Anda di halaman 1dari 2

3.4.

Diagnosis Asma Pada Anak


Masalah penting pada morbiditas asma adalah kemampuan untuk
menegakkan diagnosis, dan seperti telah kita ketahui bahwa
diagnosis asma pada anak tidak selalu mudah untuk ditegakkan.
Beberapa kriteria diagnosis untuk itu selalu mempunyai berbagai
kelemahan, tetapi umumnya disepakati bahwa hiperreaktivitas
bronkus tetap merupakan bukti objektif yang perlu untuk diagnosis
asma, termasuk untuk asma pada anak (Rahajoe N, 2012).
GINA (Global Initiative for Asma) mendefinisikan asma sebagai
gangguan inflamasi kronis saluran nafas dengan banyak sel berperan,
khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan
inflamasi tersebut menyebabkan episode mengi berulang, sesak
nafas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam atau
dini hari. Gejala tersebut biasanya berhubungan dengan penyempitan
jalan napas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian
bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan.
Inflamasi tersebut juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan
nafas terhadap berbagai rangsangan (Global Initiative for Asthma, 2009).
Konsensus Internasional menggunakan definisi operasional sebagai
mengi berulang dan/atau batuk persisten dalam keadaan asma
adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih jarang
telah disingkirkan. Perbedaan di atas sebenarnya hanya pada segi
praktisnya saja. Pedoman Nasional Asma Anak di dalam batasan
operasionalnya menyepakati, kecurigaan asma apabila anak
menunjukkan gejala batuk dan/atau mengi yang timbul secara
episodik, cenderung pada malam hari/dini hari (nokturnal), musiman,
setelah aktivitas fisik, serta adanya riwayat asma dan atopi pada
penderita atau keluarganya. Baik GINA, Konsensus Internasional,
maupun PNAA(Pedoman Nasional Asma Anak) menekankan diagnosis
asma didahului batuk dan atau mengi. Gejala awal tersebut ditelusuri
dengan algoritme kemungkinan diagnosis asma. Pada algoritme
tampak bahwa batuk dan/atau mengi yang berulang (episodik),
nokturnal, musiman, setelah melakukan aktivitas, dan adanya riwayat
atopi pada penderita maupun keluarganya merupakan gejala atau
tanda yang patut diduga suatu asma (Akib A.A, 2002; Global Initiative for
Asthma, 2009).
Akhir-akhir ini banyak yang berpendapat bahwa untuk menegakkan
diagnosis asma pada anak di bawah lima tahun sebaiknya berhati-hati
apabila tidak pernah dijumpai adanya wheezing. Hal itu disebabkan
pada usia tersebut kemungkinan batuk yang berulang hanyalah
akibat infeksi respiratorik saja. Demikian pula apabila dijumpai
wheezing pada usia di bawah tiga tahun (batita) hendaknya berhati-
hati dalam mendiagnosis asma. Wheezing yang dijumpai pertama kali
belum tentu merupakan gejala asma. Bila dijumpai keadaan batuk
kronis dan/atau berulang dengan/atau tanpa wheezing dengan
karakteristik seperti di atas, tetap perlu dipertimbangkandiagnosis
asma (Akib A.A, 2002).
Sebagian besar manifestasi akan muncul sebelum usia 6 tahun dan
kebanyakan gejala awal sudah ditemukan pada masa bayi, berupa
mengi berulang atau tanpa batuk yang berhubungan dengan infeksi.
Kecenderungan bayi mengi untuk menjadi asma sangat ditentukan
oleh faktor genetik atopi. Sebagian besar bayi tersebut jelas
mempunyai riwayat keluarga atopi serta menunjukkan positivitas lgE
anti-RSV serum, dibandingkan dengan bayi mengi yang tidak menjadi
asma (Supriyatno B, 2005).

Anda mungkin juga menyukai