Anda di halaman 1dari 13

ANTAGONISME ANTAR MIKROBA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi


yang dibina oleh Prof. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd

Offering H
Kelompok 6
1 Ainul Fitria Mahmudah 150342603333
2 Monica Feby Zelvia 150342604927
3 Rendhika Farah A.P 150342605471
4 Zauhara F.W 150342605971

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
MEI 2017

ANTAGONISME ANTAR MIKROBA


A. Tujuan
1. Untuk mempelajari sifat antagonisme antara kapang dengan bakteri
B. Waktu pelaksanaan
Selasa, 25 April 2017
C. Dasar Teori
Interaksi antar mikroorganisme yang menempati suatu habitat yang sama
akan memberikan pengaruh positif, saling menguntungkan dan pengaruh negatif,
saling merugikan dan netral, tidak ada pengaruh yang berarti (Kusnadi, 2003).
Beberapa macam hubungan antar spesies bakteri di alam antara lain
komensalisme, mutualisme serta antagonisme atau amensalisme. Komensalisme
merupakan suatu interaksi antara mikroorganisme dengan organisme lain dimana
satu jenis dapat diuntungkan namun jenis lain tidak dirugikan. Sedangkan
interaksi antar mikroorganisme yang dapat saling menguntungkan disebut dengan
simbiosis mutualisme dan hubungan mikroorganisme yang dengan organisme lain
yang saling menekan pertumbuhannya disebut dengan antagonisme (Kusnadi,
2003).
Mikroba antagonis yang memiliki kemampuan antimikroba tersebut dapat
menghasilkan senyawa antimikroba. Senyawa antimikroba yang dihasilkan oleh
mikroba pada umumnya merupakan metabolit sekunder yang tidak digunakan
untuk proses pertumbuhan (Schlegel, 1993), tetapi untuk pertahanan diri dan
kompetisi dengan mikroba lain dalam mendap atkan nutrisi, habitat, oksigen,
cahaya dan lain-lain (Baker dan Cook, 1974).
Antagonis adalah peristiwa yang menyebabkan tertekannya aktivitas suat
mikroorganisme jika dua mikroorganisme atau lebih berada pada tempat
yang berdekatan jadi Uji antagonis merupakan uji yang digunakan membuktikan
bahwa mikroorganisme yang bersifat antagonis dapat menghambat
aktivitas mikrooganisme lain yang berada ditempat yang berdekatan.
Mikroorganisme yang bersifat antagonis ini memiliki pertumbuhan yang cepat
sehingga dapat menutupi mikroorganisme yang berdekatan dengannya (Tuju,
2004). Selain itu, secara garis besar interaksi microbial (interaksi antar mikroba)
terbagi menjadi interaksi simbiotik dan non-simbiotik. Dikatakan simbiotik
apabila spesies yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan
membutuhkan.Biasanya, interaksi ini terjadi di lingkungan tanah, dimana pada
lingkungan tersebut banyak terdapat nutrisi dan koloni-koloni microbial. Namun
begitu, interaksi antagonisme juga terdapat di dalam tubuh manusia, semisal pada
sistem respiratori, di usus besar, maupun di sistem reproduksi (Cowan, 2012).

D. Alat Bahan
Alat: Bahan:
1. Jarum inokulasi berkolong
2. Kompor gas 1. Medium lempeng Skim Milk Agar steril
3. Inkubator 2. Medium tegak Nutrien Agar steril
4. Laminar Air Flow 3. Cawan petri steril
4. Biakan murni Penicillium chrysogenum dan
Staphyllococcus aureus

E. Cara Kerja

Diinokulasikan satu ose penuh spora biakan murni Penicillium chrysogenum ke


medium Skim Milk Agar

Diinkubasikan pada suhu kamar dengan cawan dalam keadaan terbalik selam 6-
7x24 jam pada suhu 25oC sampai terdapat bintik-bintik cairan kekuning-
kuningan disekitar koloni kapang

Pada saat praktikum berikutnya, dicairkan medium nutrien agar, lalu


didinginkan sampai suhu kira-kira 50oC

Diinkulasikan segera 2 ose biakan murni Staphyllococcus aureus, digoyangkan


diantara kedua telapak tangan supaya bakteri tersebar merata, lalu dituangkan
secara aseptis kedalam cawan petri steril.
Setelah menjadi padat diletakkan pada permukaan Nutrien Agar potongan koloni
Penicillium chrysogenum berbentuk lingkaran dengan diameter + 5 mm dan
disertakan cairan yang berwarna kekuning-kuningan yang terdapat pada medium.
Dibuat 2 atau 3 kali perlakuan yang sama dalam satu cawan petri tersebut.

Dinkubasikan pada suhu 37oC (jangan dibalik) selama 1x24jam

Diamati dan digambar adanya zone-zone penghambat pertumbuhan bakteri pada


medium tersebut
F. Data

Data yang kami peroleh adalah sebagai berikut :

Ulangan ke- Diameter Diameter koloni Diameter


zona jernih P. Chrysogenum zona
(cm) (cm) hambat
(cm)
1 0,95 0,6 0,35
2 0,89 0,6 0,29

Gambar Pengamatan Keterangan


A : Ulangan 1
B
B : Ulangan 2
2 1 : Diameter koloni P.
Chrysogenum
A 2 : Diameter zona jernih

1
(Diameter Zona Hambat=
Diameter zona jernih -
Diameter koloni P.
Chrysogenum)

Hasil pengamatan dalam praktikum ini sebagai berikut :

G. Analisa Data

Praktikum ini yaitu tentang antagonisme atau amensalisme


antar bkapang dengan bakteri, langkah pertama yang dilakukan
adalah menginokulasikan satu ose penuh spora biakan murni
Penicillium chrysogenum ke medium Skim Milk Agar steril,
kemudian menginkubasikan pada suhu kamar dengan cawan
dalam keadaan terbalik selama 6-7 x 24 jam pada suhu 25 C
sampai terdapat bintik cairan kekuningan di sekitar koloni
kapang, setelah itu langkah selanjutnya adalah mencairkan
medium nutrien agar lalu didinginkan sampai suhu kira-kira
50C, kemudian Menginokulasikan segera 2 ose biakan murni
Staphylococcus aureus, goyangkan diantara kedua tangan lalu
dituangkan secara aseptis ke dalam cawan petri steril, Setelah
agar menjadi padat pada permukaan nutrien agar diletakkan
potongan koloni Penicillium chrysogenum berbentuk lingkran
dengan diameter 5 mm atau 0,5 cm, langkah terakhir adalah
menginkubasikan pada suhu 37C selama 1 x 24 jam dengan
peletakan tidak terbalik, kemudian diamati adanya zone-zone
penghambat pertumhuhan bakeri pada medium tersebut.

Dari hasil data pengamatan diatas dapat diketahui


perhitungan diameter zona hambat bakteri S. aureus yang
diperoleh dari diameter zona jernih dikurangi diameter koloni P.
Chrysogenum yang dilakukan sebanyak 2 kali ulangan. Pada dua
ulangan tersebut diameter zona hambat yang didapatkan
berbeda hal tersebut dikarenakan ukuran dan bentuk zona
hambat berbeda. Oleh karenanya perlu diukur jarak antara sisi
terluar dari zona jernih terhadap pusat koloni P. Chrysogenum
pada dua tempat yang berbeda. Berdasarkan hasil perhitungan
tersebut dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan antara
ulangan 1 dan ulangan 2. Diameter zona jernih pada ulangan 1
adalah 0,95 cm, sedangkan pada ulangan 2 adalah 0,89 cm.
Kemudian Diameter koloni P. Chrysogenum pada ulangan 1 dan 2
adalah 0,6 cm, selanjutnya Diameter zona hambat P.
Chrysogenum terhadap bakteri S. aureus yang ditunjukkan pada
ulangan 1 yaitu 0,35 cm dan ulangan 2 yaitu 0,29 cm. Dengan
adanya perbedaan ini, maka pengamat mengambil kesimpulan
sementara bahwa zona hambat P. Chrysogenum terhadap bakteri
S. aureus berkisar antara 0,29 0,35 cm.
H. Pembahasan

Mikroorganisme, seperti fungi (kapang dan khamir) dan bakteri yang


menempati habitat sama dapat saling berinteraksi satu sama lain. Menurut Batzing
(2002) salah satu bentuk interaksi antar mikroorganisme adalah antagonisme
yaitu, interaksi yang menimbulkan efek merugikan pada pertumbuhan salah satu
mikroorganisme, sedangkan mikroorganisme lain diuntungkan. Menurut Lima
dkk. (1999) kemampuan mikroorganisme dalam menghambat atau membunuh
mikroorganisme lain disebut sebagai kemampuan antagonistik. Mikroorganisme
yang memiliki kemampuan antagonistik disebut sebagai mikroorganisme
antagonis.
Praktikum kali ini mempelajari sifat antagonisme antara kapang dengan
bakteri. Pada praktikum ini digunakan koloni Penicillium chrysogenum yang
sebelumnya dikembangbiakan di dalam medium SMA (Skim Milk Agar), koloni
ini menghasilkan cairan berwarna kekuning-kuningan. Digunakan medium Skim
Milk Agar karena medium ini kaya akan nutrisi sehingga pertumbuhan
Penicillium chrysogenum akan optimal. Menurut Rathnayaka, (2013) skim milk
merupakan agensia cryprotenctant paling baik. Skim milk 10% sebagai
cryprotectant sel mikroba dikatakan lebih unggul dalam mempertahankan daya
hidup sel dibandingkan gliserol 15%, hal ini di dimungkinkan karena adanya efek
dari skim milk terhadap kandungan asam lemak yang terdapat pada membran sel
sehingga mengubah fluiditas membran mungkin juga di sebabkan adanya kalsium
(Ca) pada skim milk yang berkontribusi terhadap enzim selular (Cody et al.,
2008). Langkah kedua yaitu menginkubasikan pada suhu kamar
dengan cawan dalam keadaan terbalik selama 6-7 x 24 jam pada
suhu 25C sampai terdapat bintik cairan kekuningan di sekitar
koloni kapang, penerapan rentang waktu tersebut dikarenakan
dalam kisaran waktu 6-7 x 24 jam Penicillium chrysogenum telah
menghasilkan penisillin. Menurut Volk dan Wheeler, (1993) menyatakan bahwa
penisilin merupakan senyawa metabolit sekunder yang disintesis oleh mikrobia
pada fase stasioner. Selanjutnya ditambahkan oleh Crueger dan Crueger (1990),
fase pertumbuhan stasioner Penicillium terjadi pada inkubasi jam ke-140. Walau
demikian waktu terjadinya fase stasioner dipengaruhi oleh komposisi medium dan
faktor lingkungan. Sedangkan digunakan suhu 25 C pada inkubasi
Penicillium chrysogenum dikarenakan suhu tersebut merupakan suhu optimun
kapang jenis ini tumbuh. Menurut Pitt dan Hocking (1979), koloni Penicillium
chrysogenum tumbuh secara cepat di atas medium standar pada suhu 25C.
Kemudian digunakan bakteri Staphyllococcus aureus yang sudah
diinokulasikan kedalam cawan steril dari medium NA. Menurut Baird-Parker,
(2000) menyatakan bahwa Staphyllococcus aureus merupakan suatu bakteri yang
dapat memproduksi toksin, Gram positif, dan termasuk bakteri aerob. Langkah
selanjutnya adalah memotong Penicillium chrysogenum berbentuk lingkaran
dengan diameter 0,6 cm. Pada potongan tersebut disertakan juga cairan kekuning-
kuningan yang merupakan senyawa antibiotik yang dihasilkan oleh kapang
Penicillium chrysogenum. Setelah itu meletakkan potongan kapang diatas medium
NA yang telah diinokulasikan bakteri Staphyllococcus aureus. Langkah
selanjutnya yaitu menginkubasikan pada suhu 37C selama 1 x 24
jam dengan posisi tidak terbalik, suhu tersebut merupakan suhu
pertumbuhan maksimal dari Staphyllococcus aureus, menurut Baird-
Parker, (2000) menyatakan bahwa suhu pertumbuhan paling baik bakteri
Staphyllococcus aureus yaitu 37 C, faktor-faktor pemicu pertumbuhan
Staphyllococcus aureus dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Selanjutnya setelah menunggu 1 x 24 jam diamati pertumbuhannya,


ternyata terbentuk zona penghambat berada disekitar kapang Penicillium
chrysogenum. Zona penghambat ini berwarna lebih jernih (putih) daripada daerah
disekitarnya. Berdasarkan praktikum zona penghambat ulangan 1 adalah 0,35 cm
dan pada ulangan 2 adalah 0,29 cm. Hal ini menunjukkan bahwa Penicillium
chrysogenum menghambat pertumbuhan dari bakteri Staphyllococcus aureus
sehingga dapat diketahui hubungan di antara kedua mikroorganisme tersebut
bersifat antagonis. Menurut Semangun (2006) mengemukakan bahwa mekanisme
antagonis pada mikroba dapat terjadi melalui 3 cara yaitu parasitasi secara
langsung, karena adanya metabolik sekunder yang bersifat toksin dan adanya
kompetisi dalam hal ruang dan kebutuhan nutrisi. Berdasarkan pernyataan
tersebut dapat diketahui bahwa interaksi antara kapang Penicillium chrysogenum
dan bakteri Staphyllococcus aureus merupakan mekanisme antagonis pada
mikroba karena adanya metabolik sekunder yang bersifat toksin, yang mana
daerah bening sekitar koloni jamur menunjukkan bahwa jamur memproduksi
suatu senyawa yang mematikan bakteri atau tidak mengijinkannya tumbuh.
Menurut teori menyatakan Penisilin merupakan antibiotik yang memiliki
daya antimikrobia yang berspektrum luas. Penisilin mampu menghambat
pertumbuhan bakteri Gram positif seperti Staphylococcuc, Bacillus, dan
Clostridium, serta beberapa jenis penisilin mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Gram negatif seperti Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Shigella
sp., dan Proteus sp (Suharni et al., 2001). Pernyataan tersebut diperkuat Pelczar
dan Chan (1988), yang menyatakan bahwa beberapa contoh jamur yang berguna
sebagai penghasil penisilin adalah jenis Penicillium notatum dan Penicillium
chrysogenum. Kelebihan Penicillium chrysogenum mampu menghasilkan
antibiotik terbaik dibandingkan spesies Penicillium lainnya.
Hasil akhir dalam praktikum ini dapat diketahui mikroba antagonis
adalah dari jamur yaitu Penicillium chrysogenum. Pertumbuhan Staphylococcus
aureus yang terhambat terbatas pada daerah tertentu saja yaitu pada daerah yang
terjangkau oleh sekret yang terbatas pada daerah di sekitar cetakan P.
chrysogenum saja. Dwidjoseputro (2010) menggunakan istilah amensalisme untuk
hubungan antagonisme tersebut. Spesies yang terhambat pertumbuhannya disebut
amensal, sedang spesies yang menghambat pertumbuhan disebut antagonis. Pada
praktikum ini, Staphylococcus aureus berperan sebagai amensal dan kapang
Penicillium chrysogenum berperan sebagai antagonis.
Menurut Volk dan Wheeler (1993), efek bakteriosida dari penisilin yaitu
mengganggu sintesis peptidoglikan dinding sel sehingga membran sel merekah
dan menghamburkan isi sel. Menurut teori lain menguatkan bahwa penisilin
menghambat pembentukkan dinding sel dengan cara mencegah digabungkannya
asam N-asetilmuramat, yang dibentuk di dalam sel, yang biasanya memberi
bentuk kaku pada dinding sel bakteri. Mekanisme kerja ini konsisten dengan
kenyataan bahwa penisilin hanya bekerja pada bakteri yang sedang tumbuh aktif
(Pelczar dan Chan, 1988).
Penisilin merupakan kelompok antibiotik yang ditandai oleh adanya cicin
-laktam dan diproduksi oleh berbagai jenis jamur (eukariot) yaitu dari jenis
Penicillium, Aspergillus, serta oleh beberapa prokariot tertentu (Madigan el al.,
2000). Sifat unik pada masing-masing penisilin ditentukan oleh adanya rantai
samping yang berbeda-beda. Secara kimia penisilin digolongkan ke dalam
antibiotik -laktam (Pelczar dan Chan, 1988). Menurut Demain (1996)
menyatakan bahwa kira-kira 10.000 metabolit sekunder telah ditemukan struktur
kimianya yang tersusun oleh cincin -laktam, peptida siklik yang terdiri dari asam
amino dan senyawa nonprotein, gula dan nukleosida, ikatan tidak jenuh dari
poliasetilen dan polien, serta cincin makrolida besar.

I. Diskusi
1 Adakah daerah jernih pada medium yang tidak dapat ditumbuhi oleh
bakteri ? bila ada, mengapa hal ini dapat terjadi?
Jawab: Ada, terjadi karena P. chrysogenum menghasilkan zat kimia berupa
penicillium sehingga hal tersebut menyebabkan Staphilococcus aureus
tidak bisa tumbuh di daerah pada medium tersebut (sehingga nampak
daerah bening)
2 Mengapa digunakan medium Skim Milk Agar untuk membiakkan P.
chrysogenum?
Jawab: Digunakan medium Skim Milk Agar karena medium ini kaya akan
nutrisi terutama protein sehingga pertumbuhan Penicillium chrysogenum
akan optimal sehingga dapat membentuk Penicilin.
J. Kesimpulan

Dari hasil praktikum ini dapat diketahui bahwa ada hubungan antagonisme
antara koloni kapang Penicillium chrysogenum dan bakteri Staphylococcus aureus
yang ditunjukkan adanya zona hambat bakteri. Zona hambat bakteri disebabkan
oleh adanya antibiotik penisilin (adanya cicin -laktam) yang dihasilkan oleh
Penicillium chrysogenum yang dapat menghambat sintesis dinding sel bakteri
Staphylococcus aureus.

Daftar rujukan
Baird-Parker, T.C. 2000. Staphylococcus aureus. p1317-1335. In The
Microbiological Safety and Quality of Food. Volume II. Lund, B.M.,
Baird-Parker, T.C. and Gould, G.W. eds. Published by Aspen Publishers.
Batzing, B.L., 2002. Microbiology: An introduction. Brooks/Cole Thomson
Learning, Inc., London: xx + 780 hlm.
Cody WL, Wilson JW, Hendrixson DR, Mclver KS, Hagman KE, Ott CM,
Nickerson CA and Schurr MJ. 2008. Skim milk enhances the
preservation of thawed -80C bacterial stocks. Journal Microbiol
Methods. Vol 75(1): 135138.
Cowan, Marjerie Kelly. 2012. Microbiology, a system approach 3rd edition. USA:
McGraw-Hill companies.
Crueger, W., dan Crueger, A., 1990, Biotechnology : A texbook of Industrial
Microbiology, Sinauer Associates Inc., Sunderland, p. 239-240.
Demain, A.L., 1996, Fungal Secondary Metabolism: Regulation and Function in
a Century of Micology, Edited by B.C. Sutton, Cambridge University
Press, Cambridge, p. 233,240-242.
Dwidjoseputro, 2010.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djembatan.
Kusnadi et al. 2003. Mikrobiologi. Bandung: JICA-IMSTEP
Lima, G., S. Arru, F. De Curtis & G. Arras. 1999. Influence of antagonist, host
fruit and pathogen on the biological control of postharvest fungal
diseases by yeasts. J.l of Ind. Microbiol. Biotechnol. 23: 223--229.
Madigan, M.T., Martinko, J.M., dan Parker, J., 2000, Brock Biology of
Microorganisme, Ninth edition, Prentice-Hall, Inc., NewJersey.
Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S., 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid 1. Jakarta:
UI Press.
Pitt, J.I., dan Hocking,A.D., 1979, Fungi dan Food Spoilage, Secon edition,
Blackie Academic and Professional an imprint of Chapman & Hall,
London, p. 289,762-789.
Rathnayaka K. 2013. Effect of freeze-drying on viability and probiotic properties
of a mixture of probiotic bacteria. Journal of Science and Technology.
Vol 3(11): 1074.
Schegel, G.H. 1993. General Microbiologi seventh edition. USA: Cambrige
University Press
Semangun, H., 2006. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Suharni, T.T., Nastiti, S.J., dan Soetarto, E.S., 2001, Mikrobiologi Umum,
Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.
Talaro, Kathleen Park & Arthur Talaro. 2001. Foundations in Microbiology 4th
edition. USA: McGraw-Hill companies
Tuju MJ .2004. Antagonisme Trichoderma spp, to Raistonia solanacearum Cause
of Wilt Bacteria ini Potato Plant. Eugenia. Vol 10, no 2, pp 143-155
Volk, A.W., dan Wheeler, M.F., 1993, Mikrobiologi Dasar, Jilid 1, Jakarta:
Penerbit Erlangga.