Anda di halaman 1dari 24

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pneumothoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara bebas


dalam rongga pleura dan merupakan suatu keadaan gawat darurat serta harus
memperoleh pertolongan secepatnya. Adanya udara bebas dalam rongga antar
pleura dapat menyebabkan kolapsnya paru. (1,2,3,4)

2.2 Epidemiologi

Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak


yang tidak diketahui. Namun dari sejumlah penelitian yang pernah
dilakukan menunjukkan bahwa pneumotoraks lebih sering terjadi pada
penderita dewasa yang berumur sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering
daripada wanita, dengan perbandingan 5 : 1. 5

Di Amerika Serikat, insidens pneumotoraks spontan primer pada


laki-laki adalah 7,4 kasus per 100.000 orang tiap tahunnya sementara pada
wanita insidensnya adalah 1,2 kasus per 100.000 orang. Sedangkan insidens
pneumotoraks spontan sekunder pada laki-laki adalah 6,3 kasus per 100.000

18
orang dan wanita 2,0 per 100.000 orang. Pneumotoraks traumatik lebih
sering terjadi daripada pneumotoraks spontan dengan laju yang semakin
meningkat 6.

Pneumotoraks spontan primer terjadi pada usia 20 30 tahun dengan


puncak insidens pada usia awal 20-an sedangkan pneumotoraks spontan
sekunder lebih sering terjadi pada usia 60 65 tahun.

2.3 Etiologi
Menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu 2,3:

1. Pneumotoraks spontan

Yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba. Pneumotoraks


tipe ini dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis, yaitu :

a. Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi secara tiba-


tiba tanpa diketahui sebabnya. Keadaan ini terjadi karena robeknya kantong
udara dekat pleura viseralis. Sering pada usia 20-40, pria > wanita, kadang
ditemukan blep atau bulla dilobus superior. Umumnya terjadi pada dewasa
muda, tidak ada riwayat menderita penyakit paru sebelumnya, tidak
berhubungan dengan aktivitas fisik tetapi justru terjadi pada saat istirahat dan
penyebabnya tidak diketahui, hal ini terjadi karena robeknya kantong udara
dekat pleura viseralis. Penelitian secara patologi membuktikan pada reseksi
jaringan paru tampak satu atau dua ruang yang berisi udara dalam bentuk bleb
atau bulla. Sampai sekarang mekanisme terjadinya pneumothoraks spontan
primer masih belum jelas. Penjelasan yang dapat diterima adalah pneumothoraks
itu sendiri oleh karena rupturnya bleb kecil didaerah apeks paru walaupun
kemungkinan besar bleb tersebut merupakan variabel yang tidak dapat
ditemukan. Bleb kemungkinan mempunyai hubungan dengan dasar dari
emphysema. Mekanisme lainnya adalah terjadi degradasinya jaringan elastis
paru yang diinduksi oleh rokok. Hal ini terjadi karena ketidak seimbangan

19
antara protease anti protese dan sistem oksidan antioksidan. Setelah
terbentuknya bulla yang diikuti oleh inflamasi yang menginduksi terjadinya
obstruksi pada pada saluran nafas kecil dan terjadinya kenaikan tekanan
alveolar yang menyebabkan masuknya udara ke jaringan interstisial paru.
Udara selanjutnya masuk ke hilus, naiknya tekanan dalam ruang mediastinum
yang diikuti oleh rupturnya pleura parietalis mediastinalis menyebabkan
terjadinya pneumothoraks.

b. Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi dengan


didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki sebelumnya,
misalnya fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik kronis (PPOK), kanker
paru-paru, asma, dan infeksi paru. Pneumothoraks spontan sekunder
merupakan bagian dari pneumothoraks yang terjadi karena adanya penyakit
parenkim paru atau saluran pernafasan yang mendasari terjadinya
pneumothoraks. Pneumothoraks ini terjadi karena pecahnya bleb viseralis atau
bulla subpleura yang sering berhubungan dengan penyakit paru yang
mendasarinya dan yang paling sering adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis
(PPOK). Penyakit lainnya adalah kistik fibrosis dimana terjadi ruptur dari
kistik subpleura di apeks paru. Asma bronchial dapat menyebabkan
Pneumotoraks spontan sekunder karena adanya udara yang terperangkap
sehingga tekanan intra alveolar meningkat kemudian terjadi robekan alveoli
yang diikuti dengan mengalirnya udara menyusuri jaringan interstisial sampai
ke pleura viseralis dan mediastinum. Pneumothoraks spontan sekunder terjadi
karena adanya kelemahan pada stuktur parenkim paru.

2. Pneumotoraks traumatik

Yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat adanya suatu trauma, baik


trauma penetrasi maupun bukan yang menyebabkan robeknya pleura,
dinding dada maupun paru. Pneumotoraks tipe ini juga dapat
diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis, yaitu :

20
a. Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi
karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada, barotrauma.

b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat


komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis inipun masih dibedakan
menjadi dua, yaitu :

- Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental

Adalah suatu pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena


kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya pada parasentesis
dada, biopsi pleura.

- Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)

Adalah suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara


mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya tindakan ini dilakukan
untuk tujuan pengobatan, misalnya pada pengobatan tuberkulosis sebelum
era antibiotik, maupun untuk menilai permukaan paru.

2.4 Klasifikasi
Berdasarkan jenis fistulanya, maka pneumotoraks dapat diklasifikasikan ke
dalam tiga jenis, yaitu :

1. Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax)

Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka
pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar.
Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat
laun berubah menjadi negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya.
Pada kondisi tersebut paru belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih
ada rongga pleura, meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif.

21
Pada waktu terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap
negatif.

2. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax),

Yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara rongga pleura


dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka
terbuka pada dada). Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan
tekanan udara luar. Pada pneumotoraks terbuka tekanan intrapleura sekitar
nol. Perubahan tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang
disebabkan oleh gerakan pernapasan.

Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu ekspirasi
tekanan menjadi positif . Selain itu, pada saat inspirasi mediastinum dalam
keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi
dinding dada yang terluka (sucking wound) .

3. Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax)

Adalah pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan


makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang
bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus
serta percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel
yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat
keluar 3. Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi
dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura
ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.

Sedangkan menurut luasnya paru yang mengalami kolaps, maka


pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

1. Pneumotoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan pada sebagian


kecil paru (< 50% volume paru).

22
2. Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian besar
paru (> 50% volume paru).

2.5 Patogenesis

Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Di antara


pleura parietalis danvisceralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi
sedikit cairan serous jaringan.Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negatif.
Tekanan negatif pada intrapleura membantu dalam proses respirasi. Proses
respirasi terdiri dari 2 tahap : fase inspirasi dan fase eksprasi. Padafase inspirasi
tekanan intrapleura : -9 s/d -12 cmH2O; sedangkan pada fase ekspirasi
tekananintrapleura: -3 s/d -6 cmH2O. Pneumotorak adalah adanya udara pada
cavum pleura. Adanya udara pada cavum pleura menyebabkan tekanan negatif
pada intrapleura tidak terbentuk. Sehingga akan mengganggu pada proses
respirasi.

Secara garis besar ke semua jenis pneumotorak mempunyai dasar


patofisiologi yang hampir sama.

Pneumotorak spontan, closed pneumotorak, simple pneumotorak, tension


pneumotorak, dan open pneumotorak. Pneumotorak spontan terjadi karena
lemahnya dinding alveolus dan pleura visceralis. Apabila dinding alveolus dan
pleura viceralis yang lemah ini pecah, maka akan ada fistel yang menyebabkan
udara masuk ke dalam cavum pleura. Mekanismenya pada saat inspirasi rongga
dada mengembang, disertai pengembangan cavum pleura yang kemudian
menyebabkan paru dipaksa ikut mengembang, seperti balon yang dihisap.
Pengembangan paru menyebabkan tekanan intraalveolar menjadi negatif sehingga
udara luar masuk. Pada pneumotorak spontan,paru-paru kolpas, udara inspirasi ini
bocor masuk ke cavum pleura sehingga tekanan intrapleura tidak negatif. Pada
saat inspirasi akan terjadi hiperekspansi cavum pleura akibatnya menekan
mediastinal ke sisi yang sehat. Pada saat ekspirasi mediastinal kembali lagi ke
posisi semula.Proses yang terjadi ini dikenal dengan mediastinal flutter.

23
Pneumotorak ini terjadi biasanya pada satu sisi, sehingga respirasi paru
sisi sebaliknya masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja dengan
sempurna.

Terjadinya hiperekspansi cavum pleura tanpa disertai gejala pre-shock atau


shock dikenal dengan simple pneumotorak. Berkumpulnya udara pada cavum
pleura dengan tidak adanya hubungan dengan lingkungan luar dikenal dengan
closed pneumotorak. Pada saat ekspirasi, udara juga tidak dipompakan balik
secara maksimal karena elastic recoil dari kerja alveoli tidak bekerja sempurna.
Akibatnya bilamana proses ini semakin berlanjut, hiperekspansi cavum pleura
pada saat inspirasi menekan mediastinal ke sisi yang sehat dan saat ekspirasi
udara terjebak pada paru dan cavum pleura karena luka yang bersifat katup
tertutup terjadilah penekanan vena cava,shunting udara ke paru yang sehat, dan
obstruksi jalan napas. Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock atau shock oleh
karena penekanan vena cava. Kejadian ini dikenal dengan tension
pneumotorak(5.6).

Pada open pneumotorak terdapat hubungan antara cavum pleura dengan


lingkunga luar. Open pneumotorak dikarenakan trauma penetrasi. Perlukaan dapat
inkomplit (sebatas pleura parietalis)atau komplit (pleura parietalis dan visceralis).
Bilamana terjadi open pneumotorak inkomplit pada saat inspirasi udara luar akan
masuk ke dalam cavum pleura. Akibatnya paru tidak dapat mengembang karena
tekanan intrapleura tidak negatif. Efeknya akan terjadi hiperekspansi cavumpleura
yang menekan mediastinal ke sisi paru yang sehat. Saat ekspirasi mediastinal
bergeser kemediastinal yang sehat. Terjadilah mediastinal flutter. Bilamana open
pneumotorak komplit maka saat inspirasi dapat terjadi hiperekspansi cavum
pleura mendesak mediastinal ke sisi paru yang sehat dan saat ekspirasi udara
terjebak pada cavum pleura dan paru karena luka yang bersifat katup tertutup.
Selanjutnya terjadilah penekanan vena cava,shunting udara ke paru yang sehat,
dan obstruksi jalan napas. Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock atau shock
oleh karena penekanan vena cava. Kejadian inidikenal dengan tension
pneumotorak.

2.6 Gejala klinis

24
Berdasarkan anamnesis, gejala dan keluhan yang sering muncul adalah 3 :

1. Sesak napas, didapatkan pada hampir 80-100% pasien. Seringkali sesak


dirasakan mendadak dan makin lama makin berat. Penderita bernapas
tersengal, pendek-pendek, dengan mulut terbuka.

2. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dirasakan tajam
pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerak
pernapasan.

3. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien.

4. Denyut jantung meningkat.

5. Kulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen darah yang kurang.

6. Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10% pasien,


biasanya pada jenis pneumotoraks spontan primer.

Berat ringannya keadaan penderita tergantung pada tipe pneumotoraks


tersebut :

1. Pneumotoraks tertutup atau terbuka, sering tidak berat

2. Pneumotoraks ventil dengan tekanan positif tinggi, sering dirasakan lebih


berat

3. Berat ringannya pneumotoraks tergantung juga pada keadaan paru yang lain
serta ada tidaknya jalan napas.

4. Nadi cepat dan pengisian masih cukup baik bila sesak masih ringan, tetapi
bila penderita mengalami sesak napas berat, nadi menjadi cepat dan kecil
disebabkan pengisian yang kurang.

25
2.7 Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik torak didapatkan 2,3:

1. Inspeksi :

- Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper ekspansi


dinding dada)

- Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal

- Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat

2. Palpasi :

- Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar

- Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat

- Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit

3. Perkusi :

- Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak
menggetar

- Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat, apabila tekanan


intrapleura tinggi

4. Auskultasi :

- Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai menghilang

- Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negative.

2.8 Pemeriksaan Penunjang

1) Foto Thoraks

26
Untuk mendiagnosis pneumotoraks pada foto thoraks dapat ditegakkan
dengan melihat tanda-tanda sebagai berikut :

- Adanya gambaran hiperlusen avaskular pada hemitoraks yang mengalami


pneumotoraks. Hiperlusen avaskular menunjukkan paru yang mengalami
pneumothoraks dengan paru yang kolaps memberikan gambaran
radiopak. Bagian paru yang kolaps dan yang mengalami pneumotoraks
dipisahkan oleh batas paru kolaps berupa garis radioopak tipis yang
berasal dari pleura visceralis, yang biasa dikenal sebagai pleural white
line.

- Untuk mendeteksi pneumotoraks pada foto dada posisi supine orang


dewasa maka tanda yang dicari adalah adanya deep sulcus sign.
Normalnya, sudut kostofrenikus berbentuk lancip dan rongga pleura
menembus lebih jauh ke bawah hingga daerah lateral dari hepar dan
lien. Jika terdapat udara pada rongga pleura, maka sudut
kostofrenikus menjadi lebih dalam daripada biasanya. Selain deep
sulcus sign terdapat tanda lain pneumotoraks berupa tepi jantung
yang terlihat lebih tajam. Keadaan ini biasanya terjadi pada posisi
supine di mana udara berkumpul di daerah anterior tubuh utamanya
daerah medial.7

27
Deep sulcus sign (kiri) dan tension pneumotoraks kiri disertai deviasi
mediastinum kanan dan deep sulcus sign (kanan).

- Jika pneumotoraks luas maka akan menekan jaringan paru ke arah


hilus atau paru menjadi kolaps di daerah hilus dan mendorong
mediastinum ke arah kontralateral. Jika pneumotoraks semakin
memberat, akan mendorong jantung yang dapat menyebabkan gagal
sirkulasi. Jika keadaan ini terlambat ditangani akan menyebabkan
kematian pada penderita pneumotoraks tersebut. Selain itu, sela iga
menjadi lebih lebar.8

Pneumotoraks kanan (kiri) dan tension pneumotoraks (kanan).

28
Besarnya kolaps paru bergantung pada banyaknya udara yang dapat
masuk ke dalam rongga pleura.Pada pasien dengan adhesif pleura (menempelnya
pleura parietalis dan pleura viseralis) akibat adanya reaksi inflamasi sebelumnya
maka kolaps paru komplit tidak dapat terjadi. Hal yang sama juga terjadi pada
pasien dengan penyakit paru difus di mana paru menjadi kaku sehingga tidak
memungkinkan kolaps paru komplit. Pada kedua pasien ini perlu diwaspadai
terjadinya loculated pneumothorax atau encysted pneumothorax. Keadaan ini
terjadi karena udara tidak dapat bergerak bebas akibat adanya adhesif pleura.
Tanda terjadinya loculated pneumothorax adalah adanya daerah hiperlusen di
daerah tepi paru yang berbentuk seperti cangkang telur.

Foto dada pada pasien pneumotoraks sebaiknya diambil dalam posisi


tegak sebab sulitnya mengidentifikasi pneumotoraks dalam posisi supinasi.
Selain itu, foto dada juga diambil dalam keadaan ekspirasi penuh.

29
Pneumotoraks kanan yang berukuran kecil dalam keadaan inspirasi (kiri) dan
dalam keadaan ekspirasi (kanan).

Ekspirasi penuh menyebabkan volume paru berkurang dan relatif menjadi


lebih padat sementara udara dalam rongga pleura tetap konstan sehingga lebih
mudah untuk mendeteksi adanya pneumotoraks utamanya yang berukuran lebih
kecil. Perlu diingat, pneumotoraks yang terdeteksi pada keadaan ekspirasi penuh
akan terlihat lebih besar daripada ukuran sebenarnya.9

Pneumotoraks yang berukuran sangat kecil dapat dideteksi dengan foto


lateral dekubitus. Pada posisi ini, udara yang mengambil tempat tertinggi pada
hemitoraks (di daerah dinding lateral) akan lebih mudah terlihat dibandingkan
pada posisi tegak.

Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan ini:

- Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi


jantung mulai dari basis sampai ke apeks.

- Emfisema Subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam di


bawah kulit.

30
- Bila ada cairan di dalam rongga pleura, maka akan tampak
permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma; yang
biasa ditemui pada kasus Hidropneumotoraks.

2) Analisis gas darah arteri


dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada kebanyakan
pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang
berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.
3) CT-scan thorax, CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan
antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara
dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara
pneumotoraks spontan primer dan sekunder.

3.9 Penatalaksanaan

Primary Survey
Airway
Assessment :
perhatikan patensi airway
dengar suara napas
perhatikan adanya retraksi otot pernapasan dan gerakan dinding dada
Management :
inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan jaw
thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas
Observasi dan Pemberian O2

Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura telah


menutup, maka udara yang berada didalam rongga pleura tersebut akan diresorbsi.
(2)
Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan tambahan O2 .
Observasi dilakukan dalam beberapa hari dengan foto toraks serial tiap 12-24 jam
pertama selama 2 hari. Tindakan ini terutama ditujukan untuk pneumotoraks
tertutup dan terbuka (8).
re-posisi kepala, pasang collar-neck

31
lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi.
Breathing
Assesment

Periksa frekwensi napas


Perhatikan gerakan respirasi
Palpasi toraks
Auskultasi dan dengarkan bunyi napas

Management:

Lakukan bantuan ventilasi bila perlu


Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension pneumotoraks,
open pneumotoraks, hemotoraks, flail chest
Circulation

Assesment

Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi


Periksa tekanan darah
Pemeriksaan pulse oxymetri
Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis)

Management

Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines


Torakotomi emergency bila diperlukan
Operasi Eksplorasi vaskular emergency

Tindakan Bedah Emergency

32
1. Krikotiroidotomi
2. Trakheostomi
3. Tube Torakostomi
4. Torakotomi
5. Eksplorasi vascular

1) Penatalaksanaan Pneumothoraks (Spesifik)


a) Pneumotoraks Simpel
Adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks
yang progresif.
Ciri:
Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total)
Tidak ada mediastinal shift
PF: bunyi napas , hyperresonance (perkusi), pengembangan dada

Penatalaksanaan: WSD
b) Pneumotoraks Tension
Adalah pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang
semakin lama semakin bertambah (progresif). Pada pneumotoraks tension
ditemukan mekanisme ventil (udara dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak
dapat keluar).
Ciri:
Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi :
kolaps total paru, mediastinal shift (pendorongan mediastinum ke
kontralateral), deviasi trakhea , venous return hipotensi &
respiratory distress berat.
Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan cepat,
takipneu, hipotensi, JVP , asimetris statis & dinamis
Merupakan keadaan life-threatening tdk perlu Ro

33
Penatalaksanaan:
1. Dekompresi segera: large-bore needle insertion (sela iga II, linea mid-
klavikula)
2. WSD

c) Open Pneumothorax
Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga udara dapat
keluar dan masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan
sama dengan tekanan udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound . Terjadi
kolaps total paru.
Penatalaksanaan:
1. Luka tidak boleh ditutup rapat (dapat menciptakan mekanisme ventil)
2. Pasang WSD dahulu baru tutup luka
3. Singkirkan adanya perlukaan/laserasi pada paru-paru atau organ intra
toraks lain.
4. Umumnya disertai dengan perdarahan (hematotoraks)
Penatalaksanaan WSD

Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan
water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga
pleura).

Tujuan:
Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk
mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut
Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya
terisi sedikit cairan pleura / lubrican.

Indikasi Pemasangan WSD:


Hemotoraks, efusi pleura
Pneumotoraks ( > 25 % )

34
Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk
Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator
Kontra Indikasi Pemasangan :
Infeksi pada tempat pemasangan
Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol (6,7,9)

Tindakan Dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus pneumotoraks yang
luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan
intra pleura dengan membuat hubungan antara rongga pleura dengan udara luar
dengan cara :
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga pleura,
dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah
menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum tersebut (2,8).
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
Dapat memakai infus set Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke
dalam rongga pleura, kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal
saringan tetesan dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem penyumbat
dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang
berada di dalam botol (8).
1. Jarum abbocath
Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan jarum dan
kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi yang tetap di dinding toraks
sampai menembus ke rongga pleura, jarum dicabut dan kanula tetap
ditinggal. Kanula ini kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infus set.
Pipa infuse ini selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah
klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari
ujung infuse set yang berada di dalam botol (8).
2. Pipa water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (toraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan
perantaraan troakar atau dengan bantuan klem penjepit. Pemasukan troakar
dapat dilakukan melalui celah yang telah dibuatdengan bantuan insisi kulit

35
di sela iga ke-4 pada lineamid aksilaris atau pada linea aksilaris posterior.
Selainitu dapat pula melalui sela iga ke-2 di garis midklavikula. Setelah
troakar masuk, maka toraks kateter segera dimasukkan ke rongga pleura
dan kemudian troakar dicabut, sehingga hanya kateter toraks yang masih
tertinggal di rongga pleura. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di
dada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya. Posisi
ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah
permukaan air supaya gelembung udaradapat dengan mudah keluar
(5,8)
melalui perbedaan tekanan tersebut . Penghisapan dilakukan terus-
menerus apabila tekanan intrapleura tetap positif. Penghisapan ini
dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O,
dengan tujuan agar paru cepat mengembang. Apabila paru telah
mengembang maksimal dan tekanan intra pleura sudah negative kembali,
maka sebelum dicabut dapat dilakukuan ujicoba terlebih dahulu dengan
cara pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila tekanan dalam
rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa belum bias dicabut.
Pencabutan WSD dilakukan pada saat pasien dalam keadaan ekspirasi
maksimal (2).

36
Pengobatan Tambahan

1. Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan ditujukan


terhadap penyebabnya. Misalnya : terhadap proses TB paru diberi OAT,
terhadap bronkhitis dengan obstruksi saluran napas diberi antibiotik dan
bronkodilator.

2. Istirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat .

3. Pemberian antibiotik profilaksis setelah setelah tindakan bedah dapat


dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi komplikasi, seperti emfisema.

2.10 Komplikasi

1. Infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan pleuritis, empiema,


hidropneumotoraks.
2. Gangguan hemodinamika.
3. Pada pneumotoraks yang hebat, seluruh mediastinum dan jantung dapat
tergeser ke arah yang sehat dan mengakibatkan penurunan kardiak " output "
, sehingga dengan demikian dapat menimbulkan syok kardiogenik.
4. Emfisema; dapat berupa emfisema kutis atau emfisema mediastinalis.

2.11 Prognosis

Pasien dengan pneumotoraks spontan hampir separuhnya akan


mengalami kekambuhan, setelah sembuh dari observasi maupun setelah
pemasangan tube thoracostomy. Kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien
pneumotoraks yang dilakukan torakotomi terbuka. Pasien-pasien yang
penatalaksanaannya cukup baik, umumnya tidak dijumpai komplikasi. Pasien
pneumotoraks spontan sekunder tergantung penyakit paru yang mendasarinya,
misalkan pada pasien PPOK harus lebih berhati-hati karena sangat berbahaya.

37
BAB 3

ANALISIS MASALAH

Dilaporkan seorang pasien Tn.G 23 tahun datang ke IGD RS. TK. IV.
Dr. Bratanata dengan keluhan sesak nafas hal ini terjadi sesaat setelah
terjatuh dari sepeda motor, pasien terjatuh dengan posisi dada dan perut
terhempas tiang listrik, nyeri pada bagian dada kiri, nyeri makin terasa saat
menarik nafas dalam, Ditemukan jejas pada daerah dada kiri atas, tengah
dan kanan atas, dijumpai pula jejas pada perut os. Pneumothoraks adalah
suatu keadaan dimana terdapat udara bebas dalam rongga pleura, adanya
udara bebas dalam rongga antar pleura dapat menyebabkan kolapsnya paru.
Berdasarkan penyebabnya pneumotoraks yang terjadi pada pasien ini adalah
pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi
karena suatu trauma jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada,
barotrauma. Keluhan pneumotoraks yang sering muncul adalah sesak napas,
didapatkan pada hampir 80-100% pasien. Seringkali sesak dirasakan
mendadak dan makin lama makin berat. Penderita bernapas tersengal,
pendek-pendek, dengan mulut terbuka, nyeri dada yang didapatkan pada 75-
90% pasien. Nyeri dirasakan tajam pada sisi yang sakit, terasa berat,
tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerak pernapasan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan terdapat jejas pada dada bagian


tengah, dada kiri atas dan kanan atas, pergerakkan dinding dada kiri
tertinggal, pernafasan cepat dan dangkal, perkusi paru kiri hipersonor, Suara
nafas kiri menurun, pada ekstremitas tampak perubahan bentuk pada
antebrachii sinistra, krepitasi (+), sulit digerakan, terdapat vunus
ekskoriatum diberbagai tempat pada ekstremitas.

38
Pada pemeriksaan penunjang foto thoraks didapatkan gambaran
radiolusen pada paru kiri dengan kolapsnya paru kiri dan terdapatnya fraktur
klavikula kiri, kesan pneumothoraks sinistra. Bagian pneumotoraks akan
tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan
tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, akan
tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru. Paru yang mengalami
kolaps hanya tampak seperti massa radio opaque yang berada di daerah hilus.
Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru
tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.

Diagnosis Pneumothorax sinistra + fraktur klavikula + fraktur


antebrachii sinistra di tegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.

Tindakan pada pasien ini dilakukan pemasangan WSD sebagai


penatalaksaan nya, sesuai dengan jenis pneumothorak pada pasien ini simple
pneumothorak dengan kolap paru parsial tanpa pergesaran mediastinal shift,
bunyi nafas melemah tindakan yang dilakukan adalah pemasangan WSD, dan
dilakukan nya evaluasi dengan melakukan serial foto rontgen thoraks dan
menilai selang WSD pada saat perawatan, pasien mengalami perbaikan
kondisi. Simple pneumothorak atau pneumothorak tertutup merupakan tipe
pneumotorak dengan pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka
pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. Water
Seal Drainage (WSD) adalah suatu sistem drainage yang menggunakan water
seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura dengan tujuan
mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk
mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut, dalam keadaan normal
rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura /
lubrican.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.


Jakarta : EGC; 1997. p. 598.
2. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,
Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1063.
3. Prabowo, A.Y.(2010, Desember 20). Water Seal Drainage Pada
Pneumothorax Post Trauma Dinding Thorax. Bagian Ilmu Penykit Dalam.
RSUD Panembahan Senopati Bantul; 2010. Diakses 19 Oktober 2016.
http://www.fkumycase.net/.
4. Anonim, Medicastore. Kolaps Paru-Paru (Pneumothorax). Diakses 22
Oktober 2016. http://www.medicastore.com
5. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Updated:
2010 May 27; cited 2016 October 22. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/827551.
6. Srillian, Vera (2011). Pneumothorax. Diakses 22 Oktober 2016.
http://ad.z5x.net/...,http://scribd.com/doc/48405598/pneumotorax,
7. Fajrin (2008, Agustus 23), Pneumothorax. Diakses 22 Oktober 2016 dari
The Power of Muslim Doctors :
http://dokterkharisma.blogspot.com/2008/08/pneumothorax.html Alsagaff,

40
Hood. Mukty, H. Abdul. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :
Airlangga University Press; 2009. p. 162-179.
8. Anonim, Nefrology Ners (2010 November 3), Pneumothorax, Diakses 22
Oktober 2016 dari Perhimpunan Perawat Ginjal Intensif Indonesia :
http://nefrologyners.wordpress.com/2010/11/03/pneumothorax-2/
9. Fahmi (2010, Februari 02). Kolaps Paru-Paru (Pneumothorax), Diakses 21
Oktober 2016 Universitas Negeri Malang :
http://forum.um.ac.id/...7ed4eed11a474&topic=9843.msg9932#msg9932
10. Malueka, Rusdy, Ghazali. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta : Pustaka
Cendekia Press; 2007. p. 56.

41

Anda mungkin juga menyukai