Anda di halaman 1dari 27

BAB 3

ETIK, PENIPUAN DAN PENGENDALIAN INTERNAL

A. PENDAHULUAN
Pemberitaan tentang korupsi, perbuatan yang melanggar hukum
yang mengakibatkan terjadinya tuntukan hukum dimuka pengadilan
hampir kita dengar tiap hari baik yang terjadi dikalangan
pemerintahan maupun kalangan dunia bisnis. Kegiatan diseputar
lingkungan bisnis seperti suap, fraud (kecurangan), penipuan
pelanggan konflik kepentimgam dan penjualan produk yang dilarang
sudah menjadi hal biasa. Untuk mengurangi hal tersebut diperlukan
suatu standar etika. Etika berkaitan dengan prinsip-prinsip tingkah
laku yang digunakan individu dalam menetapkan pilihan dan
mengarahkan perilaku mereka dalam situasi yang melibatkan konsep
benar dan salah.

Isu etika dalam bisnis dapat dibagi kedalam empat wilayah


yaitu : Equitas (kesamaan hak), gaji eksekutif, penetapan harga, hak
(privasi pegawai, kesempatan pekerjaan yang sama), Kejujuran :
konflik kepentingan pegawai dan manajemen, iklan yang menyesatkan
dan pelaksanaan kekuasaan perusahaan. Upaya penegakkan hukum
terhadap tindak fraud selama ini kurang membawa hasil. Tindakan
yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki keadaan secara
keseluruhan belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan yang
signifikan. Efektivitas ketentuan hukum tidak dapatdicapai apabila
tidak didukung norma dan nilai etika dari pihak terkait. Dalam konteks
suatu Organisasi, nilai etika dan moral perorangan harus muncul
sebagai aturan etika organisasi yang telah terkodifikasi sebagai kode
etik dan kelengkapannya.

Page 1 of 27
B. LANDASAN TEORI
Bab ini membahas tiga subjek penting dan yang saling berkaitan
bagi akuntan dan mahasiswa yang mempelajari sistem informasi, yaitu
etika bisnis , penipuan dan pengendalian internal. Dimulai dengan
mensurvei berbagai isu etika yang menekankan pada tanggung jawab
perusahaan yang saling bertentangan pada karyawan, pemegang
saham, pelanggan dan masyarakat umum. Manajer perusahaan
memiliki tanggung jawab etika untuk mencari keseimbangan antara
risiko dan manfaat bagi berbagai konstituen ini yang timbul dari
keputusan mereka.
Bagian kedua didedikasikan untuk subjek penipuan dan berbagai
implikasinya untuk para akuntan. Tidak ada aspek penting dari peran
auditor independen yang paling menarik bagi profesi akuntan publik
dari pada tanggung jawab auditor untuk mendeteksi penipuan ketika
melakukan audit.
Bagian terakhir dari bab ini mempelajari subjek pengendalian
internal. Baik manajer maupun akuntan memperhatikan kecukupan
struktur pengendalian internal perusahaan sebagai alat untuk menjaga
dari penipuan dan mencegah kesalahan. Dalam bagian ini, berbagai
isu pengendalian internal pertama-tama akan disajikan dalam tingkat
konseptual. Kemudian, isu pengendalian internal dalam konteks
pernyataan Standar Audit No. 78 (Statement on Auditing Standards
No.78), yang merupakan peraturan yang kini berlaku mengenai subjek
tersebut, akan dibahas pula. Bab ini berakhir dengan mempelajari
berbagai dampak sistem informasi berbasis komputer atas struktur
pengendalian internal.

ETIKA
Apakah etika itu ? etika adalah serangkaian prinsip atau nilai
moral. Pengertian etika dalam kamus Echol dan Shadaly (1995) adalah
bertindak etis, layak, beradab dan bertata susila. Menurut Boynton
dan Kell (1996) etika terdiri dari prinsip-prinsip moral dan standar.

Page 2 of 27
Moralitas berfokus pada perilaku manusiawi benar dan salah.
Selanjutnya Arens Loebbecke (1996) menyatakan bahwa etika secara
umum didefinisikan sebagai perangkat moral dan nilai. Dari definisi
tersebut dapat dikatakan bahwa etika berkaitan erat dengan moral
dan nilai-nilai yang berlaku. Termasuk para akuntan diharapkan oleh
masyarakat untuk berlaku jujur, adil dan tidak memihak serta
mengungkapkan laporan keuangan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani
hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika
membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara
tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita
untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita
lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat
diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan
demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai
dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

Isu Etika Dalam Bisnis


Berbagai standar etika didapat dari adat sosial dan keyakinan
pribadi yang mengakar mengenai hal-hal yang salah dan benar, yang
belum tentu sama bagi setiap orang. Mungkin saja dua orang, yang
keduanya menganggap dirinya beretika, berada dalam kubu yang
berbeda mengenai suatu masalah. Sering kali, kita mencampur
adukkan isu etika dengan isu hukum. Ketika Honorable Gentleman dari
negara bagian yang dituntut karena perilaku yang tidak beretika,
berdiri di depan Kongres dan menyatakan bahwa dirinya bersalah
karena tidak melakukan kesalahan, apakah dia benar-benar berkata
bahwa dia tidak melanggar hukum ?
Walaupun perilaku etika yang menyeluruh tidak mungkin
dilakukan dalam ruang tersedia, tujuan dari bagian ini adalah untuk
mempertinggi kesadaran pembaca mengenai berbagai isu etika yang
berhubungan dengan bisnis, sistem informasi dan teknologi komputer.

Page 3 of 27
Apa yang dimaksud dengan etika bisnis ?

Etika (ethics) berkaitan dengan berbagai standar yang


digunakan seseorang dalam membuat pilihan dan dalam
mengarahkan perilakunya diberbagai situasi yang meliatkan konsep
mengenai benar dan salah. Secara lebih spesifik, etika bisnis
melibatkan penemuan jawaban atas dua petanyaan berikut:
1. Bagaimana para manajer merumuskan mengenai apa yang benar
dalam menjalankan bisnis mereka ?
2. Ketika para manajer telah mengetahui apa yang benar, bagaimana
mereka dapat mencapainya ?

Berbagai isu etika dalam bisnis dapat dibagi ke dalam 4 area, yaitu:

1. Kesetaraan

2. Hak

3. Kejujuran

4. Penggunaan kekuasaan perusahaan

Kesetaraan - Gaji Eksekutif


- Nilai Yang Dapat Dibandingkan
- Penetapan Harga Produk
Hak - Proses Penilaian Perusahaan
- Pemeriksaan Kesejahteraan Karyawan
- Privasi Karyawan
- Pelecehan Seksual
- Keanekaragaman
- Peluang Kerja Yang Setara
- Pemberitahuan Mengenai Adanya
Kecurangan (Whistle-Blowing)
Kejujuran - Konflik Kepentingan Pihak Manajemen
Dan Karyawan

Page 4 of 27
- Keamanan Data Dan Catatan
Perusahaan
- Iklan Yang Menyesatkan
- Praktek Bisnis Yang Meragukan
di Negara Asing
- Laporan yang Akurat Atas
Kepentingan Pemegang Saham
Penggunaan - Komite Aksi Politik
Kekuasaan - Keamanan Ditempat Kerja
Perusahaan - Keamanan Produk
- Isu Lingkungan
- Divestasi Kepentingan
- Kontribusi Politik Perusahaan

Bagaimana Perusahaan Menangani Isu Mengenai


Etika

Beberapa perusahaan yang sangat berhasil memiliki pelatihan


dan kesadaran akan etika sejak lama. Berbagai pendekatannya
termasuk komitmen yang besar dari pihak manajemen puncak untuk
memperbaiki standar etika, berbagai kode etik tertulis yang dengan
jelas menyampaikan harapan pihak manajemen, program untuk
mengimplementasikan petunjuk etika, serta berbagai teknik untuk
memonitor ketaatan. Contohnya, Boeing menggunakan para manajer
lininya untuk melakukan sesi pelatihan etika dan membuat nomor
telepon bebas pulsa untuk memungkinkan para karyawannya
melaporkan pelanggaran. General Mills telah menerbitkan petunjuk
untuk menangani para pemasok, pesaing dan pelanggan, serta
menekankan pada pengambilan keputusan yang terbuka. Kredo
Jhonson & Jhonson mengenai nilai nilai perusahaan integral dengan
budayanya.

Page 5 of 27
Peran Pihak Manajemen Dalam Mempertahankan Iklim
Beretika
Para manajer perusahaan harus menciptakan dan
mempertahankan atmosfer beretika yang sesuai; mereka harus
membatasi peluang dan godaan untuk melakukan perilaku tidak
beretika dalam perusahaan.
Walaupun sikap pihak manajemen puncak terhadap etika
menentukan suasana praktik bisnis dalam banyak situasi merupakan
tanggung jawab para manajer tingkat yang lebih rendah pula untuk
menegakkan standar etika perusahaan.

Perkembangan Etika
Kebanyakan individu mengembangkan kode etik berdasarkan
lingkungan keluarganya, pendidikan formalnya dan pengalaman
pribadinya. Teori tahapan perilaku menyatakan bahwa kita semua
melalui berbagai tahap evolusi moral sebelum sampai pada tingkat
berpikir secara beretika.

Membuat Keputusan Yang Beretika


Berbagai sekolah bisnis dapat dan seharusnya terlibat dalam
pengembangan etika para manajer masa depan. Berbagai program
bisnis dapat mengajarkan para mahasiswanya teknik anallitis untuk
digunakan dalam usaha mencoba memahami dan menempatkannya
dalam perspektif yang tepat berbagai tanggung jawab perusahaan
yang saling berlawanan atas para karyawannya, pemegang sahamnya,
pelanggannya dan masyarakat.
Setiap keputusan yang beretika memiliki risiko dan manfaat.
Contohnya mengimplementasi sistem informasi berbasis komputer
baru dalam sebuah perusahaan dapat menyebabkan beberapa
karyawan kehilangan pekerjaannya, sementara yang lainnya
menikmati manfaat dari perbaikan kondisi kerjanya. Mencari
keseimbangan antara berbagai konsekuensi tersebut adalah
tanggung jawab etika (ethical responbility) manajer. Berikut ini

Page 6 of 27
adalah beberapa prinsip beretika yang dapat menjadi petunjuk dalam
melaksanakan tanggung jawab ini.
Proporsionalitas. Manfaat dari sebuah keputusan harus melebihi
risikonya. Selain itu, tidak boleh ada keputusan alternatif yang
memberikan manfaat sama atau lebih besar dengan risiko lebih
sedikit.
Keadilan. Manfaat keputusan harus didistribusikan secara adil ke
orang-orang yang menanggung risiko bersama. Mereka yang tidak
mendapat manfaat tidak seharusnya menanggung resiko.
Meminimalkan risiko. Bahkan jika dianggap dapat diterima oleh
berbagai prinsip di atas, keputusan harus diimplementasikan untuk
meminimalkan semua risiko dan menghindari risiko yang tidak perlu.

Apa Yang Dimaksud Dengan Etika Komputer ?


Etika komputer (computer ethics) adalah analisis mengenai
sifat dan dampak sosial teknologi komputer serta berbagai formulasi
dan justifikasi kebijakan yang terkait untuk penggunaan teknologi
semacam itu secara beretika.
Bynum mendefinisikan tiga tingkat etika komputer : pop, para,
dan teoritis. Etika komputer pop hanyalah eksposur atas berbagai
cerita dan laporan yang terdapat dalam media populer mengenai
dampak baik dan buruk dari teknologi komputer. Masyarakat secara
umum perlu menyadari berbagai hal seperti virus komputer dan
sistem komputer yang didesain untuk membantu para penyandang
cacat. Etika komputer para melibatkan perhatian sesungguhnya atas
berbagai bidang tersebut. Semua ahli sistem perlu mencapai tingkat
kompetensi ini agar dapat melakukan pekerjaannya secara efektif.
Para mahaiswa sistem informasi akuntansi juga harus mencapai
tingkat pemahaman etika ini. Tingkat ketiga, etika komputer teoritis,
merupakan perhatian berbagai peneliti multidisplin ilmu yang
mengaplikasikan berbagai teori filosofi, sosiologi, dan psikologi dalam
ilmu komputer dengan tujuan untuk menghasilkan pemahaman baru
dalam bidang tersebut.

Page 7 of 27
Masalah Baru Atau Hanya Bentuk Baru Dari Masalah Lama ?
Terdapat banyak isu etika yang akan dihadapi mahasiswa.
Beberapa akan berargumentasi bahwa berbagai isu yang terkait telah
dipelajari di beberapa area ilmu lainnya. Contohnya, isu mengenai hak
cipta telah dibahas dan menghasilkan hukum mengenai hak cipta,
rahasia dagang, serta hak paten.
Beberapa isu yang menjadi perhatian para mahasiswa sistem
informasi akuntansi akan dibahas berikut ini. Penjelasan ini bukanlah
merupakan penjelasan yang panjang dan pembahasan penuh
mengenai berbagai isu tersebut berada di luar lingkup bab ini.

Privasi
Pembuatan dan basis data yang besar dan dapat digunakan bersama
dalam membuat perlindungan atas orang dari potensi
penyalahgunaan data.

Keamanan (akurasi dan kerahasiaan)


Ini merupakan suatu usaha untuk menghindari peristiwa atau hal-hal
yang tidak diinginkanseperti tidak adanya kerahasiaan dan integritas
data pada komputer.

Kepemilikan properti
Hukum yang didesain untuk menjaga hak cipta fisik yang meliputi hak
cipta intelektual, yaitu peranti lunak pada komputer.

Kesetaraan Akses
Beberapa halangan untuk akses adalah bawaan sistem teknologi
informasi, tetapi beberapa dapat dihindari melalui desain sistem yang
berhati-hati. Beberapa faktor, yang beberapa tidak hanya untuk sistem
informasi, dapat membatasi akses ke teknologi komputer.

Page 8 of 27
Masalah Lingkungan
Komputer dengan printer berkecepatan tinggi memungkinkan
dihasilkannya berbagai dokumen cetak lebih cepat daripada
sebelumnya. Mungkin lebih mudah untuk mencetak saja sebuah
dokumen daripada harus mempertimbangkan apakah harus dicetak
dan seberapa banyak salinan yang sesungguhnya harus dibuat.
Haruskah perusahaan membatasi pencetakan dokumen yang tidak
penting ? Dapatkah istilah tidak penting didefinisikan ? Siapa yang
dapat dan seharusnya mendefinisikannya ? Apakah dibutuhkan daur
ulang yang tepat ? Bagaimana pelaksanaan hal ini dapat ditegakkan ?

Kecerdasan Buatan
Sebuah rangkaian isu sosial dan etika baru telah muncul dari
popularitas sistem ahli. Karena cara sistem ini dipasarkan, yaitu
sebagai pembuat keputusan atau pengganti ahli, beberapa orang
sangat tergantung padanya. Oleh karenanya, para teknisi yang
berpengetahuan (mereka yang menulis program tersebut) dan para
ahli di bidang ilmunya (mereka yang menyediakan pengetahuan
mengenai pekerjaan yang diotomatiskan) harus memerhatikan
tanggung jawab mereka atas keputusan yang salah, dasar
pengetahuan yang tidak lengkap atau tidak akurat, dan peran yang
diberikan ke komputer dalam proses pengambilan keputusan.

Pengangguran Dan Penggantian


Banyak pekerjaan yang telah dan sedang berubah sebagai akibat dari
ketersediaan teknologi komputer. Orang-orang yang tidak dapat atau
tidak siap berubah akan diganti. Haruskah perusahaan bertanggung
jawab untuk melatih kembali para pekerja yang digantikan sebagai
akibat dari komputerisasi fungsi mereka ?

Penyalahgunaan Komputer

Page 9 of 27
Komputer dapat disalahgunakan dalam banyak cara. Menyalin peranti
lunak berhak cipta, menggunakan komputer perusahaan untuk
kepentingan pribadi, dan melihat-lihat file milik orang lain, hanyalah
sedikit contoh nyata. Walaupun

Tanggung jawab pengendaliaan internal.


Untuk mencapai tujuan dan dapat memenuhi kewajiban keuangannya
maka perusahaan harus memiliki informsi yang andal. Dimana
manajer harus membuat dan mempertahankan sistem pengendalian
internal yang tepat agar dapat memastikan integritas dan keandalan
data.

PENIPUAN DAN AKUNTANSI


IIA menyatakan definisi fraud dalam kerangka praktik profesional
sebagai berikut: Setiap tindakan ilegal ditandai dengan penipuan,
penyembunyian atau pelanggaran kepercayaan.
Penipuan (fraud) merupakan penyajian yang salah atas suatu fakta
yang dilakukan oleh suatu pihak ke pihak lain dengan tujuan membohongi
dan membuat pihak lain tersebut meyakini fakta tersebut walaupun
merugikannya. Berdasarkan hukum perdata, tindakan penipuan harus
memenuhi lima kondisi berikut ini :
1. Penyajian yang salah.
Ada pernyataan yang salah atau tidak di ungkapkannya suatu fakta.
2. Fakta yang material.
Fakta merupakan faktor yang substansial dalam mendorong seseorang
untuk bertindak.
3. Niat.
Ada niat untuk menipu atau mengetahui bahwa pernyataan yang
dimiliki seseorang adalah salah.
4. Keyakinan yang dapat di justifikasi.
Kesalahan dalam penyajian tersebut merupakan faktor substansial
tempat pihak yang dirugikan bergantung.
5. Kerusakan atau kerugian.

Page 10 of 27
Kecurangan tersebut telah menyebabkan kerusakan atau kerugian
bagi korban penipuan.
Penipuan dalam lingkungan bisnis telah memiliki arti yang lebih
khusus. Penipu adalah pembohong di sengaja, penyalah gunaan aktiva
komputer, atau manipulasi atas data keuangan demi keuntungan pelaku
penipuan. Dalam literatur akuntansi, penipuan umumnya juga di sebut
sebagai kejahatan kerah putih (white collar crime), kobohongan
(defalcation) penggelapan (embezzlement), dan ketidak beresan
(irregularites).
Auditor biasanya berhadapan dengan dua tingkat penipuan yaitu :
1. Employe fraud, yaitu penipuan yang dilakukan oleh karyawan
nonmanajemen yang didesain secara lansung mengonversi kas atau
aktiva lainnya dengan mengondisikan sistem pengendalian internal
untuk keuntungan pribadi.
Pada Employe fraud biasanya melibatkan tiga tahap yaitu: (1)
mencuri sesuatu yang berharga(sebuah aktiva), (2) mengonversi
aktiva tersebut kedalam bentuk yang dapat digunakan (uang tunai),
(3) menyembunyikan kejahatan tersebut agar tidak terdeteksi.
2. Manajemen Fraud, merupakan penipuan kinerja yang seringkali
melibatkan pendapatan dan atau untuk menghindari diakuinya
kebangkrutan atau penurunan pendapatan agar investor tetap
menanamkan sahamnya.
Manajemen fraud pada tingkat yang lebih rendah biasanya melibatkan
data keuangan dan laporan internal yang salah disajikan dlm jumlah
material dengan tujuan mendapat konvensasi tambahan, promosi,
atau menghindari hukuman atas kinerja yang buruk. Karakteristik
khusus dalam manajemen fraud :
1. Penipuan dilakukan pada tingkat manajemen di atas tingkat tingkat
dimana struktur pengendalian internal biasanya berhubungan,
2. Penipuan tersebut seringkali melibatkan penggunaan laporan
keuangan untuk membuat ilustrasi bahwa suatu entitas lebih sehat
dan sejahtera daripada sesungguhnya,

Page 11 of 27
3. Jika penipuan tersebut menyalah gunakan aktiva, penipuan
seringkali disebarkan dalam berbagai transaksi yang rumit, dan
seringkali melibatkan pihak ketiga.
Dari berbagai karakteristik manajemen fraud diatas terbukti
bahwa pihak manajemen seringkali melekuken pelanggaran dengan
melewati struktur pengendalian internal yang seharusnya efektif, yang
akan mmencegah pelanggaran yang hampir sama dilakukan oleh
karyawan lainnya.
Faktor yang membentuk penipuan :1.tekanan keadaan, 2.
Peluang, 3.katakteristik pribadi.

Gambar : Tekanan yang memotivasi penipuan


(Tinggi) Tekanan Keadaan Rendah

(
(Tinggi Rendah
)

Rendah (Tinggi)

Gambar tersebut memperlihatkan bahwa seseorang


Penipuan Tidak dengan tingkat
Ada Penipuan
integritas pribadi yang tinggi dan disertai tekanan dan peluang yang
terbatas untuk melakukan penipuan, akan cenderung bertindak dengan
jujur. Begitu juga seseorang dengan integritas yang lebih rendah, ketika di

Page 12 of 27
tempatkan dalam situasi tekanan yang meningkat disertai peluang, akan
cenderung untuk melakukan penipuan.
Biaya sesungguhnya dari penipuan sulit di ukur karena sejumlah
alasan :1. tidak semua penipuan terdeteksi, 2. dari semua penipuan yang
terdeteksi tidak semua di lampirkan, 3. dalam banyak kasus penipuan
hanya dapat di kumpulkan informasi yang tidak lengkap, 4. informasi tidak
disebarkan dengan benar kepada pihak manajemen atau ke badan
penegak hukum, 5. sering kali perusahaan memutuskan untuk tidak
melakukan tuntutan hukum atau pengadilan terhadap pelaku penipuan.

Penyebab terjadinya penipuan (peluang) yang mengakibatkan kerugian


terbagi atas :
Gender. Walaupun gambaran demografis berubah, terdapat lebih
banyak pria daripada wanita yang menempati posisi berotoritas
dalam perusahaan, hingga memberikan pria akses yang lebih besar
ke aktiva.
Posisi. Mereka yang berada dalam posisi yang paling tinggi memiliki
akses terbesar atas dana dan aktiva perusahaan.
Umur. Karyawan yang lebih tua cenderung menempati posisi yang
lebih tinggi tingkatnya dan karenanya biasanya memiliki akses lebih
besar ke aktiva perusahaan.
Pendidikan. Umumnya, mereka yang memiliki pendidikan lebih
tinggi menempati posisi yang lebih tinggi dalam perusahaan, dan
karenanya memiliki akses lebih besar atas dana perusahaan dan
aktiva perusahaan lainnya.
Kolusi. ketika orang orang dalam posisi yang penting berkolusi,
mereka menciptakan peluang untuk mengendalikan atau
mendapatkan akses ke berbagai aktiva, yang tidak mungkin terjadi
jika tidak berkolusi.

Beberapa katagori umum cara penipuan yang dinyatakan oleh ACFE


yaitu :
1. Laporan Tipuan,

Page 13 of 27
Yang didasari oleh masalah-masalah :
a. Kurangnya indenpendensi auditor,
b. Kurangnya indenpendensi direktur,
c. Skema kompensasi eksekutif yang meragukan,
d. Praktik akuntansi yang tidak tepat.

2. Korupsi,
ACFE mengidentifikasikan empat jenis umum korupsi yaitu:
1. Penyuapan (bribery),
2. Hadiah ilegal (illegal gratuity),
3. Konflik kepentingan (conflict of interest),
4. Pemerasaan secara ekonomi (economic extortion).

3. Penyalahgunaan Aktiva,
a. Pembebanan ke akun beban,
b. Gali lubang tutup lubang (lapping),
c. Penipuan transaksi (transaction fraud),
d. Penipuan computer (computer fraud).

Penipuan komputer meliputi :


a. Pencurian, penyalahgunaan, atau penggelapan aktiva dengan
mengubah record atau file yang dapat dibaca oleh komputer.
b. Pencurian, penyalahgunaan, atau penggelapan aktiva dengan
mengubah logika peranti lunak komputer.
c. Pencurian atau penggunaan secara tidak sah informasi yang dapat
dibaca oleh komputer.
d. Pencurian, korupsi, penyalinan secara ilegal, atau penghancuran
yang disengaja atas peranti lunak komputer.
e. Pencurian, penyalahgunaan, atau penggelapan peranti keras
computer.

Gambar : Model Umum SIA

Lingkungan Eksternal

Page 14 of 27
Sistem Manajemen
Informa Basis Data
si

Sumber Pengguna
Data Pengumpulan Pemrosesan Pembuatan Akhir
Eksternal Data Data Informasi Eksternal

Sumber Umpan Balik Pengguna


Internal Akhir
Data Internal
Perusahaan

Umpan Balik

PENGENDALIAN INTERNAL
Pengendalian internal adalah suatu sistem yang disusun sedemikan
rupa sehingga antara bagian yang satu secara otomatis akan mengawasi
bagian lainnya, dan merupakan suatu pengujian kebenaran data yang
dilakukan dengan mencocokkan berbagai angka-angka dan transaksi,
yang dilaksanakan oleh petugas berbeda.
Seperti yang telah dketahui bahwa banyaknya sistem pengendalian
internal yang langsung berhubungan dengan mpemrosesan transaksi,
maka para akuntan adalah partisipan utama dalam memastikan
kecukupan pengendalian.

Konsep Pengendalian Internal

Page 15 of 27
Sistem pengendalian internal (Internal Control Sistem), terdiri atas
beberapa kebijakan, praktik, dan prosedur yang diterapkan oleh
perusahaan untuk mencapai empat tujuan umumnya:
1. Menjaga aktiva perusahaan,
2. Memastikan akurasi dan keandalan catatan serta informasi
akuntansi,
3. Mendorong efisiensi dalam operasional perusahaan,
4. Mengukur kesusuaian dengan kebijakan serta prosedur yang
ditetapkan oleh pihak manajemen.

Memodifikasi Asumsi, terdapat dalam berbagai tujuan pengendalian ini


adalah empat asumsi dasar tambahan yang membimbing para desainer
serta auditor sistem pengendalian internal :
1. Tanggungjawab Pihak Manajemen (Manajement Responsibility),
2. Jaminan Yang Wajar (Reasonable Assurance),
3. Metode Pemrosesan Data

Eksposur Dan Resiko, Eksposur dapat mengeskpos perusahaan ke satu


atau lebih jenis risiko berikut ini:
1. Penghancuran aktiva (baik aktiva fisik maupun
informasi),
2. Pencurian aktiva
3. Kerugian informasi atau sistem informasi,
4. Gangguan sistem informasi.

Model Pengendalian Internal Untuk Pencegahan-Pendeteksian-


Perbaikan :
1. Pengendalian pencegahan (preventive control),adalah teknik
pasif yang desain untuk mengurangi frekuensi terjadinya
peristiwa yang tidak diinginkan.
2. Pengendalian pemeriksaan (detective control), mengungkap
berbagai jenis kesalahan tertentu memalui perbandingn kejadian
sesungguhnya dengan standar yang ditetapkan.

Page 16 of 27
3. Pengendalian perbaikan (corrective control), adalah tindakan
yang diambil untuk membalik berbagi pengaruh kesalahan yang
terdeteksi dalam tahap sebelumnya.

Audit dan Standar Audit


Audit didefinisikan sebagai atestasi (pembuktian) atas laporan keuangan
historis perusahaan yang menjadi klien, yang dilakukan oleh auditor
independen. Produk dari atestasi adalah laporan formal tertulis yang
menyatakan pendapat mengenai keandalan pernyataan yang berada
dalam laporan keuangan. Laporan auditor tersebut menyatakan pendapat
apakah laporan keuangan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum (generally accepted accounting principles) atau tidak.

Standar audit dibagi menjadi tiga bagian : standar klasifikasi umum,


standar kegiatan lapangan, dan standar laporan.

Standar Audit Yang Berlaku Umum

Standar Umum Standar Kerja Lapangan Standar Pelaporan

1. auditor harus memiliki 1. kegiatan audit harus 1. auditor harus menyatakan


latihan dan kecakapan direncanakan dengan baik, dalam laporannya apakah
teknis yang memadai. laporan keuangan dibuat
2. auditor harus mendapat sesuai dengan prinsip
2. auditor harus memiliki pemahaman yang memedai akuntansi yang berlaku umum.
indenpendensi dalam atas struktur pengen dalian
sikap mentalnya. internal, 2. laporan harus mengiden
tifikasi berbagai situasi yang
3. Auditor harus menerap 3. auditor harus mendapat tidak memungkinkan
kan kehati hatian dalam bukti yang memadai dan diterapkannya prinsip
melakukan audit dan kuat. akuntansi yang berlaku umum.
pembuatan laporan.
3. laporan harus mengiden
tifikasi bagian- bagian yang
tidak memadai pengungkapan
informasinya,

Page 17 of 27
4. laporan harus berisi
pernyataan mengenai
pendapat auditor tentang
laporan keuangan secara
keseluruhan.

Pernyataan Standar Akuntansi No.78


Dokumen ini sesuai dengan rekomendasi Committee of Sponsoring
Organization of the Treadway Commission (COSO). SAS 78 menjelaskan
hubungan yang rumit antara pengendalian internal perusahaan, penilaian
risiko auditor, dan perencanaan prosedur audit. Dalam hal ini, SAS 78 juga
menyediakan arahan bagi para ahli sistem dan akuntan yang bertanggung
jawab atas desain pengendalian internal.

Komponen Pengendalian Internal

Pengendalian internal yang dijelaskan dalam SAS 78 terdiri atas lima


komponen:

1. Lingkungan Pengendalian (control enviromment),


Integritas dan nilai etika manajemen.
Struktur organisasi.
Keterlibatan dewa komisaris dan komite audit, jika ada
Filosofi manajemen dan siklus operasionalnya.
Prosedur untuk melegalisasikan tanggungjawab dan otoritas.
Metode manajemen untuk menilai kinerja
Pengaruh eksternal, seperti pemeriksaan oleh badan
pemerintah.
Kebijakan dan praktik perusahaan dalam mengelola sumber
daya manusianya.

2. Penilaian Resiko

Perusahaan harus melakukan penilaian resiko (risk assesment)


untuk mengidentifikasi menganalisis, dan mengelola berbagai risiko yang
berkaitan dengan laporan keuangan.Risiko dapat muncul atau berubah
berdasarkan berbagai kondisi, seperti:

Page 18 of 27
Perubahan dalam lingkungan operasional yang membebankan
tekanan baru atau perubahan tekanan atas perusahaan.
Personel baru yang memiliki pemahaman yang berbeda atau tidak
memadai atas pengendalian internal.
Sistem informasi baru atau yang baru direkayasa ulang, yang
memengaruhi pemrosesan transaksi.
Petumbuhan signifikan dan cepat yang menghambat pengendalian
internal yang ada.
Implementasi teknologi baru kedalam proses produksi atau system
informasi yang terdampak pada pemprosesan transaksi.
Pengenalan lini produk atau aktivtas baru hingga pihak manajemen
hanya memiliki sedikit pengalaman tentangnya.
Restruktrisasi organisasional yang mengasilkan pengurangan dan/
atau realokasi personel sedemikian rupa hingga oerasi bisnis dan
pemprosesan transaksi terpengaruh.
Memasuki pasar asing yang berdampak pada operasional
(contohnya, risiko yang berhubungan dengan transaksi dengan
mata uang asing).
Adopsi suatu prinsip akuntansi baru yang berdampak pada
pembuatan laporan keuangan.

3. Informasi Dan Komunikasi


Sistem informasi akuntansi (SIA) terdiri atas berbagai record dan
metode yang digunakan untuk melakukan, mengindentifikasi,
menganalisis, mengklasifikasi, dan mencatat berbagai transaksi
perusahaan serta untuk menghitung berbagai aktiva dan kewajiban yang
terkait di dalamnya.kualitas suatu informasi yang dihasilkan oleh SIA
erdampak pada kemampuan pihak manajemen untuk mengambil tindakan
serta membuat keputusan dalam hubungannya dengan operasional
perusahaan, serta membuat laporan keuangan yang andal. System
informasi akuntansi yang efektif akan :

Page 19 of 27
Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang valid
Memberikan informasi secara tepat waktu mengenai berbagai
transaksi dalam perincian yang memadai untuk memungkinkan
klasifikasi serta laporan keuangan.
Secara akurat mengukur nilai keuangan berbagai transaksi agar
pengaruhnya dapat dicatat dalam laporan keuangan.
Secara akurat mencatat berbagai transaksi dalam periode waktu
terjadinya.

SAS 78 menyaratkan agar para auditor mendapatkan pengetahuan


yang cukup mengenai system informasi perusahaan yang memahami :

Berbagai jenis transaksi yang penting bagi laporan keuangan dan


bagaimana transaksi tersebut dilakukan.
Catatan akuntansi dan akun yang digunakan dalam pemprosesan
berbagai transaksi yang penting.
Tahapan pemprosesan transaksi yang dilibatkan dalam melakukan
transaksi hingga pemasukannya dalam laporan keuangan.
Proses laporan keuangan yang digunakan untuk membuat laporan
keuangan, pengungkapan, serta perkiraan akuntansi.

4. Pengawasan
Pengawasan (monitoring) adalah proses yang memungkinkan
kualitas desain pengendalian internal serta operasinya berjalan. Hal ini
dapat diwujudkan melalui beberapa prosedur terpisah atau melalui
aktivitas berjalan.
Para auditor internal perusahaan dapat mengawasi aktivitas entitas
dalam bentuk prosedur yang terpisah. Mereka mengupulkan bukti yang
kecukupan pengendalian melalui pengujian pengendalian.kenudian
memberitahukan kekuatan dan kelemahan pengendalian pada pihak
manajemen.sebagai bagian dari proses ini,para auditor internal dapat
memeberikan rekomendasi tertentu untuk perbaikan atas pengendalian.

Page 20 of 27
Pengawasan yang pada aktivitas yang berjalan dapat
diwujudkanmelalui interaksi berbagai modul computer yang terpisah,
kedalam system imformasi yang menangkap berbagai data penting
dan/ataumemungkinkan pengujian pengendalian dilakukan sebagai
bagiaan dari operasional rutin.

5. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian (control activities) adalah berbagai
kebijakan dan prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa
tindakan yang tepat telah diambil untuk mengatasi resiko perusahaan
yang telah diidentifikasi.
a. Pengendalian komputer adalah pengendalian hal yang penting.
Pengendalian ini secara khusus berhubungan denga lingkungan TI dan
audit TI, terbagi ke dalam dua kelompok umum : pengendalian umum dan
pengendalian aplikasi : pengendalian umum (general control) berkaitan
dengan perhatian pada keseluruhan perusahaan, seperti pengendalian
atas pusat data, basis data perusahaan, pengembangan sistem, dan
pemeliharaan program. Pengendalian aplikasi (application control)
memastikan intregitas sistem tertentu seperti aplikasi pemrosesan
pesanan penjualan, utang usaha, dan aplikasi penggajian.
b. Pengendalian Fisik, jenis pengendalian ini terutama berhubungan
dengan aktivitas manusia yang digunakn dalam sistem akuntasi. Aktivitas
ini dapat benar-benar manual, seperti penjagaan aktiva secara fisik, atau
dapat melibatkan penggunaan komputer untuk mencatat berbagai
transaksi atau pembaruan akun. Pengendalian fisik tidak berkaitan
dengan logika komputer yang sesungguhnya melakukan pekerjaan
akuntansi.ada enam katagori aktivitas pengendalian fisik : otoritas
transaksi, pemisahan fungsi, supervisi, pencatatan akuntansi,
pengendalian akses, dan verifikasi independen.

PERAN PENTING PENGENDALIAN INTERNAL


Lima komponen pengendalian internal : lingkungan pengendalian,
penilaian resiko, informasi dan komunikasi, pengawasan, dan aktivitas

Page 21 of 27
pengendalian menyediakan auditor informasi yang penting mengenai
resiko penyalahsajian yang penting dalam laporan keuangan dan
penipuan. Para auditor karenanya diharuskan untuk mendapat
pengetahuan yang memadai atas pengendalian internal untuk
merencanakan audit mereka. Contohnya, pengendalian internal di
perusahaan mempengaruhi cara auditor akan menilai apakah perusahaan
telah melaporkan semua kewajibannya. Auditor harus memahami
bagaimana pembelian dilakukan, diproses, dan dicatatat. Pengendalian
internal menyediakan informasi ini dan membimbing auditor dalam
perencanaan berbagai pengujian tertentu untuk menetapkan
kecenderungan dan keluasan penyalah sajian laporan keuangan.

C. PEMBAHASAN JURNAL

Pengaruh Pengendalian Internal, Ketaaatan pada Aturan


Akuntansi dan Kecenderungan Kecurangan Terhadap Perilaku
Tidak Etis ( Jurnal WRA Vol. 1 No. 2 Oktober 2013 ).

Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat korupsi tertinggi


di dunia yaitu peringkat 118 dari 182 negara (transparency
international, 2012), sedangkan hasil Failed State Index, (2012),
Indonesia berada di urutan 100 dari 182 negara. Kondisi ini
menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia belum banyak berubah. Di
Indonesia, kecurangan akuntansi dibuktikan dengan adanya likuidasi
beberapa bank, diajukannya manajemen BUMN dan swasta ke
pengadilan, kasus kejahatan perbankan, manipulasi pajak, korupsi di
komisi penyelenggaraan pemilu, dan DPRD.
Untuk menangani masalah kecurangan akuntansi, diperlukan
monitoring, untuk mendapatkan hasil monitoring yang baik, diperlukan
pengendalian internal yang efektif (Wilopo, 2006). Pengendalian

Page 22 of 27
internal yang baik memungkinkan manajemen siap menghadapi
perubahan ekonomi yang cepat, persaingan, pergeseran permintaan
pelanggan serta restrukturasi untuk kemajuan yang akan datang
(Ruslan, 2009) dalam Hermiyetti (2007). Jika pengendalian internal
suatu perusahaan lemah maka kemungkinan terjadinya kesalahan dan
kecurangan semakin besar.
Sebaliknya, jika pengendalian internalnya kuat, maka kemungkinan
terjadinya kecurangan dapat diperkecil. Keefektifan pengendalia
internal mempunyai pengaruh yang besar dalam upaya pencegahan
kecenderungan kecurangan akuntansi, dengan adanya pengendalian
internal maka pengecekan akan terjadi secara otomatis terhadap
pekerjaan seseorang oleh orang lain. Menurut Arens (2008),
pengendalian internal meliputi lima elemen yaitu lingkungan
pengendalian, penilain resiko, aktivitas pengendalian informasi dan
komunikasi, dan pengawasan. Elemen-elemen tersebut membantu
perusahaan untuk mencapai tujuannya. Merujuk pada Agency Theory
maka potensi konflik kepentingan selalu ada antara agent dan
principle. Untuk mengatasi masalah ini, seharusnya manajemen
perusahaan melaksanakan aturan akuntansi dengan benar (Wilopo,
2006).
Aturan akuntansi memberikan pedoman bagi manajemen
bagaimana melakukan kegiatan akuntansi dengan baik dan benar
sehingga menghasilkan laporan keuangan yang efektif dan mampu
menghasilkan informasi yang handal kepada pihak yang
berkepentingan. IAI (2002), menyatakan bahwa masyarakat
membutuhkan kredibilitas informasi, untuk mendapatkan kredibilitas
informasi tersebut manajemen harus melaksanakan aturan akuntansi
yang berlaku umum.
Perilau tidak etis juga disebabkan oleh hal yang substansial yaitu
sikap dan tanggung jawa moral perusahaan. Perusahaan memiliki
tanggung jawab moral dan sosial (Keraf, 1998) dalam Wilopo (2006),
yang pada tingkat operasional, tanggung jawab moral diwakili oleh
manajemen. Menurut Griffin dan Ebert (2006), perilaku tidak etis

Page 23 of 27
merupakan perilaku yang menurut keyakinan perseorangan dan
norma-norma sosial dianggap benar atau salah. Perilaku tidak etis
muncul karena karyawan merasa tidak puas dan kecewa dengan hasil
yang di dapat dari perusahaan serta lemahnya pengawasan
manajemen yang dapat membuka keleluasaan karyawan untuk
melakukan tindakan yang dapat merugikan perusahaan.
Untuk meminimalisir tendensi kecurangan tersebut, perusahaan
dituntut untuk mampu mendorong terbentuknya perilaku etis pada
karyawannya. Banyaknya kasus kecurangan akuntansi yang terjadi
menunjukkan bahwa kecurangan akuntansi masih tinggi baik di
pemerintah maupun di perusahaan swasta termasuk BUMN. Padahal
BUMN didirikan untuk mengembangkan misi dalam memberikan
kontribusi kepada negara, pelayanan masyarakat serta
mensejahterkan masyarakat. Hal ini juga membuat lemahnya
kepercayaan publik kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab
terhadap negara dan masyrakat. Faktanya fenomena yang terjadi yaitu
BPK melaporkan pada laporan semester 1 tahun 2012 telah terjadi
berbagai penyimpangan mulai dari kelemahan sistem pengendalian
internal, penyimpangan efesiensi, administrative, dll pada BUMN,
BUMD, entitas pemerintah daerah dan pusat serta entitas lembaga
keuangan lainnya yang mengelolan keuangan negara sekitar Rp. 12,48
triliun (www.bpk.ri.co.id) diakses tanggal 26 januari 2013.
Pada tingkat daerah, kasus lain yang terjadi pada tubuh BUMN
yaitu kasus mark-up (penggelembungan dana) pembelian tanah
pembangunan kantor PLN Kuranji di Padang Sumatera Barat, yakni
sekitar Rp. 300 juta yang dilakukan oleh pegawai PLN (selaku ketua
panitia pengadaan tanah). Dalam pemeriksaan kasus tersebut
ditemukan ada perbedaan harga tanah yang dibeli dengan harga yang
seharusnya (www.Padang-today.com). Hal ini mengindikasikan masih
lemahnya pengendalian internal, ketaatan pada aturan akuntansi, dan
tingginya tingkat perilaku tidak etis seseorang dalam suatu
perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan
untuk menguji pengaruh efektivitas pengendalian internal, ketaatan

Page 24 of 27
aturan akuntansi, dan perilaku tidak etis terhadap kecenderungan
kecurangan akuntansi pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) di Kota Padang.
Terdapat beberapa hal yang menjadi perbedaan penelitian inii
dengan penelitian sebelumnya. Pertama, pada penelitian ini peneliti
mengklaborasikan teori atribusi dan, teori fraud triangle. dengan
elemen pengendalian internal (ada atau tidak), kepatuhan aturan
akuntansi, serta level moral individu (tinggi atau rendah) Perbedaan
kedua, terkait masalah timing, untuk dapat memperoleh bukti
konsistensi hasil penelitian sebelumnya.
Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pengujian hipotesis yang
telah diajukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Efektivitas pengendalian internal berpengaruh signifikan negatif
terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi, artinya semakin
efektif pengendalian internal perusahaan, semakin rendahnya
kecenderungan kecurangan akuntansi perusahaan.
2. Ketaatan pada aturan akuntansi berpengaruh signifikan negatif
terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi, artinya semakin
perusahaan taat pada aturan akuntansi, semakin rendahnya
kecenderungan kecurangan akuntansi pada suatu perusahaan.
3. Perilaku tidak etis berpengaruh signifikan positif terhadap
kecenderungan kecurangan akuntansi, artinya semakin perilaku
tidak etis pada suatu perusahaan meningkat, maka semakin tinggi
pula kecenderungan kecurangan akuntansi pada perusahaan
tersebut.

D. KESIMPULAN
Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman
berperilaku. Kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah
disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya
termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki
sangsi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum. Kode

Page 25 of 27
Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman
etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Etika yang baik adalah kondisi yang harus ada untuk menjaga
Profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang. Penipuan terbagi dua
kategori umum yaitu penipuan oleh karyawan dan penipuan oleh pihak
manajemen. Penipuan oleh karyawan umumnya didesain untuk
mengonversi yang tunai atau aktiva lainnya secara langsung demi
keuntungan karyawan tersebut. Biasanya, karyawan akan melanggar
struktur pengendalian internal perusahaan untuk keuntungan pribadi.
Akan tetapi, jika perusahaan memiliki sistem pengendalian internal yang
efektif pemalsuan atau penipuan biasansya akan dapat dicegah atau
dideteksi. Penipuan oleh pihak manajemen biasanya melibatkan
kesalahan penyajian data laporan keuangan dan berbagai laporan dalam
jumlah besar, untuk mendapat kompensasi tambahan atau promosi atau
untuk menghindari penalti akibat kinerja yang buruk. Para manajer yang
melakukan penipuan sering kali melakukan hal tersebut dengan cara
mengabaikan struktur pengendalian internal.
Kecukupan struktur pengendalian internal adalah isu yang sangat
penting bagi pihak manajemen dan akuntan. Pengendalian internal
dipelajari pertama-tama dengan menggunakan model pengendalian PDC
yang mengklasifikasikan pengendalian dalam pengendalian pencegahan,
deteksi dan perbaikan. Kemudian, kerangka kerja legal yang dinyatakan
dalam SAS 78 dibahas. Model pengendalian ini membagi pengendalian
internal ke dalam lingkungan pengendalian, penilaian risiko, informasi dan
komunikasi, pengawasan dan aktivitas pengendalian. Aktivitas
pengendalian meliputi otorisasi transaksi, pemisahan fungsi, supervisi,
catatan akuntansi yang memadai, pengendalian akses dan verifikasi
independen. Semakin efektif pengendalian internal perusahaan, semakin
rendahnya kecenderungan kecurangan akuntansi perusahaan. Semakin
perusahaan taat pada aturan akuntansi, semakin rendahnya
kecenderungan kecurangan akuntansi pada suatu perusahaan. Semakin
perilaku tidak etis pada suatu perusahaan meningkat, maka semakin

Page 26 of 27
tinggi pula kecenderungan kecurangan akuntansi pada perusahaan
tersebut.

E. DAFTAR PUSTAKA

James A. Hall. 2011. Accounting Information System. South Western,


Cengage Learning Seventh Edition.

Vani Adelin, Eka Fauzihardani. Pengaruh Pengendalian Internal,


Ketaatan pada Aturan Akuntansi & Kecenderungan Kecurangan
terhadap Perilaku tidak etis, Jurnal WRA, Vol. 01 No. 2 Oktober 2013.

Page 27 of 27