Anda di halaman 1dari 22

Case Report Session

KEJANG DEMAM PADA ANAK

Oleh :

Poppy Silvia
0910312112

Preseptor:
dr. Nazdi, Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD ACHMAD MOCHTAR
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017
BAB 1
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : GA
Anak ke :2
Umur : 2 tahun 11 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Nama Ayah/Ibu : Yuhendra/Ria Bustami
Suku Bangsa : Minang
Alamat : Manggis, Bukittinggi
Tanggal Masuk : 7 Maret 2017

Anamnesis
Diberikan oleh : Ibu pasien
Keluhan utama : kejang sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang:


Batuk sejak 1 mingggu yang lalu, tidak berdahak, tidak disertai pilek
Demam sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit, demam tinggi, tidak menggigil,
tidak berkeringat.
Muntah sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 2 kali, jumlah
gelas, berisi susu yang diminum, tidak menyemprot.
Kejang sejak 2 sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 1x, durasi 3 menit,
kejang seluruh tubuh, lengan dan tungkai menghentak, dan mata melihat ke atas,
anak sadar setelah kejang. Ini merupakan kejang episode pertama. 8 jam setelah
kejang pertama, anak kejang kembali, frekuensi 1x, durasi 3 menit, kejang
seluruh tubuh, dan anak sadar setelah kejang.
Sesak napas tidak ada
BAB frekuensi 4x , konsistensi cair
BAK jumlah dan warna biasa

Riwayat Penyakit Dahulu


Anak tidak pernah menderita kejang sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita kejang dengan atau tanpa demam

1
Riwayat Persalinan
Lama hamil : cukup bulan (38-39 minggu)
Cara lahir : Seksio secarea a.i. plasenta previa
Ditolong oleh : dokter
Berat lahir : 3300 gram
Panjang lahir : 48 cm
Saat lahir : langsung menangis kuat
Kesan : normal

Riwayat Makanan dan Minuman


Bayi ASI : 0 9 bulan
Susu Formula : 9 bulan
Nasi tim : 9 bulan
Anak Makanan utama : 3 kali sehari, menghabiskan 1 porsi
Daging : 2 kali seminggu
Ikan : 4 kali seminggu
Telur : 5 kali seminggu
Buah : 5 kali seminggu
Kesan : Kualitas cukup, kuantitas cukup

Riwayat Imunisasi
Imunisasi Dasar / Umur Booster / Umur
BCG 0 bulan -
DPT : 1 2 bulan 18 bulan
2 3 bulan
3 4 bulan
Polio : 1 2 bulan 18 bulan
2 3 bulan
3 4 bulan
Hepatitis B : 1 0 bulan -
2 2 bulan
3 3 bulan

2
4 4 bulan
Haemofilus influenza B : 1 2 bulan -
2 3 bulan
3 4 bulan
Campak 9 bulan -
Kesan : imunisasi lengkap sesuai usia

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan


Riwayat pertumbuhan Umur Riwayat gangguan Umur
dan perkembangan perkembangan mental
Ketawa 3 bulan Isap jempol -
Miring 3 bulan Gigit kuku -
Tengkurap 4 bulan Sering mimpi -
Duduk 6 bulan Mengompol -
Merangkak 6 bulan Akif sekali -
Berdiri 12 bulan Apatik -
Lari 18 bulan Membangkang -
Gigi pertama 12 bulan Ketakutan -
Bicara - Pergaulan jelek -
Membaca - Kesukaran belajar -
Prestasi di sekolah - -
Kesan : tumbuh kembang normal sesuai usia

Riwayat Keluarga
Ayah Ibu
Nama Yuhendra Ria Busrami
Umur 33 tahun 31 tahun
Pendidikan SMA S1
Pekerjaan Wiraswasta Ibu rumah tangga
Perkawinan ke-1 ke-1
Penyakit yang pernah diderita Tidak ada Tidak ada

Saudara kandung Umur Keadaan Sekarang


1. Kaneesa Ariandra 6 tahun Sehat

3
2. Ghivara Arindra 2 tahun 11 bulan Pasien

Riwayat Perumahan dan Lingkungan


Rumah tempat tinggal : permanen
Sumber air minum : air isi ulang
Buang air besar : di dalam rumah
Pekarangan : luas
Sampah : TPS
Kesan : hygiene dan sanitasi lingkungan baik

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : sadar
Frekuensi nadi : 20x/menit
Frekuensi napas : 30x/menit
Tekanan darah : 110/80
Suhu : 37,9oC
Edema : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Anemia : tidak ada
Sianosis : tidak ada
Berat badan : 16,5 kg
Tinggi badan : 92 cm
BB/U : 0 sampai +2 SD
TB/U : -2 SD sampai 0 SD
BB/TB : +2 SD sampai +3 SD

4
Status gizi : overweight

Kulit : teraba hangat


Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran KGB
Kepala : bulat, simetris, UUB datar, lingkar kepala 48 cm
(normocephal)
Rambut : hitam, tidak mudah rontok
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor, diameter 2 mm/2 mm, refleks cahaya +/+
Telinga : tidak ditemukan kelainan
Hidung : napas cuping hidung tidak ada
Tenggorok : tonsil T1-T1 hiperemis, faring hiperemis
Gigi dan mulut : mukosa mulut dan bibir basah
Leher : kaku kuduk (-)
Toraks :
Paru
Inspeksi : normochest, retraksi tidak ada
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor kiri = kanan
Auskultasi : vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba di LMCS RIC V
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada

Abdomen :
Inspeksi : distensi tidak ada
Palpasi : supel, hepar teraba - , lien tidak teraba
Perkusi : timpani

5
Auskultasi : bising usus (+) normal
Punggung : tidak ditemukan kelainan
Genitalia : status pubertas A1M1P1
Anggota gerak : akral teraba hangat, perfusi baik, refleks fisiologis
+/+, refleks patologis -/-
Tanda rangsang meningeal : brudzinski I (-), brudzinski II (-), kernig sign (-)

Pemeriksaan Laboratorium
Darah (08-03-2017)
Hb : 11, 5 g/dl
Leukosit : 9.240/mm3
Hitung jenis : 1/0/24/52/19/5
Hematokrit : 32,4%
Trombosit : 296.000/mm3
Kesan : dalam batas normal

Feses (07-03-2017)
Makroskopis
Warna : kuning kehijauan
Konsistensi : lunak
Darah :-
Lendir :-
Mikroskopis

6
Eritrosit :-
Leukosit :-
Telur cacing :-
Bakteri :+

Daftar Masalah
1. Kejang
2. Muntah
3. Demam
4. Batuk
5. Overweight

Diagnosis Kerja
Kejang demam kompleks
Overweight

Penatalaksanaan
IVFD KaEN IB 65 cc/kgBB/hari = 1072,5 cc/hari = 15 tetes makro
Paracetamol 2 x 200 mg po
Diazepam 3 x 2 mg iv
Luminal 2 x 40 mg iv

Edukasi
Cara penanganan kejang
Informasi kemungkinan kejang kembali

7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kejang Demam pada Anak


Kejang demam (febrile seizure) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di
atas 38oC, dengan metode pengukuran suhu apapun) yang tidak disebabkan oleh
proses intrakranial.1

2.2 Klasifikasi Kejang Demam pada Anak


Berdasarkan ICD-10, kejang demam dimasukkan ke dalam kode R56.0.2
Klasifikasi kejang demam pada anak dapat dibedakan menjadi:1
a. Kejang demam sederhana, adalah kejang demam yang berlangsung singkat
(kurang dari 15 menit), bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik), serta

8
tidak berulang dalam waktu 24 jam. Jenis ini merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam. Sebagian besar jenis ini berlangsung kurang dari 5
menit dan berhenti sendiri.
b. Kejang demam kompleks, dapat berupa kejang lama, kejang fokal, atau
kejang berulang. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15
menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang
anak tidak sadar. Jenis ini terjadi pada 8% kejang demam. Kejang fokal adalah
kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial.
Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, dan di antara 2
bangkitan kejang anak sadar. Jenis ini terjadi pada 16% anak yang mengalami
kejang demam.

2.3 Epidemiologi Kejang Demam pada Anak


Sekitar 2-5% bayi dan anak-anak yang sehat mengalami kejang demam
sebanyak satu kali, biasanya kejang demam sederhana. 3 Kejang demam terjadi pada 2
- 5% anak berumur 6 bulan - 5 tahun. Anak berumur antara 1 - 6 bulan masih dapat
mengalami kejang demam, namun jarang sekali. Bila anak berumur kurang dari 6
bulan mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, terutama
infeksi susunan saraf pusat. Bayi yang berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk
dalam rekomendasi kejang demam melainkan termasuk ke dalam kejang neonatus.4
Sebuah penelitian yang dilakukan di Instalasi Rawat Inap Anak RSMH
Palembang periode Januari 2006 - Januari 2008 menunjukkan bahwa kejang demam
adalah penyakit saraf dengan insiden tertinggi yang dirawat. Kelompok usia 1-2
tahun dan laki-laki paling sering menderita kejang demam. Demam yang terjadi
paling disebabkan oleh infeksi saluran napas atas. Sebagian besar penderita
mengalami kejang selama kurang dari 15 menit dan frekuensi kejang terbanyak
adalah lebih dari 1 kali kejang dalam 1 periode demam. Kejang yang paling sering
terjadi adalah kejang yang bersifat umum dan jenisnya didominasi oleh kejang tonik-
klonik. Mayoritas kejang yang dialami penderita tergolong ke dalam kejang demam
kompleks.5

9
2.4 Etiologi dan Faktor Risiko Kejang Demam pada Anak
Pada kejang demam, terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab kejang
demam, yaitu imaturitas otak dan termoregulator, demam sehingga kebutuhan
oksigen meningkat, serta predisposisi genetik (poligenik, autosomal dominan).6
Faktor risiko kejang demam pada anak adalah:7
a. Demam, yang dapat disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, infeksi
saluran pencernaan, infeksi telinga, hidung, dan tenggorok (THT), infeksi
saluran kemih, roseola infantum/infeksi virus akut lainnya, dan
pascaimunisasi.
b. Usia, yaitu usia 6 bulan-6 tahun dengan puncak tertinggi pada usia 17-23
bulan. Kejang demam sebelum usia 5-6 bulan mungkin disebabkan oleh
infeksi SSP. Kejang demam di atas umur 6 tahun, perlu dipertimbangkan
febrile seizure plus (FS+)
c. Gen. Risiko akan meningkat 2-3x bila saudara kandung mengalami kejang
demam. Risiko akan meningkat 5% bila orang tua mengalami kejang demam.
2.5 Patogenesis Kejang Demam pada Anak8
Otak memerlukan energi untuk energi untuk mempertahankan kelangsungan
hidup sel yang diperoleh dari proses metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme
yang terpenting adalah glukosa melalui proses oksidasi. Proses tersebut akan
menghasilkan CO2 dan air.
Sel dilapisi oleh suatu membran yang bersifat lipoid pada permukaan dalam
dan ionik pada permukaan luar. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat
dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium
(Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya, konsentrasi ion K+
dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Na+ rendah sedangkan kondisi di luar sel
neuron pada kondisi sebaliknya. Perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di
luar sel menyebabkan adanya perbedaan potensial yang disebut sebagai potensial
membran sel neuron. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan potensial

10
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada
permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat berubah pada beberapa kondisi.
Penyebab pertama adalah adanya perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
Selain itu, perubahan juga dapat terjadi akibat rangsangan mendadak yang datang,
misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik, dan sebagainya. Penyebab lainnya
adalah perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1oC akan meningkatkan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada kenaikan suhu
tubuh tertentu, dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron.
Dalam waktu singkat, ion kalium maupun ion natrium akan berdifusi melalui
membran sel sehingga lepasnya muatan listrik. Lepasnya muatan listrik sangat besar
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun membran tetangganya dengan bantuan
neurotransmiter dan kejang terjadi.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda. Kejang pada seorang
anak ditentukan oleh tinggi rendahnya ambang kejang tersebut. Kejang demam
berulang lebih sering terjadi pada anak ambang kejang yang rendah sehingga dalam
penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita mengalami
kejang.

2.6 Patofisiologi Kejang Demam pada Anak8


Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan
tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi, pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari
15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan
energi untuk kontraksi otot skeletal sehingga terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis
laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arteri disertai denyut
jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh semakin meningkat akibat meningkatnya
aktivitas otot. Selanjutnya, metabolisme otak akan meningkat.
Rangkaian proses di atas merupakan penyebab terjadinya kerusakan neuron
otak saat kejang berlangsung lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran

11
darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler
dan timbul edema otak yang merusak sel neuron otak. Kejang demam yang
berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi
epilepsi.

2.7 Manifestasi Klinis Kejang Demam pada Anak


Gejala yang dapat ditemukan pada kejang demam adalah kejang disertai
demam. Karakteristik kejang pada kejang demam adalah kejang terjadi pada usia 6
bulan sampai 5 tahun, demam mendahului kejang, kejang terjadi dalam 24 jam
setelah anak mulai demam, anak tetap sadar sebelum dan sesudah kejang, tidak ada
kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang, serta pasien tidak pernah
mengalami kejang tanpa disertai demam. Gejala lainnya yang ditemukan adalah
gejala sistemik akibat penyebab demam, misalnya keluarnya cairan dari telinga (otitis
media), batuk (bronkitis akut), dan lain-lain. Tanda yang ditemukan adalah demam,
tidak ada penurunan kesadaran, dan tanda-tanda infeksi penyebab demam.7

2.8 Pemeriksaan Penunjang Kejang Demam pada Anak6,7


2.8.1 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya
darah perifer, elektrolit, dan gula darah.

2.8.2 Punksi Lumbal


Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti terbaru, pemeriksaan
punksi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia <12 bulan yang
mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum baik. Indikasi punksi
lumbal adalah:

12
Terdapat tanda dan gejala rangsan meningeal
Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis
Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang sebelumnya
telah mendapatkan antibiotik dan pemberian antibiotik tersebut dapat
mengaburkan tanda dan gejala meningitis.

2.8.3 Elektroensefalografi
Pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk kejang demam, kecuali apabila
bangkitan bersifat fokal. EEG hanya dilakukan pada kejang fokal untuk menentukan
adanya fokus kejang di otak yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

2.8.4 Neuroimaging
Pemeriksaan neuroimaging (CT-Scan atau MRI kepala) tidak rutin dilakukan
pada anak dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila
terdapat indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap, misalnya
hemiparesis atau paresis nervus kranialis.
2.5 Diagnosis Kejang Demam pada Anak
Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik.7 Pada anamnesis, keluhan utama berupa kejang. Informasi lainnya berupa jenis
kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi dalam 24
jam, interval, dan keadaan anak pascakejang. Selanjutnya, penyebab demam di luar
infeksi susunan saraf pusat perlu dicari (gejala infeksi saluran napas akut, infeksi
saluran kemih, otitis media akut, dan lain-lain). Riwayat perkembangan, riwayat
kejang demam, dan epilepsi dalam keluarga juga perlu ditanyakan. Penyebab kejang
lain harus disingkirkan, misalnya diare atau muntah yang mengakibatkan gangguan
elektrolit, sesak napas yang mengakibatkan hipoksemia, dan asupan kurang yang
dapat menyebabkan hipoglikemia.6
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tidak ada penurunan kesadaran. Suhu
tubuh dapat meningkat. Pemeriksaan rangsang meningeal, nervus kranial,

13
peningkatan tekanan intrakranial (ubun-ubun besar dan papil optikus), tonus, motorik,
refleks fisiologis, dan refleks patologis memberikan hasil yang normal. Selain itu,
tanda-tanda infeksi di luar susunan saraf pusat perlu dicari untuk menentukan sumber
demam.6

2.6 Diagnosis Banding Kejang Demam pada Anak


Diagnosis banding kejang demam pada anak adalah meningitis, epilepsi, dan
gangguan metabolik.7

2.7 Penatalaksanaan Kejang Demam pada Anak


2.7.1 Tatalaksana Saat Kejang1,9
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah (prehospital)
adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kgBB atau
diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10 mg
untuk berat badan lebih dari 12 kg. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang
belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval
waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang,
dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena.
Pada umumnya, kejang berlangsung singkat (rerata 4 menit) dan pada
waktu pasien datang, kejang sudah berhenti. Apabila saat pasien datang dalam
keadaan kejang, obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam
intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,2-0,5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan
kecepatan 2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit. Dosis maksimal diazepam yang
diberikan adalah 10 mg.
Bila kejang tidak berhenti, berikan dosis inisial fenitoin 10-20 mg/kgBB
dengan kecepatan pelan 1 mg/kgBB/menit, maksimum 50 mg/menit. Karena bersifat
basa dan dapat mengiritasi vena bila terlalu pekat, fenitoin harus diencerkan terlebih
dahulu dengan NaCl 0,9%, dosis inisial maksimal adalah 1 gram. Bila kejang
berhenti, 12 jam kemudian lanjutkan dengan dosis rumatan fenitoin 5-7
mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis.

14
Gambar 1.1. Algoritma Penatalaksanaan Kejang pada Anak

Bila kejang tidak berhenti dengan fenitoin, berikan dosis inisial


fenobarbital 20 mg/kgBB secara intravena dengan kecepatan 20 mg/menit, dosis
inisial maksimal 1 gram. Setelah kejang berhenti, lanjutkan dengan dosis rumatan 4-6
mg/kgBB/hari dibagi menjadi 2 dosis yang diberikan 2 jam kemudian. Bila kejang
tidak kunjung berhenti, lakukan knock down dengan midazolam, thiopental atau
propofol dan pasien harus dirawat di unit rawat intensif.
Indikasi rawat pada kasus kejang demam adalah kejang demam kompleks,
hiperpireksia, usia di bawah 6 bulan, kejang demam pertama kali, dan terdapat
kelainan neurologis.6

2.7.2 Pemberian Obat pada Saat Demam1


Antipiretik tidak terbukti mengurangi risiko terjadinya kejang demam.
Meskipun demikian, dokter neurologi anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kgBB/kali
diberikan tiap 4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali diberikan 3-4 kali sehari.

15
Pemberian obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang
hanya diberikan pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang
demam dengan salah satu faktor risiko berikut berupa kelainan neurologis berat
(serebral palsi), berulang 4 kali atau lebih dalam setahun, usia < 6 bulan, bila kejang
terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 oC, dan apabila episode kejang demam
sebelumnya, suhu tubuh meningkat dengan cepat.
Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kgBB/kali per oral atau
rektal 0,5 mg/kgBB/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat
badan >12 kg) sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5 mg/kali.
Diazepam intermiten diberikan selama 48 jam pertama demam. Perlu diinformasikan
pada orangtua bahwa dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia,
iritabilitas, serta sedasi.
Pemberian obat antikonvulsan rumatan hanya diberikan terhadap kasus
selektif dan dalam jangka pendek karena kejang demam tidak berbahaya dan
penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan
berdasarkan bukti ilmiah. Indikasi pengobatan rumatan adalah pada kasus kejang
fokal, kejang lama >15 menit, atau terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum
atau sesudah kejang, misalnya serebral palsi, hidrosefalus, serta hemiparesis.
Obat yang diberikan untuk penggunaan rumatan adalah fenobarbital atau
asam valproat setiap hari dan obat ini efektif dalam menurunkan risiko berulangnya
kejang. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku
dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat.
Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun, asam valproat
dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat adalah 15-40
mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2
dosis. Pengobatan rumatan diberikan selama 1 tahun. Penghentiannya tidak
membutuhkan tapering off, namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam.

2.7.3 Edukasi pada Orangtua1

16
Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi setiap orang tua. Pada
saat kejang, sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya akan meninggal.
Kecemasan tersebut harus dikurangi dengan cara di antaranya meyakinkan orangtua
bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik, memberitahukan cara
penanganan kejang, memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali,
serta mengatakan bahwa pemberian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya
kejang memang efektif, tetapi harus diingat adanya efek samping obat.
Saat kejang terjadi, orangtua tetap tenang dan tidak boleh panik. Orangtua
harus melonggarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher. Bila anak tidak
sadar, anak diposisikan miring. Bila terdapat muntah, bersihkan muntahan atau lendir
di mulut atau hidung. Walaupun terdapat kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Ukur suhu observasi, dan catat bentuk serta
lama kejang. Orangtua harus tetap bersama anak selama dan sesudah kejang.
Diazepam rektal dapat diberikan bila kejang masih berlangsung lebih dari 5 menit
dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila
kejang berlangsung 5 menit atau lebih, suhu tubuh lebih dari 40 oC, kejang tidak
berhenti dengan diazepam rektal, kejang fokal, setelah kejang anak tidak sadar atau
terdapat kelumpuhan.

2.7.4 Vaksinasi
Sampai saat ini tidak ada kontraindikasi untuk melakukan vaksinasi pada
anak dengan riwayat kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi
sangat jarang. Suatu studi kohort menunjukkan bahwa risiko relatif kejang demam
terkait vaksin (vaccine-associated febrile seizure) dibandingkan dengan kejang
demam tidak terkait vaksin (non vaccine-associated febrile seizure) adalah 1,6
(IK95% 1,27 sampai 2,11). Angka kejadian kejang demam pascavaksinasi DPT
adalah 6-9 kasus per 100.000 anak yang divaksinasi, sedangkan setelah vaksin MMR
adalah 25-34 kasus per 100.000 anak. Pada keadaan tersebut, dianjurkan pemberian
diazepam intermiten dan parasetamol profilaksis.4

17
2.8 Komplikasi Kejang Demam pada Anak1
Kelainan neurologis dapat terjadi pada kasus kejang lama atau kejang
berulang, baik umum maupun fokal. Suatu studi melaporkan terdapat gangguan
recognition memory pada anak yang mengalami kejang lama.
Kejang demam juga dapat menyebabkan epilepsi. Faktor risikonya berupa
terdapat kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara
kandung, serta kejang demam sederhana yang berulang 4 episode atau lebih dalam
satu tahun. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian
epilepsi sampai 4-6%. Kombinasi dari faktor risiko tersebut akan meningkatkan
kemungkinan epilepsi menjadi 10-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat
dicegah dengan pemberian obat rumatan pada kejang demam.

2.9 Prognosis Kejang Demam pada Anak1


Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan
sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental
dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal.
Kejang demam dapat berulang pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya
kejang demam adalah adanya riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga,
usia kurang dari 12 bulan, suhu tubuh kurang dari 39 oC saat kejang, interval waktu
yang singkat antara awitan demam dengan terjadinya kejang, dan apabila kejang
demam pertama merupakan kejang demam kompleks. Bila seluruh faktor tersebut di
atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80% sedangkan bila tidak
terdapat faktor tersebut, kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10-15%.
Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

18
Kematian langsung karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. Angka
kematian pada kelompok anak yang mengalami kejang demam sederhana dengan
perkembangan normal dilaporkan sama dengan populasi umum.

BAB 3
DISKUSI

Seorang anak berusia 2 tahun 11 bulan, dibawa ibunya ke IGD RSUD


Achmad Mochtar dengan keluhan utama kejang sejak 2 jam sebelum masuk rumah
sakit. Diagnosis banding pada pasien dengan keluhan kejang adalah kejang demam,
epilepsi, infeksi susunan saraf pusat, dan gangguan metabolik.
Pada pasien ini, kejang yang dialami merupakan kejang berulang karena
kejang terjadi 2 kali dalam 1 hari dan di antara 2 bangkitan kejang anak tetap sadar.
Jenis ini terjadi pada 16% anak yang mengalami kejang demam. Selain itu, terdapat
demam sejak 12 jam sebelum masuk rumah sehingga dapat mengarahkan diagnosis
ke kejang demam. Hal ini juga didukung dengan usia anak yaitu 2 tahun 11 bulan di

19
mana kejang yang sering terjadi pada anak usia 6 bulan 5 tahun adalah kejang
demam. Kondisi pasien diawali dengan adanya batuk sejak 1 minggu yang lalu.
Demam akibat infeksi pada sistem saluran pernapasan sering menjadi penyebab
kejang demam.
Riwayat persalinan serta makanan dan minuman anak normal. Riwayat
imunisasi dasar pasien lengkap sesuai umurnya. Riwayat tumbuh kembang anak
normal sesuai usia. Riwayat perumahan dan lingkungan menunjukkan kesan
higienitas yang baik.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tidak ada penurunan kesadaran. Tidak
ada tanda-tanda neurologis yang dialami pasien ini. Ubun-ubun besar anak datar,
refleks pupil masih normal, tanda rangsang meningeal tidak ada, refleks fisiologis
normal, dan refleks patologis negatif. Oleh karena itu, diagnosis kerja pada pasien ini
yaitu kejang demam kompleks.
Penatalaksanaan awal pada pasien ini adalah IVFD KaEN IB 65 cc/kgBB/hari
= 1072,5 cc/hari = 15 tetes makro sebagai terapi nutrisi, paracetamol sebagai
antipiretik, diazepam 3 x 2 mg iv sebagai anti kejang. Setelah terjadi kejang kedua,
diazepam diganti dengan luminal 2 x 40 mg iv karena diagnosis yang awalnya kejang
demam simpleks sekarang ditegakkan menjadi kejang demam kompleks.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ismael S, Pusponegoro HD, Widodo DP, Mangunatmadja I, Handryastuti S,


editor. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Balai Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2016.
2. WHO. International Classification of Diseases and Related Health Problems
10th Revision. Malta: World Health Organization. 2011.
3. Kliegman RM, Stanton BF, St Geme JW, Schor NF.. Nelson Textbook of
Pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia: Elsevier. 2016
4. Pudjiadi AH, Latief A, editor. Buku Ajar Pediatri Gawat Darurat. Jakarta: Balai
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008.

20
5. Nindela R, Dewi MR, Ansori IZ. Karakteristik Penderita Kejang Demam di
Instalasi Rawat Inap Bagian Anak Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang.
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2014; 1(1): 41-5.
6. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandapura EP, Harmoniati ED,
editor. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Balai
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009.
7. IDI. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Layanan Kesehatan Primer.
Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia. 2014.
8. Hassan R, Alatas H. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.
9. Arief RF. Penatalaksanaan Kejang Demam. Continuing Medical Education. 2015;
42(9): 658-61

21