Anda di halaman 1dari 10

Analisis Kasus Dalam Permasalahan Diskriminasi

Pekerjaan
Disusun untuk memenuhi tugas Etika Bisnis

oleh Dosen Pengampu: Chalim Chalil Yusuf, Drs.MSI

MAKALAH

Oleh,

DHANISWARA DANUSATRIO 145030201111023

RIMA DWI ANGGRAENI 145030201111037

AGUSTYA HARISKI N 145030201111025

MUHAMMAD BAGUS SETO 145030207111079

ALDIANO ALBAR 145030207111031

KEVIN FIGLI 145030201111161

ILMU ADMINISTRASI BISNIS

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

APRIL, 2015
DAFTAR ISI

Daftar Isi. .I

Kata Pengantar II

Materi ...1

Pertanyaan 3

I
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Pemanfaatan Plastik Sebagai Barang Berguna ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Malang, Mei 2015

Penyusun

II
BRIAN WEBER

Pabrik kaiser Alumunium di gramercy,louisiana,dibuka pada tahun 1958.


Semenjak awal,pabrik Kaiser Gramency hanya memiliki sedikit pegawai berkulit
hitam. Pada menjelang tahun 1965, Kaiser hanya merekrut 4,7 persen pegawai
kulit hitam dari 39 persen pegawai local berkulit hitam. Pada tahun 1970,hasil
pemeriksaan federal atas praktik kepegawaian Kaiser di Gramercy menemukan
bahwa dari 50 pegawai profesional, tidak ada satu pun yang berkulit hitam; dari
132 penyelia, hanya 1 berkulit hitam; dan dari 246 pegawai berkeahlian, tidak ada
satu pun yang berkulit hitam. Pemeriksaan federal tahun 1973 menemukan bahwa,
meskipun Kaiser mengizinkan beberapa pegawai kulit putih yang belum
berpengelaman untuk ditransfer ke jabatan sebagai pegawai berkeahlian, namun
tidak ada pegawai kulit hitam yang ditransfer kecuali jika telah mempunyai
pengalaman minimal 5 tahun. Karena pegawai kulit hitam sebagian besar tidak
ikut dalam serikat pekerja, maka mereka juga jarang berkesempatan memperoleh
pengalaman tersebut. Jadi, hanya 2 persen pegawai berkeahlian yang berkulit
hitam. Pemeriksaan federal ketiga pada tahun 1975 menemukan bahwa 2,2 persen
dari 290 pegawai berkeahlian di Kaiser Gramency yang berkulit hitam; dari 72
pegawai profesional, hanya 7 persen berkulit hitam; dan dari 11 juru gambar,tidak
ada satu pun yang berkulit hitam. Lebih jauh lagi, meskipun pasar kerja local
untuk tenaga kerja kulit hitam pada tahun 1975 sebesar 39 persen, namun jumlah
total pegawai kulit hitam di Kaiser Gramency hanya 13,3 persen. Hanya kategori-
kategori pekerjaan dengan gaji paling rendah (pekerjaan kasar) yang sebagian
besar dihuni oleh orang-orang kulit hitam dengan presentasi 35,5 persen akibat
dari kebijakan tahun 1986 yang mewajibkan perekrutan 1 orang pekerja kasar
kulit hitam untuk setiap perekrutan 1 pegawai kasar berkulit putih.
Pada tahun 1974,Kaiser ditekan oleh agen federal untuk menambah jumlah
pegawai kulit hitam untuk jabatan yang gajinya lebih baik. Lebih jauh lagi, U.S
seedworkers union terus menerus menekan Kaiser untuk mengadakan program
pelatihan bagi pegawai,dan tidak hanya merekrut pegawai ahli dari luar. Dalam
upaya menanggapi kedua tekanan tersebut, Kaiser pada tahun 1974 setuju untuk
mengadakan program pelatihan bagi para pegawainya (baik kulit hitam ataupun
kulit putih) untuk jabatan ahli, dan juga dimaksudkan untuk menghapuskan
ketidakseimbangan rasial pada pekerjaan-pekerjaan bergaji tinggi dalam
perusahaan. Sesuai perjanjian dengan serikat pekerja, pegawai Kaiser akan dilatih
untuk jabatan yang lebih tinggi, dengan system senioritas, dan atas biaya Kaiser
(15 dolar -20 dolar us per tahun per pegawai). Separuh jatah program pelatihan
diberikan pada pegawai kulit hitam sampai persentase pegawai ahli di Gramercy
sebanding dengan persentase tenaga kerja kulit hitam di pasar lokal. Jatah
program yang belum terisi akan diisi secara bergantian antara pegawai kulit putih
paling senior dan berkualifikasi dan pegawai kulit hitam paling senior
berkualifikasi.
Selama tahun pertama pelaksanaan, 13 pegawai dipilih untuk program
pelatihan. Tujuh kulit hitam,enam kulit putih. Brian weber, seorang pegawai kulit
putih yang mengajukan permohonan mengikuti pelatihan,tidak terpilih. Brian,
seorang yang suka bicara,menyenangkan, dan punya tiga anak, telah bekerja
sebagai pegawai kasar di laboratorium Gramercy. Pekerjaannya termasuk
kelompok setengah ahli. Dia sangat ingin memproleh pekerjaan sebagai tenaga
ahli. Setelah diselediki, weber menemukan bahwa dia beberapa bulan lebih senior
dibandingkan dua pegawai kulit hitam yang dipilih dalam program pelatihan.
Empat puluh tiga pegawai kulit putih lain juga ditolak meskipun lebih senior
dibandingkan dirinya. Jadi pegawai kulit hitam memproleh preferensi dalam
program pelatihan dibandingkan pegawai senior kulit putih. Weber selanjutnya
menemukan bahwa tidak ada satu pun pegawai kulit hitam pernah mengalami
diskriminasi di Kaiser.
1. Menurut penilaian Anda, apakah Kaiser melakukan diskriminasi? Jika
menurut Anda itu adalah tindakan diskriminasi, jelaskan diskriminasi
apa yang terjadi dan tunjukkan bukti bukti dari penilaian Anda. Jika
menurut Anda itu bukan diskriminasi, persiapkan tanggapan Anda
untuk menjawab keberatan terhadap pandangan Anda. Apakah
manajemen Kaiser secara moral bertanggungjawab atas situasi yang
terjadi di perusahaan? Mengapa?

Jawaban:
Terdapat beberapa praktek yang terjadi di dalam diskriminatif di
bidang pekerjaan. Seperti di dalam hal Rekrutmen, screening (seleksi),
kenaikan pangkat dan pemberian gaji.
Rekrutmen, cenderung merekrut pegawai berdasarkan ras dan
seksual.Screening (seleksi), dilihat dari kecakapan kelompok minoritas
yang menjadikan mereka tidak layak melakukan pekerjaan-pekerjaan
tertentu.Kenaikan Pangkat, proses kenaikan pangkat, kemajuan kerja dan
transfer dikatakan diskriminatif jika perusahaan memisahkan evaluasi
kerja pria kulit putih dengan pegawai dari kelompok minoritas.Kondisi
pemberian gaji dikatakan diskriminatif bila jumlah yang tidak sama untuk
orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sama.
Di dalam kasus tersebut, menurut kami terdapat diskriminasi
berdasarkan rasial. Sebagai bukti, di dalam paparan yang terdapat
diselebaran kertas, Pada menjelang tahun 1965, Kaiser hanya merekrut 4,7
persen pegawai kulit hitam dari 39 persen pegawai local berkulit hitam.
Pada tahun 1970,hasil pemeriksaan federal atas praktik kepegawaian
Kaiser di Gramercy menemukan bahwa dari 50 pegawai profesional, tidak
ada satu pun yang berkulit hitam; dari 132 penyelia, hanya 1 berkulit
hitam; dan dari 246 pegawai berkeahlian, tidak ada satu pun yang berkulit
hitam. Pemeriksaan federal tahun 1973 menemukan bahwa, meskipun
Kaiser mengizinkan beberapa pegawai kulit putih yang belum
berpengelaman untuk ditransfer ke jabatan sebagai pegawai berkeahlian,
namun tidak ada pegawai kulit hitam yang ditransfer kecuali jika telah
mempunyai pengalaman minimal 5 tahun. Karena pegawai kulit hitam
sebagian besar tidak ikut dalam serikat pekerja, maka mereka juga jarang
berkesempatan memperoleh pengalaman tersebut. Jadi, hanya 2 persen
pegawai berkeahlian yang berkulit hitam. Pemeriksaan federal ketiga pada
tahun 1975 menemukan bahwa 2,2 persen dari 290 pegawai berkeahlian di
Kaiser Gramency yang berkulit hitam; dari 72 pegawai profesional, hanya
7 persen berkulit hitam; dan dari 11 juru gambar,tidak ada satu pun yang
berkulit hitam. Lebih jauh lagi, meskipun pasar kerja local untuk tenaga
kerja kulit hitam pada tahun 1975 sebesar 39 persen, namun jumlah total
pegawai kulit hitam di Kaiser Gramency hanya 13,3 persen. Hanya
kategori-kategori pekerjaan dengan gaji paling rendah (pekerjaan kasar)
yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kulit hitam dengan presentasi
35,5 persen akibat dari kebijakan tahun 1986 yang mewajibkan perekrutan
1 orang pekerja kasar kulit hitam untuk setiap perekrutan 1 pegawai kasar
berkulit putih.
Menurut kami, Manajer sudah jelas berpengaruh terhadap
diskriminasi yang terjadi di dalam perusahaan. Di dalam kasus tersebut
terjadi diskriminasi terhadap perekrutan yang merugikan calon pegawai
terutama kulit hitam. Padahal di dalam perekrutan harus mendasar pada
pengalaman, latar belakang pendidikan dan hal-hal yang bersifat skill.

2. Menurut Anda, apakah manajemen Kaiser bertindak benar saat


menerapkan program perlakuan prefensial? Jelaskan penilaian Anda
dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip etis yang menurut Anda
terdapat dalam masalah ini. Apakah fakta bahwa tidak ada satu pun
pegawai kulit hitam yang pernah mengalami diskriminasi sebelumnya
di Kaiser membebaskan perusahaan tersebut dari kewajiban untuk
memperbaiki ketidakseimbangan rasial dalam struktur tenaga
kerjanya? Kebijakan apa yang Anda sarankan untuk Kaiser?

Jawaban:

Menurut kami mengenai masalah yang di atas bahwa tentang


perlakauan prefensial manajemen Kaiser melakukan tindakan yang benar
karena untuk menyeimbangkan pekerja kulit hitam di perusahaan dengan
pekerja kulit hitam di pasaran yang memproritaskan pekerja lokal dengan
pekerja non lokal di perusahaan Kaiser dan juga untuk memenuhi tuntutan.
Prinsip etis dalam bekerja yang sesuai dengan perusahaan Kaiser adalah
berkemampuan dan bijaksana karena untuk meningkatkan ketrampilan
dirinya sendiri maupun untuk orang lain, yang berupaya menambah luas
ilmu pengetahuan dan bertindak secara berhati hati bagi para pekerja
yang mengikuti pelatihan dengan terus belajar dan menggali ilmu, karena
ilmu berkembang begitu pesat. Bijaksana dalam arti terbuka dan
responsive kepada perubahan dan sanggup memberi dan menerima
kritikan yang membangun dalam membuat pertimbangan yang teliti dalam
sebelum memutuskan suatu tindakan. Prinsip yang kedua adalah bekerja
dengan memperhatikan kepentingan umum karena dalam perusahaan
Kaiser mempertimbangkan dalam tuntutan pasar bahwa di perusahaannya
jumlah pekerja berkulit putih lebih banyak daripada pekerja berkulit hitam,
maka dari itu Kaiser membuat kebijakan untuk melatih para pekerja
berkulit hitam agar profesional dalam bekerja. Yang berarti dalam
perusahaan Kaiser tersebut mendukung peraturan hukum dan memenuhi
tanggung jawab serta tidak boleh merugikan kepentingan umum.
Fakta bahwa pekerja berkulit hitam tidak mengalami diskriminasi
tidak membebaskan Kaiser dari kewajibannya untuk memperbaiki
keseimbangan karena di awal perekrutan jumlah pegawai kulit hitam
dengan posisi tinggi sangat sedikit. Dengan adanya tuntutan Agen Federal
perusahaan Kaiser mulai melatih pekerja kulit hitam agar memiliki
keterampilan dan sejajar dengan pegawai kulit putih.
Kebijakan yang kami sarankan untuk perusahaan Kaiser adalah
dengan menyetarakan ketidakseimbangan antara jumlah pegawai kulit
hitam dan kulit putih. Begitu pula pada program pelatihan yang harus
dilakukan secara adil.

3. Apakah Brian Weber diperlakukan secara adil atau tidak adil? Jelaskan
jawaban Anda dengan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang menurut
anda relevan. Apakah nilai senioritas berlaku secara relative terhadap
kesamaan untuk memperoleh kesempatan? Sebagai manajer,
Bagaimana Anda menangani apa yang dirasakan Brian Weber dan
pegawai pegawai lain? Apakah senioritas perlu digunakan sebagai
dasar untuk memutuskan siapa yang berhak memperoleh pelatihan?
Kualifikasi apa yang menurut Anda perlu dipertimbangkan?

Jawaban:
Apakah brian weber diperlakukan secara adil atau tidak adil?

Menurut pendapat kami, brian weber diperlakukan secara tidak adil,


karena brian weber tidak terpilih mengikuti program pelatihan, padahal
brian weber lebih senior dibandingkan dengan 2 pegawai kulit hitam yang
dipilih untuk mengikuti pelatihan, bahkan 43 pegawai kulit putih yang
lebih senior dibandingkan dengan brian weber pun tidak terpilih.
Seharusnya brian weber dan 43 pegawai kulit putih lainnya yang terpilih
mengikuti program pelatihan, karena lebih senior dibandingkan dengan 2
pegawai kulit hitam yang terpilih mengikuti program pelatihan. Namun,
pegawai kulit putih harus mengerti tujuan perusahaan yaitu mengatasi
ketidakseimbangan rasial yang terjadi.

Apakah nilai senioritas berlaku secara relatif terhadap kesamaan


untuk memperolehkesempatan?

Iya, nilai senioritas berlaku secara relatif, karena walaupun 2 pegawai kulit
hitam yang terpilih tidak lebih senior dibandingkan Brian Weber dan
pegawai kulit putih lainnya, tetapi 2 pegawai kulit hitam tersebut tidak
pernah mengalami diskriminasi di pabrik kaiser. Sehingga nilai senioritas
bersifat relatif, dan tidak dijadikan kualifikasi utama untuk mengikuti
pelatihan.
Sebagai manajer, bagaimana anda menangani apa yang dirasakan
Brian dan pegawai pegawai lain?

Sebagai manajer, kami akan memberikan sosialisasi, Brian dan pegawai


kulit putih lainnya yang belum terpilih, bisa mengikuti pelatihan pada
tahun berikutnya sampai perusahaan mengatasi masalah
ketidakseimbangan rasial yang terjadi di dalam perusahaan.
Apakah senioritas perlu digunakan sebagai dasar untuk memutuskan
siapa yang berhak memperoleh pelatihan?

Menurut kami senioritas tidak perlu digunakan untuk siapa yang berhak
memperoleh pelatihan. Karena pada dasarnya semua karyawan yang baru
harus memperoleh pelatihan agar karyawan baru mulai terbiasa dengan
pekerjaan yang akan dikerjakannya.

Kualifikasi apa yang menurut Anda perlu dipertimbangkan?

Kualifikasi yang perlu dipertimbangkan


Keahlian
Pengalaman
Kesehatan fisik
Pendidikan
Umur