Anda di halaman 1dari 15

Bed Side Teaching (BST)

HERPES ZOSTER

Oleh:

Try Puwo Fandoko ( 1110312013 )

Preseptor:

Dr. Qaira Anum, Sp.KK, FINSDV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN RSUP DR. M. DJAMIL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2015
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1.
Definisi 1
Herpes zoster merupakan penyakit yang terjadi karena reaktivasi dari Varicella
zoster virus (VZV) yang mengenai kulit dan mukosa dengan lesi berupa erupsi
vesikular yang pada umumnya bersifat dermatomal dan unilateral. Infeksi primer VZV
menyebabkan penyakit varisela.
Reaktivasi VZV yang berdiam di ganglion posterior terjadi secara sporadik
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penekanan atau penurunan sistim imun
tubuh, radiasi pada spinal, tumor pada ganglion, trauma lokal, manipulasi bedah pada
spinal serta sinusitis frontalis sebagai faktor presipitasi pada herpes zoster oftalmikus.
Namun yang paling penting adalah respon imun selular yang menurun terhadap VZV
seiring dengan meningkatnya usia.
Hubungan antara herpes zoster dengan varisela pertama kali digambarkan oleh
Bokay pada tahun 1888. Dimana dalam pengamatannya ditemukan varisela pada anak-
anak setelah kontak dengan penderita herpes zoster. Herpes zoster biasanya terjadi pada
individu yang pernah mengalami infeksi primer VZV sebelumnya.
Herpes zoster muncul di seluruh dunia secara sporadik tanpa dipengaruhi faktor
musim. Berbeda dengan varisela yang insidennya meningkat saat musim hujan. Hal ini
berhubungan dengan daya tahan virus terhadap panas, dimana VZV menjadi tidak aktif
pada suhu 56-600 C dan jika ada kerusakan pada envelope virus. Faktor yang paling
berperan adalah usia tua serta imunitas tubuh. Usia tua meningkatkan kemungkinan
menderita herpes zoster serta menderita komplikasi yang lebih berat dibandingkan
dengan penderita usia muda.

1.2.
Epidemiologi 1,2
Herpes zoster ditemukan pada lebih kurang 20% dewasa sehat dan lebih kurang
50% pada orang dengan imunokompromais yang pernah terinfeksi VZV. Kebanyakan
kasus berumur lebih dari 45 tahun dan insidennya meningkat sesuai dengan pertambahan
usia. Insiden herpes zoster pada individu kurang dari 50 tahun ratio insidennya 2,5/1000,
pada individu lebih tua (60-79 tahun) adalah 6,5/1000, sedangkan pada usia di atas 80
tahun meningkat menjadi 101/1000.
Herpes zoster sangat jarang ditemukan pada anak-anak usia di bawah 10 tahun,
dengan insiden 0,74 per 1000 anak. Adanya herpes zoster pada anak disebabkan infeksi
primer VZV selama tahun-tahun pertama kehidupan atau infeksi intra uteri dari ibu
selama kehamilan.
Di Indonesia insiden kasus herpes zoster belum ada yang dipublikasikan. Data dari
Sub Bagian Dermatologi Umum Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI /
RSCM selama tahun 2000 tercatat sejumlah 122 pasien.4 Sedangkan insiden di Poli Kulit
RS dr M Djamil Padang tahun 2002 2006 berkisar lebih kurang 1,01% dari total pasien
baru. Dimana pada tahun 2002 sebanyak 95 kasus dari 9311 pasien (1,02%), tahun 2003
sebanyak 89 kasus dari 9512 pasien (0,93%), tahun 2004 sebanyak 80 kasus dari 9032
pasien (0,88%), tahun 2005 sebanyak 105 kasus dari 9353 pasien (1,12%) dan tahun
2006 sebanyak 98 kasus dari 9380 pasien (1,14%).
1.3.
Patogenesis 2,3
Selama terjadinya infeksi varisela, varisela zoster virus (VZV) meninggalkan lesi
di kulit dan permukaan mukosa ke ujung serabuut saraf sensorik. Kemudian secara
sentripetal virus ini dibawa melalui serabut saraf sensorik menuju ke ganglion saraf
sensorik. Dalam ganglion, virus memasuki masa laten dan di sini tidak infeksius dan
tidak mengadakan multiplikasi, namun tidak berart kehilangan daya infeksinya.
Bila daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan akan terjadi reaktivasi virus.
Virus akan mengalami multiplikasi dan menyebar di dalam ganglion. Hal ini
menyebabkan nekrosis pada saraf serta terjadi inflamasi yang berat dan biasanya disertai
neuralgia yang hebat.
VZV yang infeksius ini mengikuti serabut saraf sensorik sehingga terjadi neuritis.
Neuritis ini berakhir pada ujung serabut saraf sensorik di kulit dengan gambaran erupsi
yang khas pada herpes zoster.

1.4.
Gejala klinis 2,3
Gejala Prodromal
Manifestasi klinis herpes zoster didahului dengan gejala prodormal diawali dengan
nyeri pada daerah lesi. Keadaan ini berlangsung 1 4 hari sebelum erupsi kulit. Nyeri
bersifat segmental sesuai dermatom bervariasi secara intermiten. Kadang-kadang
subjektifnya berupa rasa gatal, kesemutan, panas, pedih bahkan sampai rasa ditusuk-
tusuk. Gejala umum berupa malaise, sefalgia, nausea yang mana keadaan ini hilang
setelah erupsi kulit muncul.
Erupsi kulit
Kemudian diikuti dengan erupsi kulit pada daerah yang nyeri tersebut. Lesi awal
berupa makula eritem dan papula eritem yang dalam 12 - 24 jam menjadi vesikel
berkelompok terletak pada satu sisi (unilateral) dan dapat berkembang menjadi pustul
dalam 3 hari. Lesi akan mengering dan menjadi krusta dalam 7 10 hari. Krusta biasanya
bertahan selama 2 3 minggu kemudian mengelupas. Pada individu normal, lesi baru
tetap muncul dalam 1 4 hari. Lesi lebih berat dan bertahan lebih lama pada penderita
usia tua dan lebih ringan serta lebih singkat pada anak-anak.
Ciri khas herpes zoster adalah lesi yang berlokasi dan terdistribusi hampir selalu
unilateral, tidak melewati garis tengah tubuh dan biasanya terbatas pada daerah yang
dipersarafi oleh ganglion sensorik.
Menurut daerah penyerangannya dikenal:
a. Herpes zoster oftalmika : menyerang dahi dan sekitar mata
b. Herpes zoster servikalis : menyerang pundak dan lengan
c. Herpes zoster torakalis : menyerang dada dan perut
d. Herpes zoster lumbalis : menyerang bokong dan paha
e. Herpes zoster sakralis : menyerang sekitar anus dan genitalia
f. Herpes zoster otikum : menyerang telinga

1.5.
Variasi klinis 2
Secara klinis manifestasi herpes zoster antara lain :
Zoster sine herpete : Adanya nyeri dermatom yang jelas tanpa disertai dengan
erupsi kulit. Hal ini disebabkan gagalnya penyebaran VZV ke kulit saat fase
reaktivasi.
Herpes zoster abortif : Perjalanan penyakit sangat singkat disertai dengan
kelainan kulit yang sangat ringan.
Herpes zoster oftalmikus : Herpes zoster yang menyerang ganglion oftalmikus
yang merupakan cabang I nervus trigeminal. Bila mengenai anak cabang nervus
nasosiliaris dapat menimbulkan kelainan pada mata yang bisa berupa
konjungtivitis, keratitis, uveitis anterior, iridosiklitis bahkan panoftalmitis.
Sindrom Ramsay Hunt : Herpes zoster pada liang telinga eksterna atau membran
timpani, terdapat paralisis fasialis, gangguan lakrimasi, gangguan mengecap pada
2/3 bagian depan lidah, tinitus, vertigo dan tuli. Pada keadaan ini virus
menyerang nervus fasialis dan nervus auditorius.
Herpes zoster generalisata atau diseminata : Lesi utama disertai penyebaran
vesikel-vesikel soliter pada tubuh.
Herpes zoster pada pasien imunokompromais : Lesi cukup berat bisa multi
dermatom, ditemukan bula hemoragik, nyeri hebat, dapat mengenai organ dalam
dengan gejala prodormal hebat dan erupsi kulit yang berlangsung lebih lama.

1.6.
Komplikasi 2,3
Komplikasi herpes zoster secara garis besar bisa dikelompokan pada komplikasi di
kulit, organ viseral dan neurologik. Infeksi sekunder oleh bakteri memperlambat proses
penyembuhan. Pada erupsi kulit yang disertai infeksi sekunder dapat meninggalkan bekas
berupa jaringan parut, dan pada penderita dengan bakat keloid dapat terjadi keloid. Pada
keadaan dengan gangguan imunitas dapat terjadi herpes zoster dengan lesi kulit yang luas
yang dikenal dengan herpes zoster diseminata.
Komplikasi terhadap organ viseral yang sering dijumpai adalah pneumonitis,
hepatitis, pericarditis dan lain-lain. Sedangkan komplikasi neurologik yang paling sering
ditemui adalah neuralgia paska herpetik (NPH), meningoensefalitis, myelitis transversa,
komplikasi pada mata berupa keratitis akut, skleritis, uveitis, glaukoma sekunder, ptosis,
korioretinitis, neuritis optika dan parese otot penggerak bola mata.
Pada NPH nyeri menetap 1 - 3 bulan atau lebih sesudah lesi herpes menyembuh.
Terjadinya NPH ini sangat erat hubungannya dengan umur penderita saat timbulnya
herpes zoster. NPH menimbulkan gejala nyeri hebat yang kadang sulit diatasi sampai
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sesudah herpes zoster menghilang. Hal ini
disebabkan karena kerusakan neuron yang terjadi pada fase akut menjadi permanen
karena daya regenerasi sel neuron yang rendah.

1.7.
Penatalaksanaan 2,3
d. Pengobatan umum
Usahakan agar vesikel tidak pecah, misalnya jangan digaruk dan pakai baju
yang longgar.
Untuk mencegah infeksi sekunder, jaga kebersihan badan
e. Pengobatan khusus
Terapi sistemik, umumnya bersifat simtomatik. Untuk nyerinya diberikan
analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik.
Obat Antiviral, diberikan pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imunitas. Obat yang biasa digunakan adalah asiklovir dan
modifikasinya valasiklovir, diberikan dalam 3 hari pertama sejak lesi muncul.
Dosis asiklovir 5x800 mg sehari selama 7 hari, sedangkan valasiklovir cukup
3x1000 mg sehari. Jika lesi baru masih timbul, obat tersebut masih dapat
diteruskan dan dihentikan setelah 2 hari setelah lesi baru tidak timbul lagi.
Kortikosteroid, biasanya untuk sindrom Ramsay-Hunt yang biasa diberikan
prednison dengan dosis 3x 20 mg sehari. Setelah seminggu dosis diturunkan
secara bertahap. Lebih baik digabung dengan obat antiviral karena prednison
dosis tinggi akan menekan sistem imunitas tubuh.
Terapi topikal tergantung pada stadium. Jika masih stadium vesikel diberikan
bedak dengan tujuan untuk mencegah pecahnya vesikel. Bila erosif diberikan
kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi diberikan salap antibiotik

BAB II

ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny.J

Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : Jl. Palam Gerya indah II blok E2, Kuranji,

Padang.

Pendidikan : SMA

Status : Menikah

Negeri asal : Padang

Agama : Islam

Seorang pasien perempuan berumur 63 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin

RSUP Dr.M.Djamil Padang pada tanggal 28 Desember 2015 dengan :

Keluhan Utama
Gelembung berkelompok berisi cairan di atas kulit bengkak memerah yang terasa
nyeri di telapak tangan kanan dan lengan atas kanan ksejak 7 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang


Gelembung berkelompok berisi cairan di atas kulit bengkak memerah yang terasa
nyeri di telapak tangan kanan dan lengan atas kanan ksejak 7 hari yang lalu.
Awalnya pasien merasakan nyeri pada telapak dan jari tangan kanan, kemudian
muncul gelembung kecil muncul di jari telunjuk tangan kanan. Gelembung
berukuran sebesar biji jagung, berjumlah 1 buah, kemudian gelembung muncul di
daerah telapak dan sela jari tangan kanan. Setelah itu, muncul gelembung-
gelembung baru pada daerah lengan kanan atas bagian belakang sejak 4 hari yang
lalu.
Gelembung-gelembung dirasakan nyeri seperti terbakar. Nyeri bertambah jika
terkena gesekan/disentuh.
Riwayat demam 14 hari yang lalu, demam dirasakan selama 7 hari.
Riwayat kontak dengan orang yang mengalami kelainan kulit berupa gelembung-
gelembung berisi cairan dan nyeri tidak ada.
Pasien memiliki riwayat cacar sebelumnya.
Pasien tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya.
Riwayat kontak dengan penderita cacar air tidak ada.
Riwayat minum obat atau jamu dalam jangka waktu yang lama tidak ada.
Riwayat sakit gula sejak 10 tahun yang lalu.
Riwayat tumor payudara kiri dan sudah dioperasi pada tahun 2008.
Pasien tinggal di rumah bersama suami dan 2 orang anak.

Riwayat Pengobatan
Pasien sudah mendapatkan obat dari bidan yaitu tablet asyclovir 5x800 mg sejak
3 hari yang lalu.
Riwayat penyakit keluarga/atopi
Riwayat anggota keluarga yang pernah menderita cacar air sebelumnya disangkal.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat sering bersin-bersin di pagi hari, mata
sering merah dan berair, ataupun riwayat sering sesak nafas dengan bunyi
menciut, dan alergi makanan atau obat.

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis Kooperatif
Nadi : Diharapkan dalam batas normal
Nafas : Diharapkan dalam batas normal
TD : Diharapkan dalam batas normal
Suhu : Diharapkan dalam batas normal
Status Gizi : BB: 65kg TB: 155cm BMI: 27,08 (overweight)
Pemeriksaan Toraks : Diharapkan tidak ditemukan kelainan
Pemeriksaan Abdomen : Diharapkan tidak ditemukan kelainan

Status dermatologikus :
Lokasi : telapak tangan kanan, sela jari tangan kanan, dan bagian belakang
lengan kanan atas.
Distribusi : unilateral, terlokalisir
Bentuk : tidak khas
Susunan : herpetiformis
Batas : tegas
Ukuran : lentikular sampai numular
Efloresensi : vesikel berkelompok dengan dasar kulit udem eritem
Status Venereologikus : Diharapkan dalam batas normal

Resume
Seorang pasien perempuan berumur 63 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin

RSUP Dr.M.Djamil Padang pada tanggal 28 Desember 2015 dengan :


Gelembung berkelompok berisi carian di atas kulit bengkak memerah yang terasa
nyeri di telapak tangan kanan dan lengan atas kanan ksejak 7 hari yang lalu.
Awalnya pasien merasakan nyeri pada telapak dan jari tangan kanan, kemudian
muncul gelembung kecil muncul di jari telunjuk tangan kanan. Gelembung
berukuran sebesar biji jagung, berjumlah 1 buah, kemudian gelembung muncul di
daerah telapak dan sela jari tangan kanan. Setelah itu, muncul gelembung-
gelembung baru pada daerah lengan kanan atas bagian belakang sejak 4 hari yang
lalu.
Gelembung-gelembung dirasakan nyeri seperti terbakar. Nyeri bertambah jika
terkena gesekan/disentuh.
Riwayat demam 14 hari yang lalu, demam dirasakan selama 7 hari.
Riwayat kontak dengan orang yang mengalami kelainan kulit berupa gelembung-
gelembung berisi cairan dan nyeri tidak ada.

Pasien memiliki riwayat cacar sebelumnya.


Riwayat sakit gula sejak 10 tahun yang lalu.
Riwayat tumor payudara kiri dan sudah dioperasi pada tahun 2008.
Status dermatologikus : lokasi di telapak tangan kanan, sela jari tangan kanan,
dan bagian belakang lengan kanan atas dengan efloresensi vesikel berkelompok
dengan dasar kulit udem eritem

Diagnosis Kerja : Herpes Zoster setinggi dermatom C VI-VII dekstra


Diagnosis Banding : Tidak ada
Laboratorium Rutin
Tzank Test : diharapkan ditemukan sel datia berinti banyak
Laboratorium Anjuran
Tidak ada
Terapi
Umum
- Menerangkan informasi tentang penyakit herpes zoster, faktor penyebab dan
bagaimana proses penularan.
- Jaga agar gelembung tidak pecah
- Jaga kebersihan tubuh dengan tetap mandi 2xsehari
- Istirahat cukup.
- Minum obat sesuai anjuran
Khusus
- Sistemik
Acyclovir 5 x 800 mg selama 7 hari
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Vitamin B12 1 x 1 tablet
- Topikal : Bedak kocok
Prognosis
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad kosmetikum: bonam

RESEP
Praktek Umum
Dr. O
SIP : 12/28/44/2015
Setiap hari Senin Jumat
Pukul 16.00 19.00
Jl. Jati telp. (0751)12345
Tanggal 28 Desember 2015
R/ Acyclovir tab 400 mg No LXX
S 5 dd tab II
_____________________________________________
R/ Asam mefenamat tab 500 mg No X
S 3 dd tab I (bila nyeri)
_____________________________________________
R/ Vitamin B12 tab No. X
S 1 dd tab I
_____________________________________________
R/ Bedak kocok fls No I
Sue 2dd (setelah mandi pada lesi yang belum pecah)
_____________________________________________
Pro : Ny. J
Umur : 63 tahun

BAB III
DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien perempuan usia 63 tahun dengan diagnosis
Herpes zoster setinggi dermatom C VI-VIII dekstra. Diagnosis ini ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama
berupa Gelembung berkelompok berisi carian di atas kulit bengkak memerah yang terasa
nyeri di telapak tangan kanan dan lengan atas kanan sejak 7 hari yang lalu. Pasien
mengaku beberapa hari belakangan sangat capek karena mengurus cucu, dan sering
terlambat makan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit ringan, frekuensi nadi,
frekuensi nafas, dan suhu diharapkan dalam batas normal. Dari status dermatologikus
didapatkan lokasi lesi telapak tangan kanan, sela jari tangan kanan, dan bagian belakang
lengan kanan atas, distribusi unilateral, terlokalisir sesuai dermatom, bentuk tidak khas,
susunan herpetiformis, batas tegas, ukuran, lentikular sampai numular, efloresensi berupa
vesikel berkelompok dengan dasar udem eritem.
Pada pasien ini dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan tzank test dengan hasil
yang diharapkan adalah sel datia berinti banyak. Penyebab penyakit ini adalah reaktivasi
virus varisella akibat penurunan daya tahan tubuh.
Pada pasien dilakukan manajemen preventif berupa manajemen stress,
mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan bergizi, menghindari bekerja yang menimbulkan
kelelahan fisik yang berat, menghindari penggunaan obat jangka lama yang dapat
menurunkan sistem imun atau daya tahan Manajemen promotif dengan cara
menerangkan informasi tentang penyakit herpes zoster, faktor penyebab dan bagaimana
proses penularan, menerangkan bahwa penyakit ini dapat menular kepada orang lain,
menerangkan bahwa penyakit ini berhubungan dengan daya tahan tubuh, sehingga perlu
mengatur nutrisi, pola tidur dan manajemen stress.
Manajemen kuratif berupa acyclovir tablet, asam mefenamat, dan vit B kompleks.
Manajemen rehabilitatif berupa kontrol ke puskesmas bila tidak ada perbaikan atau obat
habis.
Salah satu komplikasi yang ditakutkan dari penyakit ini adalah terjadinya
Neuralgia Post Herpetik (NPH). Pada NPH nyeri menetap 1 - 3 bulan atau lebih sesudah
lesi herpes menyembuh. Terjadinya NPH ini sangat erat hubungannya dengan umur
penderita saat timbulnya herpes zoster. NPH menimbulkan gejala nyeri hebat yang
kadang sulit diatasi sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sesudah herpes zoster
menghilang. Hal ini disebabkan karena kerusakan neuron yang terjadi pada fase akut
menjadi permanen karena daya regenerasi sel neuron yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko RP. Penyakit Virus. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ke-6. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013.

Martodihardjo S. Penanganan Herpes Zoster dan Herpes Progenitalis. Ilmu Penyakit kulit
dan Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press, 2001.

Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Penyakit Virus. Kapita Selekta


Kedokteran. Edisi Ke-3. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. 2000.