Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Definisi

Demam dengue adalah sindrom jinak yang disebabkan oleh arthropodborne viruses

dengan karakteristik demam bifasik, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, leukopenia, dan

limfadenopati.1

1.2. Etiologi

Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang

termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus

dengan diameter 30nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat

molekul 4 x 106.2

Terdapat 4 serotipe virus tipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang

semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue keempat

serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.2

1.3. Epidemiologi

World Health Organization - South-East Asia Regional Office (WHO-SEARO)

melaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 156052 kasus dengue dengan 1396

jumlah kasus kematian di Indonesia dan case-fatality rates (CFR)0.79%.3

Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes

(terutama A. aegypti dan A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan

dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk

betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat

penampungan air lainnya).

1
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue

yaitu :

1) Vektor : perkembang biakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di

lingkungan, transportasi vektor dilingkungan, transportasi vektor dai satu tempat ke

tempat lain;

2) Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan

terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin;

3) Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.4

1.4. Patogenesis

Respon imun yang diketahui berperan dalam pathogenesis DBD adalah :

a) Respon humoral berupa pembentukan antibody yang berparan dalam proses

netralisasi virus, sitolisis yang dimeasi komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi

antibody. Antibody terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat replikasi

virus pad monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent

enhancement (ADE);

b) Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berepran dalam respon

imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu TH1 akan

memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin, sedangkan TH2 memproduksi

IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10;

c) Monosit dan makrolag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi

antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan

sekresi sitokin oleh makrofag;

2
d) Selain itu aktivitasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya

C3a dan C5a.3

Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang me-fagositosis

kompleks virus-antibody non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag.

Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T

sitotoksik sehingga diprosuksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma

akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti

TNF-, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamine yang

mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma.

Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-antibodi yang

juga mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.

Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme :

1) Supresi sumsum tulang, dan

2) Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.

Gambaran sumsum tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan

hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai akan terjadi

peningkatan proses hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar tromobopoietin

dalam darah pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan, hal ini

menunjukkan terjadinya stimulasi tromobositopenia. Destruksi trombosit terjadi

melalui pengikatan fragmen C3g, terdapatnya antibody VD, konsumsi trombosit

selama proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. Gangguan fungsi trombosit

3
terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-

tromoboglobulin dan PF4 yang merupakan petanda degranulasi tromobosit.

Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang

menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya

koagulopati konsumtif pada demam berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi

koagulasi pada demam berdarah dengue terjadi melalui aktivasi jalur ekstrinsik

(tissue factor pathway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi factor Xia

namun tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein C1-inhibitor complex).3

1.5. Manifestasi Klinis

Gambar 1.2 Spektrum infeksi dengue4

Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011, infeksi dengue dapat

terjadi asimtomatik dan simtomatik. Infeksi dengue simtomatik terbagi menjadi

undifferentiated fever (sindrom infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai

infeksi dengue ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah

dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.

4
Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage merupakan tanda patognomonik

DBD, sedangkan kelainan organ lain serta manifestasi yang tidak lazim

dikelompokkan ke dalam expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.

Secara klinis, DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak; sedangkan DBD dapat

disertai syok atau tidak.

Tabel 1.1 Manifestasi Klinis Demam Dengue4

DD/DBD Derajat Tanda dan gejala Laboratorium


DD Demam disertai Leukopenia (jumlah
minimal dengan 2 gejala leukosit 4000
Nyeri kepala sel/mm3)
Nyeri retro- Trombositopenia
orbital (jumlah trombosit
Nyeri otot <100.000 sel/mm3)
Nyeri sendi/ Peningkatan
tulang hematokrit (5%-
Ruam kulit 10%)
makulopapular Tidak ada bukti
Manifestasi perembesan plasma
perdarahan
Tidak ada
tanda
perembesan
plasma

DBD Ii Demam dan Trombositopenia <100.000


manifestasi perdarahan sel/mm3; peningkatan
(uji bendung positif) hematokrit 20%
dan tanda perembesan
plasma
DBD II Seperti derajat I Trombositopenia <100.000
ditambah perdarahan sel/mm3; peningkatan
spontan hematokrit 20%
DBD* III Seperti derajat I atau II Trombositopenia <100.000
ditambah kegagalan sel/mm3; peningkatan
sirkulasi (nadi lemah, hematokrit 20%
tekanan nadi 20
mmHg, hipotensi,
gelisah, diuresis
menurun
DBD* IV Syok hebat dengan Trombositopenia <100.000

5
tekanan darah dan nadi sel/mm3; peningkatan
yang tidak terdeteksi hematokrit 20%
Diagnosis infeksi dengue: Gejala klinis + trombositopenia + hemokonsentrasi, dikonfirmasi
dengan deteksi antigen virus dengue (NS-1) atau dan uji serologi anti dengue positif (IgM
anti dengue atau IgM/IgG anti dengue positif)
a. Undifferentiated fever (sindrom infeksi virus)

Pada undifferentiated fever, demam sederhana yang tidak dapat dibedakan

dengan penyebab virus lain. Demam disertai kemerahan berupa makulopapular,

timbul saat demam reda. Gejala dari saluran pernapasan dan saluran cerna sering

dijumpai.

b. Demam dengue (DD)


Anamnesis:

Demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot & sendi/tulang,

nyeri retro-orbital, photophobia, nyeri pada punggung, facial flushed, lesu, tidak mau

makan, konstipasi, nyeri perut, nyeri tenggorok, dan depresi umum.

Pemeriksaan fisik
Demam: 39-40C, berakhir 5-7 hari
Pada hari sakit ke 1-3 tampak flushing pada muka (muka kemerahan), leher,

dan dada
Pada hari sakit ke 3-4 timbul ruam kulit makulopapular/rubeolliform
Mendekati akhir dari fase demam dijumpai petekie pada kaki bagian dorsal,

lengan atas, dan tangan


Convalescent rash, berupa petekie mengelilingi daerah yang pucat pada kulit

yg normal, dapat disertai rasa gatal


Manifestasi perdarahan
Uji bendung positif dan/atau petekie
Mimisan hebat, menstruasi yang lebih banyak, perdarahan saluran cerna

(jarang terjadi, dapat terjadi pada DD dengan trombositopenia)


c. Demam berdarah dengue

6
Terdapat tiga fase dalam perjalanan penyakit, meliputi fase demam, kritis, dan

masa penyembuhan (convalescence, recovery).

Fase demam

Anamnesis

Demam tinggi, 2-7 hari, dapat mencapai 40C, serta terjadi kejang demam.

Dijumpai facial flush, muntah, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok

dengan faring hiperemis, nyeri di bawah lengkung iga kanan, dan nyeri perut.

Pemeriksaan fisik

Manifestasi perdarahan
Uji bendung positif (10 petekie/inch2) merupakan manifestasi

perdarahan yang paling banyak pada fase demam awal.


Mudah lebam dan berdarah pada daerah tusukan untuk jalur vena.
Petekie pada ekstremitas, ketiak, muka, palatum lunak.
Epistaksis, perdarahan gusi
Perdarahan saluran cerna
Hematuria (jarang)
Menorrhagia
Hepatomegali teraba 2-4 cm di bawah arcus costae kanan dan kelainan

fungsi hati (transaminase) lebih sering ditemukan pada DBD.

Berbeda dengan DD, pada DBD terdapat hemostasis yang tidak normal,

perembesan plasma (khususnya pada rongga pleura dan rongga peritoneal),

hipovolemia, dan syok, karena terjadi peningkatan permeabilitas kapiler. Perembesan

plasma yang mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura dan rongga

peritoneal terjadi selama 24-48 jam.

Fase kritis

7
Fase kritis terjadi pada saat perembesan plasma yang berawal pada masa

transisi dari saat demam ke bebas demam (disebut fase time of fever defervescence)

ditandai dengan,

Peningkatan hematokrit 10%-20% di atas nilai dasar


Tanda perembesan plasma seperti efusi pleura dan asites, edema pada dinding

kandung empedu. Foto dada (dengan posisi right lateral decubitus = RLD) dan

ultrasonografi dapat mendeteksi perembesan plasma tersebut.


Terjadi penurunan kadar albumin >0.5g/dL dari nilai dasar / <3.5 g% yang

merupakan bukti tidak langsung dari tanda perembesan plasma


Tanda-tanda syok: anak gelisah sampai terjadi penurunan kesadaran, sianosis,

nafas cepat, nadi teraba lembut sampai tidak teraba. Hipotensi, tekanan nadi

20 mmHg, dengan peningkatan tekanan diastolik. Akral dingin, capillary

refill time memanjang (>3 detik). Diuresis menurun (< 1ml/kg berat

badan/jam), sampai anuria.


Komplikasi berupa asidosis metabolik, hipoksia, ketidakseimbangan

elektrolit, kegagalan multipel organ, dan perdarahan hebat apabila syok tidak

dapat segera diatasi. 4


Fase penyembuhan (convalescence, recovery)

Fase penyembuhan ditandai dengan diuresis membaik dan nafsu makan

kembali merupakan indikasi untuk menghentikan cairan pengganti. Gejala umum

dapat ditemukan sinus bradikardia/ aritmia dan karakteristik confluent petechial rash

seperti pada DD.

8
Gambar 1.3. Perjalanan penyakit infeksi dengue Sumber: Center for Disease
Control and Prevention. Clinicians case management. Dengue Clinical
Guidance. Updated 2010.

1.6. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium

Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam

dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit

dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relative disertai gambaran

limfosit plasma biru. 4

Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun

deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reserve Transcriptase

Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes

9
serologis yang mendeteksi adanya antibody spesifik terhadap dengue berupa antibody

total, IgM maupun IgG.

Parameter Laboratoris yang dapat diperiksa antara lain :

Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui

limfositosis relative (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit

plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok

akan meningkat.
Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit: Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya

peningkatan hematokrit 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai

pada hari ke-3 demam.


Hemostasis: Dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer,

atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan

pembekuan darah.
Protein/albumin: Dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma.
SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat meningkat.
Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan.
Ureum kreatinin dapat meningkat.
Golongan darah: dan cross macth (uji cocok serasi): bila akan diberikan

transfusi darah atau komponen darah.


Imuno serologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue.

IgM: terdeksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3,

menghilang setelah 60-90 hari.

IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada

infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke-2.4

1.7. Diagnosis

10
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan,

Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi/

peningkatan hematokrit20%.
Dijumpai hepatomegali sebelum terjadi perembesan plasma
Dijumpai tanda perembesan plasma
Efusi pleura (foto toraks/ultrasonografi)
Hipoalbuminemia
Pada kasus syok, hematokrit yang tinggi dan trombositopenia yang jelas,

mendukung diagnosis DSS.


Nilai LED rendah (<10mm/jam) saat syok membedakan DSS dari syok sepsis.
1.8. Tatalaksana.

Tanda kegawatan dapat terjadi pada setiap fase pada perjalanan penyakit

infeksi dengue, seperti berikiut.

Tidak ada perbaikan klinis/perburukan saat sebelum atau selama masa transisi

ke fase bebas demam / sejalan dengan proses penyakit

Muntah yg menetap, tidak mau minum

Nyeri perut hebat

Letargi dan/atau gelisah, perubahan tingkah laku mendadak

Perdarahan: epistaksis, buang air besar hitam, hematemesis, menstruasi yang

hebat, warna urin gelap (hemoglobinuria)/hematuria

Giddiness (pusing/perasaan ingin terjatuh)

Pucat, tangan - kaki dingin dan lembab

Diuresis kurang/tidak ada dalam 4-6 jam 4

Monitor perjalanan penyakit DD/DBD

11
Parameter yang harus dimonitor mencakup,

Keadaan umum, nafsu makan, muntah, perdarahan, dan tanda dan gejala lain
Perfusi perifer sesering mungkin karena sebagai indikator awal tanda syok,

serta mudah dan cepat utk dilakukan


Tanda vital: suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah, diperiksa minimal setiap

2-4 jam pada pasien non syok & 1-2 jam pada pasien syok.
Pemeriksaan hematokrit serial setiap 4-6 jam pada kasus stabil dan lebih

sering pada pasien tidak stabil/ tersangka perdarahan.


Diuresis setiap 8-12 jam pada kasus tidak berat dan setiap jam pada pasien

dengan syok berkepanjangan / cairan yg berlebihan.


Jumlah urin harus 1 ml/kg berat badan/jam ( berdasarkan berat badan ideal).4

12
Gambar 1.5 Tatalaksana Tersangka DBD/Infeksi Virus Dengue5

Indikasi pemberian cairan intravena

Pasien tidak dapat asupan yang adekuat untuk cairan per oral ataumuntah
Hematokrit meningkat 10%-20% meskipun dengan rehidrasi oral
Ancaman syok atau dalam keadaan syok. 4

13
Gambar 1.6 Tatalaksana Tersangka DBD atau Demam Dengue5

Prinsip umum terapi cairan pada DBD

Kristaloid isotonik harus digunakan selama masa kritis.


Cairan koloid digunakan pada pasien dengan perembesan plasma hebat, dan

tidak ada respon pada minimal volume cairan kristaloid yang diberikan.
Volume cairan rumatan + dehidrasi 5% harus diberikan untuk menjaga

volume dan cairan intravaskular yang adekuat.


Pada pasien dengan obesitas, digunakan berat badan ideal sebagai acuan untuk

menghitung volume cairan.

Tata laksana infeksi dengue berdasarkan fase perjalanan penyakit

Fase Demam

14
Pada fase demam, dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan / atau cairan

oral apabila anak masih mau minum, pemantauan dilakukan setiap 12-24 jam.

Medikamentosa
Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol bukan

aspirin. Paracetamol 10 mg/kgBB/kali apabila suhu lebih 38 0C rentang

4-6 jam.4,5
Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan

(misalnya antasid, anti emetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi

obat dalam hati.


Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati apabila terdapat

perdarahan saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.


Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.4
Supportif
Cairan: cairan pe oral + cairan intravena rumatan per hari + 5% defisit
Diberikan untuk 48 jam atau lebih
Kecepatan cairan IV disesuaikan dengan kecepatan kehilangan

plasma, sesuai keadaan klinis, tanda vital, diuresis, dan hematokrit

Gambar 1.5 Tabel Pemberian Cairan4

Fase Kritis

15
Gambar 1.4 diagnosis dan tatalaksana DSS4

Pada fase kritis pemberian cairan sangat diperlukan yaitu kebutuhan rumatan

+ deficit, disertai monitor keadaan klinis dan laboratorium setiap 4-6 jam.

Fase Recovery

Pada fase penyembuhan diperlukan cairan rumatan atau cairan oral, serta

monitor tiap 12-24 jam.

Indikasi untuk pulang

Pasien dapat dipulangkan apabila telah terjadi perbaikan klinis sebagai berikut.

Bebas demam minimal 24 jam tanpa menggunakan antipiretik


Nafsu makan telah kembali

16
Perbaikan klinis, tidak ada demam, tidak ada distres pernafasan, dan nadi

teratur
Diuresis baik
Minimum 2-3 hari setelah sembuh dari syok
Tidak ada kegawatan napas karena efusi pleura, tidak ada asites
Trombosit >50.000 /mm3. Pada kasus DBD tanpa komplikasi, pada umumnya

jumlah trombosit akan meningkat ke nilai normal dalam 3-5 hari.4


1.9. Komplikasi

Demam Dengue

Perdarahan dapat terjadi pada pasien dengan ulkus peptik, trombositopenia

hebat, dan trauma.

Demam Berdarah Dengue

Ensefalopati dengue dapat terjadi pada DBD dengan atau tanpa syok.
Kelainan ginjal akibat syok berkepanjangan dapat mengakibatkan gagal ginjal

akut.
Edema paru dan/ atau gagal jantung seringkali terjadi akibat overloading

pemberian cairan pada masa perembesan plasma


Syok yang berkepanjangan mengakibatkan asidosis metabolik & perdarahan

hebat (DIC, kegagalan organ multipel)


Hipoglikemia / hiperglikemia, hiponatremia, hipokalsemia akibat syok

berkepanjangan dan terapi cairan yang tidak sesuai.4

17
BAB 2

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama (Inisial) : An. RM

Umur : 14 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jorong II Pasar Rao Taruang-Taruang Kab. Pasaman

Tanggal Masuk : 27 Februari 2017

Anamnesis

Keluhan utama:

Demam sejak 4 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang

18
Demam sejak 4 hari yang lalu, tinggi, tidak mengigil, terus menerus, tidak

disertai kejang
Badan dan tungkai dirasakan pegal-pegal sejak 4 hari yang lalu.
Mual sejak 4 hari yang lalu tidak disertai muntah.
Batuk dirasakan sejak 1 hari yang lalu, berdahak, berwarna putih.
Nafsu makan berkurang
Perdarahan pada kulit, gusi, hidung tidak ada
Berak berwarna hitam tidak ada.
BAK warna kuning dan jumlah biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat menderita DBD tahun 2014

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga menderita penyakit seperti ini.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik Umum

Keadaan umum : Sedang Berat Badan : 42 kg


Kesadaran : CMC Tinggi Badan : 160 cm
Tekanan Darah : 100/70 BB/U :85,7%
Frek. Nadi : 90 x/i TB/U :100%
Frek. Nafas : 20 x/i BB/TB :85,7%
Suhu :39,20C Status Gizi : Baik
Edema :- Anemia :-
Ikterus :- Sianosis :-
Kulit : Teraba hangat

Kepala : bulat, simetris, normocephal

Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut

Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor

2mm/2mm, Refleks cahaya +/+

19
Telinga : liang telinga lapang, membrane timpani intak, bulging tidak

ada

Hidung : Nafas cuping hidung ada

Tenggorok : uvula terletak ditengah, tonsil T1-T1, tidak hiperemis

Gigi dan mulut : mukosa bibir dan mulut basah

Leher : JVP 5-2 cmH2O

Thorax

Paru Inspeksi : normochest, retraksi epigastrium tidak ada

Palpasi : fremitus kiri = kanan

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wh -/-

Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada

Abdomen

Inspeksi : distensi tidak ada

Palpasi : supel hepar, tidak teraba, lien tidak teraba

Perkusi : timpani

Auskultasi : BU (+) Normal

Punggung : tidak ada kelainan

Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan

Anggota Gerak : Akral hangat, CRT < 2 detik

20
Riwayat Makanan dan Minuman

Bayi
ASI : Umur : 0-skrg bulan
Buah biskuit : umur : bulan
Nasi tim : umur : bulan
Susu formula : umur : bulan
Bubur susu : umur : bulan
Anak
Makanan utama : 2 x/hari, menghabiskan 1porsi
Daging :3 x/ minggu
Ikan :2 x/ minggu
Telur :3 x/ minggu
Sayur :1 x/ minggu
Buah :2 x/ minggu
Kesan : Gizi Baik

Riwayat Imunisasi : Imunisasi lengkap

Darah Hb : 13,4 g/dL

Leukosit : 5840/uL

Hitung jenis : 0/2/53/35/10

Hematokrit : 37,8%

Trombosit : 108.000/mm3

Kesan : dalam batas normal

21
Diagnosis kerja

Demam Dengue

Intake sulit

Tatalaksana

IVFD KaEn 1B 30 tetes/menit

ML 1300 kkal

Paracetamol 300 mg ( T 380C)

Banyak Minum

Follow Up

Selasa, 28 Februari 2017

S/ demam ada

Perdarahan hidung, gusi dan kulit tidak ada

Mual ada, muntah tidak ada

Bantuk berdahak ada

O/ KU : Sedang

TD : 110/70

HR : 96x/i

RR :26x/i

T : 37,60C

Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Hidung : Nafas cuping hidung ada

Thorax

Paru Inspeksi : normochest, retraksi epigastrium tidak ada


Palpasi : fremitus kiri = kanan

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wh -/-

Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada

Abdomen

Inspeksi : distensi tidak ada

Palpasi : supel hepar, tidak teraba, lien tidak teraba

Perkusi : timpani

Auskultasi : BU (+) Normal

Anggota Gerak : Akral hangat, CRT < 2 detik

Darah Hb : 12,8 g/dL

Leukosit : 6860/uL

Hitung jenis : 1/3/56/31/8

Hematokrit : 36,3%

Trombosit : 116.000/mm3

Kesan : trombotsitopenia

A/ Demam Dengue

P/ IVFD KaEn 1B 30 tetes/menit

ML 1300 kkal

Paracetamol 300 mg ( T 380C)


Banyak Minum

BAB 3
DISKUSI

Seorang pasien perempuan berusia 14 tahun datang ke IGD RSAM

Bukittinggi dengan keluhan demam tinggi sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit,

dirasakan terus menerus, tidak menggigil, dan tidak disertai kejang. Dalam penegakan

diagnosis, demam merupakan salah satu gejala dari banyak diagnosis. Pasien juga

mengeluhkan kaki, tangan, dan persendian sakit. Hal ini disebut dengan myalgia dan

atralgia. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada kepala. Pasien tidak mengeluhkan nyeri

perut, tanda perdarahan pada hidung seperti mimisan, pada gusi, dan saluran cerna.

Hal ini menyingkirkan bahwa kemungkinan trombosit belum turun pada kasus ini

yang akan dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium.

Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan dalam batas normal. Pada

pemeriksaan rumple leed tidak ditemukan kelainan.Hasil laboratorium menunjukkan

bahwa hemoglobin, trombosit dan leukosit dalam batas normal. Sehingga, diagnosis

kerja untuk sementara adalah demam dengue karena memenuhi kriteria demam dan 2

gejala lainnya yaitu nyeri kepala dan atralgia dan myalgia. Karena demam masih hari

ke-4, akan dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM untuk pasien ini.

Tatalaksana pada pasien diberikan cairan KaEn 1B 30 tpm, makanan lunak

1300 kkal, paracetamol 300 mg jika demam, dan banyak minum. Pada perhitungan

cairan menurut darrow, dengan berat badan 42 kg itu didapatkan kebutuhan sehari itu

1940 kkal. Dari intake ML didapatkan 1300 kkal, sedangkan didalam cairan Kaen 1
B mempunyai jumlah kalori 150 kkal/L. Pada hari pertama, diberikan 2 kolf KaEn 1B

setara 1 L berarti kalorinya 150 kkal. Total kalori yang didapat 1300 kkal + 150 kkal

yaitu 1450 kkal. Berarti, kebutuhan kalori pasien tidak terpenuhi. Untuk pemberian

cairan sehari seharusnya 2730 cc/24 jam atau setara 38 tetes infus per menit.

Dosis parasetamol yang dianjurkan adalah 10 mg//kgBB/kali selang 4-6 jam.

Dengan berat badan 42 kg, seharusnya didapatkan 420 mg per kali pemberian tapi

pasien hanya mendapatkan 300 mg.


DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W.A. Newman. 2012. Kamus Kedokteran Dorland; Edisi 28.


Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
2. Price, Sylvia.A., Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses Proses Penyakit. Ed. 6. Vol. 2. EGC. Jakarta.
3. Karyanti, Mulya Rahma.2011. Diagosis dan Tatalaksana Dengue pada Anak.
RSCM FK UI
4. World Health Organization. Comprehensive guidelines for prevention and
control ofdengue and dengue haemorrhagic fever.Revised and expanded
edition. New Delhi:WHO, Regional Office for South-East Asia; 2011.
5. Pudjiady, Astuti. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2009: Jakarta.