Anda di halaman 1dari 23

makalah Pencairan Gas Alam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


LNG merupakan singkatan dari Liquefied Natural Gas atau bisa diartikan sebagai gas
alam yang dicairkan. Prinsip utama pencairan ini adalah menurunkan suhu gas dari 22 C
menjadi -160 C dengan proses pendinginan dan expansi pada temperatur rendah sekali yang
disebut cryogenic temperatur yaitu 160 C pada tekanan di bawah 1 atm.
Tujuan dari pencairan adalah untuk mempertinggi efesiensi pengangkutan dan
penyimpanan (Loading & Storage), karena volume gas sebelum dan sesudah dicairkan adalah
620:1 artinya kita akan mendapatkan 1 cuft LNG jika kita mencairkan gas alam sebanyak 620
cuft. Pada masa-masa lalu pemakaian gas alam sebagai sumber energi masih belum mendapat
perhatian karena kesulitan dalam pengangkutan dan penyimpanan.
LNG merupakan alternatif energi yang mempunyai prospek cukup baik dewasa ini,
karena hasil pembakarannya memiliki tingkat polusi yang rendah, efisiensi pembakarannya
cukup tinggi sehingga mudah dikontrol.
Bagi masyarakat Indonesia, LNG merupakan sumber daya alam yang potensial. Semula
sumber daya alam ini berbentuk endapan gas bumi sangat luas yang terpendam didalam perut
bumi. Kemudian gas bumi tersebut diproses menjadi bahan bakar cair. Tanpa LNG, gas bumi
yang berjumlah ratusan triliyun kaki kubik akan tetap terperangkap di dalam perut bumi.
Gas alam selain mengandung gas-gas hidrokarbon juga mengandung senyawa yang dapat
mengkontaminasi seperti gas CO2 dan H2S, N2 serta uap air dengan kadar CO 2 sebesar 19,2 %
volume dan uap air yang relatif besar dibandingkan H 2S sebesar 10 ppm dan N2 yang bernilai
trace.
Pada umumnya gas yang diperoleh dari lapangan atau dari perut bumi, masih
mengandung gas-gas atau materi lain yang tidak diinginkan tersebut, ini disebut impurities atau
zat pengotor. Gas CO2 dan H2S tergolong impurities yang sangat merugikan.
Seiring dengan menipisnya cadangan gas alam dari sumber ladang gas, maka kadar CO 2
dan H2S akan semakin tinggi. Oleh karena itu harus dilakukan upaya untuk meminimalisasikan
kandungan gas-gas tersebut dengan meningkatkan efisiensi proses penyerapan gas tersebut
dengan menggunakan larutan benfield.

1.2 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui proses pencairan gas alam.
2. Untuk mengetahui aplikasi dari hasil pencairan gas alam.
3. Untuk mengetahui alat-alat yang digunakan dalam proses pencairan gas alam.

1.3 Manfaat Penulisan


1. Dapat mengetahui proses dalam industri pencairan gas alam.
2. Dapat mengenal alat-alat dalam proses pencairan gas alam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gas Alam


Gas Alam atau yang sering disebut dengan gas bumi adalah bahan atau materi yang terdiri dari
fosil-fosil dan terbentuk dalam wujud gas. Gas alam dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi
dan juga tambang batu bara yang diambil dengan cara pengeboran (drilling). Komponen (utama ) dalam
gas alam yaitu metana 80-95%, etana 5-15%, propana dan butana <5%.
Gas alam juga merupakan campuran hidrokarbon ringan yang terbentuk secara alami
yang bercampur dengan beberapa senyawa non-hidrokarbon. Gas alam tak terasosiasi dihasilkan
dari cadangan yang tidak mengandung minyak (sumur kering). Di sisi lain, gas alam terasosiasi
bersinggungan dengan dan/atau terlarut dalam minyak bumi serta merupakan produk yang
dihasilkan bersama minyak. Komponen prinsip dari kebanyakan gas alam adalah metana.
Hidrokarbon parafinik berberat molekul lebih tinggi (C2-C7) biasanya ada dalam jumlah kecil
dalam campuran gas alam, dan kadarnya sangat bervariasi tergantung pada lapangan gas asalnya.
Gas alam tak-terasosiasi normalnya mengandung kadar metana lebih tinggi daripada gas alam
terasosiasi. Gas alam terasosiasi mengandung hidrokarbon lebih berat dengan kadar lebih tinggi.
Zat non-hidrokarbon dalam gas alam bervariasi dari satu lapangan gas ke
lapangan lainnya. Beberapa senyawa ini merupakan asam lemah, seperti hidrogen
sulfida dan karbon dioksida. Yang lain merupakan bahan inert, seperti nitrogen,
helium dan argon. Beberapa cadangan gas alam berisi cukup banyak helium untuk
diproduksi komersial.
Hidrokarbon berberat molekul lebih tinggi dalam gas alam merupakan bahan bakar dan
juga bahan baku kimia yang penting dan biasanya dihasilkan dalam bentuk cairan gas alam.
Sebagai contoh, etana mungkin dipisahkan untuk dipakai sebagai bahan baku perengkahan kukus
untuk memroduksi etilena. Propana dan butana diambil dari gas alam dan dijual sebagai gas
petroleum dicairkan (LPG). Sebelum gas alam digunakan ia harus diproses atau diolah untuk
Memisahkan zat pengotor dan mengambil hidrokarbon lebih berat (lebih berat dari
metana).

2.2 Proses Pengolahan Gas Alam


Gas alam mentah mengandung sejumlah karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan uap air
yang bervariasi. Adanya hidrogen sulfida dalam gas alam untuk konsumsi rumah tangga tidak
bisa ditoleransi karena sifat racunnya. Zat ini juga menyebabkan karat pada peralatan logam.
Karbon dioksida tidak diinginkan,
karena zat ini akan mengurangi nilai panas gas dan akan memadat pada tekanan tinggi dan
temperatur rendah yang dipakai pada pengangkutan gas alam. Untuk mendapatkan gas manis
atau gas alam kering, maka gas-gas asam harus diambil dan uap air dikurangi. Sebagai
tambahan, gas alam dengan sejumlah berarti hidrokarbon berat harus diolah untuk mendapatkan
cairan-cairan gas alamnya.
2.2.1 Proses Pengolahan Gas Alam Cair
Pencairan gas alam menjadi LNG/LPG bertujuan untuk memudahkan dalam
penyimpanan dan transportasi. Gas alam yang diolah di kilang LNG/LPG.
Proses awal yaitu Process Train adalah unit pengolahan gas alam hingga menjadi LNG
serta produk-produk lainnya (pencairan fraksi berat dari gas alam). Dalam pengolahan gas alam
di process train dilakukan proses pemurnian, pemisahan H2O dan Hg, serta pendinginan dan
penurunan tekanan secara bertahap hingga hasil akhir proses berupa LNG. Terdiri beberapa
tahapan yaitu:
Plant 1 - Gas Purification
Proses di Plant 1 adalah pemurnian gas dengan pemisahan kandungan CO2 (Karbon Dioksida)
dari gas alam. Kandungan CO2 tersebut harus dipisahkan agar tidak mengganggu proses
selanjutnya. Pemisahan CO2 dilakukan dengan proses absorbsi larutan Mono Ethanol Amine
(MEA), yang sekarang diganti dengan Methyl De Ethanol Amine (MDEA) produksi Ucarsol.
Proses ini dapat mengurangi CO2 sampai di bawah 50 ppm dari aliran gas alam. Batas
maksimum kandungan CO2 pada proses selanjutnya adalah 50 ppm.
Plant 2 - Gas Dehydration And Mercury Removal
Selain CO2, gas alam juga mengandung uap air (H2O) dan Mercury (Hg) yang akan
menghambat proses pencairan pada suhu rendah. Pada Plant 2, kandungan H2O dan Hg
dipisahkan dari gas alam. Kandungan H2O pada gas alam tersebut akan menjadi padat dan akan
menghambat pada proses pendinginan gas alam selanjutnya karena dapat menyumbat pipa dan
alat lainnya saat mengalami pembekuan, serta untuk mengurangi masalah karat dan mencegah
terbentuknya hidrat. Hidrat adalah senyawa padat berwarna putih yang terbentuk dari reaksi
kimia-fisik antara hidrokarbon dan air pada tekanan tinggi dan temperatur rendah yang
digunakan untuk mengangkut gas alam melalui jalur pipa. Hidrat mengurangi efisiensi jalur pipa.
Untuk mencegah pembentukan hidrat, gas alam bisa diolah dengan glikol, yang melarutkan air
secara efisien. Etilena glikol (EG), dietilena glikol (DEG), dan trietilena glikol (TEG) merupakan
contoh pelarut untuk pengambilan air. Trietilena glikol (TEG) lebih baik jika dipakai pada proses
fasa-uap karena tekanan uapnya yang rendah, yang mengakibatkan sedikit saja kehilangan glikol.
Absorber TEG normalnya berisi 6 hingga 12 nampan (tray) bubble-cap untuk melakukan proses
absorpsi air.
Cara lain untuk menghilangkan hidrat gas alam adalah dengan menyuntikkan metanol ke
dalam jalur gas untuk menurunkan temperatur pembentukan hidrat hingga di bawah temperatur
atmosfer. Air juga bisa dikurangi atau diambil dari gas alam dengan memakai adsorben padat
seperti saringan molekular atau gel silika.
Pemisahan kandungan H2O (Gas Dehydration) dilakukan dengan cara absorbsi
menggunakan molecullar sieve hingga kandungan H2O maksimum 0,5 ppm. Kandungan mercury
(Hg) pada gas alam tersebut jika terkena peralatan yang terbuat dari aluminium akan terbentuk
amalgam. Sedangkan tube pada Main Heat Exchanger 5E-1 yang merupakan alat pendingin dan
pencairan utama untuk memproduksi LNG adalah terbuat dari aluminium. Pemisahan kandungan
Hg (Mercury Removal) dilakukan dengan cara absorbsi menggunakan adsorben. Bed Mercury
Removal yang berisi Sulfur Impregnated Activated Charcoal dimana merkuri akan bereaksi
membentuk senyawa HgS, hingga kandungan Hg maksimum 0,1 ppm.
Plant 3 - Fractination
Sebelum gas alam didinginkan dan dicairkan pada Main Heat Exchanger 5E-1 pada suhu
yang sangat rendah hingga menjadi LNG, proses pemisahan (fractination) gas alam dari fraksi-
fraksi berat (C2, C3, ..., dst) perlu dilakukan. Proses fraksinasi tersebut dilakukan di Plant 3.
Pemisahan gas alam dari fraksi beratnya dilakukan pada Scrub Column 3C-1. Setelah dipisahkan
dari fraksi beratnya, gas alam didinginkan terlebih dahulu hingga temperatur sekitar -50C dan
selanjutnya diproses di Plant 5 untuk didinginkan lebih lanjut dan dicairkan. Sedangkan fraksi
beratnya dipisahkan lagi sesuai dengan titik didihnya dengan beberapa alat (Deethanizer,
Deprophanizer dan Debuthanizer) untuk mendapatkan prophane, buthane dan condensate.
Plant 4 - Refrigeration
Selain penurunan tekanan, proses pencairan gas alam dilakukan dengan menggunakan
sistem pendingin bertingkat. Bahan pendingin yang digunakan: Propane dan Multi Component
Refrigerant (MCR). MCR adalah campuran Nitrogen, Methane, Ethane, Prophane dan Buthane
yang digunakan untuk pendinginan akhir dalam proses pembuatan LNG. Plant 4 menyediakan
pendingin Prophane dan MCR. Baik prophane maupun MCR sebagai pendingin diperoleh dari
hasil sampingan pengolahan LNG.
Siklus Pendingin Prophane
Cairan prophane akan berubah fase menjadi gas prophane setelah temperaturnya naik
karena dipakai mendinginkan gas alam maupun MCR. Sesuai dengan kebutuhan pendinginan
bertingkat pada proses pengolahan LNG, kondisi cairan prophane yang dipakai pendinginan ada
3 tingkat untuk MCR dan 3 tingkat untuk gas alam. Gas prophane setelah dipakai untuk
pendinginan dikompresikan oleh Prophane Recycle Compresor 4K-1 untuk menaikkan
tekanannya, kemudian didinginkan oleh air laut, dan selanjutnya dicairkan dengan cara
penurunan tekanan. Demikian siklus pendingin propane diperoleh.
Siklus Pendingin MCR
Cairan MCR berubah fase menjadi gas MCR dengan kenaikan temperatur karena dipakai
pendinginan gas alam pada Main Heat Exchanger 5E-1. Gas MCR tersebut dikompresikan secara
seri oleh MCR First Stage Compresor 4K-2 dan MCR Second Stage Compressor 4K-3 untuk
menaikkan tekanannya. Pendinginan dengan air laut dilakukan pada interstage 4K-2 dan 4K-3
serta pada discharge 4K-3.
Plant 5 - Liquefaction
Pada Plant 5 dilakukan pendinginan dan pencairan gas alam setelah gas alam mengalami
pemurnian dari CO2, pengeringan dari kandungan H2O, pemisahan Hg serta pemisahan dari
fraksi beratnya dan pendinginan bertahap oleh prophane. Gas alam menjadi cair setelah keluar
dari Main Heat Exchanger 5E-1 dan peralatan lainnya selanjutnya ditransfer ke storage tank.
Diagram Alur dari Sebuah Proses Pengolahan Gas Alam
Aliran blok diagram di atas adalah konfigurasi umum untuk pengolahan gas alam mentah
dari non-associated gas well dan bagaimana gas alam mentah diolah menjadi gas jual kepada
end user atau pasar. Hasil pengolahan gas alam mentah dapat berupa :
1. Gas alam kondensat
2. Sulfur
3. Etana
4. Gas alam cair (NGL): propana, butana dan C5 + (istilah yang umum digunakan untuk pentana
ditambah dengan molekul hidrokarbon yang lebih tinggi)
Proses yang dijelaskan pada diagram di atas:
1. Gas alam mentah berasal dari beberapa sumur yang berdekatan, dikumpulkan dan proses
pengolahan pertama yang terjadi adalah proses menghilangkan kandungan air dan gas alam
kondensat. Hasil kondensasi biasanya dialirkan kilang minyak dan air dibuang sebagai waste
water.
2. Gas alam mentah kemudian dialirkan ke pabrik pengolahan di mana pemurnian awal
biasanya menghilangkan kandungan asam (H2S dan CO2). Proses yang dipakai pada umumnya
adalah Amine Treating yang biasa disebut Amine Plant.
3. Proses berikutnya adalah untuk menghilangkan uap air dengan menggunakan proses
penyerapan dalam trietilen glikol cair (TEG).
4. Proses berikutnya adalah untuk mengubah menjadi fase gas alam cair (NGL) yang
merupakan proses paling kompleks dan menggunakan pabrik pengolahan gas modern.

2.2.2 Pengolahan Gas Asam


Gas-gas asam dapat dikurangi atau diambil dengan satu atau beberapa cara
berikut:
1. Absorpsi fisik dengan memakai pelarut absorpsi selektif.
Proses komersial penting yang digunakan adalah proses Selexol, Sulfinol, dan Rectisol.
Pada proses-proses ini, tidak ada reaksi kimia yang terjadi antara gas
asam dan pelarutnya. Pelarutnya, atau absorben, adalah cairan yang selektif menyerap gas-gas
asam tetapi membiarkan hidrokarbonnya. Sebagai contoh, pada
proses Selexol, pelarutnya adalah dimetil eter dari polietilena glikol. Gas alam mentah
dilewatkan berlawanan arah melalui pelarut yang mengalir ke bawah. Ketika pelarut menjadi
jenuh dengan gas-gas asam, tekanannya diturunkan, sehingga hidrogen sulfida dan karbon
dioksida dilepaskan kembali. Pelarutnya kemudian didaur ulang ke menara absorpsi.

Gambar memperlihatkan proses Selexol


Proses Selexol untuk pengambilan gas asam: (1) absorber, (2) drum
flash, (3) kompresor, (4) drum tekanan-rendah, (5) stripper, (6) pendingin.
2. Adsorpsi fisik dengan memakai adsorben padat.
Pada proses ini, suatu padatan digunakan dengan luas permukaan besar.
Saringan molekular (zeolita) banyak dipakai karena bisa menyerap sejumlah besar
gas. Biasanya, lebih dari satu unggun adsorpsi dipakai untuk operasi sinambung. Satu unggun
digunakan sedangkan yang lainnya diregenerasi. Regenerasi dilakukan dengan melewatkan
bahan bakar panas melewati unggun.
Saringan molekular hanya bisa bersaing jika jumlah hidrogen sulfida dan karbon
disulfidanya rendah. Saringan molekular juga bisa menyerap air, bukan hanya gas asam.
3. Absorpsi kimia (Chemisorption) dengan memakai pelarut (suatu bahan kimia) yang bisa
bereaksi reversibel dengan gas-gas asam.
Proses ini dikenal akan kemampuannya yang tinggi dalam menyerap sejumlah besar gas-
gas asam. Proses ini memakai larutan basa yang relatif lemah, seperti monoetanolamina. Gas
asam akan membentuk ikatan lemah dengan basa ini yang kemudian bisa mudah diregenerasi.
Mono- dan dietanolamina sering digunakan pada proses ini. Konsentrasi amina biasanya pada
rentang 15 dan 30%. Gas alam dilewatkan melalui larutan amina sehingga membentuk sulfida,
karbonat, dan bikarbonat. Dietanolamina adalah pelarut yang lebih disukai karena laju karatnya
rendah, kemungkinan hilangnya amina lebih kecil, memerlukan utilitas lebih sedikit, dan
memerlukan dietanolamina tambahan yang minimal.4 Dietanolamina juga bereaksi reversibel
dengan 75% karbonil sulfida (COS), sedangkan mono- bereaksi irreversibel dengan 95% COS
serta membentuk produk penguraian yang mesti dibuang. Diglikolamina (DGA), adalah pelarut
amina lain yang digunakan dalam proses Econamina (Gbr. 1-2).4 Absorpsi gas-gas asam terjadi
dalam absorber yang berisi larutan DGA aqueous, dan larutan panas yang kaya (jenuh dengan
gas asam) dipompakan ke regenerator. Larutan diglikolamina memiliki titik beku yang rendah,
sehingga cocok untuk digunakan di daerah beriklim dingin. Larutan basa kuat merupakan pelarut
gas-gas asam yang efektif. Namun, larutan ini biasanya tidak dipakai untuk pengolahan gas alam
volume besar karena gas-gas asam ini membentuk garam stabil, yang tidak gampang
diregenerasi. Sebagai contoh, karbon dioksida dan hidrogen sulfida bereaksi dengan larutan
natrium hidroksida aqueous menghasilkan natrium karbonat dan natrium sulfida.
Namun, larutan basa kuat bisa digunakan untuk mengambil merkaptan dari
aliran gas dan cairan. Sebagai contoh, pada Proses Merox, pelarut kaustik yang mengandung
katalis seperti kobalt, yang dapat merubah merkaptan menjadi disulfida yang tak terlarut dalam
kaustik, dipakai untuk aliran yang kaya merkaptan setelah pengambilan H2S. Udara dipakai
untuk mengoksidasi merkaptan menjadi disulfida. Larutan kaustik kemudian didaur-ulang untuk
regenerasi.

2.3 Produk Gas Alam


1. LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG atau gas alam adalah gas hasil ekstraksi yang telah dipisahkan dari kandungan
metananya, komponen utamanya yaitu metana (CH4).

2. LPG (Liquefied Petrolium Gas)


LPG (Liquefied Petrolium Gas) atau gas minyak bumi yang dicairkan adalah campuran
dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam, komponen utamanya yaitu propana
(C3H8) dan butana (C4H10).

3. Dan lain sebagainya seperti: CNG, HSD, MFO, IFO


CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam terkompresi adalah alternatif bahan bakar
selain bensin atau solar, komponen utamanya yaitu metana (CH4).

2.4 Peyimpanan dan Transportasi Gas Alam


Pada dasarnya sistem transportasi gas alam meliputi:
1. Transportasi melalui pipa salur.
2. Transportasi dalam bentuk LNG (Liquefied Natural Gas) dengan kapal tanker LNG untuk
pengangkutan jarak jauh.
3. Transportasi dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas), di daratan dengan road tanker
sedangkan di laut dengan kapal tanker CNG, untuk pengangkutan jarak dekat dan menengah
(antar pulau).

2.5 Pemanfaatan Gas Alam


2.5.1 Sebagai bahan bakar, antara lain:
1. Bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Gas atauUap (PLTU).
2. Bahan bakar industri ringan, menengah dan berat.
3. Bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV).
4. Sebagai kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran dan sebagainya.
2.5.2 Sebagai bahan baku, antara lain;
1. bahan baku pabrik pupuk petrokimia dan metanol.
2. bahan baku plastik (LDPE, LLDPE, HDPE, PE, PVC)
3. industri besi tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan
2.5.3 Sebagai komoditas energi untuk ekspor, yakni Liquefied Natural Gas (LNG).

2.6 Jenis Sumur Gas Alam


Gas alam mentah terutama berasal dari salah satu dari tiga jenis sumur:
1. Sumur minyak mentah;
2. Sumur gas;
3. Sumur kondensat.
Gas alam yang keluar dari sumur minyak mentah biasanya disebut associated gas. Gas ini
ada sebagai gas di atas minyak mentah yang terbentuk didalam tanah, atau bisa saja larut dalam
minyak mentah. Gas alam yang keluar dari sumur gas dan sumur kondensat, di mana ada sedikit
atau bahkan tidak ada kandungan minyak mentah disebut non-associated gas. Sumur gas
biasanya hanya memproduksi gas alam mentah, sedangkan sumur kondensat menghasilkan gas
alam mentah bersama dengan hidrokarbon berat molekul rendah. Gas ini pada fase cair pada
kondisi ambien contoh pentana disebut sebagai gas alam kondensat (kadang-kadang juga disebut
bensin alami atau hanya kondensat). Gas alam bisa disebut sweet gas ketika relatif bebas dari
hidrogen sulfida, namun gas yang mengandung hidrogen sulfida disebut sour gas.
Gas alam mentah juga dapat berasal dari cadangan metana dalam pori-pori lapisan
batubara, dan terutama teradsorpsi ke permukaan batubara itu sendiri. Gas tersebut disebut
sebagai coalbed gas atau coalbed methane. Coalbed gas telah menjadi sumber energi penting di
akhir akhir ini.

2.7 Kontaminan dalam Gas Alam Mentah


Gas alam mentah utamanya terdiri dari metana (CH4), molekul hidrokarbon terpendek
dan paling ringan juga sejumlah:
1. Gas hidrokarbon yang lebih berat: etana (C2H6), propana (C3H8), butana normal (n-
C4H10), isobutana (i-C4H10), pentana dan bahkan hidrokarbon dengan berat molekul yang lebih
tinggi. Ketika diproses dan dimurnikan menjadi produk jadi, semua ini secara kolektif disebut
sebagai NGL (Cairan Gas Alam).
2. Gas asam: karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), methanethiol (CH3SH) dan
ethanethiol (C2H5SH).
3. Gas lain: nitrogen (N2) dan helium (He).
4. Uap air. Juga sebagai larutan garam dan gas terlarut (asam). Gas alam mentah harus
dimurnikan untuk memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh perusahaan pipa transmisi
utama dan distribusi . Standar kualitas bervariasi dari pipa ke pipa dan biasanya tergantung dari
desain sistem pipa dan pangsa pasar yang dilayaninya.

2.8 Sifat-Sifat Gas Alam


Gas alam yang diolah terutama mengandung metana; sifat keduanya (gas alam dan
metana) hampir serupa. Namun, gas alam bukanlah metana murni, dan sifatnya terpengaruh oleh
adanya zat pengotor, seperti N2 dan CO2 dan sejumlah kecil hidrokarbon lebih berat yang tak
terpisahkan. Salah satu sifat penting gas alam adalah nilai panasnya. Jumlah nitrogen atau karbon
dioksida yang relatif lebih tinggi akan menurunkan nilai panas gas tersebut. Metana murni
memiliki nilai panas 1.671 kJ/m3. Nilai ini turun menjadi hampir 1.490 kJ/m3 jika gas
mengandung sekitar 10% N2 dan CO2. (Nilai panas nitrogen atau karbon dioksida adalah nol.)
Pada sisi lain, nilai panas gas alam bisa melebihi metana karena adanya hidrokarbon berberat
molekul lebih tinggi, yang memiliki nilai panas lebih tinggi. Sebagai contoh, nilai panas etana
adalah 2.981 kJ/m3, bandingkan dengan 1.671 kJ/m3 untuk metana. Nilai panas hidrokarbon yang
biasanya terkandung dalam gas alam ditunjukkan pada Tabel 1-4.
Gas alam biasa dijual sesuai dengan nilai panasnya. Nilai panas satu produk gas
merupakan fungsi dari zat yang ada dalam campuran tersebut. Pada perdagangan gas alam, nilai
panas satu juta BTU (1,055 juta kJ) hampir sama dengan 1.000 ft3 (28,3 m3) gas alam.

BAB III
TUGAS KHUSUS

3.1 Prinsip Kerja Heat Exchanger


3.1.1 Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas
Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke
tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses,
panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan,
reaksi kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida
yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan
secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan
langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Pada umumnya perpindahan panas dapat
berlangsung melalui 3 cara yaitu secara konduksi, konveksi, dan radiasi.
a. Konduksi (hantaran)
Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang
satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara
fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul
benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya
dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat
maka akan memberikan panas.
Panas dipindahan sebagai energi kinetik dari suatu molekul ke molekul lainnya, tanpa
molekul tersebut berpindah tempat. Cara ini nyata sekali pada zat padat.
Daya hantar panas konduksi (k) tiap zat berbeda-beda. Daya hantar tinggi disebut
penghantar panas (konduktor panas) dan yang rendah adalah penyekat panas (isolator panas ).
Q = k * A * (T1-T2) / X
A : luas bidang perpindahan panas
X : Panjang jalan perpindahan panas(tebal)
q ; panas yang dipindahkan
b. Konveksi (aliran/edaran)
Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel atau zat
tersebut secara fisik.
Panas dipindahkan oleh molekul-molekul yang bergerak (mengalir). Oleh karena adanya
dorongan bergerak. Disini kecepatan gerakan (aliran) memegang peranan penting. Konveksi
hanya terjadi pada fluida
Q = h * A * (T2 T1)
h = koefisien perpindahan panas suatu lapisan fluida.
Q = panas yang dipindahkan
A = luas perpindahan panas
Dalam melaksanakan operasi perpindahan panas, perlu diperhitungkan:
jumlah panas yang dipindahkan (q)
perbedaan suhu (T)
tahanan terhadap perpindahan panas (R).
Persamaan utama yg menghubungkan besaran besaran diatas adalah::
q = A * (T2 T1) / R = U * A * (T2 T1)
q = jumlah panas yang dipindahkan
R = tahanan terhadap perpindahan panasU = 1/R = Koefisien perpindahan panas
keseluruhan, gabungan antara konduksi dan konveksi (k.W / m2. C )
Harga U atau R tergantung pada :
Jenis zat (daya hantar)
Kecepatan aliran
Ada tidaknya kerak.
c. Radiasi (pancaran)
Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat
dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan
pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi
panas jika terserap oleh benda yang lain.
Gambar 1. Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger
Panas dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan seperti ini tidak
memerlukan zat antara/media.
Q = . T4
Q = jumlah panas yang dipancarkan
T = suhu mutlak
= tetapan Stefan Boltzman, = 4,92 kkal / (jam. m2.K4 )

d. Hubungan U dengan k dan h


1/U = 1/ha + x/k + 1/hb
Atau
R = Ra + Rk + Rb
Adanya kotoran/endapan (kerak) akan memperbesar tahanan terhadap perpindahan panas
atau memperkecil U, sehingga persamaan menjadi:
1/U = R = Ra + Rk + Rb + Rf
Rf : tahanan karena fouling (kotoran)
e. Isolasi Panas
Mencegah kehilangan panas alat alat, pipa-pipa steam/gas yang bersuhu tinggi ke
sekeliling yang suhunya lebih rendah, atau sebaliknya.
Untuk alat-alat dengan suhu rendah, isolasi mencegah masuknya panas karena suhu
sekitarnya yang lebih tinggi.Isolasi juga mencegah bahaya yang dapat timbul bila orang
menyentuh permukaan benda yang panas atau dingin sekali.
Bahan Isolasi: - daya hantar panas rendah
- dapat menahan arus konveksi
- disesuaikan dengan suhuPermukaan datar: makin tebal, makin sedikit
panas yang hilang
f. Perbedaan Suhu Rata-rata
Dalam perpindahan panas perbedaan suhu mengendalikan laju pemindahan panas. Suhu
fluida dalam alat sering tidak tetap. Untuk perhitungan digunakan perbedaan suhu rata-rata.
(T2 t2) (T1 t1)
T = --------------------------
Ln (T2 - t2) / (T1 - t1)
Perbedaan suhu ini disebut perbedaan suhu rata-rata logaritma (log mean temperature
diffrence) disingkat LMTD
Q = U * A *( T) LMTD
Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua
fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun
tidak langsung.
a. Secara kontak langsung
panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan kontak
langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida. Transfer panas yang terjadi yaitu melalui
interfase / penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran steam pada kontak langsung yaitu 2
zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi
fluida.
b. Secara kontak tak langsung
Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding pemisah. Dalam
sistem ini, kedua fluida akan mengalir.
3.2 Jenis jenis Heat Exchanger
Ada beberapa jenis heat exchanger yang banyak digunakan dalam industri, yaitu:
a. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger )
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas
dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin
cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua
ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir
di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan
pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan
tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar
panas jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat exchanger ).
Gambar 2 . Penukar panas jenis pipa rangkap
(double pipe heat exchanger )

b. Penukar panas cangkang dan buluh ( shell and tube heat exchanger )
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan
secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu
mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang
sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang
menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat
penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat
turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun pemasangan
sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju
alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Gambar 3.Penukar panas jenis cangkang dan buluh


( shell and tube heat exchanger )
Tipe-tipe yang dikenal dari jenis heat exchanger ini adalah :
1. Fixed tube sheet
2. Floating tube sheet
3. Tipe pipa U
4. Tipe fixed tube sheet dengan sambungan (bagian) ekspansi pada shellnya.
Dengan heat exchanger jenis ini dapat diperoleh luas bidang perpindahan panas yang
besar dengan volume alat yang relative lebih kecil. Untuk pipa bisa dibuat dari berbagai jenis
bahan kontruksi, disesuaikan dengan alat sifat korosif fluida yang ditangani. Heat exchanger ini
dapat digunakan untuk pemanasan/penguapan dan pendinginan atau kondensasi segala macam
fluida.
1) Tubes
Pipa yang digunakan dalam heat exchanger bukanlah pipa pipa biasa, tetapi pipa-pipa
yang khusus dibuat untuk heat exchanger, dibuat dari berbagai material. Umumnya digunakan
pipa berukutran diameter luar inch atau 1 inch. Tetapi tersedia juga pipa-pipa dengan dengan
diameter luar1/4; 1,75; 1,50 inch. Tebal pipa dinyatakan dengan kode BWG (Birmingham Wire
Gauge). Makin besar bilangan BWG, makin tipis pipanya.
Misalnaya : untuk pipa 1 inch
BWG 8 mempunyai tebal 0,165 inch
BWG 10 mempunyai tebal 0,134 inch
BWG 16 mempunyai tebal 0,065 inch
Tersedia BWG mulai dari 8 sampai 18.
Tube terpasang pada tube sheet dengan pitch 1,25 DO (diameter luar). Formasi pipa
dapat membentuk segitiga atau bujur sangkar.
2) Shell
Biasanya digunakan baja karbon untuk ukuran kecil dapat digunakan pada standar baja
karbon. Untuk ukuranbesardibuat dari pelat yang di roll atau di- las. Untuk heat exchanger yang
tidak beroperasi pada tekanan tinggi biasa digunakan :
Tebal 3/8 in untuk diameter 13 in
Tebal 7/8 in untuk diameter 31 in
Sering diberi kelebihan 1/8 in untuk kemungkinan korosi.
3) Baffle
Dipasang dengan tujuan untuk mengarahkan aliran didalam shell, sehingga seluruh
bagian terkena aliran. Adanya baffle juga memperbesar dan membuat turbulen aliran sehingga
didapatkan koefisien perpindahan panas yang besar. Luas baffle lebih kurang 75% penampang
shell. Spasi antar baffle tidak lebih dekat dari 1/5 diameter shell, bila terlalu dekat alan didapat
kehilangan tekanan yang besar.
c. Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger )
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak lurus,
bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak
( biasanya terbuat dari karet ). Pelat pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat penekan
yang pada setiap sudut pelat 10 ( kebanyakan segi empat ) terdapat lubang pengalir fluida.
Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan
fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

Gambar 4. Penukar panas jenis pelat and Frame


d. SDAdiabatic wheel heat exchanger
Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang solid
untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas akan dirilis. Dua
contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan benang halus berputar
melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas cairan.

e. Pillow plate heat exchanger


Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk susu
pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal
memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh permukaan tangki, tanpa sela yang
akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan
lembaran tipis dari logam-spot dilas ke permukaan selembar tebal dari logam.
Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis
las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup untuk
menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan, menyediakan ruang untuk cairan
penukar panas mengalir, dan menciptakan penampilan yang karakteristik bantal membengkak
terbentuk dari logam.
f. Dynamic scraped surface heat exchanger
Tipe lain dari penukar panas disebut "(dinamis) besot permukaan heat exchanger". Ini
terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan tinggi viskositas produk, proses
kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling aplikasi. Kali berjalan panjang yang dicapai karena
terus menerus menggores permukaan, sehingga menghindari pengotoran dan mencapai
kecepatan transfer panas yang berkelanjutan selama proses tersebut.
g. Phase-change heat exchanger
Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar panas dapat
digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih) atau digunakan sebagai
kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke cairan. Pada pabrik kimia dan kilang,
reboilers digunakan untuk memanaskan umpan masuk untuk menara distilasi sering penukar
panas.
Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan uap
distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang digerakkan
turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air menjadi uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering disebut
boiler atau generator uap. Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang disebut reaktor air
bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas dari sistem (pabrik reaktor) primer
ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap.
Semua pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan
turbin memiliki kondensor permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke kondensat
(air) untuk digunakan kembali.
Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman lainnya,
penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari satu aliran yang perlu
didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti pendingin distilat dan pakan reboiler pra-
pemanasan.
Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan dalam
struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke fase cair karena
perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase efektif bertindak sebagai buffer
karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih memungkinkan untuk penukar panas untuk
menerima panas tambahan. Salah satu contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam
elektronik pesawat daya tinggi.
3. Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas
Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :
a. Counter current flow (aliran berlawanan arah)
b. Paralel flow/co current flow (aliran searah)
c. Cross flow (aliran silang)
d. Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

3.3 Komponen Heat Exchanger


Pemindahan panas dalam heat exchanger dilakukan dengan mengkontakkan dua fluida
melalui suatu bidang pemanas. Fluida pemanas atau pendingin berada dalam suatu jaket,
didalampipa atau diluar pipa. Luas bidang pemanas harus cukup (sesuai persamaan perpindahan
panas dan kebutuhan panas ). Adapun komponen-komponen dari heat exchanger antara lain:
1. Heat Exchanger (HE)
Alat untuk memanfaatkan panas suatu aliran fluida bagi pemanasan aliran fluida lainnya.
2. Heater
Untuk memanaskan (menaikkan suhu) suatu fluida proses. Sebagai pemanas
digunakan steam atau fluida panas lain yang ada.
3. Cooler
Untuk pendinginan (menurunkan suhu) suatu fluida proses. Sebagai pendingin digunakan
air, udara, atau fluida lain yg perlu dipanaskan.
4. Condensor
Pendingin (cooler) untuk mengembunkan (mengambil) panas latennya.
5. Evaporator
Untuk menguapkan air dari larutan dan memperoleh larutan pekat.
6. Vaporazer
Untuk menguapkan cairan/pelarut yang bukan air.
7. Reboiler
Penyediankan panas untuk menguapkan sebagian cairan, misalnya untuk distilasi,
absorpsi, stripping.
3.4 Aliran Multi Pass
Alir fluida dalam tube sering dibuat beberapa kali melewati shell. Dengan cara ini
penampang aliran dalam tube menjadi lebih kecil dan laju linier menjadi besar, sehingga
diperoleh koefisien perpindahan panas besar.
3.5 Aspek Operasi dan Pemeliharaan
Salah satu masalah utama dalam pemeliharaan HE adalah pengendapan kotoran (fouling)
pada permukaan bidang perpindahan panas. Hal ini menyebabkan peningkatan tahanan panas
( koef perpindahan panas mengecil). Fouling juga menambahntahanan terhadap aliran fluida.
Bertambahnya tambahan memperbesar beda suhu rata-rata(LMTD).
Endapan yang membentuk kerak pada suatu tempat dapat mengakibatkan pemanasan
(meningkatkan suhu) yang berlebihan pada suatu tempat dan dapat merusak pipa/tube (over
heating).
Biasanya shelland tube heat exchanger dirancangdengan luas bidang pemanas yang
berlebihan dari seharusnya sehingga penurunan koefisien perpindahan panas tidak langsung
mengakibatkan penyimpangan besar kinerja(performance) heat exchanger tersebut.
Bila fouling telah melewati harga tertentu ( kerak semakin tebal), kemampuan pelat/pipa
sudah tidak lagi sebagaimana disyaratkan. Sebelum hal ini terjadi , alat harus segera dihentikan
untuk dibersihkan keraknya.
Kinerja (kemampuan kerja) heat exchanger dapat dievaluasi dengan membuat neraca
panas. Untukm itu dikumpulkan data. Untuk memudahkan penetapan kapan penghentian harus
dilakukan, dapat dilakukan pengamatan perubahan LMTD dan kehilangan tekanan pada tube
(lihat grafik P atau T LMTD terhadap waktu. HE
Bila P dan / atau LMTD telah mencapai suatu harga tertentu, berarti fouling sudah cukup
banyak dan harus dihentikan untuk dibersihkan.
Tiap heat exchanger punya harga batasnya sendiri-sendiri yangb berlainan dan perlu
diamati untuk menetapkan jadwal pemvbersihan, operasi yang tepat (sesuai petunjuk yang
diberikan) akan memperpanjang selang waktu pembersihan dan umur heat exchanger.
Saat yang paling menentukan justru pada saat start Up dan shut down, pada saat ini
bisa terjadi kejutan panas (perubahan panas tiba-tiba) dan hantaran hidrolik yang dapat
menimbulkan tegangan berlebihan dan tidak seimbang yang dapat merusak sambungan-
sambungan, pipa, packing dan atau timbul kebocoran.
Laju alir dalam sehell yang terlalu besar (berlebihan dari seharusnya) dapat menimbulkan
vibnrasi (getaran) yang sangat membahayakan.

Gas alam
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Produksi gas alam dunia, warna coklat adalah produksi terbesar, diikuti warna
merah

Gas alam sering juga disebut sebagai gas Bumi atau gas rawa, adalah bahan bakar fosil
berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4). Ia dapat ditemukan di ladang minyak,
ladang gas Bumi dan juga tambang batu bara. Ketika gas yang kaya dengan metana diproduksi
melalui pembusukan oleh bakteri anaerobik dari bahan-bahan organik selain dari fosil, maka ia
disebut biogas. Sumber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir
sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan.

Daftar isi

1 Komposisi kimia

o 1.1 Kandungan energi


2 Peyimpanan dan transportasi

3 Pemanfaatan

4 Gas alam di Indonesia

5 Cadangan gas dunia

6 Referensi

Komposisi kimia
Komponen utama dalam gas alam adalah metana (CH4), yang merupakan molekul hidrokarbon
rantai terpendek dan teringan. Gas alam juga mengandung molekul-molekul hidrokarbon yang
lebih berat seperti etana (C2H6), propana (C3H8) dan butana (C4H10), selain juga gas-gas yang
mengandung sulfur (belerang). Gas alam juga merupakan sumber utama untuk sumber gas
helium.

Metana adalah gas rumah kaca yang dapat menciptakan pemanasan global ketika terlepas ke
atmosfer, dan umumnya dianggap sebagai polutan ketimbang sumber energi yang berguna.
Meskipun begitu, metana di atmosfer bereaksi dengan ozon, memproduksi karbon dioksida dan
air, sehingga efek rumah kaca dari metana yang terlepas ke udara relatif hanya berlangsung
sesaat. Sumber metana yang berasal dari makhluk hidup kebanyakan berasal dari rayap, ternak
(mamalia) dan pertanian (diperkirakan kadar emisinya sekitar 15, 75 dan 100 juta ton per tahun
secara berturut-turut).

Komponen %

Metana (CH4) 80-95

Etana (C2H6) 5-15

Propana (C3H8) and Butana (C4H10) <5

Nitrogen, helium, karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), dan air dapat juga terkandung
di dalam gas alam. Merkuri dapat juga terkandung dalam jumlah kecil. Komposisi gas alam
bervariasi sesuai dengan sumber ladang gasnya.

Campuran organosulfur dan hidrogen sulfida adalah kontaminan (pengotor) utama dari gas yang
harus dipisahkan . Gas dengan jumlah pengotor sulfur yang signifikan dinamakan sour gas dan
sering disebut juga sebagai "acid gas (gas asam)". Gas alam yang telah diproses dan akan dijual
bersifat tidak berasa dan tidak berbau. Akan tetapi, sebelum gas tersebut didistribusikan ke
pengguna akhir, biasanya gas tersebut diberi bau dengan menambahkan thiol, agar dapat
terdeteksi bila terjadi kebocoran gas. Gas alam yang telah diproses itu sendiri sebenarnya tidak
berbahaya, akan tetapi gas alam tanpa proses dapat menyebabkan tercekiknya pernapasan karena
ia dapat mengurangi kandungan oksigen di udara pada level yang dapat membahayakan.

Gas alam dapat berbahaya karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan menimbulkan
ledakan. Gas alam lebih ringan dari udara, sehingga cenderung mudah tersebar di atmosfer. Akan
tetapi bila ia berada dalam ruang tertutup, seperti dalam rumah, konsentrasi gas dapat mencapai
titik campuran yang mudah meledak, yang jika tersulut api, dapat menyebabkan ledakan yang
dapat menghancurkan bangunan. Kandungan metana yang berbahaya di udara adalah antara 5%
hingga 15%.

Ledakan untuk gas alam terkompresi di kendaraan, umumnya tidak mengkhawatirkan karena
sifatnya yang lebih ringan, dan konsentrasi yang di luar rentang 5 - 15% yang dapat
menimbulkan ledakan.

Kandungan energi

Pembakaran satu meter kubik gas alam komersial menghasilkan 38 MJ (10.6 kWh).

Peyimpanan dan transportasi

Polyethylene gas main being laid in a trench.

Metode penyimpanan gas alam dilakukan dengan "Natural Gas Underground Storage", yakni
suatu ruangan raksasa di bawah tanah yang lazim disebut sebagai "salt dome" yakni kubah-kubah
di bawah tanah yang terjadi dari reservoir sumber-sumber gas alam yang telah depleted. Hal ini
sangat tepat untuk negeri 4 musim. Pada musim panas saat pemakaian gas untuk pemanas jauh
berkurang (low demand), gas alam diinjeksikan melalui kompresor-kompresor gas kedalam
kubah di dalam tanah tersebut. Pada musim dingin, di mana terjadi kebutuhan yang sangat
signifikan, gas alam yang disimpan di dalam kubah bawah tanah dikeluarkan untuk disalurkan
kepada konsumen yang membutuhkan. Bagi perusahaan (operator) penyedia gas alam, cara ini
sangat membantu untuk menjaga stabilitas operasional pasokan gas alam melalui jaringan pipa
gas alam.

Pada dasarnya sistem transportasi gas alam meliputi :

Transportasi melalui pipa salur.

Transportasi dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG) dengan kapal tanker
LNG untuk pengangkutan jarak jauh.

Transportasi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG), baik di daratan


dengan road tanker maupun dengan kapal tanker CNG di laut, untuk jarak
dekat dan menengah (antar pulau).

Di Indonesia, Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Hilir Migas) telah menyusun Master Plan
"Sistem Jaringan Induk Transmisi Gas Nasional Terpadu". Dalam waktu yang tidak lama lagi
sistem jaringan pipa gas alam akan membentang sambung menyambung dari Aceh-Sumatera
Utara-Sumatera Tengah-Sumatera Selatan-Jawa-Sulawesi dan Kalimantan. Saat ini jaringan pipa
gas di Indonesia dimiliki oleh PERTAMINA dan PGN dan masih terlokalisir terpisah-pisah pada
daerah-daerah tertentu, misalnya di Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Timur.

Carrier LNG dapat digunakan untuk mentransportasi gas alam cair (liquefied natural gas, LNG)
menyebrangi samudra, sedangkan truk tangki dapat membawa gasa alam cair atau gas alam
terkompresi (compressed natural gas, CNG) dalam jarak dekat. Mereka dapat mentransportasi
gas alam secara langsung ke pengguna-akhir atau ke titik distribusi, seperti jalur pipa untuk
transportasi lebih lanjut. Hal ini masih membutuhkan biaya yang besar untuk fasilitas tambahan
untuk pencairan gas atau kompresi di titik produksi, dan penggasan atau dekompresi di titik
pengguna-akhir atau ke jalur pipa.

Pemanfaatan
Secara garis besar pemanfaatan gas alam dibagi atas 3 kelompok yaitu :

Gas alam sebagai bahan bakar, antara lain sebagai bahan bakar Pembangkit
Listrik Tenaga Gas/Uap, bahan bakar industri ringan, menengah dan berat,
bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV), sebagai gas kota untuk
kebutuhan rumah tangga hotel, restoran dan sebagainya.

Gas alam sebagai bahan baku, antara lain bahan baku pabrik pupuk,
petrokimia, metanol, bahan baku plastik (LDPE = low density polyethylene,
LLDPE = linear low density polyethylene, HDPE = high density polyethylen,
PE= poly ethylene, PVC=poly vinyl chloride, C3 dan C4-nya untuk LPG, CO2-
nya untuk soft drink, dry ice pengawet makanan, hujan buatan, industri besi
tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan.
Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor, yakni Liquefied Natural
Gas (LNG.

Teknologi mutakhir juga telah dapat memanfaatkan gas alam untuk air conditioner
(AC=penyejuk udara), seperti yang digunakan di bandara Bangkok, Thailand dan beberapa
bangunan gedung perguruan tinggi di Australia.

Gas alam di Indonesia


Pemanfaatan gas alam di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an di mana produksi gas alam dari
ladang gas alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo, Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas ke
pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang. Perkembangan pemanfaatan gas
alam di Indonesia meningkat pesat sejak tahun 1974, di mana PERTAMINA mulai memasok gas
alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di Prabumulih, Sumatera Selatan ke pabrik pupuk
Pusri II, Pusri III dan Pusri IV di Palembang. Karena sudah terlalu tua dan tidak efisien, pada
tahun 1993 Pusri IA ditutup,dan digantikan oleh Pusri IB yang dibangun oleh putera-puteri
bangsa Indonesia sendiri. Pada masa itu Pusri IB merupakan pabrik pupuk paling modern di
kawasan Asia, karena menggunakan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada waktu yang
bersamaan, 1974, PERTAMINA juga memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam
di lepas pantai (off shore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk pabrik pupuk dan industri
menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan Cilegon Banten. Pipa gas alam yang
membentang dari kawasan Cirebon menuju Cilegon, Banten memasok gas alam antara lain ke
pabrik semen, pabrik pupuk, pabrik keramik, pabrik baja dan pembangkit listrik tenaga gas dan
uap.

Selain untuk kebutuhan dalam negeri, gas alam di Indonesia juga di ekspor dalam bentuk LNG
(Liquefied Natural Gas)

Salah satu daerah penghasil gas alam terbesar di Indonesia adalah Aceh. Sumber gas alam yang
terdapat di daerah Kota Lhokseumawe dikelola oleh PT Arun NGL Company. Gas alam telah
diproduksikan sejak tahun 1979 dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Selain itu di Krueng
Geukuh, Nanggre Aceh Barh (kabupaten Aceh Utara) juga terdapat PT Pupuk Iskandar Muda
pabrik pupuk urea, dengan bahan baku dari gas alam.

Cadangan gas dunia


Total cadangan dunia (yang sudah dikonfirmasi) adalah 6,112 triliun kaki kubik. Daftar 20 besar
negara dengan cadangan gas terbesar dalam satuan triliun kaki kubik (trillion cu ft) adalah:[1]

1. Rusia =1,680

2. Iran =971

3. Qatar =911

4. Arab Saudi =241


5. United Arab Emirates =214

6. Amerika Serikat =193

7. Nigeria =185

8. Aljazair =161

9. Venezuela =151

10.Irak =112

11.Indonesia =98

12.Norwegia =84

13.Malaysia =75

14.Turkmenistan =71

15.Uzbekistan =66

16.Kazakhstan =65

17.Belanda =62

18.Mesir =59

19.Kanada =57

20.Kuwait =56

Total cadangan 20 negara di atas adalah 5,510 triliun kaki persegi dan total cadangan negara-
negara di luar 20 besar di atas adalah 602 triliun kaki persegi.

Daftar ladang gas terbesar dalam satuan (*109 m):

1. Asalouyeh, South Pars Gas Field (10000 - 15000)

2. Urengoy gas field (10000)

3. Shtokman field (3200)

4. Karachaganak field, Kazakhstan (1800)

5. Slochteren (1500)

6. Troll (1325)
7. Greater Gorgon (1100)

8. Shah Deniz gas field (800)

9. Tangguh gas field , Indonesia (500)

10.Sakhalin-I (485)

11.Ormen Lange (400)

12.Jonah Field (300)

13.Snhvit (140)

14.Barnett Shale (60 - 900)

15.Maui gas field (?)

Referensi

1. ^ Daftar 20 negara dengan cadangan gas alam terbesar