Anda di halaman 1dari 2

3.1.

Patofisiologi Asma Pada Anak


Gejala asma sering terjadi pada saat kronis dan seringkali
merupakan inflamasi sistemik yang kemungkinan muncul saat tidak
ada gejala klinis. Asma juga memiliki karakter yang beragam karena
gejala dan eksaserbasinya dapat disebabkan oleh berbagai hal yang
beragam. Asma pada anak sangat kompleks karena melibatkan
berbagai macam sistem imun termasuk presentasi antigen, fungsi sel
T dan produksi antibodi yang imatur dan respon atopi. Interaksi
antara maturasi sistem imun dan pertumbuhan paru dan
perkembangan saat tahun pertama kehidupan sangat berpengaruh
terhadap perkembangan asma. Saluran nafas anak dan bayi sangat
rentan mengalami obstruksi akibat ukurannya yang kecil dan tulang
rusuk yang masih lemah untuk menyangga paru sehingga dapat
menghambat peningkatan volume paru. Semua hal itu dipengaruhi
oleh genetik, perkembangan dan faktor lingkungan (Kabat, 2004;
Kelly ,H.W.,Sorkness, C.A., 2005).
1. Abnormalitas imun
Imunitas sel T berkaitan dengan patofisiologi asma. Interleukin
(IL) 4 dan IL 13 berkaitan dengan perpindahan kelas IgE dan IL5
yang mengendalikan eosinofil, yang merupakan produk Th2 yang
dipresentasikan oleh limfosit Thelper. Ketidakseimbangan Th1 dan
Th2 merupakan penyebab asma yang berhubungan dengan
abnormalitas sel T. Individu dengan atopi mengalami peningkatan
antibodi IgE dan ketidakseimbangan Th1/Th2 pada respon
mitogen, alergen dan virus.
2. Interaksi Fungsi Struktur
Terjadinya inflamasi menyebabkan perubahan struktur saluran
pernafasan pada anak dengan gejala asma. Perubahan ini dapat
menetap meski tidak adanya gejala selama lebih dari 6 tahun dan
penghentian terapi asma.
Remodelling saluran nafas merupakan deskripsi untuk kronik,
bahkan perubahan ireversibel yang terjadi pada saluran nafas
pasien. hal ini dapat berupa hipertrofi otot halus, angigenesis dan
peningkatan vaskularitas, infiltrasi sel inflamasi kronik, hiperplasia
sel goblet, deposisis kolagen, penebalan membran dasar dan
penurunan elestisitas dinding saluran nafas.
Inflamasi bronkhial merupakan karakteristik utama pada pasien
dengan gejala asma, dan mencakup perubahan level epitel, sel
inflamasi, dan produksi berbagai mediator. Hal ini berkaitan erat
dengan hiperresponsifitas saluran nafas. Selularitas dan
karakteristik inflamasi lainnya tergantung pada faktor pencetus
dan usia.
Inflamasi nasal lebih sering terjadi tanpa adanya gejala lain
dan alergen nasal menyebabkan inflamasi bronkial. Epitel bronkial
merespon terhadap stimulasi eksternal termasuk inflamasi dan
proses remodelling. Pada gambaran histologi terdapat barier
epitel. Obstruksi saluran nafas saat eksaserbasi asma, saluran
nafas tertutup oleh edema, hipersekresi mukus dan kontraksi otot
halus.

Anda mungkin juga menyukai