Anda di halaman 1dari 3

Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas membuat informasi dalam laporan

keuangan yang berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan bernilai ekonomis.
Karakteristik kualitatif keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia melalui PSAK
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No 1 (2007:7) adalah:
a.Dapat dipahami
b.Relevan
c.Keandalan
d.Dapat dibandingkan

PSAK yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia merupakan sumber rujukan akuntansi
yang berlaku di Indonesia. Sehingga kebenaran dan presisi penafsirannya bisa dipastikan.
Adapun penjelasan dari kutipan diatas adalah:

A. Dapat dipahami Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh para pemakai. Dalam hal ini, pemakai
diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktifitas ekonomi dan bisnis,
akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketentuan yang wajar. Namun
demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukan dalam laporan keuangan tidak dapat
dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu untuk dapat
dipahami oleh pemakai tertentu.

B. Relevan Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai
dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan apabila informasi
tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, atau mengoreksi hasil evaluasi
mereka dimasa lalu.

C. Keandalan Agar bermanfaat, informasi juga harus andal. Informasi memiliki kualitas andal
jika bebas dari pengertian menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari yang seharusnya disajikan, atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan. Selain itu informasi harus diarahkan pada kebutuhan pemakai, dan
tidak bergantung pada kebutuhan atau keinginan pihak tertentu. Dalam hal menghadapi
ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu, maka ketidakpastian tersebut diakui dengan
mengungkapkan hakikat dan tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat. Agar dapat
diandalkan, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialistis dan biaya (kelengkapan). Kesenjangan untuk tidak mengungkapkan dapat
mengakibatkan informasi menjadi tidak benar dan menyesatkan.

D. Dapat dibandingkan Pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan


keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi keuangan.
Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, serta perusahaan posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu,
pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus
dilakukan secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antara periode yang sama, dan untuk
perusahaan yang berbeda.
Pada umumnya, perbedaan antara saldo kas menurut catatan perusahaan dan catatan bank
disebabkan oleh 2 (dua) faktor, yaitu: perbedaan waktu pengakuan dan kesalahan mencatat.

A. Perbedaan Waktu Pengakuan

Adanya setoran dalam perjalanan (deposit intransit), yaitu setoran yang dilakukan oleh
perusahaan, tetapi pihak bank belum menerima, atau belum mengkredit rekening
perusahaan. Akibatnya, saldo kas menurut bank terlalu rendah dibanding saldo kas yang
benar.

Cek yang belum diuangkan (outstanding check), yaitu cek yang dikeluarkan oleh
perusahaan sebagai tanda pembayaran kepada pihak lain, tetapi pihak penerima belum
menguangkan cek tersebut ke bank. Akibatnya bank belum mengetahui adanya
pengeluaran oleh perusahaan, sedang perusahaan sudah mencatat adanya pengeluaran.
Akibatnya saldo kas menurut bank terlalu besar dibandingkan dengan saldo kas yang
benar.

Tagihan piutang perusahaan yang dilakukan oleh bank (bank collections) tetapi pihak
perusahaan belum menerima memo kredit dari bank. Akibatnya saldo kas menurut
perusahaan terlalu rendah dibanding saldo kas yang benar.

Biaya bank (bank charge)yang telah didebitkan ke rekening perusahaan di bank, tetapi
perusahaan belum menerima surat pemberitahuan dari bank. Akibatnya, saldo kas
menurut perusahaan terlalu besar dibanding saldo kas yang benar.

Adanya cek kosong atau dana kurang, yaitu cek yang diterima oleh perusahaan dari
langganannya sebagai penerimaan kas, tetapi setelah disetorkan ke bank ternyata cek
tersebut tidak ada dananya atau kurang. Karena perusahaan telah mencatat cek tersebut
sebagai penerimaan, saldo kas menurut perusahaan terlalu besar dibanding saldo kas yang
benar.

B. Kesalahan Pencatatan oleh Bank atau oleh Perusahaan


Kesalahan pencatatan yang terjadi pada bank atau pada perusahaan. Akibat yang terjadi karena
kesalahan ini berbeda-beda tergantung pada jenis kesalahan yang ada.

Format Rekonsiliasi Bank


Format rekonsiliasi bank dipengaruhi oleh tujuan rekonsiliasi dilaksanakan. Berdasarkan tujuan
rekonsiliasi, ada dua bentuk rekonsiliasi bank, yaitu:

a. Rekonsiliasi saldo bank dan saldo perusahaan untuk mendapatkan saldo yang harus
dilaporkan. Bentuk ini terdiri atas dua seksi, yaitu:
1. seksi saldo per laporan bank
2. seksi saldo per buku.
Rekonsiliasi ini dapat dimulai dengan melakukan rekonsiliasi saldo menurut bank beserta faktor-
faktor yang mempengaruhinya, kemudian diikuti dengan saldo menurut perusahaan atau
sebaliknya.

b. Rekonsiliasi saldo bank ke saldo perusahaan atau sebaliknya. Rekonsiliasi ini disiapkan untuk
mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut.

1. Definisi Aset Tidak Berwujud


Berdasarkan PSAK 19 paragraf 8 (revisi 2009) aset tidak berwujud adalah aset non-
moneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik.
Aset ini dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau
jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Aset tetap tidak berwujud
diakui jika dan hanya jika:
a. Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depa dari aktiva
tersebut, dan
b. Biaya perolehan aset tersebut dapat dikur secara andal.

2. Karakteristik Aset Tidak Berwujud


Aset tidak berwujud memiliki tiga karakteristik utama, yaitu[1]:
a. Kurang memiliki eksistensi fisik
Aset tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege yang diberikan
kepada perusahaan yang menggunakannya.
b. Bukan merupakan instrumen keuangan
Aset tidak berwujud merupakan instrumen keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak (klaim)
untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
c. Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi
Aset tidak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun-tahun. Investasi dalam aset ini
biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodik.