Anda di halaman 1dari 58

UJI KOMPETENSI

SEBAGAI
PENGKAWAL MUTU LULUSAN NERS

Oleh ;
I Made Kariasa, SKp.,MM.,MKep.,Sp.KMB.,PG.Cert

KOORDINATOR
BIDANG UJI KOMPETENSI AIPNI
Apakah
uji kompetensi itu perlu ??
Apa strategi yang jitu untuk memberikan
kesadaran pada semua pihak agar kualitas
lulusan meningkat ???

Berdampak pada
Kualitas pelayanan keperawatan lebih
BERMUTU
Tujuan
Tujuan UKOM
Untuk melindungi masyarakat dengan
menjamin bahwa perawat pada entry-
level registered memiliki kompetensi
yang dipersyaratkan untuk dapat
menjalankan praktik profesi secara
aman dan efektif
LATAR BELAKANG
Era perdagangan bebas dibidang Jasa
Dampak : kesempatan kerja yang luas namun
persaingan semakin ketat
Adanya Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)

PELUANG

MENINGKATKAN DAYA SAING & KEUNGGULAN


KOMPETETITIF YANG MEMENUHI STANDARD
KEBUTUHAN GLOBAL
FAKTA
385 institusi pendidikan S1,ners dan 478 D3 keperawatan

Disparitas kemampuan
institusi untuk menghasilkan lulusan tinggi

Perawat baru lulus yang sudah memiliki ijazah belum memiliki


kemampuan (kompetensi) yang cukup namun sudah
memberikan layanan keperawatan
Landasan Filosofi UKOM
Urgensi Uji Kompetensi Nasional
Proses standarisasi penilaian kemampuan
Menegakan akuntabilitas profesional
Menegakan standard dan ethik profesi
Melindungi kepercayaan publik
Pengakuan internasional
Melindungi pemberi jasa
Uji kompetensi
Alat :
Meningkatkan proses pembelajaran institusi
pendidikan ( drive proses)
Meningkatkan proses belajar mahasiswa
(drive learning)

PENGUATAN CAPABILITAS INSTITUSI


PENDIDIKAN
ALAT BENCMARK
PERLU ADA UPAYA UNTUK MENYETARAKAN KEMAMPUAN
PROFESIONAL LULUSAN NERS DI SELURUH INDONESIA

SAAT INI :
Sulit mengatakan bahwa kemampuan lulusan Ners
dari semua institusi setara (semilar).

Ada lulusan dengan kompetensi sangat baik


ada yang sangat buruk

Langkah yg harus ditempuh adalah uji nasional menghasilkan


ners yang setara (berkualitas nasional)
Landasan Hukum Uji Kompetensi
UU nomor 12 tahun 2012 : ttg Perguruan Tinggi
UU nomor 36 tahun 2014 : ttg tenaga Kesehatan
UU nomor 38 tahun 2014 : ttg Keperawatan
Permenkes : 46/menkes/ per/2013: ttg registrasi tenaga
kesehatan
Pasal 43,UU nomor 12 tahun 2012

(1) Sertifikat profesi merupakan pengakuan untuk melakukan


praktik profesi yang diperoleh lulusan pendidikan profesi
yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi

(2) Sertifikat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diterbitkan oleh Perguruan Tinggi
Pasal 44, UU no.12 tahun 2012

(1) Sertifikat kompetensi merupakan pengakuan


kompetensi atas prestasi lulusan

(2) Serifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) diterbitkan oleh Perguruan Tinggi bekerja
sama dengan organisasi profesi, yang TELAH LULUS
uji kompetensi.
Pasal 21 UU no 36 tahun 2014
Mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa
pendidikan vokasi dan profesi harus mengikuti Uji
Kompetensi secara nasional (ayat 1)
Pasal 16 UU no. 38 tahun 2014
Mahasiswa Keperawatan pada akhir masa pendidikan
vokasi dan profesi harus mengikuti Uji Kompetensi
secara nasional. (ayat 1)
Pasal 2, Permenkes no 46 tahun 2013

Setiap Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan


praktik dan/atau pekerjaan keprofesiannya wajib
memiliki izin dari Pemerintah (ayat 1)

Untuk memperoleh izin dari Pemerintah sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diperlukan STR (ayat 3)

Untuk memperoleh STR , Tenaga Kesehatan harus


memiliki Sertifikat Kompetensi. (ayat 4)
Pasal 3, Permenkes no 46 tahun 2013
Sertifikat Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (4) diberikan kepada peserta didik setelah
dinyatakan lulus Uji Kompetensi (ayat 1)
FUNGSI STRATEGIS UJI KOMPETENSI:
seleksi tenaga asing ???
Semua tenaga kesehatan yang akan bekerja di Indonesia
harus mendapat perlakuan yang sama :
- harus uji kompetensi ( bersifat ) nasional
- harus mengurus dan memiliki STR

DAPAT DIGUNAKAN SBG ALAT UNTUK MENSELEKSI


TENAGA KESEHATAN ASING YANG AKAN BEKERJA DI
INDONESDIA
Uji Kompetensi sbg Exit Exam
Seorang peserta didik baru dinyatakan lulus dan di
angkat sumpah JIKA :

Menyelesaikan program pendidikan di institusi dg


memperoleh ijazah

Lulus uji kompetensi dengan memperoleh sertifikat


kompetensi

Jika belum, PD masih menjadi tanggungjawab


institusi dalam melakukan pembinaan sampai mereka
lulus uji kompetensi.
Syarat peserta uji kompetnsi (bagi perawat )
Program DIII kep. dan atau Program S1,Ners

Jika tidak menyelenggarakan pendidikan Ners berarti tidak


akan pernah dapat disertakan dalam uji kompetensi
Program Ners adalah pendidikan terminal bagi perawat
S1,Ners

Mahasiswa yg tidak mengikuti program pendidikan ners,


tidak memenuhi syarat untuk mengikuti uji kompetensi.

Tidak dapat mengurus STR


DAMPAK UJI KOMPETENSI
BAGI INSTITUSI PENDIDIKAN:

LULUS TINGGI AKAN MENINGKATKAN


HARGA DIRI DAN BRANDED INSTITUSI

MUDAH MENDAPATKAN CALON MAHASISWA


YG LEBIH BERKUALITAS , MUDAH MENDIDIK
DAN MUDAH LULUS
SEBALIKNYA
LULUS RENDAH AKAN MENURUNKAN
HARGA DIRI DAN BRANDED INSTITUSI

SULIT MENDAPATKAN CALON MAHASISWA


YG LEBIH BERKUALITAS , SULIT MENDIDIK
DAN SULIT LULUS

INSTITUSI KOLAPS
BAGI MAHASISWA
LULUS UJI KOMPETENSI BERARTI SEGERA
MENDAPATKAN STR SEBAGAI SYARAT BEKERJA
SEBAGAI NERS

SEBALIKNYA, TIDAK LULUS UJI KOMPETENSI


BERARTI TIDAK DAPAT MENGURUS STR

TIDAK DAPAT BEKERJA SEBAGAI NERS


Bagaimana strategi dalam
menghadapi uji kompetensi
nasional
Cara terbaik :
Seluruh komponen institusi bersatu padu untuk
meningkatkan kualiatas :

INPUT PROSES OUTPUT

sesuai dengan peran dan fungsi masing masing.


Strategi Jangka Panjang
Mendorong pemilik untuk meningkatkan
pengabdiannya .
Mendorong institusi memperoleh akreditasi terbaik
Mendorong iklim pembelajaran dengan kurikulum
berbasis kompetensi dengan proses pembelajaran
yang sesuai (rasio fasilitator, narasumber, mahasiswa )
Melakukan Bancmarking Regional dan Nasional
bahkan internasional
Bagi Mahasiswa:
SADARI TUJUAN HIDUP
APA YANG DIHARAPKAN
RE - KONSTRUKSI TUJUAN HIDUP

CIPTAKAN RASA SENANG DENGAN APA YANG


SEDANG DIJALANKAN
TINGKATKAN DAN KEMBANGKAN MOTIVASI
UNTUK MENCAPAI TUJUAN
Strategi jangka Pendek
Mengenali proses pembuatan soal
Mengenali pembuatan buklet soal uji kompetnsi

Melakukan perbaikan strategi proses belajar untuk


mencapai kompetensi yg diinginkan
Kenali Blue print uji kompetensi :
Manfaat blue print
memberikan informasi terhadap area dan kedalaman materi yang
dujikan; Bagi calon peserta uji

Blue print uji kompetensi nasional sebagai :


kisi-kisi ujian
pengarah terhadap kompetensi lulusan yang diharapkan
oleh pengguna
alat penyelaras antara pengguna dan penghasil
membentuk karakter utama perawat yang diinginkan
oleh stakeholders

Digunakan sebagai pembobotan proses belajar


Kompetensi

Kompetensi %

Praktik professional, etis, legal dan


peka budaya 15-25%

Asuhan dan manajemen asuhan


keperawatan 65-75%

Pengembangan professional
5-15%
Domain
Domain/Aspek
Ners (%) D3 (%)
Penilaian
Kognitif 65-75% 40-50%
Prosedural
20 - 25% 45-55%
Knowledge
Afektif knowledge 5-10% 5-10%
Tinjauan Keilmuan
Keilmuan %
KMB 25-37%
Maternitas 8-14%
Anak 8-14%
Jiwa 8-14%
Keluarga 8-14%
Gerontik 3-9%
Manajemen 3-9%
Gadar 3-9%
Komunitas 3-9%
Tinjauan proses keperawatan
Proses
Ners (%) D3 (%)
keperawatan
Pengkajian
20-30% 10-20%
penentuan diagnosa
20-30% 5-10%
perencanaan
15-25% 15-25%
implementasi
15-25% 45-55%
Evaluasi
5-15% 5-15%
Tinjauan upaya
Upaya kesehatan %
Promotif 15-25%
Preventif 15-25%

Kuratif 35-45%
Rehabilitatif 15-25%
Tinjauan Sistem
Sistem tubuh %
Pernafasan 8-12%
Jantung Pembuluh darah dan sistem limfatik 8-12%
Pencernaan dan hepatobilier 8-12%
Saraf dan perilaku 12-16%
Endokrin dan metabolisme 6-10%
Muskulo skleletal 6-10%

Ginjal dan saluran kemih 6-10%

Reproduksi 8-12%

Integumen 3-7%
darah dan sistem kekebalan imun 3-7 %
Penginderaan 2-4 %

Kesehatan jiwa 6-10%


Manejemen keperawatan
Blue print Perawat
NO Bd keilmuan prosentasi Asumsi jumlah
soal
1 Kep. Maternitas 5-15 % 18 soal
2 Kep. Anak 5-15% 18 soal
3. Kep Gawat darurat 6-10 % 14 soal
4. Kep. Medikal Bedah 25-35% 54 soal
5. Kep. Jiwa 5-15% 18 soal
6. Kep. Keluarga 5-15 % 18 soal
7. Kep. Gerontik 4-8 % 10 soal
8. Kep. Komunitas 4-8 % 10soal
9. Manejemen Kep 5-15 % 18 soal
Asumsi soal 100 % 180 soal
Tinjauan kebutuhan dasar
Kebutuhan Dasar Prosentase
Oksigenasi 10-14%
Cairan dan elektrolit 10-14%
Nutrisi 10-14%
Aman dan nyaman 10-14%
Eliminasi 7-11%
Aktivitas dan istirahat 7-11%
Psikososial 7-11%
Komunikasi 7-11%
Belajar 3-7%
Seksual 3-7%
Nilai dan keyakinan 3-7%
Blue print Perawat
NO Bd keilmuan prosentasi Asumsi jumlah
soal
1 Kep. Maternitas 5-15 % 18 soal
2 Kep. Anak 5-15% 18 soal
3. Kep Gawat darurat 6-10 % 14 soal
4. Kep. Medikal Bedah 25-35% 54 soal
5. Kep. Jiwa 5-15% 18 soal
6. Kep. Keluarga 5-15 % 18 soal
7. Kep. Gerontik 4-8 % 10 soal
8. Kep. Komunitas 4-8 % 10soal
9. Manejemen Kep 5-15 % 18 soal
Asumsi soal 100 % 180 soal
Proses Belajar AKADEMIK
Selalu belajar berdasarkan Kasus.
Sensitif dan peduli terhadap Kasus di lingkungan masing masing
sebagai bahan belajar.
Belajar bertanya sebanyak banyaknya pada kasus yang sedang dihadapi
atau yg sedang di diskusikan
Jangan takut bertanya
Bertanya sebagai perwujudan berfikir kritis
Berfikir kritis dan konstruktif pada kasus
Buat hipotesis dari semua pertanyaan
Temukan jawaban terhadap pertanyaan tersebut
Bertanya yang tulus akan terlihat sebagai proses belajar yang baik
Bertanya seribu pertanyaan
Kecelakaan ? Apa itu
Kok ada luka, bagaimana prosesnya, perdarah ? Apa itu?
Kenapa bisa, darah itu keluar kenapa?
apa saja yang ada di darah, darah itu terdiri dari apa saja,
apa fungsinya,
Apakah ada hubungan tekanan darah dengan perdarahan?
Bagaimana dengan Nadi? Apa itu nadi ? Proses dan asal
usulnya
Apa akibatnya? Bagaimana bagaimana cara menolongnya
?
Apa yang bisa terjadi ?....
dan seterusnya
Proses ini di pandu oleh fasilitator
Pertanyaan apa lagi ..
Bidai ? Apa itu
Kenapa di bidai, kalau tidak kenapa ?
Ada gangguan pada apa
Bagaimana proses sembuhnya? Apa bisa sembuh,
berapa lama,
Anatomi? fisiologi,? Patofisiologi? Patologi? Histologi?
Nyeri? Kenapa, apa ada akibatnya, proses nya seperti
apa, apa jenisnya, apa arti skala tersebut?
Konstruksikan pertanyaan
Semua pertanyaan di konstruksikan
Di carikan jawaban dengan berbagai cara yang
menarik dan konstruktif.

JADIKAN BELAJAR SEBAGAI KESENANGAN DAN


HOBY
PASTI SUKSES BILA BELAJAR DIANGGAP SEBAGAI
SEBUaH KEWAJIBAN DAN INVESTASI UNTUK
MASA DEPAN
BELAJAR LABORATORIUM
LABORATORIUM ADALAH PENGASAHAN
TERHADAP PENGETAHUAN KE ARAH PRACTICES
LABORATORIUM MENGASAH SIKAP DAN
PRILAKU

PRACTICES AKAN MENYIMPAN BANYAK MEMORY


DAN PENGALAMAN DI ALAM BAWAH SADAR,
BERSIFAT LEBIH MENETAP (PERMANEN)
LABORATORIUM
MEMAHAMI TEORINYA
MEMBUAT POLA PROSEDURNYA
MEMPRAKTEKAN SECARA BERULANG

MELAKUKAN EVALUASI : SELF EVALUASI


REKONSTRUKSIF
PERBAIKAN
PRAKTEK KLINIK PROFESI
PERDALAM TAHAPAN PROSES KEPERAWATAN
SECARA BENAR PADA SETIAP KASUS YANG DI
HADAPI
GALI/KAJI KASUS YANG DI RAWAT SEBAIK DAN
SEDALAM MUNGKIN
DISKUSIKAN, TEMUKAN PEMBENARAN-NYA
REKONSTRUKSI KEMBALI
STRATEGI MENGERJAKAN SOAL
PAHAMI Stem SOAL
baca soal dg hati hati
tanyakan pada diri sendiri : apa yang ditanyakan pada soal,
temukan kata kunci, data relevan yang tersedia, bagaimana
memformulasikan pertanyan dengan bahasa sendiri

Bagaimana cara mereka bertanya?

Setelah menjawab semua, jawab pertanyaan untuk pilihan


jawaban :
apa ada pilihan yang mirip
apakah jawaban tersebut paling tepat, lengkap
untuk pertanyan yg di ajukan
Tip penting untuk jawaban
Perlu latihan
Perlu membiasakan membaca soal
Jawab sesuai dengan yang ditanyakan
Soal yang beragam: usahakan untuk memahami
dengan sebaik mungkin dan mengerti apa sebenarnya
yang di tanyakan
Latihan Membaca
Membaca Skimming :
Untuk mengerti gambaran umum soal secara
keseluruhan: mendapatkan idea dari soal yang perlu
terus dikembangkan dengan waktu yang disesuaikan
agar nyaman.

Membaca Scanning :
Memindai informasi penting dan soal yang sedang di
baca untuk menemukan kata kunci.
Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun dibawa keruang gawat
darurat karena kecelakaan dengan luka terbuka pada tibia
sinistra disertai perdarahan dan terpasang bidai. Hasil
pemeriksaan tampak gelisah dan kesakitan, skala 6-7,
diaphoresis. Tekanan darah 110/80 mmHg, frekuensi nadi
110 X/menit, frekuensi napas 28 X/menit. Anak tertua
pasien gelisah melihat kondisi orang tuanya
Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun dibawa keruang gawat
darurat karena kecelakaan dengan luka terbuka pada tibia
sinistra disertai perdarahan yang hebat dan terpasang
bidai. Hasil pemeriksaan tampak gelisah dan kesakitan, ,
pucat dan turgor kulit jelek. Tekanan darah 90/50 mmHg,
frekuensi nadi 110 X/menit, frekuensi napas 28 X/menit.
Anak tertua pasien gelisah melihat kondisi orang tuanya
Contoh :
Seorang ibu membawa bayinya berusia 15 bulan kerumah sakit
dengan keluhan buang air besar 10 kali disertai muntah-
muntah. Ibu mengatakan bayinya sering menangis dan tidak
mau makan dan minum. Hasil pemeriksaan fisik di dapat : ubun-
ubun cekung, kulit kering, mata cekung. Ibu gelisah melihat
kondisi bayinya .
kata kuncinya :
- banyak data terkait cairan , jawaban harus terkait cairan

Pertanyaan :
Apa masalah keperawatan pasien di atas :
a. Gangguan cairan
b. Gangguan nutrisi
c. Cemas
d. Kurang pengetahuan
e. Gangguan eliminasi
Seorang laki laki usia 30 tahun dibawa ke UGD karena mengalami
kecelakaan lalulintas. Pasien mengalami penurunan kesadaran , saat
dikaji terdengar suara snoring dan gurgling, terdapat memar pada
wajah dan bahu. TD 120 /75 mmHg, frekuensi nadi 87 x/mnt,
frekuensi napas 27 x/mnt dan suhu 370 C.

Apakah harus dilakukan untuk memastikan patennya jalan napas pasien


tersebut?

a. Lakukan head tilt dan chin lift


b. Memasang Orofaringeal tube
c. Memasang endotracheal tube
d. Melakukan jaw trust
e. Melakukan suction
Seorang perempuan berusia 39 tahun dirawat dengan diagnosis
CKD on HD. Hasil pengkajian didapatkan data: pasien tampak
sesak, edema seluruh tubuh, Tekanan darah 150/90 mmHg,
frekuensi nadi 100 x/menit, frekuensi nafas 29 x/menit ronchi
pada dua lapang paru, dan urin output 500cc/24 jam.

Apa intervensi yang tepat dilakukan pada pasien tersebut ?

A.Kolaborasi pemberian terapi diuretik


B.Timbang berat badan setiap hari
C.Beri posisi tidur semi fowler
D.Ukur intake output cairan
E.Batasi intake cairan
52
Seorang perempuan usia 47 tahun dirawat diruang rawat umum
dengan tumor otak. Pasien mengeluh nyeri kepala, wajah tidak
simetris, tidak mampu mengangkat alis dan gangguan mengecap
rasa asam dan manis.

Manakah syaraf yang mengalami gangguan pada kasus tersebut?

a. Saraf kranial V
b. Saraf kranial VI
c. Saraf kranial VII
d. Saraf kranial IX
e. Saraf kranial X
Kasus (vignete)
Seorang laki-laki berusia 34 tahun dilakukan pemasangan kateter
urine (Foley chateter) untuk persiapan operasi pemasangan plate and
screw tibia dextra, data status urinarius tidak ada kelainan. Setelah
pelumasan kateter dengan jelly, kateter dimasukan dengan mudah dan
tanpa hambatan, segera urin terlihat keluar dan ditampung dalam
bengkok/penampung yang telah disiapkan.

Pertanyaan soal
Apakah tindakan yang harus dilakukan perawat selanjutnya ?

Pilihan jawaban :

A. Meneruskan pemasukan kateter sampai percabangannya


B. Memfiksasi kateter dengan penis menghadap keatas
C. Menggembungkan balon dengan NaCl 0,9 %
D. Menyambungkan kateter ke kantung urin
E. Menekan pubis pasien dengan lembut
Seorang laki laki berusia 60 tahun dirawat diruang unit
stroke dengan keluhan tiba tiba saat setelah kekamar
mandi mengalami purunan kesadaran. Pasien diduga
kena serangan stroke. Reflek menelan tidak ada. Pasien
dipasang NGT. Telah dimasukan sesuai dengan ukuran
dan lancar.
Apakah tindakan yang harus dilakukan selanjutnya ?

a. Menentukan dalamnya NGT yang dimasukan


b. Menguji masuknya selang ke lambung
c. Periksa kebersihan hidung
d. Menarik cairan via NGT
e. Mengatur posisi pasien
Realitis
Kenali sifat diri sendiri
Jangan perfeksionis
Seorang perfeksionis sering ingin mengerjakan
pekerjaan dengan sangat baik sehingga sering merasa
kurang puas, bertahan berlama lama pada satu titik,
terkonsentrasi pada satu soal, kehabisan dan
kehilangan banyak waktu
Strategi yang kurang tepat
Mencari jalan pintas,
Menciptakan bimbingan test uji kompetensi

Tidak akan menciptakan perawat yang kompeten

Karena pada dasarnya uji kompetensi bagi institusi


adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran
Terima Kasih
Semoga bermanfaat