Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KEGIATAN

UPAYA PENGOBATAN DASAR (F6)


VARICELA ZOOSTER

Pendamping:
dr. Agustina Rusmawati

Disusun Oleh:
dr. Zahrotul aimah

PUSKESMAS KAJEN I
KABUPATEN PEKALONGAN
2015

No. ID dan Nama Peserta : dr. Zahrotul aimah

1
No. ID dan Nama Wahana : Puskesmas Kajen I
Tanggal (kasus) :
Nama Pasien : An. P
Tanggal Presentasi : Nama Pendamping : dr. Agustina Rusmawati
Tempat Presentasi : Puskesmas Kajen I
Obyektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan
Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Bumil
Lansia
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
Bahasan : Pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
Membahas : diskusi
Data Pasien : Nama : An. P Nomor Registrasi :
Nama Klinik: BP. Umum telp :- Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / gambaran klinis :
Anak perempuan, usia 12 tahun datang dengan keluhan keluar lenting lenting kemerahan
berisi cairan, terasa panas dan gatal pada wajah, punggung, perut dan anggota tubuh lainnya sejak
satu hari sebelum periksa. Tiga hari sebelumnya pasien demam, pasien juga mengeluhkan pusing,
dan badan terasa sakit semua.

2. RPD :
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita: diare (+), panas (+), batuk (+), pilek (+)
b. Riwayat mondok : (+) usia 2,5 tahun (Diare + dehidrasi)
c. Riwayat Operasi : belum pernah
d. Riwayat Kecelakaan : belum pernah
e. Riwayat Pengobatan : tidak ada
f. Riwayat Alergi makanan / obat : tidak ada
g. Riwayat Imunisasi Dasar:
Imunisasi BCG : lengkap
Imunisasi DPT : lengkap
Imunisasi Polio : lengkap
Imunisasi Campak : lengkap
Imunisasi Hepatitis B : lengkap
h. Riwayat Imunisasi Tambahan:
Tidak didapat

2
3. Riwayat keluarga : diakui, adik pasien sedang sakit serupa
4. Riwayat Sosial :
Lingkungan sekitar tempat tinggal pasien pedesaan dan rumah antar penduduk tidak terlalu
berdekatan. Rumah pasien dikelilingi rumah penduduk lainnya dengan jarak yang bervariasi..
Sebelah depan rumah pasien adalah jalan desa yang beraspal,. Sebelah kiri rumah, 2 meter, terdapat
kandang ternak ayam. Rumah pasien merupakan rumah permanen dengan dua kamar tidur, satu
kamar mandi, ruang tamu dan dapur, ventilasi dirumah pasien cukup baik.
Pasien merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara yang kakak dan adik pasien berjenis kelamin
laki laki. Pasien tinggal dengan orangtua tunggal, ayah pasien meninggal satu tahun yang lalu. Ibu
pasien bekerja di pabrik pengolahan kayu. Pasien tinggal bersama dengan ibu, kakak, adik dan nenek
pasien.
Pasien saat ini kelas 3 SD, pasien termasuk lambat dalam belajar. Dilingkungan sekitar pasien
belum memiliki banyak teman, ibu pasien beralasan karena baru pindah disana kurang dari satu
tahun, sebelumnya pasien tinggal di Jakarta sampai dengan umur 10 tahun, kemudian tinggal di
Boyolali selama satu tahun.
Sehari hari saat ditinggal ibu dan kakak pasien bekerja pasien bersama dengan neneknya,
pasien kurang lancar berkomunikasi dengan nenek pasien karena pasien belum lancar menggunakan
bahasa jawa dan nenek pasien tidak bisa menggunakan bahasa indonesia.

Daftar Pustaka
a. Nelson WE, ed. Ilmu kesehatan anak. 15th ed. Alih bahasa. Samik Wahab. Jakarta: EGC, 2000 :
(1): 561-3.

b. Martin K, Noberta D, Matheus T. Varisela Zoster Pada Anak. Universitas Pelita Harapan. Jakarta.
2009. Vol. 3 No. 1.

c. Djuanda, Adhi; dkk. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi kelima. Jakarta : FKUI. 2007

d. Mansjoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran. Cetakan III. Medis Aesculapius. Jakarta. 2000

e. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Manual Pemberantasan


Penyakit Menular. Depkes RI. 2005.
f. Lichenstein R. Pediatrics, Chicken Pox or Varicella. Available at www.emedicine.com.
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Varicella berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
2. Managemen Varicella
3. Menganalisa faktor medis dan non-medis yang berpengaruh dalam penularan Varicella
1. Subyektif :
Anak perempuan berusia 12 tahun datang dengan keluhan keluar lenting lenting kemerahan

3
berisi cairan, terasa panas dan gatal, keluhan dirasakan sejak satu hari sebelum pasien datang ke
puskesmas, pasien mengatakan tiga hari sebelum keluar lenting lenting pasien panas, begitu panas
mulai turun keluar lenting lenting pada muka, punggung, dada, perut tangan dan kemudian disusul
anggota tubuh yang lain.
Selain itu pasien juga mengeluhkan badan terasa sakit, kepala pusing, pasien tidak mengeluh
batuk atau pilek, tidak ada mual, muntah atau gangguan pencernaan lainnya, BAB dan BAK pasien
juga normal
2. Obyektif :
Hasil Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum
Tampak baik, kesadaran compos mentis
2. Tanda Vital
a. Nadi : 90x /menit, regular
b. RR : 20x /menit
c. Suhu : 37,70 C
d. BB : 37 kg
e. TB : 120 cm
3. Status gizi
Kesan status gizi : baik
4. Kulit :Sianosis (-), turgor kulit menurun (>1 detik),
ikterus (-), keriput (-), vesikel (+), eritema (+), pustula (+) di muka
dan seluruh tubuh, vesikel mukosa (-)
5. Kepala : Bentuk kepala normal
6. Mata : Edema palpebra (-/-), konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
mata cekung (-/-)
7. Telinga : Bentuk normal, sekret (-/-)
8. Hidung : Napas cuping hidung (-), discharge (-/-)
9. Mulut : Bibir sianosis (-), lidah kotor (-)
10. Tenggorokan : Radang (-)
11. Leher : Deviasi trakea (-), JVP meningkat (-), pembesaran kelenjar limfe
(-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
12. Thoraks : Bentuk simetris, datar, retraksi (-)
Jantung :
Inspeksi : Tidak terlihat ictus cordis

4
Palpasi : Teraba ictus cordis di SIC V LMCS
Perkusi : Batas kiri bawah SIC V 2 jari medial LMCS
Batas kiri atas SIC II LMCS
Batas kanan atas SIC II LPSD
Batas kanan bawah SIC IV LPSD
Perkusi : S1> S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo :
Inspeksi : Dinding dada datar, retraksi (-), gerakan
paru simetris, benjolan (-), tanda radang (-), jejas (-), lesi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), retraksi (-), gerakan nafas simetris
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi : Vesikular normal, wheezing (-), ronkhi -/-
13. Punggung : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
14. Abdomen :
Inspeksi : Datar, benjolan (-), lesi (-), jejas (-), tanda radang (-),caput medusae (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan perut (-), benjolan (-)
Perkusi : Timpani normal
9. Genitalia : Tidak dilakukan
10. Anorektal : Tidak dilakukan
11. Ekstremitas :
Superior : Edema (-/-), jejas (-/-), akral dingin (-/-)
Inferior : Edema (-/-), jejas (-/-), akral dingin (-/-)
a. Assessment :
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien dengan
kehamilan berisiko tinggi ini banyak disebabkan dari berbagai macam factor baik dari medis dan
non-medis.
Dari segi medis kehamilan ini berisiko tinggi karena usia ibu saat hamil pertama kurang dari 20
tahun yang memungkinkan terjadinya penyulit saat persalinan, juga disertai anemia yaitu kadar Hb
<10 gr %.
Sedangkan dari faktor non-medis yang berpengaruh yaitu tingkat pendidikan dan pemahaman
yang kurang akan bahaya seks dan kehamilan diluar nikah dan usia dini, social ekonomi yang
kurang, adat dan budaya keluarga yang menganggap anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi dan
sebagainya.

5
Dari hal-hal diatas akan mendukung terjadinya kehamilan risiko tinggi yang akan
membahayakan ibu dan bayi baik saat hamil, selama persalinan dan setelah persalinan.

b. Plan :
Medikamentosa
Pemberian preparat besi (Fe) 1x1
Pemberian vitamin B6
Non-Medikamentosa
Edukasi tentang pemeriksaan kehamilan dan perencanaan persalinan
Edukasi pola makan dan gaya hidup sehat
Edukasi KB dan alat kontrasepsi setelah persalinan (memberi jarak antar kehamilan
terkait dengan usia)

PENATALAKSANAAN
Kehamilan risiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki risiko lebih besar dari biasanya
(baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadi penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah
proses persalinan.untuk menentukan suatu kehamilan risiko tinggi, perlu dilakukan penilaian
terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-ciri yang
menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau kematian. Sebelum hamil
seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang menyebabkan meningkatnya risiko selama
kehamilan. Selain itu jika seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka
risikonya untuk mengalami hal yang sama kehamilan yang akan datang adalah lebih besar. Adapun
yang termasuk kehamilan risiko tinggi antara lain yaitu usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari
35 tahun, tinggi badan ibu kurang dari 145 cm, berat badan ibu terlalu kurang atau lebih, jumlah
anak lebih dari 4, jarak anatara kehamilan yang kurang dari 2 tahun, riwayat persalinan yang kurang
baik, anemia, hipertensi, perdarahan, kelainan pada janin, panggul sempit dan sebagainya.

Usia Ibu
Usia wanita mempengaruhi risiko kehamilan, usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun sangat mempengaruhi risiko kehamilan. Anak perempuan berusia 15 tahun atau kurang lebih
rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi dan eklamsi. Merekanjuga lebih mungkin melahirkan bayi
dengan berat badan rendah atau bayi kurang gizi. Sedangkan wanita dengan usia 35 tahun lebih
rentan terhadap tekanan darah tinggi, gangguan persalinan dan memiliki bayi dengan kelainan

6
kromosom.
Perencanaan berkeluarga yang optimal melalui perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan
diinginkan merupakan salah satu factor penting dalam menurunkan angka kematian maternal.
Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga
memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga.
Salah satu perencanan kehamilan antara lain dengan mengikuti program Keluarga Berencana
(KB). KB memberi kepada pasangan pilihan tentang kapan sebaiknya mempunyai anak, berapa
jumlahnya, jarak antar anak yang satu dengan yang lain dan kapan sebiaknya berhenti mempunyai
anak. Pemilihan jenis alat kontrasepsi dapat disesuaikan keinginan dan keadaan tubuh ibu dengan
memperhatikan keuntungan, kerugian dan efek sampingnya.

Varicella
Varicella, yang biasa dikenal di Amerika Serikat sebagai cacar air, disebabkan oleh virus
varicella-zoster. Penyakit ini umumnya dianggap sebagai penyakit virus ringan, membatasi diri
dengan komplikasi sesekali. Sebelum vaksinasi varicella menjadi luas di Amerika Serikat, penyakit
ini menyebabkan sebanyak 100 kematian setiap tahunnya. Karena vaksin varicella diperkenalkan di
Amerika Serikat pada tahun 1995, insiden penyakit telah secara substansial menurun.
Bahkan saat ini, varicella tidak benar-benar jinak. Satu studi menunjukkan bahwa hampir 1:50
kasus varicella yang terkait dengan komplikasi. Di antara sebagian besar komplikasi serius varicella
pneumonia dan ensefalitis, keduanya terkait dengan angka kematian yang tinggi. Selain itu,
kekhawatiran telah dikemukakan mengenai hubungan varicella dengan invasif parah penyakit
streptococcus grup A.
Amerika Serikat mengadopsi vaksinasi universal terhadap varicella pada tahun 1995, yang
mengurangi tingkat mortalitas dan morbiditas dari penyakit ini. Untuk alasan yang jelas, anak yang
tidak divaksinasi tetap rentan. Anak dengan varicella mengekspos kontak dewasa di rumah tangga,
sekolah, dan pusat penitipan anak dengan risiko berat, penyakit bahkan fatal. Varicella adalah umum
dan sangat menular dan mempengaruhi hampir semua anak-anak rentan sebelum remaja.
Kedua kasus dalam rumah tangga sering lebih parah. Sekolah atau hubungi pusat penitipan
anak berkaitan dengan tingkat transmisi yang lebih rendah namun masih signifikan. Anak-anak yang
rentan jarang mendapatkan penyakit dengan kontak dengan orang dewasa dengan zoster. Transmisi
maksimum terjadi selama akhir musim dingin dan musim semi.
Varicella dikaitkan dengan respon imun humoral dan sel-dimediasi. Respon ini menginduksi
kekebalan yang tahan lama. Ulangi infeksi subklinis dapat terjadi pada orang-orang ini, namun

7
serangan kedua dari cacar air sangat jarang terjadi di orang imunokompeten. Reexposure dan infeksi
subklinis dapat berfungsi untuk meningkatkan kekebalan yang diperoleh setelah episode cacar air, ini
dapat berubah di era post vaksin.

Kajen, Juni 2014

Dokter Internship Dokter Pendamping

dr. Nihayatul Amaliyah dr. Agustina Rusmawati


NIP. 19771231 2008 01 2 018