Anda di halaman 1dari 4

PENGERTIAN SISTEM POLITIK

Sistem politik ialah berbagai macam kegiatan dan proses dari struktur dan fungsi yang bekerja
dalam suatu unit atau kesatuan, kesatuan yang dimaksudkan dapat berupa negara atau masyarakat

Menurut Gabriel A. Almond, sistem politik merupakan organisasi melalui mana masyarakat
merumuskan dan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama mereka

A. Hooderwerf berpendapat, bahwa sistem politik adalah seluruh pendirian, kelakuan dan
kedudukan, sepanjang bertujuan untuk mempengaruhi isi, terjadinya dan dampak kebijaksanaan
pemerintah.

Menurut David Easton, sistem politik adalah keseluruhan interaksi yang mengakibatkan
terjadinya pembagian yang diharuskan dari nilai-nilai bagi suatu masyarakat

MODEL-MODEL SISTEM POLITIK

a. Sistem politik otokrasi tradisional


b. Sistem politik totaliter
c. Sistem politik demokrasi

Perbedaan Sistem Politik berdasarkan Kriteria yang membedakan ketiga sistem politik tersebut
dari lima hal:

1. faktor kebaikan bersama

a. Sistem Politik Otokrasi Tradisional


- Mengutamakan stratifikasi ekonomi, kurang menekankan pada persamaan
- Kebebasan politik individu dibatasi, menekankan perilaku yang menuruti kehendak
penguasa
- Mengutamakan kolektivisme atas dasar kekerabatan daripada invidualisme

b. Sistem Politik Demokrasi


- Persamaan kesempatan politik setiap individu dijamin oleh hukum
- Menekankan persamaan kesempatan ekonomi yang dila-kukan oleh setiap individu
- Adanya ketegangan dalam penca-paian tujuan-tujuan yang bersifat mate-rial dengan
yang bersifat moralitas

c. Sistem Politik Totaliter


- Prinsip sama rasa dalam bidang ekonomi
- Sekuralisme radikal, agama digantikan ideologi yang doktriner dan eskataologis
- Kebebasan politik individu dan hak-hak sipil untuk mengkiritk penguasa tidak dijamin
- Menekankan kemerdekaan nasional
- Menjamin kebutuhan material, khususnya kebutuhan pokok
- Kepentingan individu tunduk kepada kehendak partai, negara dan bangsa (kolektivisme)

2. faktor identitas bersama

a. Sistem Politik Otokrasi Tradisional


- Faktor primordial, seperti suku bangsa, ras dan agama yang mempersatukan masyarakat
- Ikatan primordial terwujud dalam diri seorang pemimpin yang dominan (otokrat),
seperti sultan, raja atau kaisar
-
b. Sistem Politik Totaliter

- Faktor sakral yang berupa ideologi yang mempersatukan masyarakat


- Penanaman idelogi oleh penguasa dengan jalan inoktrinasi
c. Sistem Politik Demokrasi

- Faktor permersatu masyarakat berupa beratu dalam perbe-daan Bhineka Tunggal Ika,
Unity in Diversity
- Masyarakat terikat pada sub kultur yang dimilikinya dan sekaligus teri-kat pada suatu
dasar dan tujuan bersama

3. Faktor hubungan kekuasaan

a. Sistem Politik Otokrasi Tradisional

- Kekuasaan bersifat pribadi, negatif dan sebagian kecil yang consensus


- Masyarakat mengalami kesukaran untuk melakukan pengawasan terhadap penguasa
- Otokrat memerintah berdasarkan tradisi dan paksaan

b. Sistem Politik Demokrasi

- Distribusi kekuasaan yang relatif merata diantara kelompok sosial dan lembaga
pemerintahan
- Adanya persaingan dan saling kontrol antar kelompok sosial, antara lembaga
pemerintah, serta antara kelompok social

c. Sistem Politik Totaliter

- Kekuasaan dimonopoli dan dilaksanakan secara sentral dengan partai tunggal


- Kekuasaan paksaan dilaksanakan oleh militer dan polisi rahasia
- Partai diorganisis secara hierarkis oleh pemimpin Negara

4. Faktor legimitas kewenangan

a. Sistem Politik Otokrasi Tradisional

- Kewenangan bersumber dan berdasarkan pada tradisi


- Kepemimpinan karena keturunan
- Tradisi selalu dipelihara oleh keturunan otokrat dengan mitos, legenda dan simbol
tertentu

b. Sistem Politik Totaliter

- Kewenangan pemimpin didasarkan pada perannya sebagai ideologi, penafsir dan


pelaksana ideology
- Rakyat mematuhi pemerintahan karena kekuasaan paksaan yang sangat luas dan
mendalam

c. Sistem Politik Demokrasi

- Kewenangan didasarkan pada prinsip rule of law yang diatur dalam konstitusi
- Adanya jaminan hak- hak dan kewajiban warga negara

5. Faktor hubungan ekonomi dan politik

a. Sistem Politik Otokrasi Tradisional

- Tanah dikusai oleh tuan tanah yang merupakan kaki tangan otokrat
- Tidak ada perubahan politik di pedesaan, karena akses politik dikusai oleh tuan tanah
- Upah buruh rendah

b. Sistem Politik Demokrasi

- Peran masyarakat dan pemerintah dalam bidang ekonomi dilaksanakan secara seimbang
- Adanya prosedur dan mekanisme penentuan kebijaksanaan pemerintah berdasarkan
kedaulatan rakyat

c. Sistem Politik Totaliter

- Partai tunggal mengendalikan kegiatan ekonomi


- Kegiatan ekonomi yang diprakarsai individu atau swasta dilarang
- Distribusi kebutuhan pokok relatif merata
- Dalam perkembangannya produksi barang dan jasa menu-run, karena motivasi pekerja
rendah dan aparat partai berubah menjadi kelas pengu-asa yang konservatif

Sistem Politik Oligarki

Secara konseptual, istilah Oligarki telah lama dikenal dalam studi politik. Istilah ini sudah muncul
sejak jaman Yunani Kuno hingga era sekarang. Konsep oligarki di era modern, tidak bisa dilepaskan dari
tiga orang pakar politik Indonesia: Vedi R Hadiz, Richard Robison, dan Jeffrey Winters. Karya Robison dan
Hadiz, Reorganising Power: The Politics of Oligarchy in the Age of Markets, dan karya Winters berjudul
Oligarchy, menekankan keunggulan sumber daya material sebagai kekuatan politik maupun kekuatan
ekonomi. Karya-karya tersebut secara teoretis berbeda dengan konseptualisasi oligarki yang muncul dari
tradisi teori kekuasaan elite dan teori elite dalam ilmu politik dan sosiologi.

Hadiz dan Robison menulis tema oligarki untuk menjelaskan fenomena ekonomi-politik di
Indonesia pasca-Soeharto. Teori oligarki digunakan untuk menggambarkan kekuatan-kekuatan yang
menjadi lingkar inti kekuasaan di Indonesia, yang mendominasi struktur ekonomi dan struktur politik
Indonesia pasca-Orde Baru (Hadiz dan Robison, 2004).

Sementara Jeffrey A. Winters menekankan motif mengejar kekayaan pribadi dalam mengidentifikasi
oligark. Oligark adalah mereka yang menggunakan harta untuk mempertahankan kekayaannya.Ia selalu
berupa individu, bukan lembaga atau instansi. Sedangkan oligarki merupakan politik mempertahankan
kekayaan oleh mereka yang kaya. Oligarki, bagi Winters, tidak selalu merujuk kepada tindakan politik yang
dilakukan oligark. Dengan kata lain, dalam koridor pemikiran Winters, seorang oligark tak selalu mesti
punya motif politik.

Studi lain yang juga berkutat pada tema oligarki dilakukan oleh Nimrod Raphaeli ketika berbicara
soal Saudi Arabia. Raphaeli melihat fenomena penguasaan sumber daya ekonomi dan keuangan oleh elit
monarki Saudi.Dalam struktur politik monarkis Saudi Arabia, posisi istana memang sangat sentralistik dan
berkuasa.Pemusatan kekuasaan ini tidak hanya terjadi secara politik, tetapi menjalar pada penguasaan
kapital oleh pangeran dan kerabat Raja (Raphaeli, 2003: 28).

Dari beberapa literatur di atas, disimpulkan bahwa oligarki dapat dipandang dari dua sisi. Pertama,
dari sisi politik, oligarki merupakan pemusatan kekuasaan pada segelintir elit yang menjalankan urusan
publik dengan mekanisme mereka. Hal ini dapat dilihat dari teori Michels tentang hukum besi oligarki
atau cerita mengenai rejim otoriter seperti Saudi Arabia atau Indonesia era Orde Baru. Kedua, dari sisi
ekonomi-politik, oligarki merupakan relasi kekuasaan yang memusatkan sumber daya ekonomi pada
segelintir pihak, dalam konteks ini relasi antara kaum industriawan dan elit politik yang saling
menguntungkan secara timbal-balik. Cerita mengenai the iron triangle di Amerika Serikat atau oligarki
bisnis Rusia masuk dalam kategori ini.