Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perilaku merokok di Indonesia terus mengalami peningkatan. Survei yang

dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey (2011) menyebutkan bahwa berdasarkan

kelompok usia prevalensi tertinggi perokok di Indonesia yaitu 73.3% pada kelompok

usia 25-44 tahun dan 72.4% pada kelompok usia 45-64 tahun. Berdasarkan Riskesdas

(2008) bahwa perokok aktif di Indonesia melakukan aktivitas merokok di rumah ketika

bersama anggota rumah tangga lain (85.4%). Presentase terbesar yang menjadi perokok

pasif adalah balita (59.1%) dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang

tidak begitu signifikan (L:59.2%, P:59%). Pada tahun 2010 terjadi sedikit penurunan

perokok pasif pada balita, yaitu sebesar 56.8% (L:56.7%, P:56.9%). Namun angka

tersebut masih terbilang tinggi, karna perokok pasif pada balita berada pada peringkat

ketiga perokok pasif setelah kelompok usia 10-14 tahun (57.5%) dan 5-9 tahun (57.4%)

(Riskesdas, 2010, dalam Buku Fakta Tembakau, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Cheragi dan Salvi (2009) menyebutkan bahwa

terpaparnya anak terhadap asap rokok lingkungan (Environmental Tobacco

Smoke/ETS) berhubungan dengan meningkatnya prevalensi infeksi saluran pernafasan

atas, asma, dan infeksi saluran pernafasan bawah. Dampak yang ditimbulkan oleh

paparan asap rokok tidak hanya mempengaruhi balita ketika mereka lahir saja. Paparan

asap rokok lingkungan sejak kehamilan pada trimester ketiga juga berhubungan dengan

kejadian asma dan timbulnya gejala alergi pada anak usia preschool (Xepapadaki dkk,

2009).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih menjadi permasalahan

kesehatan dunia, khususnya pada balita. Angka kematian balita di Indonesia menjadi

peringkat pertama dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2011,

2012 dan 2013 angka kematian balita sebesar 162.000, 149.000, dan 136.000. Penyebab

pertama kematian balita di Indonesia yaitu Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) .

Pada tahun 2011, 28.7% kejadian ISPA menjadi penyebab kematian pada balita. Pada

dua tahun berikutnya tidak terjadi perubahan presentase yang signifikan yaitu 29.1%

pada tahun 2012 dan 28.2% pada tahun 2013 (WHO,2014).

Tingginya kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di

Indonesia dapat dilihat dari alasan banyaknya kunjungan balita ke pelayanan kesehatan.

WHO (2014) menyebutkan bahwa pada tahun 2012, sebanyak 75.3% kunjungan balita

ke pelayanan kesehatan karna adanya gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Angka insidensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Indonesia pada tahun 2007

dan 2013 tidak jauh berbeda. Pada tahun 2007 prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan

Akut (ISPA) sebesar 25.5% dengan insidensi paling banyak pada kelompok usia 1-4

tahun (42.53%), dan pada tahun 2013 sebanyak 25 % dengan insidensi paling banyak

juga pada kelompok usia 1-4 tahun (25.8%) (Riskesdas, 2008, 2013).

Salah satu faktor dari insidensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah

adanya anggota keluarga yang merokok. Retna dan Fajri (2015) dalam penelitiannya

menyebutkan bahwa dari 26 pasien pneumonia, 23 diantaranya memiliki anggota

keluarga perokok aktif. Penelitian yang lain juga menyebutkan bahwa perilaku

merokok berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Sempor II (Winarni, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Baker (2006) juga

menyebutkan bahwa balita dengan ibu yang merokok pada masa prenatal dan orang

dewasa lainnya yang merokok dapat meningkatkan jumlah infeksi saluran pernafasan
akut bawah. Hasil berbeda terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Kristensen dan

Olsen (2006) yang menyebutkan bahwa kepadatan rumah dan kondisi kehidupan secara

umum merupakan faktor penting terhadap kejadian ISPA, pemberian ASI menjadi

faktor protektif terhadap ISPA.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan

permasalaham sebagai berikut : Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga

dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Wilayah Kerja

Puskesmas Brondong.

1.3 Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan

Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Wilayah Kerja

Puskesmas Brondong.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui hubungan kebiasaan merokok anggota keluarga dengan kejadian infeksi

saluran pernafasan akut (ispa) pada balita di wilayah kerja puskesmas brondong
2. mengetahui kebiasaan merokok anggota keluarga berdasarkan lokasi merokok pada

balita yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Puskesmas

Brondong Lamongan
3. Mengetahui kebiasaan merokok anggota keluarga berdasarkan jumlah anggota

keluarga yang merokok pada balita yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut

(ISPA) di Puskesmas Brondong Lamongan


4. Mengetahui gambaran kebiasaan merokok anggota keluarga berdasarkan banyaknya

rokok yang dihirup setiap hari pada balita yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan
Akut (ISPA) di Puskesmas Brondong Lamongan

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Praktisi Kesehatan

Memberikan pelayanan yang komprehensif khususnya memberikan

pendidikan kesehatan terhadap keluarga yang berobat dan masyarakat sekitar untuk

merubah perilaku merokok.

1.4.2 Manfaat Bagi Pengembangan Ilmu

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan dan rujukan

untuk penelitian lain untuk perkembangan ilmu pengetahuan berhubungan dengan

kebiasaan merokok anggota keluarga pada balita yang menderita Infeksi Saluran

Pernafasan Akut (ISPA)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Infeksi Saluran Pernafasan Akut
2.1.1 Definisi ISPA
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan suatu infeksi yang bersifat
akut yang menyerang salah satu atau lebih saluran pernafasan mulai dari hidung sampai
alveolus termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura) (Depkes, 2011).
Djojodibroto (2009) menyebutkan bahwa ISPA dibagi menjadi dua bagian, yaitu infeksi
saluran pernafasan bagian atas dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah .
Infeksi Saluran Pernafasan Akut mempunyai pengertian sebagai berikut
(Depkes, 2005, dalam Fillacano, 2013) :
a) Infeksi adalah proses masuknya kuman atau mikroorganisme lainnya ke dalam tubuh
manusia dan akan berkembang biak sehingga akan menimbulkan gejala suatu
penyakit
b) Saluran pernafasan adalah suatu saluran yang berfungsi dalam proses respirasi mulai
dari hidung hingga alveolus beserta adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga
tengah, dan pleura.
c) Infeksi akut merupakan suatu proses infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas
14 hari menunjukkan suatu proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat
digolongkan ISPA ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

2.1.2 Etiologi ISPA

Etiologi ISPA terdiri dari agen infeksius dan agen non-infeksius. Agen
infeksius yang paling umum dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut adalah
virus, seperti Respiratory Syncytial Virus (RSV),
Nonpolio enterovirus (coxsackieviruses A dan B), Adenovirus, Parainfluenza,
dan Human metapneumoviruses. Agen infeksius selain virus juga dapat menyebabkan
ISPA, seperti -hemolytic Streptococci, Staphylococcus, Haemophilus influenza,
Chlamydia trachomatis, Mycoplasma, dan Pneumococcus (Hockenberry dan Wilson,
2013).

Misnadiarly (2008) menyebutkan bahwa selain agen infeksius, agen non-


infeksius juga dapat menyebabkan ISPA seperti aspirasi makanan dan cairan lambung,
dan inhalasi zat-zat asing seperti racun atau bahan kimia, asap rokok, debu, dan gas.
2.1.3 Tanda dan Gejala ISPA

Saluran Pernafasan merupakan bagian tubuh yang seringkali terjangkit infeksi


oleh berbagai jenis mikroorganisme. Tanda dan gejala dari infeksi yang terjadi pada
saluran pernafasan tergantung pada fungsi saluran pernafasan yang terjangkit infeksi,
keparahan proses infeksi, dan usia seseorang serta status kesehatan secara umum
(Porth, 2011).
Djojodibroto (2009) menyebutkan tanda dan gejala ISPA sesuai dengan
anatomi saluran pernafasan yang terserang, yaitu :
a) Gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas. Gejala yang sering timbul yaitu
pengeluaran cairan (discharge) nasal yang berlebihan, bersin, obstruksi nasal,
mata berair, konjungtivitis ringan, sakit tengorokan yang ringan sampai berat,
rasa kering pada bagian posterior palatum mole dan uvula, sakit kepala, malaise,
lesu, batuk seringkali terjadi, dan terkadang timbul demam.
b) Gejala infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Gejala yang timbul biasanya
didahului oleh gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti hidung buntu,
pilek, dan sakit tenggorokan. Batuk yang bervariasi dari ringan sampai berat,
biasanya dimulai dengan batuk yang tidak produktif. Setelah beberapa hari akan
terdapat produksi sputum yang banyak; dapat bersifat mukus tetapi dapat juga
mukopurulen. Pada pemeriksaan fisik, biasanya akan ditemukan suara wheezing
atau ronkhi yang dapat terdengan jikaproduksi sputum meningkat.

2.1.4 Klasifikasi ISPA

a. Berdasarkan Lokasi Anatomi


1. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Atas
Infeksi saluran pernafasan akut atas merupakan infeksi yang menyerang saluran
pernafasan bagian atas (faring). Terdapat beberapa gejala yang ditemukan pada
infeksi ini yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, bengkak di wajah, nyeri
telinga, ottorhea, dan mastoiditis (Parthasarathy (ed), et al, 2013). Beberapa
penyakit yang merupakan contoh infeksi saluran pernafasan akut atas yaitu
sinusitis, faringitis, dan otitis media akut (Ziady and Small, 2006).
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bawah
Infeksi saluran pernafasan akut bawah merupakan infeksi yang menyerang
saluran pernafasan bagian bawah. Seseorang yang terkena infeksi pada saluran
pernafasan bawah biasanya akan ditemukan gejala takipnea, retraksi dada, dan
pernafasan wheezing (Parthasarathy (ed), et al, 2013). Beberapa penyakit yang
merupakan contoh infeksi saluran pernafasan akut bawah yaitu bronchiolitis,
bronchitis akut, dan pneumonia (Chang, et al, 2006).

Gambar 1. Pembagian ISPA berdasarkan lokasi anatomi

b. Berdasarkan Kelompok Umur (Depkes, 2011)


1) Kelompok Umur Kurang dari 2 Bulan
a. Pneumonia Berat : selain batuk dan atau sukar bernafas, ditemukan nafas cepat
(>60 kali/menit) atau tarikan kuat dinding dada bagian bawah ke dalam.
b. Bukan Pneumonia : hanya ditemukan batuk dan atau sukar bernafas, namun
tidak ditemukan nafas cepat (nafas <60 kali/menit) dan tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam.
2) Kelompok Umur 2 bulan - < 5 Tahun
a. Pneumonia Berat : selain batuk dan atau sukar bernafas juga ditemukan tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam (Chest Indrawing)
b. Pneumonia : tidak ditemukan tarikan dinding dada bawah ke dalam, namun
ditemukan nafas cepat sesuai golongan umur (2 bulan - < 1 tahun : 50 kali atau
lebih/menit; 1-<5 tahun : 40 kali atau lebih/menit).
c. Bukan Pneumonia : tidak ditemukan nafas cepat dan tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam, namun hanya ditemukan batuk dan atau sukar bernafas.

2.1.5 Faktor Resiko ISPA


a. Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang dapat meningkatkan resiko kejadian
ISPA yaitu luas ventilasi kamar, tipe lantai rumah, dan kepadatan hunian
(Pramudiyani dan Prameswari, 2011). Faktor lingkungan lainnya yang mampu
meningkatkan ISPA yaitu tingkat kelembaban kamar (Yuwono, 2008).
1) Luas Ventilasi Kamar
Ventilasi adalah suatu lubang udara di dalam rumah yang berfungsi untuk
perputaran udara keluar masuk ruangan, sehingga terjadi perputaran udara
secara bebas (KBBI, 2014). Ventilasi berfungsi untuk menjaga udara
didalam ruangan supaya tetap segar, sehingga keseimbangan oksigen
ruangan sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Disamping itu, kurangnya
ventilasi dapat meyebabkan peningkatan kelembaban lingkungan yang
nantinya akan meningkatkan pertumbuhan bakteri di dalam ruangan (Suryo,
2010). Luas ventilasi dalam rumah sangat penting supaya fungsi ventilasi
dapat dicapai secara maksimal. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1077/MENKES/PER/V/2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam
ruang rumah menyebutkan bahwa luas ventilasi rumah yang sehat yaitu
minimal 10% luas lantai.
2) Tipe Lantai Rumah
Lantai rumah yang sehat adalah lantai yang kedap air, tidak lembab, bahan
lantai yang mudah dibersihkan, dalam keadaan kering, dan tidak
menghasilkan debu (Depkes RI, 2002, dalam Pramudiyani dan Prameswari,
2011). Lantai rumah kedap air dapat menghindarkan kondisi rumah menjadi
lembab dan berdebu, sehingga dapat mencegah pertumbuhan bakteri di
dalam rumah dan mencegah terhisapnya debu oleh saluran pernafasan
sehingga dapat mencegah iritasi. Iritasi dapat menyebabkan pergerakan silia
menjadi lambat sehingga mekanisme pembersihan saluran nafas dapat
terganggu, akibatnya apabila terdapat benda asing atau mikroorganisme
masuk tidak dapat dikeluarkan dan dapat menimbulkan infeksi (Sugihartono
dan Nurjazuli, 2012).
3) Kepadatan Hunian
Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah harus disesuaikan dengan luas
lantai rumah tersebut. Hal tersebut bertujuan supaya tidak terjadi overload
penghuni dalam rumah. Kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat
dapat menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen bagi seseorang dan
apabila salah satu anggota keluarga terjangkit suatu penyakit maka transmisi
penyakit ke anggota yang lain dapat lebih mudah terjadi (Suryo, 2010).
Kepadatan hunian rumah yang sehat menurut Keputusan Menteri Kesehatan
RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah,
kepadatan hunian ruang tidur minimal luasnya 8 m2 dan tidak dianjurkan
digunakan lebih dari 2 orang kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
4) Tingkat Kelembaban
Kelembaban adalah tingkat kadar kandungan uap air pada udara. Jumlah uap
air dalam udara dipengaruhi oleh cuaca dan suhu lingkungan (Gertrudis,
2010, dalam Fillacano, 2013). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI
Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011 menyebutkan bahwa tingkat
kelembaban rumah sehat yaitu berkisar antara 40-60 % Rh. Apabila
kelembaban udara kurang dari 40%, maka dapat dilakukan upaya
penyehatan dengan menggunakan alat untuk meningkatkan kelembaban
(misal : humidifier), membuka jendela rumah, menambah jumlah dan luas
jendela rumah, dan memodifikasi fisik bangunan. Namun apabila
kelembaban udara lebih dari 60%, maka dapat dilakukan upaya penyehatan
dengan memasang humidifier dan memasang genteng kaca.
b. Status Sosial dan Ekonomi
Penelitian yang dilakukan oleh Prietsch, et al (2008) menyebutkan
bahwa status sosial ekonomi yang menjadi faktor resiko terhadap kejadian ISPA
pada balita yaitu tingkat pendidikan orang tua dan pendapatan keluarga setiap
bulannya.
1) Tingkat Pendidikan Orang Tua
Pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha untuk mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Pendidikan baik formal maupun informal meliputi
segala hal yang memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan
tentang dunia tempat mereka hidup (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-
UPU, 2007). Tingkat menurut KBBI (2014) berarti jenjang. Jadi tingkat
pendidikan berarti jenjang pendidikan yang telah dilalui seseorang melalui
upaya pengajaran dan pelatihan.
2) Pendapatan Keluarga
Keluarga dengan pendapatan rendah, yang berhubungan dengan rendahnya
status sosial ekonomi, biasanya berbanding lurus dengan rendahnya tingkat
pendidikan, kemiskinan, dan rendahnya status kesehatan. Kondisi tersebut
tentunya akan mempengaruhi kehidupan setiap anggota keluarga termasuk
didalamnya balita yang masih menggantungkan kehidupan kepada orang tua
mereka (American Psychological Association,2014).
c. Faktor Individu Balita
Beberapa faktor resiko ISPA jika dilihat dari individu balita sebagai
yang terjangkit penyakit yaitu status nutrisi, status imunisasi, dan riwayat
pemberian ASI ekslusif (Sugihartono dan Nurjazuli, 2012). Wiwoho (2005)
dalam penelitiannya menambahkan bahwa Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
juga menjadi faktor resiko terjadinya ISPA pada balita.
1) Status Nutrisi
Nutrisi atau gizi adalah zat-zat penting yang berasal dari makanan yang telah
dicerna dan dimetabolisme oleh tubuh menjadi zat-zat yang berfungsi untuk
membentuk dan memelihara jaringan tubuh, memperoleh tenaga, mengatur
sistem fisiologis tubuh dan melindungi tubuh dari serangan penyakit (Chandra,
2006). Tidak adekuatnya intake nutrisi dapat menyebabkan system kekebalan
tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit (Berman, et al, 2009).
2) Metode yang paling sering digunakan untuk melihat status gizi balita adalah
dengan pengukuran antropometri. Indikator yang dapat digunakan untuk
menilai status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Panjang
atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), Berat Badan menurut
Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB), dan Indeks Massa
Tubuh menurut Umur (IMT/U) (Sunarti, 2004).
3) Status Imunisasi
Imunisasi merupakan suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti
untuk mencegah terhadap penyakit tertentu supaya bayi dan balita bertujuan
supaya dapat tumbuh dalam keadaan sehat (Hidayat, 2008a). Terdapat lima
imunisasi dasar yang harus diberikan pada balita sesuai dengan jadwal, yaitu
imunisasi HB (HB0, HB1, HB2, Hb3, dan HB4), BCG, Polio (Polio 1, 2 ,3,
dan 4), DPT (DPT 1, DPT 2, DPT 3), dan Campak (Depkes, 2009).
4) Riwayat Pemberian ASI Eksklusif
ASI adalah Air Susu Ibu. ASI eksklusif merupakan pemberian ASI sedini
mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal, tidak diberikan makanan
lain, meskipun hanya air putih dan diberikan sampai bayi berusia 6 bulan
(Purwanti, 2004). Manfaat ASI akan meningkat jika bayi hanya diberikan ASI
saja pada 6 bulan pertama kehidupannya serta lamanya pemberian ASI
bersama-sama makanan pendamping lainnya setelah bayi berumur 6 bulan
(Nurheti, 2010).
5) Berat Badan Lahir Rendah
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir
dengan berat badan kurang dari 2.500 gram (Manuaba, 2007). Terdapat
beberapa gangguan yang mungkin timbul pada bayi akibat berat badan lahir
rendah yaitu hipotermi, hipoglikemia, hiperbilirubinemia, masalah pemberian
ASI, infeksi atau curiga sepsis, dan sindroma aspirasi mekonium (Waspodo,
2005).

d. Faktor Perilaku
Terdapat dua faktor perilaku yang dapat meningkatkan kejadian ISPA
pada balita, yaitu perilaku merokok orang tua dan kebiasaan membuka jendela
saat pagi dan siang hari (Pramudiyani dan Prameswari, 2011).
1) Perilaku Merokok Anggota Keluarga
Rokok merupakan salah satu hasil dari produk industri dan komoditi
internasional yang mengandung kurang lebih 1500 bahan kimia. Beberapa unsur
kimiawi yang terdapat pada rokok yaitu tar, nikotin, benzopyrin, metil-kloride,
aseton, amonia, dan karbon monoksida (Bustan, 2007). Terdapat dua jenis
perokok, yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif adalah seseorang
yang melakukan aktivitas merokok, sedangkan perokok pasif adalah seseorang
yang tidak merokok namun secara tidak sengaja mengisap asap rokok dari orang
lain (Romy Rafael, 2006). Berikut ini perilaku merokok :
a) Jumlah anggota keluarga yang merokok
Polusi udara di dalam rumah bisa berasal dari asap hasil pembakaran bahan
bakar dan asap rokok. Penelitian yang dilakukan oleh Irva et al (2007)
menyebutkan bahwa setelah melakukan penyesuain terhadap musim,
temperatur, dan variabel lainnya, angka bronchitis meningkat seiring dengan
peningkatan konsentrasi polusi udara. Peningkatan polusi udara dapat
meningkat seiring dengan peningkatan sumber polusi udara tersebut. Imran
Lubis (1991) dalam Kusumawati (2010) menyebutkan bahwa semakin tinggi
jumlah perokok dalam rumah dan jumlah rokok yang dihisap berhubungan
dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang diderita oleh balita.
b) Jumlah rokok yang dihisap setiap hari
Smet (1994) dalam Hasnida (2005) mengklasifikasikan perokok menjadi tiga
tipe berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Tiga tipe tersebut
adalah : perokok berat apabila menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam
sehari, perokok sedang apabila menghisap 5-14 rokok dalam sehari, dan
perokok ringan apabila menghisap 1-4 rokok dalam sehari.
c) Kebiasaan merokok di dalam atau diluar rumah
Penelitian yang dilakukan oleh Sugihartono dan Nurjazuli (2012)
mengelompokkan perilaku merokok berdasarkan area merokok, yakni di
dalam atau di luar rumah. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa dari
87 responden yang merokok, 79 responden merokok di dalam rumah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang signifikan antara
perilaku merokok anggota keluarga yang dilakukan di dalam rumah dengan
kejadian pneumonia balita dengan nilai OR 5,743.

2) Perilaku Membuka Jendela pada pagi dan siang hari


Perilaku membuka jendela di pagi hari dan di siang hari sangat penting untuk
pertukaran udara di dalam kamar dan berguna untuk mencegah ruangan menjadi
lembab dan pengap sehingga mikroorganisme penyebab ISPA dapat dicegah
(Pramudiyani dan Prameswari, 2011).

2.2 Infeksi Saluran pernafasan Akut pada Balita


2.2.1 Pengertian Balita
Balita adalah anak yang berusia 0-59 bulan (Depkes, 2014). Usia balita
merupakan suatu periode penting dalam proses tumbuh kembang anak yang nantinya
mempengaruhi perkembangan anak pada tahap selanjutnya (Febry dan Marendra, 2008)
Imunitas atau sistem pertahanan tubuh merupakan suatu mekanisme perlindungan yang
bertugas untuk mempertahankan integritas tubuh terhadap serangan agens asing (Otto,
2005).
Fungsi sistem imun adalah melindungi tubuh dari patogen dan menghancurkan
sel-sel yang dianggap sebagai zat asing (James et al, 2008). Terdapat beberapa cara
untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada balita, yaitu, pertama dengan cara
pemberian gizi yang adekuat, mulai dari pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan,
pemberian ASI sampai usia 2 tahun dengan makanan pendamping ASI yang lengkap
akan kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Kedua yaitu dengan
meningkatkan aktivitas sehari-hari bertujuan supaya tubuh tetap bugar dan tahan
terhadap serangan berbagai penyakit. Ketiga yaitu dengan cara menjaga kebersihan
badan balita dan kebersihan lingkungan sekitar balita. Keempat yaitu dengan pemberian
imunisasi untuk menghindari serangan berbagai penyakit tertentu (Widjaja, 2008).
2.2.2 Kejadian ISPA pada Balita
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih menjadi permasalahan
kesehatan dunia, khususnya pada balita. Menurut WHO (2014), angka kematian pada
anak usia dibawah lima tahun (balita) pada tahun 2013 sebesar 6.3 juta atau sekitar
17.000 balita meninggal dunia setiap hari. Penyebab kematian balita yaitu pneumonia
(13%), Diare (9%), malaria (7%), dan anomali kongenital dan penyakit tidak menular
(7%). Kejadian ISPA pada Indonesia pun masih cukup terbilang tinggi. Tahun 2007
prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sebesar 25.5% dengan insidensi
paling banyak pada kelompok usia 1-4 tahun (42.53%), dan pada tahun 2013 sebanyak
25 % dengan insidensi paling banyak juga pada kelompok usia 1-4 tahun (25.8%)
(Riskesdas, 2008, 2013).

2.2.3 Mekanisme Tubuh Terhadap Paparan Asap Rokok


Kum-Nji et al (2006) dalam penelitiannya menjelaskan mekanisme bagaimana
nikotin dalam asap rokok dapat menyebabkan depresi sistem imun tubuh. Berikut
penjelasan tentang mekanisme tersebut :
1. Paparan asap rokok dan fungsi fagositosis
Nikotin pada asap rokok akan menyebabkan penekanan atau menghambat
mekanisme fagositosis yang dilakukan oleh neutrofil atau monosit melalui
penghambatan superoksida anion, peroksida, dan produksi oksigen radikal.
Fagositosis sel paru alveolar secara signifikan berkurang pada seorang perokok
dibandingkan dengan bukan perokok (Harris dan Rothi, 1984 dalam, Kum-Nji et
al, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Pabst et al (1995) dalam Kum-Nji et al
(2006) juga menyebutkan bahwa aktivitas mengunyah tembakau dapat
menghambat aktivitas fagosit dari neutrofil dan monosit dari mukosa mulut.
2. Paparan asap rokok, fungsi sel T, dan produksi immunoglobulin
Kandungan nikotin pada asap rokok telah terbukti mampu meneken sel produksi
sel Th1 (bertanggungjawab untuk produksi Ig) namun selektif merangsang fungsi
sel Th2 untuk memproduksi berbagai sitokin atau imterleukin, seperti IL-4, IL-5,
IL-10, dan IL-13 . Produksi sitokin ini memberikan efek timbulnya manifestasi
klinis yang sering terlihat pada penyakit atopik seperti asma, eksim, rhinitis alergi
dan gangguan alergi lainnya. Nikotin juga merangsang sel B untuk beralih
memproduksi IgE. Supresi nikotin terhadap Th1 dapat menyebabkan penurunan
produksi immunogobulin, khususnya IgA dan IgG . Hasil pengamatan yang
menarik adalah nikotin belum terbukti untuk menekan produksi IgM, namun
menekan aktivitas sel sitotoksik melalui penghambatan sel pembunuh alami.
3. Paparan asap rokok dan perlekatan bakteri pada epitel mukosa
Asap rokok yang masuk ke dalam paru-paru menyebabkan penempelan komponen
rokok secara pasif pada epitel saluran pernafasan yang dapat menyebabkan
peningkatan perlekatan bakteri patogen. Nikotin juga dapat menyebabkan
penghambatan atau penekanan terhadap mekanisme pertahanan saluran
pernafasan yang dilakukan oleh silia-silia.

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN


3.1 Kerangka Konsep

Faktor Lingkungan :
1. Luas ventilasi kamar
2. Tipe lantai rumah
3. Kepadatan hunian
4. Tingkat kelembapan
udara

Faktor Individu Balita : Etiologi :


1. Status Nutrisi Agen non-infeksi :
2. Status Imunisasi Aspirasi makanan dan
3. Riwayat pemberian ASI
4. Riwayat BBLR cairan lambung
Inhalasi zat asing (missal :
ISPA
racun, debu, gas, asap
Faktor Perilaku :
rokok)
1. Kebiasaan merokok
anggota keluarga Agen infeksius
2. Kebiasaan membuka Virus
jendela setiap pagi dan bakteri
siang hari

Faktor Sosial Ekonomi :


1. Tingkat pendidikan
orang tua
2. Pendapatan orang tua

3.2 Hipotesis Penelitian

Ada hubungan antara kebiasaan merokok pada anggota keluarga dengan kejadian ISPA
pada balita di Puskesmas Brondong.