Anda di halaman 1dari 18

PEMBUATAN TRASE JALAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada umumnya pembangunan jalan Indonesia, terutama

daerah-daerah, dikerjakan secara sederhana dengan menggunakan

tenaga dan peralatan seadanya, sehingga jalan tersebut

tergolong dalam konstruksi jalam merah. Hal ini disebabkan

karena terbatasnya:

1.

Biaya yang tersedia

2.

Peralatan yang ada

3.

Tenaga-tenaga ahli, terlatih dan terdidik

4.

Fasilitas labotatorium

Namun demikian hasilnya akan cukup memuaskan andaikata

diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1.

Memilih sistem konstruksi paling aman

2.
Memilih sistem pelaksanaan yang baik

3.

Selalu mengikuti perkembangan lalu lintas

4.

Mengadakan pemeliharaan yang intensif

(Soedarsono, 1987).

Penentuan lokasi jalan merpakan suatu tahapan dalam

rekayasa jalan yang dlakukan setelah tahapan perencanaan

(planning) dan sebelumnya tahap perancangan (design) suatu

jalan. Seorang perencana menetapkan kebutuhan akan jalan

ddalam suatu daerah, sedangkan seorang ahli rekayasa jalan

akan merancang secara terperinci bentuk jalan berdasarkan

kondisi di lapangan dan dengan menggunakan standar-standar

perencanaan titik-titik yang harus dihindari (milling point).

Penentuan lokasi jalan adalah penentuan koridor terbaik antara

dua titik yang harus dihubungkan dengan juga mempertimbangkan

lokasi-lokasi yang harus dihindari. Koridor dapat

didefinisikan sebagai bidang memanjang yang menghubungkan dua

titik. Sedangkan trase jalan adalah seri dari garis-garis

lurus yang merupakan rencana dalam sumbu jalan. Dalam

penentuan lokasi jalan, terdapat dua kegiatan yaitu : Tahap

pertama adalah studi penyuluhan untuk menentukan koridor yang

memenuhi syarat dan Tahap kedua adalah meliputi suatu tinjauan

yang lebih mendalam dari alternatif-alternatif koridor yang


telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Hasil dari tahapan

ini merupakan suatu rancangan dalam koridor terbaik (Budiman,

1996).

Jalan hutan berfungsi sebagai prasarana pengawasan.,

pengangkutan bibit, material dan hasil hutan. Dalam pemungutan

hasil hutan sistem jaringan merupakan hasil dari pada ekonomi

pemanenan hasil hutan. Praktek pembuatan jalan hutan dapat

bervariasi dalam suatu tempat ke tempat lain bergantung dari

banyak factor-faktor seperti keadaan medan kerja, peralatan

yang digunakan, intensitas perlakuan terhadap jalan dan

sebagainya yang perlu dalam pembuatan jalan ada keseimbangan

kondisi kemiringan dan lebar. Jalan mempengaruhi kemampuan

efektif truk angkutan selain itu bahwa belokan yang lebar dan

pandangan pengemudi ke depan jauh sehingga dapat memperlancar

kesiapan pengangkutan (Elias, 1995).

Kelengkapan jalan transportasi seringkali dapat dijadikan

tolak ukur tingkat kemajuan suatu wilayah, yang paling jelas

adalah bahwa semakin baik jaringan transportasi di suatu

wilayah tersebut. Sesuai dengan perannya dalam pembangunan

ekonomi, jaringan transportasi juga dapat menilai pembangunan,

sehingga pembangunan jaringan transportasi, khususnya jalan

mendapat perhatian yang cukup tinggi. Namun, seperti juga

rencana pembangunan lainnya, pembangunan jaringan transportasi

harus direncanakan secara baik dan salah satu aspek dalam

merencanakan pembangunan jaringan transportasi adalah aspek

rekayasa, khususnya rekayasa jalan (Mayer dan Gibson, 1984).


Dalam perencanaan jalan raya, bentuk geometriknya harus

ditetapkan sedemikian rupa sehingga jalan tersebut dapat

memberikan pelayanan yang optimal kepada kegiatan lalu lintas

sesuai dengan fungsinya. Ada 3 jenis klasifikasi dalam medan

bidang kehutanan, yaitu datar, pembukitan dan pegunungan

(Sunggono, 1984).

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini pembuatan trase jalan ini

adalah :

1.

Praktikan mengerti cara pembuatab trase jalan (garis

rencana jalan)

2.

Praktikan mampu membuat trase jalan

3.

Praktikan dapat membuat persen masing-masing helling

TINJAUAN PUSTAKA

Penempatan titik kontrol untuk memperlihatkan sumbu route yang

telah ditentukan diatas kertas hanya dengan garis-garis lurus

adalah lokasi persilangan garis-garis lurus tersebut dan

titik-titik perpanjangan garis lurus. Titik awal dan titik

akhir suatu jalan raya dinyatakan hanya dengan garis-garis


lurus yang ada pada titik silang. Titik-titik ini sebaiknya

ditempatkan dengan triangulasi atau pengukuran jaring-jaring

berdasarkan masing-masing titik kontrol pendahuluan yang

berisikan route rencana, maka ditempatkan titik-titik

pemanjangan garis lurus darimana kedua titik dapat dilihat

(Gayo, 2005).

Proyek-proyek besar atau lokasi-lokasi tertentu,penentuan

lokasi jalan memang pekerjaan yang rumit dan memerlukan

bantuan dan ahli-ahli geotenik, ahli pengukuran, ahli lalu

lintas, ahli ekonomi, ahli biaya aau lingkungan, ahli sosial

dan sebagainya. Sementara itu pada rencana jalan yang pendek,

seringkali tidak terdapat banyak altenatif koridor tersebut

dengan skala 1:1000 atau 1:2000. Peta ini digolongkan sebagai

peta jalur (trip) karena bentuknya berupa jalur. Lebar dari

jalan yang dipetakan umumnya meliputi wilayah selebar 50

sampai 100 m. Gambar-gambar rancangan yang dipakai untuk

konstruksi dibuat diatas peta jalan ini, sementara untuk

daerah disekitar lokasi perpotongan dengan sungai dan pada

daerah yang sulit umumnya digambar pada peta dengan skala yang

lebih detail (Budiaman, 1996).

Pada perencanaan trase jalan hutan hal yang paling penting

harus diperhatikan adalah persyaratan untuk teknik jalan

hutan, yaitu kemiringan lapangan memanjang jalan tidak boleh

melewati 12 %, sedapatnya lebih kecil dari 10 %. Semakin lurus

jalan yang dibuat, maka biaya jalan akan semakin murah. Adanya

pembatas-pembatas atau kendaraan di lapangan (misalnya


kelerengan, tanah yang labil, tempat migrasi satwa dll)

menyebabkan pembuatan jalan yang lurus tidak sepenuhnya dapat

dilaksanakan. Di hutan terdapat areal yang harus dihindari

areal / kawasan tertentu yang dilindungi peraturan-peraturan

perundang-undangan misalnya kawasan lindung, kanan-kiri

sungai, mata air dan areal yang sangat curam. Pada jalan yang

menanjak akan mempertingkat masa pakai / life time alat

(misalnya masa pakai truk 10 tahun menjadi hanya 5 tahun).

Jalan yang terlalu menanjak juga akan meningkatkan biaya

operasional (biaya mesin, BBM(Bahan Bakar Minyak) atau oil,

pemeliharaan dan perbaikan alat (Herwiyono, 1994).

Kegunaan dan pembuatan belokan / busur lingkaran di lapangan

adalah untuk membuat jalan raya, jalan kreta api, salran air

untuk pengairan dan sebagainya. Apabila route sebuah rencana

jalan raya yang tergambar diatas kertas yang menurut rencana

kerjanyaakan ditempatkan di lapangan, maka pengukuran-

pengukuran serta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk hal-hal

ini adalah penempatan lokasi, titik silang dan titik-titik

perpanjangan garis lurus ataupun titik belokan, sifat datar

profil dan putaran melintang, serta pengukuran topografi.

Penempatan titik-titik kontrol di lapangan untuk

memperlihatkan sumber-sumber route yang telah ditentukan

diatas kertas, masing-masing adalah titik awal dan akhir suatu

rencana jalan raya. Pembuatan titik belokan ini sangat

membantu si Pembuat jalan, karena apabila kita telah

menentukan titik belokan pengukuran dibuat diatas kertas, maka


si Pembuat jalan bisa dengan cepat membuat jalan tersebut

(Simon, 1987).

Belokan diberi nama sesuai dengan panjang jari-jarinya.

Lengkungan dapat juga diberi nama sesuai dengan derajat

kelengkungannya yang didefinisikan sebagai banyaknya derajat

yang berhadapan dengan pusat suatu bus, lengkungan melalui

titik yang sudah diketahui. Bila menghadapi lengkungan yang

panjang dan berjari-jari besar (lebih dari 100 m), pematokan

harus dilakukan dengan menggunakan theodolit agar didapat

ketelitian yang diinginkan. Lengkungan berjari-jari kecil

dapat dipatok dengan cepat dan akurat harus dengan menggunakan

pita ukur. Prosedur umumnya (perancangan lengkungan) dilakukan

dengan sudut belokan. Lengkungan melingkari dipasang dengan

sudu-sudut belokan yang penting dan tali busur, simpangan

tangen, simpangan tali busur, dan koordinat tertentu (Meyor

dan Gibson, 1984).

Dalam pembuatan trase jalan kereta api, jalan raya dan saluran

air diperlakukan profil memanjang jalan yang dibuat pada sumbu

atas jalan yang diperlukan untuk menghitung timbunan. Masalah

pokok dalam pembuatan analisis penentuan distribusian adalah

penentuan lokasi dari penstasiunan titik-titik profil

keseimbangan antara galian sama dengan timbunan dengan

penyusutan yang diperbolehkan. Pada pekerjaan membuat titik-

titik keseimbangan (balance) yang utama di dapat dengan

membuat titik-titik yang terpisah dari galian-galian dan

timbunan-timbunan yang telah di koreksi titik keseimbangan


ditentukan letaknya dimana kedau sub total adalah sama dengan

nilai-nilai yang dimiliki titik koreksi (Kartasapoetra,1991).


METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Adapun Praktikum Keteknikan Hutan yang berjudul Perencanaan

Trase Jalan dilaksanakan pada hari Rabu, 1 April 2009 pada

pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai di ruangan ruang 203

Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara Medan.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum adalah

sebagai berikut :

2.

Peta kontur dengan skala 1:2000 sebagai peta yang akan

dibuat penampang memanjang jalan.

3.

Buku data sebagai tempat mencatat data.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai

berikut:

1.

Pensil, untuk membuat garis/jalan trase pada peta

2.

Penggaris, untuk mengukur panjang helling

3.

Busur, untuk mengukur sudut belokan


4.

Jangka, untuk membuat belokan pada peta

5.

Pena warna, untuk menandai trase jalan yang telah dibuat

6.

Kalkulator, untuk alat menghitung

7.

Penghapus, untuk menghapus garis

Prosedur Praktikum

1.

Ditentukan titik awal dan titik pasti

2.

Dari titik awal ditentukan titik profil (titik Bantu)

dengan panjang garis lurus minimal 5 cm dan belokannya

minimal 5 cm (di lapangan = 100 meter) dan untuk belokan

sebesar 2,5 cm (50 meter di lapangan)

3.

Ditentukan helling garis lurus dan belokan:

1.

Helling untuk daerah curam dan garis lurus curam 12%,


sedangkan untuk daerah datar, landai, dan sedang 10%
elling garis lurus

L = x 100%

2.

Helling garis belokan

Helling diperbolehkan 5%

= x 100%

X = x 2r

4.

Jika % helling lebih besar dari yang ditentukan maka

pembuatan titik profil harus diulangi lagi

5.

Dihubungkan titik-titk profil tersebut

6.

Digambarkan sketsa trase jalan

Gambar 2. Trase Jalan Lurus


1

Gambar 3. Belokan trase Jalan

7.

Dimasukkan ke dalam tabel seperti berikut:

Tabel 4. Pembuatan Trase Jalan

Nama Jarak H
Belokan/Lurus Keterangan
Profil Profil Helling

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 5. hasil perhitungan trase jalan


Nomor Jarak H Helling Luru / Keterangan
Profil antar (%) Belakan
Profil

A 1 100 7,55 7,55% Lurus


1 2 100 7,40 7,40% Lurus
2 3 60 6,92 6,92% Lurus
3 4 50 2,54 4,85% Belokan = 300
R = 50
4 5 60 5,83 5,83% Lurus
5 6 50 2,80 4,34% Belokan = 750
R = 50
6 7 100 5,63 5,63% Lurus
7 8 62 2,16 1,90% Belokan = 520
R = 62
8 9 100 7,29 7,29% Lurus
9 10 100 9,00 9,00% Lurus
10 100 7,20 7,20% Lurus
11 100 5,54 5,54% Lurus
11 80 7,00 8,75% Lurus
12 20 0,00 0,00% Lurus
12 - 52 3,78 4,97% Belokan = 820
13 R = 52
13 40 2,00 4,16% Belokan = 700
14 R = 40
14 100 11,00 11,00% Lurus
15 100 10,00 10,00% Lurus
60 1,50 1,50% Belokan = 750
15 R = 60
16

16
17
17
18
18 - B

Pembahasan

Penempatan garis lurus pada peta seperti terlihat pada data di

atas lebih banyak heling lurus dibanding belokan. Maka, dapat

dinyatakan bahwa gambar pada peta atau penempatan titik awal

dan akhir yang baik, hal ini menyebabkan adanya titik silang.
Hal ini sesuai dengan literatur Gayo (2005) yang menyatakan

bahwa Penempatan titik kontrol untuk memperlihatkan sumbu

route yang telah ditentukan diatas kertas hanya dengan garis-

garis lurus adalah lokasi persilangan garis-garis lurus

tersebut dan titik-titik perpanjangan garis lurus. Titik awal

dan titik akhir suatu jalan raya dinyatakan hanya dengan

garis-garis lurus yang ada pada titik silang. Titik-titik ini

sebaiknya ditempatkan dengan triangulasi atau pengukuran

jaring-jaring berdasarkan masing-masing titik kontrol

pendahuluan yang berisikan route rencana, maka ditempatkan

titik-titik pemanjangan garis lurus darimana kedua titik dapat

dilihat.

Dari praktikum yang kami lakukan didapat hasil pada tabel

diperoleh suatu garis lurus dan belokan dalam pembuatan trase

jalan pada peta kontar dengan skala 1:2000, pada pembuatan

trase jalan ini terdapat 16 titik profil yang menghubungkan

garis (titik A) dengan titik B tidak bertemu tetapi pada akhir

titik tepat di atas titik B. Dari perencanaan trasse jalan ini

terdapat tiga belokan dan tiga belas garis lurus. Dan enam

belokan dengan nilai alpa dan jari-jari yang berbeda.

Dari hasil juga diketahui bahwa persen heling paling tinggi

adalah 11% yaitu pada titik (16 17) dengan jaraknya 100 m

dan DHnya 11, sedangkan persen (%) Helling paling rendah

terdapat pada titik (13 14), dengan % Helling adalah 0,00%

dengan nilai H = 0,00 dan jarak antar profilnya adalah 20 m.

Dari hasil ini juga diketahui bahwa pada tiap belokan didapat
% Hellingnya hampir sama, belokan tertinggi 4,85% Hellingnya

4,97%, belokan terendah 1,90%. Pada dasarnya tinggi dan

rendahnya persen Helling dipengaruhi oleh besarnya nilai H,

jarak antar profil dan besarnya dan jari-jari (R) apabila

pada belokan.

Dalam pembulatan trase jalan ini banyak ketentuan-ketentuan

yang berlaku, misalnya untuk pembulatan Helling, untuk Helling

garis lurus dengan rumus L = , Helling untuk daerah curam

adalah 12%, untuk daerah datar, 1 andai dan sedang = 10%.

Untuk Helling belokan dengan rumus L = Helling yang

diperbolehkan 5%.

Pada pembuatan jalan lurus, jarak antara titik profil maksimal

5 cm dipeta dan berarti 100 m di lapangan, tetapi untuk

minimalnya tidak ditentukan dengan pasti. Dalam pembulatan

jalan haruslah diperhatikan dari segi ekonomi, dan factor

pembangunan lainnya. Hal ini dikarenakan bahwa pembangunan

suatu jalan diusahakan seoperasional mungkin, dalam arti

secara teknis memenuhi persyaratan dan secara ekonomi biaya

pembangunannya, termasuk biaya pemeliharaan dan

pengoperasionalnya. Serandah mungkin. Dalam pembuatan jalan

ini untuk menghubungkan wilayah A dan B, menurut jumlah titik

profil lebih banyak garis lurus dari pada belakan. Hal ini

akan mengurangi biaya dalam pembuatan trase jalan.

Dalam perencanaan trase jalan, ada beberapa hal yang harus

dapat dilakukan yaitu dalam pembutan belokan, ada banyak

kegunaan pembuatan belokan diantaranya membuat jalan raya.


Jalan kerata api, saluran air untuk pengairan. Dan apabila

belokan telah dibuat dalam pembuatan trase jalan akan

mempermudah dalam pembuatan trase jalan. Hal ini karena

pembutan belokan sangat membantu si pembuat jalan karena

pabila kita telah menentukan titik belokan diatas kertas, maka

si pembuat jalan dengan cepat dapat membuat jalan tersebut.

Dalam pembukaan wilayah hutan untuk kegiatan pemanenan hasil

hutan untuk mengangkut hasil tersebut perlu dibuat akses /

jalan yang memungkinkan / baik untuk angkutan masuk dalam

hutan sebagaimana kondisi hutan yang tidak seluruhnya datar

yakni ada yang terjal, berlereng, berbatu-batu dan sangat

curam, maka dalam pembuatan harus diperhatikan areal. Belokan

ini terjadi karena ada beberapa hal, sesperti kalau kita

teruskan profil garis lurusnya nantinya ada yang tegak lurus

dengan kontur oleh karena itu harus dibuat belokan, selain itu

untuk menghindari kontur yang terlalu rapat, kalau kita buat

nanti garis lurus maka Hellingnya melebihi yang diperkenakan.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.

Dari hasil dapat diketahui bahwa persen Helling paling

tinggi adalah 11%

2.

Dari hasil dapat diketahui pada pembuatan trase ini

terdapat 6 belokan dan 13 garis lurus

3.

Semakin lurus jalan yang dibuat maka biayanya akan

semakin murah

4.

Dari hasil dapat diketahui persen Helling lurus paling

rendah adalah 0,00%

5.

Jarak antar profil paling diperbolehkan adalah 5 cm yaitu

100 m di lapangan

6.

Semakin banyak kantor yang dilewati maka % Hellingnya

akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya

7.
Pada pembuatan trase jalan ini hal yang perlu

diperhatikan adalah % Hellingnya

8.

Pada hasil diketahui bahwa % Helling terbesar untuk

belokan 4,94%, belokan terendah 1,90%.

9.

Dari hasil diketahui bahwa paling besar adalah 820

dengan jari-jari 62 m (3,1 cm dalam peta).

10.Dari hasil diketahui bahwa H paling tinggi adalah 11 dan

paling rendah adalah 0.

Saran

Diharapkan penyediaan pasilitas dalampraktikum agar kegiatan

praktikum dapat berjalan dengan lancar

Read more: http://juliusthh07.blogspot.com/2010/02/pembuatan-trase-


jalan.html#ixzz4bsVG2QPD