Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dijadikan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu
dengan yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari
karunia Allah yang ada dimuka bumi ini sebagai sumber ekonomi.
Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuatbaiklah
(kepada orang lain) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.(QS Az Zumar : 39)

Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna berlawanan yaitu
Al Bai yang artinya jual dan Asy Syiraa yang artinya Beli. Menurut istilah hukum Syara, jual
beli adalah penukaran harta (dalam pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar
suatu benda (barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas
dasar suka sama suka (lihat QS Az Zumar : 39, At Taubah : 103, hud : 93)

B. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui dan memahami Rukun-rukun Jual beli
2. Dapat mengetahui macam-macam jual beli
3. Dapat mengetahui berbagai macam Riba
4. Dapat mengetahui bagian dari kerjasama Ekonomi dalam islam
5. Memenuhi tugas agama islam

C. Rumusan Masalah
1. Apa saja hukum jual beli ?
2. Apa saja dasar-dasar dilarangnya riba ?
3. Bagaimana cara menghindari perbuatan riba ?
4. Apa saja macam-macam Syarikat ?
5. Apa fungsi bank ?
6. Apa saja manfaat asuransi ?

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup makalah ini adalah hanya sebatas hukum islam tentang muamalah dan kerjasama
ekonomi dalam islam.

Page 1
BAB II
ISI
A. Jual Beli
Orang yang terjun dalam bidang usaha jual beli harus mengetahui hukum jual beli agar dalam
jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak penjual maupun pihak pembeli. Jual
beli hukumnya mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Allah
SWT berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara
kamu.(QS An Nisa : 29

Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut.


( )
Artinya : Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka suka sama suka. (HR Bukhari)

( )
Artinya : Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak,
selama keduanya belum berpisah dari tempat akad. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan jual beli dan
tawar menawar dan tidak ada kesesuaian harga antara penjual dan pembeli, si pembeli boleh
memilih akan meneruskan jual beli tersebut atau tidak. Apabila akad (kesepakatan) jual beli telah
dilaksanakan dan terjadi pembayaran, kemudian salah satu dari mereka atau keduanya telah
meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah
disepakatinya.

1. Rukun dan syarat Jual Beli


Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi :

a. Penjual atau pembeli


1. Penjual dan pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya. Orang gila tidak sah jual belinya.
2. penjual dan pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada
keduanya atau salah astu diantara keduanya. Jika ada paksaan maka jual beli itu tidak sah

b. Syarat Ijab dan Kabul


Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjual
mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari
perkataan si penjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum
akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu.

Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul
adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku
berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam
bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang

Page 2
melakukan transaksi itu diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara
memesan lewat telepon. Jula beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas
barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan.

c. Benda yang diperjualbelikan


1) Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut.
2) Suci atau bersih dan halal barangnya
3) Barang yang diperjualbelikan harus diteliti lebih dulu
4) Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain
5) Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang merugikan
6) Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir (spekulasi)
7) Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa
8) Barang itu dapat diserahterimakan

d. Nilai tukar barang yang di jual(pada zaman modern sekarang ini berupa uang)
Syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual adalah :
1. Harga jual disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
2. Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara
hukum, misalnya pembayaran dengan menggunakan cek atau kartu kredit. Jika harga barang
dibayar dengan cara utang atau kredit, waktu pembayaran harus jelas.
3. Apabila jual beli dilakukan secara barter atau Al-Muqayadah(nilai tukar barang yang di jual
bukan berupa uang tetpai berupa barang), maka nilai tukarnya tidak boleh dengan barang haram
misal babi dan khamar.

2. Hukum Jual Beli


a. Mubah, yaitu kebolehan seseorang melakukan jual beli. Mubah merupakan hokum asal jual
beli
b. Wajib, yaitu kewajiban seseorang untuk melakukan jual beli. Contohnya adalah kewajiban
seorang hakim untuk menjual harta orang muflis, yaitu orang yang utangnya lebih banyak dari
hartanya.
c. Haram, yaitu ketidalbolehan atau larangan bagi seseorang untuk melakukan jual beli.
Contohnya adalah menjual rumah untuk berjudi.
d. Sunnah, yaitu anjuran bagi seseorang untuk melakukan jual beli. Contohnya adalah menjual
barang kepada kerabat, sahabat, dan kepada orang yang sangat membutuhkan barang tersebut.

3. Dasar-dasar tentang jual Beli


a. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba
b. Di dalam pelaksanaan jual beli agar mnyempurnakan takaran dan timbangan Allah SWT
berfirman yang artinya:
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar.
Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Surah al-isra 35)

Page 3
c. Larangan jual beli pada waktu seruan salat jumat
Larangan itu menunjukan rusaknya atau tidak validnya transaksijual beli Allah SWT berfirman
yang artinya:

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah
kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu Mengetahui. (QS. Al-Jumuah:9)

Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum'at, Maka
kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua
pekerjaannya.
d. Keabsahan dalam jual beli
Jual beli dapat dinyatakan sah antara lain apabila antara penjual dan pembeli keduanya telah
terpisah. Kecuali bila disyaratkan oleh salah dari kedua belah pihak, adanya syarat khiar dalam
masa tertentu.
e. Larangan dalam jual beli apabila menghadang di jalan

4. Macam-macam jual beli :


1. Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan syarat-
syaratnya.

2. Jual beli yang terlarang dan tidak sah (batil) yaitu jual beli yang salah satu atau seluruh
rukunnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak di syairatkan
(disesuaikan dengan ajaran islam).
Contoh :
a. Jual beli sesuatu yang termasuk najis, sepert bangkai dan daging babi.
b. Jual beli air mani hewan ternak, seperti kambing.
c. Jual beli anak hewan yang masih berada dalam perut induknya(belum lahir).
d. Jual beli mengandung unsure penipuan dan kecurangan. Misalnya mengurangi timbangan dan
memalsukan kualitas barang yang di jual.

3. Jual beli yan sah tetapi terlarang (fasid). Ada beberapa contoh jual beli yang hukumnya sah,
tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh islam karena sebab-sebab :
a. Merugikan sipenjual, si pembeli, dan orang lain
b. Mempersulit peredaran barang
c. Merugikan kepentingan umum
Contoh :
1. Jual belu dengan dimaksud untuk ditimbun terutama terhadap barang vital
2. Menjual barang yang akan digunakan oleh pembelinya untuk berbuat maksiat
3. Menawar sesuatu barang dengan maksud hanya untuk mempengaruhi orang lain agar mau
membeli barang yang ditawarkanya

4. Monopoli yaitu menimbun barang agar orang lain tidak membeli, walaupun melampaui harga
pasar.

Page 4
5. Perilaku atau sikap yang harus dimiliki oleh penjual
a. Berlaku Benar (Lurus)
Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya,
dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti
dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah
satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.
Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah. Empat
macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang
congkak, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.(HR Nasai dan Ibnu Hibban)

b. Menepati Amanat
Menepati amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah
mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam
islam sangat dicela.
Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan
ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya.
Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.

c. Jujur
Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran
merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan
menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal
timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah
SWT. Allah SWT berfirman yang artinya :

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata:
Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan
timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan
timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan
memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang
beriman. (QS Al Araf : 85)

Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan,
baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia berdagang dengan
saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya.

Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan,
kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya.

Hadis lain meriwayatkan dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada
rasulullah SAW sebagai berikut katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu
apabila dia melakukan jual beli, selalu diingatkannya jangan menipu.(HR Muslim)

Page 5
5. Macam-macam khiar jual beli
Khiar artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan kesepakatan (akad) jual beli
atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Dengan
adanya khiar ini orang yang melakukan jual beli dapat lebih memikirkan kemaslhatannya
sehingga tidak terjadi penyesalan dikemudian hari.

Ada tiga macam khiar yaitu sebagai berikut :


1) Khiar Majelis
Khiar majelis adalah si pembeli an penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli
atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini
berlaku pada semua macam jual beli.

2) Khiar Syarat
Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah
mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus
ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari

3) Khiar Aib (cacat)


Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila
barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak
diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : Jika
dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama
mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar,
kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah. (HR
Mutafaqun alaih).

B. Riba
Bagi manusia yang tidak memiliki iman, segala sesuatunya selalu dinilai dengan harta
(materialisme). Manusia berlomba-lomba untuk memperoleh harta kekayaan sebanyak mungkin.
Mereka tidak memperdulikan dari mana datangnya harta yang didapat, apakah dari sumber yang
halal atau haram. Salah satu contoh perolehan harta yang haram adalah sesuatu yang berasal dari
pekerjaan memungut riba.

Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut. yang artinya:

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Akan tiba suatu zaman, tidak ada
seorang pun, kecuali ia memakan harta riba. Kalau ia memakannya secara langsung ia akan
terkena debunya. (HR Ibnu Majah)

Kata riba (ar riba) menurut bahasa yaitu tambahan (az ziyadah) atau kelebihan. Riba menurut
istilah syarak ialah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar suatu barang yang
tidak diketahui syaraknya. Atau dalam tukar menukar itu disyaratkan menerima salah satu dari
dua barang apabila terlambat. Riba dapat terjadi pada hutang piutang, pinjaman, gadai, atau sewa
menyewa. Contohnya, Fauzi meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada hari senin. Disepakati
dalam setiap satu hari keterlambatan, Fauzi harus mengembalikan uang tersebut dengan
tambahan 2 %. Jadi hari berikutnya Fauzi harus mengembalikan hutangnya menjadi Rp 10.200.

Page 6
Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba. Allah SWT berfirman yang artinya:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang
telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka
baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah : 275)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk memakan riba, Allah juga menjanjikan untuk
melipatgandakan pahala bagi orang yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak dan sedekah.Allah
SWT berfirman yang artinya:

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS Al Baqarah : 276)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan
bertakwalah kepada Allah Supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali Imran : 130)

Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah
melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi
makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, dan (selanjutnya) nabi
bersabda, mereka itu semua sama saja. (HR Muslim)

Beberapa ayat dan hadis yang telah disebutkan menunjukan bahwa Islam sangat membenci
perbuatan riba dan menganjurkan kepada umatnya agar didalam mencari rezeki hendaknya
menempuh cara yang halal.

1. Macam-macam Riba
a. Riba fadal
Riba fadal yaitu tukar menukar dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama
ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Contohnya tukar menukar emas
dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang disyaratkan oleh yang
menukarkan. Supaya tukar menukar seperti ini tidak termasuk riba harus memenuhi tiga syarat
sebagai berikut.
1. Barang yang ditukarkan harus sama
2. Timbangan atau takarannya harus sama
3. Serah terima harus pada saat itu juga.
b. Riba nasiah
Riba nasiah yaitu tukar menukar barang yang sejenis maupun yang tidak sejenis atau jual beli
yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh penjual dengan waktu yang dilambatkan.
Contohnya, salim membeli arloji seharga Rp 500.000. Oleh penjualnya disyaratkan
membayarnya tahun depan dengan harga Rp 525.000
c. Riba yad
Riba yad yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima. Misalnya, orang

Page 7
yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, penjual dan
pembeli tersebut telah berpisah sebelum serah terima barang itu. Jual beli ini dinamakan riba yad

2. syarat-syarat jual beli agar tidak menjadi riba.


a. Menjual sesuatu yang sejenis ada tiga syarat, yaitu:
1) serupa timbangan dan banyaknya
2) tunai, dan
3) timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.

b. Menjual sesuatu yang berlainan jenis ada dua syarat, yaitu:


1) tunai dan
2) timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.

Riba diharamkan oleh semua agama samawi. Adapun sebab diharamkannya karena memiliki
bahaya yang sangat besar antara lain sebagai berikut.
1. Riba dapat menimbulkan permusuhan antar pribadi dan mengikis habis semangat kerja sama
atau saling menolong sesama manusia. Padahal, semua agama, terutama Islam menyeru kepada
manusia untuk saling tolong menolong, membenci orang yang mengutamakan kepentingan diri
sendiri atau egois, serta orang yang mengeksploitasi orang lain.

2. Riba dapat menimbulkan tumbuh suburnya mental pemboros yang tidak mau bekerja keras
dan penimbun harta di tangan satu pihak. Islam menghargai kerja keras dan menghormati orang
yang suka bekerja keras sebagai saran pencarian nafkah.

3. Riba merupakan salah satu bentuk penjajahan atau perbudakan dimana satu pihak
mengeksploitasi pihak yang lain.

4. Sifat riba sangat buruk sehingga Islam menyerukan agar manusia suka mendermakan harta
kepada saudaranya dengan baik jika saudaranya membutuhkan harta.

C. Hukum Islam tentang Kerja sama Ekonomi (Syirkah)


Saat ini umat Islam Indonesia, demikian juga belahan dunia Islam (muslim world) lainnya
telah menerapkan sistem perekonomian yang berbasis nilai-nilai dan prinsip syariah (Islamic
economic system) untuk dapat diterapkan dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi
ekonomi umat. Keinginan ini didasari oleh kesadaran untuk menerapkan Islam secara utuh dan
total.

1. Pengertian Musyarakah
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu
dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau amal (expertise) dengan
kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

a. Dasar Hukum
Landasan hukum dari musyarakah ini antara lain :

Artinya : maka mereka berserikat pada sepertiga (QS An Nisa : 12)
Page 8
Rasulullah Bersabda yang artinya : Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman : Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat
selama salah satunya tidak menghianati lainnya. (HR Abu Daud)

Hadis tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hambanya yang melakukan


perkongsian atau kerja sama selama pihak-pihak yang bekerja sama tersebut saling menjunjung
tinggi amanat kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan.

Berdasarkan dalil-dalil diatas, musyarakah (syirkah) dapat diartikan dua orang atau lebih
yang bersekutu (berserikat) dimana uang yang mereka dapatkan dari harta warisan, atau mereka
kumpulkan diantara mereka, kemudian diinvestasikan dalam perdagangan, industri, atau
pertanian dan lain-lain sepanjang sesuai dengan kesepakatan bersama dan hal tersebut hukumnya
boleh.

b. Syarat-syarat musyarakah
Dalam bersyarikah ada 5 syarat ayng harus dipenuhi yaitu sebagai berikut.
1) Benda (harta dinilai dengan uang)
2) Harta-harta itu sesuai dalam jenis dan macamnya
3) Harta-harta dicampur
4) Satu sama lain membolehkan untuk membelanjakan harta itu
5) Untung rugi diterima dengan ukuran harta masing-masing.

c. Jenis-jenis musyarakah
Ada dua jenis musyarakah yakni musyarakah pemilikan dan musyarakah akad (kontrak)

1) Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang
mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini,
kepemilikan dua orang atau lebih, berbagi dalam sebuah aset nyata dan berbagi pula keuntungan
yang dihasilkan oleh aset tersebut.

2) Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa
tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah. Mereka pun sepakat berbagi keuntungan
dan kerugian. Musyarakah akad terbagi menjadi inan, mufawadah, amal, wujuh, dan
mudarabah.
a) Syirkah inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu
porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian yang dibagi
sesuai dengan kesepakatan diantara mereka

b) Syirkah mufawadah adalah kontrak kerja sama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak
memberikan dana yang jumlahnya sama dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian
dibagi secara sama besar.
c) Syirkah amal adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara
bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Misal dua orang arsitek menggarap sebuah
proyek

Page 9
d) Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi dan prestise
baik dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual
barang tersebut secara tunai. Keuntungan dan kerugian dibagi berdasarkan jaminan yang
disediakan masing-masing.

Pada bidang perbankan misalnya, penerapan musyarakah dapat berwujud hal-hal berikut ini.
1. Pembiayaan proyek. Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan dimana nasabah
dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu
selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati

2. Modal ventura. Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi dalam
kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. Penanaman modal
dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual
bagian sahamnya, baik secara singkat maupun bertahap.

D. Mudarabah (bagi hasil)


Mudarabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (sahibul
mal) menyediakan seluruh (100 %) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.
Keuntungan usaha secara mudarabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam
kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan
akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau
kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

1.Dasar Hukum
Secara umum landasan dasar syariah mudarabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan
usaha. Hal ini tampak dalam ayat dan hadis berikut ini. Allah berfirman dalam surat al-
Muzammil yang artinya : dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian
karunia Allah SWT (Al Muzammil : 20)

Adanya kata yadribun pada ayat diatas dianggap sama dengan akar kata mudarabah yang berarti
melakukan suatu perjalanan usaha. Surah tersebut mendorong kaum muslim untuk melakukan
upaya atau usaha yang telah diperintahkan Allah SWT.

Hadis nabi Muhammad yang artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abbas bin Abdul
Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudarabah mensyaratkan agar
dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli
ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, maka yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana
tersebut. Disampaikan syarat syarat tersebut kepada rasulullah SAW. Dan rasulullah pun
membolehkannya.(HR Tabrani).

1. Jenis-jenis mudarabah
Secara umum, mudarabah terbagi menjadi dua jenis yakni mudarabah mutlaqah dan mudarabah
muqayyadah.
a. Mudarabah mutlaqah
Mudarabah mutlaqah adalah bentuk kerjasama antara pemilik modal (sahibul mal) dan
pengelola (mudarib) yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha,

Page 10
waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fikih ulama salafus saleh seringkali dicontohkan
dengan ungkapan ifal ma syita (lakukan sesukamu) dari sahibul mal ke mudarib yang memberi
kekuasaan sangat besar.

b. Mudarabah Muqayyadah
Mudarabah muqayyadah adalah kebalikan dari mudarabah mutlaqah. Si Mudarib dibatasi
dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali
mencerminkan kecenderungan umum si Sahibul Mal dalam memasuki jenis dunia usaha.

Adapun dari sisi pembiayaan, mudarabah biasanya diterapkan untuk bidang-bidang berikut.
a. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa
b. Investasi khusus disebut juga mudarabah muqayyadah, yaitu sumbe investasi yang khusus
dengan penyaluran yang khusus pula dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh sahibul
mal.

Mudarabah dan kaitannya dengan dunia perbankan biasanya diterapkan pada produk-produk
pembiayaan dan pendanaan. Sisa penghimpunan dana mudarabah biasanya diterapkan pada
bidang-bidang berikut ini.
1. Tabungan berjangka, yaitu dengan tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti
tabungan haji, tabungan kurban, dan deposito berjangka.
2. Deposito spesial (special investment), yaitu dana dititipkan kepada nasabah untuk bisnis
tertentu, misalnya murabahah atau ijarah saja.

Mudaroban yang berkaitan dengan dunia Pertanian ialah :


Musaqah, Muzaraah, dan Mukhabarah
a. Musaqah (paroan kebun)
Yang dimaksud musaqah adalah bentuk kerja sama dimana orang yang mempunyai kebun
memberikan kebunnya kepada orang lain (petani) agar dipelihara dan penghasilan yang didapat
dari kebun itu dibagi berdua menurut perjanjian sewaktu akad

Musaqah dibolehkan oleh agama karena banyak orang yang membutuhkannya. Ada orang
yang mempunyai kebun, tapi dia tidak dapat memeliharanya. Sebaliknya, ada orang yang tidak
mempunyai kebun, tapi terampil bekerja. Musaqah memberikan keuntungan bagi kedua belah
pihak yakni pemilik kebun dan pengelola sehingga sama-sama memperoleh hasil dari kerja sama
tersebut. Hadis menjelaskan sebagai berikut yang artinya : Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya nabi
Muhammad SAW telah memberikan kebun beliau kepada penduduk khaibar agar dipelihara oleh
mereka dengan perjanjian, mereka akan diberi sebagian dari penghasilannya, baik dari buah-
buahan atau hasil petani (palawija). (HR Muslim)

b. Muzaraah
Muzaraah adalah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau
sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benih(bibit tanaman)nya dari pekerja (petani). Zakat
hasil paroan ini diwajibkan atas orang yang punya benih. Oleh karena itu, pada muzaraah zakat
wajib atas petani yang bekerja karena pada hakekatnya dialah (si petani) yang bertanam, yang
mempunyai tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya, sedangkan pengantar dari sewaan
tidak wajib mengeluarkan zakatnya.
Page 11
c. Mukhabarah
Mukhabarah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau
sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari pemilik sawah/ladang. Adapun pada
mukhabarah, zakat diwajibkan atas yang punya tanah karena pada hakekatnya dialah yang
bertanam, sedangkan petani hanya mengambil upah bekerja. Penghasilan yang didapat dari upah
tidak wajib dibayar zakatnya. Kalau benih dari keduanya, zakat wajib atas keduanya yang
diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi. Hukum kerja sama tersebut diatas
diperbolehkan sebagian besar para sahabat, tabiin dan para imam

E. Perbankan yang Sesuai dengan Prinsip Hukum Islam


Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan
ekonomi. Ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi-ekonomi yang lain karena lahir atau berasal
dari ajaran Islam yang mengharamkan riba dan menganjurkan sedekah. Kesadaran tentang
larangan riba telah menimbulkan gagasan pembentukan suatu bank Islam pada dasawarsa kedua
abad ke-20 diantaranya melalui pendirian institusi sebagai berikut.
1. Bank Pedesaan (Rural Bank) dan Bank Mir-Ghammar di Mesir tahun 1963 atas prakarsa
seorang cendikiawan Mesir DR. Ahmad An Najjar
2. Dubai Islamic Bank (1973) di kawasan negara-negara Emirat Arab
3. Islamic Development Bank (1975) di Saudi Arabia
4. Faisal Islamic Bank (1977) di Mesir
5. Kuwait House of Finance di Kuwait (1977)
6. Jordan Islamic Bank di Yordania (1978)

Bank non Islam yang disebut juga bank konvensional adalah sebuah lembaga keuangan yang
fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang memerlukan dana, baik
perorangan atau badan usaha guna investasi dalam usaha-usaha yang produktif dan lain-lain
dengan sistem bunga.

Sedangkan Bank Islam yang dikenal dengan Bank Syariah adalah sebuah lembaga keuangan
yang menjalankan operasinya menurut hukum (syariat) Islam dan tidak memakai sistem bunga
karena bunga dianggap riba yang diharamkan oleh Islam. (QS Al Baqarah : 275-279)

Sebagai pengganti sistem bunga, Bank Islam menggunakan berbagai cara yang bersih dari unsur
riba, antara lain sebagai berikut.
1. Wadiah atau titipan uang, barang, dan surat berharga atau deposito. Wadiah ini bisa diterapkan
oleh Bank Islam dalam operasinya untuk menghimpun dana dari masyarakat, dengan cara
menerima deposito berupa uang, barang, dan surat-surat berharga sebagai amanat yang wajib
dijaga keselamatannya oleh Bank Islam. Bank berhak menggunakan dana yang didepositokan itu
tanpa harus membayar imbalannya, tetapi Bank harus menjamin dapat mengembalikan dana
itupada waktu pemiliknya (depositor) memerlukannya.

2. Mudarabah adalah kerjasama antara pemilik modal dengan pelaksana atas dasar perjanjian
profit and loss sharing. Dengan mudarabah ini, Bank Islam dapat memberikan tambahan modal
kepada pengusaha untuk perusahaannya dengan perjanjian bagi hasil dan rugi yang
perbandingannya sesuai dengan perjanjian misalnya, fifty-fifty. Dalam mudarabah ini, Bank

Page 12
tidak mencampuri manajemen perusahaan.

3. Syirkah (perseroan). Dibawah kerjasama syirkah ini, pihak Bank dan pihak pengusaha sama-
sama mempunyai andil (saham) pada usaha patungan (joint ventura). Oleh karena itu, kedua
belah pihak berpartisipasi mengelola usaha patungan ini dengan menanggung untung rugi
bersama atas dasar perjanjian profit and loss sharing (PLS Agreement).

4. Murabahah adalah jual beli barang dengan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga
pembelian yang pertama secara jujur. Dengan murabahah ini, pada hakikatnya suatu pihak ingin
mengubah bentuk bisnisnya dari kegiatan pinjam meminjam menjadi transaksi jual beli. Dengan
sistem murabahah ini, Bank bisa membelikan atau menyediakan barang barang yang diperlukan
oleh pengusaha untuk dijual lagi, dan Bank minta tambahan harga atas harga pembeliannya.
Syarat bisnis dengan murabahah ini, ialah si pemilik barang (dalam hal ini Bank) harus memberi
informasi yang sebenarnya kepada pembeli tentang harga pembeliannya dan keuntungan bersih
(profit margin) dari pada cost plus nya itu.

5. Qard hasan (pinjaman yang baik atau benevolent loan). Bank Islam dapat memberikan
pinjaman tanpa bunga (benevolent loan) kepada para nasabah yang baik, terutama nasabah yang
mempunyai deposito di Bank Islam itu sebagai slah satu pelayanan dan penghargaan Bank
kepada para deposan karena mereka tidak menerima bunga atas depositonya dari Bank Islam.

Perkembangan pesat Bank-Bank Islam yang lazim disebut Bank syariah terjadi pada
dasawarsa 70-an setelah terjadinya krisis minyak yang menimbulkan oil boom pada tahun 1971.
perkembangan pesat Bank syariah tersebut membuktikan bahwa:
(1) ajaran Islam menggerakkan ide sosial ekonomi. Ide spirit yang bersumber pada ajaran Islam
disebut juga modal masyarakat (Social Capital).
(2) Peranan cendikiawan yang memiliki suatu konsep yang mengoperasionalkan ajaran agama
yaitu zakat, infak, sedekah (ZIS), dan larangan riba. ZIS dapat dijadikan modal Bank, hal ini juga
pernah dipelopori oleh pemikiran dari KH. Ahmad Dahlan. Beliau memiliki gagasan membentuk
lembaga amil (penghimpun dan pengelola zakat).

Bank syariah pertama yang beroperasi di Indonesia adalah PT. Bank Muamalat Indonesia
(BMI) berdiri pada tanggal 1 mei 1992. Perkembangan perbankan syariah pada awalnya berjalan
lebih lambat dibanding dengan Bank konvensional. Sampai dengan tahun 1998 hanya terdapat 1
Bank Umum Syariah dan 78 BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah). Berdasarkan statistik
perbankan syariah mei 2003 dari Bank Indonesia tercatat, Bank Umum Syariah 2 yaitu BMI dan
Bank Syariah Mandiri, 8 Bank umum yang membuka unit atau kantor cabang syariah yaitu
Danamon Syariah, Jabar Syariah, Bukopin Syariah, BII Syariah dll, serta 89 Bank Perkreditan
Rakyat Syariah (BPRS). Beberapa bank konvensional dalam negeri, maupun asing yang
beroperasi di Indonesia juga telah mengajukan izin dan menyiapkan diri untuk segera beroperasi
menjadi Bank Syariah.

Kehadiran Bank Syariah memiliki hikmah yang cukup besar, diantaranya sebagai berikut.
1. Umat Islam yang berpendirian bahwa bunga Bank konvensional adalah riba, maka Bank
Syariah menjadi alternatif untuk menyimpan uangnya, baik dengan cara deposito, bagi hasil
maupun yang lainnya

Page 13
2. Untuk menyelamatkan umat Islam dari praktik bunga yang mengandung unsur pemerasan
(eksploitasi) dari si kaya terhadap si miskin atau orang yang kuat ekonominya terhadap yang
lemah ekonominya.

3. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap Bank non Islam yang
menyebabkan umat Islam berada dibawah kekuasaan Bank sehingga umat Islam belum bisa
menerapkan ajaran agamanya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, terutama dalam kegiatan
bsinis dan perekonomiannya

4. Bank Islam dapat mengelola zakat di negara yang pemerintahannya belum mengelola zakat
secara langsung. Bank juga dapat menggunakan sebagian zakat yang terkumpul untuk proyek-
proyek yang produktif dan hasilnya untuk kepentingan agama dan umum.

5. Bank Islam juga boleh memungut dan menerima pembayaran untuk hal-hal berikut.
a. Mengganti biaya-biaya yang langsung dikeluarkan oleh Bank dalam melaksanakan pekerjaan
untuk kepentingan nasabah, misalnya biaya telegram, telepon, atau telex dalam memindahkan
atau memberitahukan rekening nasabah, dan sebagainya

b. Membayar gaji para karyawan Bank yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan nasabah
dan sebagai sarana dan prasarana yang disediakan oleh Bank dan biaya administrasi pada
umumnya.

F. Sistem Asuransi yang Sesuai dengan Prinsip Hukum Islam


Mengikuti sukses perbankan Syariah, asuransi Syariah juga mengalami pertumbuhan yang
cukup pesat. Sampai dengan tahun 2002, tercatat sejumlah asransi konvensional yang membuka
divisi Syariah yang terbukti mampu bersaing dengan asuransi lainnya.

Asuransi pada umumnya, termasuk asuransi jiwa, menurut pandangan Islam adalah termasuk
masalah ijtihadiyah. Artinya, masalah tersebut perlu dikaji hukumnya karena tidak ada
penjelasan yang mendalam didalam Al Quran atau hadis secara tersurat. Para imam mazhab
seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad dan ulama mujtahidin lainnya
yang semasa dengan mereka (abad II dan III H atau VIII dan IX M) tidak memberi fatwa hukum
terhadap masalah asuransi karena hal tersebut belum dikenal pada waktu itu. Sistem asuransi di
dunia Islam baru dikenal pada abad XIX M, sedangkan di dunia barat sudah dikenal sejak sekitar
abad XIV M.

Kini umat Islam di Indonesia dihadapkan kepada masalah asuransi dalam berbagai bentuknya
(asuransi jiwa, asuransi kecelakaan, dan asuransi kesehatan) dan dalam berbagai aspek
kehidupannya, baik dalam kehidupan bisnis maupun kehidupan keagamaannya.

Dikalangan ulama dan cendikiawan muslim ada empat pendapat tentang hukum asuransi, yakni
sebagai berikut.
1. Mengharamkan asuransi dalam segala macam dan bentuknya sekarang ini, termasuk asuransi
jiwa
2. membolehkan semua asuransi dalam praktiknya sekarang ini.
Page 14
3. Membolehkan aasuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan asuransi yang semata-mata
bersifat komersial
4. menganggap syubhat

Ketika mengkaji hukum Islam tentang asuransi, sudah tentu harus dilakukan dengan
menggunakan metode ijtihad yang lazim digunakan oleh mejtahidin dahulu. Diantara metode
ijtihad yang mempunyai banyak peranan di dalam mengistinbatkan (mencari dan menetapkan
hukum) terhadap masalah-masalah baru yang tidak ada nasnya dalam Al Quran dan hadis adalah
maslahah mursalah atau istislah (public good) dan qyas (analogical reasoning).

Dalam buku Hukum Asuransi di Indonesia ditulis oleh Vide Wirjono Prodjodikoro,
menjelaskan, menurut pasal 246 Wet Boek Van Koophandel (Kitab Undang-undang perniagaan),
bahwa asuransi pada umunya adalah suatu bentuk persetujuan dimana pihak yang menjamin
berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti
kerugian yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari suatu peristiwa yang
belum jelas akan terjadi.

Adapun asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara
sejumlah orang atau pihak melaui investasi dalam bentuk aset atau tabarru yang memberikan
pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalu akad (perikatan) yang sesuai
Syariah

Ada beberapa sumber yang dijadikan rujukan bagi berlangsungnya sistem asuransi tersebut,
diantaranya adalah hadis Nabi Muhammad SAW Seorang mukmin dengan mukmin lainnya
dalam suatu masyarakat ibarat satu bangunan, dimana tiap bangunan saling mengokohkan satu
sama lain. (HR Bukhari danMmuslim)

Secara operasional, asuransi yang sesuai dengan Syariah memiliki sistem yang mengandung hal-
hal sebagai berikut.
1. Mempunyai akad takafuli (tolong menolong) untuk memberikan santunan atau perlindungan
atas musibah yang akan datang
2. Dana yang terkumpul menjadi amanah pengelola dana. Dana tersebut diinvestasikan sesuai
dengan instrumen Syariah seperti mudarabah, wakalah, wadiah dan murabahah.
3. Premi memiliki unsur tabaru atau mortalita (harapan hidup)
4. Pembebanan biaya operasional ditanggung pemegang polis, terbatas pada kisaran 30 % dari
premi sehingga pembentukan pada nilai tunai cepat terbentuk pada tahun pertama yang memiliki
nilai 70 % dari premi.
5. dari rekening tabaru (dana kebajikan seluruh peserta) sejak awal sudah dikhlaskan oleh
peserta untuk keperluan tolong menolong bila terjadi musibah.
6. Mekanisme pertanggungan pada asuransi Syariah adalah sharing of risk. Apabila terjadi
musibah semua peserta ikut (saling) menanggung dan membantu
7. Keuntungan (profit) dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil
(mudarabah),atau dalam akad tabarru dapat berbentuk hadiah kepada peserta dan ujrah (fee)
kepada pengelola.
8. Mempunyai misi akidah, sosial serta mengangkat perekonomian umat Islam atau misi iqtisadi

Page 15
G. Sistem Lembaga Keuangan non Bank yang sesuai dengan Prinsip Hukum Islam
Sistem lembaga keuangan non Bank yang sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam antara lain
adalah sebagai berikut.

1. Koperasi
Pengertian koperasi dari segi etimologi berasal dari bahasa inggris coorporation, yang artinya
bekerja sama. Pengertian koperasi dari segi etimologi ialah suatu perkumpulan atau organisasi
yang beranggotakn orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama denagn penuh kesadaran
untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar suka rela secara kekeluargaan.
Koperasi mempunyai dua fungsi, yakni :
1. fungsi ekonomi dalam bentuk kegiatan-kegiatan usaha ekonomi yang dilakukan koperasi
untuk meringankan beban hidup sehari-hari para anggotanya dan
2. fungsi soisal dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan secara gotong royong atau
dalam bentuk sumbangan berupa uang yang berasal dari bagian laba koperasi disishkan untuk
tujuan-tujuan sosial, misalnya untuk mendirikan sekolah atau tempat ibadah

Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja,
misalnya bidang konsumsi, bidang kredit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha
tunggal (single purpose). Dan ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai
bidang yang disebut koperasi serba usaha (multi purpose) seperti bidang pembelian dan
penjualan

Modal usaha koperasi diperoleh dari uang simpanan pokok, uang simpanan wajid, uang
simpanan sukarela yang merupakan deposito, uang pinjaman, penyisihan-penyisihan hasil usaha
termasuk cadangan dan sumber lain yang sah.

Menurut mahmud syaltut, koperasi sebagaimana diuarikan diatas adalah bentuk syirkah baru
yang diciptakan oleh para ahli ekonomi dan banyak sekali memilki manfaat, anatara lain
memberi keuntungan kepada para anggota pemilik saham, memberi lapangan kerja kepada para
karyawannya, memberi bantuan keuangan dari sebagian hasil usaha koperasi untuk mendirikan
tempat ibadah, sekolah dan sebagainya.

Koperasi tidak mempunyai unsur kezaliman dan pemerasan oleh manusia yang kuat atau
kaya atas manusia yang lemah atau miskin, pengelolaannya demokratis dan terbuka (open
management) serta membagi keuntungan dan kerugian kepada para anggota menurut ketentuan
yang berlaku yang telah diketahui oleh seluruh anggota pemegang saham. Oelh karena itu,
koperasi dapat diterima oleh kalangan Islam.
2. BMT (Baitul Mal wat Tamwil)
Merupakan lembaga keuangan mikro yang sanagt sukses. BMT di Indonesia tumbuh dari
bawah (masyarakat berekonomi lemah) yang didukung oleh deposan-deposan kecil. BMT telah
menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi yang mengelola dana dari, untuk dan oleh
masyarakat yang merupakan perwujudan demokrasi ekonomi. BMT-BMT sebagian besar
berbadan hukum koperasi yang merupakan badan usaha berdasarkan azas kekeluargaan yang
sesuai dengan Islam. Sampai tahun 2003, jumlah BMT sudah mendekati angka 4000 unit dimana
proses operasionalnya tidak jauh beda dengan operasional BPRS atau Bank Syariah

Page 16
H. Perilaku yang Mencerminkan Kepatuhan Terhadap Hukum Islam tetang Kerjasama
Ekonomi
Ekonomi Islam di Indonesia hingga saat ini mengalami perkembangan yang signifikan. Hal
ini ditandai dengan maraknya kajian-kajian ekonomi Syariah, banyaknya lembaga keuangan
yang berorientasi Syariah serta semakin tingginya kesadaran masyarakat Indonesia dalam
menerapkan kerjasama ekonomi berdasarkan Syariah.

Ada beberapa aspek perilaku yang harus mencerminkan kepatuhan terhadap hukum Islam di
segala aspek kehidupan, khusunya tentang kerja sama ekonomi Islam yaitu sebagai berikut.

1. Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan akad tanggung jawab yang berkaitan dengan kepercayaan yang
diberikan kepada pihak yang dianggap memenuhi syarat untung memegang kepercayaan secara
penuh dengan pihak yang masih perlu memenuhi kewajiban sebagai penjamin (damin) harus
dipertimbangkan

2. Tolong Menolong
Saling menolong sesama peserta (nasabah) dengan hanya berhadapan keridaan Allah. Dan
tolong menolong untuk memberikan santunan perlindungan atas musibah yang akan datang

3. Saling melindungi
Perekonomian Islam yang berdasarkan Syariah merupakan usaha saling melindungi dan
tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi.

4. Adil
Dalam melakukan transaksi/ perniagaan, Islam mengharuskan untuk berbuat adil tanpa
memandang bulu, termasuk kepada pihak yang tidak disukai.

5. Amanah/jujur
Dalam menjalankan kerja sama ekonomi Syariah mengharuskan dipenuhinya semua ikatan
yang telah disepakati. Perubahan ikatan akibat perubahan kondisi harus dilaksanakan secara rida
sama rida dan disepakati oleh semua pihak yang terkait

Perilaku lain adalah mempunyai manajemen islami, menghormati hak azazi manusia, menjaga
lingkungan hidup, melaksanakan good corporate governance, tidak spekulatif dan memegang
teguh prinsip kehati-hatian.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
- Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang lain dengan akad atau transaksi
- Riba adalah kelebihan atau tambahan pembayaran tanpa ada imbalan yang disyaratkan bagi
salah seorang dari dua oarna yang melakukan akad/transaksi.

Page 17
- Kerjasama dalam bidang ekonomi juga di sebut syarikat
- Mudarabah adalah pemberian modal oleh sesorang kepada orang lain untuk usaha, sedangkan
keuntungan dan kerugianya di bagi bersama seseuai perjanjain
- Syarikat kerja dapat dilakukan dalam bentuk mudarabah, musaqah, muzaraah dan
mukhabarah.

B. SARAN
Penulis bersedia menerima kritik dan saran yang positif dari pembaca. Penulis akan
menerima kritik dan saran tersebut sebagai bahan pertimbangan yang memperbaiki makalah ini
di kemudian hari. Semoga makalah berikutnya dapat penulis selesaikan dengan hasil yang lebih
baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Khuslan Haludhi, Abdurrohim Said. 2008. Agama Islam 2. Malang : Tiga Serangkai
Aminudin, H.pardi Yatim, Muhamad Suyono H.S, Slamet Abidin. 2004. Pendidikan Agama
Islam 2. Jakarta : Bumi Aksara

Syamsuri. 2007. Pendidikan Agama islam XI. Jakarta : Erlangga

Drs. Margiono, M.Pd, Drs. Junaidi Anwar, Dra Latifah. 2007. Pendidikan Agama Islam 2.
Jakarta : Yudistira

Drs. Margiono, M.Pd, Drs. Junaidi Anwar, Dra Latifah. 2007. Pendidikan Agama Islam 2.
Jakarta : Yudistira

Page 18
Abdullah, Taufik. 2008. Pendidikan Agama Islam XI. Bandung : Grafindo

Page 19