Anda di halaman 1dari 28

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

BAB I

PENDAHULUAN

Rubella (German measles) menjadi terkenal karena sifat teratogeniknya. Rubella merupakan suatu penyakit virus yang umumnya pada anak dan dewasa muda, yang ditandai oleh suatu masa prodormal yang pendek, pembesaran kelenjar getah bening servikal suboksipital dan postaurikular, disertai erupsi yang berlangsung 2- 3 hari. 1

Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat terjadi infeksi berat disertai kelainan sendi dan purpura. Kelainan prenatal akibat rubella pada kehamilan muda dilaporkan dapat mengakibatkan abortus, bayi lahir mati dan menimbulkan kelainan kongenital yang berat pada janin. Sindrom rubella kongential merupakan penyakit yang sangat menular, mengenai banyak organ dalam tubuh dengan gejala klinis yang luas. Hingga saat ini penyakit rubella masih merupakan masalah dan terus diusahakan eliminasinya. 1 Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili Togaviridae. Virus dapat diisolasi dari biakan jaringan penderita. Secara fisikokimiawi virus ini sama dengan anggota virus lain dari famili tersebut, tetapi virus rubella secara serologik berbeda. Pada waktu terdapat gejala klinis virus lain ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin. Virus rubella hanya menjangkiti manusia saja. 1

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Rubella atau campak jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rubella. Pada anak-anak, infeksi biasanya hanya menimbulkan sedikit keluhan

atau tanpa gejala. Infeksi pada orang dewasa dapat menimbulkan keluhan demam,

sakit kepala, lemas dan konjungtivitis. Tujuh puluh persen kasus infeksi rubella di

orang dewasa menyebabkan terjadinya atralgi atau artritis. Jika infeksi virus rubella terjadi pada kehamilan, khususnya trimester

pertama sering menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS). CRS mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir mati, prematur dan cacat apabila

bayi tetap hidup. 2,3 CRS merupakan gabungan beberapa keabnormalan fisik yang

berkembang pada bayi sebagai akibat infeksi virus rubella maternal yang berlanjut dalam fetus. Nama lain CRS ialah Fetal Rubella Syndrome. Cacat bawaan (Congenital defect) yang paling sering dijumpai ialah tuli sensorineural, kerusakan mata seperti katarak, gangguan kardiovaskular dan retardasi mental. 4,5

2.2. Virus Rubella

Struktur Virus Virus rubella diasingkan pertama kali pada tahun 1962 oleh Parkman dan Weller. 2 Rubella merupakan virus RNA yang termasuk dalam genus Rubivirus, famili

Togaviridae dengan jenis antigen tunggal yang tidak dapat bereaksi silang dengan sejumlah grup Togavirus lainnya. Virus rubella memiliki 3 protein struktural utama yaitu 2 glycoprotein envelope, E1 dan E2 dan 1 protein nukleokapsid. Secara morfologi, virus rubella berbentuk bulat (sferis) dengan diameter 60–70

mm dan memiliki inti nukleoprotein padat, dikelilingi oleh dua lapis lipid yang mengandung glycoprotein E1 dan E2.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Virus rubella dapat dihancurkan oleh proteinase, pelarut lemak, formalin, sinar ultraviolet, PH rendah, panas dan amantadine tetapi relatif rentan terhadap pembekuan, pencairan atau sonikasi. 3,4,5 Virus Rubella (VR) terdiri atas dua subunit struktur besar, satu berkaitan dengan envelope virus dan yang lainnya berkaitan dengan nucleoprotein core. 6

dan yang lainnya berkaitan dengan nucleoprotein core. 6 Gambar 1. Virus Rubella terdiri dari lapisan glycoprotein,

Gambar 1. Virus Rubella terdiri dari lapisan glycoprotein, lemak dan inti dengan RNA. 7

Isolasi dan Identifikasi Meskipun virus rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur) sel, infeksi virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode serologis yang cepat dan praktis. Berbagai jenis jaringan, khususnya ginjal kera paling baik digunakan untuk mengasingkan virus, karena dapat menghasilkan level virus yang lebih tinggi dan secara umum lebih baik untuk menghasilkan antigen. Pertumbuhan virus tidak dapat dilakukan pada telur, tikus dan kelinci dewasa. 7,8

Antigenisitas Virus rubella memiliki sebuah hemaglutinin yang berkaitan dengan pembungkus virus dan dapat bereaksi dengan sel darah merah anak ayam yang baru lahir, kambing dan burung merpati pada suhu 4 o C dan 25 o C dan bukan pada suhu 37 o C. Baik sel darah merah maupun serum penderita yang terinfeksi virus rubella memiliki sebuah non-spesifik b-lipoprotein inhibitor terhadap hemaglutinasi. Aktivitas komplemen berhubungan secara primer dengan envelope, meskipun

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

beberapa aktivitas juga berhubungan dengan nucleoprotein core. Baik hemaglutinasi maupun antigen complement-fixing dapat terdeteksi melalui pemeriksaan serologis. 7,8

Replikasi Virus Virus rubella mengalami replikasi di dalam sel inang. Siklus replikasi yang umum terjadi dalam proses yang bertingkat terdiri dari tahapan :

1. Perlekatan

2. Penetrasi

3. Uncoating

4. Biosintesis

5. Pematangan dan pelepasan

Meskipun ini merupakan siklus yang umum, tetapi akan terjadi beberapa ragam siklus dan bergantung pada jenis asam nukleat virus. 7 Tahap perlekatan terjadi ketika permukaan virion, atau partikel virus

terikat di penerima (reseptor) sel inang. Perlekatan reversible virion agar terjadi infeksi dan virus masuk ke dalam sel inang. Proses ini melibatkan beberapa mekanisme, yaitu: 7

1. Penggabungan envelope virus dengan membran sel inang (host)

2. Masuk langsung ke dalam membran

3. Interaksi dengan tempat penerima membran sel

4. Viropexis atau fagositosis

Setelah memasuki sel inang, asam nukleat virus harus sudah terlepas dari pembungkusnya/kapsulnya (uncoating). Proses uncoating ini terjadi di permukaan sel dalam virus. Secara umum, ini merupakan proses enzimatis yang menggunakan pre-existing ensim lisosomal atau melibatkan pembentukan ensim yang baru. Setelah proses uncoating, maka biosintesis asam nukleat dan beberapa protein virus merupakan hal yang sangat penting. Sintesis virus terjadi baik di dalam inti maupun di dalam sitoplasma sel inang, bergantung dari jenis asam

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

nukleat virus dan kelompok virus. Pada virus RNA, seperti Virus Rubella, sintesis ini terjadi di dalam sitoplasma, sedangkan pada kebanyakan virus DNA, asam nukleat virus bereplikasi di inti sel inang sedangkan protein virus mengalami replikasi pada sitoplasma. Tahap terakhir replikasi virus yaitu proses pematangan partikel virus. Partikel yang telah matang ini kemudian dilepaskan dengan bertunas melalui membrane sel atau melalui lisis sel. 7,8

2.3. Epidemiologi Rubella terdistribusi secara luas di dunia. Epidemi terjadi dengan interval 5-7 tahun (6-9 tahun), paling sering timbul pada musim semi dan terutama mengenai anak serta dewasa muda. Pada manusia virus ditularkan secara oral droplet dan melalui plasenta pada infeksi kongenital. Sebelum ada vaksinasi, angka kejadian tertinggi terdapat pada anak usia 5-14 tahun. Dewasa ini kebanyakan kasus terjadi pada remaja dan dewasa muda. 1 Kelainan pada fetus mencapai 30% akibat infeksi rubella pada ibu hamil selama minggu pertama kehamilan. Risiko kelainan pada fetus tertinggi (50-60%) terjadi pada bulan pertama dan menurun menjadi 4-5% pada bulan keempat kehamilan ibu. Survey di Inggris (1970-1974) menunjukkan insidens infeksi fetus sebesar 53% dengan rubella klinis dan hanya 19% yang subklinis. Sekitar 85% bayi terinfeksi rubella kongential mengalami defek. 1

85% bayi terinfeksi rubella kongential mengalami defek. 1 Gambar 2. Angka kejadian penyakit rubella dan CRS

Gambar 2. Angka kejadian penyakit rubella dan CRS di Amerika Serikat tahun 1980-1996. 3

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

2.4. Pathogenesis Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami replikasi di nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening. Viremia terjadi antara hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah terpajan virus rubella. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul erupsi di kulit. Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat menular ke orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita. Masa inkubasi virus rubella berkisar antara 14–21 hari. Masa penularan seminggu sebelum dan empat hari setelah permulaan (onset) ruam (rash). Pada episode ini, virus rubella sangat menular. 2,3,7,8 Daya tular tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi. Selain dari darah dan sekret nasofaring, virus rubella telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan serebrospinal, ASI, cairan synovial dan paru. 1

Patogenesis Congenital Rubella Syndrome (CRS) Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia berlangsung. Infeksi rubella menyebabkan kerusakan janin karena proses pembelahan terhambat. Dalam sekret faring dan air kemih (urin) bayi dengan CRS, terdapat virus rubella dalam jumlah banyak yang dapat menginfeksi bila bersentuhan langsung. Virus dalam tubuh bayi dengan CRS dapat bertahan hingga beberapa bulan atau kurang dari 1 tahun setelah kelahiran. 2,3,8 Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. Infeksi plasenta terjadi selama viremia ibu, menyebabkan daerah (area) nekrosis yang tersebar secara fokal di epitel vili korealis dan sel endotel kapiler. Sel ini mengalami deskuamasi ke dalam lumen pembuluh darah, mengindikasikan bahwa virus rubella ditransfer ke dalam sirkulasi janin sebagai emboli sel endotel yang terinfeksi. Hal ini selanjutnya mengakibatkan infeksi dan kerusakan organ janin. Selama kehamilan muda mekanisme pertahanan janin belum matang dan

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

gambaran khas embriopati pada awal kehamilan adalah terjadinya nekrosis seluler tanpa disertai tanda peradangan. 2,3,8 Sel yang terinfeksi virus rubella memiliki umur yang pendek. Organ janin dan bayi yang terinfeksi memiliki jumlah sel yang lebih rendah daripada bayi yang sehat. Virus rubella juga dapat memacu terjadinya kerusakan dengan cara apoptosis. Jika infeksi maternal terjadi setelah trimester pertama kehamilan, frekuensi dan beratnya derajat kerusakan janin menurun secara drastis. Perbedaan ini terjadi karena janin terlindung oleh perkembangan progresif respon imun janin, baik yang bersifat humoral maupun seluler dan adanya antibodi maternal yang ditransfer secara pasif. 2,3,8

2.5. Manifestasi Klinis Masa Inkubasi Masa Inkubasi berkisar antara 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17-21 hari. 1

Masa Prodromal Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya, jarang disertai gejala dan tanda pada masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rhinitis, batuk dan limfadenopati. Gejala ini segera menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala dan tanda prodromal biasanya mendahului erupsi di kulit 1-5 hari sebelumnya. 1 Pada beberapa penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama dan bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari pertama erupsi, timbul eksantema, Forschheimer spot, yaitu macula atau petekia pada palatum molle, bisa saling merengkuh sampai seluruh permukaan faucia. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurikular dan servikal disertai nyeri tekan. 1

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Masa Eksantema Seperti pada rubeola, eksantema mulai retroaurikular atau pada muka dan dengan cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. Mula-mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang dengan cepat meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbilliform. Pada hari kedua eksantema di muka menghilang, diikuti hari ketiga di tubuh dan hari keempat di anggota gerak. Pada 40% kasus infeksi rubella terjadi tanpa eksantema. Meskipun sangat jarang, dapat terjadi deskuamasi posteksantematik. 1 Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubella. Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening berlangsung selama 5-8 hari. Pada penyakit rubella yang tidak mengalami penyulit sebagian besar penderita sudah dapat bekerja seperti biasa pada hari ketiga. Pada sebagian kecil penderita masih terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari. 1

nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari. 1 Gambar 3. Manifestasi klinis rubella 2.6.
nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari. 1 Gambar 3. Manifestasi klinis rubella 2.6.

Gambar 3. Manifestasi klinis rubella

2.6. Resiko terjadinya Congenital Rubella Syndrome pada Kehamilan Infeksi pada Trimester Pertama Kisaran kelainan berhubungan dengan umur kehamilan. Risiko terjadinya kerusakan apabila infeksi terjadi pada trimester pertama kehamilan mencapai 80– 90%. Virus rubella terus mengalami replikasi dan diekskresi oleh janin dengan

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

CRS dan hal ini mengakibatkan infeksi pada kontak yang rentan. Gambaran klinis CRS diklasifikasikan menjadi :

1. Transient

2. Delayed onset

3. Permanent

Kelainan pertumbuhan seperti ketulian mungkin tidak akan muncul selama beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi akan muncul pada waktu yang tidak tentu. Kelainan kardiovaskuler seperti periapan (proliferasi) dan kerusakan lapisan seluruh (integral) pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan yang membuntu (obstruktif) arteri berukuran medium dan besar dalam sistem sirkulasi pulmoner dan sistemik. Ketulian yang terjadi pada bayi dengan CRS tidak diperkirakan sebelumnya. Metode untuk mengetahui adanya kehilangan pendengaran janin seperti pemancaran (emisi) otoakustik dan auditory brain stem responses saat ini dikerjakan untuk menyaring bayi yang berisiko dan akan mencegah kelainan pendengaran lebih awal, juga saat neonatus. Peralatan ini mahal dan tidak dapat digunakan di luar laboratorium. Kekurangan inilah yang sering terjadi di negara berkembang tempat CRS paling sering terjadi. Kelainan mata dapat berupa afakia glaukoma setelah dilakukan aspirasi katarak dan neovaskularisasi retina merupakan manifestasi klinis lambat CRS. Delayed-onset CRS yang paling sering adalah terjadinya diabetes mellitus tipe 1. Penelitian lanjutan di Australia terhadap anak yang lahir pada tahun 1934 sampai 1941, menunjukkan bahwa sekitar 20% diantaranya menjadi penderita diabetes pada dekade ketiga kehidupan mereka. 2,3

Infeksi setelah Trimester Pertama Virus rubella dapat diisolasi dari ibu yang mendapatkan infeksi setelah trimester pertama kehamilan. Penelitian serologis menunjukkan sepertiga dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus rubella pada umur 16–20 minggu memiliki IgM spesifik rubella saat lahir. Penelitian di negara lain menunjukkan bahwa infeksi

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

maternal diperoleh usia 13–20 minggu kehamilan dan dari bayi yang menderita kelainan akibat infeksi virus rubella terdapat 16–18%, tetapi setelah periode ini insidennya kurang dari 12%. Ketulian dan retinopati sering merupakan gejala tunggal infeksi bawaan (congenital) meski retinopati secara umum tidak menimbukan kebutaan. 2,3

retinopati secara umum tidak menimbukan kebutaan. 2 , 3 Gambar 4. Defect dan manifestasi klinis CRS

Gambar 4. Defect dan manifestasi klinis CRS sesuai umur kehamilan. 2,3

Infeksi yang terjadi sebelum konsepsi. Dalam laporan kasus perorangan (individual), infeksi virus rubella yang terjadi sebelum konsepsi, telah merangsang terjadinya infeksi bawaan. Penelitian prospektif lain yang dilakukan di Inggris dan Jerman, yang melibatkan 38 bayi yang lahir dari ibu yang menderita ruam sebelum masa konsepsi, virus rubella tidak ditransmisikan kepada janin. Semua bayi tersebut tidak terbukti secara serologis terserang infeksi virus ini, berbeda dengan 10 bayi yang ibunya menderita ruam antara 3 dan 6 minggu setelah menstruasi terakhir. 2,3

Reinfeksi Reinfeksi oleh rubella lebih sering terjadi setelah diberikan vaksinasi daripada yang didapat infeksi secara alami. Reinfeksi secara umum asimtomatik dan diketahui melalui pemeriksaan serologis terhadap ibu yang pernah kontak dengan

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

rubella. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko terjadinya reinfeksi selama trimester pertama hanya 5–10%. Antibodi terhadap virus rubella muncul setelah ruam mulai menghilang, dengan ditemukannya kadar IgG dam IgM. Antibodi IgG terdapat dalam tubuh selama hidup, sedangkan IgM antibodi biasanya menurun setelah 4 hingga lima 5 minggu. Infeksi fetal biasanya disertai transfer plasental dari IgG ibu. Sebagai tambahan, kadar IgM fetal dihasilkan oleh midgesation. Kadar IgM secara umum meningkat saat kelahiran bayi yang terinfeksi. Upaya skrining terhadap infeksi bawaan dapat dilakukan dengan menghitung kadar IgM. 7,9 Meski reinfeksi dapat terjadi, tetapi biasanya asimtomatik dan dapat ditemukan peningkatan IgG. Viremia ditemukan di sukarelawan dengan kadar titer rubella rendah setelah mendapatkan vaksinasi rubella. Hal ini menandakan bahwa viremia juga dapat terjadi pada saat reinfeksi. Meskipun beberapa penelitian menyebutkan bahwa vaksin virus rubella dapat melalui barier plasenta dan dapat menginfeksi janin selama kehamilan muda, tetapi risiko terjadinya kelainan bawaan akibat vaksinasi rendah sampai tidak ada sama sekali. 7,9

vaksinasi rendah sampai tidak ada sama sekali. 7 , 9 Gambar 5. Respon antibodi janin yang

Gambar 5. Respon antibodi janin yang terinfeksi virus rubella secara bawaan. 7

2.7. Rubella Kongenital Pengertian Rubela kongenital adalah infeksi transplasenta pada janin dengan rubella, biasanya pada kehamilan trimester pertama, rubella kongenital disebabkan oleh infeksi maternal. Rubella kongenital adalah suatu infeksi oleh

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

virus penyebab rubella (campak jerman) yang terjadi ketika bayi berada dalam kandungan dan bisa menyebabkan cacat bawaan. Rubella kongenital adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan infeksi kronik intrauterine dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Selama infeksi wanita hamil, virus rubella dapat menimbulkan infeksi pada janin melalui plasenta. Akibatnya janin meninggal dalam kandungan atau lahir dengan rubella kongenital. Bayi yang menderita infeksi kronik (infeksi dalam kandungan) merupakan sumber penularan bagi orang sekitarnya. Kita harus mewaspadai Rubela kongenital pada saat wanita hamil, karena resiko tertularnya janin yang dikandung oleh ibu terinfeksi rubella bervariasi, tergantung kapan ibu terinfeksi.

Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90%.

Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20%.

Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100% jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu. Pada waktu mengalami infeksi rubella sebagian ibu hamil (50%) tidak menunjukkan gejala atau tanda klinis. Meskipun demikian virus dapat

menimbulkan infeksi pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang mana virus itu menyerang banyak organ dan jaringan. Rubella pada ibu dapat menimbulkan berbagai kemungkinan di janinnya, yaitu : 1

1. Non-infeksi

2. Infeksi tanpa kelainan apapun

3. Infeksi dengan kelainan kongenital

4. Resorpsi embrio

5. Abortus

6. Kelahiran mati

Bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita rubella pada trimester pertama bisa terkena sindrom rubella kongenital, yaitu trias anomaly kongenital : 1

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

1. Pada mata (katarak, mikroftalmia, glaucoma, retinopati)

2. Telinga (ketulian)

3. Defek jantung (stenosis arteri pulmunalis, patent ductus arteriosus,

ventricle septal defect) Kerusakan jantung dan mata terjadi pada infeksi embrio yang berumur kurang dari 6 minggu, sedangkan ketulian dan defek mental terjadi pada semua embrio yang berumur sampai kira-kira 16 minggu. Selain itu dapat terjadi kelainan susunan saraf pusat dan gigi. Manifestasi lainnya adalah glaukoma, mikrosefali dan berbagai kelainan visceral. Manifestasi umum rubella kongenital pada waktu lahir adalah retardasi pertumbuhan dan psikomotorik. Antara 50-85% dari semua bayi beratnya kurang dari 2.500 gram, setelah lahir pertumbuhannya pun akan terhambat (growth retardation). Angka kematian bayi dengan rubella kongenital pada tahun pertama tinggi. Kematian dapat disebabkan karena gagal pertumbuhan, kelainan jantung atau miokarditis, pneumonia, hepatitis, trombositopenia, blueberry muffin rash, limfopenia, classic ensefalitis atau defisiensi sistem imun. Kira-kira sepertiga bayi rubella kongenital akan mengalami katarak. Katarak ini dapat bilateral atau unilateral, dan seringkali sudah ada pada waktu lahir. Biasanya juga terdapat retinopati dan mikrotalmia yang biasanya unilateral. Pada 5% bayi rubella kongenital terdapat glaucoma. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kebutaan. Tanda yang paling umum rubella kongenital adalah tuli sensorineural, paling sering bilateral tetapi kadang-kadang unilateral. Kadang-kadang satu- satunya manifestasi infeksi kongenital adalah ketulian. Kelainan neurologik pada bayi dengan rubella kongenital berupa meningoensefalitis yang aktif pada waktu lahir. Manifestasinya antara lain berupa fontanel anterior yang cembung, gelisah, hipotonia, kejang, letargi, retraksi kepala dan opistotonus. Pada rubella kongenital yang berat terjadi miokarditis yang sering menyebabkan kematian janin. Kelainan struktur jantung paling sering ialah Paten

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Ductus Arteriosus, yang disusul stenosis arteria pulmonalis dan stenosis katup pulmonal. Kelainan lain yang mungkin terjadi diantaranya adalah osteomyelitis, malabsorbsi dan diabetes. Anomaly kongenital lain dapat pula terjadi tetapi jarang dilaporkan, sehingga tidak dapat dipastikan apakah memang terjadi karena rubella atau karena sebab lain.

apakah memang terjadi karena rubella atau karena sebab lain. Table 1. Congenital defects and late manifestations

Table 1. Congenital defects and late manifestations of rubella infection 13,14,15

2.6. Diagnosis Diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita karena tidak ada tanda atau gejala yang patognomik untuk rubella. Seperti dengan penyakit eksantema lainnya, diagnosis yang dibuat dengan anamnesis yang cermat. Rubella merupakan penyakit yang epidemik sehingga bila diselidiki dengan cermat, dapat ditemukan kasus kontak atau kasus di lingkungan penderita. Sifat demam dapat membantu dalam menegakkan diagnosis oleh karena demam pada rubella jarang sekali di atas 38,5 0 C. 1 Pada infeksi yang tipikal, makula merah muda yang menyatu menjadi eritema difus pada muka dan badan serta arthralgia pada tangan penderita dewasa merupakan petunjuk diagnosis rubella.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Perubahan hematologik hanya sedikit membantu penegakan diagnosis. Peningkatan sel plasma 5-20% merupakan tanda yang khas. Kadang-kadang terdapat leukopenia pada awal penyakit yang dengan segera diikuti limfositosis relative. Sering terjadi penurunan ringan jumlah trombosit. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologi yaitu adanya peningkatan titer antibody 4 kali pada haemaglutination inhibition test (HAIR) atau ditemukannya antibody IgM yang spesifik untuk rubella. Titer antibody meningkat 24-48 jam setelah permulaan erupsi dan mencapai puncaknya pada hari ke 6-12. Selain pada infeksi primer, antibody IgM spesifik rubella dapat ditemukan pula pada reinfeksi. Dalam hal ini adanya antibody IgM spesifik rubella harus diinterpretasi dengan hati-hati. Suatu penelitian telah menunjukkan bahwa telah terjadi reaktivitas spesifik terhadap rubella dari sera yang dikoreksi, setelah terinfeksi virus lain. Pada kehamilan, 1-2 minggu setelah timbulnya rash dapat dilakukan pemeriksaan serologi IgM immunoassay (dengan sampel berasal dari tenggorok atau urin) sebanyak dua kali dengan selang 1-2 minggu. Bia didapatkan kenaikan titer sebanyak 4 kali, dapat dipertimbangkan terminasi kehamilan.

Diagnosis Infeksi Virus Rubella pada Kehamilan Rubella merupakan penyakit infeksi di antaranya 20–50% kasus bersifat

asimptomatis. Gejala rubella hampir mirip dengan penyakit lain yang disertai ruam. Gejala klinis untuk mendiagnosis infeksi virus rubella pada orang dewasa atau pada kehamilan adalah: 2,3 1. Infeksi bersifat akut yang ditandai oleh adanya ruam makulopapular

2. Suhu tubuh > 99 o C (> 37,2 o C)

3. Atrhalgia/artrhitis, limfadenopati, konjungtivitis.

Infeksi virus rubella berbahaya apabila infeksi terjadi pada awal kehamilan. Virus dapat berdampak di semua organ dan menyebabkan berbagai kelainan bawaan. Janin yang terinfeksi rubella berisiko besar meninggal dalam kandungan, lahir

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

prematur, abortus spontan dan mengalami malabentuk (malformasi) sistem organ. Berat ringannya infeksi virus rubella di janin bergantung pada lama umur kehamilan saat infeksi terjadi. Apabila infeksi terjadi pada trimester I kehamilan, maka 80–90% akan menimbulkan kerusakan janin. Risiko infeksi akan menurun 10–20% apabila infeksi terjadi pada trimester II kehamilan. 10 Lima puluh persen lebih kasus infeksi rubella selama kehamilan bersifat subklinis bahkan tidak dikenali. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorik sebaiknya dilakukan untuk semua kasus dengan kecurigaan infeksi rubella. Berikut adalah tatalangkah untuk menentukan adanya infeksi virus rubella pada kehamilan.

Kriteria Klinis Congenital Rubella Syndrome

Risiko infeksi janin beragam berdasarkan waktu terjadinya infeksi maternal. Apabila infeksi terjadi pada 0–12 minggu usia kehamilan, maka terjadi 80–90% risiko infeksi janin. Infeksi maternal yang terjadi sebelum terjadi kehamilan tidak mempengaruhi janin. Infeksi maternal pada usia kehamilan 15–30 minggu risiko infeksi janin menurun yaitu 30% atau 10–20%.1,2,9 Bayi di diagnosis mengalami CRS apabila mengalami 2 gejala pada kriteria A atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B, sebagai berikut: 2,3 A. Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering adalah patient ductus arteriosus atau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan pendengaran, pigmentasi retina. B. Purpura, splenomegali, jaundice, mikroensefali, retardasi mental, meningoensefalitis dan radiolucent bone disease (tulang tampak gelap pada hasil foto roentgen). Beberapa kasus hanya mempunyai satu gejala dan kehilangan pendengaran merupakan cacat paling umum yang ditemukan di bayi dengan CRS. Definisi kehilangan pendengaran menurut WHO adalah batas pendengaran ≥ 26 dB yang tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen. 2,3

Diagnosis Rubella Kongenital

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Pada neonatus diagnosis rubella intrauterine ditegakkan bila ditemukan 2 dari 3 tanda klinis utama (ketulian, katarak dan/atau retinopati rubella, lesi jantung kongenital) serta ada bukti virologik dan/atau serologic segera setelah lahir atau mempunyai bukti infeksi rubella maternal selama kehamilan. Adanya antibody IgM dan produksi antibody terus-menerus merupakan petunjuk infeksi kongenital. Pada bayi yang terinfeksi kongenital, IgM serum spesifik rubella dapat terdeteksi sejak lahir selama beberapa bulan. Virus dapat diisolasi dari secret nasofaring, konjungtiva, urin, feses dan cairan serebrospinal. Ekskresi virus paling aktif 1-3 bulan sejak lahir dan 2-20 % bayi yang terinfeksi masih mengekspresi virus pada umur 1 tahun. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan RNA hybridization dari biopsy vilus korionik dan kultur dari cairan amnion.

Klasifikasi Kasus Congenital Rubella Syndrome

Berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris, kasus CRS dapat digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu: 2,3,4

1. Kasus kecurigaan (Suspected case) adalah kasus dengan beberapa gejala klinis tetapi tidak memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis CRS.

2. Kasus berpeluang (Probable case). Pada kasus ini, hasil pemeriksaan laboratorik tidak sesuai dengan kriteria laboratoris untuk diagnosis CRS, tetapi mempunyai 2 komplikasi yang tersebut pada kriteria A atau satu penyulit pada kriteria A dan satu penyulit pada kriteria B dan tidak ada bukti etiologi. Pada kasus berpeluang (probable case), baik satu atau kedua kelainan yang berhubungan dengan mata (katarak dan glaukoma kongenital), dihitung sebagai penyulit tunggal. Jika dikemudian hari ditemukan/terkenali (identifikasi) keluhan atau tanda yang berhubungan seperti kehilangan pendengaran, kasus ini akan digolongkan ulang.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

3. Kasus hanya infeksi (Infection only-case) adalah kasus yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorik terbukti ada infeksi tetapi tidak disertai tanda dan gejala klinis CRS.

4. Kasus terpastikan (Confirmed case). Dalam kasus ini dijumpai gejala klinis dan didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorik yang positif (Gambar 6).

oleh hasil pemeriksaan laboratorik yang positif (Gambar 6). Gambar 6. Pedoman diagnosis CRS. 4 2.9. Pemeriksaan

Gambar 6. Pedoman diagnosis CRS. 4

2.9. Pemeriksaan Laboratorik Congenital Rubella Syndrome

Pemeriksaan laboratorik dikerjakan untuk menetapkan diagnosis infeksi virus rubella dan untuk penapisan status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. 7-9 Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari hapusan (swab) tenggorok, darah, air kemih dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049) Joice Gunawan Tabel 2. Jenis pemeriksaan dan spesimen untuk menentukan

Tabel 2. Jenis pemeriksaan dan spesimen untuk menentukan infeksi virus rubella. 9

Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Isolasi virus

Virus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, hapusan tenggorok, air kemih, dan cairan serebrospinalis penderita rubella dan CRS. Virus juga dapat diasingkan dari faring 1 minggu sebelum hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini menyebabkan metode pengasingan virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. 2 Untuk isolasi primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE). 2

2. Pemeriksaan serologi

Pemeriksaan serologi digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella bawaan dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Metode yang tersedia antara lain: 6,7,8

a. Hemaglutinasi pasif

b. Uji hemolisis radial

c. Uji aglutinasi lateks

d. Uji inhibisi hemaglutinasi

e. Imunoasai fluoresens

f. Imunoasai enzim

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah kontak dengan penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti (akurat). Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim terhadap serum penderita untuk

menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dikonfirmasi dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan imunoasai enzim juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-infeksi. 7,8,9 Pemeriksaan serologis pada kasus yang dicurigai menderita CRS memerlukan tiga pendekatan.

1. Pendekatan pertama untuk mengetahui adanya antibodi IgM spesifik- rubella pada serum bayi.

2. Pendekatan kedua dengan melakukan titrasi serial antibodi serum selama 6 bulan pertama kehidupannya. Kadar titer yang tetap atau meningkat selama pemeriksaan ini menunjukkan bahwa telah terjadi infeksi rubella bawaan.

3. Pendekatan ketiga adalah dengan melakukan immunoblotting dan imunoasay enzim peptide serum yang dikumpulkan selama masa neonatus untuk mencari adanya penurunan pita protein E1 dan E2. 7,8,9 Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu: 6,7

a. Membantu menetapkan diagnosis rubella bawaan. Dalam hal ini dilakukan imunoasai IgM terhadap rubella

b. Membantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderita

c. Memeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lain

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

d. Memantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas) Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi.

Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus rubella. 6,9 Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk kehamilan adalah sebagai berikut : sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama). 6

e.

tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama). 6 e. Tabel 3. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA

Tabel 3. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella 6

Kadar IgG ≥ 15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.

berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan Fakultas

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Gambar 7. Respon antibodi setelah infeksi virus rubella yang diperiksa dengan berbagai pemeriksaan serologis untuk rubella. 9

Pemeriksaan RNA virus

Jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara lain :

a. Polymerase Chain Reaction (PCR) : PCR merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris (United Kingdom), PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87– 100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah permulaan (onset) infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance). 8

b. Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT- LAMP) RT-LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT- LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan pemeraman (inkubasi) di alat turbidimeter. Berikut salah satu jenis hasil pemeriksaan menggunakan RT-LAMP dan RT-PCR. 12

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049) Joice Gunawan Gambar 8. Contoh hasil pemeriksaan menggunakan RT-LAMP dan

Gambar 8. Contoh hasil pemeriksaan menggunakan RT-LAMP dan RT-

PCR. 12

2.10. Diagnosa Banding

Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai rubella

adalah : 1

a. Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononucleosis

infeksiosa dan pityriasis rosea.

b. Penyakit bakteri : Scarlet fever

c. Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturate, INH,

fenotiazin dan diuretic tiazid.

Bercak erupsi rubella yang berkonfluens sulit dibedakan dari morbili, kecuali bila

ditemukan bercak Koplik yang patognomonik untuk morbili. Erupsi rubella cepat

menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih lama.

Bila terjadi kemerahan difus dan tampak bercak-bercak berwarna lebih

gelap di atasnya, perlu dibedakan dari Scarlet fever. Tidak seperti Scarlet fever,

pada rubella daerah perioral terkena.

Erupsi pada infeksi mononucleosis dapat menyerupai rubella derajat berat,

namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaunt-Vincent-like tonsillitis,

demam lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum serta pembesaran

hepar dan limpa.

Pada sifilis stadium dua ditemukan juga ekasantema yang yang

menyerupai rubella, disertai pembesaran kelenjar getah bening umum. Kadang-

kadang perlu pemeriksaan serologi untuk sifilis.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Erupsi obat menyerupai rubella yang dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada kasus yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan serologi.

2.11. Pencegahan Rubella Pada Kehamilan Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil. 16 Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya. 16 Sebelum hamil pastikan bahwa Anda telah memiliki kekebalan terhadap virus Rubella dengan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM. 16

Jika hasil keduanya negatif, sebaiknya ke dokter untuk melakukan

vaksinasi, namun baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi

Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti- Rubella IgG positif, disarankan untuk menunda kehamilan sampai ??

Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti pernah terinfeksi dan antibodi yang terdapat dalam tubuh dapat melindungi dari serangan virus Rubella. Bila hamil, bayi pun akan terhindar dari Sindroma Rubella Kongenital.

Bila sedang hamil dan belum mengetahui apakah tubuh telah terlindungi dari infeksi Rubella maka dianjurkan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM : jika telah memiliki kekebalan (anti-Rubella IgG positif), berarti janin pun terlindungi dari ancaman virus Rubella

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

Bila sudah hamil padahal belum kebal, ibu hamil harus berusaha menghindari tertular Rubella dengan cara berikut: 16

1. Jangan mendekati orang sakit demam. Jangan pergi ke tempat banyak anak berkumpul, misalnya Playgroup, sekolah TK dan SD Jangan pergi ke tempat penitipan anak. Sayangnya, hal ini tidak dapat 100% dilaksanakan karena situasi atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu.

2. Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena Rubella.

3. Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah, pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG dan IgM Rubella setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru.

4. Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau tidak. Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 22 minggu.

5. Bagi wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk Rubella. Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika si ibu sedang hamil atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, terapi kortikosteroid maupun penyinaran. Jika tidak memiliki antibodi, diberikan imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah penyuntikan.

2.12. Prognosis Komplikasi relatif tidak lazim pada anak. Neuritis dan artritis kadang kadang terjadi. Resistensi terhadap infeksi bakteri sekunder tidak berubah. Ensefalitis

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

serupa dengan ensefalitis yang ditemukan pada rubeola yang terjadi pada sekitar 1/6.000 kasus. 16

Prognosis rubella anak adalah baik; sedang prognosis rubella kongenital bervariasi menurut keparahan infeksi. Hanya sekitar 30% bayi dengan ensefalitis tampak terbebas dari defisit neuromotor, termasuk sindrom autistik. Kebanyakan penderitanya akan sembuh sama sekali dan mempunyai kekebalan seumur hidup terhadap penyakit ini. Namun, dikhawatirkan adanya efek teratogenik penyakit ini, yaitu kemampuannya menimbulkan cacat pada janin yang dikandung ibu yang menderita rubella. Cacat bawaan yang dibawa anak misalnya penyakit jantung, kekeruhan lensa mata, gangguan pigmentasi retina, tuli, dan cacat mental. Penyakit ini kerap pula membuat terjadinya keguguran.

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

BAB III SIMPULAN

Congenital Rubella Syndrome (CRS) atau Fetal Rubella Syndrome merupakan gabungan beberapa keabnormalan fisik yang berkembang pada bayi sebagai akibat infeksi virus rubella maternal yang berlanjut dalam fetus. CRS dapat mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir mati, prematur dan cacat apabila bayi tetap hidup. Infeksi virus rubella pada trimester I kehamilan memiliki risiko kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan infeksi setelah trimester pertama. Bayi yang didiagnosis mengalami CRS apabila mengalami 2 gejala kriteria A : Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering adalah patient ductus arteriosus atau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan pendengaran, dan pigmentasi retina atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B : purpura, splenomegali, jaundice, mikrosefali, retardasi mental, meningoensefalitis dan radiolucent bone disease. Pemeriksaan laboratorik untuk menunjang diagnosis CRS antara lain :

isolasi virus, pemeriksaan serologik (hemaglutinasi pasif, uji hemolisis radial, uji

Referat “Infeksi Rubella pada Kehamilan” Putri (406138049)

Joice Gunawan

aglutinasi lateks, uji inhibisi hemaglutinasi, imunoasai fluresens, imunoasai enzim) dan pemeriksaan terhadap RNA virus rubella. Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil. 1 Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya.