maka
penting bagi staf kesehatan untuk mengkoordinasikan kegiatan tersebut
sehingga pendidikan yang diberikan fokus terhadap kebutuhan pasien
(American University of Beirut, 2013).
Hal hal tersebut diatas merupakan segelintir alasan Komite Joint
Commission International (JCI) mengeluarkan standar akreditasi khusus
home care. Standar penilaian akreditasi ini merupakan standar penilaian
penerapan home care berfokus pada pasien. Penilaian tersebut meliputi
keselamatan pasien, akses dan asesmen pasien, hak dan tanggung jawab
pasien, perawatan psasien dan kontinuitas pelayanan, manajemen obat
pasien, serta pendidikan pasien dan keluarga.
Perawat yang memiliki peran advokasi bertanggung jawab dalam
mempertahankan keamanan pasien, mencegah terjadinya kecelakaan dan
melindungi pasien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan. Penerapan
pendidikan bagi pasien dan keluarga perawat dapat memberikan informasi
tambahan untuk pasien yang sedang berusaha memutuskan suatu masalah,
memberikan pendidikan kesehatan yang menunjang kesehatan pasien. Hal
hal tersebut diatas dapat ditunjang dengan pengetahuan perawat terkait
penerapan dan pelaksanaan pendidikan pada pasien dak keluarga di unit
pelayanan home care.
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui; kepandaian
(kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003). Pengetahuan merupakan hasil
penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui
indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan
sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan
tersebut sangat dipengeruhi oleh intensitas perhatian melalui indera
pendengaran dan indera penglihatan (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang. Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang
terhadap stimulus berdasarkan pengetahuan dan sikap seseorang. Perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.
Tak hanya dari segi pengetahuan perawat, pelayanan home care juga
ditentukan oleh manajemen yang digunakan oleh unit pelayanan tersebut.
Fasilitas, keuangan, sumber daya, standar minimal, dan lain sebagainya
mempengaruhi jalannya pelayanan home care yang diberikan kepada klien.

BAB II
KEGIATAN BELAJAR

A. TUJUAN UTAMA

1. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar home care.


B. TUJUAN KHUSUS

1. Menyebutkan bentuk-bentuk home care


2. Menyebutkan aspek legal home care
3. Menjelaskan manajemen home care
4. Menjelaskan home care di berbagai negara

C. POKOK-POKOK MATERI

1. Bentuk layanan home care


2. Aspek legal home care
3. Manajemen home care
4. Home care diberbagai Negara

D. URAIAN MATERI

1. Bentuk layanan home care


2. Aspek legal home care
3. Manajemen home care
4. Home care diberbagai Negara

BAB III
RANGKUMAN

Home care atau perawatan kesehatan di rumah merupakan pelayanan


kesehatan yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka. Tujuan dari pelayanan home care adalah untuk meningkatkan,
mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat
kemandirian dan meminimalkan komplikasi akibat dari penyakit serta
memenuhi kebutuhan dasar pasien dan keluarga. Lingkungan di rumah
dirasa lebih nyaman bagi sebagian pasien dibandingkan dengan perawatan
di rumah sakit. Hal ini berpengaruh pada proses penyembuhan pasien yang
cenderung akan lebih cepat masa penyembuhannya jika mereka merasa
nyaman dan bahagia (Yoyok, 2012). Selain alasan diatas, home care juga
membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan membiayai pelayanan
kesehatan khususnya pada kasus kasus penyakit degeneratif yang
memerlukan perawatan yang relatif lama.

Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan


perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan
keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan
keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan
tanggung jawabnya.

Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah


dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah
sakit, maupun puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung
menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek
keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang
harus di lakukan adalah sebagai berikut:

Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa
terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak
untuk di rawat di rumah atau tidak.

Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak


dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang
merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah,
kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya,
dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan
mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga
mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran,
serta jangka waktu pelayanan. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan
dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana
pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola
perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh
koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana
pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus. Secara periodic
koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
pelayanan yang diberikan apakah

Pengelola adalah agensi atau unit yang bertanggung jawab terhadap


pelayanan kesehatan di rumah yang bisa merupakan bagian yan dari
Puskesmas, Rumah Sakit, klinik atau mandiri.

Pelaksana terdiri dari tenaga keperawatan dan tenaga profesional lain


dan non profesional yang terdiri koordinator kasus dan pelaksana pelayanan.
Klien adalah penerima pelayanan kesehatan dan keluarg yg bertanggung
jawab atau care giver yang disuruh memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien.
Koordinator kasus adalah seorang perawat dengan kriteria tertentu baik
yang masih aktif maupun yang sudah memasuki masa pensiun. Mereka bisa
berasal dari Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Petugas Kesehatan Swasta
dan lain-lain. Seorang Koordinator Kasus dapat mengkoordinir 10-20 orang
pelaksana perawatan yang bekerja baik secara suka rela maupun yang
menerima imbalan dari Lembaga Swadaya Masyarakat atau masyarakat.

Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri


berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat
mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah
tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah
petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat
yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan
kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan
medis. Issue legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di
rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:

Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan


teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah
melalui IV di rumah. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien
seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh
anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat. Pelaksanaan
peraturan medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di
rumah.

Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di


rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan
apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang
tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari medicare telah habis masa
berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus
tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat
akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati
peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien
yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan
tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang

TES FORMATIF

1. Pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan


kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk
meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau
memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit
merupakan pengertian home care menurut................
a. Depkes, 2002
b. Neis dan Mc Ewen, 2001
c. Warola, 1980
d. American of Nurses Association (ANA), 1992
e. Stanhope,1996

2. Yang bukan termasuk ke dalam kewajiban pengelola home care adalah........

a. Menjamin pelayanan profesional dan bermutu.


b. Mematuhi kontrak .
c. Memberikan perlakuan yang baik kepada pelaksana dan klien.
d. Meningkatkan pengetahuan pelaksana pelayanan.
e. Mampu memimpin bekerjasama dalam tim. Mampu memberikan
pelayanan sesuai etika.
3. Beriku merupakan hak bagi pelaksana pelayanan home care, kecuali.............

a. Mengetahui hak & kewajiban sec tertulis


b. Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan home care.
c. Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
d. Berhak mendapat perlakuan sesuai norm yang ada
e. Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job
diskripsion

4. Yang bukan merupakan kewajiban klien adalah.........................

a. Mentaati rencana yang telah dibuat .


b. Membayar jasa pelayanan.
c. Ikut berpartisipasi dalam rencana dan pelaksanaan pelayanan.
d. Bekerjasama dengan pelaksana .
e. Menghargai hak pelaksana .
5. Yang merupakan undang undang memuat home care adalah..............
a. UU No. 32 tahun 2001 tentang pemerintahan daerah.
b. UU No. 32 tahun 2002 tentang pemerintahan daerah.
c. UU No. 32 tahun 2003 tentang pemerintahan daerah.
d. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
e. UU No. 32 tahun 2005 tentang pemerintahan daerah.

6. Yang merupakan larangan dalam pelaksanaan home care adalah....................


a. Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin
dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
b. Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau
menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan
lain, dikecualikan dari larangan ini
c. Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan
atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran
d. Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak
diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
e. Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus
mencantumkan SIPP di ruang praktiknya

7. Teori keperawatan yang memfokuskan budaya klien dalam perawatan adalah....

a. Transkultural nursing (Leininger)


b. Teori Self Care ( Dorothea Orem )
c. Teori Lingkungan (Florence Nihgtingale)
d. Human Caring (Watson)
e. Manusia Sebagai Unit (Rogers)

8. Yang merupakan undang undang memuat home care adalah..............


a. Kepmenkes No. 121 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
b. Kepmenkes No. 126 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
c. Kepmenkes No. 127 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
d. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
e. Kepmenkes No. 129 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.

9. Berbagai bentuk pelayanan home care yang dapat dilakukan di rumah, kecuali :
a. TTV
b. NGT
c. Operasi
d. Pendidikan kesehatan
e. Injeksi IV

10. Home care bisa dilakukan di....


a. Rumah
b. RS
c. Jalan raya
d. Sekolah
e. Kamar mandi

TES SUMATIF

1. Organization of Home Care Solutions and Service merupakan organisasi home


care di ...................
a. Canada
b. Eropa
c. Amerika
d. Inggris
e. Korea

2. Ministry of Health and Long-Term Care (MOHLTC) merupakan nama


dapartemen kesehatan negara................
a. Canada
b. Eropa
c. Amerika
d. Inggris
e. Korea
3. Memastikan waktu dalam pengaturan perawatan akut dan mempercepat
pemulihan perawatan di rumah adalah pengertian dari......
a. Pengurangan perawatan alternatif
b. Mencegah kegawatdaruratan
c. Perawatan paliatif
d. Pengobatan anak
e. Manajemen penyakit kronis
4. Dengan memberikan dukungan proaktif untuk mencegah krisis kesehatan yang
terkait dan penerimaan rumah sakit, dan membuka layanan 24 jam untuk
menaggapi kebutuhan yang muncul di masyarakat adalah pengertian dari......
a. Pengurangan perawatan alternatif
b. Mencegah kegawatdaruratan
c. Perawatan paliatif
d. Pengobatan anak
e. Manajemen penyakit kronis
5. Perawatan paliatif, dengan mendukung rasa sakit dan gejala manajemen dan
memberikan dukungan terhadap anggota keluarga sehingga seseorang dapat
memiliki kematian yang damai di rumah adalah pengertian dari.....
a. Pengurangan perawatan alternatif
b. Mencegah kegawatdaruratan
c. Perawatan paliatif
d. Pengobatan anak
e. Manajemen penyakit kronis

6. Memungkinkan anak-anak dengan risiko kesehatan terkait (kesehatan,


perkembangan, sosial, atau mental) untuk memaksimalkan potensi mereka baik
di rumah maupun di sekolah adalah pengertian dari.........
a. Pengurangan perawatan alternatif
b. Mencegah kegawatdaruratan
c. Perawatan paliatif
d. Pengobatan anak
e. Manajemen penyakit kronis
7. Secara proaktif membantu individu sehingga mereka secara efektif dapat
mengurus rumah sendiri, menghindari kebutuhan untuk rawat inap, dan
menunda hilangnya fungsi dan kemandirian adalah pengertian dari..........
a. Pengurangan perawatan alternatif
b. Mencegah kegawatdaruratan
c. Perawatan paliatif
d. Pengobatan anak
e. Manajemen penyakit kronis
8. Perubahan demografi di Uni Eropa mengarah kepada peningkatan permintaan
untuk perawatan di rumah merupakah perubahan home care akibat.....
a. Perubahan demografi
b. Perubahan sosial
c. Perawatan paliatif
d. Perubahan epidemologi
e. Perubahan ekonomi
9. Yang termasuk hak pelaksana antara lain, kecuali......
a. Mengetahui hak & kewajiban sec tertulis
b. Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
c. Berhak mendapat perlakuan sesuai norm yang ada
d. Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job
diskripsion
e. Melanggar perjanjian
10. Perubahan sikap sosial, nilai-nilai dan perilaku berkontribusi dalam
meningkatkan permintaan untuk pelayanan home care, merupakan perubahan
dari...........
a. Perubahan demografi
b. Perubahan sosial
c. Perawatan paliatif
d. Perubahan epidemologi
e. Perubahan ekonomi

BAB IV
LAMPIRAN

4.1 BENTUK LAYANAN HOME CARE

Berbagai bentuk pelayanan home care yang dapat dilakukan di


rumah. Tindakan tersebut antara lain: pengukuran tanda-tanda vital;
pemasangan atau penggantian selang lambung (NGT); pemasangan atau
penggantian kateter; pemasangan atau penggantian tube pernafasan;
perawatan luka dekubitus atau ulcer dan jenis luka lainnya; penghisapan
lendir dengan atau tanpa mesin; pemasangan peralatan oksigen;
penyuntikan (IM, IV, Sub kutan); pemasangan atau penggantian infus;
pengambilan preparat laboratorium (urin, darah, tinja, dll); pemberian
huknah; perawatan kebersihan diri (mandi, keramas, dll); latihan atau
exercise, fisioterapi, terapi wicara, dan pelayanan terapi lainnya;
transportasi klien; pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan perawatan
kesehatan; konseling pada kasus-kasus khusus; konsultasi melalui telepon;
memfasilitasi untuk konsultasi ke dokter; menyiapkan menu makanan;
menyiapkan dan membersihkan tempat tidur; memfasilitasi terhadap
kegiatan sosial atau mendampingi; memfasilitasi perbaikan sarana atau
kondisi kamar atau rumah.

4.2 ASPEK LEGAL HOME CARE

a. Landasan Hukum Home Care diantaranyaadalah sebagai berikut:

1) UU Kes.No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.


2) PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan
daerah.
3) UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
4) UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran.
5) Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik
perawat.
6) Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar
puskesmas.
7) Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman
penyelenggaraan Perkesmas.
8) SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan
fungsonal perawat.
9) PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.
10) Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta.
11) Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/148/2010 tentang Izin
dan Penyelengaraan Praktik Perawat.
Unit home care yang merupakan bagian dari institusi pelayanan
pemerintah dan swasta, tidak perlu izin khusus, hanya melapor dan
melakukan pelaporan kasus yang ditangani Fungsi hukum dalam praktik
perawat antara lain adalah sebagai berikut :

1) Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan


mana yang sesuai dengan hukum .
2) Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.
3) Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan
keperawatan mandiri.
4) Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

b. Issue Dasar dan Legal Praktik Keperawatan

Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri


berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat
mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah
tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah
petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat
yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan
kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan
medis. Issue legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di
rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:

Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan


teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah
melalui IV di rumah. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien
seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh
anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat. Pelaksanaan
peraturan medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di
rumah.
Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di
rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan
apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang
tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari medicare telah habis masa
berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus
tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat
akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati
peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien
yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan
tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang
akan memberikan penggantian biaya yang optimal untuk klien.

Pasal krusial dalam Keputusan Menteri Kesehatan ( Kepmenkes )


1239/2001 tentang praktik keperawatan anatara lain:

1) Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa


keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
2) Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis
dokter
3) Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
a) Menghormati hak pasien
b) Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
c) Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku
d) Memberikan informasi
e) Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
f) Melakukan catatan perawatan dengan baik
4) Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat
berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang
ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
5) Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan
memasang papan praktik (sedang dalam proses amandemen)
6) Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk
kunjungan rumah
a. Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
1) Tempat praktik memenuhi syarat
2) Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir
/buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
Larangan

1) Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam


izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar
profesi
2) Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat
atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga
kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini
3) Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan
lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran
4) Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak
diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
5) Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas kesehatan terlebih
dahulu mendengar pertimbangan dari MDTK atau MP2EM.

Sanksi

1) Pelanggaran ringan , pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan.


2) Pelanggaran sedang , pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan .
3) Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun.
4) Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta
situasi setempat.

c. Model/ Teori Keperawatan yang Mendukung Home Care

Terdapat beberapa model/ teori keperawatan yang mendukung Home


care diantaranya:

1) Transkultural nursing (Leininger)

Model/ teori keperawatan transkultural nursing memfokuskan pada


penanganan harus memperhatikan budaya pasien. Adapun konsep model/
teori keperawatan ini berorientasi pada culture, cultural care diversity,
cultural care universality, nursing, worldview, dimensi struktur budaya dan
social, konteks lingkungan, ethnohistory, generic ( folk or lay) care system,
sistem perawatan profesional, kesehatan, care/caring, culture care
preservation, accomodation dan repatterning. Teori Leininger dan paradigma
keperawatan Leininger mengkritisi empat konsep keperawatan yaitu
manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Definisi konseptual
menurut asumsi dan teori dari Madeleine Leininger yaitu:

Manusia seseorang yang diberi perawatan dan harus diperhatikan


kebutuhannya. Kesehatan yaitu konsep yang penting dalam perawatan
transkultural. Lingkungan tidak didefinisikan secara khusus, namun jika
dilihat bahwa telah terwakili dalam kebudayaan, maka lingkungan adalah
inti utama dari teori M. Leininger. Keperawatan menyajikan 3 tindakan
yang sebangun dengan kebudayaan klien yaitu cultural care preservation,
accomodation dan repatterning.

2) Teori Self Care ( Dorothea Orem )

Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan


ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan
keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Orem
mengklasifikasikan dalam 3 kebutuhan, yaitu:

Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal):


kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus
kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk
kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan
pencegahan bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan
dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang
berguna bagi kelangsungan hidupnya. Development self care requisites
(kebutuhan perawatan diri pengembangan): kebutuhan yang berhubungan
dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi,
peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam siklus kehidupan (misal,
bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat berpengaruh buruk
terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses
perkembangan sepanjang siklus hidup.
Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri
penyimpangan kesehatan): kebutuhan yang berhubungan dengan genetik
atau keturunan, kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan
cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya,
diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, dan
integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan
self care.

Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:

a) Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan


umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk
mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup,
pembentukan dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan
dan peningkatan integritas fungsional.
b) Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga
pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan
kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan di
setiap periode dalam daur hidup.
c) Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari
struktur normal dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan
beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan
untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.

Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan


tingkat ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh
karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:

a) Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan


keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi
(sistem pengganti keseluruhan).
b) Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan
(sistem pengganti sebagian).
c) Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem
dukungan/pendidikan).
3) Teori Lingkungan (Florence Nihgtingale)

Teori / model konsep Florence Nightingale memposisikan


lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu
memahami seluruh proses penyakit, model dan konsep ini dalam upaya
memisahkan antara profesi keperawatan dangan kedokteran. Orientasi
pemberian asuhan keperawatan / tindakan keperawatan lebih diorientasikan
pada pemberian udara, lampu, kenyamanan, kebersihan, ketenangan dan
nutrisi yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan
dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka
perawat mampu menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa bergantung
pada profesi lain. Model dan konsep ini memberikan inspisi dalam
perkembangan praktik keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan
secara luas, paradigma perawat dalam tindakan keperawatan hanya
memberikan kebersihan lingkungan kurang benar, akan tetapi lingkungan
dapat mempengaruhi proses perawatan pada pasien, sehingga perlu
diperhatikan.

4) Manusia Sebagai Unit (Rogers)

Berdasarkan teori Rogers sakit timbul akibat ketidakseimbangan


energi penanganan dengan metode terapi modalitas/ komplementer. Rogers
mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip prinsip kreativitas,
seni dan imaginasi. Aktivitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan
aktivitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran
intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah
disiplin ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi
keterampilan, dan teknologi. Aktivitas keperawatan meliputi pengkajian,
intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada konsep
pemahaman manusia / individu seutuhnya.

Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam
semesta seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan
sejarah dan mitologi. Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia
secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam
dan perkembangan manusia secara langsung. Berdasarkan pada kerangka
konsep yang dikembangkan oleh Roger ada 5 asumsi mengenai manusia,
yaitu :

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik,


antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan
mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian
perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila
seseorang memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia.
Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak dijumpai.
Berasumsi bahwa individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan
material satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan
sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan
yang utuh dari semua hal. Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal
yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara
terus menerus. Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau
menjadi seperti yang diharapkan semula.Perilaku pada individu merupakan
suatu bentuk kesatuan yang inovatif.

Manusia bercirikan mempunyai kemampuan untuk abstrak,


membayangkan, bertutur bahasa dan berfikir, sensasi dan emosi. Dari
seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan
menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.

Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar. Beliau


menghadirkan lima asumsi tentang manusia. Tiap orang dikatakan sebagai
suatu yang individu utuh. Manusia dan lingkungan selalu saling bertukar
energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dapat diubah
dan berhubungan satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut
merupakan pola kehidupan. Pada akhirnya seseorang mampu berbicara,
berfikir, merasakan, emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia
mempunyai empat dimensi, medan energi negentropik dapat diketahui dari
kebiasaan dan ditunjukkan dengan ciri-ciri dan tingkah laku yang berbeda
satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu pengetahuan yaitu
lingkungan, keperawatan dan kesehatan.

5) Human Caring (Watson)

Perawat harus memperhatikan sisi humanistik sebagai moral ideal ke


pasien dan keluarga. Keperawatan sebagai sains tentang human care
didasarkam pada asumsi bahwa human science and human care merupakan
domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science
keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan
estetika, humanities, dan kiat/art (Watson, 1985). Sebagai pengetahuan
tentang human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang
menjadi inti keperawatan, seperti yang dinyatakan oleh Watson (1985)
human care is the heart of nursing. Pandangan tentang keperawatan
sebagai science tentang human care adalah komprehensif.

4.3 MANAJEMEN HOME CARE

a. Lingkup Pelayanan Home Care

Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan


perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan
keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan
keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan
tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan :

Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi


pengkajian bio- psiko- sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara
langsung, melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan
masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan
keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan
keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis),
memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada
klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan
tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa
pelayanan kepertawatan yang diberikan. Melakukan koordinasi dengan tim
yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok. Sebagai
pembela/pendukung(advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan
keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah
sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan
pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima
oleh klien. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di
rumah dilakukan, mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan
harus di lakukan.

Secara umum lingkup pelayanan dalam perawatan kesehatan di


rumah (home care ) dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1) Pelayanan medik dan asuhan keperawatan


2) Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik
3) Pelayanan rehabilitasi medik dan keterapian fisik
4) Pelayanan informasi dan rujukan
5) Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
6) Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7) Pelayanan perbantuan untuk kegiatan social

b. Skill Dasar yang Harus Dikuasai Perawat

Berdasarkan SK Dirjen Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311


terdapat 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat
home care antara lain :

1) Vital sign
2) Memasang nasogastric tube
3) Memasang selang susu besar
4) Memasang cateter
5) Penggantian tube pernafasan
6) Merawat luka dekubitus
7) Suction
8) Memasang peralatan O2
9) Penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
10) Pemasangan infus maupun obat
11) Pengambilan preparat
12) Pemberian huknah/laksatif
13) Kebersihan diri
14) Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15) Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostic
16) Pendidikan kesehatan
17) Konseling kasus terminal
18) Konsultasi/telepon
19) Fasilitasi ke dokter rujukan
20) Menyiapkan menu makanan
21) Membersihkan tempat tidur pasien
22) Fasilitasi kegiatan sosial pasien
23) Fasilitasi perbaikan sarana klien.

Sedangkan kompetensi dasar yang harus dimiliki dalam melaksanakan


tindakan home care antara lain:

1) Memahami dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara


umum.
2) Menjelaskan anatomi, fisiologi, patologi sebagai sistem tubuh secara
umum .
3) Menjelaskan konsep dasar homeostasis, dan patogenesis.
4) Melaksanakan pemberian obat kepada klien/pasien
5) Menjelaskan cara-cara pemberian obat kepada pasien.
6) Melakukan pemberian obat kepada pasien sesuai resep dokter.
7) Memahami jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan
oleh klien/pasien
8) Menjelaskan jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan
oleh klien/pasien.
9) Menjelaskan persiapan klien/pasien yang akan diperiksa di
laboratorium.
Mengantarkan klien/pasien untuk periksa di laboratorium.
10) Menunjukan kemampuan melakukan komunikasi terapeutik
11) Menjelaskan definisi komunikasi terapeutik .
12) Menjelaskan fungsi, dan manfaat komunikasi terapeutik.
13) Melaksanakan setiap tindakan keperawatan menggunakan komunikasi
terapeutik.
14) Menunjukan kemampuan mengasuh bayi, balita, anak, dan lansia
sesuai tingkat perkembangan
15) Membangun hubungan antar manusia
16) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
17) Mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia
18) Merencanakan kebutuhan dasar manusia
19) Menunjukan kemampuan melayani klien/pasien berpenyakit ringan
20) Membangun hubungan antar manusia
21) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
22) Mengidentifikasi kebutuhan dasar klien/pasien
23) Merencanakan kebutuhan dasar klien/pasien
24) Melaksanakan kebutuhan dasar klien/ pasien
25) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan kebutuhan pasien/klien yang
penyakit
ringan.
26) Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup
(K3LH)
27) Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
28) Melaksanakan prosedur K3
29) Menerapkan konsep lingkungan hidup
30) Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan
31) Memahami kontinum sehat- sakit
32) Menjelaskan keseimbangan tubuh manusia normal
33) Menjelaskan definisi sehat-sakit
34) Menjelaskan model-model sehat dan sakit
35) Menjelaskan nilai-nilai yang mempengaruhi kesehatan
36) Menjelaskan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
37) Menjelaskan faktor-faktor resiko dalam kehidupan manusia
38) Menjelaskan dampak sakit pada klien/pasien dan keluarga.
39) Memahami dasar-dasar penyakit sederhana yang umum di masyarakat
40) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem integumen sederhana yang
umum di masyarakat.
41) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem gastro intestinal sederhana
yang umum di masyarakat.
42) Menjelaskan penyakit-penyakit sistem genito urinaria sederhana yang
umum di masyarakat .
43) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem respiratori sederhana yang
umum di masyarakat.
44) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem kardio vaskuler sederhana
yang umum di masyarakat.
45) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem persarafan sederhana yang
umum di masyarakat.
46) Menjelaskan penyakitpenyakit sistem reproduksi sederhana yang
umum di masyarakat.
47) Memahami peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan utama
48) Menjelaskan tindakan peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit
49) Menjelaskan tindakan pelayanan kesehatan utama
50) Menjelaskan peran asisten perawat dalam pemberian perawatan
utama.
51) Memahami pemberian obat
52) Menjelaskan nomenklatur dan bentuk obat oral
53) Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kerja obat
54) Menjelaskan kemampuan memberikan obat oral.
55) Memahami kemampuan interpersonal dan massa
56) Menjelaskan berbagai tingkatan komunikasi
57) Menjelaskan proses komunikasi
58) Menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi
59) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi
60) Mendiskusikan komunikasi terapeutik
61) Menjelaskan bantuan dalam berkomunikasi.
62) Prinsip-prinsip perkembangan manusia
63) Menjelaskan teori pertumbuhan dan perkembangan manusia
64) Menjelaskan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia
65) Menjelaskan tentang konsepsi
66) Menjelaskan proses kelahiran.
67) Memahami tahap-tahap perkemangan manusia
68) Menjelaskan perkembangan masa bayi
69) Menjelaskan perkembangan masa balita
70) Menjelaskan perkembangan anak masa usia sekolah
71) Menjelaskan perkembangan masa remaja
72) Menjelaskan perkembangan masa
73) Dewasa muda
74) Menjelaskan perkembangan masa dewasa
75) Menjelaskan perkembangan masa lansia.
76) Memahami sikap pelayanan perawat sesuai dengan tahapan
perkembangan
77) Menjelaskan sikap perawat terhadap klien/pasien sesuai dengan tahap
perkembangan
78) Menjelaskan pelayanan perawatan kesehatan komunitas dan panti.
79) Memahami tentang stress
80) Menjelaskan konsep stress
81) Menjelaskan adaptasi terhadap stress
82) Menjelaskan respon terhadap stress
83) Menjelaskan proses keperawatan dan adaptasi terhadap stres.
84) Memahami kebutuhan dasar manusia
85) Menjelaskan kebutuhan fisiologis manusia
86) Menjelaskan kebutuhan keselamatan dan rasa aman
87) Menjelaskan kebutuhan cinta dan rasa memiliki
88) Menjelaskan kebutuhan penghargaan dan harga diri
89) Menjelaskan kebutuhan aktualisasi diri.
90) Memahami tentang kesehatan reproduksi
91) Menjelaskan konsep kesehatan reproduksi
92) Menjelaskan anatomi dan fisiologi alat reproduksi
93) Menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi.
94) Memahami perilaku empatik
95) 12.1Menjelaskan sikap empatik terhadap kehilangn, kematian, duka
cita saat melakukan tindakan keperawatan
96) Menjelaskan bantuan yang diberikan sesuai dengan agama, dan
kebutuhan
spiritual klien tersebut.
97) Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
98) Menjelaskan pedoman untuk mengukur tanda vital
99) Menjelaskan tentang pengukuran suhu tubuh
100) Melaksanakan pengukuran nafas
101) Melaksanakan pengukuran nadi.
102) Melakukan mobilisasi pasif terhadap klien/pasien
103) Menjelaskan tentang mobilisasi dan pengaturan gerak
104) Menjelaskan gangguan mobilisasi
105) Menjelaskan latihan mobilisasi
106) Menunjukan kemampuan melakukan mobilisasi pasif dan aktif
107) Menjelaskan gangguan mobilisasi.
108) Melakukan pemberian nutrisi
109) Menjelaskan nutrisi seimbang
110) Menunjukan kemampuan memberikan makan peroral pada
pasien/klien.
111) Melaksanakan dokumentasi tindakan keperawatan
112) Menjelaskan komunikasi multidisiplin dalam tim
113) Membuat dokumentasi sesuai dengan pedoman.
114) Melaksanakan tugas sesuai dengan etika keperawatan, dan kaidah
hokum
115) Menjelaskan pentingnya etika dan hukum keperawatan dalam
melaksanakan tugas
116) Melakukan perilaku kinerja asisten perawat sesuai dengan etika dan
hokum keperawatan.

c. Mekanisme Pelayanan Home Care

Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat


merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun
puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan
keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh
pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:

Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih
dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat
di rumah atau tidak.

Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di


rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf
dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama
klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan,
membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan
diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan,
dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan
keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau
pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir
dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh
tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus.
Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi
terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.

1) Unsur Pelayanan Home Care

Unsur pelayanan home care ada 4, yaitu:

Pengelola adalah agensi atau unit yang bertanggung jawab terhadap


pelayanan kesehatan di rumah yang bisa merupakan bagian yan dari Puskesmas,
Rumah Sakit, klinik atau mandiri.

Pelaksana terdiri dari tenaga keperawatan dan tenaga profesional lain dan
non profesional yang terdiri koordinator kasus dan pelaksana pelayanan.
Klien adalah penerima pelayanan kesehatan dan keluarg yg bertanggung jawab
atau care giver yang disuruh memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien.
Koordinator kasus adalah seorang perawat dengan kriteria tertentu baik yang
masih aktif maupun yang sudah memasuki masa pensiun. Mereka bisa berasal dari
Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Petugas Kesehatan Swasta dan lain-lain.
Seorang Koordinator Kasus dapat mengkoordinir 10-20 orang pelaksana
perawatan yang bekerja baik secara suka rela maupun yang menerima imbalan
dari Lembaga Swadaya Masyarakat atau masyarakat.

a) Pengelola

Persyaratan Pengelola

Merupakan bagian institusi pelayanan kesehatan pemerintah atau swasta


atau unit mandiri yg berbadan hukum. Mendapat ijin mengelola dari Pemda
dengan rekomendasi dari Dinkes. Memiliki kantor dengan alamat jelas.
Memiliki sarana komunikasi.Memiliki peralatan pelayanan kesehatan.
Mampu menyediakan transportasi yang dibutuhkan klien. Memiliki tenaga
(pimpinan, administrasi dan perawat minimal D3 yg purna waktu) Mampu
menyediakan tenaga profesional atau non yg bersertifikat pelatihan home care.
Punya kerjasama dengan Rumah Sakit rujukan.

Hak Pengelola

Mengelola home care sesuai standar . Menerima hak imbalan jasa . Punya
akses dg pemerintah yg mengendalikan home care. Mendapat dukungan dari
pelaksana yan dan klien atas pengelolaan yg menjadi tanggung jawabnya.
Menetapkan tenaga pelaksana pelayanan home care. Menetapkan mitra kerja yang
mendukung home care.

Kewajiban Pengelola

(1) Menjamin pelayanan profesional dan bermutu.


(2) Mematuhi kontrak .
(3) Memberikan perlakuan yang baik kepada pelaksana dan klien.
(4) Meningkatkan pengetahuan pelaksana pelayanan.
(5) Menyediakan sarana administrasi .
(6) Mematuhi peraturan yg berlaku terkait home care .
(7) Menerapkan sistem reward dan punishment
(8) Melaksanakan pengawasan, pengendalian thd kinerja pelaksana
(9) Melaksanakan kewajiban yg harus diberikan kepada pelaksana yan
dan klien.

b) Koordinator Kasus

Syarat Koordinator Kasus

(1) Minimal berumur 21 tahun.


(2) Minimal pendidikan D3 Keperawatan.
(3) Koordinator kasus harus punya sertifikat pelatihan home care.
(4) Mampu melakukan pengkajian awal dan melakukan analisis terhadap
kasus
(5) Mampu memimpin bekerjasama dalam tim.Mampu memberikan yan
sesuai etika.
(6) Mampu melaksanakan bimbingan tehnis, monitoring dan evaluasi.

Hak Koordinator Kasus

(1) Mengetahui hak dan kewajiban secara tertulis.


(2) Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian.
(3) Berhak mendapat perlakuan sesuai norma yang ada.
(4) Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job
diskripsion nya.
(5) Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan.
(6) Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan home care.
(7) Berhak mengemukakan pendapat dalam upaya peningkatan mutu
pelayanan.
(8) Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang dilakukan, diterima
dan dirasakan merugikan .
(9) Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .

c) Pelaksana

Syarat Pelaksana
(1) Usia minimal 21 tahun.
(2) Punya ijasah formal.
(3) Punya sertifikat pelatihan home care.
(4) Mampu memberikan yan sec mandiri dan bertanggung jawab.
(5) Mampu bekerja sesuai SOP yang ada .
(6) Mampu melaksanakan tindakan sesuai etika.

Hak Pelaksana

(1) Mengetahui hak & kewajiban sec tertulis


(2) Berhak atas imbalan jasa sesuai perjanjian
(3) Berhak mendapat perlakuan sesuai norm yang ada
(4) Berhak menolak tugas, prosedur atau tindakan medis di luar job
diskripsion
(5) Memperoleh informasi terkait perubahan pelayanan.
(6) Mempunyai akses kepada pemerintah yg mengendalikan homecare
(7) Berhak mengemukakan pendapat dlm upaya peningkatan mutu yan
(8) Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yg dilakukan, diterima
dan dirasakan merugikan
(9) Mendapat dukungan dari pengelola dan klien .

Kewajiban Pelaksana

(1) Mentaati peraturan dan disiplin kerja


(2) Memberikan pelayanan yg bermutu sesuai standar yg ditetapkan
(3) Merahasiakan segala hal terkait kondisi klien
(4) Melaksanakn tugas sesuai rencana yan yang telah disepakati
(5) Bekerjasama dan saling mendukung dg tenaga pelaksana lain
(6) Mematuhi perjanjian kerja yang sudah dibuat
(7) Mengharagai hak hak klien
(8) Membuat laporan rutin kepada penanggung jawab pelayanan .

d. Pasien/ Klien

Persyaratan Pasien / Klien

(1) Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau


menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola
(2) Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi
(Informed consent).
(3) Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan
kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan
haknya dalam menerima pelayanan.

Hak Klien

(1) Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban.


(2) Mendapat pelayanan profesional.
(3) Ikut berpartisipasi dalam rencana dan pelaksanaan pelayanan.
(4) Memperoleh perlakuan yang layak.
(5) Memperoleh seluruh catatan klinis.
(6) Mendapat pelayanan yang layak.
(7) Mendapat informasi terkait perubahan yang ada.
(8) Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang diterima .
(9) Memperoleh akses ke pemerintah yang mengendalikan home care.
(10) Menolak tindakan setelah mendapat informasi lengkap .

Kewajiban Klien

(1) Mematuhi perjanjian .


(2) Mentaati rencana yang telah dibuat .
(3) Membayar jasa pelayanan.
(4) Bekerjasama dengan pelaksana .
(5) Menghargai hak pelaksana .

4.4 HOME CARE DI BERBAGAI NEGARA

a. Home Care di Eropa


Perawatan di rumah bertujuan untuk memberikan kepuasan dalam
bidang kesehatan dan sosial masyarakat sesuai dengan kebutuhan di rumah
mereka. Perawatan diberikan dengan menyediakan pelayanan yang tepat
dan berkualitas tinggi berbasis perawatan kesehatan di rumah dan
pelayanan sosial, oleh pemberi layanan formal dan informal, dengan
penggunaan teknologi yang tepat dan kontinum yang seimbang dan
terjangkau. Tujuan utama dalam perawatan di rumah adalah untuk
meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Usia harapan hidup telah meningkat tajam di wilayah Eropa dalam
beberapa dekade terakhir. Proporsi orang tua dalam populasi umum terus
meningkat di banyak negara Eropa dan diperkirakan akan meningkat pesat
dalam dekade mendatang. Ini berarti akan ada banyak orang tua
yangbergantung pada perawatan. Pada dekade mendatang , kita juga akan
melihat perubahan dramatis dalam kebutuhan pasien dengan penyalit tidak
menular sebagai penyebab utama kecacatan dan kematian. Berbagai orang
dengan kondisi kronis yang mengalami kesulitan dalam mobilitas dapat
tinggal di rumah, anak-anak yang mengalami masalah kesehatan yang parah
atau orang dengan gangguan mental juga mungkin dilakukan perawatan di
rumah.
Perubahan sosio demografi dan trend mobilitas mempengaruhi
kebutuhan perawatan di rumah. Banyaknya anggota keluarga yang
melakukan urbanisasi, akan membuat situasi semakin rumit. Keluarga yang
tinggal di daerah pedesaan, pada umumnya banyak anggota keluarga yang
merawat anggota keluarga yang lebih tua atau cacat. Berbeda dengan
kondisi masyarakat di perkotaan, dengan unit keluarga yang relatif lebih
kecil , ruang hidup terbatas dan mobilitas generasi muda yang juga tinggi
dan tak jarang banyak dari generasi muda yang tinggalnya jauh dari
keluarga mereka karena faktor pekerjaan. Semua faktor ini meningkatkan
kemungkinan kebutuhan perawatan tambahan yang keluarga mereka tidak
mungkin untuk menyediakan dan menempatkan tanggung jawab besar
terhadap pelayanan kesehatan, di mana perawatan rumah diterapkan dalam
praktek.
Perubahan dalam kebutuhan dan struktur sosial tersebut memerukan
pendekatan yang berbeda untuk kesehatan dan kebijaka sektor sosial dan
jasa, karena pendekatan yang berorientasi terhadap penyakit saja tidak lagi
sesuai. Bukti menunjukkan bahwa dalam keadaan cacat dan lebih tua, orang
cenderung tidak ingin perawatan institusional seperti rumah sakit. Keluarga
mempunyai pengaruh lebih kuat untuk terus merawat anggota keluarga
mereka. Hal ini bergantung pada lingkungan yang ramah seperti rumah
mereka sendiri dan masyarakat sekitar. Dengan perawatan di rumah maka
orang akan merasa lebih nyaman karena dekat dengan orang yang dicintai.
Pada saat ini dan di masa depan, para pengambil keputusan di Eropa
akan mnempatkan perawatan di rumah sebagai pendekatan yang strategis
dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebutuhan
pelembagaan seperti rumah sakit yang semakin meningkat. Pasien yang
memerlukan perawatan jangka panjang diberikan pelayanan di rumah
mereka selama mungkin.

1) Kebutuhan Home Care di Eropa


Meskipun dalam sejarah, terjadi perubahan dan respon kebijakan
dari para pengambil kebijakan yang sangat bervariasi di seluruh Eropa,
namun secara uum, semua negara sama-sama menghadapi satu kesamaan
demografi, tekanan sosial, teknologi, epidemiologi dan politik yang
mempengaruhi baik permintaan dan penawaran kebutuhan home care dan
penyediaan layanan perawatan di rumah.
a) Kondisi demografi
Perubahan demografi di Uni Eropa mengarah kepada peningkatan
permintaan untuk perawatan di rumah. Struktur penduduk negara-negara uni
Eropa berubah secara dramatis dalam waktu yang singkat. Secara khusus,
proporsi orang tua dan sangat tua akan meningkat, sedangkan jumlah dan
proporsi dari anak-anak, orang muda, orang dewasa mudan dan orang
dewasa akan menurun, hal ini dikarenakan tingkat kesuburan yang jatuh
tajam di Uni Eropa.
Permintaan untuk home care meningkat seiring dengan pertambahan
usia, bahkan jika individu menjadi tergantung pada tahap selanjutya
terhadap generasi sebelumnya. Peningktana permintaan home care untuk
perbaikan dalam gaya hidup, kebersihan makanan, pribadi dan perumahan.
Perbaikan dalam pencegahan penyakit, standar hidup dan aktivitas
perawatan diri juga akan mempengaruhi tingkat bantuan yang dibutuhkan
dan tingkat ketergantungan secara keseluruhan.
b) Perubahan sosial
Perubahan sikap sosial, nilai-nilai dan perilaku berkontribusi dalam
meningkatkan permintaan untuk pelayanan home care. Banyaknya anggota
keluarga yang melakukan urbanisasi, akan mengurangi jumlah orang yang
dapat memberikan perawatan kepada anggota keluarga. Selain itu, tenaga
kerja perempuan atau yang lebih dikenal dengan wanita karir terus
meningkat. Hal ini terjadi karena penekanan yang lebih besar ditempatkan
pada pekerjaan yang memfasilitasi dan meningkatkan peluang karir bagi
perempuan. Peluang tenaga kerja ini meningkatkan partisipasi pasar bagi
wanita. Kondisi ini menyebabkan perawatan keluarga yang dilakuka oleh
wanita semakin sulit dilakukan.
Di Negara-negara simana insentif pasar tenaga kerja dan kebijakan
pasar tenaga kerja berusaha untuk meningkatkanpartisipasi perempuan usia
lanjut, hal ini memiliki implikasi serius bagi penyediaan perawatan baik
formal dan informal. Kebijakan ini merupakan bagian dari muchbroader
Lisbon strategy untuk pertumbuhan dan lapangan kerja dari Uni Eropa yang
membahas langkah-langkah untuk menunda pensiun dan mencegah pensiun
dini untuk meningkatkan partisipasi pasar tenaga kerja di antara semua
sektor dari populasi Eropa. Dengan demikian, peran anak untuk merawat
orang tuanya semakin berkurang.
Mobilitas internal yang lebih besar di seluruh Eropa pada semua titik
dalam perjalanan hidup (kerja dan usia pensiun) dapat meninggalkan jarak
yang cukup jauh antar anggota keluarga. Di sebagian negara Uni Eropa,
generasi muda telah bermigrasi secara signifikan, mereka memang
berkontribusi terhadap keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga berpotensi
meimbulkan kesenjangan perawatan antara di desa dan perkotaan.
c) Perubahan Epidemiologi
Kenaikan penyakit tidak menular mempengaruhi permintaan untuk
perawatan di rumah, termasuk beberapa hal berikut:
1) Penyakit mental di eropa cenderung meningkat, dan perawatan di
rumah lebih disukai daripada perawatan di rumah sakit.
2) Perubahan pola penyakit. Beberapa penyakit seperti penyakit
alzheimer dan demensia menjadi lebih umum dalam populasi lanjut
usia. Dalam konteks ini terjadi kesadaran dan pemahaman tentang
kondisi tersebut dan pemahaman tentang seberapa efektif
pengobatan dan dukungan dapat diberikan terhadap pasien dan
keluarga dengan menggunakan berbagai layanan home care.
3) Banyak orang di Eropa yang hidup dengan mempunyai riwayat
diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan, stroke, dan
kanker. Hal ini bisa efektif dan efisien jika dirawat di rumah
dengan dukungan yang tepat dan terarah.
d) Perkembangan dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baik medis maupun
non-medis turut mempengaruhi permintaan dan penyediaan home care.
Kemajuan medis termasuk obat-obatan, peralatan, dan teknologi bedah telah
memberikan kontribusi terhadap peningkatan harapan hidup dan
meningkatkan kualitas hidup orang banyak, baik orang cacat, orang tua, dan
anak-anak dengan kebutuhan perawatan yang kompleks. Modifikasi rumah
(seperti toilet disesuaikan, peralatan mandi dan peralatan lifting) disesuaikan
dengan kebutuhan orang dengan gangguan kesehatan. Perkembangan
tknologi dan inovasi sangat menjanjikan untuk memberikan berbagai
peluang dan solusi bagi kelompok masyarakat yang ingin tetap tinggal di
rumah mereka. Kedua solusi teknologi tinggi dan rendah untuk home care
semakin melengkapi layanan home care.
e) Perubahan sikap dan harapan
Ada peningkatan harapan masyarakat terhadap layanan kesehatan
yang diberikan. Dalam beberapa pengaturan, seperti home care, wacana
mengenai hak pasien telah berkembang pada perawatan individual. Hal ini
tekah menekankan pentingnya pilihan pasien untuk mengontrol dan
penentuan nasib sendiri dalam pendanaan dan penyediaan jasa. Termasuk
dalam memilih jenis layanan kesehatan yang diberikan.
Kualitas layanan institusional (misal, rumah sakit) semakin
dipertanyakan, dan layanan home care yang berbasis solusi semakin dicari.
Hampir 90% dari responden dalam satu survei di Eropa merasa bahwa
sistem perawatan sosial dan kesehatan harus membantu orang tua untuk
tetap tinggal di rumah mereka selama mungkin. Dengan mobilitas penduduk
dan migrasi yang terus meningkat, semua negara Eropa harus memenuhi
kebutuhan populasi yang beragam. Masyarakat mengharapkan layanan yang
peka terhadap budaya. Selain itu untuk lebih mencerminkan kebutuhan
kelompok etnis minorita ynag pada gilirannya menghasilkan tuntutan baru
untuk penyediaan perawatan di rumah
f) Pilihan dan Prioritas Kebijakan
Berbagai perubahan prioritas kebijakan menciptakan tekanan pada
layanan home care. Sebenarnya ada dukungan kebijakan untuk gagasan
bahwa home care merupakan solusi yang menguntungkan bagi pasien baik
individu, keluarga, maupun masyarakat yang lebih luas. Hal ini dikarenakan
ada semacam kekhawatiran tentang tekanan pada pengeluaran publik yang
terkait dengan populasi lanjut usia. Kekhawatiran ini khususnya berada di
sekitar dana pensiun dan biaya perawatan kesehatan. Pengeluaran sektor
kesehatan tumbuh lebih cepat dari Produk Domestik Bruto di hampir semua
negara yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD) sejak tahun 1990 sampai tahun 2004.
Konsep kesehatan di rumah atau home-based solution bukan hanya
mempunyai manfaat untuk kesehatan, sosial dan emosional, tetapi juga
berpotensi terhadap penurunan belanja publik sebagai penyediaan home care
yang telah dibuktikan lebih efektif dan efisien daripada perawatan yang
dilembagakan seperti rumah sakit.
Perawatan di rumah sekarang sudah dianggap sebagai bagian dari
perawatan primer seperti halnya Rumah Sakit. Pergeseran pola penyakit dari
akut ke kronik membuat konsep perawatan secara otomatis berubah. Hal ini
dipercaya dapat menjamin peningkatan kualitas hidup. Di sisi lain,
pengakuan atas peran penting dari perawatan informal (keluarga dan teman-
teman atau tetangga) dalam berkontribusi terhadap penyediaan perawatan
telah menyebabkan peningkatan tuntutan bagi pengambil kebijakan dan
pelayanan untuk mengenali dan mempertahankan pada pelaku tersebut.
2) Penyediaan Layanan Home Care di Eropa: Organization of Home Care
Solutions and Service
a. Sejarah Home Care di Eropa
Perkembanga home are terkait dengan munculnya sistem sistem
perawatan kesejahteraan yang kompleks, jaminan sosial dan jaminan
kesehatan dipengaruhi oleh pola yang diterapkan oleh masing-masing
negara seperti pendanaan dan penyediaan layanan kesehatan. Selain itu,
keragaman sosial dan budaya juga sangat berpengaruh. Pada tingkat
nasional, kebijakan negara juga turut berperan dalam perkembangan home
care. Sebagai hasilnya adalah gabungan dari pendekatan dan strategi untuk
pendanaan, mengorganisir, dan memberikan layanan home care, pajak
berbasis penyediaan, tanggungjawab tingkat kota, regional, dan nasional,
perbedaan pelayanan kesehatan dan sosial dan besar kecilnya dukungan
kebijaka untuk perawatan informal.
Home care di negara Eropa mengandalkan historis pada perawatan
informal (terutama keluarga) dan juga sukarelawan. Tema rezim
kesejahteraan Eropa saat itu yaitu konsisten untuk memperluas tempat
terutama untuk keluarga dan kerabatnya dalam memberikan dukungan
kepada orang tua dan penyandang cacat. Pada akhir abad ke-19 mulai
muncul keterlibatan negara dalam kesehatan dan kesejahteraan sosial.
Selama abad ke-20, rumah sakit menjadi bentuk yang dominan untuk
mendukung berbagai kelompok termasuk orang tua, anak-anak, orang cacat,
dan orang-orang dengan gangguan mental. Namun demikian, kritik
profesionalisme untuk lembaga rumah sakit muncul pada tahun 1950 di
sekuruh Eropa. Sejak tahun 1960, dimulai upaya untuk mengurangi lamanya
rawat inap untuk orang tua, dan mulai menggalakkan home care untuk
orang tua dan penyandang cacat. Sedangkan untuk orang yang mengalami
gangguan mental, dirawat pada tempat yang khusus untuk pasien gangguan
mental. Namun demikian, di negara Eropa timur pelayanan kesehatan
berbasis intitusi (rumah sakit) masih bertahan sebagai bentuk yang dominan
hingga tahun 1990.
Kebijakan yang dikenal sebagai deinstitutionalization, perawatan
komunitas, perawatan terus menerus, perawatan terpadu dan perawatan
berbasis rumah mulai dipromosikan sebagai alternatif atau pengganti
hospitalisasi. Dorongan besar adalah untuk mengakui peran kunci dan
meningkatkan penyediaan perawatan informal dan keluarga di semua
kelompok. Di negara-negara seperti Skandinavia dan Inggris tidak da
pergesaran dari keperawatan intitusional masyarakat berbasis pelayanan
formal dan kemudian untuk lebih menekankan pada perawatan berbasis
keluarga.
Selain itu bentuk-bentuk tradisional home care, rumah sakit, dan
gabungan antara rumah sakit dan home care merupakan bentuk-bentuk yang
lebih baru yang mencerminkan perkembangan teknologi medis. Semua
negara Eropa saat ini menekankan pentingnya menyediakan spektrum
perawatan untuk kelompok rentan, namun makna yang tepat dari ini dan
tantangan kebijakan bervariasi dalam tiap negara sesuai dengan konteks
sejarah. Di banyak negara-negara Eropa selatan, misalnya, home care secara
formal masih belum dikembangkan sepenuhnya, sedangkan beberapa negara
lainnya memiliki sektor sukarela (informal) yang relatif terbelakang.
Berbagai perbedaan tersebut disebabkan sebagian oleh sejarah yang
berbeda, peran tradisional negara dan masyarakat sipil dan harapan yang
berkembang tentang tanggung jawab home care.
b) Profesi dan penyedia layanan Home Care
Mengingat pentingnya home care, tumbuh kekhawatiran akan terjadi
kekurangan perawat dan asisten perawat karena permintaan home care akan
terus meningkat. Dengan tidak adanya rencana yang jelas untuk memperluas
tenaga kerja ini, maka akan terjadi krisis di masa depan.
Imigran dipandang sebagai jawaban yang masuk akal untuk masalah
ini. Ada arus besar pekerja perawatan dari negara yang berpenghasilan
rendah dan menengah untuk negara berpenghasilan tinggi di Eropa,
misalnya dari Slowakia dan Hongaria ke Austria, dari negara-negara Eropa
timur ke Inggris, dan dari Albania ke Italia. Di Italia, misalnya, proporsi
pekerja yang bekerja dalam posisi domestik yang lahir di luar Italia
meningkat dari 20% padatahun 2001 menjadi 83% padatahun 2006. Namun
sebagian besar perawat ini tidak berlisensi dan bekerja di luar pengawasan
badan pengatur, dan kekhawatiran tentang kualitas perawatan telah
demikian besar. Di tingkat lokal, pemerintah mulai menerapka program
yang ditujukan untuk mengatur permintaan untuk pekerja perawatan di
rumah dengan pasokan yang cukup dari perawat dan asisten perawat yang
terlatih. Baik program pelatihan dan akreditasi yang dapat menjamin
perawat dan asiste perawatyang berkualitas.
Kelemahan di negara-negara Eropa Timur yang mengekspor tenaga
kerja, terjadi fenomena migrasi saat trans masional berkontribusi untuk
menguras tenaga kerja aktif muda dan potensial kesenjangan perawatan
untuk generasi yang lebih tua dari negara-negara tersebut.
Pekerja home care lainnya termasuk pekerja sosial dan terapis. Pekerja
sosial dapat mendukung orang yang menerima perawatan dan keluarga
mereka dalam mencari dan memperoleh akses untuk bantuan masyarakat,
mengatasi birokrasi dan masalah keuangan dan mempertimbangkan aspek
sosial yang dapat mempengaruhi rencana perawatan di rumah untuk
pengobatan. Terapis seperti fisik, okupasi, dan bicara mempertimbangkan
kebutuhan terapi, mengembangkan perawatan dan rehabilitasi rencana dan
memiliki pengawasan untuk setiap asisten yang terlibat dalam menyediakan
terapi.
c) Perawatan Informal
Tenaga informal yaitu didefinisikan sebagai tenaga kerja yang terlihat
pada keluarga, teman mitra atau tetangga yang membutuhkan bantuan
karena mereka sakit, lemah, atau memiliki cacat. Tenaga informal ini bisa
anggota keluarga yang sehat, sahabat, tetangga, atau bahkan pembantu
rumah tangga.
Di negara-negara Eropa Selatan, perawatan informal, tetap menjadi
sumber dominan perawatan di rumah. Dengan suakrela, Home Care akan
benar-benar berkelanjutan dan kebutuhan akut akan tetap dijaga. Situasi ini
berbeda di negara-negara Eropa utara dimana perawatan informal adalah
kurang umum, karena kota menyediakan perawat pribadi dan layanan
domestik yang luas dan perawatan informal yang cenderung berfokus pada
persahabatan dan dukungan sosial. Hak yang sama juga berlaku, misalnya di
Skotlandia, di mana kota mendanai perawat pribadi dan menggantikan
beberapa perawatan yang sebelumnya diberikan oleh kerabat dekat.
Penelitian juga menunjukkan di negara-negara Skandinavia lainnya (seperti
Norwegia) bahwa orang tua tidak ingin kerabat dekat mereka yang
memberikan perawatan, tetapi lebih memilih untuk memiliki perawat
pribadi dan pemenuhan kebutuhan dilakukan oleh perawat.
d) Pelayanan Home Care: Desain dan Struktur Organisasi
Hampir semua negara Ui Eropa, home care terletak di persimpangan
antara sistem perawatan kesehatan dan sistem sosial dan mempunyai
kekhasan tersendiri. Secara tradisional, pemisahan antara perawatan
kesehatan dan sistem sosial bergantung pada sifat dari layanan yang
disediakan di rumah (terkait kesehatan atau sosial).
Layanan home care yang sering disediakan oleh sistem perawatan
kesehatan yaitu:
(1) Rehabilitasi, mendukung, mempromosikan kesehatan atau
pencegahan penyakit dan teknis asuhan keperawatan, baik untuk
kondisi kronis dan akut, terapi okupasi dan fisioterapi.
Penerima home care sebagian besar orang tua, orang
dengan penyakit kompleks dan orang dengan penyakit terminal.
(2) Banyak negara seperti Belgia, Perancis, Italia, Portugal, Spanyol,
dan Inggris, memiliki model organisasi dimana "kesehatan" yang
merupakan komponen home care merupakan bagian dari sistem
perawatan kesehatan dan komponen "sosial" adalah bagian dari
sistem sosial. Di negara lain, khususnya Denmark, Finlandia, dan
Swedia, pembuat kebijakan mengakui keuntungan dengan
menyediakan home care dalam satu organisasi di bawah
tanggungjawab satu institusi yaitu pemerintah daerah.
Misalnya, kota-kota di Denmark telah memberikan home care sejak
tahun 1992. Berbeda dengan pemerintah daerah yang berorientasi pada
single-agent solution, Jerman dan Belanda, misalnya memiliki aliran
pendanaan tunggal (berdasarkan asuransi) yang mencakup panti jompo dan
pelayanan sosial. Selain pelaku institusional (rumah sakit), penyedia
sukarela, amal, dan nirlaba, layanan home care memiliki peran yang luas.
e) Kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan pada home care
Aspek penting yang memengaruhi sifat, intensitas, dan struktur
organisasi pelayanan perawatan di rumah adalah:
(1)Definisi kriteria kelayakan untuk layanan home care
(2)Deteksi dini orang yang memenuhi syarat, dan
(3)Ketepatan penilaian kebutuhan
Kriteria kebanyakan untuk home care dapat bervariasi di berbagai
negara. Tidak hanya bervariasi antar negara tetapi dapat juga bervariasi
dalam negara: misalnya, terjadi di Inggris dan Finlandia.
Negara-negara dengan pendanaan dan penilaian pengaturan yang
sangat berbeda, seperti Inggris dan Jerman, memiliki batas yang jelas
terhadap orang yang tidak memenuhi syarat untk melakukan home care
seperti rasio ambang batas permintaan. Individu yang memenuhi syarat
untuk melakukan home care diidentifikasi dalam dalam tahap awal
kebutuhan home care.
Meskipun proses penilaian kebutuhan home care di banyak negara
Eropa tetap terfragmentasi dan hanya didasarkan pada keahlian medis,
namun di beberapa negara lain melalui satu titik penilaian atau penilaian tim
interdisipliner dan/atau badan-badan yang bertanggungjawab untuk
membimbing perawat yang akan melakukan home care melalui berbagai
penyedia layanan.
Penilaian tersebut untuk membantu perawat menghadapi masalah
yang mereka hadapi dengan menargetkan bidang-bidang sebagai berikut: (1)
kualitas informasi, memungkinkan pilihan informasi dalam mendukung
peran perawat, (2) tindakan yang mendukung untuk mencegah dan
mengobati masalah fisik, mental dan emosional, termasuk kemudahan akses
perawatan biasa dan perawatan profesional, serta (3) pendidikan dan
pelatihan keterampilan dan kemampuan dalam mengatasi emosional.
f) Implikasi Kebijakan
(1)Kebijakan home care harus ditargetkan untuk kedua pasien langsung dari
layanan formal dan informal.
(2)Kebijakan harus mengatasi kelangkaan sumber daya untuk perawat dam
asisten perawat yang mungkin akan meringankan bebas tenaga informal
(3)Tenaga kerja asing yang telah mengisi kekosongan perawat di beberapa
negara, secara inisiatif untuk memenuhi syarat tersebut yang diperlukan
untuk pendidikan.
(4)Pemerintah daerah juag harus mengintegrasikan perawat asing ke dalam
jaringan formal meminimalkan partisipasi kerja yang tidak teratur.
(5)Kendala Sumber Daya kemungkinan membentuk proses pengkajian dan
membatasi akses terhadap penyedia jasa home care. Pembatasan ini juga
dapat menghambat penyediaan di tingkat bawah, dukungan perawatan
sebagai bentuk pencegahan kepada orang-orang yang kebutuhannya
belum parah.

b. Home Care di Kanada


Penyediaan home care di Kanada memungkinkan dari segala usia
memiliki kesempatan untuk memulihkan atau mengelola masalah-masalh
kesehatan mereka di rumah yang dikelilingi oleh keluarga, teman, dan
komunitas mereka sehingga mereka dapatterus memberikan kontribusi yang
bermakna. Pelayanan home care membantu orang dengan keterbatasan atau
dengan penyakit akut, kronis, paliatif, atau perawatan kesehatan rehabilitatif
harus hidup mandiri dalam komunitas mereka dan mengkoordinasikan dan
mengelola sebuah fasilitas perawatan ketika hidup di masyarakat bukan
merupakan alternatif.
Jasa dalam home care termasuk perawatan, dukungan personal, terapi
(termasuk fisioterapi, terapi okupasi, nutrisi/dietetik), obat-obatan dan
peralatan di rumah. Home care di Kanada disampaikan oleh lembaga
penyedia layanan yang telah memenuhi standar yang tinggi dan
diidentifikasi melalui proses kompetitif yang ketat dan dikelola melalui
CCACs.

1) Sejarah Home Care di Kanada


Home care yang didanai oleh organisasi publik resmi yang didirikan
di Kanada pada tahun 1970 dan dianggap sebagai bagian yang baru dari
sistem perawatan kesehatan formal. Sejak berdirinya, sistem home care
telah mengalami sejumlah perubahan, dan berkenbang pada program
komprehensif seperti saat ini.
Home care adalah pelayanan yang didanai publik, bukan layanan yang
diasuransikan. Di Kanada, home care yang didanai publik berada di bawah
yurisdiksi Departemen Kesehatan yang bernama Ministry of Health and
Long-Term Care (MOHLTC) dan yang bersifat lokal dikelola oleh
Community Care Access Centres (CCACs) di seluruh provinsi. CCACs
bertanggungjawab terhadap Local Health Integrated Networks (LHINs).
CCACs berfungsi untuk memberikan titik akses layanan yang sederhana dan
bertanggungjawab untuk menentukan kelayakan untuk menjamin
kualitasnya, dengan mengunjungi layanan profesional dan non profesional
yang disediakan di rumah dan di sekolah-sekolah publik yang didanai.
CCACs juga menyediakan informasi dan rujukan kepada masyarakat
tentang pelayanan dan mengotorisasi penerimaan jangka panjang home care.
Proses penilaian standar, RAI-HC3, digunakan oleh manajer kasus
CCAC untuk menentukan kelayakan dan untuk mengevaluasi kebutuhan,
kemampuan dan preferensi paliatif, lama tau tidak individu yang tinggal
dalam masyarakat. Penilaian ini berfungsi untuk membimbing manajer
kasus CCAC dalam alokasi layanan home care/pendanaan dan berfungsi
sebagai dasar untuk data standar untuk menginformasikan evidence-based
perawatan.
Di Kanada, yang memenuhi kriteria kelayakan untuk layanan home
care yang didanai publik, maka dapat menerima layanan perawatan. Pada
tahun 2009/2010, sekitar 603.000 orang menerima 29.419.559
kunjungan/jam perawatan di rumah yang didanai oleh MOHLTC. Sementara
kebanyakan kasus yaitu perawatan lansia (54% pada tahun 2009/2010) dan
berbagai macam situasi yang melibatkan anak-anak (16% dari mereka yang
bertugas di 2009/2010) dan dewasa muda (30% pada tahun 2009/2010),
ketika didukung dengan tepat, memungkinkan individu untuk tetap
terintegrasi di komunitas di mana mereka berasal.
Selain itu, The OHCA memperkirakan bahwa di Kanada terdapat
150.000 swasta dikunjungi sekitar 20 juta kunjungan/jam layanan home care
agar dirawat di rumah. Sering kali perawatan ini dilakukan oleh perawat dan
dibayar oleh rencana asuransi tenaga kerja dan/atau program pemerintah
dan/atau dibayar langsung oleh pasien. Penggunaan jasa home care dapat
melengkapi sistem yang didanai publik yang memungkinkan individu untuk
tetap di rumah dikelilingi oleh keluarga, teman-teman. Pasien menggunakan
layanan home care dan kemudian memungkinkan keluarga untuk
melanjutkan tanggungjawab untuk mengasuh mereka.
Keperawatan komunitas memiliki sejarah panjang di Kanada pada
awal abad 17, ketika perawat dari ordo religius tiba di Quebec untuk
menyediakan perawatan langsuang dan pelayanan pencegahan penyakit.
Sejak saat itu, home care di Kanada telah berkembang dalam menanggapi
perubahan pola penyakit, penuaan penduduk, reformasi sistem kesehatandan
perubahan nilai-nilai sosial.

2) Organisasi Home Care


Sebuah sistem home care yang efisien dan efektif yaitu memanfaatkan
dan mengintegrasikan semua anggota tim untuk mencapai nilau dan untuk
membantu warga Kanada yang ingin menerima perawatan di rumah dan
tetap independen. Memberikan petunjuk layanan home care, termasuk akses
ke manajemen kasus, dokter keluarga, keperawatan, terapi, apoteker
masyarakat dan dukungan pribadi sangat penting untuk mendukung hasil
kesehatan yang lebih baik. Setiap anggota interdisipliner memiliki
organisasi yang unik, pengetahuan, dan ruang lingkup praktek yang harus
dihormati dan untuk memaksimalkan efektivitas mereka untuk perawatan
pasien.
Dalam home care, perawat sebagai anggota penting dari tim
perawatan kesehatan, yang memenuhi banyak tanggung jawab termasuk
peran dari manajemen kasus dan layanan perawatan langsung dengan
menawarkan perawatan dan pengobatan untuk masalah kesehatan, informasi
kesehatan, dan sumber daya untuk mempromosikan perilaku kesehatan yang
positif, dukungan dan konseling; arahkan kepada anggota yang lain dari tim
perawatan kesehatan, dan advokasi.
3) Keperawatan Statistik
Pada tahun 2010 ada 125.844 perawat bekerja di Kanada. Sekitar
93.916 (75%) yang terdaftar sebagai perawat, dan 30.442 (24%) tercatat
perawat praktis serta 1.486 (1%) adalah praktisi perawat dan 18,4% dari
perawat membuka home care.
Dibandingkan dengan tahun 2009, ada kenaikan dalam umlah RNS
dan RPNs di semua sektor pekerjaan, tapi tidak ada perubahan besar dalam
distribusi perawat antar sektor. RNS terus melaporkan jumlah sakit sebagai
sektor terbesar dengan 64,9%, diikuti oleh yang bekerja sebagai perawat
komunitas yaitu 19,0%, dan fasilitas perawatan jangka panjang yaitu 8,1%.
Sedangkan RPNs terus melaporkan rumah sakit sebagai sektor terbesar dari
pekerjaan di 44,0%, diikuti oleh perawatan jangka panjang pada 36,4% dan
di masyarakat ada 14,9%.
4) Permintaan Home Care di Masa Depan
Dengan populasi yang semakin menua dan meningkatnya penekanan
pada perawatan di rumah, paradigma diharapkan bergeser dari rumah sakit
kepada perawatan di rumah. The Nurse Association Canadian memprediksi
bahwa dua pertiga dari perawat di Kanada akan bekerja sebagai home care
pada tahun 2020 dibandingkan dengan 30 persen pada tahun 2006.
Pergeseran meningkatkan perawatan dan pengobatan ke rumah
ditambah dengan kompleksitas yang lebih besar dalam kondisi pasien, akan
menyebabkan peningkatan kebutuhan perawat yang profesional dan terlatih.
Penelitian telah menunjukkan keuntungan intervensi home care dalam hal
penghematan biaya dan kualitas hidup pasien dan keluarga.
Diharapkan bahwa asuhan home care, sebagai komponen dari tim
perawatan di rumah, akan semakin diminati karena sistem kesehatan diubah
dengan berbasis pada keluarga. Bekerja sebagai sebuah tim yang efektif dan
memastikan bahwa hasil yang direalisasikan lebih besar. Dalam home care,
berbagai "konstelasi" penyedia layanan harus didukung untuk bekerja sama
untuk mangatasi masalah prioritas kesehatan di Kanada. Perawat berlatih
mandiri dan sebagai anggota tim, menerapkan keputusan berpikir kritis
tentang esensial perawatan. Perawat berusaha untuk memberikan informasi
yang akurat, informasi yang jelas dan ringkas tentang kondisi pasien ketika
memberikan perawatan.
Perawat secara global diakui sebagai pengikat dari sistem perawatan.
Sebagai anggota tim di home care, perawat home care memberikan
kontribusi bagi keberhasilan sistem kesehatan dan muncul dengan prioritas
klinis (misalnya transfer dari layanan yang lebih kompleks seperti dialisis,
kemoterapi, manajemen nyeri dan perawatan ventilator kronis ke rumah)
sehingga mendukung individu untuk tetap di rumah. Tim home care sangat
penting untuk memastikan penyerapan prioritas sistem yang baru, termasuk:
a) Pengurangan perawatan alternatif, dengan memastikan waktu dalam
pengaturan perawatan akut dan mempercepat pemulihan perawatan di
rumah.
b) Mencegah kegawatdaruratan, dengan memberikan dukungan proaktif untuk
mencegah krisis kesehatan yang terkait dan penerimaan rumah sakit, dan
membuka layanan 24 jam untuk menaggapi kebutuhan yang muncul di
masyarakat.
c) Perawatan paliatif, dengan mendukung rasa sakit dan gejala manajemen dan
memberikan dukungan terhadap anggota keluarga sehingga seseorang dapat
memiliki kematian yang damai di rumah.
d) Pengobatan anak, dengan memungkinkan anak-anak dengan risiko
kesehatan terkait (kesehatan, perkembangan, sosial, atau mental) untuk
memaksimalkan potensi mereka baik di rumah maupun di sekolah.
e) Manajemen penyakit kronis, secara proaktif membantu individu sehingga
mereka secara efektif dapat mengurus rumah sendiri, menghindari
kebutuhan untuk rawat inap, dan menunda hilangnya fungsi dan
kemandirian

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.1990.Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia.


Jakarta:DepkesRI

Dr.M.N Bustan.2000.Epidemiologi Pasien Tidak Menular.Jakarta:PT Rineka Cipta


Mahyuddin.2006.Revitalisasi Kesehatan Daerah Sumsel Melalui Paradigma
Sehat. Sumatra Selatan

Notoatmodjo,Soekidjo.1997.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta: PT Rineka


Cipta

Potter dan Ferry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Vol.1.Jakarta:EGC

Wijayanto, W. T. 2010. Home Care Ala Mitra Medical Service