Anda di halaman 1dari 5

BAB 3

DISKUSI

Pasien anak perempuan umur 11 tahun hari rawatan ke-3 di RSUD Ahmad

Mochtar Bukittinggi telah didiagnosis dengan Pneumonia Aspirasi ec Near

drowning (nonfatal drowning).


Diagnosis near drowning ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan

fisik. Pada anamnesis didapatkan keluhan utama sesak napas sejak 4 jam sebelum

masuk rumah sakit. Pada riwayat penyakit sekarang didapatkan pasien bermain

dan diajak berenang kemudian tenggelam. Hal ini dapat menyingkirkan sesak

disebabkan pneumonia bakteri atau virus. Pasien tenggelam lebih dari lima menit,

tetapi pasien langsung sadar setelah mendapatkan resusitasi minimal dan langsung

sadar dalam waktu kurang dari 24 jam. Hal ini menunjukkan prognosis yang baik

pada pasien ini.1,7 Pasien menceritakan bahwa tidak ada pagar, penghalang,

ataupun tanda peringatan dilarang berenang di tempat kejadian. Kemudian pasien

juga mengatakan tidak membawa pelampung ataupun alat bantu renang. Pasien

juga mengatakan tidak bisa berenang. Hal ini menunjukkan faktor risiko

terjadinya drowning pada anak-anak.7 Pasien juga mengatakan bahwa saat sadar

masih mengeluhkan rasa tercekik. Hal ini menunjukkan masih terjadi

laringospasme tetapi tidak menyebabkan hipoventilasi.7 Pasien mengeluhkan

Muntah berwarna kemerahan kemungkinan menunjukkan pasien ini mengalami

shock dan terdapat sejumlah air yang tertelan sehingga terjadi gangguan

kompensasi aliran darah yang tidak seharusnya ke saluran cerna. Penyebab BAK

warna kemerahan mungkin memerlukan kajian lebih lanjut.


Pada pasien ini tidak terdapat defisit neurologis karena tidak ada gejala

peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan muntah yang proyektil.


Kemudian pasien cepat sadar dalam 24 jam setelah kejadian sehingga pada pasien

ini tidak terdapat cedera otak karena hipoksia, termasuk kerusakan batang otak.

Pada pasien juga tidak terdapat riwayat kejang dan epilepsi. Saat pasien di IGD

juga tidak ada kejang pada pasien ini.


Pada pasien ini tidak terdapat tanda-tanda dari henti jantung karena pasien

dalam keadaan sadar, tidak terdapat tanda-tanda hipoventilasi, dan perfusi

jaringan yang baik yang ditandai dengan hasil AGD berupa pCO 2 39,4 mmHg

(dalam batas normal), pO2 67,5 mmHg (dalam batas normal), dan SO2 : 91,5%,

dengan suhu tubuh 35,9% sehingga tidak perlu pemantauan EKG karena

pemantauan EKG dilakukan pada pasien yang tidak sadar, terdapat tanda-tanda

hipoventilasi dengan hasil AGD asidosis dan suhu tubuh <30oC. Pada keadaan

tersebut, fungsi miokardium masih terganggu dan kemungkinan terjadi aritmia

cukup besar.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

didapatkan diagnosis berupa pneumonia aspirasi ec near drowning/nonfatal

drowning. Pada pasien ini saat diterima di IGD ditemukan hasil labor pada gula

darah yaitu 154mg/dL. Kemudian pada pemerikaan ditemukan benda keton dan

pH asidosis. Hal ini menunjukkan bahwa pada pasien ini sempat terjadi stres

metabolik pada pasien ini yang ditandai dengan terjadi metabolisme anaerob

berupa metabolisme asam laktat.7 Hal ini menyebabkan adanya temuan abnormal

pada urin dan gula darah pasien.


Pada tata laksana di IGD, pasien ini tidak seharusnya diberikan mukolitik

berupa bromhexine HCL (bisolvon) karena pasien ini sadar setelah dilakukan

resusitasi minimal dan refleks batuknya normal yang ditandai adanya muntah

setelah sadar. Kemudian pasien ini juga tidak mengalami batuk berdahak yang

produktif sehingga tidak diperlukan pemberian mukolitik. Pasien ini juga


diberikan vitamin K karena indikasi pemberian Vitamin K adalah terdapat

defisiensi vitamin K yang bisa disebabkan asupan yang tidak adekuat, absorpsi

atau utilisasi Vitamin K yang tidak memadai, atau pemakaian antagonis Vitamin

K.8 Oleh karena itu, pada pasien ini cukup diberikan asam tranexamat untuk

menghentikan perdarahan saluran cerna yang disebabkan oleh kemungkinan iritasi

dari air yang tertelan karena tenggelam.


DAFTAR PUSTAKA

1. Kallas H. Drowning and near drowning. Dalam: Behrman RE, Kliegman


RM, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia:
Saunders; 2007. h. 321-30.

2. Zulkarnaen I. Hampir Tenggelam. Dalam: NN Rahajoe, B Supriyatno, DB


Setyanto, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi pertama. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008. h. 427-32.

3. Stevenson M, Rimajova M, Edgecombe D, Vickery K. Childhood


drowning: barriers surrounding private swimming pools. Pediatrics 2003;
111:115-9.

4. Nasrullah M, Muazzam S. Drowning mortality in the United States, 1999-


2006. J Community Health 2011; 36:69-75.

5. American Heart Association. Drowning. Circulation 2005; 112, 133-5.

6. Numa AH, Hammer J, Newth C. Near-drowning and drowning. Dalam:


Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush A, penyunting. Kendig's
disorders of the respiratory tract in children. Edisi ke-7. Philadelphia:
Saunders-Elsivier; 2006. h. 661-75.

7. Caglar D, Quan L. Drowning and Submersion Injury. Dalam: Kliegman


RM, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia:
Elsevier; 2016. h. 561-8.

8. Majerus PW, Tollefsen. Dalam: Brunton LL, Lazo JS, Parker KL,
Penyunting. Goodman and Gilmans The Pharmacological Basis of
Therapeutics. Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill; 2006. h.1485.