Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM RESPIRASI 2

KONSEP DASAR, ASUHAN KEPERAWATAN

DAN PERAN PERAWAT SEBAGAI

ADVOKAT PADA PASIEN

DENGAN EMBOLI

PARU

Disusun oleh : Kelompok 5

1) Adhetya Ayu (121.0003)


2) Akbar Dwi Guntoro (121.0007)
3) Neli Rosidawilda (121.0069)
4) Novita Fajriyah (121.0073)
5) Rinda Eka Hanggari (121.0085)
6) Ilham Cahyo P. (111.0065)

Dosen Pembimbing

Hidayatus S, M.Kep, Ns.

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2014
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah asuhan keperawatan
untuk mata kuliah Keperawatan Sistem Respirasi 2 ini dengan judul :
KONSEP DASAR, ASUHAN KEPERAWATAN DAN PERAN PERAWAT
SEBAGAI ADVOKAT PADA PASIEN DENGAN EMBOLI PARU

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad


SAW beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikut yang selalu setia dan
taat kepada-Nya. Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai salah satu metode
pembelajaran bagi mahasiswa-mahasiswi STIKES Hang Tuah Surabaya.

Terselesaikannya penulisan makalah asuhan keperawatan ini tak lepas


dari tangan-tangan mulia, untuk inilah penulis ingin menyampaikan ribuan terima
kasih dengan setulusnya dan doa kepada :

1. Ibu Hidayatus S, M.Kep, Ns. selaku pembimbing materi dan makalah


yang berkaitan dengan Keperawatan Sistem Respirasi 2 , yang telah
sabar dalam memberikan bimbingan, arahan, serta dalam penyusunan
dan penulisan makalah ini.
2. Sahabat dan teman-teman yang telah banyak memberikan bantuan dan
saran untuk kelancaran makalah asuhan keperawatan.

Kami sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, tentunya sadar


akan segala kekurangan dalam pembuatan makalah ini dan kami akan sangat
bangga apabila makalah yang kami susun ini mendapatkan saran maupun kritik
yang bersifat membangun. Kami berharap semoga karya ini menjadi pelajaran
dan sumber inspirasi serta motivasi bagi para pembaca.

Surabaya, 16 April2014

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i

DAFTAR ISI.....................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang....................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..............................................................3

1.3 Tujuan.................................................................................3

1.4 Manfaat...............................................................................3

1.5 Sistematika Penulisan.........................................................3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi Paru-paru................................................5

2.2 Definisi Emboli Paru...........................................................6

2.4 Etiologi................................................................................7

2.5 Faktor Resiko......................................................................8

2.6 Manifestasi Klinis................................................................9

2.7Patofisiologi...........................................................................11

2.8 Peran Perawat Sebagai Advokasi......................................14

2.9 Penatalaksanaan Medis.....................................................17

2.10 Pemeriksaan Diagnosis.....................................................22

2.11Pencegahan Emboli Paru....................................................23

2.12 Penyuluhan Kesehatan......................................................25

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMBOLI


PARU

3.1 Pengkajian.........................................................................26

3.1.1 Identitas Pasien.......................................................27

3.1.2 Riwayat Keperawatan..............................................27

3.1.3 Pengkajian Persistem..............................................28

3.2 Diagnosis Keperawatan.....................................................28

2
3.3 Intervensi dan Rasional.....................................................29

3.3 Implementasi.....................................................................29

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan.........................................................................38

4.2 Saran..................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................39

LAMPIRAN.....................................................................................................40

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Emboli Paru (Pulmonary Embolism) adalah peristiwa infark jaringan paru


akibat tersumbatnya pembuluh darah arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh
peristiwa emboli. Emboli bisa merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi
bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor
atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya
menyumbat pembuluh darah.(Asih, Niluh Gede Yasmin & Christantie
Effendy. 2003)

Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 600.000 kasus emboli paru (EP,


Pulmonari Embolisml PE) simtomatik tiap tahun, menyebabkan kematian
60.000 pasien dan memberi konstrubusi pada kematian 200.000 lainya. Di
inggris sekitar 20.000 pasien meninggal tiap tahun dirumah sakit karena
Emboli Paru dan sekitar 40.000 mengalami episode nonfatal. Tiap tahun
sekitar I/100 populasi inggris akan mengalami Emboli Paru, terutama selama
atau segera sesudah masa perawatan diRumah Sakit, insiden meningkat
seiring penambahan usia. Di rumah sakit umum, Emboli Paru memberi
konstribusi pada 1% dari seluruh perawat dan 15-20% kematian(Huon H.
Gray, 2003).
Di indonesia diperkirakan bahwa lebih dari setengah juta orang
mengalami emboli paru setiap tahunnya mengakibatkan kematian lebih dari
50.000 orang tiap tahun. Embolisme paru adalah gangguan umum dan
sering berkaitan dengan trauma, bedah ortopedik, pelvik, ginokologik,
kehamilan, gagal jantung kongestif, usia lanjut (lebih dari 60tahun), dan
imobilitas berkepanjangan. Embolisme paru dapat terjadi pada individu yang
tampak sehat(Smeltzer Suzanne C, 2002).
Emboli paru secara langsung menyebabkan 100.000 kematian dan
menjadi faktor kontribusi kematian oleh penyakit-penyakit lainnya.Sekitar
10% penderita emboli paru mengalami kematian jaringan paru-paru, yang
disebut infark paru. Jika tubuh bisa memecah gumpalan tersebut, kerusakan
dapat diminimalkan.Gumpalan yang besar membutuhkan waktu lebih lama
untuk hancur sehingga lebih besar kerusakan yang ditimbulkan.Gumpalan
yang besar bisa menyebabkan kematian mendadak.Oklusi arteri pulmonalis

1
hampir selalu bersifat embolik ; trombosis in situ jarang ditemukan tetapi
dapat terjadi kerusakan alveoli yang difus, hipertensi pulmonal dan
aterosklerosis arteri pulmonalis. Vena-vena tungkai yang dalam merupakan
sumber lebih dari 95% emboli paru, dan prevalensi emboli paru memiliki
korelasi dengan predisposisi timbulnya trombosis tungkai
Peran perawat adalah segenap kewenangan yang dimiliki oleh perawat
untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai kompetensi yang dimilikinya
untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan emboli paru.
Dalam kewenangan perawat mempunyai tujuh tanggungjawab professional
yaitu :pemberi pelayanan, pendidik, konselor, peneliti, kolaborator,dan agen
perubahan.(Suhaimi, E. Mimin.2002)
Tenaga kesehatan khususnya keperawatan, harus dapat membantu
menyelesaikan masalah yang ditimbulkan penyakit ini agar klien yang
menderita penyakit emboli paru dapat sembuh. Oleh karena itu tindakan
penatalaksanaan yang meliputi pencegahan, pengobatan, serta pemulihan
kesehatan untuk penyakit emboli paru perlu diperhatikan agar kejadian
penyakit emboli paru dan komplikasinya dapat dikurangi. Berpikir kritis dalam
melakukan asuhan keperawatan juga tak kalah penting, mengingat
kewajiban perawat yaitu memenuhi kebutuhan dasar klien untuk
mendapatkan pelayanan yang intensif dengan tujuan untuk encapai
kesembuhan.
Penatalaksanaan khusus emboli paru dapat berupa pemberian
antikoagulasi, antitrombolitik, terapi oksigen, meningkatkan status
pernafasan dan vaskuler.baik dengan intervensi pembedahan dan intervernsi
kegawatdaruratan.

Dalam kasus tersebut, perawat ikut andil dalam melaksanakan tugas


dan kewajibannya . Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat
harus menghargai klien sebagai individu yang memiliki berbagai
karakteristik. Dalam hal ini perawat memberikan perlindungan terhadap
martabat dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan sakit.Oleh sebab
itu, penulis akan membahas mengenai konsep dan peran peran perawat
dalam melakukan advokasi pada emboli paru.

1.2 Rumusan masalah

2
Berdasarkan latar belakang yang kami buat maka muncul keinginan kami
sebagai calon perawat untuk membahas masalah penyakit Emboli Paru.
Bagaimana konsep dasar, asuhan keperawatan dan peran perawat sebagai
advokat pada pasien dengan emboli paru ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan
kepada pembaca khususnya bagi kalangan perawat agar mengetahui
tentang konsep dasar, asuhan keperawatan dan peran perawat
sebagai advokat pada pasien dengan emboliparu.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui anatomi fisiologi paru-paru
2. Untuk mengetahui definisi emboli paru.
3. Untuk mengetahui etiologi emboli paru
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis emboli paru
5. Untuk mengetahui patofisiologi emboli paru
6. Untuk mengetahui WOC emboli paru.
7. Untuk mengetahui peran perawat sebagai advokasi pada pasien
dengan emboli paru.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan emboli paru
9. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik emboli paru
10. Untuk mengetahui pencegahan dari emboli paru.
11. Untuk mengetahui penyuluhan kesehatan pada emboli paru.

1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam
mengetahui konsep dasar, asuhan keperawatan dan peran perawat
sebagai advokat pada pasien dengan emboli paru.

1.5 Sistematika Penulisan


Makalah disusun dengan urutan sebagai berikut :
BAB 1 Pendahuluan, menjelaskan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan umum dan tujuan khusus, manfaat dan
sistematika penulisan.
BAB 2 Tinjauan Pustaka, menjelaskan tentang anatomi fisiologi paru,
definisi, etiologi, faktor resiko, manifestasi klinis,
patofisiologi,WOC, peran perawat sebagai
advokat,penatalaksanaan medis,pemeriksaan
diagnostik,pencegahan, serta penyuluhan kesehatan
padapasien Emboli Paru.

BAB 3 Pembahasan, menjelaskan mengenai asuhan keperawatan pada


pasien dengan Emboli Paru.

3
BAB 4 Penutup, menjelaskan kesimpulan dan saran dari isi makalah yang
telah ditulis oleh penulis.

Daftar Pustaka, merupakan kumpulan literatur yang digunakan oleh


penulis sebagai sumber untuk bahan pembuatan
makalah.

4
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Anatomi Fisiologi Paru-paru

Paru merupakan organ elastis, berbentuk kerucut, dan terletak dalam


rongga thoraks.(Muttaqin, Arif. 2012)

Paru-paru terletak dikedua sisi jantung dalam rongga dada dan


dikelilingi serta dilindungi oleh tulang rusuk. Bagian dasar paru terletak
diatas diafragma: bagian apeks paru (ujung superior) terletak setinggi
klavikula. Pada permukaan tengah dari setiap paru terdapat hilus, tempat
bronkus primer dan masuknya arteri serta vena pulmonary ke dalam
paru.Bagian kanan dan kiri paru terdiri atas percabangan saluran yang
membentuk pohon bronchial, jutaan alveoli dan jaring-jaring kapilernya, dan
jaringan ikat. Sebagai organ, fungsi paru adalah tempat terjadinya
pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara dalam aliran darah.(Price, A.
Sylvia & Lorraine M. Wilson.1995)

(Gambar : Anatomi Paru & Sirkulasi Darah Paru, Muttaqin, Arif. 2012)

Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil.Pembagian


pertama disebut lobus.Paru kanan terdiri atas tiga lobus dan lebih besar dari
kiri yang hanya terdiri atas dua lobus.Lapisan yang membatasi antara lobus

5
disebut fisura. Setiap lobus dipasok oleh cabang utama percabangan
bronchial dan diselaputi oleh jaringan ikat.(Asih, Niluh Gede Yasmin &
Christantie Effendy. 2003)

Lobus kemudian membagi lagi menjadi kompartemen yang lebih kecil


dan dikenal sebagai segmen.Setiap segmen terdiri atas banyak lobules,
yang masing-masing mempunyai bronchiole, arteriole, venula, dan pembuluh
limfatik. (Asih, Niluh Gede Yasmin & Christantie Effendy. 2003)

Dua lapis membrane serosa mengelilingi setiap paru dan disebut


sebagai pleurae.Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding
dada dan mediastinum.Lapisan dalamnya disebut pleura visceral yang
mengelilingi paru dan dengan kuat melekat pada permukaan
luarnya.Rongga pleural ini mengandung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel
serosa didalam pleura.Cairan pleural melicinkan permukaan kedua
membrane pleura untuk mengurangi gesekan ketika paru-paru mengembang
dan berkontraksi selama bernapas. Jika cairan yang dihasilkan berkurang
atau membrane pleura membengkak, akan terjadi suatu kondisi yang disebut
pleurisi dan terasa sangat nyeri karena membrane pleural saling bergesekan
satu sama lain ketika bernapas. .(Price, A. Sylvia & Lorraine M. Wilson.1995)

2.2 Definisi Emboli Paru

Emboli paru merupakan oklusi atau penyumbatan bagian pembuluh darah


paru-paru oleh embolus.Embolusialah suatu benda asing yang tersangkut
pada suatu tempat dalam sirkulasi darah. Benda tersebut terbawa oleh
darah yang berasal dari suatu tempat lain dalam sirkulasi darah. Proses
timbulnya embolus disebut embolisme. Sebenarnya, hampir 99% emboli
berasal dari trombus. Bahan lainnya adah tumor, gas, lemak,sumsum tulang,
cairan amnion, dan trombus septik.( Somatri, Irman. 2007)

Embolisme paru merupakan keadaan obstruksi pada satu atau lebih arteri
pulmonal oleh trombus yang berasal dari suatu tempat dalam sistem vena
atau pada jantung sebelah kanan. Embolisme paru adalah gangguan umum
dan sering berkaitan dengan trauma, bedah (ortopedi, pelvis, ginekologi),
kehamilan, gagal jantung kongestif, usia lanjut (>60 tahun), dan imobilisasi
berkepanjangan. Embolisme paru juga dapat terjadi pada individu yang
tampak sehat. (Muttaqin, Arif. 2012).

6
2.4 Etiologi

Emboli baru dapat berasal dari (Muttaqin, Arif. 2012)

1. Trombus vena ekstremitas inferior (terbanyak)


2. Trombus dari ruang atrium kanan.
3. Fokus sepsis dari endokarditis trikuspidalis, flebitis ekstremitas inferior,
trombofeblitis daerah pelvis, infeksi gigi, feblitis sepuratif karena
pemakaian kateter vena, dan alat pacu yang terinfeksi.
4. Tumor tanpa adanya trombosis intravena.
5. Lain-lain seperti lemak, udara sum-sum tulang, jaringan tropoblas,
parasit, akibat tindakan kateterisasi jantung, dan jaringan otak yang
terdapat trauma.
6. Jumlah emboli udara sebesar 100-150 cc sudah dapat menyababkan
kematian.

Penyebab timbulnya emboli paru dapat disebabkan oleh hal lain (Towsend,
Courtney M, dkk. 2010), di antarannya adalah :

1. Faktor resiko berkembangnya embolus paru :


a. Ada riwayat embolus paru sebelumnya
b. Tindakan operasi yang lama
c. Kontrasepsi oral
d. Cedera traumatik
e. Keganasan
f. Penyakit usus meradang
g. Penyakit jantung kronik
h. Kelainan koagulasi
i. Obesitas
j. Usia
k. Kelainan koagulasi keturunan
2. Sistem vena ileofemoralis menunjukkan tempat terjadinya emboli paru
yang paling signifikan secraa klinis.

2.5 Faktor Resiko

Pada penderita emboli paru ini, terdapat faktor resiko yang dapat
menyebabkan timbulnya penyakit tersebut, diantaranya adalah(Somatri,
Irman. 2007) :

7
1. Imobilisasi
Imobilisasi sering terjadi terutama pada pasien dengan fraktur tulang
ekstremitas inferior, berbaring lama pasca bedah, paralisis kaki, dan
pada penyakit-penyakit kardiopulmoner.Imobilisasi yang lama
menyebabkan hilangnya semacam peristaltik pembuluh darah vena
sehingga menjadi stasis.Umumnya stasis terjadi setelah berbaring
selama 7 hari. Stasis dapat terjadi pada pasca bedah setelah 48 jam
sampai 10 hari kemudian.
2. Umur
Kebanyakan emboli paru-paru terjadi pada usia 50 sampai 65 tahun
karena elastisitas dinding pembuluh darah sudah berkurang.
3. Penyakit jantung
Jika pada jantung hanya terjadi fibrilasi atrium atau disertai dengan
payah jantung, keadaan tersebut menimbulkan emboli paru-paru.Pada
infark jantung akut, emboli paru-paru sering terjadi hari ke 3 dan
sebagian besar (75%) terjadi pada minggu pertama.
4. Trauma
Sebanyak 15% penderita trauma mengalami emboli paru-paru, terutama
pada penderita luka bakar dengan area terbakar yang luas, sehingga
kerusakannya sampai ke endotel pembuluh darah.
5. Obesitas
Penderita dengan berat badan (BB) 20% lebih dari berat badan ideal
dapat dikatakan berisiiko untuk menderita emboli paru-paru, meskipun
mekanismenya belum diketahui dengan pasti.
6. Kehamilan dan nifas
Kejadian emboli paru-paru pada ibu hamil biasa terjadi pada trimester
ke-3 dan prevalensinya meningkat saat nifas.Pada kasus ibu hamil dan
nifas disebabkan karena terjadi peningkatan faktor koagulasi dan
trombosit.
7. Neoplasma
Emboli paru-paru banyak terjadi pada beberapa neoplasma organ paru-
paru, pankreas, usus, dan traktus urogenital.Terdapat teori yang
menyatakan bahwa neoplasma memproduksi zat-zat seperti histon,
katepsin, dan protease yang mengaktifkan koagulasi darah.
8. Obat-obatan
Emboli paru-paru sering dialami oleh pasien yang mengkonsumsi obat-
obat kontrasepsi oral.Pada kasus ini, obat-obat tersebut dapat
mengakibatkan faktor pembekuan dan trombosit serta peningkatan
lipoprotein, plasma trigliserida, dan kolesterol.
9. Penyakit hematologi

8
Penyakit hematologi sering ditemukan pada keadaan-keadaan
polisitemia dimana hematokrit darah meningkat yang mengakibatkan
aliran darah menjadi lambat.Dilaporkan juga banyak terjadi pada
penyakit anemia bulan sabit.Pada penyakit anemia tersebut, terbentuk
trombus dalam aliran mikrosirkulasi yang dapat menyebabkan infark
pada organ paru-paru, ginjal, limpa, dan tulang.
10. Penyakit metabolisme
Penyakit metabolisme dilaporkan terjadi pada penyakit sistinuria dimana
terdapat kelainan trombosit yang menyebabkan trombosis.Dismping itu
juga terjadi kerusakan lapisan endotel pembuluh darah yang
mempercepat terjadinya trombosis.

2.6 Manifestasi Klinis

Gejala-gejala embolisme paru tergantung pada ukuran thrombusdan


area dari arteri pulmonal yang tersumbat oleh thrombus.Gejala-gejala
mungkin saja tidak spesifik.Nyeri dada adalah gejala yang paling umum dan
bias anya mempunyai awitan mendadak dan bersifat pleuritik.Kadang dapat
subternal dan dapat menyerupai angina pectoris atau infark miokardium.
Dyspnea adalah gejala yang paling umum kedua yang di ikuti dengan
takipnea, takikardi, gugup, batuk, diaforesis, hemoptisis, dan sinkop.
(brunner dan suddarth, 1996, 621)
Tanda dan Gejala pada pasien dengan emboli paru(Somatri, Irman. 2007)
:

1. Tanda-tanda yang muncul pada pasien dengan emboli paru-paru adalah:


a. Dispnea
b. Nyeri dada pleurik
c. Kecemasan
d. Batuk
e. Hemotisis
2. Gejala yang muncul pada pasien dengan emboli paru-paru adalah:
a. Takipne
b. Crakles
c. Takikardia
d. Bunyi jantung S3. Bunyi jantung S3 adalah suara ketiga saat jantung
berkontraksi. Pada orang dewasa merupakan sesuatu yang abnormal
dan sering kali mengindikasikan adanya kelainan jantung. Terdengar
pada apeks jantung, dan sering disebut ventricular gallop.
e. Jika tidak ada bunyi S3 bisa jadi ada bunyi S4.
f. Keringat berlebih.
g. Demam.

9
Tanda dan gejala lain yang terdapat pada pasien dengan Emboli paru,
(Towsend, Courtney M, dkk. 2010)yaitu :
1. Dispnea, nyeri dada pleuritik, ketakutan, dan batuk. Emobli paru masif
dapat disertai dengan sinkop dan hemoptisis.
2. Sepertiga pasien paru juga akan mengalami trombosis vena dalam
diekstremitas bawahnya.
3. Jika pasien mengalami nyeri dada dan pemendekan napas di ruang rawat
atau bangsal , sebaiknya segera dilakukan serangkaian teks non spesifik,
yaitu gas darah arteri pada udara ruangan, elektrokardiogram (EKG), dan
foto polos dada.
4. Setiap pasien yang gas darah arteri udara ruangan dengan PaO2 nya
kurang dari 70 mmHg dianggap mengalami embolis paru.
5. Pasien sebaiknya diberikan oksigen beraliran tinggi dengan sunkup
muka.
6. Selama bertahun-tahun, angiografi pulmonal telah dianggap sebagai baku
emas penegakkan diagnosis embolis paru namun tindakan tersebut
adalah tindakan infasif yang menimbulkan rasa nyeri. Perkembangan CT
angiografi merupakan suatu langkah maju dalam mendiagnosis embolus
paru dengan cara non infasif dan merupakan modalitas diagnostik baru
yangsangat menjanjikan.

2.7 Patofisiologi

Embolus paru-paru banyak terjadi akibat lepasnya suatu trombosit yang


berasal dari pembuluh darah vena di kaki. Trobosus terbentuk dari beberapa
elemen sel dan fibrin-fibrin yang kadang-kadang berisi protein plasma seperti
plasminogen( Somatri, Irman. 2007).

Menurut Virchow dalam buku Somatri, Irman. 2007 Keperawtan


Medikal Bedah : Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan, terdapat 3 faktor penting yang memegang peranan
timbulnya trombus (Trias Virchow), yaitu :

1. Perubahan permukaan endotel pembuluh darah.


2. Perubahan pada aliran darah.
3. Perubahan pada konstitusi darah.

10
Secara skematis dapat dilihat timbulnya trombus yaitu :

Gambar : Patofisiologi Emboli Paru ( Somatri, Irman. 2007).

Keterangan :

Jika terjadi suatu kerusakan pada trombosit maka akan dilepaskan suatu
zat tromboplastin. Tromboplastin merangsang proses pembentukan beku
darah karena mengubah protrombin yang terdapat dalam darah menjadi
trombin, kemudian bereaksi dengan fibrinogen menjadi fibrin.

Trombus dapat berasal dari pembuluh darah arteri atau vena.Trombus


arteri terjadi karena rusaknya dinding pembuluh darah arteri (tunika intima),
sedangkan trombus vena terjadi karena perlambatan aliran darah dalam
vena tanpa adanya kerusakan dinding pembuluh darah.

Lemah, minyak, udara, sel tumor, cairan amnion, benda asing seperti
rusaknya IV kateter, partikel yang diinjeksikan dan bekuan darah atau pus
dapat juga menyebabkan emboli paru-paru. Emboli lemak berasal dari
fraktur tulang panjang dan emboli minyak yang berasal dari limfangiografi
tidak mengganggu aliran darah ; meskipun demikian, mereka menyebabkan
kerusakan pada pembuluh darah dan adult respiratory distress syndrome
(ARDS).

Embolus berjalan keparu-paru dan diam dipembuluh darah paru-


paru.Ukuran dan jumlah emboli ditentukan oleh lokasi.Aliran darah
terobstruksi sehingga menyebabkan penurunan perfusi dari bagian paru-
paru yang disuplai oleh pembuluh darah.

Akibat buruk yang paling awal terjadi dari tromboemboli adalah obstruksi
komplit atau parsial aliran daran pulmonalis dibagian distal. Obstruksi ini

11
akan mengakibatkan serangkaian kejadian patofisiologik yang dapat
dikelompokkan sebagai pernafasan dan hemodinamik sebagai akibat
tromboemboli paru-paru (TEP).

1. Konsekuensi pernapasan
Obstruksi akibat emboli adalah menyebabkan daerah paru-paru
yang berventilasi tidak mampu melakukan obstruksi anatomical dead
space intrapulmonal.Karena dead space tidak terjadi pertukaran gas,
ventilasi daerah yang nonperfusi ini sia-sia dalam arti fungsional.
Konsekuensi potensial yang ditimbulkan oleh obstruksi emboliu ini
adalah konstriksi ruang udara dan jalan nafas pada daerah paru-paru
yang terlibat. Pneumokonstriksi ini dapat dikatakan sebagai mekanisme
homeostatis untuk mengurangi ventilasi yang terbuang, kelihatannya
disebabkan oleh hipokapnia bronkoalveolar yang merupakan hasil
pemberentian aliran darah kapiler paru-paru karena aliran tersebut
dihilangkan oleh inhalasi udara yang kaya dengan karbondioksida.
Gangguan lain akibat obstruksi emboli adalah hilangnya surfaktan
alveolat, namun hal tersebut tidak terjadi dengan cepat. Lipoprotein
poermuklaan yang aktif (surfaktan) diperlukan untuk mempertahankan
stabilitas alveola tidak adanya surfaktan akan mengakibatkan kolaps
alveolar. Penghentian aliran darah kapiler pulmonar akan berakibat
berkurangnya surfaktan dalam 2-3 jam dan akan bertambah berat dalam
12-15 jam. Atelektasis dapat ditemukan dalam 24-48 jam setelah
gangguan darah.
Hipoksemia arteri biasa dijumpai, walaupun sama sekali bukan
merupakan akibat dari tromboemboli paru. Beberapa mekanisme dapat
ikut berperan terhadap timbulnya hipoksemia; gangguan ventilas perkusi
gagal jantung dengan PO2 daerah vena campuran rendah
(bertambahnya perbedaan arteri venosa), dan perfusi obligant semacam
itu, terjadi karena tekanan arteri pulmonar akibat dari obstruksi emboli
dapat mengakibatkan vasokontruksi yang biasanya terjadi pada daerah
paru-paru yang mengalami hipoventilasi.
2. Konsekuensi hemodinamik
Konsekuensi hemodinamik utama yang diakibatkan oleh obstruksi
tromboemboli adalah reduksi daerah potongan melintang dari jaringan
arteri pulmonaris. Hilangnya kapasitas vaskuler ini meningkatkan
resistensi aliran darah paru-paru yang bila bermakna akan berkembang

12
menjadi hipertensi pru-paru dan gagal ventrikel kanan akut. Takikardia
dan kadang penurunan curah jantung juga dapat terjadi.

Konsekuensi hemodinamik adalah peningkatan tahanan vaskuler


paru akibat penurunan ukuran jaring-jaring vaskular pulmonal,
mengakibatkan peningkatan tekanan arteri pulmonal, dan pada akhirnya
meningkatkan kerja ventrikel kanan untuk mempertahankan aliran darah
pulmonal. Jika kebutuhan kerja ventrikel kanan melebihi kapasitasnya
akan terjadi gagal ventrikel kanan yang mengarah pada penurunan
tekanan darah sistemik dan terjadinya syok. (Muttaqin, Arif. 2012)

Pada literatur lain dalam buku Muttaqin, Arif. 2012. Buku Ajar
Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persarafan
menyebutkan bahwa kebanyakan emboli paru terjadi akibat lepasnya
trombus yang berasal dari pembuluh vena di ekstremitas inferior.
Trombus terbentuk dari beberapa elemen sel dan fibrin-fibrin yang
kadang-kadang berisi protein plasma seperti plasminogen.Trombus
dapat berasal dari pembuluh arteri dan pembuluh vena.Trombus arteri
terjadi karena rusaknya dinding pembuluh arteri (lapisan bagian dalam),
sedangkan trombus vena terjadi karena perlambatan aliran darah dalam
vena tanpa adanya kerusakan dinding pembuluh darah.

Trombus vena dapat berasal dari pecahan trombus besar yang


kemudian terbawa oleh aliran vena.Biasanya trombus vena ini berisi
partikel-partikel seperti fibrin (terbanyak), eritrosit dan
trombosit.Ukurannya dari beberapa milimeter saja sampai sebesar
lumen vena. Biasanya trombus semakin bertambah oleh tumpukan
trombus lain yang kecil.kecil. adanya perlambatan (stasis) aliran darah
vena semakin mempercepat terbentuknya trombus yang lebih besar,
sedangkan adanya kerusakan dinding pembuluh vena (misalnya pada
operasi rekonstruksi vena femoralis) jarang menimbulkan trombus vena.

Hiperkoagubilitas juga amat berpengaruh dalam pembentukan


trombus.Di sini terjadi aktivasi terhadap faktor koagulan oleh kolagen,
endotoksin, dan prokoagulan dari jaringan malignansi sehingga
tromboplastin dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dan trombus mudah
terbentuk.Keadaan ini sering ditemukan pada persalinan, operasi, dan

13
trauma pada organ-organ tubuh. Faktor lain yang juga mempercepat
terjadinya trombus adalah hiperagregasi trombosit.

Pada embolisme paru terdapat dua keadaan sebagian akibat


obstruksi pembuluh darah, yakni terjadinya vasokonstriksi dan
bronkhokonstriksi, sehingga sistem perfusi dan ventilasi jaringan paru
terganggu.Bronkhokonstriksi setempat yang terjadi bukan saja akibat
berkurangnya aliran darah tetapi juga karena berkurangnya bagian aktif
permukaan jaringan paru dan terjadi pula pengeluaran histamin dan 5-
hidroksi isoptamin yang dapat membuat vasokonstriksi dan
bronkhokonstriksi bertambah berat. Akibatnya terjadi kenaikan dead
space dan reaksi kardiovaskular berupa penurunan aliran darah ke paru
dan meningkatnya tekanan arteri pulminalis, dilatasi atrium dan ventrikel
kanan, serta menurunnya curah jantung dan kemudian dapat terjadi
infark paru.

2.8. Peran Perawat Sebagai Advokasi


2.8.1 Definisi Advokat
Istilah advokasi sering digunakan dalam konteks hukum yang
berkaitan dengan upaya melindung hak manusia bagi mereka yang
tidak mampu membela diri. Arti advokasi menurut ANA (1985) adalah
melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan
melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.
Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif
terhadap setiap hal yang memiliki penyebab / dampak penting.
Definisi ini mirip dengan yang dinyatakan gadow (1983) bahwa
advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang
melibatkan bantuan perawat secara aktif kapada indivisu secara
bebas menentukan nasib sendiri. (Suhaimi, E. Mimin. 2002)
Pada dasarnya, peran perawat sebagai advokat klien adalah
memberi informasi dan memberi bantuan kepada klien atas
keputusan apapun yang dibuat klien, memberi informsi berarti
menyediakan penjelsan atau informsi sesuai yang dibutuhkan klien.
Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus
menghargai klien sebagai individu yang memiliki berbagai
karakteristik. Dalam hal ini perawat memberikan perlindungan

14
terhadap martabat dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan
sakit. (Suhaimi, E. Mimin. 2002)
2.8.2 Peran advokat keperawatan:
Perawat memiliki kewajiban sebagai pelayan kesehatan dalam fungsi
advokasi (Suhaimi, E. Mimin. 2002), yang terdiri dari :

1. Melindungi hak klien sebagai manusia dan secara hukum.

2. Memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan, seperti :

a. Penyakit yang dideritanya

b. Tindakan medik apa yang hendak dilakukan

c. Kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan


tindakan untuk mengatasinya

d. Alternatif terapi lain beserta resikonya

e. Prognosis penyakitnya

f. Perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang


dideritanya

g. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil, dan jujur;

h. Hak untuk memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan


yang bermutu sesuai dengan standar profesi keperawatan
tanpa diskriminasi

i. Hak menyetujui/ memberi izin persetujuan atas tindakan


yang akan dilakukan oleh perawat/ tindakan medik
sehubungan dengan penyakit yang dideritanya (informed
consent)

j. Hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap


dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas
tanggung jawab sesudah memperoleh informasi yang jelas
tentang penyakitnya

15
k. Hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis

l. Hak menjalankan ibadah sesuai agama/ kepercayaan yang


mengganggu pasien lain

m. Hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam


perawatan di rumah sakit

n. Hak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan


rumah sakit terhadap dirinya

o. Hak menerima atau menolak bimbingan moral maupun


spiritual

p. Hak didampingi perawat keluarga pada saat diperiksa dokter

q. Hak untuk memilih dokter, perawat atau rumah sakit dan


kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau sarana
pelayanan kesehatan

r. Hak atas rahasia medic atau hak atas privacy dan


kerahasian penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya

s. Hak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di


rumah sakit tersebut (second opion), terhadap penyakit yang
dideritanya dengan sepengetahuan dokter yang menangani.

3. Membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan.

4. Memberi bantuan mengandung dua peran, yaitu peran aksi


peran nonaksi.

a. Peran Aksi : Memberi keyakinan pada pasien bahwa


mereka punya hak dan tanggungjawab dalam menentukan
keputusan/pilihan

16
b. Peran Non Aksi: Menahan diri untuk tidak mempengaruhi
keputusan klien

2.8.3 Perawat Sebagai Advokat pada Emboli Paru

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang


merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan
ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio
spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu keluarga
manyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus
kehidupan manusia.
Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan serta
pemeliharaan kesehatan dengan penekanan serta pemeliharaan
kesehatan khususnya pada klien dengan Emboli Paru.Peran perawat
adalah segenap kewenangan yang dimiliki oleh perawat untuk
menjalankan tugas dan fungsinya sesuai kompetensi yang dimilikinya
untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan emboli paru.
Dalam kewenangan perawat mempunyai tujuh tanggungjawab
professional yaitu :pemberi pelayanan, pendidik, konselor, peneliti,
kolaborator,dan agen perubahan.(Suhaimi, E. Mimin.2002)
Tenaga kesehatan khususnya keperawatan, harus dapat
membantu menyelesaikan masalah yang ditimbulkan penyakit ini agar
klien yang menderita penyakit emboli paru dapat sembuh. Oleh karena
itu tindakan pencegahan, pengobatan, serta pemulihan kesehatan
untuk penyakit emboli paru perlu diperhatikan agar kejadian penyakit
emboli paru dan komplikasinya dapat dikurangi.
2.9 Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan adalah menghancurkan (lisis) emboli yang ada dan
mencegah pembentukan yang baru. Pengobatan embolisme paru dapat
mencakup beragam modalitas seperti terapi antikoagulan, terapi trombolitik,
tindakan umum untuk meningkatkan status pernapasan dan vaskular, dan
intervensi bedah.(Muttaqin, Arif. 2012)

2.9.1 Terapi

17
Ketika pasien mengeluh adanya dispnea akut yang berhubungan
dengan nyeri dada pleuritik, perawat menganjurkan pasien untuk
diperiksa dokter secepatnya.Perawat berusaha menenangkan hati
pasien dan membantu pasien untuk menentukan posisi yang nyaman
dengan elevasi kepala pada tempat tidur. Perawat memberikan
oksigen dan memeriksa analisis gas darah..( Somatri, Irman. 2007).

1. Terapi oksigen
Terapi oksigen sangat penting untuk pasien dengan emboli
paru-paru. Pada keadaan hipoksemia berat mungkin dilakukan
pemberian ventilator mekanis dengan pemeriksaan analisis gas
darah secara ketat. Pada beberapa kasus lain, oksigen dapat
diberikan melalui nasal kanula, kateter, atau masker. Pulse
oximetry mungkin berguna dalam memonitor saturasi oksigen
arteri, yang mana dapat menunjukkan tingkat dari
hipoksemia.Tindakan lain dilakukan untuk memperbaiki status
pernapasan dan vaskular klien. Terapi oksigen diberikan untuk
memperbaiki hipoksia dan menghilangkan vasokonstriksi vaskular
paru serta mengurangi hipertensi paru.Statis vena dikurangi
dengan menggunakan stoking elastis atau alat kompresi tungkai
intermiten.Tindakan ini menekan vena superfisial dan
meningkatkan kecepatan darah dalam vena profunda dengan
mengarahkan kembali darah melalui vena profunda.Dengan
demikian statis vena dikurangi.Meninggikan tungkai (di atas
ketinggian jantung) juga meningkatkan aliran vena.Beberapa ahli
yakin bahwa penggunaan stoking elastis tidak diperlukan jika
tungkai klien ditinggikan.
2. Terapi Antikoagulan
Dokter biasanya memberikan obat antikoagulan untuk
mencegah pembesaran embolus dan mencegah timbulnya
pembentukan bekuan darah baru.Perdarahan aktif, stroke, dan
trauma adalah beberapa kontraindikasi yang mungkin
memungkinkan penggunaan antikoagulan.Heparin biasanya
digunakan jika embolus paru-paru tidak masif (berat) atau tidak
memengaruhi keseimbangan hemodinamik.Enzim trombolitik
dapat digunakan selanjutnya untuk melisiskan bekuan darah yang
ada. Perawat dan dokter perlu memeriksakan nilai Partial

18
Thromboplastin Time (PTT) sebelum terapi dimulai, setiap 4 jam
setelah terapi dimulai dan selanjutnya setiap hari.
Terapi heparin biasanya berlanjut selama 7-10 hari.Dokter
biasanya memberikan terlebih dahulu obat oral seperti Warfarin
(Coumadin dan Warfilone), pada hari ke- 3heparin baru diberikan.
Terapi kombinasi dari Warfarin dan Heparin diberikan selama
protrombin time mencapai 1,5 dan 2 kali nilai kontrol. Dokter
biasanya melanjutkan pemberian Warfarin selama 3-6 minggu.
3. Terapi Trombolitik
Terapi trombolitik (urokinase dan streptokinase) mungkin
digunakan juga dalam mengatasi embolisme peru terutama pada
klien yang sangat terganggu. Terapi trombolitik menghancurkan
trombus atau emboli lebih cepat dan memulihkan fungsi
hemodinamik sirkulasi paru lebih besar, karenanya mengurangi
hipertensi paru dan memperbaiki perfusi, oksigenasi, dan curah
jantung.Namun, perdarahan merupakan efek samping yang
signifikan.Akibatnya, preparat trombolitik disarankan hanya bagi
klien dengan trombus yang mengenai vena popliteal atau vena
profundus femur dan pelvis, dan untuk klien dengan embolisme
paru masif yang mengenai area signifikan aliran darah ke paru.
Sebelum terapi trombolitik dimulai maka PT, PTT, nilai
hematrokrit, dan jumlah trombosit harus diperiksa terlebih dahulu.
Selama terapi, semua prosedur invasif (kecuali benar-benar
penting) harus dihindari, dengan pengecualian pungsi vena yang
sangat hati-hati menggunakan jarum no. 22 atau 23 untuk
mendapat sampel darah guna memantau efek terapi. Jika
diperlukan, darah lengkap segar, sel-sel darah merah,
kriopresipitat, atau plasma beku diberikan untuk mengganti
kehilangan darah dan menghambat kecenderungan perdarahan.
Setelah infus trombolitik selesai (yang lamanya beragam sesuai
dengan agen yang digunakan dan kondisi yang sedang diatasi),
klien diberikan antikoagulan.

2.9.2 Pengobatan Pada Emboli Paru

Embolisme paru-paru yang tidak diobati menimbulkan angka


mortalias di rumah sakit sebesar 30%, sedangkan psien yang emboli
paru-parunya diobati mempunyai angka mortaliats sekitar 2%,

19
(Towsend, Courtney M, dkk. 2010), pengobatan yang dapat dilakukan
pada pasien dengan emboli paru yaitu :

1. Pengobatan embolus paru-paru mencakup antikoagulasi sistemik


dengan heparin, oksigen dan analgesia, cairan intravena mungkin
diperlukan.
2. Antikoagulasi oral dapat dimulai dengan warfarin ; durasi terapi
warfarin sebaiknya 3bulan atau lebih lama.
3. Penggunaan filter vena cava inferior sebaiknya dipikiran bila
antikoagulasi menyebabkan peningkatan resiko pendarahan
(misalnya, baru menjalani pembedahan), atau pada penderita
emboli paru-paru berulang.
4. Pada pasien-pasien yang hemodinamiknya buruk dan hipoksik,
trombolitik (streptokinase atau urokinse) masih dapat
diberikan;asalkan manfaat pengaobatan trombolitik tersebut
melebihi resiko perdarahan berat.
5. Embolektemi terbuka (bedah) atau venosa (suction) dilakukan
untuk mengeluarkan / mengekstrasi atau mengobliterasi bekuan
pada pasien pasien hipoksia yang mengancam nyawa atau yang
hemodinamiknya tidak stabil.

2.9.3 Intervensi Medis


1. Intervensi Bedah
Embolektomi paru mungkin diindikasikan dalam kondisi
jika klien mengalami hipotensi persisten, syok, dan gawat
napas; jika tekanan arteri pulmonal sangat tinggi; dan jika
angiogram menunjukkan obstruksi bagian besar pembuluh
darah paru. Embolektomi pulmonari membutuhkan torakotomi
dengan teknik bypass jantung-paru.
Menginterupsi vena kava inferior adalah teknik bedah lain
yang digunakan ketika embolisme paru kambuh atau ketika
klien tidak toleran terhadap terapi antikoagulan. Pendekatan
ini mencegah trombus yang lepas untuk tersapu ke dalam
paru agar aliran darah mengalir secara adekuat. Prosedur
dapat dilakukan dengan meligasi total vena kava atau
memasang klep teflon pada vena kava untuk membagi lumen
vena kava menjadi saluran-saluran kecil yang tanpa
menyumbat aliran darah vena. (Muttaqin, Arif. 2012).
2. Intervensi Kadaruratan

20
Embolisme paru masif dapat benar-benar mengancam
jiwa klien. Mayoritas klien meninggal akibat embolisme paru
masif mengalami penurunan kondisi dalam dua jam pertama
setelah kejadian embolik. Penatalaksanaan kedaruratan terdiri
atas(Muttaqin, Arif. 2012) :
a. Oksigen nasal diberikan dengan segera untul
menghilangkan hipoksemia, distres pernapasan, dan
sianosis.
b. Infus intravena dimulai dengan membuat rute untuk obat
atau cairan yang akan diperlukan.
c. Dilakukan angiografi paru, tindakan-tindakan
hemodinamik, penentuan gas darah arteri, dan
pemindahan perfusi paru. Peningkatan tahanan paru
mendadak meningkatkan kerja ventrikel kanan sehingga
dapat menyebabkan gagal jantung akut sebelah kanan
akibat syok kardiogenik.
d. Jika klien menderita akibat embolisme masif dan
hipotensif, perlu dipasang kateter Indweling untuk
memantau output urine.
e. Hipotensi diatasi dengan infus lambat dobutamin
(mempunyai efek mendilatasi pembuluh pulmonal dan
bronkhi) atau dopamin.
f. Hasil EKG dipantau secara kontinu untuk mengetahui
gagal ventrikel kanan yang dapat terjadi secara
mendadak.
g. Glikosida digitalis, diuretik intravena, dan agen
antidisritmia diberikan bila dibutuhkan.
h. Darah diambil untuk pemeriksaan elektrolit serum,
nitrogen urea darah (BUN), hitung darah lengkap, dan
hematokrit.
i. Morfin intravena dosis kecil diberikan untuk
menghilangkan kecemasan klien, menyingkirkan
ketidaknyamanan didada, untuk memperbaiki toleransi
selang endotrakhea, dan memudahkan adaptasi terhadap
ventilator mekanik.
2.10 Pemeriksaan Diagnostik
Mengingat gelaja embolisme paru yang beragam, maka pemeriksaan
diagnostik perlu dilakukan untuk mebedakannya dengan gejala penyakit
lainnya. Trombosis vena provunda sangat berkaitan dengan terjadinya

21
embolisme paru. Pemeriksaan diagnostik mencakup Rontgen thoraks,
EKG, pemeriksaan vaskuler perifer, pletismografi impedans, gas darah
arteri, pemiandaian ventilasi,-perfusi, dan angiografi pulmonal. (Muttaqin,
Arif. 2012).
1. Radiologi
Hasil rontgen thoraks biasanya normal tetapi dapat menunjukkan
adanya pneumokontriksi, infiltrat, atelektasis, elevasi, diafragma pada
sisi yang sakit, atau dilatasi besar arteri pulmoner dan efusi pleura.
2. CT scan
Hasil pemindaian perfusi paru memperlihatkan adanya penurunan atau
tidak adanya aliran darah. Hasil pemindaian juga menunjukkan adanya
abnormalitas perfusi. Jika tidak terdapat kecocokan ventilasi-perfusi (V-
Q), probabilitas embolisme paru adalah tinggi. Jika pemindaian paru
tidak definitif,, angiografi pulmonal akan menegakkan diagnosis
embolisme paru.
3. Analisa Gas Darah
Biasanya dengan klien degan embilisme paru didapatkan tekanan PO2
yang rendah, tetapi tidak jarang pula tekanan PO2 tersebut lebih dari
80 mmHg. Tekanan PCO2 tidak begitu penting, tapi umumnya msih
berada dibawah 40 mmHg. Menurunnya takanan PO2 disebabkan
gagalnya fungsi perfusi dan ventilasi, sedangkan menurunnya PCO2
adalah karena kompensasi hiperventilasi sekunder.
4. Kimia darah
Pada embolisme paru masif, dapat ditemukan e dapat ditemukan
enzim LDH, SGOT dan CPK yang meningkat, tapi keadaan ini jarang
sekali didapat sehingga pemeriksaan ini tiadak banyak arti
klinisnya.Pemeriksaan terhadap FDP sedikit lebih berarti karena positif
palsu dan negatif palsunya relatif kecil (kurang dari 7%). Nilai FDP
akan mencapai puncaknya pada hari ke-3 serangan. Pemeriksaan ini
masih kurang praktis karena memerlukan waktu yang lama.

5. EKG
Pemerisaan EKG juga tidak spesifiktapi masih dapat membantu
sebagai tanda dugaan adanya emboli paru. Bila embolinya masif, 77%
penderita akan menunjukkan gambaran EKG seperti pada kor
pulmonal akut yang berupa:

22
a) Adanya strain ventrikel kanan. Disini terdapat gelombang T pada
prekordial kanan (V1-V5/V6) terjadi terbalik dan sering berupa
cove shape pada infark jantung akut.

b) Perutaran searah jarum jam. Terdapat gambaran, rS atau RS pad


V1-V5/V6. Terdapat SIQ3 dan juga Qr pada aVF dan III serta
elevasi ST yang menyerupai infark jantung akut.

c) Terdapat RBB komplet atupun inkomplet. P pulmonal pada II, III,


dan aVE.

d) Lain- lain berupa aritmia, takikardia dan atriasflutter.

2.11 Pencegahan Emboli Paru


Pendekatan yang paling efektif dalam penjelasan embolisme paru
adalah mencegah terjadinya trombosis vena profundus.Latihan tungkai
aktif untuk menghindari stasis vena, ambulasi dini, dan penggunaan
stoking elastis adalah tindakan preventif umum. Dua strategi tambahan
berikut ini amat dianjurkan untuk dilakukan, yaitu terapi antikoagulan dan
penggunaan alat kompresi tungkai pneumatik intermiten.Klien yang
berusia lebih dari 40 tahun dan mengalami hemostasis adalah adekuat,
dan mereka yang menjalani bedah mayor abdomen dan thoraks elektif,
sering diberikan heparin dosis rendah pasca-operasi untuk mengurangi
risiko trombus vena profundus dan embolisme paru pasca-operasi.
Dianjurkan bahwa heparin diberikan secara subkutan 2 jam sebelum
operasi dan dilanjutkan setiap 8-12 jam sampai klien dipulangkan.
(Towsend, Courtney M, dkk. 2010)
Heparin dosis rendah dianggap dapat meningkatkan aktivitas
antitrombin III, suatu inhibitor plasma utama dari faktor X pembekuan
(regimen ini tidak dianjurkan bagi klien yang mengalami proses trombosis
aktif atau mereka yang menjalani bedah ortopedi mayor, prostatektomi
terbuka, dan bedah mata atau otak).Koumadin juga dapat digunakan
secara profilaksis pra-operasi untuk mencegah terjadinya
tromboembolisme. (Towsend, Courtney M, dkk. 2010)
Alat kompresi tungkai intermiten sangat bermanfaat dalam mencegah
tromboembolisme.Alat tersebut mengembangkan kantung yang secara
mekanis menekan tungkai dari betis ke paha, dan meningkatkan arus
balik vena.Alat ini dapat dipasang pasca-operatif dan diteruskan sampai

23
klien ambulasi.Alat ini terutama sangat berguna bagi klien yang tidak
menjadi kandidat untuk terapi antikoagulan.
Insiden emboli paru dapat dilakukan pencegahan dengan cara terbaik
untuk menangani pasien yang berpotensi mengalami embolis paru adalah
mencegah terjadinya emboli paru itu sendiri (Towsend, Courtney M, dkk.
2010)
Tindakan pencegahan yang dilakukan adalah :
1. Memberikan latihan aktif/pasif pada daerah kaki untuk mencegah
vena statis pada pasien yang bedrest atau pasien post operasi
(early ambulation).
2. Menggunakan stoking elastis untuk menekan vena supervisial dan
meningkatkan aliran darah.
3. Elevasi kaki di atas jantung.
4. Mencegah adanya tekanan di bawah daerah popliteal (seperti oleh
bantal).
5. Profilaksis heparin.
Heparin subkutan paling sering digunakan sebagai profilaksis
selama pembedahan dan secara efektif mengurangi tingkat
embolisme paru-paru yang fatal
6. Alat kompresi mekanis untuk merangsang fibrinolisis (stimulasi
endotel venosa), efektif untuk pasien-pasien yang tirah baring lama.
2.12 Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan pada klien dengan tujuan untuk pencegahan episode
kekambuhan embolisme paru meliputi (Muttaqin, Arif. 2012):
1. Saat penggunaan antikoagulan, perhatikan adakah memar dan
perdarahan, coba untuk menghindari benturan terhadap benda-
benda yang dapat menyebabkan memar.
2. Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut.
3. Hindari pemakaian laksatif karena dpat mempengaruhi penyerapan
vitamin K.
4. Hindari duduk dengan tungkai disilangkan atau duduk terlalu lama.
5. Bila melakukan perjalanan jauhdan lama, ubah posisi
duduk/berbaring klien secara teratur, berikan klien minum dalam
jumlah yang cukup banyak untuk menghindari hemokontrasi akibat
kekurangan cairan.
6. Laporkan segera apabila feses berwarna gelap seperti ter.
7. Kenakan gelang identifikasi (atau kartu) yang menyatakan klien
sedang menggunakan antikoagulan.

24
25
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

EMBOLI PARU

3.1 Pengkajian
Peran penting perawat adalah membantu meminimalkan resiko
embolisme paru pada semua klient dan mengidentifikasi mereka yang
beresiko tinggi.Perawat harus memiliki tingkat kecurigaan dan kepekaan
yang tinggi terhadap embolisme paru pada setiap klien, terutama pada
mereka dengan kondisi yang memberi kecenderungan keadaan
melambatnya arus balik vena. Termasuk dalam kondisi ini adalah trauma
pada pelvis (khususnya taruma bedah) dan ekstrimitas bawah (khususnya
fraktur ttromboemboli sebelumnya vena varikose, kehamilan,n penyakit
malignansi. Kondisi ini dapat ditemui pada klien pasca-operatif dan lansia
mengalami pelambatan arus vena balik. (Muttaqin, Arif. 2012)
Fokus pengkajian keperawatan pada klien dengan embolisme paru
bergantung pada (Muttaqin, Arif. 2012) :
1. Ukuran trombus dan area arteri pulmonal yang tersumbat oleh trombus.
2. Keluhan mungkin saja tidak spesifik.
3. Nyeri dada adalah gejala yang paling umum dan biasanya mempunyai
serangan (onset) mendadak dan bersifat pleuritis.
4. Kadang nyeri substernal bersifat dan menyerupai angina pektoris atau
infark miokardium.
5. Dispnea adalah gejala yang paling umum selanjutnya, diikuti dengan
takipnea, takikardia, gugup, batuk, diaforesis, hemoptosis, dan sinkop.
6. Embolisme masif yang menyumbat bifurkasi arteri pulmonal dapat
menyebabkan dispnea nyata, nyeri substernal mendadak, nadi cepat
dan lemah, syok, sinkop, dan kematian mendadak
7. Emboli kecil multipel dapat tersangkut pada arteriola pulmonal terminal
dan mengakibatkan infark kecil multipel pada paru.
8. Klien yang beresiko mengalami embolisme paru diperiksa kepekaannya
terhadap tanda Homan (Homans sign). Pemeriksaan tanda Homan ini
bertujuan untuk melihat ada tidaknya trombosis yang mengancam vena
ekstremitas inferior. Untuk memeriksa tanda homan, klien berbaring
dalam posisi supine. Tungkai diangkat dan kaki dalam keadaan
dorsofleksi. Klien diminta untuk melaporkan bila terjadi nyeri pada betis

26
selama dilakukan pemeriksaan . nyeri yang terasa menandakan Homan
(+), yang berarti terdapat trombosis vena profundus.
3.1.1 Identitas Pasien
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Tanggal lahir :
Alamat :
Pekerjaan :
Status :
3.1.2 Riwayat Keperawatan
a. Keluhan Utama
Nyeri dada tiba tiba dan sesak napas, Batukdan gugup.
b. Riwayat Keperawatan Sekarang
Batuk semenjak hari rabu siang dan klien mengkonsumsi obat batuk
yang di belinya apotek tapi tiga hari tidak kunjung sembuh dan
mendadak klien mengeluh nyeri pada dada, batuk, lemah dan
gugup setelah melakukan aktifitas.
c. Riwayat Keperawatan Sebelumnya
Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan klien.
Secara umum perawat menanyakan tentang :
1) Riwayat merokok : merokok sigaret merupakan penyebab
penting kanker paru-paru, emfisema dan bronchitis kronik.
Semua keadaan itu sangat jarang menimpa non perokok.
Anamnesis harus mencakup halhal :
a) Usia mulainya merokok secara rutin.
b) Rata-rata jumlah rokok yang dihisap perhari
c) Usia melepas kebiasaan merokok.
2) Pengobatan saat ini dan masa lalu
3) Alergi
4) Tempat tinggal
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan social pasien
penyakitparu-paru sekurang-kurangnya ada tiga, yaitu :
1) Penyakit infeksi tertentu :khususnya tuberkulosa,
ditularkanmelalui satu orang ke orang lainnya; jadi dengan
menanyakanriwayat kontak dengan orang terinfeksi dapat
diketahui sumberpenularannya.
2) Kelainan alergis, seperti asthma bronchial, menunjukkan
suatupredisposisi keturunan tertentu; selain itu serangan
asthmamungkin dicetuskan oleh konflik keluarga atau kenalan
dekat.

27
3) Pasien bronchitis kronik mungkin bermukim di daerah yang
polusiudaranya tinggi.Tapi polusi udara tidak menimbulkan
bronchitiskronik, hanya memperburuk penyakit tersebut.
e. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Lingkungan pasien dekat dengan pabrik dan pemukiman
padatpenduduk yang sangat kumuh.
3.1.3 Pengkajian Persistem
a. Sistem pernapasan / respirasi
Inspeksi : kesulitan bernapas, peningkatan frekwensi / takipnea
penggunaan asesori pernapasan
b. Sistem cardiovaskuler
Auskultasi : takikardia, penurunan tekanan darah (hipotensi)
c. Sistem perkemihan
Inspeksi : frekwensi urine menurun.
d. Sistem Integumen
Inspeksi : berkeringat, kulit pucat.
3.2 Diagnosis Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan:
a. Obstruksi trakeobronkhial oleh bekuan darah, sekret kental, atau
pendarahan aktif.
b. Penurunan ekspansi paru-paru.
c. Proses peradangan.
d. Nyeri.
Kemungkinan data yang muncul :

a. Perubahan pada kedalaman dan atau jumlah respirasi.


b. Dispnea/penggunaan otot aksesori pernapasan.
c. Perubahan pergerakan dada.
d. Suara napas abnormal misalnya crackles dan wheezing.
e. Batuk dengan atau tanpa produksi sputum.
2. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan:
a. Perubahan aliran darah ke alveoli atau sebagian besar paru-paru.
b. Perubahan membran alveolar-kapiler (atelektasis, kolaps jalan
napas/alveolar, edema paru-paru/efusi, dan sekret
berlebih/perdarahan aktif).
Kemungkinan data yang muncul :

a. Ditemukannya dispnea, kelemahan, kecemasan, somnolen, dan


sianosis.
b. Perubahan pada nilai ABGs (Analysis Blood Gasses)/pulse
oximetry, misalnya hipoksemia dan hiperkapnia.
3. Perubahan perfusi jaringan kardiopulmonar (aktual) dan perifer (risiko
tinggi) yang berhubungan dengan :
a. Gangguan pada aliran darah.
b. Penurunan pertukaran sel.

28
c. Masalah pertukaran pada tingkat alveolar atau tingkat jaringan.
Kemungkinan data yang muncul :

a. Kardiopulmonar : mismatch ventilasi/perfusi.


b. Dispnea.
c. Sianosis sentral.
4. Ketakutan/kecemasan (sebutkan tingkatannya) yang berhubungan
dengan:
a. Dispne berat/ketidakmampuan untuk bernapas normal.
b. Persepsi akan mati.
c. Perubahan status kesehatan.
d. Respons fisiologis terhadap hipoksemia/asidosis.
Kemungkinan data yang muncul :

a. Kelemahan dan mudah tersinggung.


b. Perilaku menyerang atau menarik diri.
c. Stimulasi simpatis (eksitasi jantung, pupil melebar, berkeringat,
vomiting, dan diare).
d. Menangis

3.3 Intervensi dan Rasional


1. Diagnosa Keperawatan 1
Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan nyeri.
a. Batasan karakteristik
1) Perubahan ekskursi dada.
2) Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi
3) Penurunan ventilasi semenit
4) Kedalaman bernapas (volume tidal pada orang dewasa 50 ml
pada saat istirahat, bayi sampai 6-8 ml/kg)
5) Dispnea
6) Peningkatan diameter anterosposterior
7) Pernapasan cuping hidung
8) Ortopnea
9) Fase ekspirasi memanjang
b. Kriteria hasil
1) Nilai dasar frekuensi pernapasan tetap pada 5 kali permenit
2) Kadar GDA tetap normal
3) Pasien merasa nyaman tanpa adanya depresi pernapasan
4) Hasil auskultasi menunjukkan tidak ada suara napas tambahan
5) Pasien menyatakan memahami pentingnya beristirahat dengan
sering.
c. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola napas
pasien menjadi efektif.
d. Intervensi dan Rasional
Intervensi Rasional
O:
Kaji dan catat status Untuk mendeteksi tanda-tanda

29
pernapasan setidaknya setiap awal gangguan
4 jam.
Auskultasi suara napas
Untuk mendeteksi suara napas
tambahan
Kaji kadar GDA menurut
Untuk memantau status
kebijakan fasilitas
oksigenasi dan ventilasi
Kaji nyeri setiap 3 jam
Nyeri dapat menurunkan
usaha bernapas dan ventilasi
M:
Ubah posisi pasien secara Untuk memaksimalkan
sering. kenyamanan.

E:
Ajarkan teknik relaksasi untuk Untuk menurunkan nyeri dan
membantu menurunkan ansietas dan meningkatkan
ansietas. Yang meliputi rasa kontrol diri pasien.
relaksasi otot progresif, latihan
bernapas, dan meditasi.
Bila pasien telah menjalani
Untuk menurunkan nyeri .
pembelahan dada atau
abdomen, ajarkan kepadanya
bagaimana cara membebat
insisi pada saat batuk atau
bergerak.
K:
Bantu pasien dalam Untuk meyakinkan penggunaan
menggunakan spirometer alat yang tepat dan membantu
intensif atau alat lainnya sesuai mencegah atelektasis..
Perkusi, vibrasi dan drainase
instruksi.
Lakukan fisioterapi dada untuk postural dapat meningkatkan
membantu mobilisasi dan bersihan jalan napas dan
membersihkan sekresi bila usaha bernapas.
Untuk memungkinkan ekspansi
diprogramkan.
Berikan obat nyeri bila dada maksimal
Untuk membantu menurunkan
diinstruksikan
Berikan oksigen sesuai program distress pernapasan yang
untuk membantu menurunkan disebabkan hipoksemia.

30
distress pernapasan yang
disebabkan oleh hipoksemia.

2. Diagnosa keperawatan 2
Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan perubahan aliran
darah ke alveoli atau sebagian besar paru-paru
a. Batasan karakteristik
1) Ansietas
2) Sianosis
3) Pusing
4) Dispnea
5) Hipoksia
6) Keletihan
7) Iritabilitas
b. Kriteria hasil
1) Pasien mempertahankan ventilasi yang adekuat.
2) Pasien melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami
kelemahan atau keletihan.
c. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien diharapkan sirkulasi
pasien stabil.
d. Intervensi dan Rasional

Intervensi Rasional
O:
Auskultasi paru setiap 4 jam. Untuk mendeteksi krepitasi
dan laporkan ketidaknormalan.
Untuk perubahan pada satu
Pantau tanda-tanda vital, irama
atau semua parameter
jantung, serta GDA serta
tersebut dapat
hemoglobin. Laporkan
mengindikasikan awitan
ketidaknormalannya.
komplikasi serius.
M:
Bila pasien tirah baring, bantu Untuk mencegah atelektasis
pasien berubah ke posisi yang atau tertumpuknya cairan di
nyaman dan naikkan paru dan untuk meningkatkan
penghalang sisi tempat tidur kadar oksigen darah.
untuk mencegah jatuh. Biarkan
pasien miring, batuk, dan
melakukan napas dalam setiap
4 jam. Untuk menghindari hipotensi
Pindahkan pasien secara
ortotastik.

31
perlahan.
E:
Ajarkan pasien tentang Untuk kemandirian pasien saat
keamanan di rumah dan di berada di rumah atau di tempat
tempat kerja, meliputi : kerja.
penggunaan sikat gigi yang
lembut, menggunakan benda
tajam, dan lain-lain.
K:
Berikan darah atau produk Untuk menyuplai hemoglobin,
darah dan pantau reaksi yang yang meningkatkan kapasitas
tidak diinginkan. darah membawa oksigen.
Untuk meningkatkan partisipasi
pasien dan pemberi perawatan

Berikan obat sesuai kebutuhan dalam perawatan.

pasien.

3. Diagnosa keperawatan 3
Perubahan perfusi jaringan kardiopulmonar (aktual) dan perifer (risiko
tinggi) yang berhubungan dengan penurunan pertukaran sel.
b. Batasan karakteristik
1) Kadar gas darah arteri abnormal
2) Aritmia
3) Perubahan EKG
4) Takikardia
5) Krepitasi
c. Kriteria hasil
1) Pasien mencapai stabilitas hemodinamik
2) Pasien tidak menunjukkan aritmia
3) Frekuensi jantung tetap dalam batas yang ditentukan pada saat
pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari
4) Pasien mempertahankan curah jantung yang adekuat.
d. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien diharapkan sirkulasi
pasien stabil
e. Intervensi dan Rasional

Intervensi Rasional
O:
Pantau dan Penurunan frekwensi
dokumentasikan tanda- jantung, CVP dapat
tanda vital pasien. mengindiksikan

32
perubahan arteriovenosa
yang mengarah pada
perfusi jaringan.
Peningkatan laju
Pantau laju pernapasan
pernapasan dapat
dan suara napas pasien
mengindikasikan bahwa
psien sedang
berkompensasi terhadap
hipoksia jaringan.
Temuan abnormal
Pantau kadar kreatinin
mungkin mengindikasikan
kinase, laktat
kerusakan jaringan atau
dehidrogenase, dan kadar
penurunan pertukaran
gas darah arteri,
oksigen dalam paru
pasien.

M:
Pertahankan terapi Untuk memaksimalkan
oksigen untuk pasien, pertukaran oksigen dalam
sesuai program. alveoli dan pada tingkat
sel.
E:
Dorong pasien untuk Untuk meningkatkan
mengubah posisi dan kapasitas vital dan
berpartisipasi dalam menghindari kongesti
aktivitas sesuai kondisi. paru serta awitan
kerusakan kulit.
Untuk menghemat energi
Dorong pasien untuk
dan memaksimalkan
sering beristirahat.
perfusi jaringan.
K:
Penggunaan obat yang Pendidikan kesehatan
benar dan kemungkinan yang efektif mendorong
reaksi merugikan. pasien untuk berperan
aktif dalam pemeliharaan
kesehatan.

4. Diagnosa Keperawatan 4

33
Ketakutan/kecemasan (sebutkan tingkatannya) yang berhubungan
dengan dispnea berat/ketisakmampuan bernapas normal.
a. Batasan karakteristik
1) Peningkatan tekanan darah.
2) Peningkatan denyut nadi dan frekuensi pernapasan.
3) Suara tremor atau perubahan intonasi suara.
b. Kriteria hasil
1) Pasien tidak memperlihatkan tanda-tanda fisik atau gejala
ketakutan.
2) Pasien mengintegrasikan setidaknya satu mekanisme koping
dalam mengurangi rasa takut ke dalam perilaku sehari-hari,
seperti menanyakan kemajuan terapi atau membuat
keputusan tentang perawatannya.
c. Tujuan
Pasien merasa nyaman dalam kondisi apapun.
d. Intervensi dan Rasional

Intervensi Rasional
O:
Tugaskan perawat yang sama Untuk mempertahankan
untuk merawat pasien bila konsistensi pemberian asuhan,
memungkinkan. meningkatkan rasa percaya,
dan mengurangi gangguan
khususnya yang berhubungan
dengan pemberian asuhan
yang multipel.
M:
Libatkan pasien dalam Untuk memungkinkan pasien
perencanaan dan pemberian mengendalikan situasi tersebut
asuhan. dan memulihkan harga dirinya.
E:
Orientasikan pasien ke Untuk berorientasi terhadap
lingkungan sekitar. Lakukan waktu, tempat, orang dan
beberapa adaptasi untuk kejadian.
mengompensasi defisit sensori.
Tindakan ini untuk
meningkatkan kemampuan
pasien.
Orientasikan keluarga pada
Untuk membantu memberikan
kebutuhan khusus pasien dan
dukungan yang efektif.
izinkan anggota keluarga

34
berpartisipasi dalam
memberikan perawatan.
K:
Luangkan waktu untuk bersama Untuk memberikan
dengan pasien setiap giliran kesempatan kepada pasien
jaga. mengungkapkan perasaan,
menyalurkan emosi, dan
memungkinkan penerimaan.

3.4 Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan dari intervensi yang telah
ditentukan dengan berdasarkan kode etik keperawatan dengan tujuan
untuk memberikan asuhan keperawatan yang intensif untuk mencapai
kesembuhan pasien serta melakukan pencegahan untuk mengatasi
resiko kekambuhan.

35
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Emboli paru merupakan oklusi atau penyumbatan bagian pembuluh


darah paru-paru oleh embolus. Embolusialah suatu benda asing yang
tersangkut pada suatu tempat dalam sirkulasi darah.Embolisme paru
merupakan keadaan obstruksi pada satu atau lebih arteri pulmonal oleh
trombus yang berasal dari suatu tempat dalam sistem vena atau pada
jantung sebelah kanan, trombus vena ekstremitas inferior, trombus dari
ruang atrium kanan, bisa juga karena hal lain seperti lemak, udara sum-sum
tulang, jaringan tropoblas, parasit, akibat tindakan kateterisasi jantung, dan
jaringan otak yang terdapat trauma. Embolus paru-paru banyak terjadi akibat
lepasnya suatu trombosit yang berasal dari pembuluh darah vena di
kaki.Trobosus terbentuk dari beberapa elemen sel dan fibrin-fibrin yang
kadang-kadang berisi protein plasma seperti plasminogen.

Dalam kasus ini peran perawat sebagai advokat sangat dibutuhkan


dalam melakukan asuhan keperawtan pada klien, karena pasien sangat
membutuhkan pendukung dan pembelaan dalam hak-hak klien untuk
membantu meningkatkan keberhasilan perawatan dan pengobatan pasien.

4.2 Saran
Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja
yang ditampilkan untuk memperoleh hasil pelayanan yang berkualitas tinggi
dengan memahami uraian tugas dan spesifikasinya serta berdasarkan
standar yang berlaku.
Perawat bertanggung jawab dalam menangani kasus pasien dengan
emboli paru berarti harus menunjukkan kewajibannya sebagai seorang
profesional dengan komitmen menempatkan kebutuhan pasien di atas
kebutuhannya sendiri

36
DAFTAR PUSTAKA

Asih, Niluh Gede Yasmin & Christantie Effendy. 2003. Keperawatan Medikal
Bedah. EGC: Jakarta.

Brunner & Suddrath. 1996. Buku AjarKeperawatan Medikal-Bedah. Jakarta :


Buku kedokteran EGC
Marilynn, Doengoes. dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Alih
Bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S. Jakarta EGC.
Muttaqin, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

Price, A. Sylvia & Lorraine M. Wilson.1995.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit Edisi 4. EGC: Jakarta.

Somatri, Irman. 2007. Keperawtan Medikal Bedah : Asuhan Keperawatan pada


pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta : Salemba Medika.
Suhaimi, E. Mimin. 2002. Etika Keperawatan : Aplikasi Pada Praktik. Jakarta :
EGC.
Taylor, Cynthia M. 2010. Diagnosis Keperawatan : dengan Rencana Asuhan.
Jakarta : EGC
Towsend, Courtney M, dkk. 2010. Buku Saku Ilmu Bedah Sabiston.Edisi. 17. Hal.
160-161, 851-853. Jakarta : EGC.

37
Materi Emboli
WOC EMBOLI PARU

Beradar di pembuluh

Sampai di sirkulasi

Tersangkut di cabang-cabang arteri pulmonal

Emboli

Sistem pernafasan Sistem kardiovaskuler Sistem neurologi Sistem perkemihan Sistem hemodinamik

Terus mendapat ventilasi Meningkatkan kerja ventrikel kanan Oksigen menurun Oksigen menurun Obstruksi trombolik

Gagal ventrikel kanan Hipoksia jaringan otak Perubahan eliminasi urine


Hilangnya kapasitas vaskule
Ruang rugi alveolar membesar

Penurunan tekanan darah sistemik Frekuensi urine menurun

Aliran darah meningkat


Terjadinya syok Perfusi jaringan
Aliran darah sedikit

1
MK hipotensi
Penurunan kesadaran MK
Substansi melepaskan bekuan 1.resiko syok
Perubahan eliminasi urine
2.penurunan curah jantung

bradikardi
Pembuluh darah bronkhiolusberkontriksi
MK
Resiko cedera
Gangguan perfusi jaringan serebral
Ketidakseimbangan ventilasi perfusi
MK
Penurunan curah jantung

Darah terpirau

Penurunana kadar O2 dan peningkatan CO2

MK:
1.GANGGUAN PERTUKARAN GAS
2. KETIDAKEFEKTIFAN POLA NAFAS