Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu psikologi mengenal beberapa kajian tentang motivasi, fantasi,
ingatan dan kelupaan. Keempat hal ini merupakan faktor eksternal yang
mempengaruhi proses belajar adalah kurangnya motivasi. Motivasi
merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau
mencapai sesuatu tujuan. Selain itu fantasi juga mempengaruhi cara dan
prose belajar. Berfantasi atau berkhayal merupakan salah satu gejala
pengenalan (kognisi), yaitu gejala-gejala yang terdapat dalam kejiwaan kita,
sebagai hasil dari pengenalan. Berfantasi dapat menimbulkan daya imajinasi
kita dalam menciptakan sesuatu yang belum ada, yaitu sesuatu yang baru.
Ingatan atau sering disebut memory adalah sebuah fungsi dari kognisi yang
melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Ingatan akan dipelajari lebih
mendalam di psikologi kognitif dan ilmu saraf.
Empat faktor tersebut memiliki urgensi terhadap proses pembelajaran
dan hasilnya. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang fantasi,
daya ingat dan keluapaan.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana fantasi dan macam-macamnya?
2. Bagaimana daya ingat dan macam-macamnya?
3. Bagaimana kelupaan dan macam-macamnya?
C. Tujuan
1. Menjelaskan tentang fantasi dan macam-macamnya.
2. Menjelaskan tentang daya ingat dan macam-macamnya.
3. Menjelaskan tentang kelupaan dan macam-macamnya.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Fantasi
1. Definisi Fantasi
Fantasi adalah yang berhubungan dengan khayalan atau dengan
sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau
pikiran saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi. Fantasi bisa juga
merupakan sebuah genre yang menggunakan bentuk sihir dan
supranatural sebagai salah satu elemen, tema dan seting dalam sebuah
film. Genre fantasi secara umum dibedakan dengan genre sains fiksi
yang lebih bertemakan ilmiah dan horor tentang hal yang mengerikan.
Fantasi menurut Yanto Subiyanto adalah kemampuan jiwa untuk
membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Hal
senada juga dijelaskan oleh Bimo Walgito. Dengan fantasi manusia
dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau
ke depan, ke keadaan yang akan mendatang. Sedangkan menurut
Julianto Simanjuntak, fantasi (imajinasi) adalah kemampuan jiwa yang
dapat membentuk satu tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan
yang lama.
Fantasi dapat terjadi secara sadar ataupun tidak sadar. Fantasi
secara sadar misalnya pada seorang pemahat arca yang membentuk arca
berdasarkan fantasinya. Sedang fantasi tidak sadar biasanya dilakukan
oleh anak kecil yang bercerita tidak sesuai dengan kenyataan, walau
tanpa ada maksud untuk berbohong. Oleh karena itu, menurut Abu
ahmadi fantasi adalah kekuatan jiwa untuk menciptakan tanggapan baru
dalam jiwa kita dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang telah
dimiliki. Dengan demikian, melalui kekuatan fantasi manusia dapat
melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan mampu menjangkau
ke depan, keadaan yang akan datang.

2. Macam-macam Fantasi
Fantasi terbagi menjadi beberapa macam. Menurut Bimo Walgito
macam-macam fantasi adalah sebagai berikut:

2
a. Fantasi disadari, yaitu fantasi yang terjadinya disadari oleh individu.
Misalnya seseorang sedang berimajinasi tentang suatu kejadian untuk
novelnya.
b. Fantasi yang tidak disadari, yaitu fantasi yang terjadinya tanpa
disadari atau disengaja. Fantasi semacam ini terjadi pada anak-anak,
yang kadang-kadang menimbulkan dusta semu pada anak yang
sedang berfantasi.
c. Fantasi Aktif, yaitu fantasi yang terjadinya melibatkan secara aktif
gejala-gejala jiwa lainnya seperti pikiran, kemauan, perasaan, dan
seterusnya.
d. Fantasi Pasif, yaitu fantasi yang terjadinya tidak melibatkan gejala-
gejala jiwa lainnya secara pasif. Pada fantasi pasif seolah-olah
kedasaran dibiarkan untuk tempat bermainnya daya fantasi.
e. Fantasi Mencipta, yaitu fantasi aktif yang mampu menghasilkan
karya kreatif. Misalnya lagu, lukisan, cerpen, novel, dan seterusnya.
f. Fantasi Tuntunan, yaitu fantasi aktif yang yang terjadinya dibawah
tuntunan sesuatu. Misalnya fantasi yang timbul pada saat membaca
novel, melihat film, mendengarkan lagu,
Fantasi juga dapat dibagi menurut caranya orang berfantasi.
Macam-macamnya yaitu :
a. Fantasi yang mengabstraksi. Yaitu cara orang berfantasi dengan
mengabstraksikan beberapa bagian sehingga ada bagian-bagian yang
dihilangkan. Misalnya ada anak yang belum pernah melihat gurun
pasir, maka untuk menjelaskan digunakan lapangan.
b. Fantasi yang mendeterminasi. Yaitu cara orang berfantasi dengan
mendeterminasi terlebih dahulu. Misalnya seorang anak belum
pernah melihat harimau, kemudian dikenalkan bahwa harimau adalah
kucing yang besar. Maka dalam fantasinya akan muncul gambaran
kucing besar sebagai harimau.
c. Fantasi yang mengkombinasi. Yaitu cara orang berfantasi di mana
orang mengkombinasikan pengertianpengertian atau bayangan-
bayang yang ada pada individu yang bersangkutan. Misal fantasi
tentang ikan duyung, yaitu makhluk yang memiliki kepala wanita dan
berbadan.
B. Daya ingat
1. Definisi daya ingat

3
Daya ingat atau ingatan merupakan daya jiwa. Ingatan ialah
suatau daya jiwa yang memungkinkan manusia dapat menerima,
menyimpan dan memproduksikan kembali pengertian-pengertian atau
tanggapan tanggapan diperoleh. Ingatan di pengaruhi oleh beberapa hal,
yaitu :
a. Sifat perseorangan
b. Keaadaan eksternal di luar jiwa (alam sekitar, keadaan jasmani, dan
sebagainya)
c. Keadaan jiwa (kemauan, perasaan dan sebagainya)
d. Usia
2. Macam-macam daya ingat
Secara garis besar, ingatan terbagi atas dua macam, yaitu :
a. Daya ingat mekanis, artinya daya ingat itu hanya untuk kesan- kesan
pengindraan.
b. Daya ingat logis, artinya daya ingat itu hanya untuk kesan kesan
yang mengandung pengertiaan.
3. Gangguan ingatan
1. Lupa, yaitu peristiwa yang tidak dapat memproduksikan tanggapan
manusia.
2. Amnesia, yaitu peristwa yang tidak dapat memproduksikan
tanggapan karena ingatan tidak sehat.
3. Dejavu yaitu sutatu peristiwa seakan-akan sudah pernah. Sesuatu
yang sebenarnya belum ( pengenalan tipuan )
4. Jamais vu yaitu peristiwa seakan akan belum pernah kenal kepada
sesuatu yang sebenarnya sudah pernah.
5. Depersonalis, ialah suatu peristiwa, seorang seorang tidak mengenal
dirinya sendiri.
C. Kelupaan
1. Definisi Kelupaan
Ingatan ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan
mereproduksikan kesan-kesan. Jadi, ada tiga unsur dalam perbuatan
ingatan, menerima kesan-kesan, menyimpan dan mereproduksikan.
Orang yang dapat mengingat sesuatu kejadian, ini berarti kejadian yang
diingat itu pernah dialami, atau dengan kata lain kejadian itu pernah
dimasukkan ke dalam jiwanya, kemudian disimpan dan pada suatu waktu
kejadian itu ditimbulkan kembali dalam kesadaran. Dengan demikian
ingatan itu merupakan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan

4
untuk menerima atau memasukkan (learning), menyimpan (retention),
dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau.
Lupa merupakan istilah yang sangat populer di masyarakat. Dari
hari ke hari dan bahkan setiap waktu pasti ada orang-orang tertentu yang
lupa akan sesuatu, baik tentang peristiwa atau kejadian di masa lampau
atau sesuatu yang akan dilakukan, mungkin juga sesuatu yang baru saja
dilakukan. Fenomena dapat terjadi pada siapapun juga, baik pada anak-
anak, remaja, orang tua, guru, pejabat.
Lupa ialah peristiwa tidak dapat memproduksikan tanggapan-
tanggapan meskipun ingatan dalam kondisi sehat. Selain itu, ada juga
yang mengartikan lupa sebagai suatu gejala di mana informasi yang
telah disimpan tidak dapat ditemukan kembali utnuk digunakan.
2. Proses terjadinya lupa
Daya ingatan manusia tidak sempurna. Banyak hal-hal yang
pernah diketahui, tidak dapat diingat kembali atau dilupakan.
Dewasa ini ada empat cara untuk menerangkan proses lupa. Keempatnya
tidak saling bertentangan, melainkan saling mengisi.
a. Apa yang telah diingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak kalau
materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena
proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari
otak sehingga tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, karena tidak
digunakan, materi itu lenyap sendiri.
b. Kemungkin lain adalah materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan
mengalami perubahan-perubahan secara sistematis, mengikuti
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Penghalusan, yaitu materi berubah bentuk ke arah bentuk yang
lebih simatris, lebih halus dan kurang tajam, sehingga bentuk
yang asli tidak diingat lagi.
2) Penegasan, yaitu bagian-bagian yang paling mencolok dari suatu
hal adalah yang paling mengesankan. Karena itu, dalam ingatan
bagian-bagian ini dipertegas, sehingga yang diingat hanyalah
bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk keseluruhan
tidak begitu diingat.
3) Asimilasi
c. Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan hal-hal yang sudah
diingat, tidak dapat diingat lagi. Dengan kata lain, materi kedua

5
menghambat diingatnya kembali materi pertama. Hambatan seperti
ini disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya, mungkin pula materi
yang baru dipelajari tidak dapat masuk dalam ingatan, karena
terhambat oleh adanya materi lain yang terlebih dahulu dipelajari,
hambatan seperti ini disebut hambatan proaktif.
d. Ada kalanya manusia mengalami sesuatu yang membuatnya shock.
Hal ini disebut represi. Peristiwa-peristiwa mengerikan, menakutkan,
penuh dosa, menjijikan dan sebagainya, atau semua hal yang tidak
dapat diterima oleh hati nurani akan manusia akan lupakan dengan
sengaja. Selain itu pada kondisi yang ekstrim, represi dapat
menyebabkan amnesia, yaitu lupa nama sendiri, orang tua, anak dan
istri dan semua hal yang bersangkut paut dirinya sendiri.
3. Faktor penyebab lupa
Lupa dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Diantara faktor-
faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Lupa terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau
materi yang ada dalam sistem memori manusia. Dalam interfence
theory (teori mengenai gangguan), gangguan konflik ini terbagi
menjadi dua macam, yaitu:
1) Proactive interference
Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila
materi pelajaran yang sudah lama tersimpan dalam subsistem akal
permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru.
2) Retroactive interference
Seorang siswa akan mengalami gangguan retroaktif apabila
materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap
kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan
dalam subsistem akal permanen siswa tersebut.
b. Lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan
terhadap item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak.
c. Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan
antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali.
d. Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap
proses belajar mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karna sesuatu
hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena

6
ketidaksenangan kepada guru) maka materi pelajaran itu akan mudah
terlupakan.
e. Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak
pernah digunakan atau dihafalkan siswa.
f. Lupa juga dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak. Seorang
siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan
alkohol, dan geger otak akan kehilangan ingatan item-item informasi
yang ada dalam memori permanennya.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas, kesimpulan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Fantasi adalah yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu
yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran
saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi.
2. Ingatan merupakan kemampuan psikis untuk memasukkan (learning),
menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-
hal yang lampau.
3. Lupa ialah peristiwa tidak dapat memproduksikan tanggapan-tanggapan
yang ada, meskipun ingatan sedang sehat.
4. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi fantasi, daya ingat dan
kelupaan pada manusia. Pada dasarnya faktor itu berasal dari pola
perilaku dan gaya hidup manusia itu sendiri.
B. Saran
Makalah ini hanyalah sebagai pengantar kajian tentang fantasi, daya
ingat dan kelupaan pada manusia. Oleh karena itu untuk lebih memperdalam
kajian tentang ketiga hal tersebut menjadi lebih komprehensif, mestinya
ditambah lagi dengan membaca berbagai referensi yang terkait dengannya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Pikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998)


Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI, 2005)
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008)

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset,


2004)

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)