Anda di halaman 1dari 5

Lalang Palambang (11)

I. DEPRESIASI, PENURUNAN NILAI DAN DEPLESI


A. DEPRESIASI
Depresiasi adalah merupakan sarana dari alokasi biaya. Depresiasi adalah proses
akuntansi dari alokasi biaya dari aset berwujud yang akan dibebankan secara sistematis
dan rasional untuk periode itu diharapkan dapat memberikan manfaat dari penggunaan
aset.
1. Faktor-faktor yang terlibat dalam proses depresiasi
Sebelum menetapkan pola biaya terhadap pendapatan, perusahaan harus
menjawab tiga pertanyaan dasar:
1. Dasar penyusutan yang digunakan untuk aset
Dasar penetapan untuk depresiasi merupakan fungsi dari dua faktor:
Biaya asli
Nilai sisa: jumlah estimasi yang akan diterima perusahaan ketika menjual
aset atau menghapus dari layanan.
2. Masa manfaat aset
Perusahaan memensiunkan asetnya karena dua alasan:
Faktor fisik : keausan, kerusakan, yang membuat aset tersebut sulit untuk
bekerja maksimal. Faktor fisik inilah yang menentukan batas umur
manfaat suatu aset.
Faktor ekonomi : keusangan
3. Metode pembagian biaya yang sesuai untuk aset
Metode penyusutan yang digunakan harus sistematis dan rasional, harus
mencerminkan suatu pola dimana keuntungan ekonomi di masa depan atas
aset diharapkan untuk digunakan oleh perusahaan.
Perusahaan dapat menggunakan beberapa metode depresiasi, sebagai berikut:
1. Metode aktivitas (unit penggunaan atau produksi).
Disebut juga beban variable atau pendekatan unit produksi , menganggap
penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas, bukan dari
perjalanan waktu. Kelemahan terbesar dari metode ini yaitu metode ini
kurang tepat untuk situasi dimana depresiasi lebih merupakan fungsi
waktu daripada aktivitas.
2. Metode garis lurus.
Metode garis lurus lebih menganggap depresiasi sebagai fungsi waktu
daripada fungsi kegunaan. Satu masalah yang sering muncul dalam
menggunakan metode garis lurus adalah distorsi dalam analisis tarif
pengembalian (income/asset).
3. Metode beban berkurang(dipercepat):
Lalang Palambang (11)

Metode Beban Berkurang ditetapkan untuk biaya depresiasi yang lebih


tinggi di awal tahun dan biaya yang lebih rendah di periode berikutnya.
Karena metode ini mempersilahkan untuk pembebanan di awal tahun yang
lebih tinggi daripada pada metode garis lurus, sehingga sering disebut
metode depresiasi yang dipercepat.
a. Jumlah angka tahun.
Metode ini hasil dari pengurangan beban depresiasi yang didasari
pengurangan porsi dari biaya yang bisa didepresiasi (Biaya sebenarnya
dikurang nilai sisa).
b. Metode saldo menurun.
Metode ini menggunakan tingkat depresiasi (dalam persentasi) yang
merupakan perkalian dari metode garis lurus.
2. Masalah depresiasi khusus
1. Bagaimana perusahaan menghitung depresiasi untuk periode sebagian?
Dalam menghitung beban penyusutan untuk periode sebagian, perusahaan
harus menentukan beban penyusutan untuk tahun penuh dan kemudian
membagi rata beban depresiasi ini ke dalam dua periode yang bersangkutan.
Proses ini harus dilanjutkan selama umur aset yang berguna.
2. Apakah depresiasi menyediakan untuk penggantian asset?
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi mengenai depresiasi adalah
bahwa depresiasi menyediakan dana untuk penggantian properti, pabrik dan
peralatan. Depresiasi mengurangi laba bersih sama seperti beban-beban
lainnya. Sebenarnya depresiasi itu berbeda, depresiasi tidak mempengaruhi
arus kas periode yang berjalan.
3. Bagaimana seharusnya perusahaan menangani revisi tarif depresiasi?
Ketika membeli aset pabrik, perusahaan dengan hati-hati menentukan
tarif penyusutan berdasarkan pengalaman masa lalu dengan aset sejenis
dan informasi terkait lainnya.
Kerusakan fisik tak terduga atau usang tidak terduga dapat mengurangi
masa manfaat ekonomis aset.
Meningkatkan pemeliharaan prosedur, revisi prosedur operasi, atau
perkembangan serupa dapat memperpanjang umur aset di luar periode
yang diharapkan.
B. PENURUNAN NILAI
1. Pengakuan penurunan
Sebagaimana telah yang telah terjadi, krisis kredit telah mempengaruhi banyak
institusi finansial dan non-finansial. Sebagai dampak dari kemerosotan global,
Lalang Palambang (11)

banyak perusahaan mempertimbangkan untuk menghapus asset tetapnya.


Penghapusan ini disebut Impairment.
2. Pembalikan kerugian penurunan
Setelah mencatat kerugian penurunan, jumlah yang dapat diperoleh kembali
menjadi dasar impairment aset.
Pemulihan kembali dari kerugian penurunan dilaporkan pada bagian Other
Income and Expense dalam Laporan laba rugi.
3. Impairment Aset yang akan dijual
Aset yang diperoleh untuk dilepas seperti persediaan, perusahaan seharusnya
melaporkannya pada lower-of-cost atau net-realizable value.
Perusahaan seharusnya melaporkan kerugian atau keuntungan yang berkaitan
dengan impairment aset sebagai bagian dari laba operasi dalam Other
Income and Expense.
C. DEPLESI
Sumber daya mineral, biaya disebut aset yang terbuang, termasuk minyak tanah,
mineral, dan timberlands. Tidak seperti pabrik dan peralatan, sumber daya mineral
dikonsumsi secara fisik selama masa penggunaan dan tidak mempertahankan karakter
fisiknya.
1. Membangun basis deplesi
Perhitungan dasar deplesi meliputi akuntansi yang tepat untuk tiga jenis
pengeluaran:
a. Biaya pra-eksplorasi.
b. Biaya eksplorasi dan evaluasi
c. Biaya pengembangan
2. Menghapus biaya sumber daya
Biasanya, perusahaan menghitung deplesi pada metode unit yang diproduksi
(pendekatan aktivitas). Deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang diambil
selama periode tersebut.
3. Memperkirakan cadangan yang dipulihkan
Sama seperti akuntansi untuk perubahan estimasi.
Merevisi tingkat penipisan secara prospektif
Membagi biaya yang tersisa dengan estimasi baru dari cadangan dipulihkan.
4. Melikuidasi deviden
Perusahaan sering memiliki sebagai satu-satunya aset utama properti dari
mana ia bermaksud untuk mengekstrak sumber daya mineral.
Jika perusahaan tidak mengharapkan untuk membeli properti tambahan,
mungkin secara bertahap mendistribusikan kepada pemegang saham investasi
modal mereka dengan membayar dividen yang di likuidasi.
Lalang Palambang (11)

II. ASET TIDAK BERWUJUD)


A. Karakteristik asset tidak berwujud:
1. Dapat diidentifikasi
Untuk dapat diidentifikasi, sebuah asset tidak berwujud harus terpisah
dari perusahaan (dapat dijual/dipindahtangankan), atau muncul dari sebuah
kontrak atau hak legal dari manfaat ekonomi bagi perusahaan.
2. Tidak memiliki bentuk fisik
Aset berwujud seperti property, pabrik dan peralatan memiliki bentuk
fisik. Sebaliknya dengan asset tidak berwujud, asset tidak berwujud memperole
nilai dari hak perusahaan untuk memanfaatkannya.
3. Bukan asset moneter
Asset seperti tabungan di bank, piutang usaha, dan investasi jangka
panjang dalam obligasi ataupun saham juga tidak memiliki bentuk fisik. Namun,
asset moneter memperoleh nilai dari hak untuk menerima kas atau setara kas
dimasa depan. Asset moneter tersebut tidak dapat diklasifikasikan sebagai asset
tidak berwujud.

B. Penilaian:
1. Membeli asset tidak berwujud
Perusahaan mencatat asset tidak berwujud yang dibeli dari pihak lain
sebesar biaya yang dikeluarkan . Yang termasuk sebagai biaya adalah semua
biaya yang dikeluarkan untuk mengakusisi ditambah dengan beban-beban untuk
membuat asset tidak berwujud tersebut siap untuk dimanfaatkan. Biaya tersebut
seperti biaya pembelian, biaya legal (pengesahan) dan biaya lainnya.
Kadang-kadang perusahaan memperoleh asset tidak berwujud dengan
menukarkan saham atau asset lainnya. Untuk kasus seperti itu maka cost dari
asset tidak berwujud harus mempertimbangkan nilai wajar (fair value) dari asset
tidak berwujud yang diberikan atau diterima sehingga menjadi lebih jelas.
2. Perusahaan menciptakan asset tidak berwujud
Bisnis terkadang mengeluarkan biaya untuk bermacam-macam sumber
daya yang tidak berwujud, seperti pengetahuan , teknologi, riset pasar , merk dan
lain-lain. Maka untuk mencatat nilai dari asset tidak berwujud tersebut
perusahaan membagi aktivitas menjadi dua yaitu fase riset dan fase
pengembangan. Perusahaan membebankan semua biaya yang dikeluarkan pada
Lalang Palambang (11)

saat fase riset dan mengkapitalisasi semua biaya pada fase pengembangan, jika
pada saat fase pengembangan tersebut perusahaan sudah dapat melihat adanya
manfaat ekonomi.
C. Amortisasi asset tidak berwujud:
1. Memiliki masa manfaat yang terbatas
Perusahaan mengamortisasi asset tidak berwujud dengan membebankan biaya
(beban amortisasi) sesuai dengan masa manfaatnya.
2. Tidak memiliki masa manfaat (masa manfaat tidak terbatas)
Perusahaan tidak mengamortisasi asset tidak berwujud yang tidak memiliki masa
manfaat (masa manfaat tidak terbatas). Perusahaan juga harus melakukan tes
impairment untuk asset tidak berwujud setiap tahunnya untuk menilai kembali
nilai buku dari asset tidak berwujud tersebut.
D. Impairment asset tidak berwujud
Impairment adalah penurunan nilai suatu asset. Impairment dilakukan baik pada
asset berwujud (Tangible asset) maupun asset tidak berwujud (Intangible asset) setelah
dilakukan penilaian kembali terhadap nilai suatu asset.