Anda di halaman 1dari 7

UJPH 3 (4) (2014)

Unnes Journal of Public Health


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN KELAINAN


REFRAKSI MATA DENGAN KELELAHAN MATA PADA TENAGA PARA
MEDIS DI BAGIAN RAWAT INAP RSUD dr. SOEDIRAN MANGUN
SUMARSO WONOGIRI

Hermawan Ady Prayoga, Irwan Budiono, Evi Widowati

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara intensitas pencahayaan dan kelainan
Diterima Agustus 2013 refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis di bagian rawat inap RSUD dr.
Disetujui September 2013 Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional.
Dipublikasikan Oktober Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri
2014 yang berjumlah 299 orang. Sampel penelitian berjumlah 41 responden, teknik pengambilan sampel
________________ dengan total random sampling. Instrumen yang digunakan berupa lux meter dan pengukuran reaction
Keywords: Fatigue Eye, timer. Hasil uji chi-square sebagai berikut: (1) Intensitas cahaya (p=0,011); (2) Kelainan refraksi
Lighting Intensity, Eye mata (p=0,018). Simpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara intensitas pencahayaan
Refraction Disorder dan kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis di bagian rawat inap
____________________ RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Saran untuk Perawat diharapkan untuk
menyempatkan relaksasi atau mengistirahatkan matanya beberapa saat setiap 30 menit, hal ini
dapat menurunkan ketegangan dan menjaga mata tetap basah.

Abstract
_________________________________________________________________
The purpose of this research was to relationship between the effect of light intensity and variety of eye refraction
with eye eyestrain at the medical staff at the inpatient RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.This
research uses cross-sectional approach. The population in this study were nurses RSUD dr. Soediran Mangun
Sumarso Wonogiri totaling 299 people. Sample was 41 respondents, the sampling technique with total random
sampling. The instrument used a lux meter and measuring reaction timer. Chi-square test results as follows: (1)
The light intensity (p = 0,011), (2) refractive eye abnormalities (p = 0,018). Conclusions from this research that
there is relationship between influence of illumination intensity and refractive eye disorders with eye fatigue on
the medical staff at the inpatient RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Advice for Nurses are
expected to take the relaxation or rest his eyes a few times every 30 minutes, this may reduce the tension and
keep the eyes remain moist.
2014 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: ISSN 2252-6528


Gedung F1 Lantai 2 FIK Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
Email: yoga_8035@yahoo.co.id

81
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

PENDAHULUAN

Berdasarkan visi pembangunan kesehatan (penyembuhan), rehabilitatif (pemulihan) dan


Provinsi Jawa Tengah yaitu terwujudnya promotif (penerangan) dengan pelayanan yang
masyarakat kota metropolitan yang sehat cepat, akurat, manusiawi dan nyaman.
didukung dengan profesionalisme dan kinerja Rumah sakit sebagai institusi yang
yang tinggi, diharapkan agar seluruh jajaran bersifat sosial-ekonomis mempunyai fungsi dan
petugas kesehatan di setiap jenjang administrasi tugas memberikan pelayanan kesehatan kepada
pemerintahan mampu mewujudkan tiga misi masyarakat secara paripurna. Untuk itu upaya
yang harus diemban. salah satu misi tersebut kesehatan bagi tiap individu perlu dijaga dan
adalah memberi pelayanan kesehatan paripurna ditingkatkan di manapun individu itu berada,
yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali di tempat kerja, karena di
agar tercapai derajat kesehatan yang optimal tempat kerja terdapat faktor fisik yang dapat
bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah (Profil menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2009:11). akibat kerja. Salah satu faktor fisik yang ada di
Sebagaimana disebutkan di dalam Undang- tempat kerja yaitu penerangan.
Undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, Penerangan yang buruk dapat
khususnya pasal 164 ayat 1 dan 2 tentang mengakibatkan kelelahan mata dengan
kesehatan kerja, bahwa upaya kesehatan kerja berkurangnya daya efisiensi kerja, kelelahan
ditunjukan untuk melindungi pekerja agar hidup mental, keluhan pegal di daerah mata dan sakit
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan kepala sekitar mata, kerusakan alat penglihatan
serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh dan meningkatnya kecelakaan. Penerangan
pekerjaan, baik pada pekerja sektor formal atau yang baik adalah penerangan yang
informal. memungkinkan tenaga kerja dapat melihat
Tenaga kerja harus dapat dibina dan objek yang dikerjakannya secara jelas, cepat dan
diarahkan menjadi sumber daya yang penting. tanpa upaya yang tidak perlu (Sumamur PK.,
Pengembangan sumber daya manusia terutama 2009:1). Kelelahan mata merupakan akibat dari
dari aspek kualitas memerlukan peningkatan ketegangan pada mata dan disebabkan oleh
perlindungan terhadap kemungkinan akibat penggunaan indera penglihatan dalam bekerja
teknologi atau proses produksi sehingga yang memerlukan kemampuan untuk melihat
keselamatan, kesehatan, kesejahteraan dan dalam jangka waktu yang lama dan biasanya
produktifitas kerja akan lebih meningkat pula. disertai dengan kondisi pandangan yang tidak
Oleh karena itu perlu diketahui dan nyaman, sehingga banyak penyakit yang dapat
dimasyarakatkan usaha-usaha pengendalian dan menyerang mata dan menyebabkan gangguan
pemantauan lingkungan kerja agar tidak penglihatan atau kelainan refraksi mata
membawa dampak atau akibat buruk kepada (Pheasant Stephen, 1991:1).
tenaga kerja yang berupa penyakit atau Kelainan refraksi merupakan kelainan
gangguan kesehatan ataupun penurunan pembiasan sinar pada mata sehingga sinar tidak
kemampuan atau produktifitas kerja (Pusat difokuskan pada retina atau bintik kuning, tetapi
Kesehatan Kerja, 2008 :1). dapat di depan atau di belakang bintik kuning
Dalam mencapai pembangunan dibidang dan mungkin tidak terletak pada satu titik yang
kesehatan yang optimal, pelayanan rumah sakit fokus (Ilyas Sidarta, 2004:1). Kelainan refraksi
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mata bisa di sebabkan oleh adanya faktor radiasi
sistem pelayanan kesehatan umumnya, karena cahaya yang berlebihan atau kurang yang
rumah sakit merupakan institusi pelayanan diterima oleh mata situasi tersebut
kesehatan terhadap individu, pasien, keluarga menyebabkan otot yang membuat akomodasi
dan masyarakat dengan inti pelayanan medik pada mata akan bekerja bersama, hal ini
dari segi preventif (pencegahan), kuratif

82
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

merupakan salah satu penyebab mata cepat nyaman dan penglihatan buram dan 4 orang
lelah. (20%) mengalami penglihatan ganda. Dan dari
Sesuai dengan PERMENKES 20 perawat terdapat 13 orang (65%) yang
No.1204/MENKES/SK/X tahun 2004, tentang mengalami kelainan refraksi mata, 10 orang
persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, diantaranya memakai kacamata dalam seluruh
tingkat pencahayaan di rumah sakit minimal kegiatan dan 3 lainnya hanya menggunakan
100 Lux. Pencahayaan ruangan, khususnya di kacamata saat bekerja.
tempat kerja yang kurang memenuhi Melihat kondisi lingkungan rumah sakit
persyaratan tertentu dapat memperburuk yang masih banyak kendala dan belum
penglihatan, karena jika pencahayaan terlalu memenuhi persyaratan sesuai Keputusan
besar ataupun lebih kecil, pupil mata harus Menteri Republik Indonesia maka hal ini
berusaha menyesuaikan cahaya yang diterima dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak
oleh mata. Akibatnya mata harus memicing negatif bagi kesehatan manusia terutama pasien
silau atau berkontraksi secara berlebihan, dan dapat mengganggu proses perawatan di
Karena jika pencahayaan lebih besar atau lebih rumah sakit tersebut baik bagi perawat atau
kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan petugas rumah sakit dalam memberikan
cahaya yang dapat diterima oleh mata. Pupil pelayanan. Oleh karena itu berdasarkan uraian
akan mengecil jika menerima cahaya yang diatas, maka peneliti tertarik melakukan
besar. Hal ini merupakan salah satu penyebab penelitian di Rumah Sakit tersebut dengan judul
mata cepat lelah (Depkes, 2008:1). penelitian Hubungan antara Intensitas
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Pencahayaan dan Kelainan Refraksi Mata
Soediran Mangun Sumarso Wonogiri dengan Kelelahan Mata pada Tenaga Para
merupakan sarana dan prasarana pelayanan Medis di Bagian Rawat Inap RSUD dr.
kesehatan masyarakat yang berada di wilayah Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan survei Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 25-26 mengetahui Hubungan antara Intensitas
April 2013 di ruang rawat inap Flamboyan, Pencahayaan dan Kelainan Refraksi Mata
didapatkan hasil pengukuran pencahayaan pada dengan Kelelahan Mata pada Tenaga Para
shift pagi pukul 10.00 WIB pada 5 titik dengan Medis di Bagian Rawat Inap RSUD Dr.
nilai rata-rata pencahayaan 69,1 lux, pada shift Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
siang pukul 13.00 WIB didapatkan nilai rata-
rata pencahayaan 86,6 lux, dan pada shift METODE
malam pukul 19.00 WIB didapatkan nilai rata-
rata pencahayaan 84,8 lux. Berdasarkan Penelitian ini menggunakan pendekatan
pengukuran yang dilakukan nilai pencahayaan cross sectional yaitu suatu penelitian yang
pada ruang rawat inap flamboyan paling rendah dilakukan dengan pengamatan dimana data
pada shift pagi yaitu 69,1 lux dan tidak sesuai yang menyangkut variabel bebas dan variabel
dengan nilai baku mutu sesuai PERMENKES terikat akan dikumpulkan dalam waktu yang
No.1204/MENKES/SK/X tahun 2004 yakni bersamaan dan secara langsung (Soekidjo
minimal 100 lux hal ini di sebabkan karena pada Notoatmodjo, 2005:145). Populasi dalam
pagi hari pencahayaan di rawat inap sudah tidak penelitian ini adalah seluruh perawat di RSUD
menggunakan bantuan cahaya buatan seperti dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri yang
lampu dan hanya menggunakan bantuan cahaya memenuhi kriteria pembatasan yang berjumlah
alami yaitu cahaya matahari saja. 229 perawat dengan penentuan kriteria populasi
Dari hasil kuesioner yang dibagikan yang akan diteliti harus memenuhi kriteria yaitu
pada 20 perawat terdapat 12 orang (60%) usia 20-45 tahun, karena usia degeneratif mata
mengalami keluhan mata terasa pedih dan 4 atau berkurangnya daya akomodasi mata terjadi
orang (20%) mengalami keluhan mata tidak pada usia 45-50 tahun, tidak mempunyai

83
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

riwayat penyakit DM dan hipertensi karena responden yang dipilih berdasarkan kriteria
penyakit ini jika terjadi komplikasi dapat yang sudah ditentukan.
berpengaruh pada mata yaitu merusak retina Instrumen penelitian adalah perangkat
mata dan masa kerjanya tiga tahun atau lebih yang digunakan untuk mengungkap data
karena kelelahan kerja kronik dapat terjadi pada (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:48). Instrumen
pekerja minimal bekerja 3 tahun. Sampel adalah dalam penelitian ini adalah lux meter untuk
bagian dari jumlah dan karakteristik yang mengukur intensitas pencahayaan yang
dimiliki oleh populasi. Teknik pemilihan sampel dilakukan oleh peneliti, reaction timmer untuk
yang digunakan dalam penelitian ini simple mengukur kelelahan mata yang dilakukan oleh
random sampling dengan metode random number. peneliti, dan kartu snallen untuk mengukur
Metode ini memungkinkan setiap anggota kelainan refraksi mata pada perawat bagian
populasi memiliki kesempatan yang sama untuk rawat inap yang dilakukan oleh dokter spesialis
diambil sebagai sampel. Adapun sampel yang mata RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso
diteliti dalam penelitian ini adalah sebanyak 41 Wonogiri. Uji statistik yang digunakan adalah
uji chi-square (X2).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap Berdasarkan hasil penelitian diperoleh


variabel dari hasil penelitian. Analisis ini distribusi frekuensi intensitas pencahayaan
digunakan untuk mendiskripsikan variabel (Tabel 1), Kelainan refraksi mata responden
penelitian yang disajikan dalam bentuk (Tabel 2).
distribusi dan persentase dari tiap variabel.

Tabel 1. Intensitas Pencahayaan


No Intensitas Pencahayaan Frekuensi Prosentase (%)
(lux)
1. < 100 14 34,1
2. 100-200 27 65,8
Jumlah 41 100

Tabel 2. Kelainan Refraksi Mata Responden


No Kelainan Refraksi Mata Frekuensi Prosentase (%)
1. Ada Kelainan 16 39,1
2. Tidak Ada Kelainan 25 60,9
Jumlah 41 100

Analisis bivariat menghasilkan data yang Hasil analisis bivariat antara intensitas
berkaitan dengan hubungan antara dua variabel. pencahayaan dengan kelelahan mata diperoleh
Analisis bivariat dilakukan dengan cara hasil (Tabel 3).
menghubungkan masing-masing variabel bebas Hasil analisis bivariat antara kelainan refraksi
yang terdiri dari intensitas pencahayaan dan mata dengan kelelahan mata diperoleh hasil
kelainan refraksi mata, yang dihubungkan (Tabel 4).
dengan variabel terikat yaitu kelelahan mata.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi
Square.

84
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

Tabel 3. Hubungan antara Intensitas Pencahayaan dengan Kelelahan Mata


Kelelahan Mata
Intensitas
Normal + Kelelahan Sedang+
Pencahayaan Total p value
Kelelahan Ringan Berat
(lux)
f % f % Jumlah %
<100 12 85,7 2 14,3 14 100
0,011
100-200 12 44,4 15 55,6 27 100
Total 24 58,5 17 41,4 41 100

Tabel 4. Hubungan antara Kelainan Refraksi Mata dengan Kelelahan Mata


Kelelahan Mata
Tingkat
Kelainan Normal +
Sedang+Tingkat Total p value
Refraksi Mata Tingkat Ringan
Berat
f % f % Jumlah %
Ada Kelainan 13 81,2 3 18,8 16 100
0.018
Tidak Ada
11 44 14 56 25 100
Kelainan
Total 24 58,5 17 41,5 41 100

Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui Hasil analisis dengan menggunakan uji Chi-
bahwa responden yang bekerja pada intensitas square diperoleh nilai p value 0.011 (<0,05)
pencahayaan < 100 lux berjumlah 14 orang sehingga Ho ditolak. Hal ini menunjukan
(34,1%).Responden yang bekerja pada intensitas bahwa ada Hubungan antara intensitas
pencahayaan 100-200 lux berjumlah 27 orang pencahayaan dengan kelelahan mata pada
(65,8%). Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui tenaga para medis di bagian rawat inap RSUD
bahwa responden yang mengalami kelainan dr. soediran mangun sumarso wonogiri.
refraksi mata berjumlah 16 orang (39,1 %). Hasil penelitian ini selaras dengan teori
Responden yang tidak mengalami refraksi mata yang mengemukakan bahwa pencahayaan
berjumlah 25 orang (60,9 %). meliputi kemampuan manusia untuk melihat
Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui dari sesuatu, sifat dari indera penglihatan, usaha-
14 responden yang mendapatkan intensitas usaha yang dilakukan untuk melihat obyek yang
pencahayaan < 100 lux, terdapat 12 orang lebih baik dan pengaruh pencahayaan terhadap
(85,7%) memiliki mata normal dan kelelahan lingkungan, suatu hal yang sangat perlu
mata tingkat ringan. Sedangkan 2 responden diperhatikan ialah kenapa sesorang melihat
(14,3%) mengalami kelelahan mata tingkat suatu obyek dengan mudah dan cepat,
sedang dan tingkat berat. Pada 27 responden sedangkan lainnya harus berusaha keras,
yang mendapatkan intensitas pencahayaan 100- memungkinkan tenaga kerja melihat obyek yang
200 lux, terdapat 12 orang (44,4%) memiliki dikerjakannya secara jelas dan cepat, tidur
mata normal dan kelelahan mata tingkat ringan. normal diperlukan untuk mengetahui tingkat
Sedangkan 15 responden (55,6%) mengalami pengaruh pola tidur yang diterima oleh pekerja
kelelahan mata tingkat sedang dan tingkat berat. terhadap kelelahan, jika lingkungan kerja

85
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

memiliki pencahayaan yang buruk dapat Berdasarkan hasil pengukuran ketajaman


berakibat sebagai berikut: kelelahan mata visual dengan menggunakan kartu snallen pada
dengan berkurangnya daya dan, efisiensi kerja, perawat di RSUD dr Soediran Mangun
kelelahan mental, keluhan pegal, dan sakit Sumarso Wonogiri di dapatkan hasil bahwa dari
kepala di sekitar mata, kerusakan alat 16 responden (39,1%) yang penderita kelainan
penglihatan dan kecelakaan kerja (Sumamur myopia 11 responden (68,7%) dan penderita
PK, 1996:93). kelainan hipermetropia 5 responden (31,3%).
Pencahayaan merupakan salah satu Penderita myopia mempunyai pungtum
faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan remotum yang dekat sehingga mata selalu
kerja yang aman dan nyaman, serta mempunyai dalam keadaan konvergensi yang akan
kaitan dengan produktivitas kerja. Penerangan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi,
yang buruk juga akan mengakibatan rendahnya sedangkan pada penderita hipermetropia sering
produktivitas kualitas maupun sakit mata, lelah, ditemukan gejala sakit kepala, silau, juling, dan
dan pening kepala bagi pekerja. Penerangan terkadang penglihatan ganda. Penderita dengan
yang lebih baik dapat memberikan hal berupa hipermetropia apapun penyebabnya akan
efisiensi yang lebih tinggi, dapat meningkatkan mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus-
produktivitas dan mengurangi kesulitan serta menerus berakomodasi untuk melihat atau
tekanan penglihatan terhadap pekerjaan (A.M memfokuskan bayangan yang terletak
Sugeng Budiono, 2003:37). dibelakang macula agar terletak di daerah
Berdasarkan tabel 4, dapat diketahui dari macula lutea. Keadaan ini disebut astenopia
16 responden yang memiliki kelainan refraksi akomodatif. Akibat terus berakomodasi, maka
mata, terdapat 13 responden (81,2%) memiliki bola mata bersama melakukan konvergensi dan
mata normal dan kelelahan mata tingkat ringan. mata akan sering terlihat mempunyai
Sedangkan 3 responden (18,8%) mengalami kedudukan esotropia atau juling ke dalam
kelelahan mata tingkat sedang dan tingkat berat. (Sidarta Ilyas, 2008:79).
Pada 25 responden yang tidak memiliki
kelainan refraksi mata, terdapat 11 orang (44 %) SIMPULAN
memiliki mata normal dan kelelahan mata
tingkat ringan. Sedangkan 15 responden (56%) Berdasarkan penelitian tentang hubungan
mengalami kelelahan mata tingkat sedang dan antara intensitas pencahayaan dan kelainan
tingkat berat. Hasil analisis dengan refraksi mata dengan kelelahan mata pada
menggunakan uji Chi-square diperoleh nilai p tenaga para medis di bagian rawat inap RSUD
value 0.018 (<0,05) sehingga Ho ditolak. Hal ini dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri,
menunjukan bahwa ada Hubungan antara diperoleh simpulan bahwa ada hubungan antara
kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata intensitas pencahayaan dan kelainan refraksi
pada tenaga para medis di bagian rawat inap mata dengan kelelahan mata pada tenaga para
RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso medis di bagian rawat inap RSUD dr. Soediran
Wonogiri. Mangun Sumarso Wonogiri. Saran untuk
Hasil dari penelitian ini selaras dengan Perawat diharapkan untuk menyempatkan
teori yang mengemukakan bahwa gangguan relaksasi atau mengistirahatkan matanya
refraksi mata seperti gangguan penglihatan jarak beberapa saat setiap 30 menit, hal ini dapat
jauh (myopia), gangguan penglihatan jarak dekat menurunkan ketegangan dan menjaga mata
(hipermetropia), perbedaan dalam lengkung tetap basah. Istirahat tersebut bermanfaat untuk
kornea (astigmatisme), dan ketidaksinambungan menurunkan kelelahan mata karena semakin
otot (phoria) dapat menyebabkan kelelahan mata lama mata terbuka, semakin tinggi
karena terus menerus berakomodasi untuk dapat kemungkinan kornea mata mengalami
melihat subyek yang lebih jelas (Nendyah dehidrasi, merasa panas dan sakit sehingga
Roestjawati, 2007:31). menimbulkan kelelahan mata (J.F Gabriel,

86
Hermawan Ady Prayoga / Unnes Journal of Public Health 3 (4) (2014)

1996:159). Untuk pihak RSUD diharapkan PT. Bridgestone Tire Indonesia Bekasi Plant,
untuk meningkatkan kualitas pencahayaan di Jakarta FKM UI.
tempat kerja khususnya ruang rawat inap Ilyas Sidarta, 2008, Penuntun Ilmu Penyakit Mata,
Jakarta: Balai Penerbit FKUI
dengan diupayakan memberikan penerangan
J.F Gabriel, 1996, Fisika Kedokteran, Jakarta: Buku
yang memadai sesuai dengan standar
Kedokteran EGC.
PERMENKES No. 1204 tahun 2004 yaitu Lientje Setyawati Mauritis MS, 2003, Buku Panduan
sebesar 100-200 lux, mengoptimalkan cahaya Pengukuran Waktu Reaksi dengan Alat
alami (cahaya dari sinar matahari) dengan cara Pemeriksaan Waktu Reaksi/Reaction Timer
membuka jendela setiap pagi dan siang hari 1.77 Lakassida, Yogyakarta: UGM
supaya cahaya dapat masuk ke ruangan dan Nendyah Roestijawati, 2007, Syndrom Dry Eye pada
menyalakan lampu pada saat pagi hari apabila Pengguna Visual Display Terminal
kondisi ruangan tidak memungkinkan terkena (VTD) dalam Cermin Dunia Kedokteran No.
154,
sinar matahari langsung atau tertutup bangunan
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/154
lain hal ini agar tingkat pencahayaan yang
11 sindromadryeye.pdf, diakses pada
diterima pekerja merata (Dalke Hilary, tanggal 14 Januari 2013.
2004:62). Pheasant Stephen 1991, Ergonomics, Works, and
Health, USA: Aspen Publisher Inc.
DAFTAR PUSTAKA Price da Wilson L., 1995, Patofisiolog Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit, CetakanIV,
A.M. Sugeng Budiono, 2003, Hiperkes dan KK, Jakarta: EGC.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Soekidjo Notoatmodjo, 2002, Metode Penelitian,
Diponegoro Semarang. Jakarta: Rineka Cipta.
Arthur C, Guyton dan John E. Hall, 1997, Buku Sopiyudin Dahlan, 2004, Stastistika untuk Penelitian,
Ajaran Fisiologi Kedokteran, Jakarta: EGC. Bandung: CV. Alfa Beta.
Bhisma Murti, 2010, Desain dan Ukuran Sampel Sudigdo Sastroasmoro dan Sofyan Ismael, 1993,
untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,
Bidang Kesehatan (Edisi kedua), Yogyakarta: Jakarta: Binarupa Aksara.
UGM Press. Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kualitatif,
Depkes RI, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan RI Kuantitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta.
No. 1204/Menkes/SK/X/2004, tentang Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian suatu
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka
Sakit. Jakarta. Pusdiklat Kesehatan Depkes Cipta.
dan Kessos RI. Sumamur P.K., 1996, Hygiene Perusahaan &
Ganong William F, 2001, Fisiologi Kedokteran, Keselamatan Kerja, Jakarta: Gunung Agung.
diterjemahkan oleh H.M Djauhari E. Edisi 9. Stanley Lemeshow, 1997, Besar Sampel dalam
Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Penelitian Kesehatan, Yogyakarta:
Hana, Liliana, 2008, Tinjauan Tingkat Pencahayaan Gadjah Mada University.
dan Keadaan Visual Dosplay Terkait Keluhan Tarwaka, 2008, Kesehatan dan Keselamatan Kerja,
Subjektif Kelelahan Mata pada Pekerja yang Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat
Menggunakan Komputer di Ruang Kantor Kerja, Surakarta: HARAPAN PRESS.

87