Anda di halaman 1dari 3

DIPLOMASI INDONESIA BELANDA

10 Februari 1946
Perundingan antara Indonesia Belanda dimulai. Dalam perundingan ini delegasi Indonesia
dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir dan delegasi Belanda dipimpin oleh van Mook.
Pertemuan yang diadakan di Jakarta itu ternyata tidak membuahkan hasil karena masing-masing
pihak tetap pada pendiriannya.

12 Maret 1946,
pemerintah Republik Indonesia menyerahkan pernyataan penolakannya mengenai pernyataan
van mook

14-24 April 1946


Terjadi Perundingan di Hoge Veluwe ( Belanda ). Perundingan ini pun mengalami kegagalan.
Pihak Republik Indonesia dalam perundingan ini menuntut adanya pengakuan secara de facto
atas Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra.

15-25 Juli 1946


Diadakan konferensi Malino dengan tujuan membahas rencana pembentukan Negara-negara
bagian yang berbentuk federasi di Indonesia serta rencana pembentukan Negara yang meliputi
daerah daerah Indonesia Timur

7 Oktober 1946
Dalam perundingan ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir,
sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh Prof. Schermerhorn. Perundingan ini berhasil
mengambil 3 keputusan penting

27 Oktober 1947

Kedatangan Komisi Tiga Negara (Committee of Good Offices) ke Indonesia, mengemban


mandat Dewan Keamanan PBB untuk mengatasi sengketa Indonesia - Belanda. Para anggota
Komisi adalah Hakim Richard C. Kirby (Australia), mantan Perdana Menteri Paul van Zeeland
(Belgia), dan Rektor University of North Carolina Dr. Frank B. Graham (AS).

10 November 1946
Perundingan di Linggajati. dipimpin oleh Lord Killern. Dalam perundingan Linggajati itu,
delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Soetan Sjahrir

15 November 1946
Perundingan Linggajati mencapai persetujuan yang terdiri dari 17 pasal

8 Desember 1947

Perundingan Renville. pihak Belanda ingin memaksakan kehendaknya dan tidak mempunyai niat
untuk mengakhiri pertikaian. Komisi Tiga Negara akhirnya menyampaikan usul-usul

17 Januari 1948

delegasi kedua negara yang bertikai kembali mengadakan pertemuan di atas Kapal USS Renville
untuk menandatangani persetujuan gencatan senjata dan prinsip-prinsip politik yang disaksikan
oleh KTN.

22 Desember 1948
PBB mengadakan siding darurat untuk menghentikan aksi militer Belanda yang pada akhirnya
menghasilkan sebuah resolusi

14 April 1949
Diadakan perundingan di Hotel Des Indes (Hotel Duta Merlin sekarang) antara RI dan Belanda

7 Mei 1949
tercapai persetujuan yang kemudian dikenal sebagai Persetujuan Roem-Royen atau Roem Royen
Statements.

19-22 Juli 1949


Republik Indonesia dan pihak BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) akhirnya mengadakan
pertemuan

31 Juli-2 Agustus 1949


Melanjutkan pertemuan. Pembicaraan dalam konferensi itu hampir seluruhnya mengenai
masalah pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)

14 Agustus 1949
pemerintah Republik Indonesia menetapkan delegasi yang akan menghadiri KMB

23 Agustus 2 November 1949


diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Bagi pemerintah Belanda,
kesediaannya untuk menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar tidak lain ingin segera
membentuk Negara Indonesia Serikat yang sudah lama dicita-citakannya.