Anda di halaman 1dari 6

AKURASI PENGUKURAN DAN PENGUKURAN DALAM AKUNTANSI

Dalam Akuntansi, kita mengukur laba dengan langkah pertama yaitu menghitung atau
menilai modal dan kemudian mengkalkulasikan laba sebagai pertukaran dalam modal selama
periode akuntansi untuk semua kejadian ekonomi yang mempengaruhi perusahaan (Godfrey,
dkk. 2010). Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis
untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep Atribut adalah sesuatu yang melekat pada
suatu objek yang menggambarkan sifat atau cirri yang dikandung objek tersebut
(Suwardjono, 2006).
Seluruh pengukuran dalam kehidupan itu memiliki tujuan-tujuan khusus untuk
menentukan langkah berikutnya. Pengukuran sangat penting dilakukan karena dengan
mengukur suatu objek, maka kita dapat mengetahui nilai suatu objek sehingga dapat menjadi
acuan untuk dapat menentukan kebijakan yang berkaitan dengan objek tersebut. Untuk
memudahkan kita melakukan suatu pengukuran sehingga memperoleh suatu hasil yang akurat
dan dapat diandalkan maka kita dapat menggunakan skala dan memilih tipe pengukuran yang
sesuai dengan karakteristik objek yang kita ukur.
A. Akurasi Pengukuran
Menurut Suwardjono (2010:171), Keterandalan adalah kemampuan informasi untuk
memberi keyakinan bahwa informasi tersebut benar atau valid dan bahwa keterandalan
sangat erat kaitannya dengan sumber informasi dan cara merepresentasi, mendeskripsi atau
menyimbolkannya. Sedangkan Godfrey et al (2010:140) berpendapat terkait dengan apa yang
dimaksud keandalan dalam pengukuran atau ke akuratan pengukuran. Beliau juga
menambahkan bahwa semua pengukuran tidak bebas dari error, kecuali dalah hal menghitung
dan semua pengukuran melibatkan error.
a. Sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran adalah sebagai berikut.

1) Operasi pengukuran dinyatakan secara tidak tepat.


Aturan untuk menetapkan angka atas atribut yang diberikan biasanya terdiri
dari serangkaian operasi. Sebuah aset operasi bisa saja dinyatakan secara tidak tepat
dan bisa diinterpretasikan dengan salah oleh pihak yang mengukur. Sebagai contoh
perhitungan keuntungan melibatkan beberapa operasi, seperti klasifikasi biaya dan
alokasi antara aset-aset dan biaya biaya yang sering diinterpretasikan secara
berbeda oleh Akuntan yang berbeda

2) Pengukur.
Pengukur mungkin salah menafsirkan aturan, bias, atau menerapkan atau
membaca instrumen secara tidak benar. Satu perhatian dalam akuntansi adalah
bahwa manajer memiliki bias tertentu untuk meningkatkan laba tercatat atau aset
dan kemudian manajer ini melakukan tekanan pada akuntan untuk membiaskan
akun-akun terkait

3) Instrumen
Banyak operasi pengukuran meminta penggunaan instrumen fisik, seperti
penggaris atau termometer atau barometer, yang mungkin cacat. Ada potensi untuk
kesalahan bahkan ketika instrumen tersebut bukan alat fisik tetapi , misalnya, grafik,
tabel, tabel angka atau indeks harga.misalnya

4) Lingkungan.
Keadaan di mana pengukuran dilakukan dapat mempengaruhi hasil.Sebagai
contoh kondisi cuaca dapat mempengaruhi instrumen atau pengukuran, kebisingan
dapat mengalihkan perhatian pengukuran atau, dalam akuntansi ,tekanan dari
manajemen dapat mempengaruhi keputusan akuntan, tekanan (misalnya dari beban
kerja yang berat) menyebabkan penyimpangan konsentrasi dan gangguan, sumber
kesalahan dapat diberi label lingkungan.Kesalahan acak biasanya disebabkan oleh
faktor lingkungan. Faktor lain adalah lingkungan dimana manajemen perusahaan
beroperasi

5) Atribut tidak jelas.


Apa yang diukur mungkin tidak jelas khususnya jika pengukuran melibatkan
sebuah konsep yang tidak dapat diukur secara langsung..Masalah ketidak jelasan
atribut tidak jarang di akuntansi. Berapa nilai dari aktiva tidak lancar? Apakah nilai
sekarang, biaya akuisisi, biaya saat ini atau harga jual? mengingat bahwa tujuan
utama akuntansi adalah untuk mencerminkan nilai, penting untuk secara jelas
mendefinisikan nilai Apakah nilai pakai, nilai tukar, atau beberapa atribut lain yang
akuntan harus mengukur? Masalahnya terletak dalam menetukan atribut yang akan
diukur

6) Risiko dan ketidakpastian.


Hal ini berkaitan dengan distribusi pengembalian aset nyata. Misalya,
keuntungan masa mendatang pada aset berwujud seperti gedung adalah beresiko
tetapi mereka homogen(lebih kurang) dan harganya dapat diamati. Yaitu ketika harga
satu aset mungkin dibawah atau overestimate jumlah pengembalian yang belum
pasti

b. Pengukuran yang dapat diandalkan


Sering diperlukan bahwa sebelum unsur-unsur seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, dan
beban diakui dalam laporan keuangan, unsur-unsur tersebut harus mampu untuk
dilakukan pengukuran yang dapat diandalkan. Gagasan keandalan menggabungkan dua
aspek: ketepatan dan kepastian pengukuran, dan pengungkapan yang secara meyakinkan
mewakili sehubungan dengan transaksi ekonomi yang mendasarinya dan berbagai
peristiwa. Aspek mempengaruhi ketepatan pengukuran.
Istilah presisi sering digunakan dalam dua konteks. Pertama, mungkin merujuk ke
nomor, dalam hal ini adalah berlawanan dengan gagasan pendekatan. Kedua, berkaitan
dengan operasi pengukuran, dalam hal ini berkaitan dengan tingkat penyempurnaan dari
operasi atau kinerjanya, serta persetujuan hasil antara operasi pengukuran yang
digunakan berulang kali yang diterapkan pada properti tertentu. Arti terakhir ini pada
dasarnya sama dengan keandalan. Dengan menyatukan dua istilah, kita dapat
mengatakan bahwa keandalan dari pengukuran berkaitan dengan ketepatan di mana suatu
properti tertentu diukur dengan menggunakan satu perangkat operasi.
c. Pengukuran yang akurat
Meskipun prosedur pengukuran mungkin sangat handal, memberikan hasil yang sangat
tepat, namun tidak mungkin menghasilkan hasil yang akurat. Alasannya adalah akurasi
berhubungan dengan seberapa dekat pengukuran menuju nilai sejati ' dari atribut
pengukuran. (Godfrey, dkk. 2010). Sifat fundamental, seperti panjang dari suatu objek,
dapat ditentukan secara akurat dengan membandingkan objek dengan standar yang
mewakili nilai sebenarnya.
Masalahnya adalah pada beberapa pengukuran nilai yang sebenarnya tidak diketahui.
Untuk menentukan ketepatan dalam akuntansi, kita perlu tahu atribut apa yang perlu kita
ukur untuk mencapai tujuan pengukuran. Tujuan dari akuntansi untuk menyajikan
informasi yang berguna. Oleh karena itu akurasi pengukuran berkaitan dengan gagasan
pragmatis dari kegunaan, tetapi akuntan tidak sama dalam menentukan spesifikasi dan
standar kuantitatif yang harus diterapkan.

B. Pengukuran dalam Akuntansi


Rerangka pengukuran dan pengakuan sebagaimana telah dimuat dalam SFAC No.5
telah dikembangkan dan dilengkapi dengan SFAC No. 7 tentang penggunaan informasi
aliran kas dan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi. Sebagai komponen rerangka
konseptual, SFAC No. 7 memberi pedoman yang berisi:
a) Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi
b) Prinsip-prinsip umum yang melandasi pengggunaan niai sekarang,
terutama bila jumlah rupiah aliran kas masa datang, saat terjadinya
(timing), atau keduanya tidak pasti.
Saat pengukuran akuntansi terdiri dari pengukuran saat pengakuan mula-mula, dan
pengukuran baru mulai. Pengukuran saat pengakuan mula-mula adalah pengukuran pada
suatu elemen atau pos timbul dan dicatat pertama kali akibat transasksi, kejadian, atau
keadaan. contoh yaitu saat pengakuan awal aset tetap pada kos-nya saat terjadinya transaksi
(accrual basis). Sedangkan pengukuran baru mulai merupakan pengukuran dalam periode-
periode setelah pengakuan mula-mula untuk menentukan jumlah rupiah bawaan baru yang
tidak berkaitan dengan jumlah-jumlah rupiah sebelumnya, contohnya seperti pengukuran
nilai buku aset dan beban depresiasi yang dibebankan pada perioda pelaporan.
Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi adalah untuk
menangkap/merefleksikan sedapat mungkin perbedaan ekonomik antara sehimpunan aliran
kas masa datang dan untuk mengestimasi nilai wajar. Menurut SFAC No.7, paragraph 23
dalam, nilai sekarang dapat menamngkap perbedaan ekonomik antaraliran kas jika unsur-
unsur berikut dipertimbangkan.
1. Suatu estimasi aliran kas masa dating atau, dalam beberapa kasus yang
kompleks, serangkaian kas masa dating yang tiba pada saat berbeda
2. Harapan-harapan tentang variasi yang mungkin terjadi dalam jumlah
dan saat tibanya aliran kas tersebut.
3. Nilai waktu uang yang ditunjukkan dengan oleh bunga bebas resiko
4. Harga atau nilai penanggungan resiko atau ketidakpastian yang melekat
pada aset dan kewajiban.
5. Faktor-faktor lain termasuk ilikuiditas dan ketaksempurnaan pasar
Godfrey et al (2010:145) menjelaskan terkait pengukuran bahwa pengukuran dalam
akuntansi termasuk dalam kategori pengukuran yang didasarkan pada modal dan keuntungan.
Laba akuntansi, sesuai dengan standar akuntansi Internasional, merupakan perubahan modal
selama periode dari semua kegiatan termasuk kenaikan dan penurunan nilai wajar aktiva
bersih, tidak termasuk transaksi dengan pemilik. Modal berasal dari pengukuran 'nilai wajar'
antara aktiva dan kewajiban. Hal itu berarti harus dilakukan pengukuran nilai modal awal,
jumlah penghasilan yang diterima, jumlah pemakaian modal, dan perubahan nilai wajar
aktiva bersih. Peningkatan modal selama periode kemudian akan mengukur jumlah laba dari
berbagai sumber termasuk operasi dan pengukuran kembali (setelah disesuaikan dengan
suntikan modal baru atau pembayaran dividen). Nilai wajar aktiva bersih disajikan kembali
dan kemudian akan menjadi modal pembukuan pada periode berikutnya.

C. Permasalahan Pengukuran Bagi Auditor


Beberapa isu untuk auditor terkait pergeseran fokus pengukuran keuntungan dari
pendapatan dan beban untuk menilai perubahan atas nilai wajar aktiva bersih. Ketika
keuntungan ditentukan dengan cara mencocokan pendapatan dan beban selama satu periode,
auditor dapat berkonsentrasi pada pengumpulan bukti bahwaterkait apakah transaksi tersebut
telah ditangani dengan tepat oleh sistem akuntansi klien. Namun ketika keuntungan berasal
dari perubahan nilai waja, pertanyaan yang lebih sulit muncul untuk auditor terkait bukti pada
perkiraan manajemen.Sebagai contoh, salah satu aspek untuk mengukur keuntungan dengan
menentukan status perubahan nilai wajar aktiva bersih yang ditangani oleh akuntansi standar
IAS 36/AASB 136. Standart ini membutuhkan penurunan nilai aktiva diakui sebagai rugi
penurunan nilai. Manajemen diperlukan untuk menilai pada tanggal laporan apakah ada
indikasi bahwa aset mungkin terganggu. Jika kondisi tersebut terjadi, manajemen akan
mengestimasi jumlah terpulihkan aktiva tersebut. Jika jumlah yang dapat dipulihkan suatu
aktiva kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva harus diturunkan menjadi sebesar
nilai yang dapat diperoleh kembali. Pengurangan ini merupakan kerugian penurunan
(Godfrey, et al, 2010:150)
Pedoman standar audit internasional untuk kerugian penurunan nilai audit dan
perkiraan nilai wajar terkandung adalah ISA 540. Auditor diharuskan untuk mengumpulkan
bukti untuk menilai jika manajemen telah mengikuti standar akuntansi yang tepat dan jika
jumlah yang diakui sebagai kerugian penurunan nilai wajar. Untuk melakukan hal ini, auditor
harus menentukan apakah manajemen telah memilih metode penilaian yang sesuai dan masuk
akal dan asumsi. Jika standar akuntansi tidak meresepkan metode penilaian untuk aset dan
kewajiban tertentu yang dipertimbangkan, auditor dapat menerima metode penilaian yang
wajar. Auditor harus mengumpulkan bukti bahwa metode ini diterapkan secara konsisten,
sehingga manajer tidak memilih dan memilih metode dari tahun ke tahun tergantung pada
hasil keuntungan yang diinginkan mereka. Auditor juga harus menilai apakah nilai aktiva
atau kewajiban dengan benar ditentukan dari asumsi signifikan manajemen, model penilaian
dan data yang mendasari relevan. Data tersebut akan mencakup suku bunga yang digunakan
untuk mendiskontokan arus kas, nilai pasar digunakan oleh perusahaan perbandingan, data
royalti, dan sebagainya (Godfrey, et al, 2010:150)
Selain masalah yang berkaitan dengan penggunan nilai wajar dan masalah terkait,
auditor juga menghadapi masalah yang disebabkan oleh variabilitas dalam tingkat keandalan
dan keakuratan pengukuran kos historis. Misalnya standar biaya manufaktur yang didasarkan
pada kos historis. Dari berbagai asumsi tentang pengolahan volume, metode serta
pengalokasian biaya overhead produk. Semua faktor tersebut mempengaruhi persediaan yang
ada pada akhir periode dan juga mempengaruhi biaya pokok penjualan selama periode
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2006. Teori akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi 3. Yogyakarta:


BPFE

Godfrey, et al. (2010). Accounting Theory. 7th Edition. Australia: John Wiley & Australia
Sons