Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN KEUANGAN (PAJAK)

A. LABA-RUGI
Dalam akuntansi pajak , laporan laba rugi yang disingkat L/R lebih banyak disebut sebagai
laporan laba rugi dengan harapan wajib pajak lebih terbiasa dengan perkataan laba dibanding rugi.
Dan laporan ini menggambarkan hasil usaha suau perusahaan selama suatu periode tertentu.
Berdasarkan istilah laba, dikenal dua pengertian yang seharusnya tidak perlu di bedakan,
yaitu:
1. Laba Komersial
Adalah besarnya laba yang dihitung oleh wajib pajak sesuai dengan sistem serta prosedur
pembukuan yang wajar yang diakui dalam standar akuntansi keuangan (SAK).
Laba bersih komersial dapat dihitung wajib pajak tanpa atau dapat memperhatilkan ketentuan
perpajakan yang berkaitan dengan sistem atau prosedur terkait.
Laba bersih secara komersial mencerminkan kondisi keuangan atau kondisi yang
sesungguhnya dari kegiatan usaha perusahaan yang dapat ditelusuri, dibuktikan kebenarannya
dari berbagai perhitungan seperti dari arus kas, arus bank, arus persediaan, dan berbagai arus lain,
sesuai pembukuan yang dilaksanakan oleh wajib pajak.
Besarnya laba komersial setelah pajak berkaitan dengan besarnya aktiva maupun passiva
pada neraca terkait yang dibuat oleh wajib pajak. Apabila besarnya laba setelah pajak ini salah
maka neraca yang akan dibuat juga akan salah. Laba kena pajak atau penghasilan kena pajak
adalah laba yang diperoleh wajib pajak setelah memperhitungkan ketentuan perpajakan berkaitan
dengan pengakuan penghasilan biaya, metode akuntansi, dan juga ketentuan khusus berkaitan
dengan pengakuan perpajakan maupun akuntansi.
Laba setelah pajak diakui oleh pada neraca adalah dihitung dari laba komersial, bukan
dari laba fiskal, kecuali pada laba komersial terjadi kesalahan dalam jurnal maupun posting,
sehingga laba setelah pajak dihitung dari laba fiskal. Pada dasarnya laba komersial boleh berbeda
dengan laba kena pajak tetapi besarnya laba setelah pajak harus sama, dihitung dari laba
komersial maupun laba kena pajak.
2. Laba Fiskal
Laba fiskal untuk wajib pajak badan identik dengan laba kena pajak tetapi untuk wajib
pajak perseorangan, dari laba fiskal untuk menjadi laba kena pajak harus dikurangai terlebih
dahulu dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Wajib pajak di dalam membuat laporan laba
rugi, dapat mempergunakan berbagai cara seperti berikut :
a. Belum mempertimbangkan koreksi fiskal
Apabila laporan laba rugi yang dibuat wajib pajak di susun belum
mempertimbangkan koreksi fiskal atau sama dengan laporan laba rugi komersial, maka
besarnya koreksi fiskal dapat dilaporkan sebagai lampiran perhitungan. Untuk
mendapatkan penghasilan kena pajak pada laporan laba rugi setelah ditemukannya laba
bersih.
Penghasilan kena pajak dihitung dari laba bersih secara komersial dikurangi atau
ditambah dengan koreksi fiskal. Besarnya PPh terutang dihitung dari penghasilan kena
pajak ini menggunakan tarif yang sesuai dengan penghasilan kena pajak. PPh kurang
bayar identik dengan PPh pasal 29 dan merupakan utang pajak pada awak tahun, yang
pada bulan sampai april tahun berikut nya akan dilunasi. Apabila wajib pajak dalam
perhitungan laba rugi memperlakukan koreksi fiskal diluar dari setiap transaksi maka
besarnya koreksi fiskal tersebut di munculkan pada laporan laba rugi
b. Sudah mempertimbangkan koreksi fiskal
Apabila laporan laba rugi yang dibuat oleh wajib pajak sudah mempertimbangkan
koreksi fiskal koreksi atau sama dengan laporan laba rugi menurut pajak maka besarnya
laba netto yang diperoleh sudah memperhitungkan koreksi fiskal sehingga atas laba
komersial yang tidak diperoleh tidak memerlukan koreksi fiskal lagi.
Laba bersih sebelum pajak tersebut, antara yang secara komersial dan secara fiskal adalah
sama karena dalam operasi hitungannya baik yang terkait penjualan, HPP, biaya
semuanya memperhitungkan koreksi fiskal dalam setiap jurnalnya. Hal semacam ini
kemungkinan sulit dilakukan wajib pajak karena penghasilan ataupun biaya yang sesuai
ketentuan perpajakan, yang bukan merupakan penghasilan atau bukan merupakan biaya,
menurut keputusan komersial merupakan penghasilan suatu biaya. Wajib pajak akan
mengalami kesulitan untuk melakukan jurnal atas setiap transaksinya apabila setiap
transaksi itu harus memperhitungkan koreksi fiskal.
Kesulitannya yang di alami wajib pajak dalam melakukan jurnal terhadap koreksi
fiskal tersebut mengharuskan wajib pajak melakukan perhitungan sendiri atas koreksi
fiskal ini tanpa harus melakukan jurnal terkecuali bila secara komersial terjadi kesalahan.
Hal ini sekaligus menunjukan bahwa akuntansi pajak tidak memperlakukan jurnal
transaksi secara khusus sementara jurnal transaksi mengikuti akuntansi komersial yang
lazim.
Tidak adanya jurnal khusus terhadap koreksi fiskal mengharuskan wajib pajak
untuk melakukan koreksi fiskal pada setiap perhitungan besarnya PPh terutang
menentukan besarnya laba setelah pajak dengan kata lain sangat sulit terjadi bahwa
besarnya laba komersial sama dengan laba secara fiskal atau sangat tidak dimungkinkan
laporan laba rugi dibuat setelah memperhitungkan koreksi fiskal pada setiap transaksi
yang dilakukan wajib pajak.
c. Penghasilan sudah terkena PPh Final
Secara akuntansi, pajak penghasilan yang sudah terkena PPh final tidak perlu lagi
dihitung besarnya dalam penghasilan kena pajak dan besarnya PPh final tersebut
merupakan pelunasan dari PPh terutang kegiatan atas usahanya. Laporan laba rugi untuk
penghasilan yang sudah dikenakan PPh final tidak perlu lagi memperhatikan koreksi
fiskal karena koreksi fiskal lebih cenderung digunakan dalam perhitungan besarnya
perhitungan PPh terutang.
Namun demikian pembuatan laporan laba rugi pada penghasilannya sudah
terkena PPh final dengan tetap memperhatikan perlakuan koreksi fiskal, secara komersial
maupun secara pajak akan lebih bermanfaat bagi wajib pajak terutama control
pemnfaatan berbagai biaya.lebih lebih kalau sebagian penghasilan wajib pajak sudah
terkena PPh final, sebagian lagi tidak terkena PPh final.
B. NERACA
Neraca merupakan penutup dari proses suatu pembukuan termasuk didalam pembukuan
dalam rangka akuntansi pajak. Neraca pada dasarnya hanya dibuat satu oleh wajib pajak sehingga
neraca komersial sama dengan neraca secara pajak.
Neraca yang dibuat semata mata berdasarkan transaksi komersial tanpa memperhatikan
koreksi fiskal akan memperhitungkan besarnya pajak yang terutang pada akhir tahun sesuai laba rugi
secara komersial yang besarnya dapat tidak sama denagn perhitungan dari laporan laba rugi secara
fiskal.
Seperti telah dibahas pada bagian laba rugi laporan laba rugi yang dibuat oleh wajib pajak
adalah secara komersial yang ketika menghitung besarnya PPh yang terutang sesuai dengan laba rugi
secara fiskal, demikian pula besarnya laba rugi setelah pajak yang diakui pada neraca yang dihitung
dari PPh terutang dari laba rugi secara fiskal.
1. Neraca sebelum koreksi fiskal
Apabila wajib pajak tidak melakukan koreksi fiskal baik melalui jurnal atau setiap
transaksi maupun lewat jurnal penyesuaian, didalam menghitung besarnya PPh terutang. Maka
besarnya neraca yang akan di buat oleh wajib pajak akan berbeda apabila dilakukan koreksi
fiskal.
2. Neraca setelah koreksi fiskal
Seperti telah dibahas pada laba rugi besarnya laba setelah pajak baik setiap transaksinya
dilakukan jurnal terhadap koreksi fiskal maupun jurnal koreksi fiskal itu dilakukan setelah tutup
buku keduanya akan memberikan angka yang sama . Apabila besarnya laba setelah pajak berbeda
hal itu akan membuat besarnya passiva dan aktiva pada neraca juga berbeda atau telah terjadi
kesalahan pada pembuatan neraca
3. Neraca dengan mata uang asing
Bagi wajib pajak yang sebelumnya melakukan pembukuan denga mata uang rupiah dan
kemudian pindah dengan mata uang dollar AS, maka untuk yang pertama kalinya pembuatan
neraca dilakukan dengan bertitik tolak dari neraca akhir tahun buku sebelumnya yang di
konversikan ke satuan mata uang dollar AS dengan menggunakan kurs seperti berikut :
a. Untuk harga perolehan harta berwujud/harta tidak berwujud yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 tahun mak menggunakan kurs sebenarnya berlaku pada saat
perolehan harta tersebut.
b. Untuk akumulasi penyusutan/amortisasi harta maka akan menggunakan kurs yang
sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut.
c. Untuk harta lainnya menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun
buku sebelumnya, berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang di lakukan secara
taat asas
d. Apabila terjadi revaluasi aktiva tetap di samping menggunakan nilai historis atas nilai
selisih lebih di konversi ke dalam satuan mata uang dollar AS dengan menggunakan
kurs yang sebenarnya berlaku pada saat dilakukannya revaluasi.
e. Untuk laba ditahan atau sisa kerugian dalam satuan mata uang rupiah dari tahun tahun
sebelumnya dikonservasi ke dalam satuan mata uang dollar AS dengan menggunakan
kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku sebelumnya, yakni kurs tengah
BI, berdasarkan sistem pembukuan yang di anut yang dilakukan secara taat asas.
f. Untuk modal saham dan ekuitas lainnya menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku
pada saat terjadi transaksi.
g. Dalam hal terdapat selisih laba atau rugi sebagai akibat konversi dari satuan mata
uang dollar AS maka selisih laba atau rugi tersebut dibebankan kepada rekening laba
ditahan.
4. Neraca setelah kuasi organisasi
Sesuai dengan PSAK no 51, kuasi reorganisasi adalah prosedur akuntansi yang mengatur
perusahaan dalam merestrukturisasi ekuitasnya dengan menghilangkan defisit dan menilai
kembali seluruh aktiva dan kewajibannya tanpa melalui reorganisasi secara hukum adapun syarat-
syarat yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan untukmelakukan suatu kuasi reorganisasi
adalah :
a. Perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material
b. Harus memiliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek yang baik
c. Tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan
d. Tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku
e. Saldo ekuitas sesudah kuasi reorganisasi harus positif
Dengan adanya transaksi pada rekapitalisasi yang mengubah struktur pada neraca tersebut
neraca harus dibuat setelah kuasi reorganisasi yang menggambarkan kondisi sebelum dan
sesudahnya.
5. Neraca penyesuaian revaluasi
Wajib pajak setelah melakukan penilaian kembali atas aktivanya harus membuat neraca
penyesuaian dimana besarnya selisih lebih dari hasil penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di
atas nilai sisa buku komersial semula dan setelah dikurangi pajak harus dibukukan dalam neraca
komersial. Yang dimaksud neraca penyesuaian dalam keputusan menteri keuangan ialah laporan
posisi keuangan menggambarkan posisi sesaat sebelum dan setelah revaluasi.
6. Neraca proforma merger
Perusahaan yang melakukan merger harus membuat neraca proforma yang merupaka
hasil penggabungan merger.