Anda di halaman 1dari 11

Ringkasan Mata Kuliah

Manajemen Perpajakan
Pertemuan ke-6
Strategi Tax Planning untuk WPOP dengan Omzet di Bawah Rp 4,8 M
Nama : Kadek Indah Kusuma Dewi
NIM : 166020310111015
Joint Program Reguler 1/28

- WPOP yang Melakukan Usaha dengan Omzet di Bawah Rp 4,8 M

Bagi WPOP yang melakukan kegiatan usaha dengan peredaran bruto dalam satu tahun
kurang dari Rp4.800.000.000,00 (seperti yang dimaksud dalam pasal 14 ayat 2 Undang-
Undang PPh), penghitungan pajak penghasilannya menggunakan Peraturan Pemerintah
Nomor 46 tahun 2013 (PP 46/2013). Hal-hal yang diatur dalam PP 46/2013 sehubungan
dengan WPOP diantaranya :
1. WPOP yang melakukan kegiatan usaha tidak termasuk pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00 dalam 1 tahun pajak dikenai
Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 1%.

2. Tidak termasuk/dikecualikan dari WPOP yang melakukan kegiatan usaha


perdagangan dan/atau jasa adalah WPOP yang dalam usahanya:

1. Menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang
menetap maupun tidak menetap; dan

2. Menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang


tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.

b. Pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1
tahun dari tahun pajak terakhir sebelum tahun pajak yang bersangkutan.

c. Dalam hal peredaran bruto kumulatif WP pada suatu bulan telah melebihi jumlah
Rp4.800.000.000,00 dalam suatu tahun pajak, Wajib Pajak tetap dikenai tarif pajak
penghasilan bersifat final 1% sampai dengan akhir tahun pajak yang bersangkutan.

d. Dalam hal peredaran bruto WP telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 pada suatu
Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WP pada Tahun Pajak
berikutnya dikenai tarif Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang
Pajak Penghasilan (pasal 17).
e. Ketentuan dikenai tarif pajak penghasilan bersifat final 1% ini tidak berlaku atas
penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final
berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perpajakan (pasal 5
PP 46/2013).

f. Atas penghasilan selain dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) PP
46/2013 yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, dikenai Pajak Penghasilan
berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Selanjutnya aturan turunan dari PP 46/2013 adalah Surat Edaran Dirjen Pajak No.SE-
42/PJ/2013 menjelaskan bahwa peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00
ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya, termasuk dari usaha
cabang, tidak termasuk peredaran bruto dari :
1. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;

2. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;

3. usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan

4. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

- Strategi Tax Planning untuk WPOP yang Melakukan Usaha dengan Omzet di
Bawah Rp 4,8 M

Sebelum berlanjut pada strategi tax planning, tentu untuk mengetahui terlebih dahulu terkait
pengertian omzet sendiri. Hal ini penting untuk dibahas karena pada bagian ini omzet
menjadi dasar perhitungan dari PP 46.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), omzet adalah jumlah uang hasil penjualan
barang tertentu selama satu masa jual. Banyak orang yang masih salah dalam mendefinisikan
antara omzet, laba kotor, dan laba bersih. Dalam pajak sendiri, omzet disebut pula peredaran
bruto.

Terkait dengan tax planning dalam PP 46 tersebut maka cara yang dapat digunakan adalah
dengan menghasilkan omzet yang kecil. Korelasinya adalah ketika omzet yang diperoleh
kecil, maka tarif 1% yang dikenakan pada omzet tersebut tentu akan menghasilkan pajak
yang lebih kecil. Dengan demikian salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan
memperkecil omzet.

Memperkecil omzet sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, diantaranya :


1. Menentukan HPP yang kecil
Cara ini dapat dilakukan dengan memilih metode persediaan mana yang menghasilkan HPP
lebih kecil. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya maka dalam pajak sendiri terdapat dua
metode dalam menghitung persediaan, diantaranya FIFO dan Average. HPP yang kecil akan
memperkecil omzet.
2. Menentukan margin yang tidak terlalu besar

Besarnya margin yang tidak terlalu tinggi tentu berimbas pada besarnya penjualan yang kecil
(omzet).

Ilustrasi 1.

Pada tanggal 31 Desember 2016, Bapak Wayan mempunyai data yang berhubungan dengan
persediaan barang dagangan sebagai berikut :

Penjualan selama tahun ini 3600 unit dengan total nilai penjualan Rp 273.600.000,00. Jumlah
biaya operasi selama tahun ini adalah Rp 89.500.00,00.
Perhitungan :

- Metode FIFO
- Metode Rata-Rata Tertimbang

Harga Perolehan Barang Tersedia Untuk Dijual : Jumlah unit Tersedia Untuk Dijual = Rata-
rata tertimbang/unit
Rp 181.300.000,00 : 4.100,00 = 44.219,512
= 44.219,5
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa sebaiknya menggunakan metode FIFO
karena HPP yang dihasilkan lebih kecil.

Ilustrasi 2.

Berdasarkan ilustrasi sebelumnya maka HPP yang digunakan adalah metode FIFO sebesar Rp
157.100.000, misalnya diinginkan margin sebesar 10% dari HPP tersebut maka marginnya
adalah sebesar Rp 15.710.000, sehingga harga jual dari produknya adalah Rp 172.810.000
untuk 3600 unit (masing-masing Rp 48.000). Dengan menentukan margin yang besar,
perusahaan tentu akan memperoleh penjualan yang besar dan tentu berimbas pada pengenaan
PP 46 atas pajaknya tersebut yang lebih besar.

- WPOP yang Melakukan Pekerjaan Bebas dengan Omzet di Bawah Rp 4,8 M

Bagi WPOP yang melakukan pekerjaan bebas (seperti yang dimaksud dalam pasal 14 ayat 2
Undang-Undang PPh), yang peredaran brutonya dalam 1 tahun kurang dari boleh menghitung
penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN)
dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 bulan
pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas
tersebut sesuai penjelasan PP 46/2013 meliputi:
1. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan,
arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;

2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron,
bintangiklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama,
dan penari;

3. olahragawan;

4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;


5. pengarang, peneliti, dan penerjemah;.

6. agen iklan;

7. pengawas atau pengelola proyek;

8. perantara;

9. petugas penjaja barang dagangan;

10. agen asuransi; dan

11. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan


langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.

Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) yang digunakan bagi WPOP


yang melakukan pekerjaan bebas untuk menghitung pajak penghasilan adalah menggunakan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-536/PJ./2000 Tentang Norma Penghitungan
Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Yang Dapat Menghitung Penghasilan Neto Dengan
Menggunakan Norma Penghitungan. Beberapa poin yang diatur dalam Kep-536/PJ.2000 ini
adalah:

1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto di bawah Rp 600.000.000,00 dalam satu tahun wajib
menyelenggarakan pencatatan jika Wajib Pajak yang bersangkutan
tidak memilih menyelenggarakan pembukuan.

2. Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pencatatan tersebut wajib


memberitahukan mengenai penggunaan Norma Penghitungan kepada Direktur
Jenderal Pajak paling lama 3 bulan sejak awal tahun pajak yang
bersangkutan.Pemberitahuan penggunaan NPPN yang disampaikan dalam jangka
waktu 3 bulan tersebut dianggap disetujui kecuali berdasarkan hasil
pemeriksaan ternyata WP tidak memenuhi persyaratan untuk menggunakan NPPN.

3. Ketentuan bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas yang wajib menyelenggarakan pembukuan adalah:
1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
dengan peredaran bruto sebesar Rp 600.000.000,00 atau lebih dalam satu
tahun,

2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
dengan peredaran bruto di bawah Rp 600.000.000,00 namun Wajib Pajak
tersebut memilih menyelenggarakan pembukuan, dan

3. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
dengan peredaran bruto dibawah namun Wajib Pajak tersebut tidak
memberitahukan tentang penggunaan Norma Penghitungan kepada Direktur
Jenderal Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal tahun pajak yang
bersangkutan.

4. Terhadap Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas seharusnya menyelenggarakan pembukuan namun tidak
menyelenggarakan pembukuan sebagaimana mestinya penghasilan nettonya
dihitung dengan menggunakan NPPN.

5. Terhadap Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar berdasarkan


angka 3 huruf d di atas dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan
sebesar 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau
kurang dibayar (sesuai pasal 3 ayat 1 dan ayat 2 Kep 536/PJ/2000).

b. Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.Kep.01/PJ./1991 dan Kep.02/PJ.1991


dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Januari 2001.

c. Angka Prosentase NPPN yang digunakan adalah angka yang tertera pada Lampiran
Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep.536/PJ./2000 ini.

d. Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku untuk tahun pajak 2001 dan
seterusnya.

- Strategi Tax Planning untuk WP OP yang Melakukan Pekerjaan Bebas dengan


Omzet di Bawah Rp 4,8 M
Sesuai Per-Menkeu No. 255/PMK.03/2008, besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal
25 untuk WPOP pengusaha tertentu (memiliki tempat usaha tersebar di beberapa tempat)
ditetapkan sebesar 0,75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulannya. Sedangkan untuk
WP masuk bursa dan wajib pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan dihasilkan yang
dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba rugi fiskal menurut laporan
keuangan berkala terakhir yang disetahunkan dikurangi dengan pemotongan dan
pemungutan PPh pasal 22, 23, 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun
pajak yang lalu, dibagi 12 bulan.

Ilustrasi 1.

Ilustrasi 2.
Sumber : Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep.536/PJ./2000
Daftar Pustaka

IAI. 2016. Modul Chartered Accountant, Manajemen Perpajakan, IAI: Jakarta


Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep.536/PJ./2000

Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013


Surat Edaran Dirjen Pajak No.SE-42/PJ/2013

Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan

Undang-Undang PPh No. 36 tahun 2008

Undang-Undang PPh tahun 2013

Pohan, Chairil Anwar. 2013. Manajemen Perpajakan Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis.
Jakarta: Gramedia
Suandy, Erly. 2017. Perencanaan Pajak. Jakarta: Salemba Empat.
Aritonang, Johannes. 2015. Tarif untuk WPOP. Diakses pada 10 April 2017.
(http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/21104-kapan-
wajib-pajak-orang-pribadi-menggunakan-tarif-pajak-penghasilan-0,75-1-atau-tarif-pajak-
penghasilan-umum-5-,15-,25-,dan-30)