Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) PADA SISWA
KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 5 MAKASSAR

OLEH:
ANDI MULYADIN
201101630

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


PENDIDIKAN PROFESI GURU SM-3T
LPTK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2013

I. Judul
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI
PENERAPAN MODEL STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) PADA
SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 5 MAKASSAR
II. Pendahuluan
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan
sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh
karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan nasional. Dalam konteks pembaruan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu
disoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektivitas metode
pembelajaran. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil
pendidikan. Secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif
di kelas yang lebih dapat memberdayakan potensi siswa.
Salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan mutu pendidikan
adalah komponen guru dengan segala kinerjanya. Guru memegang peranan penting dalam suatu
proses pembelajaran termasuk dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum (Mulyasa,
2006). Proses pembelajaran sebagai suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap siswa berkaitan langsung dengan aktivitas guru. Sebagai suatu sistem
kegiatan, proses pembelajaran melibatkan guru mulai dari pemilihan dan pengurutan materi
pembelajaran, penerapan dan penggunaan metode pembelajaran, penyampaian materi
pembelajaran, pembimbingan belajar, sampai pada kegiatan pengevaluasian hasil belajar.
Berkaitan dengan peran tersebut, suatu proses pembelajaran akan berlangsung secara baik jika
dilaksanakan oleh guru yang memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang
memadai. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan diupayakan melalui peningkatan mutu
guru. Selengkap apa pun prasarana dan sarana pendidikan, tanpa didukung oleh mutu guru yang
memadai, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan
mutu pendidikan di suatu sekolah.
Terdapat berbagai macam alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh
guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satu strategi yang bisa
dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Model
pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di
kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang
akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, dan pengololaan kelas. Model pembelajaran dapat didefenisikan sebagai kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran di bedakan menjadi model pembelajaran
langsung, pembelajaran kooperatif dan pembelajaran berbasis masalah (Suprijono 2009: 46).
Hasil pengamatan peneliti di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 5 Makassarmenunjukkan
bahwa proses pembelajaran di kelas selama ini yang terjadi cenderung menggunakan komunikasi
satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, sehingga siswa menjadi kurang
terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti berbagi gagasan dan pengalaman, bertanggung
jawab terhadap tugas, kemauan menerima pendapat yang lebih baik, bertanya, dan
mendatangkan ahli ke kelas, atau yang lebih buruknya adalah hasil belajar mereka yang
mereduksi.
Akibat dari ketidaktepatan penggunaan Strategi pembelajaran tersebut menyebabkan
rendahnya kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep materi pelajaran, Oleh
karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan keterampilan kooperatif dan hasil belajar siswa
baik secara individual maupun klasikal. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division (STAD). Model
pembelajaran ini mempunyai gagasan agar siswa tergerak untuk saling mendukung dan
membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Tipe STAD
ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut, yaitu persiapan materi, presentasi kelas,
pembagian tim, mengerjakan kuis individual, pemberian skor kemajuan individual, dan rekognisi
tim.

III. Perumusan dan pemecahan masalah


a. Rumusan masalah
Berdasarkan Latar Belakang di atas maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement
Divisions (Stad) dalam meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Sejarah siswa kelas XI IPS
1 SMA Negeri 5 Makassar?
2. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar Mata Pelajaran Sejarah pada siswa kelas XI IPS 1 SMA
Negeri 5 Makassar melalui pembelajaran kooperatif tipestudent teams-achievement division?
b. Bentuk Tindakan
Dalam hal pemecahan masalah sesuai dengan latar belakang di atas maka bentuk
tindakan yang dilakukan yang diambil oleh peneliti adalah dengan menerapkan model
pembelajaran kooeperatif dengan tipe Student Teams-Achievement Divisions (Stad) dalam
proses belajar mengajar di kelas dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI
IPS 1 SMA Negeri 5 Makassar pada mata pelajaran sejarah

IV. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement
Divisions (Stad) dalam meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Sejarah siswa kelas XI IPS
1 SMA Negeri 5 Makassar?
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Mata Pelajaran Sejarah pada siswa kelas XI IPS
1 SMA Negeri 5 Makassar melalui pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement
division?

V. Manfaat
Manfaat Penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut;
a. Manfaat Teorits, penilitian ini bermanfaat untuk pengembangan metode pembelajaran
Kooperatif tipe student teams-achievement division, serta hasil penelitian ini diharapkan mampu
memberikan input pemikiran-pemikiran baru terhadap proses pembelajaran yang efektif.
b. Manfaat Praktis, manfaat secara praktisnya adalah sebagai berikut;
1) Siswa: meningkatkan keterampilan kooperatf dan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Sejarah. Diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih
mengembangkan kecerdasannya. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat
menciptakan konsep kerja sama dan menumbuhkan kecintaan siswa untuk belajar.
2) Guru: penelitian ini memberikan upaya solusi bagi guru dalam kegiatan penelitian tindakan
kelas dalam rangka meningkatkan keterampilan kooperatif dan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Sejarah.
3) Sekolah: meningkatkan hasil belajar a juga akan meningkatkan citra sekolah di mata masyarakat
dan profesionalisme guru
4) Pembaca: menambah pengetahuan dan dapat sebagai bahan perbandingan untuk mengadakan
penelitian lebih lanjut mengenai penerapan pembelajaran Kooperatif tipe student teams-
achievement division
5) Penulis: Pengalaman yang berharga untuk melaksankan tugas di masa yang akan datang.

VI. Kajian Pustaka

a. Deskripsi singkat kajian pustaka


1. Pembelajaran kooperatif (Cooperatif learning)
Ada beberapa istilah untuk menyebut pembelajaran berbasis sosial yaitu pembelajaran
kooperatif (cooperative learning) dan pembelajaran kolaboratif. Panitz membedakan kedua hal
tersebut. Pembelajaran kolaboratiof didefenisikan sebagai falsafah mengenai tanggung jawab
pribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik bertanggung jawab atas belajar mereka
sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak
mengarahkan kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentik
assesment oleh sesama peserta didik digunakan untuk melihat hasil prosesnya. Sedangkan
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum
pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan
pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk
membantu peserta didik menyelesaikanb masalah yang dimaksud. Guru biasaya menetapkan
bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. (Suprijono 2009: 54)
Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang
memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-
tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara
berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok
karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif
sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat
interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi, 2002:14).
Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian,
tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif,
mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas
kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk
sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama,
saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar
yang efektif, siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir, serta
mampu membangun hubungan interpersonal.
Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi
pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Hubungan kerja seperti itu
memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk
mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari
anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok. Untuk mencapai hasil yang
maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu: saling
ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota,
evaluasi proses kelompok. Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya: siswa bekerja
dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis; anggota-anggota dalam
kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi; jika
memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis
kelamin; sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam model
pembelajaran kooperatif yaitu:
a) Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan
membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
b) Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas
kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota
kelompok.
c) Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman
yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat
berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang
diberikan.
d) Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman
konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan
mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.
Model pembelajaran kooperatif tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang
ada padanya. Kelemahan tersebut antara lain terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk
terlibat dalam suatu strategi pembelajaran yang memang berbeda dengan pembelajaran yang
selama ini diterapkan. Guru dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut.
Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan cara
pemberian pelatihan yang kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk
mencobakannya.Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan cara menyediakan
panduan yang memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi,
serta deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan, sistem evaluasi, dsb.Kendala lain adalah
waktu. Strategi pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel,
meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua kali tatap muka
ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam
pelajaran. (http://www.slideshare.net/arif08/pembelajaran-kooperatif-6726162)

2. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)


Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawanya di Universitas Jhon
Hopkins. Metode ini di pandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari
pembelajaran kooperatif. Tipe ini digunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru
kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam
kelas dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok.
Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun
kemampuannya. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling
membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama anggota
kelompok. Secara individual atau kelompok, tiap minggu atau dua minggu dilakukan evaluasi
oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada
secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna
diberi penghargaan. (Kunandar, 2011: 370)
Slavin (2005) menjelaskan bahwa salah satu keluaran non kognitif yang dihasilkan dari
pengalaman kooperatif di sekolah adalah bahwa para siswa akan menjadi lebih kooperatif dan
altruistik. Salah satu pengukuran yang sering digunakan dari preferensi terhadap altruisme atau
kooperasi sebagai kebalikan dari maksimalisasi individu atau kompetisi adalah papan yang
dirancang oleh Kagan dan Madsen (1972) di mana para siswa mengalokasikan penghargaan
kepada teman. Pilihan-pilihan yang dihadapkan kepada para siswa adalah memberikan si
teman tersebut lebih banyak penghargaan (altruisme), jumlah penghargaan yang sama (setara),
atau penghargaan yang lebih sedikit (kompetisi) daripada yang diterima dirinya sendiri. Banyak
para ahli yang meneliti bahwa siswa yang sering mengikuti Investigasi Kelompok akan
membuat pilihan altruisme yang banyak, selain itu juga ketika mereka ditempatkan dalam
kelompok kooperatif yang baru, maka kerjasama yang terjalin jadi jauh lebih baik serta
menghasikan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kelas kontrol.
Penemuan ini menganjurkan bahwa pembelajaran yang kooperatif dapat mengembangkan
perilaku semacam perilaku prososial yang semakin dibutuhkan di dalam masyarakat di mana
kemampuan bergaul dengan orang lain menjadi semakin krusial. Pengaruh secara keseluruhan
dari pembelajaran kooperatif pada rasa harga diri siswa, dukungan kelompok terhadap
pencapaian prestasi, lokus kontrol internal, waktu mengerjakan tugas, kesukaan pada kelas dan
teman sekolah, kekooperatifan, dan variabel lainnya adalah positif dan sangat kuat.
Langkah-langkah dalam model pembelajaran Student Teams-Achievement
Divisions (Stad) sebagi berikut:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua
anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh
saling membantu.
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan (Suprijono 2009: 133)
3. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:
a) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan
maupun tertulis. Kemampuan merespons spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan
tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
b) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analisis-sintesis
fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
merupakan kemampuan melakukan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
c) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkanb aktivitas kognitifnya sendiri.
Kemmpuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukanb serangkaian gerak jasmani dalam urusan
koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek
tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap
merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku (Suprijono, 2009: 6)

b. Kerangka berfikir
Proses pembelajaran di kelas selama ini yang cenderung menggunakan komunikasi satu arah,
yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, berakibat pada siswa menjadi kurang
terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti berbagi gagasan dan pengalaman, bertanggung
jawab terhadap tugas, kemauan menerima pendapat yang lebih baik, bertanya, dan
mendatangkan ahli ke kelas, atau yang lebih buruknya adalah hasil belajar mereka yang
mereduksi.
ketidaktepatan penggunaan Strategi pembelajaran yang menyebabkan rendahnya
kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep materi pelajaran, Oleh karena itu
diperlukan upaya untuk meningkatkan keterampilan kooperatif dan hasil belajar siswa baik
secara individual maupun klasikal. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division(STAD). Model
pembelajaran ini mempunyai gagasan agar siswa tergerak untuk saling mendukung dan
membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Tipe STAD
ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut, yaitu persiapan materi, presentasi kelas,
pembagian tim, mengerjakan kuis individual, pemberian skor kemajuan individual, dan rekognisi
tim.
VII. Metode penelitian
a. Subjek; tempat, dan waktu
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 5Makassar yang
berjumlah 40 orang siswa yang terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswa
perempuan. Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA N5 Makassar yang beralamat di Jalan
Batua Raya pada bulan Juli 2013 sampai September 2013
b. Langkah-langkah (skenario) PTK;
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan maka proses pembelajaran yang dilakukan
adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement
Divisions (Stad). Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari
perencanaan, tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi.

Skema langkah-langkah PTK sebagai berikut:

c. Siklus;
Siklus I
1) Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini
adalah :
a) Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam PTK.
b) Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang
ingin dicapai
c) Membuat soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pemebelajaran siswa.
d) Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis
kelamin,maupun etnis.
e) Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang
akan dilaksanakan
2) Pelaksanaan Tindakan
a) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam
pelaksanaan penelitian, guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk
belajar Sejarah secara kooperatif learning dengan model Student Teams-Achievement
Divisions (Stad).Adapun langkah langkah yang dilakukan adalah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, suku, dan lain-lain).Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku
mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.
2. Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
3. Guru menyajikan pelajaran
4. Bagikan lembar kegiatan siswa.
5. Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh,
tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing
siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah
satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab
menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering
bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha
menjawab pertanyaan itu.
6. Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman
satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa
lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi
siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok
mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka
seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.
7. Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji
kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam
kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.
8. Kuis, Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang
telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai
perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.
9. Penghargaan Kelompok, Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah
menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau
penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata
nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.
b) Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk
mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

3) Observasi
Selama melakukan tindakan kelas, maka dilakukan observasi oleh observer (guru mitra
dan teman sejawat) tentang keterlaksanaan RPP, keterampilan mengelola pembelajaran dan
keterampilan kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung,
setelah proses pembelajaran, siswa diberikan angket respon terhadap proses pembelajaran model
kooperatif tipe STAD.

4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah
ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.
Refleksi daimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa
yang dihasilkan,kenapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi
digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya unttuk menghasilkan perbaikan
pada siklus II.

Siklus II
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan pada siklus I hanya saja
perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah
pada perbaikan pada pelaksanaan siklus I.
1) Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini
adalah :
a) Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam PTK.
b) Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang
ingin dicapai
c) Membuat soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pemebelajaran siswa.
d) Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis
kelamin,maupun etnis.
e) Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang
akan dilaksanakan
2) Pelaksanaan Tindakan
a) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam
pelaksanaan penelitian, guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk
belajar Sejarah secara kooperatif learning dengan model Student Teams-Achievement
Divisions (Stad).Adapun langkah langkah yang dilakukan adalah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen. Mintalah anggota
kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.
2. Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
3. Guru menyajikan pelajaran
4. Bagikan lembar kegiatan siswa.
5. Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh,
tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing
siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah
satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab
menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering
bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha
menjawab pertanyaan itu.
6. Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman
satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa
lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi
siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok
mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka
seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.
7. Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji
kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam
kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.
8. Kuis, Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang
telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai
perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.
9. Penghargaan Kelompok, Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah
menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau
penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata
nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.
b) Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk
mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
3) Observasi
Selama melakukan tindakan kelas, maka dilakukan observasi oleh observer (guru mitra
dan teman sejawat) tentang keterlaksanaan RPP, keterampilan mengelola pembelajaran dan
keterampilan kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung,
setelah proses pembelajaran, siswa diberikan angket respon terhadap proses pembelajaran model
kooperatif tipe STAD.

4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah
ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.

d. Kriteria keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata
dari tes hasil belajar mata pelajaran sejarah setelah siklus I maupun siklus II. Dari tes hasil belajr
siswa, dilakukan analisa ketuntasan secara individual. Siswa secara individual dikatakan telah
tuntas belajar, apabila rata-rata ketercapaian indikator yang mewakili tujuan pembelajaran
memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata
pelajaran Sejarah di SMAN 5 Makassar yang ditetapkan sebesar 70. Keberhasilan dari model
pembelajaran ini dilihat dari persentase jumlah siswa yang tuntas belajar sebesar 80% dari
seluruh jumlah siswa.

VIII. Jadwal Penelitian


No Nama Kegiatan Bulan/Minggu

1 Pembuatan Proposal 1 Mei 1 Juni 2013

2 Pengurusan Izin 1 6 Juni 2013

3 Pelaksanaan Penelitian 6 Juli 6 September 2013

4 Pembuatan Laporan 6 September 6 Oktober 2013


5 Seminar Hasil Penelitian 1 November 2013

IX. Daftar Pustaka


Anonim. 2011. Pembelajaran Kooperativ. http://www.slideshare.net/arif08/pembelajaran-kooperatif-6726162
Kunandar. 2011. Guru Profesional. Jakarta: Rajawali Pers
Slavin, R.E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media

Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif


dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindak Kelas. Jakarta: Rajagrafindo Persada