Anda di halaman 1dari 23

USULAN TEKNIS

Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

PENDEKATAN & METODOLOGI

1. UMUM
Pendekatan dan Metodologi kerja konsultan akan disusun secara
konfrehensif yang mencakup beberapa pendekatan dan metodologi.
Tujuan utama dari pendekatan dan metodologi ini adalah untuk
menghasilkan keluaran yang sesuai dengan harapan pemberi kerja yang
antara lain mencakup aspek kemudahan operasional, disain sistem yang
optimal serta mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Pendekatan-pendekatan yang akan dilakukan antara lain:
a. Pendekatan Wilayah.
b. Pendekatan Substantif.
c. Pendekatan Konseptual.
d. Pendekatan Manajemen.
e. Pendekatan Teknis Operasional.
Sedangkan secara garis besar, metodologi pelaksanaan pekerjaan yang
dilakukan akan diterapkan pada beberapa kegiatan antara lain:
a. Persiapan.
b. Survey dan Pengumpulan Data
c. Analisa dan Pengkajian Data Awal.
d. Pemeriksaan Geolistrik & Analisa Potensi
e. Perencanaan Rinci.

2. PENDEKATAN
2.1 Pendekatan Wilayah
Sesuai latar belakang historis dan perkembangan, awalnya Kota Cimahi
diarahkan untuk dapat berfungsi sebagai kota pendidikan militer, pusat
perdagangan dan jasa, daerah industri serta pemukiman dan perumahan
sekaligus wilayah penyangga Kota Bandung.
Secara geografis, Kota Cimahi terletak pada koordinat 1073030 Bujur
Timur 1073430 dan 65000 65600 Lintang Selatan. Dengan
variasi ketinggian 700-1075 meter diatas permukaan laut, memiliki
temperatur berkisar antara 18C - 29C.
Berdasarkan batas wilayah Kota Cimahi dengan wilayah lainnya meliputi :
1. Sebelah Utara : Kec. Parongpong dan Cisarua Kab. Bandung Barat
2. Sebelah Timur : Kec. Sukasari, Sukajadi, Cicendo, Andir dan
Bandung Kulon Kota Bandung.
3. Sebelah Selatan : Kota Cimahi perbatasan meliputi Kec. Margaasih
Kab. Bandung dan Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat
4. Sebelah Barat : Kec. Padalarang dan Ngamprah Kab. Bandung Barat

BAB PENDEKATAN & METODOLOGI 1


USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Setelah mengalami perubahan status pemerintahan melalui Undang-


undang Nomor 9 Tahun 2001, dari Pemerintahan Kota Administratif
menjadi Pemerintahan Daerah Kota Cimahi, pengelolaan pemerintahan
beserta pengelolaan anggaran sepenuhnya menjadi wewenang dan
tanggungjawab yang harus ditangani sendiri. Secara otomatis terjadi pula
pemisahan beberapa alokasi aset, dana maupun pembebanan dari Pemda
Kabupaten sebagai induk kota dengan Pemda Kota Cimahi.
Dilihat dari fungsi kota dan letak geografis yang berbatasan langsung
dengan Kota dan Kab. Bandung, Kota Cimahi memiliki peran dan posisi
yang cukup strategis. Kondisi tersebut juga mendorong lajunya tingkat
pertumbuhan kota yang menimbulkan berbagai permasalahan klasik,
sebagaimana dialami oleh kota-kota yang tengah berkembang.
Luas Kota Cimahi secara keseluruhan mencapai 4.103,73 Ha dengan
penggunaan lahan diperuntukan, pemukiman mencapai 1.609 Ha
(39,21%), lahan militer 375 Ha (9,14%), Industri 700 Ha (17,06%),
Pesawahan 326 Ha (7,94%), Tegalan 382 Ha (9,31%), Kebun Campuran
367 Ha (8,94%), Pusat Perdagangan 140 Ha (3,41%) dan lahan yang
dipergunakan untuk lain-lain mencapai 204,73 Ha (4,99%).
Berdasarkan fungsi kota secara umum, Kec. Wilayah Cimahi Utara jenis
kegiatannya diarahkan untuk perumahan, pendidikan dan pelayanan
umum. Kec. Cimahi Tengah, jenis kegiatannya diarahkan untuk
perdagangan dan jasa, pemerintahan serta pendidikan. Kec. Cimahi
Selatan, jenis kegiatannya diarahkan untuk Industri, perumahan,
pendidikan dan pelayanan umum.
Wilayah Kota Cimahi meliputi, Kecamatan Cimahi Utara yang terdiri atas 4
kelurahan, 83 RW dan 418 RT. Cimahi Tengah, 6 kelurahan, 107 RW dan
413 RT. Sedangkan Cimahi Selatan terdiri dari 5 kelurahan, 111 RW dan
628 RT.
Secara geografis wilayah ini merupakan lembah cekungan yang melandai
ke arah selatan, dengan ketinggian di bagian utara 1,040 meter dpl
( Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara), yang merupakan lereng
Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu serta ketinggian di
bagian selatan sekitar 685 meter dpl (Kelurahan Melong Kecamatan
Cimahi Selatan) yang mengarah ke Sungai Citarum.
Sungai yang melalui Kota Cimahi adalah Sungai Cimahi dengan debit air
rata-rata 3.830 l/dt, dengan anak sungainya ada lima yaitu Kali Cibodas,
Ciputri, Cimindi, Cibeureum (masing-masing di bawah 200 l/dt) dan Kali
Cisangkan (496 l/dt), sementara itu mata air yang terdapat di Kota Cimahi
adalah mata air Cikuda dengan debit air 4 l/dt dan mata air Cisintok (93
l/dt).

2.2 Pendekatan Substantif

BAB PENDEKATAN & METODOLOGI 2


USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Saat ini cakupan pelayanan air bersih di Kota Cimahi mash sangat rendah
yaitu sekitar 11 % yang dilayani oleh PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten
Bandung dan beberapa sarana air bersih yang telah dibangun oleh
pemerintah Kota Cimahi. Kota Cimahi memiliki keterbatasan sumber air
air baku (terutama air permukaan) yang menyebabkan penggunaan
sumur artesis untuk supply air baku menjadi pilihan yang paling
memungkinkan untuk dilaksanakan.

2.3 Pendekatan Konseptual


Dalam pendekatan ini akan dilakukan beberapa kajian awal yaitu :
Kajian jaringan perpipaan distribusi eksisting (jika telah
ada)
Kajian terhadap kebutuhan air bersih penduduk.
Rencana pembangunan sumur artesis sebagai sistem
penyediaan air bersih.
Kajian-kajian lain yang berkaitan dengan rencana
pembangunan sistem.
Pendekatan konseptual ini akan mengacu kepada konsep sistem
penyediaan air bersih, jurnal-jurnal ilmiah dan studi yang pernah
dilakukan sebelumnya.
Kajian konseptual akan diselaraskan dengan peraturan-peraturan dan
kebijaksanaan pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan
sarana dan prasarana air minum akan menjadi pedoman umum
pelaksanaan pekerjaan ini disamping peraturan pemerintah setempat
serta kriteria-kriteria yang terkait, diantaranya :
PP No. 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum,
Permen PU No. 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Peraturan Menteri Kesehatah Nomor :
416/MENKES/PER/IX/1990
Dan pedoman lainnya yang relevan, antara lain SNI,
ASTM, AWWA dll.

2.4 Pendekatan Manajemen


Pada pendekatan ini konsultan akan melakukan beberapa kegiatan
berkaitan dengan aspek-aspek manajemen diantaranya berkaitan dengan
kebijakan pemberi tugas wilayah perencanaan. Struktur kebijakan akan
sangat membantu dalam koordinasi terkait informasi dan deskripsi
penyediaan air bersih existing yang beroperasi. Disamping itu pendekatan

BAB PENDEKATAN & METODOLOGI 3


USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

manajemen akan dilakukan berupa konsultasi, diskusi dan klarifikasi guna


menyelesaikan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan.

2.5 Pendekatan Teknis Operasional


Pelaksanaan pendekatan teknis operasional yang akan dilakukan yaitu
dengan menempatkan tim konsultan untuk melaksanakan tugas-tugas
sebagaimana tercantum dalam ruang lingkup pekerjaan. Tim ini akan
secara intensif melakukan identifikasi, analisa dan diskusi dengan pihak
pihak pemberi kerja dan dinas terkait lainnya sehingga tujuan yang ingin
dicapai dari kegiatan ini dapat terlaksana secara baik dan sesuai dengan
yang telah direncanakan.

3. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Dalam melaksanakan Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Sumur
Artesis Cimahi Selatan, akan dilakukan tahapan-tahapan sesuai dengan
kebutuhan data, analisis dan perencanaan yang terkandung dalam
kegiatan studi.
Diagram alir pelaksanaan pekerjaan ini diperlihatkan pada Gambar 1.

3.1 Persiapan Pekerjaan


Tim konsultan terdiri dari tenaga ahli yang mencakup multi disiplin yang
berkompeten dalam bidangnya, memiliki wawasan serta menghayati betul
bagaimana sistem penyediaan air bersih itu dikembangkan, tahapan
pembangunan serta bagaimana pengelolaannya dimasa mendatang
dalam waktu pelaksanaan yang efektif.
Pada tahap ini dilakukan penyiapan admnistrasi, mobilisasi personil dan
peralatan survey, perizinan survey, penyusunan format isian, dan
koordinasi antar dinas terkait di lingkungan Pemda Kota Cimahi.

BAB PENDEKATAN & METODOLOGI 4


USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Gambar 1
Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

BAB PENDEKATAN & METODOLOGI 5


USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

3.2 Survey & Pengumpulan Data


Survey lapangan ditujukan untuk mendapatkan data sekunder dan data
primer. Data sekunder dapat diperoleh melalui beberapa instansi yang
terkait. Data primer diperoleh melalui pengukuran di lapangan. Pada
pekerjaan ini diperlukan beberapa jenis peta, yaitu peta topografi, peta
geologi dan peta geohidrologi. Setelah peta-peta tersebut diperoleh maka
kegiatan survey dapat dilakukan.
Pekerjaan survey terdiri dari ; survey lokasi dan rencana jalur pipa ; survey
topografi ; survey kebutuhan nyata ; survey harga satuan, penyelidikan
struktur tanah dan survey pengelolaan sarana dan prasarana air minum.
Data sekunder yang dibutuhkan yaitu data laporan studi terdahulu,
sedangkan data primer yang dibutuhkan mencakup data penyelidikan tanah,
pengukuran topografi, kuantitas dan kualitas air baku, pengambilan dan
pengujian contoh-contoh air mengikuti metode uji yang berlaku serta sumber
bahan bangunan dan bahan-bahan pengelolaan dan pengoperasian.
Data-data tersebut kemudian di kompilasi sedemikan rupa untuk
memudahkan penggunaannya pada proses perencanaan selanjutnya.

3.3 Analisa & Pengkajian Data Awal


Analisa dan pengkajian data awal dilakukan dilakukan dengan cara
menganalisa seluruh peta yang telah diperoleh sehingga dapat diperkirakan
titik terbaik lokasi rencana sumur artesis sebelum dilakukannya pekerjaan
pemeriksaan geolistrik. Diharapkan dengan terlebih dahulu dilakukannya
pengkajian awal dengan menggunakan peta-peta tersebut maka kesalahan
yang terjadi bias diminimalisir.

3.4 Pemeriksaan Geolistrik & Analisa Potensi


a. Konsep Geolistrik
Batuan dan mineral yang ada di bumi memiliki sifat listrik. Sifat listrik batuan
maupun mineral terdiri atas potensial listrik alami, konduktivitas listrik, dan
konstanta dielektrik. Konduktivitas listrik adalah sifat yang paling dominan
dibandingkan yang lainnya. Arus listrik dapat mengalir pada batuan mineral
melalui 3 cara yaitu:
Konduksi elektronik
Konduksi elektronik merupakan aliran elektron bebas yang terdapat
pada batuan maupun mineral. Karena pada batuan/ mineral ini terdapat
banyak elektron bebas didalamnya sehingga arus listrik dialirkan dalam
batuan/ mineral oleh elektron bebas.
Elektrolitik
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Konduksi elektrolitik terjadi ketika pori pori batuan atau mineral yang
terisi oleh fluida elektrolitik, dimana aliran muatan terjadi melalui aliran
aliran ion elektrolit. Intinya adalah arus listrik dibawa oleh ion ion
elektrolit.

Dielektrik
Konduksi dielektrik terjadi bila batuan atau mineral berperan sebagai
dielektrik ketika dialiri arus sehingga terjadi polarisasi pada batuan
ataupun mineral tersebut. Konduktivitas listrik ( kebalikan dari
resistivitas ) bergantung pada porositas batuan dan mobilitas dari air
( atau fluida lainnya ) untuk melewati ruang berpori bergantung pada
sifat mobilitas ionik dan konsentrasi larutan, viskositas () temperatur ,
dan tekanan.

b. Konfigurasi Geolistrik
Metoda geolistrik terdiri dari beberapa konfigurasi, misalnya yang ke 4 buah
elektrodanya terletak dalam satu garis lurus dengan posisi elektroda AB dan
MN yang simetris terhadap titik pusat pada kedua sisi yaitu konfigurasi
Wenner dan Schlumberger. Setiap konfigurasi memiliki metoda perhitungan
tersendiri untuk mengetahui nilai ketebalan dan tahanan jenis batuan di
bawah permukaan. Metoda geolistrik konfigurasi Schlumberger merupakan
metoda yang umum digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan
batuan bawah permukaan dengan biaya survei yang relatif murah.
Umumnya lapisan batuan tidak mempunyai sifat homogen sempurna, seperti
yang dipersyaratkan pada pengukuran geolistrik. Untuk posisi lapisan batuan
yang terletak dekat dengan permukaan tanah akan sangat berpengaruh
terhadap hasil pengukuran tegangan dan ini akan membuat data geolistrik
menjadi menyimpang dari nilai sebenarnya. Yang dapat mempengaruhi
homogenitas lapisan batuan adalah fragmen batuan lain yang menyisip pada
lapisan, faktor ketidakseragaman dari pelapukan batuan induk, material
yang terkandung pada jalan, genangan air setempat, perpipaan dari bahan
logam yang bisa menghantar arus listrik, pagar kawat yang terhubung ke
tanah dan sebagainya. Spontaneous Potential yaitu tegangan listrik alami
yang umumnya terdapat pada lapisan batuan disebabkan oleh adanya
larutan penghantar yang secara kimiawi menimbulkan perbedaan tegangan
pada mineral-mineral dari lapisan batuan yang berbeda juga akan
menyebabkan ketidak-homogenan lapisan batuan. Perbedaan tegangan
listrik ini umumnya relatif kecil, tetapi bila digunakan konfigurasi
Schlumberger dengan jarak elektroda AB yang panjang dan jarak MN yang
relatif pendek, maka ada kemungkinan tegangan listrik alami tersebut ikut
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

menyumbang pada hasil pengukuran tegangan listrik pada elektroda MN,


sehingga data yang terukur menjadi kurang benar. Untuk mengatasi adanya
tegangan listrik alami ini hendaknya sebelum dilakukan pengaliran arus
listrik, multimeter diset pada tegangan listrik alami tersebut dan kedudukan
awal dari multimeter dibuat menjadi nol. Dengan demikian alat ukur
multimeter akan menunjukkan tegangan listrik yang benar-benar diakibatkan
oleh pengiriman arus pada elektroda AB. Multimeter yang mempunyai
fasilitas seperti ini hanya terdapat pada multimeter dengan akurasi tinggi.

Konfigurasi Geolistrik Wenner


Keunggulan dari konfigurasi Wenner ini adalah ketelitian pembacaan
tegangan pada elektroda MN lebih baik dengan angka yang relatif besar
karena elektroda MN yang relatif dekat dengan elektroda AB. Disini bisa
digunakan alat ukur multimeter dengan impedansi yang relatif lebih kecil.
Sedangkan kelemahannya adalah tidak bisa mendeteksi homogenitas
batuan di dekat permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil
perhitungan. Data yang didapat dari cara konfigurasi Wenner, sangat
sulit untuk menghilangkan factor non homogenitas batuan, sehingga hasil
perhitungan menjadi kurang akurat.

Gambar 1.
Susunan elektroda konfigurasi Wenner-Schlumberger.
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

V
=K
I

K adalah faktor geometri yang tergantung oleh penempatan elektroda di


permukaan dan adalah resistivitas (tahanan jenis)
2
K=
1 1 1 1
+ + + +
r1 r2 r3 rn

maka nilai resistivitas untuk metode Wenner-Schlumberger dapat dihitung


dengan faktor geometrikesis
V
=R n ( n+1 ) a
I

Tabel 1.
Nilai Resistivitas Material-material Bumi
Resistivity
Material
(Ohm-Meter)
Pyrite (Pirit) 0.01-100
Quartz (Kwarsa) 500-800000
11012-
Calcite (Kalsit)
11013
Rock Salt (Garam Batu) 30-11013
Granite (Granit) 200-10000
1.7102-
Andesite (Andesit)
45104
Basalt (Basal) 200-100000
Limestoes (Gamping) 500-10000
Sandstone (Batu Pasir) 200-8000
Shales (Batu Tulis) 20-2000
Sand (Pasir) 1-1000
Clay (Lempung) 1-100
Ground Water (Air
0.5-300
Tanah)
Sea Water (Air Asin) 0.2
Magnetite (Magnetit) 0.01-1000
Dry Gravel (kerikil
600-10000
kering)
Alluvium (Aluvium) 10-800
Gravel (Kerikil) 100-60
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Setelah dilakukan analisa terhadap potensi kelayakan pengambilan air tanah


di titik pemeriksaan, maka diperoleh kesimpulan dari kelayakan titik
tersebut. Jika di titik yang diperiksa tidak memiliki potensi untuk dijadikan
sebagai sumur bor artesis, maka perlu dilakukan kegiatan pengkajian ulang
dan pengulangan kegiatan pemeriksaan geolistrik di titik yang lain.

3.5 Perencanaan Awal


Tahap perencanaan awal dimulai dengan kegiatan pengolahan data berupa
evaluasi dan analisa setelah titik yang diperiksa secara geolistrik
disimpulkan memiliki potensi yang baik. Evaluasi dan analisa data primer
dan sekunder dilakukan terhadap aspek teknis dan non teknis berupa:
Proyeksi penduduk.
Fisik daerah perencanaan.
Analisa kebutuhan air.
Usulan titik lokasi bangunan pengambilan air (sumur bor artesis)
Usulan jalur perpipaan distribusi.
Topografi daerah perencanaan.

Output pada tahap ini berupa pra perencanaan alternatif sistem, penyusunan
harga satuan dan beberapa alternatif sistem penyediaan air bersih yang
akan dipilih sebagai alternatif pemecahan permasalahan/ pemenuhan
kebutuhan air minum. Produk dari perencanaan awal ini akan dituangkan
dalam laporan antara.

3.6 Perencanaan Rinci


Perencanaan konstruksi sumur dilakukan perencanaan awal (draft) disetujui
oleh pihak pemberi kerja (owner). Perencanaan rinci merupakan pendalaman
dari perencanaan awal, dimana pada perencanaan rinci dilakukan
perhitungan secara detail seluruh aspek penyediaan air bersih pada kegiatan
Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan.

3.4.1. Perencanaan Sumur Artesis


a. Pipa Jambang
Pemilihan pipa jambang direncanakan berdasarkan ukuran maupun
bahannya. Pemilihan ukuran pipa jambang meliputi garis tengah yang
disesuaikan dengan besarnya debit pemompaan yang direncanakan, dengan
ukuran yang tepat maka dapat mengurangi kehilangan tenaga sehingga
pemompaan dapat dilakukan secara efisien.
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Menurut Walton (1970) hubungan antara debit pemompaan dengan garis


tengah pipa jambang seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.
Hubungan antara debit pemompaan dengana garis tengah pipa jambang
Debit Pemompaan Diameter Pipa
(L/det) (Inchi)
< 6,3 6
12,6 8
25,2 10
37,8 12
56,7 14
75,6 16
113,4 20

Panjang pipa jambang tergantung dari jenis pompa yang dipasang dan
karakteristik akuifernya. Disarankan bahwa panjang pipa jambang 10-20 ft
lebih panjang dibawah muka air tanah maksimum akibat pemompaan sumur.
Disamping itu pemasangan pipa harus benar- benar lurus karena jenis
pompa yang direncanakan adalah jenis pompa submersible. Pemasangan
konstruksi sumur termasuk pipa jambang, lubang bor harus benar benar
bersih dari pengotor sehingga bagian atas sumur harus ditutup. Untuk
menjaga agar tidak terjadi masuknya kotoran ke dalam sumur bor, maka
bagian sisi dari pipa jambang dilapisi dengan menggunakan beton atau
tanah liat. Pipa jambang terletak pada bagian teratas dari konstruksi sumur.

b. Pipa Buta dan Pipa Saringan


Pipa buta dan pipa saringan dipasang di bawah pipa jambang dengan ukuran
garis tengah lebih kecil dan disambung dengan menggunakan reduser
dengan pipa jambang. Pipa buta dipasang pada bagian lapisan kedap air
atau pada akuifer yang tidak diinginkan untuk diambil air tanahnya dengan
cara menutup ujung bagian terbawah dari pipa dengan menggunakan dop.
Panjang pipa buta tergantung pada ketebalan bagian yang tidak diinginkan
atau minimal dipasang 2 ft lebih panjang dari panjang akuifer yang
ditemukan. Sedangkan pipa saringan dipasang pada akuifer yang ingin kita
ambil air tanahnya.
Persyaratan pipa saringan :
Cukup dapat melalukan air dan mempunyai hambatan (friksi) yang
kecil.
Cukup kuat menerima tekanan/ gaya yang mungkin ada dalam sumur.
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Cukup kuat dan tahan terhadap proses kimia, bakteriologi, korosi dan
inrustasi baik karena airtanahnya maupun akibat treatment yang
dilakukan.
Cukup mudah diinstalasikan.

c. Jenis & Material Pipa Saringan


Berbagai macam jenis pipa saringan yang dapat digunakan adalah sebagai
berikut :
Pipa stainless dibuat dengan komposisi kromium 18%, nikel 8%, baja
74% dengan warna baja keperakan. Pipa ini mempunyai daya tahan
sangat baik terhadap korosi dan baik terhadap acid treatment sehingga
baik dipakai pada kondisi air tanah dengan kandungan hidrogen sulfida,
oksigen terlarut, karbon dioksida dan bakteri besi yang tinggi.
Pipa galvanis dengan komposisi besi murni minimal 89,84% yang
dilapisi galvanis. Pipa ini mempunyai daya tahan cukup terhadap korosi
dan jelek terhadap acid treatment, dapat digunakan pada sumur yang
mempunyai air tanah netral.
Pipa baja dengan komposisi bervariasi, besi 99,36% - 99,72%. Karbon
0,09% - 0,15% dan mangan 0,2% - 0,5%. Pipa jenis ini mempunyai daya
tahan terhadap korosi namun memiliki kekurangan karena daya tahan
terhadap acid treatment buruk. Digunakan untuk sumur yang bersifat
sementara atau yang air tanahnya tidak korosif dan inkrustasi.
Pipa monel (cast iron) dengan komposisi nikel 70%, tembaga 30%
berwarna perak kebiru-biruan. Daya tahan terhadap dan acid treatment
sangat baik, sehingga dapat dipakai pada sumur yang mempunyai air
tanah dengan kandungan sodium-klorida tinggi, oksigen terlarut pada air
laut.
Pipa PVC, pipa ini tahan terhadap air garam, air mineral, karbon
dioksida, hidrogen sulfida, asam klorida, tidak mudah mengalami korosi
akibat reaksi kimia, disamping itu ringan sehingga memudahkan dalam
transport dan juga harganya relatif murah. Kekurangannya adalah mudah
melengkung sehingga menyulitkan dalam kontruksi sumur, mudah pecah
terutama kekuatan pada sambungan pipanya.
Pipa serat gelas, jenis ini lebih baik dari pada plastik karena lebih kuat
dan tahan lurus sehingga memudahkan dalam pemasangan konstruksi
sumur, akan tetapi harganya jauh lebih mahal.

Selain macam bahan seperti tersebut dapat dibedakan berdasarkan bentuk


lubang saringan yaitu :
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

jenis continous slot yang dibuat dengan melilitkan kawat yang


berpenampang segitiga sekeliling lajur-jalur kawat berbentuk silinder.
Persinggungannya dilas dengan kuat. Kawat lilitan berbentuk segitiga
dimaksudkan agar partikel yang masuk diantara kawat tidak menyumbat
lubang saringan, saringan ini banyak digunakan karena persentase luas
lubangnya cukup besar. Selain itu dapat dengan mudah jarak kawat
sehingga ukuran lubangnya akan berubah sesuai dengan kondisi
geohidrologinya.
Saringan jenis louver atau shutter dari pipa silinder diberi lubang (celah)
melintang tegak lurus sumbu pipa. Jarak masing-masing celah terbatas
karena akan mempengaruhi kekuatan saringan. Prosentase luas celah
sangat rendah, mudah terjadi penyumbatan. Jenis ini cocok untuk sumur
produksi yang dilengkapi engan kerikil pembalut pembuatan
Jenis slotted pipe, dibuat dari pipa baja tahan karat yang digergaji atau
diberi perforator untuk membuat celah memanjang sekeliling dinding
pipa. Jenis ini sangat murah tetapi banyak kekurangannya antara lain
sepeti halnya jenis louver di atas ditambah bahwa pada bekas gergaji
mudah mnegalami korosi dan berkarat. Jenis ini banyak digunakan pada
sumur eksplorasi atau sumur pengamat.
Jenis saringan plastik, harganya murah dengan % lubang dapat tinggi
akan tetapi dalam pemasangannya perlu hati-hati karena pipa iini tidak
terlalu kuat. Jenis saringan ini cocok untuk akuifer yang mempunyai
potensi air tanahnya kecil.

d. Penentuan Panjang Saringan


Secara umum untuk mendapatkan debit air tanah dalam jumlah yang besar
dengan memasang saringan pada seluruh lapisan akuifer yang diketemukan.
Akan tetapi perlu pula dipertimbangkan segi ekonominya karena pipa
saringan tersebut relative mahal harganya sehingga pemasangan saringan
harus seoptimal mungkin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentukan panjang saringan adalah:
Luas lubang tiap satuan panjang saringan.
Karakter hidrolika aquifernya.
Besarnya kapasitas pemompaan.
Harga saringan.
Umur sumur yang direncanakan.
Menurut Malton (1970) panjang saringan dapat dihitung dengan rumus :
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

, dimana:
SL = panjang saringan (feet)
Q = debit pemompaan (gpm)
Ao = luas lubang efektif dari saringan tiap feet panjang (ft2)
Vc = kecepatan aliran optimum

Menurut Walton hubungan kecepatan aliran optimum dengan kelulusan air


dari akuifer disajikan pada tabel 3.

Tabel 3.
Hubungan antara kecepatan aliran optimum dengan kelulusan air dari akuifer
Kelulusan Air Kecepatan Aliran
Akuifer (m/hari) Optimum (Vc)
(gpd/ft2) (fpm)
>6000 12
6000 11
5000 10
4000 9
3000 8
2500 7
2000 6
1500 5
1000 4
500 3
<500 2

Besarnya luas lubang efektif rata-rata tinggal 50% dari luas lubang yang ada,
hal ini disebabkan sebagian dari lubang saringan tertutup oleh material
akuifer atau kerikil pembalutnya.
Rumus panjang saringan seperti tersebut di atas tidak mutlak, menurut
Johnson (1975), menyatakan bahwa panjang saringan optimum mempunyai
hubungan dengan ketebalan akuifer, draw down, jenis akuifernya. Dalam hal
ini dianjurkan sebagai berikut :
Panjang saringan pada akuifer tertekan yang homogen. Kira-kira 70% -
80% dari ketebalan akuifernya. Dengan panjang saringan tersebut di atas
berarti sudah diperoleh kira-kira 90% atau lebih bila dibandingkan
dengan jika pemasangan saringan dilakukan pada seluruh ketebalan
akuifer. Penempatan saringan pada bagian tengah akuifer atau disusun
berselang-seling dengan pipa buta.
Panjang saringan pada akuifer tertekan yang tidak homogen, sebaiknya
pemasangan saringan dilakukan pada seluruh akuifer yang ditemukan.
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Panjang saringan pada akuifer bebas yang homogen perlu


mempertimbangkan besarnya kapasitas diperoleh. Apabila saringannya
cukup panjang dan jika drawdown yang akan diambil cukup dalam, maka
saringan cukup dipasang pendek saja. Kedua hal tersebut tergantung
pada persediaan saringan pompa yang akan dipasang dan pertimbangan
ekonomi. Pemasangan yang optimum adalah sepanjang sepertiga hingga
setengah panjang akuifer.
Panjang saringan pada akuifer bebas yang tidak homogen. Pada prinsip
pemasangannya dilakukan seperti pada akuifer tertekan yang tidak
homogen, hanya diletakkan pada posisi paling bawah dari akuifer bebas
(setengah bebas) untuk mendapatkan drawdown yang lebih dalam.

Pengaruh besarnya garis tengah saringan dapat dipelajari dari persamaan


hidrolika sumur. Pada akuifer bebas menurut Johnson debit diperoleh dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :

, dimana :
Q = debit pemompaan (gpm)
P = kelulusan air (gpd/ft2)
H = tebal lapisan zona jenuh air
H = ketebalan zona air setelah pemompaan (ft)
H-h = drawdown
r = jari-jari sumur (ft)
R = Jari-jari saringan (ft)

Dari rumus tersebut, Q bervariasi dengan K, dimana K adalah konstansta lain


dalam rumus pokok hidrolika sumur, dengan pemikiran bahwa harga n yang
besar diperoleh dengan memperbesar garis tengah sumur disajikan pada
tabel 4.

Tabel 4.
Hubungan garis tengah sumur dengan yield ratio
Yield Garis Tengah Sumur (Inchi)
6 12 16 24 30 36 45
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

100 110 117 122 127 131 137


100 106 111 116 110 126
100 104 108 112 117
104 107 112
(%)
100 103 108
100 105

Dari tabel tersebut diketahui bahwa kelipatan garis tengah sumur hanya
akan meningkatkan kapasitas sumur sebesar 10%. Untuk menentukan garis
tengah saringan yang akan dipasang harus mempertimbangkan diemater
lubang bor. Sumur yang memakai kerikil pembalut alam, saringannya harus
mempunyai garis tengah 2-4 inchi lebih kecil dari garis tengah lubang bor.
Bagi sumur yang memakai kerikil pembalut tiruan selisihnya antara 6-16
inchi harus mempertimbangkan jenis akuifernya. Pemilihannya garis tengah
saringan pada prinsipnya untuk mengejar luas total lubang agar kecepatan
masuknya aliran air tanah tidak melampaui standart yang akibatnya akan
memperbesar well-loss. Dari test laboratorium serta percobaan lapangan
oleh Johnson (1975) menunjukkan bahwa kecepatan masuk kedalaman
saringan jika harganya sama atau lebih kecil dari 0,1 fps akan diperoleh :
Kehilangan gesekan (friction loss) dalam tiap lubang saringan aklan dapat
diabaikan.
Kecepatan inkrustasi akan minimum.
Kecepatan korosi akan minimum.
Kecepatan masuk dihitung berdasarkan pembagian debit yang diharapkan
dari sumur dengan luas total lubang saringan, jika hasilnya lebih besar dari
0,1 fps maka garis tengah saringan harus diperbesar untuk mendapatkan
luas lubang yang cukup atau kecepatan masuk lebih kecil dari 0,1 fps,
demikian pula sebaliknya. Pertimbangan tersebut dilakukan pembesaran
lubang saringan tidak mungkin dilakukan akibat ukuran lubang sudah sesuai
dengan ukuran akuifernya.
Lubang saringan berfungsi sebagai ruang lewat air tanah dari akuifer ke
dalam sumur dan sebagai penahan material yang tidak diinginkan agar tidak
terbawa masuk ke dalam sumur. Fungsi tersebut akan lebih baik dengan
adanya kerikil pembalut yang dipasang di luar pipa saringan.
Penentuan ukuran lubang saringan berdasarkan data analisis ayakan dari
serbuk bor akuifer. Dari analisis tersebut dapat ditentukan persentase lolos
(percentage passing), persentase tertahan (percentage retained), ukuran
butir, menurut Johnson untuk sumur yang memakai kerikil pembalut alam
dengan akuifer berbutir halus maka lebar lubang saringan dipilih pada
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

besaran 40 - 50% persentase tertahan. Caranya dengan menarik garis datar


dari persentase tertahan kumulatif butir akuifer sebesar 40 - 50% memotong
grafik komulatif tersebut dan ditarik tegak memotong sumbu datar yang
menunjukkan besarnya ukuran lubang. Pemakaian 40% tertahan kumulatif,
apabila airtanah tidak bersifat korosi dan contoh butir akuifer dapat
dipercaya sedang untuk 50% tertahan kumulatif apabila airtanah bersifat
korosi atau contoh butir akuifer homogen berbutir kasar misalnya pasir
kasar, kerikil maka penentuan ukuran lubang saringan dapat diambil 30-
50%. Untuk akuifer yang tidak homogen, penentuan ukuran lubang saringan
disesuaikan dengan ukuran masing-masing akuifer sehingga ukuran saringan
yang dipasang berbeda-beda pada sumur tersebut. Selaian tersebut di atas
Johnson, 1975 memberikan dua pedoman lagi yaitu:
Jika susunan akuifer yang berbutir halus terletak di atas yang berbutir
kasar, maka pemasangan saringan dengan ukuran lubang yang
direncakan untuk material halus harus diturunkan sedikitnya 2 ft dari
batas lapisan kasar dan halus. Hal ini untuk mencegah penerobosan atau
penurunan material halus ke dalam lubang saringan yang kasar, jika
tidak demikian akan terjadi penerobosan.
Jika material halus terletak di atas material kasar dari akuifer, maka
ukuran lubang saringan yang akan dipasangkan untuk material kasar
tidak boleh saringan dengan ukuran lubang lebih dua kali dari ukuran
lubang saringan untuk material halus.

Dengan pedoman tersebut dapat mengurangi pemompaan pasir (sand


pump) dan harga kapasitas jenis yang didapat cukup tinggi.
Menurut Sir A. Mac Donald and Partners & Hunting Technical Service ltd.
(1965) untuk jenis sumur yang menggunakan kerikil pembalut buatan ukuran
lubang saringan diambil 5 kali 40% dari ukuran 0.10 kerikil pembalut atau 2
kali dari ukuran 0.10 kerikil pembalut. Dengan catatan bahwa kerikil
pembalut tersebut sudah memenuhi syarat perhitungan.

e. Kerikil Pembalut
Kerikil pembalut ada 2 macam yaitu kerikil pembalut alam dan kerikil
pembalut buatan. Pemakaian kerikil pembalut sekeliling sumur untuk
mendapatkan aliran air dengan peralihan laminer antara lubang saringan
dengan akuifer.
Fungsinya yaitu untuk menahan material halus dari akuifer agar tidak masuk
kedalam lubang sumur untuk memperoleh tekanan minimum pada daerah
sekeliling saringan sumur dan sebagai material pendukung lubang bor agar
formasi batuan tidak runtuh dan menghimpit pipa instalansi sumur bor.
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

e.1 Kerikil Pembalut Alam


Adalah kerikil pembalut yang materialnya adalah material formasi batuan itu
sendiri . Kerikil ini diperoleh dari hasil pengembangan sumur sehingga
material yang halus terbuang keluar. Kerikil pembalut ini dipakai pada sumur
yang selisih garis tengah lobang bor dengan pipa relative kecil. Disini yang
penting adalah memperhatikan kesesuaian lebar lubang dengan distribusi
ukuran butir akuifer.

e.2 Kerikil Pembalut Buatan


Kerikil pembalut buatan ada 2 macam yaitu seragam dan bergradasi. Kerikil
pembalut seragam baik dipakai pada akuifer yang mempunyai distribusi
ukuran butir akuifer yang seragam pula. Pemasangan kerikil pembalut ini
mudah karena tinggal memasukkan saja dari rongga atas pipa konstruksi
sumur. Kerikil pembalut bergradasi diambil keseragamannya dan disamakan
dengan keseragaman akuifer, karena hal ini mempunyai efek terhadap
kelulusan air.
Kerikil pembalut terdiri atas material yang bersih dengan bentuk membulat,
keseragamannya rata . Materialnya berasal dari silikat, sedikit atau tanpa
mengandung gamping, maksimum gamping yang dijinkan 5 %, dan tidak
memiliki kandungan anhidrit. Ketebalan kerikil pembalut dari percobaan ( Hill
Mac Donald and partners dan hunting technical service, 1965 ) cukup 0,5
inch jika dilakukan merata tetapi banyak ahli yang menganjurkan antara 6
sampai 7 inchi. Sedangkan Johnson (1975) berkisar antara 3 sampai 9 inchi.
Ukuran kerikil pembalut menurut ditentukkan dengan hasil ayakan butiran
akuifer 15% atau D 15.

Tabel 5.
Ukuran kerikil
Sumber Kriteria ukuran butir
US Water Ways 0.15 kerikil pembalut =6
0.85 akuifer
US Dept of Agriculture 0.15 kerikil pembalut = 3.6 6.4
0.85 akuifer
US Bureau of reclamation 0.50 kerikil pembalut = 5 - 10
0.50 akuifer

f. Pengembangan Sumur
Setelah sumur selesai dikontruksi maka dilanjutkan dengan pengembangan
sumur. Pengembangan sumur dimaksudkan untuk menambah kapasitas
sumur dan menjaga agar material halus tidak menutup lubang, pori-pori atau
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

masuk ke dalam sumur. Beberapa cara pengembangan sumur adalah


sebagai berikut:
Pemompaan dilakukan dengan pipa yang dimasukkan ke dalam sumur
dan pada tahap awal harus dijlankan dengan perlahan, makin lama
makin cepat dengan dbeit yang cukup besar dan secara menerus sampai
airtanah yang keluar jernih. Setelah ditunggu beberapa saat pompa
dimatikan supaya muka airtanah kembali ke kedudukan semula, lalu
pemompaan dilanjutkan lagi beberapa kali sampai benar-benar bersih.
Material kasar yang ikut masuk ke dalam sumur dapat diambil dengan
bailer atau alat timba.
Surging, yaitu dengan mengaduk air di dalam sumur. Alat yang
digunakan berbentuk piston dilengkapi dengan katup. Pada waktu torak
dinaikkan airtanah dihisap dari akuifer mengandung CO2 bebas yang
dapat terabsorbsi oleh air masuk reap ke dalam tana. Kombinasi CO2
dengan air dalam bentuk carbonic acid yang merupakan asam lemah.
Dalam pengalirannya kemungkinan bertemu dengan gamping, napal
sehingga dapat melarutkan kalsium karbonat dalam jumlah besar atau
material ankrustasi yang lain. Air tersebut ikut masuk ke dalam sumur
karena pemompaan yang berarti terjadi perbedaan tekanan antara air
dengan akuifer dengan air di dalam sumu, sehingga CO2 yang terlarut
dalam air akan terlepas dan material gamping tertinggal pada saringan
Atau pada kerikil pembalutnya. Faktor yang menyebabkan ikrustasi
adalah tinggi >7.5, kesadahan karbonat >300 bpj, besi >200bpj
(inksustasi besi), mangan > 1 bpj.
Untuk memperkirakan apakah air tanah tersebut bersifat korosi atau
inkrustasi dengan indeks stabilitas air (RYZNAR). Kalau harga indeks
stabilitas air (I) > 9 maka air bersifat kkorosi dan apabila I < 7 bersifat
inkrustasi. Harga I ini tidak dapat mengetahui korosi yang disebabkan
oleh H2S sulfate reducing bacteria, dissolved oxigen atau inkrustasi
akibat besi, mangan atau bakteri besi. Menentukan harga I dengan pH,
TDS, MO (methyl orange alkalinity) dan konsentrasi ion kalsium atau
dengan rumus:
I= S C pH
Nilai S didapat dari gambar yaitu hubungan antara TDS dengan S,
sedangkan nilai C didapatkan dari hubungan antara MO dengan Ca
seperti pada gambar yaitu dengan menarik garis datar dari harga Ca
(bpj) dan menarik garis tegak dari harga MO (bpj) berpotongan pada
garis miring yang menunjukkan harga C-nya.
Surging dengan tekanan udara, yaitu dilakukan dengan kompresor
dengan tekanan yang sangat besar. Udara dilewatkan pada rangkaian
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

pipa ke dalam sumur, tekanan diubah-ubah sehingga air tanah di dalam


sumur keluar bersama kotoran. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai
air tanah yang keluar jernih.
Dengan CO2 padat yang dimasukkan ke dalam sumur, mulut sumur
ditutup rapat. Sebelum CO2 padat dimasukkan untuk mengahancurkan
dan melepaskan lempung dengan pengasaman HCl. Maka terjadi reaksi
dengan CO2 padat sehingga terbentuk gas CO2 bertekanan tinggi.
Setelah itu tutup sumur dibuka akan terjadi semburan air bersama
kotoran (material) sumur dan dilanjutkan dengan pemompaan sampai
airtanah yang keluar jernih. Cara ini sangat baik untuk akuifer yang
berupa batugamping karena akan terjadi reaksi dengan HC, sehingga
tidak perlu memberikan CO2 padat. Cara ini dikenal sebgai acidization
(injeksi asam klorida) seperti yang dilakukan pada beberapa sumur bor di
daerah Wonosari.
Peledakan lubang bor, cara ini baik dilakukan pada akuifer yang kompak
dan padat sehingga air tanahnya terdapat pada retakan (rekahan).
Peledakan dengan menggunakan dinamit yang dipasang pada kedalaman
tertentu dan diledakan dari atas. Retakan akan menjadi bertambah besar
sehingga airtanah akan lebih banyak. Setelah itu dilakukan pemompaan
untuk membersihkan sumur bor dari kotoran hasil peledakan. Kontruksi
sumur bor yang diledakan adalah open hole (lubang terbuka).

g. Pemilihan Pompa
Pompa yang dipilih menggunakan jenis pompa celup / submersible pump.
Pemilihan jenis pompa dilakukan setelah diperoleh data :
Debit
Head pompa
Efisiensi pompa (untuk jenis submersible berkisar antara 75 90%)
Perhitungan pompa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
.g. H .Q
P=

, dimana :
P = Tenaga pompa (KW)
= massa jenis air (kg/m3)
g = perceparan gravitasi (m2/det)
H = head pompa (m)
Q = debit (m3/det)
= efisiensi pompa
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

h. Perpipaan
Secara garis besar jaringan perpipaan dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1. Jaringan perpipaan transmisi, yang berfungsi untuk mengalirkan air ke
suatu titik tanpa pengaliran ke pelanggan. Jaringan pipa transmisi
terbagi menjadi dua bagian :
Transmisi air baku, berfungsi untuk mengalirkan air baku dari
intake ke instalasi pengolahan
Transmisi air bersih, berfungsi untuk mengalirkan air bersih yang
telah diolah di instalasi pengolahan ke reservoir distribusi atau ke
reservoir transfer
Dimensi perpipaan transmisi terpengaruh oleh penggunaan air pada
harian puncak yang terjadi dalam satu bulan (max day).
2. Jaringan perpipaan air bersih (jaringan perpipaan distribusi),
merupakan jaringan perpipaan air yang berfungsi untuk mengalirkan
air dari sumber air bersih ke wilayah pelayanan air bersih. Pipa
distribusi harus dapat mengalirkan air bersih pada saat jam puncak.
Besarnya factor jam puncak yang terjadi dapat dihitung berdasarkan
fluktuasi penggunaan air di reservoir.

Kriteria jaringan perpipaan tersebut dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6
Kriteria Perencanaan Jaringan Perpipaan Air Baku & Air Bersih

No Uraian Kriteria Perencanaan


1 Pengaliran:
a. Jaringan Perpipaan :
Transmisi Hari Maksimum (Maximum Day
Distribusi Demand)
Hari Rerata dan Peak Huor
2 Faktor Pengaliran
a. Harian (1,05 1.3)
Maksimum (max. day (1,50 3)
Factor)
Jam Puncak (Peak Hour
Factor)
3 Dimensi Pipa
Kecepatan Aliran (Velocity (0,3 3,0) meter/detik
Flow) >150 mm
Diameter pipa Induk/primer <150 mm
Diameter Pipa
Sekunder/tersier
4 Kualitas dan Tekanan Kerja di
Jaringan Stander PERMENKES RI No.416/1990
a. Kualitas dan PERMENKES RI No.VII/2002
b. Distribusi (40-60) meter kolom air (MKA)
c. Minimum sisa tekanan (10-20) meter kolom air (MKA)
5 Jam Operasi 24 Jam
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

No Uraian Kriteria Perencanaan


6 Kehilangan Air (Uncounted for (15%-25%) x total Demand
water) Consumption
Sumber : Analisa Konsultan

Pola Jaringan Perpipaan


Pola jaringan perpipaan sistem distribusi air minum umumnya dapat
diklasifikasikan menjadi sistem jaringan melingkar (Grid System) atau yang
lebih dikenal dengan sistem looping, sistem jaringan bercabang (Branch
System) dan sistem kombinasi dari ke duanya. Bentuk sistem perpipaan
tersebut tergantung pada pola jaringan, topografi, tingkat dan tipe
perkembangan daerah pelayanan, serta lokasi instalasi pengolahan.
Jika dilihat dari kondisi topografi dan jalanan yang terdapat di wilayah Kota
Baru Parahyangan dapat disimpulkan bahwa pola branch (cabang)
merupakan pola jaringan yang paling cocok untuk diterapkan di wilayah Kota
Baru Parahyangan.

Pemilihan Jenis Pipa


Jenis pipa yang disyaratkan dapat menahan tekanan sampai dengan 10 BAR,
dengan kata lain jenis pipa yang dapat digunakan sebagai pipa distribusi
adalah jenis PVC S-10, HDPE SDR 17-PN.10, atau Steel Medium. Komparasi
dari kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pipa dapat dilihat pada
tabel 7.

Tabel 7
Alternatif Pemilihan Jenis Pipa Yang Akan Digunakan

Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3


Deskripsi
Pipa PVC Pipa HDPE Pipa Steel
- Kela S-10 (RRJ) SDR 17 PN 10 STD. Medium
s Pipa
10 Bar 10 Bar > 10 Bar
- Teka
nan maksimum Tahan korosi, Lentur, tahan korosi, Kaku, tahan
ringan, koefisien tahan benturan, benturan, berat,
- Kare muai tinggi koefisien muai koefisien muai
kteristik pipa rendah rendah
Murah,
accessories Murah, dengan Mahal
- Harg mudah perbandingan:
a pipa diperoleh di PVC < HDPE <
USULAN TEKNIS
Perencanaan Pembangunan Sumur Artesis Cimahi Selatan

Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3


Deskripsi
Pipa PVC Pipa HDPE Pipa Steel
pasaran Steel
Sangat banyak
Banyak Sedikit
- Kebutuhan
asesoris Rendah
(terutama Tinggi Sangat Rendah
bend)
Sangat kuat
- Resiko Rendah Kuat
illegal tapping Mahal
Murah Cukup Mahal
- Ketahanan Menggunakan
Mudah, Menggunakan mesin mesin las &
- Biay dilakukan penyambung & operator terlatih
a Pemasangan secara manual operator terlatih

- Pem
asangan

Sumber : Analisa Konsultan

i. Reservoir
Reservoir (bak penampung) adalah tempat penampungan air yang telah
selesai diolah dan siap didistribusikan. Fungsi reservoir yang paling utama
ialah untuk menyediakan air minum pada saat fluktuasi pemakaian berada
dalam keadaan puncak (maksimum). Reservoir juga dapat berfungsi sebagai
penyedia tekanan bagi distribusi air minum jika diperlukan.
Kriteria Perencanaan :
Waktu penampungan (td) = (1-2) menit
Bentuk empat persegi panjang, atau selinder
Material pembuatan baja atau beton

Perhitungan volume reservoir :


V = Q . td . fmd . 15%
,dimana :
Q = debit aliran
td = waktu penampungan
fmd = faktor harian maksimum (1.1 1.3)