Anda di halaman 1dari 183

DIGLOSIA DALAM BAHASA ARAB PERSPEKTIF

SOSIAL BUDAYA

Tesis
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Megister Agama dalam
Bidang Pendidikan Bahasa Arab

oleh:

MESRIANTY
Nim: 07.2.00.1.15.08.0106

Pembimbing :

Dr. AHMAD DARDIRI, MA

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
LEMBAR PERNYATAAN

Bahwa saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Mesrianty
Nim : 07. 2.00.1.15.08.0106
Pekerjaan : Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
Agama : Islam
Menyatakan bahwa:
1. Tesis yang berjudul Diglosia Dalam Bahasa Arab Perspektif Sosial Budaya
merupakan hasil karya asli saya yang digunakan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata 2 (Magister) di Sekolah Pascasarjana
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Jakarta
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya, maka
saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta berupa pencabutan gelar.

Jakarta, 26 juli 2010

Mesrianty

i
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tesis dengan judul : Diglosia Bahasa Arab (penggunaan bahasa Arab miyah
perspektif sosial budaya), yang ditulis oleh:

Nama : Mesrianty
NIM : 07.2.00.1.15.08.0106
Program Studi : Pendidikan Bahasa Arab

Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah kami setujui untuk di bawa
ke dalam ujian tesis/munaqasah.

Jakarta, ....Juni 2010


Pembimbing

Dr. Ahmad Dardiri, MA

ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI

Tesis Mesrianty (NIM. 07.2.00.1.15.08.0106) yang berjudul Diglosia


dalam Bahasa Arab Perspektif Sosial Budaya, telah lulus dalam sidang
Munaqasyah Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari Jumat, tanggal 6 Agustus 2010 M, dan
telah diperbaiki sesuai saran dan rekomendasi dari Tim Penguji Tesis.

TIM PENGUJI

Ketua Sidang/Penguji Pembimbing/Penguji

Dr. Yusuf Rahman, MA Dr. Ahmad Dardiri, MA


Tanggal, September 2010 Tanggal, September 2010

Penguji I Penguji II

Prof. Dr. Aziz Fahrurozi, MA Dr. Yusuf Rahman, MA


Tanggal, September 2010 Tanggal, September 2010

iii
ABSTRAK

Kesimpulan besar dalam tesis ini membuktikan bahwa diglosia dalam bahasa
Arab adalah merupakan dampak dari perkembangan sosial budaya yang terjadi pada
masyarakat. Semakin maju sosial budaya suatu bangsa, maka semakin berkembang
pula bahasanya. Penggunaan bahasa Arab miyah dan bahasa Arab fu
merupakan suatu variasi bahasa. Bahasa Arab sangat kaya dengan variasi, meskipun
kedua bahasa tersebut terdapat perbedaan baik dari fonologi, morfologi atau
leksikonnya, tetapi bentuk bahasa yang mereka gunakan merupakan satu bahasa yang
sama.
Penelitian ini mendukung pendapat Emil Badi Yakub yang menyatakan
bahwa perkembangan bahasa merupakan suatu hal yang positif dan merupakan
bentuk dari peradaban manusia.
Tesis ini merupakan kritik terhadap pendapat Ans Farhah yang menyatakan
bahwa diglosia merupakan sebuah masalah besar dan berdampak negative.
Menurutnya dampak negative tersebut terdapat pada bidang pemikiran, kepribadian,
moral, kegiatan sastra dan seni.
Adapun sumber data dalam tesis ini terdiri dari sumber primer diantaranya,
Fiqh al-Lughah wa khaisuh oleh Emil Badi Yakub, Ali Abd Wid Wf, Ilm
al-Lughah , selain itu juga didukung oleh data-data yang merupakan eksplorasi dari
sumber-sumber kepustakaan yang terkait dengan tema pembahasan dengan
menggunakan metode deskriptif-analitis

iv
ABSTRACT

This thesis proves that Diglossia in Arabic is the impact of socio-cultural


developments in society. The more advanced social culture of a nation, the more
growing its language. The use of Arabic language miyah and Arab fu is a
variation of language. Arabic Language is very rich in variety, although there are
differences in both languages, phonology, morphology or lexicon, but the shape of
the language they use is the same language.
This study supports the opinion of Emil Badi Yakub who states that
language development is a positive thing. Diglossia is common and is one form of
civilized human beings.
This thesis criticizes the opinion of Ans Farhah that Diglossia is a big
problem and has negative impact. According to him, the negative impact is found in
the field of thought, personality, moral, literary and artistic activities.
As for the source of the data in this thesis consist of primary is Fiqh al-
Lughah wa khasisuh by Emil Badi Yakub, Ilm al-Lughah by Ali Abd Wid
Wf, it also supported by data which is the to exploration the source of literature
related to the theme of the discussion by using a descriptive-analytical methods.


.
.
.

.

.

.
.



vi
KATA PENGANTAR

Puja dan syukur kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah,
alhamdulillah berkat rahmat, ridho, hidayah dan taufiq-Nya yang telah
dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini sebagai
salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar akademik magister dalam ilmu
Pendidikan Bahasa Arab pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Tesis ini berjudul: Diglosia dalam Bahasa Arab Perspektif Sosial


Budaya.

Berkenaan dengan selesainya penulisan tesis ini, maka dengan rasa syukur
serta hormat penulis mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan, dan pengarahan serta dukungan moril dan
materil. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:

1. Prof. Dr Azyumardi Azra, MA Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Sayrif


Hidayatullah Jakarta, beserta pembantu Rektor dan stafnya yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti perkuliahan di
kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Dr. Suwito, MA, Dr. Fuad Djabali, MA., Dr.Yusuf Rahman, MA.,
yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama masa studi di
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Departemen Agama RI, yang telah berkenan memberikan bantuan


beasiswa kepada penulis, sehingga penulis dapat melanjutkan studi di
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dr. Ahmad Dardiri MA, yang telah berkenan memberikan masukan,


arahan, bimbingan, dan dukungan kepada penulis selama penulisan tesis
ini berlangsung sampai selesai.

vii
5. Bapak, Ibu dosen dan seluruh civitas akademik Sekolah Pascasarjana UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan ilmu dan pelayanan
kepada penulis selama masa studi di Sekolah Pascasarjana UIN Sayrif
Hidayatullah Jakarta.

6. Kepada Pimpinan dan Pengurus Yayasan Nur Iman Pekanbaru, Pimpinan


dan Pengurus Pesantren Darul Hikmah Pekanbaru, serta Kepala Sekolah
Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah Pekanbaru, tempat penulis
mengabdikan ilmu selama ini, yang telah memberikan izin dan
kesempatan kepada penulis untuk meninggalkan tugas guna melanjutkan
pendidikan S2 di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ini..

7. Rekan-rekan seperjuangan sesama mahasiswa beasiswa Departemen


Agama Program Studi Pendidikan Agama Islam, B. Arab MTs dan MA,
angkatan 2007, yang telah memberikan dukungan moril kepada penulis
selama kuliah dan selama dalam penulisan tesis ini sampai selesai.

8. Ayahanda Tercinta Ripin BA dan Ibunda Tersayang Nurlis yang telah


mendidik dan membesarkan penulis, yang tiada henti memberikan
dukungan dan semangat serta harapan besar untuk masa depan dan
abanganda Insinyur M. Endriady beserta keluarga, Kakanda Endriany dan
suaminya Idris yang telah memberikan dukungan kepada penulis serta
keponakan tersayang Thariq al Aziz Muhadits dan Kamila Zikra Muhadits
yang selalu menantikan dan merindukan serta mendoakan penulis untuk
cepat menyelesaikan tesis ini.

9. Kepada suami A. Fauzi Musyafa S.Ag yang telah memberikan


kesempatan kepada penulis untuk mengikuti kuliah di Sekolah
Pascasarjana UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta.

10. Kepada seorang sahabatku yang telah banyak memberikan motivasi,


dukungan moril serta arahan kepada penulis sehingga penulis bisa tabah
dan mampu menyelesaikan tesis ini

viii
Akhirnya, penulis hanya bisa semoga tesis ini dapat menjadi salah satu
langkah awal untuk pengembangan ilmu pendidikan yang lebih mendalam bagi
peneliti berikutnya, dan semoga karya yang sederhana ini menjadi amal jariyah
yang tetap mengalir pahalanya bagi penulis.

Jakarta, Juli 2010

Mesrianty

ix
Pedoman Transliterasi Arab-Latin dan Singkatan

A. Translitersi
= ` = z = q

= b = s = k

= t = sh = l

= th = = m

= j = = n

= = = w

= kh = = h

= d = = y

= dh = gh = h

= r = f

Mad dan Diftong


1 a panjang =

2 i panjang =

3 u panjang =

4 diftong = Au

x
= uw

= Ai

= Iy

5. Huruf ditulis al- seperti ditulis al-amdu

6. Nama orang, nama-nama dan istilah-istilah yang sudah dikenal di Indonesia tidak masuk
dan tidak terkait dengan pedoman ini, contoh: Fatimah, fitnah, shalat, dan lain-lain.

B. Singkatan-singkatan:
H. = Hijryah M. = Masehi
ra = Rayallhuanhu t.th. = tanpa tahun
Saw. = allallhu alaihi wasallam t.p. = tanpa penerbit
SWT. = Subhnah wa Tal t.t. = tanpa tempat

xi
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah sarana berpikir manusia, serta alat interaksi sosial
masyarakat bahasa.1 Dengan demikian dapat dipahami bahwa bahasa sangat
berperan dalam kehidupan manusia, guna memenuhi kebutuhan mereka. Baik
bahasa yang bersifat verbal, non verbal dan bahasa isyarat lainnya. Bahasa sebagai
alat komunikasi verbal dan non verbal manusia saat ini semakin dirasakan
manfaatnya. Dengan bahasa manusia dapat saling berinteraksi dengan manusia
lain untuk menyampaikan pesan dan perasaannya dengan lafad-lafa tertentu2.
Selain itu, bahasa juga merupakan simbol yang digunakan untuk menafsirkan apa
yang disimbolkannya. Dalam hal ini, Ernest Cassirer menyebut manusia sebagai
animal simbolicum, yaitu makhluk yang menggunakan simbol, yang secara
generik mempunyai cakupan yang lebih bebas dan luas daripada Homo sapiens
karena dalam kegiatan berpikirnya manusia menggunakan simbol3. Dengan
adanya simbol ini, memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara
berlanjut. Bahasa sebagai simbol dan alat komunikasi bagi manusia yang teramat
penting, terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan sejalan
perkembangan pikiran, budaya, transformasi, dan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Secara garis besar, Bahasa Arab dibagi kepada dua kategori; Fu dan
miyah. Bahasa Fu adalah bahasa Arab yang mempunyai sistem morfologis
(arf) dan sintaksis (naw) tersendiri. Bahasa Arab baik lisan maupun tulisan
1
Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi antara yang satu
dengan lainnya dengan fasilitas bahasa, sehingga antara masyarakat tersebut terjadi aksi
komunikasi yang parallel. Leonard Bloomfield, Language, (terj. I. Sutikno), (Jakarta: PT.
Gramedia, 1965), hal. 40
2
Muafa al-Ghulayain, Jami' al-Durs al-'Arabiyyah, (Beirut: Dr al-Kutub al-'Ilmiyah,
2006 M/1427 H), hal. 7. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa bahasa adalah ungkapan pembicara
akan maksud-maksudnya, lihat Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, (ttt), hal. 546. Baca
juga Ahmadie Thoha, Terjemah Muqaddimah Ibnu Khaldun, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), hal.
776.
3
Jujun S. Suriasimantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 2007), hal. 171. Selain itu, baca juga Ernest Cassirer dalam An Essay on Man,
(New Heaven: Yale University Press, 1944). Bandingkan juga dengan Abduh al-Rajih, Fiqh al-
Lughah f al-Kutub al-'Arabiyyah, (Iskandariyah: Dr al-Ma'rifah al-Jami'iyyah, 1998), hal. 60-70

1
2

yang menyalahi aturan-aturan (qawid) bahasa Arab Fu , maka itu dianggap


sebagai Dialek, (lahjah, lanun, luknah atau miyah).4
Dalam sejarah disebut bahwa pada masa kejayaan Islam, masyarakat Islam
pada saat itu mempelajari bahasa Arab Fu dengan tekun dan penuh antusias
baik bahasa lisan maupun bahasa tulisannya. Tapi sejak kemunduran Islam sekitar
abad XIII Masehi perhatian masyarakat terhadap bahasa Arab Fu juga
mengalami kemunduran.5 Sehingga bahasa Arab Fu hanya berfungsi sebagai
bahasa tulisan saja dan kurang dipakai sebagai bahasa lisan bersamaan dengan
munculnya dialek-dialek lain dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai latar
belakangnya.
Dewasa ini, bahasa Arab Fu hanya dipakai di dunia Arab dan umat
Islam dalam pembicaraan resmi, kegiatan ibadah, pidato keagamaan, ceramah
ilmiyah dan kesempatan-kesempatan lain yang tidak memberi peluang luas
kepada pembicara untuk berbahasa dengan bebas. Sebaliknya dalam kehidupan
sehari-hari, bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab miyah atau dialek-dialek6
yang sudah banyak berkembang di setiap penjuru jazirah Arab.

4
Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlar, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Jokjakarta:
Multi Karya Grafika, 1998), hal. 1265,1547,1564
5
Ali Abdul Whid Wf, Fiqh al Lughah, (Kairo: Lajnah al Bayan al Arabi, 1962), hal.
193
6
Banyak devinisi dialek yang dikemukakan oleh para ahli sosiolinguistik, diantaranya
dikemukakan oleh Ibrhm Ans yang menyatakan bahwa dialek adalah sifat-sifat kebahasaan yang
dimiliki oleh sekelompok masyarakat pada daerah tertentu. Ibrhm Ans, f al-lahjah al-
Arabiyah, (Kairo: al-maktabah al-anjelo), Cet ke-4, hal. 16. Menurut Gorys Keraf, bila bidang ini
diperluas akan tampak bahwa setelah masing-masing individu mempunyai ragam bahasanya yang
khas, maka akan di temukan persamaan-persamaan pada sekelompok individu. Kelompok individu
ini memiliki ciri-ciri yang sama dalam tata bunyi, kosa kata, morfologi, dan sintaksis, hal ini
disebut dialek. Lihat Gorys Keraf, Lingusik bandingan historis, (Jakarta: Gramedia, 1996),hal.
144. Istilah dialek yang merupakan padanan kata logat lebih umum di gunakan di dalam
pembicaraan ilmu bahasa. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ilmu bahasa lebih maju
perkembangannya di eropa daripada Negara-negara lain, dan didalam peristilahannya hampir
selalu berkiblat ke bahasa latin atau yunani sebagai salah satu cirri ilmiah. Istilah dialek yang
berasal dari kata yunani dialektos pada mulanya dipergunakan dsana dalam hubungannya dengan
keadaan bahasanya. Di Yunani terdapat perbedaan-perbedaan kecil di dalam bahasa yang
dipergunakan oleh pendukungnya masing-masing, tetapi sedemikian jauh hal tersebut tidak
menyebabkab mereka merasa mempunyai bahasa yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak
mencegah mereka untuk secara keseluruhan memiliki satu bahasa yang sama. Lihat Ayatroehadi,
Dialektologi Sebuah Pengantar, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979), hal. 1. Sementara M. Ali al-Khuli
mendefenisikan dialek adalah cara mengucapkan bahasa yang digunakan masyarakat pada daerah,
kemasyarakatan, dan budaya tertentu. Pada setiap bahasa mempunyai beberapa dialek yang
3

Adanya bahasa dan dialek-dialek menimbulkan peristiwa-peristiwa


kebahasaan yang mungkin terjadi akibat adanya kontak bahasa, yang dalam
sosiolinguistik diantaranya dikenal dengan isilah diglosia. Bahasa Arab sebagai
bahasa yang mempunyai jumlah penutur yang Sangat banyak pasti juga akan
mengalami peristiwa kebahasaan diatas, bahkan diantara masalah yang muncul
berkaitan dengan pembaharuan dan kebangkitan bahasa arab adalah adanya
bahasa tulis atau bahasa Arab klasik (Fu) sebagai bahasa universal di seluruh
negeri berbahasa Arab, dan bahasa Arab percakapan (miyah) yang berbeda antar
negeri Arab satu sama lain. Perbedaan ini menjadi salah satu masalah utama yang
menghambat kebangkitan nasional dan intelektual.7 Meskipun orang Arab pada
umumnya tampak tidak terasa terganggu dengan adanya situasi kebahasaan yang
diglosia ini, Namun kenyataannya, polemik mengenai hal ini masih terus
berlangsung dengan munculnya para pendukung kedua ragam bahasa tersebut.
Bahasa Arab dihadapkan pada tantangan globalisasi, tepatnya tantangan
pola hidup dan kolonialisasi Barat, termasuk penyebarluasan bahasa Arab8 di

masing-masing mempunyai kekhususan yang berbeda dengan yang lainnya dari aspek fonem,
morfem, dan sintaksis. Dengan berjalannya waktu, kadang dialek berkembang menjadi bahasa
yang lepas dari daerah, politik, dan kebudayaan asal. Lihat M. Ali al-Khuli, A Dictionary of
theoretical Lingustic, (Beirut: Librairie Du Liban, 1982), Cet 1, hal. 73. Lihat juga, Ibrhm Ans
F al-lahjah al-Arabiyah, hal. 16
7
Aliudin Mahjudin, Bahasa Arab dan Peranannya dalam Sejarah, (Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996), hal. 199
8
Ditinjau dari sisi sejarah, perkembangan bahasa Arab, terdiri dari beberapa periode,
yaitu : Periode Jahiliyah, Pada priode ini muncul nilai-nilai standarisari pembentukan bahasa arab
fusha, adanya beberapa kegiatan penting yang telah menjadi tradisi masyarakat Makkah . Kegiatan
tersebut berupa festival syair-syair arab yang diadakan di pasar Ukaz, Majanah, Zul Majah. yang
akhirnya mendorong tersiar dan meluasnya bahasa arab, yang pada akhirnya kegiatan tersebut
dapat membentuk standarisasi bahasa arab fusha dan kesusasteraannya. Periode Permulaan Islam,
Turunnya Al - Quran dengan membawa kosa kata baru dengan jumlah yang sangat luar biasa
banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai suatu bahasa yang telah sempurma baik dalam
mufradat, makna, gramatikal dan ilmu-ilmu lainnya. Adanya perluasan wilayah-wilayah
kekuasaan islam sampai berdirinya daulah umayah. Setelah berkembang kekuasaan Islam, maka
orang-orang Islam Arab pindah ke negeri baru, sampai masa Khulafa Al-Rasyidiin. Periode bani
Umayah, Terjadinya percampuran orang-orang Arab dengan penduduk asli akibat adanya
perluasan wilayah islam dan adanya upaya-upaya orang Arab untuk menyebarkan bahasa Arab ke
wilayah melalui ekspansi yang beradab. Melakukan arabisasi dalam berbagai kehidupan, sehingga
penduduk asli mempelajari bahasa arab sebagai bahasa agama dan pergaulan. Periode Bani
Abasiyah, Pemerintahan Abasiyah berkeyakinan bahwa kejayaan pemerintahannya dapat bertahan
bila bergantung kepada kemajuan agama Islam dan bahasa Arab, kemajuan agama Islam
dipertahankan dengan cara melaksanakan kegiatan pembedahan Al-Quran terhadap cabang-cabang
disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab
Badwi yang bersifat alamiah ini tetap dipertahankan dan dipandang sebagai bahasa yang bermutu
4

dunia Islam. Dalam waktu yang sama terjadi kampanye besar-besaran atas nama
globalisasi untuk menyebarkan dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa
yang paling kompatibel dengan kemajuan teknologi.
Sementara itu, di Indonesia, cenderung hanya mempelajari bahasa Arab
Fu, dengan rasionalitas bahwa bahasa Arab Fu itu merupakan bahasa Al-
Quran dan Al-Sunnah, karena tujuan utama studi bahasa Arab adalah untuk
kepentingan memahami sumber-sumber ajaran Islam. Sebagian kalangan
cenderung anti bahasa Arab miyah , karena mempelajari bahasa Arab pasaran itu
dapat merusak bahasa Arab Fu 9
Shauq aif berpendapat bahwa pergeseran antara bahasa Fu dan
miyah lebih didasari oleh faktor-faktor tata bahasa yang mencakup bentuk-
bentuk kata dan sistem tanda. 10 Misalnya saja kata dan lain
sebagainya. Aturan tata bahasa yang resmi dipakai pada dasarnya tidak pernah
memakai bentuk-bentuk tersebut di atas, yang ada adalah ,
merupakan bentuk fiil thulathi dalam kaidah tata bahasa. Menurut beliau, pola-
pola di atas menggambarkan bagaimana bahasa miyah dalam pemakaian sistem
tanda telah mengalami pergeseran dari aturan tata bahasa yang baku.
Hal senada sebagaimana diungkapkan oleh Abd al-Fatt dalam bukunya
Ilm al-Ijtimi al Lughaw (1995), bahwa sering terjadi dalam bahasa Arab

tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra bani Abas. Pada abad ke empat H bahasa
arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu
pengetahuan, dan bahasa Arab mulai dipelajari melalui buku-buku ,sehingga bahasa fusha
berkembang dan meluas. Periode ke lima, Sesudah abad ke 5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi
bahasa politik dan adminisrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi
setelah dunia arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non arab Bani Saljuk yang
mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara islam dibagian timur, sementara Turki
Usmani yang menguasai dunia arab yang lainnya mendeklarasikan bahwa bahasa Turki sebagai
bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin
terdesak. Periode bahasa arab di zaman baru, Pada zaman ini. Bahasa arab bangkit kembali yang
dilandasi adanya upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat
pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon
http://subpokarab.Wordpress.com/2008/08/09/,diakses tanggal 19 Januari 2009. Lihat juga
Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Humaniora, 2007), hal. 20-42
9
Muhbib Abdul Wahab, Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,
(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2008), hal.
10
Syauq aif, Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qawid wa al-Binyt wa al-Hurf
wa al-Harakt, (Kairo: Dr al-Marif, 1994), hal.16
5

bentuk-bentuk deviasi antara Fu dan miyah ,11 misalnya saja


disembuyikannya harakah ammah, fatah dan kasrah yang terdapat pada akhir
kata dan dibatasinya tanda irab dalam setiap kata.
Munculnya pergeseran bahasa miyah dari bahasa Fu tidak terlepas
dari dominasi kondisi sosio-geografis masyarakat Arab. Dimana setiap wilayah
tertentu memiliki ekspresi budaya tertentu tentang bagaimana menjadikan sebuah
bahasa menjadi media ekpresi individu dan kelompok, baik dalam bentuk lisan
maupun tulisan. R.H. Robins menjelaskan bahwa perbedaan antara Fu dan
miyah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: faktor geografis dan faktor budaya. Ia
menambahkan bahwa faktor geografis bukan hanya terfokus pada aspek tata
wilayah, namun penekanannya adalah bagaimana sebuah bahasa dapat berperan
menjadi sarana apresiasi masyarakat.12 Sementara faktor budaya dapat dilihat
beberapa aspek yang saling berkaitan antara yang satu dengan lainya, seperti
aspek sosial, profesi, dan pekerjaan dimana masing-masing mempunyai dialek
apresiasi yang berbeda.
Fenomena penggunaan dua ragam bahasa atau lebih, di kalangan ahli
sosiolinguistik juga dikenal istilah diglosia. Istilah ini lahir pertama kali
dimunculkan oleh Charles Ferguson tahun 1959, ketika menjelaskan hasil risetnya
tentang sikap berbahasa masyarakat Yunani, Arab, Jerman, dan Haiti.
Menurutnya, pada masyarakat-masyarakat bahasa ini terdapat dua jenis bahasa
berbeda namun masih dari satu bahasa, namun kebanyakan orang memandangnya
sebagai dua bahasa yang terpisah dan berbeda.13 Diglosia adalah salah satu
keadaan sosial yang terdapat pada sebuah bahasa yang mewujud sebagai sebuah
ciri-ciri bagi berbagai varian bahasa yang tersebar luas (large scale varieties)
menggantikan ciri-ciri yang terdapat pada tiap bahasa tertentu. Charles Ferguson,

Contoh dalam bahasa Arab fusha , berbeda dengan bahasa Arab miyah
11

yang semua akhir kata disukunkan dan tidak digunakannya kaidan-kaidah bahasa yang tepat.
Dengan demikian kata-kata Arab tersebut di atas diucapkan dengan . Lihat Abd al-
Fatt Aff, Ilm al-Ijtimi al Lughaw, (Kairo: Dr al-Fikr, 1995), hal. 99
12
R.H. Robinson, General Linguistik and Introductory Survey, (London: Longman,
1964), hal. 58
13
abr Ibrhm al-Sayyid, Ilmu al-Lughah al-Ijtim, (Iskandariyah :Dr al-Marifah
al-Jamiiyyah, 1995), hal. 149
6

sebagai tokoh pertama yang memakai istilah diglosia dalam sosiolinguistik


menyatakan bahwa pada semua masyarakat diglosia ada dua varian bahasa yang
terpisah dan berbeda secara memadai, sehingga menurut persepsi awam keduanya
memang dua bahasa yang terpisah sama sekali. Kedua bahasa itu, masing-masing
dipakai pada keadaan berbeda, yang satu dipakai dalam situasi resmi dan umum,
sementara yang satu lagi dipergunakan pada kesempatan harian dan kebiasaan
sehari-hari. Sebagai contoh adalah lahjah lokal dalam bahasa Arab. 14
ishah bint Shti berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan
bahasa miyah bukan terletak pada diglosia, dia menyebutnya dengan al-
thuniyah al-Lughawiyah (dualisme bahasa). Sejak dulu, bahasa Arab sudah
seperti itu yaitu ada ragam tinggi dan ragam-ragam dialek. Masalah sebenarnya
terletak pada pengajaran bahasa yang mengabaikan metode-metode praktis.15
Menurut hemat peneliti, sekalipun ishah bint Shti berpendapat bahwa
permasalahan dalam perkembangan miyah bukan karena faktor diglosianya,
namun dalam perkembangannya miyah tersebut telah menyisakan persoalan
yaitu minimnya metode yang ditemukan untuk lebih mengenali ragam bahasa
tersebut.
Ahmad Izzan berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan bahasa
miyah telah menimbulkan deviasi dengan bahasa Fu.16 Menurutnya, hal
tersebut dapat dilihat dalam aspek tata bunyi, bentuk kata, tata kalimat maupun
kosakata. Bahkan perbedaan yang sangat siginifikan terdapat pada hilangnya
tanda-tanda irab, perubahan bentuk akhir sebuah kata.
Walaupun diglosia dalam bahasa Arab bukan merupakan fenomena baru,
karena sudah ada sebelum datangnya agama Islam dan sudah pernah diselidiki
oleh para ahli tata bahasa dan ahli filologi Arab dan muslim berabad-abad yang
silam, namun belakangan sempat muncul kontroversi. Mengenai kontroversi
masalah itu, para ahli terbagi kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang
berpendapat bahwa diglosia adalah salah satu bentuk beradabnya manusia, dan

14
D. Hudson, Ilmu al-Lughah al- al-Ijtim, (Kairo: Alam al-Kutub, 1990), hal. 89
15
ishah bint Shti, Lughatun wa al-Hayh, (Maroko: Dr al-Marif, 1971), Cet. II,
hal. 187
16
Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hal. 30
7

kedua, kelompok yang berpandangan diglosia sebagai sebuah masalah besar


karena mengakibatkan anak-anak usia sekolah harus berbicara dengan bahasa
yang tidak mereka kenal, mereka tidak enak membaca, bahkan ingin menjauhi
bahasa fu. Apalagi untuk lancar berbahasa fu dibutuhkan waktu yang lama.
Diglosia dalam bahasa Arab ikut menjadi andil bagi ketertinggalan bangsa Arab,
karena itu sejumlah kelompok mengajukan usulan untuk menghilangkan diglosia
dalam bahasa Arab.17
Penentuan tema dalam penelitian ini juga berdasarkan penelusuran penulis
dalam beberapa literatur yang memberikan persepsi berbeda-beda tentang status
bahasa Arab fu18 dan miyah dalam konteks linguistik, budaya dan sosial.
Persoalan ini sesungguhnya tidak muncul karena persepsi bahasa hanya sebagai
sarana komunikasi saja.19 Akan tetapi, pesoalan mendasar yang menimbulkan
kotroversial penggunaan antara bahasa Arab fu dan bahasa Arab miyah lebih
disebabkan oleh faktor-faktor linguistik, budaya dan sosiopolitik masyarakat

17
Emil Badi Yaqub, Fiqh al-Lugah al-Arabiyah wa Khaiuh, (Beirut: Dr al-
Thaqafah al-Islmiyah, tt), hal. 148
18
Menurut Emil Badi' Ya'qub, bahasa Arab fu adalah bahasa yang digunakan dalam
al- Qur'an, situasi-situasi resmi, penggubahan puisi, penulisan prosa dan juga ungkapan-ungkapan
pemikiran (tulisan-tulisan ilmiah). Secara umum bahasa ini dapat diklasifikasikan dalam dua
tingkatan, yaitu Bahasa Arab Klasik (Classical Arabic) yang digunakan dalam bahasa al-Qur'an
dan Bahasa Arab Standar Modern (Modern Standar Arabic) yang digunakan dalam bahasa ilmiah.
http://supriyadie.blogspot.com/2008/07/karya-ib,diakses tanggal 19 januari 2009
19
Bahasa sebagai alat komunikasi tidak terlalu memperhatikan aspek gramatikal, yang
terpenting adalah bagaimana ide, gagasan dan tujuan yang ingin disampaikan dapat dicerna dengan
baik oleh mukhtab. Ibn Jin mengomentari bahwa bahasa adalah bunyi ujaran yang diungkapkan
oleh seseorang untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Lihat Ibn Jin, al-Khais, ditahqiq
oleh Muhammad Al al-Najjr, (Kairo: Dr al-Kutub, 1995), hal. 33. Lihat juga Abdul Chaer dan
Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 2.
Sementara Edward Sapir menjelaskan bahwa bahasa adalah sarana yang digunakan oleh manusia
untuk mengungkapkan pikiran, ide-ide dan perasaannya dengan cara menyusun lambang-lambang
yang muncul dengan keinginan sendiri. Lihat Edwar Sapir, Language: An Introduction to the
Study of Speech, (New York: Harcourt, Brace, 1921), hal. 13. Sedangkan S. Ullmann mengartikan
bahasa sebagai susunan lambang bunyi yang tersusun dalam pikiran orang sebagai bagian dari
masyarakat bahasa. Lihat abr Ibrhm al-Sayyid, Ilm al-Lugha al-Ijtimi: Mafhmuhu wa
Qayhu, (Iskandaria: Dr al-Marifah al-Jmiiyyah, 1995), hal. 3-4. Bahasa menurut Sayyid
Amad Manur ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota
kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri. Lihat Abd.
Munjid Sayyid Amad Manur, ilmu Lughah al-Nafs, (Riya: Jamiah al-Mulk Sud, 1982),hal.
5. Sedangkan Fati Ali Ynus dan Muammad Abd. Rauf al-shaikh, bahasa adalah ungkapan
tentang symbol-simbol suara yang tersusun yang digunakan sebagai alat interaksi antar anggota
masyarakat yang saling berhubungan, dalam hal ini bahasa memilliki fungsi sosial.Lihat Fati Ali
Ynus dan Muammad Abd. Al-Rauf al Shaikh, al Marja f al-Talm al-lughah al-Arabiyah li
al-Ajnib, (al- Qhirah: Maktabah Wahbah, 2003), hal. 119
8

Arab.20 Di samping itu juga, bahasa Arab fu merupakan bahasa yang tunduk
di bawah aturan-aturan kaidah-kaidah tata bahasa. Sementara bahasa Arab
21
miyah tidak mempunyai aturan kebahasaan yang baku22, sehingga banyak
sekali penyimpangan atau deviasi pada kosa kata dan penggunaan tata bahasa
antara bahasa Arab miyah dan bahasa Arab fu .
Bahasa Arab di negara-negara Timur Tengah, seperti: Arab Saudi, Mesir,
Syria, Iraq, Yordania, Qatar, Kuwait, dapat dibedakan menjadi dua ragam, yaitu
Arab fu dan Arab miyah . Keduanya digunakan dalam realitas sosial
dengan konteks dan nuansa yang berbeda. Bahasa Arab fu digunakan dalam
forum resmi (kenegaraan, ilmiah, akademik, jurnalistik, termasuk khutbah);
sedangkan bahasa Arab miyah digunakan dalam komunikasi tidak resmi,
intrapersonal, dan dalam interaksi sosial di berbagai tempat (rumah, pasar, kantor,

20
Faktor-faktor sosial-budaya yang dimaksud adalah faktor yang mempengaruhi
keanekaragaman dialek bahasa Arab yang berimplikasi pada perubahan struktur bahasa fu dan
miya. Abdul Wid Wf menjelaskan bahwa faktor utama terjadinya keragaman bahasa
adalah luasnya penyebaran bahasa tersebut. Secara tidak langsung aspek geografis ini
menyebabkan terjadinya pergumulan antara orang Arab dan ajam, sehingga melahirkan berbagai
penyimpangan kebahasaan. Lihat Abdul Wid Wf, Ilm al-Lughah, hal. 161-162.
21
Bahasa Arab miyah merupakan variasi bahasa yang diakui keberadaannya sepanjang
sejarah bahasa Arab. Menurut Clive Holes bahwa dialek mempunyai peran yang sangat berbeda
dengan bahasa Arab fu dimana bahasa Arabmiyah lebih banyak digunakan dalam situasi
tidak formal sepert berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta ketika memberi perintah atau
meminta sesuatu kepada pembantu, buruh, pekerja dan yang lainnya. Sedangkan bahasa Arab
fu lebih banyak digunakan dalam situasi resmi di media cetak, sekolah, Universitas, dalam
berpidato dan lain-lain. Lihat Clives Holes, Modern Arabic Structures, Functions and Vareties,
(London and New York: Longman Linguistic Librari, 1995), hal. 278
22
Bahasa Arabmiyah merupakan bahasa komunikasi yang digunakan manusia untuk
mengungkapkan ekspresi diri dan segala kebutuhan mereka tanpa mengacu pada kaidah-kaidah
kebahasaan yang resmi sebagaimana telah dibahasa oleh para nuht dan linguis Arab lainnya.
Lihat Abd al-Fatth Aff, Ilm al-Ijtimi al Lughaw,), hal. 119. Salah satu ciri bahasa Arab
pasaran adalah makin dominannya penggunaan .klausa nominal. atau .al-jumlah al-ismiyyah. yang
terdiri dari subyek dan predikat atau mubtada. dan khabar. Sebagaimana kita tahu, dalam bahasa
Arab literer-standar, kita mengenai dua jenis klausa, yakni klausa nomina (seperti Umar
berdiri/Umar qimun) atau klausa verbal atau al-jumla al-filiyyah. (seperti berdiri
Umar/"Qma Umar"). Dalam bahasa Arab pasaran, bentuk klausa verbal kurang banyak dipakai.
Kalangan sarjana Arab sekarangpun sebetulnya kurang terlalu bersemangat menyambut fenomena
dialek Arab pasaran. Meskipun dialek itulah yang mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari,
tetapi mereka kurang memperhatikan fenomena ini secara sungguh-sungguh. Ini terjadi baik pada
masa klasik maupun sekarang. Oleh karena itu, kita jarang sekali menjumpai karya-karya sarjana
Muslim berkenaan dengan fenomena bahasa pasaran yang berlaku pada masa mereka. Yang
mereka tulis selama ini adalah bahasa Arab standar yang sama sekali tak mencerminkan bahasa
yang dipakai dalam
kehidupan sehari-hari. http://islamlib.com/id/artikel/citra-keliru-tentang-bahasa-arab,diakses
tanggal 19 januari 2009
9

bandara, dan sebagainya).23 Frekuensi dan tendensi penggunaan bahasa Arab


miyah tampaknya lebih sering dan lebih luas, tidak hanya di kalangan
masyarakat umum, melainkan juga kalangan masyarakat terpelajar dan pejabat
(jika mereka berkomunikasi dengan sesamanya).
Terjadinya deviasi atau penyimpangan pada kosa kata dan tata bahasa
pada bahasa Arab fu salah satunya disebabkan karena lahn24(kesalahan
berbahasa), sehingga disusunlah Qawid bahasa Arab. Sedikit demi sedikit
dimulailah perumusan kaidah-kaidah nawu yang dikumpulkan dan
diiventarisasikan oleh Abu Aswad ad-Duali (16 s.H.-69H), ilmu nawu ini
disusun dalam rangka mengurangi kesalahan (lahn) dalam berbahasa25, sehingga
kesalahan tersebut berpotensi mengurangi otentisitas al-Quran.
Bahasa26 adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari
segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai
makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan yang tidak disertai
oleh bahasa. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia,
sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak
tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi
tidak tetap, menjadi tidak statis.27 Karena itulah, bahasa itu disebut dinamis.

23
Lihat http://www.isesco.org.ma/pub/arabic/Langue_arabe/p9.htm., 25 pebruari 2009
24
Lan secara etimologi adalah lagu, melodi, dan kesalahan gramatikal. Dalam konteks
perkembangan nahw, kasus lan dianggap sebagai salah satu pendorong gramatisasi bahasa Arab,
meskipun lan disinyalir sudah terjadi sejak zaman Nabi. Namun demikian, Tammm asan
melihat lan bukan merupakan faktor utama dalam penyusunan kaidah-kaidah nawu. Tetapi
hanya bagian dari tiga faktor pemicu munculnya dan berkembangnya ilmu nawu, yaitu faktor
agama, faktor nasionalisme, dan faktor politik. Lihat Rihb Khuar Ikw, Mawsah Abqirah
al-Islm f al-Nawi wa al-Lughah wa al-Fiqh, (Beirut: Dr al Fikr al-Arab, 1993), Cet. Ke-1,
hal. 9 dan Tammm asan, Al-Ul Dirsah Epistimulujiyyah l al-Fikr al-Lughawi Ind al-Arab,
(Kairo: lam al-Kutub, 2000), hal. 23. Lihat juga `Abd al-Karm Muammad al-As`ad, al-Was
F Trikh an-Naw al-`Arabi,( Riyad: Dr ash-Shawwaf, 1992), hal. 23-24
25
Lihat Muhbib Abdul Wahab, Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,
(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2008), hal. 6
26
Bahasa tak ubahnya seperti bahasa-bahasa lain didunia, tumbuh dan berkembang sesuai
dengan kepentingan orang yang memakainya. Suatu bahasa hidup atau mati sangat ditentukan oleh
sejauh mana masyarakat memakainya dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Bahkan suatu
bahasa dikatakan hidup jika masyarakat masih memakainya dalam kehidupan sehari-hari, dan
dikatakan mati bila terjadi sebaliknya. Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004), h. 4
27
Setiap bahasa akan mengalami perubahan selama bahasa itu masih di pakai, seringkali
perubahan itu tidak kita sadari salah satu perubahan bahasa karena adanya pengaruh dari bahasa
10

Orang-orang Arab amat menghargai bahasa mereka (bahasa Arab),


mereka sangat memuliakan bahasa tersebut sehingga mereka sangat khawatir
bahasa Arab akan rusak dan mengalami distorsi ketika bercampur dengan bahasa
asing. Inilah yang mendorong para ulama untuk menyusun gramatika Arab agar
bahasa Arab itu tidak hilang, atau lebur dengan bahasa asing. Di sisi lain, melalui
bahasa agaknya orang-orang Arab ingin menampakkan identitas mereka selaku
bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi. Dari sini telah mulai lahir cikal
bakal nasionalisme Arab yang pada abad-abad berikutnya telah menjadi wacana
yang menonjol bagi kalangan pemikir-pemikir moderat Islam Timur Tengah.
Di lihat dari aspek sosiologis bahwa bangsa-bangsa yang telah menjadi
bangsa Arab memiliki kebutuhan yang sangat tinggi terhadap bahasa Arab itu
sendiri dengan semua gramatika dan tata aturannya, sehingga mereka dapat
berbicara secara baik dan benar sehingga mereka merasa diterima dan memiliki
hak dan kewajiban yang sama dengan bangsa Arab. Faktor utama di atas tadi
saling berkaitan, artinya bahwa orang Arab butuh merumuskan kaidah-kaidah
bahasa Arab untuk melanggengkan bahasa28 mereka sehingga terbebas dari
pengaruh bahasa Asing. Dan melalui bahasa Arab isu-isu nasionalisme Arab
terangkat dan menempatkan posisi yang layak. Di sisi lain, orang-orang non Arab
yang telah menjadi bangsa Arab sangat butuh dengan kaidah-kaidah bahasa
Arab agar mereka dapat menggunakan bahasa Arab secara baik dan benar
sehingga keberadaan mereka diakui di sana. Maka upaya perumusan nawu29

lain. A. Chaedar Al wasilah, Pengantar Sosiologi Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1993), Cet. Ke-10,
hal. 114.Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Pateda bahwa bahasa berkembang terus
sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasanya atau penuturnya, karena pemikiran
manusia berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang pula. Lihat Mansoer Pateda,
Semantik Leksikal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), t.h. Lihat juga abr Ibrhm al-Sayyid, Ilmu al-
Lughah al-Ijtim, (Iskandariyah: Dr al-Marifah al-Jamiiyyah, 1995), hal. 199..
28
Bahasa merupakan salah satu wujud pengejawantahan nasionalisme suatu bangsa.
Nasionalisme adalah suatu paham, yang berpendapat bahwa keetiaan tertinggi individu harus
diserahkan kepeda Negara kebangsaan. Perasaan sangat mendalam akan suatu ikatan yang erat
dengan tanah tumpah darahnya dengan tradisi-tradisi setempat dan penguasa-penguasa resmi di
daerahnya selalu ada di sepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda-beda. Hans Kohn,
Nasionalisme, arti dan sejarahnya, alih bahasa Sumanri Mertodipuro, (Jakarta: Erlangga, 1984),
cet. IV, hal. 11
29
Nawu menurut para ahli bahasa Arab adalah tata aturan (qnun) dalam menyusun
kalam serta menjelaskan aturan suatu kata dalam kalimat, kalimat yang satu dengan kalimat yang
lainnya, sehingga terjadi kesesuaian ungkapan dan makna. Dengan kata lain ilmu Nahwu
11

ketika itu menjadi keharusan bersama yang penting untuk diwujudkan


secepatnya30
Secara tidak langsung proses pengajaran dan pendidikan bahasa Arab
secara informal telah berlangsung sejak itu. Perkembangan baru terpenting yang
terjadi dalam bidang nawu ini berawal di kota Barah31 disebabkan oleh karakter
masyarakatnya yang cenderung responsif dengan tradisi keilmuan dan mereka
siap dengan dialektika wacana peradaban, sebab mereka sebelumnya telah
bersinggungan dan bersentuhan dengan peradaban Yunani yang pada masa itu
dianggap sebagai peradaban yang modern.
Bahasa adalah medium ekspresi budaya tempat bahasa itu tumbuh,
berkembang dan dipergunakannya bahasa itu. Setiap kata selain memiliki makna
harfiah, ia pun memiliki makna budaya sebagai penampungan akar sejarah dan
tradisi masyarakat penggunanya. 32Ketika masyarakat pengguna bahasa
menggunakan bahasa mereka, sesungguhnya mereka sedang mengkomunikasikan
cara kebudayaan yang diwakili bahasanya.
Bahasa Arab adalah bahasa yang lahir, berkembang dan dipergunakan para
penuturnya di wilayah Arab. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah
sebagai bahasa yang dipergunakan sesuai dengan kerangka budaya Arab.
Sedangkan salah satu faktor yang mempengaruhi corak budaya adalah faktor alam
yang terdiri ari faktor geografis, faktor iklim dan keadaan tanah. 33Faktor alam ini
dengan langsung membawa perbedaan corak penghidupan atau ekonomi.
Di negeri Arab dengan gurun-gurun pasirnya yang terhampar tidak
mungkin dilakukan pertanian seperti di wilayah tropis. Gurun pasir membentuk

memusatkan perhatiannya dalam mengkaji hubungan sekumpulan kata dalam kalimat, dengan
menentukan posisi dan jabatannya serta kaitannya antara satu dengan yang lainnya. Jafar asan
al- Khalfah, Fuslun f tadrsi al-lughah al-Arabiyah, (Riya: Maktabah al-Rushd, 2003), hal. 34
30
http://kampusislam.com, diakses tanggal 16 maret 2009
31
Barah secara geografi berada di wilayah pantai laut dan mayoritas penduduknya
adalah kaum urban, dan diberi kehormatan sebagai tempat kelahiran disiplin filsafat dalam bahasa
Arab. W. Montgomery Watt, The Majesty That Was the Islam, terj. Hadi Kusumo,
Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 148
32
Fati Ali Ynus dan Muammad Abd. Al-Rauf al Shaikh, al Marja f al-Talm al-
lughah al-Arabiyah li al-Ajnib, hal. 120
33
Faktor-faktor yang menentukan corak kebudayaan menurut Chr. Dawson yang dikutip
Sidi Gazalba ada empat yaitu alam, ekonomi, keturunan dan kejiwaan. Lihat Sidi Gazalba,
Pengantar kebudayaan sebagai ilmu, ( Jakarta: Pustaka Antara, 1968), hal. 77
12

penduduknya menjadi bangsa peternak, pengembara atau pedagang. Bangsa


seperti ini tidak terikat oleh tanahnya yang tidak memberikan hasil bumi yang
melimpah, mereka terpaksa mencari penghidupan lain. Cara penghidupan ini
menimbulkan kebiasaan sehari-hari yang berkembang menjadi susunan adat,
pranata sosial dan kebudayaan34 yang seterusnya diungkapkan dalam medium
bahasa yang dipergunakannya.
Penyebaran bahasa dalam konteks sosial-budaya sangat berbeda antara
bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Ada yang tersebar di wilayah-wilayah
tertentu secara luas dengan banyaknya penutur-penutur bahasa tersebut, seperti
bahasa Latin dan bahasa Arab pada masa lampau dan abad pertengahan, dan
bahasa Inggris, Spanyol, Portugis dimasa sekarang. Ada pula penyebaran bahasa
yang tidak berkembang secara luas seperti bahasa Ainu, bahasa Sakiyah, bahasa
Lituaniya35
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang
dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama.
Oleh karena itu bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, di
mana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain seringkali mempunyai
perbedaan yang besar.
Jika kita membicarakan bahasa baku, berarti kita membicarakan variasi
bahasa, karena yang disebut bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa (dari
sekian banyak variasi) yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang
akan dijadikan tolak ukur sebagai bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi
yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.36
Pendapat beberapa pakar, menurut Halim37 bahasa baku adalah ragam
bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat

34
Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, hal. 79
35
Ainu adalah bahasa yang digunakan oleh oleh penduduk Hokado, Sakiyah adalah
bahasa yang digunakan oleh penduduk Basiki yang mendiami daerah antara Prancis dan Spanyol
sedangkan Lituaniya adalah bahasa yang di gunakan oleh penduduk Lituania, Lihat ,Ali Abdul
Wid Wf, ilmu al-lugha, (Kairo: Dr Naha , 1997). Cet X, hal. 169
36
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, Cet. II, 2004), hal. 190.
37
Amran Halim, Bahasa Indonesia Baku Pengajaran dan Sastra. Th. VI, No 4, 1980, hal.
2-5.
13

pemakainya sebagai ragam bahasa resmi, dan sebagai kerangka rujukan norma
bahasa dan penggunaannya. Sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yang
tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma
bahasa baku. Sebagai kerangka rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan
kaidah yang digunakan sebagai pengukur benar atau tidaknya penggunaan bahasa.
Dittmar38 mengatakan, bahwa bahasa baku adalah ragam ujaran dari satu
masyarakat bahasa yang disahkan, sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial
atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di dalam masyarakat itu.
Tindakan pengesahan norma itu dilakukan melalui pertimbangan nilai yang
bermotivasi sosiopolitik.
Pergeseran bahasa Arab miyah dari bahasa Arab fu sesungguhnya
tidak hanya dipengaruhi oleh faktor linguistik saja,39 sebagaimana telah
disebutkan di atas, akan tetapi peranan sosial, tingkat pendidikan, umur, dan jenis
kelamin mempunyai andil dalam munculnya variasi bahasa yang kemudian dapat
berimplikasi terhadap pergeseran bahasa Arab fu yang sudah dibakukan. 40
Dengan demikian, maka persoalan deviasi antara bahasa Arab fu dan bahasa
Arab miyah tidak bisa dikaji hanya dalam satu aspek saja, akan tetapi harus

38
Dittmar, N., Sociolinguistcs; A Critical Survey of Theory and Application. (London:
Edward Arnold Ltd., 1976), hal. 7
39
Menurut Clive Holes, terjadinya pembauran bahasa antara fu dan miyah yang
menjadi salah satu aspek pergeseran adalah adanya kontak bangsa Arab dengan bangsa lain,
Islamisasi, urbanisasi, dan migrasi. Lihat Clive Holes, Structure, Functions and Varieties, (London
and New York: Longman, 1995), hal. 28-29
40
Lihat Suwito, Sosiolinguistik: Teori dan Problema, (Surakarta: Henari Offset, 1982),
hal. 3, hal tersebut senada dengan apa yang dikemukakan oleh Ali Abd Wid Wf bahwa
faktor utama terjadinya variasi-variasi bahasa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1) faktor
sosio-politik yang berkaitan dengan komunitas penguasa pada daerah tertentu, 2) faktor sosial
yang berkaitan dengan status, golongan, pendidikan, pemikiran, dan tingkat sosial penuturnya, 3)
faktor geografis, yaitu faktor yang disebabkan oleh perbedaan iklim, lingkungan, dan kondisi
alam, 4) faktor jenis kelamin (sex), melalui faktor ini bias dibedakan antara ragam bahasa pria dan
wanita, 5) faktor fisik dan jasmani, perbedaan pengucapan bahasa karena berkaitan dengan
perbedaan organ-organ tubuh. Lihat Ali Abd Wid Wf, Ilm al-Lughah, (Mesir: Maktabah
Nahah, 1962), Cet. Ke.5, hal. 173. Kegiatan masyarakat dalam berinteraksi antara individu
dengan perantaraan bahasa dinamakan masyarakat bahasa. Tingkat bahasa yang dituturkan
dipengaruhi oleh paduan-paduan, antara lain adanya pengelompokan-pengelompokan berdasarkan
ekonomi, politik, budaya atau pendidikan. Lihat Leonard Bloomfield, Bahasa (language), Terj. I.
Sutikno, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 40. Lihat juga Aslinda dan Leni
Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, (Bandung: Refika Aditama, 2007), Cet. I, hal. 105
14

bersifat komprehensif, dalam arti kata bahwa pembahasan ini harus mencakup
beberapa aspek seperti linguistik, sosial, dan budaya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pembahasan tentang adanya
diglosia dalam bahasa Arab dalam konteks sosial dan budaya laik untuk diteliti
lebih mendalam untuk mendapatkan jawaban tentang bagaimana kedua aspek
tersebut di atas terimplementasikan dalam bahasa Arab fu dan miyah.

B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Terdapat beberapa permasalahan yang dapat dibahas dalam penelitian ini,
namun tidak seutuhnya diteliti, mengingat waktu yang harus disesuaikan dengan
kelayakan penelitian ini. Adapun permasalahan yang akan diteliti mencakup:
proses terjadinya diglosia dalam bahasa Arab, faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya diglosia dalam bahasa Arab, serta dampak penggunaan miyah
terhadap bahasa Arab fu, dan implikasi faktor sosial budaya terhadap
perkembangan bahasa Arab serta upaya mensikapi fenomena atas terjadinya
perkembangan diglosia.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka sesungguhnya
permasalahan yang dikaji terlalu luas sehingga membutuhkan waktu yang cukup
lama. Oleh karena itu, penulis batasi pada faktor sosial budaya yang
mempengaruhi terjadinya perkembangan diglosia
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas,
maka penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini
yaitu Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya diglosia serta
bagaimana proses terjadinya diglosia dalam bahasa Arab ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berkut:
15

1.Untuk mengeksplorasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya


diglosia dalam bahasa Arab.
2. Untuk menganalisa tentang proses terjadinya diglosia dalam bahasa Arab.
D. Manfaat Penelitian
a. Secara teoritis penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi orang-orang
yang ingin membahas tentang perkembangan bahasa Arab miyah.
b. Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi orang-orang yang
ingin menjadikan bahasa Arab sebagai alat komunikasi seperti orang-orang ajam
yang ingin menunaikan ibadah haji, pedagang, dan para calon tenaga kerja
Indonesia yang akan berangkat ke jazirah Arab.
c. Secara umum untuk menambah khazanah ilmiah tentang problematika
perkembangan bahasa Arab.
E. Kajian Terdahulu yang Relevan
Pembahasan dan penelitian tentang bahasa Arab fu dan miyah
sesungguhnya belum banyak penulis temukan dalam bentuk tindakan penelitian,
akan tetapi beberapa literatur penulis anggap dapat memberikan kontribusi.
Diantaranya adalah Syauq aif,41 Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qawid
wa al-Binyt wa al-Hurf wa al-Harakh,. Buku ini setebal 204 halaman, terdiri
dari 5 bab yang pembahasannya mencakup bentuk-bentuk deviasi bahasa Arab
miyah pada fu dari segi gramatikal.
Aun al-Sharf Qsim42 dalam pembahasannya berjudul al-Lughah al-
Arabiyyah baina al-Fahat wal miyah yang menjelaskan perbedaan antara
miyah dan fu dan dilengkapi dengan berbagai jenis contoh. Diterbitkan
dalam jurnal internasional Al-Lughah al-Arabiyyah al-Fahat wal miyah,
diterbitkan oleh al-Munaamah al-Arabiyyah li al-Tarbiyyah wa al-Thaqfah wa
al-Ulm, 1993.

41
Syauq aif, Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qawid wa al-Binyt wa al-Hurf
wa al-Harakt, (Kairo: Dr al-Marif, 1994).
42
Lihat Aun Qsim, al-Lughah al-Arabiyyah baina al-Fahat wal miyah, (Khurtm,
Sudan: Arab Journal of Language Studies, vol. 2, no. 1 Agustus 1983)
16

Ibrhm ali al-Fily 43


dalam bukunya yang berjudul Izdiwjiyah al-
Lughah al-naariyah wa al-Tabiq, yang menjelaskan tentang tentang konsep
diglosia menurut para ahli lingustik yang berbeda berpendapat untuk
menggunakan salah satu diantara kedua bahasa tersebut, karena masing-masing
mempunyai peran dan fungsi tertentu.
Ade Kosasih mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dalam Tesisnya (1997) berjudul Ilmu-Ilmu Bahasa Arab dan Perkembangannya
pada masa Abbasiyah I, dalam tulisannya ditemukan kesimpulan bahwa
disusunnya ilmu-ilmu bahasa Arab dikarenakan meluasnya perkembangan bahasa
Arab miyah.
Dari berbagai penelitian tersebut diatas, peneliti belum menemukan
penelitian yang berkaitan tentang diglosia dalam bahasa Arab yang disebabkan
oleh faktor sosial-budaya.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan pengembangan teori yang sudah ada dari
kajian terdahulu yang relevan. Di tinjau dari segi objeknya, penelitian ini
termasuk jenis peneliltian studi literer (library research) atau penelitian pustaka,
yakni mengacu pada data-data karya ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan
penelitian.44 Selain library research, penulis juga menggunakan internet research,
terutama dalam mengumpulkan data awal tentang sub topik yang akan dibahas
dan dalam rangka updating data.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan
sosiolinguistik. Pendekatan sosiolinguistik45 digunakan untuk melihat bagaimana

43
Ibrhm ali al-Fily, Izdiwjiyah al-Lughah al-naariyah wa al-Tabiq,(Riy:
Jmiah al-Mulk Sud, 1996).
44
Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian ,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), Ed.I,
hal.18
45
Criper dan Widowson menyatakan bahwa sosiolinguistik merupakan kajian bahasa dalam
pemakaiannya dengan tujuan untuk menunjukan kesepakatan-kesepakatan atau kaidah-kaidah
penggunaan bahasa yang disepakati suatu masyarakat, dikaitkan dengan aspek-aspek kebudayaan
dalam masyarakat itu, selengkapnya lihat dalam S. Criper dan H.G. Widowson, Sociolinguistics
and Language Teaching, dalam S. Pit Corder, Papers in Aplied Linguistcs, (London: Oxford
17

kondisi perkembangan bahasa Arab sebagai sarana apresiasi masyarakat Arab,


terutama dalam aktivitas ilmiah dan bertukar pikiran.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yakni
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah literatur-literatur
yang mengkaji pembahasan ini yaitu mengenai diglosia dalam bahasa Arab,
seperti buku Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah wa khaisuh, , Abd al Ghaffr
mid, Al-Lahjh al-Arabiyyah: Nashaan wa Taawwuran, Ibrhm Ans, al
Awt al Lughawiyah, D. Hudson, Ilmu al-lughah al-ijtim, Ali Abd Wid
Wf, Ilm al-Lughah, ubhi li, Dirsah f al-Fiqh al-Lughah.
Sementara itu, sumber sekunder yaitu sumber data yang diperoleh dari
informasi-informasi buku, jurnal, dan internet yang tidak terkait secara langsung
tetapi memiliki kaitan pendukung analisis penelitian. Analisis atas sumber-sumber
sekunder dilakukan secara deduktif.46 Adapun sumber sekunder dalam penelitian
ini, yaitu : Shauq aif, Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qawid wa al-
Binyt wa al-Hurf wa al-Harakt, (Kairo: Dr al-Marif, 1994), Clive Holes,
Modern Arabic: Structure, Functions and Varieties, (London and New York:
Longman, 1995), Ibrhm ali al-Fily, Izdiwjiyah al-Lughah al-naariyah wa
al-Tabiq, Abd al-Fatt Aff, Ilm al-Ijtimi al-Lughaw, (Kairo: Dr al-Fikr al-
Arab, 1995), abr Ibrhm al-Sayyid, Ilm al-Lughah al-Ijtimi, (Iskandariah:
Al-Jmiiyyah, 1965), A. Chaedar Alwasilah, Pengantar Sosiologi Bahasa,
(Bandung: Angkasa, 1993), Fami, Mamud Hijzi, Ilmu al-Lughah al
Arabiyah, (Kairo:Dr gharb, t.th), Mamd, Nyif Marf, Khais al Arabiyah
wa ariq tadrsih, (Beirut: Dr an Nafis, 1998), Abdul Karm Muammad
Asad, al-Was f Trkh al-Nawi al-Arab, Riya, Dr al Shawaf), Raman

University Press, 1975), yang senada dengan pendapat Hymes yang menyatakan bahwa
sosiolinguistik merupakan kajian bahasa dalam hubungannya dengan fenomena dalam masyarakat,
lihat Dell Hymes, Foundations in Sociolinguistcs: an Ethnographics Approach, (Philadelphia:
University of Pensykvania Press, 1973). Sementara A. Chaedar Alwasilah menjelaskan bahwa
Sosiolinguistik adalah kajian tentang hubungan antara masyarakat dan bahasa, serta bagaimana
sebuah bahasa hidup dan berkembangan di tengah-tengah masyarakat. Lihat A. Chaedar
Alwasilah, Pengantar Sosiologi Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1993), hal. 1
46
Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Gramedia, 1980), hal. 57
18

Abd al Tawwab, Fushl f Fiqh al Lughah, (Kairo : Maktabah al Khanjy, tth),


Cet. Ke-2, Ans Farhah, Nawu Arabiyah Muyassarah.

4. Teknik Pengumpulan dan analisa data


Berdasarkan temuan yang ada, maka data yang dikumpulkan dan
digunakan adalah data kualitatif. 47 Dalam hal ini teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah bedah buku, yaitu kajian terhadap buku-buku yang berkaitan
erat dengan tema dan pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.
Adapun tekhnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik analisis kualitatif,48 Sedangkan dalam operasionalnya menggunakan
metode deskriprif-analitis,49 untuk mendeskripsikan signifikansi diglosia dalam
bahasa Arab dan implikasi penggunaannya dengan perkembangan sosial-budaya.
5. Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. mendeskripsikan tentang diglosia dan stratifikasi sosial.
2. mendeskripsikan tentang kontroversial penggunaan bahasa Arab fu dan
miyah
3. mendeskripsikan ragam bahasa perspektif sosial budaya
4. Melakukan analisa dari proses tersebut untuk menarik kesimpulan tentang
faktor-faktor terjadinya diglosia serta proses terjadinya diglosia dalam
bahasa Arab
5. Menarik kesimpulan berdasarkan pada analisa yang dilakukan dalam
penelitian ini.
Dengan langkah-langkah tersebut di atas, diharapkan semua data dapat
dianalisis secara seksama sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan
47
Data kualitatif adalah data yang bersumber dari intensitas pengamatan, interview, atau
bedah buku. Rusmin Tumanggor, Teknik Analisa Data Kualitatif, (bahan diskusi pada mata kuliah
metodologi penelitian), (Jakarta: Sps UIN, 2003), hal. 2
48
Tujuan analisis kualitatif adalah menemukan makna dari data yang dianalisis,
menjelaskan fakta objek penelitian. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Perkasa 2001), hal. 67
49
Metode penelitian deskriptof adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara
sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang
diteliti. Lihat M. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Malang: Hilal Pustaka, 2007), hal.
67
19

yang sedang dibahas. Untuk Teknik penulisan dan transliterasi dalam penelitian
ini, penulis berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi,
Tesis dan Disertasi) karya Hamid Nasuhi dan kawan-kawan, diterbitkan oleh
CeQDA Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, cetakan ke-2 tahun
2007.
G. Sistematika Penulisan
Pembahasan akan terlihat menarik, sistematis dan saling berkaitan antara
satu bab dengan bab yang lain apabila didukung oleh langkah-langkah
pengorganisasian yang baik. Oleh karena itu, penulis membagi langkah-langkah
penulisan ke dalam lima bab sebagai berikut.
Bab pertama, merupakan landasan umum penelitian dari tesis ini. Bagian ini
terdiri dari pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, penelitian dahulu yang relevan,
tujuan danmanfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab kedua, penulis mendeskripsikan tentang diglosia dan stratifikasi sosial,
didalamnya mengulas tentang konsep diglosia, karakteristik diglosia, karakteristik
bahasa, ragam dialek Arab dan faktor yang mempengaruhinya serta bahasa dan
budaya.
Bab ketiga, kontroversi penggunaan bahasa Arab miyah dan fu yang
terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, antara lain : kronologis munculnya
bahasa arab miyah, seruan kepada bahasa arab miyah dan perlawanan
terhadapnya, , sumber dan pembakuan bahasa Arab, dialek Quraisy dan bahasa
Arab fu, aneka ragam variasi bahasa , dan peran bahasa Arab
Bab keempat, ragam bahasa perspektif sosial budaya, yang meliputi:
kontribusi dialek Tamim terhadap bahasa Arab fu, diglosia sebagai
problematika dalam masyarakat Arab, fungsi kemasyarakatan bahasa, dan
pengaruh sosial - budaya terhadap perkembangan bahasa Arab.
Bab kelima adalah bagian penutup dari penelitian ini. Bagian ini berisi
kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan sebagaimana telah
dirumuskan pada rumusan masalah, disertai dengan saran-saran yang relevan
dengan tema penelitian.
BAB II

DIGLOSIA DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Bab ini menguraikan tentang kerangka teori diglosia, yang digunakan


untuk mengkaji bab-bab berikutnya. Dengan landasan ini akan dikembangkan
teori yang relevan berdasarkan situasi kebahasaan (diglosia) dalam bahasa Arab.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dampak diglosia dalam bahasa arab
berkaitan erat dengan stratifikasi sosial-budaya masyarakatnya. Oleh karena itu,
uraian ini membahas tentang konsep diglosia, karakteristik diglosia, karakteristik
bahasa, ragam dialek Arab dan faktor yang mempengaruhinya serta bahasa dan
budaya.

A. KONSEP DIGLOSIA
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari
segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai
makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat.1 Setiap bahasa digunakan oleh
sekelompok orang yang termasuk dalam masyarakat bahasa. Yang termasuk
dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa
yang sama. Jadi kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang
yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang
dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama.
Oleh karena itu bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, 2 di

1
Bouchouk mengemukakan bahwa mempelajari bahasa dengan sendirinya mempelajari
budaya dan lingkungan di mana bahasa tersebut digunakan. Mempelajari bahasa Arab misalnya,
akan memperoleh norma dan nilai budaya yang dianut oleh orang Arab yang berbeda dengan
Indonesia, yakni keterbukaan, keterusterangan. Menurutnya, bahwa budaya adalah bahasa itu
sendiri sebagai perwujudan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian, bahasa
tidak dapat lepas dari kehidupan sosial untuk menyampaikan gagasan dan perasaan antara sesama
anggota masyarakat. Lihat al-Muaf Abdallah Bouchouk, Talm Wa Taallum al-Lughah al-
Arabiyyah Wa Thaqfatuh, (Rabat: Maktabah Dr al-Aman, 1994), hal. 60.
2
Setiap Bahasa, dipandang dari strukturnya memiliki sistem tersendiri baik pada bentuk
maupun pada isinya. Didalam teori, satuan-satuan seperti fonem, semantik dan lainnya yang ada
pada dua bahasa tidaklah berpadan satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, didalam prakteknya
bunyi fisik atau kesatuan semantik itu bagiannya ada saling tumpang tindih. Identifikasi antar
bahasa yang dilakukan oleh dwibahasawan hanyalah meningkatkan tutup menutup bagian

20
21

mana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain seringkali mempunyai
perbedaan yang besar.
Pengertian diglosia3 dikatakan sama dengan kedwibahasaan4, Dalam
Charles Ferguson's artikel "Diglossia" dalam jurnal Word (1959), diglossia telah
digambarkan sebagai salah satu jenis Bilingualisme dalam suatu masyarakat di
mana salah satu bahasa adalah (H), yakni memiliki prestise tinggi, dan lain dari
bahasa adalah (L), yakni memiliki prestise rendah.5 Dalam definisi dari Ferguson,
(H) dan (L) akan selalu berhubungan erat.
Berdasarkan kerangka diglosia juga, masing-masing bahasa itu memiliki
dan memainkan fungsi kemasyarakatan yang berbeda. Satu bahasa atau satu
varian bahasa berfungsi sebagai varian tinggi (H), sedangkan bahasa atau varian
yang lain berfungsi sebagai varian yang rendah (L).6 Dalam diglosia yang stabil
masing-masing bahasa secara stabil dapat mempertahankan berbagai fungsi
kemasyarakatan yang dimilikinya, sebaliknya bila terjadi ketirisan diglosia, salah
satu atau beberapa bahasa akan kehilangan satu atau sejumlah fungsi

demikian itu. Lihat Yus Rusyana, Perihal kedwibahasaan (bilingualisme), (Jakarta: Depdikbud,
1989), hal. 5
3
Diglosia adalah istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan komunikasi dalam
situasi yang membuat masyarakat komplementer penggunaan harian di bursa dari dua kode yang
baik dua bahasa . varietas atau dua bahasa. Keadaan tertentu menyiratkan penggunaan salah satu
kode, Definisi ini terdiri dari banyak variasi, namun. Meskipun terdapat diglosic situasi di jalan di
sebagian besar masyarakat, misalnya di Inggris, terdapat shopping dan merupakan kontras antara
Inggris yang digunakan dalam pertukaran di antara teman-teman atau saat berbelanja dan yang
digunakan di universitas atau kuliah umum di konferensi, harus ditekankan bahwa pilihan
penggunaan istilah ini adalah referensi ke dalam masyarakat yang sangat kontras sering ditandai
dan didukung oleh kembali ke dua istilah referensi untuk varietas di , digunakan (misalnya, standar
bahasa / logat daerah, Katharevusa / rakyat di Yunani, dan mayoritas di Perancis creole berbahasa
daerah Umumnya, ini diglosic situasi adalah bahasa situasi konflik di mana salah satu bahasa apa
yang diistilahkan 'tinggi' dalam berbagai dengan yang lain yang dianggap 'rendah' dengan mantan
digunakan dalam komunikasi situasi dianggap 'mulia' (menulis, penggunaan resmi, dan
sebagainya) dan yang kedua .). digunakan dalam situasi lebih informal (percakapan dekat dengan
keluarga, dll.) http://creoles.free.fr/Cours/anglais/Diglossia.pdf,diakses tgl 16-06-09
4
Istilah diglosia lebih cenderung dipakai untuk menunjukkan keadaan masyarakat tutur
dimana terjadinya alokasi fungsi dari dua bahasa atau ragam. Disisi lain, istilah kedwibahasaan
lebih ditekankan pada keadaan pemakaian bahasa itu. Lihat Aslinda dan leni Syafyahya,
Pengantar Sosiolinguistik, (Bandung: PT Refika Aditama,2007), hal. 27
5
http://innerbrat.org/andyf/Articles/Diglossia/digle 96. htm diakses tgl 04-06-09
6
Romaine, Suzanne, Bilingualism, ( Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal 33
22

kemasyarakatannya. Lama kelamaan bahasa itu akan mati7 atau ditinggalkan oleh
penutur-penuturnya.
Istilah diglosia ini pertama kali digunakan dalam bahasa Perancis diglossie
yang diserap dari bahasa Yunani oleh bahasawan Yunani Ioannis Psycharis. Ahli
bahasa Arab William Marais lalu juga menggunakannya pada tahun 1930 untuk
menuliskan situasi bahasa didunia Arab. Akan tetapi, istilah diglosia tersebut
menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah digunakan oleh Charles. Ferguson,
seorang sarjana dari Stanford University pada tahun 1958 dalam sebuah
simposium tentang Urbanisasi dan Bahasa-bahasa Standar yang
diselenggarakan oleh American Antropological Association di Washington DC.
Charles Ferguson mengunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu
masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup
berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu. Charles Ferguson
membahas diglosia ini dengan mengemukakan sembilan topik, yaitu fungsi,8
prestise,9 warisan sastra, pemerolehan, standarisasi, stabilitas, gramatika, leksikon,
dan fonologi.10
Menurut Harimurti Kridalaksana diglosia merupakan situasi bahasa yang
dengan pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa yang ada, satu variasi
diberi status tinggi dan dipakai untuk penggunaan resmi atau penggunaan publik

7
Walaupun ada segelintir pandangan yang tidak merisaukan akan kematian suatu bahasa,
seperti pandangan yang dianut oleh Fokker, kematian suatu bahasa haruslah dihindari karena
hilangnya sebuah bahasa (impoverishment),menyebabkan kematian akal pengetahuan dan
pemiskinan akan pengetahuan dan pikiran masyarakatnya. Lihat Purwo, Bambang Kaswanti,
,Bangkitnya Kebhinekaan Dunia Linguistik dan Pendidikan, ( Jakarta: Mega Media Abadi,2000),
hal 17.
8
Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurutnya, dalam masyarakat
diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa. Variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat
dialek T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R). dalam bahasa Arab dialek T-
nya adalah bahasa arab klasik, bahasa al-Quran yang disebut al-Fu. Dialek R-nya adalah
berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakan oleh bangsa Arab yang lazim disebut ad-Drij.
http://bahauddin-amyasi.blogspot.com/2008/11/billingualisme-sebuah-kajian-sosio.html,tgl 16-06-
2009, Lihat juga D. Hudson,Ilmu al-Lughah al-Ijtim, hal. 97
9
Prestise berhubungan dengan sikap penutur dalam guyup diglosia/masyarakat tutur.
Ragam H itu lebih unggul, lebuh gagah, dan lebih nalar. Ragam L dianggap lebih rendah, bahkan
keberadaanya cenderung di hilangkan. Yang dimaksud dengan prestise bahasa ialah tingkat rasa
bangga yang ditimbulkan oleh bahasa itu sendiri pada diri penuturnya. Dengan demikian, prestise
bahasa dapat dilihat dari pada sikap penutur terhadap bahasa itu sendiri, baik penutur asli maupun
penutur asing. Lihat Aslinda dan leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguitik, hal 27
10
Aslinda dan leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, hal. 27.
23

dan mempunyai ciri-ciri yang lebih kompleks dan konservatif. Variasi lain
mempunyai status rendah dan dipergunakan untuk komunikasi tak resmi dan
strukturnya disesuaikan dengan saluran komunikasi lain.11
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa diglosia berkaitan
dengan penggunaan dua atau lebih variasi dari suatu bahasa. Dalam penggunaan
bahasa ini, terdapat semacam pembagian fungsi bahasa. Bahasa tinggi (H)
digunakan dalam situasi resmi, sedangkan bahasa rendah digunakan dalam
percakapan sehari-hari
Sementara menurut Fishman berpendapat bahwa diglosia tidak hanya
berlaku pada adanya perbedaan ragam H dan ragam L pada bahasa yang sama,
melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekalipun tidak serumpun, atau
pada dua bahasa yang berlainan.12 Jadi yang menjadi tekanan bagi Fishman adalah
adanya perbedaan fungsi kedua bahasa atau variasi bahasa yang bersangkutan.
Ketika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas
penggunaan bahasa dan bilingualisme sebagai adanya penggunaan dua bahasa
secara bergantian dalam masyarakat, maka Fishman menggambarkan hubungan
diglosia sebagai berikut:13
a.Bilingualisme dan diglosia
Di dalam masyarakat yang dikarekterisasikan sebagai masyarakat yang
bilingualisme dan diglosia, hampir setiap orang mengetahui ragam atau bahasa H
dan ragam atau bahasa L. kedua ragam atau bahasa itu akan digunakan menurut
fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan.
b.Bilingualisme tanpa diglosia
Dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah
individu yang bilingual, namun mereka tidak membatasi penggunaan bahasa
untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka
dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi dan tujuan apapun.

11
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2008), hal. 50
12
J.A Fishman, The Sociology of language, (Rawly massachusett: Newbury House,
1972), hal. 92
13
J.A Fishman, The Sociology of language, hal. 106
24

c.Diglosia tanpa bilingualisme


Di dalam masyarakat yang berdiri diglosia, tapi tanpa bilingualisme
terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama yang biasanya lebih kecil,
merupakan kelompok ruling group yang hanya bicara dalam bahasa H. sedangkan
kelompok kedua yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam
masyarakat, hanya berbicara bahasa L. situasi diglosia tanpa bilingualisme banyak
kita jumpai di Eropa sebelum perang dunia pertama.
d.Tidak bilingualisme dan tidak diglosia
Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada
satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala tujuan. Keadaan
ini hanya mungkin ada dalam masyarakat primitive atau terpencil, yang dewasa
ini tentunya sukar ditemukan. Masyarakat yang tidak diglosia dan bilingual ini
akan mencair apabila telah bersentuhan dengan masyarakat lain.
Pakar sosiolog yang lain, yaitu Fasold mengembangkan konsep diglosia
ini menjadi apa yang disebutkan broad diglosia (diglosia luas). Didalam konsep
broad diglosia perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam dialek
secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu. Dengan
demikian termasuk juga keadaan masyarakat yang didalamnya ada diperbedakan
tingkatan fungsi kebahasaan, sehingga muncullah apa yang disebut Fasold
diglosia ganda dalam bentuk yang disebut double overlapping diglosia14, double-
nested diglosia,15 dan linear polyglosia.16

14
Yang dimaksud dengan Double overlapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan
derajat dan fungsi bahasa secara berganda. Sebagai contoh di Tanzania ada digunakan bahasa
Inggris, bahasa Swahili, dan sejumlah bahasa daerah. Pada satu situasi, bahasa Swahili adalah
bahasa H, dan yang menjadi bahasa L nya adalah sejumlah bahasa daerah. Pada situasi lain, bahasa
Swahili menjadi bahasa L, sedangkan bahasa H-nya adalah bahasa Inggris. Jadi bahasa Swahili
mempunyai status ganda: sebagai bahasa T terhadap bahasa-bahasa daerah, dan sebagai bahasa R
terhadap bahasa Inggris. Lihat Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan
Awal, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hal. 99.
15
Yang dimaksud dengan double nested diglosia adalah keadaan dalam masyarakat
multilingual, dimana terdapat dua bahasa yang dibedakan yaitu satu sebagai bahasa H dan yang
lain sebagai bahasa L. Namun baik bahasa H dan L masing-masing mempunyai ragam atau dialek
yang masing-masing juga diberi status sebagai ragam H dan ragam L.
16
Sedangkan Linear polyglosia adalah situasi kebahasaan, dimana tingkatan bahasa itu
dijajarkan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, dengan urutan yang dibuat
berdasarkan sikap penutur.
25

Situasi kebahasaan di Indonesia amat kompleks karena terdapat sejumlah


besar bahasa di Indonesia tercinta ini. Di dalam kehidupan sosial serta aktivitas
sehari-hari anggota masyarakatnya, di samping BI, dipakai juga bahasa-bahasa
daerah (BD) yang konon lebih dari 760-an jumlahnya, beserta variasi-variasinya,
dan bahasa asing (BA) tertentu sesuai dengan fungsi, situasi, serta konteks
berbahasa. BI berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara/bahasa
resmi, bahasa-bahasa daerah berfungsi sebagai bahasa komunikasi intraderah, dan
bahasa asing berfungsi sebagai bahasa komunikasi internasional umum. 17
Situasi kebahasaan di Indonesia seperti digambarkan di atas, jika
dipandang dari sudut masyarakat itu atau adanya lebih dari satu bahasa dalam
masyarakat itu, dapat disebut bilingualisme secara kemasyarakatan/societal
bilingualism. Sehubungan dengan kedudukan BI sebagai bahasa nasional dan
bahasa resmi kenegaraan, serta adanya kontak antarbahasa18 daerah di dalam
daerah atau wilayah yang sama, banyak anggota masyarakat Indonesia merupakan
bilingual secara perseorangan/individual bilingualism. Selain itu, jika dipandang
dari pembedaan fungsi-fungsi bahasa tertentu dalam masyarakat, masyarakat
Indonesia dapat juga disebut masyarakat diglosik.19 dengan bahasa Indonesia
sebagai "variasi tinggi" dan bahasa daerah sebagai "variasi rendah" karena
secara resmi dan umum, BI seyogianya dipakai dalam situasi formal dan umum

17
http://www.lpds.or.id/jurnalistik_education.php?module=detailbahasa&id=13, diakses
tanggal 16-06-09
18
Istilah kontak bahasa atau akulturasi dalam bahasa Arab dipadankan dengan kata
tathquf (), Lihat Munir al-Baalbak, al-Mawrid; A Basic Modern English-Arabic Dictionary,
(Beirut: Drel-Ilm Lil-Malayn, 2002), hal. 24. ada pula yang menamakannya dengan takayyuf
thaqf () . Lihat Karim Zaki usm al-Dn, al-Lughah wa al-Thaqfah, (Kairo: Dr
Gharb, 2001), hal 63. Kata tathquf berasal dari kata th-q-f yang berarti budaya atau
kebudayaan. Tathquf itu sendiri, menurut bahasa berarti: pertukaran budaya, pembauran budaya
antara orang yang berbeda budaya. Adapun kata takayyuf thaqf memiliki makna adaptasi
budaya.
Sedangkan akulturasi dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan acculturation yang berasal
dari kata culture atau budaya. Istilah acculturation atau culture contact yang menurut bahasa ialah
pembudayaan. Lihat Peter Salim, Standard Indonesian-English Dictionary, (Jakarta: Modern
English Press, 1993), hal. 17. Akulturasi mempunyai tinjauan akulturasi linguistik atau linguistic
acculturaration yakni proses perubahan linguistik yang berlangsung ketika dua atau lebih
kebudayaan yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Save M.Dagun, Kamus Besar Ilmu
Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 2000), hal. 27.
19
http://www.lpds.or.id/jurnalistik_education.php?module=detailbahasa&id=13,tgl 16-
06-09
26

oleh penutur antarbahasa daerah, dan bahasa daerah dipakai dalam situasi
interaksi penutur dalam suatu bahasa daerah.
Sebagai bahasa yang hidup, bahasa Indonesia telah dan akan terus
mengalami perubahan20 sejalan dengan perkembangan masyarakat pemakainya.21
Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia dan keanekaragaman penuturnya
serta cepatnya perkembangan masyarakat telah mendorong berkembangnya
berbagai ragam bahasa Indonesia dewasa ini.22 Kenyataan bahwa bahasa
Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat penutur yang berbeda
latar belakangnya baik dari segi geografis maupun dari segi sosial menyebabkan
munculnya berbagai ragam kedaerahan (ragam regional) dan sejumlah ragam
sosial.
Salah satu jenis ragam sosial adalah ragam bahasa Indonesia yang lazim
digunakan oleh kelompok yang menganggap dirinya terpelajar. Ragam ini
diperoleh melalui pendidikan formal di sekolah. Karena itu, ragam ini lazim juga
disebut ragam bahasa (Indonesia) sekolah. Ragam ini juga disebut ragam (bahasa)
tinggi.23 Dalam kaitan ini bahwa bahasa Melayu yang diikrarkan sebagai bahasa
Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 tentulah ragam bahasa Melayu Tinggi
pada waktu itu. Ragam bahasa kaum terpelajar itu biasanya dianggap sebagai

20
Bahasa yang tumbuh senantiasa berubah dan perubahan itu meliputi bidang bahasa
secara menyeluruh. Asal perubahan itu bersistem, bertaat asas (konsisten), dan bersifat
memperkaya bahasa, perubahan itu dapat diterima. Lihat J.S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia
yang Benar, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1986), hal. 5
21
abr Ibrhm Sayyid mengatakan bahwa dengan semakin majunya kehidupan
masyarakat, maka bahasapun akan terus berkembang. Lihat abr Ibrhm Sayyid.,Ilmu al-lugha
al-ijtim Mafhmuhu wa Qayhu, (Iskandariyah: Dr al Marifah al-Jmiyah, 1995), hal 199.
Lihat juga Kaml Bishr, Ilmu al-lughah al-Ijtim, Madkhal, (Kairo, Dr al-Ghrb, 1997),
hal 353
22
Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Pateda bahwa bahasa berkembang terus
sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Dengan kata lain, karena pemikiran
manusia berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang pula atau berubah.
Perkembangan atau perubahan yang dimaksud bukan saja pada aspek bentuknya (form),
melainkan juga pada aspek maknanya (meaning). Lihat Mansoer Pateda, Semantik Leksikal,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2001), t.h.
23
Dialek tinggi (Prestise dialek) adalah variasi sosial atau regional suatu bahasa yang
diterima sebagai standard bahasa itu, dan dianggap lebih tinggi dari dialek-dialek lain. Lihat
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, hal. 49
27

tolok untuk pemakaian bahasa yang benar. Oleh karena itulah maka ragam bahasa
sekolah itu disebut juga (ragam) bahasa baku. 24
Mengingat ragam bahasa baku itu digunakan untuk keperluan berbagai
bidang kehidupan yang penting, seperti penyelenggaraan negara dan
pemerintahan, penyusunan undang-undang, persidangan di pengadilan,
persidangan di DPR dan MPR, penyiaran berita melalui media elektronik dan
media cetak, pidato di depan umum, dan, tentu saja, penyelenggaraan pendidikan,
maka ragam bahasa baku cenderung dikaitkan dengan situasi pemakaian yang
resmi.25 Dengan kata lain, penggunaan ragam baku menuntut penggunaan gaya
bahasa yang formal.
Jika dalam bahasa Indonesia hanya terdapat satu ragam baku, maka dalam
bahasa tertentu ditemukan situasi yang berbeda yang di dalamnya terdapat dua
ragam baku yang sama-sama diakui dan dihormati. Hal tersebut biasa disebut
sebagai diglosia. Diglosia adalah sejenis pembakuan bahasa yang khusus ketika
dua ragam bahasa berada berdampingan di dalam keseluruhan masyarakat bahasa
dan masing-masing ragam bahasa itu diberi fungsi sosial tertentu. Pembahasan
diglosia berkenaan dengan pemakaian ragam bahasa rendah (ditandai dengan R)
dan ragam bahasa tinggi (ditandai dengan T) dalam suatu kelompok masyarakat.
Ciri-ciri situasi diglosia yang paling penting adalah pengkhususan fungsi
masing-masing ragam bahasa. Ragam bahasa tinggi khusus digunakan dalam
situasi-situasi formal seperti kegiatan keagamaan, pidato-pidato, kuliah, siaran
berita, atau pada tajuk rencana dalam surat kabar. Sebaliknya, ragam bahasa
rendah biasa digunakan dalam situasi-situasi santai seperti percakapan sehari-hari
dalam keluarga, antara teman, cerita bersambung dalam radio, atau dalam sastra
rakyat.
Dalam situasi diglosia akan dijumpai adanya tingkat-tingkat bahasa dalam
beberapa bahasa daerah di Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura,
yang masing-masing mempunyai nama. Dalam masyarakat Sunda dikenal undak
usuk basa, di dalamnya terdapat aturan tata bahasa yang mengatur tingkatan
24
Alwi Hasan et al, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga), ( Jakarta: Balaii
Pustaka, 1993), hal 7
25
Alwi Hasan et al, Tata Bahasa, hal 8
28

ragam bahasa rendah dan ragam bahasa tinggi seperti basa cohag (ragam kasar),
basa loma (ragam untuk sesama), basa sedeng (ragam sedang atau tengah), basa
lemes (ragam halus). Di Jawa terdapat bahasa ngoko (tingkat paling rendah),
krama (tengah), krama inggil (tingkat tinggi). Keduanya mempunyai ukuran baku
masing-masing dan diakui oleh masyarakat pemakainya.
Ragam-ragam tersebut menduduki fungsi sosial, walaupun sekarang fungsi
sosial tersebut sulit dicari. Dahulu, ragam bahasa seperti dalam bahasa Sunda dan
bahasa Jawa benar-benar digunakan sesuai dengan tingkatan sosial masyarakatnya
juga sesuai situasi. Dalam bahasa Jawa misalnya, krama inggil dipakai untuk
sastra (termasuk tembang), sedangkan untuk percakapan sehari-hari menggunakan
bahasa ngoko. Begitu juga dalam bahasa Sunda, ketika seorang anak berbicara
dengan seorang guru tidak bisa menggunakan bahasa loma, tetapi harus
menggunakan bahasa lemes. Namun, sekarang hal tersebut sulit sekali untuk
dicari.
Pemakaian suatu ragam dalam bahasa-bahasa daerah itu bukan didasarkan
atas topik pembicaraan, melainkan oleh siapa (golongan atau kelas) dan untuk
siapa. Dalam masayarakat Bali, terdapat kasta-kasta dalam masyarakatnya, ada
suatu aturan pemakaian ragam bahasa. Misalnya, kasta rendah harus
menggunakan bahasa rendah untuk sesamanya dan bahasa tinggi untuk kasta yang
lebih tinggi.
Variasi bahasa tinggi dan rendah ini biasanya mempunyai kosakata
masing-masing yang berbeda, sekedar contoh:

Bahasa Ragam Ragam Arti


Bahasa Tinggi Bahasa Rendah
ikos spiti rumah
Bahasa Yunani
ala ma tetapi
Ma eh apa
Bahasa Arab
al-n dilwati sekarang
Uang duit
Bahasa Indonesia
Tidak kagak, nggak
29

Namun, menurut Fishman dalam Sumarsono 26, pengertian diglosia seperti


telah dibahas di atas merupakan teori yang sudah dianggap klasik. Jika menurut
Ferguson, diglosia itu mengacu kepada kondisi dua ragam dalam satu bahasa
hidup berdampingan dalam guyup bahasa, dan masing-masing ragam itu
mempunyai peran atau fungsi tertentu, maka Fishman mengembangkan gagasan
peran atau fungsi itu ke wilayah yang lebih luas. Menurutnya, diglosia adalah
obyek sosiolinguistik yang mengacu kepada pendistribusian lebih dari satu ragam
bahasa atau bahasa yang mempunyai tugas-tugas komunikasi berbeda dalam suatu
masyarakat. Fishman mengacu kepada perbedaan linguistik, bagaimanapun
bentuk dan wujudnya, mulai dari perbedaan gaya dalam satu bahasa sampai
kepada penggunaan dua bahasa yang sangat berbeda. Menurut Fishman, yang
penting dalam hal ini adalah masing-masing ragam itu mempunyai fungsi yang
berbeda dan dalam ranah yang berbeda pula.
Dicontohkan Sumarsono, di sebuah kota besar di Indonesia terdapat
beberapa suku bangsa dengan bahasa daerah masing-masing di samping bahasa
Indonesia. Menurut Sumarsono, fungsi bahasa daerah berbeda dengan bahasa
Indonesia dan msing-masing mempunyai ranah yang berbeda pula27. Bahasa
daerah membangun suasana kekeluargaan, keakraban, kesantaian, dan dipakai
dalam ranah kerumahtanggaan, ketetanggaan, dan kekariban, sedangkan bahasa
Indonesia membangun suasana formal, resmi, kenasionalan, dan dipakai misalnya
dalam ranah persekolahan (sebagai bahasa pengantar), ranah kerja (bahasa resmi
dalam rapat), dan dalam ranah keagamaan (khotbah).
Dari ketiga pendapat tokoh diatas, peneliti sependapat dengan teori yang
dikemukakan oleh Charles Ferguson mengenai bahasa Arab fu dan miyah ,
masing-masing bahasa itu memiliki dan memainkan fungsi kemasyarakatan yang
berbeda. Satu bahasa atau satu varian bahasa berfungsi sebagai varian tinggi (H),
sedangkan bahasa atau varian yang lain berfungsi sebagai varian yang rendah (L),
walau terdapat beberapa perbedaan pada grammar, fonologi atau lexiconnya
namun kedua bahasa ini tetap merupakan satu rumpun bahasa yang sama.

26
Sumarsono, Sosiolinguistik, (Yogyakarta: Sabda, 2007), hal. 39
27
Sumarsono, Sosiolinguistik, hal. 40
30

Bahasa Arab al-Quran28 bukan bahasa Arab yang biasa-biasa. Sudah


berabad-abad, sejak wahyu Nabi Muhammad, ahli ilmu agama dan ahli ilmu
bahasa meningkatkan bahasa al-Quran sebagai acuan untuk bahasa tulis yang
klasik dan baku, yang disebut al-fu atau dengan sederhana al-lughah,
bahasa. Dalam banyak komunitas Arab tradisional, biasanya hanya suatu
kelompok (ulama) yang terbatas saja yang mampu berbahasa al-fu , sedangkan
orang awam biasanya hanya menguasai ragam-ragam bahasa Arab lisan sehari-
hari, yang disebut dengan al-miyah, al-drijah, atau lahajah. Bahasa Arab al-
fu memiliki kewibawaan dari al-Quran.29 Oleh karena itu, al-fu diduga
memerlukan pengetahuan tata bahasa yang istimewa, sedangkan ragam-ragam
bahasa Arab lisan diduga tidak mempunyai tata bahasa, atau bahkan bukan
termasuk bahasa sama sekali. Hubungan hirarkis antara al-fu dengan al-
miyah dilestarikan dalam masyarakat Arab dengan sistem pendidikan madrasah.
Dalam sistem pendidikan ini murid-murid diajari adab, yang menghubungkan
budi bahasa dan tata bahasa sebagai mata pelajaran.
Dikotomi linguistik antara al-fu dan al-miyah telah digambarkan
secara kanonis oleh sosiolinguis Amerika, Charles Ferguson, dengan istilah
diglosia. Dalam kasus diglosia, suatu ragam bahasa tulis yang bergengsi tinggi
(yaitu varian H) ditempatkan di atas ragam-ragam bahasa lisan atau sehari-hari
(yaitu varian-varian L). H dan L, menurut Ferguson, dibagi dengan ketat menurut
konteks penggunaan yang sesuai. Varian H sering dilukiskan sebagai ragam yang
lebih indah, lebih logis, dan lebih mampu mengekspresikan pikiran-pikiran yang
penting. Varian H dianggap abadi dan tetap, sedangkan varian-varian L dianggap
berubah-rubah dan sulit dikendalikan.30 Mengenai bahasa Arab, dikotomi diglosia

28
Penggunaan bahasa Arab untuk al-Quran adalah ekspresi linguistik khusus bahwa
Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya. Dalam hal ini Izutsu
memberi perhatian khusus terhadap pernyataan tersebut. Dalam Q.S.Ibrahim/14:4 misalnya
dikemukakan bahwa setiap Rasulpun diutus untuk menyampaikan seruannya dengan
menggunakan bahasa masyarakatnya (bilisni qaumihi) supaya dipahami maknanya oleh
masyarakat sasaran. Lihat Toshihiko Izutsu, God and Man in the Quran; Semantics of Quranic
Weltanschauung, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002), hal. 199.
29
http://sundaislam.wordpress.com, di akses tanggal 08-06-09
30
http://supriyadie.xanga.com/655628828/kesultanan-banten/, diakses tanggal 08-06-09
31

antara H dan L didukung oleh otoritas tekstual al-Quran yang sangat kuat sebagai
kitab suci.
Beberapa antropolog linguistik pernah mengkritik paradigma diglosia ini
dengan berbagai alasan. Dalam praktiknya ternyata dalam bahasa Arab tidak
begitu gampang memisahkan suatu varian H yang selalu berbeda fungsinya dari
ragam-ragam bahasa yang lain. Semacam daftar kontek-konteks varian H dan L
sulit sekali disesuaikan dengan penggunaan yang nyata. diglosia sebagai
gambaran penggunaan bahasa Arab yang nyata, lebih berguna sebagai gambaran
kepercayaan lokal terhadap bagaimana bahasa Arab seharusnya digunakan,
dengan kata lain sebagai ideologi bahasa.31 Hierarki H-L, yaitu al-fu di atas
al-miyah, telah mengembangkan wibawa ideologis yang sangat besar, wibawa
yang diperkuat setiap kali bahasa Arab al-Quran digunakan sebagai bahasa suci.
Di seluruh dunia Arab bahasa Arab adalah bahasa standar atau H
sementara bahasa lokal atau "colloquial" Arab adalah L. Situasi dengan Sastra
Arab( al-fu) berbeda diucapkan jenis Arab ( Al-`miyah atau
al-drijah).Colloquial Arab ini berbeda dari satu negara ke negara Arab lainnya,
namun setiap negara Arab bahasa resminya adalah bahasa Arab standar.
Perdebatan terus tentang masa depan bahasa Arab, baik di kalangan ahli
bahasa Arab di dunia Arab maupun dari luar Arab. Beberapa lebih memilih status
quo (yang ada diglosia). Saran yang lain adalah:
Pertama, mempromosikan Modern Standard Arab yang akan digunakan
colloquial, di luar situasi formal, pada dasar yang sehari-hari lebih
memperkenalkan audio-bahan, penggunaan di media-massa. Banyak kartun
diciptakan dalam MSA,32 yang membantu anak-Arab menguasai bahasa standar

31
http://supriyadie.xanga.com/655628828/kesultanan-banten/, diakses tanggal 08-06-09
32
Bahasa Arab standard modern (MSA), sebagaimana namanya menunjukkan, bahwa
bahasa ini merupakan counterpart yang setara dengan bahasa klasik Arab tersebut diatas, dan
merupakan bahasa resmi dari 22 negara Arab, baik untuk percakapan maupun tulisan. Perbedaan
yang utama antara MSA dan Klasikal Arab hanya terletak pada perkembangan perbendaharaan
kata, dimana dalam bahasa Arab modern perbendaharaan kata mengiringi perkembangan zaman,
sedang pada klasik Arab mengacu pada adat kebiasaan lama. Bahasa Arab modern (MSA) , telah
mendapatkan status yang amat tinggi bagi bangsa Arab, karena bahasa ini sangat mirip dengan
bahasa Arab klasik tersebut diatas. Dan oleh sebab itu penggunaan bahasa ini merupakan ciri
ketinggian budaya dan pendidikan. Kemahiran bertutur kata dalam bahasa Arab modern (MSA)
ini merupakan ciri kecendekiawanan seseorang. dan yang terpenting adalah bahwa bahasa Arab
32

sebelum mereka mulai sekolah. Ada penyederhanaan tata bahasa Arab standar
yang sedikit (yang paling rumit dan jarang digunakan dan dimengerti fitur) dan
memperkenalkan beberapa colloquial kata (dikenal di seluruh berbagai dialek atau
kelompok dialek). Ide ini mirip dengan upaya di daratan Cina, Taiwan dan
Singapura dimana standar Mandarin telah mendapat banyak popularitas dan
jumlah speaker yang lebih besar, termasuk orang-orang yang berbicara pada setiap
hari atau situasi dengan bahasa Ibrani,
Kedua, up-grade individu atau dialek dialek bergabung menjadi satu
mungkin diucapkan Arab, sehingga diucapkan memformalkan Arab sebagai
standar. Seringkali pemerintahan di setiap negara-negara Arab, hanya
mempromosikan utama dialek yang diberikan negara. Ide ini secara khusus
populer di Mesir, bahasa resmi Arab diucapkan mencakup lebih banyak fitur
standar Arab dan kata sering dipilih, yang dimengerti di seluruh wilayah yang
lebih besar. Salah satu versi "formal Spoken Arab" yang diajarkan di Universitas
Georgetown dan Luar Layanan Institute (keduanya di Amerika Serikat). Kedua
ide ini mirip dengan Evolution dari Kuno ke Modern Yunani di Banyak
cendekiawan Arab setuju terhadap ide ini, karena saat ini Arab standar yang pada
dasarnya adalah "klasik Arab" - bahasa Alquran ( al-Qur'an) dan merupakan
standar sastra di dunia Arab.33 .
Seperti yang disebutkan di atas, istilah "formal Spoken Arab" (kata lain
adalah: "Educated Spoken Arab", "Inter-Arab", "Arab Tengah" dan "Spoken
MSA" adalah untuk menjelaskan berbagai modern Arab diucapkan oleh
berpendidikan Arab, campuran antara Arab standar (acrolect) Arab dan bahasa
daerah (basilect). Hal ini lebih umum di negara-negara Arab Timur tetapi kadang-
kadang digunakan untuk dijelaskan tinggi Mesir atau Maghrebi Arab. Baru ini
mewakili sebuah istilah yang digunakan bersama oleh bahasa Arab dari berbagai
daerah ketika mereka berkomunikasi satu sama lain. mengungkapkan pembicara
dari asal tetapi bagaimanapun, ini versi sederhana Arab menjadi populer dengan

modern ini telah menjadi satu satunya alat pemersatu bangsa bangsa Arab di dunia Arab..
http://www.arabacademy.com/cgi-bin/library_courses/faq_i.htm, diakses tanggal 16-06-09
33
http://www.colloquial + arabic&meta, diakses tanggal 16-06-09
33

mahasiswa asing yang ingin dapat berkomunikasi dengan lebar kisaran Arab
speaker. Sebagai dasar untuk pelatihan, yang Levantine Arab sering dipilih,
sebagai salah satu yang dianggap oleh banyak sebagai sastra yang paling dekat ke
Arab tetapi para guru dan siswa berubah sesuai dengan pengetahuan dan minat Di
negara-negara Barat dan Arab Mesir yang murni colloquial bentuk Arab lebih
dominan, dan umumnya, pengetahuan dan penggunaan standar Arab dibatasi.
Beberapa speaker dapat dengan mudah menjaga percakapan standar dalam bahasa
Arab, beberapa memilih untuk beralih ke dialek bahasa daerah mereka bahkan
dalam situasi formal. 34
Untuk bahasa Arab keadaan kebahasaan seperti ini telah ada sejak zaman
jahiliyah, dimana suku-suku bangsa Arab telah bersatu dalam satu bahasa sastra
tinggi dengan kosa kata yang terpilih yang dipergunakan oleh penyair dan orator
pidato yang hendak menyampaikan sesuatu.35 Bahasa tersebut adalah bentuk
bahasa yang ideal serta bahasa orang yang terpilih.

B. KARAKTERISTIK DIGLOSSIA
Ada beberapa kaedah atau ciri yang merupakan dasar dalam membedakan
bentuk gejala diglossia dari gejala kebahasaan yang lain, Charles Ferguson
membaginya da;am sembilan segi, yaitu:
1. Fungsi (function)
Fungsi merupakan kriteria diaglossia yang sangat penting. Menurut
ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari suatu bahasa, Variasi
pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek H atau ragam H), dan yang kedua
disebut dialek rendah (disingkat dialek L atau Ragam L). Dalam bahasa Arab
dialek H-nya adalah bahasa Arab klasik, bahasa al-Quran yang lazim disebut al-
fu, dialek L-nya adalah berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakan oleh
bangsa Arab, yang lazim disebut al-drijah. Dalam bahasa Yunani dialek H-nya
disebut Katharevusa, yaitu bahasa Yunani murni dengan ciri-ciri linguistik
Yunani klasik: Sedangkan dialek R-nya disebut dhimotiki, yakni bahasa Yunani

34
http://www.colloquial + arabic&meta, diakses tanggal 16-06-09
35
Ibrhm Ans, f al-lahjh al-arabiyyah, ( Kairo: Maktabah al Anjelo), hal. 40
34

Lisan. Dalam bahasa jerman-Swiss dialek H-nya adalah Jerman Standar, dan
dialek R-nya adalah berbagai dialek bahasa Jerman. Di Haiti, yang menjadi dialek
H-nya adalah bahasa Francis, sedangkan bahasa L-nya adalah bahasa Kreol-Haiti,
yang dibuat berdasarkan bahasa Prancis. 36
Fungsi dialek bahasa merupakan hal yang paling penting dalam
menentukan terjadinya gejala diglosia dalam bahasa, bahasa arab mengalami
gejala ini dengan adanya variasi bahasa fu yang digunakan dalam situasi resmi
seperti pada pidato kenegaraan, pembuatan surat menyurat dan bahasa sastra,
sedangkan variasi lain yaitu bahasa arab miyah berfungsi dalam penggunaan
masyarakat dalam situasi tidak resmi seperti ketika berbicara dengan teman dekat
atau keluarga.
Pembagian fungsi kebahasaan tersebut diakui keberadaannya oleh semua
lapisan masyarakat yang ditandai dengan reaksi masyarakat yang menolak atau
berkomentar ketika terjadi penggunaan variasi bahasa yang tidak sesuai dengan
situasi kebahasaannya. Kecenderungan tersebut terbentuk dalam diri pengguna
bahasa Arab sebagai bahasa ibu bersamaan dengan proses belajar bahasa mulai
dari lingkungan keluarga dimana terjadi perolehan dialek sebagai bahasa ibu dan
proses mempelajari bahasa fu dibangku sekolah, dimana kesadaran
penggunaan bahasa fu dalam situasi resmi dan penggunaan dialek miyah
dalam situasi tidak resmi terbentuk.
2. Status (Prestise)
Status pada masyarakat diglosis oleh para penuturnya biasanya
menganggap dialek H lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan
merupakan bahasa yang logis. Sedangkan dialek L dianggap inferior; malah ada
yang menolak kebenarannya. Umumnya orang Arab terpelajar menganjurkan agar
dialek L tidak perlu digunakan, meskipun dalam percakapan sehari-hari untuk
menggunakan dialek L tersebut.37 Ciri status menunjukkan adanya perbedaan

36
Open University Set Book, Language in Education A Source book, (Routledge Taylor
& Francis Group, 1972), hal. 40. Lihat juga Sumarsono & Paina Partana, Sosiolinguistik,
(Yogyakarta: SABDA dan Pustaka Pelajar, 2002), hal. 191
37
Open University Set Book, Language in Education., hal. 39, Lihat juga Abdul Chaer
dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 125
35

status antara variasi bahasa yang tinggi dan variasi bahasa yang rendah dimana
dalam masyarakat Arab variasi bahasa fu dianggap tinggi dan variasi bahasa
yang lain yaitu bahasa Arab miyah dianggap rendah, anggapan seperti ini
terlihat dari adanya kecenderungan masyarakat untuk menganggap bahwa bahasa
yang diakui keberadaannya hanya variasi bahasa yang tinggi sedangkan variasi
yang lain dianggap bentuk penggunaan yang salah. Untuk variasi yang tinggi,
anggapan seperti itu dilakukan kadang-kadang dengan penuh kesadaran dan
kadang dengan tidak sadar, ditandai dengan fakta bahwa pengajaran bahasa Arab
yang dilakukan secara sadar pada lembaga pendidikan sebagai bahasa ibu maupun
bahasa kedua untuk diajarkan kepada orang asing selalu variasi yang tinggi.
Sebagian orang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai wawasan
kebahasaan yang luas selalu berusaha untuk menggunakan bahasa fu secara
baik dalam setiap forum umum dan mengingkari penggunaan mereka dalan
variasi lokal. Tetapi jika kita telusuri lagi penggunaan kebahasaan mereka secara
umum, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak bisa terlepas dari penggunaan
variasi rendah ketika berkomunikasi dengan teman dekat atau keluarga di rumah
maupun di tempat umum.
3. Warisan sastra (Literary heritage)
Bahasa fu38 sebagai variasi bahasa yang tinggi yang berada pada
masyarakat arab mempunyai warisan sastra yang berakar pada kejayaan sejarah
masa lalu seperti syair-syair Jahiliyah, awal Islam, masa Bani Umayyah, masa
Abassiyah dan sebagainya, warisan tersebut tertulis dalan variasi bahasa Arab
fu. Kriteria ini mengacu kepada banyaknya karya sastra yang ditulis dalam H
dan dikagumi warga guyub. Hal ini terlihat dari banyaknya hasil karya sastra Arab
yang menggunakan bahasa Arab klasik/ fu .39 Peninggalan sastra tersebut

38
Kenyataan historis menunjukkan bahwa pada masa kejayaan dunia Islam (masa klasik)
bahwa bahasa Fu dipelajari dengan penuh antusias dan dikuasai (tulisan dan lisan) oleh
masyarakat dunia Islam saat itu dengan baik dan benar, tetapi kemudian peranan seperti itu
berangsur-angsur redup sejalan dengan lajunya kemunduran kebudayaan Arab Islam, terutama
sejak akhir abad pertengahan (sekitar abad XIII M) dan kemunduran mencapai puncaknya sejak
abad XVII M. Muhammad al- Abd, al- Lughah al- Maktbah wa al- Lughah al- Manqah,
(Kairo: Dr al- Fikr li al- Dirsah, 1990), hal. 44
39
Abdul Wid Wf, Fiqh al-Lughah ,(Kairo: Lajnat al-Bayan al-Arab, 1962),
hal. 147
36

menjadi kebanggan bagi masyarakat Arab.40 Hal tersebut dibuktikan dengan usaha
pelestarian melalui publikasi, penelitian dan pengajaran yang dilakukan secara
terus menerus. Dengan usaha pelestarian tersebut maka relative mudah bagi orang
41
yang mempelajari bahasa Arab untuk memahami isi dan teks-teks sastra yang
telah dituliskan berabad-abad lamanya.
Keberadaan warisan sastra dalam variasi yang tinggi tersebut tidak berarti
bahwa variasi bahasa yang dianggap rendah tidak mempunyai warisan sastra,
tetapi volumenya tidak sebesar bentuk warisan sastra yang tertulis dalam variasi
tinggi dalam hal ini adalah bahasa Arab Fu.
4. Perolehan (Acquisition)
Ragam H diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal42,
sedangkan ragam L diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman
sepergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia
pendidikan formal tidak akan mengenal ragam H sama sekali. Mereka yang
mengenal ragam H hampir tidak pernah menguasai dengan lancar, selancar
penguasaannya terhadap ragam L. Alasannya, ragam H tidak selalu digunakan,
dan dalam mempelajarinya selalu terkendali dengan berbagai kaidah dan aturan
tata bahasa; sedangkan ragam L digunakan secara reguler dan terus menerus di
dalam pergaulan sehari-hari. Dalam masyarakat diglosis banyak orang terpelajar
menguasai dengan baik kaidah-kaidah ragam H, tetapi tidak lancar menggunakan
ragam tersebut. Sebaliknya, mereka tidak tahu atau tidak pernah memperhatikan
kaidah-kaidah tata bahasa ragam L, teapi dengan lancar mereka dapat

40
Karena sumber ijtihad (shawhid) para linguis dan ahli nahwi kebanyakan dari ragam
bahasa yang bernilai sastra tinggi, maka bahasa Arab Fu terkadang disebut orang barat sebagai
bahasa sastra yang dideskripsikan oleh para lughawi Arab Qudma (klasik), mengikuti jejak para
ahli nahwu India sebelumnya hanyalah bahasa sastra atau bahasa standar itu dengan tidak
memperhatikan ragam dialek lingkungan sekitar. Tujuan mereka adalah untuk melestarikan bahasa
Fu dari kemungkinan desakan dialek miyah dan untuk memelihara bahasa Fu ini dari
kesalahan. Lihat J.R. Firth, The Tongues of Men and Speech, (London: Oxford Univ Press, 1970),
hal. 50
41
Secara sosiologis sastra merupakan refleksi lingkungan budaya dan merupakan satu
teks dialektika antara pengarang dan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan
suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra. Muammad Abd al- Munim
Khafji, al Shiir al- Jhili, (Beirut: Dr al Kitb, 1973). hal.195
42
Stephen D. Krashen, Second Language Acquisition and Second Language Learning,
(Oxford: Pergamon Press, Internet Eddition 2002), hal. 41
37

menggunakan ragam tersebut.43 Dalam beberapa masyarakat diglosis malah


banyak penutur yang mengatakan bahwa ragam R tidak punya tata bahasa.
Akuisisi bentuk variasi bahasa yang tinggi yaitu bahasa Fu pada
masyarakat Arab dilakukan dengan pengajaran yang resmi pada institusi
pendidikan. Pengajaran bahasa Arab Fu dilakukan dengan proses yang hampir
sama dengan pengajaran bahasa Asing.
5. Standarisasi (Standardization)
Maksudnya adalah bahwa adanya standarisasi yang diakui oeh anggota
masyarakat merupakan pembeda antara variasi bahasa yang tinggi yaitu Bahasa
Arab fusha dengan variasi bahasa Arab yang rendah yaitu bahasa Arab miyah.
bahasa Arab Fu mempunyai bentuk baku 44 yang mendeskripsikan tata bahasa,
struktur dan bunyi serta kamus-kamus yang menjelaskan arti makna kata dan
ungkapan yang terdapat pada variasi ini secara singkat maupun luas. 45 Ditambah
dengan adanya kesepakatan antara pengguna bahasa untuk cara penggunaan yang
tepat, tata bahasa, cara penulisan dan pemakaian.
Sedangkan untuk bahasa Arab miyah tidak ada standarisasi yang baku,46
jarang ada buku yang menjelaskan tata bahasa, struktur dan bunyi variasi ini, jika

43
Abdul Wid Wf, Fiqh al-Lughah, hal. 148
44
Selain fungsi penggunaan untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut
Gravin dan Mathiot juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu:
Pertama, Fungsi pemersatu (the unifying function) adalah kesanggupan bahasa baku untuk
menghilangkan perbedaan variasi dalam masyarakat, dan membuat terciptanya kesatuan
masyarakat tutur, dalam bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialektal dan
menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya. Kedua, Fungsi pemisah (separatist
function) adalah bahwa ragam bahasa baku itu dapat memisahkan atau membedakan penggunaan
ragam bahasa tersebut untuk situasi yang formal dan yang tidak formal. Ketiga, Fungsi harga diri
(prestige function) adalah bahwa pemakai ragam baku itu akan memiliki perasaan harga diri yang
lebih tinggi daripada yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak
dapat dipelajari dari lingkungan keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari. Ragam bahasa baku
hanya dapat dicapai melalui pendidikan formal, yang tidak menguasai ragam baku tentu tidak
dapat masuk ke dalam situasi-situasi formal, di mana ragam baku itu harus digunakan. Fungsi
harga diri ini juga sesuai dengan pendapat Fishman yang mengatakan, bahwa ragam bahasa baku
mencerminkan cahaya kemuliaan, sejarah, dan keunikan seluruh rakyat. Ragam bahasa baku juga
merupakan lambang atau simbol suatu masyarakat tutur. Keempat, Fungsi kerangka acuan (frame
of reference function) adalah bahwa ragam bahasa baku itu akan dijadikan tolok ukur untuk norma
pemakaian bahasa yang baik dan benar secara umum. Garvin, P.L. dan Mathiot, M., The
Urbanization of The Guarani Language: Problem in Language and Culture, Fishman (Ed), 1968.
45
Ibrhm li al- Fily, Izdiwjiyah al- Lughah., hal. 31
46
Shauq aif, Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qowid wa al-Binyh wa al-Hurf
wa al-Harakh, hal. 16
38

ada seringkali ditulis dengan bahasa asing dan oleh penulis asing bukan orang
Arab asli dengan tujuan untuk mengajarkan dialek tersebut bagi orang asing
dengan tujuan komunikasi di masyarakat tempat variasi rendah itu digunakan.
6. Stabilitas (Stability)
47
Situasi diglosia pada masyarakat Arab merupakan situasi stabil karena
telah berlangsung sejak masa Jahiliyah sampai saat ini, pada masa jahiliyah ada
bentuk bahasa ideal yang di gunakan oleh masyarakat Arab dalam pembuatan
syair dan pidato, disamping itu ada bentuk bahasa lokal yang di gunakan oleh
setiap suku dan berbeda dari suku satu ke suku yang lain. Keadaan ini
berlangsung bahkan bertambah komplek pada masa bani Umayyah dan Abassiyah
ketika bangsa-bangsa non Arab memeluk agama Islam dan berusaha untuk
mempelajari bahasa Arab dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari,
meskipun mereka terpengaruh dengan bahasa asli mereka ketika menggunakan
bahasa Arab , ketika itu para ulama berpendapat bahwa demi pelestarian bahasa
Arab dari bentuk kesalahan pemakaian, perlu dituliskan dalam buku-buku yang
menjelaskan tata bahasa Arab serta kamus-kamus yang menjelaskan makna kata-
kata.
Dalam pengumpulan kata-kata yang dianggap asli dari Bahasa Arab tidak
sembarangan para linguis mengambil dari suku yang dianggap tidak fasih karena
banyak berinteraksi dengan masyarakat non Arab, mereka hanya mengambil dari
suku yang fasih di belantara gurun pasir yang terisolir. Selain itu pengumpulan
data tersebut juga di batasi dengan kurun waktu tertentu, para ahli pada abad
pertama dan kedua hijriyah mengambil data kebahasaan dalam lingkungan
perkotaan maupun badwi, dengan berakhirnya abad kedua ahli bahasa hanya
mengambil dari kabilah badwi sampai abad keempat hijriyah. 48

47
Bahasa Arab adalah salah satu dari beberapa bahasa dunia dicirikan oleh fenomena
yang diglosia, istilah diglosia telah diperkenalkan oleh Charles Ferguson dan ditetapkan sebagai
bahasa yang relatif stabil dalam situasi yang stabil, di samping merupakan bahasa yang utama dari
dialek bahasa yang lain. Ada yang sangat berbeda yaitu dikodifikasikan (gramatikalnya lebih
kompleks), beragam, dihormati, digunakan dalam sastra tertulis baik dari periode sebelumnya atau
dalam sambutannya masyarakat lainnya. Lihat Aleya Rouchdy, The Arabic Language in Amerika,
(Wayne State University Press. 1992), hal. 284
48
Ibrhm, li al- Fily, Izdiwjiyah al- Lughah,hal. 38-39
39

Dalam situasi tersebut bentuk dialek yang dianggap tinggi yaitu bahasa
Arab fu yang bersifat sangat stabil sedangkan variasi bahasa yang kedua selalu
mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat penggunanya.
7. Tata bahasa (Grammar)
Bahasa Arab fu sebagai bentuk variasi bahasa yang tinggi mempunyai

tata bahasa yang baku yang dinamakan yaitu system gramatikal sintaksis

yang tidak dimiliki oleh bahasa arab miyah sebagai variasi bahasa rendah

misalnya dalam kalimat dalam bahasa fu tanda-tanda baris

sangat penting dalam menetapkan pelaku (fil) dan objek (mafl). Kalimat

tersebut bisa kita rubah menjadi pelaku disini tetap menyandang

ammah sebagai tanda bahwa ia adalah fail sedangkan umar tetap menjadi
mafl.49 Dalam penggunaan variasi bahasa rendah ada kecenderungan untuk
mematikan baris pada setiap kata.
8. Kosa kata (Lexicon)
Sebagian besar dari kosa kata yang di pergunakan dalam bahasa Arab
Fu di gunakan juga dalam variasi bahasa Arab miyah, namun terjadi
kecenderungan penggunaan kosa kata tertentu dalam bahasa Arab fu dan
penggunaan padanan yang lain dalam bahasa Arab miyah.
Sebagai akibat dari keterbukaan ke Barat, orang arab menggunakan istilah

asing untuk alat-alat yang berbau teknologi seperti ,,, yang

dikenal dengan proses Arabisasi. Sedangkan dalam bahasa Arab Fusha


penggunaan itu agak ketat karena bahasa arab mengenal padanan yang telah

diambil dari bahasa Arab itu sendiri secara generatif yaitu istilah , ,

, hal itu lebih ketat lagi dalam penulisan ilmiah, seorang penulis dituntut untuk
mempergunakan istilah-istilah yang diambil secara generatif dari bahasa Arab

49
Ibrhm, li al- Fily, Izdiwjiyah al- Lughah, hal. 41
40

terdahulu.50 Padahal dalam penggunaan sehari-hari istilah yang baru sudah umum
dipergunakan.
Selain itu ada juga bentuk kosa kata yang berasal dari bahasa Arab Fu

tapi tidak lazim dipergunakan dalam penggunaan resmi seperti ,,,

dengan yang lebih umum ,,, dalam penggunaan bahasa arab fu.

Keadaan ini terjadi dengan kesadaran penuh dari pengguna bahasa Arab tentang
kosa kata yang mesti di pergunakan dalam setiap situasi.
9. Fonetik (Phonetic)
Sistem fonetik yang terdapat pada kedua variasi bahasa fu dan dialek-
dialek cabangnya adalah satu, namun dalam setiap dialek terjadi beberapa
perubahan yang dialami dalam ujaran kebahasaannya sehingga membedakan
keduanya.
Semua ciri kebahasaan tersebut hanya merupakan rambu-rambu dalam
membedakan situasi diglosia dari situasi kebahasaan lainnya. Situasi ini diakui
keberadaannya oleh masyarakat pada semua lapisan pengguna bahasa Arab,
sedangkan keadaan yang disebutkan oleh Emil Badi Yakub sebagai diglosia
dengan padanan biligualisme adalah keadaan yang lebih bersifat individual
dimana seorang manusia menguasai dua bahasa dalam waktu yang bersamaan.
Diglosia dan bilingualisme merupakan gejala kebahasaan yang terdapat
dalam masyarakat. Diglosia menyangkut penggunaan dua variasi dalam satu
bahasa yang sama, pada masyarakat Arab semua orang pada umumnya menguasai
salah satu variasi yang rendah sebagai penutur sedangkan penguasaan variasi yang
tinggi tergantung tingkat pendidikan dan faktor lain yang telah dibahas diatas,
tetapi itu bukan berarti ketika orang berbicara dalam variasi yang tinggi ia tidak
mengerti inti tentang persoalan. Sedangkan bilingualisme adalah gejala
kebahasaan dimana satu orang atau masyarakat menggunakan dua bahasa yang
berbeda keadaan ini lebih bersifat individual daripada gejala umum pada

50
Ibrhm, li al- Fily, Izdiwjiyah al- Lughah, hal. 46-47
41

masyarakat.51 Kasus bilingualisme ini banyak terdapat pada masyarakat yang


selalu berinteraksi dengan ras lain, ketika seorang menjadi bilingualisme, maka
salah satu bahasa yang di kuasai merupakan bahasa ibu, sedangkan bahasa yang
lain merupakan bahasa kedua.
C. KARAKTERISTIK BAHASA
Pada umumnya bahasa itu mempunyai beberapa karakteristik 52 yaitu:
1. Berdasarkan aspek sosiologis tiap-tiap bahasa mempunyai beberapa ragam
bahasa. Perbedaan tersebut didasarkan atas perbedaan kelas ekonomi dan
budaya penuturnya. Bahasa yang digunakanoleh kalangan budayawan akan
sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang yang tidak bisa
membaca dan menulis. Begitu juga bahasa yang digunakan oleh para
mahasiswa akan sangat berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan petani.
2. Berdasarkan aspek geografis tiap-tiap bahasa mempunyai dialek yang
berbeda-beda. Dialek bahasa Arab di Aljazair berbeda dengan dialek bahasa
Arab di Sudan, Siria, dan Irak. Demikian juga dialek bahasa Inggris di Irlandia
berbeda dengan dialek Inggris di Skotlandia.
3. Setiap bahasa mempunyai peringkat-peringkat. Ada yang di sebut bahasa
Fu (resmi) dan ada juga yang dinamakan bahasa miyah (sehari-hari).
4. Ekspresi bahasa bisa melalui media lisan dan bisa juga melalui media tulisan.
5. Dalam mengucapkan suatu bahasa, setiap individu akan berbeda antara
seseorang dengan yang lainnya.
6. Bahasa itu mempunyai beberapa tingkatan dalam pembentukannya. Ada
tingkatan bunyi, morfem, kosa kata, tata kalimat, dan pemaknaan.

D. RAGAM DIALEK ARAB DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PERBEDAANNYA
Para ahli bahasa mencoba mengklasifikasi bahasa-bahasa di dunia ini
menjadi beberapa rumpun.53 Max Muller mengklasifikasi asal-usul bahasa

51
Ibrhm, li al- Fily, Izdiwjiyah al- Lughah, hal. 48
52
Muammad Ali al-Khul, Aslibu Tadrsi al-Lughah al- Arabiyah, (Riya: al-
Mamlakah al-Arabiyah as-Sudiyah, 1982), hal. 16-17
42

menjadi tiga rumpun, yaitu Rumpun Indo Erofa, Rumpun Samit Hemit, dan
Rumpun Turania.54 Bahasa Arab termasuk dalam rumpun bahasa semit55 yang
kemudian menjadi salah satu rumpun dari bahasa-bahasa semit-hemit yang
56
masyhur diistilahkan dengan Homo Semitic atau dalam istilah bahasa Arabnya
disebut al-Hamiyah al-Samiyah.57
Emil Badi Yaqub membagi secara khusus dan eksklusif membagi bahasa
semit kepada bahasa timur, yang meliputi bahasa-bahasa Ashiriyah-Babilonia atau
Akadiyah; dan bahasa-bahasa barat, yang meliputi bahasa Aramiyah, Kananiyah,
dan Arabiyah. Ditinjau dari aspek penyebarannya, bahasa Arab dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu bahasa yang menyebar dan berkembang di bagian
selatan dan utara. Bahasa Arab yang berkembang di selatan melitputi Maaniyah,
Sabaiyah, Haramiyah, Qaniyah, dan Habshiyah. Sedangkan bahasa Arab yang
berkembang di bagian utara meliputi Arab Baidah dan Arab Bqiyah. Bahasa
Arab Baidah meliputi bahasa-bahasa afawiyah, Thamudiyah, dan Liyniyah.58
Sementara Arab Bqiyah59 meliputi bahasa Tamim dan bahasa Hijz.

53
M. Hasan Bakkala, Pengantar Penelitian Studi Bahasa Arab, (Jakarta: Harjuna, 1990),
hal. 1
54
A. asan Sayyat, Trikh al-Adb al-Arab, (Beirut: Dr al-Thaqfah, tt), hal. 14
55
Bahasa Arab sebagai rumpun semit umumnya dipakai bangsa-bangsa yang mukim di
sekitar sungai Tigris dan sungai Efrat, daratan Syiria, dan jazirah Arabiyah yang masyhur kita
kenal dengan istilah Timur Tengah. Bangsa-bangsa yang mendiami wilayah tersebut terdiri dari
beberapa suku atau kabilah yang terpisah-pisah, namun secara umum bangsa-bangsa tersebut
diikat oleh adat istiadat yang sama. Hal ini ditandai dengan berkumpulnya para penyair handal dari
berbagai kabilah di Pasar Ukaz, yang terkenal dengan Pasar Seni. Untuk memperkaya khazanah
berfikir.Yunus Ali Mohdhar dan Bey Arifin, Sejarah Kesusateraan Arab, (Surabaya: Bina Ilmu,
1983), hal. 12; lihat juga, M. Fat Ali Yns, Tasmin Minhaj li Talm al-Lugah aArabiyah li
al-Ajnib, (Kairo: Dr al-Thaqfah, 1978), hal. 113
56
Encyclopedia Britanni: Semitic Languages, (Chicago: William Benton Publisher,
1961), V, hal. 314
57
Abdul Wid Wf mengklasifikasi bahasa semit dalam dua kelompok besar, yaitu;
pertama, kelompok utara yang mencakup bahasa Akkadiyah (Accadien) atau al-asyuriyah al-
Babiliyah (Assyro-Babyloniennes); bahasa Kananiyah misalnya bahasa al-Ibriyah dan al-
Finiqiyah; dan bahasa Aramiyah. Kedua, kelompok selatan yang mencakup bahasa Arab, Yaman
Kuno, dan bahasa Habasyah.Ali Abdul Wid Wf, Ilm al-Lughah, (Mesir: Maktabah Mir bi
al-Majallah, 1962), hal. 185-186. Wilfensen menilai bahwa kedua kelompok yang telah digariskan
oleh Ali Abdul Wid Wf tidak akurat karena secara geografis dan histories tidak ditemukan
batasan yang jelas tentang pemisahan secara khusus penyebaran bahasa tersebut dibagian utara dan
selatan. Untuk lebih jelasnya baca, Emil Badi Yaqub, Fiqh al-Lughah al-Arabiyah wa
Khaiuh, (Beirut: Dr al-Thaqfah al-Islmiyah, tt), hal. 117
58
Bahasa Arab Baidah disebut juga bahasa Arab Inkripsi, karena bahasa ini sampai
kepada kita melalui proses al-nuqsyi. Yang dimaksud dengan al-Samudiyah adalah inkripsi bahasa
yang dinisbahkan kepada kabilah Samud. Yang dimaksud dengan al-afawiyah adaalah inkripsi
43

Secara khusus penulis membagi dua bentuk ragam dialek Arab, yaitu
ragam dialek ditinjau dari aspek penuturnya, dan dialek yang ditinjau dari aspek
penggunaannya. Kedua aspek tersebut sangat penting, oleh karena bahasa itu
sifatnya merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan dan perasaan.
Dalam proses komunikasi tersebut tentunya melibatkan kamunikan dan
menyimpan makna dibalik ungkapannya.60 Selain itu, penulis hanya memaparkan
secara sederhana sekitar ragam bahasa ditinjau dari aspek penuturnya.

bahasa yang sebahagian besar ditemukan di daerah afah. Sedangkan yang dimaksud dengan al-
Lihyaniyah adalah suatu bahasa yang disandarkan kepada Lihyan yang menempati daerah bagian
utara Hijaz. Penelitian-penelitian atas ketiga inskripsi tersebut menunjukkan bahwa ketiga ragam
bahasa Baidah ini mendekati tulisan musnad atau derivasi Arab Utara yang berupa tulisan Nabaty.
Baca, Emil Badi Yaqub, Fiqh al-Lughah, hal. 119.
59
Yang dimaksud dengan bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan untuk
pengertian bahasa Arab yang sebenarnya yang sampai kepada kita sekarang ini. Bahasa Arab ini
merupakan gabunagan berbagai bahasa yang berkembangan baik di bagian utara maupun yang
berkembang dibagian selatan. Dari percampuran kedua bahasa tersebut melahirkan bahasa Fu
yang dipakai sampai saat sekarang ini dalam bentuk tulisan, khutbah, siaran, surat kabar, syair dan
sebagainya. Untuk lebih mengetahui secara detail tentang persoalan ini, baca, Emil Badi Yaqub,
Fiqh al-Lughah, h. 120-140
60
Ibnu Jinni, seorang ahli bahasa Arab klasik membatasi bahasa dengan bunyi ujaran
yang diucapkan manusia untuk mengungkapkan maksud hatinya. Edward Sapir, seorang ahli
bahasa barat modern, memandang bahasa sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk
mengungkapkan fikiran, ide-ide, dan perasaannya dengan cara menyusun lambing-lambang yang
muncul dengan keinginannya sendiri. Vendyes, menyatakan bahwa bahasa adalah gambaran
ideal yang diujarkan dengan sendirinya antara anggota masyarakat dalam suatu kelompok besar.
Karena itu menurutnya bahasa itu merupakan produktifitas alami manusia untuk menggambarkan
kegiatannya sebagai penyesuaian terhadap kemampuan manusia untuk dapat dikomunikasikan
dalam masyarakat. Ullaman, menyebutkan bahwa bahasa adalah susunan lambang bunyi yang
tersusun dalam fikiran orang sebagai bagian dari masyarakat bahasa. E. Sturtevant, bahasa
menurutnya adalah susunan lambang bunyi yang diujarkan dengan sendirinya, yang dengan
bahasa itu manusia sebagai anggota masyarakat tertentu dapat saling berinteraksi dan
berkomunikasi. Al-Hully mendefinisikan bahasa kedalam lima bentuk, yaitu; pertama, bahasa
adalah suatu system yang memiliki aturan-aturan khusus baik dalam bentuk, bunyi, fonem,
morfem, sinteks dan semantic, kedua, sistem bahasa itu Itibai yaitu aturan yang ada pada setiap
bahasa itu tidak berdasarkan logika dan bukan berdasarkan musyawarah, ketiga, bahasa adalah
satuan bunyi karena manusia dapat berbicara walaupun ia tidak bisa menulis seperti anak-anak
kecil mereka dapat bermain dan berkomunikasi dengan temannya meskipun mereka belum bisa
menulis atau menggambar karena secara esensial bahasa adalah kegiatan lisan sedangkan menulis
adalah bagian lain dari bahasa, keempat, bahasa adalah simbol karena setiap kalimat memiliki
simbol, misalnya kata baetmaka yang tergambar dalam pikiran kita adalah rumah seperti yang
telah kita kenal, kelima, fungsi bahasa adalah untuk bertukar pikiran atau perasaan di antara
sesama manusia. Abdul Azz bin Abdul Majd, Al-lughah al-Arabiyyah Uluh al-Nafsiyyah
wa urq Tadrsih, Juz I, (Mir: Dar al-Marif, 1961), Cet. Ke-3, hal. 17-18. Lihat Soeparno,
Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), Cet. Ke-1, hal. 3-4; Mansoer
Pateda, Linguistik Terapan, (Ende-Flores: Nusa Indah, 1991), Cet. Ke-1, hal. 19-20; Tamam
Hassan, al-Lughah al-Arabiyyah Manah wa Mabnah, hal. 34. Muammad Ali al-Khull,
Aslib Tadrs al-Lughah al-Arabiyyah, , hal. 16-17; Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi,
44

Ragam bahasa ditinjau dari aspek penuturnya dapat diklasifikasikan dalam


tiga bentuk, yaitu idiolek, dialek, dan ragam kronolek. Ragam idiolek hanya
bersifat perorangan. Oleh karena itu, secara umum di seluruh dunia ini setiap
mesti mempunyai ragam bahasa masing-masing dengan warna suara dan stylis
sendiri-sendiri. Demikian pula dengan masyarakat Arab, tentu mereka memiliki
yang berbeda secara individu.
Ragam dialek yaitu sekelompok penutur yang jumlah relative, yang
berbeda pada suatu tempat, wilayah maupun area tertentu, baik secara regional
maupun secara geografis. Oleh karena itu, bahasa Arab memiliki ragam dialek
yang berbeda-beda, misalnya bahasa Arab yang berkembang di bagian selatan
yang masyhur disebut dengan Yaman Kuno atau Qan yang meliputi dialek
Sabaiyyah, Muayyiniyah, Haramiyah. Sedangkan bahasa Arab yang
berkembang di bagian timur yang masyhur dikenal dengan Bidah dan Bqiyah,
yang meliputi dialek Thamudiyah, afawiyah, Liyaniyah, Quraisy,61 Nejed, dan
Tamim.
Ragam dialek Arab yang masyhur dikalangan ulama sosiolinguistik, dapat
diklasifikasi menjadi dua bentuk, yaitu; pertama ragam dialek yang biasa
digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam melaksanakan rutinitasnya;

(Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Cet. Ke-3, hal. 73-74; ub li, Fiqh al-Lughah, hal. 52; baca
juga, al-Thalab Fiqh al-Lughah, (Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyah, 1422 H/2001 M), hal. 145
61
Menurut Abu Nashr al-Farabi dalam kitabnya al-Alfa wa al-Hurf mengatakan
bahwa bahasa Quraisy adalah bahasa yang paling baik dan yang paling fasih diantara semua dialek
Arab karena lebih mudah diucapkan, lebih indah didengar, dan dari bahasa itu lahir dialek-dialek
lain. Misalnya, bahasa Qais, Tamim, Hudzail, dan sebahagian bahasa Kinanah dari aspek Irab dan
tashrifnya. Selain itu, bahasa Quraisy tidak terambil dari bahasa Hadhari dan al-Barari karena
keduanya berbaur dengan suku-suku; atau dari dialek Lakhem dan Judzar karena berada diantara
Mesir dan Qibti; atau dialek Qudhaah dan Gassan karena keduanya berada disekitar wilayah Syam
dan dialek mereka sering digunakan oleh orang Nasrani dalam kegiatan ritual mereka; atau dialek
Taglab dan Namr kerena keduanya berperbatasan dengan Yunani; atau dialek Bakr karena ia
berdekatan dengan Nabth dan Persia; atau dialek Abed Qays karena berada di antara Bahrain, Hind
dan Persia; atau dialek Azad Oman karena diapit Hind dan Persia; atau dialek ali Yaman dan
Tsaqif karena dialek-dialek tersebut telah membaur dengan umat lain. Jalluddin Abd Raman abi
bakr al-Suyi, Kitb al-Iqtirah f Ilm Ul al-Nawi, (tt: Jarus Burs, 1988), Cet. I, h. 44.
Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW yang merangkum
berapa lahjah Arab, yang kemudian dikenal bahasa Arab al-Quran sebagai bahasa al-mushtarika
sehingga mencapai tingkat fu. Lihat dan baca, Mushtaq Abbs Man, al-Mujam al-Mufaal f
Fiqh al-Lughah, (Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyah ,2001), hal. 154
45

dan yang kedua, ragam dialek yang menjadi khusus kabilah tertentu dalam
menyebutkan huruf-huruf tertentu dikalangan mereka.
Berikut ini peneliti akan memaparkan beberapa bentuk fenomena ragam
dialek Arab yang dinukil dari berbagai literatur yang telah penulis telusuri.
Fenomena ragam dialek Arab tersebut, umumnya sangat dipengaruhi oleh
kebiasaan artikulasi bunyi. Adapun bentuk-bentuk fenomena ragam dialek
tersebut penulis uraikan secara sederhana disertai nama-nama ragam yang
masyhurnya berikut ini:
1. Lahjah al-kashkasah
Lahjah al-kashkasah adalah bentuk perubahan kaf khib muannath dalam
waqaf menjadi shin, misalnya kata biki dibaca bikash, dan kata alaiki dibaca
alaikash. Lahjah semacam ini hanya digunakan pada saat waqaf. Selain itu, ada
juga yang menggunakan pada saat washal dengan cara tidak menyebutkan kaf
khib dan mengkasrahkannya ketika washal dan mensukunkannya pada saat
waqaf. Misalnya, kata alaiki dibaca alaishi ketika waal, dan dibaca alaish
ketika waqaf. Penggunaan lahjah semacam ini hanya ditemukan pada kabilah
Rabiah dan kabilah Muor.
2. Lahjah al-Kaskasah
Lahjah al-Kaskasah adalah perubahan kaf khib mudzakkar menjadi sin.

Misalnya, kata alaika dibaca alaikas; kata minka dibaca


minkas. Istilah al-kaskasah merupakan wujud perubahan bacaan kaf khib
menjadi sin. Penggunaan lahjah ini, hanya ditemukan pada kabilah Rabiah dan
kabilah Muor.62

62
Menurut al-Thalab bahwa lahjah al-kashkashah dinisbahkan kepada bahasa Tamim,
sedangkan lahjat al-kaskasah ditemukan pada bahasa Bakr. Baca, ub li, Fiqh al-Lughah,
(Beirut: Dr al-Ilm li al-Malyin, t.th), hal. 52; baca juga, al-Thalab, Fiqh al-Lughah, (Beirut:
Dr al-Kutub al-Ilmiyah, 2001), hal. 146. Shauq af, Tahrfat al-miyah li al-Fu, hal. 144.
Lihat juga, Abdul Ghaffar amd al-hill, al-Lahjah al-Arabiyyah, (Kairo: Maktabah Wahbah,
1993 M), hal. 162.
46

3. Lahjah al-Ananah
Lahjah al-Ananah adalah perubahan hamzah yang terletak diawal kata

menjadi ain. Misalnya, kata aslama yang berarti masuk Islam, berubah

menjadi aslama dengan makna yang sama; kata akala yang berarti

makan, berubah menjadi akal dengan makna yang sama. Penggunaan

lahjah ini hanya ditemukan pada bahasa Tamim, bahasa Qays, Asad, dan Mesir.63
4. Lahjah al-fafaah

Lahjah al-fafaah adalah perubahan a menjadi ain. Misalnya, kata

tatahu yang berarti menggerakkan, berubah menjadi tataahu dengan

makna yang sama; kata risah yang berarti penjaga, berubah menjadi

risah dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan
pada bahasa Huzail.64
5. Lahjah al-Wakm
Lahjah al-Wakm adalah perubahan harakat kaf menjadi kasrah apabila

didahului huruf ya atau harakah kasrah. Misalnya, kata alaikum berubah

menjadi alaikim dengan makna yang sama; kata bikum berubah menjadi

bikim dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada
bahasa Rabiah dan bahasa Qalb.

63
Menurut al-Thalabi bahwa lahjah ini ditemukan pada bahasa Qadhah, misalnya, kata
anantu annaka dhhib yang bermakna saya kira anda telah pergi, berubah menjadi anantu
annaka dhhib dengan makna yang sama.Sedangkan menurut Shauq aif bahwa perubahan ini
juga ditemukan dalam lahjah Mesir, misalnya ( memakai hamzah) dan ( hamzah
diubah menjadi ain musyaddad). Lihat dan baca, Shauq aif, Tahrfat al-miyah li al-Fu,
hal. 145-146; baca juga, al-Thalab, Fiqh al-Lughah, hal. 146. baca juga, Abdul Ghaffr amd
al-hill, al-Lahjah al-Arabiyyah, hal. 164
64
Lihat Shauq aif, Tahrfat al-miyah li al-Fu, hal. 150. Baca juga, Abdul
Ghaffr amd al-hill, al-Lahjah al-Arabiyyah, hal.161
47

6. Lahjah al-Wahm
Lahjah al-Wahm adalah perubahan harakat ha menjadi kasrah apabila

tidak didahului huruf ya atau harakat kasrah. Misalnya, kata anhum

berubah menjadi anhim dengan makna yang sama; kata minhum berubah

menjadi minhim dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya
ditemukan pada bahasa Rabiah dan bahasa Qalb.
7. Lahjah al-Ajajah
Lahjah al-Ajajah adalah perubahan ya mushadah (bertashdid) yang

terletak diakhir kata menjadi jim. Misalnya, kata tamm (doble huruf ya)

yang berarti orang yang berasal dari suku Tamim, berubah menjadi

tammj dengan makna yang sama. Contoh lain adalah kata Makssary

yang berarti orang berasal dan bersuku Makassar, berubah menjadi


Makssarij dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini, menurut al-Suyti
hanya ditemukan pada bahasa Qaah.65
8. Lahjah al-Istina
Lahjah al-Istina adalah perubahan ain sukun yang terletak ditengah-

tengah kata menjadi nun. Misalnya, kata aa yang berarti memberi, berubah

menjadi antha dengan makna yang sama. Contoh lain adalah kata ala

yang berarti lebih tinggi, berubah menjadi anla dengan makna yang sama.

Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada bahasa Saad bin Bakar, Huzail,
Urdz, Qays, dan al-Anari.66

65
Abdul Ghaffr amd al-hill, al-Lahjt al-Arabiyyah, hal. 176
66
Abdul Ghaffr amd al-hill, al-Lahajt al-Arabiyyah, hal. 185
48

9. Lahjah al-Watm
Lahjat al-Watm adalah perubahan huruf sin yang terletak diakhir kata

menjadi ta. Misalnya, kata al-Ns yang berarti manusia, berubah bentuk

menjadi al-Nt dengan makna yang sama. Contoh lain adalah kata
al-hams yang berarti kelompok pejuang atau pahlawan, berubah bentuk menjadi

al-hamt dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya

ditemukan pada bahasa Yaman. 67


10. Lahjah al-Shanshanah
Lahjah al-Shanshanah adalah perubahan huruf kaf yang terletak diakhir

kata menjadi shin. Misalnya, kata labbaika yang berarti akau memenuhi

panggilanmu, berubah bentuk menjadi labbaisha dengan makna yang sama.

Contoh lain adalah kata raaituka yang berarti aku telah melihatmu, berubah

bentuk menjadi raaitusha dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini
hanya ditemukan pada bahasa Yaman.68
11. Lahjah al-Lakhlakhaniyah
Lahjah al-Lakhlakhaniyah merupakan salah satu bentuk dialek Arab yang
ditemukan atau dinisbahkan dalam bahasa Arab suku Shahr dan Oman. Dalam
dialek ini mereka membuang hamzah pada alif dalam hal penulisannya, misalnya

m sh (mim-alif Shin-alif), sedangkan yang mereka maksudkan m

sha (mim-alif Shin-alif + Hamza).69

67
Abdul Gaffar Hamid Hill, hal. al-Lahajt al-Arabiyyah 181.
68
Abdul Gaffar Hamid al-Hill, al-Lahajt al-Arabiyyah, 166
69
al-Thalab, Fiqh al-Lugah, hal. 146. Shauq haf, Tahrfat al-miyah li al-Fu,
hal. 146
49

12. Lahjah al-Taajju


Lahjah al-Taajju, merupakan madar Taajju f al-Amri yang
artinya menunda-nunda dan tidak mengerjakan sesuatu. Penamaan ini ditujukan
kepada kabilah qays .
13. Lahjah al-Ruttah
Lahjah al-Ruttah, adalah tergesa-gesa dan cepat dalam bercakap.
Penamaan ini dinisbahkan kepada penduduk Iraq
14. Lahjah al-amamaniyah
Lahjah al-amamaniyah,70 adalah perubahan lam tarif menjadi mim.
Penamaan ini dinisbahkan kepada kabilah ay, A, dan kepada kabilah Humair di
Selatan Jazirah Arab. Sebagai contoh riwayat an-Namir ibn Tub bahwasanya

Rasulullah SAW berbicara dengan bahasa ini dalam haditsnya :

maksudnya adalah

Lahjah al-umumniyah merupakan salah satu bentuk lahjah Arab yang


ditemukan dalam bahasa Himyar. Mereka membaca al- yang melekat pada isim
atau kata benda dalam bahasa Indonesia menjadi am-, misalnya dalam kalimat

ba amhaw. Pada yang mereka maksud adalah aba al-

haw. 71
15. Lahjah al-Gamgamah
Lahjah al-Gamgamah, yaitu mendengar suara tetapi tidak jelas potongan-
potongan hurufnya. Ibn Yaish berkata ghamghamah adalah percakapan yang

70
Dalam berbagai literature diriwayatkan bahwa dialek al-umumaniyah tidak hanya
dinisbahkan kepada kabilah Himyar, akan tetapi ditemukan juga pada kabilah lain, misalnya Saad
bin Bakr, Hudzail, Azad, dan al-Anshar. Ibrhm Ans, F al-Lahjt al-Arabiyah, hal. 140
71
Lahjah lain menurut al-Thalab misalnya; lahjah al-Haatah, yaitu perubahan huruf a
menjadi ta, misalnya kata al-Haaah berubah menjadi al-Hatatah; lahjah al-aghagah, misalnya
perubahan huruf a menjadi ta juga. Dalam Sharh al-Mufaal dikatakan bahwa bentuk
perubahannya adalah mengubah sin menjadi tha, misalnya Bismillah, mereka ubah bacaannya
menjadi Bithmillah. Lahjah lainnya adalah al-Luthgah, yaitu perubahan huruf ra menjadi lam;
kemudian lahjah al-Fafaah (selalu mengulang-ulangi huruf fa), al-Tamtamah (selalu mengulang-
ulangi huruf ta), lahjah al-Lafaf, lahjah al-Latsag, al-Lajlajah, al-Khankhanah, dan al-
Maqmaqah. al-Thalab, Fiqh al-Lughah, hal. 144-146
50

tidak jelas, seperti suara para pendekar dalam peperangan. Penamaan ini
dinisbahkan kepada kabilah Qaaah
16. Lahjah al-Tiltilah
Lahjah al-Tiltilah, adalah perubahan harakat harf muriah menjadi

kasrah. Penamaan ini dinisbahkan kepada kabilah Bahra, Contohnya ,

( di baca Ilamu dan Nilamu). Ab Amru yang dikutip dari Kamus Lisan al-
Arab mengatakan bahwa ta dan nun muri dibaca kasrah dalam bahasa Qays
Tamim, Asad, Rabiah dan umumnya bangsa Arab..
Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa bahasa itu bervariasi
dan beragam yang disebabkan oleh keragaman sosial masyarakat penuturnya dan
keragaman fungsi dari bahasa tersebut. Begitu juga dengan Bahasa Arab yang
mempunyai banyak variasi bahasa yang dinamakan dengan bahasa miyah atau
dialek yang berada secara berdampingan dengan bahasa Arab Fu. Berkaitan
dengan gejala bahasa diglosia maka bahasa miyah merupakan bahasa ragam
rendah sedangkan bahasa Arab Fu merupakan bahasa ragam tinggi.
E. BAHASA DAN BUDAYA
Bahasa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain secara budaya. Ia
merupakan fenomena yang selalu hadir dalam kehidupan, sebab bahasa digunakan
oleh setiap manusia dalam segala aktivitasnya. Meskipun bahasa tampak bersifat
abstrak sebab berupa konsep, perasaan dan kata-kata, namun pengaruhnya sangat
nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa menciptakan sebuah revolusi
sosial. Demikian bahasa sebagai medium utama72 manusia untuk kelangsungan
dalam kehidupan sosial dan kebudayaannya.
Terdapat beragam definisi mengenai bahasa yang diberikan oleh para
linguis (ahli bahasa), namun terlebih dahulu dinukilkan pengertian bahasa atau
language (bahasa Inggris)/lughah (bahasa Arab) yang diperoleh dari kamus:

72
Sayyid Abd Fatt Aff, Ilm Ijtim al-Lughaw, (Kairo: Dr al-Fikr al-Arab, 1995),
hal. 152.
51

(a) Theoretical Linguistics, yaitu bahwa bahasa merupakan sistem


lambang bunyi yang arbitrer, digunakan untuk saling bertukar pikiran atau
perasaan antar anggota kelompok masyarakat bahasa.73 Menurut definisi tersebut,
bahasa meliputi lambang-lambang yang digunakan manusia sebagai alat
berkomunikasi antar sesama.
(b) Websters, mendeskripsikan, bahwa bahasa sebagai alat yang
sistematis untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-
tanda, bunyi-bunyi, gesture, atau tanda-tanda lain yang disepakati yang
mengandung makna dan dapat dipahami. 74 Dari pengertian tersebut, bahasa
meliputi keseluruhan hal yang digunakan sebagai alat untuk berinteraksi, baik
berupa tanda verbal ataupun non-verbal (semua bunyi suara, semua sandi, atau
gerakan anggota tubuh/gesture, dan sebagainya).
sebagaimana dinyatakan oleh Kridalaksana75 bahwa pengertian yang
ditampakkan adalah mengenai sosok dan fungsi bahasa, yakni sistem lambang
bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk
bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Sedangkan fungsi
bahasa itu sendiri adalah merupakan fenomena sosial76 yang banyak seginya,
misalnya sebagai media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Namun
secara umum, bahasa merupakan alat komunikasi, sehingga untuk keperluan
apapun dan dalam kegiatan apapun, bahasa digunakan seseorang atau suatu
masyarakat.

Dari sejumlah definisi-definisi di atas, dapat dikemukakan intisari bahwa


di samping bahasa memiliki sistem (mulai tataran bunyi, fonem, morfologi,
sintaksis hingga semantik), prinsip utama aktivitas bahasa adalah berbicara
(speech), berawal dari asumsi bahasa adalah bunyi, sedangkan menulis merupakan

73
Muhammad Ali Al-Khul, A Dictionary of Theoretical Linguistics; English-Arabic,
(Beirut: Maktabah Lubnan, 1982), hal. 148.
74
David B.Guralnik, Websters New World Dictionary of The American Language, (New
York: Prentice Hall Press, 1984), hal. 792.
75
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2007), hal. 21.
76
Tammm Hassn, al-Lughah al-Arabiyyah Manh wa Mabnh, (Kairo: lam al-
Kutub, 1998), hal. 335.
52

gambaran dari ucapan.77 Bahasa bukan satu permasalahan yang dibuat oleh
seorang atau individu-individ tertentu, melainkan diciptakan oleh suatu
masyarakat bahasa78 (sekelompok orang sebagai masyarakat itu sendiri dan kelas
sosial yang ada). Dengan demikian, setiap masyarakat dipastikan memiliki dan
menggunakan alat komunikasi sosial79 tersebut, sehingga dapat ditegaskan bahwa
masyarakat bahasa itu dapat terjadi dalam sekelompok orang yang menggunakan
bahasa yang sama dan sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang
berbeda dengan syarat di antara mereka terjadi saling pengertian (mutual
intelligibility).
Fungsi interaksi (the instruction function) tersebut di atas, dapat menjamin
kelangsungan komunikasi dan interaksi sosial, seperti dalam tatanan pergaulan
dijumpai ungkapan-ungkapan tertentu bagi yang ingin menciptakan suatu iklim
yang kondusif dalam budaya setempat. Dengan demikian, tatacara hidup, pola
bergaul maupun kebiasaan telah menunjukkan sikap berbudaya80 yang hanya
dapat dilakukan kelompok individu dalam bermasyarakat dan berbudaya. Karena
itu, bahasa salah satu kegiatan sosial merupakan bagian dari kebudayaan
Kebudayaan pada hakikatnya sangat komplek, sehingga para ahli selalu
memberikan pengertian, pemahaman dan batasan yang bervariasi terhadapnya.
Dalam literature antropologi atau kebudayaan, ada berbagai definisi mengenai
kebudayaan yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi karena
mereka melihat kebudayaan dari aspek yang berbeda.

77
Muhammad Ali al-Khul, Asalib Tadris al-Lughah al-Arabiyyah, (Riya: 1989), hal. 2.
78
abri Ibrhm al-Sayid, Ilm al-Lughah al-Ijtim, (Iskandariyah: Dr al-Jmiah, 1995),
hal. 25. Hudson dan Bloomfield juga mendefinisikan masyarakat bahasa (al-jamah al-
kalmiyyah/speech communities) sebagai sekumpulan manusia yang menggunakan sistem isyarat.
Lihat D.Hudson, Ilm al-Lughah al-Ijtim, (Baghdd: Silsilah al-Miah Kitb, 1987), hal. 53-54.
79
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hal. 5.
Bahasa merupakan sistem simbol bunyi (ujaran). Sistem simbol akan berfungsi manakala ada
kesepakatan pemahaman antara dua belah pihak, antara pengirim dan penerima. Oleh karenanya,
bahasa itu bersifat sosial, dan memiliki dimensi individual dan sosial, meskipun sesungguhnya
yang satu mesti mengasumsikan yang lain, yakni konsep individu hanya bisa dipahami karena
adanya relasi sosial, dan sebaliknya konsep sosial tidak mungkin muncul tanpa adanya konsep
individu. Lihat Mamd Fahm Hijz, Ilm al-Lughah al-Arabiyyah, (Kairo: Dr al-Gharb li al-
ibah wa al-Nasyr wa al-Tauz, 1998), hal. 10.
80
Budaya merupakan tatacara hidup, yakni tatanan masyarakat dan yang terkandung di
dalamnya, baik berupa kepercayaan maupun berupa kebiasaan. Aqil Yusuf Idan dari
http://www.annabaa.org/nbanews/53/141.htm
53

Kroeber dan Kluchorm telah mengumpulkan berpuluh-puluh definisi


kebudayaan, dan mengelompokkannya menjadi enam golongan menurut sifat
definisi itu. Definisi deskriptif menekankan pada unsur-unsur kebudayaan, definisi
historis menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan,
definisi normatif menekankan pada aturan hidup dan tingkah laku, definisi
psikologis karena kegunaannya dalam penyesuaian diri pada lingkungan,
pemecahan persoalan dan belajar hidup. Definisi struktural didasarkan pada sifat
kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola dan teratur, definisi genetik
menekankan terjadinya sebagai hasil karya manusia.81
Untuk memahami kebudayaan, Koentjaraningrat menggunakan sesuatu
yang disebut kerangka kebudayaan yang memiliki dua aspek tolak, yait wujud
kebudayaan dan isi kebudayaan. Wujud kebudayaan berupa gagasan (sistem
budaya) yang bersifat abstrak, perilaku (sistem sosial) ersifat konkret, dan
fisik/benda (kebudayaan fisik) bersifat amat konkret. Sedangkan isi kebudayaan
terdiri dari tujuh unsur yang bersifat universal yaitu : bahasa, sistem, tekhnologi,
sistem mata pencaharian hidup/ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan,
sistem religi dan kesenian.82
Tylor mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan bidang
yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adapt dan
kemampuan-kemampuan sera kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia
sebagai anggota masyarakat.83 Wilson mengatakan bahwa kebudayaan adalah
pengetahuan yang ditrasmisikan dan disebarkan secara social, baik bersifat
ekstensial, normative, maupun simbolis, yang tercermin dalam tindakan (act) dan
benda-benda hasil karya manusia (artifact)84
Budaya dimiliki oleh seluruh manusia, tetapi budaya diproses oleh aneka
ragam perilaku, sebab ia tidak bergantung pada transmisi biologis atau pewarisan

81
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2004), hal. 214
82
Koenjtaraningrat, Pengantar antropologi, hal. 80-81
83
Robert Sibarani, Hakikat Bahasa, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1992), hal. 94
84
Robert Sibarani, Hakikat Bahasa, hal. 99-100
54

melalui unsur genetis.85 Kebudayaan diperoleh86 dan dikelola secara bersama,


baik berupa sikap, reaksi, dan ucapan yang sama yang dilakukan oleh anggota
masyarakat, itu semua tercipta melalui proses belajar yang tiada henti sejak dari
buaian (al-mahd). Atas hal tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa suatu bangsa
mempunyai kebudayaan bila di dalam kehidupan bangsa tersebut terdapat
sejumlah pola berpikir dan bertindak yang dilakukan melalui proses intelek
sebagai bukti konkret penggunaan spesifik manusia yang ditopang oleh bio-
neurologi.
Setiap individu yang tumbuh akan menemukan suatu sistem kebahasaan di
hadapannya yang berlaku pada lingkungannya, kemudian ia menerima sistem
tersebut melalui belajar dan meniru, sebagaimana ia menerima sistem-sistem
sosial lainnya, sehingga ia mengungkapkan bahasa dengan tepat dan menerimanya
sesuai dengan pemahaman yang disampaikan. 87 Oleh karena itu, setiap terjadi
perkembangan dalam salah satu aspek kehidupan masyarakat, seperti sopan-
santun, peraturan, kebiasaan, keyakinan, dan lain-lain, maka pola
penampakkannya tiada lain merujuk kepada alat tutur yakni bahasa.
Bila dicermati secara lebih seksama, telah jelas hubungan antara bahasa
sebagai komposisi utama budaya. Dengan demikian, sebagian besar yang ada
dalam kebudayaan akan tercermin dalam bahasa. 88 Pada akhirnya, bahasa sebagai
suatu sistem vokal simbol yang bebas yang dipergunakan oleh anggota
masyarakat untuk berinteraksi.89 Oleh karena itu, hakikat bahasa membicarakan

85
Insting dan naluri mempengaruhi kebudayaan. Misalnya kebutuhan akan makanan
merupakan kebutuhan dasar tetapi tidak termasuk kebudayaan. Lebih dari itu, bagaimana
kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi, apa yang akan dikonsumsi, dan bagaimana cara
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah bagian dari kebudayaan. Lihat T.O Ihromi (Ed.),
Pokok-pokok Antropologi Budaya, (Jakarta: PT. Gramedia, 1994), hal 18. Edward Sapir,
Language, (Ottawa, Harc Curt, Brace and World Inc., 1921), hal 3-5. Leonard Bloomfield
Language, hal. 41
87
Ali Abd Wid Wf, al-Lughah Wa al-Mujtama, (Kairo: Dr al-Nahah, 1971), hal. 4.
Lihat juga D.Hudson, Ilm al-Lughah al-Ijtim, (Baghdad: Silsilah al-Miah Kitb, 1987), hal.
16.
88
Bahasa sebagai cermin pola berpikir suatu masyarakat/bangsa, artinya struktur bahasa
menentukan cara manusia berpikir. Sapir juga berpandangan, bahwa bahasa merupakan pemandu
untuk realitas sosial. Begitu bergantungnya manusia pada bahasa sehingga Sapir menyatakan,
manusia sebenarnya hidup atas belas kasih bahasa. Lihat Sapir, Language, hal. 209.
89
P.W.J.Nababan, Sosiolinguistik Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Gramedia, 1991), hal. 46.
55

sistem suatu unsur bahasa, sedangkan fungsi bahasa yang paling mendasar ialah
untuk komunikasi dalam berinteraksi secara sosial. Dengan berkomunikasi akan
terjadi suatu sistem sosial atau masyarakat, dan tanpa komunikasi tidak ada
masyarakat. Sedangkan masyarakat atau sistem sosial manusia berdasarkan dan
bergantung pada komunikasi kebahasaan, sehingga tanpa bahasa tidak ada sistem
kemasyarakatan manusia yang tidak terlepas dari masalah kebudayaan.
Eratnya hubungan antara bahasa dan budaya, dapat ditegaskan bahwa
bahasa adalah cermin budaya dan media ekspresi budaya, dalam arti melalui
bahasa seseorang atau masyarakat tertentu, dapat diketahui lingkungan sosial dan
kebudayaan masyarakat tersebut.
BAB III
KONTROVERSI PENGGUNAAN BAHASA ARAB FU DAN
MIYAH
Ada sebagian ahli yang menganggap bahwa bahasa Arab non formal
bukanlah bahasa Arab itu sendiri, ia bahasa yang mandiri, terpisah darinya. Sejak
dahulu masalah ini telah memicu perdebatan para ahli bahasa, baik yang pro
terhadapnya maupun yang kontra. Dalam pembahasan ini peneliti akan
menjelaskan tentang ragam dialek arab serta faktor-faktor yang mempengaruhi
perbedaan ragam tersebut dan menjelaskan kontoversi yang terjadi di dalam
penggunaan bahasa Arab miyah dan fu.
A. KRONOLOGIS MUNCULNYA BAHASA ARAB MIYAH
Ada sebagian ahli yang menganggap bahwa bahasa arab nonformal
bukanlah bahasa arab itu sendiri, ia bahasa yang mandiri, terpisah darinya. Sejak
dahulu masalah ini telah memicu perdebatan para ahli bahasa, baik yang pro
terhadapnya maupun yang kontra.
Sebagaimana yang telah penulis ungkapkan bahwa setiap bahasa memiliki
dua sisi pemakaian yaitu formal dan nonformal. Demikian juga halnya bahasa
Arab. Sisi formal bahasa Arab disebut fu dan sisi nonformalnya disebut
miyah. Abdul d mengutip pendapat Muammad asan Abdu al- Azz
menyebutkan dua kriteria inti yang dimiliki bahasa fu1. Kedua kriteria itu
adalah :
1. Bahasa fu lebih tinggi derajatnya daripada bahasa miyah karena sudah
mapan dan tidak berubah lagi sebab telah memiliki tata bahasa yang baku. Bahasa
ini dijadikan standar baik-buruk dan indahnya ucapan.
2. Bahasa Arab fu memiliki sifat Lingua Franca; bahasa bersama. Artinya
apabila seseorang berbicara, pendengar yang terdiri dari berbagai suku akan
memahaminya dengan baik karena mereka juga memakainya.
Sementara miyah adalah kebalikan dari fu yaitu bahasa yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik di pasar, rumah atau tempat-tempat

1
Abdul d Muammad Umar Tamm, al-lughah al-Arabiyah F al Mujtam as-
Sdani, (Sdan :Dr Jamah Umdurman al-Islmiyah, 1997), hal.25

56
57

santai. Ia adalah bahasa yang diperoleh seseorang dari keluarga, rekan dan
lingkungannya.Sudah tentu bahasa ini tidak terlalu terikat dengan kaedah-kaedah
tata bahasa dan pilihan kata yang ketat. Dalam wacana lingustik Arab miyah

juga disebut , , , , ,

dan lain-lain. 2 Sedangkan dalam wacana linguistik

Barat ia dikenal dengan beberapa istilah seperti colloquial, spoken language,


vernacular, diglosia dan terkadang miyah mereka sebut dengan bilingualisme.
Bahasa inilah yang diperoleh setiap orang dalam suatu komunitas Arab
sejak masa kanak-kanak dan dipakai dalam bahasa percakapan sehari-hari oleh
setiap orang, baik terpelajar maupun yang buta huruf. Bahasa kolukwial ini sangat
sedikit sekali yang berbentuk tulisan. Setiap dialek mempunyai ciri-ciri khas
tersendiri, tapi secara umum banyak memiliki persamaan, sehingga antara penutur
dialek yang satu dengan yang lainnya dapat saling mengerti.3
Seperti yang dikatakan Maruf yang dimaksud dengan bahasa miyah
adalah bahasa yang digunakan oleh semua orang-secara lisan- dalam kehidupan
mereka sehari-hari, untuk mengungkapkan kebutuhan mereka dan saling
memahami antara mereka.4 Para pakar dialek bahasa Arab membagi dialek-dialek
tersebut menjadi lima kelompok utama, yaitu Hijaz, Mesir, Syam, Iraq dan
Maghribi. Dari kelimanya, yang paling mendekati bahasa Arab Klasik/Fu
hanya dua yaitu Hijaz dan Mesir, karena tidak adanya percampuran dengan
bangsa ajam (non Arab).5 Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dialek
kolukwial bahasa Arab tidak mempunyai bentuk tertulis dan beraneka ragam
sesuai wilayah negeri yang ada.
Istilah miyah yaitu sisi pemakaian nonformal bahasa Arab dalam
kehidupan sehari-hari seperti yang kita pahami sekarang bila ditelusuri kembali

2
Emil Badi Yaqub, Fiqh al-lughah al Arabiyah wa khaisuh, hal. 144-145
3
Aliudin Mahjudin, Bahasa Arab dan peranannya dalam sejarah, (Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengenbangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996), hal. 36-37
4
Nyif Mamd Marf, Khai al-Arabiyyah wa ariq Tadrsuh, (Dr al-Nafis,
tt), hal 54.
5
Nyif Mamud Marf, Khaish al-Arabiyyah, hal 55
58

dalam khazanah kesusastraan Arab sampai ke masa pra Islam tak akan kita
temukan kecuali istilah lahjah dialek. Zaman dahulu belum ada standarisasi atau
hukum kebahasaan yang mengatur apakah suatu bahasa tertentu formal atau tidak.
Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Arab memiliki banyak suku atau kabilah
yang hidup di daerah padang pasir yang luas. Setiap suku ini kebanyakan hidup
berkelompok-kelompok untuk menghindari serangan dan kabiadaban suku-suku
lain. Selain hidup berkelompok mereka juga hidup nomaden untuk mencari
daerah-daerah yang subur sebagai sumber penghidupan. Pola hidup semacam ini
pada satu sisi berdampak positif pada terpeliharanya bahasa mereka dari unsur-
unsur bahasa asing yang sedikit banyak akan mempengaruhinya, Disisi lain,
berdampak negative pada perkembangan kosa katanya yang menjadi statis dan
cepat atau lambat akan berlaku padanya hukum bahasa, yaitu bila suatu bahasa
tersebar di belahan bumi yang luas pada kelompok-kelompok masyarakat yang
terpisah-pisah maka mustahil bahasa itu bisa utuh seperti sedia kala dalam jangka
waktu yang lama.6 Sudah tentulah setiap kabilah akan memiliki dialek yang
berbeda dengan suku yang lain.
Suku yang relativ tidak berpindah-pindah adalah suku Quraisy karena
hidupnya di Mekkah- tempat yang dianggap kota- tempat dimana Kabah berada.
Bahasa mereka inilah yang akan menjadi cikal bakal bahasa Arab fu.7 Adapun
faktor-faktor yang mendukung bahasa Quraisy tersebut menjadi bahasa fu
resmi,8 adalah sebagai berikut :
1. Mekkah sebagai tempat ibadah
2. Mekkah sebagai pusat perdagangan dengan hadirnya pasar-pasar kaget seperti

, dan
3. Pengaruh politik suku Quraisy

6
Ali Abdul Whid Wf, fiqh lughah, (Mesir: Lajna al-Bayn al-Arab, hal 104
7
Aun As-syarif, al-Lughah al-Arabiyah f as-Sdan, al Majallah al-Arabiyah li ad-
Dirsah al-lughawiyah, vol.7, no. 1 dan 2, 5 februari 1989, hal. 12
8
Muammad Sirhan, Fiqh al-lughah, (Semarang:IKIP Semarang Press, 1956), hal. 37-
39
59

4. Mekkah sebagai pusat kebudayaan. Pasar-pasar yang tersebut diatas berfungsi


ganda. Selain berfungsi tempat bisnis juga berfungsi sebagai tempat menngelar
karya seni mereka yang berupa syair, orasi atau yang lainnya.
Dengan empat keunggulan diatas, bahasa Quraisy layak mendapat predikat
lingua Franca karena suku-suku yang datang ke Mekkah berusaha menyesuaikan
bahasa mereka dengan bahasa Quraisy. Selain bahasa mereka terpilih sebagai
bahasa komunikasi, bahasa mereka menjadi standar baik-buruknya karya sastra
dan diterimanya diplomasi. Prestasi ini membuat bahasa Arab mampu bertahan
dalam arti tidak mengalami kerusakan, sampai kedatangan Islam.
Pada masa awal-awal Islam, bahasa Arab tidak banyak mengalami
perubahan dari sebelumnya hingga ia bersama Islam keluar dari jazirah Arab ke
daerah lain mengadakan invasi. Di tempat barunya ini, bahasa Arab tidak lagi
sendiri, disatu sisi bahasa Arab menemukan daerah, peradaban dan kehidupan
baru, disisi lain bahasa Arab menemukan teman barunya yakni bahasa lokal yang
ditaklukkannya sehingga penuturnya mulai bertambah. Keadaan ini disatu sisi
menguntungkan dan disis lain merugikan. Salah satu kerugiannya adalah
terjadinya perubahan bahasa sebagaimana yang telah peneliti singgung diatas.
Hanya saja perubahan yang terjadi pada masa awal dan masa Abbasiyah tidaklah
setaam pada masa-masa modern. Keadaan itu pula yang menjadi salah satu sebab
dibentuknya Majmaah al-Lughah al-Arabiyah pada masa modern tanggal 13
Desember 1932, untuk memilah-milah mana bahasa Fu dan mana bahasa
miyah.9
Dizaman pra Islam, masyarakat Arab mengenal stratifikasi kefasihan
bahasa. Kabilah yang dianggap paling fasih dibanding yang lain adalah Quraisy
yang dikenal sebagai surat al-Arab (pusatnya masyarakat Arab). Kefasihan bahasa
Quraisy ini terutama ditunjang oleh tempat tinggal mereka yang secara geografis
berjauhan dengan negara-negara bangsa non Arab dari segala penjuru. Dibawah
kefasihan Quraisy adalah bahasa kabilah Thaqif, Hudhail, Khuzaah, Bani
Kinanah, Ghatfan, bani Asad dan bani Tamim, menyusul kemudian kabilah

9
Ali Abdul Wid Wf, Fiqh al-Lughah, hal. 290
60

Rabiah, Lakhm, Judzam, Ghassan, Iya, Qaaah, dan Arab Yaman, yang
bertetangga dekat dengan Persia, Romawi, dan Habashah.10
Kefasihan berbahasa itu terus terpelihara hingga meluasnya ekspansi Islam
keluar jazirah Arab dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan masyarakat
bangsa lain. Dalam proses transaksi dan interaksi sosial lainnya itu terjadi
kesalingpengaruhan antar bahasa. Masyarakat ajam belajar berbahasa Arab, dan
masyarakat Arab mulai mengenal bahasa mereka. Intensitas interaksi tersebut
lambat laun mulai berimbas pada penggunaan bahasa Arab yang mulai bercampur
dengan beberapa kosa kata asing, baik denga proses pengaraban (tarib) atau
tanpa dengan proses tersebut. Pertukaran pengetahuan antar mereka juga
berpengaruh pada pertambahan khazanah bahasa Arab khususnya menyangkut
hal-hal yang sebelumnya diketahui masyarakat Arab ketika hidup terisolasi dari
bangsa lain. Masyarakat non Arab juga sering melakukan kesalahan dalam
menggunakan bahasa Arab. Fenomena ini makin meluas melalui transaksi-
transaksi sosial, misalnya dalam aktivitas ekonomi di pasar-pasar terutama sejak
abad ke-5 H.11 Ragam bahasa Arab yang digunakan terutama dipasar-pasar pada
akhirnya menemukan ciri-ciri tersendiri dan identitasnya,bahasa pasaran itutelah
menjadi medium komunikasi yang dimengerti oleh berbagai pihak yang terlibat
didalamnya.Berbeda dengan bahasa Arab Fu yang sarat muatan teologis
sebagai bahasa agama, ragam bahasa pasar tersebut begitu ringan dan mengalir
tanpa adanya aturan yang rumit yang harus diwaspadai.
Fenomena penyimpangan bahasa tersebut merupakan cikal bakal lahirnya
bahasa miyah, bahkan disebut sebagai bahasa miyah yang pertama. Berbeda
dengan dialek-dialek bahasa Arab yang digunakan di sejumlah tempat lokal,
bahasa miya dianggap sebagai suatu bentuk perluasan bahasa yang tidak alami.
Secara perlahan tapi pasti bahasa miyah terus berkembang hingga
menjelma sebagai bahasa yang otonom dengan kaidah-kaidah dan ciri-cirinya
sendiri, Bahasa miyah di negeri-negeri (taklukan) Islam awalnya adalah lan
(penyimpangan) yang sederhana dan masih labil karena masyarakatnya masih

10
Al-Rafi, Trikh Adab al-Arab, (Beirut: Dr al-Kitab al-Arab 1974), hal.252-253
11
Al-Rafi, Trikh, hal. 244-245
61

memiliki watak bahasa arab yang genuin. Karena itu diawal kemunculannya,
bahasa miya dikalangan masyarakat masih mempunyai rentangan antara yang
lebih dekat dengan bahasa Fu sampai pada yang jauh darinya. Contoh daerah
yang memiliki bahasa yang masih sangat dekat dengan bahasa Fu sampai pada
abad ke-3 H antara lain negeri Hijaz, Barah dan Kfah.
Selanjutnya bahasa miyah mulai menyebar di beberapa tempat semisal
Syam, Mesir, dan Sawad.Di beberapa tempat itu, bahasa Arab fu sudah
menerima kosa kata serapan dari bahasa Persia, Romawi, Qibtiyah dan Nabhtiyah
dalam jumlah yang cukup besar. Karena itu bahasa masyarakat mulai rusak dalam
ukuran yang signifikan, masyarakat mulai mencampuradukkan bahasa asli mereka
dengan bahasa-bahasa serapan, tanpa melakukan pemilahan. Diantara kosa kata
serapan yang paling banyak diambil adalah kata benda, sedangkan kata ajdektif
sedikit aja yang diadopsi. Banyaknya pengadopsian kata benda itu karena karena
intensitas pemakaiannya lebih tinggi dibanding jenis kata yang lain. 12
Bahasa miyah ini tercipta didahului oleh terjadinya beberapa hal :
1. Lan pada lafa, yaitu kesalahan pada irab. Hal itu terjadi menjadi
inspirasi lahirnya ilmu Nahwu. Kemudian kesalahan dalam bentuk kata
seperti al-hadhf, al-ziydah, al-Taqdim. al-Takhir, dan al-Qalb.
Kesalahan dalam memberi harakat huruf tengah pada kata kerja dan kata
nama seperti harakat fathah, dammah, dan kasrah.
2. Membaca sukun (mati) huruf akhir dalam satu kata karena kurang
penguasaan terhadap problematika irab secara khusus dan kurangnya
penguasaan terhadap bahasa Arab secara keseluruhan.
3. Membuat kependekan kata atau kalimat supaya cepat diucapkanya, seperti
akronim
4. Masuknya unsur-unsur serapan dari bahasa asing yang pelafalannya
disesuaikan dengan ejaan Arab.
Keempat hal tersebut di atas terus berlangsung dari zaman ke zaman
menelusuri daerah-daerah dan pelosok-pelosok yang dilewati oleh para penyebar

12
Al-Rafi, Trikh, hal. 255
62

agama Islam. Untuk menjaga agar bahasa yang fu dapat dipertahankan dan
menghindari dari bahasa miyah, bangkitlah para ulama dengan seperangkat
kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah itu diciptakan untuk menghindari kerancuan-
kerancuan barbahasa sebagai akibat berkembangnya miyah.
Lebih lanjut, penulis akan menjelaskan ciri-ciri bahasa miyah secara
umum. Bila mengamati suatu bahasa, biasanya dilakukan dengan melihat bahasa
itu dari beberapa aspek yang meliputi unsur suara (fonetik), morfologi dan
sintaksis,bagaimana menyusun suara yang berupa kosa kata menjadi kalimat.
Berangkat dari aspek-aspek ini kita akan dapat amati bahasa miyah tersebut.
1. unsur Fonetik
Dalam unsur fonetik ini tidak semua huruf dibahas melainkan hanya
beberapa yang agak berbeda penuturannya saja disamping memang tidak banyak
perbedaanya antara Negara-negara Arab, kemudian huruf-huruf yang berbeda itu
dilihat dari segi keberadaanya dalam sebuah kata, bukan pada waktu berdiri
sendiri.
Ada beberapa huruf Hijaiyah yang apabila terdapat pada sebuah kata,
diucapkan agak berbeda dari apa yang kita dengar seperti halnya pada bahasa
resmi. Huruf-huruf tersebut diantaranya adalah :

a. (Qaf)
Huruf ini termasuk salah satu huruf yang diucapkan orang sangat

bervariasi. Sifat huruf ini voiceless ovular stop atau 13 yaitu


keluar melalui antara pangkal lidah dan kerongkongan dengan hentakan suara.
Huruf ini dalam berbahasa sehari-hari bila diucapkan sesuai dengan karakternya
sangatlah memberatkan. Orang Sudan sendiri mengucapkan huruf ini tidak

semuanya sama. Bila diawal kata biasanya huruf ini dilafalkan [G] misalnya
, bila diucapkan akan menjadi [Garb] dan ini biasanya bagi orang non Arab

Manf Madi Muammad, Ilmu al-Awt al-Lughawiyah, (Beirut: lam al-Kutub,


13

1998), hal. 83
63

yang baru pertama kali mendengarnya akan ragu dengan kata yang

berarti aneh. Apabila huruf itu berada di tengah terkadang dibunyikan

seperti dalam kata dilafalkan menjadi [ wakat]. Dua bentuk bunyi

diatas juga terdapat di negara Yordan dan Palestina sebagaimana hasil penelitian

Muammad Sawaie.14 Bahkan dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa bunyi

di Negara Damaskus, Amman dan Yerussalem berubah menjadi suara

hamzah.

b. ( hamzah)

Suara hamzah mengalami lafal yang berbeda-beda pada beberapa kata.

Ada Hamzah yang diucapkan dengan bunyi seperti pada kata berubah

menjadi sementara di Mesir diucapkan , hamzah tadi berubah menjadi

. Bahkan ada hamzah yang berubah menjadi seperti berubah

menjadi . Perubahan yang terakhir ini dikenal dengan terkadang

hamzah dianggap tidak ada untuk memudahkan penuturan seperti dalam kata

menjadi .Perlu diingat bahwa tidak semua kata yang berawalan

hamzah harus dilafalkan dengan atau atau seperti bunyi yang telah

disinggung diatas, hanya kata-kata tertentu saja.

14
Muammad Sawaie, A sociolinguistic Study of Clasical and Colloquial Arabic
Varieties, Arab Journal of Language Studies, Vol 6 No.1&2 February 1998, (Khartoun:
Internasional Institute of Arabic), hal.131
64

c. Alif Lam atau Artikel

Terkadang suara pada artikel berubah menjadi suara bila

terdapat pada suatu kata meskipun-sebagaimana yang telah kami utarakan-tidak


secara otomatis artikel tersebut akan mengalami perubahan yang sama bila berada

pada kata yang lain misalnya katayang berasal dari kata Kata
ini sebenarnya merupakan pengaruh dari dialek Himyar yang diistilahkan ahli

bahasa dengan dan masih eksis dalam perbendaharaan kata bahasa

miyah
2. Unsur Morfologi
Ada sebagian linguist yang dimotori oleh Sclegel15 membagi bahasa itu
berdasarkan bentuk kata yaitu: a) bahasa polyshintetic: yaitu bahasa yang lebih
mengandalkan intonasi dalam membedakan suatu kata dengan kata lainnya
sehingga stem katanya tidak berubah dimanapun posisinya berada seperti bahasa
Cina, b) bahasa Agglutinative yaitu bahasa yang mengandalkan afiksasi
dalam membentuk kata seperti bahasa Indonesia dan c) bahasa fleksif atau analitik
yaitu bahasa yang kata-nya banyak memiliki banyak derivasi membentuk
makna yang mandiri namun berasal dari stem yang satu, seperti bahasa Arab.
Pembagian ini perlu kami kemukakan agar nanti pembahasan miyah, sesuai
dengan bahasa Arab itu sendiri yang bersifat fleksif. Dalam mengamati bahasa
miyah secara morfologis kita akan melihat kata melalui bentuk isim, fiil dan
harf.

a. ( isim)
Yang dimaksud isim disini tidak terbatas pada nama orang atau nama
daerah tertentu saja, akan tetapi juga mencakup semua jenis isim baik isim
mufrad, mutsanna, masdar dan lain-lain. Bahasa miyah yang biasanya muncul
sebagai isim adalah kata-kata yang muncul berkat pengaruh dari keadaan alam

15
Abdul Ghaffr Hmid Hilll, al-Lahjh al-Arabiyah, hal. 65
65

sehingga terpaksa membuat kata-kata baru yang mengacu pada makna suatu alat,
atau kegiatan yang tak terdapat pada bahasa fu atau muncul karena pengaruh

bahasa asing, seperti [ arbil] yaitu alat penggali dari kayu, [ jardal] yaitu

ember atau timba, [ jawanti] yang berarti sarung tangan. Selain dari kata-

kata tersebut diatas, ada juga kata-kata yang berasal dari fu dengan sedikit

perubahan seperti [jalabiya] yang berasal dari kata [jilbb] yang

berarti jubah. Pergeseran bunyi bahasa fu tersebut bila kita analisis,


mengambil sekurangnya lima macam bentuk; muncul kata baru yang tak terdapat
dalam bahasa fu seperti yang telah dicontohkan diatas, bertambah huruf dari
huruf asal, berpindah huruf (metatesis), berkurang huruf dan berubah baris. Kata

yang mengalami pertambahan huruf misalnya menjadi [mooya], kata

yang berpindah hurufnya seperti [ jauz] yang berasal dari [ zauj], [ dair]

berasal dari kata . Yang mengalami pengurangan huruf, seperti [ wad] yang

berasal dari kata [ walad], atau kata [ bit] yang berasal dari kata [ binti].

Sedangkan yang berubah baris atau bertambah sangatlah banyaknya seperti

[battikh] yang berasal dari kata [ bittikh], [ kalib] yang berasal dari kata

[ kalb]. Demikian pula kata ganti atau dhamir yang sangat berbeda dengan

yang ada pada fushha, misalnya [ inta] [ inti], [ intoe], [intan] dan

lain-lainnya.

b. ( fiil)

Ada beberapa fenomena bentuk fiil yang agak unik yang terdapat dalam
bahasa miyah bila dibandingkan dengan fu, diantaranya adalah:
66

- Huruf Muraah yang selalu berbaris kasrah apabila fiil tersebut menunjukkan

pelakunya orang ketiga tunggal seperti [ imkin] yang berasal dari kata
[yumkin]. Kebiasaan seperti ini sebenarnya sudah terdapat pada bahasa daerah

sejak masa dulu. Istilah untuk ini disebut 16

- Kata kerja yang berhuruf ganda ( )apabila bersambung dengan

biasanya salah satu huruf berganda tersebut ditukar dengan contohnya:

menjadi [ dasstu]

- Setiap kata yang berhuruf illat lam fiilnya dengan huruf waw, apabila

bersambung dengan ditukar dengan misalnya menjadi

. Kasus seperti ini yaitu pertukaran antara waw dan ya sebenarnya wajar

karena akarnya dapat ditelusuri kemasa silam.Para ahli bahasa menamakannya

[ muaqobah] yakni pertukaran antara waw dan ya tanpa adanya

yang mengharuskannya.17 Contoh yang lain untuk membuktikan hal ini, kata

[kulwah] dan [ kulyah] yang berarti buah pinggang. Biasanya penduduk Hijaz
lebih cenderung memakai waw, kata yang pertama, sedangkan suku Tamim lebih
cenderung memilih ya, atau kata yang kedua.
- Fiil Amr yang berasal dari tiga huruf yang ain fiilnya tidak amma pada fiil
murinya, apabiala dijadikan fiil Amr maka hamzah wasolnya berbaris fathah

seperti menjadi . Kasus yang sebenanya lebih merupakan pembarisan

Aun as-Sharif, al-Lughah al-Arabiyah baina al-Faah wa al-miyah, al-Majallah


16

al-Arabiyah li ad-Dirsah al-Lughawiyah, Vol.2 no 1 (Mahad al-Khartoum: Sudan, 1983), hal.


75
17
Abdul Ghaffr Hmid Hill, al-Lahjh al-Arabiyah, hal. 169
67

hamzah wasol ini tidak hanya terjadi pasa fiil amr. Isim pun ada yang

menyebutnya [ aflato] dan ada yang menyebutnya [ iflaton].

c. ( harf)

Dalam bahasa miyah, tidak semua huruf yang ada dalam bahasa fu
terpakai. Huruf yang terpakai dalam bahasa miyah terkadang banyak yang
mengalami perubahan meskipun ada juga yang terpakai sebagaimana dalam
bahasa fu seperti huruf:

- yang terdapat pada fiil Mi. Selain dalam fiil ini juga ia dipakai dalam fiil
Amr

- yang biasanya digunakan untuk menunjukkan masa yang akan datang,

dalam bahasa miya akan berganti dengan huruf atau seperti :

[ Baqaullak] yang berarti

[ h-amsyi] yang berarti


3. Unsur Sintaksis
Unsur sintaksis atau Nahwu dalam bahasa miyah tidaklah terlalu
signifikan sehingga Irab kurang mendapat perhatian dalam kalimat. Dalam
komunikasi, yang penting adalah terwujudnya pemahaman meskipun
mengabaikan ilmu nahwu seperti yang terdapat dalam bahasa fu, bahasa
miyah punya hukum tersendiri. Sebagian unsur-unsur gramatikal yang menonjol
dalam bahasa miyah sebagai berikut:
- Dalam bahasa fu, bila suatu kalimat sempurna yang terdapat kata kerja
didalamnya biasanya kalimat tersebut dimulai dengan kata kerja itu, lalu diikuti

kata benda atau isim, contohnya . Sedangkan dalam bahasa miyah

kebalikannya: setiap kalimat biasanya dimulai dengan isim lalu kata kerja yang
68

lebih umum dalam bahasa kita terdiri dari subjek dan predikat misalnya,
[Muammad Ja]
- Dalam bahasa miyah kata benda atau isim tidak dibunyikan baris akhir
hurufnya dimana saja posisinya dalam kalimat; baik segi fil, mubtada, mafl
dan sebagainya.
- Jama Mudhakkar biasanya berakhir dengan ya dan nun tanpa memandang

posisinya dalam kalimat seperti


- Huruf jar yang biasanya masuk pada isim dalam bahasa fu, dalam bahasa

miya banyak ditemukan masuk pada fiil muri misalnya, ...


[Inta bitizhab ila...]
- Huruf jar apabila bersambung dengan amir akan menghasilkan susunan yang

sangat berbeda dengan bahasa fu misalnya: [ Lehu], berasal dari [ lahu]

- Penyebutan angka dalam miyah agak sedikit berbeda dengan fu khususnya

bilangan ratusan seperti: [ Tultu miah], [ Rubumiah], [ Tumnu


miah]
- Ada beberapa ungkapan dalam bahasa miyah yang merupakan gabungan dari
dua atau beberapa kata kemudian dijadikan seolah-olah satu kata. Dalam istilah
ilmu linguistik disebut amalgamation atau annaht dalam istilah fiqh lughah. Kata-
kata ini ada yang berbentuk istifham ada pula bentuk ungkapan lain, misalnya:

dalam bahasa fu bentuk istifham ada yang menggunakan , dalam bahasa

miyah kata tersebut digantikan dengan kata [syunu]. Kata ini berasal dari

gabungan kata sedangkan dalam miyah Mesir kata yang semakna

dengan ini adalah kata [Eeh]. Selain kata tanya, ada beberapa ungkapan yang
69

merupakan gabungan dari beberapa kata contohnya yang berasal dari

kata , dan kata yang berarti


Dengan demikian dapat peneliti simpulkan bahwa dalam situasi diglosia
terdapat banyak perbedaan kaidah dari bahasa miyah dengan fu, kosa kata
maupun fonologinya, meskipun demikian keduanya merupakan bahasa yang sama
B. SERUAN KEPADA BAHASA MIYAH DAN PERLAWANAN
TERHADAPNYA
Seruan untuk menggunakan miyah sebagai ganti bahasa fu ini
muncul pada tahun 1881, dipelopori oleh seorang berkebangsaan jerman. Dr,
Wilheim spitta, direktur al-Kutub Mesir pada waktu itu . Seruan itu ia tuangkan
dalam bukunya yang berjudul Qawid al-Arabiyah al-miyah f Mir.18 Pada
tahun yang sama, majalah al-Muqtaaf mengusulkan perlunya penulisan ilmiah
menggunakan bahasa yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut majalah ini perbadaan antara bahasa lisan dan tulisan di masyarakat
adalah penyebab ketertinggalan mereka. Seruan ini telah memancing kajian dan
diskusi yang hangat di kalangan para pemikir.19
Pada tahun 1893, William Willcoks, seorang berkebangsaan Inggris
melontarkan pemikiran mengenai lemahnya penemuan ilmiah di masyarakat di
masyarakat Mesir karena penggunaan bahasa fu dalam tulisan dan bacaan
mereka. Untuk itu ia menyarankan agar bahasa fu di tinggalkan saja karena
tingkat kesulitan dan kejumudannya. Sebagai gantinya ia menyerukan penggunaan
bahasa miyah.
Seruan juga datang datang daru J. Seldom Wilmore, orang inggris lain
yang menjadi hakim di Mesir pada tahun 1901 melalui bukunya al-Arabiyah al-
Mahkiyah f Mir. Seruan yang sama juga datang dari beberapa orang lain seperti
Iskandar al-Maluf, Amad Luf al-Sayyid, al-Ab Marn Ghisn, Ans Farhah,
dan lain sebagainya.

18
Aisha bint Shati, Lughatun wa al Hayh, ( Mesir: Dr al- Marif, 1971), hal. 100
19
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah al Arabiyah wa Khaaiuh, hal. 152-153
70

Pemikiran-pemikiran yang mendasari berbagai seruan penggunaanmiyah


dan meninggalkan bahasa fu, secara garis besar digambarkan oleh Emil Badi
Yakub sebagai berikut :20
Pertama , bahasa fu adalah bahasa generasi yang telah lewat sehingga
tidak mampu mengungkapkan realitas kehidupan mutakhir secara utuh. Berbeda
dengan bahasa miya yang mudah dan banyak digunakan orang dalam
keseharian mereka, bahasa fu adalah bahasa yang baik pembelajaran maupun
pengajarannya dianggap sulit karena tata bahasa dan kosa katanya yang sulit.
Di sisi lain, bahasa miyah di kenal lebih fleksibel dan lebih terbuka
untuk menerima masukkan dari bahasa asing secara apa adanya. Hal itu karena
bahasa miya tidak lagi terikat pada Irab, menggunakan bahasa yang secara
nyata digunakan dalam praktik berbahasa, bukan kata-kata yang sudah mati dan
ditinggalkan, tidak lagi melestarikan konsep mutardif (sinonim) dan al-
(antonim) yang luar biasa banyaknya dan selama ini di jadikan salah satu
kelebihan arab fu, meniadakan qiyas (analogi) dalam melakukan derivasi kata
dan justru membebaskannya dalam rangka mempercepat perluasan dan
pertumbuhan bahasa Arab itu sendiri.
Kedua, kenyataan bahwa sebagian masyarakat muslim tidak menggunakan
bahasa Arab dalam berbicara dan menulis. Oleh karenanya tidak perlu ada
ketergantungan kapada bahasa Arab. Sedangkan bahasa al-Quran, yang selama ini
dijadikan alasan untuk tidak meninggalkan bahasa Arab fu, tetap dilestarikan
melalui pakar agama dan bahasa.
Ketiga, asumsi bahwa berpegang pada bahasa miyah lebih efisien dan
ekonomis dibanding waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mempelajari bahasa
fu dan kaidah-kaidahnya.
Keempat, salah satu faktor penting penyebab ketertinggalan masyarakat
adalah perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lain. Penggunaan bahasa miyah
adalah solusi bagi ketertinggalan itu secara umum, dan bagi problem diglosia

20
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah al Arabiyah wa Khaaiuh hal. 154-155
71

secara khusus, yang pada tingkat tertentu bisa jadi sudah sampai pada yang
disebut bilingualisme.
Ajakan untuk meninggalkan bahasa fu dan menggantinya dengan
bahasa miyah memperoleh perlawanan yang tak kalah sengit dari kalangan yang
ingin menjaga kelestarian bahasa fu. Perlawanan itu dilakukan bukan semata-
mata untuk menjaga warisan kebudayaan Arab tetapi juga untuk kepentingan
agama dengan memelihara al-Quran dan hadits sebagai rujukan utama Islam yang
menggunakan bahasa fu.
Kelompok pendukung bahasa fu menyatakan bahwa seruan kepada
bahasa miyah membawa bahaya yang sangat besar. Diantara bahaya itu menurut
Emil Badi Yakub :21
Pertama, seruan itu akan menghancurkan khazanah intelektual Arab dan
tidak menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh ulama Arab terdahulu. Jika
bahasa miyah diberlakukan maka lambat laun maka bahasa fu termasuk di
dalamnya al-Quran dan Hadith tidak akan dapat dipahami lagi. Kasus yang
hampir sama dialami oleh masyarakat Inggris. Sebagian besar orang Inggris hari
ini tidak mampu lagi memahami bahasa yang digunakan Shakespeare yang baru
meninggal pada abad ke-17, apalagi bahasa orang orang sebelumnya. Sedangkan
masyarakat Arab hari ini masih sangat mungkin memahami kasidah-kasidah puisi
imriil Qays dan rasail al-Jahi. Dalam hal ini bahasa Arab dianggap lebih
apresiatif dibanding bahasa Inggris.
Kedua, jika bahasa miyah digunakan maka masyarakat Arab harus
menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa itu. Jika penerjemahan itu dilakukan
maka akan sebagian besar nuansa al-Quran yang berbahasa Arab fu itu akan
hilang.
Ketiga, bahasa miyah tidak dapat dijadikan pegangan karena didalam
dirinya terdapat begitu banyak ragam dan perbedaan. Masing-masing masyarakat
dan tempat memiliki bahasa miyah sendiri. Kesulitan terjadi ketika harus
memilih bahasa mana yang akan dijadikan sebagai bahasa bersama.

21
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah al Arabiyah wa Khaaiuh, hal. 169-170
72

Keempat, jika masing-masing kelompok masyarakat tetap bersikukuh


dengan dialek lokalnya, maka hal itu tentu akan sangat melemahkan hubungan
antara kelompok masyarakat Arab yang satu dengan yang lain. Bahasa fu telah
terbukti menjadi perekat yang efektif. Bahkan salah satu yang terpenting, untuk
menghindari terjadinya perpecahan masyarakat. Bahasa fu telah menjadi
simbol kesatuan masyarakat Arab itu sendiri. Kesatuan bahasa dikalangan mereka
jauh lebih kuat dan bersifat mengikat daripada kesatuan politik. Hal itu tercermin
dalam kasus, sebagai contoh, jatuhnya daulah Abbasiyah. Meskipun saat itu bani
Abbasiyah terpecah kedalam negara-negara kecil, maka bahasa fu lah yang
tetap merekatkan semua elemen masyarakat Arab kala itu.
Di era pascakemerdekaan, Negara-negara Arab bersepakat mengenai
perlunya Pan-Arab (Qawmiyah) dan menjadikan bahasa fu sebagai bahasa
nasional. Atas dasar itu, maka penggunaan dialek-dialek lokal (miyah) dianggap
sebagai bersemangat regionalisme (iqlimiyah) yang menjadi penghalang persatuan
dan kesatuan. Sementara itu di beberap negara Arab, bahasa miyah dinilai
sebagai salah satu unsur penting bagi penegasan identitas nasional (waaniyah).22
C. SUMBER DAN PEMBAKUAN BAHASA ARAB
Pembakuan bahasa dilakukan untuk mengendalikan bahasa dari
perkembangannya yang mengarah pada perubahannya sendiri secara tidak teratur
sehingga tidak dapat dipelajari. Perubahan bahasa secara tidak teratur ini dapat
dimungkinkan terjadi karena bahasa merupakan produk sosial yang dapat berubah
setiap saat. Bahasa berkembang dan berubah seiring dengan kenyataan sosial
tempat sebuah bahasa dipergunakan dalam proses komunikasi sosial. Dalam hal
ini bahasa berfungsi sebagaimana norma-norma sosial lainnya, yaitu mambatasi
gerak interaksi sosial dalam sebuah kelompok masyarakat di satu sisi dan untuk
dapat di prediksi gerak perkembangan di sisi lain.. Bahasa yang sudah dibakukan

22
Versteegh, The Arabic Language, (Edinburgh : Edinburgh University Press, 1997), hal.
196
73

memiliki fungsi yang sama 23, yaitu membatasi perubahan dan perkembangan
bahasa dalam lingkup bahasa yang sudah dibakukan.
Pembakuan bahasa yang memiliki pengertian meresmikan sebuah bahasa
sebagai bahasa komunikasi bersama antar anggota masyarakat, menyiratkan
adanya berbagai ragam bahasa atau dialek yang berkembang dalam sebuah
masyarakat atau adanya penyimpangan bahasa dari penggunaan bahasa bakunya
yang disepakati secara sosial, sebagaimana pada kasus sejarah pembakuan bahasa
Arab. Kedua fenomena tersebut, banyak ragam bahasa dan penyimpangan bahasa,
apabila terjadi dalam sebuah masyarakat, akan dapat merusak proses komunikasi.
Oleh karena demikian, maka diperlukan sebuah upaya penyeragaman bahasa
untuk memudahkan proses komunikasi secara seragam di antara anggota
masyarakat. Upaya penyeragaman bahasa dilakukan melalui pembakuan bahasa
atau standarisasi bahasa.
Stewart dalam Alwasilah menyatakan pembakuan bahasa sebagai
kodifikasi atau persetujuan dalam masyarakat pemakai bahasa akan seperangkat
formal norma-norma yang membatasi pemakaian bahasa yang benar. Bahasa yang
dihasilkan dalam pembakuan bahasa disebut sebagai bahasa baku atau bahasa
standar, yaitu ragam ujaran dari satu masyarakat bahasa yang disahkan sebagai
norma keharusan bagi pergaulan sosial atas dasar kepentingan-kepentingan dari
pihak-pihak dominant dalam masyarakat itu. Tindakan pengesahan norma itu

23
Selain fungsi penggunanya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut
Gravin dan Mathiot juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu: 1. fungsi
pemersatu (the unifying function) adalah kesanggupan bahasa baku untuk menghikangkan
perbedaan variasi dalam masyarakat, dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur, dalam
bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialectal dan menyatukan masyarakat
tutur yang berbeda dialeknya. 2. fungsi pemisah (separatist function) adalah bahwa ragam bahasa
baku itu dapat memisahkan dan membedakan penggunaan bahasa tersebut untuk situasi yang
formal dan tidak formal. 3. fungsi harga diri (prestige function) adalah bahwa bahwa pemakai
ragam baku itu akan memilki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak dapat
menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari dari lingkungan
keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari. Ragam bahasa baku hanya dapat dicapai melalui
pendidikan formal, yang tidak menguasai ragam baku tentu tidak dapat masuk kedalam situasi-
situasi formal, dimana ragam baku itu harus digunakan. 4. fungsi kerangka acuan (frame of
reference function) adalah bahwa ragam bahasa baku itu akan dijadikan tolak ukur untuk norma
pemakaian bahasa yang baik dan benar secara umum. Lihat Garvin, P.L. dan Mathiot.M, The
Urbanization of the Guarani Language: Problem in Language and Culture, (dalam Abdul Chaer
dan Leonie Agustina, h. 192-193)
74

dilakukan lewat pertimbangan-pertimbangan nilai yang bermotivasi sosio-


politik.24
Pembakuan bahasa memerlukan proses yang panjang dalam sebuah
tahapan. Tahapan-tahapan yang diperlukan meliputi:
1. Pemilihan
2. Kodifikasi
3. Penjabaran fungsi
4. Persetujuan25
Para sarjana berbeda pendapat dalam menetapkan dialek apa yang
berkembang menjadi dialek tinggi. Brockleman berpendapat bahwa bahasa Arab
dialek tinggi terbentuk secara perlahan-pahan berkat hubangan dagang yang
muncul karena lalu lintas peziarahan dan haji ke pusat-pusat keagamaan,
sementara pengkayaan kosakatanya berasal dari sejumlah besar dialek-dialek yang
ada.26 Regis Blachere mengatakan bahwa dialek tinggi yang dipergunakan dalam
puisi-puisi atau karya lainnya tidak dapat diketahui asal usulnya. Tetapi yang jelas
bahwa poetika tersebut dipergunakan oleh masyarakat di luar Jazirah Arab sendiri
pada masa sebelumnya. Blachere menyebut bahasa tersebut dengan bahasa
tengah (langue Moyenne). Tetapi disayangkan dia tidak menjelaskan apa yang
dimaksud dengan bahasa tersebut.27
Sementara itu, para sarjana muslim mempunyai teori sendiri mengenai
munculnya bahasa ragam tinggi ini, yang disebut dengan bahasa fu. Teori ini
didasarkan pada hegemoni satu kabilah terhadap kabilah-kabilah lainnya dalam
segala aspek kehidupan, ekonomi, politik, kebudayaan dan keagamaan. Hegemoni
dalam segala aspek kehidupan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa mereka
bagi kabilah-kabilah lainnya. Kabilah tersebut adalah kabilah Quraisy.
Teori bahasa fu yang diketengahkan oleh para sarjana muslim tersebut,
yang mengatakan bahwa bahasa fu berasal dari dialek Quraisy, dikaitkan

24
Chaedar Alwasilah, Sosiologi Bahasa, hal. 116-117
25
Chaedar Alwasilah, Sosiologi Bahasa, hal. 119
26
Regis Blachere, Histoire de la Litteratur Arabe, (diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
oleh Ibrahim Kailani), (Dr al-Fikr: Beirut, tt), hal. 87
27
Regis Blachere, Histoire de la Litteratur Arabe, hal. 91
75

dengan riwayat yang mengatakan bahwa al-Quran diturunkan dengan bahasa


Quraisy dan kemudian dikaitkan dengan kenyatan bahwa nabi Muammad yang
menerima al-Quran adalah orang Quraisy. Adalah sangat wajar, menurut mereka,
apabila bahasa Arab fu berasal dari dialek Quraisy, sebab al-Quran dan Nabi
yang menerimanya berbahasa Quraisy. Dominasi bahasa Quraisy terhadap bahasa-
bahasa lainnya terjadi sebelum datangnya al-Quran, setelah proses interaksi antara
dialek Arab yang ada dan didukung dengan faktor agama, ekonomi, politik dan
kebudayaan yang lebih maju daripada kabilah lainnya. 28
Apakah bahasa Arab fu atau dialek tinggi berasal dari dialek Quraisy,
atau berasal dari perpaduan antara banyak dialek, ataupun sudah ada jauh sebelum
masa Jahiliyah, yang tidak dapat ditolak dalam hal ini adalah bahwa dalam
masyarakat Arab, sebelum datangnya Islam, telah ada gejala diglosia, terdapat dua
dialek atau lebih yang dipergunakan secara berdampingan dalam kehidupan
bermasyarakat, dan satu di antara dialek-dialek tersebut menempati kedudukan
tinggi karena dipergunakan dalam kegiatan kultural bersama di antara kabilah-
kabilah yang ada. Sementara dialek-dialek lainnya tetap hidup dan dipergunakan
dalam komunikasi keseharian di dalam kabilah masing-masing.
Gejala ini terus berlangsung, bahkan sampai pada masa Islam. Dialek
tinggi yang dipergunakan dalam masyarakat Islam adalah dialek yang sama yang
dipergunakan pada masa sebelumnya, Jahiliyah. Dialek ini semakin mendapat
gengsi tingginya ketika dijadikan sebagai bahasa agama dan pemerintahan pada
masa tersebut.
Dengan demikian pada masa Islam dialek tinggi ini dipergunakan untuk
kepentingan kultural, seperti untuk bahasa puisi, prosa, di samping juga untuk
kepentingan formal politik, seperti surat-surat remi. Bahkan pada masa Bani
Umayyah bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa resmi pemerintahan yang harus
diikuti oleh pemerintahan, baik di tingka pusat maupun daerah-daerah yang
berada di bawah kekuasaan bani Umayyah pada saat ini. Bahasa Arab yang
dijadikan sebagai bahasa resmi tersebut adalah bahasa fu yang dijadikan

28
Ali Abdul Wid Wf, Fiqh al-Lughah, hal. 108-118
76

komunikasi bersama antara kabilah arab pada zaman jahiliyah dan Islam. Untuk
pertama kalinya pada masa Umayyah ini bahasa Arab fu diberlakukan bagi
masyarakat non Arab yang sebelumnya dipergunakan hanya terbatas pada orang
Arab.
Peran bahasa Arab, yang merupakan salah satu rumpun dari bahasa Semit,
dalam banyak adalah yang terkaya di antara para pendukungnya dalam. Orang-
orang Arab yang nota bene pada masa pra Islam merupakan bangsa yang masih
primitif dapat dilihat dari cara hidup yang nomadik dan sangat sederhana, sukar
memahami tradisi-tradisi yang tertulis, namun di sisi lain mereka telah mampu
mengembangkan bahasa-bahasa sastra dan tradisi dengan kekayaan yang luar
biasa, suatu bentuk puisi dibentuk dengan sangat hati-hati dan rumit dalam
persajakan dan pengungkapannya.29
Dalam kodifikasi bahasa Arab tujuan utamanya bukan sekedar pembukuan
dalam artian pencatatan, kodifikasi merupakan peralihan dari bahasa Arab yang
tidak ilmiah kepada bahasa yang ilmiah. Pengumpulan kosa kata bahasa dan
penetapan cara derivasi dan morfologinya, penetapan kaidah struktur serta
pemilihan tanda-tanda untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam penulisannya,
semuanya itu tidak hanya disebut penciptaan ilmu bahasa akan tetapi juga
menciptakan bahasa baru yakni bahasa Arab Fu.30
Identik dengan apakah kita menghubungkan pengumpulan dan kaidah-
kaidah bahasa ini ditujukan untuk menyelamatkan bahasa al-Qur`an dari
penyimpangan dan juga pelecehan, dikarenakan menyebarnya lan dalam
masyarakat Islam baru selama era kodifikasi yang mayoritas bukan orang-orang
Arab dan tidak memahami bahasa Arab, ataupun dapat dihubungkan dengan
kebutuhan orang-orang Persia untuk mempelajari bahasa Arab demi menjaga
kedudukan mereka setelah berlangsung arabisasi seperti yang banyak

29
Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah: Dari segi geografi, Sosial,
Budaya dan Peranan Islam, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), hal. 131.
30
Muammad bid al-Jabri, Takwn al-Aql al-Arab, (Beirut: al-Markaz al-Thaqaf
al-Arab, 1991), Cet. IV, hal.131
77

dikemukakan sebagai analisis kontemporer,31 kesimpulan akhirnya tetap satu


bahwa proses itu merubah bahasa Arab yang dari semula dianggap tidak ilmiah
menjadi bahasa yang ilmiah, bahasa yang tunduk kepada sistem yang juga diikuti
obyek lainnya.
Sesuatu yang menakjubkan dari ekspansi Arab adalah lebih banyak terletak
pada gerakan Arabisasi propinsi-propinsi yang ditaklukan dari serangan
militernya. Bahasa Arab bukan hanya menjadi saran untuk mengungkapkan yang
dipakai setiap hari oleh orang-orang yang hidup sejak dari Persia sampai ke
daerah pegunungan Pyrennia, melainkan juga merupakan puncak intrumen
kebudayaan yang mendesak bahasa-bahasa budaya kuno, seperti bahasa Coptic,
Aramic, Yunani dan Latin.32 Penggunaan bahasa Arab secara meluas
menunjukkan indikasi perbedaan antara Arab penakluk dan Arab taklukan hampir
tidak dapat dibedakan lagi, sementara orang yang berbicara bahasa Arab dan
memeluk agama Islam, merasa masuk dalam satu kelompok, dan istilah Arab
sekali digunakan untuk arti nomadik yang menjadi cikal-bakal bahasa itu atau
untuk arti aristokrat yang tidak mempunyai arti ekonomis dan sosial.
Al-Khall misalnya, dalam menuangkan teori tentang bahasa yang ditulis
dalam kitab al-jumal, lebih banyak mengungkapkan fenomena secara deskriptif. 33
Ketika ia mengamati banyak huruf-huruf yang sama namun dalam penggunaan
yang berbeda, maka ia kemudian mencatatnya sebagai sebuah gejala baru yang
penting untuk dicatat.34 Apa yang ditulis ini kemudian menjadi informasi penting

31
Feransu Zabal, Takwn al-Kitb al-Arab, (Beirut: Mahad al-Anma al-Arab,
1967), hal.131.
32
Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah: Dari segi geografi, Sosial,
Budaya dan Peranan Islam, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), hal. 132.
33
Deskripsi al-Khall dalam al-Jumal, misalnya ketika menjelaskan wujh an-nasb dia
memaparkan bahwa dalam nasb mempunyai 51 bentuk dan diletakkan dalam permulaan bab
dalam bukunya dengan dalih bahwa fenoma nashb banyak terjadi dalam susunan kalimat, baca, al-
Jumal f an-Naw, (Beirut: Mu`assah ar-Rislah, 1985), Cet. I, h. 34-116
34
Al-Khall menempatkan huruf mati sesuai dengan tempat artikulasi, dengan mencoba
huruf mati, al-Khall membuka mulutnya dan melafalkan satu penghentian bunyi dalam celah
suara yang memproduksi satu huruf mati, sebagai contoh, , , , , . Dia menyimpulkan
bahwa diproduksi di kerongkongan paling dalam. Oleh karena itu, dia memberikan bab pertama
dengan , diikuti oleh huruf mati paling dekat, berturut-turut sampai dia mencapai terakhir huruf
78

bagi pengkaji naw sesudahnya termasuk Sibawaih. Diskusi-diskusi selanjutnya


berkembang dan menghasilkan teori-teori turunan sebagaimana kemudian
dituangkan dalam Al Kitab Sibawaih tersebut.
Kodifikasi bahasa Arab bukan sekedar pembukuan dalam pengertian
catatan. Kodifikasi merupakan peralihan dari bahasa yang tidak ilmiah menjadi
bahasa yang ilmiah. Pengumpulan kosa kata bahasa dan penetapan kaidah-kaidah
struktur serta pemilihan tanda-tanda untuk menghilangkan ketidak jelasan dalam
penulisannya,35 semua tidak disebut penciptaan bahasa baru yakni ilmu bahasa
Arab akan tetapi juga penciptaan bahasa yaitu bahasa Arab Fu. Berawal dari
Al-Khall dan para pengikutnya inilah, dalam mengkonseptualisasikan bahasa
Arab yang menggunakan metode pembuatan dan penyusunannya ke dalam
kategori-kategori baku dan kaku,36 bukan kaidah-kaidah untuk menyatukan
pecahan-pecahannya dan menata kehidupan internalnya dengan menjaga
kemungkinan perkembangan dan pembaharuan.
Proses pengumpulan dan kodifikasi bahasa bertolak dari kekhawatiran
terjadinya kerusakan bahasa karena menyebarnya dialek yang menyimpang lan
dalam masyarakat di mana orang Arab menjadi kelompok minoritas. Karena
terjadinya lan ini disebabkan oleh terjadinya percampuran antara orang Arab dan
non Arab di kota-kota besar semisal Irak dan Syam, seperti yang dikemukakan al-
Jbir,37 Maka wajar jika bahasa Arab yang dipandang valid dicari orang-orang

mati, [yang] adalah . Jika kita diminta tentang satu kata dan ingin mengetahui tempatnya,
kemudian memperhatikan huruf mati [dari] kata. Maka akan menemui itu dalam bab huruf mati
[yang] terjadi pertama di urutan bab, lihat al-Khalil, kitb al-Ain, ( Beirut: Dr al-Fikr, 1988),
Juz. I, diedit oleh Mad al-Makhzm dan Ibrhm as-smarr, hal. 47-48.
35
Muammad Abid al-Jbir Takwn al-Aql al-Arab, hal.131.
36
Muammad Abid al-Jbir Takwn al-Aql al-Arab, hal.135.
37
Muammad Abid al-Jbir adalah seorang pemikir Arab kontemporer (asal Maroko)
yang memproyeksikan diri dalam proyek pemikiran yang spesifik selain assan anf (asal
Mesir) dan Muhammad Arkoun (asal Aljazair). Ketiga-tiganya dapat dikatakan sebagai pemikir
proyek. Al- Jbir memproyeksikan diri secara intens untuk melakukan Kritik Nalar Arab;
Arkoun mengkhususkan diri melakukan Kritik Nalar Islam, sementara assan anf giat dalam
proyek Tradisi dan Pembaruan. Ketiganya punya obsesi besar untuk melakukan proyek
pembaruan Islam dalam bentuk narasi-narasi besar. Mereka juga punya pretensi untuk menjadi
kiblat pemikiran. Mereka berbeda sekali dengan pemikir seperti Ali Harb (asal Libanon) ataupun
George arabishi (asal Siria) yang justru menjadi pengeritik setia mereka-mereka yang dianggap
79

Badui khususnya yang berasal dari kabilah-kabilah yang masih terisolir dan
masyarakatnya masih memelihara instink dan kemurnian pelafalannya. Menurut
Ibn Jinn, Karena penduduk kota dan bahasa Arab pada saat itu mengalami
kerusakan dan kekacauan. Seandainya penduduk kota masih tetap menjaga
kefasihan bahasa dan dalam bahasanya tidak nampak mengalami kerusakan,
niscaya dalam proses pengumpulan bahasa mereka harus dijadikan rujukan.
Semuanya dengan bahasa masyarakat nomadik mengalami kekacauan dan
kerusakan serta minimnya kefasihan seperti yang terjadi dalam masyarakat kota,
maka kondisi yang demikian menjadikan bahasa mereka dirijek dan diabaikan.38
Pembakuan bahasa Arab dilakukan secara resmi, setelah gejala lahn
merebak di segala lapisan masyarakat, bahkan di kalangan ulama dan pejabat
pemerintahan sekalipun dari kalangan orang Arab sendiri. 39 Untuk mengantisipasi
semakin meluasnya gejala ini di satu sisi, dan untuk mempermudah orang-orang
non Arab dalam mempelajari bahasa Arab di sisi lain, maka para sarjana bahasa
merasa perlu untuk membakukan bahasa Arab melalui kajian terhadap aturan-
aturan kebahasaan yang diambil dari fakta-fakta kebahasaan.
Langkah pertama yang harus dihadapi mereka dalam pembakuan bahasa
ini adalah menentukan sumber acuan untuk proses pembakuan dialek mana yang
dijadikan sebagai acuan bagi bahasa baku. Dalam hal ini ternyata para ahli bahasa
menetapkan bahwa seluruh dialek Arab, meskipun berbeda-beda dapat dijadikan
sebagai hujjah (acuan untuk pembuatan bahasa baku).40 Demikian pula yang
dikatakan oleh Abu Hayyan dan Ibnu Faris.41

sebagai raksasa pemikiran Arab kontemporer tersebut. Jabiri lahir di Figuig, sebelah selatan
Maroko, tanggal 27 Desember 1935. Pendidikannya dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi
lebih banyak ditempuh di tanah kelahirannya di Maroko
38
Ibn Jinn, al-Khai, hal .504.
39
Dalam hal ini dapat dilihat dan dibaca buku al-Bayan wa al-Tabyin al-Jahi yang
mengetengahkan sejumlah kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh kaum elit bangsa Arab
sendiri, seperti asan al-Basri. Banyaknya laporan tentang peristiwa lahn yang dilakukan oleh
kaum elit Arab pada masa itu, disamping menunjukkan bahwa gejala lahn telah merasuki semua
lapisan masyarakat, juga mengindikasikan bahwa lahn merupakan sesuatu yang aib bagi seseorang
yang melakukannya.
40
Ibnu Jinn, al-Khai, hal. 10
41
al- Suy, al-Muhir, hal. 258
80

Meskipun semua dialek Arab dijadikan acuan dalam pembakuan bahasa


Arab, namun tidak seluruh bahasa Arab yang dipergunakan oleh bangsa Arab,
terutama setelah bangsa Arab menyebar ke luar Jazirah, dapat dijadikan acuan
dasar. Para ahli bahasa Arab pada saat itu menetapkan syarat lain bagi
diberlakukannya acuan terhadap dialek Arab, yaitu persyaratan yang berkenaan
dengan kemurnian bahasa Arab dan pemakainya dari Lan. Semakin jauh suatu
dialek dan pemakainya dari pengaruh lahn, maka semakin baik untuk dijadikan
sebagai acuan pembakuan bahasa Arab. Lan terjadi lebih disebabkan oleh
pengaruh interaksi sosial, budaya dan politik antara bangsa Arab dan non-Arab.
Meskipun para ahli bahasa yang turun mengumpulkan dan
mengkodifikasikan bahasa Arab telah berusaha maksimal untuk tidak melakukan
kesalahan, namun dalam prosesnya terdapat sejumlah kendala yang
mengakibatkan hasil ini menjadi tidak maksimal. Diantara faktor penyebabnya
menurut Abdul Karm Muammad Asad adalah:42
1. Karena tujuan utama pengumpulan bahasa hanya memfokuskan kepada
pengumpulan sebanyak mungkin kosa kata Arab, sementara sumber
pengambilannya berasal dari beragam suku dan dialek Arab yang banyak,
sehingga seringkali terjadi sebuah bahasa tidak lagi dapat diketahui dari dialek
mana kata itu berasal.
2. Sebagian ahli bahasa mengambil bahasa dari catatan-catatan tersebut tidak
mendapt koreksi yang semestinya.
3. Para pengumpul bahasa tidak atau belum tentu memperoleh nara sumber bahasa
dari orang yang sama tingkat kehandalannya.
4. Adanya syaiir-syair Arab yang dipalsukan yang kemudian dijadikan hujjah,
akhirnya terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahli bahasa
.5. Banyaknya dialek-dialek yang ada dan beragam cara pengucapannya ikut
menambah rumit penisbatan bahasa kepada pemiliknya
Oleh karena dialek yang dapat dijadikan sebagai acuan bahasa baku harus
bebas dari gejala lahn, baik bagi bahasa itu sendiri maupun pemakainya, maka ada

42
Abdul Karm Muammad Asad, al-Was F Trkh al-Naw al-Arab, (Riya: Dr
al-awaf, 1992), hal. 19
81

tiga katagori yang ditetapkan dalam menentukan apakah sebuah dialek dapat
dijadikan atau tidak, yaitu:
1. Kategori waktu
Bahasa Arab yang dipergunakan oleh seluruh bangsa Arab tanpa
terkecuali, pada masa Jahiliyah dan Islam sampai pertengahan abad kedua
Hijriyah, dapat dijadikan sebagai acuan karena dalam rentang waktu tersebut
naluri kebahasaan bangsa Arab masih dianggap murni, belum rusak terkena
pengaruh dari luar.
2. Kategori tempat atau kabilah
Tidak semua kabilah yang memiliki dialek sendiri, dialeknya dapat
dijadikan sebagai acuan bahasa baku. Norma yang diberlakukan pada kabilah-
kabilah tersebut dalam kaitannya dengan acuan bahasa baku adalah dekat dan
jauhnya suatu kabilah dari bangsa-bangsa non-Arab. Semakin jauh suatu kabilah
dari bangsa-bangsa non-Arab akan semakin baik dialeknya untuk dijadikan
sebagai bahasa acuan bagi bahasa baku. Sebaliknya semakin dekat dengan
bangsa-bangsa non-Arab, maka semakin jelek kurang fasih dialeknya sehingga
tidak dapat dijadikan sebagai acuan. Diantara kabilah-kabilah yang dialeknya
dipercaya sebagai bahasa yang masih murni dan dapat dijadikan acuan adalah
kabilah Quraisy, Qais, Tamim. Asad, Hudzail, sementara kabilah-kabilah lainnya
seperti Lakhm, Ghassan, bani Hanifah, Yamamah, Tsaqif dan Thaif yang menjadi
masyarakat yang lebih berbudaya karena pergaulannya dengan masyarakat non-
Arab, semuanya kabilah dan masyarakat tersebut bahasanya tidak dapat dijadikan
sebagai acuan bahasa baku.
3. Kategori kondisi kehidupan
Norma yang diberlakukan di sini adalah semakin badui tingkat kehidupan
sebuah kabilah, maka semakin baik bahasanya untuk dijadikan sebagai acuan bagi
bahasa baku.
Dapat disimpulkan dari pembagian tersebut di atas bahwa persoalan dialek
mana yang harus dijadikan acuan bagi bahasa baku didasarkan pada kemurnian
82

sebuah dialek dari pengaruh non-Arab.43 Dalam hal ini Ibnu Jinn mengatakan
bahwa alasan yang menyebabkan bahasa masyarakat yang telah berperadaban
tidak bisa dijadikan sebagai sumber acuan bagi bahasa baku adalah kerusakan dan
kekacauan yang menimpa bahasa mereka. Seandainya diketahu secara pasti
bahwa masyarakat kota masih tetap murni bahasanya dan tidak mengalami
kerusakan bahasa, maka dialek mereka harus dijadikan acuan sebagaimana dialek
masyarakat badui. Demikian pula pula halnya dengan masyarakt badui, apabila
kemurnian dialek mereka tercemar dan bahasanya mengalami kerusakan, maka
bahasa mereka tidak dapat dijadikan acuan sama sekali. Inilah yang terjadi pada
masa hidupnya (ibnu Jinn), dan mereka hampir tidak dapat menemukan orang
badui yang masih tetap murni bahasanya.44
Tampak sekali bahwa norma-norma yang diberlakukan dalam menetapkan
kelayakan sebuah dialek untuk dijadikan sebagai bahasa acuan, sangat
dipengaruhi dengan gejala lain yang semakin meluas pada saat itu.
Norma-norma bagi dialek yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk
bahasa baku tampaknya dirumuskan dan ditetapkan ulama barah. Diantara yang
ditetapkan dalam hal ini oleh aliran Barah atas aliran Kfah adalah sikap mereka
yang menjadikan orang-orang Badui yang hidupnya penuh dengan kesusahan
sebagai sumber utama bagi pembakuan bahasa Arab. Mereka mengatakan kepada
aliran Kufah bahwa mereka (orang Kfah) mengambil bahasa dari masyarakat
yang makanannya keju dan kuah (sebagai kiasan untuk masyarakat yang sudah
berperadaban sebagai akibat dari pergaulannya dengan masyarakat lain di luar
jazirah Arab).45
Oleh karena norma-norma yang ditetapkan seperti itu, maka sumber-
sumber bahasa baku adalah al-Quran, puisi-puisi Jahiliyah dan Islam, dan kalam
Arab yang diambil dari penelitian langsung ke lapangan. Para ulama ketika itu
banyak yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun di tengah-tengah kehidupan
masyarakat Arab Badui. Mereka berbaur dengan mereka (orang badui), makan

43
Said al-Afghani, Min Trkh an- Nawi, (Dr al-Fikr: Beirut, 1978), hal. 19-24
44
Ibnu Jinni, al-Khai, hal. 5
45
Said al-Afghani, Min Trkh an- Nawi, hal. 23
83

bersama, minum bersama dan bercengkrama bersama. Dari masyarakat badui


inilah mereka mencatat fakta-fakta bahasa yang dapat mereka catat. Selain itu
para ahli bahasa, kadang-kadang juga memanfaatkan orang-orang badui yang
datang ke kota, baik karena datang dengan kemauan sendiri atau diundang.
Sumber bahasa baku lainnya adalah fakta-fakta bahasa yang diriwayatkan dari
ulama generasi pertama yang memperoleh fakta-fakta bahasa dari sumber bahasa
secara langsung.46
Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang menjadi sumber dan
pembakuan bahasa Arab baku adalah dari semua dialek-dialek Arab dan dialek
Quraisy dianggap sebagai bahasa Arab yang memiliki kefasihan dalam tuturan
bahasanya dan tidak memiliki cacat bahasa sebagaimana terjadi pada dialek-dialek
lain.
D. DIALEK QURAISY DAN BAHASA ARAB FU
Bahasa sebagai hasil dari proses berpikir dan berbudaya selalu bergerak
seiring dengan perkembangan pemikiran dan kebudayaan manusia. Setiap waktu,
manusia yang telah dianugrahi rasio selalu dapat menemukan pengetahuan untuk
membentuk kebudayaan baru. Melalui bahasalah pengetahuan dan kebudayaan
baru ini disampaikan. Maka bahasa senantiasa mengalami perkembangan dan
perubahan dari waktu ke waktu.
Asimilasi dan akulturasi yang terjadi dalam sejarah hidup manusia
mengakibatkan pembauran satu dialek dengan dialek lainnya. Ketika hal ini
terjadi, terkadang sering terjadi mis-understanding dan mis-communication dalam
relasi lintas komunitas. Oleh sebab itu, eksistensi dialek bahasa tertentu memiliki
peluang untuk mempengaruhi atau dipengaruhi dari suatu dialek ke dialek lain
atau sebaliknya, dan memungkinkan pula beberapa dialek memberikan kontribusi
pada suatu bahasa formal yang menjadi bahasa resmi di suatu bangsa sebagai
sebuah bahasa pemersatu yang menjadi kebutuhan yang sangat penting, dan
sebuah dialek bahasa dapat diklaim sebagai bahasa pemersatu ketika dialek

46
Amad Amin, u Islm, (Kairo: Maktaba an-Nahdah al-Miriyyah, 1974),hal. 255-
257
84

tersebut memiliki kekuatan dan keistimewaan dibandingkan dengan dialek-dialek


lainnya.
Dalam bahasa Arab, sebuah bahasa yang diangap fasih kalau bahasa itu
banyak dipakai dalam bahasa. Sementara bahasa Arab fu dihimpun dari
berbagai suku dan dialek Arab yang banyak itu. Karena itu kita menemukan
bentuk bahasa kata-kata yang beragam cara bacaannya tetapi dianggap fu.

Untuk sekedar contoh kata dapat dibaca dengan beragam bacaan yang

kesemuanya dianggap fu Perlu di ketahui bahwa bahasa dari suku-suku Arab


tidak berada pada tingkatan yang sama dari segi kefasihan dan kebersihan rasa
kearabannya. Sebagian bahasa Arab telah bercampur dengan unsur-unsur yang
bukan Arab dan telah hidup di lingkungan lain yang menyebabkan masuknya
unsur-unsur non Arab ke dalam bahasa anak-anak Arab. Karena itulah para
periwayat bahasa mencoba seketat mungkin untuk hanya mengambil bahasa dari
orang yang masih bersih kearabannya.
Rumpun bahasa Arab bermula dari Qahthan dan Adnan. Orang-orang
Qahthan adalah orang Yaman yang mereka itu dinisbatkan kepada Yarib Ibn
Qahthan. Sebagian suku-suku Qahthan itu menyebar ke kawasan timur dan barat
jazirah Arab. Sebagian lagi mendiami daerah Yamamah, Bahrain, Oman, dan
Hijaz. Sebagian lagi menempati daerah timur Iraq dan Syam. Di antara suku-suku
Qahthan itu adalah Hamir, Ghassan, Azad, Kindah dan Thai. Adapun keturunan
Adnan mereka menempati kawasan Tihamah, Najd dan Hijaz. Di antara suku-
suku Arab keturunan Adnan adalah Anmar, Mudhor, Rabiah, dan Iyad. Suku-suku
ini terpecah menjadi beberapa suku lagi. Namun Bani Muhdhar dianggap yang
terbaik tingkat kefasihannya. Di antara pecahan bani Muhdhar ini yang terkenal
adalah suku Kinanah, Quraisy, Tamim, Qais, Asad, Huzail dan Muzinah. Di
antara suku-suku Arab baik dari keturunan Qahthan meupun Adnan ada sejumlah
suku yang lebih banyak menetap di kampung halaman mereka-jarang berbaur
85

dengan suku-suku lain- yaitu suku Tamim, Asaf, dan Thai. 47 Mereka disebut
dengan Arha, karena jarang keluar dari kampung halaman mereka.
Penelitian terhadap eksistensi bahasa Arab sebelum kedatangan Islam
adalah sebuah fenomena yang sulit dikalangan para peneliti bahasa. Eksistensi
48
bahasa Arab sebagai salah satu cabang dari rumpun bahasa Semit pada masa itu
sulit dilacak informasinya. Teks-teks berbahasa Arab baru ditemukan pada abad
ke-3 M. Namun ini bukan indikator dari keterlambatan kelahiran bahasa Arab atau
karena bahasa ini adalah bahasa Semit termuda diantara bahasa-bahasa Semit
lainnya.
Asumsi terkuat terhadap sedikitnya teks-teks berbahasa Arab yang
ditemukan pada masa itu adalah meratanya buta huruf di kalangan bangsa Arab
dan sedikit sekali di antara mereka yang pandai membaca dan menulis. 49 Hal ini
jelas mempersulit penemuan terhadap teks-teks pada masa tersebut. Berbeda
dengan bahasa Ibrani misalnya, yang teks-teks sudah banyak ditemukan sejak
abad ke-8 SM, seperti dalam Taurat dan kitab-kitab suci lainnya. Sementara teks-
teks Arab, baru ditemukan tidak lebih dua abad sebelum kedatangan Islam. 50
Usaha para peneliti kebahasaan tidak berhenti sampai disitu. Penelitian
terhadap bahasa Arab terus dilakukan, sehingga kemudian ditemukannya beberapa

47
Abdul Karm Muammad Asad, al-Was f Trkh al-Nawi al-Arabi, (Riya, Dr al
Shawaf), hal.22
48
Rumpun bahasa Semit disebut sesuai dengan nama Sem anak tertua nabi Nuh a.s., yang
dianggap nenek moyang bangsa-bangsa Timur Tengah. Rumpun bahasa tersebut pada masa
terdahulu terdiri atas tiga cabang, yaitu: (a) Semit Timur (bahasa Akkadia), yang mencakup bahasa
Babilonia dan bahasa Suryani. Lihat Abdul Wid Wf, Fiqh Al-Lughah, hal. 25-33, (b) Semit
Selatan, yakni mencakup bahasa Arab dan bahasa Ethiopia. Lihat Ali Abdul Wid Wf, Fiqh
al-Lughah, hal. 97-108, (c) Semit Barat yakni mekiputi bahasa-bahasa Kanania, antara lain
bahasa Ebla, Ugarit, Moab serta Ibrani, dan bahasa Aramaik. Lihat Abdul Wid Wf, Fiqh Al-
Lughah, hal. 34-56. Sebagaimana disebutkan di atas, bahasa Arab merupakan bahasa Semit
Selatan yang digunakan oleh orang-orang yang mendiami Semenanjung Arab, di bagian Barat
Daya Benua Asia. Menurut Philip K. Hitti meskipun bahasa Arab tergolong yang paling muda
diatara rumpun bangsa Samit dari sisi kesusastraannya, tetapi ia lebih banyak memuat keunikan
bahasa asli Semit dibandingkan bahasa Ibrani dan bahasa rumoun lainnya. Karena itu bahasa Arab
merupakan kunci penting untuk mengkaji bahasa-bahasa Semit lainnya. Agama Islam, dalam
bentuknya yang asli, juga merupakan penyempurnaan logis dari agama-agama Semit. Dengan
demikian, ini juga menjadi salah satu faktor utama mengapa al-Quran itu diturunkan dalam bahasa
Arab. Lihat Philip. K. Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi, 2005), hal, 9
49
Ibrhm Ans, F al lahjah al Arabiyyah, (Kairo : Maktabah al Angelo al Miriyyah,
1973), Cet. Ke-4, hal. 33-34
50
Ibrhm Ans, F al lahjh al Arabiyyah , hal. 34
86

ukiran (naqsh) yang diakui kemiripannya dengan bahasa Arab. Prof Enno Litman
berhasil menemukan sekitar 14.000 naqsy yang simbol-simbolnya menunjukkan
bahwa bahasa yang dipakai dalam bahasa Arab sebelum masa jahiliyyah.
Beberapa naqsy yang paling terkenaal di antaranya adalah :51
a) Naqsh al Namarah, yaitu yang tertua, karena dibuat pada tahun 328 M. Al
Namarah adalah sebuah istana kecil di dekat Damaskus milik Imri al Qays,
salah satu raja Hirah. Naqsh tersebut ditemukan di kuburan Imri al Qays.
b) Naqsh Zabad, yang ditulis sekitar tahun 512-513 M. Naqsh ini ditulis
dengan tiga bahasa, yaitu bahasa Yunani, bahasa Suryani dan bahasa Arab.
Zabad adalah nama tempat yang sudah punah di daerah yang terletak di
dekat sungai Euprat.
c) Naqsh Harrn, ditulis dengan dua bahasa, yatu bahasa Yunani dan bahasa
Arab. Di temukan pada sekitar tahun 568 M, yakni tiga tahun sebelum
kelahiran Rasulullah, di daerah yang terletak di sebelah Utara Gunung
Durz. Naqsh ini diukir di atas batu yang terletak di atas pintu salah satu
gereja yang terdapat pada daerah tersebut.
Kondisi geografis dan sosial bangsa Arab pada masa jahiliyah ikut
menentukan bagaimana bahasa mereka berkembang. Bangsa Arab menempati
wilayah sepanjang jazirah Arab, sebuah daerah yang sangat luas, yang terletak di
sebelah barat daya benua Asia.
Dalam aspek sosial, terdapat kelompok-kelompok dalam masyarakat Arab,
yang kemudian disebut kabilah yang terbentuk dari garis keturunan ayah. Setiap
kabilah memiliki norma hidup dan adat istiadat yang kuat fanatisme kesukuannya.
Keadaan demikian menggambarkan bahwa setiap kabilah memiliki identitas
masing-masing, termasuk didalamnya adalah dialek bahasa.
Kebutuhan sosial antar kabilah menyebabkan terjadinya hubungan sosial
antara mereka. Pada tahap selanjutnya terjadilah asimilasi yang berimbas juga
pada perkembangan dialek bahasa. Eksistensi Kabah di Mekkah dijadikan pasar
dan tempat pertemuan-pertemuan kebudayaan, seperti lomba-lomba puisi dan

51
Ibrhm Ans, F al lahjh al Arabiyyah , hal. 34-35. Lihat juga Raman Abd al
Tawwab, Ful f Fiqh al Lughah, (Kairo : Maktabat al Khanjy, tth), Cet. Ke-2, Hal 55-57
87

kegiatan sastra lainnya, menjadikan kota ini sebagai pusat pertemuan kabilah-
kabilah. Kabilah-kabilah tersebut bertemu dengan membawa dialek mereka
masing-masing. Sehingga muncullah kebutuhan akan adanya satu bahasa yang
dapat menyatukan mereka, yang kemudian mereka jadikan sebagai bahasa sastra.
Bahasa tersebut adalah bahasa yang sengaja dipilih karena memiliki keistimewaan
dibandingkan dengan dialek-dialek lainnya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya kesatuan bahasa sudah dimulai
sebelum kedatangan Islam. Bahasa tersebut terus mengalami perkembangan dan
kemajuan namun hanya terbatas pada kalangan tertentu, yaitu elite sosial dan para
budayawan yang sering menghadiri pertemuan-pertemuan budaya, tetapi tidak
pada masyarakat biasa.
Setelah kedatangan Islam, yang kitab sucinya al-Quran menggunakan
bahasa Arab, maka semakin kuat kecenderungan kesatuan bahasa. Karena
eksisitensi al-Quran sebagai pedoman hidup harus dipelajari oleh seluruh umat
Islam, maka keharusan untuk memahami terhadap bahasa sastra yang dianggap
sebagai bahasa pemersatu, tidak terbatas pada kalangan elite saja, tetapi juga pada
seluruh lapisan masyarakat Arab ketika itu.52
Dari beberapa dialek yang terdapat dalam masyarakat Arab, dialek
Quraisy dianggap sebagai dialek yang paling bagus. Hal ini karena bahasa
Quraisy memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh dialek yang
lainnya. Karena itu sastrawan Arab umumnya memandang bahasa fu adalah
bahasa Quraisy. Ismil ibn Ab Ubaidillah menyatakan bahwa para ahli bahasa
Arab sepakat bahwa dialek Quraisy merupakan dialek Arab terbaik, baik dari segi
ucapannya maupun kelembutannya. 53
Para linguis Arab menyepakati bahwa dialek Quraisy dianggap sebagai
dialek bahasa Arab yang memiliki kefasihan dalam tuturan bahasanya. Hal ini pun
dinyatakan dalam nash al Quran yang menjatuhkan pilihan dialek Arab fu

52
Lihat Raman Abd al Tawwab, Ful f Fiqh al Lughah, hal 36-45. Lihat juga Amad
al Hshimi, Jawhir al Adab f adabiyyh wa Insy lughah al Arab, (Mesir: Dr al fikr, 1965),
Cet. Ke-26, hal 3-14
53
Abi usein Amad Ibn Faris ibn Zakariya al-Rozy al Lughaw, al hib f Fiqh al
Lughah al Arabiyah wa Masilih wa Sunan al Arab f Kalmih, (Beirut: Maktabat al Marif,
1993), hal. 55
88

kepada dialek Quraisy dibandingkan dengan dialek lainnya, dengan alasan para
elit Islam berada pada pihak kabilah Quraisy sehingga masyarakat komunitas
Arab telah memutuskan konvensi bahasa fu yang menjadi rujukan bagi dialek-
dialek lain kepada dialek Quraisy.54
Al Suyuthi mengungkapkan bahwa komunitas Arab dalam tiap tahun
melakukan ziarah ke Baitullah untuk ibadah haji pada masa Jahiliyah sehingga
kabilah Quraisy seringkali melakukan asimilasi dan akulturasi dengan kabilah-
kabilah Arab lainnya dan mereka mempelajari keutamaan tutur kata bahasa Arab
yang baik dari kabilah-kabilah lain sehingga bahasa mereka menjadi lebih fasih
dibandingkan dengan dialek lain.55
Pernyataan Al Jahidh mensinyalir perkataan Muawiyah pada saat
kepemimpinannya, beliau bertanya siapakah kaum yang paling fasih bahasa
Arabnya? Kemudian berkatalah seorang sahabat bahwa komunitas bahasa Arab
yang paling fasih adalah komunitas yang selalu menuturkan bahasa dengan dialek
aksen al- Khalkhniyah, menghapus aksen dialek kaskasah bikr dan tidak
menggunakan aksen dialek ghamghamah, amamniyah. Lalu beliau bertanya
kembali lalu siapa diantara mereka? Seorang sahabat itu menjawab, Quraisy lah
yang dialek bahasanya yang paling fasih, dan di antaranya baginda sendiri,
kemudian Muawiyah mempersilahkan duduk kepada seorang sahabat tersebut.56
Menurut Sibawaih, bahasa ini menjadi bahasa pilihan bagi orang Arab
yang diyakini ke-Arabannya. Mereka cenderung mengutamakan bahasa ini bila
ditemukan dialek-dialek yang berbeda di masyarakat.57 Bahkan berdasarkan
penelitian, bahasa ini sudah dianggap sebagai bahasa fushha karena tidak ada
cacat padanya dan tidak ada alasan untuk menolaknya.Bahasa Hijz sebenarnya
layak dijadikan ukuran atas bahasa Arab fu karena kedudukannya yang tinggi
di kawasan Jazirah Arab sehingga dari penelitian di atas juga muncul pertanyaan
54
Abd al Ramn Jall al Dn al Suyi, al Muhir f Ulm al Lughah wa Anwih,
(Beirut: Dr al Fikr, tth), hal. 209-210. Lihat juga Raman Abd al Tawwb, Ful f Fiqh al
Lughah, hal. 116-117
55
Abd al Ramn Jall al Dn al Suyi, al Muhir f Ulm al Lughah wa Anwih,
hal. 117
56
Abd al Ramn Jall al Dn al Suyi, al Muhir f Ulm al Lughah wa Anwih,
hal. 117
57
Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal. 119
89

Kenapa bahasa Quraisy yang merupakan bahasa Arab perkotaan dianggap


sebagai bahasa Arab fu padahal menurut penelitian-penelitian sebelumnya
telah disimpulkan bahwa bahasa Arab fu adalah bahasa Arab pedesaan.
Untuk menjawab ini, diakui bahwa bahasa Quraisy cukup bagus dan punya
pengaruh yang besar terhadap bahasa Persia dan Romawi; dua negara maju pada
zamannya. Disamping itu, karena al-Quran yang diturunkan kepada orang Quraisy
memiliki nilai sastra yang begitu tinggi, sehingga diidentikkan dengan bahasa
Quraisy sendiri. Alasan orang Quraisy yang menganggap bahwa al-Quran
diturunkan dengan bahasa Quraisy sebenarnya kurang tepat karena di dalam al-
Quran sendiri ditemukan juga dialek-dialek lain. Mereka mengagungkan bahasa
Quraisy sekaligus memakainya serta merasa beruntung karena Allah SWT telah
menjadikan mereka sebagai orang Quraisy dan tidak hanya itu, mereka juga
membuat aturan dengan berbahasa Quraisy dalam segala urusan disaat kedatangan
orang-orang Arab ke Mekkah untuk menunaikan haji. 58 Barangkali kondisi inilah
yang menyebabkan adanya anggapan bahwa bahasa Quraisy adalah bahasa yang
lebih asli atau funya bahasa Arab.
Dari dalil-dalil tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa semuanya
menyatakan bahwa Quraisy adalah kabilah fu, yang tidak memiliki cacat
bahasa sebagaimana terjadi pada dialek-dialek yang disebutkan diatas.
Abdu al Rjih menyatakan bahwa dialek Quraisy lebih luas digunakan
bangsa Arab dikarenakan Quraisy memiliki posisi strategis sebagai suku yang
berada di sekitar Kabah. Posisi ini menjadikan Quraisy memiliki kekuatan
politik, menguasai sektor ekonomi dan keagamaan.
Dikarenakan dialek Quraisy yang dianggap lebih unggul dibandingkan
dengan dialek-dialek Arab lainnya. Tentulah dipengaruhi oleh Faktor-faktor
tersebut adalah :59
1. Faktor Eksternal:
a. Kekuatan Agama

58
ub li, Dirsh f Fiqh al Lughah, hal. 111-112
59
Lihat al mid Muammad Ab Sakkn, Malim al-Lajh al Arabiyah (Kairo:
Diktat fakultas Bahasa Arab Universitas al Azhar, tth), hal. 63-64
90

Aktivitas haji setiap tahun sudah dilaksanakan sejak masa sebelum Islam.
Kabah di kota Mekkah merupakan tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh
masyarakat Arab setiap tahunnya untuk melaksanakan ibadah haji tersebut,
mensucikan berhala-berhala mereka yang terdapat di sekitar Kabah, dan berbagai
aktivitas lainnya.
Secara otomatis tempat menjadi sentral perkumpulan mereka. Maka
terjalinlah hubungan antar kabilah, yang kemudian memunculkan kebutuhan
bahasa pemersatu diantara mereka. Terpilihnya bahasa Quraisy sebagai bahasa
pemersatu karena kabilah Quraisy yang memang menguasai kota Mekkah ini. 60
Hal yang wajar jika seorang datang ke suatu tempat, maka ia pun haus mengikuti
adat istiadat (termasuk didalamnya bahasa) yang terdapat di tempat tersebut.
Demikian pula yang terjadi dengan bahasa Quraisy.
b. Kekuatan Perekonomian
Kedatangan kabilah ke kota ini pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk
haji, melainkan juga karena kota ini merupakan jalur perdagangan yang cukup
ramai.
Orang-orang Quraisy memiliki kekuatan perekonomian yang besar.
Mereka membawa dagangannya ke negri Syam pada setiap musim panas, dan ke
Yaman pada setiap musim dingin. Jika sudah kembali ke Mekkah, mereka
membagi-bagikan dagangannya kepada kabilah-kabilah Arab yang lain, sehingga
mereka dapat menarik keuntungan yang sangat besar dari perdagangan ini. Di
samping dalam kesempatan itu pula di selenggarakan kompetisi-kompetisi sastra
(syiir) di antara para kabilah, dengan menggunakan bahasa Quraisy. Hal ini
membawa dampak yang positif bagi tersebarnya bahasa Quraisy kepada kabilah-
kabilah Arab lainnya.

60
Mekkah menjadi pusat perdagangan pertama ditengah wilayah Jazirah Arab. Posisi
pasar internal dipinggir kota, bangunan Kabah dan para pendatang yang melakukan ibadah haji
dan umrah telah menjadikan bahasa atau dialek Quraisy sangat hegemonik. Bahasa adalah alat
atau medium komunikasi. Komunikasi orang Arab yang tersebar di Jazirah dengan orang Mekkah
Quraisy menjadi sebuah keniscayaan, baik dalam bidang ekonomi, budaya maupun agama. Maka
ketika orang-orang Arab sebelah Utara menggunakan bahasa Quraisy, mereka mendekat dan
berusaha untuk menghilangkan berbagai bentuk pertentangan serta menjalin hubungan melalui
perjanjian dan persahabatan. Mereka mengetahui bahwa bentuk kehidupan yang baru mulai dapat
dirasakan dan dinikmati dalam masyarakatnya. Lihat Khalil Abdul Karim, Hegemoni Quraisy
Agama, Budaya dan Kekuasaan, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2002), Cet I, hal.319-320
91

Kedudukan kota Mekkah yang penting itu memungkinkan orang Quraisy


menjadikannya sebagai pusat perniagaan bagi Jazirah Arab. Dimana kegiatan
orang Quraisy adalah membawa dengannya menyeberangi gurun pasir, terutama
antara negeri-negeri Yaman Selatan dan Syam Utara. Dalam kesempatan itu
mereka memeperkenalkan bahasanya yang lebih kaya ke daerah-daerah di mana
mereka berhenti. Dan orang-orang setempat menerima bahasa itu sangat respek.
Sehingga mereka secara langsung maupun tak langsung meniru dan mengambil
banyak kata-kata beserta uslub-uslubnya. 61
c. Kekuatan Politik
Kekuatan kabilah Quraisy dalam kekuatan agama dan ekonomi
mengakibatkan terbentuknya kekuatan politik bagi kabilah ini. Letak geografisnya
yang strategis, menjadikannya pula sebagai daerah yang kaya dalam peradaban
dan ilmu pengetahuan. Hal ini menjadikan kabilah Quraisy memiliki otoritas atas
bangsa-bangsa Arab lainnya.
Suku Quraisy mempunyai peranan yang penting dalam kancah
perpolitikan kabilah-kabilah Arab karena tidak heran jikalau suku Quraisy
menanamkan pengaruh politik yang cukup kuat terhadap suku-suku lainnya.
Pengaruh besar dari suku Quraisy ini menjadikan suku ini disegani oleh suku-
suku lainya. Mereka mengikat diri dengan tali perkawinan dengan kabilah-kabilah
tersebut. Suku Quraisy juga dipercaya menjadi penengah manakala terjadi
persengketaan, misalnya dalam hal yang berkaitan dengan harta benda. Semua
itulah yang menjadikan bahasa Quraisy sangat berpengaruh atas dialek lainnya. 62
Unsur politik lain yang menjadikan bahasa ini memiliki kekuatan adalah
kebijakan kabilah Quraisy yang menjadikan bahasa atau dialeknya sebagai bahasa
resmi bagi penduduk daerah atau kabilah-kabilah yang ditaklukannya dalam
peperangan. Selain itu, berkat kemampuan dan otoritas yang dimilikinya, kabilah
Quraisy seringkali dijadikan sebagai arbitrator bagi kabilah-kabilah lainnya.
2. Faktor Internal

61
Muammad Sirhn, Fiqh al Lughah, Ilmu Bahasa Arab, Terj. Hasyim Asyari, (IKIP
Semarang, 1956), hal.78-79
62
Ibrhm Ans, f al-Lajt al-Arabiyyah, hal.37-38
92

Faktor internal yang dimaksud di sini adalah faktor kebahasaan itu sendiri.
Di samping memiliki kekuatan-kekuatan eksternal seperti telah dijelaskan di atas,
bahasa Quraisy memang memiliki keunggulan dari segi bahasanya. Seiring
dengan itu pula, Bahasa Arab telah berhasil memilih berbagai dialek dan
menfilternya sebagai penyempurna segala sesuatu yang dirasa kurang, atau
mengambil dari sumber sebenarnya yang telah ada sebagai bahan perbandingan,
yang demikian itu menyebabkan timbulnya banyak sinonim dan banyak kata
dalam bentuk beragam. 63 Maka tak heran, jika bahasa ini kemudian dipandang
lebih unggul dibandingkan dengan bahasa-bahasa kabilah lainnya.
Dialek (lahjah) adalah kumpulan dari sifat-sifat bahasa yang berupa aut
(suara), arf (kaidah) yang berkembang dalam lingkungan geografis dan sosial
tertentu. Penduduk di lingkungan tersebut menggunakannya dalam komunikasi
dengan penduduk lainnya yang lebih luas dalam satu kesatuan bahasa.64 Para ahli

bahasa terdahulu menggunakan kata dialek () yang dikenal sekarang

dengan sebutan al-Lughah kadang-kadang al-Lahn65


Dialek Quraisy memang telah mendapatkan tempat yang utama diantara
dialek-dialek Arab Utara, oleh karena itu secara mutlak ia telah menjadi bahasa
formal(fu) yang banyak memberikan perhatian secara khusus para ahli bahasa
terdahulu dengan megutamakan ucapan, tulisan, irab, wa dan ishtiqaqnya.66
Menurut Ibnu Fris sebagaimana dikutip al Suy mengatakan bahwa
para ulama Arab, periwayat puisi, dan ahli bahasa Arab telah sepakat bahwa
Quraisy adalah dialek yang fasih lisannya, jelas bahasanya. Oleh karena itu Allah
memilihnya dan diantara mereka (dilahirkan) Muammad SAW, sehingga ia
memiliki tanah haram yang banyak para delegasi dari Hijazi dan sekitarnya
berkunjung ke Mekkah untuk berhaji dan meminta putusan (tahakkum). Dan

63
Muammad Sirhn, Fiqh al Lughah, Ilmu Bahasa Arab, hal. 40
64
Abdul Azz Maar, al-Alah al-Arabiyah f Lahjt al Khlij, (Riya: Dr al-Kitab,
1985), hal. 7
65
Ibrhm Ans, f al-Lajh al-Arabiyyah, hal.16
66
Ibrhm Ans, f al-Lajh al-Arabiyyah, hal. 16
93

ketika mereka datang, Quraisy memiliki bahasa terbaiknya dai ungkapan, puisi-
puisinya yang disepakati sesuai kecenderungan watak mereka.67
Hal ini juga ditegaskan Thalab sebagaimana dikutip Raman Abd al
Tawwb bahwa Quraisy lebih tinggi kefasihannya dari pada dialek ananah
Tamim, Kashkashah Rabiah, Kashkashah Hawzin, Taajju Qais, Ajrafiyah
abbah dan Taltalah Bahra.68
Menurut Amad Hassan al-Baquri sebagaimana dikutip Khall Abdul
Karm bahwa para ilmuwan sepakat bahwa dialek yang paling fasih dan enak
didengar telinga dibandingkan dengan dialek suku-suku di bagian Utara. Menurut
para peneliti kelugasan bahasa dan dialek Quraisy disebabkan karena mereka
membersihkan bahasanya dari bahasa para pendatang, kedudukan keagamaan dan
perekonomian suku Quraisy menyebabkan bahasa mereka menjadi panutan yang
tinggi (al-Muthul al-Ala) bagi seluruh orang Arab, termasuk didalamnya
kelugasan dan keindahan bahasanya serta kekuasaan dan pengaruh yang mereka
miliki.69
Namun ada sebagian peneliti berpendapat bahwa dialek Tamim yang
menjadi bahasa formal (fu). Hal ini sebagaimana diungkapkan ub li
bahwa dalam banyak literatur-literatur masa lalu dan kamus-kamus bahasa selalu
menunjukkan bahwa banyak sekali kaidah dialek Tamim lebih kuat secara Qiyas
daripada sebagian Quraisy. Bahkan hampir-hampir peneliti secara cermat
mendapati dialek Tamim ini banyak dari kosa katanya dan susunannya selalu
diungkapkan para pengguna bahasa Arab.70

67
Al Suy, al Muzhir f Ulm al Lughah wa Anwih, (t.tp , Dr Ihya al Kitb al
Arabiyah, t.th), hal 210
68
Raman Abd al Tawwb, Ful f Fiqh al Lughah, Hal.119
69
Kekuasaan dan pengaruh yang dikemukakan oleh penulis tersebut bukan pembahasan
politik. Hal ini karena saat itu Negara Quraisy belum berdiri, tetapi kondisi objektiflah yang
menjadikan kota Mekkah memiliki kedudukan tersendiri, seperti dialek Quraisy yang secara
sentral dan cepat bertemu dan berinteraksi dengan seluruh dialek suku Arab, khususnya sebelah
Utara. Maka beribu-ribu orang Arab yang datang ke Mekkah dari segala penjuru semenanjung
Jazirah untuk melakukan ibadah haji dan umrah, yang berinteraksi dengan masyarakat suku
Quraisy dan mendengarkan dialek mereka pasti terpengaruh olehnya. Lihat Khalil Abdul Karim,
Hegemoni Quraisy agama budaya dan Kekuasaan, h. 310
70
ub li, Dirst f Fiqh al Lughah, (Beirut: Dr al Ilmi, 1989), Cet. Ke-12, hal.
172-173
94

Dengan demikian menurut penulis bahwa dialek Quraisy memiliki


kontribusi yang terbanyak diantara kabilah-kabilah lainnya dalam pembentukan
bahasa fu. Karena belum ada riwayat tentang sesuatu yang bertentangan
dengan bahasa fu dari dialek Quraisy kecuali hanya sedikit sekali.
E. ANEKA RAGAM (VARIASI) BAHASA
Perbedaan bahasa dan dialek, sebagaimana halnya perbedaan bentuk dan
warna kulit manusia, merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah.
Perbedaan bahasa antara berbagai bangsa, dan perbedaan dialek dalam suatu
bahasa, merupakan jalan untuk saling mempelajari, memahami, dan mengenal
perbedaan-perbedaan tersebut.
Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang
dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan
oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua
pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial
penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu.71 Kedua, variasi bahasa itu
sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan
masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima
ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan
adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial.
Menurut Paul Ohoiwutun72 bahwa variasi itu terjadi sebagai perubahan
atau perbedaan yang dimanifestasikan dalam ujaran seseorang atau penutur-
penutur ditengah masyarakat bahasa tertentu. Variasi itu dapat terjadi pada sistem
kebahasaan itu sendiri, dan dapat juga terjadi di luar sistem kebahasaan.

71
Menurut Tamam Hasan fungsi bahasa itu sendiri adalah merupakan fenomena
sosial.yang banyak seginya, misalnya sebagai media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan.
Lihat Tammm assn, al-Lughah al-Arabiyyah Manh wa Mabnh, (Kairo: lam al-
Kutub, 1998), hal. 335. Namun secara umum, bahasa merupakan alat komunikasi, Karena dalam
masyarakat terdapat komunikasi dan interaksi antar anggota . Dengan demikian setiap masyarakat
dipastikan memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut. Karenanya, tidak ada
masyarakat tanpa bahasa, dan tidak ada pula bahasa tanpa masyarakat sehingga untuk keperluan
apapun dan dalam kegiatan apapun, bahasa digunakan seseorang atau suatu masyarakat. Lihat
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hal.5. Hasanain
mengemukakan adanya dua fungsi bahasa, yaitu (a) sebagai alat komunikasi, dan (b) sebagai alat
akulturasi. Lihat Muhammad Ali al-Khul, Aslib Tadrs., hal. 2.
72
Paul Ohoiwutun, Sosiolinguistik Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan
Kebudayaan, (Jakarta: Kesain Blanc, 1996), hal. 47
95

Abdul Chaer mengatakan bahwa variasi bahasa itu dibedakan berdasarkan


penutur dan penggunanya, Adapun variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, variasi bahasa dari segi penutur yaitu: Variasi bahasa idiolek,
dialek, kronolek atau dialek temporal, sosiolek, berdasarkan usia, pendidikan,
seks, profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur, dan variasi berdasarkan tingkat
kebangsawanan, tingkat ekonomi dan para penutur.
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan
kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek,
vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken.73
Kedua, Variasi bahasa dari segi pemakaian. Variasi bahasa berkenaan
dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi
bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa.
Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan
sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tampak cirinya
adalah dalam hal kosa kata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosa
kata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam
karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih
dan digunakanlah kosa kata yang tepat.
Ketiga, variasi bahasa dari segi keformalan. Martin Joos74 membagi variasi
bahasa menjadi lima macam gaya atau biasanya diistilahkan dengan ragam, yakni:

73
Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari
variasi sosial lainya, basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah, vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang
kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan, slang adalah variasi sosial yang
bersifat khusus dan rahasia, kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan
sehari-hari yangcenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok
(dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll, jargon adalah variasi sosial yang digunakan
secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila,
didongkrak, dll, argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentudan
bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata artinya polisi, ken
adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-
puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis http://anaksastra.blogspot.com/2009/01/variasi-
bahasa.html,diakses tgl 22-06-09
74
Martin Joos, The Five Clocks, (New York: Hartcourt Brace World Inc, 1967), dalam
Abdul Chaer, Sosiololinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 70
96

ragam beku (frozen), ragam resmi (formal),75 ragam usaha (konsultatif), ragam
santai (causal), ragam akrab (intimate). Dari berbagai gaya atau ragam tersebut
pada realiasasinya dapat dilihat dari tingkat keformalan penggunaannya dan
berbagai faktor atau variabel yang menentukan pilihan gaya atau ragam yang
harus digunakan.
Menurut Anton M. Moeliono ragam bahasa berdasarkan pendidikan
formal, yang menyilangi ragam dialek, menunjukkan perbedaan yang jelas antara
kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak. Tata bunyi Indonesia76 golongan
yang kedua itu berbeda dengan fonologi kaum terpelajar.77 Perbedaan kedua
ragam itu juga nampak pada tata bahasa.
Keempat, variasi bahasa dari segi sarana. Menurut Anton M. Moeliono
ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan atau ujaran dan
ragam tulisan. Karena tiap-tiap masyarakat bahasa memiliki ragam lisan,
sedangkan ragam tulisan baru muncul kemudian.78 Variasi bahasa dapat pula
dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf,
radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan.
salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada
kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.79
Demikian halnya dengan bahasa Arab. Bahasa yang menurut beberapa
riwayat memiliki sejarah yang sangat tua setua sejarah manusia sendiri. Dalam

75
Contoh ungkapan kolokial dalam bahasa Inggris dengan padannya formalnya. Join up :
enlist, Give up : reliquih, Put up with : tolerat, Fuul up : filled to capacity, Know-how : technical
skill, The law a policeman, Outsid of : except , A natural : one who naturally exper.
http://ferdinan01.blogspot.com/2009/02/linguistik-sosiolinguistik-variasi.html, diakses tanggal 22-
06-09
76
Contoh bunyi /f/ dan gugus konsonan akhir /-ks/, misalnya tidak selalu terdapat dalam
ujaran orang yang hampir tidak bersekolah. Bentuk fadil, fakultas, film, fitnah, kompleks, yang
dikenal dengan di dalam ragam orang yang berpendidikan, bervariasi degan padil, pakultas, pilem,
pitenah, dan komplek dalam ragam orang yang tidak mujur dapat menikmati pengajaran bahasa di
sekolah.
77
Anton M. Moeliono et al, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai
Pustaka, 1997), hal 4
78
Anton M. Moeliono et al, Tata Bahasa, hal. 6
79
http://anaksastra.blogspot.com/2009/01/variasi-bahasa.html,diakses tgl 22-06-09
97

rentang waktu yang sangat panjang bahasa ini telah banyak melahirkan banyak
dialek yang sangat beragam dan bervariasi. 80
Bahasa Arab81 sebagaimana juga bahasa-bahasa lain di dunia, tumbuh dan
berkembang sesuai dengan kepentingan orang yang memakainya. Bahasa Arab
masih tetap hidup karena selain dipakai oleh bangsa Arab sendiri juga dipakai
oleh seluruh umat Islam di dunia, tidak terkecuali bangsa Indonesia yang
mayoritas beragama Islam. Hal ini disebabkan karena pertama Bahasa Arab itu
adalah bahasa al Quran yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi umat Islam
dalam kehidupannya sehari-hari, kedua Bahasa Arab itu adalah bahasa ibadah
yang dipakai dalam kalimat adzan, iqamat, shalat dan haji yang tidak bisa diganti
dengan bahasa-bahasa lain, ketiga Bahasa Arab adalah bahasa alat yang
digunakan untuk memahami al Quran, al Hadith dan buku-buku agama yang
berbahasa Arab, dan keempat Bahasa Arab itu juga tidak hanya alat komunikasi
antar umat Islam seluruh dunia tapi juga merupakan salah satu bahasa yang diakui
dunia sebagai bahasa resmi di lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa sejak tahun
1973 sejajar dengan bahasa Inggris, Prancis, Rusia, Cina dan Spanyol.
Dewasa ini, bahasa Arab Fu hanya dipakai di dunia Arab dan umat
Islam dalam pembicaraan resmi, kegiatan ibadah, pidato keagamaan, ceramah
ilmiyah dan kesempatan-kesempatan lain yang tidak memberi peluang luas
kepada pembicara untuk berbahasa dengan bebas. Sebaliknya dalam kehidupan

80
Para ahli tarikh dan ahli tafsir banyak yang menyatakan bahwa munculnya dialek
diawali dengan menyebarnya putra-putra Nabi Nuh As ke berbagai penjuru bumi. Keturunan Ham
menempati Afrika Utara, Afrika Timur dan beberapa wilayah Afrika Tengah.Keturunan Yaphet
menyebar menuju Asia tenggara dan sebagian menuju wilayah Utara dan Barat. Dan keturunan
Syam yang melahirkan bahasa Semit, menempati bagian Barat Daya Asia dan sebalah Utara. Pada
mulanya bahasa Semit terpecah menjadi dua bagian, yaitu bagian Timut dan bagian Barat. Bagian
Timur adalah bahasa Akkadiyah, bahasa orang-orang yang sebeelumnya disebut Isfiniyah atau
Mismariyah karena mereka mengambil prasasti Mismari dari bangsa Sumeria, ketika menyerang
wilayahnya yang terletak dibagian Selatan Irak. Diperkirakan mereka adalah suku-suku Arab yang
telah berimigrasi sejak tahun 3000 SM. Lihat ub li, Dirsah F Fiqh al-Lughah, (Beirut:
Dr alilm li al-Malyin), hal. 49
81
Dalam sejarah disebut bahwa pada masa kejayaan Islam, masyarakat Islam pada saat
itu mempelajari bahasa Arab Fu dengan tekun dan penuh antusias baik bahasa lisan maupun
bahasa tulisannya. Tapi sejak kemunduran Islam sekitar abad XIII Masehi perhatian masyarakat
terhadap bahasa Arab Fu juga mengalami kemunduran. Sehingga bahasa Arab Fu hanya
berfungsi sebagai bahasa tulisan saja dan kurang dipakai sebagai bahasa lisan bersamaan dengan
munculnya dialek-dialek lain dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai latar belakangnya
.Lihat Abdul Wid Wf, Ilmu al-Lughah, (Mesir: Maktabah Naah, 1962), hal 193
98

sehari-hari, bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab miyah atau dialek-dialek
yang sudah banyak berkembang di setiap penjuru jazirah Arab.
Untuk memudahkan komunikasi, merekapun harus menyesuaikan bahasa
mereka dengan bahasa yang dipakai masyarakatnya. Maka terjadilah percampuran
bahasa Arab dengan bahasa non Arab yang kemudian muncullah apa yang dikenal
dengan dialek atau bahasa Arab pasaran. Dialek inilah yang dipakai sebagai alat
komunikasi untuk saling memahami satu sama lainnya dalam kehidupan sehari-
hari.
Dialek-dialek yang telah bercampur dengan bahasa Arab para ulama
membaginya kepada dialek Hijaz, Mesir, Syam, Iraq dan Maroko. Para ulama
sepakat bahwa dialek Hijaz dan Mesir merupakan dialek yang lebih dekat dengan
bahasa Arab asli.82
Jenis bahasa sering disebut dialek daripada bahasa karena: 83
1. Dialek tidak tidak diakui sebagai sastra bahasa
2. Speaker yang diberikan tidak memiliki bahasa negara mereka sendiri
3. Dialek tidak digunakan dalam literatur
4. Bahasa mereka tidak bergengsi.

Ibnu Fris memberi kontribusi pemikiran kepada kita, bahwa dari enam
belas bentuk lahjah dari berbagai sumber bahasa di beberapa kabilah Arab hanya
didasarkan pada enam belas penting yang membedakan antara lahja yang satu
dengan lahjah yang lainnya. Keenam belas bentuk tersebut adalah (1) perubahan
harakat, (2) perbedaan harakat dan sukun, (3) perbedaan dalam hal pergantian
huruf, (4) perbedaan taqdim dan takhir huruf, (5) perbedaan dalam hal hadhf dan
ithbat, (6) perbedaan penggantian huruf ah dengan huruf mutal, (7) perbedaan
dalam hal qirah, imlah, dan tafkhim, (8) perbedaan huruf sukun di depan, (9)
perbedaan mudhakkar dan muannath, (10) perbedaan idgham, (11) perbedaan
Irab, (12) perbedaan dalam bentuk jamak, (13) perbedaan dalam hal al-tahqiq

82
Majalah Majmaa al Lughah al Arabiyyah, (Damshiq: 1970), Jilid 45, hal 614, (Dalam
Nyif Mamud Marf, Khai al Arabiyyah wa ariqu Tadrsih, (Beirut: Dr al Nafis,
1998), hal 55
83
http://bokep-jogja.blogspot.com/2009_02_01_archive.html,diakses tgl 16-06-09
99

dan al-ikhtilas, (14) perbedaan dalam hal penyebutan ha (ta al-marbuah) menjadi
ta tanith, (15) perbedaan dalam hal ziaydah, dan (16) perbedaan dalam hal al-
tad (antonim kata).84
1. Perubahan harakat
Perbedaan harakat merupakan style lahjah yang ditemukan dalam bahasa
Arab, misalnya, kata nastan, yaitu huruf nun pada awal kata dibaca fathah, dan
kata nistan, yaitu huruf nun pada awal kata dibaca kasrah. Menurut al-Farra
bahwa nun dibaca fathah pada kata nastan hanya ditemukan pada bahasa
Quraisy, sedangkan nun dibaca kasrah pada kata nistan ditemukan pada bahasa
Asad.
2. Perbedaan harakat dan sukun
Perbedaan harakat dan sukun merupakan salah satu bentuk lahjah
ditemukan dalam berbagai bahasa Arab, misalnya kata maakum dan kata
makum. Kata maakum bentuk harakatnya fathah atau mutaharrik pada huruf
ain, sedangkan pada kata makum huruf ainnya berharakat sukun.
3. Perbedaan dalam hal pergantian huruf
Perbedaan dalam hal pergantian huruf dalam berbagai kata juga
merupakan bentuk lahjah Arab, misalnya kata anna zaidan dan anna zaidan.
Perbedaan kedua bentuk lahjah tersebut adalah perubahan alif pada kata anna
menjadi ain pada kata anna. Menurut penulis, perbedaan ini hanya disebabkan
oleh faktor fonetik saja, karena dari aspek semantic keduanya memiliki makna
yang dan maksud yang sama.
4. Perbedaan taqdim dan takhir huruf
Perbedaan taqdim dan takhir huruf dalam berbagai lahjah Arab juga
sering ditemukan dalam beberapa bentuk kata, misalnya kata iqah dan qiah.
Perbedaan kedua bentuk lahjah tersebut terdapat pada huruf kedua dan ketiga
setelah ziydah alif. Bentuk pertama pada kata iqah yang berasal dari susunan
fonetik -alit (zaidah)-ain-qaf-ta al- marbuah, huruf ain terlebih dahulu dari
pada huruf qaf, sedang pada kata qiah yang berasal dari susunan fonetik -

84
Ibnu Faris, al-ibi f Fiqh al-Lughah al-Arabiyah , hal. 50
100

alif(zaidah)-qaf-ain-ta al-marbuah, huruf qaf lebih didahulukan dari pada huruf


ain, tanpa terjadi adanya perubahan makna.
5. Perbedaan dalam hal hadhf dan ithbt
Perbedaan dalam hal al-hadhf dan al-ithbt dalam lahjah Arab merupakan
suatu hal yang biasa dan sering kita jumpai dalam berbagai bahasa yang terdapat
di semenanjung Arabiyah, misalnya, kata istahyaitu dan istahitu, dan kata isdadtu
dan adadtu. Pada kata istahaitu (hamzah-sin-ta-ha-ya-ta{dibaca tu}) telah
mengalami al-hadhf atau pembuangan satu huruf, yaitu huruf ya yang terletak
setelah ha dan sebelum ya yang kedua dari kata istahyaitu (hamzah-sin-ta-ha-ya-
ya-ta {dibaca tu}). Sedangkan pada kata isadtu (hamzah-ad-dal-dal-ta) dan
sadadtu (ad-dal-dal-ta) tidak mengalami pembuangan huruf yang sejenis seperti
yang terdapat pada kata istahaitu dan istahyaitu. Meskipun kedua example
tersebut mengalami al-hadhf maupun al-ithbt, namun tidak mengalami
perubahan makna secara khusus.
6. Perbedaan penggantian huruf a dengan huruf mutal
Perbedaan dalam hal penggantian huruf a dengan huruf mutal juga
masih ditemukan dalam berbagai lahjah Arab, misalnya, kata amma zaidun dan
kata aima zaidun. Kata amma merupakan salah satu bentuk proses idghm,85 yaitu
sautu proses akumulasi huruf sejenis, kemudian terjadi perubahan huruf a
(mim sukun pada kata a-m-m-a) menjadi huruf mutal ya, seperti yang terdapat
pada kata aima (a-i-m-a). Meskipun terjadi perubahan dan pergeseran huruf,
namun dari aspek maknawi tidak mengalami perubahan.
7. Perbedaan dalam hal qirah, imlah, dan tafkhim
Perbedaan dalam hal qirah, imlah, dan tafkhim merupakan salah satu
bentuk lahjah Arab, misalnya kata ram dan Qa. Kata ram merupakan
susunan fonetik Ra-Ma-A, dalam qiraat Warsh semua huruf ya yang terletak di
tengah kata atau diakhir kata diuabah menjadi e yang terkenal dengan istilah
qirah, imlah, sedangkan pada suku lain tidak ditemukan qirah, seperti itu dan

85
Dalam kaidah Ilmu Sharaf apabila terdapat dua huruf yang sejenis dalam satu kata
salah satu di antaranya berharakah dan satunya lagi berbaris sukun, maka wajib hukumnya
idgham.
101

tetap dibaca tafkhim. Sedangkan kata Qa dibaca sama dengan kata ram dan
kata-kata lain yang sejenis.
8. Perbedaan huruf sukun di depan
Perbedaan huruf sukun merupakan salah bentuk perbedaan lahjah Arab,
misalnya kata ishtarau al-allah dan ishtarai al- allah. Pada kedua kata
tersebut terdapat dua sukun, yaitu sukun yang melekat pada huruf waw dan sukun
yang melekata pada hurut alif (al-). Sebagaian suku Arabiyah membaca U
(ammah) dan lagi membaca I (kasrah).86
9. Perbedaan mudhakkar dan muannath
Dalam membedakan bentuk mudhakkar dan muannath bagi sebagian
orang Arab masih ada hingga saat ini, misalnya kata al-Baqar dan al-khail.
Sebagaian orang memandang bahwa kedua kata tersebut adalah mudhakkar,
sehingga pada tingkat aplikatif mereka menggunakan dalam pola kalimat seperti
al-Baqar hdha dan al-Khail hdhza. Namun sebagian orang orang Arab
menganggap bahwa kedua kata tersebut berbentuk muannath, seperti dalam
kalimat al-Baqar hdhihi dan al-Khail hdhihi.
10. Perbedaan Irab
Perbedaan Irab dalam berbagai lahjah Arab juga masih sering ditemukan,
misalnya dalam bentuk al-sya in. Pada tataran aplikatif shar in bisa menasab
dan bisa merafa, misalnya in hdhni (dirafa) dan in hdhaini (dinasab).87
Dalam Lisn al-Arab dikatakan bahwa, jika ditathniyakan lafaz dhni, maka
tidak boleh digabungkan keduanya karena adanya sukun. Oleh karena itu, salah
satu alifnya dibuang sehingga bisa diirabkan. Namun, jika salah satu alifnya
tidak dibuang, maka alif tersebut tidak punya tempat dalam irab, misalnya dalam
kalimat in hdhni lashirni dan in hdhaini lashirni.

86
Sejauh ini penulis belum mendapatkan informasi yang autentik suku mana saja yang
membaca ommah dan yang membaca kasrah, namun penulis berkesimpulan bahwa lahjah ada
dan masih dipakai di beberapa suku Arabiyah. Selain itu, perbedaan ini hanya berlaku pada aspek
bahasa tutur dan tidak merambah serta merusak wilayah bahasa tulis.
87
Dalam ilmu Nahwu bahwa isim Isharah dirafa dengan alif dan dinasab dan dijer
dengan ya. Untuk lebih mengetahui kaidah ini, silahkan baca buku-buku nahwu, baik yang klasik
maupun yang modern.
102

11. Perbedaan dalam bentuk jamak


Perbedaan bentuk jamak dalam beberapa dialek Arab juga masih sering
ditemukan, misalnya kata Asr dan asr. Kata asr, yaitu susunan fonetik
hamzah-sin-ra-ya berbeda dengan kata asara, yaitu susunan fonetik hamzah-sin-
alif-ra-ya. Perbedaan di antara kedua kata tersebut adalah kata asr mendapat
ziydah alif di tengah kata, sedangkan pada kata asr tidak ditemukan alif.
Perbedaan seperti ini banyak ditemukan diberbagai dialek Arab, hanya saja sejauh
ini penulis belum menemukan referensi yang autentik tentang hal ini.
12. Perbedaan dalam hal al-tahqiq dan al-ikhtila
Perbedaan dalam hal al-tahqiq dan al-ikhtila bagi beberapa dialek Arab
merupakan suatu hal yang lazim ditemukan, misalnya dalam konteks kalimat88
yamurukum dan yamurkum. Kedua kalimat tersebut sama-sama berbentuk
muri, namun yang membedakan keduanya adalah faktor tahqiq artinya tidak
mengalami perubahan harakat pada bentuk rafanya, sedangkan dalam dialek lain
melakukan ikhtila artinya harakah ammah pada muri tersebut dihilangkan
dan diganti dengan sukun.
13. Perbedaan dalam hal penyebutan ha (ta al-marbuah) menjadi ta tanith
Perbedaan dalam hal penyebutan ha (ta al- marbuah) menjadi ta tanith
masih merupakan bentuk perbedaan warna dialek Arab khususnya dalam hal
waqaf, misalnya kata ummah. Kata ummah merupakan susunan artikulasi bunyi
Hamzah-Mim Mushaddad-ta al-marbuah, yang kemudian dibaca ummat yang
merupakan susunan artikulasi bunyi Hamzah-Mim Mushaddad-Ta Tanith
Sakinah dalam dialek Arab lainnya.
Sedangkan ragam kronolek adalah ragam bahasa yang digunakan oleh
kelompok sosial pada masa tertentu. Secara kronolek bahasa Arab terbagi atas tiga
zaman, yaitu, masa sebelum datangnya Islam, pada Islam, dan masa modern.

88
Dalam tata bahasa Arab dikatakan bahwa kalimat terbagi dua, yaitu jumla ismiya dan
jumlah filiyah. Kata yamurukum masuk dalam kategori jumlah filiyah, karena didahului oleh
kata kerja. Sebagai wujud konkritnya adalah bahwa dalam kalimat tersebut sudah termamum di
dalamnya fiil atau verba (pada yamuru), fail atau subjek (omir ya mukhtab mudhakkar), dan
mafl bih atau objek (pada omir kum).
103

Sebelum datangnya Islam, orang-orang Arab umumnya menggunakan dialek


Badui Kuno, yaitu dialek Hijaz, Tamim, Huzail, dan Thai.
Menurut Sibawaih, bahasa Arab Fu di dalam alunan syair Jahiliyah dan
qirah al-Quran yang shahih tidaklah sama secara langsung dengan salah satu
dialek Badui di atas. Dalam hal ini terjadi perbedaan-perbedaan antara bahasa
Fu dan dialek Hijaz dan dialek Tamim. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari
pada atau tidaknya imlah, maka dialek Hijaz Kuno tidak mengenal imlah dan
fathah dibaca sempurna. Demikian pula halnya dengan dialek Hijaz Kuno tidak
mengenal vocalic harmoni (al-tawafuq al-haraky). sedangkan menurut Fam
ijz bahwa dialek Tamim adanya hamzah, sedangkan dialek Hijaz tidak
mengenal hamzah. Oleh karena itu, Bahasa Arab Hijaz inilah yang dipakai dalam
bahasa Arab Modern, sedangkan dialek Tamim sama dengan bahasa Arab Fu
.89
Banyak hal yang dapat mempengaruhi terjadinya perbedaan ragam dialek
Arab. Namun, yang paling dominan pengaruhnya ada empat, yaitu; pertama,
faktor sosial politik, kedua, faktor psikososial dan sosial, ketiga, faktor geografis,
dan yang keempat, faktor fisiologis. Keempat faktor dominan tersebut dapat
dilihat pada uraian singkat dan sederhana pada bagian berikut.
1. Faktor Sosial Politik90
Luasnya wilayah pemerintahan dan banyaknya penduduk yang mendiami
suatu Negara, mengakibatkan sulitnya pemerintah untuk menyatukan
masyarakatnya, baik dalam bentuk pemikiran maupun bahasanya.
Selain itu, Terjadinya peperangan mempertemukan antara bahasa orang
yang memerangi dan yang diperangi. Hasilnya adalah, terhapusnya salah satu
bahasa secara mengakar atau penggabungan diantara keduanya. Bangsa Arab

89
Mamd Fam Hijz, al-Lughah al-Arabiyah, hal. 40
90
Pada zaman kerajaan Usmani penggunaan bahasa Arab mengalami hambatan dalam
penggunaan sebagai bahasa pemerintah tetapi tetap dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana digambarkan Clive Holes yaitu bahwa pengaruh keadaan politik terlihat pada peran
bangsa Turki secara linguistic dan cultural, bahasa Turki menjadi bahasa pemerintahan pada area
yang menggunakan bahasa Arab pada kerajaan Usmani, tetapi tidak ada keinginan untuk merubah
bahasa Arab sebagai bahasa Islam, dampak pengaruh bahasa Turki terhadap bahasa Arab terlihat
pada peminjaman kata. Clive Holes, Modern Arabic Stuctures, Functions and Vareties, (London
and New York: Longman Linguistic Librari, 1995), h. 278.
104

telah berperang ke banyak negri yang secara tidak langsung juga memerangi
bahasa penduduknya seperti bahasa penduduk Iraq, Syam, Mesir, Maroko dan
sebagian bahasa penduduk bangsa jajahan lainnya. Dan banyak lagi bangsa yang
melakukan hal sama seperti yang dilakukan bangsa Arab. Terbentuknya dialek
akibat sebuah peperangan ditentukan dua kondisi, yaitu perang kecil dan perang
besar.
Perang Kecil yaitu peperangan dengan jumlah anggota yang sedikit, ketika
memenangkan ekspansi dapat terpengaruh dengan bahasa penduduk asli yang
jumlahnya lebih banyak. Dan terkadang bangsa yang terjajah seringkali
terpengaruh oleh mereka yang menjajah khususnya pada kalimat-kalimat yang
terkait dengan undang-undang, peraturan ketentaraan seperti yang terjadi antara
bangsa Inggris terhadap Prancis.
Perang Besar yaitu peperangan yang dilakukan oleh pasukan yang sangat
banyak dan diikuti oleh gelombang pindahnya penduduk yang memenangkan ke
wilayah jajahan. Dimana sang penguasa dapat memaksakan penggunaan
bahasanya di seluruh sektor kehidupan.91
2. Faktor Psikososial dan Sosial
Menurut Chr. Dawson yang dikutip Sidi Gazalba bahwa kebudayaan itu
dapat dipengaruhi oleh empat hal, yaitu alam, ekonomi, keturunan dan kejiwaan92.
Oleh karena itu karakteristik bahasa sebagai bagian dari kebudayaan akan terus
dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.
Sedangkan menurut Fat Ali Ynus bahwa karakteristik bahasa sebagai
fenomena sosial yang memproduksi kebudayaan. Karakteristik ini akan lebih jelas
jika dirujuk dengan aspek lingkungan alam, struktur sosial, sistem kekerabatan,
nilai atau norma budaya, perubahan sosial, dan perubahan leksikografi. 93
Dalam kehidupan masyarakat secara inhern tentu memiliki adat istiadat,
budaya, pemikiran, dan rasa yang berbeda-beda. Masyarakat Arab Mesir tentu

91
Ibrhm Ans, F al Lahjh alArabiyah, hal. 21-24
92
Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, (Jakarta: Pustaka Antara, 1968),
hal. 77
93
Fat Ali Ynus, Muammad Abd. al-Rauf al-Shaikh, al-MarjaF al-Talm al-
lughah al-Arabiyyah Li al-Ajnib, hal. 126
105

memiliki kebiasaan-kebiasan dan warna budaya yang berbeda dengan masyarakat


Arab Yaman, Saudi, Iran, Irak, Oman, dan sebagainya. Oleh karena, dapat
dipastikan bahwa faktor psikososial sangat menentukan perbedaan lahjah.
Perbedaan seperti ini menjadikan aneka ragam dialek Arab semakin menarik dan
menantang untuk diteliti.
Perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di wilayah tertentu akan
mempengaruhi karakteristik bahasa yang digunakan. Pada bagian awal telah
dijelaskan bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya, maka dalam pendekatan
sosiolinguistik, perubahan budaya ini secara langsung akan mempengaruhi
penggunaan bahasa, dan di sisi lain perubahan yang terjadi pada bahasa
merupakan respon bagi perubahan sosial budaya itu. Setelah revolusi Mesir tahun
1952 dan setelah masa kemerdekaan bangsa-bangsa arab dari kolonialisme,
bahasa Arab mengalami perubahan yang diakibatkan perubahan sosial tersebut.
3. Faktor Geografis
Faktor lain yang memberi kontribusi besar munculnya ragam lahjah
Arabiyah adalah letak geografis suatu daerah. Masyarakat yang tinggal menetap di
daerah pesisir akan berbeda karakteristik, budaya dan bahasanya dengan
masyarakat yang tinggal menetap di daerah pedalaman. Bagi masyarakat yang
tinggal di daerah pesisir, mereka akan dibentuk oleh alam yang panas dan
dikunjungi beberapa komunitas masyarakat lain, sehingga dengan iklim yang
panas tersebut membuat cara mereka berkomunikasi terkesan panas pula. Namun,
bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman, mereka akan dibentuk oleh
suasana suasana alam yang sejuk, tenang, dan damai, sehingga cara
berkomunikasi mereka juga terkesan sopan, santun, dan beradab. Itulah sebabnya
sehingga masyarakat Barah dan masyarakat Kfah memiliki, dialek, bahasa, dan
cara berfikir yang berbeda.94

94
Untuk mengetahui bentuk perbedaan ulama Kfah dan Barah, baca Kamluddn Ab
al-Barakt Al-Anbr, al-Inf f Mas`il al-Khilf Baina an-Nahwiyyn al-Bariyyn wa al-
Kfiyyn, Beirut: Dr al-Kutub, 1998, Cet. I.
106

4. Fisiologis
Perbedaan pisik seseorang dapat memungkinkan terjadinya perbedaan
dalam berbahasa. Secara teoritis, setiap person pasti memiliki lidah dan ruang
makhrij al-huruf yang berbeda-beda. Si Anti misalnya, tidak bisa mengucapkan
huruf-huruf tertentu seperti huruf qaf, sedangkan si Anto mampu dengan santai
dan mudah melafalkan huruf-huruf tersebut.
Pada tataran lahjah perbedaan secara fisiologis ini juga merupakan faktor
dominant yang mempengaruhi perbedaan lahjah Arabiyah, baik secara personal
maupun sosiokultural. Kata qahwah, bagi orang Mesir bibaca gahwah (qaf dibaca
ga), sedangkan orang Arab Saudi membaca ahwah (qaf dibaca hamzah).
Sedangkan menurut Abdul Ghaffr mid al-Halll mengatakan bahwa
perbedaan dialek Arab terjadi karena beberapa faktor utama, diantaranya;
pertama, faktor perbedaan keadaan georafis atau iklim wilayah dimana mereka
berada; kedua, faktor pengaruh hubungan sosial di antara mereka; ketiga, faktor
pembauran dengan bengan budaya lain; dan keempat, faktor kedekatan wilayah
Arab dengan wilayah non Arab. Keempat faktor tersebut menjadi sumber utama
munculnya ragam dialek Arab, terlepas dari faktor fisiologisnya
Adapun menurut Ali Abdul Wid Wf faktor ekternal yang sangat
mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sosialisasi dialek-dialek itu adalah
pertama, faktor sosial politik dimana luasnya pemerintahan, tempat yang tersebar,
serta beragamnya sukubangsa yang mengakibatkan lemahnya kontrol
pemerintahan pusat dalam mempersatukan beragam bahasa dari setiap
masyarakat. Kedua, faktor phisikososial, yaitu adanya adat dan tradisi serta ritual
yang beragam yang melahirkan ungkapan eksperisi yang bervariasi pula. Ketiga,
faktor geografis yakni perbedaan iklim, letak alam, suatu daerah yang dipisahkan
oleh gunung, bukit, sungai dan laut yang secara lambat maupun cepat akan
berpengaruh pada varian bahasa yang beragam. Keempat, faktor etnis, yang
ditandai dengan adanya perbedaan jenis dan ras suku. Kelima, faktor fisiologis,
yang ditandai dengan adanya perbedaan karakter alat ucap setiap manusia. 95

95
Ali Abdul Wid Wf, al-Lughah wa al-Mujtama, (Kairo: Dr Nahah Mir,
Tp.Th), hal. 159-160
107

Dengan demikian, jelaslah bahwa faktor munculnya dialek-dialek bahasa Arab


adalah sesuatu yang tidak dapat dielekkan seiring dengan bergulirnya zaman yang
semua akan memperkaya kosa kata bahasa apapun di dunia ini.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa itu bervariasi
dan beragam yang disebabkan oleh keragaman sosial-budaya masyarakat
penuturnya dan keragaman fungsi dari bahasa tersebut. Dari berbagai konsep
tentang diglosia jelaslah bahwa kebahasaan yang terjadi pada bahasa Arab
merupakan situasi kebahasaan yang diglosis yaitu adanya ragam H sebagai bahasa
tulis yang digunakan dalam situasi-situasi resmi dan variasi ini harus dipelajari
melalui pendidikan formal disekolah-sekolah. Sedangkan ragam L sebagai bahasa
percakapan yang digunakan pada situasi non formal. Variasi ini dipelajari secara
langsung dalam masyarakat umum dan tidak pernah dipelajari dalam pendidikan
formal.

F. PERAN BAHASA ARAB


Bahasa Arab adalah suatu alat komunikasi. Manusia sejak lahir berusaha
untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungannya. Dari itu lahirlah bahasa
masyarakat tertentu dengan tanpa harus bermusyawarah terlebih dahulu. Karena
setiap masyarakat melahirkan bahasa untuk berkomunikasi. Maka terjadilah
bahasa-bahasa yang beraneka ragam sesuai dengan taraf masyarakat dimana
bahasa itu lahir.96
Dalam memainkan perannya bahasa Arab secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian : pertama, perannya dalam agama dalam hal
itu dimulai sejak Muammad diangkat menjadi rasul, sedang yang kedua, bahasa
Arab ikut andil dalam ilmu pengetahuan dalam bebagai bidang kehidupan seperti
bidang agama, filsafat, budaya, kedokteran, dan lainnya, dan bani Umayah di
Andalusia (Spanyol). Ketiga, peranan bahasa Arab dalam pergaulan Internasional.
Berikut ini peranan bahasa Arab sejak Islam belum lahir hingga masa modern ini.

96
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka
Al-Husna, 2004), hal. 19
108

a. Peran bahasa Arab sebelum Islam lahir


Sebelum abad ke-7 masehi bahasa Arab secara pre-dominan merupakan
bahasa lisan. Sejarah-sejarah riwayat hidup dan puisi-puisi dihafal dan
ditrasmisikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seperti peran
pasar Ukadh97 yang mempunyai fungsi selain tempat jual beli, tetapi juga
merupakan tempat berkumpul untuk berlomba dalam kefasihan berbahasa dan
merupakan gelanggang bersyair dan bersastra. Dipasar tersebut para orator dan
penyair berlomba dengan bahasa sastra yang tinggi untuk wilayah Jazirah Arab. 98
Barang siapa syairnya terpilih baik, maka syair itu dituliskan dengan tinta emas
dan digantungkan di Ka;bah, pengarangnya ternama dihormati orang, diatara
mereka adalah Imraul Qais, Terfa, Amr ibnu Kultsum, Zuhair, Harits, Antarah dan
Labid.99 Syair-syair mereka itu dinamakan Muallaqat100 yang digantungkan.
Yang menjadi sasaran gubahan-gubahan syair mereka adalah padang pasir,
tempat-tempat bersejarah, memuji kecantikan kuda, unta seseorang, kehidupan
kabilah gurun pasir, kegagahan suatu kaun, jalan penyerangan dan rampasan rindu
dendam, memuji pahlawan, pengorbanan, sabar, lurus hati, menepati janji dan
lain-lainnya. Para penyair sebelum Islam disebut dengan Syuar al- Jahiliyah.
Sedangkan orang-orang yang lahir sebelum agama Islam kemudian menjadi
muslim dinamakan Mukhazar Amin, diataranya seperti Hasan Ibmu Thabit dan
Labid.101 Beberapa usaha pernah muncul untuk mengadopsi berbagai catatan dan
tulisan orang-orang dahulu kala ke dalam bahasa Arab tetapi usaha tersebut tak

97
Ukaz adalah sebuah tempat di daerah Thaif dan termasuk bagian wilayah Hijaz yang
berada di sebelah Tenggara Mekkah. Pada masa jahiliyah pra Islam setiap tahunnya di
selenggarakan pekan raya yang dimulai pada hari pertama Zulqoidah. Para penyair padang pasir
mengunjungi pekan raya ini dan mereka membawa karya syair masing-masing yang
menggambarkan kejayaan masa lalu mereka sehingga pekan raya ini sering disebut al-ayyam al-
Arab (masa kejayaan bangsa Arab). Pekan raya ini berlangsung sampai beberapa minggu dan ini
merupakan perayaan besar di mana warga Jazirah Arabia yang bertebaran di beberapa penjuru
berbondong-bondong mengunjunginya. Cril Glasse diterjemahkan oleh Ghufran A. Masadi,
Ensiklopedi Islam Klasik, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1999), Cet. Ke-2, hal. 417
98
Muammad Sirhn, Fiqh al-Lughah, hal. 41
99
Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 487
100
Muallaqah adalah kumpulan syair pra Islam yang terpilih sebagai syair terbaik pada
pekan raya tahunan di Mina dan Ukaz yang ditulis denfan tinta warna emas dan sebagai
penghormatan terhadapnya, maka ia digantungkan pada dinding Kabah. Sejumlah syair tersebut
masih dapat ditemukan pada zaman modern ini. Cril Glasse diterjemahkan oleh Ghufran A.
Masadi, Ensiklopedi Islam Klasik, hal. 275
101
Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, hal. 417
109

pernah terealisir hingga abad ke-8 dan lahirnya agama Islam. Tetapi meskipun ada
temuan sekelumit kecil fakta tentang bahasa Arab tertulis berupa inskripsi lainnya
yang dibuat kurang lebih 200 tahun kemudian, tetapi catatan penting akan bahasa
Arab tertulis muncul bersamaan dengan lahirnya agama Islam pada abad ke-7.102
b. Peranan bahasa Arab setelah Islam lahir
Dengan datangnya Islam, maka pproses penyatuan bahas Arab mempunyai
pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan dan mental bahasa Arab, karena
al-Quran dianggap sebagai contoh bahasa Arab yang paling sempurna, sehingga
para penulis selalu berusaha untuk meniru gaya dan susunannya. Bahkan setelah
mereka mempelajari dengan seksama, ternyata ia mempunyai jangkauan
pemikiran yang dalam yang membuat mereka harus lebih giat lagi dalam
menekuni dan mendalami al-Quran. Hadits nabi yang berdialek Quraisy adalah
sebagai sumber kedua dari ajaran Islam dan merupakan faktor yang penting dalam
menyatukan bahasa Arab. Dengan demikian kedua sumber ajaran Islam itu ditulis
dengan bahasa Arab.103
Karena sebagai sumber pokok pada masa nabi adalah al-Quran dan al-
Hadith dan keduanya bermedium bahasa Arab maka bahasa Arab berfungsi
sebagai bahasa agama. Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab itu berfungsi
sebagai petunjuk bagi umat manusia dan sebagai mujizat bagi Rasulullah SAW.
Al-Quran dan Hadits merupakan pedoman bagi umat Islam yang disampaikan
oleh nabi Muhammad SAW menggunakan bahasa Arab sebagai paraturan dan
petunjuk bagi umat Islam. Jadi bahasa al-Quran telah menjadi darah daging dan
keyakinan pribadi muslim suatu keyakinan yang tak dapat dipisahkan dari hakekat
wujudnya Islam. Bahasa Arab menjadi kokoh, karena al-Quran diturunkan
berbahasa Arab. Bahasa Arab berfungsi sebagai bahasa agama yang tertuang
seperti dalam pelaksanaan sholat, doa-doa dan lain sebagainya.104 Pentingnya
bahasa Arab ini sebagai bahasa agama juga terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin

102
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2003), hal. 3
103
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, hal. 23
104
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, hal. 27-29
110

dan bani Umayyah awal, karena Islam pada masa tersebut sedang memfokuskan
untuk penyebarannya ke daerah lain agar Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia.
c. Peranan bahasa Arab pada masa kekhalifahan bani Abbasiyah
Pada masa ini bahasa Arab mempunyai andil yang sangat besar dalam
meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di seluruh dunia
Islam. Pada masa ini dikenal dengan abad terjemah yaitu dilakukan
penterjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani kedalam bahasa
Arab. Kegiatan itu sangat tepat sekali karena usaha-usaha itu bangkit di saat
bangsa Eropa dalam kegelapan, kemudian umat Islam telah dapat memelihara dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat.105 Kegiatan terjemah pada masa
itu dapat dibagi kepada beberapa fase yaitu:
1. Fase pertama dimulai dari zaman khalifah al-Mansur sampai akhir khalifah
Harun al-Rasyid (136-193 H), para penterjemah yang terkenal adalah al-
Muqoffa, Jirjis bin Jabrail dan Yohana bin Batriq. Pada fase ini buku-buku
Aristoteles yang telah diterjemahkan antara lain ilmu mantiq dan buku Magisty
tentang falak. Disamping itu buku kesusastraan Persia yaitu Kalilah dan Daminah.
Selain itu adalah buku-buku kedokteran sehingga pada masa al-Mansur didirikan
rumah skit umum yang digabungkan dengan sekolah tinggi kedokteran di Yundhe
Shahpur. Seorang dokter Yuhanna ibni Masawyh (wafat 537 M) dapat
menyiapkan buku-buku kedokteran dalan bahasa Arab. Turunan-turunan dokter
ini di masa pemerintahan Harun al-Rasyid tetap melakukan pekerjaan
kedokteran.106
2. Fase kedua dimulai pada masa khalifah al-Mamun ( 198-300 H). Diantara
penterjemah yang terkenal adalah Yohanna, Yahya Batriq, Hajjaj bin Yusuf
Qostho al-Balaki abd Masih, Husain bin Ishaq bin Hunain, Zabit bin Qarrah dan
lainnya. Fase ini buku-buku filsafat sudah banyak diterjemahkan dari pada buku-
buku kedokteran seperti fisafat Aristoteles, buku-buku karangan Socrates dan
Jalinus serta buku-buku politik karangan Plato.

105
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, hal. 33
106
Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, hal.73-74
111

3. Fase ketiga yaitu zaman sesudah khalifah al-mamun. Penterjemah yang


terkenal ialah Matta bin Yunis (Baghdad 320 H), Yahya bin Adi dan Ibnu
Zuhrah. Pada fase ini boleh dikatakan bahwa kaum muslimin telah
menterjemahkan hampir seluruh ilmu pengetahuan filsafat, sastra yang dikenal
orang pada waktu itu.
Ada beberapa faktor yang mendorong kegiatan penterjemahan tersebut
pada masa Abbasiyah adalah sebagai berikut : a) Keadaan pemerintah Abbasiyah
yang sudah stabil dan kuat terutama pada zaman khalifah Harun al-Rasyid dan al-
Mamun. b) Karena perkembangan cara berpikir sehingga mereka merasa perlu
untuk mempelajari ilmu mantiq dan filsafat Yunani. 3) Khalifah Abbasiyah
banyak yang simpati terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat. Sehingga hal ini
dapat mempermudah terlaksananya karya-karya penterjemahan.
Masa khalifah Abbasiyah yang sangat memperhatikan penterjemahan
dapat mengubah kedudukan dan peranan bahasa Arab dari hanya merupakan
bahasa puisi (pada masa pra Islam) dan bahasa agama (pada masa nabi) dan
menjadi bahasa ilmu pengetahuan pada abad ke-10. Peranan bahasa Arab pada
masa bani Abbasiyah tersebut yang telah banyak menyimpan khazanah ilmiah,
menyelamatkan semua cabang ilmu pengetahuan yang bagi umat Kristen ilmu
pengetahuan dan filsafat Yunani dianggap berbahaya khususnya karya-karya
Aristoteles. Maka umat Islam sudah mulai menggunakan akal dalam memahami
ajaran agamanya dalam waktu kurang dari 100 tahun untuk kepentingan yang
serupa.107 Pada saat yang bersamaan selain bahasa Arab mengalami
perkembangan yang pesat di negeri Timur, di negeri barat dan Afrika juga
berkembang sangat pesat yaitu di Mesir yang dimotori kekhalifahan bani
Fatimiyah dan di Andalusia yang dimotori kekhalifahan bani Umayah. Meskipun
ketiganya juga terjadi persaingan ideologi dan pengaruh kekuasaan yang mana
masing-masing ingin menanamkan pengaruhnya dan wilayahnya. Jadi pada masa
khilafah Islamiyah bahasa Arab menjadi bahasa resmi untuk kepentingan agama,
budaya, administrasi, ilmu pengetahuan, sehingga kebanggaan mereka terhadap
bahasa Arab menyebabkan mereka bersikap inferior terhadap bahasa-bahasa

107
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, hal. 33-35
112

Yunani, Persia, Koptik dan Syiria yang merupakan bahasa ibu bagi penduduk di
berbagai wilayah pembebasan itu.108 Dengan dmikian bahasa Arab telah menjadi
Lingua Franca bagi para penutur berbagai bahasa itu. Al-Iskandary menuturkan
bahwa bahasa Arab telah menjadi alat ekspresi budaya bagi penduduk Andalusia.
Mereka berbicara, menulis surat pribadi bahkan mengarang syair dengan bahasa
Arab. Versteegh menggambarkan betapa antusiasnya penduduk wilayah Persia
kepada bahasa Arab. Mereka bangga bisa berbahasa Arab dan merasa rendah diri
berbicara dengan bahasa Persia. Versteegh juga menambahkan bahwa dari
penutur asli bahasa Persia itu lahir beberapa ahli tata bahasa Arab yang
termasyhur antara lain Sibawaih dari aliran Barah dan Ab Ali al-Fris dari
aliran Baghdad.109 Sibawaih yang hidup pada masa khalifah al-Mansur dan para
linguis yang lain giat melakukan riset dan penelitian lalu menyusun ketentuan-
ketentuannya dan merumuskannya sehingga menghasilkan tata bahasa yang
sampai sekarang menjadi karya monumental.110
Sedangkan Ketika Islam menaklukkan Andalusia, bahasa Arab dipelajari
oleh berbagai kelompok penduduk dan lapisan sosial sehingga menggeser paran
bahasa lokal dan menebus batas-batas keagamaan. Kemenangan bahasa Arab atas
bahasa penduduk asli menurut Philip K. Hitti di dahului oleh kemenangan bangsa
Arab dalam bidang kemiliteran, politik, dan keagamaan. Sebelum menjadi bahasa
pergaulan sehari-hari bahasa terlebih dahulu mencapai kemenangan sebagai
bahasa ilmu pengetahuan.111
Dozy sebagaimana dikutip oleh Syalabi mengemukakan bahwa orang
spanyol telah meninggalkan bahasa latin dan melupakannya. Seorang pendeta di
Cordova mengeluh karena di kalangan mereka hampir tidak ada yang mampu
membaca kitab suci yang berbahasa latin, bahkan setiap cendekiawan muda hanya
mengetahui dan memahami bahasa Arab. Sehingga pada permulaan abad ke IX M
bahasa Arab sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Diantara tokoh yang

108
Ahmad Fuad Efendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005),
hal. 19
109
Ahmad Fuad Efendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, hal. 20
110
Joesoef Souaib, Sejarah Daulah Abbasiyah I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal. 71
111
Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari masa Klasik hingga Modern,
(Malang: LESFI, 2002), hal. 105
113

berperan dalam mengembangkan bahasa Arab di Andalusia adalah Ali al-Qali dan
Ibnu al-Quthiyah Abu Bakar Muhammad ibnu Umar.112
d. Peranan bahasa Arab pada masa Modern
Masa modern ini, bahasa Arab mempunyai kedudukan tinggi yang sangat
istimewa yaitu selain sebagai bahasa agama, bahasa ilmu pengetahuan juga
sebagai bahasa internasional. Menurut Ghozzawi dalam bukunya yang berjudul
The Arabic Language terbitan tahun 1992, bahwa bahasa Arab digunakan secara
resmi oleh kurang kebuh dari 20 negara dan dituturkan oleh lebuh dari
200.000.000 umat manusia. Bahasa Arab adalah bahasa kirab suci dan tuntunan
umat Islam se-dunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar
signifikansinya bagi ratusan juta muslim sedunia baik yang berbangsa Arab
maupun non Arab.113
Sebagai media komunikasi oleh umat muslim maupun non muslim di
seluruh dunia, baik dalam bidang perdagangan, tekhnologi maupun pendidikan
seperti dalam studi-studi di Barat, maka hal itu merupakan salah satu ciri
keinternasionalannya. Bahkan di Amarika misalnya hampir tidak ada suatu
perguruan tinggi yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata
kuliah termasuk perguruan tinggi Katolik maupun Kristen. Sebagai contoh,
Harvard University, sebuah perguruan tinggi yang paling terpandang di dunia
yang di didirikan oleh para alim ulama Protestan, dan Georgetown University,
sebuah universitas swasta Khatolik, keduanya mempunyai pusat studi Arab yang
kurang lebih merupakan Center For Contemporery Arab Studies.114
Sebagaimana terlihat dalam laporan suatu lembaga semi pemerintahan di Amerika
Serikat yang mengawasi dan mensponsori kepentingan penelitian di Timur
Tengah sebagai berikut :
Kontribusi keadaan kajian-kajian bahasa Arab di Amerika Serikat
sekarang adalah yang mencanangkan bahwa pengetahuan mengenai bahasa-
bahasa asing (terutama bahasa Arab) tidak lagi menjadi satu-satunya wilayah

112
Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari masa Klasik hingga Modern, hal.
106
113
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, hal 1
114
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, hal 1
114

para cendekiawan humanika saja, akan tetapi lebih merupakan milik dan sarana
kerja bagi para insinyur, ekonom, ilmuwan sosial dan banyak spesialis lainnya.
Keseluruhan laporan ini menekankan pentingnya bahasa Arab bagi para pemimpin
perusahaan minyak teknisi-teknisinya dan para personalia militer.115
Laporan ini membuktikan bahwa kepentingan bahasa Arab bukan hanya di
pergaulan dunia Islam dan dunia Arab saja, atau bahkan hanya bahasa agama dan
kebudayaan saja tetapi juga sebagai bahasa pergaulan internasional. 116 Bahasa
Arab adalah bahasa yang dapat digunakan di lingkungan pendidikan, sosial,
politik, ekonomi dan sebagainya. Dengan demikian bahasa Arab semakin penting
bagi negara-negara sahabat, maka dari itu ia selalu dipelajari dan dikaji di
Indonesia, baik melalui jalur formal seperti sekolah-sekolah dan perguruan tinggi
baik negeri maupun swasta maupun melalui jalur non-formal yaitu melalui media
cetak maupun elektronik, pendidikan keluarga, masyarakat dalam bahasa lisan
maupun tulisan.
Bahasa Arab adalah semakin menarik dipelajari bukan hanya dorongan
keagamaan semata, tetapi juga dari berbagai motif dan yang melatar belakangi
mereka. Ada yang didorong karena hubungan perdagangan, pendidikan, polotik,
pariwisata dan lain-lain. Terlebih lagi bagi mereka yang ingin bekerja di Timur
Tengah mereka berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab
terutama bahasa komunikasi sehari-hari. Mereka berusaha dengan jalan kursus,
mendengarkan radio, memutar kaset dan sebagainya. 117
Dengan demikian, jelaslah bahwa bahasa Arab mempunyai peranan yang
amat penting dalam pergaulan dewasa ini telah memasuki dunia globalisasi
informasi dan komunikasi. Dari itu nampak kepentingan mempelajari bahasa Arab
bukan saja karena kepentingan keagamaan saja, maka bahasa Arab standar adalah
menjadi alat komunikasi antar bangsa-bangsa Arab yang telah telah terbagi
menjadi beberapa negara.

115
Edward W. Said, Orientalism, (New York : Vintege Books, 1979), hal 22
116
Muammad Ismil Sinn, dkk, Al-Arabiyah li an- Nshiin, (al-Mamlakah al-
Arabiyah as-Sudiyah: Wizra al- maarif Idrah al Kutub al-Madrasah, 1983), hal 1
117
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, hal. 40
115

Adapun kaitannya dengan situasi diglosia jelaslah bahwa bahasa Arab


fu atau bahasa Arab standar mempunyai fungsi dan peran yang berbeda
dengan bahasa Arab miyah serta memiliki prestise yang lebih bergengsi,
superior, terpandang dan logis. Karena masalah prestise dan sebagainya, maka
tidak heran jika variasi T (bahasa Arab fu) lebih diutamakan dan digunakan
dalam pemakaian bahasa yang benar didalam situasi formal.
BAB IV

RAGAM BAHASA PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

Bahasa Arab miyah merupakan bahasa Arab fu yang sudah


mengalami perubahan dari segi bentuk dan gramarnya yang disebabkan dua faktor
yaitu diantaranya faktor strata sosial dan budaya. Meskipun bahasa miyah
tampak berbeda jauh dengan bahasa Arab fu namun sebagian akarnya masih
dapat ditelusuri hingga sampai khazanah lahjah bangsa Arab itu sendiri yang
terdiri dari berbagai suku sedangkan sebagian yang lain tak dapat ditelusuri akibat
perkembangan bahasa itu sendiri yang mengikuti denyut nadi peradaban manusia.
Pada bab ini diuraikan tentang diglosia yang merupakan problematika
dalam masyarakat Arab adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan dikarenakan
berimplikasi adanya faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor sosial-budaya.
A. KONTRIBUSI DIALEK TAMIM TERHADAP BAHASA ARAB
FU
Dalam sejarah perkembangan bahasa Arab menunjukkan bahwa bahasa
arab itu terdiri dari dialek yang beragam, berdasarkan peta dialek dapat diketahui
bahwa bahasa Arab terbagi dua yaitu bahasa Arab selatan dan bahasa Arab utara.
Bahasa Arab Utara dipilah menjadi dua kategori yaitu bahasa Arab
bidah1 dan bahasa Arab bqiyah. Bahasa Arab bqiyah terbagi atas dua dialek
besar yaitu dialek Hijaz barat yang kemudian dinamakan dialek Quraisy, dan
dialek Timur yang kemudian disebut dialek Tamim.2
Dialek Tamim yang memiliki kedekatan dengan dialek Quraisy juga
banyak digunakan oleh orang Arab selain suku Tamim dan banyak kaidah-kaidah

1
Bahasa Arab Bidah ialah bahasa Arab yang telah punah dan hanya dapat diketahui
melalui penemuan-penemuan ukiran atau pahatan saja. Seperti yang ditemukan di daerah-daerah
yang terletak dibagian Utara dan Selatan Hijaz, yaitu diantara Hajar dan Taima dan juga daerah
saba dan sekitarnya. Terdapat beberapa dialek yang hanya dapat dikenal pasti melalui cerita dari
kitab-kitab lama seperti dialek Thamud, Layan dan afwah. Sehingga ada yang mengatakannya
sebagai bahasa Arab prasasti. Diantara suku-suku tersebut yang terpenting adalah kaum Ad di
selatan Jazirah Arab, kaum Thamud di daerah Hajar antara Hijaz dan Palestina, kaum Ubail di
Yatsrib, kaum Amaqil di Mekkah, Yathrib, Najd, Bahrein, Palestina dan Irak, kaum Jurhum dan
Wabar diantara Oman dan al-Ahqaf. Lihat Amir Sayyid al-SamiraI, Ar f al- Arabiyyah,
(Baghdad: Mabaah al-Irshad, 1962), hal. 41 dan lihat juga ub li, Dirsah f Fiqh al-
Lughah, hal. 55
2
ub li, Dirsh f Fiqh Lughah, (Beirut: Dr al-ilmi lil Malayin, 1960), hal. 54

116
117

Tamim yang lebih kuat dari beberapa kaidah Quraisy, para ahli bahasa Arab
bahkan sampai memberi kesimpulan bahwa banyak diantara mufradat dialek
Tamim dan susunannya yang dituturkan oleh kebanyakan orang-orang Arab, 3 jadi
walaupun Tamim bukan termasuk fu tetapi banyak memberikan sumbangan
kosa kata dan kaedah kedalam bahasa Arab fu.
Berikut ini penulis akan menjelaskan beberapa kekhasan dari dialek
Tamim Di dalam tulisan ini penulis hanya mengungkapkan tiga bentuk yaitu:
1) Bentuk suara
a) Kecenderungan menggunakan ammah
Secara umum kabilah Tamim dan kabilah-kabilah Badui lainnya
cenderung menggunakan miqyas al-Layin al-Khalaji (standar fonem lunak
kontemporer yang menyatakan amma sebagai tanda bahasa yang kasar. Berbeda
dengan kabilah-kabilah kota yang menggunakan kasrah yang merupakan simbol
kelembutan.
ub li menegaskan bahwa Bani Tamim lebih cenderung ammah
karena kekasarannya dalam berbicara, sedangkan orang-orang Hijaz
4
menggunakan kasrah karena kehalusannya misalnya dialek Tamim menyatakan

sedangkan dialek Hijaz menyatakan . Demikian pula kata dalam

dialek Tamim sedangkan dalam dialek Hijaz . Dalam dialek Tamim

sedang dialek Hijaz sehingga mayoritas Tamim membaca dengan

ammah sin berbeda dengan Hijaz mengkasrahkannya. 5


Hal ini disebabkan ammah membutuhkan gerakan yang lebih berat
daripada kasrah. Karena ammah merupakan aqsa al-lisan (lidah atas), sedangkan
kasrah adn al-lisan (lidah bawah). Gerakan adn al-lisn lebih mudah daripada
aq al-lisn. Sehingga orang badui membutuhkan gerakan lidah yang lebih berat

3
ub li Dirsh f Fiqh Lughah, hal. 72-73
4
ub li Dirsh f Fiqh Lughah, hal 97
5
Al Suy, al Muhir f Ulm al Lughah wa Anwih, hal 275-277
118

ketika berbicara. ammah mencirikan suatu sifat keras (khushanah) yang pada
umumnya dimiliki oleh kabilah Badui.
b) Fonetik yang berintonasi lunak
Kabilah Tamim dan kabilah-kabilah Badui lainnya cenderung
menggunakan fonetik yang berintonasi keras (awt shadidah) dalam
percakapannya. Hal ini sesuai dengan tabiatnya yang keras. Fonetik tersebut
mudah diucapkan secara cepat. Sementara penduduk kota cenderung memilih
fonetik yang berintonasi lunak (rakhawwah). Hal ini simbol dari sifat kelembutan,
sesuai dengan lingkungan dan tabiat mereka dalam kehidupan sosial. 6
Adapun huruf-huruf yang digolongkan kedalam al- awt al arabiyah al

shadidah adalah - - - -. Sedang huruf huruf-huruf

al awt al rakhawwah yaitu :

.7
Sebagai contoh tha menurut Tamim sedangkan ta menurut hijaz, yakni

pada kata -, dengan huruf ba shadidah dalam dialek

Tamim, dengan fa al-rakhawah dalam dialek Hijaz. Juga misalnya

antara ad dan a, Tamim membacanya sedangkan Hijaz

membacanya .
c) Menggunakan fonetik yang bergetar
Kehidupan kabilah Tamim di tengah padang pasir yang luas, sebagaimana
umumnya kabilah-kabilah Badui lainnya, berpengaruh juga melafalkan huruf.
Keadaan padang pasir yang luas, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, menyebabkan
mereka mesti berbicara secara lantang. Hal itu disebabkan apabila orang

6
Ibrhm Ans F Lahjh al Arabiyah, hal.41-42
7
Ibrhm Ans, al Awt al Lughawiyah, (Kairo: Maktabah al Anjelo al Miriyah, 1979),
Cet. Ke-5, hal.41-42
119

bercakap-cakap di tempat terbuka tanpa penghalang, maka suara itu akan hilang,
tidak terdengar secara jelas.8 Oleh karena itu dibutuhkan suara yang lantang pada
setiap pembicaraan agar mudah terdengar oleh lawan bicara. Fonetik yang
bergetar (jahar) lebih jelas untuk didengar daripada yang suara desis (hams).
Dialek kabilah-kabilah Badui lebih cenderung menggunakan suara-suara yang
bergetar (jahar).
Sedangkan di lingkungan perkotaan yang dipenuhi dengan bangunan,
orang dapat bercakap-cakap dalam jarak yang sangat dekat sehingga hanya
dibutuhkan suara yang berdesis, karena itu orang yang hidup di kota sering
menggunakan suara-suara desis (hams).
Adapun huruf-huruf yang digolongkan al-a wt al-sakinah al-majhurah

(fonetik konsonan yang bergetar) adalah berjumlah 13 yaitu, - - - -

- - - - - - - - sedangkan al-awt al-mahmusah (fonetik

konsonan berdesis/tak bergetar) berjumlah 12 yaitu - - - - - -

- - - - - -.9
Sebagai contoh huruf nun dan ya yang bersifat jahar keduanya. Namun ya
lebih jelas didengar daripada nun. Oleh karena itu kata yang menggunakan ya
dinisbahkan kepada kabilah Badui sedangkan nun dinisbahkan kepada kabilah

haari (kota). Misalnya dibaca .


2) Bentuk Kata
Kabilah Tamim dan mayoritas kabilah Arab lainnya menggunakan kasrah
pada huruf-huruf muraah. Sibawaih mengakui keabsahan dialek-dialek yang
mengkasrahkan huruf-huruf muraah. Hal itu tentunya agak berbeda dengan
kaidah umum bahasa Arab formal sekarang yang menggunakan ammah, yang

8
Ibrhm Ans, al Awt al Lughawiyah, , hal. 106
9
Ibrhm Ans, al Awt al Lughawiyah, hal. 21
120

menganut dialek Hijaz. Sehingga penggunaan kasrah pada huruf muraah tidak
diakui keabsahannya oleh penduduk Hijaz.
Sibawaih berkata sebagaimana dikutip Mamd Fam Hijz:
Pengkasrahan huruf-huruf awal fiil muri sebagaimana terjadi pada ism

dan huruf kedua pada kata hal ini diakui seluruh orang Arab kecuali penduduk

Hijaz. Contohnya perkataan mereka: dengan kasrah ta juga

dengan kasrah hamzah. Hal itu juga terjadi pada dengan kasrah ta dan

dengan kasrah nun.10


3) Bentuk Kalimat
Perbedaan dialek Hijaz dan Tamim tidak hanya dalam kata, tetapi juga
dalam susunan kalimat. Hal ini terlihat pada perbedaan pendapat tentang irab
pada kedudukan ism yang kedua (khabar) setelah m nafiyah. Pada dialek Hijaz,
ism tersebut menjadi khabar m nafiyah mesti berakhiran nasb, sedangkan pada
dialek Tamim, ism tersebut mesti rafa.
Dalam hal ini Sibawaih berkata sebagaimana dikutip Mamd Fam

Hijz: Bab ini menjelaskan huruf yang berposisi sebagai dalam beberapa

keadaan menurut penduduk Hijaz, huruf tersebut diganti dengan huruf m.

Misalnya , .

Sedangkan Bani Tamim memposisikan m seperti dan . Penduduk


Hijaz beralasan dengan persamaan huruf m dengan laisa. Misalnya Firman Allah

dalam dialek Hijaz, sedangkan Bani Tamim dibaca rafa pada ism yang
kedua.

10
Mamd Fam Hijz, Ilmu al-Lughah al-Arabiyah, hal. 331
121

Demikian juga pada ayat-ayat lainnya, misalnya . Penduduk

Hijaz membacanya dengan kasrah pada huruf ta sebagai khabar yang nasb,
sedangkan penduduk Tamim membacanya dengan rafa.11
Keunggulan yang dimiliki oleh kabilah Quraisy telah menempatkan dialek
bahasanya kontributor utama dalam pembentukan bahasa Arab fu. Karena itu
al-Quran mesti dibaca dengan menggunakan dialek bahasa Quraisy. Namun
menurut sebagian peneliti, mengklaim dialek bahasa Quraisy sebagai bahasa
pemersatu kurang cermat, karena didalam al-Quran juga terdapat huruf-huruf dan
kata-kata juga berasal dari kabilah lain. Jadi pendapat yang lebih bijak adalah
bahwa bahasa al-Quran yang dianggap sebagai bahasa pemersatu itu merupakan
gabungan dari dialek-dialek yang terdapat pada masyarakat Arab. Tidak hanya
dialek Quraisy, tidak pula dialek Tamim, tetapi dialek Arab secara keseluruhan.
Perbedaan dialek antara kabilah Tamim dan dialek Hijz atau Quraisy
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1) Faktor georafis, yakni Bani Tamim
hidup diperkampungan padang pasir yang keras, sedangkan bani Quraisy hidup di
perkotaan yang lebih aman dan nyaman. 2) Faktor Sosiologis, Bani Tamim
merupakan sekelompok masyarakat yang selalu hidup perpindah-pindah sehingga
relatif sedikit mendapat pengaruh dari pihak lain. Sementara Bani Quraisy tinggal
di pusat peradaban Arab yang banyak berinteraksi dengan dunia luar, sehingga
banyak pengaruh luar yang masuk kedalam dialeknya. 3) Faktor Psikologis,
penduduk Tamim memiliki karakter lebih keras daripada sifat yang dimiliki Bani
Quraisy
Dengan demikian, pengaruh dialek Tamim terhadap bahasa Arab fu
adalah memperkaya khazanah bahasa formal tersebut dalam pembentukan kata
(arf), pembentukan susunan kalimat (nawu) beserta derivasinya (ishtiqaq).
Dialek Tamim banyak membantu dialek Quraisy dengan peranan yang sangat
besar dalam menyusuri proses pembentukan bahasa Arab yang awal.

11
Mamd Fam Hijz, Ilmu al-Lughah al-Arabiyah, hal. 223
122

B. DIGLOSIA SEBAGAI PROBLEMATIKA DALAM MASYARAKAT


ARAB

Diglosia adalah sebuah penamaan yang diberikan pada gejala penggunaan


dua ragam bahasa yang sebenarnya berasal dari satu bahasa induk dalam sebuah
masyarakat pada waktu yang bersamaan. Fenomena diglosia dalam masyarakat
Arab sudah terjadi sejak zaman jahiliyah atau pra Islam. Masing-masing kabilah
memiliki bahasa tersendiri disamping lughah mushtarakah, sebuah bahasa
pergaulan yang dianut oleh berbagai kabilah yang ada. Bahasa bersama (lughah
mushtarakah) ini lahir sebagai akibat dari hubungan perdagangan antarkabilah,
perjalanan menunaikan ibadah haji dan lawatan-lawatan. Komunikasi
antarindividu dalam sebuah kabilah cukup menggunakan bahasa kabilahnya
sendiri. Tetapi ketika berhubungan dan berkomunikasi dengan anggota kabilah
lainnya mereka menggunakan bahasa pergaulan bersama itu. Hingga datangnya
Islam fenomena diglosia ini masih terus berlangsung.
Gejala diglosis sebagaimana dijelaskan di atas dapat ditemukan pada
masyarakat Jahiliyah sampai pada masa Islam, maksudnya sampai pada bahasa
Arab keluar dari wilayah Jazirah Arab. Ketika bahasa Arab digunakan sebagai
bahasa resmi, gejala diglosia hanya tejadi di wilayah Jazirah Arab saja, di luar
Jazirah Arab gejala diglosia dalam pengertian di atas tidak ada.
Sebagaimana dimaklumi bahwa masyarakat Arab, meskipun berasal dari
satu keturunan tetapi mereka terpisah-pisah ke dalam kabilah-kabilah yang
mendiami wilayah yang berbeda-beda di tengah padang pasir. Kondisi semacam
ini menimbulkan banyak dialek yang muncul di kalangan masyarakat Arab
sendiri. Masing-masing dialek dipergunakan untuk kalangan sendiri dalam satu
kabilah.
Gejala diglosia muncul setelah setelah masyarakat Arab terlibat dalam satu
kontak sosial yang sangat luas dan panjang sehingga muncul suatu dialek yang
dianggap sebagai dialek tinggi dan dipergunakan dalam komunikasi bersama
antarkabilah dan dalam pembuatan puisi. Bahasa puisi yang sampai pada kita dari
zaman jahiliyah adalah dialek tinggi yang dipergunakan oleh masyarakat Arab.
123

Di awal kemunculannya bahasa miyah tidak memiliki ciri-ciri pembeda


yang jelas dari bahasa fu. Setelah beberapa waktu, ragam bahasa ini mulai
menampakkan ciri-cirinya dalam hal bunyi, pola, susunan kalimat, sintaksis, cara
pengungkapan, dan materi bahasanya secara umum.
Fenomena dualisme bahasa ini sempat diberikan penamaan yang kurang
tepat yaitu bilingualisme. Istilah ini mengandaikan adanya dua bahasa yang
berbeda pada individu atau kelompok tertentu dalam waktu yang bersamaan
dalam sebuah masyarakat. Tetapi sebagian orang menolak penamaan yang
terakhir dalam kasus dualisme bahasa Arab Fu dan miyah .Mereka beralasan
bahwa dua ragam bahasa yang digunakan masyarakat Arab bukanlah sama sekali
bahasa yang berbeda, seperti bahasa Arab dengan bahasa Perancis atau bahasa
Jerman dan bahasa Turki. Bahasa Fu dan bahasa miyah sesungguhnya
merupakan ragam-ragam bahasa yang berasal dari satu bahasa induk. Perbedaan
keduanya dianggap sebagai perbedaan yang parsial, bukan substansial. Untuk itu
istilah diglosia lebih tepat digunakan dalam kasus di atas.12 Pendapat Emil Badi
Yakub ini tentu dapat diterima. Sebab seperti dikatakan Hudson, bahasa Arab
memiliki karakteristik linguistik tersendiri.Terdapat banyak ragam bahasa di
kawasan Arab. Saudi Arabia misalnya. Keadaan begitu komplek. Saudi Arabia
atau bagian tertentu dari negara itu merupakan tempat bercampurnya berbagai
bangsa berbahasa Arab yang menggunakan jenis tempat (lahjah) bahasa Arab
yang berbeda.
Dalam bahasa Arab memang terdapat berbagai perbedaan antara sejumlah
dialek Arab dengan dialek-dialek lainnya, yang mana perbedaan tersebut
terkadang sampai pada tingkat saling tidak memahami antara satu pemakai lahjah
dengan pemakai lahjah lain. Tetapi jika salah seorang diantara mereka ingin
memberikan kuliah di Universitas atau ceramah di masjid, dia memakai bahasa
Arab standar. Bahasa Arab standar dalam banyak hal berbeda dengan lahjah
bahasa Arab lokal dan harian (vernacular). Bahasa Arab standar dipelajari anak
Arab disekolah-sekolah, sama halnya dengan mereka mempelajari bahasa asing.
Ketika anak-anak Arab belajar membaca dan menulis, mereka mempelajari
12
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah, hal. 145-146
124

bahasa Arab standar, sebagai ganti bahasa Arab lokal harian yang mereka
gunakan. 13 Para dialektologis atau linguis menyebut variasi bahasa Arab tersebut
sebagai dialek-dialek (lahjah). Disebut dialek-dialek, bukan bahasa-bahasa,
karena adanya saling pengertian antara satu dengan yang lain. Saling pengertian
memang suatu yang relatif, tetapi secara linguistik dapat diukur menurut skala
besar, dari yang paling tinggi hingga paling rendah. Seorang Saudi tidak hanya
dapat mengerti orang Saudi, tetapi juga harus mengerti orang-orang Arab lainnya
dari berbagai negara Arab. Tingkat pengertian itu teergantung pada keakraban
pada dialek-dialek tersebut pada jarak georafis; makin jauh geografisnya maka
semakin jauh pula perbedaan dialek-dialeknya.
Di seluruh Negara yang berbahasa Arab terdapat beratus-ratus dialek. Di
Saudi Arabia saja, ada sekitar 200 dialek. Definisi dialek dalam hal ini adalah
seperangkat ciri linguistik yang menjadi karakteristik dari bahasa atau ujaran
tertentu yang digunakan dalam sebuah masyarakat tertentu yang menggunakan
ciri-ciri bahasa yang sama. Dengan kata lain, dialek adalah variasi bahasa yang
menempati sebuah area georafis terbatas dan merupakan bagian dari sebuah
bahasa yang menempati area yang luas. Dialek dapat hidup berdampingan dalam
suatu area dan sebuah suku dapat mempunyai subdialek dan subbagiannya. 14
Menurut Said Badawiy, saat ini secara aktual terdapat beberapa level
ragam bahasa Arab. Di Mesir misalnya, ada 5 tingkatan bahasa Arab yang
dipergunakan. Pertama, Fu al-Turath (klasik) yakni bahasa Arab tradisional
yang tidak terpengaruh oleh apapun. Kedua, Fu al-ar (kontemporer), adalah
bahasa fu yang terpengaruh oleh peradaban kontemporer. Bahasa fu ini
lebih luas cakupannya dibanding Fu al-Turath. Bahasa ini banyak dipakai
dalam berita-berita dan diskusi ilmiah tentang berbagai tema peradaban dan
pengetahuan masyarakat, seperti kedokteran, hewan, kimia dan lain sebagainya.
Ketiga, miyah al-Mushaqqafin, yaitu bahasa miyah yang terpengaruh oleh
bahasa fu dan peradaban kontemporer secara bersamaan. miyah ini

13
D. Hudson, Ilmu al-lughah al-ijtim, hal 90
14
M.H. Bakalla, Pengantar Penelitian Bahasa Arab, (Jakarta: Hardjuna Dwitunggal,
1984), hal 95
125

digunakan dalam bidang surat kabar, ilmu, sastra, musik dan seni. Keempat,
miyah al-Mutanawirn, Bahasa bentuk ini dipengaruhi oleh peradaban
kontemporer. Seperti ketika berbicara dengan tetangga, teman dan sebagainya.
Kelima, miyah al-Ummiyin, kelompok ini tidak terpengaruh oleh bahasa fu
dan peadaban modern, keadaan ini terkait dengan ke-ummiyan atas
15
keterbelakangan para penuturnya yang disebut sebagai .
Menurut Bakalla untuk menjelaskan karakteristik bahasa Arab yang
demikian, sesungguhnya diglosia belum mampu mengungkap dan menampung
situasi bahasa Arab secara akurat. Diglosia biasanya meliputi sebuah sistem dua
kutub, masing-masing kutub berdiri sendiri dan tidak saling menyumbang. Istilah
ini tidak bisa memberikan gambaran linguistik yang nyata pada negara-negara
yang berbahasa Arab. Benar bahwa bahasa Arab klasik sebagai bahasa Arab
Standar masih mempunyai tempat yang paling bergengsi, sementara dialek
dipandang rendah oleh orang-orang berpendidikan, tetapi dari abad ke abad masih
ada variasi bahasa Arab lain yang terdapat di antara kedua variasi bahasa Arab
tersebut, yang sekarang dikenal sebagai bahasa Arab umum atau pertengahan.
Sesungguhnya dalam bahasa Arab varian bahasa yang ada tidak sesederhana
masyarakat bahasa diglosia. Maka menurut Bakalla, kelihatannya lebih baik
berpendapat bahwa situasi bahasa Arab tidak hanya diglosis atau triglosis, tetapi
merupakan sebagai sebuah spektrum yang mempunyai dua ujung; satu ujung
berupa bahasa Arab Klasik paling murni dan ujung lain berwujud bahasa Arab
miyah yang paling murni. Diantara dua ujung ini terdapat rangkaian variasi
bahasa Arab standar dan bahasa arab sehari-hari. Rangkaian berbagai varian
bahasa inilah dinamakan Bakalla spektroglosia, sebagai kritik atas istilah diglosia
sebelumnya.16
Walaupun diglosia dalam bahasa Arab bukanlah merupakan fenomena
baru, karena sudah ada sebelum datangnya agama Islam dan sudah pernah
diselidiki oleh para ahli tata bahasa dan ahli filologi Arab dan muslim berabad-
abad yang silam, namun belakangan sempat muncul kontroversi. Bahasa Arab

15
abr Ibrhm al-Sayyid, Ilm al-Lughah al-Ijtim, hal. 253-254
16
M.H. Bakalla, Pengantar Penelitian Bahasa Arab, hal. 103-104
126

fu yang selalu hidup berdampingan dengan dialek lokal sudah sekian lama,
diwacanakan oleh segelintir tokoh abad ke-19 agar bahasa miyah dijadikan
sebagai bahasa resmi menggantikan posisi bahasa fu. Mengenai kontroversi
masalah itu, para ahli terbagi kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang
bependapat bahwa diglosia adalah salah satu bentuk beradabnya manusia, dan
kedua, kelompok yang berpandangan diglosia sebagai sebuah masalah besar
karena mengakibatkan anak-anak usia sekolah harus berbicara dengan bahasa
yang tidak mereka kenal, mereka merasa tidak enak membaca, bahkan ingin
menjauhi bahasa fu. Apalagi untuk lancar berbahasa fu dibutuhkan waktu
yang lama. Diglosia dalam bahasa Arab ikut menjadi andil bagi ketertinggalan
bangsa Arab, karena itu sejumlah kelompok mengajukan usulan untuk
menghilangkan diglosia dalam bahasa Arab. Usulan mereka itu terpilah kepada
lima kecenderungan.17 Pertama, yang menginginkan bahasa miyah
ditinggalkan, masyarakat cukup hanya menggunakan bahasa fu. Bahasa fu
mesti disosialisasikan lewat berbagai cara sehingga sacara ilmiah bisa menjadi
bahasa yang diwariskan antargenerasi, dipergunakan sebagai bahasa pengetahuan
dan bahasa harian. Ini misalnya dikemukakan oleh Anton Sdah, pendiri Partai
Nasionalis-Sosialis Suriah. Kedua, yang menuntut agar bangsa Arab menjauhi
bahasa Arab baik fu maupun miyah, seraya beralih menggunakan bahasa
asing yang justru lebih maju di bidang ilmiah, budaya dan ekonomi, apalagi
bahasa Arab sedang menuju kematian. Ini antara lain dikemukakan oleh Amin al-
Syamil. Ketiga , yang menghendaki dilakukannya univikasi antara bahasa fu
dan bahasa miyah, dengan mengambil dari keduanya hal-hal yang baik dan
positif untuk dipersatukan. Ide ini antara lain dikemukakan oleh Salmah Ms,
Ismil al-Qabbani, Abdul Azz al-Qushiy, dan Ibrhm Madkur. Keempat,
kelompok yang menghendaki dibentuknya al-Lahjah al-Arabiyah al-Mahkiyah
al- Mushtarikah atau Lughah Mutaaddibn f Jami al-Aqr al-Arabiyah atau
Lughah Muthaqqif al-Arab, yaitu bahasa yang lazim dipergunakan bangsa Arab
selama 30 tahun belakangan dalam bidang budaya, sosial dan politik serta bahasa

17
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah, hal 148
127

komunikasi yang dipergunakan di Mesir, Iraq, Siria, Lebanon, dan Palestina pada
setiap pertemuan, dan bahasa yang dipergunakan di berbagai universitas Arab.
Itulah bahasa masyarakat Arab yang tinggi digunakan di sekolah, wartawan,
penyiar, pelancong, dokter, pedagang, pelaku politik dan pekerja sosial. Menurut
mereka hanya dengan cara ini bahasa Arab dapat menjadi bahasa budaya dan
sastra. Salah satu ciri bahasa ini adalah dengan menghilangkan irab. Kelima,
yang menginginkan penggunaan bahasa miyah dalam penulisan ilmiah dan
sastra serta dalam berbagai hal yang selama ini dipakai dalam bahasa fu. 18
Meskipun kuat desakan untuk menggeser posisi dan fungsi bahasa fu dengan
bahasa miyah, hingga sekarang bahasa fu tetap pada posisi semula, dan
hidup berdampingan dengan bahasa miyah. Masing-masing mempunyai posisi
dan fungsi tersendiri, serta saling melengkapi sebagai bahasa komunikasi
masyarakat Arab dan dunia Islam. Maka, desakan menyingkirkan bahasa fu
adalah wacana yang tidak realistis, bahkan mengingkari sejarah dan jati diri
bangsa Arab sendiri.
Terjadinya diglosia tentu lain masalahnya di banding bilingualism. Sudah
diketahui bahwa fenomena diglosia juga bukan hanya terjadi dalam bahasa Arab,
melainkan juga ada berbagai bahasa dan masyarakat lainnya. Ini telah dibuktikan
oleh riset para peneliti bahasa bahwa dalam bahasa-bahasa lain semisal Perancis
juga ditemukan fenomena diglosia. Karenanya, Kaml al-Hajj berpendapat bahwa
lahirnya diglosia dalam bahasa adalah karena adanya bilingualitas dalam pikiran
dan indra manusia. Diglosia ada hampir pada semua bangsa dan bahasa yaitu
bangsa yang memiliki bahasa miyah dan bahasa fu sekaligus meskipun
dengan kadar yang tidak sama.19
Menurut Hudson, fenomena yang ada dalam bahasa Arab misalnya, tidak
bisa disamakan dengan fenomena pemakai bahasa Inggris yang tersebar di
beberapa negara. Perbedaan antara masyarakat yang memiliki diglosia dengan
masyarakat penutur bahasa Inggris adalah bahwa dalam masyarakat diglosia tidak
ditemukan individu yang secara mudah dapat mempelajari varian bahasa tinggi

18
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah, hal. 148-150
19
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah, hal. 147-148
128

(high variety) yang dipakai sebagai bahasa resmi dan pendidikan, disebabkan
kebiasaan mereka memakai varian bahasa rendah (low variety) di rumah dan
kehidupan sehari-hari. Cara mereka untuk bisa berbahasa varian tinggi di
masyarakat diglosia ialah melalui sekolah, bukan dengan cara alamiah hidup di di
sebuah keluarga. Karena kemampuan ekonomi setiap keluarga tidak sama untuk
membiayai pendidikan di sekolah, maka masyarakat diglosia tidak mendukung
terjadinya kesetaraan bahasa (linguistic equality) antarstrata sosial. 20 Ini berbeda
dengan kemunculannya pada masyarakat bahasa Inggris. Konsep diglosia yang
dikemukakan Ferguson sesungguhnya sudah sangat jelas, yaitu adanya dua varian
bahasa; harian/rendah dan resmi/tinggi yang berkembang pada satu bahasa yang
sama, semisal bahasa Arab (bahasa fu miyah).
Dalam bahasa Arab, hampir dapat diyakini diglosia telah terjadi sejak
masa jahiliyah. Ketika itu kabilah memilki dialek khas sendiri dalam setiap dialek
ada unsur-unsur kesamaan antara satu dengan yang lainnya yang mempersatukan
semuanya. Semua itu berlanjut hingga lahir bahasa miyah seperti yang telah
dikemukakan hingga sekarang ini, yaitu pada masa mulainya ekspansi Islam
secara luas yang mengakibatkan terjadinya interaksi dan asimilasi antar orang
Arab dan Ajam. Tetapi ketika itu bahasa miyah belum begitu terlihat
perbedaannya dengan bahasa fu. Baru kemudian, setelah berjalan beberapa
lama. Bahasa miyah mengalami perkembangan signifikan dan muncul dengan
ciri tersendiri, baik dalam fonetik, bentuk kata, maupun sintaksis yang
membedakannya dengan bahasa fu.21
Menurut Ali Abdul Wid Wf faktor eksternal yang sangat
mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya diglosia itu adalah 1. Faktor sosial
politik dimana luasnya pemerintahan, tempat yang tersebar, serta beragamnya
suku bangsa yang mengakibatkan lemahnya kontrol pemerintahan pusat dalam
mempersatukan beragam bahasa dari setiap masyarakat. 2. Fator psikososial, yaitu
adanya adaptasi dan tradisi serta ritual yang beragam melahirkan ungkapan
ekspresi yang bervariasi pula. 3. Faktor geografis, yaitu perbedaan iklim,

20
D. Hudson, Ilmu al-lughah al-ijtim, hal. 90-91
21
Emil Badi Yakub, Fiqh al-Lughah, hal. 146-147
129

letak alam, suatu daerah yang dipisahkan oleh gunung, bukit, sungai dan laut yang
secara lambat maupun cepat akan berpengaruh pada varian bahasa yang beragam-
ragam. 4. Faktor etnis, yang ditandai adanya perbedaan jenis dan ras suku. 5.
Faktor fisiologis, yang ditandai dengan adanya perbedaan karakter alat ucap setiap
manusia.22
Menurut Ans Farhah bahwa diglosia antara bahasa fu dan miyah
terutama didalam masyarakat modern mempunyai sejumlah dampak negatif.
Menurutnya dampak negatif tersebut telah merambah diberbagai bidang, antara
lain pemikiran, kepribadian, moral, dan kegiatan sastra dan seni.
Dalam bidang pemikiran, pengaruh buruk diglosia itu tampak pada
perhatian yang lebih pada bahasa sebagai media ekspresi ketimbang isi/substansi
pemikiran ketika seseorang menuliskan gagasan-gagasannya. Waktu mereka
banyak tersita hanya untuk memikirkan keshahihan (gramatikal) tulisan dan
kesesuaiannya dengan aturan-aturan bahasa fu yang berlaku. Kasus yang sama
dialami juga oleh para penyiar, penceramah dan dosen ketika memberikan orasi
spontan. Perhatian mereka lebih tercurahkan pada shakl (bentuk formal) bahasa
dibanding al-makna (substansi). 23
Dalam bidang pendidikan pengaruh diglosia terlihat pada lama waktu yang
dibutuhkan seorang anak Arab dalam mempelajari bahasa Arab fu dibanding
anak berkebangsaan lain dalam mempelajari bahasanya. Keengganan orang untuk
membaca, rumitnya pola-pola bahasa dan ditinggalkannya bahasa fu adalah
hal-hal yang kembali kepada perbedaan fu dan miyah, khususnya tingkat
kerumitan bahasa fushha dan kefleksibelan bahasa miyah. Secara umum
masyarakat menganggap bahasa fu tidak luwes dan kurang bersahabat dengan
anak-anak.24
Dalam bidang moral diglosia telah mempengaruhi cara orang berperilaku
dan bersikap. Diglosia telah melahirkan semacam kepribadian yang pecah (split
personality) dan perasaan bersalah. Dalam suasana resmi masyarakat arab

22
Ali Ab Abdul Wid Wf, al-Lughah wa al-Mujtama, hal. 159-160
23
Ans Farhah, Nawu Arabiyah Muyassarah, (Beirut: Dr al-Thaqfah, 1955), hal.
135-142
24
Ans Farhah, Nawu Arabiyah Muyassarah, hal. 143-153
130

menggunakan bahasa fu, sedang dalam kehidupan sehari-hari mereka


menggunakan bahasa miyah yang selalu dicap dan diberi konotasi buruk.25
Dalam bidang al-funn al-Jamlah , khususnya drama/teater, diglosia telah
dijadikan kambing hitam keringnya kesenian dan kesusastraan. Tetapi disisi lain,
sebagian seniman dan sastrawan menganggap bahasa fu kurang ekspresif dan
responsive. Para pekerja seni berada dalam sebuah dilema. Disatu sisi, melalui
karyanya mereka dituntut menampilkan realitas kehidupan yang aktual dengan
menggunakan bahasa fu. Tetapi dilain sisi, mereka dihantui kengerian akan
cercaan yang bakal diperolehnya jika menggunakan bahasa miyah .26
Berbeda dengan pendapat Ans Farhah diatas yaitu tentang dampak
negatif dari diglosia, menurut pendapat Aisha bint Shati, masalah sebenarnya
bukan terletak pada diglosia ini dia menyebut dengan al-thuniyah al-
lughawiyah (dualisme bahasa). Sejak dulu, bahasa Arab sudah seperti itu; adanya
ragam tinggi dan ada ragam-ragam dialek. Masalah sebenarnya terletak pada
pengajaran bahasa yang mengabaikan metode-metode praktis.27 Senada
dengannya, Amin al-Khli menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan
suatu hal yang wajar dan semestinya. Jadi, masalah diglosia dia menyebutnya
dengan izdiwj al-Lughaw- merupakan hal yang lumrah. Namun, hal ini kurang
diperhatikan dalam usaha pengembangan bahasa. Karena itu, diperlukan metode
penelitian bahasa yang memperhatikan perkembangan itu.28
Dengan demikian, menurut analisa peneliti, diglosia tidak perlu
dikhawatirkan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena diglosia dalam
bahasa Arab bukan merupakan realitas yang baru tetapi sejak dahulu sebelum
datangnya Islam. Sejarah bahasa-bahasa dimanapun telah telah membuktikan
bahwa pertumbuhan, perubahan, pergeseran, perkembangan, hingga perpecahan
dan kematian bahasa adalah hal yang lumrah terjadi. Hanya saja, kepentingan
bangsa Arab terhadap bahasanya jauh dari sekedar kepentingan komunikasi,

25
Ans Farhah, Nawu Arabiyah Muyassarah, hal. 159-163
26
Ans Farhah, Nawu Arabiyah Muyassarah , hal. 166
27
Aisyah bint Shati, Lughatun wa al-Hayh, (Maroko: Dr al-Marif, 1971), Cet. Ke-
2, hal. 187
28
Amin al-Khl, Musykilh Haytin al-Lughawiyah, (Kairo: Dr al-Marifah, 1965),
hal. 65
131

ekspresi dan apresiasi melainkan juga berkaitan dengan nasionalisme dan


persatuan bangsa Arab dan kekuatan mereka dalam menghadapi ancaman dari
orang asing dan kepentingan politisnya yang besar.
C. FUNGSI KEMASYARAKATAN BAHASA
Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Karena dalam
masyarakat terdapat komunikasi dan interaksi antar anggota. Dengan demikian
setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial
tersebut. Karenanya, tidak ada masyarakat tanpa bahasa, dan tidak ada pula
bahasa tanpa masyarakat.29
Abdul Wid Wf berpendapat bahwa bahasa merupakan suatu
fenomena sosial yang mencakup berbagai keistimewaan dari fenomena
kemasyarakatan. Oleh karena itu, ia terpengaruh dengan segala fenomena
kehidupan sosial dalam semua aspeknya, sebagaimana ia sendiri dalam perannya
mempengaruhi fenomena-fenomena ini.30 Berbahasa merupakan kegiatan manusia
setiap saat dalam berinteraksi dengan orang lain. Dilihat dari fungsinya,31 bahasa
merupakan alat mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang
lain. Sehingga kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia ketika
berhubungan dengan orang lain adalah berbahasa, atau dalam bahasa masyarakat
awam adalah bertutur kata. Ini diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal
maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya bahasa dalam berpidato,
presentasi produk, presentasi ilmiah dan lain-lain.
Bahasa pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya
masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial,32 termasuk
bahasa Arab yang juga merupakan fenomena budaya. Kemampuan berkomunikasi
secara baik dan benar itu mewajibkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek
kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang
menjadi konteks penggunaan bahasa.

29
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2oo2), hal. 5
30
Ali Abdul Wd Wf, Mu'jam al-Ulum al-Ijtimaiyyah, (United Nations Educational:
Scientific and Cultural Organization, 1985), Cet. I. hal.
31
P. W. J. Nababan, Sosiolinguistik Suatu Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 48.
32
http://www.kompas.com/index.php, diakses pada tanggal 21 November 2008.
132

Sementara Masyarakat bahasa, dalam pandangan Bloomfield, merupakan


kelompok orang yang berinteraksi dengan perantaraan bahasa. 33 Karenanya
masyarakat bahasa adalah semacam kelompok sosial yang paling penting. Fase-
fase paduan lain seperti pengelompokkan berdasarkan ekonomi, politik, atau
budaya ada hubungannya dengan pengelompokkan masyarakat bahasa, tetapi
biasanya tidak terdapat bersamaan dengannya, ciri-ciri budaya hampir selalu lebih
tersebar luas daripada salah satu bahasa.
Yang kemudian dalam perkembangannya bahasa menjadi ciri dari sebuah
kebudayaan.34 Minimal menjadi pembeda antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat yang lain dari sisi penggunaan bahasanya. Bagaimana kita
membedakan dialek bahasa Arab yang berada di suku pedalaman dengan dialek
bahasa Arab masyarakat perkotaan pada masa Dinasti Abbasiyah, namun dari sisi
ilmiah, tentu hal ini harus dikaji lebih dalam lagi, terlebih kalau hal ini
menyangkut ilmu sosiolinguistik.
Perubahan sosial budaya mungkin disebabkan lingkungan fisik, populasi,
penemuan baru, gagasan baru, krisis (konflik), atau lahirnya kebijakan baru.
Perubahan sosial ini mesti saling terkait dengan perubahan budaya, yakni
perubahan dalam norma-norma, kepercayaan, dan materi budaya; dan pada
gilirannya tercermin pada pemakaian bahasa, karena bahasa pada hakikatnya
merupakan cerminan pola pikir para penuturnya, yaitu pelaku sosial dan insan
budaya. Bahasa bukan hanya institusi yang langsung dialami manusia, tetapi
bahwa setiap institusi sosial mesti dibangun pada keteraturan bahasa. Dengan
demikian, sosiolinguistik, khususnya teori tentang rekayasa bahasa (language
planning), dapat menjelaskan perubahan sosial. Bahkan bahasa dapat direkayasa
sedemikian rupa untuk menciptakan kondisi sosial yang diinginkan.

33
Semua yang boleh disebut kegiatan tingkat tinggi manusia disebabkan oleh
penyesuaian yang dekat di antara individu-individu yang disebut masyarakat, dan penyesuaian ini,
pada gilirannya, berdasarkan bahasa, lihat Leonard Bloomfield, Language, (London: George Allen
& Unwin, 1979), Cet. XIV, hal. 21.
34
Bahasa dikatakan sebagai alat identitas etnik: bahasa Daerah adalah alat identitas
suku, ada juga pandangan akan adanya hubungan yang tetap antara ciri-ciri fisik suatu etnik
dengan bahasa atau variasi tertentu, lihat Sumarsono, Sosiolinguistik, hal. 67-69.
133

Setidaknya ada lima teori yang lazim dirujuk untuk menjelaskan perubahan
sosial, yakni teori evolusi, teori perputaran, teori fungsional, teori konflik, dan
teori ketergantungan. Yang dapat dipadukan dengan teori-teori perencanaan
bahasa yang dapat dijadikan sebagai pisau analisis perubahan sosial budaya
masyarakat.35
Dengan demikian menjadi jelas bahwa berbahasa memang menunjukkan
bagaimana sebuah komunitas atau bangsa berbudaya. Antara berbahasa dan
berbudaya menunjukkan hubungan timbal balik. Untuk mempertahankan budaya
maka berbahasa menjadi sebuah kelaziman. Demikian juga untuk
mempertahankan bahasa, keberlangsungan budaya sangat penting walaupun
budaya adalah naluri dari kehidupan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.
Proses transformasi akan lebih produktif ketika bisa merumuskan bahasa
bersama antara nalar advokat dengan nalar masyarakat lokal yang termarginalkan.
Proses edukasi pentingnya gua, air, dan pegunungan bagi keseimbangan alam dan
lingkungan, harus mampu dibahasakan dengan modal budaya yang melekat dalam
kesadaran sejarah masyarakat. Pengalaman pelatihan para legal masyarakat
Sukolilo Pati yang menolak Semen yang dilakukan pihak Organisasi Non
Pemerintah (Ornop) dan pihak Akademis, masih menyisakan bahasa-bahasa legal
formal yang masih sulit ditangkap dalam kesadaran masyarakat lokal. Selain kosa
kata bahasa ilmiah juga menyisakan proses advokasi yang lebih mengarah pada
jalur legal formal, bahasa ilmiah tersebut juga masih memiliki jarak dengan
kesadaran masyarakat lokal. Pendekatan bahasa ilmiah ini lah yang kemudian
nantinya akan menjadikan proses advokasi yang tidak melibatkan partisipasi
masyarakat, dimana proses legal formal menyisakan hubungan lawyer-klien,
bersama bahasa-bahasa ilmiah yang tidak mampu diakses modal budaya dan
kesadaran masyarakat lokal.
Strategi pendekatan kultural pada gilirannya juga menjadi strategi yang
harus dijalankan sebagai sebuah usaha dari pemaknaan situasi konflik sebagai alat
transformasi, serta proses kesadaran mengorganisir dirinya sendiri di kalangan

35
A. Cheadar Alwasilah, Politik Bahasa dan Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1997), hal.58.
134

masyarakat lokal. Dengan meyakinkan masyarakat lokal untuk mampu


membangun kekuatannya sendiri, beserta bahasanya sendiri akan menjadikan
proses advokasi dan pembelaan hak tidak lagi digantungkan oleh pihak akademis
dan peran lembaga legal formal (lawyer-klien). Mitos-mitos lokal pada dasarnya
adalah bahasa kebudayaan yang memiliki korelasi dengan penjagaan
keseimbangan lingkungan, karena hal ini akan mereduksi alam dalam simbol
kebudayaan, yang menjadikan nalar budaya identik dengan nalar lingkungan.
Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa bahasa tidak bisa berdiri sendiri,
bahasa mempunyai kaitan erat dalam simbiosis keterpengaruhan dengan wilayah
kajian lain, baik bahasa sebagai sarana maupun fungsi lainnya. Bahasa bisa
merupakan wujud dari identitas suatu kelompok, ungkapan-ungkapan
ketidaksetujuan dengan terminologi yang berkembang dan sudah mengakar dalam
suatu wilayah.
Pengkaji bahasa menyadari bahwa bahasa adalah suatu lembaga masyarakat,
yaitu sistem komunikasi masyarakat yang terdiri dari lambang-lambang bunyi dan
pola-pola hubungan antara lambang-lambang itu. Diantara berbagai macam alat
komunikasi dalam masyarakat, bahasalah yang paling lengkap, paling canggih dan
paling kentara.36 Bukan hal yang baru lagi jika dikatakan bahwa bahasa dan
masyarakat merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tidak
mungkin ada masyarakat tanpa bahasa, dan tidak pula mungkin ada bahasa tanpa
masyarakat.
Sementara itu dalam sosiolinguitik, bahasa dipandang menurut fungsi
bahasa dalam masyarakat; dikembangkan pengertian tentang berbagai kategori
bahasa, seperti bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa pendidikan dan sebagainya.
Pengkajian fungsi bahasa berdasarkan kegunaan bahasa sebagai alat komunikasi
bagi anggotan masyarakat. Menurut Halliday terdiri atas tujuh kategori bahasa
dalam konsep fungsi perorangan. Kategori fungsi bahasa tersebut ialah
instrumental, interaksi, kepribadian, pemecahan sosial, khayalan, dan informatif.

36
Bambang Kaswanti Purwo, PELLBA 2 (dalam Sosiolinguistik dan Pengajaran
Bahasa), (Jakarta: Lembaga Bahasa UNIKA Atmajaya, 1989), hal. 187
135

Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peran khusus suatu bahasa


dalam kehidupan masyarakat. Klasifikasi bahasa berdasarkan fungsi
kemasyarakatan dapat dibagi dua, yaitu:37
(1). berdasarkan ruang lingkup
a. Lambang kebanggaan
b. Lambang identitas bangsa
c. Alat penyatuan berbagai suku bangsa dengan berbagai latar belakang
sosial budaya dan bahasa.
(2). Berdasarkan bidang pemakaian
a. bahasa resmi
b. bahasa pendidikan
c. bahasa agama
d. bahasa dagang
Fungsi kemasyarakatan yang berdasarkan ruang lingkup adalah mencakup
bahasa nasional dan bahasa kelompok. Fungsi kemasyarakatan yang
berdasarkan pemakaian berfungsi sebagai bahasa resmi maksudnya bahasa yang
dipakai untuk keperluan resmi kenegaraan, seperti pemerintahan dan pengadilan.
Sebagai bahasa pendidikan maksudnya digunakan sebagai bahasa pengantar
dalam pendidikan dan pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan
teknologi pada tingkat nasional. Sebagai bahasa agama, difungsikan sebagai
lambang agama. Misalnya bahasa Arab menjadi alat agama Islam, bahasa Ibrani
adalah alat agama Yahudi, bahasa Latin adalah alat agama Katolik Roma, bahasa
Inggris adalah alat kebanyakan versi Protestanisme, bahasa Yunani dan bahasa
Slavia-gereja menjadi alat gereja-gereja Kristen Timur, bahasa Sansekerta
38
menjadi alat agama Budha, dan lain sebagainya. Sebagai bahasa dagang yang
tentunya menjadi alat bagi dunia perdagangan hingga lingkup Internasional.
Secara garis besar, fungsi bahasa yang digunakan dalam masyarakat
adalah gejala sosial, sistem sosial, identitas sosial maupun sebagai lembaga
kemasyarakatan. Keempat hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
37
P.J.W. Nababan, Sosiolinguistik : Suatu Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1991), hal. 40
38
Abdul Muin, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia (Telaah
terhadap Fonetik dan Morfologi), (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004), hal. 26
136

1. Bahasa sebagai gejala sosial


Di dalam masyarakat, seseorang merupakan anggota dari suatu kelompok
dan tidak dipandang sebagai individu. Sehingga batasan dan pemakaiannya tidak
diamati secara individu, tetapi dikaitkan dengan kegiatan di dalam masyarakat.
Dengan kata lain, bahasa tidak hanya dianggap sebagai gejala individu, tetapi juga
gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya
ditentukan oleh faktor-faktor linguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor
nonlinguistik. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa, misalnya
status sosial, tingkat pendidikan umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan
sebagainya. Disamping itu, pemakaian bahasa juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
situasional, yaitu siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan,
dimana, dan mengenai masalah apa, seperti yang dirumuskan oleh Fishman,
Who speaks what language to whom and when
Terkait dengan masalah tersebut, Ferdinan de Saussure sebagaimana
dikutip Abdul Chaer membedakan antara langue dan parole; antara bahasa
sebagai sebuah sistem yang abstrak dan bahasa dalam penggunaannya secara
nyata dalam masyarakat yang biasa disebut dengan tuturan (speech). Chomsky
menyebut adanya kompetensi (competence) dan performasi (performance).
Kompetensi adalah kemampuan, yaitu pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa
mengenai bahasanya. Sedangkan performasi adalah perbuatan berbahasa atau
pemakaian bahasa dalam keadaan yang sebenarnya di dalam masyarakat.
Sementara itu, Halliday menyatakan kemampuan komunikatif
(communicative competence) adalah kemampuan bertutur atau kemampuan
menggunakan bahasa sesuai fungsi dan situasi serta norma-norma penggunaan
bahasa dengan konteks situasi dan konteks sosialnya. Jadi indikator kemampuan
komunikatif adalah kemampuan membedakan kalimat yang gramatikal dan tidak
gramatikal, serta kemampuan memilih bentuk-bentuk bahasa yang sesuai dengan
situasinya, mampu memilih ungkapan yang sesuai dengan tingkah laku dan
situasi, serta tidak hanya menginterpretasikan makna referensial, tetapi juga dapat
menafsirkan makna konteks dan makna situasional, norma sosial dan nilai
afektifnya. Kemampuan komunikatif semacam itu pada dasarnya dimiliki oleh
137

setiap individu dalam masyarakat dan menjadi milik seluruh kelompok.


Kemampuan komunikatif semacam itu disebut verbal repertoire.39 Menurut
Suwito ada dua macam verbal repertoire yaitu verbal repertoire yang dimiliki
setiap penutur secara individual dan verbal repertoire yang menjadi milik
masyarakat tutur secara keseluruhan. Verbal repertoire yang dimiliki setiap
penutur secara individual menunjukkan keseluruhan alat-alat verbal yang dikuasai
oleh setiap penutur, pemilihan bentuk-bentuk dan norma-norma bahasa sesuai
dengan fungsi dan situasinya, sedangkan verbal repertoire yang menjadi milik
masyarakat tutur secara keseluruhan menunjukkan keseluruhan alat-alat verbal
yang ada dalam masyarakat tutur serta norma-norma untuk menentukan pemilihan
variasi sesuai dengan fungsi dan situasinya. 40
Masyarakat yang memiliki verbal repertoire yang relatif sama disebut
masyarakat tutur (speech community). Speech community bukan hanya masyarakat
yang mempergunakan bentuk bahasa yang sama, tetapi juga mempunyai norma
yang sama dalam memakai bentuk-bentuk bahasa.41 Dalam pengertian tersebut,
kelompok orang-orang dalam masyarakat yang karena letak geografis, umur atau
jenis kelaminnya, lapangan kerja atau hobinya dalam menggunakan bahasa yang
sama dan mempunyai penilaian yang sama tentang norma-norma pemakaian
bahasanya bisa membentuk suatu masyarakat tutur. Kelompok-kelompok kecil
dari suatu masyarakat bisa membentuk suatu masyarakat tutur tersendiri.
Demikian pula masyarakat dalam lingkup Negara bisa membentuk masyarakat
tutur.
2. bahasa sebagai lembaga kemasyarakatan
Sosiolinguistik membicarakan hubungan antara bahasa dengan
penggunaan bahasa dengan masyarakat. Hubungan yang dibicarakan adalah
hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau
dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat.
Misalnya untuk perkuliahan digunakan ragam baku, untuk kegiatan bisnis
digunakan ragam usaha, untuk seni digunakan ragam sastra.
39
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hal. 34
40
Suwito, Sosiolinguistik Teori dan Problema, hal.17
41
Suwito, Sosiolinguistik Teori dan Problema, hal. 18
138

Disamping hubungan antar bahasa dan penggunaanya tersebut, bahasa


memiliki hubungan erat dengan tingkatan sosial dalam masyarakat. Menurut
Abdul Chaer tingkatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi.
Pertama dari segi kebangsawanan dan kedua dari segi kedudukan sosial yang
ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. 42
3. Bahasa sebagai identitas sosial
Bahasa sebagai alat komunikasi menunjukkan fungsi sosialnya, yaitu
sebagai identitas penuturnya, baik secara individu maupun secara kelompok.
Kelompok kelas social bawah dalam suatu masyarakat biasanya dalam bertutur
pada situasi resmi menggunakan ragam bahasa yang tidak standar atau bahasa non
baku, sedangkan kelompok kelas social menengah keatas menggunakan ragam
bahasa yang standar. Jadi, perbedaan atau penggolongan kelompok masyarakat
manusia bias tercermin dalam ragam bahasa golongan masyarakat itu.
Identitas seseorang dapat dikenal dari bahasanya, bahkan bahasa
merupakan identitas suatu Negara.43 Pemakaian bahasa mengindikasikan identitas
sosial penutur. Identitas sosial penutur dapat diketahui dari pertanyaan apa dan
siapa penutur tersebut dan bagaimana hubungannya dengan lawan
tuturnya.Identitas penutur dapat sebagai anggota keluarga, dapat pula sebagai
atasan, bawahan, sahabat karib, tetangga.
Adanya berbagai tingkat pemakaian bahasa yang merupakan identitas
penutur serta adanya bermacam gaya dalam konteks sosial menunjukkan bahwa
ada korelasi antara kelas atau status sosial di satu pihak dan cara-cara pemakaian
bahasa di pihak lain. Ciri khusus tuturan seseorang atau kelompok masyarakat
dapat menjadi indikator status sosial mereka. Pemakaian variasi bahasa sebagai
akibat adanya faktor-faktor sosial-budaya bukan berarti kebebasan melanggar
kaidah bahasa. Variasi adalah sejenis ragam bahasa yang pemakaianya
disesuaikan dengan fungsi dan situasinya.
Identitas sosial dari pendengar tentu harus dilihat dari pihak penutur.
Dengan demikian identitas pendengar itu pun dapat berupa anggota keluarga

42
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hal. 51
43
Mansoer Pateda, Sosiolinguistik, (Gorontalo: Viladan Gorontalo, 2005), hal. 112
139

(ayah, ibu, adik, kakak, paman, dan sebagainya) teman karib, guru, murid,
tetangga, pejabat, orang yang dituakan, dan sebagainya. Identitas pendengar atau
para pendengar juga akan mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi dapat berupa ruang


keluarga di dalam sebuah rumah tangga, di dalam masjid, di lapangan sepak bola,
di ruang kuliah, di perpustakaan, atau di pinggir jalan. Tempat peristiwa tutur
terjadi dapat pula mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur, misalnya,
di ruang perpustakaan tentunya kita harus berbicara dengan suara yang tidak
keras, di lapangan sepak bola kita boleh berbicara keras-keras, malah di ruang
yang bising dengan suara mesin-mesin kita harus berbicara dengan suara keras,
sebab kalau tidak keras tentu tidak dapat didengar oleh lawan bicara kita.

Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap bentuk-bentuk


perilaku ujaran. Maksudnya, setiap penutur tentunya mempunyai kelas sosial
tertentu di dalam masyarakat. Dengan demikian berdasarkan kelas sosialnya itu,
dia mempunyai penilaian tersendiri, yang tentunya sama, atau jika berbeda, tidak
akan terlalu jauh dari kelas sosialnya, terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran
yang berlangsung.

Dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur, adanya berbagai


fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkatan kesempurnaan kode, maka
alat komunikasi manusia yang disebut bahasa itu menjadi sangat bervariasi. Setiap
variasi, entah namanya dialek varietas, atau ragam, mempunyai fungsi sosialnya
masing-masing.
4. Bahasa sebagai sistem sosial
Bahasa bukan sekedar sebagai tanda, tetapi bahasa pertama-tama
dipandang sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi, serta merupakan bagian
dari kebudayaan masyarakat tetentu. Bahasa sebagai sistem sosial berarti bahwa
bahasa dapat dijadikan sebagai pranata sosial untuk mengorganisasi interaksi dan
interelasi masyarakatnya. Hubungan-hubungan antara individu dengan individu
akan ditentukan dan tampak dalam penggunaan bahasanya. Dari sinilah, kemudian
timbul ragam bahasa yang ditentukan oleh perbedaan sosial kemasyarakatan.
140

Dalam masyarakat Arab misalnya kita kenal dengan bahasa Arab Fu


dan bahasa Arab miyah. Seseorang yang status sosial kemasyarakatannya lebih
rendah akan menggunakan bahasa Arab miyah bila berbicara dengan orang
yang status sosial kemasyarakatannya lebih tinggi. Sebaliknya, orang yang lebih
tinggi status sosial kemasyarakatannya akan menggunakan bahasa Arab fu jika
berbicara dengan orang yang lebih rendah status sosial kemasyarakatannya.
Dalam upacara-upacara adat, bentuk-bentuk bahasa yang digunakan juga berbeda
dengan bahasa keseharian.
Dari beberapa penjelasan fungsi-fungsi kemasyarakatan diatas nampak
bahwa pembagian fungsi bahasa bukan saja menekankan fungsinya sebagai alat
komunikasi, tetapi lebih luas dari itu semua. Terutama bahwa fungsi sosial bahasa
jika dicermati akan terkait dengan kemampuan komunikatif dan tingkatan sosial
masyarakat tutur atau pengguna bahasa itu. Kemampuan komunikatif
(communicative competence) adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa
sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma penggunaan bahasa dengan
konteks situasi dan konteks sosialnya. 44 Sedangkan tingkatan sosial adalah
klasifikasi masyarakat berdasarkan kedudukan sosial seperti tingkatan pendidikan,
keadaan ekonomi atau kebagsawanan.
Begitu juga dalam bahasa Arab dikenal variasi atau pembagian bahasa
Arab fu dan miyah. Pembagian ini juga akan terkait dengan fungsi-fungsi
bahasa tersebut bagi masyarakat penuturnya, bukan hanya terkait dengan masalah
tingkatan sosial akan tetapi terkait pula dengan konteks (bagaimana, kapan, dan
dimana ) penggunaan bahasa itu berlangsung. Dalam kaitannya dengan konteks
penggunaan bahasa kita mengenal muqtadhal hl, yakni tuntutan situasi bagi
penutur untuk menempatkan pembicaraannya. Maka pola-pola ini menendakan
adanya fungsi-fungsi kemasyarakatan bahasa yang berlaku pada tingkatan
masyarakat dan kemampuan komunikatif penuturnya.

44
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, hal. 34
141

Khusus untuk bahasa Arab, untuk memperjelas kedudukannya dalam


masyarakat secara garis besar fungsinya dapat dikelompokkan kepada tiga bagian,
yaitu dalam bidang agama, ilmu pengetahuan, dan dalam pergaulan.45 Yaitu:
1. Dalam bidang agama, bahasa Arab mempunyai kaitan erat, karena ajaran-
ajarannya terhimpun dalam al-Quran sebagai kitab suci dan petunjuk bagi umat
Islam, sekaligus sebagai mujizat bagi Rasulullah saw. Hadits yang berfungsi
sebagai penjelas dari ayat-ayat al-Quran yang pada lahirnya kurang jelas, ditulis
dengan bahasa Arab yang baik dan menggunakan uslub yang tinggi, sehingga sulit
diketahui maksud suatu hadits tanpa mengetahui bahasa Arab.
2. Dalam bidang ilmu pengetahuan, fungsi bahasa Arab itu tergantung pada
pemilik bahasa (native speaker) bahasa itu sendiri dalam dunia ilmu pengetahuan.
Karena bahasa Arab juga memiliki peranan yang cukup signifikan dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3. Dalam pergaulan, bahasa Arab juga memegang peranan sangat penting, bukan
saja antara individu yang satu dan yang lainnya, tetapi juga antara masyarakat satu
dengan masyarakat lain. Di samping itu bahasa Arab juga sebagai bahasa
pemersatu diatara kelompok suku dan bangsa. Bahasa Arab juga telah resmi
sebagai bahasa yang dapat dipakai dalam percaturan internasional. Diakuinya
bahasa Arab sebagai bahasa resmi di PBB, membuktikan bahwa bahasa Arab
mempunyai peranan yang sangat besar sebagai salah satu alat komunikasi dalam
hubungan/ pergaulan di tingkat internasional.

D. PENGARUH SOSIAL BUDAYA TERHADAP PERKEMBANGAN


BAHASA ARAB
Bahasa sebagai sebuah gejala dan kekayaan sosial tak akan pernah
berhenti melaju sejalan dengan perkembangan pemakaiannya. Pemikiran manusia
dan tingkah laku manusia selalu ditandai oleh satu gejala alami, yakni perubahan.
Perubahan adalah ciri pembeda yang berkadar universal dari umat manusia.
Perubahan tingkah laku berbahasa terjadi pada setiap kawasan kehidupan dalam
setiap ruang dan waktu dari suatu suasana ke suasana lainnya, semua ini akan

45
Abdul Muin, Analisis Kontrastif bahasa Arab dan bahasa Indonesia, hal. 27-40
142

menyebabkan perubahan-perubahan aturan-aturan norma. Bahasa tidak pernah


hadir dalam kehampaan, karena akan selalu diwarnai dengan perubahan-
perubahan sosial.
Manusia sebagai makhluk sosial dapat dicirikan dengan sifatnya yang
selalu ingin berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain dalam satu
kebudayaan maupun dengan manusia yang dari kebudayaan yang berbeda. 46
Interaksi dan komunikasi tersebut dapat menyebabkan keragaman atau bahkan
perubahan pada masing-masing kebudayaan yang terlibat langsung dalam proses
tersebut. Bahasa mempunyai peran yang penting sebagai sarana transfer
penyampaian ide dan gagasan dalam satu masyarakat bahasa yang sama maupun
masyarakat bahasa yang berbeda. Dengan adanya interaksi dan komunikasi antar
masyarakat bahasa yang berbeda. Akibatnya akan menimbulkan adanya kontak
bahasa. Kontak bahasa tersebut terjadi karena seorang individu atau sekelompok
individu yang dengan sengaja ingin mempelajari bahasa kedua selain bahasa
aslinya.Selanjutnya kontak bahasa akan semakin terjalin bila dua bahasa yang
berbeda digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama.
Pemakaian bahasa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor linguistik, tatapi
juga oleh faktor non linguistik. Faktor-faktor non linguistik yang dimaksud, yaitu
faktor sosial dan situasional. Faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa
terdiri dari status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan lainnya,
sedangkan faktor situasional yang mempengaruhi pemakaian bahasa terdiri dari
siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dimana, dan
mengenai masalah apa.47 Dengan adanya faktor sosial dan situasional ini, akan
menyebabkan munculnya variasi bahasa.
Kelas sosial mengacu pada golongan masyarakat yang mempunyai
kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan,
pendidikan, kedudukan kasta, dan sebagainya. Labov dan Berstein berpendapat

46
Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2001), hal. 8
47
Suwito, Sosiolinguistik : Teori dan Problema, (Surakarta, Henary Offset, 1982), hal. 3.
Lihat juga Wahyu Wibowo, Manajemen Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003),
hal. 5-6
143

bahwa kajian tentang hubungan bahasa dan stratifikasi sosial bisa memberikan
informasi bahwa dalam satu bahasa memiliki tingkat-tingkat sosial
kemasyarakatan. Hal senada juga dijelaskan oleh Trudgill dalam Aslinda bahwa
stratifikasi sosial adalah istilah yang digunakan untuk memperkatakan susunan
kumpulan di dalam suatu masyarakat yang bersifat berlapis atau heirarki. 48
Sebagai contoh dari aspek bunyi, biasa dibedakan beberapa dialek (lahjah), dari
segi sintaksis (nawu) dapat juga digunakan untuk mengetahui beragam dialek
yang berkaitan dengan tingkat (strata) dapat juga digunakan untuk mengetahui
beragam dialek yang berkaitan dengan tingkat (strata) sosial masyarakat. Lebih
jauh dijelaskan Trudgill, bahwa dalam pertuturan kedua orang penutur terdapat
perbedaan-perbedaan tata bahasa yang memberitahu kita tentang latar belakang
masing-masing. Mungkin juga terdapat, walaupun tidak kentara dalam bentuk
bahasa tulisan, ciri-ciri perbedaan fonetik dan fonologi yang menyertai
penggunaan bahasa kedua penutur itu terdapat pula perbedaan aksen kelas sosial.
Menurut Ali Abdul Wid Wf, 49 bahasa dialog dalam satu negara atau
daerah terpecah kepada dialek-dialek yang berbeda sesuai dengan perbedaan strata
sosial mereka. Maka kemudian kita mengenal dialek golongan Aristokrat, tentara,
pelaut, tukang bangunan, pedagang, dan lain-lain. Inilah yang dinamakan oleh
para ahli linguistik dengan dialek sosial. Kemudian beliau menjelaskan bahwa
penyebab timbulnya dialek-dialek tersebut adalah adanya perbedaan-perbedaan
dalam kebudayaan, pendidikan, tingkatan ekonomi, kehidupan keluarga,
lingkungan sosial, adat kebiasaan, dan pekerjaan yang mereka tekuni, di antara
golongan dan strata sosial.
Dalam hal variasi atau ragam bahasa ada dua pandangan. Pertama, ragam
bahasa itu dilihat sebagai akibat keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman
fungsi bahasa itu. Kedua, ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya
sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. 50

48
Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, hal. 105-106
49
Ali Abdul Wid Wf, Ilmu al-Lughah, hal. 173
50
Abd al-Fatt Aff, Ilmu al-Ijtim al-Lughawi. Hal. 116
144

Adapun Abdul Chaer dan Leonie Agustina membagi ragam bahasa itu
dalam dua kelompok, berdasarkan penuturnya dan penggunanya. Dalam
pembahasan tentang kelompok pertama, yaitu ragam bahasa yang berkenaan
denagan penuturnya, ia menyebutkan bahwa apabila ragam itu bersifat
perorangan, maka disebut idiolek. Ragam ini berkenaan dengan warna suara,
pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat dan sebagainya dari setiap penutur.51
Demikian pula dengan masyarakat Arab, mereka memiliki warna yang berbeda
pada setiap pribadi.
Jika ragam itu berasal dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif,
berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tempat tinggal penutur, maka ia
lazim disebut dialek.52 Berdasarkan penemuan sejarah-sejarah, bahasa Arab dibagi
menjadi dua kelompok utama yaitu bahasa Arab Selatan dan bahasa Arab Utara.
Bahasa Arab selatan adalah adalah bahasa Qahthn dan dialek-dialeknya yang

yang terkenal yaitu Sabaiya ( ) yang ibukotanya adalah Maarib, dan dialek

seperti Muayyiniah( ) yang berada di wilayah Selatan Yaman, dan dialek

Haramiyah ( ) milik penduduk adramaut, Qitbaniya adalah kerajaan

besar yang terletak di derah pantai Utara Aden.53 Bahasa Arab Utara terbagi
menjadi dua bagian, yaitu bahasa Arab bidah dan bahasa Arab bqiyah.
Bahasa Arab bidah adalah bahasa Arab yang telah punah dan hanya
dapat diketahui melalui penemuan-penemuan ukiran ataupun pahatan saja. Seperti
yang ditemukan di daerah-daerah yang terletak di bagian Utara dan selatan Hijz,
yaitu diantara Hajar dan Taima dan juga di daerah Saba dan sekitarnya. Terdapat
beberapa dialek yang hanya dapat dikenal pasti melalui cerita dari kitab-kitab
lama seperti dialek Thamud, Layan dan afwah.54 Sehingga ada yang
mengatakannya sebagai bahasa Arab Prasasti.

51
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, hal. 61
52
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, hal. 61
53
ub li, Dirash f Fiqh al-Lughah, hal. 52
54
Amir Sayyid al-Samirai, Ara f al-Arabiyah, (Baghdad: Mathbaah al-Irshad, 1962),
hal. 41
145

Bahasa Arab Bqiyah adalah yang dapat kita kenal dari prosa dan puisi
jahiliyah serta dari al-Quran dan Hadith. Bahasa Arab Bqiyah ini ditemukan pada
abad ke-5 setelah milad. Terdiri atas dialek-dialek, diantaranya yang terkenal
adalah dialek Hijaz Barat atau lebih dikenal dengan nama dialek Quraisy dan Nejd
Timur atau Tamim.55
Seperti diketahui bahwa warga Arab dahulu hidup bersuku-suku, terisolir
dari suku lain, terpencar di berbagai daerah Jazirah Arabia. Mereka hidup dalam
sebuah ikatan kabilah, yang antara satu kabilah dengan kabilah lain selalu terjadi
peperangan dan permusuhan. Bahkan konon peperangan dan permusuhan tidak
terjadi dalam kurun waktu ratusan tahun lamanya. Di sisi lain permusuhan itu
tidak jarang berakhir dengan perdamaian yang disponsori oleh kabilah Quraisy
yang terjadi di Mekkah baik di kala musim haji atau di kala musim pasar lainnya.
Dari sini, maka posisi Mekkah dan kabilah Quraisy secara khusus sangat
signifikan dalam dunia Arab di zaman jahiliyah. Kondisi kabilah yang terisolir
antara satu dengan yang lain, ditambah dengan tidak adanya kekuasaan central
yang dapat membuat kebijakan dalam bahasa, mengakibatkan setiap kabilah
mengembangkan bahasa mereka masing-masing tanpa ada pengawasan dan
batasan. Kondisi inilah yang mengakibatkan terjadinya dialek dengan jumlah yang
cukup banyak di kalangan suku Arab.56
Ada beberapa ragam dialek kabilah-kabilah Arab yaitu : al-Kashkashah,
al-kaskasah, al-ananah, al-fafaah, al-wakm, al-wahm, al-ajajah, al-Istina,
al-Watm, al-Shanshana. Dialek-dialek ini sudah penulis jelaskan secara
mendetail beserta contohnya pada bab III tentang aneka ragam dialek Arab serta
faktor yang mempengaruhinya.
Dalam hitungan rinci, sulit menghitung jumlah dialek Arab. Beijing
Expert Traslation, dalam situsnya (www. Bjtranslate.com) menyatakan bahwa
dialek Arab terbagi hingga lebih dari 30 dialek. Kesemuanya itu terklasifikasikan
dalam beberapa kelompok utama (beberapa memiliki kemiripan yang lebih tinggi

55
ub li, Dirast f Fiqh al-Lughah, hal. 40. Lihat juga Amir Sayyid al-SamiraI,
Ar f al-Arabiyah, (Baghdad: Mabaah al-Irshad, 1962), hal. 41
56
A.Sayuti Anshari Nasution, Memahami Ragam Bahasa Arab dalam fq
Lughawiyyah, Vol. 3, No. 2, (PBA-UIN Jakarta, 2008), hal. 109
146

dan dikelompokkan dalam satu dialek utama). Namun tampaknya hingga kini,
para pengamat belum bersepakat tentang klasifikasi tersebut.
Beijing Expert Translaton membagi dialek utama bahasa Arab menjadi
delapan, yakni sebagai berikut :
1. Dialek Mesir (digunakan di Mesir)
2. Dialek Aljazair (digunakan di Aljazair)
3. Dialek Maroko/Maghribi (dugunakan di Maroko)
4. Dialek Sudan (digunakan di Sudan)
5. Dialek Saudi (dugunakan di Mesir)
6. Dialek Levantine Utara (digunakan di Sudan)
7. Dialek Mesopotamia (digunakan di Irak, Iran dan Syiria)
8. Dialek Najd (digunakan di Saudi Arabia, Irak, Yordania, dan Suriah). 57
Klasifikasi lain di berikan oleh Versteegh yang membagi dialek-dialek
utama bahasa Arab menjadi 4, yaitu: 1) Dialek Semenanjung Arab, 2) Dialek
Wilayah yang dulu termasuk Babilonia, 3) Dialek Suriah-Mesir, 4) Dialek
Maroko.58
Dari dialek-dialek diatas, bisa disimpulkan bahwa begitu banyak dialek-
dialek Arab, namun berbeda dalam hal jumlah. Adanya perbedaan ini dapat dibaca
dari dua sudut pandang, Pertama menandakan sulitnya menarik batas geografis
dialek dan banyaknya kemiripan yang ada diantara masing-masing dialek. Kedua,
sulitnya memberikan defenisi dan batasan yang jelas pada langage dan parole.
Kemudian dikenal juga kronolek atau dialek temporal, yaitu ragam bahasa
yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Dalam hal ini Bahasa
Arab terbagi atas 3 zaman yaitu bahasa Arab sebelum datangnya Islam, bahasa
Arab di masa Islam, dan bahasa Arab Modern. Sebelum datangnya Islam, orang-
orang Arab menggunakan dialek badui kuno, yaitu dialek Hijz, Tamm, Huzail,
dan ai. Menurut Sibawaih, bahasa Arab fusha di dalam alunan puisi Jahiliyah
dan qiraat al-Quran yang a tidaklah sama secara langsung dengan salah satu

57
www.bjtranslate.com/arabic.asp, diakses tanggal 1 Maret 2009
58
Kees Versteegh, The Arabic Language, (New York: Columbia University Press, 1997),
hal. 148
147

dialek badui tadi. Itu artinya terdapat perbedaan-perbedaan antara bahasa Fu


dan dialek Hijaz juga dialek Tamm. 59
Selanjutnya ragam bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan
kelas sosial penuturnya, ia dinamakan sosiolek atau dialek sosial. Di dalamnya
terdapat akrolek adalah ragam sosial yang dianggap lebih tinggi atau bergengsi
dari pada ragam sosial lain, basilek adalah ragam sosial yang dianggap lebih
rendah, vulgar adalah milik mereka yang kurang terpelajar, slang adalah ragam
bahasa yang bersifat khusus dan rahasia, kolokial adalah yang digunakan dalam
percakapan sehari-hari, jargon adalah ragam sosial yang digunakan secara
terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu, dan argot adalah digunakan
terbatas oleh profesi tertentu yang bersifat rahasia, serta ken adalah ragam bahasa
yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan.
Ragam sosiolek ini juga terdapat di dalam Bahasa Arab. Sebagai contoh
perbedaan bahasa laki-laki Arab dan perempuan Arab. Maka akan terlihat
perbedaan baik dari bentuk suara,60 pemilihan kata,61 bentuk kalimat, dan juga

59
Mamd Fam hijz, Ilmu al-Lughah al Arabiyah, hal. 40
60
Dari segi suara misalnya, suara wanita mempunyai karakteristik yang berbeda dari
suara pria: Dari aspek ini dapat dilihat pada tujuh point berikut ini: Wanita menggunakan macam-
macam intonasi kalimat yang lebih banyak dari yang digunakan oleh pria, Intonasi pada wanita
lebih banyak bersifat sentimental ( ), Wanita berbicara dengan tekanan suara (pitch) tinggi
yang menyarupai tekanan suara anak-anak, dan terkadang lebih keras dari suara pria, Dalam
bahasa cinta dan kasih sayang, suara rendah dan suara hidung tampak pada pria, sedangkan suara
bibir ( ) dan suara terbahak-bahak ( ) tampak pada wanita, Suara
wanita bersumber dari pangkal tenggorokan dan berdesah, Pada umumnya wanita berbicara
dengan bentuk suara yang halus dan lembut (muraqqaqah), sehingga mereka misalnya: a.
mengganti bunyi dengan sehingga mereka mengatakan sebagai ganti dari b.
mengganti bunyi dengan sehingga mereka mengatakan sebagai ganti dari c.
mengganti bunyi dengan sehingga mereka mengatakan sebagai ganti dari d.
mengganti bunyi dengan sehingga mereka mengatakan sebagai ganti dari e.
mengganti bunyi dengan sehingga mereka mengatakan sebagai ganti dari . Pada
sebagian masyarakat, seperti masyarakt timur tengah- pria menambahkan bunyi pada
, atau dengan mengganti dengan bunyi . Lihat abr Ibrhm al-Sayyid, Ilmu
al-Lughah al-Ijtim Mafhmuhu Wa Qayahu, Iskandariyah: Dr- al- Marifah al-Jamiiyyah,
1995, hal. 221-222.
61
Dari segi pemilihan kata (leksikal), terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam
pemilihan kata. Pemilihan kosa kata tersebut memiliki ciri-ciri khusus dapat mereka pakai pada
148

makna. Dari segi suara, perempuan akan mengucapkan qaf dengan kaf ,
thadengan ta, dhadh dengan dal, a dengan sin dan a dengan zai,
seperti , , 62

Perbedaan dalam hal penggunaan bahasa oleh kaum laki-laki dengan kaum
perempuan sulit untuk dikatakan sebagai suatu kecenderungan yang bersifat
biologis semata. Kenyataan lebih menunjukkan bahwa faktor sosial dan budaya
sering memegang peranan yang penting dan menentukan tentang cara bagaimana
kaum perempuan dan laki-laki (harus) berbicara. Hal ini mengakibatkan semakin
tidak mudahnya memahami bahasa hanya dari struktur kata dan kalimatnya saja
tanpa menelusuri lebih jauh faktor-faktor lain yang melatarbelakangi pemakaian
bahasa tersebut dalam suatu komunitas kehidupan tertentu.63
Dari berbagai penelitian di bidang bahasa dalam kaitannya dengan
kehidupan sosial-politik dan budaya masyarakat, terlihat bahwa bahasa
perempuan memang berbeda dengan bahasa laki-laki. Perbedaan bahasa laki-laki
dengan perempuan sangat erat hubungannya dengan masalah kekuasaan,
Perbedaan bahasa mereka bukan saja terletak pada perbedaan suara, tetapi juga
pada pemakaian atau pemilihan kata (leksikal), gramatikal dan juga cara
penyampaian (pragmatis).

saat-saat tertentu, misalnya: Wanita lebih cenderung mimilih dan menggunakan kata yang
menguatkan kewanitaan mereka, seperti: ,
sebagaimana juga mereka menghiasi bahasa mereka dengan sifat-sifat yang mengungkapkan
tentang kekuatan perasaan, apakah digunakan untuk kenyataan atau sekadar basa-basi saja,
seperti: , Wanita banyak menggunakan gaya bahasa penguat (intensifiers)
seperti: - - . Wanita menggunakan kata kerja dan kata sifat tertentu, bahkan
bahasa Arab mengkhususkan wazan untuk mencela wanita, seperti: maksudnya .
Kadang-kadang wanita tidak menggunakan kata-kata yang digunakan oleh pria, kalaupun mereka
menggunakan sebagiannya, maka penggunaannya berbeda dari penggunaan pria, seperti
penggunaan kata pada warna. Kata-kata yang menunjukkan warna yang banyak digunakan oleh
wanita adalah:
, sedangkan warna yang sering
digunakan oleh pria adalah:
. Lihat abr Ibrhm al-Sayyid, Ilmu al-Lughah al-Ijtim Mafhmuhu Wa Qayahu hal.
223-224
62
abr Ibrhm al-Sayyid, Ilmu al-Lughah al-Ijtim Mafhmuhu Wa Qayahu hal.
222
63
http://sabine-elli.blogspot.com, diakses tanggal 12 Nopember 2009
149

Sedangkan kelompok kedua, yaitu ragam bahasa berdasarkan


penggunanya disebut juga sebagai fungsiolek, ragam atau register. Ragam ini
biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaannya, gaya atau tingkat
keformalan, dan sarana penggunanya. Berkenaan dalam bidang penggunaan, maka
dikenal ragam bahasa jurnal listik, militer, ilmiah dan sebagainya.64
Dalam bidang sastra, orang Arab akan memilih kosa kata dan kalimat yang
memiliki estetika yang tinggi serta ungkapan yang paling tepat, tidak sama dengan
kosa kata yang digunakan untuk bidang ekonomi dan lainnya. Sehingga akan
dikenal register atau bahasa yang digunakan kegiatan masing-masing.

Tidak dipungkiri bahwa bangsa Arab merupakan bangsa yang sering


melakukan hijrah dari satu tempat menuju tempat lain. Berpindahnya sekelompok
masyarakat65 tersebut menyebabkan percampuran segolongan pendatang baru
dengan penduduk lokal-pribumi setempat, dan pembauran tersebut sudah tentu
menciptakan bentuk baru bagi interaksi kebahasaan. Dalam suatu masyarakat,
pasti terdapat berbagai golongan atau status (strata) sosial tertentu. Faktor sosial
ini tercermin pada perbedaan menurut tingkatan ekonomi dan budaya penuturnya.
Dengan demikian, Faktor sosial dapat mengakibatkan terjadinya perubahan
bahasa dan cara berbahasa. Misalnya:
(a) Tingkat elit (meskipun sesungguhnya sesuatu yang abstrak) dalam
masyarakat akan sangat mempengaruhi tingkat masyarakat yang lebih rendah
dalam perkembangan penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan budayawan
akan sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang yang tidak
berpendidikan atau orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Bahasa yang
digunakan mahasiswa akan sangat berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan
oleh para petani. Demikian juga bahasa yang dituturkan oleh dosen di perguruan
tinggi akan sangat berbeda dengan para kuli bangunan.

64
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, hal. 62-63
65
Perpindahan suatu bangsa dari masyarakat pedusunan menuju masyarakat yang
beradab, juga akan memperindah bahasa, meningkatkan pola bahasanya. Pembahasan lebih dalam,
lihat Abdul Wahid Wafi, al-Lughah wa al-Mujtama, h. 9-10.
150

(b) Di masyarakat yang menganut patriachat, ungkapan-ungkapan untuk


menyebutkan hubungan kekeluargaan sangat beragam antara laki-laki dengan
perempuan, seperti ungkapan; untuk adik Ayah/paman (), untuk adik Ayah
yang perempuan (), untuk adik ibu/paman (), dan adik ibu yang
perempuan disapa dengan ungkapan ().66
(c) Sementara di masyarakat yang menganut parental, ungkapan-ungkapan
untuk laki-laki tidak terlalu berbeda dari ungkapan terhadap nama-nama
perempuan bisa digunakan oleh laki-laki dan nama laki-laki juga bisa digunakan
oleh perempuan, seperti: kata: dan sama dengan dan .67
(d) Mengedepankan kesantunan dalam bertutur, sebetulnya merupakan ciri
bangsa Arab pada umumnya, sehingga banyak kata-kata yang kurang enak
diucapkan secara etika, diganti dengan kata-kata lain dengan menggunakan
majz,68 misalnya ungkapan: buang air besar () .
Demikian bahasa erat kaitannya dengan sistem sosial suatu masyarakat,
sehingga bahasa memiliki ragam sosial atau sosiolek yang menunjukkan tingkat
sosial-ekonomi penuturnya.
Pada setiap komunitas Arab, akan dijumpai dua macam varietas:
Pertama, varietas dialek lisan setempat (kolokial). Bahasa inilah yang
didapat setiap orang dalam suatu komunitas Arab sejak masa kanak-kanak, dan
digunakan dalam bertutur sehari-hari.
Bahasa Arab miya dikenal dengan berbagai istilah seperti lahjah,
dialek, colloquial Arabic. Bahasa ini dipergunakan dalam percakapan sehari-hari,
seperti di rumah, di pasar atau dalam acara yang sifatnya tidak formal. Perbedaan
utama antara bahasa Arab standar dengan dialek, terletak pada kosa kata, dan

66
Ali Abd Wid Wf, al-Lughah wa al-Mujtama, h. 13.
67
Ali Abdul Wid Wf, al-Lughah wa al-Mujtama, hal. 13.
68
Ali Abdul Wid Wf, al-Lughah wa al-Mujtama, hal. 18.
151

penggunaan tata bahasa. Bahasa Arab dialek sangat diwarnai oleh kosa kata lokal,
pengaruh bahasa asing tertentu, seperti bahasa Prancis. 69
Kedua, varietas bahasa Arab klasik (Classical Arabic)/bahasa Arab standar
modern.70 Varietas yang kedua ini sama dengan bahasa Arab yang dipakai pada
masyarakat masa Rasullah. Varietas ini merupakan ragam standar dan berlaku
bagi negara yang berpenduduk mayoritas Arab dan Muslim (digunakan sebagai
media pokok komunikasi dalam bentuk media massa, buku-buku, majalah,
dokumen pemerintahan, korespondensi, pidato-pidato, konferensi-konferensi, dan
pertemuan-pertemuan ilmiah).
Bahasa Arab Klasik adalah bahasa yang dipakai dalam karya-karya budaya
Arab seperti kesusastraan, ilmu, kedokteran, filsafat, matematika dan lain
sebagainya. Banyak karya ilmiah yang diterjemahkan dari peradaban Yunani,
aromawi, Persia dan India ditulis dalam bahasa Arab Klasik. Bahasa Arab Klasik
dikenal juga dengan bahasa al-Quran, karena dalam bahasa itu al-Quran
diturunkan, semua buku agama ditulis oleh para ulama dan cendekiawan Islam
dalam bahasa Arab Klasik.71
Bahasa Arab Standar (Contemporary Arabic) dipakai dalam acara-acara
resmi, dalam media massa, di sekolah-sekolah, seminar atau pada forum
Internasional dan lain sebagainya. Bahasa Arab Standar (fu) adalah bahasa
yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan modern, karena banyak
mengambil kata-kata baru dari peradaban Barat. Media massa, seperti surat kabar
dan radio banyak memasukkan kosa kata asing ke dalan bahasa Arab. 72
Dalam perkembangannya, interaksi yang dialami oleh penduduk Arab
dengan penduduk setempat yang didatangi, mengakibatkan terjadinya perubahan
bahasa dan cara menggunakan bahasa. Misalnya fenomena interferensi

69
Aliudin Mahyudin, Peranan Bahasa Arab dulu, kini dan akan datang, (Depok:
Fakultas Sastra UI, 1992), hal. 15
70
Sabah Ghazzawi, The Arabic Language, (Washington D.C.: Center for Contemporary
Arab Studies, 1992), hal. 2.
71
Aliudin Mahyudin, Peranan Bahasa Arab dulu, kini dan akan datang, hal. 15
72
Aliudin Mahyudin, Peranan Bahasa Arab dulu, kini dan akan datang, hal. 15
152

mengakibatkan terjadinya deviasi yang muncul pada setiap daerah. Di sini muncul
dan terjadinya dialek regional dalam bahasa Arab. Dialek merupakan manifestasi
adaptasi (dan modifikasi) bahasa lokal (daerah) dengan bahasa standar. Inilah
salah satu kondisi yang memunculkan lahirnya dialek yang berbeda-beda.
Misalnya: Ungkapan "Hendak kemana?"
Dialek bahasa Arab di Mesir ( )
Dialek Yaman ()
Dialek Syria ( )
Dialek Saudi Arabia ( atau )
Struktur sosial tempat bahasa itu tumbuh akan berpengaruh terhadap
perkembangan bahasa itu sendiri. Struktur sosial ini meliputi kelas ekonomi,
profesi, kelomok usia, dan jender. Dalam bahasa Arab klasifikasi atau struktur
sosial tercermin melalui kosa kata dan penggunanya dalam bahasa lisan dan
tulisan. Secara umum pengguna bahasa dihubungkan dengan struktur sosial
terbagi dua klasfikasi,73 yaitu:
a. Bahasa resmi, yaitu bahasa yang digunakan dalam kerangka formal, kelas
menengah misalnya dalam dunia pendidikan, administrasi, jurnalistik dan
sebagainya. Dalam bahasa Arab bahasa resmi ini diidentikkan dengan bahasa
Arab fu, yaitu bahasa yang secara keseluruhannya terdokumentasikan dalam
al-Turath al-Arabiyah al-Islmiyah, yaitu al-Quran , al-Hadith dan warisan-
warisan ilmiah. Bahasa Arab jenis ini telah terfatronkan sehingga bersifat tetap.
b. Bahasa publik, yaitu bahasa yang dipergunakan dalam kerangka informal dan
umum. Dalam bahasa Arab bahasa publik ini diidentikkan dengan bahasa Arab
miyah. Bahasa jenis ini diperlukan keberadaannya untuk menampung
perkembangan pengalaman kebudayaan yang terjadi di sekitar wilayah penutur
bahasa Arab, maka bahasa jenis ini bisa dikatakan sebagai strategi masyarakat
umum untuk menkomunikasikan pengalaman kebudayaannya. Bahasa Arab

73
Fat Ali Ynus dan Muammad abd al-Rauf al-Shaikh, al-Marja f al-Talm al-
Lughah al-Arabiyah li al-Ajnib, hal. 127
153

miyah ini juga terbagi menjadi banyak dialek (lahjah) tergantung letak georafis
penuturnya.
Dengan demikian jelaslah bahwa pengaruh sosial dan bahasa adalah faktor
yang terpenting terhadap kehidupan bahasa. Pindahnya sekelompok masyarakat
manusia dari suatu tempat ke tempat lain, dan bercampurnya golongan pendatang
baru dengan penduduk asli setempat, pasti menciptakan bentuk-bentuk baru bagi
hubungan kebahasaan. Seperti diketahui, hijrahnya orang-orang Arab ke Syam,
Irak, Mesir dan Maroko setelah tersiarnya Islam ke daerah-daerah merupakan
peristiwa yang amat penting dalam sejarah bahasa Arab.
Akibat hijrah besar-besaran mereka ini bahasa Arab tersiar meluas ke luar
wilayah Semenanjung Arabia, menjadi bahasa percakapan (resmi) serta bahasa
sastra dan kebudayaan dalam negara Islam yang berwilayah luas pada waktu itu.
Jika dalam suatu masyarakat terdapat berbagai golongan dan tingkatan,
tingkatan elite dalam masyarakat itu akan mempengaruhi tingkatan-tingkatan
yang lebih rendah, antara lain dalam penggunaan bahasa. Hal ini karena praktik
berbahasa dan kebiasaan-kebiasaan baru golongan elite biasanya mempeoleh
perhatian golongan yang lebih rendah tingkatannya untuk ditiru dan dipraktekkan
sehingga pembaharuan yang semula terbatas berkembang menjadi kebiasaan yang
dipraktekkan secara luas.
Selain pengaruh sosial terhadap perkembangan bahasa, maka faktor
budayapun turut mempengaruhi terhadap perkembangan bahasa74 atau terjadinya
variasi bahasa. Perubahan budaya ini secara langsung akan mempengaruhi

74
Sebagaimana yang dikemukakan Pateda bahwa bahasa berkembang terus sesuai dengan
perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Dengan kata lain, karena pemikiran manusia
berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang pula atau berubah. Perkembangan
atau perubahan yang dimaksud bukan saja pada aspek bentuknya (form), melaikan juga pada aspek
maknanya (meaning). Lihat Mansoer Pateda, Semantik Leksikal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), t.h.
Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh M. Ainin dan Imam Asrori bahwa perkembangan
bahasa disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, perkembangan sosial
budaya, penyimpangan bahasa, perbedaan bidang pemakaian, dan asosiasi. Lihat Moh. Ainin dan
Imam Asrori, Semantik Bahasa Arab, (Surabaya: Hilal Pustaka, 2008), hal. 119.
154

penggunaan bahasa, dan di sisi lain perubahan yang terjadi pada bahasa
merupakan respon bagi perubahan sosial budaya itu.
Bahasa adalah medium ekspresi budaya tempat bahasa itu tumbuh,
berkembang dan dipergunakannya bahasa itu. Setiap kata selain memiliki makna
harfiah, ia pun memiliki makna budaya sebagai penampung akar sejarah dan
tradisi masyarakat penggunanya. 75 Ketika masyarakat pengguna bahasa
menggunakan bahasa mereka, sesungguhnya mereka sedang mengkomunikasikan
cara kebudayaan yang diwakili bahasanya
Diantara sekian banyak makluk hidup didunia, manusia dianggap makhluk
hidup tertinggi, hanya manusia yang mempunyai bahasa dan kecakapan
berbahasa. Kebudayaan manusia berkembang dan dapat diwariskan karena
peranan bahasa ini. Tak ada peradaban manusia tanpa bahasa. Bahasa adalah ciri
manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Bahasa merupakan media
untuk memahami makna dan mentransfer ide dan pikiran antara sesama manusia,
sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan baik antara sesamanya. 76
Bahasa Arab adalah bahasa yang lahir, berkembang dan dipergunakan para
penuturnya di wilayah Arab. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah
sebagai bahasa yang dipergunakan sesuai dengan kerangka budaya Arab.
Sedangkan salah satu faktor yang mempengaruhi corak budaya adalah faktor alam
yang terdiri dari georafis, faktor iklim dan keadaan tanah. Faktor alam ini dengan
langsung membawa perbedaan corak penghidupan atau ekonomi.
Di negeri Arab dengan gurun-gurun pasirnya yang terhampar tidak
mungkin dilakukan pertanian seperti di wilayah tropis. Gurun pasir membentuk
penduduknya menjadi bangsa peternak, pengembara atau pedagang. Bangsa
seperti ini tidak terikat oleh tanahnya yang tidak memberikan hasil bumi yang
melimpah, mereka terpaksa mencari penghidupan lain.Cara penghidupan ini

75
Fat Ali Ynus dan Muammad abd al-Rauf al-Shaikh, al-Marja f al-Talm al-
Lughah al-Arabiyah li al-Ajnib hal. 120
76
Ibrhm Muammad Abdalla, Majalah al-Turth al-Arab, (Damaskus: edisi 101,
tahun ke 26, 2006), hal.
155

menimbulkan kebiasaan sehari-hari yang berkembang menjadi susunan adat,


pranata sosial dan kebudayaan77 yang seterusnya diungkapkan dalam medium
bahasa yang dipergunakannya.
Dalam perkembangannya , bahasa Arab menyebar sampai pada ke luar
Jazirah Arab seiring dengan menyebarnya agama Islam. Selain itu, bahasa Arab
menjadi simbol nasionalisme Arab ketika Islam mulai menyebar ke berbagai
wilayah. Dari berbagai wilayah. Dari berbagai suku dan kabilah, bahkan bangsa
yang berbeda, kemudian disatukan oleh bahasa Arab. Bahasa Arab dengan
demikian menjadi identitas bagsa Arab. Inilah yang kemudian mendorong
dirumuskannya bahasa Arab baku yang harus disepakati sebagai linguafranca.78
Faktor ini amat efektif terhadap berkembangnya bahasa. Karena nilai
ilmiah, karangan-karangan yang ditulis dengan bahasa Inggris mengenai berbagai
bidang ilmu pengetahuan, bahasa Inggris dipelajari dimana-mana. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi Rusia di abad XX telah mengangkat martabat bahasa
Rusia sehigga bahasa rusia dipelajari juga oleh bangsa lain. Bahasa Arab pun oleh
orang-orang Eropa dan Amerika sudah lama dipelajari, baik untuk spesialisasi
ataupun untuk kepentingan hubungan dan kepentingan-kepentingan bisnis. Pada
beberapa tahun terakhir ini bahasa Arab memperoleh perhatian dunia non Arab
yang lebih besar dibandingkan dari pada waktu-waktu sebelumnya. Bahkan sudah
termasuk bahasa resmi di forum PBB.79
Sejalan dengan uraian di atas, patut diutarakan bahwa jika peradaban suatu
masyarakat makin maju, terjadi interelasi berbagai macam keperluan dan sistem
hubungan yang makin terbuka dan mudah antara daerah dengan daerah lainnya,
dari suatu masa ke masa yang lain. Tersebarnya konsep-konsep dan pikiran-
pikiran baru serta hasil-hasil penemuan teknologi modern mengakibatkan

77
Sidi Ghazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, hal. 79
78
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Vol. 4, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1993),
hal. 2-4
79
Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada
Perguruan Tinggi Islam, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama Depag RI,
1976), hal. 24
156

perlunya penambahan perbendaharaan kata dengan cara meminjam dari bahasa


lain, bahasa daerah atau bahasa asing, dengan membentuk kata-kata baru dengan
menggunakan unsur-unsur yang sudah ada dalam suatu bahasa. Dengan
dipinjamnya kata-kata dari bahasa daerah atau bahasa asing akan terjadinya
perubahan dalam sistem bunyi, ejaan dan semantik
Amad Mukhtar Umar80 mengungkapkan bahwa perubahan sosial
budaya berdampak pula pada istilah keagamaan, misalnya kata alat yang berarti
doa atau istighfar atau rumah ibadah orang yahudi, bukanlah kata atau istilah
Islami. Akan tetapi ketika Islam mewajibkan shalat, makna kata tersebut berubah
makna menjadi ritual ibadah yang di mulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri
dengan salam.
Bahasa pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya
masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, 81 bahasa juga
merupakan fenomena budaya.82 Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur
budaya suatu masyarakat di samping terhadap berbagai unsur sosial, budaya
merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu bahasa
Setiap individu yang tumbuh akan menemukan suatu sistem kebahasaan di
hadapannya yang berlaku pada lingkungannya, kemudian ia menerima sistem
tersebut melalui belajar dan meniru, sebagaimana ia menerima sistem-sistem
sosial lainnya, sehingga ia mengungkapkan bahasa dengan tepat dan menerimanya

80
Amad Mukhtar Umar, Ilmu al-Dillah, (Kuwait: Maktabah Dr al-Urbah, 1982),
hal.
81
Sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang
digunakan sebagai sarana komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang peserta.
Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku dalam komunikasi, seperti hubungan peran di
antara peserta komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan komunikasi, situasi
komunikasi, status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga
berpengaruh dalam penggunaan bahasa. Dell Hymes, "On Communicative Competence", dalam
Pride, J.B. dan Janet Holmes (Ed.). Sociolinguistics. (Middlesex: Penguin Books, 1971), hal. 14.
82
Sebagai fenomena budaya, bahasa selain merupakan salah satu unsur budaya, juga
merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Di samping
itu bahasa merupakan unsur budaya yang paling banyak menggunakan simbol , sebab ia sebagai
pusat pembentuk kebudayaan. Lihat Abdul Fatt Aff, Ilm al-Mujtama al-Lughaw, hal. 153.
Bahasa merupakan elemen budaya yang sangat penting dan sarana penting untuk pengajaran
dan pembelajaran. Lihat Philip H.Coombs, The Word Crisis in Education, (New York: Oxford
University Press, 1985), hal. 256.
157

sesuai dengan pemahaman yang disampaikan. 83 Oleh karena itu, setiap terjadi
perkembangan dalam salah satu aspek kehidupan masyarakat, seperti sopan-
santun, peraturan, kebiasaan, keyakinan, dan lain-lain, maka pola
penampakkannya tiada lain merujuk kepada alat tutur yakni bahasa.
Seperti yang dikemukakan oleh Wardhaugh dan Quown, bahasa adalah
sebuah gejala sosial yang bersifat immaterial. 84 Ia merupakan instrumen utama
bagi seseorang dalam berpikir, dan mengintegrasikan dirinya secara internal dan
eksternal, baik sebagai individu ataupun sebagai sekelompok dalam suatu
komunitas. Sebagai manusia tidak dapat hidup sendirian, dan eksistensinya
tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. 85 Kaitan antara bahasa dan
budaya, ditegaskan oleh J.Dubes dan Daniel D.Whitney, bahwa bahasa adalah
"kendaraan" yang dengannya manusia menyampaikan dan mengungkapkan
sebagian besar budaya mereka kepada generasinya, dan karenanya ia
memposisikan diri dalam tempat khusus di dalam budaya, 86 yang boleh jadi jika
tanpa bahasa, proses pembudayaan nyaris tidak berhasil dan mungkin tak akan
eksis tanpa bahasa.

Bila dicermati secara lebih seksama, telah jelas hubungan antara bahasa
sebagai komposisi utama budaya. Dengan demikian, sebagian besar yang ada
dalam kebudayaan akan tercermin dalam bahasa. 87 Pada akhirnya, bahasa sebagai
suatu sistem vokal simbol yang bebas yang dipergunakan oleh anggota
masyarakat untuk berinteraksi.88 Oleh karena itu, hakikat bahasa membicarakan
sistem suatu unsur bahasa, sedangkan fungsi bahasa yang paling mendasar ialah

83
Ali Abd Wid Wf, al-Lughah Wa al-Mujtama, hal. 4. Lihat juga D.Hudson, Ilm al-
Lughah al-Ijtim, (Baghdad: Silsilah al-Miah Kitb, 1987), h. 16.
84
Ronald Wardhaugh, An Introduction to Sosiolinguistic, Fourth Edition, (USA: Blackwell
Publishers, 2002), hal. 8.
85
Lihat Norman A.Mc.Quown, Language, Culture and Education, (California: Standford
University Press, 1982), hal.1.
86
Patrick J.Dubbs dan Daniel D.Whitney, Cultural Context, Making Anthropology Personal,
(London: Allyn & Bacon Inc, 1938), hal. 49.
87
Bahasa sebagai cermin pola berpikir suatu masyarakat/bangsa, artinya struktur bahasa
menentukan cara manusia berpikir. Sapir juga berpandangan, bahwa bahasa merupakan pemandu
untuk realitas sosial. Begitu bergantungnya manusia pada bahasa sehingga Sapir menyatakan,
manusia sebenarnya hidup atas belas kasih bahasa. Lihat Sapir, Language, hal. 209.
88
P.W.J.Nababan, Sosiolinguistik Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Gramedia, 1991), hal. 46.
158

untuk komunikasi dalam berinteraksi secara sosial. Dengan berkomunikasi akan


terjadi suatu sistem sosial atau masyarakat, dan tanpa komunikasi tidak ada
masyarakat. Sedangkan masyarakat atau sistem sosial manusia berdasarkan dan
bergantung pada komunikasi kebahasaan, sehingga tanpa bahasa tidak ada sistem
kemasyarakatan manusia yang tidak terlepas dari masalah kebudayaan.
Eratnya hubungan antara bahasa dan budaya, dapat ditegaskan bahwa
bahasa adalah cermin budaya dan media ekspresi budaya, dalam arti melalui
bahasa seseorang atau masyarakat tertentu, dapat diketahui lingkungan sosial dan
kebudayaan masyarakat tersebut. Perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di
wilayah tertentu akan mempengaruhi karakteristik bahasa yang digunakan. Pada
bagian awal telah dijelaskan bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya, maka
dalam pendekatan sosiolinguistik, perubahan budaya ini secara langsung akan
mempengaruhi penggunaan bahasa, dan di sisi lain perubahan yang terjadi pada
bahasa merupakan respon bagi perubahan sosial budaya itu. Begitu juga dengan
situasi kebahasaan (diglosia) dalam bahasa Arab sangat berkaitan erat dengan
sosial-budaya masyarakat Arab tersebut.
BAB V
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka
pada bab ini dikemukakan kesimpulan dan saran penelitian.

A. Kesimpulan
1. Diglosia dalam bahasa Arab adalah merupakan realitas yang positif sebagai
dampak dari perkembangan peradaban manusia. Semakin tinggi peradaban
suatu masyarakat maka semakin besar pula peluang terjadinya variasi dalam
bahasa
2. Terjadinya diglosia adalah disebabkan faktor sosial budaya, hal ini dapat
dilihat dari berbagai factor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa itu
sendiri yaitu tingkat pendidikan, umur, maupun jenis kelamin.
3. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya diglosia dalam bahasa
Arab, diantaranya adalah faktor sosial-budaya. Sebagaimana diketahui bahwa
fungsi bahasa yang paling mendasar adalah untuk komunikasi dalam
berinteraksi secara sosial, dengan kata lain berkomunikasi akan mewujudkan
suatu sistem sosial atau masyarakat. Berbahasa juga menunjukkan bagaimana
suatu bangsa berbudaya sedangkan untuk mempertahankan budaya maka
berbahasa adalah suatu kelaziman. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab
fu dan bahasa arab miyah adalah sesuatu yang harus dipertahankan sesuai
dengan perkembangan sosial budaya masyarakat itu sendiri. Meskipun adanya
upaya untuk menggeser posisi dan fungsi bahasa fu dengan bahasa miyah
atau sebaliknya, hingga sekarang bahasa fu tetap pada posisi semula dan
hidup berdampingan dengan bahasa Arab miyah.
4. Bahasa Arab miyah dan bahasa Arab fu masing-masing mempunyai
peran dan fungsi tersendiri, serta saling melengkapi sebagai bahasa komunikasi
masyarakat Arab dan dunia Islam. Dengan demikian, desakan menyingkirkan
posisi bahasa Arab fu dengan bahasa Arab miyah sebagai bahasa resmi
atau menghilangkan bahasa Arab miyah dari masyarakatnya adalah wacana
yang tidak realistis bahkan mengingkari sejarah dan jati diri bangsa Arab

159
161

sendiri. Perkembangan bahasa Arab miyah bukan merupakan hal yang dapat
merusak kemurnian bahasa Arab fu bahkan seiring dengan bergulirnya
zaman akan memperkaya kosa kata bahasa Arab itu sendiri.

B. Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmiah dalam
menyikapi tentang situasi kebahasaan didalam masyarakat multilingual.
Selanjutnya diajukan saran-saran kepada berbagai pihak :
1. Guru-guru Bahasa Arab diharapkan agar dapat mengembangkan
pembelajaran bahasa Arab miyah kepada murid-muridnya dan tidak hanya
terfokus kepada bahasa fu saja.
2. Pusat Kurikulum (PUSKUR) atau Lembaga Pengembangan Bahasa Arab agar
berupaya mengkolaborasikan antara bahasa Arab fu dan miyah dalam
muatan kurikulum
3. Peneliti sejenis berikutnya agar melakukan penelitian yang lebih mendalam
tentang fenomena diglosia, mengingat penelitian ini sangat terbatas pada
aspek sosial budaya, maka sangat diharapkan untuk melanjutkan penelitian
dari berbagai aspek-aspek yang lain.

160
DAFTAR PUSTAKA
Abdallah, Ibrhm Muammad, Majalah al-Turth al-Arab, Damaskus:
edisi 101, tahun ke 26, 2006
al- Abd, Muhammad, al- Lughah al- Maktbah wa al- Lughah al-
Manqah, (Kairo: Dr al- Fikr li al- Dirsah, 1990
Aff, Abd al-Fatt, Ilm al-Ijtimi al Lughaw, Kairo: Dr al-Fikr, 1995
Amad Amin, u Islm, Kairo: Maktaba an-Nahdah al-Miriyyah, 1974
Ainin, Moh. dan Asrori, Imam, Semantik Bahasa Arab, Surabaya: Hilal
Pustaka, 2008
--------, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Malang: Hilal Pustaka, 2007
Ali, Atabik dan Muhdlar, A. Zuhdi, Kamus Kontemporer Arab Indonesia,
Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1998
Ali, M al-Khl, A Dictionary of theoretical Lingustic, Beirut: Librairie Du
Liban, 1982, Cet 1
Alwasilah, A. Cheadar, Politik Bahasa dan Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1997
--------, Pengantar Sosiologi Bahasa, Bandung: Angkasa, 1993, Cet. Ke-10
isyah bint Shti, Lughatun wa al-Hayh, Maroko: Dr al-Marif, 1971
Ans Ibrhm, , f al-lahja al-Arabiyah, Kairo: al-maktabah al-anjelo,
Cet ke-4
--------, al Awt al Lughawiyah, (Kairo: Maktabah al Anjelo al Miriyah,
1979, Cet. Ke-5
Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003
al-Asad, Abdul Karm Muammad, al-Was F Trkh al-Naw al-Arab,
(Riya: Dr al-awaf, 1992
Aslinda dan Syafyahya, Leni , Pengantar Sosiolinguistik, Bandung: Refika
Aditama, 2007, Cet. I
Ayatroehadi, Dialektologi Sebuah Pengantar, Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979
al-Baalbak, Munir, al-Mawrid; A Basic Modern English-Arabic Dictionary,
(Beirut: Drel-Ilm Lil-Malayn, 2002
Badudu, J.S., Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 1986
Bakkala, M.H. Pengantar Penelitian Studi Bahasa Arab, Jakarta: Harjuna,
1990
Bishr, Kaml, Ilmu al-lughah al-Ijtim, Madkhal, (Kairo, Dr al-Ghrb,
1997
Blachere, Regis, Histoire de la Litteratur Arabe, (diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab oleh Ibrahim Kailani), Dr al-Fikr: Beirut, tt
Bloomfield, Leonard Language, London: George Allen & Unwin, 1979, Cet.
XIV
--------, Leonard, Language, (terj. I. Sutikno), Jakarta: PT. Gramedia, 1965
Bouchouk, al-Muaf Abdallh, Talm Wa Taallum al-Lughah al-
Arabiyyah Wa Thaqfatuh, Rabat: Maktabah Dr al-Aman, 1994
Bungin, Burhan Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Perkasa 2001
Cassirer, Ernest dalam An Essay on Man, New Heaven: Yale University
Press, 1944
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie Sosiolinguistik: Perkenalan Awal,
Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Coombs, Philip H. The Word Crisis in Education, New York: Oxford
University Press, 1985
Criper, S. dan H.G. Widowson, Sociolinguistics and Language Teaching,
dalam S. Pit Corder, Papers in Aplied Linguistcs, London: Oxford University Press,
1975
Dagun, Save M., Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Lembaga
Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 2000
aif, Shauq, Tahrft al-miyah li al-Fu: f al-Qawid wa al-Binyt wa
al-Hurf wa al-Harakt, Kairo: Dr al-Marif, 1994
Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab
pada Perguruan Tinggi Islam, Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan
Agama Depag RI, 1976
al-Dn, Karim Zaki usm, al-Lughah wa al-Thaqfah, Kairo: Dr Gharb,
2001
Dittmar, N., Sociolinguistcs; A Critical Survey of Theory and Application.
London: Edward Arnold Ltd., 1976
Dubbs, Patrick J. dan Daniel D.Whitney, Cultural Context, Making
Anthropology Personal, London: Allyn & Bacon Inc, 1938
Efendy, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang:
Misykat, 2005
Farhah, Ans, Nawu Arabiyah Muyassarah, Beirut: Dr al-Thaqfah, 1955
al-Fily, Ibrhm ali, Idhdiwjiyah al-Lughah al-naariyah wa al-Tabiq,
Riy: Jmiah al-Mulk Sud, 1996
Firth, J.R., The Tongues of Men and Speech, London: Oxford Univ Press,
1970
Fishman, J.A The Sociology of language, Rawly massachusett: Newbury
House, 1972
Gazalba, Sidi, Pengantar kebudayaan sebagai ilmu, Jakarta: Pustaka Antara,
1968
Ghazzawi, Sabah, The Arabic Language, Washington D.C.: Center for
Contemporary Arab Studies, 1992
al-Ghulayain, Muafa, Jami' al-Durs al-'Arabiyyah, Beirut: Dr al-Kutub
al-'Ilmiyah, 2006 M/1427 H
Glasse, Cril diterjemahkan oleh Ghufran A. Masadi, Ensiklopedi Islam
Klasik, Jakarta: PT Grafindo Persada, 1999, Cet. Ke-2
asan, Tammm, Al-Ul Dirsat Epistimljiyyah l al-Fikr al-Lughawi Ind
al-Arab, (Kairo: lam al-Kutub, 2000
Hasan, Alwi et al, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga),
Jakarta: Balai Pustaka, 1993
al Hshimi, Amad, Jawhir al Adab f adabiyyt wa Insy lughah al Arab,
Mesir: Dr al fikr, 1965, Cet. Ke-26
al-hilll, Abdul Ghaffar amd, al-Lahjah al-Arabiyyah, Kairo: Maktabah
Wahbah, 1993 M
Hitti , Philip. K., History of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005
Holes, Clives, Modern Arabic Structures, Functions and Vareties, London
and New York: Longman Linguistic Librari, 1995
Hoesin, Oemar Amin, Kultur Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Hudson, Ilmu al-Lughah al- al-Ijtim, Kairo: Alam al-Kutub, 1990
Hymes, Dell, Foundations in Sociolinguistcs: an Ethnographics Approach,
Philadelphia: University of Pensykvania Press, 1973
Ibn Fris, Amad, al hib f Fiqh al Lughah al Arabiyah wa Masilih wa
Sunan al Arab f Kalmih, Beirut: Maktabah al Marif, 1993
Ikw, Rihb Khuar, Mawsah Abqirah al-Islm f al-Nawi wa al-
Lughah wa al-Fiqh, Beirut: Dr al Fikr al-Arab, 1993, Cet. Ke-1
Izzan, Ahmad, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung:
Humaniora, 2007
Izutsu, Toshihiko, God and Man in the Quran; Semantics of Quranic
Weltanschauung, Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002
Jin, Ibn, al-Khais, ditahqiq oleh Muhammad Al al-Najjr, Kairo: Dr al-
Kutub, 1995
J.B. dan Janet Holmes (Ed.). Sociolinguistics. Middlesex: Penguin Books,
1971
Joos, Martin, The Five Clocks, (New York: Hartcourt Brace World Inc, 1967
Karim, Khalil Abdul, Hegemoni Quraisy Agama, Budaya dan Kekuasaan,
Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2002, Cet. Ke-1
Keraf, Gorys , Lingusik bandingan historis, Jakarta: Gramedia, 1996
al- Khalfah , Jafar asan, Fuslun f tadrsi al-lughah al-Arabiyah, Riya:
Maktabah al-Rushd, 2003
Khafji, Muammad Abd al- Munim, al Shiir al- Jhili, Beirut: Dr al
Kitb, 1973
al-Khall, kitb al-Ain, Beirut: Dr al-Fikr, 1988, Juz. I, diedit oleh Mad
al-Makhzm dan Ibrhm as-smarr
al-Khl, Amin, Musykilt Haytin al-Lughawiyah, Kairo: Dr al-Marifah,
1965
al-Khl, Muammad Ali, Aslibu Tadrsi al-Lughah al- Arabiyah, Riya:
al- Mamlakah al-Arabiyah as-Sudiyah, 1982
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2005, Cet.
Ke-3
Kohn, Hans, Nasionalisme, arti dan sejarahnya, alih bahasa Sumanri
Mertodipuro, Jakarta: Erlangga, 1984, Cet. IV
Krashen, Stephen D., Second Language Acquisition and Second Language
Learning, Oxford: Pergamon Press, Internet Eddition 2002
Kridalaksana, Harimurti, Kamus Linguistik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2008
Liliweri, Alo, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2001
Mahjudin, Aliudin, Bahasa Arab dan Peranannya dalam Sejarah, Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1996
--------, Peranan Bahasa Arab dulu, kini dan akan datang, Depok: Fakultas
Sastra UI, 1992
Majd,, Abdul Azz bin Abdul Al-lughah al-Arabiyyah Uluh al-
Nafsiyyah wa urq Tadrsih, Juz I, Mir: Dr al-Marif, 1961, Cet. Ke-3
Man, Mushtaq Abbs, al-Mujam al-Mufaal f Fiqh al-Lughah, Beirut: Dr
al-Kutub al-Ilmiyah ,2001
Manur, Abd. Munjid Sayyid Amad, ilmu Lugha al-Nafs, (Riya: Jamiah
al-Mulk Sud, 1982
Maryam, Siti, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari masa Klasik hingga
Modern, Malang: LESFI, 2002
Marf, Nyif Mamud, Khai al Arabiyyah wa ariqu Tadrsih,
Beirut: Dr al Nafis, 1998
Maar, Abdul Azz, al-Alah al-Arabiyah f Lahjt al Khlij, Riya: Dr
al-Kitab, 1985
Moeliono, Anton M, et al, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 1997
Mohdhar, Yunus Ali dan Arifin, Bey, Sejarah Kesusateraan Arab, Surabaya:
Bina Ilmu, 1983
Muin, Abdul, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia,
Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004
Muammad, Manf Madi, Ilmu al-Awt al-Lughawiyah, Beirut: lam al-
Kutub, 1998
Nababan, P. W. J., Sosiolinguistik Suatu Pengantar, Jakarta: Gramedia, 1993
Nasution, A.Sayuti Anshari, Memahami Ragam Bahasa Arab dalam fq
Lughawiyyah, Vol. 3, No. 2, PBA-UIN Jakarta, 2008
Ohoiwutun, Paul, Sosiolinguistik Memahami Bahasa Dalam Konteks
Masyarakat dan Kebudayaan, (Jakarta: Kesain Blanc, 1996
Open University Set Book, Language in Education A Source book,
(Routledge Taylor & Francis Group, 1972
Pateda, Mansoer, Semantik Leksikal, Jakarta: Rineka Cipta, 2001
--------, Linguistik Terapan, Ende-Flores: Nusa Indah, 1991, Cet. Ke-1
--------, Sosiolinguistik, Gorontalo: Viladan Gorontalo, 2005
Purwo, Bambang Kaswanti, ,Bangkitnya Kebhinekaan Dunia Linguistik dan
Pendidikan, Jakarta: Mega Media Abadi,2000
--------, PELLBA 2 (dalam Sosiolinguistik dan Pengajaran Bahasa), (Jakarta:
Lembaga Bahasa UNIKA Atmajaya, 1989
Qsim, Aun, al-Lughah al-Arabiyyah baina al-Fahah wal miyah,
Khurtm, Sudan: Arab Journal of Language Studies, vol. 2, no. 1 Agustus 1983
Quown, Norman A.Mc., Language, Culture and Education, California:
Standford University Press, 1982
Al-Rafi, Trikh Adab al-Arab, Beirut: Dr al-Kitab al-Arab 1974
al-Rjih, Abduh Fiqh al-Lughah f al-Kutub al-'Arabiyyah, Iskandariyah:
Dr al-Ma'rifah al-Jami'iyyah, 1998
Robinson. R.H., General Linguistik and Introductory Survey, London:
Longman, 1964
Romaine, Suzanne, Bilingualism, Oxford: Basil Blackwell, 1989
Rouchdy, Aleya, The Arabic Language in Amerika, Wayne State University
Press. 1992
Rusyana, Yus, Perihal kedwibahasaan (bilingualisme), Jakarta: Depdikbud,
1989
Said, Edward W., Orientalism, New York : Vintege Books, 1979
Sakkn, al mid Muammad Ab, Malim al-Lajt al Arabiyah, Kairo:
Diktat fakultas Bahasa Arab Universitas al Azhar, tth
Salim, Peter, Standard Indonesian-English Dictionary, Jakarta: Modern
English Press, 1993
li, ub, Dirsah F Fiqh al-Lughah, Beirut: Dr alilm li al-Malyin,
1986
al-Samirai, Amir Sayyid, Ara f al-Arabiyah, Baghdad: Mathbaah al-Irsyad,
1962
Sapir, Edwar, Language: An Introduction to the Study of Speech, New York:
Harcourt, Brace, 1921
Sawaie, Muammad, A sociolinguistic Study of Clasical and Colloquial
Arabic Varieties, Arab Journal of Language Studies, Vol 6 No.1&2 February 1998,
Khartoun: Internasional Institute of Arabic
Sayyat, A. asan, Trikh al-Adb al-Arab, Beirut: Dr al-Thaqfa, tt
al-Sayyid, abr Ibrhm, Ilmu al-Lughah al-Ijtim,: Mafhmuhu wa
Qayhu, Iskandaria: Dr al-Marifah al-Jmiiyyah, 199
Sinn, Muammad Ismil, dkk, Al-Arabiyah li an- Nshiin, al-Mamlakah
al-Arabiyah as-Sudiya: Wizra al- maarif Idrah al Kutub al-Madrasah, 1983
Sirhn, Muammad Fiqh al Lughah, Ilmu Bahasa Arab, Terj. Hasyim
Asyari, IKIP Semarang, 1956
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002
Suriasimantri, S.Jujun, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2007
Sumarsono & Partana, Paina, Sosiolinguistik, Yogyakarta: SABDA dan
Pustaka Pelajar, 2002
Suwito, Sosiolinguistik: Teori dan Problema, Surakarta: Henari Offset, 1982
Suryabrata, Sumardi, Metodologi Penelitian , Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2006), Ed.I
As-sharif, Aun, al-Lughah al-Arabiyah f as-Sdan, al Majallah al-Arabiyah
li ad-Dirsah al-lughawiyah, vol.7, no. 1 dan 2, 5 februari 1989
--------, al-Lughah al-Arabiyah baina al-Fa ah wa al-miyah, al-Majallah
al-Arabiyah li ad-Dirsat al-Lughawiyah, Vol.2 no 1, Mahad al-Khartoum: Sudan,
1983
Souaib, Joesoef , Sejarah Daulah Abbasiyah I, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
al Suyi, Abd al Ramn Jall al Dn, al Muhir f Ulm al Lughah wa
Anw ih, Beirut: Dr al Fikr, tth
al-Suyui, Jalluddin Abd Ramn bin ab Bakr, Kitb al-Iqtirah f Ilm Ul
al-Nawi, t.tp: Jarus Burs, 1988, Cet. I
Tamm, Abdul d Muammad Umar, al-lughah al-Arabiyah F al
Mujtama as-Sdani, Sdan :Dr Jamah Umdurman al-Islmiyah, 1997
al Tawwab, Raman Abd, Fushl f Fiqh al Lughah, Kairo: Maktabah al-
Khnij, 1979, Cet. Ke-2
al-Thalab Fiqh al-Lughah, Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyah, 2001
Thoha, Ahmadie, Terjemah Muqaddimah Ibnu Khaldun, (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1986)
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Vol. 4, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van
Hoeve, 1993
Umar, Amad Mukhtar, Ilmu al-Dillah, Kuwait: Maktabah Dr al-
Urbah, 1982
Versteegh, Kees, The Arabic Language, New York: Columbia University
Press, 1997
--------, The Arabic Language, Edinburgh : Edinburgh University Press, 1997
Wahab, Muhbib Abdul, Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2008
Watt, W. Montgomery, The Majesty That Was the Islam, terj. Hadi Kusumo,
Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1990
Wf Ali Abdul Whid, Fiqh al Lughah, (Kairo: Lajnah al Bayan al Arabi,
1962
--------, ilmu al-lughah, Kairo: Dr Nahah , 1997, Cet X
--------, al-Lughah wa al-Mujtama, Kairo: Dr Nahah Mir, Tp.Th
--------, Mu'jam al-Ulum al-Ijtimaiyyah, United Nations Educational:
Scientific and Cultural Organization, 1985), Cet. I.
Wardhaugh, Ronald, An Introduction to Sosiolinguistic, Fourth Edition, USA:
Blackwell Publishers, 2002
Wibowo, Wahyu, Manajemen Bahasa, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
2003
Yaqub, Emil Badi, Fiqh al-Lughah al-Arabiyah wa Khaiuh, Beirut:
Dr al-Thaqafah al-Islamiyah, tt
Ynus, Fati Ali dan al Shaikh, Muammad Abd. Al-Rauf, al Marja f al-
Talm al-lughah al-Arabiyah li al-Ajnib, (al- Qhirah: Maktabah Wahbah, 2003
--------, Tasmin Minhaj li Talm al-Lughah aArabiyah li al-Ajnib, Kairo:
Dr al-Thaqfah, 1978
Zabal, Feransu, Takwn al-Kitb al-Arab, Beirut: Mahad al-Anma al-
Arab, 1967
http://anaksastra.blogspot.com/2009/01/variasi-bahasa.html,diakses tgl 22 juni 2009
http://www.arabacademy.com/cgi-bin/library_courses/faq_i.htm, diakses tanggal 16-
juni 2009
http://bahauddin-amyasi.blogspot.com/2008/11/billingualisme-sebuah-kajian-
sosio.html,tgl 16 juni 2009
www.bjtranslate.com/arabic.asp, diakses tanggal 1 Maret 2009
http://bokep-jogja.blogspot.com/2009_02_01_archive.html,diakses tgl 16 juni 2009
http://www.colloquial + arabic&meta, diakses tanggal 16 juni 2009
http://creoles.free.fr/Cours/anglais/Diglossia.pdf,diakses tgl 16 Juni 20009
http://ferdinan01.blogspot.com/2009/02/linguistik-sosiolinguistik-variasi.html,
diakses tanggal 22-06-09
http://islamlib.com/id/artikel/citra-keliru-tentang-bahasa-arab,diakses,19 januari 2009
http://www.isesco.org.ma/pub/arabic/Langue_arabe/p9.htm., 25 pebruari 2009
http://kampusislam.com, diakses tanggal 16 maret 2009
http://www.kompas.com/index.php, diakses pada tanggal 21 November 2008
http://www.lpds.or.id/jurnalistik_education.php?module=detailbahasa&id=13,tgl 16-
06-09
http://innerbrat.org/andyf/Articles/Diglossia/digle 96. htm diakses tgl 04-06-09
www.http://sabine-elli.blogspot.com, diakses tanggal 12 Nopember 2009
http://subpokarab.Wordpress.com/2008/08/09/,diakses tanggal 19 Januari 2009.,
http://sundaislam.wordpress.com, di akses tanggal 08-06-09
http://supriyadie.blogspot.com/2008/07/karya-ib,diakses tanggal 19 januari 2009
http://supriyadie.xanga.com/655628828/kesultanan-banten/, diakses tanggal 08 juni
2009