Anda di halaman 1dari 6

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kandang

Kandang merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam.

Kandang dipergunakan mulai dari awal hingga masa berproduksi. Pada

prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya pembuatan

murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Anonymous, 2011).

Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok

untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan

berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu

kandang harus dirancang dan ditata agar menyenangkan dan memberikan

kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam - ayam yang berada di dalamnya.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat

atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk kandang itu

sendiri. Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya,

maka sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan - kesalahan dalam

pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan problema-

problema terus menerus (Yuwanta, 2004).

Tipe kandang ayam broiler ada dua , yaitu tipe panggung dan tipe tanpa

panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran

langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengolahan

lebih efisien namun biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter banyak

dipake peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah dalam anggaran

pembiayaan. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti indonesia
4

m2
adalah 8 - 10 ekor/ , lebih dari angka tersebut suhu kandang cepat

meningkat terutama siang hari ketika ayam sudah dewasa yang menyebabkan

konsumsi pakan menurun, ayam cendurung banyak minyak, strees, pertumbahan

terhambat dan dapat mudah terserang penyakit (Prabowo, 2011).

Umunya peternak ayam broiler di Indonesia menjalankan usaha

pemeliharaan menggunakan kandang sistem all in all out dengan litter atau

dikenal dengan sistem postal. Disatu sisi sistem ini selain memberi keuntungan

bagi bternak dalam pengelolaan secara finansial menguntungkan dan disisi lain

menimbulkan masalah baru. Ini berkaitan dengan keterbatasan litter menyerap air

feses sehingga litter menjadi basah dan meggumpal (Yuwanta, 2004).

Kekurangan dan kelebihan kandang ayam broiler dengan sistem litter telah

banyak diketahui oleh kalangan peternak sebelumnya. Kelebihannya yang paling

utama adalah hemat bahan bangunan terutama kayu dan bambu dibandingkan

kandang sistem panggung. Kedua resiko ayam terjepit mudah dihindari karena

lantainya tidak terbuat dari bilah - bilah seperti terdapat pada kandang panggung.

Litter merupakan alas atau lantai kandang yang terbuat dari bahan - bahan seperti

sekam (kulit padi), serbuk gergajian, tongkol jagung, yang dipecah - pecah serta

jerami dan ampas tebu yang dipotong. Bahan - bahan diatas dapat menyerap air

dengan baik sehingga lantai kandang tidak mudah becek, selain itu bahan-bahan

litter meganding vitamin B12 yang baik untuk pertubuhan. Karena jerami, sekam

padi dan bahan sejenisnya mempunyai kemampuann panas sehingga suhu

kandang menjadi lebih hangat (Anonymous, 2011).

Kekurangannya penyebaran penyakit dalam model kandang seperti ini

lebih cepat karena kontak ayam yang sakit dan ayam yang sehat sangat mudah

apalagi jika litter lembab dan jarang dibersihkan. Litter yang lembab dan basah
5

akan mudah busuk dan merupakan media yang baik untuk perkembangan

mikroorganisme penyebab penyakit dan parasit. Peternak harus menjaga litter

agar kering dan tidak lembab (Anonymous, 2011).

2.2 Peralatan Kandang

Dibalik kandang yang baik maka diperlukan peralatan kandang yang harus

memenuhi kebutuhan ternak dan mempermudah tata laksana pemeliharaan

seperti:

A. Alat pemanas (Brooder)

Alat pemanas (Brooder) diperlukan untuk anak unggas yang dipelihara

tanpa induk. Pada umur satu sampai 4 minggu alat pemanas dipasang selalu,

sedangkan umur 4 - 8 minggu alat pemanas dipasang pada malam hari atau di

waktu cuaca sangat dingin. Alat pemanas dapat berupa lampu listrik atau lampu

minyak tanah (Semawar) atau alat pemanas yang menggunakan gas (Gasolec) .

Alat pemanas harus diatur untuk memberikan suhu yang tepat, suhu yang rendah

mengakibatkan anak unggas kedinginan dan tidak mau makan, sedangkan suhu

yang terlampau tinggi mengakibatkan anak unggas kepanasan dan selalu haus.

Kedua suhu yang tidak tepat ini akan mengakibatkan unggas tidak sehat dan dapat

membawa kematian (Murtidjo, l987).

B. Tempat makan dan minum

Tempat makan unggas terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk

makanan pada dasarnya berbentuk bulat (round) dan bentuk memanjang

(through). Bentuk makanan bulat yang kovensional disebut round feeder atau

hanging feeder dengan kapasitas 1, 3, 5, 7, dan 10 kg. Tempat makan hanging


6

feeder ini yang sering digunakan kapasitas 3, 5, dan 7 kg. Tempat makan ayam

untuk DOC berbentuk baki dan disebut dengan feeder tray.

Tempat minum juga terdapat berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk tempat

minum yang berbentuk bulat (round waterer) atau drinker bell terdapat berbagai

ukuran yaitu 600 ml, 1 liter, 1 dan 2 galon. Bentuk tempat minum bulat ini ada

yang otomatis dan konvensional. Selain bentuk bulat, tempat minu ada pula

berbentuk cup, niple dan kombinasinya (Yuwanta, 2004).

C. Chick Guard

Chick guard merupakan sekat pembatas untuk DOC, agar mempermudah

penyebaran panas pada brooder (panas merata) (Yuwanta, 2004).

D. Sarang (Nest)

Sarang merupakan tempat ayam bibit petelur untuk meletakan telur tetas

supaya telur tersebut tidak retak atau pecah. Ada beberapa bentuk sarang yaitu

1. Single nest (satu sarang disediakan untuk 3 - 5 ekor ayam).

2. Community nest (sarang yang berukuran 60 x 240 digunakan untuk 35

ekor).

3. The roll away nest (Prabowo, 2011).

E. Tempat Telur

Tempat telur ada yang berbentuk rak telur (egg tray) dan berbentuk

keranjang. Egg tray terbuat dari plastik atau kertas tebal yang khusus dengan

kapasitas 30, 36, 42 dan 54 butir (Prabowo, 2011).

F. Alat Pemotong Paruh (Electric Debeaking)

Alat pemotong paruh berguna untuk mengurangi sifat kanibalisme (saling

mematuk) dan efisiensi ransum. Pemotongan paruh dilakukan pada ayam petelur
7

dan tidak dilakukan pada ayambroiler karena periode pemeliharaan yang relatif

singkat dan sifatnya yang lamban (Prabowo, 2011).

G. Tenggeran (Roost)

Tenggeran hanya terdapat pada kandang ayam petelur bibi yang terbuat

dari bambu dan kayu, Dalam memasang tenggeran harus ditempatkan di bagian

yang tinggi. Tinggi pemasangan tenggeran yaitu 0,5 m dari lantai, jarak

pemasangan antara tenggeran 30 - 50 cm, ukuran penampang tenggeran 5 x 7,5

cm dan kapasitas tenggeran 8 - 10 ekor/m2

F. Keranjang Ayam

Keranjang ayam terdiri dari 2 model, yaitu :

1. Untuk pengangkutan DOC

2. Untuk pengangkutan ayam yang telah dewasa (Murtidjo, l987).

G. Sarang telur

Sarang telur harus telah disediakan seminggu sebelum ternak mulai

bertelur. Sarang ini dapat berupa ember bekas, kotak kayu atau karton atau

keranjang bambu, ukuran sarang telur 30 x 30 x 25 cm atau bila bentuk bulat

maka dibuat 25 cm tinggi dan diameter 30 cm. Untuk sistem pemeliharaan

dikandangkan, sarang telur dapat dibuat dari kotak kayu yang ditempatkan pada

dinding luar, sehingga telur dapat dikumpulkan dari luar tanpa harus masuk

kandang. Tinggi sarang telur sekitar 50 cm dari atas lantai. Sebagai alas sarang

telur gunakan jerami padi, daun pisang kering atau bahan lain yang empuk

(Murtidjo, l987).
8

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Kandang Ternak Ayam (kandang Battery). http://anekamesin

.com/kandang-ternak-ayam-kandang-battery.html (diakses pada hari Sabtu,

tanggal 19 April 2014 pukul 13.35 WIB)

Murtidjo, B. A. l987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius :

Yogyakarta.

Prabowo, Yudi. 2011. Perkandangan. http://layercommunity.wordpress.com/

perkandangan/ (diakses hari Sabtu, tanggal 19 April 2014 pukul 13.00 WIB)

Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius : Yogyakarta.