Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
DEPARTEMEN Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat
401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. Data
bersumber dari survei terakhir pemerintah, yaitu dari Survei Demografi Kesehatan
Indonesia 2007 (SDKI). Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes
2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar
pada tingginya angka kematian bayi (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000
kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pascakelahirannya.
Beberapa data juga menyebutkan bahwa remaja negeri tidak terlepas dari pergaulan yang
membuat generasi semakin terpuruk.
Berbagai penyakit menular seksual,maraknya pemakaian Narkoba merupakan
pemicu utama yang harus benar-benar menjadi perhatian pemerintah.Dalam hal ini tenaga
kesehatan titik utama sebagai pemberi informasi yang merupakan perantara dari
pemerintah,juga diperlukan upaya dari semua pihak baik pemerintah, tenaga kesehatan
terutama Bidan dalam berbagai aspek asuhan, serta promosi kesehatan guna
pemberdayaan masyarakat yang peduli akan kesehatan individu dan keluarga. Untuk lebih
jelasnya akan kami bahas pada Bab II Pembahasan.

B. Rumusan masalah
a) Apa pengertian Promosi Kesehatan ?
b) Bagaimanan Promosi Kesehatan pada bayi ?
c) Bagaimana Promosi kesehatan pada anak ?
d) Bagaimana Promosi Kesehatan pada remaja ?

C. TUJUAN
a) Mengetahui pengertian Promosi Kesehatan
b) Mengetahui Promosi Kesehatan pada bayi
c) Mengetahui promosi kesehatan pada anak
d) Mengetahui promosi kesehatan pada remaja

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan menurut WHO adalah suatu proses yang memungkinkan individu
untuk meningkatkan kontrol dan mengembangkan kesehatan mereka.
Promosi kesehatan (Pender, 1996) adalah pemberian motivasi untuk meningkatkan
kesehatan individu dan mewujudkan potensi kesehatan individu.
Sedangkan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I yang diadakan di Ottawa,
Kanada, menghasilkan sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Ottawa. Dalam
piagam ini tertera strategi dalam meningkatkan kontrol masyarakat terhadap kesehatan
diri mereka sendiri. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat
menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal.
Promosi kesehatan menggunakan pendekatan pada klien sebagai pusat dalam
pemberian pelayanan dan membantu mereka untuk membuat pilihan dan keputusan.
Istilah promosi kesehatan merupakan suatu payung dan digunakan untuk
menggambarkan suatu rentang aktivitas yang mencakup pendidikan kesehatan dan
pencegahan penyakit (Gillies). Ada tiga tingkatan dari pendidikan kesehatan menurut
Gillies:
1. Primary Health education, tujuannya tidak hanya mencegah perubahan kesehatan
tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan, dengan demikian kualitas hidup, nutrisi,
kontrasepsi dan hubungan seksual secara aman, dan pencegahan kecelakaan dengan
menggunakan helm.
2. Secondary health education, tujuannya adalah untuk membantu individu dengan
masalah kesehatan yang reversible untuk menyesuaikan dengan gaya hidupnya,
contohnya berhenti merokok,merubah kebiasaan makan dan olahraga.
3. Tertiary health education, tujuannya untuk membantu individu yang sakit dan tidak
sembuh total sehingga mereka dapat melewati hidup dengan sesuai kemampuan yang
dimiliki.
Promosi kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan), preventif
(pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya
kesehatan yang komprehensif.

B. Promosi Kesehatan Bidan Pada bayi

Bayi yaitu yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti.
Pada masa ini manusia sangat lucu dan menggemaskan tetapi juga rentan terhadap
kematian. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003,
angka kematian bayi (AKB), khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih
berada pada kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup . Menyadari kondisi tersebut,
Departemen Kesehatan pada tahun 2000 telah menyusun Rencana Strategis (Renstra)
jangka panjang upaya penurunan angka kematian bayi baru lahir. Dalam Renstra ini
difokuskan pada kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk
menjamin pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah
yang dikenal dengan sebutan Making Pregnancy Safer (MPS) melalui tiga pesan kunci.
Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi pada pembukaan Seminar Pendekatan
dan Praktik Terbaik Kesehatan Maternal dan Neonatal di Jakarta tanggal 10 Mei 2004.

Beberapa promosi yang dilakukan dalam menangani bayi baru lahir :

1. Dalam Pemberian ASI

Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang


pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI
dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi.Peranan awal
bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :

1) Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari


payudara ibunya.
2) Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya
sendiri.
Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan :

a. Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam
pertama.

Bayi mulai meyusu sendiri segera setelah lahir sering disebut dengan
inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini. Hal ini
merupakan peristiwa penting, dimana bayi dapat melakukan kontak kulit
langsung dengan ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan. Selain
itu, dapat membangkitkan hubungan/ ikatan antara ibu dan bayi. Pemberian
ASI seawal mungkin lebih baik, jika memungkinkan paling sedikit 30 menit
setelah lahir.

b. Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah
masalah umum yang timbul.
Tujuan dari perawatan payudara untuk melancarkan sirkulasi darah dan
mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga pengeluaran ASI lancar.
Perawatan payudara dilakukan sedini mungkin, bahkan tidak menutup
kemungkinan perawatan payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan.
Sebelum menyentuh puting susu, pastikan tangan ibu selalu bersih dan cuci
tangan sebelum menyusui. Kebersihan payudara paling tidak dilakukan
minimal satu kali dalam sehari, dan tidak diperkenankan mengoleskan krim,
minyak, alkohol ataupun sabun pada puting susunya

c. Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.

Membantu ibu segera untuk menyusui bayinya setelah lahir sangatlah


penting. Semakin sering bayi menghisap puting susu ibu, maka pengeluaran
ASI juga semakin lancar. Hal ini disebabkan, isapan bayi akan memberikan
rangsangan pada hipofisis untuk segera mengeluarkan hormon oksitosin yang
bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI. Pemberian ASI tidak
terlepas dengan teknik atau posisi ibu dalam menyusui. Posisi menyusui
dapat dilakukan dengan :

1. Posisi berbaring miring


Posisi ini baik dilakukan pada saat pertama kali atau ibu dalam keadaan
lelah atau nyeri.

2. Posisi duduk
Pada saat pemberian ASI dengan posisi duduk dimaksudkan untuk
memberikan topangan pada/ sandaran pada punggung ibu dalam posisi
tegak lurus (90 derajat) terhadap pangkuannya. Posisi ini dapat
dilakukan dengan bersila di atas tempat tidur atau lantai, ataupun duduk
di kursi.
3. Posisi ibu tidur telentang

Seperti halnya pada saat dilakukan inisiasi menyusu dini, maka posisi
ini juga dapat dilakukan oleh ibu. Posisi bayi berada di atas dada ibu
diantara payudara ibu.Tanda-tanda bayi bahwa telah berada pada posisi
yang baik pada payudara antara lain:

a) Seluruh tubuhnya berdekatan dan terarah pada ibu.

b) Mulut dan dagu bayi berdekatan dengan payudara.

c) Areola tidak akan tampak jelas;


d) Bayi akan melakukan hisapan lamban dan dalam, dan menelan
ASInya;

e) Bayi terlihat senang dan tenang;

f) Ibu tidak akan merasa nyeri pada daerah payudaranya.

d. Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).

Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan dimana ibu
dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan
bersama dalam ruangan selama 24 jam penuh. Manfaat rawat gabung
dalam proses laktasi dapat dilihat dari aspek fisik, fisiologis, psikologis,
edukatif, ekonomi maupun medis

1. .Aspek fisik

Kedekatan ibu dengan bayinya dapat mempermudah bayi menyusu


setiap saat, tanpa terjadwal (nir-jadwal). Dengan demikian, semakin sering
bayi menyusu maka ASI segera keluar.

2. Aspek fisiologis

Bila ibu selalu dekat dengan bayinya, maka bayi lebih sering
disusui. Sehingga bayi mendapat nutrisi alami dan kecukupan ASI.
Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses menyusui akan membantu
involusio uteri dan produksi ASI akan dipacu oleh refleks prolaktin. Selain
itu, berbagai penelitian menyatakan bahwa dengan ASI eksklusif dapat
menjarangkan kehamilan atau dapat digunakan sebagai KB alami.

3. Aspek psikologis

Rawat gabung dapat menjalin hubungan batin antara ibu dan bayi
atau proses lekat (early infant mother bounding). Hal ini disebabkan oleh
adanya sentuhan badaniah ibu dan bayi. Kehangatan tubuh ibu
memberikan stimulasi mental yang diperlukan bayi, sehingga
mempengaruhi kelanjutan perkembangan psikologis bayi. Ibu yang dapat
memberikan ASI secara eksklusif, merupakan kepuasan tersendiri.

4. Aspek edukatif
Rawat gabung memberikan pengalaman bagi ibu dalam hal cara
merawat bayi dan merawat dirinya sendiri pasca melahirkan. Pada saat
inilah, dorongan suami dan keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu.

5. Aspek ekonomi

Rawat gabung tidak hanya memberikan manfaat pada ibu maupun


keluarga, tetapi juga untuk rumah sakit maupun pemerintah. Hal ini
merupakan suatu penghematan dalam pembelian susu buatan dan
peralatan lain yang dibutuhkan.

6. Aspek medis

Pelaksanaan rawat gabung dapat mencegah terjadinya infeksi


nosokomial. Selain itu, ibu dapat melihat perubahan fisik atau perilaku
bayinya yang menyimpang dengan cepat. Sehingga dapat segera
menanyakan kepada petugas kesehatan sekiranya ada hal-hal yang
dianggap tidak wajar.

e. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.

Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal,


bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat
menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan
satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong
dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik,
karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi
berikutnya

f. Memberikan kolustrum dan ASI saja.

ASI dan kolustrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi.


Kandungan dan komposisi ASI sangat sesuai dengan kebutuhan bayi pada
keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan prematur sesuai
dengan kebutuhan prematur dan juga sebaliknya ASI dari ibu yang
melahirkan bayi cukup bulan maka sesuai dengan kebutuhan bayi cukup
bulan juga.

g. Menghindari susu botol dan dot empeng.


Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat bayi
bingung puting dan menolak menyusu atau hisapan bayi kurang baik. Hal
ini disebabkan, mekanisme menghisap dari puting susu ibu dengan botol
jauh berbeda.

2. Mempromosikan vaksinasi

Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah
terhadap penyakit tetentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukkan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan ataupun
peroral . Tujuan Imunisasi adalah agar tumbuh kembang terhadap penyakit tertentu,
kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

1) Terdapat tingginya kadar antibody pada saat dilakukan imunisasi


2) Potensi anti gen yang disuntikan.
3) Waktu antara pemberian imunisasi

Contoh imunisasi melalui suntikan seperti :

a, Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah penyakit TBC yang berat,


imunisasi ini merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah
dilemahkan. Frekuensi pemberiannya 1 kali pada umur 0-11 bulan namun
pada umumnya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan. Cara
pemberiannya melalui intradermal dengan dosis 0,05 cc. Efek sampingnya
dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi Limfadenitis
regional dan reaksi panas.

b. Imunisasi DPT ( Diphteri,Pertusis, dan tetanus)

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit Dipteri.


Merupakan vaksin yang mengandung racun kuman diphteri yang telah
dihilangkan sifat racunnya, akan tetapi masih dapat merangsang
pembentukkan zat anti ( toksoid). Frekuensi pemberian yaitu 3 kali dengan
maksud pemberian pertama tahap pengenalan terhadap vaksin untuk
mengaktifkan organ tubuh membuat zat aktif, pemberian kedua dan ketiga
dimaksudkan untuk terbentuknya zat aktif yang cukup. Waktu pemberian
antara umur 2-11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara Pemberian melalui
intramuscular dengan dosis 0,5 cc. Efek samping yang ringan
pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan serta demam. Efek
samping berat menangis hebat kurang lebih 4 jam, kesadaran menurun,
kejang, ensephalopati, dan shock.

c.Imunisasi campak

Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak


pada anak karena penyakit ini sangat menular. vaksin ini mengandung virus
yang dilemahkan. Frekuensi pemberian 1x. waktu pemberian pada umur 9-
11 bulan. Cara pemberian melalui subcutan dengan dosis 0,5 cc efek
samping terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas.

d. Hepatitis B

Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis.


Vaksin ini mengandung HbsAG dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian 3x.
waktu pemberian umur 0-11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara
pemberian intramuscular dengan dosis 0,5 cc.

e. Imunisasi MMR (measles,Mumps, dan rubella)

Imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit campak (measles)


gondong, parotis epidemika (mumps) dan rubella (campak jerman). Antigen
yang dipakai adalah virus campak strain Edmonson yang dilemahkan, virus
rubella strain RA27/3 dan virus gondong tidak dianjurkan pada bayi
dibawah umur 1 tahun karena dikhawatirkan terjadi interverensi dengan
antibody maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemic sebaiknya
diberikan imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4-6 bulan
atau 9-11 bulan dan boster dapat dil;akukan MMR pada usia 15-18 bulan.

f. Imunisasi tiphus abdominalis

Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit tifus


abdominalis. Di Indonesia terdapat 3 jenis vaksin tifus abdominalis
diantaranya:

1. kuman yang dimatikan, diberikan untuk bayi 6-12 bulan dengan dosis
0,1 ml, 1-2 tahun 0,2 ml, 2-12 tahun diberikan sebanyak 2x dengan
interval 4 minggu.
2. kuman yang dilemahkan (vivotif, berna), dapat diberikan dalam bentuk
kapsul enteric coated sebelum makan pada hari ke-1, 2 dan 5 pada anak
usia 6 tahun

3. antigen kapsular Vi polysaccaharide (Typhim Vi, Pasteur Meriux)


diberikan pada usia 2 tahun dan dapat diulang tiap 2 tahun.

g. Imunisasi varicella

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah penyakit varicella (cacar air)


vaksin ini mengandung virus hidup varicella zoozter strain OKA yang
dilemahkan, pemberiannya tunggal pada usia 12 tahun didaerah tropic dan
bila usia 13 tahun dapat diberikan 2x suntikan interval 4-8 minggu.

h. Imunisasi hepatitis A

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A.


diberikan pada usia 2 tahun untuk pemberian awal menggunakan vaksin
havrix (isinya virus hepatitis A strain M75 yang inactivated aktif) dengan 2
suntikan interval 4 minggu dan boster 6 bulan kemudian.

i. Imunisasi HiB ( Haemophilus Influenzae Tipe B)

Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza


tipe B. mengandung vaksin berbentuk polisakarida murdi (PRP: purified
capsular polysaccharide) kuman H. influenza tipe B antigen dalam vaksiun
tersebut dapat dikonjugasi dengan protein lain seperti toxoid tetanus (PRP-
T), toxoid dipteri (PRP-D atau PRPCR50) atau dengan kuman
monongococus (PRP-OMPC) pemberian awal PRP-T dilakukan 3x
suntikan interval 2 bulan. Suntikan PRP-OMPC dilakukan 2x suntikan
interval 2 bulan kemudian bosternya diberikan pada usia 18 bulan.

j. Imunisasi polio

imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit


poliomyelitis yang dapat menyebabkan kemlumpuhan pada anak
kandungan vaksinnya virus yang dilemahkan frekuensi pemberian 4x
waktunya pada umur 0-11 bulan dengan interval 4 minggu cara pemberian
melalui oral. Di Negara Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan
oleh pemerintah sebagaimana yang telah ditentukan oleh WHO yaitu BCG,
DPT, Campak , polio dan ditambah lagi dengan imunisasi hepatitis B.

3.Perawatan tali pusat

Langkah-langkah perawatan pusat bayi adalah :

1. Bersihkan area pusar dengan bola kapas lembut yang telah dicelupkan air
matang. Lakukan dengan lembut, tidak perlu menggosok atau mendorong
pusar. Kemudian keringkan dengan handuk lembut.
2. Ganti pembalut pusar bayi dengan kain kasa baru. Tidak perlu panik
melihat tetesan darah yang kemudian menghitam, terutama di minggu
pertamanya. Pada saat ini, pusar bayi yang baru lahir biasanya masih
tampak seperti luka.
3. Kenakan popok dengan cara melipat bagian atasnya menjauhi pusar untuk
menghindari rembesan urin mengenai pusar.
Beberapa hal yang perlu diingat saat merawat pusar bayi, antara lain :

1 Jaga kebersihan area pusar dan sekitarnya, serta upayakan selalu


dalam keadaan kering.
2 Gunakan kapas baru pada setiap basuhan.
3 Agar tali pusar lebih cepat lepas, gunakan kain kasa pada bagian pusar
yang terus dibalut sehingga mendapat udara cukup.
4 Saat membersihkan, pastikan suhu kamar tidak terlalu dingin.
5 Agar praktis, kenakan popok dan atasan dari bahan kaos yang longgar.
6 Lakukan acara bersih-bersih ini 1-2 kali sehari.
Jika kulit di area sekitar pusar si kecil memerah dan panas seperti terbakar, segera
kunjungi dokter. Bisa jadi ada infeksi yang disebabkan jamur atau al lain. Kalau
penyebabnya memang benar-benar infeksi, biasanya akan diberi sedikit betadine.

C. Promosi Kesehatan pada Anak Balita


Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode
usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai
dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Anak
usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong, 2000), anak usia
prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan
perkembangannya.
Lingkup promosi kesehatan terhadap anak balita meliputi ASI, gizi /nutrisi, pertumbuhan,
perkembangan, interaksi dan sosialisasi
a. ASI
Untuk pertumbuhan balita dan apras dengan baik zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan
yaitu:
1. Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram BB
2. Calsium (Cl)
3. Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada didaerah tropis, maka hal ini tidak
begitu menjadi masalah
4. Vitamin A dan K yang harus dierikan sejak postnatal
5. Fe (Zat besi) diperlukan, karena di dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut
terbuang.
b. Gizi/Nutrisi
Anak balita dan anak pra sekolah juga merupakan kelompok umur yang rawan
gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling
menderita akibat gizi, dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau
anggapan yang menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain
sebagai berikut :
1 Anak balita atau prasekolah baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi
kemakanan orang dewasa.
2 Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh,
sehingga ibu sudah berkurang.
3 Anak balita sudah mulai main ditanah, dan sudah dapat main diluar rumahnya
sendiri, sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang
memungkinkan untuk terinfeksi dengan bebagai macam penyakit.

c. Pertumbuhan dan perkembangan


1. Aspek Bahasa.
Menginjak tahun keempat sudah menyebutkan warna,menggambar dengan
member komentar tentang gambarannya.
2. Aspek Sosial
Pada tahun ketiga anak sudah mulai berpakaian sendiri,mulai bermain dengan
atuarannya sendiri.Pada tahun keempat anak sudah cenderung mandiri dan keras
kepala atau tidak sabar,agresif secara fisik dan vweerbal,mendapat kebanggan
dalam pencapaian.
3. Aspek Kognitif
Tahun ketiga berada pada fase pereptual,anak cenderung egosentrik dalam
berfikir dan berperilaku,mulai memahami waktu. Tahun keempat anak berada
pada fase inisiatif,memahami waktu lebih baik,menilai sesuatu menurut
dimensinya.
4. Perkembangan fisik
Pertambahan berat badan menurun, terutama diawal balita. Hal ini terjadi karena
anak menggunakan banyak energi untuk bergerak.
5. Psikomotor
Terjadi perubahan yang cukup drastis dari kemampuan psikomotor anak yang
mulai terampil dalam pergerakannya (lokomotion). Mulai melatih kemampuan
motorik kasar misalnya berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit,
menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh
dan mempertahankan rentang atensi.
Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih
seperti menulis, menggambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang
benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang
alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanan
kemulutnya, mengikat tali sepatu.
d. Interaksi
Pada periode usia ini balita mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan
sosial diluar keluarga, pada awal masa balita, bermain bersama berarti bersama-sama
berada pada suatu tempat dengan sebaya, namun tidak bersama-sama dalam satu
permainan interaktif.
e. Sosialisasi
Anak prasekolah senang berteman dan bersosialisasi. Hanya saja, tak semua anak
nyaman dan mudah memulainya. Ada yang butuh dukungan dan stimulasi terlebih
dahulu. Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk memberi dukungan
1. Bimbing di awal
Sebagai awal, tak ada salahnya Anda melibatkan diri saat anak bermain
bersama temannya.
2.Pemanasandulu
anak nyaman berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan baru, misalnya
prasekolah, ia butuh kesempatan mengenal lingkungannya terlebih dahulu.
3. Kenalan dulu
Apabila anak akan masuk kelompok bermain atau TK di tahun ajaran baru,
tak ada salahnya Anda mencari tahu siapa saja calon teman-teman
sekelasnya.
4. Support dan reward
Tentu saja keberhasilan anak menghalau hambatan berinteraksi dengan teman
perlu diberi imbalan berupa penghargaan dan pujian.

D. Promosi Kesehatan Pada Remaja


Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari anak-2 menuju dewasa. Umumnya
antara usia 12-18 tahun. Selain itu merupakan periode kematangan seksual yang
merubah anak secara biologi menjadi dewasa yang memiliki kemampuan
bereproduksi. Dengan kata lain merupakan periode transisi, tumbuh, kembang dan
kesempatan. Perkembangan seksual pada remaja (Fundamental of Nursing , Potter
& Perry. 2005) :
a.Perubahan fisik
1) Ditandai dengan perkembangan payudara, bisa dimulai paling muda umur 8-10
th.
2) Meningkatnya kadar estrogen mempengaruhi genitalia, antara lain: uterus
membesar, vagina memanjang, mulai tumbuhnya rambut pubis dan aksila, dan
lubrikasi vagina baik spontan maupun akibat rangsangan.
3) Menarke sangat bervariasi, dapat terjadi pada usia 8 tahun dan tidak sampai usia
16 tahun. Siklus menstruasi pada awalnya tidak teratur dan ovulasi mungkin tidak
terjadi saat menstruasi pertama.
b. Perubahan psikologis /emosi

1) Periode ini ditandai oleh mulainya tanggung jawab dan asimilasi pengharapan
masyarakat

2) Remaja dihadapkan pada pengambilam sebuah keputusan seksual, dengan


demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat tentang perubahan tubuh,
hubungan dan aktivitas seksual, dan penyakit yang ditularkan melalui aktivitas
seksual.

3) Yang perlu diperhatikan terkadang pengetahuan yang didapatkan tidak


diintegrasikan dengan gaya hidupnya, hal ini menyebabkan mereka percaya kalau
penyakit kelamin maupun kehmilan tidak akan terjadi padanya, sehingga ia
cenderung melakukan aktivitas seks tanpa kehati-hatian.

4) Masa ini juga merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual, banyak
dari mereka yang mengalami setidaknya satu pengalaman homoseksual. Remaja
mungkin takut jika pengalaman itu merupakan gambaran seksualitas total mereka,
walaupun sebenarnya anggapan ini tidak benar karena banyak individu terus
berorientasi heteroseksual secara ketat setelah pengalaman demikian.

5) Remaja yang kemudian mengenali preferensi mereka sebagai homoseksual yang


jelas akan merasa dan kebingungan sehingga membutuhkan banyak dukungan dari
berbagai sumber (Bimbingan Konselor, penasihet spiritual, keluarga, maupun
profesional kesehatan mental).
c. Perkembangan Psikologi dan Kognitif Selama Remaja

Sebelum bakat ini tumbuh ,anak muda mempunyai kesulitan untuk mengaplikasikan
prinsip umum untuk membedakan situasi dan menilai kenyataan dan rencana untuk masa
depan. Ini kontras, pemikiran operasional formal termasuk kapasitas untuk berfikir
abstrak ,misalnya ide dan pemikiran. Tugas perkembangan ini adalah masa transisi dari
pemikiran yang konkrit.

Masalah kesehatan pada remaja :

1. Masalah jerawat 85% dialami remaja dan diketahui merupakan masalah kesehatan
yang serius yang menyertai remaja.

2. Rokok

3. Penggunaan obat dan kekerasan (penggunaan obat-obat medis, perangsang, obat


tidur, dan penenang)

4. Penggunaan psikotropika

5. Nutrisi (kekurangan nutrisi atau kegemukan)

6. Gangguan makan (anoreksia nervosa,bulimia nervosa,fitnes dan latihan fisik)


7. Stress (gejala fisik yang dapat mempengaruhi pada keadaan kronik atau stress
yang extrem. Gejala psikologik misalnya cemas,sedih,gangguan
makan,depresi,insomnia,)

8. Pelaksanaan aktivitas seksual.

E. Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada anak dan remaja perempuan

Anak dan remaja membutuhkan edukasi akurat dan komprehensif tentang


seksualitas untuk praktik perilaku seksual sebagai orang dewasa. Kini, eksploitasi atau
risiko aktivitas seksual mungkin menjadi masalah kesehatan dan social seperti kehamilan
yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual meliputi HIV/AIDS.

Strategi untuk promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada anak dan remaja
perempuan.
1. Letakkan pendidikan seksual dalam tatanan kehidupannya
2.Menganjurkan untuk menawarkan pendidikan seksualitas dan topik tentang seks yang
berhubungan issue saat ini.
3.Menyediakan pendidikan seksualitas dengan mempercayai dan mengakui pasien
sebagai individu dan isu serta nilai dalam keluarga..
4.Khusus menyediakan,kepercayaan,budaya sensitif dan konseling yang tidak ternilai
tentang isu penting seksualitas (konseling umum,pencegahan kehamilan tidak
diinginkan,strategi pencegahan penyakit menular HIV/AIDS)
5.Menyediakan konseling yang tepat atau pencerahan-pencerahan pada anak dan remaja
dengan isu khusus dan jadi perhatian (Gay, lesbian, biseksual anak muda)
6. Pelayanan ginekolgi rutin disediakan untuk remaja putri yang menjalani perilaku
seksual. Skrining untuk kanker serviks dan PMS akan diberikan pada perempuan yang
menjalani seksual aktif.
7.Menjadikan pengetahuan tentang pentingnya pendidikan seksual disekolah,institusi
keagamaan,dan komunitas lainnya.
8.Bekerja sama dengan perencana masyrakat (LSM) untuk meningkatkan strategi yang
menyeluruh untuk menurunkan kejadian perilaku seksual yang tidak aman dan hasil yang
merugikan.

F. Kondisi Kesehatan Yang Ditampilkan Remaja


Remaja putri yang peduli sistem perawatan kesehatan biasanya melakukan skrining (pap
smear dimulai pada usia 18 atau ketika sudah mulai melakukan aktivitas seksual).
Masalah ginekology sering disamakan dengan mens (perdarahan yang tidak teratur atau
dimenore), vaginitis atau leukorea, PMS, kontrasepsi dan kehamilan).
Kehamilan pada remaja : kehamilan pada remaja usia 16 tahun atau remaja sering
diperkenalkan stress tambahan pada periode yang penuh dengan stress. Level pencegahan
penyakit pada anak dan remaja perempuan:

1.Primary prevention: immunisasi lanjutan (Vaksin HPV) atau pendidikan


kesehatan/konseling tentang nutrisi, rokok, sexual education, alcohol, managemen
stress.
2.Secondary prevention: Screening test ; pemeriksaan payudara sendiri sejak anak mulai
mendapatkan mestruasi, pap smear bagi remaja yang telah melakukan hubungan
seksual aktif, tes kolesterol, pemeriksaan Hb
3.Tertiary prevention: pendidikan pada pasien untuk menurunkan kondisi sakit dan
megoptimalkan kemampuan yang dimiliki, misalnya mengoptimalkan kemampuan
anak yang menderita kanker.

Masalah masalah yang lazim terjadi pada masa remaja

1. NARKOTIKA

Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh
tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh
manusia. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan
semangat , halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek
ketergantungan bagi pemakainya

2. ABORSI
Aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan sebelum kandungan
mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup diluar secara mandiri (
Munajat, N.,2000). Aborsi adalah terminasi (penghentian) kehamilan yang
disengaja ( abortus provokatus ), yakni kehamilan yang diprovokasi dengan
berbagai macam cara sehingga terjadi pengguguran. Pada dasarnya seorang
wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal sebagai berikut :

a. Kehilangan harga diri (82%)


b. Berteriak-teriak histeris (51 %)
c. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
d. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
e. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
f. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

3. HIV/AIDS

HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat dalam cairan tubuh
seseorang seperti darah, cairan sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh
berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah
menurun.HIV dapat menular ke orang lain melalui :

1. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa


kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.

2. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian(seperti


pecandu Narkoba)

3. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV

4. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat
melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)

Tanda-tanda klinis penderita AIDS :

1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan

2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan

3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan

4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis

5. Dimensia/HIV ensefalopati

Cara mencegah AIDS :

1. Tidak berganti-ganti pasangan seksual


2. Pencegahan kontak darah, misalnya pencegahan terhadap penggunaan jarum
suntik yang diulang

3. Dengan formula A-B-C

ABSTINENSIA artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah

1. BE FAITHFUL artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks


dengan pasangannya saja

2. CONDOM artinya pencegahan dengan menggunakan alat.

ORANG TUA

1. Harus dapat memberikan pendidikan agama dan moral yang baik bagi
anak-anaknya.

2. Harus mampu memberikan informasi yang cukup tentang kesehatan


reproduksi remaja

3. Dapat memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk mengeluarkan


pendapat dan bukan hanya menuntut anak-anaknya untuk menuruti
keinginan mereka

PENDIDIKAN KESEHATAN BAGI ANAK DAN REMAJA PEREMPUAN :

1. Pada usia sekolah dini, anak harus diberikan informasi untuk berhati-hati
terhadap potensi adanya penganiayaan seksual. Beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak antara lain:

2. Ajarkan kepada anak mengenai perbedaan antara sentuhan yang baik


dengan sentuhanyang buruk dari orang dewasa.

3. Beritahu anak mengenai bagian tubuh tertentu yang tak boleh disentuh oleh
orang dewasa kecuali saat mandi atau pemeriksaan fisik oleh dokter.
4. Ajarkan kepada anak untuk mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman
dengan perlakuan orang dewasa dan menceritakan kejadian itu kepada
orang dewasa yang meraka percaya.

5. Ajarkan bahwa orang dewasa tidak selalu benar, dan semua orang
mempunyai kontrol terhadap tubuh mereka, sehingga ia dapat memutuskan
siapa yang boleh atau tidak boleh untuk memeluknya.

6. Jika terjadi pelecehan seksual pada anak, beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
- Ciptakan kondisi sehingga anak merasa leluasa dalam menceritakan
tentang bagian tubuhnya dan menggambarkan kejadian dengan akurat.

7. Yakinkan anak bahwa orang dewasa yang melakukannya adalah salah,


sedangkan anaknya sendiri adalah benar.
- Orang tua harus bisa mengkontrol ekspresi emosional didepan anak (Perry
& potter, 2005)

Pada usia remaja, informasi faktual tentang seksual dan aktivitas


seksual sangat penting tetapi lebih penting dengan bimbingan tentang
penilaian diri atau sistem kepercayaan untuk digunakan sebagai kerangka
kerja untuk mengambil keputusan. Lingkup kesehatan keluarga merupakan
bagian yang paling baik untuk memberikan pendidikan kepada anak dan
remaja. Orangtua perlu memahami pentingnya pemebrian informasi,
berbagai nilai yang dianut dalam keluarga, dan meningkatkan kemampuan
untuk membuat keputusan. Remaja akan membuat keputusan utnuk dirinya
sendiri dan harus bertanggung jawab terhadap keputusannya (Gilles, 1998)
Pada masa ini remaja mungkin pertama kali mencari perawatan kesehatan
tanpa didampingi orangtua. Agar intervensi pada kelompok usia ini bisa
efektif harus diperhatikan beberapa hal antara lain:

1. Ciptakan lingkungan yang menunjukan kasih sayang, saling percaya,


serta kesediaan untuk mendengar

2. Klarifikasi dan hormati masalah yang bersifat rahasia


3. Perawat kesehatan reproduktif hendaknya memiliki pengetahuan yang
mendalam mengenai perkembangan remaja.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu; Promosi kesehatan
adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat
optimal. Upaya promosi kesehatan merupakan tanggung jawab kita bersama, bahkan
bukan sektor kesehatan semata, melainkan juga lintas sektor, masyarakat dan dunia usaha.
Promosi kesehatan perlu didukung oleh semua pihak yang berkepentingan.
Beberapa peran bidan dalam promosi kesehatan pada bayi diantaranya :

1. Dalam Pemberian ASI

2. Mempromosikan vaksinasi

3. Perawatan tali pusat

Beberapa peran bidan dalam promosi kesehatan pada anak diantaranya :

1. ASI

2. Gizi /nutrisi

3. Pertumbuhan
4. Perkembangan,
5. Interaksi
6. Sosialisasi
Beberapa peran bidan dalam promosi kesehatan pada remaja diantaranya:
1. Perubahan Fisik
2. Perubahan Emosi / psikologis
3. Perkembangan psikologi dan kognitif selama remaja

B. Saran
Perlu disadari bahwa upaya promosi kesehatan dalam praktek kebidanan merupakan
tanggungjawab kita bersama. Kesamaan pengertian, efektifitas kerjasama dan sinergi
antara aparat kesehatan pusat, provinsi, kabupaten/kota dan semua pihak dari semua
komponen bangsa adalah sangat penting dalam rangka mencapai visi, tujuan dan sasaran
promosi kesehatan dalam praktek kebidanan secara nasional. Semuanya itu adalah dalam
rangka menuju Indonesia Sehat, yaitu Indonesia yang penduduknya hidup dalam perilaku
dan budaya sehat, dalam lingkungan yang bersih dan kondusif dan mempunyai akses
untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu,sehingga dapat hidup sejahtera dan
produktif.
DAFTAR PUSTAKA

Mubaraq,Wahit Iqbal.2011.Promosi Kesehatan Untuk Kebidanan.Jakarta:Salemba


Medika.

http://superbidanhapsari.wordpress.com/2009/10/22/promosi-kesehatan-bidan-pada-bayi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Bayi dilihat tanggal 18 April 2011
http://www.scribd.com/doc/76097317/PROMKES

http://bidanapril.wordpress.com/2009/10/23/promosi-kesehatan-pada-remaja/