Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

TANAMAN KOPI (Coffea arabica L)

Kelas: N
Asisten: Intan Anggraeni
Program Studi: Agroekoteknologi

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

DISUSUN OLEH:

NAMA NIM
Dian Nurhayati 155040200111013
Ersyanda Yanuarsa 155040200111033
2

Puji Lestari 155040200111035


Istigfarrindang F. 155040200111059
Febrika Prabawati 155040200111073
Novita Sari 155040200111092
Adilla Arinanda 155040200111103
Kadek Wahyu Satriadi 155040200111109
Krisna Mangaji J. 155040200111110
Refki Aulia Wiwaha 155040200111113
Willyano Angga R. 155040200111115
Jessica Christy Saragih 155040200111146
Rizka Ayu Rachmawati 155040200111186
Ika Nandya Oktavia 155040200111191
Luthfiana Nafisah 155040200111195
Marco Ferrianto P. 155040200111197
Safirah Shabrina 155040200111235
Mei Sari Chanafia 155040200111239
Elyka Putri Pertiwi 155040201111002
Denis Dwi Cahyani 155040201111004
Nabillah Anissa 155040201111015
Abdul Aziz 155040201111065
Eno Sinthia Vinky P. 155040201111073
Fridia Arintya Ayuni 155040201111100
Nor Fifin Sofiana 155040201111123
Ekky Krystyna Dewi 155040201111145
Puji Pratiwi 155040201111179
Siti Nurul Hikmah 155040201111193
Eva Merianti Sitorus 155040201111237
Yuniar Nur Afida 155040201111258
Maria Desi Widya S. 155040201111282
Wiwin Nuraini 155040201111310
Mauludin Ahmad 155040201111312
Tutiek Sri Rejeki 155040201111315
Denny Sitohang 155040201111318
Zahrotun Naylis S. 155040207111004
Anggi Saraswati 155040207111073
Djodhi Indra Septiya 155040207111177
3

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

Komoditas Kopi (Coffea Arabica L)

Jumlah Mahasiswa : 38
Kelas : N

Disetujui Oleh :

Asisten Kelas,

Intan Anggraeni
NIM. 135040201111116
4

RINGKASAN
Salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan adalah kopi. Salah satu
negara sebagai produsen dan pengekspor kopi adalah Indonesia. Selama ini tanaman kopi
yang lazim diusahakan di Indonesia ada dua jenis, yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta.
Kedua jenis kopi tersebut secara fisiologis menghendaki persyaratan kondisi iklim yang
berbeda.Tujuan dari praktikum Teknologi Produksi Tanaman yaitu untuk mengetahui teknologi
penanaman tanaman kopi untuk meningkatkan produksi kopi.

Praktikum lapang dilakukan di UB foresttepatnya di Dusun Sumbersari, Desa


Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Agenda yang dilakukan meliputi
penanaman, pemupukan dan pemangkasan. Berdasarkan hasil perhitungan intensitas
cahaya dengan quantum meter diperoleh hasil 49% yang masih memenuhi syarat dari
tanaman kopi agar dapat tumbuh optimal. Perawatan tanaman kopi meliputi penyiangan,
pemupukan, dan pemangkasan. Pemangkasan tanaman kopi yang dilakukan yaitu
pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan produksi.
5

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat Nya penulis dapat
menyelesaikan laporan akhir praktikum Teknologi Produksi Tanaman Komoditas Kopi Kelas N
Agroekoteknologi 2016.
Dalam Penyusunan laporan ini penulis masih banyak memiliki kekurangan, baik pada
teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan laporan, khususnya kepada :
1 Asisten Praktikum mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman
2 Rekan-rekan pratktian Teknologi Produksi Tanaman
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi asisten praktikum dan praktikan.

Malang, 07 Desember 2016


6

DAFTAR ISI

RINGKASAN.......................................................................................................iii
KATA PENGANTAR............................................................................................iv
DAFTAR ISI.......................................................................................................... v
1. PENDAHULUAN..............................................................................................1
1.1Latar Belakang.............................................................................................1
1.2Tujuan.......................................................................................................... 3
2. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................4
2.1 Sejarah Kopi Masuk di Indonesia................................................................4
2.2 Potensi Kopi................................................................................................6
2.3 Klasifikasi Tanaman Kopi.............................................................................7
2.4 Karakteristik Tanaman Kopi.........................................................................8
2.5 Fase dan Stadia Pertumbuhan....................................................................9
2.6 Budidaya Tanaman Kopi............................................................................11
3. BAHAN DAN METODE...............................................................................15
3.1Waktu Dan Tempat.....................................................................................15
3.2 Alat Dan Bahan.........................................................................................15
3.3 Metode......................................................................................................16
3.4 Analisa Perlakuan......................................................................................18
4. HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................20
4.1 Identifikasi Umum......................................................................................20
4.2Pentingnya Perawatan...............................................................................20
4.3 Pengamatan Intensitas Radiasi Matahari..................................................24
4.4 Hubungan Intensitas Radiasi Matahari dengan Pertumbuhan Tanaman...26
5. PENUTUP...................................................................................................28
5.1 Kesimpulan...............................................................................................28
5.2 Saran........................................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................29
7

DAFTAR TABEL
Tabel 1.Volume dan nilai ekspor-impor tanaman kopi di Indonesia tahun 2008-2009 7
Tabel 2. Intensitas radiasi matahari pada tanaman kopi................................25
8

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Fase pertumbuhan tanaman kopi..............................................10
Gambar 2. Stadia pertumbuhan tanaman kopi............................................11

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan adalah kopi. Kopi
merupakan salah satu bahan minuman rakyat di seluruh dunia, baik di negara produsen
apalagi di negara pengimpor (konsumen). Kopi merupakan suatu komoditi penting dalam
9

ekonomi dunia, dan mencapai nilai perdagangan sebesar US dolar 10.3 millyar (Spillane,
1991), antara negara yang sedang berkembang dengan negara-negara maju. Sehingga
komoditi kopi menjadi salah satu komoditi ekspor yang menjanjikan, disamping itu juga
memiliki peranan penting sebagai sumber penghidupan bagi berjuta-juta petani kopi diseluruh
dunia.Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbanyak di dunia. Menurut data
statistik International Coffee Organization (ICO), Indonesia adalah produsen kopi terbesar
ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam dengan menyumbang sekitar 6% dari produksi
total kopi dunia, dan Indonesia merupakan pengekspor kopi terbesar keempat dunia dengan
pangsa pasar sekitar 11% di dunia (Raharjo, 2013). Peluang untuk mengembangkan kopi
sebagai penggerak perekonomian daerah sebenarnya sangat besar, khususnya bagi daerah-
daerah sentra produksi kopi. Peluang ini semakin besar dan terbuka lebar terutama setelah
dirintisnya konsep Kawasan Agropolitan di beberapa wilayah perdesaan di Indonesia.
Agropolitan adalah upaya menjadikan suatu kawasan perdesaan menjadi kota pertanian yang
tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu
melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di
wilayah sekitarnya.

Oleh karena itu potensi ekonomi yang dimiliki tanaman kopi membuat pemerintah
sadar akan pentingnya komoditas perkebunan tersebut. Pemerintah mulai menunjukkan
dukungannya terhadap komoditas perkebunan kopi sehingga mulai terjadi peningkatan
ekspor kopi di indonesia. Salah satu kunci keberhasilan budidaya kopi yaitu digunakannya
bahan tanam unggul sesuai dengan kondisi agroklimat tempat penanaman. Kondisi
lingkungan perkebunan kopi di Indonesia sangat beragam dan setiap lingkungan tersebut
memerlukan adaptabilitas spesifik dari bahan tanam yang dianjurkan. Pada tanaman kopi,
iklim dan tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan morfologi, pertumbuhan dan daya
hasil. Selama ini tanaman kopi lazim diusahakan di Indonesia ada dua jenis, yaitu kopi
Arabika dan kopi Robusta. Kedua jenis kopi tersebut secara fisiologis menghendaki
persyaratan kondisi iklim yang berbeda. Kopi Arabika menghendaki lahan dataran lebih tinggi
daripada kopi Robusta, sebab apabila ditanam pada lahan dataran rendah selain
pertumbuhan dan produktivitasnya menurun juga akan lebih rentan penyakit karat daun.
10

Dalam budidaya kopi diperlukan pemangkasan utuk menunjang hasil dalam produksi.
Pemangkasan merupakan tindakan kultur teknik berupa tindakan Pemotongan bagian-bagian
tanaman yang tidak dikehendaki Seperti cabang yang telah tua, cabang kering, dan cabang
lain. Untuk menjadikan tanaman kopi sehat, kuat dan mempunyai keseimbangan antara
vegetative dan generative sehingga tanaman lebih produktif. Manfaatnya adalah agar pohon
tetap rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang
baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan
penyakit. Pangkasan juga dapat dilakukan selama panen sambil menghilangkan cabang-
cabang yang tidak produktif, cabang liar maupun yang sudah tua. Cabang yang kurang
produktif dipangkas agar unsur hara yang diberikan dapat tersalur kepada batang-batang
yang lebih produktif. Secara morfologi buah kopi akan muncul pada percabangan, oleh
karena itu perlu diperoleh cabang yang banyak. Pangkasan dilakukan bukan hanya untuk
menghasilkan cabang-cabang saja, (pertumbuhan vegetatif) tetapi juga banyak menghasilkan
buah.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, maka pelaksanaan praktikum mengenai


teknik budidaya dirasa sangat penting. Praktikum yang perlu dilakukan diantara adalah
mengetahui teknik penanaman, pemupukan, penyiangan, dan pemangkasan yang benar dan
tepat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum Teknologi Produksi Tanaman yaitu untuk mengetahui teknologi
penanaman tanaman kopi untuk meningkatkan produksi kopi berjenis arabika dan
mengetahui teknik perawatan tanaman kopi yang meliputi pemupukan, pemangkasan, dan
penyiangan gulma pada tanaman kopi yang berjenis arabica yang terkategori TM (Tanaman
Menghasilkan).
11

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Kopi Masuk di Indonesia

Tanaman kopi bukanlah merupakan tanaman asli dari Indonesia. Tanaman kopi
berasal dari benua Afrika. Tanaman kopi dibawa ke pulau Jawa pada tahun 1696, tetapi pada
saat itu masih dalam taraf percobaan (Aak, 2006). Di Jawa, tanaman kopi baru mendapat
perhatian pada tahun 1699 dikarenakan produksi dan perkembangannya baik. Bibit kopi
Indonesia didatangkan dari Yaman, saat itu yang dipakai adalah jenis kopi Arabika.
Percobaan penanaman tanaman kopi pada mulanya dilakukan di sekitar Jakarta. Setelah
percobaan penanaman dinyatakan berhasil, kemudian biji-biji tersebut dibagikan kepada para
Bupati di Jawa Barat untuk ditanam di daerahnya masing-masing yang ternyata hasilnya juga
baik. Hasil-hasil tersebut harus diserahkan pada VOC dengan harga yang sangat rendah dan
12

diserahkan secara paksa. Maka tanaman yang tadinya hanya sebagai tanaman percobaan
akhirnya menjadi tanaman yang dipaksakn kepada para petani.
Setelah diketahui bahwa tanaman kopi hasilnya terus meningkat, maka perluasan
penanaman terus ditingkatkan hingga akhirnya dikenal dengan adanya Culturstelsel. Mulai
saat itu banyak pengusaha yang memperluas usahanya dalam lapangan perkebunan,
terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanah-tanah usaha swasta. Selanjutnya
penanaman kopi menjadi lebih besar lagi setelah dikeluarkannya Undang-Undang Agraria
pada tahun 1870. Mula-mula perkebunan kopi ini banyak terdapat di Jawa Tengah, yaitu
daerah Semarang, Sala, Kedu; dan di Jawa Timur terutama di daerah Besuki dan Malang.
Sedangkan di Sumatra terdapat di Lampung, Palembang, Sumatera Barat, dan Sumatera
Timur (Aak, 2006).
Pada mulanya tanaman kopi yang berkembang di Indonesia yaitu jenis Kopi Robusta
dan Kopi Arabika Pohon Kopi Robusta tumbuh memuaskan bahkan pada ketinggian kurang
dari 1.000 kaki di beberapa daerah, tapi masa hidupnya hanya sekitar sepuluh tahun
Sedangkan untuk Kopi Arabika pada ketinggian 3.000 menjadi 4.000 meter masa hidupnya
bisa mencapai tiga puluh tahun (Aak, 2006). Kopi Arabika adalah kopi yang paling baik mutu
cita rasanya, tanda-tandanya ialah biji picak dan daun yang hijau-tua dan berombak-ombak.
Tanaman ini tidak tahan terhadap hama dan penyakit, banyak terdapat di Amerika Latin,
Afrika Tengah dan Timur, India dan beberapa terdapat di Indonesia. Jenis-jenis kopi yang
termasuk dalam golongan Arabika adalah Abesinia, Pasumah, Marago dan Congensis (Aak,
2006). Kopi jenis Robusta umumnya dibudidayakan oleh petani di Sumatra Selatan,
Lampung, dan Jawa Timur, sedangkan kopi jenis Arabika umumnya ditanam petani kopi
Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores. Kopi Robusta digolongkan lebih
rendah mutu citarasanya dibandingkan dengan citarasa Kopi Arabika. Hampir seluruh
produksi Kopi Robusta di seluruh dunia dihasilkan secara kering dan untuk mendapatkan
rasa lugas (neutral taste), tidak boleh mengandung rasa-rasa asam dari hasil fermentasi.
Kopi Robusta memiliki kelebihan-kelebihan yaitu kekentalan yang lebih dan warna yang kuat.
Oleh karena itu, kopi Robusta banyak diperlukan untuk bahan campuran blends untuk
merekmerek tertentu. Jenis-jenis kopi robusta adalah Quillou, Uganda dan Canephora
(Siswoyo,2007)
13

Karena meluasnya perkebunan kopi, maka timbullah penyakit daun yang sangat ganas
sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar. Penyakit daun tersebut dikenal dengan
namaHemileia vastatrix. Penyakit daun ini menyebar luas dalam waktu singkat. Serangan
yang paling parah adalah pada perkebunan di dataran rendah, sedangkan yang terdapat di
dataran tinggi dengan ketinggian 1.000-1.700 m dpl masih bisa bertahan, misalnya yang
terdapat di pegunungan Ijen Jawa Timur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kopi
jenis Arabika tidak cocok ditanam di dataran rendah (Aak, 2006).
Untuk mengatasi kerusakan terhadap serangan penyakit Hemileia vastatrix pada tahun
1875 didatangkan jenis Liberika yang berasal dari Afrika Barat yang tadinya diduga lebih
tahan terhadap penyakit tersebut. Namun, ternyata kopi jenis Liberika juga tidak tahan
terhadap penyakit Hemileia vastatrix. Coffea liberika ditanam sebagai sulaman kopi Arabika
yang mati, jadi kopi yang ditanam merupakan tanaman campuran antara kedua jenis
tersebut. Karena terjadinya tanaman campuran maka terjadi keturunan baru yang ternyata
lebih resisten terhadap penyakit Hemileia vastatrix. Karena jenis tersebut sangat peka
terhadap Hemileia vastatrix, maka pada tahun 1900, Linden mengirimkan kopi Canephora ke
Jawa yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama kopi Robusta dari Brussel.
Ternyata kopi Robusta tumbuh baik, serta lebih tahan terhadap Hemileia vastatrix walaupun
tidak 100%. Akhirnya banyak pengusaha yang menggantikan kopi Liberika dan Arabika
dengan kopi Robusta yang ternyata memiliki daya produksi lebih tinggi dibandingkan dengan
kopi Arabika.
Pada tahun 1960 harga kopi Robusta masih kurang lebih 60% di bawah kopi Arabika.
Sedangkan pada tahun 1973 harganya hanya berkisar 26% lebih rendah daripada harga kopi
Arabika. Sejak awal abad 20, Indonesia yang menghasilkan kopi Arabika termahsyur di
pasaran dunia dengan sebutan Java Coffea, akhirnya beralih ke kopi Robusta. Selama 30
tahun terakhir, areal tanaman kopi di Indonesia telah meningkat menjadi lebih dari 3 kali lipat.
Hal ini disebabkan karena perkebunan besar banyak yang berubah menjadi tanaman rakyat.
Pada saat ini tanaman kopi Robusta di Indonesia lebih dari 95%, selebihnya merupakan
tanaman kopi jenis Arabika dan lainnya.
2.2 Potensi Kopi
Indonesia terkenal dengan berbagai jenis kopi dengan cita rasa yang berbeda-beda,
bahkan namanya terkenal di pasar kopi internasional, seperti Java coffee, Gayo Mountain
14

coffee, Mandheiling coffee, dan Toraja / Kalosi coffee (Karo, 2009). Keseluruhan dari jenis
kopi tersebut merupakan kopi Arabikaspesialti. Kopi spesialti asal Indonesia makin popular
mulai akhir tahun 1980-anterutama di kalangan masyarakat Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Pada tahun1997, Indonesia menjadi pemasok kopi spesial terbesar ketiga setelah Kolombia
dan Meksiko dengan pangsa 10% dari total impor kopi spesialti Amerika Serikat yang
besarnya mencapai 75 ribu ton (Herman, 2008).
Berikut adalah data volume dan nilai ekspor-impor kopi tahun 2008-2013 menurut
Direktorat Jenderal Perkebunan (2013) :
Tabel 1.Volume dan nilai ekspor-impor tanaman kopi di Indonesia tahun 2008-2009

Ekspor Impor
Tahun
Volume Nilai (000 Volume Nilai (000
(Ton) US$) (Ton) US$)
2008 468.749 991.458 7.582 18.442
2009 433.600 814.300 19.760 34.850
2010 433.595 814.311 19.755 34.852
2011 346.493 1.036.671 18.108 49.119
2012 448.591 1.249.520 52.645 117.175
2013 534.023 1.174.029 15.800 38.838
Dari data di atas dapat diketahui bahwa tanaman perkebunan kopi memiliki potensi
yang sangat besar untuk menjadi tanaman budidaya perkebunan unggulan dari Indonesia.
Hal ini dapat dilihat dari data ekspor yang cenderung selalu meningkat meski terkadang
mengalami penurunan, dan dengan nilai pasar yang baik. Serta impor dengan volume yang
jauh lebih kecil dari volume ekspor.
Selain itu ekspor kopi arabika dari Indonesia sebagian besar dipasarkan ke segmen
pasar khusus (kopi spesialti) karena mutu citarasanya khas dan digemari oleh para penikmat
kopi di negara-negara konsumen utama. Di segmen spesialti harga kopi lebih mahal dan
fluktuasinya tidak terlalu tajam, yang tentunya berdampak pada pendapatan petani dan
devisa negara (Wahyudi, 2008).

2.3 Klasifikasi Tanaman Kopi

Berikut merupakan klasifikasi dari spesies kopi yang umum dibudidayakan di


Indonesia, meliputi kopi arabika, kopi robusta, dan kopi liberika. Menurut USDA (2002) kopi
arabika termasuk dalam kingdom : Plantae; Divisi : Magnoliophyta; Kelas : Magnoliopsida;
Ordo : Rubiales; Famili : Rubiceae; Genus : Coffea; Spesies : Coffea arabica L. Kopi robusta
15

tidak berbeda jauh dengan kopi arabika, hanya perbedaan pada spesies saja. Berikut
menurut Clifford (2007) kopi robusta termasuk ke dalam kingdom : Plantae; Divisi :
Magnoliophyta; Kelas : Magnoliopsida; Ordo : Rubiales; Famili : Rubiaceae; Genus : Coffea;
Spesies : Coffea canephora. Begitu juga pada kopi liberika, hanya berbeda spesies dengan
kopi arabika dan robusta. Berikut klasifikasi kopi liberika menurut Clifford (2007) kingdom :
Plantae; Divisi : Magnoliophyta; Kelas : Magnoliopsida; Ordo : Rubiales; Famili : Rubiceae;
Genus : Coffea; Spesies : Coffea liberica.
2.4 Karakteristik Tanaman Kopi
Kopi merupakan tanaman tropis yang bersifat Shor Day Plant (SDP), yang artinya
tanaman ini akan mampu berfotosintesis dengan maksimal pada intensitas penyinaran
kurang dari 12 jam, sehingga tanaman kopi membutuhkan tanaman naungan untuk
menunjang kehidupannya (Adugna,2010). Tanaman kopi memiliki daun berwarna hijau
dengan permukaan daun yang mengkilap, dengan tepi daun yang sedikit bergelombang serta
dengan bentuk pecabangan daun yang bersifat opposite dan memiliki bunga yang berwarna
putih (Pompelii, et al., 2012).
Terdapat banyak spesies kopi yang terdapat di seluruh dunia, namun tanaman kopi
yang paling sering dimanfaatkan bijinya yaitu berasal dari 3 spesies jenis kopi yaitu kopi
arabika (Coffea arabica, kopi robusta (Coffea canephora) dan kopi liberika (Coffea liberica).
Ketiga jenis kopi tersebut memiliki karakteristik yang serupa namun berbeda dan berikut
karakteristik dari masing-masing spesies kopi tersebut :
a. Kopi Arabika, kopi ini biasa dibudidayakan pada dataran tinggi, dengan ketinggian
1.300 s.d. 1500 m dpl. Memiliki buah yang berwarna hijau gelap dan akan berubah
menjadi merah gelap saat buah tersebut telah matang. Kopi arabika merupakan jenis
tanaman yang menyerbuk sendiri dengan ketinggian 4.5 meter. (Pompelii, et al.,
2012)
b. Kopi Robusta, kopi ini dapat dibudidayakan pada dataran rendah (0 s.d. 700 m dpl),
memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan OPT maupun dari keadaan
cuaca yang tidak menentu daripada kopi arabika, dan memiliki produktivitas yang
tinggi. Kopi robusta memiliki biji yang berwarna lebih muda daripada biji kopi arabika
dan cenderung berbentuk oval serta memiliki ketinggian 3 meter. Kopi robusta
merupakan tanaman yang menyerbuk silang (Klein, 2006)
16

c. Kopi liberika, merupakan spesies tanaman kopi yang berukuran relatif lebih besar
daripada spesies kopi arabika dan robusta, namun kopi ini memiliki buah yang
berukuran lebih kecil yang berbentuk menyerupai tetesan air. Kopi ini dapat tumbuh
hingga ketinggian 5.5 meter. (Ardiyani, 2015)
2.5 Fase dan Stadia Pertumbuhan

Fase dalam pertumbuhan tanaman kopi terbagi menjadi 3, pertama merupakan fase
perkecambahan. Kedua fase vegetatif, dan yang terakhir merupakan fase generatif. Berikut
merupakan penjelasan oleh Manalu (2016) mengenai fase pertumbuhan tanaman
kopi.Kematangan fisiologis benih tercapai sekitar dalam 220 hari setelah pembukaan bunga.
Berikut ini menunjukkan tahap pertumbuhan tanaman kopi sampai menjadi produktif.

a Tahap I Pembungaan dan Membuahkan.


b Tahap II Perkembangan Bunga
Dalam tahap ini tanaman melewati dua fase periode kritis, yaitu: periode kritis
kebutuhan kelembaban dan ketersediaan N.
c Tahap III Pengisian Biji

Pengisian Biji Rata-rata perkembangan buah kopi adalah 34 minggu setelah


pembuahan . Dalam periode ini akumulasi bahan kering diproduksi tinggi, dan
kemudian tanaman membutuhkan jumlah besar nutrisi tersedia, sebagai tambahan dari
pasokan air yang memadai dan kontrol phytosanitary yang baik. Selain itu, penting
untuk mempertimbangkan bahwa kopi sebagai pohon buah-buahan, menyajikan
tumpang tindih peristiwa yang terjadi secara bersamaan yang sangat mempengaruhi
tahun ini atau produksi tahun depan. Misalnya , pada periode pengisian biji-bijian dan
kedewasaan, pohon kopi juga dalam induksi bunga dan periode cabang tumbuh. Oleh
karena itu, tanaman ini diperlukan untuk fokus ke tahap ke arah produk kopi,
menciptakan kompetisi untuk sumber daya. Situasi ini, sering mengakibatkan produksi
yang tinggi pada tahun ini dan sangat rendahditahunberikutnya.
17

Gambar 1. Fase pertumbuhan tanaman kopi

Beralih ke stadia pertumbuhan kopi, jika fase pertumbuhan kopi terbagi menjadi 3
berbeda dengan stadia yang terbagi menjadi 5 tahapan. Berikut penjelasan Hulupi (2013)
mengenai stadia tumbuh tanaman kopi.
1 Benih, Benih di tanam sedalam 0,5 dengan jarak 2x5 cm
2 Stadia serdadu, Benih mulai berkecambah dan masih memiliki kotiledon
3 Stadia kepelan
4 Stadia kepelan dalam polybag
5 Tanaman di lahan

http://www.conservation..org.org

TANAMAN KOPI DI LAHAN

BENIH
KEPELAN DALAM POLYBAG

BENIH
STADIA KEPELAN
BENIH
STADIA SERDADU

BENIH

Gambar 2. Stadia pertumbuhan tanaman kopi


18

2.6 Budidaya Tanaman Kopi


Menurut Prastowo et al. (2010) untuk meningkatkan produksi kopi dapat dilakukan
teknik budidaya yang efektif. Adapun teknik budidaya yang dapat dilakukan yaitu :
A. Ketinggian Tempat
Kopi di Indonesia saat ini umumnya dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat di atas
700 m di atas permukaan laut (dpl). Ada baiknya kopi ditanam di atas 700 m dpl, terutama
jenis kopi robusta. Kopi arabika baik tumbuh dengan citarasa yang bermutu pada ketinggian
di atas 1000 m dpl. Namun demikian, lahan pertanaman kopi yang tersedia di Indonesia700
sampai 900 m dpl. Mungkin hal ini yang menyebabkan mengapa sebagian besar (sekitar
95%) jenis kopi di Indonesia saat ini adalah kopi robusta.
B. Curah Hujan dan Lahan
Curah hujan yang sesuai untuk kopi adalah 1500 2500 mm per tahun, dengan rata-
rata bulan kering 1-3 bulan dan suhu rata-rata 15-25 derajat celcius dengan lahan kelas S1
atau S2 (Puslitkoka, 2006). Ketinggian tempat penanaman akan berkaitan juga dengan
citarasa kopi.
C. Pembibitan dan perbanyakan bahan tanam
Tanaman kopi dapat diperbanyak dengan cara vegetatif menggunakan bagian dari
tanaman dan generatif menggunakan benih atau biji. Perbanyakan secara generatif lebih
umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, lebih singkat untuk menghasilkan
bibit siap tanam dibandingkan dengan perbanyakan bibit secara vegetatif (klonal).
D. Penanaman
Jarak tanam kopi umumnya disesuaikan dengan kemiringan tanah. Untuk lahan dengan
kemiringan tanah kurang dari 15%, tiap klon ditanam dengan lajur sama, berseling dengan
klon lain. Pergantian klon mengikuti arah timur- barat. Apabila kemiringan tanah lebih dari
15% tiap klon diletakkan dalam satu teras, diatur dengan jarak tanam sesuai lebar teras.
E. Pemupukan
Dosis pemupukan biasanya mengikuti umur tanaman, kondisi tanah, tanaman serta
iklim. Pemberian pupuk biasanya juga mengikuti jarak tanamnya, dan dapat ditempatkan
sekiatr 30-40 cm dari batang pokoknya. Seperti untuk tanaman lainnya, pelaksanaan
pemupukan harus tepat waktu, tepat jenis, tepat dosis dan benar cara pemberiannya.
F. Pemangkasan
19

Manfaat dan fungsi pemangkasan umumnya adalah agar pohon tetap rendah sehingga
mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah
masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit. Pangkasan juga
dapat dilakukan selama panen sambil menghilangkan cabang-cabang yang tidak produktif,
cabang liar maupun yang sudah tua. Cabang yang kurang produktif dipangkas agar unsur
hara yang diberikan dapat tersalur kepada batang-batang yang lebih produktif. Umumnya
pangkasan dengan sistem berbatang ganda tidak tergantung pada individu pohon, oleh
karena itu banyak dikembangkan di negara-negara yang sukar dan mahal tenaga kerja. Oleh
karena itu umumnya perusahaan perkebunan besar di Indonesia banyak yang menggunakan
pemangkasan dengan sistem berbatang tunggal, sedangkan perkebunan rakyat kebanyakan
menggunakan sistem berbatang ganda (Yahmadi, 2007). Untuk menentukan terhadap pilihan
sistem mana yang lebih baik sangat dipengaruhi oleh kondisi agroekosistem dan jenis kopi
yang ditanam. Sistem berbatang tunggal lebih sesuai untuk jenis kopi arabika karena jenis
kopi ini banyak membentuk cabang-cabang sekunder dan sistem ini lebih banyak diarahkan
pada pengaturan peremajaan cabang. Sehubungan dengan hal tersebut, apabila peremajaan
cabang yang merupakan inti dan sistem ini, kurang diperhatikan produksi akan cepat
menurun, karena pohon-pohon menjadi berbentuk payung. Untuk daerah- daerah yang basah
dan letaknya rendah, dimana pertumbuhan batang-batang baru berjalan lebih cepat sistem
berbatang ganda lebih diarahkan pada peremajaan batang oleh karena itu lebih sesuai.
Sebaliknya, sistem ini pada umumnya kurang sesuai untuk pertanaman kopi yang sudah tua
yang telah lemah daya regenerasinya (Yahmadi, 2007).
Pemangkasan terbagi tiga macam yaitu, pemangkasan bentuk, pemangkasan
pemeliharaan (produksi), dan pemangkasan rejuvinasi. Tujuan pangkasan bentuk dalam
budidaya kopi bertujuan membentuk kerangka tanaman yang kuat dan seimbang. Tanaman
menjadi tidak terlalu tinggi, cabang- cabang lateral dapat tumbuh dan berkembang menjadi
lebih kuat dan lebih panjang. Selain itu kanopi pertanaman lebih cepat menutup. Hal ini
penting untuk mencegah rumpai dan erosi.Pangkasan produksi bertujuan untuk menjaga
keseimbangan kerangka tanaman yang telah diperoleh melalui dari pangkasan bentuk.
Pemangkasan cabang- cabang yang tidak produktif yang biasanya tumbuh pada cabang
primer, dan cabang balik, cabang cacing (adventif). Pemangkasan cabang-cabang tua yang
tidak produktif biasanya telah berbuah 2-3 kali, hal ini bertujuan agar dapat memacu
20

pertumbuhan cabang-cabang produksi. Apabila tidak ada cabang-cabang reproduksi, cabang


tersebut harus dipotong juga agar zat hara dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan cabang
lain yang lebih produktif. Pemangkasan juga dilakukan terhadap cabang yang terserang
hama hal ini agar tidak menjadi sumber inang.Pangkasan rejuvinasi bertujuan untuk
memperoleh batang muda, untuk sistem berbatang ganda pangkasan produksi adalah juga
merupakan pangkasan rejuvinasi. Pangkasan ini dilakukan apabila produksi rendah tetapi
keadaan pohon-pohon masih cukup baik.
G. Penaungan
Penaungan ada yang membagi menjadi penaungan sementara dan penaungan tetap
(Puslitkoka, 2006). Penaung sementara sebaiknya dirapikan pada awal musim hujan agar
tidak terlalu rimbun. Pada penaungan tetap, percabangan paling bawah hendaknya
diusahakan 1-2 meter di atas pohon kopi, oleh karena itu harus dilakukan pemangkasan
secukupnya. Ada juga yang mengatur pemangkasan sehingga percabangannya diatur agar
dua kali tinggi pohon kopinya agar tetap terjaga peredaran udaranya (Yahmadi, 2007).
Tanaman naungan sebaiknya tanaman leguminosa, yang dapat mengikat nitrogen (N) pada
akar-akarnya (memperkaya kandungan N tanah melalui daun-daun yang gugur).
I. Panen
Pemanenan buah kopi yang umum dilakukan dengan cara memetik buah yang telah
masak pada tanaman kopi adalah berusia mulai sekitar 2,5 sampai 3 tahun. Buah matang
ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua adalah buah masih
muda, berwarna kuning adalah setengah masak dan jika berwarna merah maka buah kopi
sudah masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over
ripe) (Starfarm, 2010).
Untuk mendapatkan hasil yang bermutu tinggi, buah kopi harus dipetik dalam keadaan
masak penuh. Kopi robusta memerlukan waktu 811 bulan sejak dari kuncup sampai matang,
sedangkan kopi arabika 6 sampai 8 bulan. Beberapa jenis kopi seperti kopi liberika dan kopi
yang ditanam di daerah basah akan menghasilkan buah sepanjang tahun sehingga
pemanenan bisa dilakukan sepanjang tahun. Kopi jenis robusta dan kopi yang ditanam di
daerah kering biasanya menghasilkan buah pada musim tertentu sehingga pemanenan juga
dilakukan secara musiman. Musim panen ini biasanya terjadi mulai bulan Mei/Juni dan
berakhir pada bulan Agustus/September (Ridwansyah, 2003).
21

3 BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum lapang (fieldtrip)Teknologi Produksi Tanaman pada Komoditas kopi


arabika (Coffea arabica) dilakukan pada hari sabtu 26 September 2016 dari pukul 06.30
hingga 13.00 WIB. Tempat kegiatan fieldtrip dilakukan di UB Forest tepatnya di Dusun
Sumbersari, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Secara
geografis desa Tawangagro terletak pada posisi 7 0 LS 1120 BT. Topografi ketinggian desa ini
adalah berupa dataran tinggi yaitu sekitar 700 m 1000 m diatas permukaan laut.
3.2 Alat Dan Bahan
3.2.1 Penanaman
1. Roll meter : Untuk mengukur jarak tanam
2. Ajir : Untuk menandai jarak tanamn
3. Cangkul : Untuk membuat lubang tanam
4. Bibit Kopi : Sebagai bahan tanam
5. Pupuk kandang : Sebagai bahan pencampuran tanah

3.2.2 Pemupukan Anorganik


1. Cangkul : Untuk membuat piringan
2. Timbangan : Untuk menghitung berat pupuk
3. Timba wadah pupuk : Untuk wadah pupuk
4. Pupuk urea, SP36,
dan KCL :Sebagai bahan pupuk yang digunakan dalam pemupukan
5. Tanaman kopi TM : Sebagai objek pemupukan

3.2.3 Pemangkasan
1. Gunting pangkas : Untuk memangkas cabangtanaman yang tidak produktif
2. Sabit : Untuk memangkas cabangtanamanyangtidak produktif
3. Tanaman kopi TM : Sebagai tanaman yang diamati

3.3 Metode
22

3.3.1 Penanaman

Menetapkan titik awal (X) untuk membuat jarak tanam dengan melihat situasi
areal yang akan ditanami

Mengatur jarak tanam pola tunggal 2 x 2 m yang lurus pada semua arah
mata angin (utara selatan timur barat)

Menandai titik jarak tanam menggunakan ajir

Membuat lubang tanam dengan cangkul pada tempat yang telah ditandai ajir
dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm. Ajir tepat berada ditengah lubang tanam

Galian tanah lapisan atas (top soil) yaitu sedalam 0 20 cm diletakkan di


sebelah kanan lubang

Galian tanah lapisan bawah (sub soil) yaitu kdalaman 20 40 cm diletakkan


di sebelah kiri lubang

Tanah lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang 1 2 kg atau 1 timba


kecil (timba/ember untuk proyek bangunan)

Memasukkan tanah lapisan atas yang sudah dicampur pupuk kandang ke


dalam lubang tanah terlebih dahulu

Setelah lubang tanam terisi tanah lapisan atas, baru tanah lapisan bawah
dimasukkan ke dalam lubang tanam

Menyiapkan bibit tanaman kopi varietas Arabika

Bila bibit dalam polibag, plastik polibag dilepas atau disobek dengan hati-hati

Usahakan agar bibit tetap terbungkus dengan tanah

Periksa akar tunggang, bila terlalu panjang dipotong


23

Membuat lubang tanam dengan cangkul kecil atau tangan sesuai dengan
tanah yang membungkus akar, tepat di tengah ajir

Menanam dan meletakkan bibit dengan pangkal batang berada di atas


permukaan tanah

Setelah bibit tertanam, dipadatkan tanah di sekeliling bibit dengan telapak


tangan agar bibit tidak tergerus air hujan dan tidak mudah roboh

Meletakkan ajir 10 cm disisi tanaman sebagai tanda tanaman baru ditanam

Selesai, mengumpulkan peralatan

3.3.2Pemupukan An-Organik

Pilih tanaman kopi yang akan di pupuk (satu tanaman kopi terdiri dari 2-3
orang)

Tetapkan kriteria dan umur tanaman (Tanaman kopi TM)

Timbang pupuk 90 kg N/Ha dan 72 kg P2O5/Ha

Sesuaikan penimbangan pupuk dengan area yang tersedia


(disesuaikandengan luas 0,5 ha)

Campur pupuk yang sudah ditimbang

Hitung alokasi pupuk an-organik untuk tiap tanaman dengan asumsi


populasi per Ha = 1500 tanaman

Bersihkan piringan tanaman kopi dari gulma dengan lingkaran luas sejajar
dengan garis luar kanopi tanaman
24

Buat alur pupuk dengan cangkul digaris keliling kanopi luar tanaman pada
tanah

Tabur pupuk pada alur yang sudah dibuat sesuai takaran

Setelah selesai kembalikan dan kumpulkan alat dan bahan pupuk yang
tersisa

3.3.3 Pemangkasan

Tetapkan tanaman kopi TBM maupun TM yang akan dilakukan


pemangkasan dan pemeliharaan

Pangkas dengan sabit atau guntung dengan gunting pangkas cabang


tanama yang tidak produktif yaitu : tunas air, tunas balik, tunas cabang
kering terserang hama/penyakit

Setelahselesai, kembalikandankumpulkanperalatan

3.4 Analisa Perlakuan

3.4.1 Penanaman
Langkah pertama yang dilakukan dalam kegiatan penanaman tanaman kopi adala
menetapkan titik awal (X) untuk membuat jarak tanam dengan melihat situasi areal yang akan
ditanami. Kemudian mengatur jarak tanam pola tunggal 2 x 2 m yang lurus pada semua arah
mata angin (utara selatan timur barat). Lau menandai titik jarak tanam menggunakan
ajir. Membuat lubang tanam dengan cangkul pada tempat yang telah ditandai ajir dengan
ukuran 40 x 40 x 40 cm. Ajir tepat berada di tengah lubang tanam. Galian tanah lapisan atas
(top soil) yaitu sedalam 0 20 cm diletakkan di sebelah kanan lubang. Galian tanah lapisan
bawah (sub soil) yaitu kedalaman 20 40 cm diletakkan di sebelah kiri lubang . Tanah lapisan
atas dicampur dengan pupuk kandang 1 2 kg atau 1 timba kecil (timba/ember untuk proyek
bangunan). Lalu memasukkan tanah lapisan atas yang sudah dicampur pupuk kandang ke
25

dalam lubang tanah terlebih dahulu. Setelah lubang tanam terisi tanah lapisan atas, baru
tanah lapisan bawah dimasukkan ke dalam lubang tanam.
Menyiapkan bibit tanaman kopi varietas Arabika. Bila bibit dalam polibag, plastik
polibag dilepas atau disobek dengan hati-hati. Mengusahakan agar bibit tetap terbungkus
dengan tanah. Memeriksa akar tunggang, bila terlalu panjang dipotong. Membuat lubang
tanam dengan cangkul kecil atau tangan sesuai dengan tanah yang membungkus akar, tepat
di tengah ajir. Lalu Menanam dan meletakkan bibit dengan pangkal batang berada di atas
permukaan tanah. Setelah bibit tertanam, dipadatkan tahnah di sekeliling bibit dengan telapak
tangan agar bibit tidak tergerus air hujan dan tidak mudah roboh. Kemudian meletakkan ajir
10 cm disisi tanaman sebagai tanda tanaman baru ditanam.

3.4.2 Pemupukan An-organik


Sebelum melakukan pemupukan, terlebih dahulu pilih tanaman kopi yang akan diberi
pupuk. Setelah itu tetapkan criteria dan umur tanaman, lalu timbang pupuk 90 kg N/Ha dan
72 kg P2O5/Ha.Kemudian sesuaikan penimbangan pupuk dengan area yang tersedia
(disesuaikan dengan luas 0,5 ha) dan campur serta ratakan pupuk. Setelah pupuk tercampur
rata, hitung alokasi pupuk an-organik untuk tiap tanaman dengan asumsi populasi. Kemudian
bersihkan piringan tanaman kopi dari gulma dengan lingkaran luas sejajar. Setelah it buat
alur pupuk dengan cangkul digaris keliling kanopi luartanaman pada tanahdan tabur pupuk
pada alur yang sudah dibuat sesuai takaran. Setelah selesaikembalikan dan kumpulkan alat
dan bahan pupuk yang tersisa.

3.4.3 Pemangkasan
Pertama-tama tetapkan tanaman kopi TBM maupun TM yang akan dilakukan
pemangkasan. Kemudian pangkas dengan sabit atau guntung dengan gunting pangkas
cabang tanama yang tidak produktif yaitu : tunas air, tunas balik, tunas cabang kering
terserang hama atau penyakit.Setelahselesai, kembalikandankumpulkanperalatan.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Umum


26

Kopi arabika ( Coffea arabica ) untuk berbunga dan menghasilkan buah, tanaman kopi
arabika membutuhkan periode kering selama 4-5 bulan dalam setahun. Biasanya pohon
arabika akan berbunga di akhir musim hujan. Bila bunga yang baru mekar tertimpa hujan
yang deras akan menyebabkan kegagalan berbuah. Menurut Yahmadi ( 2007) kopi arabika
mulai berbunga setelah musim hujan. Bunga tumbuh pada ketiak daun. Bunga kopi bewarna
putih dan bisa melakukan penyerbukan sendiri, tidak ada perbedaan bunga jantan dan bunga
betina. Dari bentuk kuncup hingga menjadi buah yang siap panen membutuhkan waktu 8-11
bulan.
Curah hujan pada di daerah karangploso, tepatnya UB Forest sudah mendukung
dengan curah hujan per bulan, pada bulan agustus sebanyak 51 150 mm yang termasuk
kategori rendah, lalu pada bulan september sebanyak 201 400 mm yang termasuk kategori
tinggi, kemudian pada bulan oktober dan november sebanyak 201 300 mm yang termasuk
kategori menengah apabila dijumlahkan curah hujan di daerah karangploso, Malang
mencapai 1501 2500 mm per tahun (BMKG Karangploso, 2016), curah hujan seperti itu
sudah cocok untuk tanaman kopi karena pada umumnya curah hujan yang sesuai untuk kopi
adalah 1500 2500 mm per tahun, dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan dan suhu rata-
rata 15-25 derajat celcius. (Puslitkoka, 2006).

4.2 Pentingnya Perawatan


Dalam budidaya tanaman kopi, perlu diperhatikan faktor-faktor yang mampu
menunjang pertumbuhan kopi dan hasilnya. Pencapaian hasil produksi yang maksimal tidak
hanya dari penggunaan varietas dan jenis tanaman, namun faktor pemeliharaan juga sangat
mendukung produksi tanaman kopi. Aspek pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan,
pemangkasan dan pemupukan.

4.2.1 Penyiangan
Dalam budidaya tanaman kopi tentunya harus dilakukan perawatan secara intensif,
seperti halnya kegiatan penyiangan. Penyiangan merupakan kegiatan pemeliharaan yang
dilakukan dengan cara menyingkirkan ataupun mengendalikan pertumbuhan dan
perkembangan gulma yang terdapat disekitar tanaman kopi. Gulma yang berada di sekitar
27

area tanaman kopi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kopi, karena gulma tersebut
menyerap unsur hara yang ada disekitar tanaman. Selain itu, penyiangan juga bertujuan
dalam memudahkan tindakan pemeliharaan seperti pemupukan, pemangkasan dan
pemanenan. Untuk mengendalikan gulma di perkebunan kopi dapat dilakukan penyiangan
tiga kali (dua kali pada saat pemupukan dan sekali sesuai keadaan) (Puslit Koka,1998 dalam
Mahfud, 2012). Kegiatan penyiangan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode yang
meliputi metode manual, teknis dan kimia. Metode metode yang akan digunakan harus
diiringi dengan kondisi lahan, jika pertumbuhan gulma sangat banyak digunakan metode
dengan cara kimia, tetapi jika pertumbuhan gulma hanya sedikit maka dapat digunakan
metode manual dan teknis. Metode dengan cara kimia dapat dilakukan dengan frekuensi 1-5
kali/tahun. Her bisida yang digunakan adalah herbisida glifosat. Dan untuk mengendalikan
alang-alang digunakan dosis 5 L/ha, sedangkan gulma umum 2-3 L/ha (Tim Dosen IPB,
2011). Herbisida yang umumnya direkomendasikan untuk pertanaman kopi yaitu herbisida
berbahan aktif glifosat, pa raquat, sulfosat, dan amonium glufosinat (Komisi Pestisida, 2011).
Pada pratikum lapang kali ini metode yang digunakan adalah manual dengan melihat
kondisi perkembangan gulma yang masih sedikit disekitar tanaman kopi. Penyiangan gulma
dilakukan dengan cara mencabut gulma secara langsung menggunakan tangan ataupun
menggunakan alat berupa sabit di daerah tumbuh tanaman kopi. Gulma-gulma yang sudah di
cabut dikumpulkan menjadi satu dan dijauhkan dari tanaman kopi, supaya tidak mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi.

4.2.2 Pemupukan
Kegiatan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kopi secara signifikan adalah
pemupukan. Kegiatan pemupukan adalah menambahkan unsur hara untuk menunjang
pertumbuhan tanaman kopi agar dapat berproduksi secara maksimal. Dengan begitu
kegiatan ini merupakan kegiatan pokok yang harus dilakukan dalam pembudidayaan
tanaman kopi. Menurut Pujiyanto dan Abdoellah (2011) pupuk merupakan masukan
yangpenting dan mempunyai peranan yang vital bagi keberhasilan usaha perkebunankopi.
Pemberian pupuk sebagai usaha menambah unsur hara bagi tanamanbermanfaat untuk
meningkatkan produksi dan mutu hasil, mempertahankanstabilitas produksi yang tinggi dan
memperbaiki kondisi dan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim
28

seperti kekeringan dan seranganpenyakit (Dinas Perkebunan Daerah Kabupaten Jember,


2013).
Pemberian pupuk bergantung padakebutuhan tanaman dengan mengingat unsur hara
yang sudah tersedia dalam tanah. Untuk mengetahui kebutuhan tanaman akan jenis, dosis,
waktu aplikasi,dan cara penempatan pupuk terlebih dahulu dilakukan analisis daun,
analisistanah, menetapkan produksi sebelum dan yang diharapkan, dan percobaan lapang.
Dosis pemupukan biasanya mengikuti umur tanaman, kondisi tanah, tanaman serta iklim.
Pemberian pupuk biasanya juga mengikuti jarak tanamnya, dan dapat ditempatkan sekiatr
30-40 cm dari batang pokoknya. Seperti untuk tanaman lainnya, pelaksanaan pemupukan
harus tepat waktu, tepat jenis, tepat dosis dan benar cara pemberiannya (Prastowo, 2012)
Manfaat pupuk bagi tanaman kopi adalah memperbaiki kondisi tanaman. Pemupukan
yang dilakukan secara optimal dan teratur menjadikan tanaman kopi memiliki daya tahan
yang lebih besar yang tidak mudah dipengaruhi keadaan yang ekstrim misalnya kekuranagan
air, temperatur tinggi dan rendah dan pembuahan yang terlalu lebat. Selain itu pemupukan
juga dapat meningkatkan produksi dan mutu buah dan mempertahankan produksi.
Pada prakitukum lapang yang dilakukan, pupuk yang digunakan yaitu pupuk urea dan
sp36. Langkah pertama yang dilakukan adalah menghitung dosis pupuk per tanaman.
Kemudian pupuk Sp36 dan Urea dicampur menjadi satu. Lalu membuat alur dengan
cangkul/sekop disekeliling piringan atau keliling kanopi tanaman. Setelah itu menabur pupuk
yang sudah dicampur dan tutup kembali alur mengunakan tanah.

4.2.3 Pemangkasan
Pemangkasan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada tanaman kopi dalam
memperoleh produksi yang tinggi. Kegiatan ini memerlukan ketelitian karena jika terjadi
kesalahan dalam pemangkasan akan menyebabkan penurunan produksi buah kopi. Menurut
Prastowo (2012) manfaat dan fungsi pemangkasan umumnya adalah agar pohon tetap
rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru,
mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit.
Pangkasan juga dapat dilakukan selama panen sambil menghilangkan cabang-cabang yang
tidak produktif, cabang liar maupun yang sudah tua. Cabang yang kurang produktif dipangkas
29

agar unsur hara yang diberikan dapat tersalur kepada batang-batang yang lebih produktif.
Menurut Prastowoet,al (2012) Pemangkasan dibedakan menjadi 4 macam :
a. Pemangkasan bentuk
b. Pemangkasan pemeliharaan
c. Pemangkasan produksi
d. Pemangkasan rejunivasi (peremajaan)
Tujuan pangkasan bentuk dalam budidaya kopi bertujuan membentuk kerangka
tanaman yang kuat dan seimbang. Tanaman menjadi tidak terlalu tinggi, cabang cabang
lateral dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih kuat dan lebih panjang. Selain itu kanopi
pertanaman lebih cepat menutup. Pemangkasan pemeliharaan meliputi, memangkas pohon
yang telah melebihi ketinggian yang ditentukan pada pemangkasan bentuk, memangkas
tunas air dan wiwilan. Pangkasan produksi bertujuan untuk menjaga keseimbangan kerangka
tanaman yang telah diperoleh melalui pangkasan bentuk. Pemangkasan produksi meliputi,
membuang cabang-cabang yang tidak produktif yang biasanya tumbuh pada cabang primer
dan cabang balik dan juga membuang cabang yang terkena hama dan penyakit.
Pangkasan rejuvinasi bertujuan untuk memperoleh batang muda, untuk sistem berbatang
ganda pangkasan produksi adalah juga merupakan pangkasan rejuvinasi. Pangkasan ini
dilakukan apabila produksi rendah tetapi keadaan pohon-pohon masih cukup baik. Untuk
lokasi kebun yang banyak diperoleh tanaman yang mati.
Pada pratikum lapang dilakukan pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan
produksi pada tanaman kopi. Pemangkasan pemeliharaan meliputi wiwilan, dan pembuangan
tunas air. Sedangkan pemangkasan produksi meliputi pembuangan cabang yang tidak
produktif dan pembuangan cabang yang terserang hama dan penyakit.Pemangkasan yang
dilakukan pada praktikum ini yakni dengan menggunakan gunting pemangkas dan juga sabit.
4.3 Pengamatan Intensitas Radiasi Matahari

Tanaman kopi merupakan tanaman C3 dimana tanaman kopi membutuhkan tanaman


naungan karena tanaman kopi hanya membutuhkan cahaya 60-80%.Pengukuran intensitas
cahaya matahari dilakukan menggunakan quantum meter. Pada bagian warna putih yang
terdapat pada quantum meter yang berfungsi untuk mengukur intensitas radiasi matahari.
Pengukuran intensitas matahari dilakukan dengan mengamati bawah tajuk tanaman kopi dan
30

daerah terbuka. Berikut merupakan tabel pengamatan intensitas radiasi matahari pada
tanaman kopi dengan berbagai perlakuan.

Tabel 2. Intensitas radiasi matahari pada tanaman kopi


Rata-
Pengulangan ke-
Perlakuan rata
1 2 3 4 5
1
100% cahaya matahari 113 153 146 157 144 142,6
.
2
Naungan 1 (pohon kopi) 39 37 42 30 32 36
.
3
Naungan 2 ( pohon pinus) 40 37 41 41 40 39,8
.
4
Ei naungan 1(%) 65,48 75,81 71,2 80,1 77,8 74,75
.
5
Ei naungan 2 (%) 64,60 75,81 71,9 73,9 72,2 72,08
.
Dari tabel hasil pengamatan dapat diketahui bahwa intesitas radiasi matahari pada
masing-masing perlakuan dengan 5 kali pengulangan didapatkan hasil yang berbeda-beda.
Rata-rata intesitas radiasi matahari pada perlakuan 100% cahaya matahari atau tanpa
naungan sebesar 142,6. Intensitas ini terlalu tinggi untuk tanaman kopi, sehingga diperlukan
tanaman naungan untuk mengurangi intensitas cahaya agar pertumbuhan kopi optimal. Dari
data di atas dapat diketahui bahwa dengan adanya tanaman naungan berupa kopi dan pinus
intensitas cahaya yang diterima oleh kopi berada di kisaran 70%. Hal ini menunjukkan bahwa
intensitas yang diterima kopi pada lahan ini sudah sesuai dengan syarat tumbuh kopi yakni
60-80% (Utomo, 2011). Sedangkan menurut Muschler, (1995) menyatakan batas atas
naungan yang diterima untuk tanaman kopi (tanaman C3) yaitu berkisar antara 40% sampai
70%. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi menyebabkan laju fotosintesis menurun karena
terjadi fotooksidasi klorofil dan kerusakan enzim. Sedangkan intensitas cahaya rendah dapat
menurunkan lajufotosintesis karena terjadi kompensasi cahaya yaitu antara laju fotosintesis
31

dan laju foto respirasi. Sedangkan perhitungan intensitas cahaya diukur dengan quantum
meter diperoleh hasil 49% yang masih memenuhi syarat dari tanaman kopi agar dapat
tumbuh optimal. Hasil tersebut diperoleh dengan dari perhitungan sebagai berikut.
bawah kanopi
x 100%
luas kanopi
Intensitas cahaya =

605
x 100%
1221
=

= 49 %

4.4 Hubungan Intensitas Radiasi Matahari dengan Pertumbuhan Tanaman


Dari kegiatan yang telah dilaksanakan, didapatkan data bahwa intensitas radiasi
matahari diperoleh pada tanaman kopi dengan perlakuan tanpa naungan. Sedangkan, data
terendah dari intensitas radiasi matahari adalah perlakuan dengan naungan yaitu sebesar 36.
Tanaman kopi merupakan tanaman C3 dengan ciri khas efisiensi fotosintesis rendah karena
terjadi fotorespirasi, sehingga sepanjang hidupnya memerlukan naungan. Tingkat naungan
berhubungan erat dengan intensitas cahaya, sedangkan intensitas cahaya berhubungan erat
dengan proses fotosintesis dan aktivitas stomata tanaman (Nasarudin dkk., 2006). Intensitas
radiasi optimal pada tanaman kopi yaitu 40%. Tingkat naungan berbeda-beda setiap
fasenya, pada fase pembibitan atau umur muda, tingkat naungan yang dibutuhkan oleh
tanaman kopi lebih tinggi dibandingkan fase dewasa atau fase pertumbuhan generatif.
Tingkat naungan yang tidak sesuai pada fase pembibitan akan menghasilkan kualitas bibit
kopi yang rendah. Menurut Iskandar (1988), naungan berpengaruh terhadap pertumbuhan
bibit kopi. Bagi tanaman kopi, naungan diperlukan untuk mengurangi pengaruh buruk akibat
sinar matahari yang terik dan memperpanjang umur ekonomi. Naungan akan
mempengaruhi jumlah intensitas cahaya matahari yang mengenai tanaman karena akan
berpengaruh terhadap proses fotosintesis. Oleh karena itu, pemberian naungan bertujuan
mendapatkan intensitas cahaya matahari yang sesuai untuk fotosintesis. Jika pemilihan
tanaman pelindung tepat, misalnya jenis tanaman yang dapat hidup bersama dengan kopi,
maka tanaman pelindung dapat menambah kandungan hara dalam tanah melalui serasah
32

daundaunnya. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai naungan menurut Imran (2013),
yaitu Ambas (kayu Dadap) Erythrina variegataL, Alpukat Persea americana P. Mill, dan Jati
Tectona grandis .
Jumlah pohon naungan yang ada berhubungan dengan pemangkasan pada tanaman
kopi karena dapat berakibat pada intensitas radiasi matahari dan kelembaban disekitar
tanaman kopi. Karena, kelembaban yang tinggi dapat berdampak buruk, baik dari banyaknya
hama dan penyakit yang menyerang hingga pembentukan organ generatif. Hal ini sesuai
dengan pendapat Bambang, Elna, Rubijo dkk (2010), bahwa pengaturan ikim mikro pada
pohon kopi dengan mengurangi naungan dapat menurunkan kelempan, karena tingginya
kelembaban terutama pada saat musim penghujan dapat berakibat buah yang mudah gugur
hingga 20-30%. Selain itu, untuk merangsang proimorida bunga dan pertukaran udara pada
proses penyerbukkan.
Pemangakasan dapat dilakukan dengan pemangkasan bentuk dan peremajaan.
Pemangkasan bentuk tanaman kopi dilakukan saat tanaman muda berumur 1-2 tahun yang
belum menghasilkan. Kegiatan pemangkasan bentuk tanaman kopi muda dilakukan dengan
cara memenggal batang sekaligus atau secara bertahap dan dilakukan juga pemangkasan
cabang primer. Pemangkasan cabang primer bertujuan agar tumbuh beberapa reproduksi
cabang primer dari cabang yang dipangkas, sehingga akan membentuk kanopi pohon.
Pemangkasan peremajaan dilakukan pada tanaman kopi yang sudah tua dan kurang
produktif tetapi perakarannya masih kokoh. Peremajaan dilakukan untuk mengembalikan
potensi produksi tanaman kopi yang udah tua atau terserang penyakit (Rahardjo, 2012).

5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Dalam teknik budidaya tanaman kopi yang terpenting adalah syarat tumbuh dan
perawatan. Syarat tumbuh meliputi curah hujan, intensitas matahari. Jumlah curah hujan di
33

UB forest yaitu 1501 2500 mm per tahun, curah hujan tersebut sudah cocok untuk tanaman
kopi. Sedangkan untuk perawatan tanaman kopi meliputi penyiangan, pemupukan, dan
pemangkasan. Pemangkasan tanaman kopi yang dilakukan yaitu pemangkasan
pemeliharaan dan pemangkasan produksi.

Tanaman kopi memerlukan naungan karenanaungan dapat mempengaruhi intensitas


cahaya, sehingga mempengaruhi proses fotosintesis dan aktivitas stomata. Pada fase
vegetatif tingkat naungan yang dibutuhkan oleh tanaman kopi lebih tinggi dibandingkan fase
generatif.Hasil perhitungan intensitas cahaya dengan quantum meter diperoleh hasil 49%
yang masih memenuhi syarat dari tanaman kopi agar dapat tumbuh optimal.

5.2 Saran

Diperlukan teknik budidaya berupa pemberian naungan terhadap tanaman kopi


dengan tetap memperhatikan intensitas cahaya yang sesuai dengan tanaman kopi. Selain itu
juga dibutuhkan pemangkasan pada tanaman kopi agar produksinya dapat optimum.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 2006. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta: Kanisius.


Adugna D. and Paul C. 2010. Effects of Shade on Growth, Production, and Quality of Coffee
(Coffea arabica) in Ethiopia. Journal od Horticulture and Forestry 3(11): 336-341.
Ardiyani F. 2015. Morphological Characterization and Identification of Coffe liberica Callus of
Somatic Embryogenesis Propagation. Pelita Perkebunan 31(2): 81-89
Bambang, Elna, Rubidjo, dkk. 2010 Budidaya dan Pasca Panen Tanaman Kopi.Bogor : Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
34

BMKG Karangploso. 2016. Prakiraan Curah Hujan Musim Hujan di Propinsi Jawa Timur
Tahun 2016/2017. http://karangploso.jatim.bmkg.go.id/#ixzz4RmnUWLJi diakses pada
3 Desember 2016.
Clifford M, and Wlison K. 2007. Coffee botany, biochemistry, and production of beans and
beverage. Sydney: Croom Helm
Dinas Perkebunan Daerah Kabupaten Jember. 2013. Budidaya Tanaman Kopi. Dinas
Perkebunan Daerah Kabupaten Jember. Jember. 30 hal.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2013. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2013-
2015. Jakarta.
Herman, 2008, Kopi Indonesia Dikancah Perkopian Dunia, (online), (http://F:\Indonesian
Coffee Cafes - Cover Story Appetite Journey_files\\ Oct20-04_her-I.asp.htm, diakses
6 Februari 2008).
Hulupi, R Dan Endri Martini 2013.Pedoman Budi Daya Dan Pemeliharaan Tanaman Kopi Di
Kebun Campur. World Agroforestry Centre (iCrAF): Bogor
Imran, Dirga Ali, dkk. 2013. Analisis Perbandingan Fenotipik Dan Ekologi Tanaman Coffea
Arabica LPada Berbagai Wilayah Komoditi Kopi Di Kabupaten Bantaeng. Jurusan
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin,
Makassar
Iskandar, S. H. 1988. Beberapa Aspek Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan Budidaya
Pertanian. Bogor : Institut Pertanian Bogor. 48 hal.
Karo, H.S.A., 2009. Analisis Usahatani Kopi Di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo.
Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian UniversitasSumatera Utara.
Klein A., Steffan D., and Tscharntke T. 2006. Pollination of Coffea canephora in Relation to
Local and Regional Agroforestry Management. Journal of Applied Ecology, 40 (5): 837-
845
Komisi Pestisida. 2011. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Departemen Pertanian.
Jakarta. 879 hm.
Mahfud, Moh. C. 2012. Teknologi Dan Strategi Pengendalian Penyakit Karat Daun Untuk
Meningkatkan Produksi Kopi Nasional. Pengembangan Inovasi Pertanian,5(1):44-57.
Manalu, Isner. 2016. Mengapa Harus Kopi Konservasi. http://www.conservation.org. Di akses
tanggal 3 desember 2016 pukul 21.06.
Muschler RG. 1995. Efectos de diferentes niveles de sombra de Erythrina poeppigiana sobre
Coffea arabica vars. Caturra y Catimor. In: II. Semana Cientfica del Centro
Agronmico Tropical de Investigacin y Enseanza (CATIE), pp 158160.
35

Nasruddin, Y Musa, MA Kuruseng. 2006. Aktivitas beberapa proses fisiologi tanaman kopi
muda di lapang pada berbagai naungan buatan. Agrisistem, 2(1):25-33.
Siswoyo. 2007. Kopi Internasional dan Indonesia. Jogjakarta: Kanisius
Pompelii M., et al., 2012. Leaf Anatomy, Ultrastructure, and Plasticity of Coffea arabica L. in
Response to Light and Nitrogen. Biotemas, 25(4): 13-28
Prastowo, B., Karnawati, E., Rubijo, Siswanto, Indrawanto, C. dan Munarso, S. 2010.
Budidaya dan Panen dan Pasca panen. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perkebunan : Jakarta.
Prastowo, Bambang et al. 2012. Budidaya dan Pasca Panen Kopi. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan.
Pujiyanto dan S. Abdullah. 2011. Pemanfaatan pupuk lengkap terkendali untuk meningkatkan
efisiensi produksi kopi. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, 15 (1) : 93-103.
Puslitkoka. 2006. Pedoman Teknis Tanaman Kopi. 96 hal. Jember.
Rahardjo P. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Ridwansyah, 2003. Pengolahan Kopi. Jurusan Teknologi Pertanian. Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatra Utara.
Starfarm. 2010a. Pengolahan Pasca Panen Kopi.
(http://www.starfarmagris.co.cc/2009/06/pengolahan- pasca-panen-kopi.html)
Tim Dosen IPB. 2011. Gulma Perkebunan. Bahan Kuliah Pengendalian Gulma. Bogor :
Institut Pertanian Bogor.
USDA.2002. Plants Profile for Coffea Arabica L. http://plants.usda.gov/java/profile?
symbol=COAR2 (3 desember 2016)
Utomo, Sutan Budi. 2011. Dinamika Suhu Udara Siang-Malam Terhadap
Fotorespirasi Fase Generatif Kopi Robusta Dibawah Naungan Yang Berbeda Pada
Sistem Agroforestry. Srikpsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian
Universitas Jember.
Wahyudi. Teguh (2008), Sambutan Direktur Puslitkoka Indonesia pada buku Panduan
budidaya dan pengolahan kopi arabika Gayo, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
Indonesia, APED, Bappeda NAD dan UNDP, Banda Aceh.
Yahmadi, Mudrig, 2007. Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya dan
Pengolahan Kopi di Indonesia. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, Jawa Timur. 339 p.