Anda di halaman 1dari 3

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x nilai belanja

PPN yang harus dipungut = 10% x Rp ,- (DPP) = Rp ,-


PPh Psl 22 yg harus dipungut = 1,5% x Rp ,- (DPP) = Rp ,-

Catatan :
Apabila rekanan/toko belum mempunyai NPWP, maka PPh Pasal 22 yang harus dipungut adalah 100% lebih
tinggi, yaitu menjadi 200% x Rp 1.5% x Rp ,- (DPP) = Rp ,-

Pemungutan PPh Pasal 22

Pemungutan PPh Pasal 22 dilakukan sehubungan dengan pembayaran atas pembelian barang seperti:
komputer, meubeler, mobil dinas, ATK dan barang lainnya oleh Pemerintah kepada Wajib Pajak penyedia barang.
Pemungutan PPh Pasal 22 dilakukan oleh :

1. Bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga lembaga negara lainnya
berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;
2. Bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP);
3. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh
KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS).

Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut adalah: 1,5% x harga beli (tidak termasuk PPN)

Pemungutan PPh Pasal 22 atas belanja barang tidak dilakukan apabila :

a. pembelian barang dengan nilai maksimal pembelian Rp2.000.000,00 dengan tidak dipecah-pecah dalam
beberapa faktur;
b. pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, pelumas, air minum/PDAM dan benda-benda pos; dan
c. pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS).

Pemotongan PPh Pasal 23

Berikut ini adalah daftar tarif dan objek PPh Pasal 23 :

1. Tarif 15% dari jumlah bruto atas:


a. Dividen, kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan final, bunga dan royalti;
b. Hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh pasal 21;
2. Tarif 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain yang berkaitan dengan penggunaan
harta kecuali sewa tanah dan/atau bangunan.
3. Tarif 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi dan jasa
konsultan.
4. Tarif 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya adalah yang diuraikan dalam Peraturan
Menteri Keuangan No. 141PMK.03/2015 dan efektif mulai berlaku pada tanggal 24 Agustus 2015.
Berikut ini adalah daftar jasa lainnya tersebut :
o Penilai (appraisal);
o Aktuaris;
o Akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
o Hukum;
o Arsitektur;
o Perencanaan kota dan arsitektur landscape;
o Perancang (design);
o Pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi
(migas) kecuali yang dilakukan oleh Badan Usaha Tetap (BUT);
o Penunjang di bidang usaha panas bumi dan penambangan minyak dan
gas bumi (migas);
o Penambangan dan jasa penunjang di bidang usaha panas bumi dan
penambangan minyak dan gas bumi (migas);
o Penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
o Penebangan hutan;
o Pengolahan limbah;
o Penyedia tenaga kerja dan/atau tenaga ahli (outsourcing services);
o Perantara dan/atau keagenan;
o Bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan Bursa
Efek, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek
Indonesia (KPEI);
o Kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh KSEI;
o Pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
o Mixing film;
o Pembuatan sarana promosi film, iklan, poster, foto, slide,
klise, banner, pamphlet, baliho dan folder;
o Jasa sehubungan dengan software atau hardware atau sistem komputer,
termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan.
o Pembuatan dan/atau pengelolaan website;
o Internet termasuk sambungannya;
o Penyimpanan, pengolahan dan/atau penyaluran data, informasi, dan/atau
program;
o Instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC
dan/atau TV Kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi
sebagai pengusaha konstruksi;
o Perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air,
gas, AC dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang
ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
o Perawatan kendaraan dan/atau alat transportasi darat.
o Maklon;
o Penyelidikan dan keamanan;
o Penyelenggara kegiatan atau event organizer;
o Penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media massa, media luar ruang
atau media lain untuk penyampaian informasi, dan/atau jasa periklanan;
o Pembasmian hama;
o Kebersihan atau cleaning service;
o Sedot septic tank;
o Pemeliharaan kolam;
o Katering atau tata boga;
o Freight forwarding;
o Logistik;
o Pengurusan dokumen;
o Pengepakan;
o Loading dan unloading;
o Laboratorium dan/atau pengujian kecuali yang dilakukan oleh lembaga
atau institusi pendidikan dalam rangka penelitian akademis;
o Pengelolaan parkir;
o Penyondiran tanah;
o Penyiapan dan/atau pengolahan lahan;
o Pembibitan dan/atau penanaman bibit;
o Pemeliharaan tanaman;
o Permanenan;
o Pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan/atau
perhutanan;
o Dekorasi;
o Pencetakan/penerbitan;
o Penerjemahan;
o Pengangkutan/ekspedisi kecuali yang telah diatur dalam Pasal 15 Undang-
Undang Pajak Penghasilan;
o Pelayanan pelabuhan;
o Pengangkutan melalui jalur pipa;
o Pengelolaan penitipan anak;
o Pelatihan dan/atau kursus;
o Pengiriman dan pengisian uang ke ATM;
o Sertifikasi;
o Survey;
o Tester;
o Jasa selain jasa-jasa tersebut di atas yang pembayarannya dibebankan
pada APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) atau APBD
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Bagi Wajib Pajak yang tidak ber-NPWP akan dipotong 100% lebih tinggi dari
tarif PPh Pasal 23.
5. Jumlah bruto adalah seluruh jumlah penghasilan yang dibayarkan,
disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh
badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri,