Anda di halaman 1dari 9

PENGOLAHAN AIR BERTINGKAT

Laporan Tetap Ini Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti UTS


Praktikum Pengendalian Pencemaran

DISUSUN OLEH :

Alifah Rizky Hefyani 061540411905


Arananda Dwi Putri 061540411570
Dedek Aguspina 061540411573
Fatimi Umaira 061540411576
Herlin Linia 061540411912
Lili Wijayanti 061540411580
Muhammad Sadikin 061540411919
Nyayu Laras Islami 061540411586
Tri Abiyyah Ulfa 061540411589
Wahyu Herdi Ramadhani 061540411590

Kelas : 4 EG B

Dosen Pembimbing : Hilwatullisan, S.T., M.T.

PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017
I. Tujuan Percobaan
Mengolah air limbah untuk menghasilkan air bersih
Menganalisis parameter air limbah awal dan akhir setelah
pengolahan
Mengetahui kinerja alat pengolahan air secara bertingkat
Menganalisis prinsip pengolahan air yang dilakukan

II. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan
Turbidimeter
Water proof cyber scan
Gelas kimia
Gelas ukur
Neraca analitik
Spatula
Seperangkat alat pengolahan air bertingkat

Bahan yang digunakan


Air limbah

III. Dasar Teori


Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestic (rumah tangga). Limbah terdiri
dari berbagai macam jenis yaitu, limbah padat, gas, dan cair. Agar limbah
yang merupakan sisa buangan dapat dimanfaatkan kembali maka
diperlukan suatu proses yang dapat merubah limbah menjadi suatu hal
yang dapat dimanfaatkan. Sistem aerasi digunakan dengan maksud untuk
mengurangi kebutuhan luas lahan dan meningkatkan proses pengolahan
menjadi lebih cepat sekaligus meniadakan bau yang timbul mungkin
akibat proses oksidasi yang tidak sempurna.
Aerasi dapat dilakukan secara alami, difusi, maupun mekanik. Aerasi
alami merupakan kontak antara air dan udara yang dialirkan kedalam air
limbah melalui diffuser, udara yang masuk kedalam air limbah melalui
diffuser, udara yang masuk kedalam air limbah nantinya akan berbentuk
gelembung-gelembung (bubbler). Aerasi secara mekanik atau dikenal juga
Mechanicel Agitation menggunakan proses pengadukan dengan alat
sehingga memungkinkan terjadinya kontak antara air dengan udara.
Tujuan proses aerasi adalah mengontakan semaksimal mungkin
permukaan cairan dengan udara guna menaikkan jumlah oksigen terlarut
didalam air buangan sehingga berguna bagi kehidupan, agar perpindahan
suatu zat atau komponen dari satu medium ke medium yang lain
berlangsung lebih efisien, maka yang terpenting adalah terjadinya
turbulensi antara cairan dengan udara, sehingga tidak terjadi interface laju
perpindahan terhenti.
Konsep dasar pengolahan air dengan menggunakan alat penyaring,
atau saringan/air yang mengandung padatan, dilewatkan pada media saring
dengan ukuran pori-pori lubang tertentu. Ukuran pori atau lubang saringan
harus lebih kecil dari ukuran bahan padatan yang akan dipisahkan. Pada
proses pengolahan air limbah, air minum, air kotor, penyaringan air ini
bisa merupakan tahap awal, atau tahap lanjutan. Pada pengolahan tertentu
penyaringan dilakukan setelah proses koagulasi atau penggumpalan.
Disini penyaringan merupakan tahap lanjutan dari proses koagulasi.
Reverse osmosi merupakan metode penyaringan yang dapat
menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan
cara member tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu
sisi membrane seleksi (lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat
terlarut terendap dilapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni
bisa mengalir kelapisan berikutnya. Membran ini harus bersifat selektif.

Aerasi
Aerasi adalah suatu proses penambahan udara/oksigen dalam air
dengan membawa air dan udara ke dalam kontak yang dekat, dengan cara
menyemprotkan air keudara atau dengan memberikan gelembung-
gelembung halus udara dan membiarkannya naik melalui air. Proses
memasukkan udara kedalam air limbah ini agar proses oksidasi biologi
oleh mikroba akan dapat berjalan dengan baik serta kontak antara udara
dengan (Fe) dan (Mg) terlarut akan membuat dua senyawa ini menjadi
ferric dan maganic oxide hydrates yang menjadi tidak terlarut dan lama
kelamaan akan berkumpul dan memiliki massa yang lebih berat dan
kemudian terjadi pengendapan. Proses aerasi juga dapat menghilangkan
CO2, H2S, dan CH4 terlarut dalam air limbah. Ada beberapa metode aerasi
diantaranya ;
1. Waterfall aerator/ multiple tray aerator
2. Cascade aerator
3. Multiple plat form aerator
4. Spray aerator
5. Bubble aerator

Saringan
Pada kolom penyaringan ini ada tiga macam lapisan dimana lapisan
pertama merupakan arang/karbon aktif, lapisan kedua pasir, dan lapisan
ketiga ialah kerikil/zeolit. Karbon aktif berfungsi untuk menghilangkan
bau, rasa, dan kandungan kaporit (Cl) Klorin dengan proses absorpsi
material yang terkandung dalam air oleh karbon aktif. Pasir silica halus
berfungsi untuk menyaring kotoran halus yang terlarut/terbawa oleh air.
Krikil berfungsi untuk menghilangkan kandungan Ca2+ dan Mg2+ yang
menyebabkan kualitas air minum menurun dimana biasanya disebut air
sadah.

Reverse Osmosis (RO)


Reverse Osmosis adalah proses pengolahan air limbah dengan
menggunakan tekanan tinggi yang akan membalik proses osmosis yang
mana proses osmosis adalah proses pergerakan air dari larutan yang
mempunyai konsentrasi lebih rendah melalui membrane permeable ke
larutan yang mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi sampai tercapai
kesetimbangan. Prinsip kerja dari RO yaitu memberikan tekanan balik
yang lebih besar dari tekanan osmotic pada permukaan cairan yang
berkonsentrasi tinggi, maka cairan dengan konsentrasi rendah akan
menembus membrane menjadi cairan yang murni.
Proses menggunakan RO ini menggunakan tekanan sebesar 75-350 psi
atau 5,3-24,6 kg/cm2. Menurut jenis tekanannya RO terbagi dua yaitu unit
tekanan tinggi (di atas 24,6 kg/cm2) dan unit tekanan rendah (rata-rata 17,6
kg/cm2). Membran yang biasa digunakan pada proses RO adalah selulosa
asetat (CA), poliamida (PA), poliamida aromatis, polieteramida, dll.
Membran ini bekerja pada suhu 21-3500C.
Hasil pengukuran RO dapat dinyatakan dalam dua hal yaitu %
recovery dan % rejeksi. %recovery menunjukkan bagian air yang melewati
membran sedangkan %rejeksi menunjukkan bagian air yang tidak
melewati membran. % recovery dapat dihitung dengan
volume setelah
% recovery = volume total x 100 %

sedangkan % rejeksi dapat dihitung dengan


konsentrasiawalkonsentrasi akhir
% rejeksi = konsentrasi awal x 100 %

Standar baku mutu air minum (KepMenKes NO.907/2002)


pH = 6,5-8,5
Turbidity = maksimum 5 NTU
TDS = maksimum 1000 mg/l (ppm)
Konduktivitas = maksimum 250 s

IV. Prosedur Percobaan


1. Membuat sampel artifisial air limbah dengan menggunakan tanah
liat
2. Menganalisis turbidity, pH, konduktifitas dan TDS
3. Memasukkan sampel air limbah sebanyak 10 L, dan dilakukan
proses aerasi selama 30 min
4. Menganalisis sampel air limbah setelah proses aerasi dengan
parameter no.2
5. Melanjutkan proses pengolahan filtrasi, menganalisa sampel air
limbah setelah filtrasi dengan parameter no.2
6. Meneruskan proses ke RO, menganalisis sampel air limbah setelah
RO dengan parameter no.2
7. Membandingkan setiap hasil proses pengolahan berdasarkan
analisis parameter air yang didapatkan
8. Menghitung persen rejeksi

V. Data Percobaan

Sampel Awal Setelah Setelah Setelah


Parameter Reverse Osmosis
Aerasi Filtrasi
pH 6 6 7 7
Turbidity
684 143 17 5,78
(NTU)
Konduktivitas
76,90 79,85 126,5 118,3
(s)
TDS (ppm) 71,35 75,33 119,8 111,6

VI. Perhitungan
Diketahui : konsentrasi sebelum RO = 119,8 ppm
konsentrasi setelah RO = 111,6 ppm
Ditanya : % rejeksi?
konsentrasiawalkonsentrasi akhir
Jawab : % rejeksi = konsentrasi awal x 100

%
( 119,8111,6 ) ppm
= 119,8 ppm x 100 %

= 6,844 %

VII. Analisis Data


Suatu proses industri pasti akan menghasilkan limbah baik padat, gas,
maupun cair. Limbah cair boleh dilepaskan kelingkungan bila telah
dilakukan treatment/pengolahan hingga sesuai dengan baku mutu air
limbah (buangan). Untuk itu perlu dilakukan pengukuran untuk parameter-
parameter yang menandakan mutu air. Pada percobaan ini ada beberapa
parameter, yaitu pH, turbidity (kekeruhan), TDS (Total Dissolve Solid),
dan konduktivitas.
Air limbah biasanya bersifat asam, pH < 7. Sesuai dengan baku mutu
air maka pH yang diizinkan adalah 6,5 8,5. Dari data dapat dilihat bahwa
proses aerasi akan meningkatkan pH dari air limbah. Ini karena aerasi
memasukkan O2 yang dapat mengurangi kadar pergerakkan dari ion H+
menyebabkan pH berubah menjadi netral.
Angka kekeruhan/turbidity suatu air dinyatakan dalam ntu. Secara
kasat mata kekeruhan dapat dilihat, namun untuk nilai kekeruhan secara
pasti harus digunkaan turbiditymeter. Dari data yang didaptkan baik proses
aerasi, saringan pasir, dan reverse osmosis menurunkan nilai dari
kekeruhan sample artifisial. Namun, setelah melewati RO, angka
kekeruhan masih melebihi standar. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi
alat, baik proses aerasi, filtrasi, dan RO sudah mengalami penurunan. Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya melakukan proses aerasi
dengan waktu yang relatif lebih lama, mengganti saringan-saringan
(karbon aktif, pasir, dan kerikil) pada filtrasi, dan mengganti membran
pada RO.
Konduktivitas menandakan daya hantar dari suatu senyawa. Dalam
hal ini batasan angka konduktivitas dari suatu air adalah kurang dari 250
s. Dari data yang ada dapat dilihat hanya proses RO yang menurunkan
nilai konduktivitas. Ini menunjukkan bahwa proses aerasi dan filtrasi
membuat ion-ion didalam air limbah bertambah sehingga penghantar
listriknya meningkat.
TDS (Total Dissolve Solid) menunjukkan nilai dari zat terlarut dalam
suatu pelarut. Dari proses aerasi terjadi penurunan zat terlarut. Namun
pada proses filtrasi terjadi peningkatan TDS. Kemungkinan hal ini terjadi
karena saringan/filtrasi kotor, sehingga air yang dialirkan melaluinya
bertambah konsentrasi zat terlarutnya. Ini juga dapat terjadi karena karbon
aktif yang ada di filtrasi sudah mencapai titik jenuhnya. Namun dapat
dilihat proses RO menurunkan kadarnya kembali meski dengan angka
yang sangat kecil. Ini menunjukkan bahwa angkat rejeksi dari RO sangat
rendah dan kemungkinan membrannya telah berkurang efisiensinya.

VIII. Kesimpulan
1. Proses yang digunakan adalah aerasi, filtrasi, dan reverse osmosis
2. Proses filtrasi harus dilakukan perawatan baik penggantian karbon
aktif, maupun pencucian pasir silika dan zeloit
3. Membran pada reverse osmosis harus dilakukan penggantian karena
persen rejeksinya sangat rendah
Daftar Pustaka

Tim Laboratorium Teknik Kimia.2017. Penuntun Praktikum


Pengendalian Pencemaran. Palembang : POLSRI
Anonim. 2017.Aerasi,(online), (http://id.wikipedia.org/wiki/
Aerasi).
Herdiana, Agus. 2016. Aerasi: Pengertian, Tujuan, dan
Berbagai Macam Metode Aerasi, (online),
(http://informasikesling.blogspot.co.id/2016/10/aerasi-pengertian-
tujuan-danberbagai.html).
Herlambang, Arie, dkk. -. Teknologi Pengolahan Air Bersih
Dengan Proses Saringan Pasir Lambat up flow, (online),
(http://kelair.bppt.go.id/sipta/Artikel/pasir/pasir.html).
Anonim. 2013. Penjernihan Air Sederhana, (online), (http://
Cerita-dan-ilmu.net/2013/10/penjernih-air-sederhana.html).
Anonim. 2011. Reverse Osmosis, (online), (http:/stieatomic.
Blogspot.co.id/2011/05/reverse-osmosis.html).
Saragih, Adi. 2010. Standar Baku Mutu Air, (online),
(http://adisaragih.blogspot.co.id).
Saputra, Heri. 2013. Standar Baku Mutu Air, (online), (http:
//kumpulan-segalailmu.blogspot.co.id/2013/08/standar-baku-
mutu-air.html).
Anonim. 2014. Hubungan Konduktivitas dengan Kualitas
Air yang Baik, (online), (http://ukurkadarair.com/2014
/blog/hubungan-konduktivitas-dengan-kualitas-air-yang-baik/).
Gambar Alat

Seperangkat Alat Pengolahan Air Bertingkat

Waterproof Cyberscan PCD 650

Anda mungkin juga menyukai