Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LANJUT

FERMENTASI KARBOHIDRAT

Nama : Tuti Muflihah


NIM : 1157020075
Kelompok : 1 (Satu)
Kelas : IV/B Biologi
Nama Dosen : Bahiyah, M.Si
Nama Asisten : Fauziah Karlina
Tanggal Praktikum : 2 Mei 2017
Tanggal Pengumpulan: 9 Mei 2017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
BANDUNG
2017
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL PENGAMATAN
Tabel 1 Hasil pengamatan fermentasi

No Nama Foto Keterangan


1 +
Escherichia coli

2 Bacillus subtilis ++

3 sacharomyces cerevisiae ++

3.2 PEMBAHASAN

Telah dilakukan praktikum mengenai fermentasi karbohidrat.


Adapun bahan yang digunakan yaitu isolat Bacillus, E.coli dan
Saccharomyces cerevisiae. Penggunaan ketiga isolat ini bertujuan untuk
melihat bagaimana pengaruh isolat tersebut dalam fermentasi
karbohidrat. Fermentasi karbohidrat adalah perombakan monosakarida
menjadi alkohol, gas karbondioksida, asam organik dan energi dengan
bantuan mikroba. Adapun bahan yang digunakan dalam melakukan
praktikum ini adalah media NB dan media PDA. Penggunaan NA dan NB
digunakan untuk bakteri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suharni,dkk
(2008) Nutrien Broth (NB) merupakan medium cair dilihat dari
konsistensinya. Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun
yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, dimana bahan-bahannya
terdiri dari :Aquadest, ekstrak daging dan pepton. Aquadest berfungsi
melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan. Ekstrak daging,
merupakan ramuan dasar dalam media biakan yang larut dalam air dan
berfungsi sebagai sumber protein dan mineral. Pepton adalah protein
yang terdapat pada susu kedelai, putih telur. Pepton banyak mengandung
nitrogen sehingga baik digunakan sebagai bahan dalam pembuatan
medium. Sedangkan untuk media PDA digunakan untuk khamir atau
jamur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hal ini sesuai dengan Shetty &
Jespersen (2006) pernyataan Potato Agar (PDA) merupakan medium cair
dilihat dari konsistensinya. Berdasarkan fungsinya termasuk dalam
medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan jamur, dimana
bahan-bahannya terdiri dari : Aquadest, kentang, dan Agar. Aquadest
berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan. Kentang
merupakan sumber karbohidrat bagi mikroba, tapi memiliki kekurangan
yaitu substrat tidak tembus cahaya sehingga sulit untuk menentukan
koloni bakteri dan jamur. Agar merupakan sumber karbon dan energi
untuk pertumbuhan aerob.

Dalam melakukan pengamatan dilakukan inkubasi selama 2-3 hari.


Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa pada semua isolat positif
terjadi fermentasi, namun hanya jumlah gelembung yang dihasilkan dari
masing isolat berbeda-beda. Pada bakteri E.coli terjadi fermentasi dengan
ditandai adanya gelembung namun hanya sedikit saja gelembung yang
dihasilkan pada bakteri E.coli ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Suharjono (2006) bahwa bakteri Escherichia coli dapat memfermentasi
glukosa dan laktosa menggunakan enzim beta-galaktosidase. Selain itu
Escherichia coli memiliki enzim sukrase yang dapat memecahkan sukrosa
menjadi glukosa dan fruktosa. Kemampuan Escherichia coli dalam
memfermentasi dikarenakan bakteri ini merupakan bakteri anaerob
fakultatif yang dapat hidup dalam tidak hanya dalam kondisi aerob,
sehingga kemampuannya dalam memfermentasikan zat yang sangat
diperlukan untuk kelangsungan hidupnya karena pada Bacillus terdapat
gelembung yang sedang Escherichia coli mendapatkan energi dari proses
fermentasi tersebut.

Pada bakteri Bacillus subtilis terjadi reaksi fermentasi dengan


ditandai adanya gelembung yang sedang, baik pada media cair maupun
media padat. Kemampuan bakteri ini dalam melakukan fermentassi
dikarenakan adanya enzim sukrase yang dapat merubah sukrosa menjadi
fruktosa dan glukosa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lehninger (1995)
bakteri Bacillus subtilis mempunyai enzim sukrase yang dapat
memecahkan sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa yang merupakan
monosakarida yang dpaat difermentasikan. Selain itu juga bakteri Bacillus
subtilis merupakan bakteri aerob, pada medium padat minimnya kadar
oksigen akan memicu dilakukannya fermentasi terhadap zat tersebut
untuk mendapatkan energy.

Sedangkan pada sacharomyces cerevisiae terjadi proses fermentasi


dengan ditandai adanya gelembung yang sedang. sacharomyces
cerevisiae termasuk kedalam khamir yang dapat mengubah senyawa
organik dan menghasilkan energi. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Hadioetomo (1993) Jamur Saccharomyces cerevisiae bersifat heterotrof
sehingga dapat mengubah senyawa organik menjadi senyawa organik dan
menghasilkan energi. Senyawa organik yang diubah adalah gula. Proses
ini disebut juga fermentasi karbohidrat atau alkohol. Reaksi ini tidak
membutuhkan oksigen. Adapun reaksi yang terjadi yaitu C6H12O6
2C2H5OH + 2 CO2 + Energi. Saccharomyces cerevisiae mengubah gula di
dalam adonan menjadi etil alkohol dan CO2. Penyebaran gelembung CO2
menyebabkan adonan mengembang, yang akan dikeluarkan bersama
dengan gas. Sedangkan alkohol dihilangkan oleh tepung. Indikasi adanya
alkohol adalah bau yang menyengat setelah diberi perlakuan.

Dalam melakukan fermentasi karbohidrat ada keterkaitannya


dengan respirasi seluler yang dilakukan oleh mikroba. Dalam proses
respirasi, energi berasal dari metabolisme glukosa. Selama respirasi,
oksigen terinspirasi sementara kerbon dioksida yang dihembuskan keluar
dari tubuh. Energi yang dihasillkan oleh respirasi yang Dalam proses
respirasi, energi berasal dari metabolisme glukosa. Selama respirasi,
oksigen terinspirasi sementara karbon dioksida yang dihembuskan keluar
dari tubuh.Energi yang dihasilkan oleh respirasi yang digunakan untuk
fungsi-fungsi fisiologis tubuh kita karena menghasilkan beberapa ATP
dalam molekul glukosa tunggal (Dwidjoseputro,1954).

Fermentasi merupakan salah satu proses yang berkaitan dengan


respirasi seluler untuk menghasilkan energi dengan menggunakan
senyawa makromolekul organik yang dilakukan oleh mikroba anaerob. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Sait,dkk. (2002) Fermentasi merupakan
salah satu aktivitas biokimia yang dilakukan oleh mikroba. Fermentasi
adalah proses pengunaan senyawa makromolekul organik menjadi
senyawa yang lebih sederhana oleh aktivitas mikroba pada kondisi
anaerob. Fermentasi dapat menghasilkan berbagai senyawa akhir,
contohnya fermentasi karbohidrat yang dapat menghasilkan berbagai
senyawa asam seperti asam laktat dan propionet, ester-ester, keton dan
gas. Menurut Sebagian besar mikroorganisme memperoleh energi dari
substrat berupa karbohidrat yang selanjutnya di fermentasi menghasilkan
asam-asam organik (seperti asam laktat, format, asetat), dengan disertai
atau tidak disertai pembentukan gas. Organisme-organisme yang berbeda
akan menggunakan karbohidrat/gula-gula yang berbeda tergantung dari
komponen enzim yang dimilikinya.

Adapun dalam melakukan proses fermentasi karbohidrat oleh


mikroba terjadi pula tahapan-tahapan degradasi karbohidrat oleh mikroba
anaerob menurut Nicol,dkk. (2008) tahapnnya meliputi proses glikolisis.
Pada jalur ini molekul glukosa dirubah menjadi asam piruvat (glikolisis)
dan asam piruvat menjadi asam laktat (fermentasi asam laktat) tanpa
pemasukan molekul oksigen. Walaupun jalur dasarnya sama untuk tiap
semua jenis sel, perlengkapan enzim-enzim tertentu pada jalur tersebut
tidak seragam untuk berbagai jenis sel setiap spesies. Glikolisis secara
mendasar mencakup dua tahap utama. Pada tahap pertama, glukosa
difosforilasi baik oleh ATP maupun PEP, tergantung pada organismenya,
dan dipecah untuk membentuk gliseraldehid 3-PO4. Pada tahap kedua,
perantara tiga karbon ini diubah menjadi asam laktat dalam serangkaian
reaksi oksidoreduksi yang disalurkan ke fosforilasi ADP. Sebuah
mekanisme kemudian terjadi dengan glukosa sebagai sumber energi yang
sesungguhnya. Tahapan glikolisis ini akan menghasilkan energi berupa 2
ATP dan asam piruvat.

Tahap selanjutnya menurut Suharjono (2006) yaitu perubahan asam


piruvat menjadi alkohol dengan menggunakan bakteri anerob. Proses ini
dinamakan proses fermentasi, Fermentasi glukosa terjadi dalam
sitoplasma sel setelah fosforilasi pada glukosa 6-PO4. Asam piruvat
merupakan perantara kunci dalam merubah glukosa 6- PO4 dalam
metabolisme fermentasi dari semua karbohidrat. Dalam pembentukannya,
NAD direduksi dan harus dioksidasi kembali untuk mendapat
keseimbangan reduksioksidasi akhir. Oksidasi ulang ini terjadi dalam
reaksi-reaksi terminal dan diiringi oleh hasil reduksi dari asam piruvat.
Bakteri dibedakan secara jelas dari jaringan hewan dalam perilaku mereka
yang membuang asam piruvat. Pada fisiologis mamalia, arah utama dari
respirasi dimana substrat-substrat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O,
oksigen menjadi penerima hidrogen utama. Pada beberapa bakteri,
oksidasi tak lengkap atau fermentasi merupakan suatu keharusan, dan
hasil dari fermentasi tersebut dapat terkumpul hingga mencapai jumlah
yang luar biasa. Hasil akhir pada organism tertentu bisa berupa asam
laktat maupun alkohol. Pada yang lainnya, asam piruvat termetabolisme
lebih jauh menjadi suatu produk seperti asam butirat, butil alkohol,
aseton, dan asam propionat. Fermentasi bakteri sangat penting karena
memiliki nilai ekonomi dalam industri dan berguna di laboratorium untuk
identifikasi spesies bakteri .

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan mengenai fermentasi karbohidrat
dapat diambil kesimpulan bahwa bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis
serta khamir sacharomyces cerevisiae memiliki kemampuan untuk
memfermentasi karbohidrat dengan ditandai adanya gelembung pada
ketiga mikroba ini. Selain itu juga bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis
serta khamir sacharomyces cerevisiae memiliki kemampuan untuk
mendegradasi karbohidrat menggunakan bakteri anaerob. Pada
sacharomyces cerevisiae terjadi nya fermentasi alkohol sedangkan pada
Escherichia coli dan Bacillus subtilis terjadi fermentasi karbohidrat.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1954. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Malang

Hadioetomo. 1993. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika:Jakarta.

Lehninger. 1995. Microbiology: a Laboratory Manual.Adison-Wesley.


Publishing company: California.

Nicol, G. W., Leininger, S., Schleper, C., & Prosser, J. I. 2008. The influence
of soil pH on the diversity, abundance and transcriptional activity of
ammonia oxidizing archaea and bacteria. Environmental
microbiology. 10(11): 2966-2978.

Sait, M., Hugenholtz, P., & Janssen, P. H. 2002. Cultivation of globally


distributed soil bacteria from phylogenetic lineages previously only
detected in cultivationindependent surveys. Environmental
microbiology.4(11): 654-666.

Shetty, P. H., & Jespersen, L. 2006. Saccharomyces cerevisiae and lactic


acid bacteria as potential mycotoxin decontaminating agents. Trends
in Food Science & Technology. 17(2),:48-55.

Suharjono. 2006. Mikrobiologi. Malang: Universitas Brawijaya.

Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta :


Universitas Atma Jaya.

Hasil pengamatan katalase

No Mikroorganisme Foto Keterangan (Gelembung)


1 Bacillus

++

2 E. Colli

+++

3 Saccharomyces