Anda di halaman 1dari 6

3.

Etiologi BBLR :

1. Faktor Ibu
Ibu hamil yang kekurangan gizi saat hamil
Kekurangan gizi saat hamil akan berakibat buruk terhadap
janin seperti prematuritas, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran
mati atau kematian neonatal dini. Penentuan status gizi yang baik
yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum hamil dan
kenaikan berat badan selama hamil.
Berat badan ibu yang rendah
Umur ibu hamil <20 tahun atau >35 tahun
Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara fisik dan
emosional belum matang, selain pendidikan yang juga pada
umumnya masih rendah. Kelahiran BBRL lebih tinggi pada ibu-ibu
usia <20 tahun. Pada ibu-ibu yang sudah tua meskipun telah
berpengalaman tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah
mulai meurun sehingga dapat mempengaruhi janin intrauterine dan
dapat menyebabkan BBLR.
Jarak kehamilan terlalu dekat
Jarak kehamilan <2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan
janin kurang baik, persalinan lama dan pendarahan pada saat
persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik.
Ibu yang jarak kehamilan terlalu dekat <2 tahun akan
mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada
trimester III, termasuk juga karena Placenta previa, anemia, dan
ketuban pecah dini dapat menyebabkan bayi BBLR.
Paritas Ibu
Jumlah anak lebih dari 4 dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan janin sehingga dapat mengakibatkan BBLR dan
perdarahan saat melahirkan karena keadaan rahim biasanya sudah
lemah.
Ibu hamil merokok (baik sebelum hamil atau pada masa
kehamilan)
Penelitian yang dilakukan oleh BMA Tobacco Control
Resource Centre menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama
kehamilan memiliki risiko melahirkan bayi berat lahir rendah
(BBLR) sebesar 1,5-9,9 kali dibandingkan dengan berat badan
lahir bayi dari ibu yang tidak merokok.
Merokok selama hamil mempunyai efek merupakan pada ibu
dan juga janin. Sebuah penelitian eksperimental menggunakan
hewan coba mencit menyimpulkan bahwa paparan asap rokok yang
diberikan selama masa kehamilan hari ke-0 (hari konsepsi), 1 dan 2
menyebabkan retardasi pertumbuhan embrio, sedangkan paparan
asap rokok selama masa kehamilan hari ke-0 hingga hari ke-17
menyebabkan penurunan berat badan fetus. Dalam penelitian ini,
mencit dipapar asap rokok selama 10 menit, 3 kali sehari.
Radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok dapat
menyebabkan kerusakan endotel, peningkatan vasokonstriktor, dan
penurunan vasodilator. Nikotin yang terkandung dalam asap rokok
dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Semua hal
tersebut dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi dapat
menyebabkan penurunan suplai makanan dan oksigen fetus.
Radikal bebas juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru
sehingga dapat terjadi PPOK. PPOK akan menyebabkan penurunan
oksigenasi fetus. Selain itu, radikal bebas juga dapat mengganggu
metabolisme asam folat. Dengan adanya gangguan metabolisme
asam folat berarti nutrisi pertumbuhan fetus akan terganggu dan
juga akan mempengaruhi ekspresi gen fetus. Akibatnya secara
tidak langsung, hipertensi, PPOK, dan defisiensi asam folat akan
menimbulkan gangguan pertumbuhan fetus yang pada akhirnya
akan dapat menyebabkan BBLR.

Peminum alcohol
Ibu hamil yang meminum alcohol maka janin yang
dikandungnya akan beresiko Fetal Alkohol Syndron (FAS) yang
berhubungan dengan masalah gangguan pertumbuhan dan
perkembangan otak dalam masa kehamilannya. Saat ibu yang
sedang hamil meminum minuman beralcohol maka alcohol
tersebut akan dibawa masuk ke dalam tubuh dan dapat dengan
mudah beredar hingga masuk melalui placenta menuju janin. Janin
tersebut tidak dapat menyingkirkan alcohol yang masuk, akibatnya
janin menjadi subjek penimbunan kadar alcohol yang tinggi untuk
jangka waktu yang lama.
Konsumsi pada awal kehamilan cenderung menyebabkan
kecacatan pada otak atau tubuh. Konsumsi pada akhir kehamilan
cenderung berefek pada penyerapan nutrisi janin dan fungsi
motorik halus otak. Hal ini termasuk perkembangan kepribadian
dan kemampuan untuk belajar.
Gejala yang ditimbulkan dari FAS yaitu:
a. Bentuk wajah abnormal, termasuk susunan rahang yang buruk
dan bibir atas serta bentuk rahang hidung rata.
b. Masalah tingkah laku, seperti pemusatan perhatian yang kurang
dan hiperaktif.
c. Keterlambatan perkembangan atau retardasi mental.
d. Epilepsy atau serangan kejang.
e. Kegagalan pertumbuhan stsu keterlambatan pertumbuhan fisik.
f. Kesulitan belajar.
g. Lahir BBLR dan ukuran lingkar kepala kecil.
h. Cacat kecil pada tangan dan kaki.
i. Kerusakan organ, termasuk penyakit jantung bawaan.
j. Kurang koordinasi fungsi motorik tubuh.
k. Kurang memiliki kemampuan mengingat-ingat.
l. Kurang dalam hal bersosialisasi dan suka berimajinasi.
Pengguna narkotika
Pernah melahirkan bayi premature sebelumnya

2. Faktor Kehamilan
Hidroamnion
Hidroamnion kadang-kadang disebut juga polihihidroamnion
merupakan keadaan cairan amnion yang berlebihan. Hidroamnion
dapat menimbulkan persalinan sebelum kehamilan 28 minggu
sehingga dapat menyebabkan kelahiran premature dan
meningkatkan resiko BBLR.
Cervical incompetence (mulut rahim yang lemah hingga tak
mampu menahan berat bayi dalam rahim)
Antepartum hemorrhage (perdarahan kehamilan di atas 22 minggu
atau saat persalinan)
Antepartum hemorrhage menyebabkan anemia dan syok
sehingga keadaan ibu memburuk. Keadaan ini memberikan
gangguan pada placenta yang menyebabkan anemia pada janin
bahkan dapat pula terjadi syok intrauterine yang menyebabkan
kematian bayi intrauterine. Apabila janin dapat diselamatkan dapat
terjadi BBLR, sindrom gagal napas, dan komplikasi asfiksia.
Komplikasi Selama Kehamilan
a. Pre-eklampasia/Eklampasia
Pre-eklampasia/eklampasia dapat menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan janin dalam kandungan atau
IUGR dan kelahiran mati. Hal ini dikarenakan terjadinya
perkapuran di daerah placenta, sedangkan janin
memperoleh makanan dan oksigen dari placenta, dengan
adanya perkapuran di daerah placenta, suplai makanan dan
oksigen yang masuk ke janin berkurang.
b. Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban dinyatakan pecah sebelum waktunya apabila
terjadi sebelum proses persalinan. KPD disebabkan karena
berkurangnya kekuatan membrane yang diakibatkan oleh
infeksi yang berasal dari vagina dan serviks.
c. Hipertensi
Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab
penting terjadinya kelahiran mati dan kematian neonatal.
Hipertensi pada ibu hamil akan menyebabkan terjadinya
insufisiensi placenta dan hipoksia sehingga pertumbuhan
janin terhambat dan sering terjadi kelahiran premature.
3. Faktor Janin
Cacat Bawaan (Kelainan congenital)
Kelainan congenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan
struktur janin yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur.
Bayi dengan kelainan congenital biasanya akan lahir BBLR atau
janin kecil utnuk masa kehamilannya. Bayi BBLR dengan kelainan
congenital yang mempunyai berat sekitar 20% meninggal dalam
minggu pertama kehidupannya.
Infeksi dalam Rahim
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari
gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan
metabolism tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin terganggu atau
berkurang. Oleh karena itu, pengaruh hepatitis dapat menyebabkan
abortus atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam
rahim.
Wanita hamil dengan infeksi rubella dapat menyebabkan bayi
BBLR, cacat bawaan, dan kematian janin.
Kehamilan ganda
Berat badan janin pada kehamilan ganda tidak sama, dapat
berbeda antara 50-1000 gram. Hal ini disebabkan pembagian darah
pada placenta untuk kedua janin tidak sama.
Regangan uterus yang berlebihan pada kehamilan ganda
merupakan salah satu factor yang menyebabkan BBLR. Pada
kehamilan ganda, distensi uterus berlebihan sehingga melewati
batas toleransi dan sering terjadi partus prematus.
Kelainan kromosom

Referensi :
Proverawati, dkk.2010. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Edisi 1. Yogyakarta :
Nuha Medika.