Anda di halaman 1dari 30

BAB I

MEMAHAMI BISNIS MLM

PENDAPAT UMUM TERHADAP BISNIS MLM


Jualan Door To Door, Bisnis menipu, Orang pertama bergabung yang
sukses. Merugikan orang yang bergabung belakangan, Untuk sukses
harus punya banyak relasi ,Mark Up harga ( produk tidak laku ) DAN
Bisnis yang tidak bergengsi.

APA YANG MENYEBABKAN MEMBER GAGAL

1. Faktor Kepribadian member: Member berharap tanpa


bekerja keras dapat memperoleh kesuksesan.
2. Faktor dari luar (Perusahaan & Leader):
a). iming-iming kemewahan pada tahap awal dan
marketingnya berpihak kepada perusahaan.
b). Menjadi member dibanyak perusahaan mlm.
c). Mengikuti petualang MLM.

Untuk itu, mari kita analisa bersama-sama, tentang kenapa banyak


orang/member yang gagal di kebanyakan perusahaan Multilevel,
bahakan berujung kepada trauma. kami harap setelah Anda nanti
memahami ini, akan ditemukan sisi perbedaan antara bisnis PT.Melia
Sehat Sejahtera dengan perusahaan Multi Level Lainnya, bahkan
ekstrimnya bisa di bilang perbedaannya jauh 180 derajat.

1
Pada dasarnya seluruh peserta bisnis MLM memiliki mimpi untuk
sukses dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari hari-hari
sebelumnya. Akan tetapi pada umumnya bukannya memperoleh
sukses malah kehidupannya yang justru jauh lebih buruk
dibandingkan sebelum bergabung di bisnis MLM
Pada umumnya kebanyakan bisnis MLM menawarkan berbagai janji
bagi calon anggotanya. Janji dan iming-iming kemewahan inilah yang
pada tahap awal dilakukan untuk mempengaruhi anggota baru dan
calon anggota, seolah-olah semua kemewahan tersebut akan sangat
cepat dan mudah untuk diperoleh. Padahal pada kenyataannya semua
kemewahan tersebut adalah hasil akhir yang untuk memperolehnya
harus melalui proses yang lama dan melelahkan
Berikut adalah contoh iming-iming atau motivasi yang umumnya
diberikan oleh perusahaan MLM kepada calon anggotanya. Pada
awalnya hal-hal tersebut tampak sangat menjanjikan dan mudah
untuk dicapai, namun seiring waktu apa yang tampaknya mudah
tersebut ternyata sulit untuk dilaksanakan.

A. Sistem Peringkat Di Perusahaan MLM


Hampir di semua perusahaan MLM memiliki sistem peringkat, dimana
semakin tinggi peringkat seorang anggota akan semakin besar
persentasi bonus yang akan diperoleh dari total omzet anggota
bersangkutan. Kelihatannya peringkat tersebut akan sangat

2
menguntungkan seorang anggota akan tetapi jika kita simak lebih
mendalam sebenarnya peringkat tersebut adalah kerugian bagi
anggota dengan memperhatikan syarat kenaikan peringkat di
perusahaan MLM misalnya:
1. Memiliki minimal dua grup dibawahnya sama peringkatnya
dengan anggota bersangkutan
2. Memiliki total nilai poin tertentu sesuai dengan yang telah
disyaratkan minimal dua grup dibawahnya
3. Memiliki total nilai poin grup lain selain dua grup utama yang
disebut dengan side volume
4. Melakukan tutup poin sesuai dengan yang telah disyaratkan

Jika salah satu dari syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka
anggota bersangkutan tidak akan naik peringkat. Syarat-syarat
tersebut akan memungkinkan terjadinya peringkat downline sama
peringkatnya dengan upline/sponsor yang sering disebut dengan
istilah "BREAK PERINGKAT" yang akan mengakibatkan:
1. Persentasi bonus upline yang sama peringkatnya dengan
downline menjadi nol persen, atau maksimal hanya 1% (bonus upline
turun drastis)
2. Biaya operasional jaringan semakin besar seiring pertumbuhan
jaringan akan menyulitkan upline mengembangkan dan membantu
seluruh jaringan
3. Upline akan frustasi dengan bisnisnya dan ada kemungkinan
menjadi berhenti padahal sudah sangat banyak hal yang telah
diinvestasikan seperti uang dan waktu
4. Downline yang telah dibantu oleh upline dari tahap awal
membangun bisnis jaringan sampai terjadi break peringkat dengan
kejujuran & integritas menjadi ancaman bagi perkembangan
penghasilan & bisnis uplinenya
Di dalam bisnis jaringan, untuk tetap menjaga pertumbuhan dan
perkembangan minimal dua jaringan tetap sama adalah pekerjaan
yang paling sulit maka kemungkinan untuk mengalami Break
Peringkat adalah sangat besar.
Break Peringkat adalah yang paling dihindari dan ditakuti oleh
seluruh upline. Umumnya untuk menghindari terjadinya Break
Peringkat pada dirinya seorang peserta bisnis MLM justru terjebak
melakukan beberapa langkah salah sbb:

3
1. Membeli poin grup yang terlambat perkembangannya dengan
harapan akan memperoleh bonus yang lebih besar seiring dengan
naiknya peringkat. Biaya membeli poin lebih besar dari bonus yang
diperoleh.
2. Tidak mau membantu pengembangan grup jaringan yang sangat
cepat berkembang. Mengakibatkan upline kehilangan integritas dan
komitmen sebagai pemimpin, padahal dalam bisnis jaringan kedua
hal tersebut adalah hal yang paling penting
3. Menunda posting anggota anggota baru di grup yang cepat
perkembangannya

B. Sistem Reward Di Perusahaan MLM


Sistem Reward adalah impian atau motivasi yang dibangun oleh
perusahaan MLM kepada setiap anggota sebagai sebuah tujuan,
seolah-olah sangat mudah utuk memperolehnya. Sebenarnya jika
diteliti lebih cermat, reward bukanlah keuntungan bagi anggota.
Untuk memahami alasannya perhatikan syarat untuk memperoleh
reward berikut:
1. Memiliki peringkat tertentu sesuai dengan syarat reward
2. Memiliki minimal peringkat dua downline dengan grup yang
berbeda sama dengan upline sesuai dengan syarat
3. Memiliki total omzet minimal dari dua grup yang berbeda sesuai
dengan syarat
4. Memiliki side volume dengan jumlah tertentu sesuai dengan
syarat
5. Harus melakukan tutup point dengan jumlah tertentu
Jika salah satu dari syarat tidak dipenuhi maka anggota tidak akan
memperoleh reward.
Beberapa hal tentang reward yang harus diketahui oleh
peserta bisnis MLM
1. Reward sebenarnya bukan hadiah dari perusahaan tetapi adalah
bagian dari bonus-bonus anggota yang ditunda pembayarannya oleh
perusahaan sampai memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.
Dengan demikian reward adalah bonus (hak) anggota yang
pembayarannya ditunda (ditabung) atau biasa disebut sebagai
bonus tunda

4
2. Peserta MLM lebih membutuhkan bonus cash dari pada bonus
tunda, karena sebenarnya hampir seluruh peserta MLM mengalami
kesulitan keuangan setiap bulan karena kebutuhan lebih besar dari
penghasilan. Itu sebabnya mereka menjalankan bisnis MLM untuk
mendapatkan penghasilan tambahan.
3. Reward adalah hasil akhir dimana untuk memperolehnya
diperlukan modal waktu yang lama dan uang yang cukup besar.
4. Reward akan memberikan peluang kepada perusahaan MLM
untuk menetapkan berbagai syarat yang memberatkan anggotanya
yang tidak diberitahu secara transparan pada tahap awal.
5. Peserta bisnis MLM yang sudah hampir mencapai syarat reward
tetapi karena satu dan lain hal tidak sanggup lagi untuk meneruskan
bisnisnya maka bonus tunda tersebut menjadi milik perusahaan
(hangus).

C. Passive Income Dan Bonus Sharing Di Perusahaan MLM


Sama seperti Sistem Reward, Passive Income dan Bonus Sharing
inilah yang selalu di gembar-gemborkan oleh perusahaan MLM kepada
seluruh masyarakat dan calon anggotanya dimana seolah-olah tanpa
bekerja akan memperoleh bonus. Sebenarnya hal tersebut tidak
benar karena tidak mungkin ada bonus tanpa ada omzet. Perhatikan
syarat untuk memperoleh pasif income dan bonus sharing yang
dijanjikan oleh perusahaan MLM
1. Memiliki peringkat sesuai dengan syarat
2. Memiiiki minimal total omzet sesuai syarat
3. Harus melakukan tutup poin
Beberapa hal yang harus diketahui mengenai Bonus Sharing dan
Passive Income:
1. Jika tidak ada omzet perusahaan maka tidak mungkin perusahaan
mampu membayar bonus.
2. Bonus Sharing adalah hasil akhir dimana untuk memperolehnya
dibutuhkan investasi waktu yang lama dan uang yang sangat besar.
Dan bonus tersebut tidak otomatis diterima jika tidak memenuhi
syarat yang ditentukan setiap bulan.
3. Perhitungan Bonus Sharing sangat rumit, dimana salah satu
parameter perhitungannya adalah omzet perusahaan yang hanya
diketahui oleh perusahaan bersangkutan.

5
1. MARKETING PLAN YANG BERPIHAK KEPADA PENGUSAHA
MLM
Faktor pertama yang membuat kegagalan anggota MLM adalah akibat
pengusaha menciptakan sistem Marketing Plan yang berpihak kepada
pengusaha MLM. Jadi mereka lebih berorientasi kepada keuntungan
perusahaan daripada kepada kesejahteraan anggotanya.
Beberapa ciri Marketing Plan yang berpihak kepada pengusaha
MLM adalah:
A. Pembayaran Bonus Anggota Yang Terlalu Lama
Rata-rata penghasilan masyarakat Indonesia lebih kecil daripada
kebutuhannya.

Sistem pembayaran bonus yang lama ini yang menyebabkan banyak


orang yang tidak bisa bertahan pada saat-saat awal membangun
bisnis jaringan mereka.

6
Berikut ini bagaimana arus kas seorang peserta bisnis MLM dalam 3
bulan pertama mereka mengikuti bisnis MLM.
Gambaran perincian pengeluaran biaya operasional anggota
setiap bulan
Pada bulan I
Pendaftaran + pembelian produk Rp 300,000
Tutup poin Rp 350,000 (jika tidak tutup poin maka anggota tidak
memperoleh bonus meskipun memiliki omzet)
Biaya operasional setiap hari dalam melakukan aktifitas sebagai
anggota rata-rata Rp 10,000. Total biaya selama 55 hari sebelum
anggota memperoleh bonus sebesar Rp 550,000, maka total biaya
operasional sebesar Rp 1,200,000,
Pada akhir bulan berikutnya anggota memperoleh bonus Rp
100,000
Anggota mengalami kerugian sebesar Rp 1.100,000
Pada bulan II
Biaya operasional sama dengan bulan I yaitu sebesar Rp 1,200,000
Anggota menerima peningkatan bonus menjadi Rp 150,000 karena
jaringan sudah mulai berkembang
Anggota mengalami kerugian Rp 1,050,000
Pada bulan III
Biaya operasional naik menjadi Rp 1,500,000 karena jaringan sudah
mulai berkembang
Bonus anggota naik menjadi Rp Rp 250,000

7
Anggota mengalami kerugian sebesar Rp 1,250,000
Dalam tiga tahap di atas, seorang peserta bisnis di perusahaan MLM
telah mengalami total kerugian sebesar:

Kerugian pada bulan I Rp 1,100,000


Kerugian pada bulan II Rp 1,050,000
Kerugian pada bulan III Rp 1,250,000
Total kerugian sebesar Rp 3,400,000

Peserta bisnis MLM tersebut selama tiga bulan mau menjalani bisnis
MLM dengan mengalami kerugian karena dijanjikan kemewahan-
kemewahan. Namun pada tiga bulan pertama bisnisnya mereka baru
menyadari bahwa untuk memperoleh semua kemewahan tersebut
harus memiliki modal keuangan yang cukup kuat.
Selama tiga bulan pertama menjalankan bisnisnya, peserta bisnis
MLM menjadi salesmen dengan menjual produk-produk hasil Tutup
Poin untuk menutupi kebutuhan dan kerugian. Selanjutnya anggota
berhenti dan berpikir bahwa bisnis MLM adalah bisnis pembohongan.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sistem pembayaran bonus
tersebut tidak cocok dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia
pada umumnya dan semua kemewahan tersebut adalah merupakan
hasil akhir.

B. Tutup Poin
Salah satu faktor lain kegagalan anggota MLM adalah aturan Tutup
Poin. Pengertian Tutup Poin adalah
1. Tutup Poin adalah salah satu aturan yang ditetapkan oleh
perusahaan bagi anggotanya untuk melakukan belanja ulang
secara wajib. Terlepas apakah mereka mempunyai uang untuk
melakukan belanja ulang tersebut atau tidak.
2. Tutup Poin menjadi salah satu syarat untuk memperoleh bonus.
Berapapun omzet seorang anggota bisnis MLM bonusnya tidak
dibayarkan jika tidak melakukan Tutup Poin.
3. Nilai Tutup Poin pada tahap awal bergabung dengan bisnis MLM
biasanya jauh lebih besar dari bonusnya itu sendiri

8
4. Tutup Poin mengakibatkan anggota bisnis MLM terpaksa menjadi
seorang salesman untuk meminimalkan kerugian akibat kebijakan
belanja ulang yang dipaksakan.
Belanja ulang dijadikan syarat untuk memperoleh bonus dengan
alasan apapun merupakan ketidakadilan bagi peserta bisnis MLM.
Sebenarnya syarat untuk memperoleh bonus adalah anggota bekerja
dan memberikan omzet. Namun kenyataannya selama kurang
lebih tiga puluh empat tahun sistem MLM di Indonesia membuat
aturan Tutup Poin menjadi sebuah keharusan dan kebenaran padahal
faktanya aturan ini merupakan ketidakadilan bagi seluruh anggota.
Benar bahwa semua anggota MLM haruslah menjadi konsumen dan
wajah dari produk-produk MLM yang diikutinya dengan selalu
melakukan belanja ulang produk. Tetapi belanja ulang haruslah
dilakukan dengan aturan yang manusiawi dan benar dimana belanja
ulang dilakukan anggota setelah anggota memperoleh bonus dan nilai
keharusan belanja ulang anggota harus lebih kecil dari bonus
anggota.
Dengan demikian maka kondisi keuangan peserta bisnis MLM tetap
sehat karena arus kas-nya selalu positif atau minimal nol. Namun
tidak akan pernah negatif atau defisit (pengeluaran lebih besar dari
penghasilan)

C. Jenis Bonus Yang Banyak Dan Perhitungan Bonus Yang


Terlalu Rumit
Perusahaan MLM sangat senang menciptakan banyak jenis bonus dan
dengan perhitungan yang sangat rumit. Jenis bonus yang banyak di
perusahaan MLM tidak berhubungan dengan besar kecilnya bonus-
bonus anggota. Karena sebenarnya besar kecilnya bonus anggota
bisnis MLM tergantung dari persentase bonus yang diperoleh anggota
dibandingkan dengan omzet anggota bersangkutan.
Perhitungan bonus yang rumit dengan banyaknya parameter
perhitungan seperti: Nilai Poin Produk, Persentase Peringkat,
Perhitungan Jumlah Poin Grup Frontline, Perhitungan Tutup Poin
Pribadi, Perhitungan Tutup Poin Seluruh Jaringan, Perhitungan Total
Omzet Perusahaan dll, akan membuat anggota tidak mampu
menghitung bonusnya sendiri sebelum diberitahu oleh perusahan hal
ini akan mengakibatkan kurang transparan dalam perhitungan bonus
anggota dan kontrol biaya dalam upaya membangun jaringan.

9
Banyaknya jenis bonus dan sulitnya perhitungan bonus di
perusahaan MLM adalah merupakan salah satu faktor kegagalan
anggota MLM, perhatikan fakta berikut:
1. Semakin banyak jenis bonus dan semakin sulit perhitungan bonus
akan semakin membuka peluang perusahaan MLM untuk menetapkan
syarat-syarat yang tidak diketahui anggota.
2. Semakin banyak jenis dan sulitnya perhitungan bonus akan
menyebabkan setiap anggota kesulitan mengetahui total nilai bonus
sebelum memperoleh statement bonus dari perusahaan
3. Semakin banyak jenis bonus dan sulit perhitungan bonus akan
semakin menyulitkan anggota melakukan presentasi

Sebenarnya anggota seharusnya memperoleh bonus jika memberikan


omzet. Ada tiga jenis omzet yang diberikan oleh anggota kepada
perusahaan multilevel marketing yang berarti hanya ada tiga jenis
bonus:
1. Anggota mengajak orang lain menjadj konsumen produk multilevel
marketing, dimana yang diajak membeli produk dari perusahaan
MLM. Bonus ini sering kita sebut dengan bonus mengajak
(sponsoring)
2. Anggota mengajarkan dan membina jaringan (downline) agar
mampu mengajak orang lain sehingga membeli produk perusahaan
MLM. Bonus ini disebut dengan bonus perkembangan jaringan atau
bonus kepemimpinan
3. Anggota dan seluruh jaringannya melakukan belanja ulang. Bonus
ini disebut dengan bonus belanja ulang
Jika anggota mampu menjual produk secara langsung kepada
masyarakat dan anggota memperoleh keuntungan dari penjualan
tersebut sebenarnya itu bukanlah bonus, karena di semua sistem
penjualan akan memperoleh keuntungan jika mampu menjual secara
langsung produk

2. MENGIKUTI AJAKAN PETUALANG-PETUALANG MLM


Untuk sukses di bisnis MLM. salah satu hal terpenting adalah harus
memiliki pemimpin (leader) yang bertanggung jawab, memiliki
integritas, memiliki kejujuran, memiliki komitmen untuk membawa
seluruh jaringannya ke puncak kesuksesan tanpa mengorbankan
downline-nya dengan alasan-alasan yang tidak realistis.
10
Saat ini sangat banyak petualang-petualang bisnis MLM di
Indonesia yang selalu mengaku sebagai seorang pelaku bisnis yang
handal serta berpengalaman padahal belum pernah sukses dalam
menjalankan bisnis MLM, justru sebenarnya selalu menjadi objek
perusahaan MLM.

3. Marketing Plan (Rencana Pengembangan Usaha)


Perizinan dan Produk yang baik dari perusahaan MLM tidak cukup
sebagai poin penilaian bagi calon peserta bisnis MLM untuk
bergabung di perusahaan MLM. Semua calon anggota harus
menyadari bahwa tujuan bergabung di perusahaan MLM bukan hanya
untuk mengonsumsi produk-produk perusahaan akan tetapi tujuan
yang kedua ingin memiliki penghasilan di bisnis MLM dengan
memperoleh bonus jika mengonsumsi, mendistribusikan dan
mempromosikan produk serta membangun jaringan di perusahaan
MLM.
Marketing plan perusahaan MLM adalah penilaian selanjutnya
karena di marketing plan lah diatur semua mengenai bonus-bonus
anggota. Poin penting untuk menilai marketing plan perusahaan MLM
A. Kapan bonus anggota dibayar
Semakin cepat bonus bonus anggota dibayar oleh perusahaan MLM
setelah memperoleh omzet akan semakin besar peluang anggota
untuk lebih cepat berkembang karena sebenarnya hampir seluruh
anggota tidak memiliki uang untuk membiayai pengembangan
jaringan selama lebih kurang satu setengah bulan sebelum
memperoleh bonus.
Dengan pembayaran bonus yang lebih cepat maka setiap anggota
mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai
dalam membangun jaringan tanpa mengganggu penghasilan dari
bisnis atau sumber penghasilan yang lain.
B. Bagaimana bonus anggota dibayar
Setiap omzet yang dihasilkan oleh anggota, baik itu omzet mengajak,
omzet perkembangan jaringan ataupun omzet belanja ulang produk
harus dibayar perusahaan MLM berupa bonus tanpa syarat. Tutup
poin sebelum anggota memperoleh bonus merupakan ketidakadilan
bagi seluruh anggota dan harus ditentang.
C. Jenis dan perhitungan bonus yang sederhana
Semakin sedikit jenis bonus di perusahaan MLM akan semakin mudah
bagi seluruh anggota untuk menganalisa dan mengetahui jebakan

11
ataupun syarat syarat yang ditetapkan perusahaan pada tahap awal
sehingga anggota tidak kecewa dikemudian hari serta semakin
mudah perhitungan-perhitungan bonus anggota akan semakin
memudahkan anggota mengetahui pantas tidaknya untuk mencari
penghasilan di bisnis MLM dan juga akan semakin transparan bagi
anggota untuk mengetahui bonus yang diperoleh setiap terjadinya
omzet.
D. Berapa besar bonus anggota dibayar oleh perusahaan
Perhitungan yang paling mudah untuk mengetahui persentasi setiap
bonus adalah dengan membandingkan antara bonus yang diperoleh
dengan omzet yang dihasilkan dan dengan membina seminimal
mungkin grup jaringan.

Anggota sebagai eksekutor pantas memperoleh keuntungan lebih


besar dibandingkan dengan perusahaan MLM.
Setiap calon peserta bisnis MLM jangan pernah tergiur dan
tergoda dengan reward, penghasilan ratusan juta rupiah, pasif
income, bonus sharing, karena semuanya itu adalah hasil akhir.

BAB II

Pengertian Multi Level Marketing

Apa yang dimaksud MLM?


Multi Level Marketing atau MLM adalah pemasaran yang dilakukan beberapa orang dengan
sistem berjenjang (terdiri dari beberapa tingkatan level).
Beberapa orang ini disebut member, sales representative, atau konsultan.
Mereka terdaftar sebagai member (anggota) perusahaan MLM tanpa terikat jam kerja.
Bagaimana cara kerja member perusahaan MLM?
1. Menjual
Member perusahaan MLM bekerja dengan menjual produk. Mereka merekomendasikan
(mempromosikan) produk hingga produk terjual pada konsumen.
Contoh : Ayi adalah member perusahaan MLM dan bekerja dengan menjual produk.

12
2. Merekrut dan mengajari orang yang direkrut cara menjual
Merekrut adalah mengajak orang bergabung menjadi member di perusahaan MLM.
Dalam perusahaan MLM member memiliki opsi untuk menjadi leader dengan merekrut dan
mengajari orang yang direkrut (downline) agar sukses menghasilkan penjualan.
Misalnya :
Ayi tidak hanya menjual produk. Dia juga merekrut Bima dan mengajarinya cara menjual
hingga mampu menghasilkan penjualan.

Mengapa ada opsi merekrut dan mengajari downline cara menjual?


Misalnya Anda mendapatkan hasil dari berjualan dengan menjual produk pada 12 orang
konsumen.
Maka dengan merekrut, Anda bisa mendapatkan 12 orang konsumen dengan mengajari cara
berjualan pada 3 orang yang Anda rekrut. Lebih efektif daripada berjualan sendiri untuk
mendapatkan 12 orang konsumen.
3. Mengajari downline cara merekrut
Tidak hanya cara berjualan, Ayi juga mengajari Bima cara merekrut untuk menambah
downline (tenaga penjualan) dan menghasilkan penjualan yang lebih besar.
Misalnya :
Bima kemudian berhasil merekrut Citra. Bima mengajari Citra cara menjual dan merekrut.
Dalam proses Bima mengajari Citra, Ayi tetap membimbing Bima untuk memastikan Citra
bisa menghasilkan penjualan dan merekrut downline.
Selanjutnya Citra berhasil menjual produk dan merekrut downline (Didik)

13
Apakah Member Harus Menjual, Merekrut, dan Mentraining ?
Member melakukan kerja menjual, merekrut, dan mentraining (mengajari downline) jika
ingin mendapat penghasilan. Jika tidak ingin mendapat penghasilan, member bisa sekedar
memakai produk untuk kebutuhan pribadi dan mendapat keuntungan berupa harga khusus
member.
Di perusahaan MLM yang produknya berkualitas, akan selalu ada konsumen yang kemudian
gabung menjadi member hanya untuk memakai produk dan mendapat harga diskon.

Skema Komisi
Skema komisi adalah skema perusahaan MLM dalam memberikan penghargaan atas hasil
kerja member. Jadi perusahaan bukan membagi-bagikan begitu saja uang nya kepada anda,
tetapi perusahaan memberikan komisi kepada anda sesuai omset yang anda ciptakan, dan
komisi di bayarkan sesuai dengan kontrak yang dibuat oleh perusahaan.
Setiap perusahaan MLM memiliki skema yang berbeda.
Secara umum skemanya adalah sebagai berikut :
1. Komisi dari penjualan ( BONUS SPONSOR )
# Untuk memotivasi member dalam menjual produk.
# Member mendapat komisi dari hasil penjualan. Semakin banyak menjual, semakin
besar komisi. Besarnya komisi yang diterima adalah persentase tertentu dari hasil
penjualan.

14
# Di kehidupan sehari-hari kita juga sering merekomendasikan produk yang kita pakai
pada keluarga atau teman kita. Jika penjual produk memiliki program reward
(penghargaan) semacam hadiah produk atau diskon pembelian produk tertentu bagi
pemberi rekomendasi, kita bisa mendapat keuntungan dari penjualan produk tersebut.
Namun jika tidak ada program reward, kita tidak mendapat apa-apa.
2. Komisi dari mengajari downline cara menjual dan merekrut ( LEADERSHIP )
# Untuk memotivasi member mengajari downline.
# Member mengajari downline cara menjual dan akan mendapat komisi jika downline
berhasil menjual produk. Artinya member mendapat komisi dari hasil kerjanya
mengajari downline.
# Member juga akan mengajari downline cara merekrut untuk menambah jumlah
tenaga penjualan dan menghasilkan penjualan lebih besar.
# Perlu diperhatikan bahwa member tidak mendapat komisi dari merekrut. Member
mendapat komisi jika downline-downline yang direkrut dan ditraining bisa
menghasilkan penjualan.
Semakin bagus training yang diberikan, semakin banyak penjualan yang dihasilkan,
semakin besar komisi.
# Perhitungan komisi dilakukan dengan sistem perhitungan penghasilan yang
adil dimana komisi diberikan sesuai hasil kerja member.
Menjual disini tidak hanya dalam artian menjual produk secara langsung, tetapi Menjual
disini pun memiliki arti lebih yaitu jika produk dari perusahaan ada yang keluar akibat
dari anda melakukan prospek sehingga menjadi member baru, maka disitu pun bisa
dikatakan menjual. Karena anda berhasil membuat produk perusahaan terjual karena
anda menghadirkan member baru.

Persamaan perusahaan MLM dan non MLM

Perbedaan perusahaan MLM dan non MLM

15
Dalam perjalanannya, di masyarakat berkembang stigma negatif mengenai sistem MLM
dengan maraknya praktek penipuan yang cara kerjanya menyerupai MLM.
Bisnis berkedok MLM ini menjalankan usahanya dengan skema piramida dan money game.
Skema yang ditawarkan adalah skema cepat kaya. Hanya melakukan sedikit usaha namun
bisa mendapat keuntungan melimpah.

16
BAB III

Beda MLM Legal, Skema Piramida, dan Money Game

Dalam perkembangannya MLM mendapat hambatan dengan munculnya praktek skema


piramida dan money game yang menjalankan operasinya dengan kedok MLM. Banyak
masyarakat yang kemudian jadi berpandangan negatif dan anti dengan MLM karena mengira
MLM sama dengan praktek bisnis ilegal tersebut.
Karena memiliki struktur segitiga dan berbentuk piramida, MLM dianggap sebagai skema
piramida.

Tentu saja ini salah. Banyak organisasi memiliki struktur berbentuk piramida namun bukan
skema piramida. Dalam organisasi tersebut ada sistem manajemen dimana setiap orang
membawahi beberapa orang. Orang yang membawahi beberapa orang ini biasanya disebut
manager. Kemudian beberapa orang ini juga akan membawahi orang lain.
Misalnya, struktur organisasi sebuah bisnis : Jika Anda menjalankan bisnis dan konsumen
Anda semakin hari semakin bertambah, Anda akan butuh orang untuk membantu. Misalnya,
Anda menyewa 3 asisten maka struktur organisasi bisnis Anda akan berbentuk piramida
(segitiga).
Dalam MLM, seseorang mendaftarkan orang lain (member baru) dan mentrainingnya cara
menjual produk dan merekrut member baru. Bentuk piramida dari MLM bukan berarti MLM
menjalankan aktivitasnya dengan skema piramida atau scam. Jika sebuah perusahaan
membayar orang dalam beberapa level atau tingkatan tidak juga berarti perusahaan itu
disebut skema piramida.
Bisnis dengan skema piramida dan money game memang menyerupai MLM. Bisnis ini ilegal
dan tidak diakui pemerintah. Pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa perusahaan yang
menjalankan bisnis MLM legal atau resmi adalah perusahaan MLM yang memiliki SIUPL
(Surat Ijin Usaha Penjualan Langsung) dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
Perusahaan MLM legal wajib memiliki SIUPL. Namun setiap perusahaan yang memiliki
SIUPL belum tentu tergabung dalam APLI.
APLI adalah Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia dan diakui oleh WFSDA (World
Federation of Direct Selling Association). APLI melakukan monitor terhadap anggotanya

17
agar tetap pada sistem yang legal. Jadi setelah SIUPL terbit, biasanya perusahaan MLM juga
akan mendaftar menjadi anggota APLI.
Perusahaan MLM yang memiliki SIUPL dan terdaftar di APLI memudahkan masyarakat
untuk mengetahui dengan cepat bahwa perusahaan MLM tersebut adalah legal.
Untuk perusahaan MLM dengan produk makanan kesehatan dan produk kecantikan juga
wajib memiliki surat ijin BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Lalu bagaimana dengan praktek skema piramida dan money game? Perusahaan dengan
skema tersebut tidak memiliki SIUPL apalagi terdaftar di APLI.
Selain syarat legal dengan surat resmi, ada baiknya kita juga mengenali perbedaan skema
antara bisnis MLM legal dan bisnis yang berkedok MLM (skema piramida dan money
game).

Ciri MLM Legal


1. Produknya memiliki harga yang wajar, kualitas sesuai dengan harga produk.
Produk ini dijual melalui para distributor (member). Produk juga bergaransi serta telah
melalui uji penelitian dan pengembangan.
2. Biaya pendaftaran tidak terlalu mahal dan besarnya sesuai dengan fasilitas yang didapat.
Fasilitas yang didapat misalnya starter kit yang biasanya berisi kartu member, katalog, flyer
dan sebagainya. Ada juga yang mendapat tambahan fasilitas online seperti web replika,
autoresponder serta akses untuk menjalankan bisnis tersebut. Untuk pendaftaran, setiap
member hanya diijinkan memiliki 1 nomor keanggotaan.
3. Marketing plan jelas, transparan, dan mudah dipelajari.
Setiap member memiliki peluang yang sama untuk berpenghasilan. Penghasilan berupa
komisi, bonus ataupun reward lainnya diperoleh member berdasar persentase dari hasil
penjualan baik secara pribadi maupun grup (jaringan).
Berlaku konsep semakin giat member dalam bekerja maka akan semakin besar penghasilan
yang diperoleh. Jadi pencapaian seorang member bisa melebihi upline-nya jika memang dia
lebih giat bekerja.
4. Pola bisnisnya adalah mengembangkan jaringan yaitu merekrut dan melakukan training.
Training bertujuan agar member baru bisa mengembangkan penjualan produk serta jaringan
untuk memperluas distribusi produk. Semakin luas jaringan akan semakin luas area penjualan
produk. Kemungkinan volume penjualan yang lebih besar juga bisa tercapai dengan
terbangunnya jaringan yang aktif.

Ilustrasi MLM Legal


Ilustrasi 1:

Asri tertarik dengan produk perusahaan MLM PT. Melia Sehat Sejahtera dan
membelinya. Asri-pun gabung sebagai member di perusahaan tersebut. Sebagai
member, Asri mendapat diskon harga produk.

18
Selain memakai sendiri produknya, Asri juga menjual produk dan mendapat beberapa
konsumen. Dari beberapa konsumen ada 5 orang yang tertarik untuk gabung di bisnis
MLM PT. Melia Sehat Sejahtera. Asri mendaftarkan 5 orang ini sebagai member
dan mengajari cara berjualan.

Jika ke-5 orang ini berhasil menjual produk, perusahaan akan membayar komisi pada
Asri atas keberhasilannya mentraining 5 orang tersebut. Komisi yang didapat adalah
persentase tertentu dari jumlah produk yang terjual.

Tidak hanya mentraining cara berjualan, Asri juga mengajari cara merekrut dan
mentraining member.

Ilustrasi 2:
Asri mendaftarkan Bejo sebagai member. Bejo kemudian membeli produk dan memakai
sendiri untuk mendapatkan manfaat produk tersebut. Meskipun ada kemungkinan setelah
memakai produk Bejo tidak menyukai produknya, namun ini tidak disebut skema piramida.

Ciri Skema Piramida


Skema piramida fokus pada aktivitas merekrut dengan menjanjikan uang dalam jumlah besar
yang bisa didapatkan dengan mudah. Anggota dalam skema piramida fokus pada
mendaftarkan anggota baru, bukan mendapatkan konsumen (menjual produk).
Dalam skema ini penghasilan didapat dengan cara merekrut. Ketika seseorang direkrut dan
membayar sejumlah uang pendaftaran, uang inilah yang digunakan untuk membayar orang
yang merekrut dan lapisan di atasnya. Tentu saja ini hanya menguntungkan orang yang
duluan bergabung. Semakin banyak merekrut, semakin besar penghasilannya. Biasanya tidak
ada produk dalam skema ini. Kalaupun ada, produk tersebut hanya untuk menyamarkan
kegiatan operasionalnya.
Ilustrasi Skema Piramida
Orang yang direkrut akan diminta untuk membayar biaya pendaftaran yang mahal. Mahalnya
biaya pendaftaran ini digunakan sebagai alasan untuk pembelian produk. Produk dalam
skema piramida biasanya adalah produk yang tidak bermanfaat, tidak baik kualitasnya dan
tidak bernilai di pasaran sehingga sulit dijual. Biaya pendaftaran yang mahal digunakan untuk
membayar komisi orang yang merekrut dan orang yang posisinya di atas perekrut.
Misalnya, Anda harus membayar Rp 6.000.000 untuk menjadi anggota skema piramida. Di
skema piramida tidak ada pengaruh penjualan produk dalam perhitungan penghasilan. Anda
juga tidak mendapat training mengenai penjualan produk karena aktivitas yang dilakukan
fokus pada merekrut. Dari Rp 6.000.000 ini Rp 3.000.000 digunakan untuk membayar
perekrut dan Rp 3.000.000 sisanya untuk membayar orang yang posisinya di atas perekrut.
Jika Anda ingin dapat penghasilan maka Anda harus merekrut. Tidak bisa dengan berjualan
produk karena tidak ada pengaruh volume penjualan produk dalam penghasilan yang
diperoleh. Padahal untuk merekrut anggota baru peluangnya sangat kecil sehingga resiko
kehilangan uang lebih besar. Jadi tanpa merekrut Anda sudah kehilangan Rp 6.000.000 dan
tidak akan mendapat penghasilan.

19
Secara ringkas, ciri-ciri skema piramida adalah sebagai berikut :
1. Komisi atau bonus bukan berdasarkan volume penjualan produk melainkan atas
terbentuknya suatu jaringan berbentuk piramida dengan format jumlah anggota
tertentu. Pendekatan lebih kepada rekrutmen anggota baru daripada menjual produk. Titik
berat cara kerjanya adalah dengan merekrut untuk mendapat penghasilan cepat. Tidak ada
pengaruh penjualan produk dalam penghasilan yang diperoleh.
2. Harga produk mahal dan tidak sebanding dengan kualitasnya.
Produk biasanya adalah produk yang tidak bermanfaat, kurang berkualitas serta tidak bernilai
di pasaran. Akibatnya tidak ada kebutuhan pasar atas produk tersebut dan produk menjadi
sulit dijual. Tentu saja ini merugikan anggota.
3. Biaya pendaftaran sangat mahal, digunakan untuk membayar komisi anggota lama, yaitu
orang yang merekrut dan orang yang posisinya di atas perekrut.
4. Satu orang diijinkan membeli lebih dari 1 keanggotaan dengan nama yang sama (disebut
kavling).
5. Anggota yang bergabung lebih dulu akan memperoleh penghasilan yang lebih besar karena
penghasilannya didapat dari merekrut anggota baru. Oleh karena itu upline (yang bergabung
lebih dulu) penghasilannya akan selalu lebih besar daripada downline (yang gabung
belakangan). Jadi, tidak ada konsep perhitungan penghasilan yang adil sebagaimana bisnis
MLM yang murni (legal).
6. Tidak ada program pembinaan dan training (pelatihan) untuk penjualan produk karena
fokusnya hanya pada merekrut.

Ciri Money Game


Money game menggunakan skema Ponzi. Skema ini pertama kali dipraktekkan oleh Charles
Ponzi pada tahun 1920 di Boston, USA. Dalam skema ini seseorang akan mendapatkan
imbalan bunga yang besarnya tidak wajar dalam waktu tertentu dengan menginvestasikan
sejumlah uang. Imbalan bunga ini besarnya sangat fantastis. Ada yang 10% per bulan bahkan
ada juga memberikan imbalan sampai 5% per hari.
Ilustrasi Skema Ponzi
Misalnya, A adalah pelaku money game. A menerima uang dari investor pertama dan
menjanjikan padanya bunga tinggi atas uang tersebut. Saat A mendapatkan investor kedua, A
akan memenuhi janjinya memberikan bunga tinggi pada investor pertama dengan mengambil
sebagian dari uang yang diterima dari investor kedua. Ketika investor ketiga datang, A akan
mengambil sebagian uang investor ketiga untuk memenuhi janjinya pada investor kedua.
Jika kemudian pendaftar semakin berkurang atau tidak ada pendaftar sama sekali maka
aliran dana mulai macet. Akibatnya akan ada banyak anggota yang tidak terbayar imbalan
bunganya seperti yang dijanjikan. Bukan hanya tidak mendapat keuntungan, mereka juga
kehilangan uang yang telah diinvestasikan.

20
Jadi, investor yang ada di bawah tidak bisa menutup kerugian mereka. Dalam money game, A
akan mendapat semua uang investor.

BAB IV

RANGKUMAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN


2014 TENTANG PERDAGANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan dan dilaksanakan untuk
memajukan kesejahteraan umum melalui pelaksanaan demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
b. bahwa pelaksanaan demokrasi ekonomi yang dilakukan melalui kegiatan Perdagangan
merupakan penggerak utama dalam pembangunan perekonomian nasional yang dapat
memberikan daya dukung dalam meningkatkan produksi dan memeratakan
pendapatan serta memperkuat daya saing Produk Dalam Negeri.
c. bahwa peranan Perdagangan sangat penting dalam meningkatkan pembangunan
ekonomi, tetapi dalam perkembangannya belum memenuhi kebutuhan untuk
menghadapi tantangan pembangunan nasionalsehingga diperlukan keberpihakan
politik ekonomi yang lebih memberikan kesempatan,dukungan, dan pengembangan
ekonomi rakyat yang mencakup koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah
sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional.
d. bahwa peraturan perundang-undangan di bidang Perdagangan mengharuskan adanya
harmonisasi ketentuan di bidang Perdagangan dalam kerangka kesatuan ekonomi
nasional guna menyikapi perkembangan situasi Perdagangan era globalisasi pada
masa kini dan masa depan.
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Perdagangan.

Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi.

Dengan Persetujuan Bersama:


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
www.hukumonline.com
MEMUTUSKAN:

21
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PERDAGANGAN

Bagian Kedua
Distribusi Barang
Pasal 7
(1) Distribusi Barang yang diperdagangkan di dalam negeri secara tidak langsung atau
langsung kepada konsumen dapat dilakukan melalui Pelaku Usaha Distribusi.

(2) Distribusi Barang secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan menggunakan rantai Distribusi yang bersifat umum:
a. distributor dan jaringannya;
b. agen dan jaringannya; atau
c. waralaba.

(3) Distribusi Barang secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
menggunakan pendistribusian khusus melalui sistem penjualan langsung secara:
a. single level; atau
b. multilevel.

Pasal 8
Barang dengan hak Distribusi eksklusif yang diperdagangkan dengan sistem penjualan
langsung hanya dapat dipasarkan oleh penjual resmi yang terdaftar sebagai anggota
perusahaan penjualan langsung.
Pasal 9
Pelaku Usaha Distribusi dilarang menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan
Barang.
Pasal 10
Pelaku Usaha Distribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 melakukan Distribusi Barang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta etika ekonomi dan bisnis dalam
rangka tertib usaha.
Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai Distribusi Barang diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketujuh
Perizinan
Pasal 24
(1) Pelaku Usaha yang melakukan kegiatan usaha Perdagangan wajib memiliki perizinan di
bidang Perdagangan yang diberikan oleh Menteri.
(2) Menteri dapat melimpahkan atau mendelegasikan pemberian perizinan kepada
Pemerintah Daerah atau instansi teknis tertentu.
(3) Menteri dapat memberikan pengecualian terhadap kewajiban memiliki perizinan di
bidang Perdagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

22
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan di bidang Perdagangan sebagaimana pada ayat
(1) dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri.

PENGAWASAN
Pasal 98
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah mempunyai wewenang melakukan pengawasan
terhadap kegiatan Perdagangan.
www.hukumonline.com
(2) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah
menetapkan kebijakan pengawasan di bidang Perdagangan.

Pasal 99
(1) Pengawasan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 dilakukan oleh
Menteri.

(2) Menteri dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai
wewenang melakukan:
a. pelarangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk menarik Barang
dari
Distribusi atau menghentikan kegiatan Jasa yang diperdagangkan tidak sesuai dengan
ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang Perdagangan; dan/atau
b. pencabutan perizinan di bidang Perdagangan.

Pasal 100
(1) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (1),
Menteri menunjuk petugas pengawas di bidang Perdagangan.

(2) Petugas pengawas di bidang Perdagangan dalam melaksanakan pengawasan harus


membawa surat tugas yang sah dan resmi.

(3) Petugas Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melaksanakan
kewenangannya paling sedikit melakukan pengawasan terhadap:
a. perizinan di bidang Perdagangan;
b. Perdagangan Barang yang diawasi, dilarang, dan/atau diatur;
c. Distribusi Barang dan/atau Jasa;
d. pendaftaran Barang Produk Dalam Negeri dan asal Impor yang terkait dengan keamanan,
keselamatan, kesehatan, dan lingkungan hidup;
e. pemberlakuan SNI, persyaratan teknis, atau kualifikasi secara wajib;
f. pendaftaran Gudang; dan
g. penyimpanan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting.

(4) Petugas Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam hal menemukan dugaan
pelanggaran kegiatan di bidang Perdagangan dapat:

23
a. merekomendasikan penarikan Barang dari Distribusi dan/atau pemusnahan Barang;
b. merekomendasikan penghentian kegiatan usaha Perdagangan; atau
c. merekomendasikan pencabutan perizinan di bidang Perdagangan.

(5) Dalam hal melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditemukan
bukti awal dugaan terjadi tindak pidana di bidang Perdagangan, petugas pengawas
melaporkannya kepada penyidik untuk ditindaklanjuti.

(6) Petugas Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam melaksanakan
kewenangannya dapat berkoordinasi dengan instansi terkait.
KETENTUAN PIDANA

Pasal 105
Pelaku Usaha Distribusi yang menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan
Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).
Pasal 106
Pelaku Usaha yang melakukan kegiatan usaha Perdagangan tidak memiliki perizinan di
bidang Perdagangan yang diberikan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Disahkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 11 Maret 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 11 Maret 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 45

Berdasarkan UU no.7 tahun 2014 Pasal 100 ayat (3) Petugas pengawas memiliki
kewenangan melakukan pengawasan terhadap perizinan dibidang perdagangan, dan
berdasarkan UU no.7 tahun 2014 Pasal 100 ayat (6) , Petugas pengawas dapat berkoordinasi
dengan instansi terkait untuk mengawasi dan menyidik. Instansi yang berkaitan tersebut
seperti BKPM ( Badan Koordinasi Penanaman Modal) agar Menteri Perdagangan
Republik Indonesia dapat mengeluarkan izin usahanya berupa SIUPL ( Surat Izin Usaha
Penjualan Langsung ), seperti tercantum pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik
Indonesia Nomor : 13/M-DAG/PER/3/2006. Dan instansi terkait lainnya seperti
BAPPEBTI ( Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi ) yang merupakan unit
Eselon I pada Kementrian Perdagangan Indonesia yang berfungsi untuk melakukan
pembinaan, pengaturan, dan pengawasan kegiatan perdagangan berjangka serta pasar fisik
dan jasa. Perihal perizinan tersebut sangat kental dituliskan berdasarkan UU no.7 tahun 2014

24
Pasal 24 mengenai hal Perizinan. Sanksi pidana seperti yang tercantum pada UU no.7 tahun
2014 Pasal 105 mengenai pelaku usaha distribusi yang menerapkan Skema Piramida dan UU
no.7 tahun 2014 Pasal 106 mengenai pelaku Usaha yang tidak memiliki perizinan dibidang
Perdagangan.

25
26
27
BAB V

Cara follow up
Yes, cara follow up yang tepat merupakan salah satu faktor
keberhasilan dalam bisnis. Tetapi tidak banyak MEMBER melakukannya
dengan benar. Apa yang seharusnya dilakukan dalam proses follow up
prospek?
Awal mula mengapa kita melakukan tindakan follow up adalah karena
pada saat pertama kali menawarkan peluang bisnis tidak langsung
diterima oleh prospek, atau prospek masih belum terlalu yakin dengan
penawaran Anda. Ada beberapa sebab mengapa prospek tidak langsung
join pada perusahaan MLM Anda atau mereka masih menunda untuk join.
Bahkan tidak sedikit prospek yang setelah Anda memberikan penawaran
peluang bisnis atau produk mereka malah semakin menghindar dan
menghilang

Untuk menghindari hal-hal yang tidak Anda inginkan dan keinginan Anda
agar prospek segera bergabung pada bisnis atau membeli produk Anda,
yang perlu Anda lakukan adalah tinggalkan sejenak keinginan Anda dan
beralih fokus kepada prospek. Fokus terhadap prospek berarti Anda

28
memihak pada apa yang diinginkan oleh prospek, ini akan sangat
memudahkan Anda untuk proses closing selanjutnya secara soft perlahan
tetapi pasti.
Daripada fokus kepada penjualan Anda, lebih baik fokus kepada
permasalahan dan memberikan solusi untuk prospek Anda

Apa saja yang seharusnya Anda persiapkan dan lakukan dalam cara follow
up kepada prospek? Berikut ini beberapa Cara Follow Up Prospek :
1. Mempersiapkan beberapa pertanyaan yang memungkinkan untuk
Anda mengatur pembicaraan kepada prospek Anda yang trauma
dengan MLM. Sebagai contoh script jika prospek bisnis Anda adalah
memang benar-benar target market yang telah Anda fokuskan ->
Script Follow Up Prospek
Bagaimana pengalaman bapak/ Ibu di bisnis mlm sebelumnya?

Apa yang menjadi motivasi Bapak/ Ibu jika seandainya diberikan


kesempatan untuk mulai berbisnis kembali di MLM?

Berapa penghasilan yang ingin Bapak/ Ibu dapatkan jika nantinya


menjalankan bisnis MLM ini

Sebenarnya apa kesulitan Bapak/ Ibu dalam menjalankan bisnis


MLM?

2. Lakukan pendekatan kepada prospek, setelah prospek menerima


penawaran bisnis Anda, fokus untuk mengenal lebih jauh
siapa dan bagaimana keadaan prospek Anda melalui berbagai cara
seperti bertelepon atau chat secara personal, bertemu (jika
memungkinkan).
3. Tidak meninggalkan prospek Anda, lebih baik memperlakukan
prospek secara khusus sampai benar-benar mulai terjadi kedekatan
emosional. Sehingga antara Anda dan prospek merasa nyaman dalam
berkomunikasi.
4. Memperhatikan percakapan yang terjadi antara Anda dan
prospek, catat poin-poin penting yang menjadi kesulitan prospek.
5. Lebih banyak menerima informasi dari prospekan ketimbang
berbicara lebih banyak tentang diri Anda. Mendengarkan dan
menggali lebih banyak informasi untuk mendapatkan hot
button(keinginan prospek yang benar-benar kuat) sehingga saat Anda
mulai follow up berikutnya fokus kepada hot button prospek bisnis
Anda. Dapatkan Dream-nya, kebutuhannya seperti apa, dan juga
problem terbesarnya seperti apa.

29
6. Pastikan Anda menguasai pengetahuan tentang bisnis yang Anda
jalankan, karena pada saat follow up prospek biasanya akan banyak
pertanyaan yang dilayangkan prospek kepada Anda.
7. Selain pengetahuan tentang bisnis Anda, tentu juga Anda
harus memiliki knowledge product dan sistem bisnis MSS.
8. Langkah yang paling terakhir ini adalah yang terpenting harus Anda
miliki yaitu meningkatkan selling point Anda. Artinya Anda harus
memandang diri Anda dari sisi prospek, mengapa prospek harus
bergabung bersama Anda, mengapa harus bergabung ke dalam bisnis
MLM Anda, mengapa harus percaya kepada Anda, mengapa harus join
segera ke dalam bisnis Anda.

30