Anda di halaman 1dari 15

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

Pemanfaatan Jamur Tiram Menjadi Sosis Sebagai Bahan


Makanan yang Bergizi dan Aman Bagi Kesehatan
Bidang kegiatan:
PKM-K
Diusulkan oleh:
Nama : Wulan Ambar Pratiwi
NIM : 12315244017

PENDIDIKAN IPA INTERNASIONAL


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012 / 2013
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penggunaan bahan kimia sebagai bahan tambahan pada makanan (food additive)
saat ini sering ditemui pada makanan dan minuman. Salah satu bahan tambahan pada
makanan adalah pengawet bahan kimia yang berfungsi untuk memperlambat kerusakan
makanan, baik yang disebabkan mikroba pembusuk, bakteri, ragi maupun jamur dengan
cara menghambat, mencegah, menghentikan proses pembusukan dan fermentasi dari
bahan makanan.
Menurut Suriawiria Unus (2009), jamur merupakan tanaman yang berinti,
berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak
berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain
yang telah mati. Jamur tiram bila kita budidayakan akan mendapat manfaat berganda.
Selain rasanya lezat mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan
manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi
dalam menu sehari- hari.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains
Kementrian Industri Thailand bebarapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau
Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17
% dan abu 1,14 %. Selain kandungan ini, Setiap 100 gr jamur tiram segar ternyata juga
mengandung 45,65 kalori; 8,9 mg kalsium: 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor. 0,15 mg Vitamin
B1; 0,75 mg vitamin B2 dan 12,40 ing vitamin C. Dari hasil penelitian kedokteran secara
klinis, para ilmuwan mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas jamur tiram
berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, diabetes,
kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio
dan influenza serta kekurangan gizi.
Secara sosial budaya, jamur tiram, merupakan bahan pangan bergizi, berkhasiat
obat yang lebih murah dibandingkon obat modern. Secare ekonomis merupakan
komoditas yang tinggi harganya dan dapat meningkatkan pendapatan petani serta dapat
dijadikan makanan olahan untuk konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat.
Salah satu produk makanan olahan yang ada di Indonesia adalah sosis. Sosis
merupakan makanan olahan dari daging khususnya daging sapi dan daging ayam
sehingga dijadikan sebagai salah satu pangan sumber protein. Saat ini belum ada produk
sosis yang dijadikan sebagai sumber serat. Oleh karena itu, diversifikasi jamur tiram
menjadi produk sosis merupakan salah satu solusi untuk menghadirkan produk sosis
sebagai salah satu pangan sumber serat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana menambah manfaat jamur tiram menjadi produk pangan olahan yang
menyehatkan?
2. Bagaimana proses produksi jamur tiram sehingga menjadi sosis?
3. Bagaimana meningkatkan daya saing sosis jamur tiram terhadap produk-produk sosis
yang terbuat dari bahan daging?
C. Tujuan
Meningkatkan konsumsi jamur dan daya jual jamur

D. Luaran yang Di Harapkan


Luaran yang diharapkan dari program ini adalah mampu membuat sosis dari
jamur menjadi exsis sebagaimana sosis dari daging.
E. Kegunaan
Hasil dari program kreatifitas wirausaha ini diharapkan :
1. Mampu meningkatkan pendapatan.
2. Mampu merekrut tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran yang
merupakan masalah besar Indonesia.
3. Mampu mempromosikan sosis jamur menjadi lebih exsis sebagaimana sosis dari
daging,
BAB II

A. TINJAUAN PUSTAKA

Bila melihat peranan penting jamur, sepertinya jamur memang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia. Di bidang industry makanan, jamur dikenal sebagai hidangan lezat
dimulai dar beberapa ribuan tahun yang lalu. Saat ini jamur telah berkembang menjadi
makanan rakyat yang penyajiannya cukup dinamis dan sederhana.
Kata Jamur sudah tidak asing bagi kita, meskipun hanya sekadar mendengar
namanya saja. Jamur adalah salah satu jenis tumbuhan yang tidak mandiri, karena
kehidupannya selalu tergantung pada organism lainnya, sehingga disebut tumbuhan
heterofik, karena tidak memiliki klorofil, jamur tidak mampu menghasilkan makanan sendiri.
Jamur mengambil zat-zat makanan seperti selulosa, glukosa, lignin, protein dan senyawa pati
dari organism lainnua. Dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh hifa, bahan makanan
tersebut diurai menjadi senyawa yang dapat diserap untuk pertumbuhan. Berikut beberapa
jamur yang memberikan keuntungan:
1. Rhizopus dan Mucor, berguna dalam industry bahan makanan, yaitu dalam pembuatan
tempe dan oncom.
2. Khamir Saccharomyces, berguna sebagai fermen dalam industry keju, roti, dan bir.
3. Beberapa jamur konsumsi, seperti jamur merang, jamur tiram, jamur barat, dan jamur
kuping memiliki cita rasa yang lezat dan bergizi tinggi.
Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau
benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan
yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati. Jamur tiram bila kita budidayakan
akan mendapat manfaat berganda. Menurut Suriawiria (2002), jamur merupakan salah satu
produk holtikultura yang dapat dikembangkan untuk memperbaiki keadaan gizi
masyarakat, salah satunya adalah jamur tiram. Jamur tiram memiliki khasiat kesehatan
dan nilai gizi. Protein nabati yang terdapat dalam jamur tiram hampir sebanding dengan
protein sayuran, dan memiliki kandungan lemak yang rendah dibandingkan daging sapi.

Taksonomi Jamur Tiram

Super Kingdom : Eukaryota


Kingom : Myceteae
Divisio : Amastigomycota
Subdivisio : Basidiomycotae
Kelas : Bisidiomycetes
Ordo : Agaricales
Familia : Agaricaeae
Genus : Pleurotus
Spesies : Pleurotus sp

Morfologi

Jamur tiram (Pleurotus sp) adalah jamur pangan dengan tudung mirip cangkang tiram
dengan bagian bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Permukaan
tudung tiram licin, agak berminyak saat lembab, dan tepiannya bergelombang. Diameternya
mencapai 3-20 cm. Spora berbentuk batang berukuran 8-11x3-4 mm. Miselium berwarna
putih dan bisa tumbuh dengan cepat (Abdul Karim, 2003).
Jamur tiram adalah jamur kayu yang tumbuh berderet menyamping pada batang kayu
lapuk. Jamur ini memiliki tubuh buah yang tumbuh mekar membentuk corong dangkal
seperti kulit kerang. Tubuh buah jamur ini memiliki tudung dan tangkai. Tudung berbentuk
mirip cangkang tiram berukuran 5-15 cm dan permukaan bagian bawah berlapis-lapis seperti
insang berwarna putih dan lunak. Sedangkan tangkainya dapat pendek atau panjang (2 cm
6 cm ) tergantung pada kondisi lingkungan dan iklim yang mempengaruhi pertumbuhannya.
Tangkai ini menyangga tudung agak lateral ( di bagian tepi) atau eksentris (agak ketengah).
Jamur tiram putih ( Pleurotus florida dan P. ostreatus) memiliki tudung berwarna putih susu
atau putih kekuning-kuningan dengan garis tengan 3 cm 14 cm. Jamur tiram merah jambu
(Pleurotus flabellatus) memiliki tudung berwarna kemerah-merahan. Jamur tiram kelabu
(Pleurotus sayor caju) memiliki tudung berwarna abu-abu kecoklatan dengan lebar 6 cm 14
cm (Abdul Karim, 2003).
Jamur tiram putih, jamur yang paling sering dibudidayakan. Saat ini, jamur tiram putih
banyak dikembangkan pada media substrat kayu yang telah dikemas dalam kantung plastic dan
di inkubasi didalam rumah jamur atau rumah kumbung.
Menurut Abdul Karim (2003), warna jamur tiram ada bermacam-macam, ada yang putih,
abu-abu, cokelat, dan merah. Di Indonesia jenis paling banyak dibudidayakan adalah jamur tiram
putih. Satu jamur tiram putih dewasa mempunyai bilah-bilah atau sekat-sekat yang jumlahnya
banyak. Di dalam bilah-bilah tersebut terdapat bagian yang disebut basidia. Di unjung basidia
tersebut terdapat kantong yang berisi banyak spora atau disebut juga basidiospore.
Spora berfungsi untuk berkembang biak. Sel-sel spora yang bersambungan membentuk
hifa dari miselium. Pada titik-titik pertemuan percabangan miselium terbentuk bintik kecil yang
disebut calon tubuh buah jamur yang akan berkembang menjadi jamur dewasa.
Jamur tiram dapat tumbuh di sebagian besar wilayah Indonesia pada ketinggian antara
550 800 m diatas permukaan laut dengan kadar air sekitar 60% dan derajat keasaman atau pH 6
7. Jika kadar air di lokasi terlalu tinggi maka jamur tiram akan terserang penyakit busuk akar.
Namun, jika kadar air kurang maka miselium jamur tidak bisa menyerap sari makanan dengan
baik sehingga pertumbuhan jamur tidak maksimal (Nurhidayat, 2001).
Menurut Nunung Marlina (2001), suhu yang dibutuhkan jamur tiram untuk pembentukan
miselium adalah 20 C 30 C dengan kelembapan 80% - 85%. Jamur tiram membutuhan oksigen
sebagai senyawa pertumbuhan. keterbatasan oksigen akan mengganggu pertumbuhan tubuh
buah, sedangkan kelebihan oksigen akan menyebabkan tubuh buah jamur cepat layu.
Menurut Madame Dati (2009), jamur tiram termasuk jenis jamur serbaguna. Selain
dikonsumsi didalam bentuk masakan, jamur tiram juga dapat dikonsumsi dalam keadaan segar,
baik sebagai campuran salad maupun lalapan. Bahan dapat diolah menjadi semacam crips.
Jamur tiram biasanya diolah menjadi aneka makanan lezat. Secara sosial budaya, jamur tiram
merupakan bahan pangan bergizi, berkhasiat obat yang lebih murah dibandingkon obat
modern. Secara ekonomis merupakan komoditas yang tinggi harganya dan dapat
meningkatkan pendapatan petani. Adanya diversifikasi produk olahan jamur tiram
diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah. Dikarenakan umur jamur tiram yang tidak
tahan lama, maka salah satu bentuk diversifikasi yang mempunyai prospek yang cerah
untuk dikembangkan adalah mengolah jamur tiram sebagai sosis jamur tiram.
Sosis secara umum adalah daging yang digiling sampai halus, diberi bumbu, berada
dalam selongsong, dimasak dan kadang-kadang dengan pengasapan serta selalu disajikan
dalam keadaan dingin (Madame Dati, 2009).
Jamur tiram dapat digunakan menjadi alternatif bahan pangan bagi para vegetarian
yang ingin menikmati olahan pangan dalam bentuk sosis, dikarenakan jamur tiram dapat
diolah menjadi sosis, dan dapat menjadikan solusi bagi para vegetarian sebagai pengganti
daging.

Kandungan gizi jamur tiram

Di dalam dunia pertanian, jamur tiram termasuk komoditas sayuran yang budi dayanya
tidak menggunakan pupuk anorganik dan relative tidak terkontaminasi oleh peptisida karena
sifatnya yang dapat menyerap racun sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan mengandung bahan
kimia di dalamnya (Suriawiria Unus, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Departemen Sains Kementrian Industri
Thailand, bebarapa zat yang terkandung dalam jamur tiram adalah protein 5,94 %; karbohidrat
50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain kandungan ini, Setiap 100 gr jamur
tiram segar ternyata juga mengandung 45,65 kalori; 8,9 mg kalsium: 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor.
0,15 mg Vitamin B1; 0,75 mg vitamin B2 dan 12,40 ing vitamin C. Dari hasil penelitian
kedokteran secara klinis, para ilmuwan mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas
jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi,
diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio
dan influenza serta kekurangan gizi.
Beberapa manfaat jamur tiram antara lain sebagai berikut:
1. Dapat menjadi sumber protein karena menganding 9 asam amino esensial
2. Dapat dijadikan suplemen bagi para pelaku diet
3. Dijadikan sebagai makanan alternative yang baik, khususnya bagi para penganut
vegetarian.

B. METODE PELAKSANAAN
Cara pembuatan sosis jamur tiram sebagai berikut :

Mencuci jamur tiram hingga bersih

Menakar jamur tiram yang sudah bersih untuk di giling bersama


bumbu-bumbu yang lain

Memasukkan adonan yang sudah digiling kedalam kulit sosis

Sosis yang sudah di isi dalam kulit sosis kemudian dicetak dalam
cetakan sosis

Sosis siap untuk di pasarkan

Sedangkan cara pengemasan sosis jamur tiram sebagai berikut:

Menyiapkan plastik kemasan untuk sosis

Mengecek kemasan sosis jamur untuk menghindari terjadinya


kebocoran dalam kemasan

Menentukan kadaluarsa dalam kemasan sosis.

Menyimpan sosis dalam kondisi beku.

C. PEMASARAN SOSIS
Analisis Pasar
1. Menentukan lokasi pemasaran yang strategis dan terjangkau oleh banyak konsumen
2. Melihat seberapa besar minat konsumen terhadap produk ini dibandingkan dengan
produkproduk sosis yang lain yang telah beredar di pasaran.
3. Membandingkan harga produk sosis jamur ini dengan produk-produk sosis yang lain
4. Melihat prospek pasar dalam pendistribusian produksi sosis ini.
Desain Pemasaran
1. Mengenalkan produk sosis jamur kepada konsumen melalui media elektonik.
2. Mendistribusikan produk sosis jamur ke pasar-pasar, pertokoan-pertokoan dan ke
mini market.

D. GAMBARAN UMUM
1. Analisis Pasar

Analisis pasar yang di gunakan adalah analisis SWOT. Adapun analisis SWOT
yang mengambarkan secara umum usaha yang akan dilaksanakan dalam pembuatan Sosis
Jamur sebagai alternatif makanan kesehatan yang bergizi tinggi bagi masyarakat adalah:

a. Strength

Produk Sosis jamur ini mengandung gizi yang cukup kompleks melebihi larutan
isotonik yang ada saat ini. Dari hasil penelitian kedokteran secara klinis, para ilmuwan
mengemukakan bahwa kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati
berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol,
anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta
kekurangan gizi.

Jamur tiram ini juga cukup mudah ditemukan maupun dibudidayakan. Ia memiliki
kemampuan adaptasi yang baik. Ia dapat hidup di sembarang tempat baik kering maupun
basah. Dalam membudidayakannnya pun tidak diperlukan perlakuaan khusus. Oleh
karenanya ketersediaan Jamur ini cukup melimpah.

b. Weakness

Keterbatasan sarana dan prasarana serta tenaga kerja yang diharapkan tidak hanya
memiliki keterampilan dalam pembuatan produk ini tetapi juga mampu memasarkan atau
memperkenalkan produk ini pada khalayak umum. Hal ini dikarenakan produk ini masih
baru dan belum dikenal oleh masyarakat secara luas. Akan tetapi untuk mengatasi
permasalahan ini, peneliti melakukan publikasi secara lebih intensif melalui pamflet,
pemasangan spanduk, website, serta jejaring social lainnya.

c. Oportunity

Banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi olahan jamur. Baik yang di


buat olahan kering maupun masakan. Produk ini juga terbilang unik karena belum ada
produk sejenis yang berbahan baku jamur tiram. Dengan mengolahnya menjadisosis,
dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap produk. Hal ini dikarenakan
produk sosis yang beredar di pasaran Indonesia saat ini hanya dibuat dari daging.

d. Treath

Munculnya produsen lainnya di bidang makanan khususnya produsen Sosis.


Karena pengolahannnya tanpa bahan pengawet, maka daya tahan dari produk terbatas.
Akan tetapi kelebihan dari produk ini adalah kendungan gizi yang cukup tinggi yang
dapat bermanfaat guna mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah
tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap
serangan polio dan influenza serta kekurangan gizi.

Dari analisis SWOT di atas, bahwa produk Sosis dari Jamur Tiram ini memiliki
prospek yang tinggi sebagai unit usaha. Untuk mengetahui nilai jual suatu produk,
digunakan metode yaitu penjumlahan seluruh biaya produksi dan ditambah dengan laba
yang diinginkan yaitu 50 persen dari biaya produksi. Perhitungan pengembalian modal
(Break Even) yaitu untuk mengetahui pada volume berapa (penjualan/ produksi) agar
biaya total sama dengan penghasilan total sehingga tidak mengalami laba atau rugi.
Rumus yang digunakan adalah perhitungan Break Even berdasarkan unit sebagai
berikut :

FC

BEP (Q) PVC

BEP = Break Even Point FC= Biaya Tetap

P = Harga Jual Produk

VC = Biaya Produksi

2. Perhitungan Ekonomi Hasil Produk

Produksi Nata Jamur Sosis sebagai alternatif makanan kesehatan yang bergizi
tinggi bagi masyarakat inovasi baru dalam pembuatan makanan yang menguntungkan
bagi produsen. Jamur Sosis ini akan diproduksi dengan perhitungan ekonomi secara rinci
yaitu sebagai berikut:

E. RANCANGAN BIAYA
Tabel 2. Bahan Pokok (FC)

N Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)


o
1. Jamur Tiram Kg 50 15.000 750.000
2. Bumbu-Bumbu 500.000
Jumlah 1.250.000

Tabel 3. Bahan Kemasan (FC)

N Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)


o
1. Kertas alumunium Lembar 200 4.000 800.000
2. Plastik Pack 5 2.000 10.000
3. Kotak Kemasan Buah 20 3.000 60.000
Jumlah 870.000

Tabel 4. Alat-alat yang digunakan (FC)

No. Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)
1. Oven Biji 1 350.000 350.000
2. Penggiling Biji 1 300.000 300.000
daging/ jamur
3. Baskom Biji 3 10.000 30.000
4. Pisau Biji 2 5.000 10.000
Jumlah 690.000

Tabel 5. Biaya Distribusi Usaha dan Lain-Lain (VC)

No Nama Satuan Volume Harga Satuan Per5 Bulan Jumlah (Rp)


1. Transportasi Orang 1 400.000 2.000.000
2. Lain-Lain Orang 1 500.000 500.000
Jumlah 2.500.000

Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran


No Rincian Jumlah (Rp)
1. Bahan pokok 1.250.000
2. Bahan kemasan 870.000
3. Alat-alat yang digunakan 690.000
4. Distribusi usaha dan lain-lain 2.500.000
Jumlah 5.310.000

Total biaya = Biaya Tetap (FC) + Biaya variabel (VC)


=Rp 2.810.000 + Rp 2.500.000

=Rp 5.310.000

Biaya produksi rata-rata = Total Biaya : jumlah produk

= Rp 5.310.000 : (20x30)

=Rp 8.850

P (Harga) jual = Rp 13.000


Total Pendapatan = P x jumlah produk
=Rp 13.000 x 600

= Rp 7.800.000

Profit = Total pendapatan-total biaya

= Rp 7.800.000 Rp 5.310.000

=Rp 2.490.000

BEP:

FC

BEP (Q) PAVC

= 2.810.000 : ( 13.000 8.850)


= 677,108

= 677

Pada kemasan ke 677, kami mendapatkan BEP. Dengan kata lain penjualan Sosis
Jamur sebanyak 677 kemasan maka modal dapat kembali dengan harga Rp 13.000,00.
Per pack.

Analisis B/C ratio = Total Pendapatan : Total biaya


= Rp 7.800.000 : Rp 5.310.000

= 1,469

F. JADWAL KEGIATAN
Tabel 1. Jadwal Kegiatan

No Kegiatan Bulan ke-


6 7 8 9 10
1. Observasi bahan dan alat .
2. Observasi pasar dan target
3. Pembuatan (produksi) Sosis Jamur
4. Pendistribusian dan penjualan produk
5. Pelaporan perkembangan program pembuatan Sosis jamur
6. Pelaporan akhir program pembuatan Sosis Jamur
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Karim. 2003. Karakteristik Produksi Jamur Tiram Jurnal Nature Indonesia. Vol.
5, No 2. Hlm 152-156
Madame Dati. 2009. 25 Macam Olahan Lezat Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius
Meta Fitri Harlistaria. 2009. Technical and Financial Feasibility Of Oyster Mushroom
Sausage Production Jurnal Industria. Vol 1, No 2. Hlm 105-114
Nunung Marlina. 2001. Budi Daya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius
Nurhidayat. 2011. Untung Besar dari Bisnis Jamur Tiram. Jakarta: Agro Media Pustaka
Syammahfuz Chazali. 2009. Usaha Jamur Tiram. Bogor: Penebar Swadaya
Suriawiria Unus. 2009. Budi Daya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius