Anda di halaman 1dari 27

TATALAKSANA GANGGUAN ORTHOPEDI

(Makalah Tugas Keperawatan Sistem Muskuloskeletal)

DISUSUN OLEH: KELOMPOK VII

PROGRAM S1 TRANSFER KELAS I C

Al Maskanah

Mutram Efendi

Ryan Budiyanto

Siti Uhbiyati

Yuniarti Hutriningsih

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2015
ORTHOPEDI

A.PENGERTIAN
Orthopedik adalah cabang ilmu bedah yang berhubungan dengan pemeliharaan dan
pemulihan fungsi sistem rangka, persendiannya, dan stuktur yang berkaitan. Berhubungan
dengan koreksi deformitas sistem muskuloskeletal; berhubungan dengan orthopedik
(Dorland,1998).
Bedah orthopedi adalah suatu tindakan bedah untuk memullihkan kondisi disfungsi
muskuloskeletal seperti, fraktur yang tidak stabil, deformitas, dislokasi sendi, jaringan
nekrosis dan terinfeksi, sindrom kompartemen, serta sistem muskuloskeletal (Brunner &
Suddart).

B. JENIS-JENIS PEMBEDAHAN ORTHOPEDIK

1. Reduksi terbuka:

Adalah melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih

dahulu dilakukan deseksi dan pemajanan tulang yang patah.


2. Fiksasi interna:

Adalah stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan sekrup, plat, paku, dan pin

logam.
3. Graft tulang:

Adalah penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk memperbaiki

penyembuhan, untuk menstabilisasi, atau mengganti tulang yang berpenyakit.


4. Amputasi:

Adalah penghilangan bagian tubuh.


5. Artroplasti:

Adalah memperbaiki masalah sendi dengan arthostop (suatu alat yang memungkinkan ahli

bedah mengoprasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan

sendi terbuka.
6. Menisektomi:

Adalah eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.


7. Penggantian sendi:

Adalah penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis.


8. Penggantian sendi total:
Penggantian permukaan artikuler dalam sendi dengan bahan logam atau sintetis.
9. Transfer tendo:

Adalah pemindahan insersi untuk memperbaiki fungsi.


10.Fasiotomi:

Adalah pemotongan fascia otot untuk menghilangkan kontriksi otot atu mengurangi

kontraktur fascia. (Brunner & Suddarth. 2002)

C. MACAM-MACAM GANGGUAN ORTHOPEDIK

1. Fraktur:

Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur,

5 diantaranya adalah:

a.Inclomplete: fraktur hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang. Salah


satu sisi patah, yang lain biasanya hanya bengkok atau greenstick.
b.Complete: garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan
fragmen tulang biasanya berubah tempat.
c.Tertutup (simple) : fraktur tidak meluas melewati kulit
d.Terbuka (compound) : fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana
potensian untuk terjadi infeksi.
e.Patologis : fraktur terjadi pada penyakit tulang atau seperti kanker, osteoporosis,
dengan tak ada trauma atau hanya minimal

2. Bedah rekrontuksi wajah


3. Amputasi:

Pada umumnya amputasi disebabkan oleh kecelakaan, penyakit, dan gangguan kongenital.

Untuk tujuan perencanaan asuhan ini, amputasi adalah pengangkatan melalui bedah atau

traumatik pada tungkai. Amputasi ekstremitas bawah dilakukan lebih sering dari pada

amputasi ekstremitas atas. Lima tingkatan yang sering digunakan pada amputasi

ekstremitas bawah, telapak dan pergelangan kaki, bawah lutut (ABL), disartikulasi dan atas

lutut, disertikulasi lutut-panggul, dan hemipelviktomi dan amputasi translumbar. Terdapat

duatipeamputasi:
a.Terbuka (provisional), yang memerlukan teknik aseptik ketat dan refisi lanjut.
b.Tertutup atau flaps.

4. Penggantian sendi total:

Penggantian sendi diindikasikan unuk kerusakan sendi peka rangsang dan nyeri yang tak

hilang (contoh; degeneratif dan artitis reumatoid; fraktur tertentu (contoh, leher femur),

ketidakstabilan sendi panggul kongenital. Penggantian panggula dan lutut dalam bedah

paling umum. Prostase mungkin besi atau polietilen (atau kombinasi) dan ditanam dengan

semen akrilik, atau mungkin sesuatu yang berpori-pori, implan bersalut yang mendorong

pertumbuhan tulang kedalam (Doengoes Marilyn. 2000.

D.KOMPLIKASI

1.Syok Hipovolemik:

Kehilangan darah yang sangat banyak sebelum atau sesudah pembedahan akan

menyebabkan syok yang kemudian diikuti perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat

yang akhirnya menyebabkan gangguan metaboli seluler.

2.Atelaktasis dan pnemonia:

Pada pasien pre dan post bedah sering mengalami gangguan pernafasan. Pengembangan

paru yang penuh dapat mencegah penimbunan sekresi pernafasan dan terjadinya

atelaktasis dan pnemonia.

3.Retensi urine:

Haluaran urin harus dipantau setelah pembedahan setiap 3 sampai 4 jam sekali untuk

mencegah terjadinya retensi urin karena biasanya pasien dengan bedah orthopedi

mengalami keterbatasan gerak sehingga akan mengganggu aktifitasnya termasuk untuk

berkemih. Pada klien yang tidak bisa berkemih dapat dipasang kateter intermiten sampai
klien mampu untuk berkemih mandiri.

4.Infeksi:

Infeksi merupakan resiko pada setiap pembedahan. Infeksi merupakan perhatian khusus

terutama pada pasien post operasi orthopedi karena tingginya resiko ostheomilitis.

5.Trombosis Vena Profunda:

Penyakit trombeobolik merupakan salah satu dari semua komplikasi yang paling sering

dan paling berbahaya pada pasien pasca operasi orthopedic. Usia lanjut, hemostasis,

pembedahan orthopedik ekstermitas bawah dan imobilisasi merupakan faktor resiko.

E.PENATALAKSANAAN BEDAH ORTHOPEDIK

Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskletal harus menjalani pembedahan

untuk mengoreksi masalahnya. Masalah yang dapat dikoreksi meliputi stabilisasi, fraktur,

deformitas, penyaki sendi, jaringan infeksi atau nekrosis, gangguan peredaran darah

(missal : sindrom kompartemen) adanya tumor. Prosedur pembedahan yang sering

dilakukan adalah meliputi reduksi terbuka dengan fiksasi interna (ORIF : open reduction

and internal fixation) untuk fraktur antroplasti, menisektomi, dan penggantian sendi untuk

masalah sendi, amputai untuk masalah extremitas berat (missal : ganggren trauma pasif).

Sasaran kebanyakan bedah orthopedic adalah memperbaiki fungsi dengan mengembalikan

gerakan dan stabilitas sertamengurangi nyeri dan distabilitas.

F.PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.Pemeriksaan penunjang pre operasi orthopedi

a.Pemeriksaan Laboratorium
1.Pemeriksaan darah

a)Kadar Hb
b)Hitung darah putih
c)Kadar kalsium serum dan fosfor serum
d)Fosfatase asam dan fosfatase alkali
e)Kadar enzym serum kreatinin kinase (CK) dan SGOT, aspartat aminotransferase
f)LED

2.Pemeriksaan urin: Kadar kalsium urin

b.Pemeriksaan radiologi
1)Sinar-X
2)CT scan
3)MRI
4)Angiogradi
5)Venogram
6)Mielografi
7)Discografi
8)Artrografi
9)Biopsi

2.Pemeriksaan penunjang post operasi orthopedi


a.Pemeriksaan Laboratorium
1)Pemeriksaan darah: Kadar Hb dan Profil koagulas
2)Pemeriksaan urin: Kadar kalsium urin
b.Pemeriksaan Radiologi
a.Sinar-X
b.CT scan
c.MRI
d.Arteriogram
e.Venogram
f.Miolografi
g.Discografi
h.Artrografi

G.PENANGANAN

1.Balutan Rigit Tertutup:

Balutan rigit tertutup sering digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata,
menyangga jaringanb lunak dan mengontrol nyeri dan mencegah kontraktur. Segera setelah

pembedahan balutan gips rigid dipasang dan dilengkapi tempat memasang ekstensi

prostensi sementara (pylon) dan kaki buatan. Kasa kecil steril dipasang pada sisi anggota,

bantalan dipasang pada daerah tekanan putung kemudian dibalut dengan balutan tipis

elastis yang ketika mengeras akan mempertahankan tekanan yang merata. Hati-hati jaringan

sampai menjerat pembuluh darah. Teknik balutan rigid dini digunakan sebagai cara

membuat socket untuk pengukuran prostesis disesuaikan dengan individu pasien. Gips

diganti dalam sekitar 10 sampai 14 hari. Bila ada peningkatan suhu tubuh, nyeri berat atau

gips yang mulai longgar harus segera diganti.

2.Balutan Lunak:

Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan bila diperlukan inspeksi berkala

puntung sesuai kebutuhan. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan dengan balutan hematoma

(luka) puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk meminimalkan infeksi.

3.Amputasi bertahap:

Amputasi bertahap bisa dilakukan bila ada gangren atau infeksi. Pertrama dilakukan

amputasi guillotine untuk mengangkat semua jaringan nekrosis dan sepsis. Luka

didebrimen dan dibiarkan mengering. Sepsis ditangani dengan antibiotika. Dalam beberapa

hari, ketika infeksi telah terkontrol dan pasien telah stabil, dilakukan amputasi definitif

dengan penutupan kulit.


TATALAKSANA GANGGUAN ORTHOPEDI

1. PEMASANGAN TRAKSI

A. DEFINISI

Traksi adalah Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh. Traksi digunakan untuk
meminimalkan spasme otot ; untuk mereduksi, mensejajarkan, dan mengimobilisasi fraktur ;
untuk mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan diantara kedua permukaan
patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginka untuk
mendapatkan efek terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu keefekktifan tarikan traksi
harus dihilangkan (Smeltzer & Bare, 2001 ).
Traksi merupakan metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ektermitas yang
mengalami fraktur (Wilson, 1995 ).

Keuntungan pemakaian traksi


1. Menurunkan nyeri spasme
2. Mengoreksi dan mencegah deformitas
3. Mengimobilisasi sendi yang sakit

Kerugian pemakaian traksi


1. Perawatan RS lebih lama
2. Mobilisasi terbatas
3. Penggunaan alat-alat lebih banyak.
Beban traksi
1. Dewasa = 5 - 7 Kg
2. Anak = 1/13 x BB (Barbara, 1998).

B. INDIKASI

1. Traksi rusell digunakan pada pasien fraktur pada plato tibia


2. Traksi buck, indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk
mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki
lebih lanjut
3. Traksi Dunlop merupakan traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada
humerus dalam posisi abduksi, dan traksi vertical diberikan pada lengan bawah dalm posisi
flexsi.
4. Traksi kulit Bryani sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah
tulang paha
5. Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus
pemoralis orang dewasa
6. Traksi 90-90-90 pada fraktur tulang femur pada anak-anak usia 3 thn sampai dewasa muda
(Barbara, 1998).
C. TUJUAN PEMASANGAN
Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, mensejajarkan, dan
mengimobilisasi fraktur, untuk mengurangi deformitas, untuk menambah ruang diantara dua
permukaan antara patahan tulang.
1. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek
terapeutik, tetapi kadang-kadang traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk
mendapatkan garis tarikan yang diinginkan (Barbara, 1998).
D. JENIS- JENIS TRAKSI

1. Traksi kulit
Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi . Traksi
kulit apendikuler ( hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa) termasuk traksi
ektensi Buck, traksi russell, dan traksi Dunlop

.
a. Traksi buck
Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan diberikan pada
satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang diinginkan . Digunakan untuk
memberikan rasa nyaman setelah cidera pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer &
Bare,2001 ).
Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana, dan paling tepat bila dipasang
untuk anak muda dalam jangka waktu yang pendek. Indikasi yang paling sering untuk jenis
traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut
diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut (Wilson, 1995 ).
Mula- mula selapis tebal semen kulit, tingtura benzoid atau pelekat elastis dipasang pada kulit
penderita dibawah lutut. Kemudian disebelah distal dibawah lutut diberi stoking tubular yang
digulung, kemudian plester diberikan pada bagian medikal dan lateral dari stoking tersebut
lalu stoking tersebut dibungkus lagi dengan perban elastis. Ujung plester traksi pada
pergelangan kaki di hubungkan dengan blok penyebar guna mencegah penekanan pada
maleoli. Seutas tambang yang diikat ketengah blok penyebar tersebut kemudian dijulurkan
melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Jarang dibutuhkan berat lebih dari 5 lb. penggunaan
traksi kulit ini dapat menimbulkan banyak komplikasi. Ban perban elastis yang melingkar
dapat mengganggu sirkulasi yang menuju kekaki penderita, yang sebelumnya sudah
menderita penyakit vaskular. Alergi kulit terhadap plester juga dapat menumbuhkan masalah.
Kalau tidak dirawat dengan baik mungkin akan menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada
maleolus. Traksi berlebih dapat merusak kulit yang rapuh pada orang yang berusia lanjut.
Bahkan untuk peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka, terutama bila perawatan
harus dilakukan selama beberapa hari.
b. Traksi Russell
Dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang fleksi pada penggantung dan
memberikan gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan elastis ketungkai bawah. Bila
perlu, tungkai dapat disangga dengan bantal agar lutut benar- benar fleksi dan menghindari
tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare, 2001 ).
Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya penderita kebagian
kaki ketempat tidur,sehingga kerekan bagian distal saling berbenturan dan beban turun
kelantai. Mungkin perlu ditempatkan blok-blok dibawah kaki tempat tidur sehingga dapat
memperoleh bantuan dari gaya tarik bumi (Wilson, 1995).

Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir semua fraktur
femur, reduksi untuk fraktur panggul mungkin lebih sering diperoleh dengan memakai traksi
Russell dalam keadaan ini paha disokong oleh beban. Traksi longitudinal diberikan dengan
menempatkan pin dengan posisi tranversal melalui tibia dan fibula diatas lutut. Efek dari
rancangan ini adalah memberikan kekuatan traksi ( berasal dari gaya tarik vertikal beban
paha dan gaya tarik horizontal dari kedua tali pada kaki ) yang segaris dengan tulang yang
cidera dengan kekuatan yang sesuai. Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi rasa
nyaman pada pasien yang menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum operasi dan
selama persiapan pembedahan. Meskipun traksi Russell dapat digunakan sebagai tindakan
keperawatan yang utama dan penting untuk patah tulang panggul pada penderita tertentu
tetapi pada penderita usia lanjut dan lemah biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan
timbul karena berbaring terlalu lama ditempat tidur seperti dekubitus, pneumonia, dan
tromboplebitis.
c. Traksi Dunlop
Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah dalam
posisi fleksi.

d. Traksi kulit bryant


Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha.
Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat badannya lebih dari 30
kg. kalau batas ini dilampaui maka kulit dapat mengalami kerusakan berat.

2. Traksi skelet
Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. Metode traksi ini digunakan paling sering untuk
menangani fraktur femur, tibia, humerus dan tulang leher. Kadang- kadang skelet traksi
bersifat seimbang yang menyokong ekstermitas yang terkena, memungkinkan gerakan pasien
sampai batas- batas tertentu dan memungkinkan kemandirian pasien maupun asuh
keperawatan sementara traksi yang efektif tetap dipertahankan yang termasuk skelet traksi
adalah sebagai berikut (Smeltzer & Bare,2001 ).
a. Traksi rangka seimbang
Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus
femoralis orng dewasa. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek, tetapi sesunguhnya
hanyalah satu pin rangka yang ditempatkan tramversal melalui femur distal atau tibia
proksimal. Dipasang pancang traksi dan tali traksi utama dipasang pada pancang tersebut.
Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi panggul dan lutut membentuk sekitar 35 ,
kerekan primer disesuaikan sedemikian sehingga garis ketegangan koaksial dengan sumbu
longitudinal femur yang mengalami fraktur. Beban yang cukup berat dipasang sedemikian
rupa mencapai panjang normalnya. Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang
pada bidai tomas alat parson dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali, kerekan dan
beban yang sesuai sehingga kaki tergantung bebas diudara. Dengan demikian pemeliharaan
penderita ditempat tidur sangat mudah. Bentuk traksi ini sangat berguna sekali untuk merawat
berbagai jenis fraktur femur. Seluruh bidai dapat diadduksi atau diabduksi untuk
memperbaiki deformitas angular pada bidang medle lateral fleksi panggul dan lutut lebih
besar atau lebih kecil memungkinkan perbaikan lateral posisi dan angulasi alat banyak
memiliki keuntungan antara lain traksi elefasi keaksial. Longitudinal pada tulang panjang
yang patah, ektermitas yang cidera mudah dijangkau untuk pemeriksaan ulang status neuro
vascular, dan untuk merawat luka lokal serta mempermudah perawatan oleh perawat. Seperti
bentuk traksi yang mempergunakan pin rangka, pasien sebaiknya diperiksa setiap hari untuk
mengetahui adanya peradangan atau infeksi sepanjang pin, geseran atau pin yang kendor dan
pin telah tertarik dari tulang (Wilson, 1995 ).
b. Traksi 90-90-90
Traksi 90-90-90 sangat berguna untuk merawat anak- anak usia 3 tahun sampai dewasa muda.
kontrol terhadap fragmen fragmen pada fraktur tulang femur hamper selalu memuaskan
dengan traksi 90-90-90 penderita masih dapat bergerak dengan cukup bebas diatas tempat
tidur (Wilson, 1995 ).

E. PRINSIP PEMASANGAN TRAKSI


Traksi harus dipasang dengan arah lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang
diinginkan. Dengan cara ini, bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis
tarikan lainnya. Garis-garis tersebut dikenal sebagai vektor gaya. Resultanta adalah gaya
tarikan yang sebenarnya terletak di tempat diantara kedua garis tarikan tersebut. Efek traksi
yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar X, dan mungkin diperlukan penyesuaian. Bila
otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh
gaya tarikan yang diinginkan.
Traksi lurus atau langsung memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan bagian
tubuh berbaring di tempat tidur. Traksi ektensi buck dan traksi pelvis merupakan contoh
traksi lurus.
Traksi suspensi seimbang memberikan dukungan pada ektermitas yang sakit diatas tempat
tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu yanpa terputus garis
tarikan. Tarikan dapat dilakukan pada kulit ( traksi kulit ) atau langsung kesekelet tubuh
(traksi skelet). Cara pemasangan ditentukan oleh tujuan traksi
Traksi dapat dipasang dengan tangan (traksi manual). Ini merupakan traksi yang sangat
sementara yang bisa digunakan pada saat pemasangan gips, harus dipikirkan adanya
kontraksi
Pada setiap pemasangan traksi, harus dipikirkan adanya kontraksi adalah gaya yang bekerja
dengan arah yang berlawanan ( hukum Newton III mengenai gerak, menyebutkan bahwa bila
ada aksi maka akan terjadi reaksi dengan besar yang sama namun arahnya yang berlawanan )
umumnya berat badan pasien dan pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan
kontraksi.
Walaupun hanya traksi untuk ektermitas bawah yang dijelaskan secara terinci, tetapi semua
prinsip-prinsip ini berlaku untuk mengatasi patah tulang pada ektermitas atas.
Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang dengan agak
cepat, terapi fisik harus dimulai segera agar dapat mengurangi keadaan ini.misalnya, seorang
dengan patah tulang femur diharuskan memakai kruk untuk waktu yang lama. Rencana
latihan untuk mempertahankan pergerakan ektermitas atas, dan untuk meningkatkan
kekuatannya harus dimulai segera setelah cedera terjadinya (Wilson, 1995 ).

Prinsip traksi efektif :


1. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif
2. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif.
3. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot dan
biasanya diberikan sebagai traksi intermiten.
4. Traksi skelet tidak boleh terputus.
5. Pemberat tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten. Setiap faktor
yang dapat mengurangi tarikan atau mengubah garis resultanta tarikan harus dihilangkan.
6. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi
dipasang.
7. Tali tidak boleh macet
8. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai
9. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur.
10. Selalu dikontrol dengan sinar roentgen ( Brunner & suddarth,2001 ).

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan foto polos sevikal
Tes diagnostic pertama yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan nyeri leher. Foto
polos sevikal sangat penting untuk mendeteksi adanya fraktur dan subluksasi pada pasien
dengan trauma leher.
2. CT Scan
Pemeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang sevikal dan sangat
membantu bila ada fraktur akut.
3. MRI ( Magnetic resonance imaging )
Pemeriksaan ini sudah menjadi metode imajing pilihan untuk daerah sevikal MRI dapat
mendeteksi kelainan ligament maupun discus.MRI menggunakan medan magnet kuat dan
frekuensi radio dan bila bercampur dengan frekuensi radio yang dilepaskan oleh jaringan
tubuh akan menghasilkan citra MRI yang berguna dalam mendiagnosis tumor, infrak, dan
kelainan pada pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini, penderita tidak terpajan oleh radiasi
dan tidak merasa nyeri walaupun pasien dapat mengeluh klaustrofobia dan suara logam yang
mengganggu selama prosedur ini.
4. Elektrokardiografi ( EMG)
Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah suatu gangguan bersifat neurogenik atau
tidak. Karena pasien dengan spasme otot, atritis juga mempunyai gejala yang sama. Selain itu
juga untuk menentukan level dari iritasi/ kompresi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi
saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau kompresi.

G. PRISIP PERAWATAN TRAKSI


1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas
dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema, eritema

H. KOMPLIKASI
Dekubitus, kulit pasien diperiksa sesering mungkin mengenai tanda tekanan atau lecet.
Perhatian khusus diberikan pada tonjolan tulang. Perlu diberikan intervensi awal untuk
mengurangi tekanan. Perubahan posisi pasien perlu sering dilakukan dan memakai alat
pelindung kulit sangat membantu. Bila risiko kerusakan kulit sangat tinggi, seperti pada
pasien trauma ganda atau pada pasien lansia yang lemah, perawat harus berkonsultasi dengan
dokter mengenai penggunaan tempat tidur khusus untuk membantu mencegah kerusakan
kullit. Bila telah terbentuk ulkus akibat tekanan, perawat harus berkonsultasi dengan dokter
mengenai penanganannya.
Kongesti paru/pneumonia. Paru pasien diauskultasi untuk mengetahui status pernapasannya.
Pasien diajari untuk menarik napas dalam dan batuk-batuk untuk membantu pengembangan
penuh paru-paru dan mengeluarkan skresi paru. Bila riwayat pasien dan data dasar
pengkajian menunjukkan bahwa pasien mempunyai resiko tinggi mengalami komplikasi
respirasi, perawat harus berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan terapi khusus.
Bila telah terjadi masalah respirasi, perlu diberikan terapi sesuai resep.
Konstipasi dan anoreksia. Penurunan motilitas gastrointestinal menyebabkan anorekksia dan
konnstipasi. Diet tnggi serat dan tinggi cairan dapat membantu merangsanng motilitas gaster.
Bila telah terjadi konstipasi, perawat dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai
penanganannya, yang mungkin meliputi pelunak tinja, laksatif, supositoria, dan enema.
Untuk memmperbaiki nafsu makan pasien, harus dicatat makanan apa yang disukai pasien
dan dimasukkan dalam program diet, sesuai kebutuhan.
Stasis dan infeksi saluran kemih. Pengosongan kandung kemih yang tak tuntas Karena posisi
pasien di tempat tidur dapat mengakibatkan stasis dan infeksi saluran kemih. Selain itu pasien
mungkin merasa bahwa menggunakan pispot di tempat tidur kurang nyaman dan membatasi
cairan masuk untuk mengurangi frekuensi berkemih. Perawat harus memantau masukan
cairan dan sifat kemih. Perawat harus mengajar pasien untuk meminum cairan dalam jumlah
yang cukup dan berkemih tiap 2 sampai 3 jam sekali. Bila pasien memperlihatkan tanda dan
gejala infeksi saluran kemih, perawat segera berkonsultasi dengan dokter mengenai
penanganan masalah ini.
Trombosi vena profunda. Stasis vena terjadi akibat imobilitas. Perawat harus mmengajar
pasien untuk malakuka latihan tumit dan kaki dalam batas terapi traksi secara teratur
sepanjang hari untuk mencegah terjadinya trombosis vena provunda (DVT). Pasien didorong
untuk meminum air untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsenntrasi yang menyertainya,
yang akan mengakibatkan stasis. Perawat memantau pasien terhadap terjadinya tanda DVT
dan melaporkan hasil temuannya segera mungkin ke dokter untuk evaluasi definitive dan
terapi.

A. Pengkkajian Keperawatan
Dampak psikologik dan fisiologik masalah musculoskeletal, alat traksi, dan imobilitas harus
diperhitungkan. Traksi membatasi mobilitas dan kemandirian seseorang. Peralatannya sering
terlihat mengerikan, dan pemasangannya tampak menakutkan. Kebingungan, disorientasi,
dan masalah perilaku dapat terjadi pada pasien yang terkungkung pada tempat terbatas
selama waktu yang cukup lama. Maka tingkat ansietas pasien dan respon psikologis terhadap
traksi harus dikaji dan dipantau. Bagian tubuh yang ditraksi harus dikaji. Status
neurovaskuler (misal : warna, suhu, pengisian kapiler, edema, denyut nadi, perabaan,
kemampuan bergerak) dievaluasi dan dibandingkan dengan ekstremitas yang sehat. Integritas
kulit harus diperhatikan.
Pengkajian fungsi system tubuh harus dilengkapi sebagai data dasar dan perlu dilakukan
pengkajian terus menerus. Imobilisasi dapat menyebabkan terjadinya masalah pada system
kulit, respirasi, gastrointestinal, perkemihan, dan kardiovaskuler. Masalah tersebut dapat
berupa ulkus akibat tekanan, kongesti paru, statis pneumonia, konstipasi, kehilangan nafsu
makan, satis kemih dan infeksi saluran kemih. Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan,
atau pembengkakan atau tanda human positif (ketidaknyamanan pada betis ketika kaki
didorsofleksi dengan kuat) mengarahkan adanya trombosis vena dalam. Identifikasi awal
masalah yang telah muncul dan sedang berkembang memungkunkan intervensi segera untuk
mengatasi masalah tersebut.

B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan utama paasien karena
traksi dapat meliputi yang berikut :
1. Kurang pengetahuan mengenai program terapi
2. Ansietas yang berhubungan dengan status kesehatan dan alat traksi
3. Nyeri dam ketidaknyamanan yang berhubungan dengan traksi dan imobilisasi.
4. Kurang perwatan diri : makan, hygiene, atau toileting yang berhubungan dengan traksi
5. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan proses penyakit dan traksi

C. Intervensi
1. Dorong klien latihan aktif untuk daerah yang dapat dilakukan:
Dorong klien pada aktivitas terapeutik dan pertahankan rangsangan lingkungan. Ex : TV,
radio, kunjungan keluargaKaji derajat imobilitas yang dihasilkan karena adanya traksi dan
perhatikan persepsi klien terhadap imobilisasi
2. Tingkatkan bagian tubuh yang sakit dengan meninggikan kaki tempat tidur.
a Berikan tindakan kenyamanan (contoh : sering ubah posisi, pijatan punggung) dan
aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan teknik manajemen stres (contoh: nafas dalam,
visualisasi) dan sentuhan terapeutik
b. Berikan pijatan lemah pada area luka sesuai toleransi bila balutan telah dilepas
c. Selidiki keluhan nyeri luka, kemajuan yang tak hilang dengan analgesik
d. Berikan obat sesuai indikasi, contoh: analgesik, relaksan otot
e. Berikan pemanasn lokal sesuai indikasi
f. Ubah posisi dengan sering geraka pasien dengan perlahan-lahan dan beri bantalan pada
tonjolan tulang dengan pelindung
3. Beri penguatan pada balutan awal sesuai dengan indikasi. Gunakan teknik aseptik dengan
tepat
a. Pertahankan klien tetap kering. Bebas keriput
b. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar
c. Kaji hambatan terhadap partisipasi terhadap perawatan diri
4. Berikan waktu yang cukup untuk melakukan tugas-tugas dan tingkatkan kesabaran
Antisipasi kebutuhan kebersihan dan bantu klien sesuai dengan kebutuhan
5. Dorong ekspresi ketakutan masalah klien
a. Diskusikan tindakan keamanan
b. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stres. Ex: bimbinan imajinasi, nafas
dalam
c. Instruksikan klien, keluarga untuk melakukan perawatan mandiri
6. Dorong klien melakukan program latihan berkesinambungan
a. Tekankan diet seimbang dan pemasukan cairan yang adekuat
b. Anjurkan penghentian merokok
c. Indentifikasi tanda gejala yang memerlukan evaluasi medik. Ex: edema, eritema, dsb

2. PEMASANGAN GIPS

A. Pengertian
Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara keras
area yang mengalami patah tulang. Pemasangan gips dikerjakan 2-3 orang, seorang
memasang perban (operator), seorang membantu dan memegang perban pada operator
dan orang ke tiga menyangga ektremitas agar posisi tetap. Waktu pemasangan gips
sesuai dengan variasi daya rekat bahannya yang pada umumnya 2-6 menit. Harus
dijaga agar ektremitas tidak bergerak selama pemasangan.
B. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak
bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara
mengimobilisasi tulang yang patah tersebut.
C. Peralatan
- Plester / perban sintetik yang dapat dilebarkan
- Perban gulungan / perban elastik
- Lembaran gips berbentuk anyaman kecil
- Bidai untuk penguat
- Busa gips dari katun, poliester/poliethan untuk menyangga tulang
- Pisau
- Gunting
- Spidol permanen
- Beberapa lembar polietilen/koran untuk alas lantai
- Sarung tangan sekali pakai untuk melindungi tangan operator
- Wadah plastik besar berisi air bersuhu ruang 21-24 C atau sesuai petunjuk dari
pabrik gips
- Krem tangan yang dipakai setelah pemasangan gips sintetik
D. Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Membentangkan polietilen/koran di lantai
3. Menjelaskan pada klien apa yang akan dirasakan (rasa hangat pada saat
pemasangan perban)
4. Mengukur perban gulung dan lembaran gips pada bagian ekstremitas yang akan di
imobilisasikan
- Lembar gips diatur sedemikian rupa agar teratur masing-masing tersusun berlapis
sampai habis rol gips
- Beberapa lembar gips tambahan diletakkan diatas untuk penyangga tulang okranon,
maleoli dan patella
- Lembar gips dipasang dari ujung distal sampai pada proksimal ektremitas. Bila
terlalu banyak gips yang digunakan akan memungkinkan pemborosan dan menekan
daerah dibawah pemasangan gips.
- Bagian tengah balutan perban tetap tegak pada air (suhu ruangan) untuk beberapa
menit dan menjadi lunak agar mudah digunakan. Periksa langsung bahan gips sintetik
- Memeriksa efek air terhadap kekuatan rekat/tidak lentur pada tengah balutan oleh
operator dengan hati-hati agar tak jatuh. Kekuatan maksimal dihasilkan oleh gips
sintetik dari reaksi kimia
5. Mulai dari ujung distal, balutkan gips dengan baik dan tepat pada ektremitas, secara
berlapis sampai habis rol. Jaga gerakan gips dan tetap menempel dengan baik pada
permukaan ektremitas. Secara hati-hati kombinasikan balutan berurutan kebawah dan
balikkan tiap balutan menuju ke posisi bawah dengan tungkai dan tulang jari (ujung
jari) secara melingkat atau memanjang. Jaga kombinasi susunan bawah gips agar
sejajar dengan permukaan gips (tanpa penekanan) dan berlapis-lapis sehingga
membentuk gambaran huruf V.
6. Potong gips sesuai ukuran dengan pisau tajam. Pasang perban gulung diatas
susunan gips dan sesuaikan dengan bahan gips
7. Mengakhiri pemasangan gips dengan krem tangan gips untuk menjaga agar
permukaan kulit luar tetap halus
8. Tanyakan pada klien jika hal ini menyebabkan ketidak nyamanan atau nyeri
9. Mencatat diagnosa dan data kecelakaan dan pemasangan gips dengan spidol
permanen pada permukaan gips setelah mengering
10. Menghindarkan gips terhadap jari-jari tangan selama pasien bergerak. Keringkan
dengan menganginkan gips agar hangat, sirkulasi lancar dan alirkan udara. Atau
kipaskan udara diatas gips dengan kipas berputar untuk mempercepat penguapan air.
11. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien pada catatan klien.
3. AMPUTASI

Amputasi adalah penghilangan ujung anggota tubuh oleh trauma fisik atau operasi.

Sebagai ukuran medis, amputasi digunakan untuk memeriksa rasa sakit atau proses
Penyebaran penyakit dalam kelenjar yang terpengaruh, misalnya pada malignancy

atau gangrene
. Dalam beberapa kasus amputasi dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut
menyebar lebih jauh dalam tubuh. Dalambeberapa Negara Isla,m amputasi tangan
atau kaki kadang digunakan sebagai bentuk hukuman bagi para criminal. Dalam
beberapa budaya dan agama, amputasi minor atau mutilasi dianggap sebagai suatu
pencapaian spiritual.
ASKEP AMPUTASI

A. Pengertian
Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh.
B. Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :
1. Iskemia karena penyakit reskularisasi perifer, biasanya pada orang tua, seperti klien

denganartherosklerosis, Diabetes Mellitus.


2.Trauma amputasi,
bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, thermal injury
sepertiterbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets
disease dan kelainankongenital.
C. Patofisiologi
Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh, dengan dua
metode :
1. Metode terbuka (guillotine amputasi).
Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Bentuknya
benar-benarterbuka dan dipasang drainage agar luka bersih, dan luka dapat ditutup
setelah tidak terinfeksi.
2. Metode tertutup (flap amputasi)
Pada metode ini, kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah
yangdiamputasi
3. Tidak semua amputasi dioperasi dengan terencana, klasifikasi yang lain adalah
karena trauma amputasi.

C. Tingkatan Amputasi
1. Ekstremitas atasAmputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau
kiri. Hal ini berkaitandengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi,
berpakaian dan aktivitas yanglainnya yang melibatkan tangan.
2. Ekstremitas bawahAmputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau
sebagian dari jari-jari kaki yangmenimbulkan seminimal mungkin kemampuannya
.
Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi
m e n j a d i d u a l e t a k amputasi yaitu
a. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation).
Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan
inschemic limb.
b. Amputasi diatas lutut
Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit
vaskuler perifer.

3. Nekrosis.
Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif, bila
tidakberhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi.

4. Kontraktur.
Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi
sertamelakukan latihan sedini mungkin. Terjadinya kontraktur sendi karena sendi
terlalu lamadiistirahatkan atau tidak di gerakkan
.
5. Neuroma.
Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga
melengketdengan kulit ujung stump. Hal ini dapat dicegah dengan memotong
saraf lebih proximal daristump sehingga tertanam di dalam otot.

6. Phantom sensation.
Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih
utuhnyae k s t r e m i t a s t e r s e b u t d i s e r t a i r a s a n y e r i . H a l i n i d a p a t
d i a t a s i d e n g a n o b a t - o b a t a n , stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara
kombinasi.

D. Penatalaksanaan AmputasiAmputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang


baik dan berfungsi

Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu :


1. Rigid dressingYaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar
operasi. Pada waktumemasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau
tidak. Bila tidak diperlukanpemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai
menyebabkan konstriksi stump danmemasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat
tulang yang menonjol. Keuntungan cara inibisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan
mempercepat posisi berdiri.Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi
segera, mobilisasisetelah 7 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 3 minggu,
setelah stumpsembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini
dipertimbangkan jugafaktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawat yang
terampil, therapistdan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk
melakukan supervisiprogram perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 10 post
operasi untuk melihatluka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-
tanda infeksi lokal atausistemik.
2. Soft dressingYaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut
steril yang rapi dansemua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus
diperhatikan penggunaan elastikverban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump.
Ujung stump dielevasi denganmeninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan
mengganjal bantal pada stump tidak baiksebab akan menyebabkan fleksi kontraktur.
Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah48 jam. Ujung stump ditekan sedikit
dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkinuntuk berdiri setelah kondisinya
mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 14 postoperasi. Pada amputasi diatas
lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawahstump, hal ini perlu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur.

F. Dampak Masalah
Terhadap Sistem Tubuh.Adapun pengaruhnya meliputi :
1. Kecepatan metabolisme
Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada
fungsi simpatikserta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan
kecepatan metabolisme basal.
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari
anabolisme, makaakan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini
menyebabkan pergeseran cairan intravaskulerke luar keruang interstitial pada bagian
tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema.Immobilitas menyebabkan sumber
stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan
rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH,
sehinggaterjadi peningkatan diuresis.
3. Sistem respirasia.
a.Penurunan kapasitas paruPada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang,
maka kontraksi otot intercostarelatif kecil, diafragma otot perut dalam
rangka mencapai inspirasi maksimal danekspirasi paksa.
b.Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal
terjadi perbedaan rasio ventilasid e n g a n p e r f u s i s e t e m p a t , j i k a s e c a r a
m e n d a d a k m a k a a k a n t e r j a d i p e n i n g k a t a n metabolisme (karena latihan
atau infeksi) terjadi hipoksia.
c. Mekanisme batuk tidak efektifAkibat immobilisasi terjadi penurunan kerja
siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan
menjadi lebih kental dan mengganggu gerakansiliaris normal.
4. Sistem Kardiovaskulera.
a.Peningkatan denyut nadiTerjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor
metabolik, endokrin dan mekanismepada keadaan yang menghasilkan
adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.
b. Penurunan cardiac reserveDibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat,
hal ini mengakibatkan waktupengisian diastolik memendek dan penurunan isi
sekuncup.
c. Orthostatik HipotensiPada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer,
d imana anterior danv e n u l a t u n g k a i b e r k o n t r a k s i t i d a k a d e k u a t ,
v a s o d i l a t a s i l e b i h p a n j a n g d a r i p a d a vasokontriksi sehingga darah
banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun,
jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untukmemenuhi perfusi ke
otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada
saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.

5. Sistem Muskuloskeletal

a. Penurunan kekuatan otot


Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai
O2dan n u t r i s i s a n g a t b e r k u r a n g p a d a j a r i n g a n , d e m i k i a n p u l a
d e n g a n p e m b u a n g a n s i s a metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan
kelelahan otot.
b. Atropi otot
Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan
fungsipersarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.
c. Kontraktur sendi
Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya
keterbatasangerak
d. Osteoporosis
Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik
dananorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.
5. Sistem Pencernaanan
a. Anoreksia
Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan
m e m p e n g a r u h i s e k r e s i kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan
sekresi serta penurunan kebutuhankalori yang menyebabkan menurunnya nafsu
makan.
b. Konstipasi
Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter
anusmenjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon,
menjadikanfaeces lebih keras dan orang sulit buang air besar.

6. Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam
keadaansejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal
banyak menahan urinesehingga dapat menyebabkan :- Akumulasi endapan urine di
renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal.- Tertahannya urine pada ginjal akan
menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapatmenyebabkan ISK
7. Sistem integumen
Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan
tertekansehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan.
Jika hal ini dibiarkanakan terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika
tekanan dihilangkan dan kulitdimasase untuk meningkatkan suplai darah.
G. Diagnosa Keperawatan
Untuk klien dengan amputasi diagnosa keperawatan yang lazim terjadi adalah :
1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh.
2. Gangguan konsep diri ; body image berhubungan dengan perubahan fisik.
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan tulangdan otot.
4 . G a n g g u a n p e m e n u h a n AD L ; p e r s o n a l h yg i e n e k u r a n g
b e r h u b u n g a n d e n g a n k u r a n g n y a kemampuan dalam merawat diri.
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama.
6. Potensial kontraktur berhubungan dengan immobilisasi.
7. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka.

H. Perencanaan
1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh.
a. Tujuan :
Jangka Panjang : Mobilisasi fisik terpenuhi.
Jangka Pendek :
- Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lainnya yang masih ada.
- Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk.
- ROM, tonus dan kekuatan otot terpelihara.
- Klien dapat melakukan ambulasi.
b. Intervensi

1.) Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang diakibatkan oleh prosedur pengobatan
dancatat persepsi klien terhadap immobilisasi.
Rasional : Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan
persepsiklien terhadap immobilisasi akan dapat menemukan aktivitas manasaja yang
perlu dilakukan.
2) Latih klien untuk menggerakkan anggota badan yang masih ada.
Rasional : Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot,
memeliharapergerakan sendi dan mencegah kontraktur, atropi.
2.) Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan menggunakan tongkat dan kursi roda.
Rasional : Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan alat-
alat yang perlu digunakan oleh klien dan juga untuk memenuhiaktivitas klien.
3.) Ganti posisi klien setiap 3 4 jam secara periodik
Rasional : Pergantian posisi setiap 3 4 jam dapat mencegah terjadinya kontraktur.
4.) Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk dan turun dari tempat tidur.
Rasional : Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan
turundari tempat tidur.

2. Gangguan konsep diri ; body image berhubungan dengan perubahan fisik.a.


Tujuan :
Jangka Panjang :
Klien dapat menerima keadaan fisiknya.
Jangka Pendek :
- Klien dapat meningkatkan body image dan harga dirinya.
- Klien dapat berperan serta aktif selama rehabilitasi dan self care.

3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan


tulangdan otot.
a. Tujuan :
Jangka Panjang : Nyeri berkurang atau hilang

Jangka Pendek :
- Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan
- Klien menyatakan nyerinya berkurang
- Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri.

b. Intervensi :
1.) Tinggikan posisi stump
Rasional : Posisi stump lebih tinggi akan meningkatkan aliran balik vena, mengurangiedema
dan nyeri
.2.) Evaluasi derajat nyeri, catat lokasi, karakteristik dan intensitasnya, catatperubahan tanda-
tanda vital dan emosi
.Rasional : Merupakan intervensi monitoring yang efektif. Tingkat kegelisahanmempengaruhi
persepsi reaksi nyeri.
3.) Berikan teknik penanganan stress seperti relaksasi, latihan nafas dalam ataumassase dan
distraksi
Rasional : Distraksi untuk mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri karenaperhatian klien
dialihkan pada hal-hal lain, teknik relaksasi akanmengurangi ketegangan pada otot yang
menurunkan rangsang nyeripada saraf-saraf nyeri.
Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat meningkatkan ambang nyeri pada pusat nyeri di otak ataudapat
membloking rangsang nyeri sehingga tidak sampai ke susunansaraf pusat
.
4 . G a n g g u a n p e m e n u h a n AD L ; p e r s o n a l h yg i e n e k u r a n g b e r h u b u n g a n
d e n g a n k u r a n g n y a kemampuan dalam merawat diri.
a. Tujuan :
Jangka Panjang : Klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri.
Jangka Pendek :
- Tubuh, mulut dan gigi bersih serta tidak berbau.
- Kuku pendek dan bersih.-
Rambut bersih dan rapih- Pakaian, tempat tidur dan meja klien bersih dan rapih.- Klien
mengatakan merasa nyaman.
b. Intervensi :
1.) Bantu klien dalam hal mandi dan gosok gigi dengan cara mendekatkan alat-alat mandi,dan
menyediakan air di pinggirnya, jika klien mampu.
Rasional : Dengan menyediakan air dan mendekatkan alat-alat mandi maka akanmendorong
kemandirian klien dalam hal perawatan dan melakukanaktivitas.
2.) Bantu klien dalam mencuci rambut dan potong kuku.
Rasional : Dengan membantu klien dalam mencuci rambut dan memotong kuku
makakebersihan rambut dan kuku terpenuhi.
3.) Anjurkan klien untuk senantiasa merapikan rambut dan mengganti pakaiannya setiaphari.
Rasional : Dengan membersihkan dan merapihkan lingkungan akan memberikan rasanyaman
klien.
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama.
a. Tujuan :
Jangka Panjang : Klien dapat sembuh tanpa komplikasi seperti infeksi
. Jangka Pendek :
- Kulit bersih dan kelembaban cukup.
- Kulit tidak berwarna merah
.- Kulit pada bokong tidak terasa ngilu.
b. Intervensi :
1.) Kerjasama dengan keluarga untuk selalu menyediakan sabun mandi saat mandi.
Rasional : Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dankotoran pada
kulit sehingga kulit bersih dan tetap lembab.
2.) Pelihara kebersihan dan kerapihan alat tenun setiap hari.
Rasional : Alat tenun yang bersih dan rapih mengurangi resiko kerusakan kulit danmencegah
masuknya mikroorganisme.
3.) Anjurkan pada klien untuk merubah posisi tidurnya setiap 3 4 jam sekali
Rasional : Untuk mencegah penekanan yang terlalu lama yang dapat menyebabkaniritasi.
6. Resiko tinggi terhadap kontraktur berhubungan dengan immobilisasi.
a. Tujuan :
Jangka Panjang : Kontraktur tidak terjadi
Jangka Pendek :
- Klien dapat melakukan latihan rentang gerak.
- Setiap persendian dapat digerakkan dengan baik.
- Tidak terjadi tanda-tanda kontraktur seperti kaku pada persendian.
b. Intervensi :
1.) Pertahankan peningkatan kontinyu dari puntung selama 24 48 jam sesuai
pesanan.Jangan menekuk lutut, tempat tidur atau menempatkan bantal dibawah sisa
tungkai,tinggikan kaku tempat tidur melalui blok untuk meninggikan puntung.
Rasional : Peninggian menurunkan edema dan menurunkan resiko kontraktur fleksidari
panggul.
2.) Tempatkan klien pada posisi telungkup selama 30 menit 3 4 kali setiap hari
setelahperiode yang ditentukan dari peninggian kontinyu.
Rasional : Otot normalnya berkontraksi waktu dipotong. Posisi telungkup
membantumempertahankan tungkai sisa pada ekstensi penuh.
3.) Tempatkan rol trokanter disamping paha untuk mempertahankan tungkai adduksi.
Rasional : Kontraktur adduksi dapat terjadi karena otot fleksor lebih kuat daripada otot
ekstensor.

4.) Mulai latihan rentang gerak pada puntung 2 3 kali sehari mulai pada hari pertamapasca
operasi. Konsul terapist fisik untuk latihan yang tepat.
Rasional : Latihan rentang gerak membantu mempertahankan fleksibilitas dan tonusotot.
7. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka.
a. Tujuan : Jangka Panjang : Infeksi tidak terjadi
Jangka Pendek :- Luka bersih dan kering
- Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak
.- Tanda-tanda vital normal- Nilai leukosit normal (5000 10.000/mm3)
b.. Intervensi :
1.) Observasi keadaan luka
Rasional : Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepatditanggulangi.
2.) Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan keperawatan
Rasional : Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan ataumembunuh
kuman sehingga infeksi tidak terjadi.
3.) Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril.
Rasional : Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan denganmenggunakan
peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasioleh kuman dari luar
.4.) Monitor LED
Rasional : Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang merupakantanda-
tanda infeksi.
5.) Monitor tanda-tanda vital.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan tekanandarah
merupakan salah satu terjadinya infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Armis.1994. TRAUMA SISTEM MUSKULOSKELETAL. Yogyakarta : FK UGM

Closkey JC & Bulechek. 2008. Nursing Intervention Classification. 4th ed. Mosby Year Book

http://mntrinews.blogspot.com.

Johnson M, dkk. 2004. Nursing Outcome Classification (NOC). 3rd edition. Mosby.

Kenneth J. Noonan, M.D.*&Jedediah W. Jones, M.D. Recurrent Supracondylar Humerus


Fracture Following Prior Malunion.

NANDA, 2001, Nursing Diagnosis: Definition & Classification 2001-2002, Philadelphia,


North American Nursing Diagnosis Association

Smeltzer and Bare, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta

Sukarna IP (1998) Plaster cast. Teknik memasang gips. Surabaya, hal 1-9.