Anda di halaman 1dari 36

RESUME

1. Keberbagaian Individu (Individual Variation)


A. Pengertian Individu
Manusia atau individu adalah Makhluk yang dapat di pandang dari berbagai
sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi objek
filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek
material yang memepersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan
berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang
berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang
dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya.
Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik
haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya
dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakekat manusia sebagai
kesatuan sifat mahluk individu dan mahluk sosial. Individu berarti tidak dapat
dibagi (undivided) dan tidak dapat dipisahkan. Keberadaannya sebagai mahluk
yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-
cirinya yang khusus tersebut.1

B. Pengertian Perbedaan Individu


Bermacam-macam aspek perkembangan individu, ada dua fakta yang di
kenal dan menonjol, yaitu: dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan
garis keturunan ibu.
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity)
dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan
merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang
menayngkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis.2
Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka
secara berkesinambungan dipengaruhi oleh macam-macam faktor lingkungan di
sekitarnya yang merangsangpertumbuhan dan perkembangannya.
1 Kholidah, Nur Enik. 2012. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Upy. Hal.21

2 Sugihartono, Dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Uny Press. Hal 30

1
1. Semua manusia mempunyai unsur- unsur kesamaan di dalam pola
perkembangannya.
2. Di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan
manusia secara biologis dan sosial, tiap-tiap individu mempunyai
kecenderungan berbeda.
Ciri serta sifat atau karakteristik antara orang satu dengan yang lain
berbeda-beda tidaklah sama. Perbedaan tersebut di sebut perbedaan individu da
perbedaan individual.
Menurut Lindgren (1980) makna perbedaan dan perbedaan individual
menyangkut tentang variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik dan
psikilogis. Perbedaan Individual menurut Chaplin (1995:244) adalah sebarang
sifat atau perbedaan kuantitatif dalam suatu sifat, yang bisa membedakan satu
individu dengan individu lainnya. Gerry (1963) dalam buku perkembangan
peserta didik karya Sunarto dan B. Agung Hartono mengategorikan perbedaan
individual seperti berikut:
1. Perbedaan fisik, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran,
penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan
suku.
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4. Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar.
5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

C. Sumber Perbedaan Individu


Sumber perbedaan individu dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut
adalah faktor bawaan dan faktor lingkungan. Untuk lebih jelasnya kami akan
membahas satu per satu.
1. Faktor Bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang diturunkan melalui
pewarisan genetic oleh orangtua. Pewarisan genetik ini dimulai saat terjadinya
pembuahan. Menurut Zimbardo dan Gerig (1999) penyatuab antara sebuah
sperma dab sebuah sel telur hanya menghasilkan satu diantara milyaran
kemungkinan kombinasi gen. Salah satu kromosom yaitu kromosom sex
merupakan pembawa kode gen untuk perkembangan karakteristik fisik laki-laki
atau perempuan. Kkode untuk kita mendapatkan kromosom X dari ibu, dan salah

2
satu dari kromosom X atau Y dari ayah. Kombinasi XX merupakan kode untuk
perkembangan fisik perempuan, dan kombinasi XY merupakan kode untuk
perkembangan fisik laki-laki.
Meskipun rata-rata kita memiliki 50 persen gen yanbg sama dengan saudara
kita, kumpulan gen kita tetap khas kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan
gen ini merupakan satu alasab mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik
secara fisik, psikologis, maupun perilaku, bahkan dengan saudara kita sendiri.
Selebihnya adalah dipengaruhi oleh lingkungan, karena kita pernah berada di
lingkungan yang sama persis. (Zimbardo & Gerig, 1999).

2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor yang mengakibatkan perbedaan individu
yang berasal dari luar diri individu. Faktor lingkungan berasal dari beberapa
macam yaitu status sosial ekonomi orang tua, pola asuh orang tua, budaya, dan
urutan kelahiran.

3. Budaya
Merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia, atau dapat juga
didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam masyarkat
memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik dan atau penting dalam
masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma. Norma
masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota
masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.

4. Urutan kelahiran
Walaupun masih menjadi kontroversi akan tetapi karakteristik kepribadian
seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran. Anak yang lahir sulung atau anak
pertama cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan
dengan adik-adiknya. Anak tengah sering menjadi mediator dan pecinta damai.
Anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Anak tunggal atau si
anak semata wayang biasanya sering merasa terbebani dengan harapan yang
tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri. Mereka lebih percaya
diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda

3
pada individu dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya berdasarkan urutan
kelahiran.

D. Bidang-bidang perbedaan
Sebab-sebab dan pengaruh perbedaan individu ini dan sejauh mana
tingkat tujuan pendidikan, isi dan tekhnik-tekhnik pendidikan di tetapkan,
hendaknya di sesuaikan dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Antara lain
perbedaan tersebut seperti:
1. Perbedaan Kognitif
Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi
tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Yang berarti ia
menguasai segala segala sesuatu yang di ketahui, dalam arti dirinya terbentuk
suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk
menjadi miliknya.

2. Perbedaan Kecakapan Berbahasa


Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangatpenting
dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda.
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan
pemikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis,
dan sistematik. Kemampuan berbahasa sangat di pengaruhi oleh faktor kecerdasan
dan faktor lingkungan serta faktor fisik( organ bicara).

3. Perbedaan Kecakapan Motorik


Kecakapan motorik atau kemampuan psiko-motorik merupakan
kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan
oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

4. Perbedaan Latar Belakang


Perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat
memperlancar atau memperhambat prestasinya, terlepas dari potensi untuk
menguasai bahan.

5. Perbedaan Bakat

4
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir.
Kemampuan tersebut akan berkebang dengan baik apabila mendapatkan
rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama,
maka lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang., dalam arti
ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.

6. Perbedaan Kesiapan Belajar


Perbedaan latar belakang, yang meliputi perbedaan sosio-ekonomi, sosio-
cultural, amat penting artinyabagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada
umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat persiapan yang sama dalam
menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

7. Perbedaan Jenis Kelamin dan Gender


Istilah jenis kelamin dan gender sering dipertukarkan dan dianggap sama.
Jenis kelamin merujuk kepada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan,
sementara gender merupakan aspek psikososial dari laki-laki dan perempuan
berupa perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun secara sosial
budaya. Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku,
kecenderungan, sifat, dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seorang laki-
laki atau perempuan dalam kebudayaan yang ada.

8. Perbedaan Kepribadian
Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas yang
menetukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Atkinson, dkk,
1996). Kepribadian sesesorang dapat kita tinjau melalui dua model yaitu model
big five dan model brigg-myers.
a. Model Big Five
Merupakan model yang diajukan oleh Lewis Goldberg (1993). Yang terdiri dari
model kepribadian lima dimensi.
1. Extroversion
Orang tipe ini menikmati keberadaannya bersama orang lain, penuh energi,
serta mengalami emosi positiv.
2. Agreeableness
Merupakan individu yang penuh perhatian, bersahabat, dermawan, suka
menolong, dan mau menyesuaikan keinginannya dengan orang lain.
3. Conscientiousness

5
Individu ini selalu menghindari kesalahan dan mencapai kesuksesan tingkat
tinggi melalui perencanaan yang penuh tujuan dan gigih. Mereka terlihat
cerdas dan dapat dipercaya. Akan tetapi individu ini juga terlihat kaku dan
membosankan.
4. Neoriticism atau sebaliknya stabilitas emosional
Orang yang neoriticsm-nya tinggi memiliki reaksi emosi negativ. Sedangkan
orang yang memiliki neoriticsm rendah cenderung tidak mudah terganggu,
kurang reaktif secara emosi, tenang, serta bebas dari emosi negative yang
menetap.
5. Opennes to experience
Individu ini cenderung terbuka secara intelektual selalu ingin tau, memiliki
apresiasi terhadap seni, serta sensitive terhadap kecantikan.

b. Model Brigg-Myers
Dikemukakan oleh Isabel Brigg Myers dan Katharine C. Model ini meliputi empat
dimensi yaitu:

1. Extraversion (E) versus Introversion (I)


Orang yang introvert menemukan tenaga didalam ide, konsep, dan abstraksi.
Mereka selalu ingin memahami dunia dan merupakan pemikir reflektif serta
konsentrator. Sementara orang yang extrovert, menemukan energy pada orang dan
benda benda. Mereka memilih berinteraksi dengan orang lain dan berorientasi
pada tindakan.
2. Sensing (S) versus Intuition (N)
Orang sensing berorientasi pada detail, menginginkan fakta, dan mempercayainya.
Orang-orang yang intuitif mencari pola dan hubungan diantara fakta fakta yang
diperoleh.
3. Thingking (T) versus Feeling (F)
Individu yang thingking menghargai kebebasan, mereka membuat keputusan
dengan mempertimbangkan kriteria objektiv dan logika dari situasi. Individu yang
feeling menghargai harmoni, mereka memusatkan pada nilai-nilai dan kebutuhan-
kebutuhan kemanusiaan pada saat membuat keputusan atau penilaian.
4. Judging (J) dan Perceptive (P)
Orang orang judging cenderung tegas, penuh rencana, dan mengatur diri. Mereka
fokus untuk menyelesaikan tugas hanya ingin mengetahui esensi, dan bertindak
cepat. Orang orang perceptive selalu ingin tahu, dapat menyesuaikan diri, dan
spontan.

6
Gaya belajar adalah pola perilaku spesifik dalam menerima informasi baru dan
mengembangkan ketrampilan baru, serta proses menyimpan informasi atau
ketrampilan baru (Sarasin, 1999). Menurut Horne (2005) terdapat beberapa model
atau pendektan gaya belajar:
a. Modalitas belajar
b. Belajar dengan otak kiri otak kanan
c. Belajar sosial
d. Lingkungan belajar
e. Emosi belajar
f. Belajar kongkrit dan abstrak
g. Belajar global dan analitik
h. Multiple intelligence

B. KEANEKARAGAMAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENDIDIKAN.


Kebudayaan dan Pendidikan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-
hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris,
kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah
atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata
culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli

Berikut akan dijelaskan beberapa pengertian Kebudayaan yang dikemukakan oleh


para ahli:3
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt

3 Jpis, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2, Edisi Desember 2014 11

7
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang
sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social,
ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan
warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia dengan relajar.
4. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia merupakan hasil perjuangan manusia
terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti
kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran
didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
5. Francis Merill
1. Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
2. Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh seseorang
sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi
simbolis.
6. Bounded et.al
Kebudayaan merupakan sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan
transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya
simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan
keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan
tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media,
pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
7. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan merupakan sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau
aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah
memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
8. Robert H Lowie

8
Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diperoleh individu dari
masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic,
kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri
melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan
formal atau informal.
9. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan merupakan seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda
ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi
sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam
kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan
kebudayaan merupakan benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi,
seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan
dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan merupakan sarana hasil karya, rasa, dan
cipta masyarakat.4

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,


aktivitas, dan artefak.5

1. Gagasan (Wujud ideal)


2. Aktivitas (tindakan)
3. Artefak (karya)

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang


satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh:

4 Selo Soemardjan Dan Soelaeman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi Jakarta:
Yayasan Penerbit Fe Ui.

5 Http://E-Journal.Uajy.Ac.Id/2374/3/2ta12077.Pdf

9
wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas)
dan karya (artefak) manusia.
Secara historis-religius bahwa pendidikan terjadi lebih dahulu dari
kebudayan. Dari sisi lain kemudian disebutkan bahwa pendidikan merupakan
bagian dari kebudayaan, dan pendidikan tidak dapat dari kebudayaan. Keduanya
merupakan gejala dan faktor pelengkap dan penting dalam kehidupan
manusia.Sebab manusia sebagai makhluk alam, juga berfungsi sebagai makhluk
kebudayaan atau makhluk berfikir (human rational).
Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia.
Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi
atau berlangsung suatu proses pendidikan. Pendidikan telah ada sepanjang
peradaban manusia. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia
melestarikan hidupnya. Tiada kehidupan masyarakat tanapa adanya kegiatan
pendidikan.
Meskipun pendidikan merupakan gejala umum dalam setiap kehidupan
masyarakat, namun terlihat adanya perbedaan praktek kegiatan pendidiksn dalam
masyarakat masing-masing, yang disebabkan oleh adanya falsafah/pandangan
hidupnya. Sebagai contoh, praktek pandidikan yang dilakukan masyarakat zaman
pertengahan sangat mementingkan norma kehidupan keagamaan, sedang
masyarakat zaman Renaissance lebih mementingkan nilai-nilai kehidupan
duniawi.
Pendidikan di Indonesia pada zaman penjajahan kolonial Belanda juga
menampakkan perbedanya dsalam praktek pendidikan oleh pemerintahan Hindia
Belanda dengan praktek pendidikan Indonesia. Pendidikan Hindia Belanda
membuat strata-strata masyarakat agar dapat menjadi ajang politik adu domba
dan pecah belah, sedangkan praktek pendidikan Indonesia seperti Taman Siswa
berdasarkan asas kebangsaan dan pendidikan pondok-pondok pesantren
berdasarkan agama Islam, dan sebagainya.
Kini praktek pendidikan zaman Indonessia merdeka yang berdasarkan
falsafah dan asas pancasila, harus dilaksanakan dalam dalam lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Setiap pendidik wajib mewujudkan falsafah Pancasila
dalam segala kegiatan pendidikan, menuju terwujudnya masyarakat yang sejahtera
berdasarkan Pancasila.

10
Dalam pembangunan budaya nasional, guru perlu membuat suasana yang
mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap serta pengaruh budaya asing yang
bertentangan dengan nilai budaya bangsa dilhilangkan karena ini akan dapat
merusak persatuan dan kesatuan baik di masyarakat maupun di bangsa.
Dalam pembangunan budaya nasional, guru perlu membuat suasana yang
mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja keras. Disiplin, sikap
menghargai prestasi, berani bersaing, serta mampu menyesuaikan diri dan kreatif.
Selain itu perlu menumbuhkan budaya menghormati dan menghargai orang yang
lebih tua, budaya belajar, budaya ingin maju, dan budaya ilmu pengetahuan dan
teknologi serta perlu dikembangkan pranata sosial yang dapat mendukung proses
pemantapan budaya bangsa.
Fungsi sekolah yang utama ialah pendidikan intelektual yakni memperoleh
ilmu dan pengetahuan.

Ciri-ciri Kebudayaan
Adapun ciri-ciri dari kebudayaan merupakan :
1. Kebudayaan merupakan produk manusia. Artinya keudayaan merupakan
ciptaan manusia bukan ciptaan Tuhan atau dewa. Manusia merupakan
pelaku sejarah dan kebudayaannya.
2. Kebudayaan selalu bersifat sosial. Artinya kebudayaan tidak pernah
dihasilkan secara individual, melainkan oleh manusia secara bersama.
Kebudayaan merupakan suatu karya bersama bukan karya perorangan.
3. Kebudayaan diteruskan lewat proses belajar. Artinya kebudayaan itu
diwariskan dari generasi yang satu kegenerasi yang lainnya melalui suatu
proses belajar. Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu karena
kemampuan belajar manusia Tampak disini bahwa kebudayaan itu selalu
bersifat historis, artinya proses yang selalu berkembang.
4. Kebudayaan bersifat simbolik, sebab kebudayaan bersifat ekspresi,
ungkapan kehadiran manusia. Suatu ekspresi manusia, kebudayaan ini
tidak sama dengan manusia. Kebudayaan disebut simbolik, sebab
mengekspresikan manusia dan segala upayanya untuk mewujudkan
dirinya.

11
5. Kebudayaan merupakan sistem pemenuhan berbagai kebutuhan manusia.
Tidak seperti hewan, manusia memenuhi segala kebutuhannya dengan
cara-cara yang beradab, atau dengan cara-cara manusiawi.

Menurut Kerber dan Smith (imran Manan, 1989) menyebutkan ada 6 fungsi utama
kebudayaan dalam kehidupan manusia yaitu :6
a. Penerus keturunan dan pengasuh anak
b. Pengembangan kehidupan ekonomi
c. Transmisi budaya
d. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
e. Pengendalian sosial
f. Rekreasi

Sekolah sebagai pusat Kebudayaan


Mempelajari dan memperhatikan sekolah sebagai pusat kebudayaan diharapkan
akan memperoleh manfaat ganda yaitu :
a. sebagai guru/dosen dapat membantu membuat lingkungan sekolah dimana
ia bekerja dan memperoleh nafkah serta mendamarbaktikan dirinya pada
kehidupan.
b. Sebagai guru/dosen dapat membantu para peserta didik agar dapat
menghayati bahwa lingkungan sekolah merupakan pusat kebudayaan, bekal-
bekal untuk membuat lingkungan sekolah pada tempat mereka bekerja
nanti, dapat juga merupakan pusat kebudayaan yang bermanfaat bagi
lingkungan sosialnnya dan lingkungan kemanusiaan.

Agar dapat berperan secara aktif dalam mewujudkan sekolah sebagai pusat
kebudayaan, maka beberapa hal perlu dilakukan oleh para pendidik, beberapa hal
tersebut antara lain :
1. Setiap pendidik hendaknya bersikap inovatif serta peka terhadap
perkembangan dan tuntutan masyarakat, terutama dalam era globalisasi.
2. Pendidik harus mampu membelajarkan peserta didiknya dengan membuat
suasana belajar yang menarik.

6 Manan, Imran. 1989. Anthropologi Pendidikan Suatu Pengantar (Ter. George F. Kneller).
Jakarta: P2lptk Dirjen Dikti.

12
3. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan baik, pendidik
hendaknya telah menguasai dan mengoperasikan kompetensi
profesionalnya.
4. Pendidik hendaknya dapat menjadi teladan bagi para pesreta didik serta
warga masyarakat sekitarnya dalam rangka mencioptakan sekolah sebagai
pusat kebudayaan.
5. Pendidik hendaknya mampu menumbuhkembangkan kesadaran para
peserta didiknya agar selalu ingin belajar, baik di sekolah maupun diluar
sekolah.

C. GURU DAN TUGAS SEORANG GURU


a. Siapakah guru?
Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah orang yang memikul
tanggung jawab untuk membimbing. Pendidik tidak sama dengan pengajar,
sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid.7
Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia
berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang
diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab
menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk
kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.
Untuk menjadi seorang pendidik yang baik, Imam Al-Ghazali menetapkan
beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang guru.
Pertama, Jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari
seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih
saying
Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap
orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih
payahnya mengajarnya itu. Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW.yang
mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat
bertaqarrub kepada Allah.

7 https://www.Academia.Edu/20255510/Seorang_Guru_Adalah_Seorang_Pendidik

13
Ketiga, seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah
dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya.Ia tidak boleh
membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum
menguasai pelajaran yang sebelumnya
Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan
cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan
sebagainya.
Kelima, seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau
panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru
harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru
hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau
spesialisasinya.Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru
ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik.8
Keenam, seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui
adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan
memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu.
Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam
mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia
sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal
muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal
muridnya.
Ketujuh, seorang guru yang baik menurut Al-Ghazali adalah guru yang di
samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya,
juga memahami bakat, tabiat dan kejiawaannya muridnya sesuai dengan tingkat
perbedaan usianya.
Kedelapan, seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh
kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya
sedemikian rupa.
Al-Ghazali berpendapat bahwa guru yang dapat diserahi tugas mendidik
adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik
akhlaknya dan kuat fisiknya Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki

8 Ghazali, Imam, Al-. Ihya Ulum Al-Din. (T.T: Kitab Al-Syuab, Tth)

14
berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia
dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya
ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak
muridnya.

PROFESIONALISME GURU

Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih


(Umardi, 1999 : 10). Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-
nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-
keterampilan pada peserta didik. Dengan kata lain, seorang guru dituntut mampu
menyelaraskan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses
pembelajaran.
Hal ini sejalan dengan yang diamanatkan dalam Pasal 1 ayat 1 UU RI No.
14/2005 tentang guru dan dosen, dimana seorang guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pada tingkat pelaksanaan
pembelajaran di kelas, gurulah yang sangat berperan dalam membawa peserta
didiknya ke arah pembelajaran yang diisyaratkan dalam kurikulum.

Ayat Tengtang PROFESIONALISME GURU :







Artinya : Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi
Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik

15
perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-
Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi
mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.
(Qs.Al-Faathir : 10)



: dan
Artinya jika
Kami
suatu
hendak membinasakan negeri,
Maka
Kami

perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya


mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka
sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian
Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al Israa':16)
Selain harus melaksanakan beban kerja utama seperti yang tercantum
dalam Pasal 35 ayat 1 UU RI No. 14/2005, yaitu merencanakan, melaksanakan,
dan menilai pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta
melaksanakan tugas tambahan, saat ini guru juga dituntut kreatif menciptakan
suasana belajar yang inovatif. Guru diharapkan mampu menghasilkan individu
masa depan Indonesia yang memiliki dasar-dasar karakter yang kuat, kecakapan
hidup, dan dasar-dasar penguasaan IPTEK (T. Raka Joni, 2006).
Kreativitas guru bukan hanya dalam hal penerapan IPTEK, tetapi juga
pengem-bangan metode-metode pembelajaran yang sederhana tetapi sesuai
dengan karakter bangsa dan pengembangan materi ajar untuk memperkaya ilmu
pengetahuan. Metode pembelajaran tidak harus menggunakan peralatan yang
canggih, tetapi yang penting peserta didik termotivasi untuk belajar lebih baik.
Moh. Uzer Usman (2000 : 9, 13) menyatakan guru harus belajar terus menerus
dengan memperkaya dirinya dalam berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dapat
mengikuti perkembangan jaman dan perkembangan peserta didiknya.
PROFESI GURU
Profesi berasal dari bahasa latin proffesio yang mempunyai dua
pengertian, yaitu janji / ikrar dan pekerjaan. Dalam arti sempit, profesi berarti
kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut
daripadanya pelaksa-naan norma-norma sosial dengan baik. Dalam arti luas,

16
profesi adalah kegiatan apa saja dan siapa saja untuk memperoleh nafkah yang
dilakukan dengan suatu keahlian tertentu.9
Suatu profesi mengandung makna penyerahan dan pengabdian penuh pada
suatu jenis pekerjaan yang mengimplikasikan tanggung jawab pada diri sendiri,
masyarakat, dan profesi. Menurutnya, ciri-ciri pokok profesi : (1) pekerjaan itu
memiliki fungsi dan signifikansi sosial karena diperlukan untuk pengabdian
kepada masyarakat. Jadi profesi mutlak memerlukan pengakuan masyarakat, (2)
menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang
lama dan intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat
dipertanggungjawabkan, (3) didukung oleh suatu disiplin ilmu, bukan sekedar
common sense, (4) ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya
beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode etik, dan (5) sebagai
konsekwensi layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi
memperoleh imbalan finansial atau materiil.10
Berdasarkan pengertian dan ciri-ciri profesi tersebut, maka guru dapat
dikategorikan sebagai profesi. Profesi guru pada saat ini masih merupakan sesuatu
yang ideal bila dibandingkan dengan profesi pada bidang lain (Mohamad Ali,
1985 : 13). Bila profesi lain menjalankan tugasnya selalu dilandasi kemampuan
dan keahlian yang ditunjang dengan konsep dan teori yang pasti, maka profesi
guru tidaklah demikian. Kenakalan antara satu peserta didik dengan yang lainnya,
memerlukan penanganan yang berbeda.

Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasar-kan


prinsip-prinsip, yaitu memiliki :
1. Bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
2. Komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan
akhlak mulia.
3. Kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
tugas.

9 Yunita Maria Yeni, M. (18 Mei 2004). Profesi Guru, Antara Pengabdian Dan Tuntutan.
Sinar Harapan.

10 Supardi, D.(1998). Mngangkat Citra Dan Martabat Guru. Yogyakarta : Adicita Karya
Nusa

17
4. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
5. Tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
6. Penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
7. Kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan
dengan belajar sepanjang hayat.
8. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan,
dan
9. Organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

KOMPETENSI

Menurut asal katanya, competency berarti kemampuan atau kecakapan.


Kompetensi juga diartikan ... the state of being legally competent or qualified,
yaitu keadaan berwewenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.
Arti kompetensi guru adalah the ability of a teacher to responsibly perform his
or her duties appropriately, artinya kemampuan seorang guru dalam
melaksanakan kewajibannya secara bertanggungjawab dan layak (Muhibbin Syah,
2004 : 229).
Menurut Depdiknas, kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan nilai-
nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Arti
lainnya, kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan
kinerja yang dibutuhkan lapangan (Depdiknas, 2004 : 3 4). Dengan demikian,
kompetensi yang dimiliki setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang
sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi
sebagai guru.
Menurut Gordon (dalam Mulyasa, 2005 : 38 39), ada enam aspek atau
ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu : (1) pengetahuan
(knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, (2) pemahaman (under-
standing), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki individu, (3)
kemampuan (skill), sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas atau

18
pekerjaan yang dibebankan kepadanya, (4) nilai (value), suatu standar perilaku
yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, (5)
sikap (attitude), perasaan (senang tidak senang, suka - tidak suka) atau reaksi
terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, dan (6) minat (interest), yaitu
kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.

KOMPETENSI PROFESIONAL
Istilah profesional berasal dari kata profession (pekerjaan) yang berarti sangat
mampu melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda, profesional berarti orang yang
melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesiensi (kemampuan
tinggi) sebagai mata pencaharian (Muhibbin Syah, 2004 : 230). Jadi, kompetensi
profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam
menjalankan profesi keguruannya. Guru yang ahli dan terampil dalam
melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang kompeten dan
profesional.
Kompetensi profesional guru menggambarkan tentang kemampuan yang
harus dimiliki oleh seseorang yang mengampu jabatan sebagai seorang guru (Moh
Uzer Usman, 2000 : 14). Tidak semua kompetensi yang dimiliki seseorang
menunjukkan bahwa dia profesional, karena kompetensi profesional tidak hanya
menunjukkan apa dan bagaimana melakukan pekerjaan, tetapi juga menguasai
rasional yang dapat menjawab mengapa hal itu dilakukan berdasarkan konsep dan
teori tertentu.
Kompetensi profesional guru diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, kete-
rampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk tindakan cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seseorang yang memangku jabatan guru sebagai
profesi.11
Kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang
mencakup penguasaan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum
tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Indikator esensial dari
kompetensi ini meliputi : (1) memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum

11 Uu Ri No. 14/2005 Pasal 10 Ayat 1 Dan Pp Ri No. 19/2005 Pasal 28 Ayat 3

19
sekolah, (2) memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang koheren
dengan materi ajar, (3) memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait,
dan (4) menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPETENSI PEDAGOGIK
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan
dialogis. Secara substansi, kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya. Secara rinci jabaran dari kompetensi ini terdapat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Sub-Kompetensi dan Indikator Esensial Kompetensi Pedagogik


Subkompetensi Indikator Esensial
1. Memahami a. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-
peserta didik prinsip perkembangan kognitif.
b. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-
prinsip kepribadian.
c. Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik.
2. Merancang a. Menerapkan teori belajar dan pembelajaran.
pem-belajaran. b. Menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteris-
tik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai dan materi
ajar.
c. Menyusun rancangan pembelajaran yang berdasarkan
strategi yang telah dipilih.
3. Melaksanakan a. Menata latar (setting) pembelajaran.
pem belajaran. b. Melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4. Penilaian hasil a. Melaksanakan penilaian (asesmen) proses dan hasil bela-jar
be-lajar. secara berkesinambungan dengan berbagai metode.
b. Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk
menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level).
c. Menggunakan informasi ketuntasan belajar untuk meran-
cang program remedi atau pengayaan (enrichment).

20
d. Memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaik-
an kualitas program pembelajaran secara umum.
5. Pengembangan a. Memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berba-
peserta didik. gai potensi akademik.
b. Memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berba-
gai potensi non akademik.

Menurut Amy J. Phelps & Cherin Lee (2003), seorang guru perlu selalu
mengakses prekonsepsi tentang pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru
masa depan dan mengenali aturan mainnya. Hal ini disebabkan semakin majunya
IPTEK berdampak pula pada kemajuan masyarakat, sehingga tuntutan masyarakat
terhadap pelayanan pendidikan yang lebih baik semakin mendesak. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa seorang guru selain dituntut menguasai materi pelajaran
dengan baik, juga harus mampu mengkomunikasikan materi kepada peserta didik
dengan cara dan strategi yang baik, sehingga mudah ditangkap dan dikuasai
materi tersebut.

KOMPETENSI KEPRIBADIAN
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencer-
minkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi
teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Setiap unsur kepribadian tersebut
dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indikator esensial seperti terlihat
pada Tabel 2.

Tabel 2. Sub-Kompetensi dan Indikator Esensial Kompetensi Kepribadian


Subkompetensi Indikator Esensial
1. Memiliki a. Bertindak sesuai dengan norma hukum.
b. Bertindak sesuai dengan norma sosial.
kepribadian
c. Bangga sebagai pendidik.
mantap dan stabil d. Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma.
2. Memiliki a. Menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai
kepribadian pen-didik.
b. Memiliki etos kerja sebagai pendidik.
dewasa
3. Memiliki a. Menampilkan tindakan yang didasarkan pada
kepribadian arif. kemanfaat-an peserta didik, sekolah, dan masyarakat.
b. Menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan
bertindak.

21
4. Memiliki a. Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap
kepribadian yang pe-serta didik.
b. Memiliki perilaku yang disegani.
berwibawa.
5. Memiliki akhlak a. Bertindak sesuai dengan norma religius (intaq, jujur,
mu-lia dan dapat ikhlas, suka menolong).
b. Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik
menja-di teladan.

Seorang guru harus bertindak sesuai norma hukum dan norma sosial.
Slogan satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat nampaknya tepat. Pada
masa sekarang ini, peserta didik lebih senang diteladani daripada dinasihati.
Menurut Jean Rudduck & Julia Flutter (2004 : 74), guru yang baik adalah guru
yang memiliki sifat terpuji yang dapat diteladani, seperti manusiawi, adil,
konsisten, suka menolong peserta didik, adil, tidak pendendam, tidak egois, dan
jujur. Sifat-sifat terpuji ini merupakan bagian dari kompetensi kepribadian yang
harus dimiliki oleh seorang guru.

KOMPETENSI SOSIAL
Kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian
dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua / wali peserta didik, dan
masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dan indikator
esensial seperti nampak pada Tabel 3.

Tabel 3. Sub-Kompetensi dan Indikator Esensial Kompetensi Sosial


Subkompetensi Indikator Esensial
A. Berkomuni a. Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, seja-
kasi secara wat, dan orangtua / wali.
efektif. b. Berkomunikasi secara efektif dengan masyarakat.
B. Bergaul a. Mengembangkan hubungan secara efektif dengan pe-serta
secara didik, sejawat, orangtua / wali, dan masyarakat.
efektif b. Bekerja sama secara efektif dengan peserta didik, seja-wat,

22
orangtua / wali, dan masyarakat.

Kompetensi sosial sangat perlu dan harus dimiliki seorang guru, karena
bagaimanapun proses pendidikan itu berlangsung dampaknya akan dirasakan
bukan hanya oleh peserta didik itu sendiri tetapi juga oleh masyarakat yang
menerima dan memakai lulusannya (Moh Uzer Usman, 2000 : 15).
Diantara berbagai bentuk komunikasi, kita mengenal komunikasi edukatif,
yaitu komunikasi yang berlangsung dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
dan pengajaran (Sardiman, A. M., 2004 : 1). Hasil komunikasi edukatif
diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk membangun struktur kognitif
baru yang dapat menjadi dasar tindakan yang akan dilakukan. Bila hal ini dapat
dilakukan oleh setiap peserta didik, maka pengetahuan yang mereka miliki bukan
hanya sekedar school knowledges, tetapi sudah sampai pada action knowledges.
Mendidik memang seharusnya bertujuan untuk mengubah perilaku peserta didik
yang diawali dengan perubahan struktur kognitif peserta didik, sehingga menjadi
inner knowledges yang dapat ditunjukkan dalam bentuk action knowledges.

KIAT-KIAT MENJADI GURU PROFESIONAL


1. DITINJAU DARI KOMPETENSI PROFESIONAL GURU
Seorang guru yang profesional sangat dituntut untuk dapat menguasai
materi secara mendalam, struktur, konsep, dan metode keilmuan yang koheren
dengan materi ajar, hubungan konsep antar mata pelajaran terkait, dan mampu
menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
Semua kiat tersebut hanya dapat dilakukan oleh guru yang memang
memiliki kemauan dan kesadaran yang tinggi untuk maju disertai keinginan untuk
dapat menjadi guru yang profesional.

23
2. DITINJAU DARI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU
Seorang guru yang ahli di bidang ilmu tertentu belum tentu ahli dalam
mengajarkan kepada orang lain. Hal ini terbukti ketika seorang ahli matematika
dari LIPI diminta mengajar matematika agar prestasi matematika peserta didik
meningkat. Kenyataannya ahli tersebut gagal mengajar dan mengakui bahwa ia
ahli dalam ilmu matematika, bukan ahli dalam mengajarkan matematika. (Dedi
Supriadi, 1998 : 88).
Guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program
belajar-mengajar. Mengelola di sini berarti menyangkut bagaimana seorang guru
mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup
pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan
sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan
pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.12

3. DITINJAU DARI KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU


Guru dikatakan profesional jika mereka memiliki kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak
mulia. Hal ini dapat terbentuk, jika dalam setiap melaksanakan tugas guru selalu
mem-pertimbangkan segala tindakannya dari segala aspek yang melingkupinya.
Ada bebe-rapa kiat untuk menjadi guru profesional ditinjau dari kompetensi
kepribadian, yaitu :
a. Berusaha menjadi guru yang taat aturan, seperti datang mengajar tepat
waktu, berpakaian rapi dan sopan.
b. Menunjukkan rasa empati terhadap peserta didik yang sedang menghadapi
masalah dan memiliki kepedulian yang tinggi untuk membantunya.
c. Menunjukkan kebanggaan sebagai guru dengan tampilan mengajar yang
selalu segar, bersemangat, dan menyenangkan, meski guru sedang memiliki
masalah.
d. Menunjukkan konsistensi dalam berperilaku sesuai aturan yang berlaku.

12 A.M Sardiman. (2004). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja
Grafindo Persada

24
e. Menerapkan pendekatan kasih sayang dalam mengajar (memberi tanpa
meminta imbalan pada peserta didik).
f. Berprestasi yang dapat membanggakan peserta didik dan sekolah.
g. Terbuka pada kritik yang disampaikan peserta didik, teman sejawat, dan
siapapun yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan yang dimiliki.
h. Menunjukkan keikhlasan dalam mengajar dan membimbing peserta didik
yang ditunjukkan melalui kesabaran menjawab setiap pertanyaan, melayani
mereka yang kesulitan, siap menolong kapanpun dibutuhkan.
i. Berusaha menunjukkan keteladanan dengan berperilaku dan bertindak
yang terpuji, seperti sopan, ramah, murah senyum, supel, adil, jujur, objektif,
empati.
j. Sesekali memberikan selingan siraman rohani berupa nasihat positif
yang rasi-onal sebagai pembentukan kepribadian dan perilaku siswa yang
baik.

4. DITINJAU DARI KOMPETENSI SOSIAL GURU


Hal ini berarti selain ia harus mengembangkan profesional yang berkaitan
dengan pengembangan diri pribadi juga harus mengembangkan kompetensinya
yang berkaitan dengan kehidupan sosial, karena sesungguhnya ia bagian dari
masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu seorang guru yang profesional dituntut
untuk dapat bersosialisasi dengan baik. Salah satu modal bersosialisasi yang baik
adalah kepandaian dalam berkomunikasi secara efektif, bai dengan peserta didik,
teman sejawat, maupun orangtua / wali orangtua dan masyarakat. Selain
berkomunikasi juga mengembangkan hubungan secara efektif dengan mereka.

Untuk menuju kepada profesionalisme yang berkaitan dengan kompetensi sosial


ini, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Banyak bergaul dengan siapa saja tanpa memandang tingkatan usia dan
status ekonomi. Dengan demikian ketika melakukan pendekatan dengan
berbagai kalangan dapat beradaptasi dengan cepat.

25
b. Sering mengikuti aktivitas ilmiah / seminar, baik sebagai peserta maupun
penyaji, sehingga memiliki keberanian di dalam mengemukakan gagasan /
ide.
c. Sering berbincang-bincang dengan peserta didik di saat-saat senggang tanpa
harus dalam suasana formal. Seringkali guru takut kehilangan wibawa
ketika melakukan hal tersebut, namun hal itu tidak akan terjadi ketika ketika
mengajar di kelas kita mampu membuat penciptaan citra diri yang positif
sebagai pengajar / pendidik.
d. Menunjukkan keakraban melalui komunikasi yang bersahabat, sehingga
peserta didik merasa nyaman dan tanpa ragu curhat bila ada masalah.
e. Siap membantu peserta didik kapanpun diperlukan tanpa membeda-
bedakan.
f. Memperlakukan peserta didik sesuai dengan kedudukannya, tidak
meremehkan, dan selalu menghargai apapun keadaannya.
g. Memiliki kemampuan empati (tanggap dan peka terhadap keadaan anak
didik) yang ditumbuhkan dengan cara sering berkomunikasi dan
memperhatikan mereka.
h. Guru perlu mengetahui dunia trend-nya peserta didik, sehingga dapat
melakukan komunikasi yang baik, lancar, dan nampa gaul di mata peserta
didik.
i. Sebaiknya guru tidak mudah marah tanpa alasan yang jelas, karena akan
meng-ganggu komunikasi selanjutnya dengan peserta didik.

A. PENGERTIAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris


Learning Disability yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability
diterjemahkan kesulitan untuk memberikan kesan bahwa anak sebenarnya masih

26
mampu untuk belajar. Istilah lain learning disabilities adalah learning difficulties
dan learning differences. Ketiga istilah tersebut memiliki nuansa pengertian yang
berbeda. Di satu pihak, penggunaan istilah learning differences lebih bernada
positif, namun di pihak lain istilah learning disabilities lebih menggambarkan
kondisi faktualnya. Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka
digunakan istilah Kesulitan Belajar. Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan
belajar , istilah kata yakni disfungsi otak minimal ada yang lain lagi istilahnya
yakni gannguan neurologist (Suryani, 2010: 33).
NJCLD (National Joint Committee of Learning Disabilities) dalam Lerner,
(2000) berpendapat bahwa kesulitan belajar adalah istilah umum untuk berbagai
jenis kesulitan dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
Kondisi ini bukan karena kecacatan fisik atau mental, bukan juga karena pengaruh
faktor lingkungan, melainkan karena faktor kesulitan dari dalam individu itu
sendiri saat mempersepsi dan melakukan pemrosesan informasi terhadap objek
yang diinderainya. Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan
kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki
ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan
dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan
perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik
Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Mazuvo konsep learning difficulties
atau kesulitan belajar merujuk pada kesulitan khusus untuk ketrampilan
keaksaraan, bahasa dan prestasi akademik dibawah potensi siswa.
Kesulitan belajar juga ditujuhkan pada siswa yang lambat dalam kecakapan
akademik umum tapi tidak selalu memiliki dasar fisik yang tidak jelas/cacat,
maupun tidak disebabkan oleh konteks sosial yang berbeda. Kesulitan belajar
tertentu sering dikenal dengan kesulitan belajar khusus/spesifik.
Defenisi yang dikutip dari Hallahan, Kauffman, dan Lloyd (1985): Kesulitan
belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis
yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.
Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan
mendengarkan , berpikir , berbicara, membaca, menulis, mengeja , atau berhitung.
Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gannguan perseptual, luka
pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup

27
anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari
adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena
tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan,
budaya, atau ekonomi.

Federal law atau hukum federal/IDEA tahun 1997 (Pujaningsih, 2011)


Istilah kesulitan belajar spesifik menerangkan semua anak yang mengalami
gangguan pada satu atau lebih proses psikologis dasr yang melibatkan
pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dimana gangguan yang
terjadi dapat termanifestasikan menjadi kemampuan yang tidak sempurna untuk
mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau mengerjakan
perhitungan matematika. Yang termasuk di dalam istilah ini diantaranya gangguan
perseptual, cedera otak, disfungsi minimal otak, disleksia, dan afasia
perkembangan.

B. MEMBELAJARKAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Dalam artikel Mavuso digambarkan kegiatan guru di Afrika untuk


mendukung belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar khusus/spesifik.
Mavuso menyimpulkan kegiatan guru di sekolah dalam membantu/mendukung
siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam empat kegiatan pokok yakni:

1. Give learners extra work, translate the work and re-teach as a learning
support strategy.
Bentuk dukungan guru berupa memberikan waktu luang diluar jam
pelajaran atau luar jam sekolah. Guru memberikan arahan pada materi yang
sudah diberikan sebelumnya dan tentunya dengan tugas tambahan yang
harus dikerjakan siswa untuk mengusai materi pembelajaran tertentu.
Digambarkan supaya dukungan ini dapat berhasil dengan baik membutuhkan
peninjauan proses pelatihan dengan mediator kebijakan dari tingkat provinsi
dan kabupaten.
Bila dicerna dari bentuk dukungan belajar ini di Indonesia dikenal dengan
pengajaran remedial. Bila dari arti kata remedial berarti sesuatu yang
bersifat perbaikan. Bila dikaitkan dengan pengajaran maka pengajaran

28
remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat penyembuhan atau
bersifat perbaikan. Pengajaran remedial merupakan bentuk kasus pengajaran,
yang bermaksud membuat baik atau penyembuhan (Mulyadi 2010: 44)
sedangkan menurut Sugihartono, dkk (2007: 171-172), Remedial merupakan
bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif
(perbaikan). Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang
bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang
menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan
dalam belajar bagi peserta didik.

2. Differentiation as a strategy to provide learning support.


Mavuso mengambarkan sebagai pembelajaran multi-level, sebagai
strategi yang dapat digunakan untuk menampung peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar. dikatakan pembejaran multi level karena
mengunakan gaya mengajar sesuai dengan keberagaman cara belajar siswa.
Ada siswa dengan gaya belajar audio, visual, dan kinestik. Dengan merancang
kegiatan belajar sesuai gaya belajar siswa maka dapat mengakomodir
kesulitan yang dialami oleh siswa.
Auditory learners, Visual learners, and Kinesthetic (or hands-on).
Pemahaman gaya belajar tersebut oleh guru sangat penting. Akan ada Peserta
didik menonjol dalam satu gaya belajar tapi bisa juga ada peserta didik yang
memiliki ketiga gaya belajar diatas. Pemahaman peserta didik tersebut
menuntut guru untuk bisa memanfaatkan berbagai media belajar yang
bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar.

3. Assessment of learners a strategy to provide learning support


Mavuso menuliskan bahawa penilaian dipandang sebagai bagian integral
dari proses belajar mengajar. Tujuannya dari termasuk mengumpulkan
informasi tentang pelajar untuk digunakan dalam perencanaan. Penilaian juga
mencerminkan informasi tentang peserta didik dalam hal apa yang dia tahu,
mengerti, apa yang peserta didik mampu lakukan, serta bagaimana dia belajar
(DBE, 2008). Dengan peniliaan guru mampu mengkateogrikan siswa yang
mengalami kesulitan belajar khusus. Para guru di Afrika mengatakan bahwa

29
dengan penilaian atau evaluasi belajar siswa dapat diketahui kesulitan belajar
spesifik atau khusus yang dialami oleh siswa mereka.
Bouwer (Mavuso:2014) menyatakan, sebelum guru dapat melakukan
penilaian mereka harus mempertimbangkan empat Prinsip penilaian yakni
komponen proses, orang, konten dan waktu. Dengan demikian mereka akan
memiliki kesempatan untuk melihat tingkat perkembangan peserta didik dan
memahami pengaruh dan relevansi konteks di mana anak belajar. Oleh karena
itu salah satu akan mempertimbangkan aspek-aspek seperti keluarga, sekolah,
kelompok sebaya dan masyarakat, sementara memahami proses
perkembangana peserta didik dan interaksi dengan lingkungan mereka sebagai
fondasi yang diperlukan untuk menafsirkan hasil kinerja.

4. Peer support a strategy to provide learning support


Lerner dan Kline (Mavuso, 2014) menganggap tutor teman sebaya
sebagai sebuah konsep yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran,
menggambarkannya sebagai strategi yang mendorong peserta didik untuk
bekerja sama dalam tugas tertentu. Satu pelajar berfungsi sebagai pelajar
sementara yang lain berfungsi sebagai tutor, dengan keterampilan tertentu
yang diajarkan dan dipelajari. Dukungan sebaya adalah strategi yang berharga
yang dapat digunakan untuk mempromosikan akses ke kurikulum umum
untuk pelajar dengan cacat berat. Mereka berpendapat bahwa siswa
penyandang cacat harus mendapatkan keuntungan dari Penilaian alternatif
serta instruksi dukungan sebagai cara untuk mengakses kurikulum bermakna.
Dukungan sebaya intervensi memiliki tujuan untuk meningkatkan akses dan
memfasilitasi interaksi sosial dalam pengaturan umum.
Dari tulisan Mavuso menggambarkan kegiatan guru dalam mendukung
siswa yang mengalami kesulitan belajar. para guru di Afrika membagi siswa
dalam kelompok dengan tingkat pengetahuan yang berbeda. Mereka membuat
rencana pembelajaran dengan topic tertentu untuk dibahas dengan meminta
siswa yang mempunyai pengetahuan lebih sebagia tutor. Guru memfasiltasi
kegiatan mereka.

30
1. Pengertian Anak dengan Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa (CI-
BI)
Istilah potensi kecerdasan dan bakat istimewa (CI-BI) berkait erat dengan
latar belakang teoritis yang digunakan. Potensi kecerdasan berhubungan dengan
kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan
intelektual, namun juga beberapa jenis kemampuan lainnya seperti yang disebut
oleh Gardner dengan teorinya yang dikenal Multiple Intelligences (1983) yaitu,
kecerdasan linguistik, kecerdasan musikal, kecerdasan spasial, kecerdasan logikal
matematikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan
interpersonal.
Pengertian potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam program
percepatan belajar ini dibatasi hanya pada kemampuan intelektual umum saja.
Ada dua acuan yang bisa digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual
umum yaitu acuan unidimensional, yang lebih dikenal sebagai batasan yang
diberikan oleh Lewis Terman (1992) dan acuan multimensional, yang
disampaikan oleh Renzulli, Reis, dan Smith (1978) dengan Konsepsi Tiga Cincin
(The Three Ring Conception).
Untuk pendekatan unidimensional, kriteria yang digunakan hanya semata-
mata skor IQ saja. Secara operasional batasan kemampuan intelektual umum yang
digunakan adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 skala Wechsler.
Sedangkan untuk pendekatan multidimensional, kriteria yang digunakan lebih dari
satu. Dalam hal ini, batasan yang digunakan adalah mereka yang memiliki
dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 125 ke atas skala
Wechsler, dimensi kreativitas cukup (ditetapkan skor creativity quotient/CQ dalam
nilai baku cukup) dan pengikatan diri terhadap tugas baik (ditetapkan skor task
commitment/TC dalam kategori nilai baku baik).

1. Ciri-ciri Keberbakatan
Sejak program percepatan belajar dirintis oleh tiga sekolah swasta pada
tahun ajaran 1998/1999, hingga saat ini konsepsi keberbakatan yang digunakan
berasal dari Renzulli, Reis, dan Smith (1978) yang menyebutkan bahwa
keberbakatan menunjuk pada adanya keterkaitan antara tiga kelompok ciri

31
(kluster) yaitu kemampuan umum, kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas
(task commitment) di atas rata-rata.
Untuk mendapatkan siswa yang tergolong berbakat seperti yang disebutkan
dalam definisi di atas, berikut disampaikan 14 ciri-ciri keberbakatan yang telah
memiliki korelasi yang signifikan dengan tiga aspek tersebut (Balitbang
Depdikbud, 1986):
1. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya);
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;
3. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis;
4. Mampu belajar/bekerja secara mandiri;
5. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);
6. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya;
7. Cermat atau teliti dalam mengamati;
8. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pamecahan masalah;
9. Mempunyai minat luas;
10. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
11. Belajar dengan mudah dan cepat;
12. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;
13. Mampu berkonsentrasi; dan
14. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.

Melihat ciri-ciri di atas, terkesan seakan-akan siswa yang memiliki potensi


kecerdasan dan bakat istimewa hanya memiliki sifat-sifat yang positif. Sebetulnya
tidak demikian. Sebagaimana anak pada umumnya, anak yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa mempunyai kebutuhan pokok akan pengertian,
penghargaan, dan perwujudan diri.
Berdasarkan penilitian Herry (1993), mereka juga suka mengganggu
teman-teman sekitarnya. Hal ini disebabkan karena mereka lebih cepat memahami
materi pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas dibandingkan teman-
temannya. Dengan diterangkan sekali saja, mereka telah dapat menangkap
maksudnya, sedangkan siswa yang lain masih perlu dijelaskan lagi; mereka
banyak waktu terluang, yang kemudian apabila kurang diantisipasi oleh gurunya,

32
akan digunakan untuk mengadakan aktivitas sekehendaknya (usil), misalnya
mencubit atau melemparkan benda-benda kecil/kapur keteman-teman sekitarnya.
Sekalipun mereka juga memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, namun
kemampuan mereka dalam analisis, abstraksi dan kreativitas tidak seluar biasa
anak-anak CI-BI. Berbagai perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA(Gifted
CERDAS (Bright/High Achiever)
Talented)
1. Menjawab pertanyaan dengan 1. Mempersoalkan pertanyaan
benar
2. Berminat dengan sesuatu 2. Penasaran dengan sesuatu
3. Menunjukkan perhatian 3. Terlibat secara emosional, mental, dan
fisik
4. Punya gagasan yang bagus, 4. Punya gagasan yang aneh, konyol, dan di
popular luar keumuman
5. Bekerja keras untuk sukses ujian 5. Jarang belajar, hasil ujian bagus

6. Menjawab soal sesuai dengan 6. Memperluas konteks jawaban


yang ditanyakan
7. Di puncak daftar siswa 7. Di luar kelompok, berprestasi normal
berprestasi
8. Suka linearitas 8. Gemar kompleksitas
9. Pemerhati yang baik 9. Pengamat yang kritis, bawel

10. Mendengarkan penuh dengan 10. Menyimak untuk siap berdebat


minar
11. 6-8 kali pengulangan untuk 11. 1-2 kali pengulangan untuk menguasai
menguasai materi materi
12. Memahami gagasan orang lain 12. Membentuk gagasan sendiri
dengan baik
13. Senang berteman dengan teman 13. Lebih suka bergaul dengan orang dewasa
sebaya atau lebih tua
14. Menarik kesimpulan 14. Mempertanyakan keputusan

15. Menyelesaikan tugas yang 15. Memulai proyek sendiri


diberikan
16. Pintar menyalin, meniru Bagus dalam menciptakan sesuatu yang
16.
baru
17. Suka sekolah 17. Suka belajar
(Sumber: CGIS-Net Assessment systems, 2008)

33
KESIMPULAN

PENUTUP
Guru dan ustad adalah dua profesi yang berbeda perannya tetapi sama
tugasnya, yaitu memperkecil perbedaan. Ustad selalu mengajak kita beramal,
berzakat, menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, intinya memperkecil
perbedaan antara si miskin dan si kaya. Seorang guru selalu mengajak peserta
didiknya agar belajar rajin, memahami ilmu yang diajarkan, mendapat nilai yang
baik, intinya memperkecil perbedaan antara yang pandai dan yang bodoh. Oleh
karenanya, tugas mereka sama, yaitu merupakan tugas yang mulia.
Tugas mulia jaminannya surga, dan ini adalah penyemangat kerja yang
paling hakiki yang harus dimiliki guru agar dalam menjalankan tugas sebagai
guru agar menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan dalam mengajar. Cerminan
dari hal ini adalah guru senantiasa berusaha menjadi profesional dengan
mengembangkan kemampuan diri dan meningkatkan semua kompetensi yang
harus melekat padanya, menunjukkan wajah riang dan senantiasa siap membantu
kesulitan yang dihadapi peserta didik. Marilah kita menjadi guru yang selalu haus
akan ilmu, malu karena tidak tahu perkembangan ilmu, dan penasaran ketika
mendengar ada ilmu baru.
Seorang pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya
sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi
yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar
memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi
seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi
pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak
didik bernilai tinggi.
1. Anak berkesulitan belajar adalah individu yang mempunyai gangguan
pada satu atau lebih proses dasar psikologi yang mencakup kemampuan
mental seperti daya ingat, persepsi pendengaran, persepsi penglihatan,
bahasa lisan dan proses berpikir. Kesulitan belajar dapat muncul sebagai
kesulitan dalam berbicara, mendengar, menulis, membaca (mengenali kata
dan pemahaman) dan matematika (perhitungan dan penalaran). Masalah

34
yang tidak langsung disebabkan oleh kelainan sensori (penglihatan,
pendengaran), hambatan intelektual, ketidakberuntungan lingkungan.
2. Dukungan bagi anak berkesulitan belajar meliputi empat stategi yakni: (a)
Give learners extra work, translate the work and re-teach as a learning
support strategy; (b) Differentiation as a strategy to provide learning
support; (c) Assessment of learners a strategy to provide learning support;
dan (d)Peer support a strategy to provide learning support.

B. Saran
1. Bagi guru-guru agar dapat mengenali dan memberikan layanan atau
dukungan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar karena pendidikan
adalah hak bagi semua umat manusia. Menggunakan berbagai macam
strategi mengajar serta mengoptimal atau bekerja sama dengan berbagai
pihak seperti orang tua untuk membantu siswa dalam kegiatan belajar.
2. Bagi pemerintah atau Dinas Pendidikan agar memberikan pelatihan dan
pendampingan bagi guru-guru cara mendukung siswa yang mengalami
kesulitan belajar serta merancang kebutuhan anak berkesulitan belajar
sehingga bisa didesain bentuk kurikulum atau pelajaran yang sesuai.

35
DAFTAR PUSTAKA

A.M Sardiman. (2004). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja
Grafindo Persada
Ghazali, Imam, Al-. Ihya Ulum Al-Din. (T.T: Kitab Al-Syuab, Tth)
Kholidah, Nur Enik. 2012. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Upy. Hal.21
Manan, Imran. 1989. Anthropologi Pendidikan Suatu Pengantar (Ter. George F.
Kneller). Jakarta: P2LPTK Dirjen Dikti.
pis, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2, Edisi Desember 2014 11
Selo Soemardjan. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Penerbit
FE UI.
Sugihartono, Dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press. Hal 30
Supardi, D.(1998). Mengangkat Citra Dan Martabat Guru. Yogyakarta : Adicita
Karya Nusa
Tresna Sastrawijaya. (1998). Proses Belajar Mengajar Kimia. Jakarta :
Depdikbud.
Umardi. (1999). Pembinaan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Jakarta :
DEPDIKBUD Dirjen Dikti.
Undang - Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
UU RI No. 14/2005 Pasal 10 Ayat 1 Dan PP RI NO. 19/2005 Pasal 28 Ayat 3
Yunita Maria Yeni, M. (5 Mei 2017). Profesi Guru, Antara Pengabdian dan
Tuntutan. Sinar Harapan. Diakses tanggal 04 Mei 2017. http:/www.-
dekdiknas.go.id.
http://E-Journal.Uajy.Ac.Id/2374/3/2ta12077.Pdf
https://www.Academia.Edu/20255510/Seorang_Guru_Adalah_Seorang_Pendidik

36