Anda di halaman 1dari 5

Ringkasan Mata Kuliah Akuntansi Manajemen Lanjutan

Pendahuluan
Nama : Kadek Indah Kusuma Dewi
NIM : 166020310111015
Joint Program Reguler 1/28

A. Relevance Lost

Penjelasan terkait relevance lost ada dalam buku Kaplan dan Johson di tahun 1987. Dalam buku
ini dijelaskan jika ilmu akuntansi muncul ketika terjadinya revolusi industri. Ekspansi perusahaan
membuat mereka membutuhkan dana dari luar perusahaan. Dalam upaya tersebutlah maka perusahaan
membuat laporan keuangan untuk disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.

Pada perusahaan manufaktur, biaya produksi dibagi atas bahan baku langsung, tenaga kerja
langsung dan overhead pabrik. Tidak semua biaya produksi tersebut dimasukkan dalam laporan laba
rugi, melainkan dibebankan sebagai biaya produksi dari persediaan barang jadi, biaya yang
dibebankan pada laporan laba rugi adalah biaya produksi atas barang yang sudah terjual saja.

Perhitungan biaya tiap unit tidak akan jadi masalah terkait tujuan bahwa laporan keuangan
dihasilkan untuk pihak eksternal. Hal tersebut karena kesalahan hanya bersifat perbedaan waktu yang
nantinya setelah beberapa tahun angkanya akan benar. Pada akhirnya semua biaya produksi akan
menjadi beban pokok penjualan dan dimasukkan pada laporan laba rugi. .

B. Perbedaan Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen, dan Manajemen Biaya

Pengertian terkait akuntansi biaya, akuntansi manajemen dan manajemen biaya memang terkesan
masih tupang tindih saat ini. Padahal ketiganya memiliki pengertian yang berbeda dan dapat
dijelaskan sebagai berikut

- Akuntansi biaya : terkait proses perhitungan biaya produksi per unit yang bertujuan untuk
memberikan nilai pada persediaan perusahaan dan menetapkan nilai beban pokok penjualan
pada periode tersebut.
- Akuntansi manajemen : terkait proses penyediaan informasi akuntansi dan teknik-teknik yang
dapat dilakukan manajemen dalam proses perencanaan, pengendalian, dan pengambilan
keputusan.
- Manajemen biaya : terkait proses pemberian informasi kepada manajemen untuk dapat
melakukan pengelolaan biaya perusahaan yang lebih baik dan efiesien lagi. Manajemen biaya
merupakan bagian dari akuntansi manajemen.

Ketiga hal ini memiliki hubungan yang dapat dijelaskan seperti berikut. Keluaran dari akuntansi
manajemen adalah laporan akuntansi yang ditujukan kepada manajemen. Manajemen membutuhkan
laporan ini dalam menjalan fungsi perencanaan, pengendalian, perbaikan, dan pengembilan keputusan
operasional. Akuntansi manajemen pada akhirnya membutuhkan informasi harga pokok produksi per
unit. Informasi tersebut dihasilkan oleh akuntansi biaya. Informasi ini bagi akuntansi manajemen
dibutuhkan lebih lanjut dalam proses perencanaan biaya. Perencanaan biaya inilah yang dimaksud
sebegai manajemen biaya karena bertujuan untuk mncapai efisiensi atas biaya-biaya perusahaan.

C. Mengapa Sistem Akuntansi Manajemen dan Keuangan Harus Dipisahkan?


Sistem informasi akuntansi keuangan menghasilkan laporan keuangan untuk pihak-pihak
eksternal perusahaan yang dianggap sebegai sumber dana, sebut saja investor, kreditor, pajak. Laporan
keuangan perusahaan disusun berdasarkan standar yang ada dan disesuaikan dengan jenis
perusahaannya.

Sistem informasi akuntansi manajemen menghasilkan laporan manajemen dan memang


difokuskan kepada pihak manajemen saja. Sehingga tidak ada aturan baku dalam penyusunannya.
Informasi apa yang dibutuhkan manajemen, informasi itu saja yang dimuat dalam laporan
manajemen tersebut.

Kedua sistem ini pada kenyatannya tidak dapat disatukan karena :

1. Pada sistem informasi akuntansi keuangan dihasilkan laporan keuangan perusahaan secara
keseluruhan.
Sistem akuntansi keuangan dibuat dengan tujuan untuk melaporkan laba perusahaan, serta
laporan posisi keuangan, sedangkan dalam pengelolaan perusahaan, dibutuhkan sistem
informasi yang lebih rinci.
2. Waktu untuk pelaporan sistem informasi keuangan terlalu lama.
Bagi manajemen, informasi akuntansi yang dihasilkan meskipun hal tersebut dihasilkan tiap
bulannya akan menjadi hal yang basi atau sudah lewat dan tidak relevan digunakan dalam
memenuhi kebutuhan informasi manajemen.
3. Sistem informasi keuangan melaporkan hal yang sudah terjadi.
Sistem akuntansi keuangan memang hanya bisa melaporkan hal yang sudah terjadi di masa
lampau, namun sistem informasi manajemen menghendaki laporan yang berorientasi pada
masa depan.
4. Terdapat berbagai asumsi yang dapat digunakan dala penyusunan laporan akuntansi
keuangan.
Pada sistem informasi akuntansi keuangan, laporan laba rugi dibuat berdasarkan asumsi full
costing dimana semua biaya dikelompokkan sebagai biaya produk dan biaya periode.
Sedangkan dalam sistem informasi akuntansi manajemen, penggolongan biaya menjadi biaya
tetap dan biaya variabel.
D. Empat Tahapan Sistem Akuntansi

Kaplan dan Cooper di tahun 1999 menjelaskan bahwa dalam pengembangan sistem akuntansi
dibutuhkan empat tahapan, diantaranya :

1) Tahap pertama (belum sempurna)

Dianggap belum sempurna karena pada umumnya terjadi pada perusahaan-perusahaan yang
baru mengembangkan sistem akuntansinya. Biasanya pada perusahaan baru sistem akuntansi
keuangan lah yang dikembangkan lebih awal terkait dengan tujuannya kepada berbagai pihak
eksternal, sebut saja kreditor, investor, pemerintah, dan masyarakat. Masih cukup seringnya terjadi
kesalahan dalam proses penyusunan laporan keuangan menyebabkan belum sempurnanya sistem
akuntansi pada suatu perusahaan. Hal tersebut pada akhirnya membutuhkan banyaknya penyesuaian
di akhir tahun atau saat diperiksa oleh auditor eksternal.

2) Tahap kedua (penekanan pada sistem informasi keuangan)

Pada tahap ini, sistem informasi akuntansi keuangan sudah baik sehingga dapat dihasilkan
laporan keuangan yang telah memenuhi standar. Namun, tuntutan lain muncul yakni dibutuhkannya
sistem informasi akuntansi manajemen.Tuntutan tersebutlah yang pada akhirnya membuat proses
menyusunan sistem informasi akuntansi manajemen didasarkan pada sistem informasi akuntansi
keuangan padahal keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itulah pada tahap kedua ini
perusahaan dianggap belum memiliki sistem informasi akuntansi manajemen yang memadai.

3) Tahap ketiga (pemisahan antara sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi
manajemen)

Dalam tahap ini, sistem informasi akuntansi keuangan dan sistem informasi akuntansi
manajemen sudah sama-sama memadai sehingga dapat menjalankan fungsinya masing-masing
dengan baik.

4) Tahap keempat (integrasi)

Tahap terakhir ini menuntut integrasi sistem informasi akuntansi keuangan dan sistem
informasi akuntansi manajemen yang dikenal dengan konsep Enterprise Resource Planning (ERP).
Jika kedua sistem ini dijalankan bersamaan tentu diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih
memuaskan.

E. Different Cost for Different Purposes

Beberapa perusahaan menetapkan kunci sukses mereka dengan cara yang berbeda. Sebut saja ada
yang berfikus pada pelanggan dan ada yang pada kemampuan manajemen di dalamnya. Dan jika
bicara tentang dua hal tersebut maka ada hal yang tidak mungkin bisa dihilangkan, yaitu biaya (cost).
Tahap awal yang bisa dilakukan untuk mengendalika biaya adalah pemanahaman mengenai tipe dari
biaya itu sendiri.

Pada dasarnya biaya dapat ditentukan dengan sangat mudah yaitu diukur dengan sumber daya
yang dikeluarkan dibandingkan dengan yang diterima. Tapi apabila dilihat dengan lebih rinci maka
biaya dapat memiliki makna yang berbeda tergantung dari konteks yang digunakan.

Konsep Different Cost for Different Purposes berarti untuk tujuan yang berbeda, perusahaan tidak
memerlukan klasifikasi biaya yang berbeda. Contoh penerapan sistem ini adalah saat penyusunan
laporan keuangan, klasifikasi biaya yang dibutuhkan adalah biaya produk dan biaya periode,
sedangkan untuk akuntansi manajemen klasifikasi biaya yang dibutuhkan adalah biaya tetap dan
variabel.

Fixed Costs dan Variable Costs

Variable cost merubah total proporsi yang menunjukkan aktivitas levelnya. Biaya ini berubah sesuai
dengan perubahan keluarannya. Jadi biaya biaya variabel naik ketika keluaran naik dan akan turun
ketika keluaran turun.

Sedangkan fixed cost tidak merubah total proporsi dari aktivitas levelnya. Biaya ini tidak akan
berubah meskipun keluarannya berubah. Jadi dalam jumlah produk keseluruhan makan biayanya tetap
kosntan.

Identifikasi Cost Driver

Tahap awal yang penting pada sebuah organisasi adalah melakukan identifikasi terhadap cost driver
terkait dengan jenis dari biaya itu sendiri. Cost driver adalah karakteristik dari aktivitas atau peristiwa
yang menyebabkan biaya. Pada umumnya, perbedaan tipe biaya menunjukkan cost driver yang
berbeda pula.
Jika perusahaan memiliki beberapa jenis produk maka biaya overhead yang terjadi ditimbulkan secara
bersamaan oleh seluruh produk. Hal ini menyebabkan jumlah overhead yang ditimbulkan oleh
masingmasing jenis produk harus diidentifikasi melalui cost driver.
Cost driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya overhead. Faktor ini
menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktifitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktifitas.
Ada dua jenis cost driver, yaitu:
Cost Driver berdasarkan unit : membebankan biaya overhead pada produk melalui
penggunaan tarif overhead tunggal oleh seluruh departemen.
Cost Driver berdasarkan non unit : factor-faktor penyebab selain unit yang menjelaskn
konsumsi overhead. Contoh cost driver berdasarkan unit pada perusahaan jasa adalah luas
lantai, jumlah pasien, jumlah kamar yang tersedia.
Aktivitas yang ada dalam perusahaan sangat kompleks dan banyak jumlahnya. Oleh karena itu perlu
pertimbangan yang matang dalam menentukan pemicu biayanya atau cost driver.
Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan
Penentuan banyaknya cost driver yang dibutuhkan berdasarkan pada keakuratan laporan product
cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan. Semakin banyak cost driver
yang digunakan, laporan biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat
keakuratan yang diinginkan, semakin banyak cost driver yang dibutuhkan.
Pemilihan cost driver yang tepat.
Dalam pemilihan cost driver yang tepat ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan:
1. Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pemilihan cost driver (cost of
measurement). Cost driver yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih.
2. Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost driver terpilih dengan
konsumsi aktivitas sesungguhnya 20 (degree of correlation). Cost driver yang memiliki korelasi
tinggi akan dipilih.
3. Perilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih (behavior effect). Cost driver yang
menyebabkan perilaku yang diinginkan yang akan dipilih.

Direct dan Indirect Costs

Biaya langsung adalah biaya-biaya yang dapat ditelusuri dengan akurat pada masing-masing obyek
biayanya. Sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya yang sulit untuk ditelusuri obyek biayanya.

Controllable dan Uncontrollable Costs

Klasifikasi atas biaya bisa sangat membantu pada proses pengendalian biaya. Jika manajer bisa
mengendalikan pengaruh dari tiap level biaya, biaya tersebut dapat diklasifikasikan sebagai
controllable costs. Sedangkan biaya yang tidak bisa dikendalikan secara signifikan pengaruhnya
disebut sebagai uncontrollable costs.

Manufacturing Costs

Dalam membantu manajer pada proses perencanaan dan pengendalian biaya, akuntan manajemen
harus bisa mengklasifikasikan biaya berdasarkan area fungsionalnya dimana biaya tersebut
berhubungan.

Production Costs pada Perusahaan Jasa dan Organisasi Non-Profit

Pembeda atas perusahaan jasa dan organisasi non profit dengan perusahaan manufaktur adalah produk
yang dihasilkan. Jika pada perusahaan manufaktur dihasilkan barang dan bisa dimasukkan sebagai
persediaan, pada perusahaan jasa dan non-profit, hal yang dikonsumsi bukanlah barang melainkan
jasa atau pelayanan.

Product Costs, Period Costs, dan Expenses

Salah satu isu penting terkait dnegan akuntansi keuangan dan manajemen adalah membedakan mana
biaya dan beban. Beban adalah biaya yang terjadi ketika aset naik atau terjual yang bertujuan untuk
memperoleh pendapatan. Product cost adalah biaya yang ada dalam produk yang meliputi pembelian
atau proses manufaktur.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Anthony A., Kaplan, Robert. S., Matsumura, Ella Mae and Young S. Mark. 2012.
Management Accounting: Informaton for Decision Making and Strategy Executing, 6th
Edition. Pearson Education

Cooper, Robin. And Kaplan, Robert S., 1999. The Design of Cost Management Systems, 2nd Edition.
Prentice Hall

Hilton, Ronald W. 2000. Managerial Accounting, 4th Edition. US: MeGraw-Hill Companies
Hansen/ Mowen. 2017. Akuntansi Manajerial. Jakarta: Salemba Empat

IAI, Modul Chartered Accountant, Akuntansi Manajemen Lanjutan, 2016: Jakarta


Johnson, Thomas H and Kaplan, Robert S., 1987. The Rise and Fall of Management Accounting.
Harvard Business School Press

Riwayadi. 2014. Akuntansi Biaya Pendekatan Tradisional dan Kontemporer. Jakarta: Salemba Empat