Anda di halaman 1dari 28

Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan

Putri (406138049)

BAB I
PENDAHULUAN

Rubella (German measles) menjadi terkenal karena sifat teratogeniknya. Rubella


merupakan suatu penyakit virus yang umumnya pada anak dan dewasa muda,
yang ditandai oleh suatu masa prodormal yang pendek, pembesaran kelenjar getah
bening servikal suboksipital dan postaurikular, disertai erupsi yang berlangsung 2-
3 hari.1
Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat terjadi infeksi berat
disertai kelainan sendi dan purpura. Kelainan prenatal akibat rubella pada
kehamilan muda dilaporkan dapat mengakibatkan abortus, bayi lahir mati dan
menimbulkan kelainan kongenital yang berat pada janin. Sindrom rubella
kongential merupakan penyakit yang sangat menular, mengenai banyak organ
dalam tubuh dengan gejala klinis yang luas. Hingga saat ini penyakit rubella
masih merupakan masalah dan terus diusahakan eliminasinya.1
Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili
Togaviridae. Virus dapat diisolasi dari biakan jaringan penderita. Secara
fisikokimiawi virus ini sama dengan anggota virus lain dari famili tersebut, tetapi
virus rubella secara serologik berbeda. Pada waktu terdapat gejala klinis virus lain
ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin. Virus rubella hanya
menjangkiti manusia saja.1

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 1


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Rubella atau campak jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
rubella. Pada anak-anak, infeksi biasanya hanya menimbulkan sedikit keluhan
atau tanpa gejala. Infeksi pada orang dewasa dapat menimbulkan keluhan demam,
sakit kepala, lemas dan konjungtivitis. Tujuh puluh persen kasus infeksi rubella di
orang dewasa menyebabkan terjadinya atralgi atau artritis.
Jika infeksi virus rubella terjadi pada kehamilan, khususnya trimester
pertama sering menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS). CRS
mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir mati, prematur dan cacat apabila
bayi tetap hidup.2,3 CRS merupakan gabungan beberapa keabnormalan fisik yang
berkembang pada bayi sebagai akibat infeksi virus rubella maternal yang
berlanjut dalam fetus. Nama lain CRS ialah Fetal Rubella Syndrome. Cacat
bawaan (Congenital defect) yang paling sering dijumpai ialah tuli sensorineural,
kerusakan mata seperti katarak, gangguan kardiovaskular dan retardasi mental.4,5

2.2. Virus Rubella


Struktur Virus
Virus rubella diasingkan pertama kali pada tahun 1962 oleh Parkman dan Weller.2
Rubella merupakan virus RNA yang termasuk dalam genus Rubivirus, famili
Togaviridae dengan jenis antigen tunggal yang tidak dapat bereaksi silang dengan
sejumlah grup Togavirus lainnya. Virus rubella memiliki 3 protein struktural
utama yaitu 2 glycoprotein envelope, E1 dan E2 dan 1 protein nukleokapsid.
Secara morfologi, virus rubella berbentuk bulat (sferis) dengan diameter 6070
mm dan memiliki inti nukleoprotein padat, dikelilingi oleh dua lapis lipid yang
mengandung glycoprotein E1 dan E2.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 2


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Virus rubella dapat dihancurkan oleh proteinase, pelarut lemak, formalin,


sinar ultraviolet, PH rendah, panas dan amantadine tetapi relatif rentan terhadap
pembekuan, pencairan atau sonikasi.3,4,5
Virus Rubella (VR) terdiri atas dua subunit struktur besar, satu berkaitan
dengan envelope virus dan yang lainnya berkaitan dengan nucleoprotein core.6

Gambar 1. Virus Rubella terdiri dari lapisan glycoprotein, lemak dan inti dengan
RNA.7

Isolasi dan Identifikasi


Meskipun virus rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur) sel,
infeksi virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode serologis yang cepat dan
praktis. Berbagai jenis jaringan, khususnya ginjal kera paling baik digunakan
untuk mengasingkan virus, karena dapat menghasilkan level virus yang lebih
tinggi dan secara umum lebih baik untuk menghasilkan antigen. Pertumbuhan
virus tidak dapat dilakukan pada telur, tikus dan kelinci dewasa.7,8

Antigenisitas
Virus rubella memiliki sebuah hemaglutinin yang berkaitan dengan pembungkus
virus dan dapat bereaksi dengan sel darah merah anak ayam yang baru lahir,
kambing dan burung merpati pada suhu 4 oC dan 25oC dan bukan pada suhu 37oC.
Baik sel darah merah maupun serum penderita yang terinfeksi virus rubella
memiliki sebuah non-spesifik b-lipoprotein inhibitor terhadap hemaglutinasi.
Aktivitas komplemen berhubungan secara primer dengan envelope, meskipun

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 3


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

beberapa aktivitas juga berhubungan dengan nucleoprotein core. Baik


hemaglutinasi maupun antigen complement-fixing dapat terdeteksi melalui
pemeriksaan serologis.7,8

Replikasi Virus
Virus rubella mengalami replikasi di dalam sel inang. Siklus replikasi yang umum
terjadi dalam proses yang bertingkat terdiri dari tahapan :
1. Perlekatan
2. Penetrasi
3. Uncoating
4. Biosintesis
5. Pematangan dan pelepasan
Meskipun ini merupakan siklus yang umum, tetapi akan terjadi beberapa ragam
siklus dan bergantung pada jenis asam nukleat virus.7
Tahap perlekatan terjadi ketika permukaan virion, atau partikel virus
terikat di penerima (reseptor) sel inang. Perlekatan reversible virion agar terjadi
infeksi dan virus masuk ke dalam sel inang. Proses ini melibatkan beberapa
mekanisme, yaitu:7
1. Penggabungan envelope virus dengan membran sel inang (host)
2. Masuk langsung ke dalam membran
3. Interaksi dengan tempat penerima membran sel
4. Viropexis atau fagositosis
Setelah memasuki sel inang, asam nukleat virus harus sudah terlepas dari
pembungkusnya/kapsulnya (uncoating). Proses uncoating ini terjadi di
permukaan sel dalam virus. Secara umum, ini merupakan proses enzimatis yang
menggunakan pre-existing ensim lisosomal atau melibatkan pembentukan ensim
yang baru.
Setelah proses uncoating, maka biosintesis asam nukleat dan beberapa
protein virus merupakan hal yang sangat penting. Sintesis virus terjadi baik di
dalam inti maupun di dalam sitoplasma sel inang, bergantung dari jenis asam

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 4


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

nukleat virus dan kelompok virus. Pada virus RNA, seperti Virus Rubella, sintesis
ini terjadi di dalam sitoplasma, sedangkan pada kebanyakan virus DNA, asam
nukleat virus bereplikasi di inti sel inang sedangkan protein virus mengalami
replikasi pada sitoplasma.
Tahap terakhir replikasi virus yaitu proses pematangan partikel virus.
Partikel yang telah matang ini kemudian dilepaskan dengan bertunas melalui
membrane sel atau melalui lisis sel.7,8

2.3. Epidemiologi
Rubella terdistribusi secara luas di dunia. Epidemi terjadi dengan interval 5-7
tahun (6-9 tahun), paling sering timbul pada musim semi dan terutama mengenai
anak serta dewasa muda. Pada manusia virus ditularkan secara oral droplet dan
melalui plasenta pada infeksi kongenital. Sebelum ada vaksinasi, angka kejadian
tertinggi terdapat pada anak usia 5-14 tahun. Dewasa ini kebanyakan kasus terjadi
pada remaja dan dewasa muda.1
Kelainan pada fetus mencapai 30% akibat infeksi rubella pada ibu hamil
selama minggu pertama kehamilan. Risiko kelainan pada fetus tertinggi (50-60%)
terjadi pada bulan pertama dan menurun menjadi 4-5% pada bulan keempat
kehamilan ibu. Survey di Inggris (1970-1974) menunjukkan insidens infeksi fetus
sebesar 53% dengan rubella klinis dan hanya 19% yang subklinis. Sekitar 85%
bayi terinfeksi rubella kongential mengalami defek.1

Gambar 2. Angka kejadian penyakit rubella dan CRS di Amerika Serikat tahun
1980-1996.3

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 5


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

2.4. Pathogenesis
Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami replikasi di
nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening. Viremia terjadi antara hari ke-5
sampai hari ke-7 setelah terpajan virus rubella. Viremia mencapai puncaknya tepat
sebelum timbul erupsi di kulit. Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat
menular ke orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita. Masa
inkubasi virus rubella berkisar antara 1421 hari. Masa penularan seminggu
sebelum dan empat hari setelah permulaan (onset) ruam (rash). Pada episode ini,
virus rubella sangat menular.2,3,7,8
Daya tular tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun
dengan cepat dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi. Selain dari darah
dan sekret nasofaring, virus rubella telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin,
cairan serebrospinal, ASI, cairan synovial dan paru.1

Patogenesis Congenital Rubella Syndrome (CRS)


Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia berlangsung.
Infeksi rubella menyebabkan kerusakan janin karena proses pembelahan
terhambat. Dalam sekret faring dan air kemih (urin) bayi dengan CRS, terdapat
virus rubella dalam jumlah banyak yang dapat menginfeksi bila bersentuhan
langsung. Virus dalam tubuh bayi dengan CRS dapat bertahan hingga beberapa
bulan atau kurang dari 1 tahun setelah kelahiran.2,3,8
Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan
sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. Infeksi plasenta
terjadi selama viremia ibu, menyebabkan daerah (area) nekrosis yang tersebar
secara fokal di epitel vili korealis dan sel endotel kapiler. Sel ini mengalami
deskuamasi ke dalam lumen pembuluh darah, mengindikasikan bahwa virus
rubella ditransfer ke dalam sirkulasi janin sebagai emboli sel endotel yang
terinfeksi. Hal ini selanjutnya mengakibatkan infeksi dan kerusakan organ janin.
Selama kehamilan muda mekanisme pertahanan janin belum matang dan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 6


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

gambaran khas embriopati pada awal kehamilan adalah terjadinya nekrosis seluler
tanpa disertai tanda peradangan. 2,3,8
Sel yang terinfeksi virus rubella memiliki umur yang pendek. Organ janin
dan bayi yang terinfeksi memiliki jumlah sel yang lebih rendah daripada bayi
yang sehat. Virus rubella juga dapat memacu terjadinya kerusakan dengan cara
apoptosis. Jika infeksi maternal terjadi setelah trimester pertama kehamilan,
frekuensi dan beratnya derajat kerusakan janin menurun secara drastis. Perbedaan
ini terjadi karena janin terlindung oleh perkembangan progresif respon imun
janin, baik yang bersifat humoral maupun seluler dan adanya antibodi maternal
yang ditransfer secara pasif. 2,3,8

2.5. Manifestasi Klinis


Masa Inkubasi
Masa Inkubasi berkisar antara 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu
inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17-21 hari.1

Masa Prodromal
Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya, jarang disertai
gejala dan tanda pada masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda
masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala,
nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rhinitis, batuk dan limfadenopati.
Gejala ini segera menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala dan tanda
prodromal biasanya mendahului erupsi di kulit 1-5 hari sebelumnya. 1
Pada beberapa penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap
lebih lama dan bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal
atau hari pertama erupsi, timbul eksantema, Forschheimer spot, yaitu macula atau
petekia pada palatum molle, bisa saling merengkuh sampai seluruh permukaan
faucia. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema,
khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurikular dan servikal disertai nyeri
tekan.1

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 7


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Masa Eksantema
Seperti pada rubeola, eksantema mulai retroaurikular atau pada muka dan dengan
cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. Mula-mula berupa
makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang dengan cepat meluas dan
menyatu, memberikan bentuk morbilliform. Pada hari kedua eksantema di muka
menghilang, diikuti hari ketiga di tubuh dan hari keempat di anggota gerak. Pada
40% kasus infeksi rubella terjadi tanpa eksantema. Meskipun sangat jarang, dapat
terjadi deskuamasi posteksantematik.1
Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubella.
Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening berlangsung selama 5-8 hari.
Pada penyakit rubella yang tidak mengalami penyulit sebagian besar penderita
sudah dapat bekerja seperti biasa pada hari ketiga. Pada sebagian kecil penderita
masih terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari.1

Gambar 3. Manifestasi klinis rubella

2.6. Resiko terjadinya Congenital Rubella Syndrome pada Kehamilan


Infeksi pada Trimester Pertama
Kisaran kelainan berhubungan dengan umur kehamilan. Risiko terjadinya
kerusakan apabila infeksi terjadi pada trimester pertama kehamilan mencapai 80
90%. Virus rubella terus mengalami replikasi dan diekskresi oleh janin dengan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 8


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

CRS dan hal ini mengakibatkan infeksi pada kontak yang rentan. Gambaran klinis
CRS diklasifikasikan menjadi :
1. Transient
2. Delayed onset
3. Permanent
Kelainan pertumbuhan seperti ketulian mungkin tidak akan muncul selama
beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi akan muncul pada waktu yang tidak
tentu. Kelainan kardiovaskuler seperti periapan (proliferasi) dan kerusakan lapisan
seluruh (integral) pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan yang membuntu
(obstruktif) arteri berukuran medium dan besar dalam sistem sirkulasi pulmoner
dan sistemik.
Ketulian yang terjadi pada bayi dengan CRS tidak diperkirakan
sebelumnya. Metode untuk mengetahui adanya kehilangan pendengaran janin
seperti pemancaran (emisi) otoakustik dan auditory brain stem responses saat ini
dikerjakan untuk menyaring bayi yang berisiko dan akan mencegah kelainan
pendengaran lebih awal, juga saat neonatus. Peralatan ini mahal dan tidak dapat
digunakan di luar laboratorium. Kekurangan inilah yang sering terjadi di negara
berkembang tempat CRS paling sering terjadi.
Kelainan mata dapat berupa afakia glaukoma setelah dilakukan aspirasi
katarak dan neovaskularisasi retina merupakan manifestasi klinis lambat CRS.
Delayed-onset CRS yang paling sering adalah terjadinya diabetes mellitus
tipe 1. Penelitian lanjutan di Australia terhadap anak yang lahir pada tahun 1934
sampai 1941, menunjukkan bahwa sekitar 20% diantaranya menjadi penderita
diabetes pada dekade ketiga kehidupan mereka.2,3

Infeksi setelah Trimester Pertama


Virus rubella dapat diisolasi dari ibu yang mendapatkan infeksi setelah trimester
pertama kehamilan. Penelitian serologis menunjukkan sepertiga dari bayi yang
lahir dari ibu yang terinfeksi virus rubella pada umur 1620 minggu memiliki IgM
spesifik rubella saat lahir. Penelitian di negara lain menunjukkan bahwa infeksi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 9


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

maternal diperoleh usia 1320 minggu kehamilan dan dari bayi yang menderita
kelainan akibat infeksi virus rubella terdapat 1618%, tetapi setelah periode ini
insidennya kurang dari 12%. Ketulian dan retinopati sering merupakan gejala
tunggal infeksi bawaan (congenital) meski retinopati secara umum tidak
menimbukan kebutaan.2,3

Gambar 4. Defect dan manifestasi klinis CRS sesuai umur kehamilan.2,3

Infeksi yang terjadi sebelum konsepsi. Dalam laporan kasus perorangan


(individual), infeksi virus rubella yang terjadi sebelum konsepsi, telah
merangsang terjadinya infeksi bawaan. Penelitian prospektif lain yang dilakukan
di Inggris dan Jerman, yang melibatkan 38 bayi yang lahir dari ibu yang
menderita ruam sebelum masa konsepsi, virus rubella tidak ditransmisikan kepada
janin. Semua bayi tersebut tidak terbukti secara serologis terserang infeksi virus
ini, berbeda dengan 10 bayi yang ibunya menderita ruam antara 3 dan 6 minggu
setelah menstruasi terakhir.2,3

Reinfeksi
Reinfeksi oleh rubella lebih sering terjadi setelah diberikan vaksinasi daripada
yang didapat infeksi secara alami. Reinfeksi secara umum asimtomatik dan
diketahui melalui pemeriksaan serologis terhadap ibu yang pernah kontak dengan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 10


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

rubella. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko terjadinya reinfeksi


selama trimester pertama hanya 510%.
Antibodi terhadap virus rubella muncul setelah ruam mulai menghilang,
dengan ditemukannya kadar IgG dam IgM. Antibodi IgG terdapat dalam tubuh
selama hidup, sedangkan IgM antibodi biasanya menurun setelah 4 hingga lima 5
minggu. Infeksi fetal biasanya disertai transfer plasental dari IgG ibu. Sebagai
tambahan, kadar IgM fetal dihasilkan oleh midgesation. Kadar IgM secara umum
meningkat saat kelahiran bayi yang terinfeksi. Upaya skrining terhadap infeksi
bawaan dapat dilakukan dengan menghitung kadar IgM.7,9
Meski reinfeksi dapat terjadi, tetapi biasanya asimtomatik dan dapat
ditemukan peningkatan IgG. Viremia ditemukan di sukarelawan dengan kadar
titer rubella rendah setelah mendapatkan vaksinasi rubella. Hal ini menandakan
bahwa viremia juga dapat terjadi pada saat reinfeksi. Meskipun beberapa
penelitian menyebutkan bahwa vaksin virus rubella dapat melalui barier plasenta
dan dapat menginfeksi janin selama kehamilan muda, tetapi risiko terjadinya
kelainan bawaan akibat vaksinasi rendah sampai tidak ada sama sekali.7,9

Gambar 5. Respon antibodi janin yang terinfeksi virus rubella secara bawaan.7

2.7. Rubella Kongenital


Pengertian Rubela kongenital adalah infeksi transplasenta pada janin dengan
rubella, biasanya pada kehamilan trimester pertama, rubella kongenital
disebabkan oleh infeksi maternal. Rubella kongenital adalah suatu infeksi oleh

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 11


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

virus penyebab rubella (campak jerman) yang terjadi ketika bayi berada dalam
kandungan dan bisa menyebabkan cacat bawaan.
Rubella kongenital adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan infeksi
kronik intrauterine dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.
Selama infeksi wanita hamil, virus rubella dapat menimbulkan infeksi pada janin
melalui plasenta. Akibatnya janin meninggal dalam kandungan atau lahir dengan
rubella kongenital. Bayi yang menderita infeksi kronik (infeksi dalam kandungan)
merupakan sumber penularan bagi orang sekitarnya.
Kita harus mewaspadai Rubela kongenital pada saat wanita hamil, karena
resiko tertularnya janin yang dikandung oleh ibu terinfeksi rubella bervariasi,
tergantung kapan ibu terinfeksi.
Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko
janin tertular 80-90%.
Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko
janin terinfeksi turun yaitu 10-20%.
Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100% jika ibu terinfeksi
saat usia kehamilan > 36 minggu.
Pada waktu mengalami infeksi rubella sebagian ibu hamil (50%) tidak
menunjukkan gejala atau tanda klinis. Meskipun demikian virus dapat
menimbulkan infeksi pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang mana virus itu
menyerang banyak organ dan jaringan. Rubella pada ibu dapat menimbulkan
berbagai kemungkinan di janinnya, yaitu :1
1. Non-infeksi
2. Infeksi tanpa kelainan apapun
3. Infeksi dengan kelainan kongenital
4. Resorpsi embrio
5. Abortus
6. Kelahiran mati
Bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita rubella pada trimester pertama bisa
terkena sindrom rubella kongenital, yaitu trias anomaly kongenital :1

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 12


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

1. Pada mata (katarak, mikroftalmia, glaucoma, retinopati)


2. Telinga (ketulian)
3. Defek jantung (stenosis arteri pulmunalis, patent ductus arteriosus,
ventricle septal defect)
Kerusakan jantung dan mata terjadi pada infeksi embrio yang berumur
kurang dari 6 minggu, sedangkan ketulian dan defek mental terjadi pada semua
embrio yang berumur sampai kira-kira 16 minggu. Selain itu dapat terjadi
kelainan susunan saraf pusat dan gigi. Manifestasi lainnya adalah glaukoma,
mikrosefali dan berbagai kelainan visceral.
Manifestasi umum rubella kongenital pada waktu lahir adalah retardasi
pertumbuhan dan psikomotorik. Antara 50-85% dari semua bayi beratnya kurang
dari 2.500 gram, setelah lahir pertumbuhannya pun akan terhambat (growth
retardation). Angka kematian bayi dengan rubella kongenital pada tahun pertama
tinggi. Kematian dapat disebabkan karena gagal pertumbuhan, kelainan jantung
atau miokarditis, pneumonia, hepatitis, trombositopenia, blueberry muffin rash,
limfopenia, classic ensefalitis atau defisiensi sistem imun.
Kira-kira sepertiga bayi rubella kongenital akan mengalami katarak.
Katarak ini dapat bilateral atau unilateral, dan seringkali sudah ada pada waktu
lahir. Biasanya juga terdapat retinopati dan mikrotalmia yang biasanya unilateral.
Pada 5% bayi rubella kongenital terdapat glaucoma. Diagnosis dini sangat penting
untuk mencegah kebutaan.
Tanda yang paling umum rubella kongenital adalah tuli sensorineural,
paling sering bilateral tetapi kadang-kadang unilateral. Kadang-kadang satu-
satunya manifestasi infeksi kongenital adalah ketulian.
Kelainan neurologik pada bayi dengan rubella kongenital berupa
meningoensefalitis yang aktif pada waktu lahir. Manifestasinya antara lain berupa
fontanel anterior yang cembung, gelisah, hipotonia, kejang, letargi, retraksi kepala
dan opistotonus.
Pada rubella kongenital yang berat terjadi miokarditis yang sering
menyebabkan kematian janin. Kelainan struktur jantung paling sering ialah Paten

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 13


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Ductus Arteriosus, yang disusul stenosis arteria pulmonalis dan stenosis katup
pulmonal.
Kelainan lain yang mungkin terjadi diantaranya adalah osteomyelitis,
malabsorbsi dan diabetes. Anomaly kongenital lain dapat pula terjadi tetapi jarang
dilaporkan, sehingga tidak dapat dipastikan apakah memang terjadi karena rubella
atau karena sebab lain.

Table 1. Congenital defects and late manifestations of rubella infection 13,14,15

2.6. Diagnosis
Diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita karena tidak ada
tanda atau gejala yang patognomik untuk rubella. Seperti dengan penyakit
eksantema lainnya, diagnosis yang dibuat dengan anamnesis yang cermat. Rubella
merupakan penyakit yang epidemik sehingga bila diselidiki dengan cermat, dapat
ditemukan kasus kontak atau kasus di lingkungan penderita. Sifat demam dapat
membantu dalam menegakkan diagnosis oleh karena demam pada rubella jarang
sekali di atas 38,50C.1
Pada infeksi yang tipikal, makula merah muda yang menyatu menjadi
eritema difus pada muka dan badan serta arthralgia pada tangan penderita dewasa
merupakan petunjuk diagnosis rubella.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 14


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Perubahan hematologik hanya sedikit membantu penegakan diagnosis.


Peningkatan sel plasma 5-20% merupakan tanda yang khas. Kadang-kadang
terdapat leukopenia pada awal penyakit yang dengan segera diikuti limfositosis
relative. Sering terjadi penurunan ringan jumlah trombosit.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologi yaitu adanya
peningkatan titer antibody 4 kali pada haemaglutination inhibition test (HAIR)
atau ditemukannya antibody IgM yang spesifik untuk rubella. Titer antibody
meningkat 24-48 jam setelah permulaan erupsi dan mencapai puncaknya pada hari
ke 6-12. Selain pada infeksi primer, antibody IgM spesifik rubella dapat
ditemukan pula pada reinfeksi. Dalam hal ini adanya antibody IgM spesifik
rubella harus diinterpretasi dengan hati-hati. Suatu penelitian telah menunjukkan
bahwa telah terjadi reaktivitas spesifik terhadap rubella dari sera yang dikoreksi,
setelah terinfeksi virus lain.
Pada kehamilan, 1-2 minggu setelah timbulnya rash dapat dilakukan
pemeriksaan serologi IgM immunoassay (dengan sampel berasal dari tenggorok
atau urin) sebanyak dua kali dengan selang 1-2 minggu. Bia didapatkan kenaikan
titer sebanyak 4 kali, dapat dipertimbangkan terminasi kehamilan.

Diagnosis Infeksi Virus Rubella pada Kehamilan


Rubella merupakan penyakit infeksi di antaranya 2050% kasus bersifat
asimptomatis. Gejala rubella hampir mirip dengan penyakit lain yang disertai
ruam. Gejala klinis untuk mendiagnosis infeksi virus rubella pada orang dewasa
atau pada kehamilan adalah:2,3
1. Infeksi bersifat akut yang ditandai oleh adanya ruam
makulopapular
2. Suhu tubuh > 99oC (> 37,2oC)
3. Atrhalgia/artrhitis, limfadenopati, konjungtivitis.
Infeksi virus rubella berbahaya apabila infeksi terjadi pada awal kehamilan. Virus
dapat berdampak di semua organ dan menyebabkan berbagai kelainan bawaan.
Janin yang terinfeksi rubella berisiko besar meninggal dalam kandungan, lahir

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 15


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

prematur, abortus spontan dan mengalami malabentuk (malformasi) sistem organ.


Berat ringannya infeksi virus rubella di janin bergantung pada lama umur
kehamilan saat infeksi terjadi. Apabila infeksi terjadi pada trimester I kehamilan,
maka 8090% akan menimbulkan kerusakan janin. Risiko infeksi akan menurun
1020% apabila infeksi terjadi pada trimester II kehamilan. 10 Lima puluh persen
lebih kasus infeksi rubella selama kehamilan bersifat subklinis bahkan tidak
dikenali. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorik sebaiknya dilakukan untuk
semua kasus dengan kecurigaan infeksi rubella. Berikut adalah tatalangkah untuk
menentukan adanya infeksi virus rubella pada kehamilan.

Kriteria Klinis Congenital Rubella Syndrome

Risiko infeksi janin beragam berdasarkan waktu terjadinya infeksi maternal.


Apabila infeksi terjadi pada 012 minggu usia kehamilan, maka terjadi 8090%
risiko infeksi janin. Infeksi maternal yang terjadi sebelum terjadi kehamilan tidak
mempengaruhi janin. Infeksi maternal pada usia kehamilan 1530 minggu risiko
infeksi janin menurun yaitu 30% atau 1020%.1,2,9 Bayi di diagnosis mengalami
CRS apabila mengalami 2 gejala pada kriteria A atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B,
sebagai berikut:2,3
A. Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering
adalah patient ductus arteriosus atau peripheral pulmonary artery
stenosis), kehilangan pendengaran, pigmentasi retina.
B. Purpura, splenomegali, jaundice, mikroensefali, retardasi mental,
meningoensefalitis dan radiolucent bone disease (tulang tampak gelap
pada hasil foto roentgen).
Beberapa kasus hanya mempunyai satu gejala dan kehilangan pendengaran
merupakan cacat paling umum yang ditemukan di bayi dengan CRS. Definisi
kehilangan pendengaran menurut WHO adalah batas pendengaran 26 dB yang
tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen. 2,3

Diagnosis Rubella Kongenital

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 16


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Pada neonatus diagnosis rubella intrauterine ditegakkan bila ditemukan 2 dari 3


tanda klinis utama (ketulian, katarak dan/atau retinopati rubella, lesi jantung
kongenital) serta ada bukti virologik dan/atau serologic segera setelah lahir atau
mempunyai bukti infeksi rubella maternal selama kehamilan. Adanya antibody
IgM dan produksi antibody terus-menerus merupakan petunjuk infeksi kongenital.
Pada bayi yang terinfeksi kongenital, IgM serum spesifik rubella dapat
terdeteksi sejak lahir selama beberapa bulan. Virus dapat diisolasi dari secret
nasofaring, konjungtiva, urin, feses dan cairan serebrospinal. Ekskresi virus paling
aktif 1-3 bulan sejak lahir dan 2-20 % bayi yang terinfeksi masih mengekspresi
virus pada umur 1 tahun. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan RNA
hybridization dari biopsy vilus korionik dan kultur dari cairan amnion.

Klasifikasi Kasus Congenital Rubella Syndrome


Berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris, kasus
CRS dapat digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu: 2,3,4
1. Kasus kecurigaan (Suspected case) adalah kasus dengan beberapa
gejala klinis tetapi tidak memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis
CRS.
2. Kasus berpeluang (Probable case). Pada kasus ini, hasil pemeriksaan
laboratorik tidak sesuai dengan kriteria laboratoris untuk diagnosis
CRS, tetapi mempunyai 2 komplikasi yang tersebut pada kriteria A
atau satu penyulit pada kriteria A dan satu penyulit pada kriteria B dan
tidak ada bukti etiologi. Pada kasus berpeluang (probable case), baik
satu atau kedua kelainan yang berhubungan dengan mata (katarak dan
glaukoma kongenital), dihitung sebagai penyulit tunggal. Jika
dikemudian hari ditemukan/terkenali (identifikasi) keluhan atau tanda
yang berhubungan seperti kehilangan pendengaran, kasus ini akan
digolongkan ulang.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 17


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

3. Kasus hanya infeksi (Infection only-case) adalah kasus yang diperoleh


dari hasil pemeriksaan laboratorik terbukti ada infeksi tetapi tidak
disertai tanda dan gejala klinis CRS.
4. Kasus terpastikan (Confirmed case). Dalam kasus ini dijumpai gejala
klinis dan didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorik yang positif
(Gambar 6).

Gambar 6. Pedoman diagnosis CRS.4

2.9. Pemeriksaan Laboratorik Congenital Rubella Syndrome

Pemeriksaan laboratorik dikerjakan untuk menetapkan diagnosis infeksi virus


rubella dan untuk penapisan status imunologis. Karena prosedur isolasi virus
sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka
pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan.7-9 Bahan pemeriksaan untuk
menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari hapusan (swab)
tenggorok, darah, air kemih dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis
pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus
rubella.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 18


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Tabel 2. Jenis pemeriksaan dan spesimen untuk menentukan infeksi virus rubella.9

Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi


virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Isolasi virus
Virus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, hapusan tenggorok, air
kemih, dan cairan serebrospinalis penderita rubella dan CRS. Virus juga dapat
diasingkan dari faring 1 minggu sebelum hingga 2 minggu setelah munculnya
ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan
infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan karena prosedur pemeriksaan yang
rumit. Hal ini menyebabkan metode pengasingan virus bukan sebagai metode
diagnostik rutin.2 Untuk isolasi primer spesimen klinis, sering menggunakan
kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13.
Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).2

2. Pemeriksaan serologi
Pemeriksaan serologi digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella bawaan
dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan
untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Metode yang tersedia
antara lain: 6,7,8
a. Hemaglutinasi pasif
b. Uji hemolisis radial
c. Uji aglutinasi lateks
d. Uji inhibisi hemaglutinasi
e. Imunoasai fluoresens
f. Imunoasai enzim

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 19


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah kontak dengan penderita rubella,
memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti (akurat). Jika
penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus
segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim terhadap serum penderita untuk
menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dikonfirmasi dengan
memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala
klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus.
Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah
mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella
dengan imunoasai enzim juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan
re-infeksi. 7,8,9
Pemeriksaan serologis pada kasus yang dicurigai menderita CRS
memerlukan tiga pendekatan.
1.
Pendekatan pertama untuk mengetahui adanya antibodi IgM spesifik-
rubella pada serum bayi.
2.
Pendekatan kedua dengan melakukan titrasi serial antibodi serum
selama 6 bulan pertama kehidupannya. Kadar titer yang tetap atau
meningkat selama pemeriksaan ini menunjukkan bahwa telah terjadi
infeksi rubella bawaan.
3.
Pendekatan ketiga adalah dengan melakukan immunoblotting dan
imunoasay enzim peptide serum yang dikumpulkan selama masa
neonatus untuk mencari adanya penurunan pita protein E1 dan E2. 7,8,9
Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu: 6,7
a. Membantu menetapkan diagnosis rubella bawaan. Dalam hal ini
dilakukan imunoasai IgM terhadap rubella
b. Membantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang
dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderita
c. Memeriksa ibu dengan anamnesis ruam rubellaform di masa lalu,
sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini,
dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lain

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 20


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

d. Memantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama


kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya
terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)
e. Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi.
Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa
penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan
terhadap virus rubella.6,9
Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring
untuk kehamilan adalah sebagai berikut : sebelum kehamilan, bila positif ada
perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda
(trimester pertama).6

Tabel 3. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella 6

Kadar IgG 15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin


terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila
negatif berarti tidak ada.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 21


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Gambar 7. Respon antibodi setelah infeksi virus rubella yang diperiksa dengan
berbagai pemeriksaan serologis untuk rubella.9

Pemeriksaan RNA virus


Jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara
lain :
a.
Polymerase Chain Reaction (PCR) : PCR merupakan teknik yang paling
umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris (United
Kingdom), PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk
menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella
dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87
100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah
permulaan (onset) infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR
menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang
sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance).8
b.
Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-
LAMP) RT-LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali
RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan
sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus
yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-
LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus.
Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil
pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat
kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan pemeraman (inkubasi) di alat
turbidimeter. Berikut salah satu jenis hasil pemeriksaan menggunakan
RT-LAMP dan RT-PCR.12

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 22


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Gambar 8. Contoh hasil pemeriksaan menggunakan RT-LAMP dan RT-


PCR.12

2.10. Diagnosa Banding


Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai rubella
adalah :1
a. Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononucleosis
infeksiosa dan pityriasis rosea.
b. Penyakit bakteri : Scarlet fever
c. Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturate, INH,
fenotiazin dan diuretic tiazid.
Bercak erupsi rubella yang berkonfluens sulit dibedakan dari morbili, kecuali bila
ditemukan bercak Koplik yang patognomonik untuk morbili. Erupsi rubella cepat
menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih lama.
Bila terjadi kemerahan difus dan tampak bercak-bercak berwarna lebih
gelap di atasnya, perlu dibedakan dari Scarlet fever. Tidak seperti Scarlet fever,
pada rubella daerah perioral terkena.
Erupsi pada infeksi mononucleosis dapat menyerupai rubella derajat berat,
namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaunt-Vincent-like tonsillitis,
demam lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum serta pembesaran
hepar dan limpa.
Pada sifilis stadium dua ditemukan juga ekasantema yang yang
menyerupai rubella, disertai pembesaran kelenjar getah bening umum. Kadang-
kadang perlu pemeriksaan serologi untuk sifilis.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 23


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Erupsi obat menyerupai rubella yang dapat disertai pembesaran kelenjar


getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada kasus yang
meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan serologi.

2.11. Pencegahan Rubella Pada Kehamilan


Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan terhadap serangan
virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus
digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai
vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15
bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum
mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun,
bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil.16
Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya
memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi
TORCH lainnya.16
Sebelum hamil pastikan bahwa Anda telah memiliki kekebalan terhadap
virus Rubella dengan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella
IgM.16
Jika hasil keduanya negatif, sebaiknya ke dokter untuk melakukan
vaksinasi, namun baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi

Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-
Rubella IgG positif, disarankan untuk menunda kehamilan sampai ??
Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti pernah terinfeksi dan
antibodi yang terdapat dalam tubuh dapat melindungi dari serangan virus
Rubella. Bila hamil, bayi pun akan terhindar dari Sindroma Rubella
Kongenital.
Bila sedang hamil dan belum mengetahui apakah tubuh telah terlindungi
dari infeksi Rubella maka dianjurkan melakukan pemeriksaan anti-Rubella
IgG dan anti-Rubella IgM : jika telah memiliki kekebalan (anti-Rubella
IgG positif), berarti janin pun terlindungi dari ancaman virus Rubella

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 24


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

Bila sudah hamil padahal belum kebal, ibu hamil harus berusaha menghindari
tertular Rubella dengan cara berikut:16
1. Jangan mendekati orang sakit demam. Jangan pergi ke tempat banyak
anak berkumpul, misalnya Playgroup, sekolah TK dan SD Jangan pergi
ke tempat penitipan anak. Sayangnya, hal ini tidak dapat 100%
dilaksanakan karena situasi atau karena orang lain yang terjangkit
Rubella belum tentu menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap
Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu.
2. Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena
Rubella.
3. Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah,
pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG dan IgM Rubella
setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru.
4. Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau
tidak. Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka
dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase
Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan
amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter
ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia
kehamilan lebih dari 22 minggu.
5. Bagi wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk
Rubella. Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika si ibu sedang hamil
atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat
kanker, terapi kortikosteroid maupun penyinaran. Jika tidak memiliki
antibodi, diberikan imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah
penyuntikan.

2.12. Prognosis
Komplikasi relatif tidak lazim pada anak. Neuritis dan artritis kadang kadang
terjadi. Resistensi terhadap infeksi bakteri sekunder tidak berubah. Ensefalitis

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 25


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

serupa dengan ensefalitis yang ditemukan pada rubeola yang terjadi pada sekitar
1/6.000 kasus.16

Prognosis rubella anak adalah baik; sedang prognosis rubella kongenital


bervariasi menurut keparahan infeksi. Hanya sekitar 30% bayi dengan ensefalitis
tampak terbebas dari defisit neuromotor, termasuk sindrom autistik. Kebanyakan
penderitanya akan sembuh sama sekali dan mempunyai kekebalan seumur hidup
terhadap penyakit ini.
Namun, dikhawatirkan adanya efek teratogenik penyakit ini, yaitu
kemampuannya menimbulkan cacat pada janin yang dikandung ibu yang
menderita rubella. Cacat bawaan yang dibawa anak misalnya penyakit jantung,
kekeruhan lensa mata, gangguan pigmentasi retina, tuli, dan cacat mental.
Penyakit ini kerap pula membuat terjadinya keguguran.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 26


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

BAB III
SIMPULAN

Congenital Rubella Syndrome (CRS) atau Fetal Rubella Syndrome


merupakan gabungan beberapa keabnormalan fisik yang berkembang pada bayi
sebagai akibat infeksi virus rubella maternal yang berlanjut dalam fetus. CRS
dapat mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir mati, prematur dan cacat
apabila bayi tetap hidup. Infeksi virus rubella pada trimester I kehamilan memiliki
risiko kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan infeksi setelah trimester
pertama.
Bayi yang didiagnosis mengalami CRS apabila mengalami 2 gejala kriteria
A : Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering adalah
patient ductus arteriosus atau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan
pendengaran, dan pigmentasi retina atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B : purpura,
splenomegali, jaundice, mikrosefali, retardasi mental, meningoensefalitis dan
radiolucent bone disease.
Pemeriksaan laboratorik untuk menunjang diagnosis CRS antara lain :
isolasi virus, pemeriksaan serologik (hemaglutinasi pasif, uji hemolisis radial, uji

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 27


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015
Referat Infeksi Rubella pada Kehamilan Joice Gunawan
Putri (406138049)

aglutinasi lateks, uji inhibisi hemaglutinasi, imunoasai fluresens, imunoasai


enzim) dan pemeriksaan terhadap RNA virus rubella.
Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin
dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah
infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles,
Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat
ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun,
harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak
dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil.1
Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya
memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi
TORCH lainnya.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan 28


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Periode 22 Juli 29 Agustus 2015

Anda mungkin juga menyukai