Anda di halaman 1dari 5

PENGUJIAN SIFAT

BIOKIMIA MIKROBA

3 Votes

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum


Praktikum ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa dengan beberapa pengujian biokimia
yang digunakan untuk karakterrisasi dan identifikasi mikrobia.
1.2 Dasar Teori
Biokimia merupakan ilmu yang mempelajari tentang senyawa-senyawa yang ada dalam
sistem hidup, penyusunan senyawa-senyawa tersebut ke dalam sel-sel dan interaksi kimia
yang terjadi. Sel-sel pada makhluk hidup tersusun dari biomolekul. Untuk dapat
mempertahankan hidup, sel-sel mengalami metabolisme (reaksi pada sel). Dalam
metabolisme sel menyerap energi dari makanan atau nutrisinya, energi ini digunakan untuk
membentuk biomolekul penyusun sel (Adila, 2011).
Aktivitas metabolisme tidak terlepas dari adanya enzim. Berdasarkan tempat bekerjanya,
bakteri memiliki juga jenis enzim yaitu endoenzim dan eksoenzim. Endoenzim yaitu enzim
yang berkerja dalam sel. Sistem endoenzim selain bersifat anabolik dapat juga bersifat
katabolik.sedangkan eksoenzim yaitu enzim yang disekresikan ke luar sel dan berdifusi ke
dalam media. Sebagian besar eksoenzim bersifat hidroliktik, yang berarti bahwa eksoenzim
menguraikan molekul kompleks menjadi molekul yang molekul-molekul yang lebih
sederhana. Molekul-molekul yang lebih kecil ini kemudian dapat memasuki sel dan
digunakan untuk kepentingan sel. Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya
dilihat dari interaksi metabolit-metabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia. Selain
itu dilihat kemampuannya menggunakan senyawa tertentu sebagai sumber karbon dan
sumber energi (Waluyo, 2004).
Karakterisasi dan klasifikasi sebagian besar mikrobia seperti bakteri berdasarkan pada reaksi
enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media, memproduksi
tipe metabolit tertentu yang dideteksi dengan interaksi mikrobia dengan reagen test yang
menghasilkan warna reagen. Reaksi-reaksi dalam sel akan teridentifikasi dengan melakukan
pengujian-pengujian tertentu. Sel akan memberikan respon sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya, misalnya menghasilkan enzim katalase, enzim gelatinase atau kemampuan untuk
menghidrolisis lemak (Pelczar 1986).
Beberapa uji biokimia yang dilakukan yaitu:
Uji Katalase
Biakan murni diinokulasi ke dalam masing-masing tabung medium NA miring dan satu
tabung untuk kontrol. Diinkubasi selama 48 jam. Setelah diinkubasi pada masing-masing
tabung ditambhkan 2-3 tetes larutan H2O2 3% pada permukaan media, jika terjadi reduksi
H2O2 akan terlihat adanya gelembung O2 di sekeliling pertumbuhan bakteri.
Uji Hidrolisis Gelatin
Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium nutrien gelatin pada tabung reaksi secara aseptik
diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam. Kemudian kultur diletakkan pada pendingin
dengan suhu 4oC selama 30 menit. Indikator pengamatan reaksi positif jika medium tetap
menjadi cair, dan negatif apabila medium berubah menjadi padat. Hal ini menunjukkan
bahwa bakteri mampu menghidrolisis gelatin sehingga medium tetap cair saat didiamkan
pada suhu 4oC selama 30 menit.
Uji Indol
Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium nutrien gelatin pada tabung reaksi secara aseptik,
diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam. Setelah diinkubasi ditetesi dengan 10 tetes
reagen Kovacs dan uji akan bernilai positif merupakan indikasi bahwa bakteri mampu
memecah asam amoni tryptopan dengan pembentukan warna merah pada permukaan
medium.
Uji Fermentasi Gula, H2S dan Gas dengan TSIA
Isolat bakteri diinokulasi ke dalam medium TSIA dalam tabung reaksi secara vertikal pada
bagian buut dan secara streak pada bagian slant. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48
jam dan diamati perubahan yang terjadi pada medium. Uji glukosa positif jika fenol merah
menjadi kuning pada bagian bawah tabung reaksi, sedangkan pada bagian atas permukaan
miring media (slant) berwarna merah. Uji laktosa atau sukrosa positif jika terjadi perubahan
warna dari merah menjadi kuning pada permukaan miring media dan pada bagian bawah
medium juga berwarna kuning. Indikator terbentuknya H2S dengan adanya warna hitam pada
medium dan terbentuknya gas ditandai dengan pecahnya medium di bagian ujung bawah
tabung reaksi (Maida, 2011).

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 2 April 2012, pukul 09.55-12.00 bertempat di
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Lambung Mangkurat Banjarbaru.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas objek, jarum ose, Bunsen, alkohol 70%,
pipet volumetric, pipet tetes.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum yaitu biakan bakteri(E. coli, Bacillus sp, dan S.
aureus), larutan H2O2 3%, media Triple Sugar Iron Agar (TSIA),media nutrient gelatin,
reagen Ehrlich, media tryptone broth.
2.3 Prosedur Kerja
2.3.1 Uji Katalase
Disterilkan jarum ose diatas Bunsen
Dibuka sumbat tabung sterilkan, kemudian ambil biakan E. coli dengan ose.
Diletakkan diatas gelas objek, kemudian ditetesi dengan larutan H2O2 3%.
Diamati adanya gelembung-gelembung O2
Dilakukan hal yang sama untuk biakan Bacillus sp.
2.3.2 Produksi Indol
Disterilkan jarum ose diatas Bunsen.
Dibuka sumbat tabung sterilkan, kemudian ambil biakan E. coli dengan jarum ose
Dimasukkan kedalam media broth dengan cara menggoyangkan jarum osenya sampai tidak
ada lagi biakan yang menempel.
Disteril lalu tutup lagi dengan sumbatnya.
Dilakukan cara yang sama pada biakan Bacillus sp.
Disiapkan juga untuk kontrol.
Diseal semua tabungnya lalu inkubasi pada suhu 37C selama 24 jam.
Diamati perubahan yang terjadi hasil posotif jika terbentuk cincin berwarna merah keunguan.
2.3.3 Produksi H2S
Disterilkan jarum ose diatas bunsen.
Dibuka sumbat sterilkan, ambil biakan E. coli dengan ose, steril lagi lalu tutup sumbatnya.
Dimasukkan kedalam media TSIA dengan cara gores secara perlahan setelah itu ditusuk pada
bagian ujungnya.
Dilakukan hal yang sama pada biakan Bacillus sp.
Disiapkan kontrol
Diseal tabung-tabung tersebut lalu diinkubasi pada 37C selama 24-48 jam.
Diamati perubahan yang terjadi hasil positif apabila disekitar tusukan berwarna hitam.

2.3.4 Uji Hidrolisis Gelatin


Disterilkan ose diatas Bunsen.
Biakan (E. coli dan S. aureus) diinokulasikan pada media gelatin.
Diseal dan siapkan kontrol.
Diinkubasi pada suhu 37 C selama 1-7 hari.
Diamati perubahannya, hasilnya positif apabila terhidrolisis atau cair saat dimasukkan ke
dalam air es.

3.2 Pembahasan
Pengujian sifat biokimia pada mikroba dilakukan bertujuan untuk memudahkan
mengidentifikasi mikroba atau memudahkan kita untuk mengkarakterisasi mikroba. Uji
biokimia yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu uji katalase, uji produksi indol,
produksi H2S, dan uji hidrolisis gelatin.
Uji Katalase dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri tersebut merupakan bakteri aerob
atau anaerob obligat. Pada pengamatan yang dilakukan pada E. coli dan Bacillus sp.
keduanya positif adanya gelembung-gelembung O2. Pada uji ini ditambahkan H2O2 bersifat
toksik, apabila bakteri dapat merubahnya menjadi air dan oksigen maka sifat toksik tersebut
akan hilang dengan reaksi oleh enzim katalase tersebut. Menurut pengamatan yang dilakukan
oleh Helda (2011) untuk uji katalase ini hasilnya sama dengan pengamatan yang di lakukan.
Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
2 H2O2 2 H2O + O2 (Volk 1993).
Uji hidrolisis gelatin bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu mikroorganisme
membentuk enzim semacam proteolitik (gelatinase) yang dapat mencairkan gelatin
merupakan hidrolisis dari asam amino. Gelatin adalah protein yang diperoleh dari hidrolisis
kalogen. Jika media memadat atau membeku setelah pendinginan, tes menunjukan negatif
(bakteri tidak dapat mencerna gelatin). Jika media tetap cair setelah pendinginan maka hasil
percobaan tersebut positif (bakteri dapat mencerna gelatin). Reaksinya yaitu :
Gelatin (gelatinase ) peptida-peptida kecil (Lay, 1994).
Pengamatan dilakukan pada E. coli dan S. aureus yang diinkubasi pada suhu 37C selama
24 jam apabila gelatin tetap cair saat didinginkan itu artinya bakteri tersebut mampu
menghidrolisis media tersebut positif terhidrolisi dan hasil yang didapat untuk kedua bakteri
tersebut adalah positif. Hasil dari percobaan Helda (2011) E. coli nya negatif atau tidak
terhidrolisis.
Produksi indol dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri tersebut mampu memecah protein
atau tidak. Apabila terjadi produksi indol maka akan terbentuk cincin berwarna merah
keunguan. Reaksinya yaitu:

(Lay, 1994)
Setelah biakan E. coli dan Bacillus sp. diinokulasi dan ditambahkan reagen Ehrlich yang
berfungsi setelah itu diinkubasi pada suhu 37C selama 24
jam hasil yang diamati yaitu negatif karena tidak terdapat cincin berwarna merah keunguan
pada sampel tersebut.
Uji produksi H2S dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri mampu memecah asam amino
yang mengandung sulfur. Hasil positif ditandai dengan adanya endapan berwarna hitam
disekitar tusukan. Reaksinya yaitu:
Sisitein H2S + Asam -amino Aklirat Asam Amino H2O Asam Piruvat
(Cappuccino & Sherman, 1992).
Setelah dilakukan percobaan untuk bakteri E. coli dan Bacillus sp. tersebut hasilnya adalah
negatif artinya bakteri tersebut tidak dapat memecah asam amino yang mengandung sulfur
karena tidak ada endapan berwarna hitam disekitar tusukan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
E. coli dan Bacillus sp. hasilnya positif pada uji katalase ditandai dengan adanya gelembung-
gelembung O2.
E. coli dan Bacillus sp. hasilnya negatif pada uji produksi indol karena tidak ada tanda-tanda
adanya cincin berwarna merah keunguan.
E. coli dan Bacillus sp. hasilnya negatif pada produksi H2S karena disekitas tusukan tidak
ada tanda-tanda warna hitam.
E. coli dan S. aureus hasilnya positif pada uji hidrolisis gelatin itu ditandai dengan media
tetap cair saat dicelupkan pada es.
Saran
Sebaiknya praktikan memahami prosedurnya dan mengingat prinsip kerjanya.

DAFTAR PUSTAKA

Adila, R. F. 2011. Karakteristik Biokimia dan Fisiologis Bakteri.IPB. Bandung.


Capuccino, J.G & Sherman, N. 1992. Microbiology a Laboratory Mannual. The
Benjamin/Cummings Publish. USA.
Helda. 2011. Uji Biokimia.
http://heldaluvchemeng.blogspot.com
Diakses pada tanggal 30 Maret 2012

Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Maida. 2011. Pengujian Fisiologis Dengan Reaksi Biokimia.


http://maidachan.blogspot.com
Diakses pada tanggal 6 April 2012

Pelczar, M. J. Dan Chan, E. C. S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta


Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar, Jilid 1, Edisi kelima. Erlangga.
Jakarta.

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhamadiyah Malang.


Malang